Anda di halaman 1dari 254

ANALISIS KEBIJAKAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN INKLUSIF

DI PROVINSI DKI JAKARTA

Oleh:

Kamal Fuadi
105018200722

PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN


JURUSAN KEPENDIDIKAN ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2011M/1432H

ANALISIS KEBIJAKAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN INKLUSIF


DI PROVINSI DKI JAKARTA

Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk Memenuhi Persyaratan
Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)

Oleh:

Kamal Fuadi
105018200722

Di bawah Bimbingan

PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN


JURUSAN KEPENDIDIKAN ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2011M/1432H

LEMBAR PENGESAHAN PANITIA UJIAN


Skripsi yang berjudul Analisis Kebijakan Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif
di Provinsi DKI Jakarta diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
(FITK) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, dan telah dinyatakan
lulus dalam Ujian Munaqasyah pada hari Jumat, 11 Maret 2011 di hadapan dewan
penguji. Karena itu penulis berhak memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) pada
Jurusan Kependidikan Islam Program Studi Manajemen Pendidikan.
Jakarta, 11 Maret 2011
Panitia Ujian Munaqasyah
Ketua Panitia (Ketua Jurusan KI)
Drs. Rusydy Zakaria, M.Ed., M.Phil.
NIP. 19560530 198503 1 002

Tanggal dan Tanda Tangan


(....)

(....)

(....)

(....)

(....)

(....)

(....)

(....)

Ketua Program Studi Manajemen Pendidikan


Drs. H. Muarif SAM, M.Pd
NIP. 19650717 199403 1 003
Penguji I
Prof. Dr. H. Armai Arief, MA
NIP. 19560119 198603 1 003
Penguji II
Prof. Dr. H. Abuddin Nata, MA
NIP. 19540802 198503 1 002

Mengetahui
Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

LEMBAR PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama

: Kamal Fuadi

Tempat dan Tanggal Lahir

: Tegal, 20 Maret 1986

NIM

: 105018200722

Jurusan

: Kependidikan Islam-Manajemen Pendidikan

Judul Skripsi

: Analisis Kebijakan Penyelenggaraan Pendidikan


Inklusif di Provinsi DKI Jakarta

Pembimbing

: Prof. Dr. Dede Rosyada, MA

Dengan ini saya menyatakan bahwa:


1. Skripsi saya ini merupakan karya saya yang diajukan untuk memenuhi salah
satu persyaratan memperoleh gelar Sarjana Strata 1 (S1) di Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan
sesuai dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya atau
merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima
sanksi yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Jakarta, 25 Februari 2011
Penulis

Kamal Fuadi

ABSTRAKSI
Kamal Fuadi, 105018200722, Analisis Kebijakan Penyelenggaraan Pendidikan
Inklusif di Provinsi DKI Jakarta
Pemerintah Indonesia memiliki komitmen untuk menyelenggarakan pendidikan
demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak
asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa yang
diwujudkan dengan menyelenggarakan pendidikan inklusif. Provinsi DKI Jakarta
merupakan satu-satunya daerah yang mengeluarkan kebijakan khusus penyelenggaraan
pendidikan inklusif yang tertuang dalam Peraturan Gubernur Nomor 116 Tahun 2007
Tentang Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif.
Kebijakan penyelenggaraan pendidikan inklusif masih menyisakan berbagai
permasalahan seperti belum adanya pemahaman mengenai kebijakan penyelenggaraan
pendidikan inklusif, belum tertampungnya anak-anak yang teridentifikasi berkebutuhan
khusus dalam sekolah-sekolah inklusif dan belum tersedianya sumber daya pendidik
sekolah inklusif yang memadai. Maka dari itu, penulis mengangkat permasalahan
tersebut dalam skripsi yang berjudul Analisis Kebijakan Penyelenggaraan Pendidikan
Inklusif di Provinsi DKI Jakarta.
Penelitian yang menggunakan metode kualitatif deskriptif ini berusaha untuk
mendeskripsikan kebijakan penyelenggaraan pendidikan inklusif dan implementasi
kebijakan tersebut di Provinsi DKI Jakarta. Peneliti melakukan wawancara dengan
Kepala Bidang TK, SD, PLB Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, Koordinator
Program Opportunity for Vulnerable Children (OVC) Hellen Keller International (HKI),
dan Guru Program Pendidikan Inklusif di SMP Negeri 223 Pasar Rebo Jakarta Timur
dan SMA Negeri 66 Cilandak Jakarta Selatan.
Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa, pertama, pendidikan inklusif yang
diselenggarakan di Provinsi DKI Jakarta cenderung untuk mendeskripsikan penyatuan
anak-anak berkelainan (penyandang hambatan/cacat) ke dalam program sekolah.
Walaupun peserta didik dengan kecerdasan dan/atau bakat istimewa juga dimasukkan
dalam salah satu peserta didik pendidikan inklusif, keberadaan mereka tidak banyak
menjadi isu dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif. Kedua, penyelenggaraan
pendidikan inklusif tidak menggunakan model sebagaimana terdapat dalam literatur dan
ketentuan umum pendidikan inklusif. Model hanya merupakan bagian dari strategi yang
perlu diketahui dan dilaksanakan guru. Ketiga, belum semua kategori anak
berkebutuhan khusus diterima menjadi peserta didik program pendidikan inklusif. Hal
tersebut berkaitan dengan belum terpenuhinya sumber daya sekolah yang memadai.
Keempat, penunjukkan sekolah-sekolah penyelenggara pendidikan inklusif di Provinsi
DKI Jakarta melebihi ketentuan yang ditetapkan pemerintah pusat. Kelima, Pemerintah
Provinsi DKI selalu bekerja sama dengan pihak sekolah dengan memberikan pelatihan
bagi guru-guru inklusi, bantuan finansial, bantuan sarana dan prasarana, dan beasiswa
bagi sekolah-sekolah penyelenggara pendidikan inklusif.
Kata Kunci: Kebijakan, Pendidikan Inklusif

Kata Pengantar
Bismillaahirrahmaanirraahiim
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang tak pernah berhenti
melimpahkan rahmat dan ridla-Nya kepada penulis sehingga skripsi ini dapat penulis
selesaikan. Shalawat teriring salam penulis curahkan kepada Nabi Muhammad SAW,
keluarga, sahabat, tabiin, dan para pengikut beliau yang setia menjalankan ajaranajarannya hingga akhir zaman.
Penulisan skripsi ini bukan sekadar pemenuhan kewajiban tugas akhir yang harus
penulis tunaikan sebagai mahasiswa untuk mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan
(S.Pd) pada Program Studi Manajemen Pendidikan Jurusan Kependidikan Islam
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Namun lebih
jauh penulisan skripsi ini merupakan pembuktian penulis sebagai mahasiswa untuk
menulis sebuah karya tulis di akhir masa kuliah.
Dengan selesainya penulisan skripsi ini, penulis sampaikan rasa terima kasih kepada
semua pihak yang telah berperan kepada penulis baik semasa penulis berkuliah
maupun semasa penulis menyelesaikan penulisan skripsi ini. Dengan segala
kerendahan dan ketulusan hati, penulis menghaturkan terima kasih kepada:
1.

Bapak Prof. Dr. Dede Rosyada, MA, Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Dosen Pembimbing Skripsi
yang telah meluangkan waktu di tengah kesibukan beliau untuk memberikan
arahan selama penulis menyelesaikan penelitian dan penulisan skripsi

2.

Bapak Rusydi Zakaria, M.Ed., M.Phil., Ketua Jurusan Kependidikan Islam,


Bapak Drs. Muarif SAM, M.Pd, Ketua Program Studi Manajemen
Pendidikan, dan Ibu Iffah Zahriyani, S.Pd, Staf Jurusan KI-MP yang telah
memberikan layanan akademik dan menjadi teman diskusi selama penulis
menempuh perkuliahan

ii

3.

Bapak Drs. Syauki, M.Pd, Dosen Penasehat Akademik yang selalu


memberikan saran dalam menjalani perkuliahan

4.

Bapak dan Ibu Dosen di lingkungan Jurusan Kependidikan Islam Program


Studi Manajemen Pendidikan yang telah mendidik dan membimbing penulis
dengan ketulusan, profesionalisme, dan dedikasi yang tinggi

5.

Pimpinan dan Staf Perpustakaan Utama dan Perpustakaan Fakultas Ilmu


Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

6.

Bapak Dr. Taufik Yudi Mulyanto, M.Pd, Kepala Dinas Pendidikan dan Ibu
Drs. Septi Novida, M.Pd, Kepala Bidang TK/SD/PLB Dinas Pendidikan
Provinsi DKI Jakarta beserta staf dan jajarannya yang telah memfasilitasi
penulis untuk mengadakan penelitian di lingkungan Dinas Pendidikan
Provinsi DKI Jakarta

7.

Bapak Drs. Sugiyono, M.Pd, M.Si, Kepala Sekolah SMA Negeri 66 Jakarta
dan Bapak Dr. H.A. Otjin Kusnadie, M.Pd, Kepala Sekolah SMP Negeri 223
yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk mengadakan
penelitian dan wawancara

8.

Ibu Fitri selaku Koordinator Program Opportunity for Vulnerable Children


(OVC) Hellen Keller International (HKI) yang telah meluangkan waktu beliau
untuk penulis

9.

Bapak Drs. Moh. Djazeri (alm) dan Ibu Dra. Umi Azizah, orangtua penulis
yang selalu mendidik, membimbing, memberikan nasehat dan dukungan, serta
doa dimanapun penulis berada

10. Fikri Ali, SE, Muthmainnah (feat. Muhammad Nidzam Ardiyan) dan Rofik
Habibi, kakak-kakak penulis yang tidak pernah lelah memotivasi. Muhammad
Auva Ahdi, Charis Luthfi, dan Shovia Afida, adik-adik penulis yang selalu
menjadi penyemangat. Kalian yang terbaik yang penulis miliki
11. Bapak Prof. Dr. Ali Mustafa Yaqub, MA, Khadim Mahad Aly DARUS
SUNNAH, guru dan orang tua penulis, yang telah mengenalkan lebih jauh
kepada penulis mengenai arti istiqamah dan totalitas dalam mendalami ilmu.

iii

Semoga Allah selalu memberikan kesehatan dan limpahan rahmat kepada


beliau.
12. Sahabat-sahabat DARUS SUNNAH 2005, A. Syarif Hidayatullah, S.Th.I, Lc.,
Rikza Ahmad, S.Th.I, Lc., Edo Abdullah Faqih, S.Si, Lc., Fathuddin, SH.I,
Lc., Agus Gunawan, S.Th.I, Lc., Zainal Muttaqin, S.Th.I, Lc., Abdul Aziz,
Lc., Arya Izzudin, Lc., Alvian Iqbal Zahasfan, S.SI, Lc., Ahmad Masyari
SH.I, Rahmat, Devita Zuliati, S.Pd.I, Lc., Dida Farida, S.SI., Lc., Fajriyati
Aljabhati, S.SI, Lc., Fitriyani, S.SI, Lc., dan Maryam Shofa, S.SI, Lc.. Kita
adalah sahabat terbaik
13. Sahabat-sahabat AL BARKAH INSTITUTE, Syarif Zakky Azizi, Muhammad
Fatkhurrahman, Rohim, Habibullah Siregar, Kurnia Aswaja, Nasihin Aziz
Raharjo, dan Ana Mulyana
14. Pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa Jurusan Kependidikan IslamManajemen Pendidikan (BEMJ KI-MP) Periode 2007-2008 yang telah
bersama-sama mewarnai aktivisme kampus
15. Kawan-kawan Ikatan Mahasiswa Tegal (IMT) Ciputat. Gus Aqib Malik,
Abdul Latif, Abraham Firdaus, Iqbal Kaukabuddin, Fatkhul Muin, M.
Shobahur Rizqi, Zainal Muttaqin, Hendri Pradiyanto, Alimuddin Tarlay,
Atfiyanah, dan teman-teman yang tidak bisa disebutkan di sini. Sungguh
kalian menjadi saudara terbaik di perantauan
16. Teman-teman kelas A dan terutama kelas B Jurusan Kependidikan IslamManajemen Pendidikan (KI-MP) angkatan 2005. Maaf saya bukan teman
yang baik
Penulis menyadari bahwa skripsi sederhana ini sebagai karya tulis sangat jauh dari
sempurna. Oleh karena itu penulis selalu mengharapkan kritik dan saran konstruktif.
namun dengan kerendahan hati, penulis sangat berharap agar skripsi ini dapat
bermanfaat untuk semua pihak yang menggeluti bidang manajemen pendidikan,

iv

minimal bagi diri penulis. Akhirnya hanya kepada Allah jua segala sesuatu penulis
kembalikan. Wallaahu Alamu Bi As Shawab.

Ciputat, 25 Februari 2011

Penulis

iv

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ....................................................................................... i


DAFTAR ISI ..................................................................................................... iv
DAFTAR GAMBAR DAN TABEL ................................................................. vi
BAB I : PENDAHULUAN ........................................................................... 1
A. Latar Belakang Masalah............................................................... 1
B. Identifikasi Masalah ..................................................................... 8
C. Pembatasan Masalah .................................................................... 9
D. Perumusan Masalah ..................................................................... 9
E. Manfaat Penelitian ....................................................................... 9
BAB II : KAJIAN TEORI ............................................................................ 10
A. Kebijakan .................................................................................... 10
1. Pengertian Kebijakan ............................................................. 10
2. Tahap-Tahap Kebijakan ......................................................... 14
3. Analisis Kebijakan ................................................................. 16
B. Pendidikan Inklusif
1. Pengertian Pendidikan Inklusif ............................................... 20
2. Landasan Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif ..................... 25
3. Model Pendidikan Inklusif ..................................................... 27
4. Komponen Pendidikan Inklusif .............................................. 31
5. Pembelajaran Model Inklusif di Kelas Reguler ....................... 35
BAB III : METODE PENELITIAN ............................................................... 39
A. Tempat dan Waktu Penelitian ...................................................... 39
B. Tujuan Penelitian ......................................................................... 39
C. Metode Penelitian ........................................................................ 39
D. Sumber Data ................................................................................ 40
E. Teknik Pengumpulan Data ........................................................... 41
F. Teknik Analisis Data ................................................................... 42

BAB IV : HASIL PENELITIAN .................................................................... 44


A. Gambaran Umum Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta ........... 44
1. Visi dan Misi Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta ............. 44
a. Visi Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta ....................... 44
b. Misi Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta ....................... 44
2. Tugas Pokok dan Fungsi Dinas Pendidikan Provinsi DKI
Jakarta ..................................................................................... 47
a. Tugas Pokok Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta.......... 48
b. Fungsi Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta ................... 48
3. Tujuan Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta ....................... 49
4. Sasaran Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta ...................... 49
5. Strategi Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta ...................... 49
6. Arah Kebijakan Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta .......... 50
7. Sasaran Strategik Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta........ 50
8. Kondisi Sekolah, Siswa, dan Guru di Lingkungan Dinas
Pendidikan Provinsi DKI Jakarta ............................................. 51
B. Deskripsi dan Analisis Data ......................................................... 53
1. Kebijakan Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif di Provinsi
DKI Jakarta ............................................................................. 53
2. Implementasi Kebijakan Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif
di Provinsi DKI Jakarta............................................................ 78
BAB V : PENUTUP ....................................................................................... 102
A. Kesimpulan.................................................................................. 102
B. Saran ........................................................................................... 103
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 105
DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................... 109

vi

DAFTAR GAMBAR DAN TABEL


Gambar
Gambar 1

Analisis Kebijakan yang Berorientasi pada Masalah

Gambar 2

Prosedur Identifikasi, Evaluasi, Konfirmasi, dan

Hal. 18

Penempatan Peserta Didik dalam Pendidikan Luar


Biasa ..

Hal. 38

Gambar 3

Jumlah Sekolah di Provinsi DKI Jakarta ... Hal. 51

Gambar 4

Jumlah Siswa di Provinsi DKI Jakarta ..

Hal. 52

Gambar 5

Jumlah Pendidik di Provinsi DKI Jakarta .

Hal. 53

Gambar 6

Kebijakan Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta ..

Hal. 62

Tabel
Tabel 1

Daftar Nama TK, SD, SMP, SMA/SMK Negeri


Penyelenggara Pendidikan Inklusi Provinsi DKI
Jakarta Hal. 66

Tabel 2

Sebaran Sekolah Inklusif di Provinsi DKI Jakarta

Tabel 3

Daftar Sekolah Inklusif Penerima Subsidi Beasiswa


Tahun Anggaran 2010 ...

Tabel 4

Hal. 74

Hal. 82

Daftar Nama Sekolah Penyelenggara Pendidikan


Inklusif Penerima Biaya Operasional Tahun Anggaran
2009 ...

Tabel 5

Hal. 93

Daftar Nama Sekolah Penyelenggara Pendidikan


Inklusif Penerima Dana Pendamping Tahun Anggaran
2009 ...

Hal. 95

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki komitmen tinggi terhadap
upaya pencerdasan bangsa. Komitmen ini dibuktikan dengan pencantuman upaya
pencerdasan bangsa dalam konstitusi negara sebagai salah satu hal paling
mendasar yang perlu dibangun dan dikembangkan pasca kemerdekaan Indonesia.
Komitmen ini kemudian dijabarkan dalam pasal UUD 1945 pasal 31 yang
menyebutkan:
1. Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran
2. Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pengajaran
nasional yang diatur dengan undang-undang1
Realisasi komitmen yang tercantum dalam konstitusi ini diupayakan dengan
menyelenggarakan pendidikan yang terdiri dari beberapa jalur, jenjang dan jenis
mulai dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi di seluruh Indonesia.
Pendidikan ini diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak

Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945

diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai
kultural, dan kemajemukan bangsa2.
Dalam sekolah, salah satu komponen yang terpenting yaitu peserta didik,
karena merekalah yang dijadikan subjek pembelajaran. Peserta didik memiliki
keragaman baik dari segi fisik maupun kemampuan. Keragaman yang dimiliki
peserta didik ini mempengaruhi proses pembelajaran sehingga perbedaan fisik dan
kemampuan peserta didik membutuhkan penanganan tersendiri oleh tenaga
pendidik.
Pada umumnya, rata-rata peserta didik di sekolah memiliki kondisi fisik dan
kemampuan yang normal. Mereka tidak mengalami kesulitan dalam mengikuti
proses pembelajaran sesuai dengan ketentuan yang telah ditentukan pemerintah.
Kesulitan terjadi tatkala terdapat peserta didik yang memiliki kelainan atau
kecerdasan dan bakat istimewa. Perbedaan yang demikian harus mendapat
perhatian dari tenaga pendidik. Perbedaan ini seharusnya tidak menjadikan adanya
diskriminasi terhadap peserta didik dalam mengikuti proses pembelajaran di
sekolah.
Salah satu upaya pemerintah untuk menghindari atau bahkan menghilangkan
diskriminasi dalam pendidikan yaitu dengan menyelenggarakan pendidikan yang
tidak membeda-bedakan kelainan dan tingkat kecerdasan yang dimiliki peserta
didik. Pendidikan yang demikian disebutkan secara eksplisit dengan istilah
Pendidikan Khusus dalam Pasal 15 dan Pasal 32 ayat 1 Undang-Undang Nomor
20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Dalam Penjelasan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun
2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 15 disebutkan bahwa pendidikan
khusus merupakan penyelenggaraan pendidikan untuk peserta didik yang
berkelainan atau peserta didik yang memiliki kecerdasan luar biasa yang

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan


Nasional

diselenggarakan secara inklusif atau berupa satuan pendidikan khusus pada


tingkat pendidikan dasar dan menengah3.
Dalam Pasal 32 Ayat 1 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun
2003 juga disebutkan istilah Pendidikan Khusus ini sebagai penjelas Pasal 15 di
atas. Dalam Pasal 32 Ayat 1 disebutkan bahwa pendidikan khusus merupakan
pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam proses
pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, sosial, dan/atau memiliki
potensi kecerdasan dan bakat istimewa 4.
Dalam kedua pasal di atas disebutkan secara jelas mengenai apa yang disebut
dengan istilah Pendidikan Khusus dan siapa saja yang berhak mendapatkan
pendidikan ini. Pendidikan Khusus ini memang didesain untuk mengakomodir
perbedaan yang terdapat pada peserta didik. Perbedaan ini harus direspon dalam
bentuk pelaksanaan pendidikan yang mampu mengelola perbedaan-perbedaan
yang dimaksud dalam pasal di atas.
Pemerintah Indonesia sudah sejak lama menyelenggarakan pendidikan yang
secara khusus disediakan bagi peserta didik yang memiliki kelainan. Bentuk
pendidikan bagi peserta didik berkelainan ini secara khusus diatur lewat Peraturan
Pemerintah Nomor 72 Tahun 1991 Tentang Pendidikan Luar Biasa 5. Peraturan
pemerintah ini hanya mengatur pendidikan yang disediakan bagi peserta didik
yang memiliki kelainan fisik dan mental. Dalam peraturan ini tidak disebutkan
adanya aturan yang mengikutsertakan peserta didik yang memiliki bakat dan
kecerdasan luar biasa atau istimewa.
Istilah Pendidikan Luar Biasa memang selalu dikaitkan dengan pendidikan
bagi peserta didik yang memiliki kelainan fisik dan mental. Pendidikan ini
didesain secara khusus dengan membedakan dan sekaligus memisahkan peserta

Penjelasan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem
Pendidikan Nasional
4
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan
Nasional
5
Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 1991 Tentang Pendidikan Luar Biasa.

didik yang memiliki kelainan fisik dan mental dengan peserta didik yang tidak
memiliki kelainan fisik dan mental (normal).
Di Indonesia pendidikan bagi peserta didik berkelainan selama ini disediakan
dalam tiga macam lembaga pendidikan, yaitu Sekolah Luar Biasa (SLB), Sekolah
Dasar Luar Biasa (SDLB), dan Pendidikan Terpadu. SLB, sebagai lembaga
pendidikan khusus tertua, menampung anak dengan jenis kelainan yang sama,
sehingga ada SLB Tunanetra, SLB Tunarungu, SLB Tunagrahita, SLB
Tunadaksa, SLB Tunalaras, dan SLB Tunaganda. Sedangkan SDLB menampung
berbagai jenis anak berkelainan, sehingga di dalamnya mungkin terdapat anak
tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, dan/atau tunaganda.
Sedangkan Pendidikan Terpadu adalah sekolah reguler yang menampung anak
berkelainan dengan kurikulum, guru, sarana pengajaran, dan kegiatan belajar
mengajar yang sama. Namun selama ini baru menampung anak tunanetra, itupun
perkembangannya kurang menggembirakan karena banyak sekolah umum yang
keberatan menerima anak berkelainan.
Pada umumnya, lokasi SLB berada di Ibu Kota Kabupaten. Padahal anak-anak
berkelainan tersebar hampir di seluruh daerah (Kecamatan/Desa), tidak hanya di
Ibu Kota Kabupaten. Akibatnya, sebagian anak-anak berkelainan, terutama yang
kemampuan ekonomi orang tuanya lemah, terpaksa tidak disekolahkan karena
lokasi SLB jauh dari rumah; sementara kalau akan disekolahkan di SD terdekat,
SD tersebut tidak bersedia menerima karena merasa tidak mampu melayaninya.
Sebagian yang lain, mungkin selama ini dapat diterima di SD terdekat, namun
karena ketiadaan pelayanan khusus bagi mereka, akibatnya mereka beresiko
tinggal kelas dan akhirnya putus sekolah. Permasalahan di atas akan berakibat
pada kegagalan program wajib belajar.
Untuk mengantisipasi hal di atas, dan dalam rangka menyukseskan wajib
belajar pendidikan dasar, dipandang perlu meningkatkan perhatian terhadap anakanak berkelainan, baik yang telah memasuki sekolah umum (SD) tetapi belum
mendapatkan pelayanan pendidikan khusus maupun anak-anak berkelainan yang

belum sempat mengenyam pendidikan sama sekali karena tidak diterima di SD


terdekat atau karena lokasi SLB jauh dari tempat domisilinya.
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional memberikan warna lain dalam penyediaan pendidikan bagi
anak berkelainan. Pada penjelasan pasal 15 dan pasal 32 tentang pendidikan
khusus disebutkan bahwa pendidikan khusus merupakan pendidikan untuk peserta
didik yang berkelainan atau peserta didik yang memiliki kecerdasan luar biasa
yang diselenggarakan secara inklusif atau berupa satuan pendidikan khusus pada
tingkat pendidikan dasar dan menengah. Pasal inilah yang memungkinkan
terobosan bentuk pelayanan pendidikan bagi anak

berkelainan berupa

penyelenggaraan pendidikan inklusif.


Istilah inklusif mulai digunakan untuk menggantikan istilah pendidikan luar
biasa6. Di Amerika Serikat misalnya, perubahan model pendidikan anak
berkekhususan sudah berlangsung mulai tahun 70-an. Tujuan dari perubahan itu
tidak lain adalah peniadaan diskriminasi pendidikan bagi populasi individu
berkekhususan. Indonesia juga mengalami perkembangan yang hampir sama.
Sampai saat ini terdapat banyak sekolah yang mulai membuka program
pendidikan inklusif7. Yang melandasi pelaksanaan pendidikan inklusif ini secara
umum adalah semangat egalitarianisme yang berarti terdapat kesempatan yang
sama bagi semua anak untuk memperoleh pendidikan. Masing-masing anak harus
mendapatkan pengalaman belajar yang berbeda-beda. Pengalaman yang berbeda
ini tidak meniscayakan adanya pendidikan yang dipisahkan, namun berangkat dari
perbedaan yang terdapat dalam individu anak 8.
Menurut data Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
(Dirjen Mandikdasmen) Departemen Pendidikan Nasional, jumlah sekolah yang
6

Ronald L. Taylor, Assesment of Exceptional Students; Educational and Psychological


Procedures, (New Jersey: Pearson Education Inc., 2009), Cet. Ke-8, h. 4-6.
7
Agnes Tri Harjaningrum, dkk., Peranan Orang Tua dan Praktisi dalam Membantu Tumbuh
Kembang Anak Berbakat Melalui Pemahaman Teori dan Tren Pendidikan, (Jakarta: Prenada,
2007), h. 8-9.
8
Louis A. Fliegler, Curriculum Implementation dalam Curriculum Planning for The Gifted,
(New Jersey: Prentice Hall Inc., 1961), h. 372-373.

menyelenggarakan pendidikan Inklusif yaitu sebanyak 814 sekolah dengan jumlah


siswa mencapai 15.1819. Secara operasional, aturan mengenai sekolah inklusif ini
berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar
Nasional Pendidikan. Selain itu, pemerintah melalui Dirjen Mandikdasmen juga
telah mengeluarkan Surat Edaran Dirjen Mandikdasmen No. 380/C.C6/MN/2003
tanggal 20 Januari 2003 Perihal Pendidikan Inklusif10. Aturan terbaru yang
mengatur pendidikan inklusif yaitu Peraturan Menteri (Permen) Pendidikan
Nasional Nomor 70 Tahun 2009 Tentang Pendidikan Inklusif Bagi Peserta Didik
yang Memiliki Kelainan dan Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat
Istimewa.
Selaras dengan semangat otonomi daerah, pengelolaan pendidikan inklusif
didasarkan atas Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Penyelenggaraan
pendidikan inklusif di tingkat daerah juga telah memiliki payung hukum tingkat
daerah. Sebagai ibukota Indonesia dan memiliki otonomi, Daerah Khusus Ibukota
Jakarta memiliki aturan penyelenggaraan pendidikan inklusif lewat Peraturan
Gubernur (Pergub) Nomor 116 Tahun 2007 Tentang Penyelenggaraan Pendidikan
Inklusi.
Sampai saat ini, Provinsi DKI Jakarta sudah memiliki 164 Sekolah
penyelenggara pendidikan inklusif dari mulai tingkat TK, SD, SMP, dan
SMA/SMK. Secara terperinci jumlah tersebut terdiri dari TK sebanyak 3, SD
sebanyak 120, SMP sebanyak 31, dan SMA/SMK sebanyak 10 11. Jumlah ini
bukanlah jumlah ideal sesuai dengan yang dipersyaratkan dalam Pergub Nomor
116 Tahun 2007. Dalam pasal 4 disebutkan bahwa setiap kecamatan sekurangkurangnya memiliki 3 (tiga) TK/RA, SD/MI dan 1 (satu) SMP/MTs yang

Direktorat Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Policy Brief, Sekolah Inklusif;
Membangun Pendidikan Tanpa Diskriminasi, No. 9. Th.II/2008, Departemen Pendidikan
Nasional, h. 5.
10
Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar
dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional, Pedoman Umum Penyelenggaraan Pendidikan
Inklusif, h. 13.
11
Lampiran Keputusan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta Nomor 1190/2010
Tentang Penunjukkan Nama-nama TK, SD, SMP, dan SMA/SMK Penyelenggara Pendidikan
Inklusif di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2010.

menyelenggarakan pendidikan inklusi. Setiap kotamadya sekurang-kurangnya


memiliki 3 (tiga) SMA/SMK atau MA/MAK yang menyelenggarakan pendidikan
inklusi12.
Provinsi DKI Jakarta memiliki 5 kotamadya dan 1 kabupaten dengan 44
kecamatan13. Dengan 5 kotamadya dan kabupaten serta kecamatan sebanyak itu,
seharusnya jumlah sekolah penyelenggara pendidikan inklusi, sesuai dengan
Pergub Nomor 116 Tahun 2007, di tingkat TK/RA dan SD/MI adalah sebanyak
132 sekolah. Jumlah SMP/MTs sebanyak 44 sekolah dan jumlah SMA/SMK dan
MA/MAK sebanyak 15 Sekolah.
Selain jumlah yang belum memenuhi kondisi ideal yang seharusnya,
penyelenggaraan pendidikan inklusi juga masih menemui berbagai kendala.
Dalam salah satu laporan penelitian berjudul Pengkajian Pendidikan Inklusif bagi
Anak Berkebutuhan Khusus pada Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah,
disebutkan bahwa efektifitas pendidikan inklusif masih dapat dilihat dinamikanya
hanya di tingkat SD, karena di tingkat lanjutan dapat dikatakan tidak ada model
pendidikan inklusif, yang ada adalah model pendidikan integrasi (ABK mengikuti
semua kegiatan dan aktivitas di sekolah reguler tanpa ada bantuan dan
penanganan khusus) 14.
Pemerintah sendiri mengakui bahwa sampai saat ini tidak semua sekolah
umum mau menerima anak-anak dengan kebutuhan khusus. Alasan yang
dikemukakan karena tidak ada guru khusus yang menangani mereka dan tidak ada
fasilitas yang memadai. Kengganan untuk mengakomodasi anak berkebutuhan
khusus disebabkan tidak adanya kesadaran dan minimnya pemahaman tentang

12

Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 116 Tahun 2007.


Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan Provinsi DKI Jakarta, dari
http://www.depdagri.go.id/media/filemanager/2010/01/29/1/1/11__dki_jakarta.pdf, 23 Januari
2011
14
Penelitian ini dilakukan dalam skala nasional dengan mengambil sampel di beberapa provinsi
penyelenggara pendidikan inklusi. Lihat Pengkajian Pendidikan Inklusif bagi Anak Berkebutuhan
Khusus
pada
Jenjang
Pendidikan
Dasar
dan
Menengah,
dari
http://puslitjaknov.org/data/file/2008/makalah_undangan/DYAH%20S_Pengkajian%20Pendidikan
%20Inklusif.pdf, 14 Januari 2010.
13

pendidikan inklusif. Kengganan tersebut juga lebih banyak terjadi di sekolahsekolah di kota besar 15.
Sebagai model pendidikan yang baru memang wajar bila masih terdapat
beberapa permasalahan terkait pendidikan inklusif. Namun sangat disayangkan
bila pemerintah tidak secara serius menggarap penyelenggaraan pendidikan
inklusif. Pendidikan inklusi diharapkan dapat memecahkan salah satu persoalan
dalam penanganan pendidikan bagi anak berkelainan selama ini. Pemerintah
menyatakan ketidakmungkinan membangun SLB di tiap Kecamatan/Desa karena
akan memakan biaya yang sangat mahal dan waktu yang cukup lama. Selain itu,
penyelenggaraan pendidikan inklusif juga akan membantu percepatan pencapaian
target program wajib belajar 9 tahun yang telah dicanangkan pemerintah.
Mengingat urgensi permasalahan mengenai pendidikan inklusif di atas, penulis
tertarik untuk menulis skripsi berjudul Analisis Kebijakan Penyelenggaraan
Pendidikan Inklusif di Provinsi DKI Jakarta.

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah mengenai kebijakan penyelenggaraan
pendidikan inklusif, maka dapat diidentifikasi masalah penelitian sebagai berikut:
1. Analisis kebijakan penyelenggaraan pendidikan inklusif di Provinsi DKI
Jakarta belum direncanakan dengan baik
2. Kebijakan penyelenggaraan pendidikan inklusif di Provinsi DKI Jakarta
belum diimplementasikan dengan efektif
3. Kebijakan penyelenggaraan pendidikan inklusi di provinsi DKI Jakarta
belum disosialisasikan secara maksimal
4. Belum adanya pemahaman yang sama mengenai kebijakan penyelenggaraan
pendidikan inklusif di Provinsi DKI Jakarta
5. Belum adanya persepsi yang sama mengenai urgensi penyelenggaraan
pendidikan inklusif di Provinsi DKI Jakarta
15

Perlu Pelatihan Khusus untuk Guru; Sekolah Inklusi Butuh Pengajar, Kompas, Rabu, 3
Maret 2010.

6. Kurangnya guru-guru yang dibutuhkan dalam penyelenggaraan pendidikan


inklusif di Provinsi DKI Jakarta

C. Pembatasan Masalah
Mengingat luasnya cakupan permasalahan dalam kebijakan penyelenggaraan
pendidikan inklusif di DKI Jakarta, untuk memfokuskan penelitian dan efisiensi
waktu, maka penelitian ini hanya dibatasi pada:
1. Kebijakan penyelenggaraan pendidikan inklusif di Provinsi DKI Jakarta
2. Implementasi kebijakan penyelenggaraan pendidikan inklusif di Provinsi
DKI Jakarta

D. Perumusan Masalah
Dari pembatasan terhadap masalah-masalah yang muncul, maka rumusan
masalah dalam penelitian ini yaitu Bagaimana kebijakan penyelenggaraan
pendidikan inklusif dilaksanakan di Provinsi DKI Jakarta?

E. Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini yaitu:
1. Bagi

pemerintah,

sebagai

bahan

tambahan

pertimbangan

dalam

pengambilan kebijakan penyelenggaraan pendidikan inklusif


2. Bagi sekolah, sebagai pengetahuan mengenai kebijakan pemerintah dalam
penyelenggaraan pendidikan inklusif
3. Bagi peneliti, sebagai pengetahuan dan pengalaman

BAB II
KAJIAN TEORI
A. Kebijakan
1. Pengertian Kebijakan
Kebijakan merupakan terjemahan dari kata policy yang berasal dari bahasa
Inggris. Kata policy diartikan sebagai sebuah rencana kegiatan atau pernyataan
mengenai tujuan-tujuan, yang diajukan atau diadopsi oleh suatu pemerintahan,
partai politik, dan lain-lain. Kebijakan juga diartikan sebagai pernyataanpernyataan mengenai kontrak penjaminan atau pernyataan tertulis 1. Pengertian
ini mengandung arti bahwa yang disebut kebijakan adalah mengenai suatu
rencana, pernyataan tujuan, kontrak penjaminan dan pernyataan tertulis baik
yang dikeluarkan oleh pemerintah, partai politik, dan lain-lain. Dengan
demikian siapapun dapat terkait dalam suatu kebijakan.
James E. Anderson memberikan pengertian kebijakan sebagai serangkaian
tindakan yang mempunyai tujuan tertentu yang diikuti dan dilaksanakan oleh

AS Hornby, Oxford Advanced Learners Dictionary of Current English, (Oxford: Oxford


University Press, 1995), cet. ke-5, h. 893.

10

11

seorang pelaku atau sekelompok pelaku guna memecahkan suatu masalah


tertentu2.
Pengertian ini memberikan pemahaman bahwa kebijakan dapat berasal dari
seorang pelaku atau sekelompok pelaku yang berisi serangkaian tindakan yang
mempunyai tujuan tertentu. Kebijakan ini diikuti dan dilaksanakan oleh
seorang pelaku atau sekelompok pelaku dalam rangka memecahkan suatu
masalah tertentu.
James E. Anderson secara lebih jelas menyatakan bahwa yang dimaksud
kebijakan adalah kebijakan yang dikembangkan oleh badan-badan dan pejabatpejabat pemerintah. Pengertian ini, menurutnya, berimplikasi: (1)bahwa
kebijakan selalu mempunyai tujuan tertentu atau merupakan tindakan yang
berorientasi pada tujuan, (2)bahwa kebijakan itu berisi tindakan-tindakan atau
pola-pola tindakan pejabat-pejabat pemerintah, (3)bahwa kebijakan merupakan
apa yang benar-benar dilakukan oleh pemerintah, (4)bahwa kebijakan bisa
bersifat positif dalam arti merupakan beberapa bentuk tindakan pemerintah
mengenai suatu masalah tertentu atau bersifat negatif dalam arti merupakan
keputusan pejabat pemerintah untuk tidak melakukan sesuatu, (5)bahwa
kebijakan, dalam arti positif, didasarkan pada peraturan perundang-undangan
dan bersifat memaksa (otoritatif) 3. Dalam pengertian ini, James E. Anderson
menyatakan bahwa kebijakan selalu terkait dengan apa yang dilakukan atau
tidak dilakukan oleh pemerintah.
Pernyataan bahwa kebijakan terkait dengan pemerintah tidak hanya
disampaikan oleh James E. Anderson. George C. Edwards III dan Ira
Sharkansky mengemukakan pengertian kebijakan sebagai apa yang dinyatakan
dan dilakukan atau tidak dilakukan oleh pemerintah. Kebijakan itu dapat
berupa sasaran atau tujuan dari program-program pemerintah. Penetapan
kebijakan tersebut dapat secara jelas diwujudkan dalam peraturan-peraturan

James E. Anderson, Public Policy Making, (New York: Holt, Rinehart and Winston, 1984),
cet. ke-3, h. 3.
3
James, Public Policy Making, h. 3-5.

12

perundang-undangan atau dalam pidato-pidato pejabat teras pemerintah serta


program-program dan tindakan-tindakan yang dilakukan pemerintah4.
Pengertian serupa juga dikemukakan oleh Thomas R. Dye. Ia menyatakan
bahwa kebijakan merupakan apa saja yang dipilih oleh pemerintah untuk
dilakukan atau tidak dilakukan5.
Dalam mendudukkan pengertian kebijakan, James Anderson mencontohkan
penggunaan istilah kebijakan seperti dalam kalimat Kebijakan Ekonomi
Amerika, Kebijakan Minyak Arab Saudi, atau Kebijakan Pertanian Eropa
Barat. Menurutnya, istilah kebijakan dapat juga digunakan untuk istilah yang
lebih spesifik dalam arti tidak hanya dilekatkan untuk penggunaan dalam
lingkup makro (baca: negara). Contoh yang dikemukakan James E. Anderson
seperti pada penggunaan dalam kalimat Kebijakan Kota Chicago dalam Polusi
di Danau Michigan dari Milwaukee, Wisconsin 6.
Pengertian lain mengenai kebijakan dikemukakan oleh M. Irfan Islamy. Ia
memberikan pengertian kebijakan sebagai serangkaian tindakan yang
ditetapkan dan dilaksanakan atau tidak dilaksanakan oleh pemerintah yang
mempunyai tujuan atau berorientasi pada tujuan tertentu demi kepentingan
seluruh masyarakat 7.
Kebijakan yang dikemukakan oleh Irfan Islamy ini mencakup tindakantindakan yang ditetapkan pemerintah. Kebijakan ini tidak cukup hanya
ditetapkan tetapi dilaksanakan dalam bentuk nyata. Kebijakan yang ditetapkan
oleh pemerintah tersebut juga harus dilandasi dengan maksud dan tujuan
tertentu. Terakhir, pengertian Irfan Islamy meniscayakan adanya kepentingan
bagi seluruh masyarakat yang harus dipenuhi oleh suatu kebijakan dari
pemerintah.

George C. Edwards III dan Ira Sharkansky, The Policy Predicament: Making and
Implementing Public Policy, (San Francisco: W.H. Freeman and Company, 1978), h.2.
5
Thomas R. Dye, Understanding Public Policy, (New Jersey: Pearson Education Inc., 2005), h.
1.
6
James E. Anderson, dkk., Public Policy and Politics in America, (California: Brooks/Cole
Publishing Company, 1984), cet. ke-2, h. 3.
7
M. Irfan Islamy, Prinsip-Prinsip Perumusan Kebijaksanaan Negara, (Jakarta: Bina Aksara,
1988), cet. ke-3, h. 20.

13

James Anderson menyatakan adanya keharusan untuk membedakan antara


apa yang ingin dilaksanakan pemerintah dengan apa yang sebenarnya mereka
lakukan di lapangan. Hal ini menjadi penting karena kebijakan bukan hanya
sebuah keputusan sederhana untuk memutuskan sesuatu dalam suatu momen
tertentu, namun kebijakan harus dilihat sebagai sebuah proses 8. Untuk itulah
pengertian kebijakan sebagai suatu arah tindakan dapat dipahami secara lebih
baik bila konsep ini dirinci menjadi beberapa kategori. Kategori-kategori itu
antara lain adalah tuntutan-tuntutan kebijakan (policy demands), keputusankeputusan kebijakan (policy decisions), pernyataan-pernyataan kebijakan
(policy statements), hasil-hasil kebijakan (policy outputs), dan dampak-dampak
kebijakan (policy outcomes)9.
Tuntutan-tuntutan kebijakan adalah tuntutan-tuntutan yang dibuat oleh
aktor-aktor swasta atau pemerintah, ditujukan kepada pejabat-pejabat
pemerintah dalam suatu sistem politik. Keputusan kebijakan dimengerti
sebagai keputusan-keputusan yang dibuat oleh pejabat-pejabat pemerintah
yang mengesahkan atau memberi arah dan substansi kepada tindakan-tindakan
kebijakan

publik.

Sedangkan

pernyataan-pernyataan

kebijakan

adalah

pernyataan-pernyataan resmi atau artikulasi-artikulasi kebijakan publik. Hasilhasil kebijakan lebih merujuk pada manifestasi nyata dari kebijakan, yaitu halhal yang sebenarnya dilakukan menurut keputusan-keputusan dan pernyataanpernyataan kebijakan. Adapun dampak-dampak kebijakan lebih merujuk pada
akibat-akibatnya bagi masyarakat, baik yang diinginkan atau tidak diinginkan
yang berasal dari tindakan atau tidak adanya tindakan pemerintah.
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa kebijakan
merupakan serangkaian tindakan yang menjadi keputusan pemerintah untuk
melakukan atau tidak melakukan sesuatu yang bertujuan untuk memecahkan
masalah demi kepentingan masyarakat.

James, dkk., Public Policy and Politics in America, h. 3.


