Anda di halaman 1dari 12

Tinea Versicolor

By Cahya Legawa 7 March 2011 Dermatology No Comments


Di Indonesia mungkin lebih dikenal sebagai penyakit kulit karena jamur yang disebut
panu, sementara nama lainnya masih cukup banyak seperti Pityriasis versicolor, Tinea
flava & Dermatomycosis furfuracea. Tinea versicolor adalah infeksi jamur umum yang sering
ditemukan pada dewasa dan remaja. Sebutan versicolor berasal dari fakta bahwa infeksi ini
menyebabkan kulit yang terlibat mengalami perubahan warna, baik menjadi lebih gelap
maupun menjadi lebih terang, daripada area kulit sekitarnya.
Area kulit yang paling umum terserang adalah bahu, punggung & dada. Pada keadaan
lainnya, infeksi juga bisa terjadi pada lipatan-lipatan kulit seperti lipatan lengan, kulit di
bawah payudara, atau di lipat paha. Wajah biasanya jarang terkena, kecuali pada beberapa
anak, wajah mungkin juga terlibat. Kadang jumlah area yang terlibat sangat sedikit, sehingga
tampak kentara, dan di sisi lain area yang terlibat cukup luas sehingga memberikan gambaran
bahwa itu kulit normal, sementara kulit normal akan tampak sebagai yang bermasalah.

Penyebab Tinea Versicolor


Beberapa referensi lama menyebutkan bahwa penyebab utamanya adalah Malassezia furfur,
namun buku-buku teks terbaru lebih menyatakan Malassezia globosa sebagai penyebab yang
lebih umum saat ini. Keduanya adalah golongan jamur yang bersifat lipofilik (menyukai
lemak).
Kondisi ini dapat dikatakan bukan penyakit yang bisa menular, karena jamur penyebabnya
merupakan flora normal pada permukaan kulit. Pada beberapa orang flora normal ini dapat
berkembang menjadi kondisi tinea versicolor, meskipun apa yang menyebabkannya belum
dapat dipastikan. Meskipun demikian, beberapa faktor predisposisi ditemukan pada mereka
yang mengalami kondisi ini, seperti faktor genetik, lingkungan yang hangat dan lembab,
penurunan sistem kekebalan tubuh, malnutrisi, dan penyakit Chusing.

Karena hal ini, maka terdapat kasus-kasus yang akan memunculkan kekambuhan walau terapi
yang diberikan sebelumnya dinyatakan berhasil. Karena perubahan warna kulit pada kasus ini
tidak bersifat permanen, maka jika terapi berhasil warna kulit bisa kembali normal setelah
beberapa waktu.

Kondisi yang Serupa


Kondisi-kondisi berikut menyerupai penampilan tinea versicolor namun pada dasarnya
berbeda:

Pityriasis alba: merupakan sebentuk eksim/dermatitis (ditemukan pada anak muda)


yang menghasilkan plak lebih terang pada wajah atau bahu.

Vitiligo: merupakan kondisi yang menghasil kehilangan pigmen permanen. Vitiligo


umumnya mengenai kulit di sekitar mata atau persendian. Bintiknya putih seperti
porselen, dan jika sudah terjadi kehilangan pigmen, maka kondisi ini tidak dapat
dipulihkan.

Mengobati Tinea Vesicolor


Ada banyak jenis obat-obatan antijamur yang tersedia di pasaran, seperti krim atau salep yang
dioleskan di permukaan kulit. Obat yang bisa dibeli dengan bebas di apotek, termasuk
clotrimazole dan miconazole. Dioleskan dua kali sehari selama 10-14 hari, namun karena
sering kali dipasarkan dalam kemasan kecil, sehingga lebih merepotkan jika infeksinya
berupa area yang luas.
Beberapa dokter mungkin merekomendasikan sampo selenium sulfida 1% atau ketoconazole
1% sekitar dua kali seminggu selama dua hingga empat minggu. Dan jika terapi mandiri tidak
memberikan hasil memuaskan, Anda bisa berkonsultasi dengan dokter atau dermatologis
anda untuk mendapatkan terapi yang lebih sesuai.

