Anda di halaman 1dari 3

1.

Electronic Goverment (E-Goverment) merupakan upaya dan proses yang dilakukan oleh
pemerintah untuk mengimplementasikan pemanfaatan komputer, jaringan komputer dan
teknologi informasi dalam menjalankan pemerintahan dan pelayanan publik
E-governance
atau electronik governance merupakan wujud dari governance (tata kelola pemerintahan)
yang dijalankan oleh pemerintah pusat dan daerah didalam melakukan pelayanan publik
ke masyarakat dengan berbasiskan teknologi
Perbedaan
E-goverment menggunakan protokol one way communication (komunikasi satu arah)
atara pemerintah dan masyarakat.
E-governance menggunakan protolokol bidirectional(jalur komunikasi dua araha)
mengharuskan adanya reply dari masyarakat
Pada E-goverment semua hal E-governance di implementasikan dalam bentuk aplikasi
dan layanan berbasis teknologi informasi, sedangkan e-governance digunakan konsep
pemanfaatan teknologi untuk mengatur jalanya pemerintahan dan perlu peraturan
didalam pemerintahan. Dengan kata lain E-governance menjadi pengatur didalam
menjalankan E-goverment.
2. Internal control Integrated framework COSO yaitu kerangka kerja unuk melakukan
kontrol pada risiko yang berhubungan pada penggunaan TI dalam mencapai strategi
bisnisnya.
3. Maturity model adalah suatu metode untuk mengukur level pengembangan manajemen
proses, yang berarti adalah mengukur sejauh mana kapabilitas manajemen tersebut.
Dengan menerapkan maturiry level maka perusahaan akan mengetahui tingkat
kematangan perusahaan
Level 0 (Non-existent) ; perusahaan tidak mengetahui sama sekali proses teknologi
informasi di perusahaannya
Level 1(Initial Level); pada level ini, organisasi pada umumnya tidak menyediakan
lingkungan yang stabil untuk mengembangkan suatu produk baru.
Level 2(Repeatable Level); pada level ini, kebijakan untuk mengatur pengembangan
suatu proyek dan prosedur dalam mengimplementasikan kebijakan tersebut ditetapkan

Level 3(Defined Level); pada level ini, proses standar dalam pengembangan suatu produk
baru didokumentasikan, proses ini didasari pada proses pengembangan produk yang telah
diintegrasikan
Level 4(Managed Level); Pada level ini, organisasi membuat suatu matrik untuk suatu
produk, proses dan pengukuran hasil.
Level 5(Optimized Level); Pada level ini, seluruh organisasi difokuskan pada proses
peningkatan secara terus-menerus.
4. Perbedaan cobit 4.1 dan 5
Prinsip baru dalam tata kelola TI untuk organisasi, Governance of Enterprise IT
(GEIT). COBIT 5 sebagaimana juga Val IT dan Risk IT ini lebih berorientasi pada
prinsip, dibanding pada proses.

COBIT 5 memberi penekanan lebih kepada Enabler. Walaupun sebenarnya COBIT


4.1 juga menyebutkan adanya enabler-enabler, hanya saja Cobit 4.1 tidak
menyebutnya dengan enabler. Sementara COBIT 5 menyebutkan secara spesifik ada
bagian-bagian enable dalam implementasinya.

COBIT 5 mendefinisikan model referensi proses yang baru dengan tambahan domain
governance dan beberapa proses baik yang sama sekali baru ataupun modifikasi
proses lama serta mencakup aktifitas organisasi secara end-to-end. Selain
mengkonsolidasikan COBIT 4.1, Val IT, dan Risk IT dalam sebuah framework,
COBIT 5 juga dimutakhirkan untuk menyelaraskan dengan best practices yang ada
seperti misalnya ITIL v3 2011 dan TOGAF.

Dalam COBIT 5 terdapat proses-proses baru yang sebelumnya belum ada di COBIT
4.1, serta beberapa modifikasi pada proses-proses yang sudah ada sebelumnya di
COBIT 4.1. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa model referensi proses COBIT
5 ini sebenarnya mengintegrasikan konten COBIT 4.1, Risk IT dan Val IT. Sehingga
proses-proses pada COBIT 5 ini lebih holistik, lengkap dan mencakup aktifitas bisnis
dan IT secara end-to-end

5. ISO 38500 ini adalah untuk menyediakan sebuah framework dasar bagi pimpinan untuk
melakukan evaluasi, pengarahan dan monitoring terhadap pemanfaatan TI dalam
organisasi.
Kegunaan dari ISO 38500 adalah menetapkan suatu prinsip pemanfaatan TI secara
efektif, efisien dan dapat diterima oleh siapapun. Standar ini akan menentukan sebuah
model untuk tata kelola TI. Resiko dari yang disebabkan oleh pimpinan karena tidak
memenuhi kewajibannya bisa dikurangi (dilakukan mitigasi) dengan cara memberikan

wewenang kepada model untuk melaksanakan prinsip-prinsip dasar organisasi dengan


baik.
Standar ini juga menyediakan sebuah perbendaharaan yang bisa dimanfaatkan untuk
melakukan tata kelola IT.