James E. Anderson, Public Policy Making: An Introduction, (Boston: Houghton Mifflin
Company: 1994), cet. ke-II, h. 6-8. Lihat juga Budi Winarno, Kebijakan Publik: Teori dan Proses,
(Yogyakarta: Media Presindo, 2007), h. 19-21.
9

14

2. Tahap-tahap Kebijakan
Dalam pembuatan kebijakan terdapat tahap-tahap yang harus dilewati agar
suatu kebijakan dapat disusun dan dilaksanakan dengan baik. Kebijakan yang
dimunculkan sebagai sebuah keputusan terlebih dahulu melewati beberapa
tahap penting. Tahap-tahap penting tersebut sangat diperlukan sebagai upaya
melahirkan kebijakan yang baik dan dapat diterima sebagai sebuah keputusan.
Tahap-tahap dalam kebijakan tersebut yaitu:
a. Penyusunan Agenda
Sebelum kebijakan ditetapkan dan dilaksanakan, pembuat kebijakan
perlu menyusun agenda dengan memasukkan dan memilih masalahmasalah mana saja yang akan dijadikan prioritas untuk dibahas 10.
Masalah-masalah yang terkait dengan kebijakan akan dikumpulkan
sebanyak mungkin untuk diseleksi.
Pada tahap ini beberapa masalah dimasukkan dalam agenda untuk
dipilih. Terdapat masalah yang ditetapkan sebagai fokus pembahasan,
masalah yang mungkin ditunda pembahasannya, atau mungkin tidak
disentuh sama sekali. Masing-masing masalah yang dimasukkan atau
tidak dimasukkan dalam agenda memiliki argumentasi masing-masing11.
Pihak-pihak yang terlibat dalam tahap penyusunan agenda harus secara
jeli melihat masalah-masalah mana saja yang memiliki tingkat relevansi
tinggi dengan masalah kebijakan. Sehingga pemilihan dapat menemukan
masalah kebijakan yang tepat.
b. Formulasi Kebijakan
Masalah yang sudah dimasukkan dalam agenda kebijakan kemudian
dibahas oleh pembuat kebijakan dalam tahap formulasi kebijakan. Dari
berbagai masalah yang ada tersebut ditentukan masalah mana yang
merupakan

masalah

yang

benar-benar

layak

dijadikan

fokus

pembahasan12.
10

Robert B. Denhardt dan Janet V. Denhardt, Public Administration: An Action Orientation,


(Boston: Wadsworth, 2009), h. 50-52.
11
Winarno, Kebijakan Publik, h. 33.
12
Winarno, Kebijakan Publik, h. 34.

15

c. Adopsi Kebijakan
Dari sekian banyak alternatif yang ditawarkan, pada akhirnya akan
diadopsi satu alternatif pemecahan yang disepakati untuk digunakan
sebagai solusi atas permasalahan tersebut 13. Tahap ini sering disebut juga
dengan tahap legitimasi kebijakan (policy legitimation) yaitu kebijakan
yang telah mendapatkan legitimasi14. Masalah yang telah dijadikan
sebagai fokus pembahasan memperoleh solusi pemecahan berupa
kebijakan yang nantinya akan diimplementasikan.
d. Implementasi Kebijakan
Pada tahap inilah alternatif pemecahan yang telah disepakati tersebut
kemudian dilaksanakan. Pada tahap ini, suatu kebijakan seringkali
menemukan berbagai kendala. Rumusan-rumusan yang telah ditetapkan
secara terencana dapat saja berbeda di lapangan. Hal ini disebabkan
berbagai faktor yang sering mempengaruhi pelaksanaan kebijakan.
Kebijakan yang telah melewati tahap-tahap pemilihan masalah tidak serta
merta berhasil dalam implementasi. Dalam rangka mengupayakan
keberhasilan dalam implementasi kebijakan, maka kendala-kendala yang
dapat menjadi penghambat harus dapat diatasi sedini mungkin.
e. Evaluasi Kebijakan
Pada tahap ini, kebijakan yang telah dilaksanakan akan dievaluasi, untuk
dilihat sejauh mana kebijakan yang dibuat telah mampu memecahkan
masalah atau tidak. Pada tahap ini, ditentukan kriteria-kriteria yang
menjadi dasar untuk menilai apakah kebijakan telah meraih hasil yang
diinginkan15.
Pada tahap ini, penilaian tidak hanya menilai implementasi dari
kebijakan. Namun lebih jauh, penilaian ini akan menentukan perubahan
terhadap kebijakan. Suatu kebijakan dapat tetap seperti semula, diubah
atau dihilangkan sama sekali16.
13

Winarno, Kebijakan Publik, h. 34.


Robert, Public Administration, h. 53.
15
Winarno, Kebijakan Publik, h. 34.
16
Robert, Public Administration, h. 55.
14

16

3. Analisis Kebijakan
Analisis kebijakan merupakan penelitian sosial terapan yang secara
sistematis disusun dalam rangka mengetahui substansi dari kebijakan agar
dapat diketahui secara jelas informasi mengenai masalah-masalah yang
dijawab oleh kebijakan dan masalah-masalah yang mungkin timbul sebagai
akibat dari penerapan kebijakan. Ruang lingkup dan metode analisis kebijakan
umumnya bersifat deskriptif dan faktual mengenai sebab-sebab dan akibatakibat suatu kebijakan17.
Penelitian kebijakan sedapat mungkin melihat berbagai aspek dari kebijakan
agar dapat menghasilkan informasi yang lengkap. Informasi mengenai
masalah-masalah yang dijawab oleh kebijakan serta masalah-masalah yang
ditimbulkan dari penerapan kebijakan menjadi fokus dari analisis kebijakan.
Sudarwan Danim menyatakan bahwa proses penelitian kebijakan pada
hakikatnya merupakan penelitian yang dimaksudkan guna melahirkan
rekomendasi untuk pembuat kebijakan dalam rangka pemecahan masalah
sosial. Kegiatan penelitian ini dilakukan untuk mendukung kebijakan 18.
Sudarwan Danim secara jelas menyatakan hasil yang ingin dicapai dari
penelitian kebijakan yaitu menghasilkan rekomendasi yang mungkin
diperlukan pembuat kebijakan dalam rangka pemberian solusi terhadap
masalah-masalah sosial. Selain itu, penelitian kebijakan perlu dipahami sebagai
bentuk dukungan kepada kebijakan itu sendiri.
Rekomendasi yang dihasilkan dari proses penelitian kebijakan dapat berupa
dukungan penuh terhadap kebijakan, kritik dan saran mengenai bagian mana
dari kebijakan yang perlu diperbaiki, atau dapat juga berupa rekomendasi agar
kebijakan tidak lagi diterapkan.
Karakteristik dari penelitian kebijakan secara terperinci dijelaskan oleh
Allen D. Putt dan J. Fred Springer. Mereka menyatakan bahwa penelitian

17

William N. Dunn, Pengantar Analisis Kebijakan Publik, (Yogyakarta: Gajah Mada


University Press, 2000), cet. ke-IV, h. 95-97.
18
Sudarwan Danim, Pengantar Studi Penelitian Kebijakan, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2005),
cet. ke-III, h. 20-23.

17

kebijakan dicirikan sebagai penelitian yang terfokus pada manusia, plural,


multi-perspektif, sistematis, berhubungan dengan keputusan, dan kreatif 19.
Penelitian mengenai kebijakan berkaitan erat dengan manusia dan
permasalahannya. Hasil yang ingin dicapai dari penelitian kebijakan yaitu
mengenai informasi yang diformulasikan dalam bentuk rekomendasi dalam
rangka pemecahan masalah yang terkait dengan kebijakan.
Karakteristik plural dari penelitian kebijakan berasal dari hubungan
penelitian dengan manusia. Penelitian kebijakan tidak dapat dipisahkan dari
konflik nilai dan kepentingan terdapat dari interaksi manusia.
Karakteristik yang plural meniscayakan adanya pendekatan penelitian yang
juga plural, dalam arti multi-perspektif. Informasi yang diformulasikan dalam
bentuk rekomendasi sebagai hasil yang ingin dicapai oleh penelitian kebijakan
mengharuskan adanya pendekatan yang menyeluruh sehingga informasi yang
dihasilkan juga dapat berupa rekomendasi yang sesuai dengan kondisi yang
ada.
Sebagai sebuah penelitian, penelitian kebijakan harus secara sistematis
disusun berdasarkan prosedur penelitian sebagai upaya untuk memperoleh
informasi terkait dengan kebijakan.
Penelitian kebijakan selalu terkait dengan keputusan. Keputusan yang
dihasilkan berasal dari rekomendasi yang disampaikan. Keputusan dapat
berupa keputusan untuk tetap melanjutkan kebijakan, keputusan untuk
memperbaiki kebijakan atau keputusan untuk menghapus atau tidak
melanjutkan kebijakan.
Informasi yang berkaitan dengan kebijakan berupa masalah kebijakan,
masa depan kebijakan, aksi kebijakan, hasil kebijakan, dan kinerja kebijakan.
Analisis kebijakan menggabungkan lima prosedur umum yang lazim dipakai
dalam pemecahan masalah manusia, yaitu: definisi, prediksi, preskripsi,
deskripsi dan evaluasi20. Masing-masing dari informasi kebijakan berkaitan
dengan prosedur kebijakan. Secara lebih jelas Dunn menggambarkan hubungan
19

Allen D. Putt dan J. Fred Springer, Policy Research; Concepts, Methods, and Application,
(New Jersey: Prentice Hall, 1989), h. 19-24.
20
Dunn, Pengantar Analisis, , h. 17-21.

18

antara lima informasi kebijakan dan lima prosedur kebijakan yang ia


formulasikan sebagai analisis kebijakan yang berorientasi pada masalah dengan
gambar di bawah ini:

Kinerja
Kebijakan

Evaluasi

Peramalan

Hasil
Kebijakan

Masalah
Kebijakan

Perumusan Masalah

Perumusan Masalah

Perumusan Masalah

Masa Depan
Kebijakan

Perumusan Masalah
Pemantauan

Rekomendasi

Aksi
Kebijakan

Gambar 1. analisis kebijakan yang berorientasi pada masalah


(William Dunn, 2000: 21)

Kelima informasi yang terkait dengan kebijakan saling berkaitan satu sama
lain seperti ditunjukkan dalam gambar 1. Tanda panah yang menghubungkan
tiap komponen informasi menggambarkan proses dinamis dimana satu tipe
informasi dipindahkan ke informasi lain dengan menggunakan prosedur
analisis kebijakan yang tepat.
Perumusan masalah (definisi) merupakan upaya untuk mengumpulkan
informasi mengenai masalah-masalah yang menimbulkan masalah kebijakan.
Melalui prosedur perumusan masalah dapat diidentifikasi mengenai masalah
kebijakan yang tepat yang akan dijadikan sebagai fokus. Peramalan (prediksi)
berisi informasi mengenai kondisi yang mungkin dapat terjadi pada masa

19

mendatang sebagai konsekuensi dari penerapan kebijakan. Rekomendasi


(preskripsi) menyediakan informasi mengenai kegunaan dari dari konsekuensi
di masa mendatang dari suatu pemecahan masalah. Pemantauan (deskripsi)
menghasilkan informasi tentang konsekuensi sekarang dari penerapan
kebijakan. Evaluasi menyediakan informasi

mengenai kegunaan dari

pemecahan suatu masalah.


Analisis kebijakan dapat dilaksanakan dengan beberapa bentuk. Menurut
Dunn terdapat tiga bentuk analisis kebijakan, yaitu:
a. analisis kebijakan prospektif
analisis kebijakan prospektif adalah analisis kebijakan yang mengarahkan
kajiannya pada konsekuensi-konsekuensi kebijakan sebelum suatu
kebijakan diterapkan. Model ini dapat disebut sebagai model prediktif.
b. analisis kebijakan retrospektif
analisis kebijakan retrospektif adalah analisis kebijakan yang dilakukan
terhadap
akibat-akibat
kebijakan
setelah
suatu
kebijakan
diimplementasikan. Model ini biasanya disebut sebagai model evaluatif.
c. analisis kebijakan integratif
analisis kebijakan integratif adalah bentuk perpaduan antara analisis
kebijakan prospektif dan analisis kebijakan retrospektif 21.
Bentuk analisis kebijakan prospektif memiliki kelemahan karena hanya
berkutat

pada analisis kebijakan yang mengarahkan perhatian pada

konsekuensi kebijakan sebelum kebijakan diterapkan. Pun dengan bentuk


analisis kebijakan retrospektif yang hanya memfokuskan kajiannya pada
konsekuensi kebijakan setelah kebijakan diterapkan. Maka analisis kebijakan
seharusnya

menggunakan

bentuk

kebijakan

integratif,

yaitu

dengan

memadukan antara analisis kebijakan prospektif dan analisis kebijakan


retrospektif.
Pada umumnya, analisis kebijakan memfokuskan kajiannya pada tiga hal.
Ketiga fokus tersebut merupakan pijakan yang dipedomani dalam melakukan
analisis kebijakan. Tiga fokus tersebut, yaitu:
a. Definisi masalah sosial
b. Implementasi kebijakan

21

Dunn, Pengantar Analisis, h. 117-124.

20

c. Akibat-akibat kebijakan22
Dengan memfokuskan kajian pada ketiga hal diatas, proses analisis
kebijakan akan berusaha mendefinisikan secara jelas permasalahan yang akan
menjadi fokus kajian untuk ditanggulangi oleh kebijakan. Setelah masalah
yang menjadi fokus kajian analisis kebijakan ditentukan, analisis kebijakan
bertugas menentukan kebijakan yang sesuai dengan masalah sehingga masalah
dapat dipecahkan dengan baik.
Kebijakan yang telah ditetapkan dan diimplementasikan tentu menghasilkan
konsekuensi dalam bentuk akibat-akibat. Akibat yang ditimbulkan dapat
berupa akibat positif dan atau akibat negatif. Untuk itulah, analisis kebijakan
mengupayakan upaya prediktif dengan meramalkan akibat yang dapat
ditimbulkan sebelum kebijakan diimplementasikan dan atau sesudah kebijakan
diimplementasikan.
Dengan demikian, analisis kebijakan selalu berkaitan dengan hal-hal
sebelum dan sesudah kebijakan ditetapkan dan diimplementasikan. Analisis
kebijakan berusaha memberikan definisi yang jelas mengenai kedudukan suatu
masalah kebijakan, prediksi yang berkaitan dengan kebijakan, rekomendasi
atau preskripsi yang mungkin dapat bermanfaat bagi kebijakan, deskripsi atau
pemantauan terhadap kebijakan, dan evaluasi mengenai kebijakan. Semuanya
berjalan sebagai proses yang runtut dan sistematis dalam rangka mendukung
kebijakan yang bertujuan untuk mengatasi masalah.

B. Pendidikan Inklusif
1. Pengertian Pendidikan Inklusif
Istilah inklusif memiliki ukuran universal. Istilah inklusif dapat dikaitkan
dengan persamaan, keadilan, dan hak individual dalam pembagian sumbersumber seperti politik, pendidikan, sosial, dan ekonomi. Menurut Reid,
masing-masing dari aspek-aspek tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan

22

Ismail Nawawi, Public Policy; Analisis, Strategi, Advokasi, Teori, dan Praktek, (Surabaya:
PMN, 2009), h. 45-46. Lihat juga Edi Suharto, Analisis Kebijakan Publik; Panduan Praktis
Mengkaji Masalah dan Kebijakan Sosial, (Bandung: CV. Alfabeta, 2005), h. 87.

21

saling berkaitan satu sama lain 23. Reid ingin menyatakan bahwa istilah inklusif
berkaitan dengan banyak aspek hidup manusia yang didasarkan atas prinsip
persamaan, keadilan, dan hak individu.
Dalam ranah pendidikan, istilah inklusif dikaitkan dengan model pendidikan
yang tidak membeda-bedakan individu berdasarkan kemampuan dan atau
kelainan yang dimiliki individu. Dengan mengacu pada istilah inklusif yang
disampaikan Reid di atas, pendidikan inklusif didasarkan atas prinsip
persamaan, keadilan, dan hak individu.
Istilah pendidikan inklusif digunakan untuk mendeskripsikan penyatuan
anak-anak berkelainan (penyandang hambatan/cacat) ke dalam program
sekolah. Konsep inklusi memberikan pemahaman mengenai pentingnya
penerimaan anak-anak yang memiliki hambatan ke dalam kurikulum,
lingkungan, dan interaksi sosial yang ada di sekolah24.
MIF. Baihaqi dan M. Sugiarmin menyatakan bahwa hakikat inklusif adalah
mengenai hak setiap siswa atas perkembangan individu, sosial, dan intelektual.
Para siswa harus diberi kesempatan untuk mencapai potensi mereka. Untuk
mencapai potensi tersebut, sistem pendidikan harus dirancang dengan
memperhitungkan perbedaan-perbedaan yang ada pada diri siswa. Bagi mereka
yang memiliki ketidakmampuan khusus dan/atau memiliki kebutuhan belajar
yang luar biasa harus mempunyai akses terhadap pendidikan yang bermutu
tinggi dan tepat25.
Baihaqi dan Sugiarmin menekankan bahwa siswa memiliki hak yang sama
tanpa dibeda-bedakan berdasarkan perkembangan individu, sosial, dan
intelektual. Perbedaan yang terdapat dalam diri individu harus disikapi dunia
pendidikan dengan mempersiapkan model pendidikan yang disesuaikan dengan
23

Gavin Reid, Dyslexia and Inclusion; Classroom Approaches for Assesment, Teaching and
Learning, (London: David Fulton Publisher, 2005), h. 88.
24
J. David Smith, Inklusi, Sekolah Ramah untuk Semua, (Bandung: Penerbit Nuansa, 2006), h.
45
25
MIF. Baihaqi dan M. Sugiarmin, Memahami dan Membantu Anak ADHD, (Bandung: PT.
Refika Aditama, 2006), h. 75-76.

22

perbedaan-perbedaan individu tersebut. Perbedaan bukan lantas melahirkan


diskriminasi dalam pendidikan, namun pendidikan harus tanggap dalam
menghadapi perbedaan.
Daniel P. Hallahan mengemukakan pengertian pendidikan inklusif sebagai
pendidikan yang menempatkan semua peserta didik berkebutuhan khusus
dalam sekolah reguler sepanjang hari. Dalam pendidikan seperti ini, guru
memiliki tanggung jawab penuh terhadap peserta didik berkebutuhan khusus
tersebut26. Pengertian ini memberikan pemahaman bahwa pendidikan inklusif
menyamakan anak berkebutuhan khusus dengan anak normal lainnya. Untuk
itulah, guru memiliki tanggung jawab penuh terhadap proses pelaksanaan
pembelajaran di kelas. Dengan demikian guru harus memiliki kemampuan
dalam menghadapi banyaknya perbedaan peserta didik.
Senada dengan pengertian yang disampaikan Daniel P. Hallahan, dalam
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 70 Tahun 2009
disebutkan bahwa yang dimaksud dengan pendidikan inklusif adalah sistem
penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua
peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan/atau
bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam
lingkungan pendidikan secara bersama-sama dengan peserta didik pada
umumnya27.
Pengertian pendidikan dalam Permendiknas di atas memberikan penjelasan
secara lebih rinci mengenai siapa saja yang dapat dimasukkan dalam
pendidikan inklusif. Perincian yang diberikan pemerintah ini dapat dipahami
sebagai bentuk kebijakan yang sudah disesuaikan dengan kondisi Indonesia,
sehingga pemerintah memandang perlu memberikan kesempatan yang sama
kepada semua peserta didik dari yang normal, memilik kelainan, dan memiliki
26

Daniel P. Hallahan dkk., Exceptional Learners: An Introduction to Special Education,


(Boston: Pearson Education Inc., 2009), cet. ke-10, h. 53.
27
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 70 Tahun 2009 Tentang Pendidikan Inklusif
Bagi Peserta Didik yang Memiliki Kelainan dan Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat
Istimewa.

23

kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan. Dengan


demikian pemerintah mulai mengubah model pendidikan yang selama ini
memisah-misahkan peserta didik normal ke dalam sekolah reguler, peserta
didik dengan kecerdasan luar biasa dan bakat istimewa ke dalam sekolah (baca:
kelas) akselerasi, dan peserta didik dengan kelainan ke dalam Sekolah Luar
Biasa (SLB).
Rumusan mengenai pendidikan inklusif yang disusun oleh Direktorat
Pendidikan Sekolah Luar Biasa (PSLB) Direktorat Jenderal Manajemen
Pendidikan Dasar dan Menengah (Mandikdasmen) Kementrian Pendidikan
Nasional (Kemendiknas) mengenai pendidikan inklusif menyebutkan bahwa
pendidikan inklusif adalah sistem layanan pendidikan yang mensyaratkan anak
berkebutuhan khusus belajar di sekolah-sekolah terdekat di kelas biasa
bersama-sama teman seusianya. Sekolah penyelenggara pendidikan inklusif
adalah sekolah yang menampung semua murid di sekolah yang sama. Sekolah
ini menyediakan program pendidikan yang layak dan menantang, tetapi
disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan setiap murid maupun bantuan
dan dukungan yang dapat diberikan oleh para guru agar anak-anak berhasil28.
Dalam ensiklopedi online Wikipedia disebutkan bahwa yang dimaksud
dengan pendidikan inklusi yaitu pendidikan yang memasukkan peserta didik
berkebutuhan khusus untuk bersama-sama dengan peserta didik normal
lainnya. Pendidikan inklusif adalah mengenai hak yang sama yang dimiliki
setiap anak. Pendidikan inklusif merupakan suatu proses untuk menghilangkan
penghalang yang memisahkan peserta didik berkebutuhan khusus dari peserta
didik normal agar mereka dapat belajar dan bekerja sama secara efektif dalam
satu sekolah29.
Pengertian-pengertian yang dikemukakan di atas secara umum menyatakan
hal yang sama mengenai pendidikan inklusif. Pendidikan inklusif berarti
28

Pedoman Umum Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif, h. 4.


Ensiklopedi
Online
Wikipedia
Inclusion
http://en.wikipedia.org/wiki/Inclusion_%28education%29, 7 Juni 2010.
29

dari

24

pendidikan yang dirancang dan disesuaikan dengan kebutuhan semua peserta


didik, baik peserta didik yang normal maupun peserta didik berkebutuhan
khusus. Masing-masing dari mereka memperoleh layanan pendidikan yang
sama tanpa dibeda-bedakan satu sama lain.
Mereka yang berkebutuhan khusus ini dulunya adalah anak-anak yang
diberikan label (labelling) sebagai Anak Luar Biasa (ALB). Anak
berkebutuhan khusus (ABK) merupakan istilah lain untuk menggantikan istilah
Anak Luar Biasa (ALB) yang menandakan adanya kelainan khusus. Istilah lain
yang juga biasa dipakai untuk menandai anak yang lain dari yang lain ini
yaitu hendaya (impairment)30, disability dan handicap31.
Anak berkebutuhan khusus mempunyai karakteristik yang berbeda antara
yang satu dengan yang lain. Bandi Delphie menyatakan bahwa di Indonesia,
anak berkebutuhan khusus yang mempunyai gangguan perkembangan dan
telah diberikan layanan antara lain: Anak yang mengalami hendaya
(impairment) penglihatan (tunanetra), tunarungu, tunawicara, tunagrahita,
tunadaksa, tunalaras, autism (autistic children), hiperaktif (attention deficit
disorder with hyperactive), anak dengan kesulitan belajar (learning disability
atau spesific learning disability), dan anak dengan hendaya kelainan
perkembangan ganda (multihandicapped and developmentally disabled
children)32.

30

Bandi Delphie, Pembelajaran Anak Tunagrahita; Suatu Pengantar dalam Pendidikan


Inklusi, (Bandung: PT. Refika Aditama, 2006), h. 1.
31
Beberapa istilah selain ABK, seperti impairment, handicap, dan disability seringkali
disamakan dalam penggunaannya. Sebenarnya terdapat perbedaan arti dari ketiga istilah tersebut.
Impairment digunakan untuk menunjukkan kemampuan yang tidak sepenuhnya rusak/cacat.
Handicap digunakan untuk menunjukkan adanya kesulitan-kesulitan dalam penggunaan organ
tubuh. Disability digunakan untuk menunjukkan ketidakmampuan yang ada sejak dilahirkan atau
cacat yang sifatnya permanen. Lihat Thomas M. Stephens, dkk., Teaching Mainstreamed Students,
(Canada: John Wiley&Sons, 1982), h. 27. Lihat juga Hornby, Oxford Advanced..., h. 327.
Disability berarti batasan fungsi yang membatasi kemampuan seseorang. Handicap adalah kondisi
yang dinisbahkan kepada seseorang yang menderita ketidakmampuan. Kondisi ini boleh jadi
disebabkan oleh masyarakat, lingkungan fisik, atau sikap orang itu sendiri. Dalam hal ini sering
muncul ungkapan jangan sampai disability menjadi handicap. Lihat John W. Santrock,
Educational Psychology, (New York: The McGraw Hill Inc., 2004), h. 175
32
Delphie, Pembelajaran Anak, h. 1-3.

25

Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor


70 Tahun 2009, anak yang menjadi korban penyalahgunaan narkoba, obat
terlarang dan zat adiktif lainnya juga dikategorikan sebagai anak berkebutuhan
khusus33. Selain anak-anak berkebutuhan khusus yang telah disebutkan di atas,
anak-anak yang memiliki bakat dan/atau kecerdasan luar biasa juga
dikategorikan sebagai anak-anak berkebutuhan khusus.
Dengan demikian, pendidikan inklusif, sesuai dengan beberapa pengertian
diatas, selain menampung anak-anak yang memiliki kelainan juga menampung
anak-anak yang memiliki bakat dan/atau kecerdasan luar biasa agar dapat
belajar bersama-sama dalam satu kelas.
2. Landasan Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif
Landasan yang digunakan dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif di
Indonesia yaitu landasan filosofis, landasan yuridis, dan landasan empiris.
Secara terperinci, landasan-landasan tersebut dijelaskan sebagai berikut:
a. Landasan Filosofis
Secara filosofis, penyelenggaraan pendidikan inklusif dapat dijelaskan
sebagai berikut:
1) Bangsa Indonesia adalah bangsa yang berbudaya dengan lambang
negara Burung Garuda yang berarti Bhinneka Tunggal Ika.
Keragaman dalam etnik, dialek, adat istiadat, keyakinan, tradisi dan
budaya merupakan kekayaan bangsa yang tetap menjunjung tinggi
persatuan dan kesatuan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia
(NKRI)
2) Pandangan Agama (khususnya Islam) antara lain ditegaskan bahwa:
(a) manusia diciptakan berbeda-beda untuk saling silaturahmi
(inklusif) dan bahwa kemuliaan manusia di sisi Allah adalah
33

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 70 Tahun 2009 Tentang Pendidikan Inklusif
Bagi Peserta Didik yang Memiliki Kelainan dan Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat
Istimewa.

26

ketaqwaannya. Hal tersebut dinyatakan dalam Al Quran sebagai


berikut:


Artinya: Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari
seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu
berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenalmengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu
disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.
Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal34.

(b)Allah pernah menegur Nabi Muhammad SAW karena beliau


bermuka masam dan berpaling dari orang buta. Al Quran
menceritakan kisah tersebut sebagai berikut:

34

QS. Al Hujurat Ayat 13

27

Artinya: (1)Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling,


(2)karena telah datang seorang buta kepadanya, (3)tahukah kamu
barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), (4)atau Dia
(ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi
manfaat kepadanya?(5)Adapun orang yang merasa dirinya serba
cukup, (6)Maka kamu melayaninya, (7)Padahal tidak ada (celaan)
atasmu kalau Dia tidak membersihkan diri (beriman), (8)dan Adapun
orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan
pengajaran), (9)sedang ia takut kepada (Allah), (10)Maka kamu
mengabaikannya, (11)sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya
ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan, (12)Maka
Barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya,
(13)di dalam Kitab-Kitab yang dimuliakan, (14)yang ditinggikan lagi
disucikan, (15)di tangan Para penulis (malaikat), (16)yang mulia lagi
berbakti35.

(c) Allah tidak melihat bentuk (fisik) seorang muslim, namun Allah
melihat hati dan perbuatannya. Hal ini dinyatakan dalam salah satu
hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, yaitu:

35

QS. Abasa Ayat 1-16. Orang buta dalam Surat Abasa tersebut bernama Abdullah bin Ummi
Maktum. Dia datang kepada Rasulullah SAW meminta ajaran-ajaran tentang Islam; lalu
Rasulullah SAW bermuka masam dan berpaling daripadanya, karena beliau sedang menghadapi
pembesar Quraisy dengan pengharapan agar pembesar-pembesar tersebut mau masuk Islam. Maka
turunlah surat ini sebagi teguran kepada Rasulullah SAW

28








:

Artinya: dari Abu Hurairah RA: Rasulullah SAW bersabda:
Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk dan harta kalian,
akan tetapi Allah melihat kepada hati dan perbuatan kalian36.

(d)Tidak ada keutamaan antara satu manusia dengan manusia yang


lain. Nabi Muhammad mengajarkan hal tersebut dalam hadis:











Artinya: Seseorang yang mendengar khutbah Rasulullah SAW di
tengah hari Tasyriq bercerita kepadaku bahwa Nabi Muhammad SAW
bersabda: Wahai manusia, sungguh Tuhan kalian itu satu, bapak
kalian satu, maka sungguh tidak ada keutamaan orang Arab atas
36

Al Imam Abi Husain Muslim bin Al Hajjaj, Shahih Muslim, (Kairo: Daar Ibnu Al Haitam,
2001), h. 655

29

orang Ajam, begitu pula sebaliknya, tidak ada keutamaan yang


merah atas yang hitam, begitu pula sebaliknya, kecuali taqwa 37.
3) Pandangan universal hak asasi manusia menyatakan bahwa setiap
manusia mempunyai hak untuk hidup layak, hak pendidikan, hak
kesehatan, dan hak pekerjaan.
b. Landasan Yuridis
Secara yuridis, pendidikan inklusif dilaksanakan berdasarkan atas:
1) UUD 1945
2) UU Nomor 4 Tahun 1997 Tentang Penyandang Cacat
3) UU Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia
4) UU Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak
5) UU Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional
6) Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar
Nasional Pendidikan
7) Surat Edaran Dirjen Dikdasmen No. 380/C.C6/MN/2003 Tanggal 20
Januari 2003 Perihal Pendidikan Inklusif: Menyelenggarakan dan
mengembangkan di setiap Kabupaten/Kota sekurang-kurangnya 4
(empat) sekolah yang terdiri dari SD, SMP, SMA, dan SMK.
8) Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 70
tahun 2009 Tentang Pendidikan Inklusif bagi Peserta Didik yang
Memiliki Kelainan dan Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat
Istimewa
Khusus untuk DKI Jakarta, landasan yuridis yang berlaku yaitu:
9) Peraturan

Gubernur

Nomor

116

Tahun

2007

Tentang

Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif


c. Landasan Empiris
Landasan empiris yang dipakai dalam pelaksanaan pendidikan inklusif
yaitu:
37

411

Ahmad Ibn Hanbal, Musnad Ahmad Ibnu Hanbal, (Kairo: Muassasah Qurtubah, tt), juz 5, h.

30

1) Deklarasi Hak Asasi Manusia 1948 (Declaration of Human Rights)


2) Konvensi Hak Anak 1989 (Convention of The Rights of Children)
3) Konferensi Dunia Tentang Pendidikan untuk Semua 1990 (World
Conference on Education for All)
4) Resolusi PBB nomor 48/96 Tahun 1993 Tentang Persamaan
Kesempatan Bagi Orang Berkelainan (the standard rules on the
equalization of opportunitites for person with dissabilities)
5) Pernyataan Salamanca Tentang Pendidikan Inklusi 1994 (Salamanca
Statement on Inclusive Education)
6) Komitmen Dakar mengenai Pendidikan Untuk Semua 2000 (The
Dakar Commitment on Education for All)
7) Deklarasi Bandung 2004 dengan komitmen Indonesia Menuju
Pendidikan Inklusif
8) Rekomendasi Bukittinggi 2005 mengenai pendidikan yang inklusif
dan ramah.
3. Model Pendidikan Inklusif
Pendidikan inklusif merupakan perkembangan baru dari pendidikan terpadu.
Pada sekolah inklusif setiap anak sesuai dengan kebutuhan khususnya, semua
diusahakan dapat dilayani secara optimal dengan melakukan berbagai
modifikasi dan atau penyesuaian, mulai dari kurikulum, sarana-prasarana,
tenaga pendidik dan kependidikan, sistem pembelajaran sampai pada sistem
penilaiannya.
Keuntungan dari pendidikan inklusif adalah bahwa anak berkebutuhan
khusus maupun anak biasa dapat saling berinteraksi secara wajar sesuai dengan
tuntutan kehidupan sehari-hari di masyarakat dan kebutuhan pendidikannya
dapat terpenuhi sesuai dengan potensinya masing-masing.
Pendidikan inklusif mensyaratkan pihak sekolah yang harus menyesuaikan
dengan tuntutan kebutuhan individu peserta didik, bukan peserta didik yang
menyesuaikan dengan sistem persekolahan. Pandangan mengenai pendidikan
yang harus menyesuaikan dengan kondisi peserta didik ini sangat terkait
dengan adanya perbedaan yang terdapat dalam diri peserta didik. Pandangan

31

lama yang menyatakan bahwa peserta didiklah yang harus menyesuaikan


dengan pendidikan dan proses pembelajaran di kelas lambat laun harus
berubah38.
Istilah inklusif berimplikasi pada adanya kebutuhan yang harus dipenuhi
bagi semua anak dalam sekolah. Hal ini menyebabkan adanya penyesuaianpenyesuaian yang harus dilakukan oleh guru dalam proses pembelajaran 39.
Penyesuaian

pendidikan

(adaptive

education)

dilaksanakan

dengan

menyediakan pengalaman-pengalaman belajar guna membantu masing-masing


peserta didik dalam meraih tujuan-tujuan pendidikan yang dikehendakinya.
Penyesuaian pendidikan dapat berlangsung tatkala lingkungan pembelajaran
sekolah dimodifikasi untuk merespon perbedaan-perbedaan peserta didik
secara efektif dan mengembangkan kemampuan peserta didik agar dapat
bertahan dalam lingkungan tersebut 40.
Dengan melihat adanya penyesuaian terhadap kebutuhan peserta didik yang
berbeda-beda, maka dalam setting pendidikan inklusif model pendidikan yang
dilaksanakan memiliki model yang berbeda dengan model pendidikan yang
lazim dilaksanakan di sekolah-sekolah reguler.
Pendidikan inklusif pada dasarnya memiliki dua model. Pertama yaitu
model inklusi penuh (full inclusion). Model ini menyertakan peserta didik
berkebutuhan khusus untuk menerima pembelajaran individual dalam kelas
reguler. Kedua yaitu model inklusif parsial (partial inclusion). Model parsial
ini mengikutsertakan peserta didik berkebutuhan khusus dalam sebagian
pembelajaran yang berlangsung di kelas reguler dan sebagian lagi dalam kelaskelas pull out dengan bantuan guru pendamping khusus41.
38

Henry Clay Lindgren, Educational Psychology in the Classroom, (Tokyo: Charles E. Tuttle
Company, 1967), cet. ke-III, h. 503-504
39
Reid, Dyslexia and Inclusion, h. 85
40
George S. Morrison, Early Childhood Education Today, (New Jersey: Pearson Education
Inc., 2009), h. 462. Lihat juga http://en.wikipedia.org/wiki/Inclusion_%28education%29
41
Morrison, Early Childhood, h. 462. Ada yang menyatakan bahwa dalam inklusi tidak terdapat
adanya model. Yang perlu ditekankan dalam inklusi adalah filosofi dan semangat yang dimiliki.
Dengan demikian, penerapan pendidikan inklusif di masing-masing negara akan berbeda-beda.
Lihat misalnya dalam milis (mailing list) Direktorat Pendidikan Luar Biasa Kementrian
Pendidikan Nasional. Dalam milis ini Julia Maria van Tiel mengemukakan beberapa contoh
pelaksanaan pendidikan inklusif di beberapa negara. Untuk lebih jelas lihat Julia Maria Van Tiel,

32

Model lain misalnya dikemukakan oleh Brent Hardin dan Marie Hardin.
Brent dan Maria mengemukakan model pendidikan inklusif yang mereka sebut
inklusif terbalik (reverse inclusive). Dalam model ini, peserta didik normal
dimasukkan ke dalam kelas yang berisi peserta didik berkebutuhan khusus 42.
Model ini berkebalikan dengan model yang pada umumnya memasukkan
peserta didik berkebutuhan khusus ke dalam kelas yang berisi peserta didik
normal.
Model inklusif terbalik agaknya menjadi model yang kurang lazim
dilaksanakan. Model ini mengandaikan peserta didik berkebutuhan khusus
sebagai peserta didik dengan jumlah yang lebih banyak dari peserta didik
normal.

Dengan pengandaian demikian

seolah

sekolah untuk

anak

berkebutuhan khusus secara kuantitas lebih banyak dari sekolah untuk peserta
didik normal, atau bisa juga tidak. Model pendidikan inklusif seperti apapun
tampaknya tidak menjadi persoalan berarti sepanjang mengacu kepada konsep
dasar pendidikan inklusif.
Model pendidikan inklusif yang diselenggarakan pemerintah Indonesia yaitu
model pendidikan inklusif moderat 43. Pendidikan inklusif moderat yang
dimaksud yaitu:
a. Pendidikan inklusif yang memadukan antara terpadu dan inklusi penuh
b. Model moderat ini dikenal dengan model mainstreaming
Model pendidikan mainstreaming merupakan model yang memadukan
antara pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus (Sekolah Luar Biasa)

Pembenahan Pendidikan Inklusif, dari http://groups.yahoo.com/group/ditplb/message/130, 18


April 2010, lihat juga Barton, Len dan Felicity Armstrong, Policy, Experience, and Change; Cross
Cultural Reflection on Inclusive Education, Dordrecht: Springer, 2007.
Istilah full inclusion merupakan istilah yang jarang digunakan. Para ahli lebih banyak
menggunakan istilah inclusion saja. Di samping itu istilah full inclusion juga lebih berkonotasi
negatif dan bagi sebagian orang sulit disepakati. Orang lebih banyak menggunakan istilah optimal
inclusion. Pengertian ini dimaksudkan untuk mendorong pendidik agar berusaha menemukan jenis
dan tingkat inklusi yang memuaskan tiap individu. Lihat Smith, Inklusi, Sekolah, h. 46.
42
Brent Hardin dan Maria Hardin, Into the Mainstream: Practical Strategies for Teaching in
Inclusive Environments, dalam Kathleen M. Cauley (ed.), Educational Psychology, (New York:
McGraw-Hill/Dushkin, 2004), h. 46-48.
43
Pedoman Umum Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif, h. 8-9.

33

dengan pendidikan reguler.

Peserta didik berkebutuhan khusus

digabungkan ke dalam kelas reguler hanya untuk beberapa waktu saja 44.
c. Filosofinya tetap pendidikan inklusif, tetapi dalam praktiknya anak
berkebutuhan khusus disediakan berbagai alternatif layanan sesuai
dengan kemampuan dan kebutuhannya. Anak berkebutuhan khusus dapat
berpindah dari satu bentuk layanan ke bentuk layanan yang lain, seperti:
1) Bentuk kelas reguler penuh
Anak berkelainan belajar bersama anak lain (normal) sepanjang hari
di kelas reguler dengan menggunakan kurikulum yang sama
2) Bentuk kelas reguler dengan cluster
Anak berkelainan belajar bersama anak lain (normal) di kelas reguler
dalam kelompok khusus
3) Bentuk kelas reguler dengan pull out
Anak berkelainan belajar bersama anak lain (normal) di kelas reguler
namun dalam waktu-waktu tertentu ditarik dari kelas reguler ke ruang
sumber untuk belajar dengan guru pembimbing khusus
4) Bentuk kelas reguler dengan cluster dan pull out
Anak berkelainan belajar bersama anak lain (normal) di kelas reguler
dalam kelompok khusus, dan dalam waktu-waktu tertentu ditarik dari
kelas reguler ke ruang sumber untuk belajar bersama dengan guru
pembimbing khusus
5) Bentuk kelas khusus dengan berbagai pengintegrasian
Anak berkelainan belajar di kelas khusus pada sekolah reguler, namun
dalam bidang-bidang tertentu dapat belajar bersama anak lain
(normal) di kelas reguler
6) Bentuk kelas khusus penuh di sekolah reguler
Anak berkelainan belajar di dalam kelas khusus pada sekolah reguler45
Dengan demikian, pendidikan inklusif seperti pada model di atas tidak
mengharuskan semua anak berkelainan berada di kelas reguler setiap saat
dengan semua mata pelajarannya (inklusi penuh). Hal ini dikarenakan sebagian
anak berkelainan dapat berada di kelas khusus atau ruang terapi dengan gradasi
kelainannya yang cukup berat. Bahkan bagi anak berkelainan yang gradasi
44

Jane B. Schulz, Mainstreaming Exceptional Students; A Guide for Classroom Teachers,


(Boston: Allyn and Bacon, 1991), h. 20-21. Lihat juga Ensiklopedi Online Wikipedia
Mainstreaming dari http://en.wikipedia.org/wiki/Mainstreaming_%28education%29, 7 Juni
2010.
45
Agustyawati dan Solicha, Psikologi Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus, (Jakarta: Lembaga
Penelitian UIN Jakarta, 2009), h. 100. Lihat juga Sip Jan Pijl dan Cor J.W.Meijer, Factor In
Inclusion: A Framework dalam Sip Jan Pijl (eds.), Inclusive Education; A Global Agenda,
(London: Routledge, 1997), h. 12.

34

kelainannya berat, mungkin akan lebih banyak waktunya berada di kelas


khusus pada sekolah reguler (inklusi lokasi). Kemudian, bagi yang gradasi
kelainannya sangat berat, dan tidak memungkinkan di sekolah reguler (sekolah
biasa), dapat disalurkan ke sekolah khusus (SLB) atau tempat khusus (rumah
sakit).
4. Komponen Pendidikan Inklusif
Karena terdapat perbedaan dalam konsep dan model pendidikan, maka
dalam pendidikan inklusif terdapat beberapa komponen pendidikan yang perlu
dikelola dalam sekolah inklusif, yaitu:
a. Manajemen Kesiswaan
b. Manajemen Kurikulum
c. Manajemen Tenaga Kependidikan
d. Manajemen Sarana dan Prasarana
e. Manajemen Keuangan/Dana
f. Manajemen Lingkungan (Hubungan Sekolah dan Masyarakat)
g. Manajemen Layanan Khusus46
Manajemen kesiswaan merupakan salah satu komponen pendidikan inklusif
yang perlu mendapat perhatian dan pengelolaan lebih. Hal ini dikarenakan
kondisi peserta didik pada pendidikan inklusif yang lebih majemuk daripada
kondisi peserta didik pada pendidikan reguler. Tujuan dari manajemen
kesiswaan ini tidak lain agar kegiatan belajar mengajar di sekolah dapat
berjalan lancar, tertib, dan teratur, serta mencapai tujuan yang diinginkan.
Pendidikan inklusif masih menggunakan kurikulum standar nasional yang
telah ditetapkan pemerintah. Namun dalam pelaksanaan di lapangan,
kurikulum pada pendidikan inklusif disesuaikan dengan kemampuan dan
karakteristik peserta didik.
Pemerintah menyatakan bahwa kurikulum yang dipakai satuan pendidikan
penyelenggara pendidikan inklusif adalah Kurikulum Tingkat Satuan

46

Direktorat Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Policy Brief, Sekolah Inklusif;
Membangun Pendidikan Tanpa Diskriminasi, No. 9. Th.II/2008, Departemen Pendidikan
Nasional, h. 6-9.

35

Pendidikan (KTSP) yang mengakomodasi kebutuhan dan kemampuan peserta


didik sesuai dengan bakat, minat dan potensinya 47.
Model kurikulum pendidikan inklusif terdiri dari:
a. Model kurikulum reguler
b. Model kurikulum reguler dengan modifikasi
c. Model kurikulum Program Pembelajaran Individual (PPI)48
Model kurikulum reguler, yaitu kurikulum yang mengikutsertakan peserta
didik berkebutuhan khusus untuk mengikuti kurikulum reguler sama seperti
kawan-kawan lainnya di dalam kelas yang sama.
Model kurikulum reguler dengan modifikasi, yaitu kurikulum yang
dimodifikasi oleh guru pada strategi pembelajaran, jenis penilaian, maupun
pada program tambahan lainnya dengan tetap mengacu pada kebutuhan peserta
didik berkebutuhan khusus. Di dalam model ini bisa terdapat siswa
berkebutuhan khusus yang memiliki PPI.
Model kurikulum PPI yaitu kurikulum yang dipersiapkan guru program PPI
yang dikembangkan bersama tim pengembang yang melibatkan guru kelas,
guru pendidikan khusus, kepala sekolah, orang tua, dan tenaga ahli lain yang
terkait.
Kurikulum PPI atau dalam bahasa Inggris Individualized Education
Program (IEP) merupakan karakteristik paling kentara dari pendidikan
inklusif. Konsep pendidikan inklusif yang berprinsip adanya persamaan
mensyaratkan adanya penyesuaian model pembelajaran yang tanggap terhadap
perbedaan individu. Maka PPI atau IEP menjadi hal yang perlu mendapat
penekanan lebih.
Thomas M. Stephens menyatakan bahwa IEP merupakan pengelolaan yang
melayani kebutuhan unik peserta didik dan merupakan layanan yang

47

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 70 Tahun 2009 Tentang


Pendidikan Inklusif bagi Peserta Didik yang Memiliki Kelainan dan Memiliki Potensi Kecerdasan
dan/atau Bakat Istimewa, Pasal 7.
48
Direktorat, Pedoman Umum, h. 19.