Pasca Terapi
Sebagaimana disampaikan sebelumnya, ruam yang dihasilkan oleh tinea versicolor
cenderung menetap sesaat pasca terapi berhasil, terutama jika bintik lebih terang
dibandingkan kulit normal di sekitarnya. Warna kulit yang masih berbeda ini cenderung
membuat orang berpikir bahwa kondisi yang sama masih berlangsung bahkan setelah
sebenarnya penyebabnya sudah ditangani.
Mungkin perlu waktu sebulan untuk kulit kembali membaur dan tampak normal, namun akan
selalu kembali normal. Jika ruamnya berwarna merah atau abu-abu, biasanya warna kulit
kembali normal dengan lebih cepat. Sehingga sangatlah penting agar kondisi dirawat sedini
mungkin saat diketahui, sehingga warna kulit dapat kembali normal dengan lebih cepat.
Ruam bisa muncul kembali dan sering kali tidak terhindarkan, meskipun tidak selalu terjadi
sepanjang tahun. Jika kekambuhan terjadi terlalu sering, Anda perlu berkonsultasi dengan
dokter atau dermatologis anda untuk mempertimbangkan solusi terapi preventif, bisa jadi
memerlukan obat antijamur per-oral (diminum) atau topikal (dioleskan) secara periodik.

Pityriasis Versicolor (Referat di bagian Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin)


BAB I
PENDAHULUAN
Kondisi geografis Indonesia yang merupakan daerah tropis dengan suhu dan
kelembapan yang tinggi akan memudahkan tumbuhnya jamur. Oleh karena itu, golongan
penyakit kulit yang disebabkan infeksi jamur menempati urutan kedua terbanyak dari insiden
penyakit kulit di bagian ilmu kesehatan kulit dan kelamin Fakultas kedokteran USU, RSUP.
H. Adam Malik, RSUD. Dr. Pirngadi Medan 7.
Penyakit kulit karena infeksi jamur secara umum dapat terbagi atas dua bentuk,
bentuk superfisial dan bentuk yang dalam (deep mycosis). Bentuk superfiasial terbagi atas
golongan dermatofitosis yang disebabkan oleh jamur dermatofita (antara lain: Tinea kapitis,
tinea korporis, tinea unguium, tinea cruris, tinea fasialis, tinea barbae, tinea manus, tinea
pedis) dan yang kedua golongan non dermatofitosis (pitiriasis versikolor, piedra, tinea nigra
palmaris, kandidiasis). Perbedaan antara dermatofitosis dan non dermatofitosis adalah pada
dermatofitosis melibatkan zat tanduk (keratin) pada stratum korneum epidermis, rambut dan
kuku yang disebabkan oleh dermatofit. Sedangkan non dermatofitosis disebabkan oleh jenis
jamur yang tidak dapat mengeluarkan zat yang dapat mencerna keratin kulit tetapi hanya
menyerang lapisan kulit yang paling luar 8. Diantara penyakit jamur superfisial yang sering
dijumpai di Indonesia salah satunya adalah pitiriasis versikolor. Pada penyakit kulit karena
infeksi jamur superfisial, seseorang terkena penyakit tersebut oleh karena kontak langsung
dengan benda-benda yang sudah terkontaminasi oleh jamur atau konta langsung dengan
penderita. Infeksi jamur yang non dermatofitosis salah satunya pitiriasis versikolor yang
disebabkan oleh jamur malassezia. Penyakit ini sangat menarik oleh karena keluhannya
bergantung pada tingkat ekonomi daripada kehidupan penderita. Bila penderita adalah orang
dengan golongan ekonomi lemah (misalnya: tukang becak, pembantu rumah tangga) penyakit
ini tidak dihiraukan. Tetapi pada penderita dengan ekonomi menengah keatas yang
mengutamakan penampilan maka penyakit ini adalah penyakit yang sangat bermasalah 7.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
I. Definisi
Pityriasis versicolor (PV) adalah penyakit jamur superfisial yang kronik, biasanya
asimtomatik, disebabkan oleh Malassezia furfur berupa bercak dengan pigmentasi yang
bervariasi pada umumnya mengenai badan 1. Bercak berwarna putih sampai coklat
kehitaman. Terutama meliputi badan dan kadang-kadang dapat menyerang ketiak, lipat
paha, lengan, tungkai atas, leher, muka dan kulit 2.
Pityriasis Versicolor adalah penyakit universal dan terutama di daerah tropis 2.
Istilah versicolor mengacu pada akibat yang ditimbulkan jamur ini yaitu perubahan warna
kulit tergantung dari kondisi kulit.
II. Etiologi
M. furfur (sebelumnya dikenal dengan nama Pityrosporum ovale, P. orbiculare)
adalah jamur lipofilik yang normal terdapat pada keratin kulit dan folikel rambut. Jamur
ini merupakan organisme oportunistik yang dapat menyebabkan pityriasis versicolor 1.
Jamur ini membutuhkan asam lemak untuk tumbuh 4.

