Anda di halaman 1dari 3

Analisis Tragedi Trisakti

A. Faktor Penyebab Tragedi Trisakti


Penyebab utama runtuhnya kekuasaan Orde Baru adalah adanya krisis
moneter tahun 1997. Sejak tahun 1997 kondisi ekonomi Indonesia terus
memburuk seiring dengan krisis keuangan yang melanda Asia. Keadaan terus
memburuk. KKN semakin merajalela, sementara kemiskinan rakyat terus
meningkat. Terjadinya ketimpangan sosial yang sangat mencolok menyebabkan
munculnya kerusuhan sosial. Muncul demonstrasi yang digerakkan oleh
mahasiswa. Tuntutan utama kaum demonstran adalah perbaikan ekonomi dan
reformasi total.
Demonstrasi besar-besaran dilakukan di Jakarta pada tanggal 12 Mei 1998.
Pada saat itu terjadi peristiwa Trisakti, yaitu me-ninggalnya empat mahasiswa
Universitas Trisakti akibat bentrok dengan aparat keamanan. Keempat mahasiswa
yang gugur tersebut kemudian diberi gelar sebagai Pahlawan Reformasi.
Menanggapi aksi reformasi tersebut, Presiden Soeharto berjanji akan mereshuffle
Kabinet Pembangunan VII menjadi Kabinet Reformasi. Selain itu juga akan
membentuk Komite Reformasi yang bertugas menyelesaikan UU Pemilu, UU
Kepartaian, UU Susduk MPR, DPR, dan DPRD, UU Antimonopoli, dan UU
Antikorupsi. Dalam perkembangannya, Komite Reformasi belum bisa terbentuk
karena 14 menteri menolak untuk diikutsertakan dalam Kabinet Reformasi.
Adanya penolakan tersebut menyebabkan Presiden Soeharto mundur dari
jabatannya.
B. HAK YANG DILANGGAR
Salah satu hak yang dilanggar dalam peristiwa tersebut adalah hak dalam
kebebasan menyampaikan pendapat. Hak menyampaikan pendapat adalah
kebebasan bagi setiap warga negara dan salah satu bentuk dari pelaksanan sistem
demokrasi pancasila di Indonesia. Peristiwa ini menggoreskan sebuah catatan
kelam di sejarah bangsa Indonesia dalam hal pelanggaran pelaksanaan demokrasi

pancasila, dan yang selanjutnya penggusuran terhadap rumah warga selalu terjadi
setiap tahun. Tata ruang kota selalu menjadi alasan bagi pemerintah untuk
melakukan kebijakan yang merugikan bagi sebagian warga kota itu.Kebijakan
pemerintah melakukan penggusuran ini dinilai sebagai bentuk pelanggaran Hak
Warga Negara.
C. Solusi dari permasalahan pelanggaran hak warga negara
Indonesia menganut paham kekeluargan yang tidak memperbolehkan
diskriminasi dalam bentuk apapun dan atas dasar apapun. Kita tidak
mempertentangkan antara mayoritas dan minoritas. Yang kita dambakan adalah
kerukunan, keserasian, keselarasan dan keseimbangan. Memang dalam suatu
masyarakat akan dapat terjadi benturan dalam kehidupan yang berkembang dan
dinamis, namun kita tidak dapat membiarkan konflik itu timbul dan berkembang
tanpa terkendali. Kita usahakan penyelesaiannya dengan memperhatikan aspirasi
dan kepentingans semua pihak, tanpa ada yang merasa menang atau merasa
kalah, dan tidak ada yang merasa dimenangkan dan dikalahkan.
Pelanggaran-pelanggaran Hak Warga Negara di Indonesia selama ini, dan
sulitnya melakukan penyelesaian disebabkan karena kurangnya peraturan
perundang-undangan

yang

memberikan

jaminan

dan

petunjuk

dalam

penyelesaiannya. Semenjak reformasi telah ada peraturan perundang-undangan


yang memberikan jaminan dan petunjuk dalam penyelesaian masalah yang
sehubungan dengan HAM ataupun Hak Warga Negara diantaranya adalah
Undang-undang No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, UU No. 26 tahun
2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia; dan UU No. 9 tahun 1998 tentang
Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum.
Pembentukan lembaga yang mengurus Hak Warga Negara dan
pelanggarannya juga merupakan upaya yang memberikan perlindungan terhadap
hak asasi manusia. Lembaga-lembaga tersebut diantaranya KOMNAS HAM,
pusat-pusat/Lembaga Kajian HAM yang terbentuk di berbagai daerah, LSM dan
sebagainya. Lembaga-lembaga ini di samping berupaya mensosialisasikan
peraturan-peraturan

tentang

HAM

juga

menerima

pengaduan-pengaduan

pelanggaran HAM dan Hak Warga Negara dan meneruskan kepada lembaga yang
berwenang untuk memprosesnya. Upaya yang dilakukan selama ini terkendala
oleh beberapa faktor diantaranya kurangnya perangkat hukum, kurangnya buktibukti yang lengkap dan keterbatasan penegak hukum. Oleh karenanya bila telah
terjadi pelanggaran hak asasi manusia ataupun hak warga negara maka
secepatnyalah hal ini dilaporkan kepada yang berwenang.