36

disediakan dalam rangka pencapaian tujuan yang diinginkan serta bagaimana


efektivitas program tersebut akan ditentukan49.
Tenaga kependidikan merupakan salah satu unsur penting dalam pendidikan
inklusif. Tenaga kependidikan dalam pendidikan inklusif mendapat porsi
tanggung jawab yang jelas berbeda dengan tenaga kependidikan pada
pendidikan noninklusif. Perbedaan yang terdapat pada individu meniscayakan
adanya kompetensi yang berbeda dari tenaga kependidikan lainnya. Tenaga
kependidikan secara umum memiliki tugas seperti menyelenggarakan kegiatan
mengajar,

melatih,

meneliti,

mengembangkan,

mengelola,

dan/atau

memberikan pelayanan teknis dalam bidang pendidikan.


Guru yang terlibat di sekolah inklusi yaitu guru kelas, guru mata pelajaran,
dan guru pembimbing khusus. Manajemen tenaga kependidikan antara lain
meliputi:

(1)Inventarisasi

pegawai,

(2)Pengusulan

formasi

pegawai,

(3)Pengusulan pengangkatan, kenaikan tingkat, kenaikan berkala, dan mutasi,


(4)Mengatur usaha kesejahteraan, (5)Mengatur pembagian tugas50.
Manajemen

sarana-prasarana

mengorganisasikan,

mengarahkan,

sekolah

bertugas

mengkordinasikan,

merencanakan,
mengawasi,

dan

mengevaluasi kebutuhan dan penggunaan sarana-prasarana agar dapat


memberikan sumbangan secara optimal pada kegiatan belajar mengajar.
Pendanaan pendidikan inklusif memerlukan manajemen keuangan atau
pendanaan yang baik. Walaupun penyelenggaraan pendidikan inklusif
dilaksanakan pada sekolah reguler dengan penyesuaian-penyesuaian, namun
tidak serta merta pendanaan penyelenggaraannya dapat diikutkan begitu saja
dengan pendanaan sekolah reguler. Maka diperlukan manajemen keuangan
atau pendanaan yang mampu memenuhi berbagai kebutuhan dalam
penyelenggaraan pendidikan inklusif dan mengatasi berbagai permasalahan
terkait dengan pendanaan.
Pembiayaan pendidikan inklusif untuk wilayah DKI Jakarta bersumber pada
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah pada pos anggaran Dinas Dikdas,
49
50

Thomas, Teaching Mainstreamed, h. 19.


Direktorat, Policy Brief, h. 8.

37

Dinas Dikmenti dan Kanwil Depag dan sumber lain yang sah. Pembiayaan
pelaksanaan penyelenggaraan pendidikan inklusif untuk lembaga pendidikan
swasta dibebankan pada anggaran yayasan/lembaga pendidikan swasta yang
bersangkutan51.
Dalam rangka penyelenggaraan pendidikan inklusi, perlu dialokasikan dana
khusus, yang antara lain untuk keperluan: (1)Kegiatan identifikasi input siswa,
(2)Modifikasi kurikulum, (3)Insentif bagi tenaga kependidikan yang terlibat,
(4)Pengadaan sarana-prasarana, (5)Pemberdayaan peran serta masyarakat,
(6)Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar 52.
Penyelenggaraan pendidikan inklusif tidak hanya menjadi tanggung jawab
pemerintah. Stake holder pendidikan lain seperti masyarakat hendaknya selalu
dilibatkan dalam rangka memajukan pendidikan. Apalagi dalam semangat
otonomi daerah dimana pendidikan juga merupakan salah satu bidang yang
didesentralisasikan, maka keterlibatan masyarakat merupakan suatu keharusan.
Dalam rangka menarik simpati masyarakat agar mereka bersedia berpartisipasi
memajukan sekolah, perlu dilakukan berbagai hal, antara lain dengan
memberitahu masyarakat mengenai program-program sekolah, baik program
yang telah dilaksanakan, yang sedang dilaksanakan, maupun yang akan
dilaksanakan sehingga masyarakat mendapat gambaran yang jelas tentang
sekolah yang bersangkutan.
Sekolah penyelenggara pendidikan inklusif perlu mengelola dengan baik
hubungan sekolah dengan masyarakat agar dapat tercipta dan terbina hubungan
yang baik dalam rangka upaya memajukan pendidikan di daerah.
Dalam pendidikan inklusif terdapat komponen manajemen layanan khusus.
Manajemen layanan khusus ini mencakup manajemen kesiswaan, kurikulum,
tenaga kependidikan, sarana-prasarana, pendanaan dan lingkungan. Kepala
51

Peraturan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 116 Tahun 2007
Tentang Penyelenggaraan Pendidikan Inklusi, Pasal 16 dan Pasal 17. Pendanaan penyelenggaraan
pendidikan inklusif tidak ditangani oleh pemerintah pusat. Hal ini dapat dilihat pada Peraturan
Menteri Pendidikan Nasional Nomor 70 Tahun 2009 Tentang Pendidikan Inklusif bagi Peserta
Didik yang Memiliki Kelainan dan Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa. Tidak
ada satu pasalpun yang menyebutkan bahwa pemerintah pusat terlibat dalam pembiayaan
penyelenggaraan pendidikan inklusif.
52
Direktorat, Policy Brief, h. 8.

38

sekolah dapat menunjuk stafnya, terutama yang memahami ke-PLB-an, untuk


melaksanakan manajemen layanan khusus ini53.
5. Pembelajaran Model Inklusif di Kelas Reguler

Pelaksanaan pembelajaran dalam kelas inklusif sama dengan pelaksanaan


pembelajaran dalam kelas reguler. Namun jika diperlukan, anak berkebutuhan
khusus membutuhkan perlakuan tersendiri yang disesuaikan dengan kondisi
dan kebutuhan anak berkebutuhan khusus.
Untuk mengetahui kondisi dan kebutuhan anak berkebutuhan khusus
diperlukan proses skrining atau assesment yang bertujuan agar pada saat
pembelajaran di kelas, bentuk intervensi pembelajaran bagi anak berkebutuhan
khusus merupakan bentuk intervensi pembelajaran yang sesuai bagi mereka.
Assesment yang dimaksud yaitu proses kegiatan untuk mengetahui kemampuan
dan kelemahan setiap peserta didik dalam segi perkembangan kognitif dan
perkembangan sosial melalui pengamatan yang sensitif 54.
Seorang pendidik hendaknya mengetahui program pembelajaran yang sesuai
bagi anak berkebutuhan khusus. Pola pembelajaran yang harus disesuaikan
dengan anak berkebutuhan khusus biasa disebut dengan Individualized
Education Program (IEP) atau Program Pembelajaran Individual (PPI).
Perbedaan karakteristik yang dimiliki anak berkebutuhan khusus membuat
pendidikan harus memiliki kemampuan khusus.
Sebelum Program Pembelajaran Individual dijalankan oleh pendidik,
terlebih dahulu pendidik harus melakukan identifikasi terhadap kondisi dan
kebutuhan anak berkebutuhan khusus agar diperoleh informasi yang akurat
mengenai kebutuhan pembelajaran anak berkebutuhan khusus. Setelah proses
skrining atau assesment dilakukan dan kebutuhan anak berkebutuhan khusus
teridentifikasi, maka Program Pembelajaran Individual (IEP) dapat dijalankan
di kelas-kelas reguler. Program Pembelajaran Individual tersebut sebenarnya
tidak mutlak diperlukan bagi anak berkebutuhan khusus dalam pembelajaran
53

Direktorat, Policy Brief, h. 9.


Bandi Delphie, Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus dalam Setting Pendidikan Inklusi,
(Bandung: PT. Refika Aditama, 2006), h. 1
54

39

model inklusif di kelas reguler. Pada praktiknya ada beberapa anak


berkebutuhan khusus yang tidak memerlukan Program Pembelajaran
Individual. Mereka dapat belajar bersama dengan anak reguler dengan program
yang sama tanpa perlu dibedakan.
Program Pembelajaran Individual meliputi enam komponen, yaitu elicitors,
behaviors, reinforcers, entering behavior, terminal objective, dan enroute.
Secara terperinci, keenam komponen tersebut yaitu:
a. Elicitors, yaitu peristiwa atau kejadian yang dapat menimbulkan atau
menyebabkan perilaku
b. Behaviors, merupakan kegiatan peserta didik terhadap sesuatu yang dapat
ia lakukan
c. Reinforcers, suatu kejadian atau peristiwa yang muncul sebagai akibat
dari perilaku dan dapat menguatkan perilaku tertentu yang dianggap baik
d. Entering behavior, kesiapan menerima pelajaran
e. Terminal objective, sasaran antara dari pencapaian suatu tujuan
pembelajaran yang bersifat tahunan
f. Enroute, langkah dari entering behavior menujut ke terminal objective55
Model pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus harus memperhatikan
prinsip umum dan prinsip khusus. Prinsip umum pembelajaran meliputi
motivasi, konteks, keterarahan, hubungan sosial, belajar sambil bekerja,
individualisasi, menemukan, dan prinsip memecahkan masalah. Prinsip umum
ini dijalankan ketika anak berkebutuhan khusus belajar bersama-sama dengan
anak reguler dalam satu kelas. Baik anak reguler maupun anak berkebutuhan
khusus mendapatkan program pembelajaran yang sama. Prinsip khusus
disesuaikan dengan karakteristik masing-masing peserta didik berkebutuhan
khusus. Prinsip khusus ini dijalankan ketika peserta didik berkebutuhan khusus
membutuhkan pembelajaran individual melalui Program Pembelajaran
Individual (IEP)56.
Model pembelajaran anak berkebutuhan khusus memerlukan komponenkomponen tertentu yang meliputi:

55
56

Bandi Delphie, Pembelajaran Anak, h. 150-151.


Bandi Delphie, Pembelajaran Anak, h. 154.

40

a. Rasional
Layanan pendidikan dan pembelajaran anak berkebutuhan khusus
seharusnya sejalan dan tidak lepas dari prinsip, kebijakan, dan praktik
dalam pendidikan berkebutuhan khusus.
b. Visi dan misi
Model pembelajaran anak berkebutuhan khusus mengarah pada visi dan
misi sebagai sumber pengertian bagi perumusan tujuan dan sasaran yang
harus ditetapkan
c. Tujuan pembelajaran
Tujuan pembelajaran anak berkebutuhan khusus harus didasarkan pada
visi dan misi pembelajaran yang sudah ditetapkan
d. Komponen dasar model pembelajaran
Berdasarkan pada visi dan misi pembelajaran, komponen-komponen
dasar

model

pembelajaran

anak

berkebutuhan

khusus

dapat

dikelompokkan menjadi:
1) Masukan yang berupa masukan mentah yang terdiri dari elicitors,
behaviors, dan reinforcers, masukan instrumen yang terdiri dari
program, guru kelas, tahapan, dan sarana, dan masukan lingkungan
yang berupa norma, tujuan, lingkungan, dan tuntutan
2) Proses yang terdiri dari atas program pembelajaran individual,
pelaksanaan intervensi, dan refleksi hasil pembelajaran
3) Keluaran berupa perubahan kompetensi setiap peserta didik yang
mempunyai kesulitan atau hambatan perkembangan diri
e. Komponen pendukung sistem model pembelajaran
Komponen pendukung sistem adalah kegiatan-kegiatan manajemen yang
bertujuan untuk memantapkan, memelihara, dan meningkatkan program
pembelajaran57
Proses identifikasi dalam bentuk skrining atau assesment yang dimaksud di
atas dapat digambarkan sebagai berikut:
57

Bandi Delphie, Pembelajaran Anak, h. 154-157.

41

1. RUJUKAN GURU
Catatan-catatan dari pengawas SD,
menghubungi orang tua siswa, observasi
guru, dan kemudian memberikan rujukan
pada kepala sekolah
10 hari
2. SKRINING OLEH TIM PANITIA
Dilakukan oleh guru, kepala sekolah,
psikolog, perawat, dokter, ahli terapi guna
mendapatkan rekomendasi dilanjutkan ke
prosedur berikutnya atau dikembalikan ke
kelas reguler

STOP

20 hari
3. REKOMENDASI
OLEH
5
KOMPONEN
- Orang tua yang memberikan evaluasi
tentang anaknya mengenai cara berbicara
berbahasa, dan daya pendengaran
- Assesmen pendidikan
- Laporan hasil skrining oleh tim panitia
khusus
- Rujukan dari guru pengamat
- Kepala sekolah
Waktu evaluasi 45 hari

5. REKOMENDASI DARI 3 KOMPONEN


(Psychological, Sociological, Physical)

4. PANITIA PENGESAHAN
Terdiri atas guru, orang tua, para ahli
pendidikan, psikolog, pengawas PLB,
konselor,dan speech terapist

STOP

20 hari
6. PROGRAM
PEMBELAJARAN
INDIVIDUAL (IEP)

8. PENEMPATAN
SISWA
PADA
PROGRAM KEGIATAN SEKOLAH
YANG
COCOK
DENGAN
KEBERADAANNYA

Gambar 2. Prosedur Identifikasi, Evaluasi, Konfirmasi, dan Penempatan Peserta Didik dalam
Pendidikan Luar Biasa (Bandi Delphie, 2006: 8)

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di lingkungan Dinas Pendidikan Provinsi DKI
Jakarta. Adapun waktu penelitian terhitung mulai dari bulan April-Desember
2010.

B. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui:
1. Kebijakan penyelenggaraan pendidikan inklusif di Provinsi DKI Jakarta
2. Implementasi kebijakan penyelenggaraan pendidikan inklusif di Provinsi
DKI Jakarta

C. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode berparadigma deskriptif kualitatif.
Penelitian deskriptif ditujukan untuk mendeskripsikan fenomena-fenomena yang
ada secara alamiah maupun rekayasa manusia. Penelitian deskriptif tidak
memberikan perlakukan, manipulasi atau pengubahan pada variabel, tetapi
menggambarkan suatu kondisi apa adanya 1. Dalam penelitian ini, peneliti hanya
1

Nana Syaodih Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: PT. Remaja


Rosdakarya, 2008), cet. Ke-4, h. 72-74

42

43

melakukan penelitian terhadap fenomena yang alamiah terkait kebijakan


penyelenggaraan pendidikan inklusif.
Metode penelitian kualitatif merupakan penelitian yang bermaksud memahami
fenomena tentang apa yang dialami subjek penelitian secara holistik dengan cara
deskripsi dalam kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah
dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah2.
Penelitian ini dilaksanakan untuk menggambarkan realitas empiris sesuai
dengan fenomena yang terjadi secara rinci dan tuntas serta untuk mengungkapkan
gejala secara holistik melalui pengumpulan data dari latar yang alami dengan
peneliti sebagai instrumen kunci.
Adapun jenis penelitian yang dipilih peneliti yaitu studi kasus dengan
menghimpun dan menganalisis data berkenaan dengan kasus pendidikan inklusif.
Data-data yang terkait dengan proses analisis kebijakan penyelenggaraan
pendidikan inklusif akan dihimpun untuk kemudian dianalisis.

D. Sumber Data
Sumber data penelitian ini terdiri dari dua macam, yaitu sumber data primer
dan sumber data sekunder.
1. Sumber data primer adalah sumber data yang langsung memberikan data
kepada pengumpul data. Dalam penelitian ini, peneliti mengambil sumber
data primer dari Kepala Bidang TK, SD, dan PLB Dinas Pendidikan DKI
Jakarta, guru satuan pendidikan penyelenggara pendidikan inklusif, dan
LSM Hellen Keller Internasional (HKI).
2. Sumber data sekunder adalah sumber data yang tidak langsung
memberikan data kepada pengumpul data, misalnya lewat orang lain atau
dokumen. Sumber data sekunder dalam penelitian ini berasal dari data
tertulis lembaga
Dengan sumber data primer dan sekunder di atas, penelitian ini diharapkan
dapat memperoleh data-data valid dan holistik yang diperlukan dalam
menganalisa permasalahan yang menjadi fokus penelitian.
2

Lexy J. Moloeng, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,


2009), cet. ke-29, h. 6

44

Pada dasarnya, sumber data dalam penelitian dengan menggunakan metode


kualitatif berkembang terus (snowball) secara bertujuan (purposive) sampai data
yang dikumpulkan dianggap memuaskan3. Dengan demikian, bila dimungkinkan
maka sumber data dalam penelitian dapat bertambah dari sumber data yang telah
ditentukan jika sumber data yang telah ditentukan tersebut belum dapat
memberikan data yang relevan dengan penelitian.

E. Teknik Pengumpulan Data


Untuk memperoleh data yang diperlukan, peneliti menggunakan teknik
pengumpulan data sebagai berikut:
1. Wawancara
Wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian
dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara penanya atau
pewawancara dengan penjawab atau interviewee dengan atau tanpa
menggunakan panduan wawancara 4.
Jenis wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara
mendalam (in-depth interview) bebas atau wawancara tidak terstruktur.
Wawancara ini bertujuan untuk mengetahui secara mendetail mengenai
fokus penelitian dengan menanyakan langsung kepada informan kunci (key
informan) sehingga didapatkan data-data yang valid dari narasumber yang
terkait dengan fokus penelitian.
2. Dokumentasi
Metode dokumentasi adalah metode yang digunakan untuk mencari data
mengenal hal-hal atau variabel yang berupa catatan-catatan, transkrip,
buku, surat kabar, prasasti, notulen rapat, agenda dan sebagainya.
Pada intinya, metode dokumentasi adalah metode yang digunakan untuk
meneliti data historis5.

Husaini Usman dan Purnomo Setiady Akbar, Metodologi Penelitian Sosial, Jakarta: PT. Bumi
Aksara, 2008, h. 78.
4
M. Burhan Bungin, Penelitian Kualitatif, Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu
Sosial Lainnya, (Jakarta: Kencana, 2009), h. 108.
5
Burhan, Penelitian Kualitatif, h. 121.

45

Dokumentasi dapat diklasifikasikan menjadi dua macam, yaitu dokumen


resmi dan dokumen pribadi. Dokumen resmi merupakan dokumen yang
berasal dari suatu lembaga atau organisasi. Dokumen resmi terbagi atas
dokumen internal (berupa memo, pengumuman, instruksi, aturan suatu
lembaga masyarakat tetapi digunakan dikalangan sendiri)dan dokumen
eksternal (yang berupa majalah, buletin, penyataan dan berita yang
disiarkan kepada media masa). Dokumen pribadi merupakan catatan
seseorang secara tertulis tentang tindakan, pengalaman dan kepercayaan.
Dokumen pribadi dapat berupa buku harian, surat pribadi dan autobiografi 6.
Dokumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa dokumen resmi
dalam bentuk dokumen internal yang ada dimiliki Dinas Pendidikan DKI
Jakarta. Selain itu, dokumen internal lain yang digunakan dalam penelitian
ini yaitu dokumen milik sekolah-sekolah penyelenggara pendidikan
inklusif. Peneliti tidak menggunakan dokumen pribadi karena peneliti tidak
menemukan data dokumen tersebut.

F. Teknik Analisis Data


Teknik analisis data merupakan suatu cara yang digunakan untuk menguraikan
keterangan-keterangan atau data-data yang diperoleh agar data-data tersebut dapat
dipahami bukan saja oleh orang yang meneliti (peneliti), akan tetapi juga oleh
orang lain yang ingin mengetahui hasil penelitian itu.
Dalam penelitian kualitatif, analisis data bersifat interaktif, berlangsung dalam
lingkaran

yang

menggunakan

saling

pendekatan

tumpang
logika

tindih 7.
induktif,

Analisis
dimana

kualitatif

cenderung

silogisme

dibangun

berdasarkan pada hal-hal yang khusus atau data di lapangan dan bermuara pada
kesimpulan-kesimpulan umum8.
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis
data deskriptif kualitatif. Data-data yang sudah diperoleh dan dikumpulkan
6

Burhan, Penelitian Kualitatif, h. 122-123.


Nana, Metode Penelitian, h. 114.
8
Burhan, Penelitian Kualitatif, h. 143.
7

46

dianalisis dengan membuat kategorisasi agar mempermudah dalam penafsiran


data. Masing-masing data yang telah dikategorisasi, dikaitkan untuk memperoleh
hubungan agar sampai pada kesimpulan.
Secara sistematis, dalam menganalisa data penelitian ini, data yang diperoleh
dalam penelitian terlebih dahulu dicatat dan diberi kode agar sumber datanya
dapat ditelusuri. Setelah proses pencatatan selesai, data-data tersebut dikumpulkan
untuk dipilah-pilah dan dikategorikan. Agar kategori tersebut memiliki makna,
maka dicari hubungan-hubungan dan pola-pola yang terdapat dalam data untuk
dibuat temuan-temuan umum9. Dengan langkah analisis data deskriptif kualitatif
demikian dapat diperoleh hasil penelitian yang mencerminkan hasil sebenarnya
yang diharapkan.

Lexy, Metodologi Penelitian, h. 248.

BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Umum Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta
Jakarta adalah kota yang bisa menjanjikan kehidupan yang nyaman dan
sejahtera, apabila kita semua, dalam hal ini pemerintah dan masyarakat, dapat
menjawab tantangan, menyelesaikan permasalahan dan dapat memanfaatkan
potensi dan peluang yang ada.
Kita telah ketahui bersama bahwa Jakarta tidak memiliki sumber daya alam
sebagaimana di provinsi-provinsi lain, sementara itu Jakarta dihadapkan pada
berbagai permasalahan yang cukup kompleks terkait dengan kedudukan dan
fungsi Jakarta sebagai Ibukota Negara, baik permasalahan penduduk, masalah
ekonomi, maupun terkait dengan permasalahan sosial budaya.
Dari sejumlah permasalahan yang dihadapi kota Jakarta, khususnya yang
terkait dengan sumber daya manusia diperlukan satu solusi untuk penyelesaiannya
antara lain dengan cara meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat
Jakarta agar mereka dapat menjadi sumber daya manusia yang memiliki karakter
terpuji, rasa nasionalisme yang tinggi dan tangguh, kompetensi, keterampilan,

47

48

serta sehat rohani dan jasmani sehingga akan tangguh menghadapi berbagai
tantangan dan permasalahan yang dihadapi Ibukota dan juga dunia global.
Tidak dapat dipungkiri dengan kedudukan Jakarta sebagai Ibukota Negara
Republik Indonesia, Pusat Pemerintahan, Kota Jasa, Pintu Gerbang Dari dan Ke
Manca Negara, Lokasi Perkantoran dan Perwakilan Duta-Duta Bangsa. Sebagai
kota yang tidak memiliki sumber kekayaan alam, maka sumber daya manusia
yang ada harus terus dikembangkan agar bisa sejajar dengan kota-kota besar
lainnya di dunia. Pengembangan sumber daya manusia dapat dilakukan tidak lain
melalui peningkatan mutu pendidikan. Pendidikan memegang peranan penting
dan sebagai salah satu kunci keberhasilan pembangunan nasional dan daerah.
Keberhasilan penyelenggaraan pendidikan di Provinsi DKI Jakarta harus dilandasi
dengan kemampuan dalam menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (serta
imtak) yang merupakan cerminan keberhasilan bangsa Indonesia dimasa
mendatang.
Untuk membentuk sumber daya manusia yang memiliki karakter tersebut harus
dipersiapkan melalui suatu proses pembelajaran dan pendidikan pada lembaga
pendidikan yang memiliki kualitas, baik pada lembaga pendidikan jalur
pendidikan formal, non formal, dan informal.
Semua anggota masyarakat, bersama dengan seluruh jajaran Pemerintah
Provinsi DKI Jakarta memiliki tanggungjawab untuk mencari solusi dalam
menyelesaikan permasalahan sekaligus mengelola dan memanfaatkan potensi dan
peluang yang ada. Untuk itulah diperlukan adanya kebersamaan dalam pelayanan
pendidikan di Provinsi DKI Jakarta untuk membangun sumber daya manusia
dalam mencapai cita-cita dan menjadikan Provinsi DKI Jakarta menjadi sesuai
visi yaitu Jakarta yang Nyaman dan Sejahtera untuk Semua.
Dalam penyelenggaraan pendidikan harus berorientasi pada masa depan,
karena ke depan tantangan pendidikan akan semakin kompleks seiring dengan
persaingan global sehingga pendidikan harus terus-menerus

melakukan

penyesuaian dengan gerak perkembangan ilmu pengetahuan modern dan inovasi.

49

1. Visi dan Misi Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta


a. Visi Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta
Visi Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta yaitu Mewujudkan
Layanan Pendidikan yang Bermutu Tinggi dalam Membangun Insan
yang Cerdas dan Kompetitif1
Penjelasan makna atas pernyataan visi dimaksud adalah terciptanya
upaya peningkatan pemerataan akses memperoleh pendidikan yang
bermutu dan terjangkau bagi masyarakat Jakarta sehingga tercipta rasa
nyaman dalam memperoleh layanan pendidikan. Selain itu visi tersebut
mengandung maksud adanya peningkatan kualitas lulusan pendidikan
formal dan nonformal yang cerdas secara komprehensif yang meliputi
cerdas spiritual, cerdas emosional, cerdas sosial, cerdas intelektual, dan
cerdas kinestetis. Kompetitif dimaksudkan dalam rangka mengupayakan
lulusan pendidikan untuk dapat berdaya saing global dan melanjutkan ke
jenjang pendidikan yang lebih tinggi maupun dapat bekerja di
mancanegara.
b. Misi Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta
Misi Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta yaitu:
1. Mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh
pendidikan yang bermutu bagi seluruh masyarakat Jakarta
2. Mewujudkan

pendidikan

yang

kompetitif

untuk

menghadapi

perubahan
3. Meningkatkan standar kualitas layanan pendidikan
4. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan dan
pengelolaan pendidikan
5. Penguatan tata kelola, akuntabilitas, dan citra publik2
Penjelasan makna atas pernyataan misi dimaksud adalah:

1
2

Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, Kebijakan Dinas Pendidikan, h. 1


Dinas, Kebijakan Dinas, h. 1

50

1. Melayani masyarakat dalam penyediaan sarana dan prasarana


pendidikan

formal

dan

nonformal,

sehingga

dirasakan

oleh

masyarakat luas mudah mendapatkan layanan di segala jenis dan


jenjang pendidikan yang bermutu
2. Mengupayakan lulusan pendidikan di DKI Jakarta untuk dapat
berdaya saing global dalam rangka menghadapi setiap perubahan
3. Melayani masyarakat dengan prinsip pelayanan prima yakni
mengutamakan norma pelayanan pendidikan berdasar pada standar
minimal

pelayanan

pendidikan

dengan

selalu

mengupayakan

peningkatan mutu para tenaga kependidikan maupun lulusan


pendidikan formal dan nonformal melalui beberapa kegiatan yang
dapat berdaya saing global serta membangun sarana dan prasarana
pendidikan yang menjamin kenyamanan dengan memperhatikan
prinsip pembangunan pendidikan yang berkelanjutan
4. Memberdayakan masyarakat dengan prinsip pemberian otoritas pada
masyarakat untuk mengenali permasalahan yang dihadapi dan
mengupayakan pemecahan yang terbaik pada tahapan perencanaan,
pelaksanaan, pengawasan, dan pengendalian penyelenggaraan, dan
pengelolaan pendidikan
5. Mengedepankan prinsip bersih, transparan, dan profesional dalam
rangka membangun tata kelola, akuntabilitas, dan citra publik
pendidikan
2. Tugas Pokok dan Fungsi Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta
Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta sesuai dengan Peraturan Daerah
Nomor 10 Tahun 2008 Tentang Organisasi Perangkat Daerah, terdiri dari
Sekretariat dan 7 (tujuh) bidang yakni Bidang Taman Kanak-Kanak,
Sekolah Dasar, dan Pendidikan Luar Biasa, Bidang Sekolah Menengah
Pertama dan Sekolah Menengah Atas, Bidang Sekolah Menengah Kejuruan,
Bidang Pendidikan Non Formal dan Informal, Bidang Tenaga Pendidikan,
Bidang Sarana Prasarana Pendidikan, Bidang Standarisasi dan Pendidikan
Tinggi. Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta juga memiliki UPT, yaitu

51

BP3LS, 5 BPPK, UPT Planetarium dan Observatorium, BPTKD. Adapun


tugas pokok dan fungsi Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta adalah
sebagai berikut:
a. Tugas Pokok Dinas Pendidikan
Melaksanakan urusan pendidikan
b. Fungsi Dinas Pendidikan
1.

Penyusunan dan pelaksanaan rencana kerja dan anggaran dinas


pendidikan

2.

Perumusan kebijakan tenis pelaksanaan urusan pendidikan

3.

Pelaksanaan pendidikan pra sekolah, dasar, menengah, dan luar biasa


serta pendidikan nonformal dan informal

4.

Pembinaan pendidikan prasekolah, dasar, menengah, dan luar biasa


serta pendidikan nonformal dan informal

5.

Pelayanan pendidikan prasekolah, dasar, menengah, dan luar biasa


serta pendidikan nonformal dan informal

6.

Pengkajian dan pengembangan pendidikan prasekolah, dasar,


menengah, dan luar biasa serta pendidikan nonformal dan informal

7.

Pengawasan dan pengendalian pendidikan prasekolah, dasar,


menengah, dan luar biasa serta pendidikan nonformal dan informal

8.

Pembinaan dan pengembangan tenaga fungsional kependidikan dan


tenaga teknis pendidikan

9.

Fasilitasi pengembangan kerjasama antar lembaga pendidikan

10. Pemberian rekomendasi pendirian dan penutupan satuan pendidikan


tinggi
11. Pelayanan, pembinaan, dan pengendalian rekomendasi, standarisasi
dan/atau perizinan di bidang pendidikan
12. Penegakan peraturan perundang-undangan di bidang pendidikan
13. Pemungutan,

penatausahaan,

penyetoran,

pelaporan,

dan

pertanggungjawaban penerimaan retribusi pendidikan


14. Penyediaan,

penatausahaan,

penggunaan,

perawatan sarana dan prasarana pendidikan

pemeliharaan,

dan

52

15. Pemberian dukungan teknis kepada masyarakat dan perangkat


daerah
16. Pengelolaan kepegawaian, keuangan, barang, dan ketatausahaan
dinas pendidikan
17. Pelaporan dan pertanggungjawaban pelaksanaan tugas dan fungsi
3. Tujuan Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta
a. Meningkatkan upaya peningkatan kualitas proses pembelajaran pada
semua jenjang pendidikan
b. Meningkatkan kualitas dan kemandirian pengelolaan pendidikan yang
berdaya saing global
c. Meningkatkan kemampuan akademik dan profesionalisme tenaga
pendidik dan tenaga kependidikan
d. Meningkatkan pembinaan perguruan tinggi sebagai bagian integral dari
tata kota
e. Mengentaskan masyarakat putus sekolah dan meningkatkan pengetahuan
dan keterampilan (kecakapan hidup) warga belajar 3
4. Sasaran Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta
a. Peningkatan mutu program dan relevansi pendidikan
b. Pengembangan dan peningkatan sarana pendidikan
c. Peningkatan mutu manajemen pendidikan
d. Peningkatan

materi

pendidikan

agama,

kewarganegaraan

dan

ekstrakurikuler
e. Peningkatan pengetahuan dan keterampilan (kecakapan hidup) serta mutu
lulusan
f. Peningkatan

pendidikan

nonformal

dan

informal

keterampilan masyarakat
g. Pembinaan perguruan tinggi4
5. Strategi Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta

3
4

Dinas, Kebijakan Dinas, h. 1


Dinas, Kebijakan Dinas, h. 2

(PNFI)

dan

53

Mendorong upaya pemerataan kesempatan Pendidikan Anak Usia Dini,


pendidikan dasar, pendidikan luar biasa, pendidikan menengah kepada
kelompok yang kurang mampu melalui kebijakan yang mendorong
terciptanya

pendidikan-pendidikan

alternatif

khususnya

Pendidikan

Nonformal Informal (PNFI), mengurangi angka putus sekolah dengan


memperhatikan keterjangkauan biaya, serta meningkatkan peran pendidikan
tinggi guna mendukung upaya peningkatan kerjasama antar perguruan
tinggi5.
6. Arah Kebijakan Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta
Berdasarkan rumusan program strategis atas visi dan misi Pemerintah
Provinsi DKI Jakarta terkait dengan pembangunan bidang pendidikan yaitu
Peningkatan Akses dan Mutu Pendidikan yang meliputi 9 (sembilan)
kebijakan yaitu: Penuntasan Wajib Belajar 12 Tahun, Meminimalkan
Jumlah Siswa yang Drop Out, Peningkatan Mutu Lulusan, Peningkatan
Standar Kualitas Layanan Pendidikan, Peningkatan Kompetensi Guru
(Standar Asia), Peningkatan Kapasitas Manajemen Sekolah, Peningkatan
Daya Tampung dan Mutu Lulusan SMK, Bantuan Biaya Pendidikan Bagi
Masyarakat Miskin, dan Meningkatkan Jumlah Sarana Tempat Belajar
Mengajar 6.
7. Sasaran Strategik Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta
Sasaran strategik yang akan dicapai Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta
yaitu:
a. Menurunnya jumlah siswa yang drop out
b. Meningkatnya daya tampung
c. Menurunnya angka buta aksara
d. Meningkatnya pembinaan pendidikan kesetaraan
e. Meningkatnya standar kualitas layanan pendidikan
f. Meningkatnya mutu lulusan
g. Meningkatnya kualifikasi dan sertifikasi guru
5

Dinas, Kebijakan Dinas, h. 2


Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, Rencana Strategis Dinas Pendidikan Provinsi DKI
Jakarta Tahun 2009-2013, h. 66
6

54

h. Meningkatnya pengembangan ICT dalam KBM


i.

Meningkatnya sarana dan prasarana belajar mengajar

j.

Meningkatnya penyelenggaraan akreditasi dan mutu pendidikan

k. Meningkatnya pemberdayaan komite sekolah dan dewan pendidikan


l.

Meningkatnya penerapan manajemen peningkatan mutu berbasis


sekolah7

8. Kondisi Sekolah, Siswa, dan Guru di Lingkungan Dinas Pendidikan


Provinsi DKI Jakarta
Kondisi sekolah, siswa, dan guru di lingkungan Dinas Pendidikan Provinsi
DKI Jakarta dapat dilihat dari ilustrasi gambar-gambar di bawah ini. Data
pada gambar-gambar tersebut merupakan data pada tahun 2008. Jumlah
sekolah, dari mulai tingkat TK hingga tingkat SMA, baik negeri maupun
swasta yaitu:
Gambar 38
Jumlah Sekolah di Provinsi DKI Jakarta
3002
3000
N
2500

JML

2249

2000

1733

1742

1500

937
1000

753
631
512

497
306

500

116

574

381
175
62

35

0
TK

7
8

SD

Dinas, Rencana Strategis, h. 66


Dinas, Kebijakan Dinas, h. 2

SMP

SMA

SMK

PKBM

210

55

Gambar di atas menunjukkan bahwa sekolah di Provinsi DKI Jakarta


berjumlah 6.962 sekolah yang terdiri dari 2.777 sekolah negeri dan 4.185
sekolah swasta.
Adapun jumlah siswa di Provinsi DKI Jakarta dapat dilihat pada gambar di
bawah ini:
Gambar 49
Jumlah siswa di Provinsi DKI Jakarta
900000

862882

JML

800000

670559

700000

600000

500000

363187

400000

300000

227722
192323

200000

92779

177617
135465 91886
85731

93388

199599
157751
41848

100000

609

3933

TK

SD

SMP

SMA

SMK

PKBM

Gambar di atas menunjukkan bahwa jumlah total siswa yang ada terdapat di
sekolah-sekolah di Provinsi DKI Jakarta yaitu 1.696.673 siswa. Mereka
yang menempuh pendidikan di sekolah negeri berjumlah 1.032.624 siswa.
Adapun yang menempuh pendidikan di sekolah swasta berjumlah 664.049
siswa.
Jumlah pendidik di Provinsi DKI Jakarta dapat dilihat pada gambar di
bawah ini:

Dinas, Kebijakan Dinas, h. 2

56

Gambar 510
Jumlah Pendidik di Provinsi DKI Jakarta
45000

JML

40176

40000
35000

30918
30000

28802

25000
21095
20000
15849

15917
15000
10000

8938 8995

11374

11242
9853

12696
9144
6773
3153

5000
57
0
TK

SD

SMP

SMA

SMK

PKBM

Jumlah pendidik di Provinsi DKI Jakarta, berdasarkan gambar di atas, yaitu


102.032 orang yang terdiri dari 50.027 pendidik di sekolah negeri dan
52.005 pendidik di sekolah swasta.
B. Deskripsi dan Analisis Data
Berdasarkan penelitian yang telah penulis lakukan mengenai kebijakan
penyelenggaraan pendidikan inklusif di Provinsi DKI Jakarta, penulis
menemukan data-data yang terkait dengan kebijakan penyelenggaraan
pendidikan inklusif di Provinsi DKI Jakarta. Data-data tersebut penulis
temukan dengan menggunakan metode dokumentasi dan wawancara. Data-data
yang penulis temukan sebagai berikut:
1. Kebijakan Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif di Provinsi DKI
Jakarta
Penyelenggaraan pendidikan inklusif merupakan masalah yang telah
menjadi konsen bersama. Kebijakan penyelenggaraan pendidikan inklusif
10

Dinas, Kebijakan Dinas, h. 3

57

merupakan kebijakan yang mengacu kepada beberapa ketetapan yang telah


digariskan oleh kesepakatan di tingkat dunia dan ketetapan yang telah
digariskan pemerintah Indonesia di tingkat pusat.
Pendidikan inklusif yang dimaksud dalam kebijakan yang dikeluarkan oleh
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta merupakan pendidikan bagi peserta didik
yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran
karena kelainan fisik, emosional, mental, sosial, dan/atau memiliki potensi
kecerdasan dan bakat istimewa. Pendidikan tersebut secara yuridis
dimasukkan ke dalam jenis pendidikan khusus yang diselenggarakan secara
inklusif atau berupa satuan pendidikan khusus pada tingkat pendidikan dasar
dan menengah11. Dari sini dapat dipahami bahwa pendidikan inklusif
merupakan salah satu pendidikan yang secara khusus diselenggarakan bagi
peserta didik yang berkelainan.
Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 70 Tahun 2009
Tentang Pendidikan Inklusif bagi Peserta Didik yang Memiliki Kelainan
dan Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa disebutkan
bahwa peserta didik yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, sosial,
dan/atau memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa perlu
mendapatkan layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dan hak
asasinya. Layanan pendidikan tersebut dapat diselenggarakan secara
inklusif12. Layanan pendidikan yang dimaksud dalam peraturan tersebut
merupakan

sistem

penyelenggaraan

pendidikan

yang

memberikan

kesempatan kepada semua peserta didik yang memiliki kelainan dan


memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mengikuti
pendidikan atau pembelajaran dalam lingkungan pendidikan secara
bersama-sama dengan peserta didik pada umumnya. Pada intinya, semua

11

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 15, Pasal
32, dan Penjelasan Pasal 15
12
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 70 Tahun 2009 Tentang Pendidikan Inklusif
bagi Peserta Didik yang Memiliki Kelainan dan Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat
Istimewa

58

peserta didik, dalam kondisi bagaimana pun, mendapatkan layanan


pendidikan yang sama.
Pendidikan inklusif juga diatur dalam Peraturan Daerah (Perda) Provinsi
DKI Jakarta Nomor 8 Tahun 2006 Tentang Sistem Pendidikan. Dalam Perda
tersebut ditetapkan bahwa warga masyarakat yang memiliki kelainan fisik,
mental, emosional, dan mengalami hambatan sosial berhak memperoleh
pendidikan khusus. Begitu pula dengan warga masyarakat yang memiliki
potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa juga berhak mendapatkan
pendidikan khusus. Pendidikan khusus tersebut berfungsi memberikan
layanan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan
dalam mengikuti proses pembelajaran karena kendala fisik, emosional,
mental, sosial dan/atau peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan
dan/atau bakat istimewa. Pendidikan khusus tersebut diselenggarakan
melalui jalur pendidikan formal, nonformal dan informal. Pendidikan
khusus formal bagi peserta didik yang memiliki kendala fisik, emosional,
mental, sosial berbentuk Sekolah Luar Biasa (SLB) dan/atau kelas inklusif
sesuai dengan jenjang masing-masing. Pendidikan khusus nonformal
berbentuk lembaga kursus, kelompok belajar, lembaga pelatihan serta
satuan pendidikan lain yang sederajat. Pendidikan khusus informal
berbentuk pendidikan keluarga dan lingkungan. Jenis pendidikan khusus
dapat berupa pendidikan umum, kejuruan, keagamaan, dan khusus 13.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengeluarkan kebijakan penyelenggaraan
pendidikan inklusif lewat Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor
116 Tahun 2007 Tentang Pendidikan Inklusif. Hal ini sebagaimana
dikatakan Ibu Septi Novida, Kepala Bidang TK, SD, PLB Dinas Pendidikan
Provinsi DKI Jakarta, yaitu:
kebijakan tentang penyelenggaraan pendidikan inklusif di DKI
Jakarta berdasarkan hasil kebijakan yang juga sudah ditetapkan oleh
pemerintah pusat melalui Direktorat PSLB Kementrian Pendidikan
13

Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta Nomor 8 Tahun 2006 Tentang Sistem Pendidikan

59

Nasional. Kebijakan Direktorat PSLB ini terkait dengan kesepakatan di


tingkat dunia dimana anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus,
khususnya dalam hal fisik dan emosional diberikan kesempatan untuk
bersekolah atau mengenyam pendidikan. Sebenarnya dari dulu, anakanak yang memiliki kebutuhan khusus ini sudah diberi kesempatan untuk
mengenyam pendidikan di SLB. Namun kenapa tidak jika pendidikan
mereka dijadikan satu di sekolah reguler dari mulai tingkat TK, SD,
SMP, dan SMA/SMK. Terkait dengan itu, tahun 2007 keluar Peraturan
Gubernur (Pergub) DKI Jakarta Nomor 116 Tahun 2007 Tentang
Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif dimana di dalamnya memuat
ketentuan bahwa masing-masing kecamatan di Provinsi DKI Jakarta
harus memiliki lembaga yang menampung dan melayani anak-anak
berkebutuhan khusus14
Pendidikan inklusif yang diselenggarakan di lingkungan Dinas Pendidikan
Provinsi DKI Jakarta adalah pendidikan yang ditujukan bagi anak-anak
berkebutuhan khusus yang memiliki kekurangan dalam hal fisik, mental,
dan emosional agar mereka dapat belajar bersama-sama di sekolah reguler
bersama-sama anak-anak normal lain. Hal tersebut didukung dengan
pernyataan yang diberikan Dra. Septi Novida, M.Pd yaitu:
anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus, khususnya dalam hal
fisik dan emosional diberikan kesempatan untuk bersekolah atau
mengenyam pendidikan. Sebenarnya dari dulu, anak-anak yang memiliki
kebutuhan khusus ini sudah diberi kesempatan untuk mengenyam
pendidikan di SLB. Namun kenapa tidak jika pendidikan mereka
dijadikan satu di sekolah reguler dari mulai tingkat TK, SD, SMP, dan
SMA/SMK15.
Wawancara yang penulis lakukan dengan guru program inklusif di
lingkungan Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta juga menunjukkan
bahwa pendidikan inklusif yang diselenggarakan di Provinsi DKI Jakarta
ditujukan bagi anak-anak berkebutuhan khusus yang memiliki kekurangan
dalam hal fisik, mental, dan emosional. Guru di SMP Negeri 223 Pasar
Rebo Jakarta Timur menyatakan:
Pendidikan inklusif adalah pendidikan yang tidak membeda-bedakan
kemampuan peserta didik. Pendidikan inklusif adalah pendidikan yang
14

Wawancara dengan Septi Novida, Kepala Bidang TK, SD, PLB Dinas Pendidikan Provinsi
DKI Jakarta (23 November 2010 Pukul 07.30) di Kantor Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta
15
Wawancara dengan Septi Novida

60

merangkul kekurangan-kekurangan yang terdapat dalam diri peserta


didik16
Ibu Fitri dari Hellen Keller Internasional (HKI) menyatakan bahwa
pendidikan inklusif yaitu:
Pendidikan inklusif adalah pendidikan yang memberi kesempatan
kepada peserta didik yang memiliki kekurangan dalam hal fisik, mental,
dan emosional untuk dapat belajar bersama di sekolah reguler bersama
anak-anak normal lain17
Manajer program inklusi di SMA Negeri 66 Cilandak Jakarta Selatan
memberikan pemaparan bahwa yang dimaksud dengan pendidikan inklusif
yaitu:
Pendidikan inklusif seringkali salah dipahami oleh sebagian besar
masyarakat. Pendidikan inklusif sebenarnya bukan hanya mengakomodir
kekurangan-kekurangan yang terdapat dalam diri peserta didik seperti
kekurangan dalam hal fisik, emosional, dan mental saja, namun lebih
jauh pendidikan inklusif harus dimaknai lebih luas dimana seharusnya
pendidikan merangkul semua kekurangan karena sejatinya setiap orang
memiliki kekurangan18
Berdasarkan pernyataan-pernyataan diatas, pendidikan inklusif yang
diselenggarakan di lingkungan Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta ingin
memberikan pelayanan pendidikan yang sesuai dengan hak yang dimiliki
setiap peserta didik atas perkembangan individu, sosial, dan intelektual,
sebagaimana dinyatakan MIF Baihaqi dan M. Sugiarmin. Peserta didik yang
memiliki ketidakmampuan khusus dan/atau memiliki kebutuhan belajar
yang luar biasa diberikan akses terhadap pendidikan yang bermutu di
sekolah-sekolah reguler 19.