Gambar.

Malassezia

furfur

Sumber (www.doctorfungus.com)

Kingdom : Fungi
Phylum : Basidiomycota
Class : Hymenomycetes
Order : Tremellales
Family : Filobasidiaceae
Genus : Malassezia.
Selain mengakibatkan PV, Malassezia Furfur juga dapat mengakibatkan dermatitis
seboroik, folikulitis, dan blefaritis. Koloni Malassezia furfur dapat tumbuh dengan cepat
dan matur dalam 5 hari dengan suhu 30-37 C. Warna koloni Malassezia Furfur adalah
kuning krem 4.

Gambar. Koloni Malassezia Furfur


Sumber (www.doctorfungus.com)
Malassezia furfur memiliki fragmen hifa dengan gambaran seperti sphagetti atau
meatboll saat dilihat dengan mikroskop. Sel jamur terdiri dari 2 bentuk 7:
1. Bentuk Hifa (pseudo hifa) yang merupakan bentuk vegetatif
2. Bentuk spora yang merupakan bagian jamur untuk bertahan hidup
III. Faktor Predisposisi
Suhu yang tinggi, kulit berminyak, hiperhidrosis, faktor herediter, pengobatan
dengan glukokortikoid, dan defisiensi imun. Pemakaian minyak seperti minyak kelapa
merupakan predisposisi terjadinya PV pada anak-anak 1.
Faktor predisposisi lain adalah 6:
1. Pengangkatan glandula adrenal
2. Penyakit Cushing
3. Kehamilan
4. Malnutrisi
5. Luka bakar
6. Terapi steroid
7. Supresi sistem imun
8. Kontrasepsi oral

9. Suhu Panas
10. Kelembapan
IV. Patogenesis
Malassezia berubah dari bentuk blastospore ke bentuk mycelial. Hal ini
dipengaruhi oleh faktor predisposisi. Malassezia memiliki enzim oksidasi yang dapat
merubah asam lemak pada lipid yang terdapat pada permukaan kulit menjadi asam
dikarboksilat. Asam dikarboksilik ini menghambat tyrosinase pada melanosit epidermis
dan dapat mengakibatkan hipomelanosit 1. Tirosinase adalah enzim yang memiliki
peranan penting dalam pembentukan melanin 9. Malassezia Furfur dapat menginfeksi
pada individu yang sehat sebagaimana ia dapat menginfeksi individu dengan
immunocompromised, misalnya pada pasien kanker atau AIDS.
V. Gejala Klinis
Biasanya tidak ada keluhan (asimtomatis), tetapi dapat dijumpai gatal pada
keluhan pasien. Pasien yang menderita PV biasanya mengeluhkan bercak pigmentasi
dengan alasan kosmetik. Predileksi pitiriasis vesikolor yaitu pada tubuh bagian atas,
lengan atas, leher, abdomen, aksila, inguinal, paha, genitalia 1.
Bentuk lesi tidak teratur, berbatas tegas sampai difus dengan ukuran lesi dapat
milier, lentikuler, numuler sampai plakat. Ada dua bentuk yang sering dijumpai 8:
1. bentuk makuler: berupa bercak yang agak lebar, dengan squama halus
diatasnya, dan tepi tidak meninggi.
2. bentuk folikuler: seperti tetesan air, sering timbul disekitar rambut.

