Anda di halaman 1dari 7

Nama

Nim

: Arwilla Faurillie A.O


: 135020300111008
KODE ETIK AKUNTAN PUBLIK
PENGERTIAN KODE ETIK
Kode etik adalah sistem norma, nilai dan aturan profesional tertulis yang secara tegas
menyatakan apa yang benar dan baik, dan apa yang tidak benar dan tidak baik bagi profesional.
Kode etik menyatakan perbuatan apa yang benar atau salah, perbuatan apa yang harus dilakukan
dan apa yang harus dihindari. Tujuan kode etik agar profesional memberikan jasa sebaik-baiknya
kepada pemakai atau nasabahnya. Adanya kode etik akan melindungi perbuatan yang tidak
profesional.
KODE ETIK PROFESI AKUNTAN PUBLIK
Setiap bidang profesi tentunya harus memiliki aturan-aturan khusus atau lebih dikenal
dengan istilah Kode Etik Profesi. Dalam bidang akuntansi sendiri, salah satu profesi yang ada
yaitu Akuntan Publik. Profesi akuntan publik menghasilkan berbagai jasa bagi masyarakat, yaitu
jasa assurance, jasa atestasi, dan jasa nonassurance.
Jasa assurance adalah jasa profesional independen yang meningkatkan mutu informasi bagi
pengambil keputusan.
Jasa atestasi terdiri dari audit, pemeriksaan (examination), review, dan prosedur yang
disepakati (agreed upon procedure).
Jasa atestasi adalah suatu pernyataan pendapat, pertimbangan orang yang independen dan
kompeten tentang apakah asersi suatu entitas sesuai dalam semua hal yang material, dengan
kriteria yang telah ditetapkan.
Jasa nonassurance adalah jasa yang dihasilkan oleh akuntan publik yang di dalamnya ia tidak
memberikan suatu pendapat, keyakinan negatif, ringkasan temuan, atau bentuk lain
keyakinan. Contoh jasa nonassurance yang dihasilkan oleh profesi akuntan publik adalah
jasa kompilasi, jasa perpajakan, jasa konsultasi.
Kode Etik Profesi Akuntan Publik (sebelumnya disebut Aturan Etika Kompartemen Akuntan
Publik) adalah aturan etika yang harus diterapkan oleh anggota Institut Akuntan Publik Indonesia
atau IAPI (sebelumnya Ikatan Akuntan Indonesia Kompartemen Akuntan Publik atau IAI-KAP)
dan staf profesional (baik yang anggota IAPI maupun yang bukan anggota IAPI) yang bekerja
pada satu Kantor Akuntan Publik (KAP).
Kode Etik Profesi Akuntan Publik (Kode Etik) ini terdiri dari dua bagian, yaitu Bagian A dan
Bagian B. Bagian A dari Kode Etik ini menetapkan prinsip dasar etika profesi dan memberikan
kerangka konseptual untuk penerapan prinsip tersebut. Bagian B dari Kode Etik ini memberikan
ilustrasi mengenai penerapan kerangka konseptual tersebut pada situasi tertentu.
Tujuan Kode Etik ini, individu tersebut disebut Praktisi. Anggota IAPI yang tidak berada
dalam KAP atau jaringan KAP dan tidak memberikan jasa profesional seperti tersebut di atas
tetap harus mematuhi dan menerapkan Bagian A dari Kode Etik ini. Suatu KAP atau Jaringan
KAP tidak boleh menetapkan kode etik profesi dengan ketentuan yang lebih ringan daripada
ketentuan yang diatur dalam Kode Etik ini.
Setiap Praktisi wajib mematuhi dan menerapkan seluruh prinsip dasar dan aturan etika
profesi yang diatur dalam Kode Etik ini, kecuali bila prinsip dasar dan aturan etika profesi yang
diatur oleh perundang-undangan, ketentuan hukum, atau peraturan lainnya yang berlaku ternyata
berbeda dari Kode Etik ini. Dalam kondisi tersebut, seluruh prinsip dasar dan aturan etika profesi
yang diatur dalam perundang-undangan, ketentuan hukum, atau peraturan lainnya yang berlaku
tersebut wajib dipatuhi, selain tetap mematuhi prinsip dasar dan aturan etika profesi lainnya yang
diatur dalam Kode Etik ini. Profesi akuntan publik bertanggung jawab untuk menaikkan tingkat
keandalan laporan keuangan perusahaan-perusahaan, sehingga masyarakat keuangan memperoleh
informasi keuangan yang handal sebagai dasar untuk memutuskan alokasi sumber-sumber