16

Wawancara dengan Sukarto, Guru Inklusi SMP Negeri 223 Pasar Rebo (9 Desember 2010,
Pukul 13.00) di ruang guru SMP Negeri 223 Pasar Rebo
17
Wawancara dengan Fitri, Hellen Keller Internasional (HKI) (26 Nopember 2010 Pukul
10.00) di ruang pelatihan Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta
18
Wawancara dengan Suparno, Manajer Program Inklusi SMA Negeri 66 Cilandak (17
Desember 2010 Pukul 12.30) di ruang guru SMA Negeri 66 Cilandak
19
MIF. Baihaqi dan M. Sugiarmin, Memahami dan Membantu Anak ADHD, (Bandung: PT.
Refika Aditama, 2006), h. 75-76.

61

Selain itu, penyelenggaraan pendidikan inklusif di lingkungan Dinas


Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, sebagaimana dinyatakan Daniel P.
Hallahan, memberikan kesempatan yang sama kepada setiap peserta didik
berkebutuhan khusus untuk ditempatkan bersama-sama dengan peserta didik
normal lainnya dalam kelas yang sama sepanjang hari 20. Pendidikan inklusif
memang berusaha merangkul semua kekurangan yang terdapat dalam diri
peserta didik. Sesuai dengan yang dinyatakan Gavin Reid bahwa pendidikan
inklusif memang dimaksudkan untuk menghilangkan perbedaan dengan
berpijak pada prinsip persamaan, keadilan, dan hak individu 21.
Kebijakan penyelenggaraan pendidikan inklusif di Provinsi DKI Jakarta
dimaksudkan untuk menghilangkan pembedaan yang selama ini terjadi
kepada anak-anak berkebutuhan khusus. Pendidikan segregatif di SLB
(Sekolah Luar Biasa) yang selama ini diperuntukkan bagi anak-anak
berkebutuhan khusus memisahkan mereka dari kenormalan, sehingga
mereka terbiasa dengan ketidaknormalan yang selama ini dilekatkan kepada
mereka. Dengan penyelenggaraan pendidikan inklusif tersebut, diharapkan
agar halangan yang selama ini membatasi akses anak-anak berkebutuhan
khusus untuk mendapatkan pendidikan yang layak dapat teratasi.
Hanya saja peraturan perundangan seperti Peraturan Menteri Pendidikan
Nasional Nomor 70 Tahun 2009 dan Peraturan Gubernur Provinsi DKI
Jakarta Nomor 116 Tahun 2006 memberikan batasan mengenai siapa saja
yang termasuk dalam kategori peserta didik berkebutuhan khusus. Peserta
didik yang dimaksud dalam pendidikan inklusif sebagaimana disebutkan
dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 70 Tahun 2009 terdiri
atas:
a. Tunanetra
b. Tunarungu
20

Daniel P. Hallahan dkk., Exceptional Learners: An Introduction to Special Education,


(Boston: Pearson Education Inc., 2009), cet. ke-10, h. 53.
21
Gavin Reid, Dyslexia and Inclusion, Classroom Approaches for Assesment, Teaching and
Learning, (London: David Fulton Publisher, 2005), h. 88

62

c. Tunawicara
d. Tunagrahita
e. Tunadaksa
f. Tunalaras
g. Berkesulitan belajar
h. Lamban belajar
i. Autis
j. Memiliki gangguan motorik
k. Menjadi korban penyalahgunaan narkoba, obat terlarang, dan zat adiktif
lainnya
l. Memiliki kelainan lainnya
m. Tunaganda22
Dalam Pergub Nomor 116 Tahun 2007 disebutkan bahwa peserta didik
berkebutuhan khusus yang dimaksud dalam pendidikan inklusif yaitu:
a. Siswa dengan gangguan penglihatan
b. Siswa dengan gangguan pendengaran
c. Siswa dengan gangguan wicara
d. Siswa dengan gangguan fisik
e. Siswa dengan kesulitan belajar
f. Siswa dengan gangguan lambat belajar
g. Siswa dengan gangguan pemusatan pemikiran
h. Siswa cerdas istimewa, dan
i. Siswa yang memiliki kebutuhan khusus secara sosial23
Dengan pembatasan ini, maka tidak semua peserta didik yang memiliki
kekurangan dapat menjadi peserta didik pendidikan inklusif. Dalam
implementasi di lapangan ditemukan data bahwa tidak semua kelainan yang
dikategorikan pemerintah ke dalam jenis kelainan atau kebutuhan khusus
dapat ditemukan di sekolah sekolah reguler. Hal ini diakui oleh Kepala
22
23

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 70 Tahun 2009


Peraturan Gubernur Nomor 116 Tahun 2007

63

Bidang TK/SD/PLB Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta dimana


sebagian besar peserta didik yang kelainan atau berkebutuhan khusus yang
masuk ke sekolah inklusif yaitu peserta didik kategori A (tunanetra).
Kelainan lain yang banyak ditemukan di sekolah-sekolah inklusif yaitu
peserta didik dengan kategori B (tunarungu) dan C (tunagrahita), walaupun
keduanya juga jarang ditemukan. Selain itu, peserta didik yang memiliki
kelainan fisik dan harus memakai alat bantu seperti kursi roda juga jarang
ditemukan. Hingga penelitian skripsi ini dilakukan untuk mengumpulkan
data, penulis tidak menemukan data mengenai jumlah dan kategori kelainan
peserta didik yang terdapat di sekolah inklusif.
Di sekolah inklusif seperti SMP Negeri 223 Pasar Rebo Jakarta Timur dan
SMA Negeri 66 Cilandak Jakarta Selatan sebagian besar peserta didik
berkebutuhan khusus adalah peserta didik kategori A. Kategori lain yang
juga banyak terdapat di sekolah tersebut yaitu anak-anak autis.
Pada prinsipnya, sesuai dengan konsep dasar pendidikan inklusif, Dinas
Pendidikan Provinsi DKI Jakarta memberikan arahan agar semua kelainan
atau kebutuhan khusus yang tertera dalam peraturan baik Peraturan Menteri
Pendidikan Nasional maupun Peraturan Gubernur untuk diterima sebagai
peserta didik di sekolah-sekolah inklusif yang telah ditunjuk. Namun
sebagaimana ditemukan dalam penelitian, tidak serta merta semua peserta
didik dengan kelainan atau kebutuhan khusus dapat diterima menjadi
peserta didik sekolah inklusif. Peserta didik yang ingin mendaftarkan diri di
sekolah inklusif harus melalui tahap identifikasi (skrining atau assesment)
agar diketahui kondisi dan kebutuhan peserta didik tersebut. Peserta didik
dengan kelainan ekstrem tidak dapat diterima menjadi peserta didik di
sekolah inklusif karena memang diakui pihak sekolah belum memiliki
Sumber Daya Manusia yang memadai untuk menangani kelainan ekstrem
tersebut.

64

Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta lewat Kepala Bidang TK/SD/PLB


mengakui bahwa sebenarnya pihak Dinas telah menunjuk beberapa guru
SLB untuk menjadi Guru Pembimbing Khusus (GPK) untuk membantu
proses penyelenggaraan pendidikan inklusif di sekolah, namun hingga kini
jumlah GPK terus berkurang bahkan keberadaannya tidak jelas.
Selain tidak tertampungnya semua kelainan atau kebutuhan khusus peserta
didik di sekolah inklusif, peserta didik dengan kecerdasan luar biasa
dan/atau bakat istimewa sebagai peserta didik yang diikutsertakan dalam
penyelenggaraan pendidikan inklusif jarang mendapatkan sorotan. Padahal
sebagaimana kebijakan yang tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan
Nasional dan Peraturan Gubernur, peserta didik dengan kecerdasan luar
biasa dan/atau baka istimewa merupakan salah satu kategori peserta didik
yang diikutsertakan dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif. Jarangnya
sorotan terhadap peserta didik dengan kecerdasan luar biasa dan/atau bakat
istimewa terlihat dari jarangya penyebutan peserta didik dengan kecerdasan
luar biasa dan/atau bakat istimewa dalam setiap kesempatan yang berkaitan
dengan pendidikan inklusif. Saat wawancara penulis lakukan dengan
beberapa narasumber, jarang sekali narasumber menyinggung mengenai
peserta didik dengan kecerdasan luar biasa dan/atau bakat istimewa. Begitu
pula saat pelatihan untuk guru-guru sekolah inklusif penulis ikuti, jarang
sekali pembahasan mengenai peserta didik dengan kecerdasan luar biasa
dan/atau bakat istimewa menjadi salah satu fokus.
Jika mengacu kepada konsep pendidikan inklusif, peserta didik dengan
kecerdasan dan/atau bakat istimewa tidak menjadi salah satu kategori yang
perlu dimasukkan dalam pendidikan inklusif, karena istilah pendidikan
inklusif, menurut J. David Smith, digunakan untuk mendeskripsikan
penyatuan anak-anak berkelainan (penyandang hambatan/cacat) ke dalam
program sekolah. Konsep inklusi memberikan pemahaman mengenai

65

pentingnya penerimaan anak-anak yang memiliki hambatan ke dalam


kurikulum, lingkungan, dan interaksi sosial yang ada di sekolah24.
Dari dokumen yang penulis dapatkan, kebijakan Dinas Pendidikan Provinsi
DKI Jakarta digambarkan sebagai berikut:
Gambar 625
Kebijakan Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta
KEBIJAKAN DINAS PENDIDIKAN

LANDASAN

A. PUSAT
1. UU
2. PP
3. Kebijakan

B. PEMERINTAH
DAERAH
1. Perda
2. Pergub
3. Kebijakan
4. Program

C. KEADAAN UMUM, PERMASALAHAN, DAN TANTANGAN

Seluruh kebijakan Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta didasarkan atas


landasan yang ditetapkan pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
Kebijakan penyelenggaraan pendidikan inklusif di Provinsi DKI Jakarta
didasarkan atas ketetapan-ketetapan yang ditetapkan oleh pemerintah pusat
dan pemerintah daerah Provinsi DKI Jakarta yaitu:
a. Pusat
- Undang-Undang (UU)

24

J. David Smith, Inklusi, Sekolah Ramah untuk Semua, (Bandung: Penerbit Nuansa, 2006), h.

25

Dinas, Kebijakan Dinas, h. 3

45

66

Kebijakan penyelenggaraan pendidikan inklusif didasarkan atas


ketetapan pemerintah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003
Tentang Sistem Pendidikan Nasional.
- Peraturan Pemerintah (PP)
Peraturan Pemerintah (PP) yang mengatur pelaksanaan pendidikan
inklusif yaitu Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2005
Tentang Standar Pendidikan Nasional.
- Peraturan Menteri
Peraturan Menteri Nomor 70 Tahun 2009 Tentang Pendidikan Inklusif
bagi Peserta Didik yang Memiliki Kelainan dan Memiliki Potensi
Kecerdasan

dan/atau

Bakat

Istimewa

mengatur

pelaksanaan

pendidikan inklusif.
- Kebijakan
b. Pemerintah Daerah
- Peraturan Daerah (Perda)
Provinsi DKI Jakarta memiliki Peraturan Daerah (Perda) yang
didalamnya memuat aturan mengenai pendidikan inklusif. Perda yang
dimaksud yaitu Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2006 Tentang
Sistem Pendidikan.
- Peraturan Gubernur (Pergub)
Peraturan Gubernur (Pergub) yang mengatur penyelenggaraan
pendidikan inklusif di Provinsi DKI Jakarta yaitu Peraturan Gubernur
Nomor 116 Tahun 2007 Tentang Penyelenggaraan Pendidikan Inklusi.
- Kebijakan
- Program

67

Program pendidikan inklusif di lingkungan Dinas Pendidikan Provinsi


DKI Jakarta berada di bawah koordinasi Bidang TK/SD/PLB.
Program tersebut dimasukkan ke dalam Program Pendidikan Luar
Biasa yang berisi program-program sebagai berikut26:
1. Pengembangan penyelenggaraan pendidikan inklusi
2. Pembinaan dan Pemberdayaan SD/SMP Model Inklusi
3. Pembinaan SLB sebagai Pusat Sumber Pendidikan Inklusi
4. Pembinaan Instruktur, Guru Pendamping dan Pembimbing (Guru
SLB) Khusus Penyelenggaraan Pendidikan Inklusi
5. Pembinaan Kepala Sekolah Penyelenggara Pendidikan Inklusi
6. Pembinaan Pengawas TK/SD dalam Penyelenggaraan Inklusi
7. Biaya Operasional Pokja Inklusi
8. Biaya Operasional Penyelenggara Pendidikan Inklusi TK, SD, dan
SMP
9. Operasional Guru Pendamping Khusus untuk Sekolah Inklusi
10. Operasional Guru Pembimbing Khusus Sekolah Inklusi
Semua program yang dicanangkan oleh Bidang TK/SD/PLB terkait
pendidikan inklusif sudah terlaksana. Kepala Bidang TK/SD/PLB Dra. Septi
Novida, M.Pd menyatakan bahwa saat ini Dinas Pendidikan Provinsi DKI
Jakarta sedang berusaha meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan
inklusif setelah kuantitas sekolah penyelenggara program pendidikan
inklusif terpenuhi.
Kebijakan penyelenggaraan pendidikan inklusif di Provinsi DKI Jakarta
dilaksanakan

dengan

menunjuk

sekolah-sekolah

reguler

untuk

menyelenggarakan program pendidikan inklusif.


Penunjukkan sekolah-sekolah untuk menyelenggarakan program pendidikan
inklusif sudah ditetapkan dari pusat. Berdasarkan Surat Edaran Dirjen
Dikdasmen (Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah) No.
26

Dinas, Rencana Strategis.., h. 120

68

380/C.C6/MN/2003 Tanggal 20 Januari 2003 Perihal Pendidikan Inklusif,


setiap Kabupaten/Kota sekurang-kurangnya memiliki 4 (empat) sekolah
yang terdiri dari SD, SMP, SMA, dan SMK27.
Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 70 Tahun 2009
Tentang Pendidikan Inklusif bagi Peserta Didik yang Memiliki Kelainan
dan Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa disebutkan
bahwa Pemerintah Kabupaten/Kota menunjuk paling sedikit 1 (satu)
Sekolah Dasar, dan 1 (satu) Sekolah Menengah Pertama pada setiap
kecamatan

dan

(satu)

satuan

pendidikan

menengah

untuk

menyelenggarakan pendidikan inklusif yang wajib menerima peserta didik


berkebutuhan khusus28.
Sebagai Daerah Khusus Istimewa dan otonom, Provinsi DKI Jakarta
mengeluarkan peraturan khusus berupa Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor
116 Tahun 2007 Tentang Penyelenggaraan Pendidikan Inklusi. Dalam
Pergub ini disebutkan bahwa setiap Kecamatan sekurang-kurangnya
memiliki 3 (tiga) TK/RA, SD/MI dan 1 (satu) SMP/MTs yang
menyelenggarakan

pendidikan

inklusi.

Untuk

tingkat

SMA/SMK,

MA/MAK, setiap Kotamadya sekurang-kurangnya memiliki 3 (tiga)


SMA/SMK, MA/MAK29. Pergub inilah yang kemudian dijadikan acuan
Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta untuk menunjuk sekolah-sekolah
reguler dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif.
Berdasarkan Pergub tersebut, Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta
merealisasikannya dengan menunjuk sekolah-sekolah reguler untuk
menyelenggarakan pendidikan inklusif sejumlah 164 sekolah dari jenjang
TK hingga SMA. Penunjukkan sekolah-sekolah tersebut berdasarkan
Keputusan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Daerah Khusus Ibukota
Jakarta Nomor 1190/2010 Tentang Penunjukkan Nama-nama TK, SD, SMP,
27

Surat Edaran Dirjen Dikdasmen No. 380/C.C6/MN/2003 Tanggal 20 Januari 2003 Perihal
Pendidikan Inklusif
28
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 70 Tahun 2009
29
Peraturan Gubernur Nomor 116 Tahun 2007

69

dan SMA/SMK Penyelenggara Pendidikan Inklusif di Provinsi DKI Jakarta


Tahun

201030.

Sekolah-sekolah

yang

menyelenggarakan

program

pendidikan inklusif yaitu sebagai berikut:


Tabel 131
DAFTAR NAMA TK, SD, SMP, SMA/SMK NEGERI
PENYELENGGARA PENDIDIKAN INKLUSI
PROVINSI DKI JAKARTA
No

Nama Sekolah

Alamat

Kecamatan

Taman Kanak-Kanak (TK)


1

TK Negeri Pembina Nasional

Jl. Muchtar Raya

Pesanggrahan

TK Negeri Cipete

Jl. Cipete VII No. 70

Cilandak

Jl. Bambu Duri X Pd


3

TK Pembina Tingkat Provinsi

Bambu

Duren Sawit

Sekolah Dasar (SD)


1

SDN Johar Baru 29

Jl. Percetakan Negara II


Jl.

SDN Bendungan Hilir 01

Danau

Johar Baru

Toba

Pejompongan

Tanah Abang

Jl. Cempaka Putih Barat


3

SDN Cempaka Putih Barat 16

19

Cempaka Putih

SDN Kartini 02

Jl. Gotong Royong Gg. E

Sawah Besar

SDN Mangga Dua Selatan 01 Pg Jl. Melawai Dalam No. 1

Sawah Besar

SDN Pasar Baru 01 Pg

Jl. Pintu Besi I/42

Sawah Besar

SDN Petamburan 01 Pg

Jl. Petamburan IV

Tanah Abang

SDN Bendungan Hilir 07

Jl. Danau Limboto No. 9

Tanah Abang

SDN Kenari 01

Jl. Kramat IV/25

Senen

10

SDN Bungur 01 Pg

Jl. Angsana No. 4

Senen

30

Keputusan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor
1190/2010 Tentang Penunjukkan Nama-nama TK, SD, SMP, dan SMA/SMK Penyelenggara
Pendidikan Inklusif di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2010
31
Lampiran Keputusan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta
Nomor 1190/2010 Tentang Penunjukkan Nama-nama TK, SD, SMP, dan SMA/SMK
Penyelenggara Pendidikan Inklusif di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2010 Tanggal 19-08-2010

70

11

SDN Kebon Sirih 01 Pg

Jl. Kebon Sirih No. 29

Menteng

12

SDN Cikini 01 Pg

Jl. Cidurian No. 2 A

Menteng

13

SDN Cempaka Putih Timur 02

Jl. Rawasari Timur IV/2

Cempaka Putih

14

SDN Cempaka Putih Barat 07

Jl. Percetakan Negara

Cempaka Putih

15

SDN Tanah Tinggi 11

Jl. Tanah Tinggi I/2

Johar Baru

Jl. Mardani Raya No. 12


16

SDN Johar Baru 10

Johar Baru

17

SDN Cideng 11 Pt

Jl. Cimalaya No. 1

Gambir

18

SDN Petojo Selatan 05

Jl. Petojo Encelek XIV

Gambir

19

SDN Serdang 01 Pt

Jl. Lapangan Poros

Kemayoran

Jl. Sumur Batu Utara No.


20

SDN Sumur Batu 07 Pt

Kemayoran

Komplek PT. HI Kelapa


21

SDN Kelapa Gading Timur 04

Gading

Kelapa Gading

Jl. Marundo Pulo Rt.


22

SDN Merunda 02

01/01
Jl.

Komplek

Cilincing
Nelayan

23

SDN Pluit 06

Muara Angke Rt. 01/01

Penjaringan

24

SDN Sungai Bambu 02 Pg

Jl. Gadang No. 52

Tanjung Priok

Jl. Baru Gg. II Rt. 011/02


25

SDN Cilincing 05 Pg

No. 2

Cilincing

26

SDN Semper Barat 07 Pg

Jl. Pepaya V No. 20

Cilincing

Jl. Kramat Jaya Gg. 8


27

SDN Tugu Utara 12

Blok R

Koja

28

SDN Rawa Badak Selatan 11 Pg

Jl. Bendungan Selatan

Koja

Jl. Bandengan Utara No.


29

SDN Penjaringan 11

80

Penjaringan

30

SDN Kapuk Muara 03 Pg

Jl. SMP Negeri 122

Penjaringan

31

SDN Sunter Jaya 07 Pg

Jl. Sunter Jaya VI No. 31

Tanjung Priok

32

SDN Sunter Agung 04 Pt

Jl. Agung Jaya No. 15

Tanjung Priok

71

Jl. Kampung Muka Rt.


33

SDN Ancol 03 Pg

09-04

Pademangan

34

SDN Pademangan Barat 08 Pt

Jl. Ampera VII

Pademangan

35

SDN Pegangsaan Dua 03 Pg

Jl. Kepu Pegangsaan Dua

Kelapa Gading

36

SDN Slipi 18 Pg

Jl. KS Tubun III Dalam

Palmerah

37

SDN Sukabumi Selatan 07

Jl. Pos Pengumben

Kebon Jeruk

Jl.

Lapangan

Jabek

38

SDN Meruya Selatan 06 Pg

Komp. Mega

Kembangan

39

SDN Kembangan Utara 05 Pg

Jl. Kampung Rt. 05/03

Kembangan

Jl.

Komplek DKI Rt.

40

SDN Joglo 04 Pg

002/08

Kembangan

41

SDN Duri Kelapa 06 Pg

Jl. Mangga XIV Rt. 06/04 Kebon Jeruk

42

SDN Kelapa Dua 04 Pg

Jl. Inpres Rt. 004/05

Kebon Jeruk

Jl. Seroja No. 16 Rt.


43

SDN Jatipulo 08 Pg

004/01

Palmerah

Jl. Komplek PJKA Pndk.


44

SDN Kota Bambu Selatan 01 Pg

Bandung

Palmerah

Jl. Jembatan Besi IX No.


45

SDN Jembatan Besi 01 Pg

31

Tambora

46

SDN Duri Utara 02 Pg

Jl. Duri Utara I No. 1

Tambora

47

SDN Pinangsia 02 Pg

Jl. Pinangsia I No. 20

Tamansari

Jl. KH. Zaenal Arifin No.


48

SDN Krukut 03 Pg

Tamansari

SDN Tanjung Duren Utara 01 Jl. Tanjung Duren Utara


49

Pg

III/3

Grogol

50

SDN Jelambar 03 Pg

Jl. Jelambar Selatan XVI

Grogol

51

SDN Pegadungan 11 Pg

Jl. Peta Utara No. 10

Kalideres

52

SDN Kamal 02 Pg

Jl. Kebon 200 Rt. 03/06

Kalideres

53

SDN Cengkareng Timur 01 Pg

Jl. Daan Mogot Km. 14

Cengkareng

54

SDN Rawa Buaya 03 Pg

Jl. Al Barkah Rt. 001/03

Cengkareng

72

55

SDN Menteng Atas 04

Jl. Dr. Saharjo 121

Setiabudi

56

SDN Cipete Utara 12 Pg

Jl. Kirai Ujung

Kebayoran Baru

57

SDN Lebak Bulus 02 Pg

Jl. Pertanian Raya No. 59

Cilandak

58

SDN Lebak Bulus 03 Pg

Jl. Pertanian III No. 88

Cilandak

59

SDN Lebak Bulus 06 Pg

Jl. Gunung Balong

Cilandak

60

SDN Cipete Selatan 04

Jl. Anggus II

Cilandak
Mampang

61

SDN Pela Mampang 01 Pg

Jl. Bangka II Gg. IV

Prapatan

62

SDN Pejaten Timur 15 Pg

Jl. Siaga Dharma VIII

Pasar Minggu

63

SDN Ragunan 11 Pg

Jl. Harsono RM

Pasar Minggu

64

SDN Pondok Labu 01 Pg

Jl. RS Fatmawati

Cilandak

65

SDN Gandaria Selatan 01 Pg

Jl. Teladan No. 3

Cilandak

66

SDN Pesanggrahan 03 Pg

Jl. Kodam

Pesanggrahan

67

SDN Petukangan Selatan 05

Jl. Inpres Rt. 0014/02

Pesanggrahan

68

SDN Grogol Selatan 03

Jl. Raya Kebayoran Lama

Pesanggrahan
Kebayoran

69

SDN Grogol Utara 09 Pagi

Jl. Kemandoran I

Lama

70

SDN Pulo 05 Pg

Jl. Jembatan Selatan

Kebayoran Baru

71

SDN Gandaria Utara 11 Pagi

Jl. BRI Radio Dalam

Kebayoran Baru

72

SDN Pancoran 05 Pg

Jl. Pancoran Timur II

Pancoran

73

SDN Pengadegan 08 Pagi

Jl. Pengadegan Barat XIII

Pancoran
Mampang

74

SDN Kuningan Barat 03 Pagi

Jl. PLN Kuningan Barat

Prapatan

Jl. Kapten Tendean Gg. Mampang


75

SDN Mampang Prapatan 05 Pg

Kamboja

Prapatan

76

SDN Karet Kuningan 03 Pagi

Jl. Genteng Ijo No. 1

Setiabudi

77

SDN Setiabudi 01

Jl. Setiabudi Barat No. 8

Setiabudi

78

SDN Cipedak 03 Pagi

Jl. Timbul Rt. 007/05

Jagakarsa

79

SDN Lenteng Agung 07 Pagi

Jl. Raya Depok Gg. Subur Jagakarsa

80

SDN Gedong 04

Jl.

Raya

Condet

Rt. Pasar Rebo

73

012/03
81

SDN Kramatjati 24

Jl. Langgar Rt. 008/10

Kramatjati

82

SDN Kebon Pala 03 Pagi

Jl. Raya Condet

Makasar

83

SDN Batu Ampar 04

Jl. Batu Ampar III

Kramatjati

Jl.

Raya

Condet

Gg.

84

SDN Gedong 12

Masjid

Pasar Rebo

85

SDN Gedong 03

Jl. Raya Condet

Pasar Rebo

86

SDN Cipinang Muara 24 Pt

Jl. Cipinang Muara

Jatinegara

87

SDN Cipayung 09 Pt

Jl. SMU 64 Cipayung

Cipayung

88

SDN Cakung Barat 18 Pt

Jl. Raya Bekasi Km. 23

Cakung

89

SDN Jatinegara 05 Pg

Jl. Raya Bekasi Km. 17

Cakung

90

SDN Jatinegara Kaum 03 Pg

Jl. Raya Bekasi Km. 18

Pulo Gadung

91

SDN Pisangan Timur 16 Pt

Jl. Mugeni I

Pulo Gadung

92

SDN Rawabunga 16 Pg

Jl. Jatinegara Timur IV

Jatinegara

93

SDN Bidaracina 04 Pt

Jl. Setia No. 10

Jatinegara

Jl. Jenderal A. Yani No.


94

SDN Pisangan Baru 02 Pg

30

Matraman

95

SDN Pisangan Baru 10 Pt

Jl. Pisangan Baru I

Matraman

96

SDN Pondok Bambu 03 Pg

Jl. Pahlawan Revolusi

Duren Sawit

97

SDN Klender 17 Pt

Jl. Pertanian Utara

Duren Sawit

98

SDN Ciracas 13 Pt

Jl. Kramat Rt. 12/10

Ciracas

99

SDN Susukan 13 Pt

Jl. Makmur IV Rt. 009/02

Ciracas

Jl. Dewi Sartika No. 200

Kramat Jati

100 SDN Cawang 06 Pt

Jl. Raya Pondok Gede Rt.


101 SDN Dukuh 02 Pt

001/01

Kramat Jati

102 SDN Kebon Pala 08 Pt

Jl. Permata Rt. 07/005

Makasar

103 SDN Kebon Pala 15 Pg

Jl. SD Inpres Rt. 003/04

Makasar

Jl. Gongseng Raya Rt.


104 SDN Cijantung 09 Pt

010/01

Pasar Rebo

105 SDN Kalisari 10 Pt

Jl. Kalisari Rt. 006/02

Pasar Rebo

74

106 SDN Ceger 03 Pt

Jl. SMP 222 Rt. 05/02

Cipayung

107 SDN Lubang Buaya 02 Pt

Jl. Yusufiah Rt. 010/01

Cipayung

108 SDN Cijantung 01

Jl. Pertengahan

Pasar Rebo

109 SDN Kramat Jati 01

Jl. Masjid Al Amin

Kramatjati

110 SDN Kramat Jati 16

Jl. Langgar Rt. 008/010

Kramatjati

111 SDN Rambutan 01

Jl. HM. Sabar No. 49

Ciracas

112 SDN Cilangkap 01

Jl. Mabes ABRI

Cipayung

113 SDN Halim Perdanakusuma 01

Jl. Halim Golf

Makasar

Jl. Komp. Perwira TNI


114 SDN Cipayung 02

AD

Cipayung

115 SDN Kebon Pala 01 Pagi

Jl. Cakrawala No 01

Makasar

Jl. Matraman Raya No.


116 SDN Balimester 01

226

Jatinegara

117 SDN Kampung Melayu 02 Pt

Jl. Kebon Pala I No. 34

Jatinegara

118 Pg

Jl. Bekasi Timur IV No. 1

Jatinegara

119 SDN Duren Sawit 01 Pagi

Jl. Kelurahan I

Duren Sawit

120 SDN Klender 03 Pagi

Jl. Raden Inten II Buaran

Duren Sawit

SDN Cipinang Besar Utara 01

Sekolah Menengah Pertama (SMP)


1

SMPN 118

Jl. Pramuka Sari I

Cempaka Putih

SMPN 183

Jl. Cempaka Baru VII/47

Kemayoran

Jl.

Harapan

Mulia

SMPN 269

Kemayoran

Cempaka Putih

SMPN 4

Jl. Perwira No. 10-11

Sawah Besar

SMPN 70

Jl. H. Awaludin IV

Tanah Abang

SMPN 42

Jl. Pademangan Timur 3

Pademangan

Jl. Kamal Muara Raya


7

SMPN 120

No. 9

Penjaringan

SMPN 122

Jl. SMP 122 Penjaringan

Penjaringan

SMPN 114

Jl.

HM.

Darpi

Plum Koja

75

Semper
10

SMPN 266

Jl. Cilincing Batik VI

Cilincing

Jl. Kompi Udin Rt. 01/01


11

SMPN 270

Pgangs Dua

Kelapa Gading

Jl. Barkah I Rt. 001/03


12

SMPN 264

Rawa Buaya

Cengkareng

Jl. Duta Raya


13

SMPN 191

Kebon

Jeruk
Jl.

Kebon Jeruk
Kamal

Raya

14

SMPN 248

Cengkareng Timur

Cengkareng

15

SMPN 207

Jl. Meruya Utara

Kembangan

16

SMPN 63

Jl. Perniagaan No. 31

Tambora

Jl. Pahlawan Sukabumi


17

SMPN 271

Selatan VI/F1

Kebon Jeruk

18

SMPN 226

Jl. Kayu Kapur No. 2

Pondok Labu

19

SMPN 240

Jl. H. Raya No. 16 B

Gandaria Utara

20

SMPN 235

Jl. Pondok Indah

Pesanggrahan

Jl. Palmerah Barat 59 Kebayoran


21

SMPN 16

Grogol Utara

Lama

22

SMPN 276

Jl. Srengseng Sawah

Jagakarsa

Jl.

Profesor

Supomo

23

SMPN 15

Menteng

Tebet

24

SMPN 223

Jl. Surilang No. 6

Pasar Rebo

25

SMPN 36

Jl. Pedati

Jatinegara

26

SMPN 62

Jl. Jatinegara Timur IV

Jatinegara

27

SMPN 259

Jl. Komplek TMII

Cipayung

28

SMPN 165

Jl. Balai Rakyat III/16

Duren Sawit

29

SMPN 287

Jl. Balai Rakyat III/16

Makasar

Jl. Raya Bekasi Km. 18


30

SMPN 90

Jatinegara

Cakung

76

Jl. Gading Raya No. 16


31

SMPN 232

Pisang Timur

Pulo Gadung

Sekolah Menengah Atas (SMA)/Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)


1

SMA Negeri 5

Jl. Raya Sumur Batu

Kemayoran

SMK Negeri 27

Jl. Dr. Sutomo No. 1

Senen

Jl.
3

SMA Negeri 40

Budi

Mulia

Raya

Pademangan

Pademangan

Jl. Gading Timur Kelapa


4

SMK Negeri 33

Gading

Kelapa Gading

Jl. Senggrehan Meruya


5

SMA Negeri 112

Utara

Kembangan

SMK Negeri 13

Jl. Rawa Belong II E

Palmerah

Jl. Bango III Pondok


7

SMA Negeri 66

Labu

Cilandak

SMK Negeri 30

Jl. Pakubuwono 6

Kebayoran Baru

SMA Negeri 54

Jl. Jatinegara Timur IV

Jatinegara

Jl. SMIK Bambu Apus


10

SMK Negeri 58

TMII

Cipayung

Sebagai Daerah Khusus Istimewa dan daerah otonom, Provinsi DKI Jakarta
telah mengeluarkan peraturan daerah dalam bentuk Peraturan Gubernur
Nomor 116 Tahun 2007 Tentang Penyelenggaraan Pendidikan Inklusi.
Secara umum, tidak ada perbedaan antara Pergub tersebut dengan peraturanperaturan di atasnya seperti Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor
70 Tahun 2009 Tentang Pendidikan Inklusif bagi Peserta Didik yang
Memiliki Kelainan dan Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat
Istimewa. Kedua peraturan tersebut secara teknis memberikan ketentuanketentuan umum mengenai pelaksanaan pendidikan inklusif.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional berlaku secara nasional, sedangkan
Peraturan Gubernur berlaku hanya di Provinsi DKI Jakarta. Yang

77

membedakan keduanya yaitu pada penunjukkan sekolah-sekolah reguler


yang menyelenggarakan program pendidikan inklusif. Dalam Peraturan
Menteri Pendidikan Nasional Nomor 70 Tahun 2009 disebutkan bahwa
Pemerintah Kabupaten/Kotamadya menunjuk paling sedikit 1 (satu) Sekolah
Dasar dan 1 (satu) Sekolah Menengah Pertama pada setiap kecamatan dan 1
(satu) satuan pendidikan menengah untuk menyelenggarakan pendidikan
inklusif yang wajib menerima peserta didik berkebutuhan khusus. Adapun
dalam Peraturan Gubernur disebutkan bahwa setiap Kecamatan sekurangkurangnya memiliki 3 (tiga) TK/RA dan SD/MI dan 1 (satu) SMP/MTs
yang menyelenggarakan pendidikan inklusi. Untuk tingkatan SMA/SMK
atau MA/MAK, setiap kotamadya sekurang-kurangnya memiliki 3 (tiga)
SMA/SMK atau MA/MAK yang menyelenggarakan pendidikan inklusif.
Di lingkungan Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta telah terdapat
sejumlah 164 sekolah yang ditunjuk untuk menyelenggarakan program
pendidikan inklusif dari mulai tingkat SD hingga SMA. Jumlah TK
penyelenggara program pendidikan inklusif berjumlah 3 sekolah. SD yang
menyelenggarakan program pendidikan inklusif berjumlah 120 sekolah.
SMP yang menyelenggarakan program pendidikan inklusif berjumlah 31
sekolah. Di tingkat SMA/SMK, jumlah penyelenggara program pendidikan
inklusif mencapai 10 sekolah. Secara terperinci, sebaran sekolah-sekolah
penyelenggara program pendidikan inklusif di masing-masing kecamatan
se-Provinsi DKI Jakarta adalah sebagai berikut:
Tabel 2
Sebaran Sekolah Inklusif di Provinsi DKI Jakarta

No

Kecamatan

Kotamadya/Kabupaten

Sekolah Inklusif
TK

SD

SMP

SMA/SMK

Gambir

Jakarta Pusat

Tanah Abang

Jakarta Pusat

Menteng

Jakarta Pusat

78

4
5

Senen
Cempaka
Putih

Jakarta Pusat

Jakarta Pusat

Johar Baru

Jakarta Pusat

Kemayoran

Jakarta Pusat

Sawah Besar

Jakarta Pusat

20

Jumlah
9

Tamansari

Jakarta Barat

10

Tambora

Jakarta Barat

11

Palmerah

Jakarta Barat

Jakarta Barat

12

Grogol
Petamburan

13

Kebon Jeruk

Jakarta Barat

14

Kembangan

Jakarta Barat

15

Cengkareng

Jakarta Barat

16

Kalideres

Jakarta Barat

19

Jakarta Selatan

Jakarta Selatan

Jumlah
17

18

Kebayoran
Baru
Kebayoran
Lama

19

Pesanggrahan

Jakarta Selatan

20

Cilandak

Jakarta Selatan

21

Pasar Minggu

Jakarta Selatan

22

Jagakarsa

Jakarta Selatan

Jakarta Selatan

23

Mampang
Prapatan

24

Pancoran

Jakarta Selatan

25

Tebet

Jakarta Selatan

26

Setiabudi

Jakarta Selatan

79

Jumlah

22

27

Matraman

Jakarta Timur

28

Pulo Gadung

Jakarta Timur

29

Jatinegara

Jakarta Timur

30

Duren Sawit

Jakarta Timur

31

Kramat Jati

Jakarta Timur

32

Makasar

Jakarta Timur

33

Pasar Rebo

Jakarta Timur

34

Ciracas

Jakarta Timur

35

Cipayung

Jakarta Timur

36

Cakung

Jakarta Timur

38

Jumlah
37

Cilincing

Jakarta Utara

38

Koja

Jakarta Utara

Jakarta Utara

39

Kelapa
Gading

40

Tanjung Priok

Jakarta Utara

41

Pademangan

Jakarta Utara

42

Penjaringan

Jakarta Utara

15

Kepulauan Seribu

Kepulauan Seribu

Jumlah

Jumlah Total

120

31

10

Jumlah
43

44

Kepulauan
Seribu Utara
Kepulauan
Seribu Selatan

80

Provinsi DKI Jakarta memiliki 5 Kotamadya dan 1 Kabupaten yang terdiri


dari 44 Kecamatan32. Tabel di atas menunjukkan sebaran sekolah-sekolah
yang ditunjuk sebagai penyelenggara program pendidikan inklusif di
kecamatan-kecamatan yang terdapat di Provinsi DKI Jakarta. 164 sekolah
penyelenggara program pendidikan inklusif hanya tersebar di 5 Kotamadya
di Provinsi DKI Jakarta yaitu Kotamadya Jakarta Pusat, Kotamadya Jakarta
Barat, Kotamadya Jakarta Selatan, Kotamadya Jakarta Timur, dan
Kotamadya Jakarta Utara. Di 2 kecamatan, yaitu Kecamatan Kepulauan
Seribu Utara dan Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan tidak terdapat satu
sekolah pun yang menyelenggarakan program pendidikan inklusif.
Tidak semua kecamatan memiliki TK penyelenggara program pendidikan
inklusif. Jumlah TK yang ditunjuk Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta
hanya berjumlah 3 TK yang terdapat di Kecamatan Pesanggrahan dan
Kecamatan Cilandak. Kedua Kecamatan tersebut terdapat di Kotamadya
Jakarta Selatan. Satu TK lagi terdapat di Kecamatan Duren Sawit
Kotamadya Jakarta Timur.
Jumlah SD penyelenggara program pendidikan inklusif di Provinsi DKI
Jakarta sebanyak 120 sekolah. Jumlah tersebut tersebar di 41 Kecamatan
dari jumlah total 44 Kecamatan yang terdapat di Provinsi DKI Jakarta. 3
Kecamatan yang tidak memiliki SD yaitu Kecamatan Tebet Kotamadya
Jakarta Selatan, Kecamatan Kepulauan Seribu Utara Kabupaten Kepulauan
Seribu, dan Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan.
Di tingkat SMP, sebaran sekolah penyelenggara program pendidikan
inklusif hampir merata di setiap Kecamatan karena tidak setiap Kecamatan
memiliki sekolah penyelenggara program pendidikan inklusif di tingkat
SMP. Di Kotamadya Jakarta Pusat yang memiliki 8 Kecamatan, terdapat 5
SMP penyelenggara program pendidikan inklusif yang tersebar di 4
32

Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan Provinsi DKI Jakarta, dari
http://www.depdagri.go.id/media/filemanager/2010/01/29/1/1/11__dki_jakarta.pdf, 23 Januari
2011

81

Kecamatan. Kotamadya Jakarta Barat yang memiliki 8 Kecamatan, terdapat


6 SMP penyelenggara program pendidikan inklusif yang tersebar di 4
Kecamatan. Kotamadya Jakarta Selatan yang memiliki 10 Kecamatan,
terdapat 6 SMP penyelenggara program pendidikan inklusif yang tersebar di
6 Kecamatan. Di Kotamadya Jakarta Timur, SMP penyelenggara program
pendidikan inklusif berjumlah 7 sekolah yang tersebar di 6 Kecamatan dari
10 Kecamatan yang terdapat di Kotamadya Jakarta Timur. Adapun di
Kotamadya Jakarta Utara yang memiliki 6 Kecamatan terdapat 6 SMP
penyelenggara program pendidikan inklusif yang tersebar di 5 Kecamatan.
Dengan demikian, 120 SMP penyelenggara program pendidikan inklusif
tersebut tersebar di 25 Kecamatan dari total 44 Kecamatan yang terdapat di
Provinsi DKI Jakarta. Sehingga terdapat 19 Kecamatan di Provinsi DKI
Jakarta yang tidak memiliki SMP penyelenggara program pendidikan
inklusif.
Di tingkat SMA/SMK terdapat 10 sekolah penyelenggara program
pendidikan inklusif. 10 SMA/SMK tersebut tersebar di 10 Kecamatan di 5
Kotamadya.