Gambar. Pityriasis versicolor menunjukkan lesi hiperpigmentasi dalam lesi Kaukasia (kiri
atas) dan hipopigmentasi dalam Aborijin Australia (kanan atas dan bawah ).
Sumber (www.micologyonline.com), (A.D.A.M, www.about.com)

VII. Diagnosa Banding


Vitiligo, pityriasis alba, postinflammatory hypopigmentation, tuberculoid leprosy
VIII. Diagnosis
1. Diagnosa ditegakkan dengan gejala klinis, penemuan klinis berupa makula, berbatas
tegas, bulat atau oval dengan ukuran yang bervarisasi.
2. Mikroskopi langsung. Kerokan kulit diambil dari bercak pityriasis versicolor, atau
dengan menggunakan cellotape yang ditempel pada bercak. Setelah diambil
diletakkan di atas gelas objek kemudian ditetesi KOH 10-20% atau campuran 9
bagian KOH 10-20% dengan 1 bagian tinta Parker blueblack superchrome X akan
lebih memperjelas pembacaan karena memberi tampilan warna biru yang cerah pada
elemen-elemen jamur. Kemudian dipanaskan sebentar diatas lampu bunsen untuk
memfiksasi, dan dilihat di bawah mikroskop dengan pembesaran 40 kali 7.
- Hasil Positif: hifa pendek, lurus, bengkok (seperti huruf i.v.j) dan gerombolan
spora budding yeast yang berbentuk bulat mirip seperti sphagetti with
meatballs.
- Hasil Negatif: bila tidak ada lagi hifa, maka berarti bukan pitiriasis versicolor
walaupun ada spora.

3. Pemeriksaan dengan Wood's Lamp


Penyakit kulit yang disebabkan oleh golongan Malassezia dapat dideteksi dengan lampu
wood dimana akan timbul fluoresensi berwarna kuning keemasan.
.
IX. Pengobatan
Topical agents. Karena koloni jamur ini pada permukaan kulit, maka pengobatan
topikal sangat efektif. Lotion atau sampo Selenium sulfide (2.5%) dioleskan pada bercak
selama 10-15 menit, kemudian dicuci, digunakan selama satu minggu. Sampo
ketokonazol digunakan sama seperti selenium sulfide. Krim Azole (ketoconazole,
econazole, micronazole, clotrimazole) dioleskan selama 2 minggu. Solusio Terbinafine
1% solution dioleskan selama 7 hari 1. Topikal Terbinafine efektif pada pitriasis
versikolor, dengan penggunaan satu atau dua kali sehari selama dua minggu, terbukti
dapat menyembuhkan dari penelitian terhadap lebih dari 80% pasien pitiriasis versikolor,
tinea pedis, tinea corporis/cruris 5.
Systemic therapy. Ketokonazol termasuk kelas antijamur imidazoles. Ketokonazol
bekerja dengan memperlambat pertumbuhan jamur yang menyebabkan infeksi. Obat ini
diminum satu kali sehari. Sediaan tablet ketokonazol adalah 200mg. Dosis Ketoconazole
400 mg (diminum satu jam sebelum beraktifitas). Fluconazole 400 mg. Itraconazole 400
mg 1. Adapun efek samping ketokonazol adalah nausea, dispepsia, sakit perut, dan diare.
Secondary profilactic.. Sampo ketokonazol digunakan satu atau dua kali seminggu.
Selain itu juga dapat digunakan losion atau sampo selenium sulfide, Salicylic acid/sulfur
bar Pyrithione zinc ketokonazol 400 mg peroral sebulan sekali 1.
Disamping pengobatan, penting juga memberikan edukasi atau nasehat kepada penderita
agar 7:
- memakai pakaian yang tipis
- memakai pakaian yang berbahan cotton
- tidak memakai pakaian yang terlalu ketat.