ekonomi.
Kode Etik Profesi Akuntan Publik yang baru saja diterbitkan oleh IAPI menyebutkan 5
prinsip-prinsip dasar etika profesi, yaitu:
1) Prinsip Integritas
2) Prinsip Objektivitas
3) Prinsip Kompetensi serta Sikap Kecermatan dan Kehati-hatian Profesional
4) Prinsip Kerahasiaan
5) Prinsip Perilaku Profesional
Kewajiban Bagi Seorang Akuntan Publik (AP) Dan (KAP) Terdapat 5 (Lima) Kewajiban
Akuntan Publik dan KAP Yaitu:
1. Bebas dari kecurangan (fraud), ketidakjujuran dan kelalaian serta menggunakan kemahiran
jabatannya (due professional care) dalam menjalankan tugas profesinya.
2. Menjaga kerahasiaan informasi / data yang diperoleh dan tidak dibenarkan memberikan
informasi rahasia tersebut kepada yang tidak berhak. Pembocoran rahasia data / informasi
klien kepada pihak ketiga secara sepihak merupakan tindakan tercela.
3. Menjalankan PSPM04-2008 tentang Pernyataan Beragam (Omnibus Statement) Standar
Pengendalian Mutu (SPM) 2008 yang telah ditetapkan oleh Dewan Standar Profesional
Akuntan Publik (DSPAP) Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI), terutama SPM Seksi 100
tentang Sistem Pengendalian Mutu Kantor Akuntan Publik (SPM-KAP).
4. Mempunyai staf / tenaga auditor yang profesional dan memiliki pengalaman yang cukup.
5. Memiliki Kertas Kerja Audit (KKA) dan mendokumentasikannya dengan baik. KKA
tersebut merupakan perwujudan dari langkah-langkah audit yang telah dilakukan oleh
auditor dan sekaligus berfungsi sebagai pendukung (supporting) dari temuan-temuan audit
(audit evidence) dan opini laporan audit (audit report).
Larangan Bagi Seorang Akuntan Publik ( AP ) Dan ( KAP ) Akuntan Publik dilarang
Melakukan 3 (Tiga) Hal :
a) Dilarang memberikan jasa audit umum atas laporan keuangan (general audit) untuk klien
yang sama berturut-turut untuk kurun waktu lebih dari 5 tahun untuk Akuntan Publik. Hal ini
dimaksudkan untuk mencegah terjadinya kolusi antara Akuntan Publik dengan klien yang
merugikan pihak lain.
b) Apabila Akuntan Publik tidak dapat bertindak independen terhadap pemberi penugasan
(klien), maka dilarang untuk memberikan jasa.
c) Akuntan Publik juga dilarang merangkap jabatan yang tidak diperbolehkan oleh ketentuan
perundang-undangan / organisasi profesi seperti sebagai pejabat negara, pimpinan atau
pegawai pada instansi pemerintah, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) atau Badan Usaha
Milik Daerah (BUMD) atau swasta, atau badan hukum lainnya, kecuali yang diperbolehkan
seperti jabatan sebagai dosen perguruan tinggi yang tidak menduduki jabatan struktural dan
atau komisaris atau komite yang bertanggung jawab kepada komisaris atau pimpinan usaha
konsultansi manajemen. Sedangkan, KAP harus menjauhi, Ada 4 larangan yaitu :
1) Memberikan jasa kepada suatu pihak, apabila KAP tidak dapat bertindak independen.
2) Memberikan jasa audit umum (general audit) atas laporan keuangan untuk klien yang sama
berturut-turut untuk kurun waktu lebih dari 6 tahun.
3) Memberikan jasa yang tidak berkaitan dengan akuntansi, keuangan dan manajemen.
4) Mempekerjakan atau menggunakan jasa Pihak Terasosiasi yang menolak atau tidak bersedia
memberikan keterangan yang diperlukan dalam rangka pemeriksaan terhadap Akuntan
Publik dan KAP.