Masing-masing

Kotamadya

memiliki

SMA/SMK

penyelenggara program pendidikan inklusif. Dengan demikian, terdapat 34


Kecamatan yang tidak memiliki SMA/SMK penyelenggara program
pendidikan inklusif.
2. Implementasi Kebijakan Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif di
Provinsi DKI Jakarta
Implementasi kebijakan-kebijakan yang terkait penyelenggaraan pendidikan
inklusif di lingkungan Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta dapat
dikelompokkan menjadi:
a. Kesiswaan
Kebijakan

yang

terkait

dengan

kesiswan

pendidikan

inklusif

dilaksanakan dengan menerima semua kategori anak-anak berkebutuhan

82

khusus. Dalam implementasi di lapangan, tidak serta semua jenis


kebutuhan khusus yang dimiliki peserta didik dapat diterima di sekolah
reguler. Proses skrining dan assesment selalu dilakukan sebelum peserta
didik berkebutuhan khusus masuk di sekolah reguler. Dra. Septi Novida,
M.Pd sendiri menyatakan bahwa:
Sampai saat ini memang hanya kasus-kasus tertentu yang dapat
tertampung di sekolah-sekolah inklusif. Biasanya anak A yang banyak
masuk di sekolah-sekolah inklusif, anak B masih jarang ditemukan
karena faktor komunikasi yang menyulitkan. Kasus anak C yang
lambat belajar juga masih jarang ditemukan. Anak-anak berkebutuhan
khusus yang memiliki kekurangan dalam hal fisik, misalnya anakanak yang memakai kursi roda juga masih jarang ditemukan yang
masuk ke sekolah-sekolah inklusif33
Pada kenyataan yang terjadi di lapangan, sekolah pada prinsipnya
menerima semua jenis kebutuhan khusus yang terdpat dalam diri calon
peserta didik. Guru program inklusi SMP Negeri 223 Pasar Rebo
memberikan pemaparan bahwa:
Pada prinsipnya kami menerima semua jenis anak-anak
berkebutuhan khusus. Namun memang kami harus melakukan
identifikasi agar anak-anak berkebutuhan khusus yang memiliki
kekurangan ekstrem tidak serta merta kami terima sebagai siswa di
sini. Kalau anak-anak berkebutuhan khusus tersebut dianggap mampu
mengikuti proses pembelajaran, maka mereka kami terima sebagai
siswa, namun jika mereka tidak dapat mengikuti proses pembelajaran
maka mereka kami arahkan untuk masuk ke SLB dan disitu ada
pendidikan secara khusus. Kalau di sekolah reguler seperti ini kan
semuanya harus mengikuti pendidikan yang sama, kalaupun anakanak berkebutuhan khusus tersebut harus ditangani secara khusus
maka kami sudah menyiapkan program pembelajaran khusus bagi
mereka. Selain itu, di sekolah reguler juga tidak banyak terdapat
tenaga pendidikan khusus yang dapat menangani pembelajaran khusus
bagi anak-anak berkebutuhan khusus...34
Berkaitan dengan penerimaan peserta didik berkebutuhan khusus,
manajer program inklusi SMA Negeri 66 Cilandak menyatakan bahwa:

33
34

Wawancara dengan Septi Novida


Wawancara dengan Sukarto

83

Pada dasarnya kami menerima semua jenis kebutuhan khusus yang


dimiliki peserta didik. Hanya saja memang tidak serta merta mereka
yang berkebutuhan khusus dapat masuk menjadi peserta didik, karena
tidak mungkin kami menerima anak-anak berkebutuhan khusus
dengan kekurangan-kekurangan yang ekstrem. Kami pun tidak serta
merta menerima mereka yang sebelumnya bersekolah di SLB. Pada
saat penerimaan pun kami mewajibkan orang tua-orang tua yang
anaknya berkebutuhan khusus untuk datang ke sekolah menemui kami
untuk kami jelaskan mengenai bagaimana anak-anak mereka kami
tangani di sekolah. Kalau para orang tua tersebut menyanggupi agar
anak-anak mereka bersekolah di sini, kami menyiapkan perjanjian di
atas kertas mengenai apa saja yang harus mereka penuhi ketika anakanak mereka yang berkebutuhan khusus bersekolah di sini 35
Pada saat masa Penerimaan Siswa Baru (PSB), jalur penerimaan peserta
didik berkebutuhan khusus tidak sama dengan peserta didik reguler
lainnya. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Manajer Program Inklusi
SMA Negeri 66 Cilandak:
Kebijakan lain yaitu mengenai adanya jalur penerimaan yang
diperuntukkan secara khusus bagi anak-anak berkebutuhan khusus
dimana mereka yang berkebutuhan khusus ketika mendaftarkan diri di
sekolah maka penerimaannya tidak disamakan dalam hal ujian masuk
dan persyaratan-persyaratan lainnya36
Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 70 Tahun 2009
disebutkan bahwa penerimaan peserta didik berkelainan dan/atau peserta
didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa pada
satuan pendidikan mempertimbangkan sumber daya yang dimiliki
sekolah.

Satuan

pendidikan

penyelenggara

pendidikan

inklusif

mengalokasikan kursi peserta didik yang memiliki kelainan paling sedikit


1 (satu) peserta didik dalam 1 (satu) rombongan belajar yang akan
diterima. Apabila dalam waktu yang telah ditentukan, alokasi peserta

35
36

Wawancara dengan Suparno


Wawancara dengan Suparno

84

didik tidak terpenuhi, satuan pendidikan dapat menerima peserta didik


normal37.
Di lingkungan Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, satuan pendidikan
penyelenggara program pendidikan inklusif hanya menerima maksimal 2
(dua) peserta didik yang memiliki kelainan atau kebutuhan khusus dalam
1 (satu) rombongan belajar. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Dra.
Septi Novida, M.Pd:
Kami sendiri memiliki kebijakan agar anak-anak berkebutuhan
khusus dalam satu kelas tidak lebih dari 2 orang sehingga guru sendiri
tidak kerepotan dalam menangani anak-anak berkebutuhan
khusus38
Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta dengan sekolah-sekolah
penyelenggara

pendidikan

inklusif

telah

merencanakan program

identifikasi kebutuhan peserta didik berkebutuhan khusus untuk


mengetahui kondisi dan kebutuhan mereka. Identifikasi dilakukan
melalui proses skrining atau assesment yang bertujuan agar pada saat
pembelajaran di kelas, bentuk intervensi pembelajaran bagi anak
berkebutuhan khusus merupakan bentuk intervensi pembelajaran yang
sesuai bagi mereka. Assesment yang dimaksud yaitu proses kegiatan
untuk mengetahui kemampuan dan kelemahan setiap peserta didik dalam
segi

perkembangan

kognitif

dan

perkembangan

sosial

melalui

39

pengamatan yang sensitif .


Selain itu, Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta juga memberikan
subsidi beasiswa bagi peserta didik berkebutuhan khusus yang terdapat
pada sekolah-sekolah yang telah ditunjuk untuk menyelenggarakan
program pendidikan inklusif. Daftar sekolah yang menerima subsidi
beasiswa sebagai berikut:

37

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 70 Tahun 2009, Pasal 5


Wawancara dengan Septi Novida
39
Bandi Delphie, Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus dalam Setting Pendidikan Inklusi,
(Bandung: PT. Refika Aditama, 2006), h. 1
38

85

Tabel 340
Daftar Nama Sekolah Inklusif Penerima Subsidi Beasiswa
Tahun Anggaran 2010
Jumlah
No

Nama Sekolah

Alamat

Wilayah

Peserta
Didik

SDN Cempaka Jl. Cempaka Putih Pusat

Beasiswa /1
Tahun

30

3.600.000

23

2.760.000

12

1.440.000

22

2.640.000

23

2.760.000

Utara

26

3.120.000

Marunda Jl. Marunda Pulo Utara

71

8.520.000

57

6.840.000

66

7.920.000

Putih Barat 16 Barat XIX


PG
2

SD Johar Baru Jl.


29 PG

Percetakan Pusat

Negara II A

SDN Kartini 02 Jl.


Petang

SDN

Royong Gg. E
Bendhil Jl. Danau Toba Pusat

01 PG
5

Gotong Pusat

Pejompongan

SDN

Kelapa Jl. Komplek PT. Utara

Gading

Timur HII

04 PG
6

SDN

Sungai Jl. Gadang No. 52

Bambu 02 PG
7

SDN

02 PAGI

Rt.

003/07

Marunda
8

SDN SLIPI 18 Jl. KS Tubun III Barat


PAGI

SD

Dalam
Negeri Jl.

Lap.

Jabek Barat

Meruya Selatan Komp. Mega

40

Lampiran I Keputusan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta Nomor 1449/2010
Tanggal 13 Oktober 2010

86

06 Pagi
10

SDN Palmerah Jl. Rawa Belong Barat

50

6.000.000

Pertanian Selatan

14

1.680.000

Gunung Selatan

10

1.200.000

18

2.160.000

32

3.840.000

14

1.680.000

Selatan

32

3.840.000

Lebak Jl. Pertanian Raya Selatan

23

2.760.000

24

2.880.000

50

6.000.000

10

1.200.000

24 Pagi

II E Rt. 06/10 No.


153

11

SDN

Lebak Jl.

Bulus 03
12

III/58

SDN

Lebak Jl.

Bulus 06 Pagi

Balong

Lebak

Bulus
13

SDN

Cipete Jl.

Selatan 08 PT

Anggur

Komplek

II Selatan
BRI

Cilandak
14

SDN

Menteng Jl. Dr. Sahardjo Selatan

Atas 04 PG

No. 121 Menteng


Atas

15

SDN

Cipete Jl.

Selatan 04

Anggur

Komplek

II Selatan
BRI

Cilandak
16

SDN

Cipete Jl. Kirai Ujung

Utara 12 PG
17

SDN

Bulus 02 PAGI

No.

59

Lebak

Bulus
18

SDN

Pela Jl. Bangka II Gg Selatan

Mampang

01 V Rt 10/02

PAGI
19

SDN

Kebon Jl.

Pala 03
20

TK

Jengki

Cip. Timur

Asem Kebon Pala


Negeri Jl. Bambu Duri X Timur

Pembina DKI

Pd. Bambu

87

21

SDN

Gedong Jl. Raya Condet Timur

24

2.880.000

35

4.200.000

25

3.000.000

31

3.720.000

40

4.800.000

Rt. Timur

27

3.240.000

SDN Cipayung Jl. SMAN 64 Rt. Timur

26

3.120.000

04 Pagi
22

SDN

Gedong
Gedong Jl. Raya Condet Timur

12 Pagi

Gg. Pembangunan
II

23

SDN Cijantung Jl.


01 Pagi

Pertengahan Timur

Rt.

06/07

Cijantung
24

SDN

Gedong Jl. Raya Condet Timur

03 Pagi
25

SDN

Gedong
Kramat Jl. Kerja Bakti Rt. Timur

Jati 24 Pagi
26

SDN

Kramat Jl.

Jati 16 Pagi
27

003/09 No. 40

09 PTG

Langgar

008/10

005/02

b. Kurikulum
Kurikulum yang digunakan dalam proses pembelajaran pendidikan
inklusif sama dengan kurikulum yang digunakan dalam proses
pembelajaran pendidikan inklusif karena program pendidikan inklusif
dilaksanakan di sekolah-sekolah reguler.
Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 70 Tahun 2009
disebutkan bahwa satuan pendidikan penyelenggara pendidikan inklusif
menggunakan

kurikulum

tingkat

satuan

pendidikan

yang

mengakomodasi kebutuhan dan kemampuan peserta didik sesuai dengan


bakat, minat, dan potensinya 41. Dalam Peraturan Gubernur Nomor 116
Tahun 2007 disebutkan bahwa kurikulum yang digunakan dalam
41

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 70 Tahun 2009

88

penyelenggaraan pendidikan inklusi adalah kurikulum yang berlaku yang


disesuaikan dengan kebutuhan khusus masing-masing peserta didik
berkebutuhan khusus42.
Mengenai kurikulum pada program pendidikan inklusif, Dra. Septi
Novida, M.Pd menyatakan bahwa:
Kebijakan mengenai kurikulum sama dengan kebijakan kurikulum
yang diselenggarakan di sekolah reguler atau dengan kata lain
kebijakan kurikulum pendidikan inklusif mengikuti kurikulum yang
sudah ada. Kurikulum itu bersifat fleksibel. Contoh penyelenggaraan
pendidikan inklusif yaitu pendidikan yang terdapat dalam film Laskar
Pelangi dimana Harun sebagai anak yang mentally retarded diberikan
treatment khusus yang disesuaikan dengan kondisi Harun yang tidak
sama dengan anak-anak normal lainnya yang berada di kelas43
Berkaitan dengan kurikulum pendidikan inklusif, guru SMP Negeri 223
Pasar Rebo menyatakan:
Secara umum kurikulum bagi anak-anak berkebutuhan khusus
adalah sama dengan anak-anak reguler. kalau ada kasus-kasus tertentu
dalam kurikulum maka kami adakan modifikasi pada kurikulum agar
dapat memenuhi kebutuhan anak-anak berkebutuhan khusus44
Manajer program inklusi SMA Negeri 66 menyatakan bahwa:
Tidak ada kurikulum khusus yang kami rancang untuk anak-anak
berkebutuhan khusus, karena anak-anak berkebutuhan khusus yang
bersekolah di sini rata-rata malah anak-anak yang memiliki prestasi.
Namun kami selalu menyiapkan modifikasi agar anak-anak
berkebutuhan khusus yang membutuhkan layanan khusus dapat
terbantu45
Sebagaimana dikemukakan di atas, kurikulum yang digunakan dalam
penyelenggaraan program pendidikan inklusif adalah kurikulum yang
digunakan di sekolah-sekolah reguler, karena peserta didik berkebutuhan

42

Peraturan Gubernur Nomor 116 Tahun 2007 Tentang Penyelenggaraan Pendidikan Inklusi
Wawancara dengan Septi Novida
44
Wawancara dengan Sukarto
45
Wawancara dengan Suparno
43

89

khusus belajar di ruang kelas yang sama seperti halnya anak-anak reguler
yang tidak digolongkan ke dalam peserta didik berkebutuhan khusus.
Kurikulum yang digunakan saat ini adalah Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP). Jika memang diperlukan, pihak sekolah melakukan
modifikasi terhadap kurikulum sesuai dengan kebutuhan peserta didik
berkebutuhan khusus di kelas.
c. Pendidik dan Tenaga Kependidikan
Dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif di Provinsi DKI Jakarta,
Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta menyiapkan tenaga pendidik agar
dapat memahami konsep dan pelaksanaan pendidikan inklusif yang
benar. Penyiapan tenaga pendidikan tersebut dilakukan dengan cara
mengadakan pelatihan kepada guru-guru sekolah penyelenggara program
pendidikan inklusif. Pelatihan ini dilaksanakan bekerjasama dengan LSM
Hellen Keller Internasional (HKI) yang memiliki konsen, salah satunya,
dalam pendidikan inklusif. Hal ini sesuai dengan pernyataan Dra. Septi
Novida, yaitu:
Kebijakan mengenai tenaga pendidik sendiri hingga sekarang kami
melakukan pemberdayaan guru-guru di sekolah reguler agar dapat
memahami konsep inklusif sehingga mereka dapat melayani anakanak berkebutuhan khusus. Hingga kini memang kami sedang
berusaha agar pengetahuan mengenai pendidikan inklusif dapat
dipahami dengan baik oleh para pendidik, terutama mereka yang
terlibat dalam penyelenggaraan program pendidikan inklusif. Kami
sendiri memiliki kebijakan agar anak-anak berkebutuhan khusus
dalam satu kelas tidak lebih dari 2 orang sehingga guru sendiri tidak
kerepotan dalam menangani anak-anak berkebutuhan khusus. Tugas
guru GPK nantinya adalah membantu anak-anak berkebutuhan khusus
agar dapat mengikuti pembelajaranKami sendiri menjalin kerjasama
dengan Hellen Keller Internasional (HKI) sejak tahun 2003 dimana
kami dengan HKI menyelenggarakan pelatihan untuk guru-guru di
sekolah reguler agar dapat melayani dan membimbing anak-anak
berkebutuhan khusus di sekolah reguler penyelenggara program
pendidikan inklusif46

46

Wawancara dengan Septi Novida

90

Pihak Hellen Keller Internasional (HKI) sendiri menyatakan bahwa:


Sejak tahun 2003 HKI menjalin kerjasama dengan Dinas
Pendidikan Provinsi DKI Jakarta. Kerjasama yang kami jalin yaitu
dalam pendidikan program pendidikan inklusif. Di HKI program ini
masuk ke dalam program Opportunities for Vulnerable Children
(OVC) kami juga mengadakan pelatihan untuk guru-guru dengan
mengundang guru-guru sekolah penyelenggara program pendidikan
inklusif. Namun pelatihan ini Cuma beberapa kali saja kami adakan.
Pelatihan untuk guru lebih banyak kami adakan di sekolah-sekolah
model pendidikan inklusif 47
Selain mengadakan pelatihan bagi guru-guru sekolah penyelenggara
program pendidikan inklusif, Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta
juga menunjuk beberapa guru SLB (Sekolah Luar Biasa) di lingkungan
Dinas untuk menjadi GPK (Guru Pembimbing Khusus)

yang

mendampingi pelaksanaan pendidikan inklusif di sekolah reguler. Dra.


Septi Novida, M.Pd menyatakan:
kami juga menunjuk beberapa guru di SLB untuk berperan sebagai
Guru Pembimbing Khusus (GPK) guna mendampingi anak-anak
berkebutuhan khusus di sekolah penyelenggara program pendidikan
inklusif. Memang kondisi GPK sejak 2003 sudah ditunjuk beberapa
orang guru untuk bisa membantu sekolah-sekolah reguler dalam
menyelenggarakan program pendidikan inklusif. Namun semakin ke
sini jumlah mereka semakin menyusut karena status mereka adalah
guru honorer. Kondisi kehidupan yang seperti sekarang ditambah
dengan status guru honorer yang mereka sandang, kalau tidak
berangkat dari hati nurani maka sulit bagi mereka untuk tetap
bertahan, apalagi kebanyakan dari mereka masih memiliki status
sebagai mahasiswa yang sekarang sudah sarjana dan akhirnya
memutuskan untuk bertugas di tempat lain. Berbeda dengan guru-guru
yang berstatus PNS yang sampai sekarang masih bertahan sebagai
GPK48
Guru SMP Negeri 223 Pasar Rebo menyatakan bahwa:
Pendidik dan tenaga kependidikan yang menanganai pelaksanaan
pendidikan inklusif sama dengan pendidik dan tenaga kependidikan
yang menangani pendidikan reguler. Tidak banyak pendidik dan
tenaga pendidikan yang memang secara khusus menangani
47
48

Wawancara dengan Fitri


Wawancara dengan Septi Novida

91

pelaksanaan pendidikan inklusif, karena sekolah ini dari awal


pelaksanaan program pendidikan inklusif sudah ditunjuk, maka kami
pun belajar bagaimana menangani pelaksanaan pendidikan
inklusif49
Manajer program Inklusi SMA Negeri 66 menyatakan:
Sampai saat ini masing-masing pendidik dan tenaga kependidikan
di sekolah mengetahui dengan baik mengenai keberadaan anak-anak
berkebutuhan khusus dan bagaimana mereka seharusnya mendapatkan
pembelajaran dan pelayanan pendidikan yang baik. Saya selaku
manajer program inklusi pun selalu menyampaikan dalam berbagai
kesempatan mengenai pentingnya pelayanan bagi anak-anak yang
berkebutuhan khusus. Ketika ada kesulitan dalam penanganan anakanak berkebutuhan khusus, pendidik-pendidik di sekolah selalu
melakukan kerjasama yang sampai saat ini terjalin dengan baik 50
Kebijakan yang terkait dengan tenaga pendidik dan kependidikan dalam
penyelenggaraan pendidikan inklusif dilaksanakan dengan melakukan
sosialisasi kepada guru-guru agar dapat memahami dengan baik konsep
pendidikan inklusif sehingga peserta didik berkebutuhan khusus dapat
terpenuhi kebutuhannya di sekolah.
Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta mengadakan pelatihan-pelatihan
yang diperuntukkan bagi guru-guru sekolah penyelenggara program
pendidikan inklusif. Pelatihan tersebut, salah satunya, bekerjasama
dengan LSM Hellen Keller Internasional (HKI) yang memiliki program
Opportunities for Vulnerable Children (OCV). Salah satu yang program
OVC tersebut bergerak untuk membantu anak-anak berkebutuhan khusus
agar memperoleh pendidikan yang layak dengan tidak ditempatkan
dengan serta merta di SLB.
Penunjukkan Guru Pembimbing Khusus ditujukan agar sekolah-sekolah
penyelenggara program pendidikan inklusif mendapatkan pendampingan
dan arahan yang tepat sehingga ketika terdapat kesulitan-kesulitan dalam
49
50

Wawancara dengan Sukarto


Wawancara dengan Suparno

92

pelaksanaan pendidikan inklusif, sekolah dapat berkonsultasi dengan


GPK. Namun memang hingga sekarang keberadaan GPK sendiri tidak
jelas, sebagaimana yang dijelaskan oleh Dra. Septi Novida, M.Pd,
sehingga kadang-kadang kesulitan-kesulitan yang terdapat di sekolah
dalam pelaksanaan pendidikan inklusif tidak dapat teratasi dengan baik.
Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar
Nasional Pendidikan disebutkan bahwa setiap satuan pendidikan yang
melaksanakan pendidikan inklusif harus memiliki tenaga kependidikan
yang mempunyai kompetensi menyelenggarakan pembelajaran bagi
peserta didik dengan kebutuhan khusus51.
Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 70 Tahun 2009
disebutkan bahwa pemerintah Kabupaten/Kota wajib menyediakan
paling sedikit 1 (satu) orang guru pembimbing khusus pada satuan
pendidikan yang ditunjuk untuk menyelenggarakan pendidikan inklusif.
Satuan pendidikan penyelenggara pendidikan inklusif yang tidak ditunjuk
oleh pemerintah Kabupaten/Kota wajib menyediakan paling sedikit 1
(satu) orang Guru Pembimbing Khusus.
Ketersediaan Guru Pembimbing Khusus dalam Peraturan Gubernur
Nomor 116 Tahun 2007 dipenuhi oleh sekolah yang menyelenggarakan
program pendidikan inklusif. Dalam hal tidak tersedia Guru Pembimbing
Khusus pada sekolah yang bersangkutan, pemerintah daerah dapat
menyediakan dengan meminta bantuan kepada SLB atau Pusat Sumber
atau lembaga lain.
d. Sarana dan Prasarana
Sarana dan prasarana dalam penyelenggaran pendidikan inklusif
menggunakan sarana dan prasarana yang terdapat di sekolah dimana
pendidikan inklusif diselenggarakan. Bila memang dibutuhkan, Dinas

51

Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 41

93

Pendidikan Provinsi DKI Jakarta memberikan bantuan kepada sekolah


yang mengajukan proposal. Hal ini sesuai dengan pernyataan Dra. Septi
Novida:
Kebijakan sarana prasarana sendiri mempergunakan sarana dan
prasarana yang sudah tersedia di sekolah-sekolah reguler. Jika
memang dibutuhkan, kami memberikan dana khusus bagi sekolahsekolah penyelenggara pendidikan inklusif agar dapat memenuhi
kebutuhan sarana dan prasarana. Namun tidak semua sekolah kami
bantu karena mereka harus mengajukan proposal permohonan bantuan
dana. Pada prinsipnya, baik pemerintah pusat maupun pemerintah
daerah membantu pihak sekolah dengan catatan pihak sekolah
mengajukan proposal permohonan bantuan mengenai kebutuhan apa
saja yang diperlukan mereka dalam penyelenggaraan pendidikan
inklusif. Bila memang diperlukan, saya sendiri mengajukan
rekomendasi kepada pemerintah pusat agar sekolah tertentu dibantu
oleh pemerintah pusat52
Guru SMP Negeri 223 Pasar Rebo menyatakan bahwa Dinas Pendidikan
Provinsi DKI Jakarta sangat membantu dalam pengadaan sarana dan
prasarana penyelenggaraan pendidikan inklusif. Hal ini sebagaimana
penjelasan Sukarto, S.Pd:
Dinas Pendidikan Provinsi memberikan bantuan sarana dan
prasarana agar memudahkan pelaksanaan pendidikan inklusif.
Misalnya alat rekam agar siswa berkebutuhan khusus dapat merekam
pelajaran untuk diputar ulang di rumah dengan bantuan orang tua53
Hal senada juga diungkapkan oleh Manajer Program Inklusi SMA Negeri
66 Cilandak. Ketika ditanya mengenai pengadaan sarana dan prasarana
dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif, ia menjawab bahwa pihak
sekolah sangat terbantu oleh bantuan-bantuan yang diberikan oleh Dinas
Pendidikan Provinsi DKI Jakarta. Selain dari Dinas Pendidikan Provinsi,
SMA Negeri 66 juga mendapatkan bantuan dari Direktorat PSLB
Kementerian Pendidikan Nasional. Hal ini sebagaimana yang dinyatakan
oleh Suparno, S.Pd:
52
53

Wawancara dengan Septi Novida


Wawancara dengan Sukarto

94

Sampai saat ini kami sangat terbantu dengan bantuan-bantuan


yang diberikan baik oleh Direktorat PSLB maupun oleh Dinas
Pendidikan Provinsi DKI Jakarta. Orang tua anak-anak berkebutuhan
khusus pun ada beberapa yang membantu kami, sehingga sarana dan
prasarana dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif pun dapat
terpenuhi dengan baik. Misalnya ketika kebutuhan untuk laptop bagi
peserta didik, kami pun menyediakan laptop khusus untuk anak-anak
berkebutuhan khusus agar tidak ada pembedaan antara anak-anak
reguler dengan anak-anak berkebutuhan khusus...54
Dapat dipahami bahwa Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta memiliki
komitmen tinggi dalam pengadaan sarana dan prasarana yang dibutuhkan
sekolah dalam penyelenggaraan program pendidikan inklusif.
Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 70 Tahun 2009
disebutkan bahwa satuan pendidikan penyelenggara pendidikan inklusif
berhak memperolah bantuan profesional sesuai dengan kebutuhan dari
pemerintah Kabupaten/Kota. Bantuan profesional yang dimaksud dalam
peraturan tersebut dapat berupa penyediaan sarana dan prasarana55.
Ketentuan mengenai sarana dan prasarana disebutkan dalam Peraturan
Gubernur Nomor 116 Tahun 2007. Dalam peraturan tersebut disebutkan
bahwa sarana dan prasarana yang terdapat pada satuan pendidikan
penyelenggara pendidikan inklusi adalah sarana dan prasarana yang telah
terdapat pada sekolah/madrasah yang bersangkutan dan ditambah dengan
aksesabilitas serta media pembelajaran yang diperlukan bagi peserta
didik berkebutuhan khusus56.
e. Keuangan/Dana
Sesuai dengan ketentuan yang terdapat dalam Peraturan Gubernur Nomor
116 Tahun 2007, pembiayaan untuk penyelenggaraan pendidikan inklusif

54

Wawancara dengan Suparno


Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 70 Tahun 2009
56
Peraturan Gubernur Nomor 116 Tahun 2007 Pasal 11
55

95

bersumber pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah pada pos


anggaran Dinas Dikdas dan Dinas Dikmenti57.
Dalam hal keuangan, Dinas Pendidikan Provinsi DKI menyatakan bahwa
Dinas memberikan bantuan finansial bagi sekolah-sekolah yang
mengajukan proposal dan proposalnya diterima. Selain itu, dana yang
dialokasikan untuk penyelenggaraan pendidikan inklusif di lingkungan
Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta diambil dari dana BOP (Bantuan
Operasional Pendidikan) dan DOP (Dana Operasional Pendidikan). Hal
ini sesuai dengan pernyataan Dra. Septi Novida, M.Pd:
Kebijakan keuangan untuk penyelenggaraan pendidikan inklusif
kami berikan kepada sekolah-sekolah yang mengajukan proposal
permohonan bantuan dana. Dana tersebut kami ambil dari dana BOP
dan DOP. Di samping itu kami juga mengalokasikan dana dari bidang
kami (Bidang TK, SD, dan PLB) untuk diberikan kepada sekolahsekolah penyelenggara program pendidikan inklusif jika
dibutuhkan58
Dana operasional dari Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta yang
diperuntukkan untuk penyelenggaraan pendidikan inklusif sudah
diberikan sebanyak 2 (dua) kali yaitu pada tahun 2009 dan tahun 2010.
Pada tahun 2009 jumlah sekolah penyelenggara pendidikan inklusif yang
menerima dana operasional sebanyak 20 sekolah dengan besaran dana
sebesar Rp. 20.000.000,- (Dua puluh juta rupiah) untuk masing-masing
sekolah. Alokasi anggaran biaya operasional penyelenggara pendidikan
inklusif tersebut berasal dari Dana APBD Provinsi Daerah Khusus
Ibukota Jakarta Dokumen Pelaksanaan Anggaran Satuan Kerja Perangkat
Daerah (DPA-SKPD) Dinas Pendidikan Tahun 200959.
Pada tahun 2010, jumlah sekolah penyelenggara program pendidikan
inklusif yang menerima dana pendamping berjumlah 5 (lima) sekolah
57

Peraturan Gubernur Nomor 116 Tahun 2007 Pasal 16


Wawancara dengan Septi Novida
59
Keputusan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor
842/2009 Tentang Penunjukkan Sekolah Penyelenggara Pendidikan Inklusi TK, SD, SMP yang
Mendapatkan Biaya Operasional Tahun Anggaran 2009
58

96

dengan besaran dana untuk masing-masing sekolah berjumlah Rp.


18.000.000,- (Delapan belas juta rupiah).
Daftar sekolah penyelenggara program pendidikan inklusif yang
menerima biaya operasional tahun 2009 dan dana pendamping tahun
2010 sebagai berikut:
Tabel 4
Daftar Nama Sekolah Penyelenggara Pendidikan Inklusif Penerima Biaya
Operasional Tahun Anggaran 2009
No Nama Sekolah

Alamat

Kecamatan

Wilayah

SDN Johar Baru 29

Jl. Percetakan

Johar Baru

Pusat

Pagi

Negara II A

SDN Cempaka Putih

Jl. Cempaka Putih

Cempaka

Pusat

Barat 16 Pagi

Barat XIX

Putih

SDN Kramat Jati 24

Jl. Kerja Bakti Rt.

Kramat Jati

Timur

Pagi

003/09 No. 40

SDN Sukabumi Selatan

Jl. Raya Pos

Kebon Jeruk

Barat

07 Pagi

Pengumben Rt.

Palmerah

Barat

Senen

Pusat

Pulo Gadung

Timur

Cilandak

Selatan

002/08 Sukabumi
Selatan
5

SDN Slipi 18 Pagi

Jl. KS Tubun III


Dalam

TK Aisyiyah 31

Jl. Salemba
Bluntas I/77
Salemba Paseban

SDN Jatinegara Kaum

Jl. Jatinegara

14 Pagi

Kaum 10/3

SDN Lebak Bulus 06

Jl. Gunung Balong

Pagi

97

SDN Marunda 02 Pagi

Jl. Marunda Pulo

Cilincing

Utara

Jl. Pramukasari I

Cempaka

Pusat

No. 19

Putih

SDN Tanah Tinggi 01

Jl. Tanah Tinggi I

Johar Baru

Pusat

Pagi

Gang 2

SDN Rawabadak

Jl. Mundari

Koja

Utara

Selatan 07 Pagi

Bendungan

Penjaringan

Utara

Duren Sawit

Timur

Sawah Besar

Pusat

Rt. 003/07
10

11

12

SMP Negeri 118

Melayu
Rawabadak
13

SDN Pluit 06 Petang

Jl. Komp. Nelayan


Muara Angke Rt.
001/01

14

TK Negeri Pembina

Jl. Bambu Duri X

DKI Jakarta

Pondok Bambu
Duren Sawit

15

SDN Kartini 02 Petang

Jl. Gotong Royong


Gang E

16

SMP Negeri 191

Jl. Kepa Duri Raya Kebon Jeruk

Barat

17

SMP Negeri 240

Jl. H. Raya No. 16

Kebayoran

Selatan

Baru

Jl. Kamal Muara

Penjaringan

Utara

Pasar Rebo

Timur

Pasar Rebo

Timur

18

SMP Negeri 120

Raya No. 9
19

SDN Gedong 12 Pagi

Jl. Raya Cindet


Gg. Masjid

20

SMP Negeri 223

Jl. Surilang No. 6

Tabel 5
Daftar Nama Sekolah Penyelenggara Pendidikan Inklusif

98

Penerima Dana Pendamping Tahun Anggaran 2010


No

Nama Sekolah

Alamat

Kecamatan

Wilayah

SDN Cempaka Putih

Jl. Cempaka Putih

Cempaka

Pusat

Barat 16 Pagi

Barat XIX

Putih

SDN Marunda 02 Pagi

Jl. Marunda Pulo

Cilincing

Utara

Kembangan

Barat

Setiabudi

Selatan

Kramat Jati

Timur

Rt. 003/07
3

SDN Meruya Selatan

Jl. Lap. Jabek Rt.

06 Pagi

002/001 Mega

SDN Mentas 04

Jl. Dr. Sahardjo


No. 121 Menteng

SDN Kramat Jati 24

Jl. Kerja Bakti Rt.

Pagi

003/09 No. 40

Dalam hal pendanaan, guru SMP Negeri 223 menyatakan bahwa


pendanaan untuk penyelenggaraan program pendidikan inklusif selain
berasal dari sekolah sendiri, juga berasal dari Dinas Pendidikan Provinsi
DKI Jakarta dan Direktorat PSLB. Hal ini sebagaimana diungkapkan
oleh Sukarto:
Pendanaan untuk pelaksanaan pendidikan inklusif berasal dari
biaya sekolah, Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, dan Direktorat
PSLB Pusat60
Hal yang sama juga diungkapkan oleh Suparno selaku Manajer Program
Inklusi SMA Negeri 66 Cilandak. Ia menyatakan:
Pendanaan penyelenggaraan pendidikan inklusif diperoleh dari
bantuan dari Direktorat PSLB, Dinas Pendidikan Provinsi DKI
Jakarta, dan dana sekolah yang dialokasikan untuk penyelenggaraan
pendidikan inklusif61

60
61

Wawancara dengan Sukarto


Wawancara dengan Suparno

99

Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta memang belum bisa memberikan


bantuan finansial kepada semua sekolah yang telah ditunjuk untuk
menyelenggarakan program pendidikan inklusif. Hal ini dikarenakan
dana yang dibutuhkan sangat besar jika semua sekolah yang telah
ditunjuk tersebut diberikan bantuan finansial. Maka, sebagaimana
dijelaskan oleh Dra. Septi Novida, M.Pd, bantuan diberikan hanya
kepada sekolah-sekolah yang mengajukan proposal permohonan bantuan
dana dan proposal tersebut diterima karena telah dipertimbangkan
kelayakannya. Namun demikian, pihak sekolah sendiri pun mengakui
bahwa

sekolah

sendiri

sudah

mengalokasikan

dana

untuk

penyelenggaraan pendidikan inklusif. Dana yang dibutuhkan sekolah pun


ada juga yang berasal dari pemerintah pusat yang diberikan lewat
Direktorat PSLB.
f. Model Pendidikan Inklusif
Model inklusif yang dipakai di lingkungan Dinas Pendidikan Provinsi
DKI Jakarta adalah model inklusif moderat, dimana peserta didik
berkebutuhan khusus belajar bersama-sama dengan peserta didik lainnya
di kelas reguler. Pada kesempatan-kesempatan tertentu dimana peserta
didik berkebutuhan khusus membutuhkan penanganan khusus maka
peserta didik berkebutuhan khusus dipisahkan untuk diberikan treatment
khusus. Hal ini sesuai dengan pernyataan Dra. Septi Novida, M.Pd:
Pada prinsipnya, baik anak-anak normal dan anak-anak
berkebutuhan khusus selalu bersama-sama dalam pembelajaran di
sekolah inklusif. Hal ini dimaksudkan agar anak-anak normal dapat
mengetahui dan memahami bahwa di sekitar mereka terdapat anakanak berkebutuhan khusus yang memiliki kekurangan dalam hal fisik
maupun emosional. Pun dengan anak-anak berkebutuhan khusus agar
mereka dapat merasakan kehidupan normal layaknya anak-anak
lainnya. Namun dalam prakteknya, sebagian dari anak-anak
berkebutuhan khusus mungkin dapat dipisah ketika memang mereka

100

tidak dapat disatukan. Ini bagian dari strategi pembelajaran yang dapat
dipraktikkan oleh guru62
Hal senada juga diungkapkan oleh guru inklusi SMP Negeri 223 Pasar
Rebo yang menyatakan:
Dari awal sudah disampaikan bahwa di sekolah ini ada siswa yang
berkebutuhan khusus sebelum tahun ajaran baru dimulai. Informasi ini
kami sampaikan di kelas-kelas agar guru-guru di sini mengetahui
kondisi yang ada di sekolah Selain itu, ada juga anak-anak
berkebutuhan khusus yang diberi catatan oleh psikolog. Hal ini
diperlukan karena masing-masing siswa berkebutuhan khusus
memiliki kebutuhan yang berbeda-beda. Misalnya siswa tuna netra
yang bisa saja duduk di belakang atau duduk di depan kelas. Contoh
lain misalnya siswa tuna rungu yang harus duduk di depan. Pada awal
proses belajar mengajar, kami menginformasikan kepada wali kelas
untuk membuat denah yang disesuaikan dengan kondisi anak-anak
berkebutuhan khusus63
Manajer program inklusi SMA Negeri 66 Cilandak juga menyatakan hal
yang serupa yaitu:
Proses pembelajaran bagi anak-anak berkebutuhan khusus
disamakan dengan anak-anak reguler lainnya64
Pada

prinsipnya,

peserta

didik

berkebutuhan

khusus

diberikan

kesempatan yang sama untuk mendapatkan pembelajaran di kelas


bersama-sama dengan peserta didik yang tidak digolongkan ke dalam
anak-anak berkebutuhan khusus. Pemisahan peserta didik berkebutuhan
khusus dari kelas reguler dilakukan hanya pada kesempatan-kesempatan
tertentu dimana proses pembelajaran tidak bisa disama ratakan. Dra.
Septi Novida, M.Pd sendiri menyatakan bahwa hal tersebut merupakan
bagian dari strategi yang disesuaikan saja dengan kebutuhan. Pihak dinas
sendiri tidak memberikan aturan ketat mengenai bagaimana model
pendidikan inklusif seharusnya dipraktikkan di sekolah. Sekolahlah yang
paling mengetahui kondisi peserta didiknya, sehingga kebutuhan peserta
didik harus diidentifikasi sendiri oleh sekolah.
62

Wawancara dengan Septi Novida


Wawancara dengan Sukarto
64
Wawancara dengan Suparno
63

101

Berdasarkan pernyataan-pernyataan di atas, penyelenggaraan pendidikan


inklusif di lingkungan Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta mengacu
kepada konsep inklusi penuh (full inclusion) dimana peserta didik
berkebutuhan khusus belajar secara penuh di kelas reguler. Dengan
demikian model tersebut tidak sesuai dengan model yang ditentukan oleh
pemerintah. Pernyataan Dra. Septi Novida, M.Pd sendiri memberikan
pemhaman bahwa proses pembelajaran yang diperuntukkan bagi peserta
didik berkebutuhan khusus baik penuh maupun parsial hanya merupakan
bagian dari strategi yang perlu dipahami dengan baik oleh guru-guru
yang menangani pendidikan inklusif.
Model pendidikan inklusif moderat seperti yang menjadi ketentuan dari
pemerintah pusat secara literatur tidak ditemukan karena sebagaimana
dinyatakan Morrison, pendidikan inklusif pada dasarnya memiliki dua
model. Pertama yaitu model inklusi penuh (full inclusion) dimana
peserta didik berkebutuhan khusus menerima pembelajaran individual
dalam kelas reguler. Kedua yaitu model inklusif parsial (partial
inclusion) dimana peserta didik berkebutuhan khusus sebagian mengikuti
pembelajaran yang berlangsung di kelas reguler dan sebagian lagi dalam
kelas-kelas pull out dengan bantuan guru pendamping khusus65.
Model kelas inklusif yang dimodifikasi sesuai dengan ketentuan
pemerintah yang terdiri dari kelas reguler penuh, kelas reguler dengan
cluster, kelas reguler dengan pull out, kelas reguler dengan cluster dan
pull out, kelas khusus dengan berbagai pengintegrasian, dan kelas khusus
penuh di sekolah reguler sebagaimana dinyatakan oleh Sip Jan Pijl dan
Cor J.W.Meijer 66, tidak dipakai dalam penyelenggaraan pendidikan
inklusif di Provinsi DKI Jakarta. Sebagaimana dinyatakan pemerintah
65

George Morrison, Early Childhood Education Today, (New Jersey: Pearson Education Inc.,
2009), h. 462.
66
Sip Jan Pijl dan Cor J.W.Meijer, Factor In Inclusion: A Framework dalam Sip Jan Pijl (eds.),
Inclusive Education; A Global Agenda, (London: Routledge, 1997), h. 12.

102

pusat lewat Direktorat PSLB, penyelenggaraan pendidikan bagi peserta


didik berkebutuhan khusus di Indonesia tetap mengambil semangat dan
filosofi inklusif.
Implementasi kebijakan penyelenggaraan pendidikan inklusif di Provinsi
DKI Jakarta selalu dievaluasi oleh Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta.
Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Dra. Septi Novida, M.Pd:
Sebenarnya kami tidak mengalokasikan proses khusus untuk
penilaian atau peninjauan ulang terhadap kebijakan-kebijakan
penyelenggaraan pendidikan inklusif yang sudah kami keluarkan, namun
kami melakukan proses penilaian saat kami melakukan monitoring di
sekolah-sekolah penyelenggara program pendidikan inklusif dengan cara
menanyakan langsung apakah kebijakan-kebijakan penyelenggaraan
program pendidikan inklusif sudah berjalan di sekolah atau belum
terselenggara67
Guru inklusif di SMP Negeri 223 Pasar Rebo mendukung pernyataan
tersebut dengan mengatakan bahwa:
Dinas Pendidikan melakukan monitoring terhadap pelaksanaan
pendidikan inklusif di sini. Di samping itu, monitoring juga dilakukan
oleh pengawas dan pihak penyelenggara Sekolah Luar Biasa 68
Manajer Program Inklusi SMA Negeri 66 Cilandak menambahkan
dukungan atas pernyataan Dra. Septi Novida, M.Pd dengan menyatakan:
Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta selalu melakukan
pengawasan terhadap penyelenggaraan pendidikan inklusif. Kami
sebagai penyelenggara pendidikan inklusif merasa sangat terbantu
dengan adanya pengawasan yang dilakukan oleh pihak Dinas. Selain dari
Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, monitoring juga dilakukan oleh
Direktorat PSLB Pusat69
Dengan ini Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta melakukan evaluasi
terhadap kebijakan karena melihat pentingnya proses evaluasi terhadap
kebijakan. Dalam hal ini Budi Winarno menyatakan bahwa evaluasi
67

Wawancara dengan Septi Novida


Wawancara dengan Sukarto
69
Wawancara dengan Suparno
68

103

diperlukan untuk melihat sejauh mana kebijakan telah mampu memecahkan


masalah atau tidak70. Selain itu, evaluasi tersebut akan menentukan
perubahan terhadap kebijakan. Kebijakan Dinas Pendidikan Provinsi DKI
Jakarta terkait penyelenggaraan pendidikan inklusif dapat tetap seperti
semula, diubah, atau dihilangkan sama sekali71.
Dari deskripsi dan analisis data di atas, kebijakan penyelenggaraan pendidikan
Inklusif di Provinsi DKI Jakarta telah melalui tahap-tahap kebijakan sebagai
berikut:
a. Penyusunan agenda, dikaitkan dengan dimasukkannya pendidikan peserta
didik berkebutuhan dalam bentuk pendidikan inklusif sebagai salah satu
masalah yang perlu disusun dalam agenda kebijakan Pemerintah Daerah
Provinsi DKI Jakarta.
b. Formulasi

kebijakan,

dikaitkan

dengan

formulasi

kebijakan

penyelenggaraan pendidikan inklusif yang secara substansi sama dengan


kebijakan dari tingkat pusat dengan penyesuaian yang disesuaikan dengan
kemampuan sumber daya Provinsi DKI Jakarta
c. Adopsi

kebijakan,

dikaitkan

dengan

dilegitimasinya

kebijakan

penyelenggaraan pendidikan inklusif di Provinsi DKI Jakarta lewat


Peraturan Pemerintah Daerah Nomor 8 Tahun 2006 Tentang Sistem
Pendidikan Nasional dan Peraturan Gubernur Nomor 116 Tahun 2007
Tentang Penyelenggaraan Pendidikan Inklusi
d. Implementasi

kebijakan,

dikaitkan

dengan

pelaksanaan

kebijakan

penyelenggaraan pendidikan inklusif seperti penunjukkan sekolah-sekolah


penyelenggara pendidikan inklusif oleh Kepala Dinas Pendidikan Provinsi
DKI Jakarta, pemberian bantuan kepada sekolah-sekolah penyelenggara
program pendidikan inklusif, pemberian beasiswa bagi peserta didik
berkebutuhan khusus, dan lain-lain.
70

Budi Winarno, Kebijakan Publik: Teori dan Proses, (Yogyakarta: Media Presindo, 2007), h.

