Anda di halaman 1dari 2

Pengembangan Teknologi Nano Dalam Sediaan Farmasi di Indonesia

Teknologi nano adalah suatu proses rekayasa fungsi system pada tingkat
molekular. Teknologi ini mengacu pada manipulasi atau perakitan diri dari atom,
molekul atau kelompok molekul menjadi material atau alat dengan sifat-sifat baru
yang umumnya berukuran 0,1-100 nm. Nanomaterial yang dihasilkan
menunjukkan kemampuan unik yang didasarkan pada sifat intrinsik seperti
bentuk, ukuran dan sifat fungsional yang diberikan melalui modifikasi
permukaan. Dalam dunia kedokteran, manfaat teknologi nano memberikan
kemajuan dalam diagnosis, pengobatan, dan terapi penyakit. Lalu bagaimana
dengan dunia kefarmasian? Dalam dunia farmasi, produk sediaan dengan
teknologi nano dapat meningkatkan sifat kelarutan obat, penghantaran dan
pelepasan senyawa aktif yang terkontrol serta memperbaiki stabilitas obat yang
bersangkutan.
Sistem teknologi nano sebagai penghantaran obat pertama adalah vesikel
lipid yang pertama dijelaskan pada tahun 1960 dan kemudian dikenal sebagai
liposom. Sejak itu, sudah ada beberapa perkembangan penting yang telah
membuka jalan bagi teknologi nanopartikel saat ini. Hal ini diikuti pada tahun
1980 dengan aplikasi pertama dari target liposom. Perkembangan ini memuncak
dalam persetujuan dari doksorubisin. Sistem pengiriman vesikula enckapsulasi
doxorubicin yang telah terbukti menjadi pengobatan ampuh untuk beberapa jenis
kanker. Teknologi nano di bidang farmasi saat ini banyak dipergunakan untuk
ekstrak obat-obatan tradisional seperti ginseng juga kandungan kosmetik misalnya
untuk krim tabir surya. Sehingga ginseng melalui teknologi nano mampu lebih
cepat diserap tubuh dan menjadikan kandungan "ginsenosides" (kandungan
persentase ginseng untuk menghasilkan stamina) yang lebih tinggi dibandingkan
ginseng lainnya.
Perkembangan teknologi nano saat ini sudah tumbuh demikian pesat.
Menurut National Science Foundation, total market Nano Technology mencapai

satu trilyun dollar Amerika pada tahun 2015, dan sekarang diperkirakan sudah
mencapai lima trilyun dollar Amerika. Di Indonesia, pengembangan teknologi
dalam sediaan farmasi masih jauh tertinggal dibandingkan negara lain di dunia.
Perkembangan teknologi nano di Indonesia sendiri baru berusia lima tahun,
padahal di luar negeri teknologi ini sudah berkembang sejak 10 tahun yang lalu
(tahun 1990 an). Padahal jika ditekuni, inovasi yang dihasilkan akan menjadi aset
berharga untuk negeri ini. Banyaknya dana yang harus dikeluarkan dalam riset ini
juga menjadi kendala dalam pengembangan teknologi nano dalam sediaan
farmasi.

Kontribusi

kalangan

industry

farmasi

dalam

penelitian

dan

pengembangan teknologi di indonesia juga masih terbilang kecil.


Hal inilah yang menyebabkan perkembangan teknologi nano di Indonesia
masih dikatakan lambat. Untuk itu perhatian dan intensitas penelitian
nanoteknologi di Indonesia harus segera ditingkatkan, mengingat negara-negara
lain juga belum lama merintisnya dan peluang serta potensi yang sangat besar
yang dimiliki Indonesia. Kehilangan momen hanya menempatkan bangsa
Indonesia di papan bawah persaingan dunia di masa mendatang. Untuk
mengusung isu nanoteknologi ini diperlukan kerjasama yang erat dari semua
kalangan baik industri, pemerintah, dan akademisi. Prospek nanoteknologi akan
semakin cerah jika kolaborasi tersebut berjalan harmonis. Berawal dari ini,
permasalahan bangsa diharapkan dapat terselesaikan sekaligus meningkatkan
derajat bangsa di percaturan Internasional.