STANDAR PROFESIONAL AKUNTAN PUBLIK (SPAP)


Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) adalah kodifikasi berbagai pernyataan
standar teknis yang merupakan panduan dalam memberikan jasa bagi Akuntan Publik di
Indonesia. SPAP dikeluarkan oleh Dewan Standar Profesional Akuntan Publik Institut Akuntan
Publik Indonesia (DSPAP IAPI).
Tipe Standar Profesional :
1. Standar Auditing
2. Standar Atestasi
3. Standar Jasa Akuntansi dan Review
4. Standar Jasa Konsultansi
5. Standar Pengendalian Mutu
Kelima standar profesional di atas merupakan standar teknis yang bertujuan untuk mengatur mutu
jasa yang dihasilkan oleh profesi akuntan publik di Indonesia.

1.

Standar Auditing
Standar Auditing adalah sepuluh standar yang ditetapkan dan disahkan oleh Institut
Akuntan Publik Indonesia (IAPI), yang terdiri dari standar umum, standar pekerjaan
lapangan, dan standar pelaporan beserta interpretasinya. Standar auditing merupakan
pedoman audit atas laporan keuangan historis. Standar auditing terdiri atas sepuluh
standar dan dirinci dalam bentuk Pernyataan Standar Auditing (PSA). Di Amerika
Serikat, standar auditing semacam ini disebut Generally Accepted Auditing Standards
(GAAS) yang dikeluarkan oleh the American Institute of Certified Public Accountants
(AICPA).
Pernyataan Standar Auditing (PSA)

PSA merupakan penjabaran lebih lanjut dari masing-masing standar yang tercantum
didalam standar auditing. PSA berisi ketentuan-ketentuan dan pedoman utama yang harus
diikuti oleh Akuntan Publik dalam melaksanakan penugasan audit. Kepatuhan terhadap
PSA yang diterbitkan oleh IAPI ini bersifat wajib bagi seluruh anggota IAPI. Termasuk
didalam PSA adalah Interpretasi Pernyataan Standar Auditng (IPSA), yang merupakan
interpretasi resmi yang dikeluarkan oleh IAPI terhadap ketentuan-ketentuan yang
diterbitkan oleh IAPI dalam PSA.
Standar umum
1. Audit harus dilaksanakan oleh seorang atau lebih yang memiliki keahlian dan pelatihan
teknis yang cukup sebagai auditor.
2. Dalam semua hal yang berhubungan dengan perikatan, independensi dalam sikap mental
harus dipertahankan oleh auditor.
3. Dalam pelaksanaan audit dan penyusunan laporannya, auditor wajib menggunakan
kemahiran profesionalnya dengan cermat dan seksama.
Standar pekerjaan lapangan
1. Pekerjaan harus direncanakan sebaik-baiknya dan jika digunakan asisten harus
disupervisi dengan semestinya.
2. Pemahaman memadai atas pengendalian intern harus diperoleh unutk merencanakan audit
dan menentukan sifat, saat, dan lingkup pengujian yang akan dilakukan.
3. Bukti audit kompeten yang cukup harus diperoleh melalui inspeksi, pengamatan,
permintaan keterangan, dan konfirmasi sebagai dasar memadai untuk menyatakan
pendapat atas laporan keungan yang diaudit.
Standar pelaporan
1. Laporan auditor harus menyatakan apakah laporan keuangan telah disusun sesuai dengan
prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.