34
71

Robert B. Denhardt dan Janet V. Denhardt, Public Administration: An Action Orientation,


(Boston: Wadsworth, 2009), h. 55

104

e. Evaluasi kebijakan, dikaitkan dengan monitoring terhadap pelaksanaan


pendidikan inklusif yang dilakukan oleh Bidang SD/TK/PLB Dinas
Pendidikan Provinsi DKI Jakarta

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang telah penulis lakukan mengenai kebijakan
penyelenggaraan pendidikan inklusif di Provinsi DKI Jakarta, didapati
kesimpulan sebagai berikut:
1.

Kebijakan penyelenggaraan pendidikan inklusif di Provinsi DKI Jakarta


merupakan kebijakan yang akomodatif dan fleksibel. Disebut akomodatif
karena kebijakan tersebut memberikan kesempatan kepada peserta didik
berkebutuhan khusus yang memiliki kelainan dalam hal fisik, mental,
emosional, dan sosial dan peserta didik dengan kecerdasan luar biasa
dan/atau bakat istimewa untuk bersama-bersama belajar di kelas yang
sama dengan peserta didik normal lainnya. Disebut fleksibel karena
kebijakan tersebut tidak secara rigid diterapkan di lapangan. Kebijakan
penyelenggaraan pendidikan inklusif disesuaikan dengan kondisi dan
kebutuhan sekolah-sekolah penyelenggara pendidikan inklusif

2.

Definisi yang dipakai pemerintah untuk pendidikan inklusif cenderung


untuk mendeskripsikan penyatuan anak-anak berkelainan (penyandang
hambatan/cacat) ke dalam program sekolah. Aturan mengenai pendidikan

105

106

inklusif ingin memberikan pemahaman mengenai pentingnya penerimaan


anak-anak yang memiliki hambatan ke dalam kurikulum, lingkungan, dan
interaksi sosial yang ada di sekolah. Walaupun peserta didik dengan
kecerdasan dan/atau bakat istimewa juga dimasukkan dalam salah satu
peserta didik pendidikan inklusif, keberadaan mereka tidak banyak
menjadi isu dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif. Dengan demikian
pendidikan inklusif yang diselenggarakan di lingkungan Dinas Pendidikan
Provinsi DKI Jakarta berbicara mengenai hak anak berkebutuhan khusus
yang memiliki kelainan atau kekurangan dalam hal fisik, mental, dan
emosional untuk dapat belajar bersama dengan peserta didik lainnya di
sekolah reguler.
3.

Tidak terdapat model pendidikan inklusif yang dijadikan acuan dalam


penyelenggaraan pendidikan inklusif di lingkungan Dinas Pendidikan
Provinsi DKI Jakarta. Model yang terdapat dalam literatur hanya
dipandang sebagai bagian dari strategi yang perlu dipahami dan diterapkan
oleh guru-guru pendidikan inklusif.

4.

Belum semua kategori peserta didik yang telah ditentukan pemerintah


tertampung di sekolah inklusif. Hal ini disebabkan karena keterbatasan
sumber daya yang dapat memenuhi kebutuhan pelayanan pendidikan bagi
semua kategori peserta didik berkebutuhan khusus. Selain itu, orang tua
anak berkebutuhan khusus banyak yang masih enggan memasukkan anak
mereka ke sekolah-sekolah inklusif

5.

Penunjukkan sekolah-sekolah penyelenggara pendidikan inklusif di


Provinsi DKI Jakarta melebihi ketentuan yang ditetapkan oleh pemerintah
pusat. Jumlah sekolah penyelenggara pendidikan inklusif di Provinsi DKI
Jakarta sendiri hingga saat ini belum memenuhi ketentuan yang termuat
dalam

Peraturan

Gubernur

Nomor

116

Tahun

2007

Tentang

Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif.


6.

Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta memberikan bantuan dalam bentuk


pelatihan bagi guru-guru inklusi, bantuan finansial, bantuan sarana dan

107

prasarana, dan beasiswa bagi sekolah-sekolah penyelenggara pendidikan


inklusif

B. Saran
Beberapa saran yang dapat penulis kemukakan dalam penelitian ini yaitu:
1.

Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta perlu terus melakukan koordinasi


internal, terutama dengan Bidang Tenaga Kependidikan, dalam rangka
pemenuhan kebutuhan pendidik yang memahami dengan baik konsep dan
implementasi pendidikan inklusif sehingga semua kategori peserta didik
berkebutuhan khusus dapat tertangani dengan baik

2.

Sebaiknya, Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta melakukan pendataan


kembali jumlah Guru Pembimbing Khusus (GPK) yang saat ini ada di
lingkungan Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta agar peningkatan
kualitas pendidikan inklusif, sebagaimana dicanangkan oleh Bidang
TK/SD/PLB, dapat berjalan dengan lancar

3.

Sebaiknya, Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta dan sekolah-sekolah


inklusif melakukan pendataan secara berkala mengenai jumlah dan kondisi
peserta didik setiap tahun ajaran baru di sekolah-sekolah penyelenggara
pendidikan inklusif agar kebutuhan-kebutuhan peserta didik di sekolah
dapat dipetakan untuk kemudian dipenuhi

4.

Sebaiknya, Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta melakukan peninjauan


ulang mengenai keberadaan peserta didik dengan kecerdasan dan/atau
bakat istimewa yang dimasukkan ke dalam kategori peserta didik
pendidikan inklusif

5.

Sebaiknya, Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta terus mengadakan


kerjasama dengan pihak luar seperti LSM Hellen Keller Internasional
(HKI) dalam rangka peningkatan mutu penyelenggaraan pendidikan
inklusif

6.

Agar aspek pemerataan sekolah penyelenggara pendidikan inklusif tidak


diabaikan, maka Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta perlu meninjau
kondisi kecamatan-kecamatan yang memiliki sekolah inklusif dalam
jumlah yang sedikit atau bahkan belum memiliki sekolah inklusif seperti

108

Kecamatan Kepulauan Seribu Utara dan Kecamatan Kepulauan Seribu


Selatan di Kabupaten Kepulauan Seribu
7.

Agar pelaksanaan pendidikan inklusif di sekolah-sekolah inklusif dapat


berjalan dengan baik, maka guru-guru di sekolah reguler, terutama guruguru di sekolah penyelenggara pendidikan inklusif (yang ditunjuk Dinas
Pendidikan Provinsi DKI Jakarta) perlu terus meningkatkan pemahaman
dan kompetensi yang berkaitan dengan konsep pendidikan inklusif

8.

Agar sekolah penyelenggara pendidikan inklusif tidak melaksanakan


pendidikan inklusif sendirian, maka orang tua peserta didik berkebutuhan
khusus perlu terus aktif untuk berkordinasi dengan pihak sekolah dalam
rangka mengetahui kondisi, perkembangan, dan kebutuhan anak-anak
mereka di sekolah

DAFTAR PUSTAKA
Agustyawati dan Solicha, Psikologi Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus, Jakarta:
Lembaga Penelitian UIN Jakarta, 2009
Anderson, James E., dkk., Public Policy and Politics in America, California:
Brooks/Cole Publishing Company, 1984, cet. ke-2
_________________, Public Policy Making, New York: Holt, Rinehart and Winston,
1984, cet. ke-3
_________________, Public Policy Making: An Introduction, Boston: Houghton
Mifflin Company: 1994, cet. ke-2
Baihaqi, MIF. dan M. Sugiarmin, Memahami dan Membantu Anak ADHD, Bandung:
PT. Refika Aditama, 2006
Barton, Len dan Felicity Armstrong, Policy, Experience, and Change; Cross Cultural
Reflection on Inclusive Education, Dordrecht: Springer, 2007
Bungin, M. Burhan, Penelitian Kualitatif, Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik,
dan Ilmu Sosial Lainnya, Jakarta: Kencana, 2009
Danim, Sudarwan, Pengantar Studi Penelitian Kebijakan, Jakarta: PT. Bumi Aksara,
2005), cet. ke-3
Delphie, Bandi, Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus dalam Setting Pendidikan
Inklusi, Bandung: PT. Refika Aditama, 2006
_______, Bandi, Pembelajaran Anak Tunagrahita; Suatu Pengantar dalam
Pendidikan Inklusi, Bandung: PT. Refika Aditama, 2006
Denhardt, Robert B. dan Janet V. Denhardt, Public Administration: An Action
Orientation, Boston: Wadsworth, 2009
Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, Rencana Strategis Dinas Pendidikan Provinsi
DKI Jakarta Tahun 2009-2013

Direktorat Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Policy Brief, Sekolah


Inklusif; Membangun Pendidikan Tanpa Diskriminasi, No. 9. Th.II/2008,
Departemen Pendidikan Nasional
Dunn, William N., Pengantar Analisis Kebijakan Publik, Yogyakarta: Gajah Mada
University Press, 2000, cet. ke-4
Dye, Thomas R., Understanding Public Policy, (New Jersey: Pearson Education Inc.,
2005)
Edwards III, George C. dan Ira Sharkansky, The Policy Predicament: Making and
Implementing Public Policy, San Francisco: W.H. Freeman and Company, 1978
Fliegler, Louis A., Curriculum Implementation dalam Curriculum Planning for The
Gifted, New Jersey: Prentice Hall Inc., 1961
Hallahan, Daniel P. dkk., Exceptional Learners: An Introduction to Special
Education, Boston: Pearson Education Inc., 2009, cet. ke-10

Hanbal, Ahmad Ibn, Musnad Ahmad Ibnu Hanbal, (Kairo: Muassasah


Qurtubah, tt), juz 5
Hardin, Brent dan Maria Hardin, Into the Mainstream: Practical Strategies for
Teaching in Inclusive Environments, dalam Kathleen M. Cauley (ed.),
Educational Psychology, New York: McGraw-Hill/Dushkin, 2004
Harjaningrum, Agus Tri, dkk., Peranan Orang Tua dan Praktisi dalam Membantu
Tumbuh Kembang Anak Berbakat Melalui Pemahaman Teori dan Tren
Pendidikan, Jakarta: Prenada, 2007
Hornby, AS, Oxford Advanced Learners Dictionary of Current English, (Oxford:
Oxford University Press, 1995), cet. ke-5
http://en.wikipedia.org/wiki/Inclusion_%28education%29
http://en.wikipedia.org/wiki/Mainstreaming_%28education%29
http://groups.yahoo.com/group/ditplb/message/130
http://puslitjaknov.org/data/file/2008/makalah_undangan/DYAH%20S_Pengkajian%
20Pendidikan%20Inklusif.pdf

http://www.depdagri.go.id/media/filemanager/2010/01/29/1/1/11__dki_jakarta.pdf
Islamy, M. Irfan, Prinsip-Prinsip Perumusan Kebijaksanaan Negara, Jakarta: Bina
Aksara, 1988, cet. ke-3
Keputusan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor
842/2009 Tentang Penunjukkan Sekolah Penyelenggara Pendidikan Inklusi TK,
SD, SMP yang Mendapatkan Biaya Operasional Tahun Anggaran 2009
Keputusan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor
1190/2010 Tentang Penunjukkan Nama-nama TK, SD, SMP, dan SMA/SMK
Penyelenggara Pendidikan Inklusif di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2010
Lindgren, Henry Clay, Educational Psychology in the Classroom, Tokyo: Charles E.
Tuttle Company, 1967, cet. ke-3
Moloeng, Lexy J., Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 2009
Morrison, George S., Early Childhood Education Today, New Jersey: Pearson
Education Inc., 2009
Muslim, al Imam Abi Husain bin al Hajjaj, Shahih Muslim, Kairo: Daar Ibnu Al
Haitam, 2001
Nawawi, Hadari dan Martini Hadari, Instrumen Penelitian Bidang Sosial,
Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1995
Nawawi, Ismail, Public Policy; Analisis, Strategi, Advokasi, Teori, dan Praktek,
Surabaya: PMN, 2009
Pedoman Umum Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif, Direktorat Pembinaan
Sekolah Luar Biasa Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan
Menengah Departemen Pendidikan Nasional, 2007
Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 116 Tahun 2007
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 70 Tahun 2009 Tentang Pendidikan
Inklusif Bagi Peserta Didik yang Memiliki Kelainan dan Memiliki Potensi
Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa
Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan

Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 1991 Tentang Pendidikan Luar Biasa


Perlu Pelatihan Khusus untuk Guru; Sekolah Inklusi Butuh Pengajar, Kompas, Rabu,
3 Maret 2010
Pijl, Sip Jan (eds), Inclusive Education: A Global Agenda, London: Routledge, 1997
Putt, Allen D. dan J. Fred Springer, Policy Research; Concepts, Methods, and
Application, New Jersey: Prentice Hall, 1989
Reid, Gavin, Dyslexia and Inclusion; Classroom Approaches for Assesment,
Teaching and Learning, London: David Fulton Publisher, 2005
Santrock, John W., Psikologi Pendidikan, Jakarta: Prenada Media Group, 2008
Schulz, Jane B., Mainstreaming Exceptional Students; A Guide for Classroom
Teachers, Boston: Allyn and Bacon, 1991
Smith, J. David, Inklusi: Sekolah Ramah untuk Semua, Bandung: Penerbit Nuansa,
2006
Stephens, Thomas M. dkk., Teaching Mainstreamed Students, Canada: John
Wiley&Sons, 1982
Suharto, Edi, Analisis Kebijakan Publik; Panduan Praktis Mengkaji Masalah dan
Kebijakan Sosial, Bandung: CV. Alfabeta, 2005
Sukmadinata, Nana Syaodih, Metode Penelitian Pendidikan, Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 2008, cet. ke-4.
Surat Edaran Dirjen Dikdasmen No. 380/C.C6/MN/2003 Tanggal 20 Januari 2003
Perihal Pendidikan Inklusif
Taylor, Ronald L., Assesment of Exceptional Students; Educational and
Psychological Procedures, New Jersey: Pearson Education Inc., 2009, Cet. Ke-8
Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem
Pendidikan Nasional
Usman, Husaini dan Purnomo Setiady Akbar, Metodologi Penelitian Sosial, Jakarta:
PT. Bumi Aksara, 2008

Winarno, Budi, Kebijakan Publik: Teori dan Proses, Yogyakarta: Media Presindo,
2007

ANALISIS KEBIJAKAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN INKLUSIF


DI PROVINSI DKI JAKARTA

Oleh:

Kamal Fuadi
105018200722

PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN


JURUSAN KEPENDIDIKAN ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2011M/1432H

ANALISIS KEBIJAKAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN INKLUSIF


DI PROVINSI DKI JAKARTA

Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk Memenuhi Persyaratan
Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)

Oleh:

Kamal Fuadi
105018200722

Di bawah Bimbingan

PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN


JURUSAN KEPENDIDIKAN ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2011M/1432H

LEMBAR PENGESAHAN PANITIA UJIAN


Skripsi yang berjudul Analisis Kebijakan Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif
di Provinsi DKI Jakarta diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
(FITK) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, dan telah dinyatakan
lulus dalam Ujian Munaqasyah pada hari Jumat, 11 Maret 2011 di hadapan dewan
penguji. Karena itu penulis berhak memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) pada
Jurusan Kependidikan Islam Program Studi Manajemen Pendidikan.
Jakarta, 11 Maret 2011
Panitia Ujian Munaqasyah
Ketua Panitia (Ketua Jurusan KI)
Drs. Rusydy Zakaria, M.Ed., M.Phil.
NIP. 19560530 198503 1 002

Tanggal dan Tanda Tangan


(....)

(....)

(....)

(....)

(....)

(....)

(....)

(....)

Ketua Program Studi Manajemen Pendidikan


Drs. H. Muarif SAM, M.Pd
NIP. 19650717 199403 1 003
Penguji I
Prof. Dr. H. Armai Arief, MA
NIP. 19560119 198603 1 003
Penguji II
Prof. Dr. H. Abuddin Nata, MA
NIP. 19540802 198503 1 002

Mengetahui
Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

ABSTRAKSI
Kamal Fuadi, 105018200722, Analisis Kebijakan Penyelenggaraan Pendidikan
Inklusif di Provinsi DKI Jakarta
Pemerintah Indonesia memiliki komitmen untuk menyelenggarakan pendidikan
demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak
asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa yang
diwujudkan dengan menyelenggarakan pendidikan inklusif. Provinsi DKI Jakarta
merupakan satu-satunya daerah yang mengeluarkan kebijakan khusus
penyelenggaraan pendidikan inklusif yang tertuang dalam Peraturan Gubernur Nomor
116 Tahun 2007 Tentang Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif. Kebijakan
penyelenggaraan pendidikan inklusif masih menyisakan berbagai permasalahan
seperti belum adanya pemahaman mengenai kebijakan penyelenggaraan pendidikan
inklusif, belum tertampungnya anak-anak yang teridentifikasi berkebutuhan khusus
dalam sekolah-sekolah inklusif dan belum tersedianya sumber daya pendidik sekolah
inklusif yang memadai.
Penelitian yang menggunakan metode kualitatif deskriptif ini berusaha untuk
mendeskripsikan kebijakan penyelenggaraan pendidikan inklusif dan implementasi
kebijakan tersebut di Provinsi DKI Jakarta. Peneliti melakukan wawancara dengan
Kepala Bidang TK, SD, PLB Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, Koordinator
Program Opportunity for Vulnerable Children (OVC) Hellen Keller International
(HKI), dan Guru Program Pendidikan Inklusif di SMP Negeri 223 Pasar Rebo Jakarta
Timur dan SMA Negeri 66 Cilandak Jakarta Selatan.
Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa, pertama, pendidikan inklusif yang
diselenggarakan di Provinsi DKI Jakarta cenderung untuk mendeskripsikan
penyatuan anak-anak berkelainan (penyandang hambatan/cacat) ke dalam program
sekolah. Keberadaan peserta didik dengan kecerdasan dan/atau bakat istimewa tidak
banyak menjadi isu dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif. Kedua,
penyelenggaraan pendidikan inklusif tidak menggunakan model sebagaimana
terdapat dalam literatur dan ketentuan umum pendidikan inklusif. Model hanya
merupakan bagian dari strategi yang perlu diketahui dan dilaksanakan guru. Ketiga,
belum semua kategori anak berkebutuhan khusus diterima menjadi peserta didik
program pendidikan inklusif. Hal tersebut berkaitan dengan belum terpenuhinya
sumber daya sekolah yang memadai. Keempat, penunjukkan sekolah-sekolah
penyelenggara pendidikan inklusif di Provinsi DKI Jakarta melebihi ketentuan yang
ditetapkan pemerintah pusat. Kelima, Pemerintah Provinsi DKI selalu bekerja sama
dengan pihak sekolah dengan memberikan pelatihan bagi guru-guru inklusi, bantuan
finansial, bantuan sarana dan prasarana, dan beasiswa bagi sekolah-sekolah
penyelenggara pendidikan inklusif.
Kata Kunci: Kebijakan, Pendidikan Inklusif

Kata Pengantar
Bismillaahirrahmaanirraahiim
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang tak pernah berhenti
melimpahkan rahmat dan ridla-Nya kepada penulis sehingga skripsi ini dapat penulis
selesaikan. Shalawat teriring salam penulis curahkan kepada Nabi Muhammad SAW,
keluarga, sahabat, tabiin, dan para pengikut beliau yang setia menjalankan ajaranajarannya hingga akhir zaman.
Penulisan skripsi ini bukan sekadar pemenuhan kewajiban tugas akhir yang harus
penulis tunaikan sebagai mahasiswa untuk mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan
(S.Pd) pada Program Studi Manajemen Pendidikan Jurusan Kependidikan Islam
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Namun lebih
jauh penulisan skripsi ini merupakan pembuktian penulis sebagai mahasiswa untuk
menulis sebuah karya tulis di akhir masa kuliah.
Dengan selesainya penulisan skripsi ini, penulis sampaikan rasa terima kasih kepada
semua pihak yang telah berperan kepada penulis baik semasa penulis berkuliah
maupun semasa penulis menyelesaikan penulisan skripsi ini. Dengan segala
kerendahan dan ketulusan hati, penulis menghaturkan terima kasih kepada:
1.

Bapak Prof. Dr. Dede Rosyada, MA, Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Dosen Pembimbing Skripsi
yang telah meluangkan waktu di tengah kesibukan beliau untuk memberikan
arahan selama penulis menyelesaikan penelitian dan penulisan skripsi

2.

Bapak Rusydi Zakaria, M.Ed., M.Phil., Ketua Jurusan Kependidikan Islam,


Bapak Drs. Muarif SAM, M.Pd, Ketua Program Studi Manajemen
Pendidikan, dan Ibu Iffah Zahriyani, S.Pd, Staf Jurusan KI-MP yang telah
memberikan layanan akademik dan menjadi teman diskusi selama penulis
menempuh perkuliahan

3.

Bapak Drs. Syauki, M.Pd, Dosen Penasehat Akademik yang selalu


memberikan saran dalam menjalani perkuliahan

4.

Bapak dan Ibu Dosen di lingkungan Jurusan Kependidikan Islam Program


Studi Manajemen Pendidikan yang telah mendidik dan membimbing penulis
dengan ketulusan, profesionalisme, dan dedikasi yang tinggi

5.

Pimpinan dan Staf Perpustakaan Utama dan Perpustakaan Fakultas Ilmu


Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

6.

Bapak Dr. Taufik Yudi Mulyanto, M.Pd, Kepala Dinas Pendidikan dan Ibu
Drs. Septi Novida, M.Pd, Kepala Bidang TK/SD/PLB Dinas Pendidikan
Provinsi DKI Jakarta beserta staf dan jajarannya yang telah memfasilitasi
penulis untuk mengadakan penelitian di lingkungan Dinas Pendidikan
Provinsi DKI Jakarta

7.

Bapak Drs. Sugiyono, M.Pd, M.Si, Kepala Sekolah SMA Negeri 66 Jakarta
dan Bapak Dr. H.A. Otjin Kusnadie, M.Pd, Kepala Sekolah SMP Negeri 223
yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk mengadakan
penelitian dan wawancara

8.

Ibu Fitri selaku Koordinator Program Opportunity for Vulnerable Children


(OVC) Hellen Keller International (HKI) yang telah meluangkan waktu beliau
untuk penulis

9.

Bapak Drs. Moh. Djazeri (alm) dan Ibu Dra. Umi Azizah, orangtua penulis
yang selalu mendidik, membimbing, memberikan nasehat dan dukungan, serta
doa dimanapun penulis berada

10. Fikri Ali, SE, Muthmainnah (feat. Muhammad Nidzam Ardiyan) dan Rofik
Habibi, kakak-kakak penulis yang tidak pernah lelah memotivasi. Muhammad
Auva Ahdi, Charis Luthfi, dan Shovia Afida, adik-adik penulis yang selalu
menjadi penyemangat. Kalian yang terbaik yang penulis miliki
11. Bapak Prof. Dr. Ali Mustafa Yaqub, MA, Khadim Mahad Aly DARUS
SUNNAH, guru dan orang tua penulis, yang telah mengenalkan lebih jauh
kepada penulis mengenai arti istiqamah dan totalitas dalam mendalami ilmu.

Semoga Allah selalu memberikan kesehatan dan limpahan rahmat kepada


beliau.
12. Sahabat-sahabat DARUS SUNNAH 2005, A. Syarif Hidayatullah, S.Th.I, Lc.,
Rikza Ahmad, S.Th.I, Lc., Edo Abdullah Faqih, S.Si, Lc., Fathuddin, SH.I,
Lc., Agus Gunawan, S.Th.I, Lc., Zainal Muttaqin, S.Th.I, Lc., Abdul Aziz,
Lc., Arya Izzudin, Lc., Alvian Iqbal Zahasfan, S.SI, Lc., Ahmad Masyari
SH.I, Rahmat, Devita Zuliati, S.Pd.I, Lc., Dida Farida, S.SI., Lc., Fajriyati
Aljabhati, S.SI, Lc., Fitriyani, S.SI, Lc., dan Maryam Shofa, S.SI, Lc.. Kita
adalah sahabat terbaik
13. Sahabat-sahabat AL BARKAH INSTITUTE, Syarif Zakky Azizi, Muhammad
Fatkhurrahman, Rohim, Habibullah Siregar, Kurnia Aswaja, Nasihin Aziz
Raharjo, dan Ana Mulyana
14. Pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa Jurusan Kependidikan IslamManajemen Pendidikan (BEMJ KI-MP) Periode 2007-2008 yang telah
bersama-sama mewarnai aktivisme kampus
15. Kawan-kawan Ikatan Mahasiswa Tegal (IMT) Ciputat. Gus Aqib Malik,
Abdul Latif, Abraham Firdaus, Iqbal Kaukabuddin, Fatkhul Muin, M.
Shobahur Rizqi, Zainal Muttaqin, Hendri Pradiyanto, Alimuddin Tarlay,
Atfiyanah, dan teman-teman yang tidak bisa disebutkan di sini. Sungguh
kalian menjadi saudara terbaik di perantauan
16. Teman-teman kelas A dan terutama kelas B Jurusan Kependidikan IslamManajemen Pendidikan (KI-MP) angkatan 2005. Maaf saya bukan teman
yang baik
Penulis menyadari bahwa skripsi sederhana ini sebagai karya tulis sangat jauh dari
sempurna. Oleh karena itu penulis selalu mengharapkan kritik dan saran konstruktif.
namun dengan kerendahan hati, penulis sangat berharap agar skripsi ini dapat
bermanfaat untuk semua pihak yang menggeluti bidang manajemen pendidikan,

minimal bagi diri penulis. Akhirnya hanya kepada Allah jua segala sesuatu penulis
kembalikan. Wallaahu Alamu Bi As Shawab.

Ciputat, 25 Februari 2011

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ....................................................................................... i
DAFTAR ISI ..................................................................................................... iv
DAFTAR GAMBAR DAN TABEL ................................................................. vi
BAB I : PENDAHULUAN ........................................................................... 1
A. Latar Belakang Masalah............................................................... 1
B. Identifikasi Masalah ..................................................................... 8
C. Pembatasan Masalah .................................................................... 9
D. Perumusan Masalah ..................................................................... 9
E. Manfaat Penelitian ....................................................................... 9
BAB II : KAJIAN TEORI ............................................................................ 10
A. Kebijakan .................................................................................... 10
1. Pengertian Kebijakan ............................................................. 10
2. Tahap-Tahap Kebijakan ......................................................... 14
3. Analisis Kebijakan ................................................................. 16
B. Pendidikan Inklusif
1. Pengertian Pendidikan Inklusif .............................................. 20
2. Landasan Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif..................... 25
3. Model Pendidikan Inklusif .................................................... 27
4. Komponen Pendidikan Inklusif ............................................. 31
5. Pembelajaran Model Inklusif di Kelas Reguler ...................... 35
BAB III : METODE PENELITIAN ............................................................... 39
A. Tempat dan Waktu Penelitian ...................................................... 39
B. Tujuan Penelitian ......................................................................... 39
C. Metode Penelitian ........................................................................ 39

D. Sumber Data ................................................................................ 40


E. Teknik Pengumpulan Data ........................................................... 41
F. Teknik Analisis Data ................................................................... 42
BAB IV : HASIL PENELITIAN .................................................................... 44
A. Gambaran Umum Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta ........... 44
1. Visi dan Misi Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta ............. 44
a. Visi Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta ....................... 44
b. Misi Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta ....................... 44
2. Tugas Pokok dan Fungsi Dinas Pendidikan Provinsi DKI
Jakarta ..................................................................................... 47
a. Tugas Pokok Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta.......... 48
b. Fungsi Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta ................... 48
3. Tujuan Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta ....................... 49
4. Sasaran Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta ...................... 49
5. Strategi Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta ...................... 49
6. Arah Kebijakan Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta .......... 50
7. Sasaran Strategik Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta........ 50
8. Kondisi Sekolah, Siswa, dan Guru di Lingkungan Dinas
Pendidikan Provinsi DKI Jakarta ............................................. 51
B. Deskripsi dan Analisis Data ......................................................... 53
1. Kebijakan Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif di Provinsi
DKI Jakarta ............................................................................. 53
2. Implementasi Kebijakan Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif
di Provinsi DKI Jakarta............................................................ 78
BAB V : PENUTUP ....................................................................................... 102
A. Kesimpulan.................................................................................. 102
B. Saran ........................................................................................... 103

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 105


DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................... 109

DAFTAR GAMBAR DAN TABEL


Gambar
Gambar 1

Analisis Kebijakan yang Berorientasi pada Masalah

Gambar 2

Prosedur Identifikasi, Evaluasi, Konfirmasi, dan

Hal. 18

Penempatan Peserta Didik dalam Pendidikan Luar


Biasa ..

Hal. 38

Gambar 3

Jumlah Sekolah di Provinsi DKI Jakarta ... Hal. 51

Gambar 4

Jumlah Siswa di Provinsi DKI Jakarta ..

Hal. 52

Gambar 5

Jumlah Pendidik di Provinsi DKI Jakarta .

Hal. 53

Gambar 6

Kebijakan Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta ..

Hal. 62

Tabel
Tabel 1

Daftar Nama TK, SD, SMP, SMA/SMK Negeri


Penyelenggara Pendidikan Inklusi Provinsi DKI
Jakarta Hal. 66

Tabel 2

Sebaran Sekolah Inklusif di Provinsi DKI Jakarta

Tabel 3

Daftar Sekolah Inklusif Penerima Subsidi Beasiswa


Tahun Anggaran 2010 ...

Tabel 4

Hal. 74

Hal. 82

Daftar Nama Sekolah Penyelenggara Pendidikan


Inklusif Penerima Biaya Operasional Tahun Anggaran
2009 ...

Tabel 5

Hal. 93

Daftar Nama Sekolah Penyelenggara Pendidikan


Inklusif Penerima Dana Pendamping Tahun Anggaran
2009 ...

Hal. 95

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki komitmen tinggi terhadap upaya
pencerdasan bangsa. Komitmen ini dibuktikan dengan pencantuman upaya
pencerdasan bangsa dalam konstitusi negara sebagai salah satu hal paling mendasar
yang perlu dibangun dan dikembangkan pasca kemerdekaan Indonesia. Komitmen ini
kemudian dijabarkan dalam pasal UUD 1945 pasal 31 yang menyebutkan:
1. Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran
2. Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pengajaran
nasional yang diatur dengan undang-undang1
Realisasi komitmen yang tercantum dalam konstitusi ini diupayakan dengan
menyelenggarakan pendidikan yang terdiri dari beberapa jalur, jenjang dan jenis
mulai dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi di seluruh Indonesia.
1

Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945

Pendidikan ini diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak


diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai
kultural, dan kemajemukan bangsa 2.
Dalam sekolah, salah satu komponen yang terpenting yaitu peserta didik, karena
merekalah yang dijadikan subjek pembelajaran. Peserta didik memiliki keragaman
baik dari segi fisik maupun kemampuan. Keragaman yang dimiliki peserta didik ini
mempengaruhi proses pembelajaran sehingga perbedaan fisik dan kemampuan
peserta didik membutuhkan penanganan tersendiri oleh tenaga pendidik.
Pada umumnya, rata-rata peserta didik di sekolah memiliki kondisi fisik dan
kemampuan yang normal. Mereka tidak mengalami kesulitan dalam mengikuti proses
pembelajaran sesuai dengan ketentuan yang telah ditentukan pemerintah. Kesulitan
terjadi tatkala terdapat peserta didik yang memiliki kelainan atau kecerdasan dan
bakat istimewa. Perbedaan yang demikian harus mendapat perhatian dari tenaga
pendidik. Perbedaan ini seharusnya tidak menjadikan adanya diskriminasi terhadap
peserta didik dalam mengikuti proses pembelajaran di sekolah.
Salah satu upaya pemerintah untuk menghindari atau bahkan menghilangkan
diskriminasi dalam pendidikan yaitu dengan menyelenggarakan pendidikan yang
tidak membeda-bedakan kelainan dan tingkat kecerdasan yang dimiliki peserta didik.
Pendidikan yang demikian disebutkan secara eksplisit dengan istilah Pendidikan
Khusus dalam Pasal 15 dan Pasal 32 ayat 1 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003
Tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Dalam Penjelasan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun
2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 15 disebutkan bahwa pendidikan
khusus merupakan penyelenggaraan pendidikan untuk peserta didik yang berkelainan
atau peserta didik yang memiliki kecerdasan luar biasa yang diselenggarakan secara

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional

inklusif atau berupa satuan pendidikan khusus pada tingkat pendidikan dasar dan
menengah3.
Dalam Pasal 32 Ayat 1 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun
2003 juga disebutkan istilah Pendidikan Khusus ini sebagai penjelas Pasal 15 di atas.
Dalam Pasal 32 Ayat 1 disebutkan bahwa pendidikan khusus merupakan pendidikan
bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam proses pembelajaran karena
kelainan fisik, emosional, mental, sosial, dan/atau memiliki potensi kecerdasan dan
bakat istimewa4.
Dalam kedua pasal di atas disebutkan secara jelas mengenai apa yang disebut
dengan istilah Pendidikan Khusus dan siapa saja yang berhak mendapatkan
pendidikan ini. Pendidikan Khusus ini memang didesain untuk mengakomodir
perbedaan yang terdapat pada peserta didik. Perbedaan ini harus direspon dalam
bentuk pelaksanaan pendidikan yang mampu mengelola perbedaan-perbedaan yang
dimaksud dalam pasal di atas.
Pemerintah Indonesia sudah sejak lama menyelenggarakan pendidikan yang secara
khusus disediakan bagi peserta didik yang memiliki kelainan. Bentuk pendidikan bagi
peserta didik berkelainan ini secara khusus diatur lewat Peraturan Pemerintah Nomor
72 Tahun 1991 Tentang Pendidikan Luar Biasa 5. Peraturan pemerintah ini hanya
mengatur pendidikan yang disediakan bagi peserta didik yang memiliki kelainan fisik
dan mental.

Dalam peraturan ini tidak disebutkan adanya

aturan yang

mengikutsertakan peserta didik yang memiliki bakat dan kecerdasan luar biasa atau
istimewa.
Istilah Pendidikan Luar Biasa memang selalu dikaitkan dengan pendidikan bagi
peserta didik yang memiliki kelainan fisik dan mental. Pendidikan ini didesain secara
3

Penjelasan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem
Pendidikan Nasional
4
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional
5
Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 1991 Tentang Pendidikan Luar Biasa.

khusus dengan membedakan dan sekaligus memisahkan peserta didik yang memiliki
kelainan fisik dan mental dengan peserta didik yang tidak memiliki kelainan fisik dan
mental (normal).
Di Indonesia pendidikan bagi peserta didik berkelainan selama ini disediakan
dalam tiga macam lembaga pendidikan, yaitu Sekolah Luar Biasa (SLB), Sekolah
Dasar Luar Biasa (SDLB), dan Pendidikan Terpadu. SLB, sebagai lembaga
pendidikan khusus tertua, menampung anak dengan jenis kelainan yang sama,
sehingga ada SLB Tunanetra, SLB Tunarungu, SLB Tunagrahita, SLB Tunadaksa,
SLB Tunalaras, dan SLB Tunaganda. Sedangkan SDLB menampung berbagai jenis
anak berkelainan, sehingga di dalamnya mungkin terdapat anak tunanetra, tunarungu,
tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, dan/atau tunaganda. Sedangkan Pendidikan
Terpadu adalah sekolah reguler yang menampung anak berkelainan dengan
kurikulum, guru, sarana pengajaran, dan kegiatan belajar mengajar yang sama.
Namun selama ini baru menampung anak tunanetra, itupun perkembangannya kurang
menggembirakan karena banyak sekolah umum yang keberatan menerima anak
berkelainan.
Pada umumnya, lokasi SLB berada di Ibu Kota Kabupaten. Padahal anak-anak
berkelainan tersebar hampir di seluruh daerah (Kecamatan/Desa), tidak hanya di Ibu
Kota Kabupaten. Akibatnya, sebagian anak-anak berkelainan, terutama yang
kemampuan ekonomi orang tuanya lemah, terpaksa tidak disekolahkan karena lokasi
SLB jauh dari rumah; sementara kalau akan disekolahkan di SD terdekat, SD tersebut
tidak bersedia menerima karena merasa tidak mampu melayaninya. Sebagian yang
lain, mungkin selama ini dapat diterima di SD terdekat, namun karena ketiadaan
pelayanan khusus bagi mereka, akibatnya mereka beresiko tinggal kelas dan akhirnya
putus sekolah. Permasalahan di atas akan berakibat pada kegagalan program wajib
belajar.

Untuk mengantisipasi hal di atas, dan dalam rangka menyukseskan wajib belajar
pendidikan dasar, dipandang perlu meningkatkan perhatian terhadap anak-anak
berkelainan, baik yang telah memasuki sekolah umum (SD) tetapi belum
mendapatkan pelayanan pendidikan khusus maupun anak-anak berkelainan yang
belum sempat mengenyam pendidikan sama sekali karena tidak diterima di SD
terdekat atau karena lokasi SLB jauh dari tempat domisilinya.
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional memberikan warna lain dalam penyediaan pendidikan bagi anak
berkelainan. Pada penjelasan pasal 15 dan pasal 32 tentang pendidikan khusus
disebutkan bahwa pendidikan khusus merupakan pendidikan untuk peserta didik yang
berkelainan atau peserta didik yang memiliki kecerdasan luar biasa yang
diselenggarakan secara inklusif atau berupa satuan pendidikan khusus pada tingkat
pendidikan dasar dan menengah. Pasal inilah yang memungkinkan terobosan bentuk
pelayanan pendidikan bagi anak berkelainan berupa penyelenggaraan pendidikan
inklusif.
Istilah inklusif mulai digunakan untuk menggantikan istilah pendidikan luar biasa 6.
Di Amerika Serikat misalnya, perubahan model pendidikan anak berkekhususan
sudah berlangsung mulai tahun 70-an. Tujuan dari perubahan itu tidak lain adalah
peniadaan diskriminasi pendidikan bagi populasi individu berkekhususan. Indonesia
juga mengalami perkembangan yang hampir sama. Sampai saat ini terdapat banyak
sekolah yang mulai membuka program pendidikan inklusif7. Yang melandasi
pelaksanaan pendidikan inklusif ini secara umum adalah semangat egalitarianisme
yang berarti terdapat kesempatan yang sama bagi semua anak untuk memperoleh
pendidikan. Masing-masing anak harus mendapatkan pengalaman belajar yang
6

Ronald L. Taylor, Assesment of Exceptional Students; Educational and Psychological Procedures,


(New Jersey: Pearson Education Inc., 2009), Cet. Ke-8, h. 4-6.
7
Agnes Tri Harjaningrum, dkk., Peranan Orang Tua dan Praktisi dalam Membantu Tumbuh
Kembang Anak Berbakat Melalui Pemahaman Teori dan Tren Pendidikan, (Jakarta: Prenada, 2007), h.
8-9.

berbeda-beda. Pengalaman yang berbeda ini tidak meniscayakan adanya pendidikan


yang dipisahkan, namun berangkat dari perbedaan yang terdapat dalam individu
anak8.
Menurut data Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
(Dirjen Mandikdasmen) Departemen Pendidikan Nasional, jumlah sekolah yang
menyelenggarakan pendidikan Inklusif yaitu sebanyak 814 sekolah dengan jumlah
siswa mencapai 15.1819. Secara operasional, aturan mengenai sekolah inklusif ini
berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional
Pendidikan. Selain itu, pemerintah melalui Dirjen Mandikdasmen juga telah
mengeluarkan Surat Edaran Dirjen Mandikdasmen No. 380/C.C6/MN/2003 tanggal
20 Januari 2003 Perihal Pendidikan Inklusif 10. Aturan terbaru yang mengatur
pendidikan inklusif yaitu Peraturan Menteri (Permen) Pendidikan Nasional Nomor 70
Tahun 2009 Tentang Pendidikan Inklusif Bagi Peserta Didik yang Memiliki Kelainan
dan Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa.
Selaras dengan semangat otonomi daerah, pengelolaan pendidikan inklusif
didasarkan atas Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Penyelenggaraan pendidikan
inklusif di tingkat daerah juga telah memiliki payung hukum tingkat daerah. Sebagai
ibukota Indonesia dan memiliki otonomi, Daerah Khusus Ibukota Jakarta memiliki
aturan penyelenggaraan pendidikan inklusif lewat Peraturan Gubernur (Pergub)
Nomor 116 Tahun 2007 Tentang Penyelenggaraan Pendidikan Inklusi.
Sampai saat ini, Provinsi DKI Jakarta sudah memiliki 164 Sekolah penyelenggara
pendidikan inklusif dari mulai tingkat TK, SD, SMP, dan SMA/SMK. Secara
8

Louis A. Fliegler, Curriculum Implementation dalam Curriculum Planning for The Gifted, (New
Jersey: Prentice Hall Inc., 1961), h. 372-373.
9
Direktorat Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Policy Brief, Sekolah Inklusif;
Membangun Pendidikan Tanpa Diskriminasi, No. 9. Th.II/2008, Departemen Pendidikan Nasional, h.
5.
10
Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan
Menengah Departemen Pendidikan Nasional, Pedoman Umum Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif,
h. 13.

terperinci jumlah tersebut terdiri dari TK sebanyak 3, SD sebanyak 120, SMP


sebanyak 31, dan SMA/SMK sebanyak 10 11. Jumlah ini bukanlah jumlah ideal sesuai
dengan yang dipersyaratkan dalam Pergub Nomor 116 Tahun 2007. Dalam pasal 4
disebutkan bahwa setiap kecamatan sekurang-kurangnya memiliki 3 (tiga) TK/RA,
SD/MI dan 1 (satu) SMP/MTs yang menyelenggarakan pendidikan inklusi. Setiap
kotamadya sekurang-kurangnya memiliki 3 (tiga) SMA/SMK atau MA/MAK yang
menyelenggarakan pendidikan inklusi12.
Provinsi DKI Jakarta memiliki 5 kotamadya dan 1 kabupaten dengan 44
kecamatan13. Dengan 5 kotamadya dan kabupaten serta kecamatan sebanyak itu,
seharusnya jumlah sekolah penyelenggara pendidikan inklusi, sesuai dengan Pergub
Nomor 116 Tahun 2007, di tingkat TK/RA dan SD/MI adalah sebanyak 132 sekolah.
Jumlah SMP/MTs sebanyak 44 sekolah dan jumlah SMA/SMK dan MA/MAK
sebanyak 15 Sekolah.
Selain jumlah yang belum memenuhi kondisi ideal yang seharusnya,
penyelenggaraan pendidikan inklusi juga masih menemui berbagai kendala. Dalam
salah satu laporan penelitian berjudul Pengkajian Pendidikan Inklusif bagi Anak
Berkebutuhan Khusus pada Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah, disebutkan
bahwa efektifitas pendidikan inklusif masih dapat dilihat dinamikanya hanya di
tingkat SD, karena di tingkat lanjutan dapat dikatakan tidak ada model pendidikan
inklusif, yang ada adalah model pendidikan integrasi (ABK mengikuti semua
kegiatan dan aktivitas di sekolah reguler tanpa ada bantuan dan penanganan
khusus)14.

11

Lampiran Keputusan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta Nomor 1190/2010 Tentang
Penunjukkan Nama-nama TK, SD, SMP, dan SMA/SMK Penyelenggara Pendidikan Inklusif di
Provinsi DKI Jakarta Tahun 2010.
12
Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 116 Tahun 2007.
13
Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan Provinsi DKI Jakarta, dari
http://www.depdagri.go.id/media/filemanager/2010/01/29/1/1/11__dki_jakarta.pdf, 23 Januari 2011
14
Penelitian ini dilakukan dalam skala nasional dengan mengambil sampel di beberapa provinsi
penyelenggara pendidikan inklusi. Lihat Pengkajian Pendidikan Inklusif bagi Anak Berkebutuhan

Pemerintah sendiri mengakui bahwa sampai saat ini tidak semua sekolah umum
mau menerima anak-anak dengan kebutuhan khusus. Alasan yang dikemukakan
karena tidak ada guru khusus yang menangani mereka dan tidak ada fasilitas yang
memadai. Kengganan untuk mengakomodasi anak berkebutuhan khusus disebabkan
tidak adanya kesadaran dan minimnya pemahaman tentang pendidikan inklusif.
Kengganan tersebut juga lebih banyak terjadi di sekolah-sekolah di kota besar15.
Sebagai model pendidikan yang baru memang wajar bila masih terdapat beberapa
permasalahan terkait pendidikan inklusif. Namun sangat disayangkan bila pemerintah
tidak secara serius menggarap penyelenggaraan pendidikan inklusif. Pendidikan
inklusi diharapkan dapat memecahkan salah satu persoalan dalam penanganan
pendidikan

bagi

anak

berkelainan

selama

ini.