X. Prognosis
Prognosis baik bila pengobatan dilakukan menyeluruh, tekun, dan konsisten.
Pengobatan harus diteruskan 2 minggu setelah fluoresensi negatif dengan pemeriksaan
lampu wood dan sediaan langsung negatif.
Meskipun jamur telah dieradikasi dengan pengobatan, tetapi hipopigmentasi
menetap selama beberapa minggu sampai melanosit memulai untuk memproduksi
melanin lagi 6.
BAB III
KESIMPULAN
Penyakit kulit karena infeksi jamur secara umum dapat terbagi atas dua bentuk, bentuk
superfisial dan bentuk yang dalam (deep mycosis). Bentuk superfiasial terbagi atas golongan
dermatofitosis yang disebabkan oleh jamur dermatofita (antara lain: Tinea kapitis, tinea
korporis, tinea unguium, tinea cruris, tinea fasialis, tinea barbae, tinea manus, tinea pedis) dan
yang kedua golongan non dermatofitosis (pitiriasis versikolor, piedra, tinea nigra palmaris,
kandidiasis). Perbedaan antara dermatofitosis dan non dermatofitosis adalah pada
dermatofitosis melibatkan zat tanduk (keratin) pada stratum korneum epidermis, rambut dan
kuku yang disebabkan oleh dermatofit. Sedangkan non dermatofitosis disebabkan oleh jenis
jamur yang tidak dapat mengeluarkan zat yang dapat mencerna keratin kulit tetapi hanya
menyerang lapisan kulit yang paling luar 8.
Biasanya tidak ada keluhan (asimtomatis), tetapi dapat dijumpai gatal pada keluhan
pasien. Pasien yang menderita PV biasanya mengeluhkan bercak pigmentasi dengan alasan
kosmetik. Predileksi pitiriasis vesikolor yaitu pada tubuh bagian atas, lengan atas, leher,
abdomen, aksila, inguinal, paha, genitalia 1.
Diagnosa ditegakkan dengan gejala klinis, penemuan klinis berupa makula, berbatas
tegas, bulat atau oval dengan ukuran yang bervarisasi. Mikroskopi langsung, Pemeriksaan
dengan Wood's Lamp.

Karena koloni jamur ini pada permukaan kulit, maka pengobatan topikal sangat efektif.
Ketokonazol

termasuk

kelas

antijamur

imidazoles.

Ketokonazol

bekerja

dengan

memperlambat pertumbuhan jamur yang menyebabkan infeksi.


Prognosis baik bila pengobatan dilakukan menyeluruh, tekun, dan konsisten. Pengobatan
harus diteruskan 2 minggu setelah fluoresensi negatif dengan pemeriksaan lampu wood dan
sediaan langsung negatif.
Daftar Pustaka
1. Wolff. K, Johnson. R.A, Suurmond. D . 2007. Fitzpatricks, The Color Atlas and
Synopsis of Clinical Dermatology, fifth edition. E-book : The McGraw-Hill
Companies.
2. Budimulja, U. 2003. Ilmu penyakit Kulit dan kelamin, edisi ketiga : Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta
3. Ellis, D. 2011. www.micologyonline.com. Universitas Adelaide. Tanggal akses 2 Juli
2011
4. Baillon. 2007. www.doctorfungus.com. Tanggal akses 2 Juli 2011
5. KJ, McClellan. 1999. Terbinafine. An update of its use in superficial mycoses.
58(1):179-202. NCBI. New Zealand. Tanggal akses 2 Juli 2011
6. Brannon, H. 2004. Tinea Versicolor. Diambil dari www.about.com/Dermatology.
diakses tanggal 2 Juli 2011
7. Nasution, M.A. 2005. Mikologi dan Mikologi kedokteran, Beberapa Pandangan
Dermatologis, Pidato jabatan pengukuhan guru besar tetap USU. Medan.
8. Boel, T. 2003. Mikosis Superfisial. Fakultas kedokteran Gigi USU. Diambil dari
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1174/1/fkg-trelia1.pdf.

diakses

tanggal 5 Juli 2011.


9. Fitrie, A.A. 2004. Histologi dari Melanosit. Fakultas Kedokteran Bagian Histologi
Universitas

Sumatera

Utara.

Diambil

dari

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1929/1/histologi-alya2.pdf.
akses 6 Juli 2011.

tanggal