2. Laporan auditor harus menunjukkan atau menyatakan, jika ada, ketidakkonsistenan


penerapan prinsip akuntansi dalam penyusunan laporan keuangan periode berjalan
dibandingkan dengan penerapan prinsip akuntansi tersebut dalam periode sebelumnya.
3. Pengungkapan informatif dalam laporan keuangan harus dipandang memadai, kecuali
dinyatakan lain dalam laporan auditor.
4. Laporan auditor harus memuat suatu pernyataan pendapat mengenai laporan keuangan
secara keseluruhan atau suatu asersi bahwa pernyataan demikian tidak dapat diberikan.
2. Standar Atestasi
Atestasi (attestation) adalah suatu pernyataan pendapat atau pertimbangan yang
diberikan oleh seorang yang independen dan kompeten yang menyatakan apakah asersi
(assertion) suatu entitas telah sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Asersi adalah
suatu pernyataan yang dibuat oleh satu pihak yang dimaksudkan untuk digunakan oleh
pihak lain.
Standar atestasi membagi tiga tipe perikatan atestasi (1) pemeriksaan (examination), (2)
review, dan (3) prosedur yang disepakati (agreed-upon procedures).
Salah satu tipe pemeriksaan adalah audit atas laporan keuangan historis yang disusun
berdasarkan prinsip akuntansi yang berlaku umum. Pemeriksaan tipe ini diatur
berdasarkan standar auditing. Tipe pemeriksaan lain, misalnya pemeriksaan atas
informasi keuangan prospektif, diatur berdasarkan pedoman yang lebih bersifat umum
dalam standar atestasi. Standar atestasi ditetapkan oleh Institut Akuntan Publik Indonesia.
3. Standar Jasa Akuntansi dan Review
Standar jasa akuntansi dan review memberikan rerangka untuk fungsi non-atestasi
bagi jasa akuntan publik yang mencakup jasa akuntansi dan review. Sifat pekerjaan nonatestasi tidak meny atakan pendapat, hal ini sangat berbeda dengan tujuan audit atas laporan
keuangan yang dilaksanakan sesuai dengan standar auditing. Tujuan audit adalah untuk
memberikan dasar memadai untuk menyatakan suatu pendapat mengenai laporan keuangan
secara keseluruhan, sedangkan dalam pekerjaan non-atestasi tidak dapat dijadikan dasar
untuk menyatakan pendapat akuntan.
4. Standar Jasa Konsultansi
Standar Jasa Konsultansi merupakan panduan bagi praktisi (akuntan publik) yang
menyediakan jasa konsultansi bagi kliennya melalui kantor akuntan publik. Dalam jasa
konsultansi, para praktisi menyajikan temuan, kesimpulan dan rekomendasi. Sifat dan
lingkup pekerjaan jasa konsultansi ditentukan oleh perjanjian antara praktisi dengan
kliennya. Jasa konsultansi dapat berupa:
Konsultasi-memberikan konsultasi atau saran profesional berdasarkan pada kesepakatan
bersama dengan klien.
Jasa pemberian saran profesional - mengembangkan temuan, kesimpulan, dan
rekomendasi untuk dipertimbangkan dan diputuskan oleh klien. Contoh jenis jasa ini
adalah pemberian bantuan dalam proses perencanaan strategik
Jasa implementasi - mewujudkan rencana kegiatan menjadi kenyataan. Sumber daya
dan personel klien digabung dengan sumber daya dan personel praktisi untuk mencapai
tujuan implementasi.
Jasa transaksi - menyediakan jasa yang berhubungan dengan beberapa transaksi khusus
klien yang umumnya dengan pihak ketiga. Contoh jenis jasa adalah jasa pengurusan
kepailitan.
Jasa penyediaan staf dan jasa pendukung lainnya - menyediakan staf yang memadai
(dalam hal kompetensi dan jumlah) dan kemungkinan jasa pendukung lain untuk
melaksanakan tugas yang ditentukan oleh klien. Staf tersebut akan bekerja di bawah
pengarahan klien sepanjang keadaan mengharuskan demikian.