Pemerintah

menyatakan

ketidakmungkinan membangun SLB di tiap Kecamatan/Desa karena akan memakan


biaya yang sangat mahal dan waktu yang cukup lama. Selain itu, penyelenggaraan
pendidikan inklusif juga akan membantu percepatan pencapaian target program wajib
belajar 9 tahun yang telah dicanangkan pemerintah.
Mengingat urgensi permasalahan mengenai pendidikan inklusif di atas, penulis
tertarik untuk menulis skripsi berjudul Analisis Kebijakan Penyelenggaraan
Pendidikan Inklusif di Provinsi DKI Jakarta.

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah mengenai kebijakan penyelenggaraan
pendidikan inklusif, maka dapat diidentifikasi masalah penelitian sebagai berikut:
1. Analisis kebijakan penyelenggaraan pendidikan inklusif di Provinsi DKI
Jakarta belum direncanakan dengan baik
Khusus
pada
Jenjang
Pendidikan
Dasar
dan
Menengah,
dari
http://puslitjaknov.org/data/file/2008/makalah_undangan/DYAH%20S_Pengkajian%20Pendidikan%2
0Inklusif.pdf, 14 Januari 2010.
15
Perlu Pelatihan Khusus untuk Guru; Sekolah Inklusi Butuh Pengajar, Kompas, Rabu, 3 Maret
2010.

2. Kebijakan penyelenggaraan pendidikan inklusif di Provinsi DKI Jakarta belum


diimplementasikan dengan efektif
3. Kebijakan penyelenggaraan pendidikan inklusi di provinsi DKI Jakarta belum
disosialisasikan secara maksimal
4. Belum adanya pemahaman yang sama mengenai kebijakan penyelenggaraan
pendidikan inklusif di Provinsi DKI Jakarta
5. Belum adanya persepsi yang sama mengenai urgensi penyelenggaraan
pendidikan inklusif di Provinsi DKI Jakarta
6. Kurangnya guru-guru yang dibutuhkan dalam penyelenggaraan pendidikan
inklusif di Provinsi DKI Jakarta

C. Pembatasan Masalah
Mengingat luasnya cakupan permasalahan dalam kebijakan penyelenggaraan
pendidikan inklusif di DKI Jakarta, untuk memfokuskan penelitian dan efisiensi
waktu, maka penelitian ini hanya dibatasi pada:
1. Kebijakan penyelenggaraan pendidikan inklusif di Provinsi DKI Jakarta
2. Implementasi kebijakan penyelenggaraan pendidikan inklusif di Provinsi DKI
Jakarta

D. Perumusan Masalah
Dari pembatasan terhadap masalah-masalah yang muncul, maka rumusan masalah
dalam penelitian ini yaitu Bagaimana kebijakan penyelenggaraan pendidikan
inklusif dilaksanakan di Provinsi DKI Jakarta?

E. Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini yaitu:
1. Bagi pemerintah, sebagai bahan tambahan pertimbangan dalam pengambilan
kebijakan penyelenggaraan pendidikan inklusif

2. Bagi sekolah, sebagai pengetahuan mengenai kebijakan pemerintah dalam


penyelenggaraan pendidikan inklusif
3. Bagi peneliti, sebagai pengetahuan dan pengalaman

BAB II
KAJIAN TEORI
A. Kebijakan
1. Pengertian Kebijakan
Kebijakan merupakan terjemahan dari kata policy yang berasal dari bahasa
Inggris. Kata policy diartikan sebagai sebuah rencana kegiatan atau pernyataan
mengenai tujuan-tujuan, yang diajukan atau diadopsi oleh suatu pemerintahan,
partai politik, dan lain-lain. Kebijakan juga diartikan sebagai pernyataanpernyataan mengenai kontrak penjaminan atau pernyataan tertulis 16. Pengertian ini
mengandung arti bahwa yang disebut kebijakan adalah mengenai suatu rencana,
pernyataan tujuan, kontrak penjaminan dan pernyataan tertulis baik yang
dikeluarkan oleh pemerintah, partai politik, dan lain-lain. Dengan demikian
siapapun dapat terkait dalam suatu kebijakan.

16

AS Hornby, Oxford Advanced Learners Dictionary of Current English, (Oxford: Oxford


University Press, 1995), cet. ke-5, h. 893.

James E. Anderson memberikan pengertian kebijakan sebagai serangkaian


tindakan yang mempunyai tujuan tertentu yang diikuti dan dilaksanakan oleh
seorang pelaku atau sekelompok pelaku guna memecahkan suatu masalah
tertentu17.
Pengertian ini memberikan pemahaman bahwa kebijakan dapat berasal dari
seorang pelaku atau sekelompok pelaku yang berisi serangkaian tindakan yang
mempunyai tujuan tertentu. Kebijakan ini diikuti dan dilaksanakan oleh seorang
pelaku atau sekelompok pelaku dalam rangka memecahkan suatu masalah tertentu.
James E. Anderson secara lebih jelas menyatakan bahwa yang dimaksud
kebijakan adalah kebijakan yang dikembangkan oleh badan-badan dan pejabatpejabat pemerintah. Pengertian ini, menurutnya, berimplikasi: (1)bahwa kebijakan
selalu mempunyai tujuan tertentu atau merupakan tindakan yang berorientasi pada
tujuan, (2)bahwa kebijakan itu berisi tindakan-tindakan atau pola-pola tindakan
pejabat-pejabat pemerintah, (3)bahwa kebijakan merupakan apa yang benar-benar
dilakukan oleh pemerintah, (4)bahwa kebijakan bisa bersifat positif dalam arti
merupakan beberapa bentuk tindakan pemerintah mengenai suatu masalah tertentu
atau bersifat negatif dalam arti merupakan keputusan pejabat pemerintah untuk
tidak melakukan sesuatu, (5)bahwa kebijakan, dalam arti positif, didasarkan pada
peraturan perundang-undangan dan bersifat memaksa (otoritatif) 18. Dalam
pengertian ini, James E. Anderson menyatakan bahwa kebijakan selalu terkait
dengan apa yang dilakukan atau tidak dilakukan oleh pemerintah.
Pernyataan bahwa kebijakan terkait

dengan pemerintah tidak hanya

disampaikan oleh James E. Anderson. George C. Edwards III dan Ira Sharkansky
mengemukakan pengertian kebijakan sebagai apa yang dinyatakan dan dilakukan
atau tidak dilakukan oleh pemerintah. Kebijakan itu dapat berupa sasaran atau
tujuan dari program-program pemerintah. Penetapan kebijakan tersebut dapat
17

James E. Anderson, Public Policy Making, (New York: Holt, Rinehart and Winston, 1984), cet.
ke-3, h. 3.
18
James, Public Policy Making, h. 3-5.

secara jelas diwujudkan dalam peraturan-peraturan perundang-undangan atau


dalam pidato-pidato pejabat teras pemerintah serta program-program dan tindakantindakan yang dilakukan pemerintah19.
Pengertian serupa juga dikemukakan oleh Thomas R. Dye. Ia menyatakan
bahwa kebijakan merupakan apa saja yang dipilih oleh pemerintah untuk
dilakukan atau tidak dilakukan20.
Dalam mendudukkan pengertian kebijakan, James Anderson mencontohkan
penggunaan istilah kebijakan seperti dalam kalimat Kebijakan Ekonomi
Amerika, Kebijakan Minyak Arab Saudi, atau Kebijakan Pertanian Eropa
Barat. Menurutnya, istilah kebijakan dapat juga digunakan untuk istilah yang
lebih spesifik dalam arti tidak hanya dilekatkan untuk penggunaan dalam lingkup
makro (baca: negara). Contoh yang dikemukakan James E. Anderson seperti pada
penggunaan dalam kalimat Kebijakan Kota Chicago dalam Polusi di Danau
Michigan dari Milwaukee, Wisconsin 21.
Pengertian lain mengenai kebijakan dikemukakan oleh M. Irfan Islamy. Ia
memberikan pengertian kebijakan sebagai serangkaian tindakan yang ditetapkan
dan dilaksanakan atau tidak dilaksanakan oleh pemerintah yang mempunyai tujuan
atau berorientasi pada tujuan tertentu demi kepentingan seluruh masyarakat 22.
Kebijakan yang dikemukakan oleh Irfan Islamy ini mencakup tindakantindakan yang ditetapkan pemerintah. Kebijakan ini tidak cukup hanya ditetapkan
tetapi dilaksanakan dalam bentuk nyata. Kebijakan yang ditetapkan oleh
pemerintah tersebut juga harus dilandasi dengan maksud dan tujuan tertentu.
Terakhir, pengertian Irfan Islamy meniscayakan adanya kepentingan bagi seluruh
masyarakat yang harus dipenuhi oleh suatu kebijakan dari pemerintah.
19

George C. Edwards III dan Ira Sharkansky, The Policy Predicament: Making and Implementing
Public Policy, (San Francisco: W.H. Freeman and Company, 1978), h.2.
20
Thomas R. Dye, Understanding Public Policy, (New Jersey: Pearson Education Inc., 2005), h. 1.
21
James E. Anderson, dkk., Public Policy and Politics in America, (California: Brooks/Cole
Publishing Company, 1984), cet. ke-2, h. 3.
22
M. Irfan Islamy, Prinsip-Prinsip Perumusan Kebijaksanaan Negara, (Jakarta: Bina Aksara,
1988), cet. ke-3, h. 20.

James Anderson menyatakan adanya keharusan untuk membedakan antara apa


yang ingin dilaksanakan pemerintah dengan apa yang sebenarnya mereka lakukan
di lapangan. Hal ini menjadi penting karena kebijakan bukan hanya sebuah
keputusan sederhana untuk memutuskan sesuatu dalam suatu momen tertentu,
namun kebijakan harus dilihat sebagai sebuah proses23. Untuk itulah pengertian
kebijakan sebagai suatu arah tindakan dapat dipahami secara lebih baik bila
konsep ini dirinci menjadi beberapa kategori. Kategori-kategori itu antara lain
adalah tuntutan-tuntutan kebijakan (policy demands), keputusan-keputusan
kebijakan (policy decisions), pernyataan-pernyataan kebijakan (policy statements),
hasil-hasil kebijakan (policy outputs), dan dampak-dampak kebijakan (policy
outcomes)24.
Tuntutan-tuntutan kebijakan adalah tuntutan-tuntutan yang dibuat oleh aktoraktor swasta atau pemerintah, ditujukan kepada pejabat-pejabat pemerintah dalam
suatu sistem politik. Keputusan kebijakan dimengerti sebagai keputusan-keputusan
yang dibuat oleh pejabat-pejabat pemerintah yang mengesahkan atau memberi
arah dan substansi kepada tindakan-tindakan kebijakan publik. Sedangkan
pernyataan-pernyataan kebijakan adalah pernyataan-pernyataan resmi atau
artikulasi-artikulasi kebijakan publik. Hasil-hasil kebijakan lebih merujuk pada
manifestasi nyata dari kebijakan, yaitu hal-hal yang sebenarnya dilakukan menurut
keputusan-keputusan dan pernyataan-pernyataan kebijakan. Adapun dampakdampak kebijakan lebih merujuk pada akibat-akibatnya bagi masyarakat, baik
yang diinginkan atau tidak diinginkan yang berasal dari tindakan atau tidak adanya
tindakan pemerintah.
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa kebijakan
merupakan serangkaian tindakan yang menjadi keputusan pemerintah untuk

23

James, dkk., Public Policy and Politics in America, h. 3.


James E. Anderson, Public Policy Making: An Introduction, (Boston: Houghton Mifflin
Company: 1994), cet. ke-II, h. 6-8. Lihat juga Budi Winarno, Kebijakan Publik: Teori dan Proses,
(Yogyakarta: Media Presindo, 2007), h. 19-21.
24

melakukan atau tidak melakukan sesuatu yang bertujuan untuk memecahkan


masalah demi kepentingan masyarakat.
2. Tahap-tahap Kebijakan
Dalam pembuatan kebijakan terdapat tahap-tahap yang harus dilewati agar
suatu kebijakan dapat disusun dan dilaksanakan dengan baik. Kebijakan yang
dimunculkan sebagai sebuah keputusan terlebih dahulu melewati beberapa tahap
penting. Tahap-tahap penting tersebut sangat diperlukan sebagai upaya melahirkan
kebijakan yang baik dan dapat diterima sebagai sebuah keputusan. Tahap-tahap
dalam kebijakan tersebut yaitu:
a. Penyusunan Agenda
Sebelum kebijakan ditetapkan dan dilaksanakan, pembuat kebijakan perlu
menyusun agenda dengan memasukkan dan memilih masalah-masalah mana
saja yang akan dijadikan prioritas untuk dibahas 25. Masalah-masalah yang
terkait dengan kebijakan akan dikumpulkan sebanyak mungkin untuk
diseleksi.
Pada tahap ini beberapa masalah dimasukkan dalam agenda untuk dipilih.
Terdapat masalah yang ditetapkan sebagai fokus pembahasan, masalah yang
mungkin ditunda pembahasannya, atau mungkin tidak disentuh sama sekali.
Masing-masing masalah yang dimasukkan atau tidak dimasukkan dalam
agenda memiliki argumentasi masing-masing26. Pihak-pihak yang terlibat
dalam tahap penyusunan agenda harus secara jeli melihat masalah-masalah
mana saja yang memiliki tingkat relevansi tinggi dengan masalah kebijakan.
Sehingga pemilihan dapat menemukan masalah kebijakan yang tepat.
b. Formulasi Kebijakan
Masalah yang sudah dimasukkan dalam agenda kebijakan kemudian dibahas
oleh pembuat kebijakan dalam tahap formulasi kebijakan. Dari berbagai
25

Robert B. Denhardt dan Janet V. Denhardt, Public Administration: An Action Orientation,


(Boston: Wadsworth, 2009), h. 50-52.
26
Winarno, Kebijakan Publik, h. 33.

masalah yang ada tersebut ditentukan masalah mana yang merupakan


masalah yang benar-benar layak dijadikan fokus pembahasan27.
c. Adopsi Kebijakan
Dari sekian banyak alternatif yang ditawarkan, pada akhirnya akan diadopsi
satu alternatif pemecahan yang disepakati untuk digunakan sebagai solusi
atas permasalahan tersebut28. Tahap ini sering disebut juga dengan tahap
legitimasi kebijakan (policy legitimation) yaitu kebijakan yang telah
mendapatkan legitimasi29. Masalah yang telah dijadikan sebagai fokus
pembahasan memperoleh solusi pemecahan berupa kebijakan yang nantinya
akan diimplementasikan.
d. Implementasi Kebijakan
Pada tahap inilah alternatif pemecahan yang telah disepakati tersebut
kemudian dilaksanakan. Pada tahap ini, suatu kebijakan seringkali
menemukan berbagai kendala. Rumusan-rumusan yang telah ditetapkan
secara terencana dapat saja berbeda di lapangan. Hal ini disebabkan berbagai
faktor yang sering mempengaruhi pelaksanaan kebijakan.
Kebijakan yang telah melewati tahap-tahap pemilihan masalah tidak serta
merta berhasil dalam

implementasi.

Dalam

rangka

mengupayakan

keberhasilan dalam implementasi kebijakan, maka kendala-kendala yang


dapat menjadi penghambat harus dapat diatasi sedini mungkin.
e. Evaluasi Kebijakan
Pada tahap ini, kebijakan yang telah dilaksanakan akan dievaluasi, untuk
dilihat sejauh mana kebijakan yang dibuat telah mampu memecahkan
masalah atau tidak. Pada tahap ini, ditentukan kriteria-kriteria yang menjadi
dasar untuk menilai apakah kebijakan telah meraih hasil yang diinginkan 30.

27

Winarno, Kebijakan Publik, h. 34.


Winarno, Kebijakan Publik, h. 34.
29
Robert, Public Administration, h. 53.
30
Winarno, Kebijakan Publik, h. 34.
28

Pada tahap ini, penilaian tidak hanya menilai implementasi dari kebijakan.
Namun lebih jauh, penilaian ini akan menentukan perubahan terhadap
kebijakan. Suatu kebijakan dapat tetap seperti semula, diubah atau
dihilangkan sama sekali31.
3. Analisis Kebijakan
Analisis kebijakan merupakan penelitian sosial terapan yang secara sistematis
disusun dalam rangka mengetahui substansi dari kebijakan agar dapat diketahui
secara jelas informasi mengenai masalah-masalah yang dijawab oleh kebijakan
dan masalah-masalah yang mungkin timbul sebagai akibat dari penerapan
kebijakan. Ruang lingkup dan metode analisis kebijakan umumnya bersifat
deskriptif dan faktual mengenai sebab-sebab dan akibat-akibat suatu kebijakan32.
Penelitian kebijakan sedapat mungkin melihat berbagai aspek dari kebijakan
agar dapat menghasilkan informasi yang lengkap. Informasi mengenai masalahmasalah yang dijawab oleh kebijakan serta masalah-masalah yang ditimbulkan
dari penerapan kebijakan menjadi fokus dari analisis kebijakan.
Sudarwan Danim menyatakan bahwa proses penelitian kebijakan pada
hakikatnya

merupakan

penelitian

yang

dimaksudkan

guna

melahirkan

rekomendasi untuk pembuat kebijakan dalam rangka pemecahan masalah sosial.


Kegiatan penelitian ini dilakukan untuk mendukung kebijakan 33. Sudarwan Danim
secara jelas menyatakan hasil yang ingin dicapai dari penelitian kebijakan yaitu
menghasilkan rekomendasi yang mungkin diperlukan pembuat kebijakan dalam
rangka pemberian solusi terhadap masalah-masalah sosial. Selain itu, penelitian
kebijakan perlu dipahami sebagai bentuk dukungan kepada kebijakan itu sendiri.
Rekomendasi yang dihasilkan dari proses penelitian kebijakan dapat berupa
dukungan penuh terhadap kebijakan, kritik dan saran mengenai bagian mana dari
31

Robert, Public Administration, h. 55.


William N. Dunn, Pengantar Analisis Kebijakan Publik, (Yogyakarta: Gajah Mada University
Press, 2000), cet. ke-IV, h. 95-97.
33
Sudarwan Danim, Pengantar Studi Penelitian Kebijakan, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2005), cet.
ke-III, h. 20-23.
32

kebijakan yang perlu diperbaiki, atau dapat juga berupa rekomendasi agar
kebijakan tidak lagi diterapkan.
Karakteristik dari penelitian kebijakan secara terperinci dijelaskan oleh Allen
D. Putt dan J. Fred Springer. Mereka menyatakan bahwa penelitian kebijakan
dicirikan sebagai penelitian yang terfokus pada manusia, plural, multi-perspektif,
sistematis, berhubungan dengan keputusan, dan kreatif 34.
Penelitian

mengenai

kebijakan

berkaitan

erat

dengan

manusia

dan

permasalahannya. Hasil yang ingin dicapai dari penelitian kebijakan yaitu


mengenai informasi yang diformulasikan dalam bentuk rekomendasi dalam rangka
pemecahan masalah yang terkait dengan kebijakan.
Karakteristik plural dari penelitian kebijakan berasal dari hubungan penelitian
dengan manusia. Penelitian kebijakan tidak dapat dipisahkan dari konflik nilai dan
kepentingan terdapat dari interaksi manusia.
Karakteristik yang plural meniscayakan adanya pendekatan penelitian yang
juga plural, dalam arti multi-perspektif. Informasi yang diformulasikan dalam
bentuk rekomendasi sebagai hasil yang ingin dicapai oleh penelitian kebijakan
mengharuskan adanya pendekatan yang menyeluruh sehingga informasi yang
dihasilkan juga dapat berupa rekomendasi yang sesuai dengan kondisi yang ada.
Sebagai sebuah penelitian, penelitian kebijakan harus secara sistematis disusun
berdasarkan prosedur penelitian sebagai upaya untuk memperoleh informasi
terkait dengan kebijakan.
Penelitian kebijakan selalu terkait dengan keputusan. Keputusan yang
dihasilkan berasal dari rekomendasi yang disampaikan. Keputusan dapat berupa
keputusan untuk tetap melanjutkan kebijakan, keputusan untuk memperbaiki
kebijakan atau keputusan untuk menghapus atau tidak melanjutkan kebijakan.
Informasi yang berkaitan dengan kebijakan berupa masalah kebijakan, masa
depan kebijakan, aksi kebijakan, hasil kebijakan, dan kinerja kebijakan. Analisis
34

Allen D. Putt dan J. Fred Springer, Policy Research; Concepts, Methods, and Application, (New
Jersey: Prentice Hall, 1989), h. 19-24.

kebijakan menggabungkan lima prosedur umum yang lazim dipakai dalam


pemecahan masalah manusia, yaitu: definisi, prediksi, preskripsi, deskripsi dan
evaluasi35. Masing-masing dari informasi kebijakan berkaitan dengan prosedur
kebijakan. Secara lebih jelas Dunn menggambarkan hubungan antara lima
informasi kebijakan dan lima prosedur kebijakan yang ia formulasikan sebagai
analisis kebijakan yang berorientasi pada masalah dengan gambar di bawah ini:

Kinerja
Kebijakan

Evaluasi

Peramalan

Masalah
Kebijakan

Perumusan Masalah

Hasil
Kebijakan

Perumusan Masalah

Perumusan Masalah

Masa Depan
Kebijakan

Perumusan Masalah
Pemantauan

Rekomendasi

Aksi
Kebijakan

Gambar 1. analisis kebijakan yang berorientasi pada masalah


(William Dunn, 2000: 21)

Kelima informasi yang terkait dengan kebijakan saling berkaitan satu sama lain
seperti ditunjukkan dalam gambar 1. Tanda panah yang menghubungkan tiap
komponen informasi menggambarkan proses dinamis dimana satu tipe informasi
dipindahkan ke informasi lain dengan menggunakan prosedur analisis kebijakan
yang tepat.

35

Dunn, Pengantar Analisis, , h. 17-21.

Perumusan masalah (definisi) merupakan upaya untuk mengumpulkan


informasi mengenai masalah-masalah yang menimbulkan masalah kebijakan.
Melalui prosedur perumusan masalah dapat diidentifikasi mengenai masalah
kebijakan yang tepat yang akan dijadikan sebagai fokus. Peramalan (prediksi)
berisi informasi mengenai kondisi yang mungkin dapat terjadi pada masa
mendatang sebagai konsekuensi dari penerapan kebijakan. Rekomendasi
(preskripsi) menyediakan informasi mengenai kegunaan dari dari konsekuensi di
masa mendatang dari suatu pemecahan masalah. Pemantauan (deskripsi)
menghasilkan informasi tentang konsekuensi sekarang dari penerapan kebijakan.
Evaluasi menyediakan informasi mengenai kegunaan dari pemecahan suatu
masalah.
Analisis kebijakan dapat dilaksanakan dengan beberapa bentuk. Menurut Dunn
terdapat tiga bentuk analisis kebijakan, yaitu:
a. analisis kebijakan prospektif
analisis kebijakan prospektif adalah analisis kebijakan yang mengarahkan
kajiannya pada konsekuensi-konsekuensi kebijakan sebelum suatu kebijakan
diterapkan. Model ini dapat disebut sebagai model prediktif.
b. analisis kebijakan retrospektif
analisis kebijakan retrospektif adalah analisis kebijakan yang dilakukan
terhadap akibat-akibat kebijakan setelah suatu kebijakan diimplementasikan.
Model ini biasanya disebut sebagai model evaluatif.
c. analisis kebijakan integratif
analisis kebijakan integratif adalah bentuk perpaduan antara analisis
kebijakan prospektif dan analisis kebijakan retrospektif 36.
Bentuk analisis kebijakan prospektif memiliki kelemahan karena hanya
berkutat pada analisis kebijakan yang mengarahkan perhatian pada konsekuensi
kebijakan sebelum kebijakan diterapkan. Pun dengan bentuk analisis kebijakan
retrospektif yang hanya memfokuskan kajiannya pada konsekuensi kebijakan
setelah kebijakan diterapkan. Maka analisis kebijakan seharusnya menggunakan

36

Dunn, Pengantar Analisis, h. 117-124.

bentuk kebijakan integratif, yaitu dengan memadukan antara analisis kebijakan


prospektif dan analisis kebijakan retrospektif.
Pada umumnya, analisis kebijakan memfokuskan kajiannya pada tiga hal.
Ketiga fokus tersebut merupakan pijakan yang dipedomani dalam melakukan
analisis kebijakan. Tiga fokus tersebut, yaitu:
a. Definisi masalah sosial
b. Implementasi kebijakan
c. Akibat-akibat kebijakan37
Dengan memfokuskan kajian pada ketiga hal diatas, proses analisis kebijakan
akan berusaha mendefinisikan secara jelas permasalahan yang akan menjadi fokus
kajian untuk ditanggulangi oleh kebijakan. Setelah masalah yang menjadi fokus
kajian analisis kebijakan ditentukan, analisis kebijakan bertugas menentukan
kebijakan yang sesuai dengan masalah sehingga masalah dapat dipecahkan dengan
baik.
Kebijakan yang telah ditetapkan dan diimplementasikan tentu menghasilkan
konsekuensi dalam bentuk akibat-akibat. Akibat yang ditimbulkan dapat berupa
akibat positif dan atau akibat negatif. Untuk itulah, analisis kebijakan
mengupayakan upaya prediktif dengan meramalkan akibat yang dapat ditimbulkan
sebelum

kebijakan

diimplementasikan

dan

atau

sesudah

kebijakan

diimplementasikan.
Dengan demikian, analisis kebijakan selalu berkaitan dengan hal-hal sebelum
dan sesudah kebijakan ditetapkan dan diimplementasikan. Analisis kebijakan
berusaha memberikan definisi yang jelas mengenai kedudukan suatu masalah
kebijakan, prediksi yang berkaitan dengan kebijakan, rekomendasi atau preskripsi
yang mungkin dapat bermanfaat bagi kebijakan, deskripsi atau pemantauan
terhadap kebijakan, dan evaluasi mengenai kebijakan. Semuanya berjalan sebagai
37

Ismail Nawawi, Public Policy; Analisis, Strategi, Advokasi, Teori, dan Praktek, (Surabaya: PMN,
2009), h. 45-46. Lihat juga Edi Suharto, Analisis Kebijakan Publik; Panduan Praktis Mengkaji
Masalah dan Kebijakan Sosial, (Bandung: CV. Alfabeta, 2005), h. 87.

proses yang runtut dan sistematis dalam rangka mendukung kebijakan yang
bertujuan untuk mengatasi masalah.

B. Pendidikan Inklusif
1. Pengertian Pendidikan Inklusif
Istilah inklusif memiliki ukuran universal. Istilah inklusif dapat dikaitkan
dengan persamaan, keadilan, dan hak individual dalam pembagian sumber-sumber
seperti politik, pendidikan, sosial, dan ekonomi. Menurut Reid, masing-masing
dari aspek-aspek tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan saling berkaitan satu
sama lain38. Reid ingin menyatakan bahwa istilah inklusif berkaitan dengan banyak
aspek hidup manusia yang didasarkan atas prinsip persamaan, keadilan, dan hak
individu.
Dalam ranah pendidikan, istilah inklusif dikaitkan dengan model pendidikan
yang tidak membeda-bedakan individu berdasarkan kemampuan dan atau kelainan
yang dimiliki individu. Dengan mengacu pada istilah inklusif yang disampaikan
Reid di atas, pendidikan inklusif didasarkan atas prinsip persamaan, keadilan, dan
hak individu.
Istilah pendidikan inklusif digunakan untuk mendeskripsikan penyatuan anakanak berkelainan (penyandang hambatan/cacat) ke dalam program sekolah.
Konsep inklusi memberikan pemahaman mengenai pentingnya penerimaan anakanak yang memiliki hambatan ke dalam kurikulum, lingkungan, dan interaksi
sosial yang ada di sekolah39.
MIF. Baihaqi dan M. Sugiarmin menyatakan bahwa hakikat inklusif adalah
mengenai hak setiap siswa atas perkembangan individu, sosial, dan intelektual.
Para siswa harus diberi kesempatan untuk mencapai potensi mereka. Untuk
38

Gavin Reid, Dyslexia and Inclusion; Classroom Approaches for Assesment, Teaching and
Learning, (London: David Fulton Publisher, 2005), h. 88.
39
J. David Smith, Inklusi, Sekolah Ramah untuk Semua, (Bandung: Penerbit Nuansa, 2006), h. 45

mencapai

potensi

tersebut,

sistem pendidikan

harus

dirancang

dengan

memperhitungkan perbedaan-perbedaan yang ada pada diri siswa. Bagi mereka


yang memiliki ketidakmampuan khusus dan/atau memiliki kebutuhan belajar yang
luar biasa harus mempunyai akses terhadap pendidikan yang bermutu tinggi dan
tepat40.
Baihaqi dan Sugiarmin menekankan bahwa siswa memiliki hak yang sama
tanpa dibeda-bedakan berdasarkan perkembangan individu, sosial, dan intelektual.
Perbedaan yang terdapat dalam diri individu harus disikapi dunia pendidikan
dengan mempersiapkan model pendidikan yang disesuaikan dengan perbedaanperbedaan individu tersebut. Perbedaan bukan lantas melahirkan diskriminasi
dalam pendidikan, namun pendidikan harus tanggap dalam menghadapi
perbedaan.
Daniel P. Hallahan mengemukakan pengertian pendidikan inklusif sebagai
pendidikan yang menempatkan semua peserta didik berkebutuhan khusus dalam
sekolah reguler sepanjang hari. Dalam pendidikan seperti ini, guru memiliki
tanggung jawab penuh terhadap peserta didik berkebutuhan khusus tersebut41.
Pengertian ini memberikan pemahaman bahwa pendidikan inklusif menyamakan
anak berkebutuhan khusus dengan anak normal lainnya. Untuk itulah, guru
memiliki tanggung jawab penuh terhadap proses pelaksanaan pembelajaran di
kelas. Dengan demikian guru harus memiliki kemampuan dalam menghadapi
banyaknya perbedaan peserta didik.
Senada dengan pengertian yang disampaikan Daniel P. Hallahan, dalam
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 70 Tahun 2009
disebutkan bahwa yang dimaksud dengan pendidikan inklusif adalah sistem
40

MIF. Baihaqi dan M. Sugiarmin, Memahami dan Membantu Anak ADHD, (Bandung: PT. Refika
Aditama, 2006), h. 75-76.
41
Daniel P. Hallahan dkk., Exceptional Learners: An Introduction to Special Education, (Boston:
Pearson Education Inc., 2009), cet. ke-10, h. 53.

penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua peserta


didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat
istimewa untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam lingkungan
pendidikan secara bersama-sama dengan peserta didik pada umumnya 42.
Pengertian pendidikan dalam Permendiknas di atas memberikan penjelasan
secara lebih rinci mengenai siapa saja yang dapat dimasukkan dalam pendidikan
inklusif. Perincian yang diberikan pemerintah ini dapat dipahami sebagai bentuk
kebijakan yang sudah disesuaikan dengan kondisi Indonesia, sehingga pemerintah
memandang perlu memberikan kesempatan yang sama kepada semua peserta didik
dari yang normal, memilik kelainan, dan memiliki kecerdasan dan/atau bakat
istimewa untuk mengikuti pendidikan. Dengan demikian pemerintah mulai
mengubah model pendidikan yang selama ini memisah-misahkan peserta didik
normal ke dalam sekolah reguler, peserta didik dengan kecerdasan luar biasa dan
bakat istimewa ke dalam sekolah (baca: kelas) akselerasi, dan peserta didik dengan
kelainan ke dalam Sekolah Luar Biasa (SLB).
Rumusan mengenai pendidikan inklusif yang disusun oleh Direktorat
Pendidikan Sekolah Luar Biasa (PSLB) Direktorat Jenderal Manajemen
Pendidikan Dasar dan Menengah (Mandikdasmen) Kementrian Pendidikan
Nasional (Kemendiknas) mengenai pendidikan inklusif menyebutkan bahwa
pendidikan inklusif adalah sistem layanan pendidikan yang mensyaratkan anak
berkebutuhan khusus belajar di sekolah-sekolah terdekat di kelas biasa bersamasama teman seusianya. Sekolah penyelenggara pendidikan inklusif adalah sekolah
yang menampung semua murid di sekolah yang sama. Sekolah ini menyediakan
program pendidikan yang layak dan menantang, tetapi disesuaikan dengan

42

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 70 Tahun 2009 Tentang Pendidikan Inklusif Bagi
Peserta Didik yang Memiliki Kelainan dan Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa.

kemampuan dan kebutuhan setiap murid maupun bantuan dan dukungan yang
dapat diberikan oleh para guru agar anak-anak berhasil43.
Dalam ensiklopedi online Wikipedia disebutkan bahwa yang dimaksud dengan
pendidikan inklusi yaitu pendidikan yang memasukkan peserta didik berkebutuhan
khusus untuk bersama-sama dengan peserta didik normal lainnya. Pendidikan
inklusif adalah mengenai hak yang sama yang dimiliki setiap anak. Pendidikan
inklusif merupakan suatu proses untuk menghilangkan penghalang yang
memisahkan peserta didik berkebutuhan khusus dari peserta didik normal agar
mereka dapat belajar dan bekerja sama secara efektif dalam satu sekolah 44.
Pengertian-pengertian yang dikemukakan di atas secara umum menyatakan hal
yang sama mengenai pendidikan inklusif. Pendidikan inklusif berarti pendidikan
yang dirancang dan disesuaikan dengan kebutuhan semua peserta didik, baik
peserta didik yang normal maupun peserta didik berkebutuhan khusus. Masingmasing dari mereka memperoleh layanan pendidikan yang sama tanpa dibedabedakan satu sama lain.
Mereka yang berkebutuhan khusus ini dulunya adalah anak-anak yang
diberikan label (labelling) sebagai Anak Luar Biasa (ALB). Anak berkebutuhan
khusus (ABK) merupakan istilah lain untuk menggantikan istilah Anak Luar Biasa
(ALB) yang menandakan adanya kelainan khusus. Istilah lain yang juga biasa
dipakai untuk menandai anak yang lain dari yang lain ini yaitu hendaya
(impairment)45, disability dan handicap46.

43

Pedoman Umum Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif, h. 4.


Ensiklopedi
Online
Wikipedia
Inclusion
dari
http://en.wikipedia.org/wiki/Inclusion_%28education%29, 7 Juni 2010.
45
Bandi Delphie, Pembelajaran Anak Tunagrahita; Suatu Pengantar dalam Pendidikan Inklusi,
(Bandung: PT. Refika Aditama, 2006), h. 1.
46
Beberapa istilah selain ABK, seperti impairment, handicap, dan disability seringkali disamakan
dalam penggunaannya. Sebenarnya terdapat perbedaan arti dari ketiga istilah tersebut. Impairment
digunakan untuk menunjukkan kemampuan yang tidak sepenuhnya rusak/cacat. Handicap digunakan
untuk menunjukkan adanya kesulitan-kesulitan dalam penggunaan organ tubuh. Disability digunakan
44

Anak berkebutuhan khusus mempunyai karakteristik yang berbeda antara yang


satu dengan yang lain. Bandi Delphie menyatakan bahwa di Indonesia, anak
berkebutuhan khusus yang mempunyai gangguan perkembangan dan telah
diberikan layanan antara lain: Anak yang mengalami hendaya (impairment)
penglihatan (tunanetra), tunarungu, tunawicara, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras,
autism (autistic children), hiperaktif (attention deficit disorder with hyperactive),
anak dengan kesulitan belajar (learning disability atau spesific learning disability),
dan anak dengan hendaya kelainan perkembangan ganda (multihandicapped and
developmentally disabled children)47.
Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 70
Tahun 2009, anak yang menjadi korban penyalahgunaan narkoba, obat terlarang
dan zat adiktif lainnya juga dikategorikan sebagai anak berkebutuhan khusus 48.
Selain anak-anak berkebutuhan khusus yang telah disebutkan di atas, anak-anak
yang memiliki bakat dan/atau kecerdasan luar biasa juga dikategorikan sebagai
anak-anak berkebutuhan khusus.
Dengan demikian, pendidikan inklusif, sesuai dengan beberapa pengertian diatas,
selain menampung anak-anak yang memiliki kelainan juga menampung anak-anak
yang memiliki bakat dan/atau kecerdasan luar biasa agar dapat belajar bersamasama dalam satu kelas.
2. Landasan Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif
untuk menunjukkan ketidakmampuan yang ada sejak dilahirkan atau cacat yang sifatnya permanen.
Lihat Thomas M. Stephens, dkk., Teaching Mainstreamed Students, (Canada: John Wiley&Sons,
1982), h. 27. Lihat juga Hornby, Oxford Advanced..., h. 327. Disability berarti batasan fungsi yang
membatasi kemampuan seseorang. Handicap adalah kondisi yang dinisbahkan kepada seseorang yang
menderita ketidakmampuan. Kondisi ini boleh jadi disebabkan oleh masyarakat, lingkungan fisik, atau
sikap orang itu sendiri. Dalam hal ini sering muncul ungkapan jangan sampai disability menjadi
handicap. Lihat John W. Santrock, Educational Psychology, (New York: The McGraw Hill Inc.,
2004), h. 175
47
Delphie, Pembelajaran Anak, h. 1-3.
48
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 70 Tahun 2009 Tentang Pendidikan Inklusif Bagi
Peserta Didik yang Memiliki Kelainan dan Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa.

Landasan yang digunakan dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif di


Indonesia yaitu landasan filosofis, landasan yuridis, dan landasan empiris. Secara
terperinci, landasan-landasan tersebut dijelaskan sebagai berikut:
a. Landasan Filosofis
Secara filosofis, penyelenggaraan pendidikan inklusif dapat dijelaskan
sebagai berikut:
1) Bangsa Indonesia adalah bangsa yang berbudaya dengan lambang negara
Burung Garuda yang berarti Bhinneka Tunggal Ika. Keragaman dalam
etnik, dialek, adat istiadat, keyakinan, tradisi dan budaya merupakan
kekayaan bangsa yang tetap menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan
dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)
2) Pandangan Agama (khususnya Islam) antara lain ditegaskan bahwa: (a)
manusia diciptakan berbeda-beda untuk saling silaturahmi (inklusif) dan
bahwa kemuliaan manusia di sisi Allah adalah ketaqwaannya. Hal
tersebut dinyatakan dalam Al Quran sebagai berikut:


Artinya: Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari
seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu
berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenalmengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi
Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah
Maha mengetahui lagi Maha Mengenal49.

49

QS. Al Hujurat Ayat 13

(b)Allah pernah menegur Nabi Muhammad SAW karena beliau bermuka


masam dan berpaling dari orang buta. Al Quran menceritakan kisah
tersebut sebagai berikut:


Artinya: (1)Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, (2)karena
telah datang seorang buta kepadanya, (3)tahukah kamu barangkali ia
ingin

membersihkan

dirinya

(dari

dosa),

(4)atau

Dia

(ingin)

mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat


kepadanya?(5)Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, (6)Maka
kamu melayaninya, (7)Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau Dia
tidak membersihkan diri (beriman), (8)dan Adapun orang yang datang
kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), (9)sedang
ia takut kepada (Allah), (10)Maka kamu mengabaikannya, (11)sekali-kali
jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu
peringatan, (12)Maka Barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia
memperhatikannya, (13)di dalam Kitab-Kitab yang dimuliakan, (14)yang

ditinggikan lagi disucikan, (15)di tangan Para penulis (malaikat),


(16)yang mulia lagi berbakti50.

(c) Allah tidak melihat bentuk (fisik) seorang muslim, namun Allah
melihat hati dan perbuatannya. Hal ini dinyatakan dalam salah satu hadis
yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, yaitu:


:






Artinya:

dari

Abu

Hurairah

RA:

Rasulullah

SAW

bersabda:

Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk dan harta kalian, akan
tetapi Allah melihat kepada hati dan perbuatan kalian51.

(d)Tidak ada keutamaan antara satu manusia dengan manusia yang lain.
Nabi Muhammad mengajarkan hal tersebut dalam hadis:






50

QS. Abasa Ayat 1-16. Orang buta dalam Surat Abasa tersebut bernama Abdullah bin Ummi
Maktum. Dia datang kepada Rasulullah SAW meminta ajaran-ajaran tentang Islam; lalu Rasulullah
SAW bermuka masam dan berpaling daripadanya, karena beliau sedang menghadapi pembesar
Quraisy dengan pengharapan agar pembesar-pembesar tersebut mau masuk Islam. Maka turunlah surat
ini sebagi teguran kepada Rasulullah SAW
51

Al Imam Abi Husain Muslim bin Al Hajjaj, Shahih Muslim, (Kairo: Daar Ibnu Al Haitam, 2001),
h. 655

Artinya: Seseorang yang mendengar khutbah Rasulullah SAW di tengah


hari Tasyriq bercerita kepadaku bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:
Wahai manusia, sungguh Tuhan kalian itu satu, bapak kalian satu, maka
sungguh tidak ada keutamaan orang Arab atas orang Ajam, begitu pula
sebaliknya, tidak ada keutamaan yang merah atas yang hitam, begitu
pula sebaliknya, kecuali taqwa 52.
3) Pandangan universal hak asasi manusia menyatakan bahwa setiap
manusia mempunyai hak untuk hidup layak, hak pendidikan, hak
kesehatan, dan hak pekerjaan.
b. Landasan Yuridis
Secara yuridis, pendidikan inklusif dilaksanakan berdasarkan atas:
1) UUD 1945
2) UU Nomor 4 Tahun 1997 Tentang Penyandang Cacat
3) UU Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia
4) UU Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak
5) UU Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional
6) Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional
Pendidikan
7) Surat Edaran Dirjen Dikdasmen No. 380/C.C6/MN/2003 Tanggal 20
Januari 2003 Perihal Pendidikan Inklusif: Menyelenggarakan dan

52

Ahmad Ibn Hanbal, Musnad Ahmad Ibnu Hanbal, (Kairo: Muassasah Qurtubah, tt), juz 5, h. 411

mengembangkan di setiap Kabupaten/Kota sekurang-kurangnya 4


(empat) sekolah yang terdiri dari SD, SMP, SMA, dan SMK.
8) Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 70
tahun 2009 Tentang Pendidikan Inklusif bagi Peserta Didik yang
Memiliki Kelainan dan Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat
Istimewa
Khusus untuk DKI Jakarta, landasan yuridis yang berlaku yaitu:
9) Peraturan Gubernur Nomor 116 Tahun 2007 Tentang Penyelenggaraan
Pendidikan Inklusif
c. Landasan Empiris
Landasan empiris yang dipakai dalam pelaksanaan pendidikan inklusif yaitu:
1) Deklarasi Hak Asasi Manusia 1948 (Declaration of Human Rights)
2) Konvensi Hak Anak 1989 (Convention of The Rights of Children)
3) Konferensi Dunia Tentang Pendidikan untuk Semua 1990 (World
Conference on Education for All)
4) Resolusi PBB nomor 48/96 Tahun 1993 Tentang Persamaan Kesempatan
Bagi Orang Berkelainan (the standard rules on the equalization of
opportunitites for person with dissabilities)
5) Pernyataan Salamanca Tentang Pendidikan Inklusi 1994 (Salamanca
Statement on Inclusive Education)
6) Komitmen Dakar mengenai Pendidikan Untuk Semua 2000 (The Dakar
Commitment on Education for All)
7) Deklarasi Bandung 2004 dengan komitmen Indonesia Menuju
Pendidikan Inklusif
8) Rekomendasi Bukittinggi 2005 mengenai pendidikan yang inklusif dan
ramah.
3. Model Pendidikan Inklusif

Pendidikan inklusif merupakan perkembangan baru dari pendidikan terpadu.