Jasa produk - menyediakan bagi klien suatu produk dan jasa profesional sebagai
pendukung atas instalasi, penggunaan, atau pemeliharaan produk tertentu.
5. Standar Pengendalian Mutu
Standar Pengendalian Mutu Kantor Akuntan Publik (KAP) memberikan panduan
bagi kantor akuntan publik di dalam melaksanakan pengendalian kualitas jasa yang
dihasilkan oleh kantornya dengan mematuhi berbagai standar yang diterbitkan oleh Dewan
Standar Profesional Akuntan Publik Institut Akuntan Publik Indonesia (DSPAP IAPI) dan
Aturan Etika Kompartemen Akuntan Publik yang diterbitkan oleh IAPI. Unsur-unsur
pengendalian mutu yang harus harus diterapkan oleh setiap KAP pada semua jenis jasa audit,
atestasi dan konsultansi meliputi:
independensi meyakinkan semua personel pada setiap tingkat organisasi harus
mempertahankan independensi
penugasan personel meyakinkan bahwa perikatan akan dilaksanakan oleh staf
profesional yang memiliki tingkat pelatihan dan keahlian teknis untuk perikatan
dimaksud
konsultasi meyakinkan bahwa personel akan memperoleh informasi memadai sesuai
yang dibutuhkan dari orang yang memiliki tingkat pengetahuan, kompetensi,
pertimbangan (judgement), dan wewenang memadai
supervisi meyakinkan bahwa pelaksanaan perikatan memenuhi standar mutu yang
ditetapkan oleh KAP
pemekerjaan (hiring) meyakinkan bahwa semua orang yang dipekerjakan memiliki
karakteristik semestinya, sehingga memungkinkan mereka melakukan penugasan secara
kompeten
pengembangan profesional meyakinkan bahwa setiap personel memiliki pengetahuan
memadai sehingga memungkinkan mereka memenuhi tanggung jawabnya. Pendidikan
profesional berkelanjutan dan pelatihan merupakan wahana bagi KAP untuk memberikan
pengetahuan memadai bagi personelnya untuk memenuhi tanggung jawab mereka dan
untuk kemajuan karier mereka di KAP
promosi (advancement) meyakinkan bahwa semua personel yang terseleksi untuk
promosi memiliki kualifikasi seperti yang disyaratkan untuk tingkat tanggung jawab yang
lebih tinggi.
penerimaan dan keberlanjutan klien menentukan apakah perikatan dari klien akan
diterima atau dilanjutkan untuk meminimumkan kemungkinan terjadinya hubungan
dengan klien yang manajemennya tidak memiliki integritas berdasarkan pada prinsip
pertimbangan kehati-hatian (prudence)
inspeksi meyakinkan bahwa prosedur yang berhubungan dengan unsur-unsur lain
pengendalian mutu telah diterapkan dengan efektif

SISTEM PENGENDALIAN MUTU


Setiap Kantor Akuntan Publik (KAP) wajib memiliki sistem pengendalian mutu yang harus
diterapkan pada semua jasa audit, atestasi, akuntansi dan review, yang standarnya telah ditetapkan
dalam Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP). Dalam setiap penugasan jasa profesional,
KAP bertanggung jawab untuk mematuhi SPAP. Dalam pemenuhan tanggung jawab tersebut,
KAP wajib mempertimbangkan integritas stafnya, independensi terhadap klien, kompetensi,
objektivitas serta penggunaan kemahiran profesionalnya secara cermat dan seksama. Oleh karena
itu, KAP harus memiliki sistem pengendalian mutu yang mencakup struktur organisasi, kebijakan
dan prosedur yang ditetapkan KAP untuk memberikan keyakinan memadai tentang kesesuaian
penugasan profesional dengan SPAP.
Sistem Pengendalian Mutu KAP diatur dalam Pernyataan Standar Pengendalian Mutu
(PSPM) No. 01 yang dikeluarkan oleh Komite SPAP. Sifat dan lingkup kebijakan dan prosedur
pengendalian mutu yang ditetapkan oleh KAP dapat berbeda antara antara KAP yang satu dengan
lainnya karena penyusunan sistem pengendalian mutu KAP dipengaruhi oleh berbagai faktor
antara lain ukuran KAP, tingkat otonomi yang diberikan kepada staf dan kantor-kantor
cabangnya, sifat praktik, organisasi kantor serta pertimbangan biaya manfaat.
Adapun unsur-unsur pengendalian mutu dimaksud adalah berupa :
1. Independensi
Persyaratan : Semua anggota tim yang melaksanakan penugasan wajib memenuhi
persyaratan independen. Contoh prosedur : Setiap patner dan staf wajib menjawab
kuesioner independens tahunan sehubungan dengan pemilikan saham atau menjadi
anggota dewan direksi.
2. Penugasan Personel
Persyaratan : Semua anggota tim dalam penugasan harus memiliki tingkat kemampuan
dan pelatihan teknik yang memadai. Contoh prosedur : Penugasan seluruh staf dilakukan
oleh patner yang mengetahui perusahaan klien dan melakukan penugasan setidaknya 2 bulan
sebelumnya.
3. Konsultasi
Persyaratan : Pada saat staf atau patner mengalami problem teknis, harus ada prosedur
untuk mendapatkan petunjuk dari orang yang ahli Contoh prosedur : Pimpinan KAP harus
siap untuk konsultasi dan harus menyetujui penugasan sebelum penyelesaian
4. Supervisi
Persyaratan : Kebijakan untuk menjamin supervisi pekerjaan yang memadai untuk
seluruh tingkatan harus dilakukan untuk setiap penugasan Contoh prosedur : Dibutuhkan
tinjauan dan persetujuan program audit yang dilakukan oleh patner audit sebelum dilakukan
pengujian rinci.
5. Pemekerjaan (Hiring)
Persyaratan : Seluruh karyawan baru harus mampu melaksanakan tugasnya secara
kompeten. Contoh prosedur : Seluruh karyawan yang akan dipekerjakan harus diwawancarai
dan disetujui oleh patner kepegawaian dan patner yang berkaitan dengan masalah teknis
audit.
6. Pengembangan Profesional
Persyaratan : Setiap karyawan harus memperoleh pengembangan profesional yang

7.

8.

9.

mencukupi untuk mendukung pelaksanaan kerja secara kompeten. Contoh prosedur : Setiap
profesional harus memperoleh 40 jam pendidikan lanjutan setiap tahun ditambah jam
tambahan yang diusulkan oleh patner
Promosi (Advancement)
Persyaratan : Kebijakan promosi harus jelas untuk menjamin promosi karyawan
berlangsung sesuai antara kualifikasi dan tanggung jawabnya. Contoh prosedur : Setiap
profesional harus dievaluasi dalam setiap penugasan dan dilaporkan dalam laporang evaluasi
penugasan perorangan yang dimiliki perusahaan.
Penerimaan dan Keberlanjutan Klien
Persyaratan : Seluruh klien dan calon klien harus dievaluasi untuk meminimalisasikan
kemungkinan keterbatasan integritas manajemen Contoh prosedur : Formulir evaluasi klien,
sehubungan dengan masalah yang dikomentari oleh auditor terdahulu dan evaluasi atas
manajemen, harus disajikan untuk setiap klien, sebelum persetujuan dilakukan
Inspeksi
Persyaratan : Kebijakan dan prosedur harus jelas guna menunjang terpenuhinya
kedelapan elemen pengendalian mutu secara konsisten Contoh prosedur : Patner yang
bertanggungjawab terhadap pengendalian mutu harus menguji prosedur pengendalian mutu
setidaknya setahun sekali untuk menjamin bahwa operasi perusahaan tidak menyimpang.

KAP wajib mengkomunikasikan kebijakan dan prosedur pengendalian mutu kepada


personelnya dengan suatu cara yang akan memberikan keyakinan memadai bahwa kebijakan dan
prosedur tersebut dapat dipahami. Bentuk dan lingkup komunikasi tersebut harus cukup
komprehensif sehingga dapat menyampaikan, kepada personel KAP, informasi mengenai
kebijakan dan prosedur pengendalian mutu yang berhubungan dengan mereka.
Pada umumnya, komunikasi akan lebih baik apabila dilakukan secara tertulis, namun
keefektifan sistem pengendalian mutu KAP tidak terpengaruh oleh ketiadaan dokumentasi
kebijakan dan prosedur pengendalian mutu yang ditetapkan oleh KAP. Ukuran, struktur, dan sifat
praktek KAP harus dipertimbangkan dalam menentukan apakah dokumentasi kebijakan dan
prosedur pengendalian mutu diperlukan dan, jika diperlukan, seberapa luas dokumentasi tersebut
dilaksanakan. Umumnya, dokumentasi kebijakan dan prosedur pengendalian mutu pada KAP
besar akan lebih ekstensif dibandingan dengan dokumentasi pada KAP kecil, begitu pula
dokumentasi akan lebih ekstensif pada KAP yang memilki banyak kantor dibandingkan dengan
dokumentasi pada KAP yang hanya memiliki satu kantor.
KAP harus memantau keefektifan sistem pengendalian mutunya dengan mengevaluasi,
secara rutin, kebijakan dan prosedur pengendalian mutunya, penetapan tanggung jawab, dan
komunikasi kebijakan serta prosedurnya.
Perubahan terhadap kebijakan dan prosedur pengendalian mutu KAP dapat terjadi karena
adanya perubahan yang berasal dari Pernyataan baru oleh pihak berwenang, atau karena adanya
perubahan keadaan seperti adanya perluasan praktik atau pembukaan kantor baru ataupun adanya
penggabungan (merger) KAP. Demikian sedikit pembahasan dan pengenalan Sistem
Pengendalian Mutu KAP yang diatur dalam PSPM No. 01.