Pada sekolah inklusif setiap anak sesuai dengan kebutuhan khususnya, semua
diusahakan dapat dilayani secara optimal dengan melakukan berbagai modifikasi
dan atau penyesuaian, mulai dari kurikulum, sarana-prasarana, tenaga pendidik
dan kependidikan, sistem pembelajaran sampai pada sistem penilaiannya.
Keuntungan dari pendidikan inklusif adalah bahwa anak berkebutuhan khusus
maupun anak biasa dapat saling berinteraksi secara wajar sesuai dengan tuntutan
kehidupan sehari-hari di masyarakat dan kebutuhan pendidikannya dapat terpenuhi
sesuai dengan potensinya masing-masing.
Pendidikan inklusif mensyaratkan pihak sekolah yang harus menyesuaikan
dengan tuntutan kebutuhan individu peserta didik, bukan peserta didik yang
menyesuaikan dengan sistem persekolahan. Pandangan mengenai pendidikan yang
harus menyesuaikan dengan kondisi peserta didik ini sangat terkait dengan adanya
perbedaan yang terdapat dalam diri peserta didik. Pandangan lama yang
menyatakan bahwa peserta didiklah yang harus menyesuaikan dengan pendidikan
dan proses pembelajaran di kelas lambat laun harus berubah 53.
Istilah inklusif berimplikasi pada adanya kebutuhan yang harus dipenuhi bagi
semua anak dalam sekolah. Hal ini menyebabkan adanya penyesuaianpenyesuaian yang harus dilakukan oleh guru dalam proses pembelajaran54.
Penyesuaian pendidikan (adaptive education) dilaksanakan dengan menyediakan
pengalaman-pengalaman belajar guna membantu masing-masing peserta didik
dalam meraih tujuan-tujuan pendidikan yang dikehendakinya. Penyesuaian
pendidikan

dapat

berlangsung

tatkala

lingkungan

pembelajaran

sekolah

dimodifikasi untuk merespon perbedaan-perbedaan peserta didik secara efektif dan

53

Henry Clay Lindgren, Educational Psychology in the Classroom, (Tokyo: Charles E. Tuttle
Company, 1967), cet. ke-III, h. 503-504
54
Reid, Dyslexia and Inclusion, h. 85

mengembangkan kemampuan peserta didik agar dapat bertahan dalam lingkungan


tersebut55.
Dengan melihat adanya penyesuaian terhadap kebutuhan peserta didik yang
berbeda-beda, maka dalam setting pendidikan inklusif model pendidikan yang
dilaksanakan memiliki model yang berbeda dengan model pendidikan yang lazim
dilaksanakan di sekolah-sekolah reguler.
Pendidikan inklusif pada dasarnya memiliki dua model. Pertama yaitu model
inklusi penuh (full inclusion). Model ini menyertakan peserta didik berkebutuhan
khusus untuk menerima pembelajaran individual dalam kelas reguler. Kedua yaitu
model inklusif parsial (partial inclusion). Model parsial ini mengikutsertakan
peserta didik berkebutuhan khusus dalam sebagian pembelajaran yang berlangsung
di kelas reguler dan sebagian lagi dalam kelas-kelas pull out dengan bantuan guru
pendamping khusus56.
Model lain misalnya dikemukakan oleh Brent Hardin dan Marie Hardin. Brent
dan Maria mengemukakan model pendidikan inklusif yang mereka sebut inklusif
terbalik (reverse inclusive). Dalam model ini, peserta didik normal dimasukkan ke
dalam kelas yang berisi peserta didik berkebutuhan khusus 57. Model ini

55

George S. Morrison, Early Childhood Education Today, (New Jersey: Pearson Education Inc.,
2009), h. 462. Lihat juga http://en.wikipedia.org/wiki/Inclusion_%28education%29
56
Morrison, Early Childhood, h. 462. Ada yang menyatakan bahwa dalam inklusi tidak terdapat
adanya model. Yang perlu ditekankan dalam inklusi adalah filosofi dan semangat yang dimiliki.
Dengan demikian, penerapan pendidikan inklusif di masing-masing negara akan berbeda-beda. Lihat
misalnya dalam milis (mailing list) Direktorat Pendidikan Luar Biasa Kementrian Pendidikan
Nasional. Dalam milis ini Julia Maria van Tiel mengemukakan beberapa contoh pelaksanaan
pendidikan inklusif di beberapa negara. Untuk lebih jelas lihat Julia Maria Van Tiel, Pembenahan
Pendidikan Inklusif, dari http://groups.yahoo.com/group/ditplb/message/130, 18 April 2010, lihat
juga Barton, Len dan Felicity Armstrong, Policy, Experience, and Change; Cross Cultural Reflection
on Inclusive Education, Dordrecht: Springer, 2007.
Istilah full inclusion merupakan istilah yang jarang digunakan. Para ahli lebih banyak
menggunakan istilah inclusion saja. Di samping itu istilah full inclusion juga lebih berkonotasi negatif
dan bagi sebagian orang sulit disepakati. Orang lebih banyak menggunakan istilah optimal inclusion.
Pengertian ini dimaksudkan untuk mendorong pendidik agar berusaha menemukan jenis dan tingkat
inklusi yang memuaskan tiap individu. Lihat Smith, Inklusi, Sekolah, h. 46.
57
Brent Hardin dan Maria Hardin, Into the Mainstream: Practical Strategies for Teaching in
Inclusive Environments, dalam Kathleen M. Cauley (ed.), Educational Psychology, (New York:
McGraw-Hill/Dushkin, 2004), h. 46-48.

berkebalikan dengan model yang pada umumnya memasukkan peserta didik


berkebutuhan khusus ke dalam kelas yang berisi peserta didik normal.
Model inklusif terbalik agaknya menjadi model yang kurang lazim
dilaksanakan. Model ini mengandaikan peserta didik berkebutuhan khusus sebagai
peserta didik dengan jumlah yang lebih banyak dari peserta didik normal. Dengan
pengandaian demikian seolah sekolah untuk anak berkebutuhan khusus secara
kuantitas lebih banyak dari sekolah untuk peserta didik normal, atau bisa juga
tidak. Model pendidikan inklusif seperti apapun tampaknya tidak menjadi
persoalan berarti sepanjang mengacu kepada konsep dasar pendidikan inklusif.
Model pendidikan inklusif yang diselenggarakan pemerintah Indonesia yaitu
model pendidikan inklusif moderat58. Pendidikan inklusif moderat yang dimaksud
yaitu:
a. Pendidikan inklusif yang memadukan antara terpadu dan inklusi penuh
b. Model moderat ini dikenal dengan model mainstreaming
Model pendidikan mainstreaming merupakan model yang memadukan
antara pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus (Sekolah Luar Biasa)
dengan pendidikan reguler. Peserta didik berkebutuhan khusus digabungkan
ke dalam kelas reguler hanya untuk beberapa waktu saja 59.
c. Filosofinya tetap pendidikan inklusif, tetapi dalam praktiknya anak
berkebutuhan khusus disediakan berbagai alternatif layanan sesuai dengan
kemampuan dan kebutuhannya. Anak berkebutuhan khusus dapat berpindah
dari satu bentuk layanan ke bentuk layanan yang lain, seperti:
1) Bentuk kelas reguler penuh
Anak berkelainan belajar bersama anak lain (normal) sepanjang hari di
kelas reguler dengan menggunakan kurikulum yang sama
2) Bentuk kelas reguler dengan cluster

58

Pedoman Umum Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif, h. 8-9.


Jane B. Schulz, Mainstreaming Exceptional Students; A Guide for Classroom Teachers, (Boston:
Allyn and Bacon, 1991), h. 20-21. Lihat juga Ensiklopedi Online Wikipedia Mainstreaming dari
http://en.wikipedia.org/wiki/Mainstreaming_%28education%29, 7 Juni 2010.
59

3)

4)

5)

6)

Anak berkelainan belajar bersama anak lain (normal) di kelas reguler


dalam kelompok khusus
Bentuk kelas reguler dengan pull out
Anak berkelainan belajar bersama anak lain (normal) di kelas reguler
namun dalam waktu-waktu tertentu ditarik dari kelas reguler ke ruang
sumber untuk belajar dengan guru pembimbing khusus
Bentuk kelas reguler dengan cluster dan pull out
Anak berkelainan belajar bersama anak lain (normal) di kelas reguler
dalam kelompok khusus, dan dalam waktu-waktu tertentu ditarik dari
kelas reguler ke ruang sumber untuk belajar bersama dengan guru
pembimbing khusus
Bentuk kelas khusus dengan berbagai pengintegrasian
Anak berkelainan belajar di kelas khusus pada sekolah reguler, namun
dalam bidang-bidang tertentu dapat belajar bersama anak lain (normal) di
kelas reguler
Bentuk kelas khusus penuh di sekolah reguler
Anak berkelainan belajar di dalam kelas khusus pada sekolah reguler60

Dengan demikian, pendidikan inklusif seperti pada model di atas tidak


mengharuskan semua anak berkelainan berada di kelas reguler setiap saat dengan
semua mata pelajarannya (inklusi penuh). Hal ini dikarenakan sebagian anak
berkelainan dapat berada di kelas khusus atau ruang terapi dengan gradasi
kelainannya yang cukup berat. Bahkan bagi anak berkelainan yang gradasi
kelainannya berat, mungkin akan lebih banyak waktunya berada di kelas khusus
pada sekolah reguler (inklusi lokasi). Kemudian, bagi yang gradasi kelainannya
sangat berat, dan tidak memungkinkan di sekolah reguler (sekolah biasa), dapat
disalurkan ke sekolah khusus (SLB) atau tempat khusus (rumah sakit).
4. Komponen Pendidikan Inklusif
Karena terdapat perbedaan dalam konsep dan model pendidikan, maka dalam
pendidikan inklusif terdapat beberapa komponen pendidikan yang perlu dikelola
dalam sekolah inklusif, yaitu:

60

Agustyawati dan Solicha, Psikologi Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus, (Jakarta: Lembaga
Penelitian UIN Jakarta, 2009), h. 100. Lihat juga Sip Jan Pijl dan Cor J.W.Meijer, Factor In Inclusion:
A Framework dalam Sip Jan Pijl (eds.), Inclusive Education; A Global Agenda, (London: Routledge,
1997), h. 12.

a. Manajemen Kesiswaan
b. Manajemen Kurikulum
c. Manajemen Tenaga Kependidikan
d. Manajemen Sarana dan Prasarana
e. Manajemen Keuangan/Dana
f. Manajemen Lingkungan (Hubungan Sekolah dan Masyarakat)
g. Manajemen Layanan Khusus61
Manajemen kesiswaan merupakan salah satu komponen pendidikan inklusif
yang perlu mendapat perhatian dan pengelolaan lebih. Hal ini dikarenakan kondisi
peserta didik pada pendidikan inklusif yang lebih majemuk daripada kondisi
peserta didik pada pendidikan reguler. Tujuan dari manajemen kesiswaan ini tidak
lain agar kegiatan belajar mengajar di sekolah dapat berjalan lancar, tertib, dan
teratur, serta mencapai tujuan yang diinginkan.
Pendidikan inklusif masih menggunakan kurikulum standar nasional yang telah
ditetapkan pemerintah. Namun dalam pelaksanaan di lapangan, kurikulum pada
pendidikan inklusif disesuaikan dengan kemampuan dan karakteristik peserta
didik.
Pemerintah menyatakan bahwa kurikulum yang dipakai satuan pendidikan
penyelenggara pendidikan inklusif adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
(KTSP) yang mengakomodasi kebutuhan dan kemampuan peserta didik sesuai
dengan bakat, minat dan potensinya 62.
Model kurikulum pendidikan inklusif terdiri dari:
a. Model kurikulum reguler
b. Model kurikulum reguler dengan modifikasi
c. Model kurikulum Program Pembelajaran Individual (PPI)63

61

Direktorat Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Policy Brief, Sekolah Inklusif;
Membangun Pendidikan Tanpa Diskriminasi, No. 9. Th.II/2008, Departemen Pendidikan Nasional, h.
6-9.
62
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 70 Tahun 2009 Tentang
Pendidikan Inklusif bagi Peserta Didik yang Memiliki Kelainan dan Memiliki Potensi Kecerdasan
dan/atau Bakat Istimewa, Pasal 7.
63
Direktorat, Pedoman Umum, h. 19.

Model kurikulum reguler, yaitu kurikulum yang mengikutsertakan peserta didik


berkebutuhan khusus untuk mengikuti kurikulum reguler sama seperti kawankawan lainnya di dalam kelas yang sama.
Model kurikulum reguler

dengan modifikasi,

yaitu kurikulum yang

dimodifikasi oleh guru pada strategi pembelajaran, jenis penilaian, maupun pada
program tambahan lainnya dengan tetap mengacu pada kebutuhan peserta didik
berkebutuhan khusus. Di dalam model ini bisa terdapat siswa berkebutuhan khusus
yang memiliki PPI.
Model kurikulum PPI yaitu kurikulum yang dipersiapkan guru program PPI
yang dikembangkan bersama tim pengembang yang melibatkan guru kelas, guru
pendidikan khusus, kepala sekolah, orang tua, dan tenaga ahli lain yang terkait.
Kurikulum PPI atau dalam bahasa Inggris Individualized Education Program
(IEP) merupakan karakteristik paling kentara dari pendidikan inklusif. Konsep
pendidikan inklusif yang berprinsip adanya persamaan mensyaratkan adanya
penyesuaian model pembelajaran yang tanggap terhadap perbedaan individu.
Maka PPI atau IEP menjadi hal yang perlu mendapat penekanan lebih.
Thomas M. Stephens menyatakan bahwa IEP merupakan pengelolaan yang
melayani kebutuhan unik peserta didik dan merupakan layanan yang disediakan
dalam rangka pencapaian tujuan yang diinginkan serta bagaimana efektivitas
program tersebut akan ditentukan64.
Tenaga kependidikan merupakan salah satu unsur penting dalam pendidikan
inklusif. Tenaga kependidikan dalam pendidikan inklusif mendapat porsi tanggung
jawab yang jelas berbeda dengan tenaga kependidikan pada pendidikan
noninklusif. Perbedaan yang terdapat pada individu meniscayakan adanya
kompetensi yang berbeda dari tenaga kependidikan lainnya. Tenaga kependidikan
secara umum memiliki tugas seperti menyelenggarakan kegiatan mengajar,

64

Thomas, Teaching Mainstreamed, h. 19.

melatih, meneliti, mengembangkan, mengelola, dan/atau memberikan pelayanan


teknis dalam bidang pendidikan.
Guru yang terlibat di sekolah inklusi yaitu guru kelas, guru mata pelajaran, dan
guru pembimbing khusus. Manajemen tenaga kependidikan antara lain meliputi:
(1)Inventarisasi

pegawai,

(2)Pengusulan

formasi

pegawai,

(3)Pengusulan

pengangkatan, kenaikan tingkat, kenaikan berkala, dan mutasi, (4)Mengatur usaha


kesejahteraan, (5)Mengatur pembagian tugas65.
Manajemen

sarana-prasarana

mengorganisasikan,
mengevaluasi

mengarahkan,

kebutuhan

dan

sekolah

bertugas

mengkordinasikan,

penggunaan

merencanakan,
mengawasi,

sarana-prasarana

agar

dan
dapat

memberikan sumbangan secara optimal pada kegiatan belajar mengajar.


Pendanaan pendidikan inklusif memerlukan manajemen keuangan atau
pendanaan

yang

baik.

Walaupun

penyelenggaraan

pendidikan

inklusif

dilaksanakan pada sekolah reguler dengan penyesuaian-penyesuaian, namun tidak


serta merta pendanaan penyelenggaraannya dapat diikutkan begitu saja dengan
pendanaan sekolah reguler. Maka diperlukan manajemen keuangan atau
pendanaan yang mampu memenuhi berbagai kebutuhan dalam penyelenggaraan
pendidikan inklusif dan mengatasi berbagai permasalahan terkait dengan
pendanaan.
Pembiayaan pendidikan inklusif untuk wilayah DKI Jakarta bersumber pada
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah pada pos anggaran Dinas Dikdas, Dinas
Dikmenti dan Kanwil Depag dan sumber lain yang sah. Pembiayaan pelaksanaan
penyelenggaraan
dibebankan

pada

pendidikan
anggaran

inklusif

untuk

yayasan/lembaga

lembaga

pendidikan

pendidikan

swasta

swasta
yang

bersangkutan66.
65

Direktorat, Policy Brief, h. 8.


Peraturan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 116 Tahun 2007 Tentang
Penyelenggaraan Pendidikan Inklusi, Pasal 16 dan Pasal 17. Pendanaan penyelenggaraan pendidikan
inklusif tidak ditangani oleh pemerintah pusat. Hal ini dapat dilihat pada Peraturan Menteri Pendidikan
Nasional Nomor 70 Tahun 2009 Tentang Pendidikan Inklusif bagi Peserta Didik yang Memiliki
66

Dalam rangka penyelenggaraan pendidikan inklusi, perlu dialokasikan dana


khusus, yang antara lain untuk keperluan: (1)Kegiatan identifikasi input siswa,
(2)Modifikasi kurikulum, (3)Insentif bagi tenaga kependidikan yang terlibat,
(4)Pengadaan sarana-prasarana, (5)Pemberdayaan peran serta

masyarakat,

(6)Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar 67.


Penyelenggaraan pendidikan inklusif tidak hanya menjadi tanggung jawab
pemerintah. Stake holder pendidikan lain seperti masyarakat hendaknya selalu
dilibatkan dalam rangka memajukan pendidikan. Apalagi dalam semangat otonomi
daerah

dimana

pendidikan

juga

merupakan

salah

satu

bidang

yang

didesentralisasikan, maka keterlibatan masyarakat merupakan suatu keharusan.


Dalam rangka menarik simpati masyarakat agar mereka bersedia berpartisipasi
memajukan sekolah, perlu dilakukan berbagai hal, antara lain dengan memberitahu
masyarakat mengenai program-program sekolah, baik program yang telah
dilaksanakan, yang sedang dilaksanakan, maupun yang akan

dilaksanakan

sehingga masyarakat mendapat gambaran yang jelas tentang sekolah yang


bersangkutan.
Sekolah penyelenggara pendidikan inklusif perlu mengelola dengan baik
hubungan sekolah dengan masyarakat agar dapat tercipta dan terbina hubungan
yang baik dalam rangka upaya memajukan pendidikan di daerah.
Dalam pendidikan inklusif terdapat komponen manajemen layanan khusus.
Manajemen layanan khusus ini mencakup manajemen kesiswaan, kurikulum,
tenaga kependidikan, sarana-prasarana, pendanaan dan lingkungan. Kepala
sekolah dapat menunjuk stafnya, terutama yang memahami ke-PLB-an, untuk
melaksanakan manajemen layanan khusus ini68.
5. Pembelajaran Model Inklusif di Kelas Reguler

Kelainan dan Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa. Tidak ada satu pasalpun yang
menyebutkan bahwa pemerintah pusat terlibat dalam pembiayaan penyelenggaraan pendidikan
inklusif.
67
Direktorat, Policy Brief, h. 8.
68
Direktorat, Policy Brief, h. 9.

Pelaksanaan pembelajaran dalam kelas inklusif sama dengan pelaksanaan


pembelajaran dalam kelas reguler. Namun jika diperlukan, anak berkebutuhan
khusus membutuhkan perlakuan tersendiri yang disesuaikan dengan kondisi dan
kebutuhan anak berkebutuhan khusus.
Untuk mengetahui kondisi dan kebutuhan anak berkebutuhan khusus
diperlukan proses skrining atau assesment yang bertujuan agar pada saat
pembelajaran di kelas, bentuk intervensi pembelajaran bagi anak berkebutuhan
khusus merupakan bentuk intervensi pembelajaran yang sesuai bagi mereka.
Assesment yang dimaksud yaitu proses kegiatan untuk mengetahui kemampuan
dan kelemahan setiap peserta didik dalam segi perkembangan kognitif dan
perkembangan sosial melalui pengamatan yang sensitif 69.
Seorang pendidik hendaknya mengetahui program pembelajaran yang sesuai
bagi anak berkebutuhan khusus. Pola pembelajaran yang harus disesuaikan dengan
anak berkebutuhan khusus biasa disebut dengan Individualized Education
Program (IEP) atau Program Pembelajaran Individual (PPI). Perbedaan
karakteristik yang dimiliki anak berkebutuhan khusus membuat pendidikan harus
memiliki kemampuan khusus.
Sebelum Program Pembelajaran Individual dijalankan oleh pendidik, terlebih
dahulu pendidik harus melakukan identifikasi terhadap kondisi dan kebutuhan
anak berkebutuhan khusus agar diperoleh informasi yang akurat mengenai
kebutuhan pembelajaran anak berkebutuhan khusus. Setelah proses skrining atau
assesment dilakukan dan kebutuhan anak berkebutuhan khusus teridentifikasi,
maka Program Pembelajaran Individual (IEP) dapat dijalankan di kelas-kelas
reguler. Program Pembelajaran Individual tersebut sebenarnya tidak mutlak
diperlukan bagi anak berkebutuhan khusus dalam pembelajaran model inklusif di
kelas reguler. Pada praktiknya ada beberapa anak berkebutuhan khusus yang tidak
69

Bandi Delphie, Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus dalam Setting Pendidikan Inklusi,
(Bandung: PT. Refika Aditama, 2006), h. 1

memerlukan Program Pembelajaran Individual. Mereka dapat belajar bersama


dengan anak reguler dengan program yang sama tanpa perlu dibedakan.
Program Pembelajaran Individual meliputi enam komponen, yaitu elicitors,
behaviors, reinforcers, entering behavior, terminal objective, dan enroute. Secara
terperinci, keenam komponen tersebut yaitu:
a. Elicitors, yaitu peristiwa atau kejadian yang dapat menimbulkan atau
menyebabkan perilaku
b. Behaviors, merupakan kegiatan peserta didik terhadap sesuatu yang dapat ia
lakukan
c. Reinforcers, suatu kejadian atau peristiwa yang muncul sebagai akibat dari
perilaku dan dapat menguatkan perilaku tertentu yang dianggap baik
d. Entering behavior, kesiapan menerima pelajaran
e. Terminal objective, sasaran antara dari pencapaian suatu tujuan
pembelajaran yang bersifat tahunan
f. Enroute, langkah dari entering behavior menujut ke terminal objective70
Model pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus harus memperhatikan
prinsip umum dan prinsip khusus. Prinsip umum pembelajaran meliputi motivasi,
konteks, keterarahan, hubungan sosial, belajar sambil bekerja, individualisasi,
menemukan, dan prinsip memecahkan masalah. Prinsip umum ini dijalankan
ketika anak berkebutuhan khusus belajar bersama-sama dengan anak reguler
dalam satu kelas. Baik anak reguler maupun anak berkebutuhan khusus
mendapatkan program pembelajaran yang sama. Prinsip khusus disesuaikan
dengan karakteristik masing-masing peserta didik berkebutuhan khusus. Prinsip
khusus ini dijalankan ketika peserta didik berkebutuhan khusus membutuhkan
pembelajaran individual melalui Program Pembelajaran Individual (IEP) 71.
Model pembelajaran anak berkebutuhan khusus memerlukan komponenkomponen tertentu yang meliputi:
a. Rasional
70
71

Bandi Delphie, Pembelajaran Anak, h. 150-151.


Bandi Delphie, Pembelajaran Anak, h. 154.

Layanan pendidikan dan pembelajaran anak

berkebutuhan khusus

seharusnya sejalan dan tidak lepas dari prinsip, kebijakan, dan praktik dalam
pendidikan berkebutuhan khusus.
b. Visi dan misi
Model pembelajaran anak berkebutuhan khusus mengarah pada visi dan misi
sebagai sumber pengertian bagi perumusan tujuan dan sasaran yang harus
ditetapkan
c. Tujuan pembelajaran
Tujuan pembelajaran anak berkebutuhan khusus harus didasarkan pada visi
dan misi pembelajaran yang sudah ditetapkan
d. Komponen dasar model pembelajaran
Berdasarkan pada visi dan misi pembelajaran, komponen-komponen dasar
model pembelajaran anak berkebutuhan khusus dapat dikelompokkan
menjadi:
1) Masukan yang berupa masukan mentah yang terdiri dari elicitors,
behaviors, dan reinforcers, masukan instrumen yang terdiri dari
program, guru kelas, tahapan, dan sarana, dan masukan lingkungan yang
berupa norma, tujuan, lingkungan, dan tuntutan
2) Proses yang terdiri dari atas program pembelajaran individual,
pelaksanaan intervensi, dan refleksi hasil pembelajaran
3) Keluaran berupa perubahan kompetensi setiap peserta didik yang
mempunyai kesulitan atau hambatan perkembangan diri
e. Komponen pendukung sistem model pembelajaran
Komponen pendukung sistem adalah kegiatan-kegiatan manajemen yang
bertujuan untuk memantapkan, memelihara, dan meningkatkan program
pembelajaran72
Proses skrining atau assesment yang di atas dapat digambarkan sebagai berikut:
72

Bandi Delphie, Pembelajaran Anak, h. 154-157.

1. RUJUKAN GURU
Catatan-catatan dari pengawas SD,
menghubungi orang tua siswa, observasi
guru, dan kemudian memberikan rujukan
pada kepala sekolah
10 hari
2. SKRINING OLEH TIM PANITIA
Dilakukan oleh guru, kepala sekolah,
psikolog, perawat, dokter, ahli terapi guna
mendapatkan rekomendasi dilanjutkan ke
prosedur berikutnya atau dikembalikan ke
kelas reguler

STOP

20 hari
3. REKOMENDASI
OLEH
5
KOMPONEN
- Orang tua yang memberikan evaluasi
tentang anaknya mengenai cara berbicara
berbahasa, dan daya pendengaran
- Assesmen pendidikan
- Laporan hasil skrining oleh tim panitia
khusus
- Rujukan dari guru pengamat
- Kepala sekolah
Waktu evaluasi 45 hari

5. REKOMENDASI DARI 3 KOMPONEN


(Psychological, Sociological, Physical)

4. PANITIA PENGESAHAN
Terdiri atas guru, orang tua, para ahli
pendidikan, psikolog, pengawas PLB,
konselor,dan speech terapist

STOP

20 hari
6. PROGRAM
PEMBELAJARAN
INDIVIDUAL (IEP)

7. PENEMPATAN
SISWA
PADA
PROGRAM KEGIATAN SEKOLAH
YANG
COCOK
DENGAN
KEBERADAANNYA

Gambar 2. Prosedur Identifikasi, Evaluasi, Konfirmasi, dan Penempatan Peserta Didik dalam
Pendidikan Luar Biasa (Bandi Delphie, 2006: 8)

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di lingkungan Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta.
Adapun waktu penelitian terhitung mulai dari bulan April-Desember 2010.

B. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui:
1. Kebijakan penyelenggaraan pendidikan inklusif di Provinsi DKI Jakarta
2. Implementasi kebijakan penyelenggaraan pendidikan inklusif di Provinsi DKI
Jakarta

C. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode berparadigma deskriptif kualitatif. Penelitian
deskriptif ditujukan untuk mendeskripsikan fenomena-fenomena yang ada secara
alamiah maupun rekayasa manusia. Penelitian deskriptif tidak memberikan
perlakukan, manipulasi atau pengubahan pada variabel, tetapi menggambarkan suatu

kondisi apa adanya73. Dalam penelitian ini, peneliti hanya melakukan penelitian
terhadap fenomena yang alamiah terkait kebijakan penyelenggaraan pendidikan
inklusif.
Metode penelitian kualitatif merupakan penelitian yang bermaksud memahami
fenomena tentang apa yang dialami subjek penelitian secara holistik dengan cara
deskripsi dalam kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan
dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah74.
Penelitian ini dilaksanakan untuk menggambarkan realitas empiris sesuai dengan
fenomena yang terjadi secara rinci dan tuntas serta untuk mengungkapkan gejala
secara holistik melalui pengumpulan data dari latar yang alami dengan penelit i
sebagai instrumen kunci.
Adapun jenis penelitian yang dipilih peneliti yaitu studi kasus dengan
menghimpun dan menganalisis data berkenaan dengan kasus pendidikan inklusif.
Data-data yang terkait dengan proses analisis kebijakan penyelenggaraan pendidikan
inklusif akan dihimpun untuk kemudian dianalisis.

D. Sumber Data
Sumber data penelitian ini terdiri dari dua macam, yaitu sumber data primer dan
sumber data sekunder.
1. Sumber data primer adalah sumber data yang langsung memberikan data
kepada pengumpul data. Dalam penelitian ini, peneliti mengambil sumber
data primer dari Kepala Bidang TK, SD, dan PLB Dinas Pendidikan DKI
Jakarta, guru satuan pendidikan penyelenggara pendidikan inklusif, dan LSM
Hellen Keller Internasional (HKI).

73

Nana Syaodih Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,
2008), cet. Ke-4, h. 72-74
74
Lexy J. Moloeng, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2009),
cet. ke-29, h. 6

2. Sumber data sekunder adalah sumber data yang tidak langsung memberikan
data kepada pengumpul data, misalnya lewat orang lain atau dokumen.
Sumber data sekunder dalam penelitian ini berasal dari data tertulis lembaga
Dengan sumber data primer dan sekunder di atas, penelitian ini diharapkan dapat
memperoleh data-data valid dan holistik yang diperlukan dalam menganalisa
permasalahan yang menjadi fokus penelitian.
Pada dasarnya, sumber data dalam penelitian dengan menggunakan metode
kualitatif berkembang terus (snowball) secara bertujuan (purposive) sampai data yang
dikumpulkan dianggap memuaskan75. Dengan demikian, bila dimungkinkan maka
sumber data dalam penelitian dapat bertambah dari sumber data yang telah ditentukan
jika sumber data yang telah ditentukan tersebut belum dapat memberikan data yang
relevan dengan penelitian.

E. Teknik Pengumpulan Data


Untuk memperoleh data yang diperlukan, peneliti menggunakan teknik
pengumpulan data sebagai berikut:
1. Wawancara
Wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian
dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara penanya atau
pewawancara dengan penjawab atau interviewee dengan atau tanpa
menggunakan panduan wawancara 76.
Jenis wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara
mendalam (in-depth interview) bebas atau wawancara tidak terstruktur.
Wawancara ini bertujuan untuk mengetahui secara mendetail mengenai fokus
penelitian dengan menanyakan langsung kepada informan kunci (key
75

Husaini Usman dan Purnomo Setiady Akbar, Metodologi Penelitian Sosial, Jakarta: PT. Bumi
Aksara, 2008, h. 78.
76
M. Burhan Bungin, Penelitian Kualitatif, Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu
Sosial Lainnya, (Jakarta: Kencana, 2009), h. 108.

informan) sehingga didapatkan data-data yang valid dari narasumber yang


terkait dengan fokus penelitian.
2. Dokumentasi
Metode dokumentasi adalah metode yang digunakan untuk mencari data
mengenal hal-hal atau variabel yang berupa catatan-catatan, transkrip, buku,
surat kabar, prasasti, notulen rapat, agenda dan sebagainya.
Pada intinya, metode dokumentasi adalah metode yang digunakan untuk
meneliti data historis77.
Dokumentasi dapat diklasifikasikan menjadi dua macam, yaitu dokumen resmi
dan dokumen pribadi. Dokumen resmi merupakan dokumen yang berasal dari
suatu lembaga atau organisasi. Dokumen resmi terbagi atas dokumen internal
(berupa memo, pengumuman, instruksi, aturan suatu lembaga masyarakat
tetapi digunakan dikalangan sendiri)dan dokumen eksternal (yang berupa
majalah, buletin, penyataan dan berita yang disiarkan kepada media masa).
Dokumen pribadi merupakan catatan seseorang secara tertulis tentang
tindakan, pengalaman dan kepercayaan. Dokumen pribadi dapat berupa buku
harian, surat pribadi dan autobiografi78.
Dokumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa dokumen resmi dalam
bentuk dokumen internal yang ada dimiliki Dinas Pendidikan DKI Jakarta.
Selain itu, dokumen internal lain yang digunakan dalam penelitian ini yaitu
dokumen milik sekolah-sekolah penyelenggara pendidikan inklusif. Peneliti
tidak menggunakan dokumen pribadi karena peneliti tidak menemukan data
dokumen tersebut.

F. Teknik Analisis Data


Teknik analisis data merupakan suatu cara yang digunakan untuk menguraikan
keterangan-keterangan atau data-data yang diperoleh agar data-data tersebut dapat
77
78

Burhan, Penelitian Kualitatif, h. 121.


Burhan, Penelitian Kualitatif, h. 122-123.

dipahami bukan saja oleh orang yang meneliti (peneliti), akan tetapi juga oleh orang
lain yang ingin mengetahui hasil penelitian itu.
Dalam penelitian kualitatif, analisis data bersifat interaktif, berlangsung dalam
lingkaran yang saling tumpang tindih 79. Analisis kualitatif cenderung menggunakan
pendekatan logika induktif, dimana silogisme dibangun berdasarkan pada hal-hal
yang khusus atau data di lapangan dan bermuara pada kesimpulan-kesimpulan
umum80.
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis
data deskriptif kualitatif. Data-data yang sudah diperoleh dan dikumpulkan dianalisis
dengan membuat kategorisasi agar mempermudah dalam penafsiran data. Masingmasing data yang telah dikategorisasi, dikaitkan untuk memperoleh hubungan agar
sampai pada kesimpulan.
Secara sistematis, dalam menganalisa data penelitian ini, data yang diperoleh
dalam penelitian terlebih dahulu dicatat dan diberi kode agar sumber datanya dapat
ditelusuri. Setelah proses pencatatan selesai, data-data tersebut dikumpulkan untuk
dipilah-pilah dan dikategorikan. Agar kategori tersebut memiliki makna, maka dicari
hubungan-hubungan dan pola-pola yang terdapat dalam data untuk dibuat temuantemuan umum81. Dengan langkah analisis data deskriptif kualitatif demikian dapat
diperoleh hasil penelitian yang mencerminkan hasil sebenarnya yang diharapkan.

79

Nana, Metode Penelitian, h. 114.


Burhan, Penelitian Kualitatif, h. 143.
81
Lexy, Metodologi Penelitian, h. 248.
80

BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Umum Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta
Jakarta adalah kota yang bisa menjanjikan kehidupan yang nyaman dan sejahtera,
apabila kita semua, dalam hal ini pemerintah dan masyarakat, dapat menjawab
tantangan, menyelesaikan permasalahan dan dapat memanfaatkan potensi dan
peluang yang ada.
Kita telah ketahui bersama bahwa Jakarta tidak memiliki sumber daya alam
sebagaimana di provinsi-provinsi lain, sementara itu Jakarta dihadapkan pada
berbagai permasalahan yang cukup kompleks terkait dengan kedudukan dan fungsi
Jakarta sebagai Ibukota Negara, baik permasalahan penduduk, masalah ekonomi,
maupun terkait dengan permasalahan sosial budaya.
Dari sejumlah permasalahan yang dihadapi kota Jakarta, khususnya yang terkait
dengan sumber daya manusia diperlukan satu solusi untuk penyelesaiannya antara
lain dengan cara meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat Jakarta

agar mereka dapat menjadi sumber daya manusia yang memiliki karakter terpuji, rasa
nasionalisme yang tinggi dan tangguh, kompetensi, keterampilan, serta sehat rohani
dan jasmani sehingga akan tangguh menghadapi berbagai tantangan dan
permasalahan yang dihadapi Ibukota dan juga dunia global.
Tidak dapat dipungkiri dengan kedudukan Jakarta sebagai Ibukota Negara
Republik Indonesia, Pusat Pemerintahan, Kota Jasa, Pintu Gerbang Dari dan Ke
Manca Negara, Lokasi Perkantoran dan Perwakilan Duta-Duta Bangsa. Sebagai kota
yang tidak memiliki sumber kekayaan alam, maka sumber daya manusia yang ada
harus terus dikembangkan agar bisa sejajar dengan kota-kota besar lainnya di dunia.
Pengembangan sumber daya manusia dapat dilakukan tidak lain melalui peningkatan
mutu pendidikan. Pendidikan memegang peranan penting dan sebagai salah satu
kunci keberhasilan pembangunan nasional dan daerah. Keberhasilan penyelenggaraan
pendidikan di Provinsi DKI Jakarta harus dilandasi dengan kemampuan dalam
menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (serta imtak) yang merupakan cerminan
keberhasilan bangsa Indonesia dimasa mendatang.
Untuk membentuk sumber daya manusia yang memiliki karakter tersebut harus
dipersiapkan melalui suatu proses pembelajaran dan pendidikan pada lembaga
pendidikan yang memiliki kualitas, baik pada lembaga pendidikan jalur pendidikan
formal, non formal, dan informal.
Semua anggota masyarakat, bersama dengan seluruh jajaran Pemerintah Provinsi
DKI Jakarta memiliki tanggungjawab untuk mencari solusi dalam menyelesaikan
permasalahan sekaligus mengelola dan memanfaatkan potensi dan peluang yang ada.
Untuk itulah diperlukan adanya kebersamaan dalam pelayanan pendidikan di Provinsi
DKI Jakarta untuk membangun sumber daya manusia dalam mencapai cita-cita dan
menjadikan Provinsi DKI Jakarta menjadi sesuai visi yaitu Jakarta yang Nyaman
dan Sejahtera untuk Semua.

Dalam penyelenggaraan pendidikan harus berorientasi pada masa depan, karena ke


depan tantangan pendidikan akan semakin kompleks seiring dengan persaingan
global sehingga pendidikan harus terus-menerus melakukan penyesuaian dengan
gerak perkembangan ilmu pengetahuan modern dan inovasi.
1. Visi dan Misi Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta
a. Visi Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta
Visi Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta yaitu Mewujudkan Layanan
Pendidikan yang Bermutu Tinggi dalam Membangun Insan yang Cerdas dan
Kompetitif82
Penjelasan makna atas pernyataan visi dimaksud adalah terciptanya upaya
peningkatan pemerataan akses memperoleh pendidikan yang bermutu dan
terjangkau bagi masyarakat Jakarta sehingga tercipta rasa nyaman dalam
memperoleh layanan pendidikan. Selain itu visi tersebut mengandung
maksud adanya peningkatan kualitas lulusan pendidikan formal dan
nonformal yang cerdas secara komprehensif yang meliputi cerdas spiritual,
cerdas emosional, cerdas sosial, cerdas intelektual, dan cerdas kinestetis.
Kompetitif dimaksudkan dalam rangka mengupayakan lulusan pendidikan
untuk dapat berdaya saing global dan melanjutkan ke jenjang pendidikan
yang lebih tinggi maupun dapat bekerja di mancanegara.
b. Misi Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta
Misi Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta yaitu:
1. Mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh
pendidikan yang bermutu bagi seluruh masyarakat Jakarta
2. Mewujudkan pendidikan yang kompetitif untuk menghadapi perubahan
3. Meningkatkan standar kualitas layanan pendidikan
4. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan dan
pengelolaan pendidikan
82

Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, Kebijakan Dinas Pendidikan, h. 1

5. Penguatan tata kelola, akuntabilitas, dan citra publik83


Penjelasan makna atas pernyataan misi dimaksud adalah:
1. Melayani masyarakat dalam penyediaan sarana dan prasarana pendidikan
formal dan nonformal, sehingga dirasakan oleh masyarakat luas mudah
mendapatkan layanan di segala jenis dan jenjang pendidikan yang
bermutu
2. Mengupayakan lulusan pendidikan di DKI Jakarta untuk dapat berdaya
saing global dalam rangka menghadapi setiap perubahan
3. Melayani

masyarakat

dengan

prinsip

pelayanan

prima

yakni

mengutamakan norma pelayanan pendidikan berdasar pada standar


minimal pelayanan pendidikan dengan selalu mengupayakan peningkatan
mutu para tenaga kependidikan maupun lulusan pendidikan formal dan
nonformal melalui beberapa kegiatan yang dapat berdaya saing global
serta membangun sarana dan prasarana pendidikan yang menjamin
kenyamanan dengan memperhatikan prinsip pembangunan pendidikan
yang berkelanjutan
4. Memberdayakan masyarakat dengan prinsip pemberian otoritas pada
masyarakat

untuk

mengenali

permasalahan

yang

dihadapi

dan

mengupayakan pemecahan yang terbaik pada tahapan perencanaan,


pelaksanaan, pengawasan, dan pengendalian penyelenggaraan, dan
pengelolaan pendidikan
5. Mengedepankan prinsip bersih, transparan, dan profesional dalam rangka
membangun tata kelola, akuntabilitas, dan citra publik pendidikan
2. Tugas Pokok dan Fungsi Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta
Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta sesuai dengan Peraturan Daerah Nomor
10 Tahun 2008 Tentang Organisasi Perangkat Daerah, terdiri dari Sekretariat

83

Dinas, Kebijakan Dinas, h. 1

dan 7 (tujuh) bidang yakni Bidang Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, dan
Pendidikan Luar Biasa, Bidang Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah
Menengah Atas, Bidang Sekolah Menengah Kejuruan, Bidang Pendidikan Non
Formal dan Informal, Bidang Tenaga Pendidikan, Bidang Sarana Prasarana
Pendidikan, Bidang Standarisasi dan Pendidikan Tinggi. Dinas Pendidikan
Provinsi DKI Jakarta juga memiliki UPT, yaitu BP3LS, 5 BPPK, UPT
Planetarium dan Observatorium, BPTKD. Adapun tugas pokok dan fungsi
Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta adalah sebagai berikut:
a. Tugas Pokok Dinas Pendidikan
Melaksanakan urusan pendidikan
b. Fungsi Dinas Pendidikan
1.

Penyusunan dan pelaksanaan rencana kerja dan anggaran dinas


pendidikan

2.

Perumusan kebijakan tenis pelaksanaan urusan pendidikan

3.

Pelaksanaan pendidikan pra sekolah, dasar, menengah, dan luar biasa


serta pendidikan nonformal dan informal

4.

Pembinaan pendidikan prasekolah, dasar, menengah, dan luar biasa serta


pendidikan nonformal dan informal

5.

Pelayanan pendidikan prasekolah, dasar, menengah, dan luar biasa serta


pendidikan nonformal dan informal

6.

Pengkajian

dan

pengembangan

pendidikan

prasekolah,

dasar,

menengah, dan luar biasa serta pendidikan nonformal dan informal


7.

Pengawasan dan pengendalian pendidikan prasekolah, dasar, menengah,


dan luar biasa serta pendidikan nonformal dan informal

8.

Pembinaan dan pengembangan tenaga fungsional kependidikan dan


tenaga teknis pendidikan

9.

Fasilitasi pengembangan kerjasama antar lembaga pendidikan

10. Pemberian rekomendasi pendirian dan penutupan satuan pendidikan


tinggi

11. Pelayanan, pembinaan, dan pengendalian rekomendasi, standarisasi


dan/atau perizinan di bidang pendidikan
12. Penegakan peraturan perundang-undangan di bidang pendidikan
13. Pemungutan,

penatausahaan,

penyetoran,

pelaporan,

dan

pertanggungjawaban penerimaan retribusi pendidikan


14. Penyediaan, penatausahaan, penggunaan, pemeliharaan, dan perawatan
sarana dan prasarana pendidikan
15. Pemberian dukungan teknis kepada masyarakat dan perangkat daerah
16. Pengelolaan kepegawaian, keuangan, barang, dan ketatausahaan dinas
pendidikan
17. Pelaporan dan pertanggungjawaban pelaksanaan tugas dan fungsi
3. Tujuan Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta
a. Meningkatkan upaya peningkatan kualitas proses pembelajaran pada semua
jenjang pendidikan
b. Meningkatkan kualitas dan kemandirian pengelolaan pendidikan yang
berdaya saing global
c. Meningkatkan kemampuan akademik dan profesionalisme tenaga pendidik
dan tenaga kependidikan
d. Meningkatkan pembinaan perguruan tinggi sebagai bagian integral dari tata
kota
e. Mengentaskan masyarakat putus sekolah dan meningkatkan pengetahuan
dan keterampilan (kecakapan hidup) warga belajar 84
4. Sasaran Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta
a. Peningkatan mutu program dan relevansi pendidikan
b. Pengembangan dan peningkatan sarana pendidikan
c. Peningkatan mutu manajemen pendidikan
d. Peningkatan materi pendidikan agama, kewarganegaraan dan ekstrakurikuler

84

Dinas, Kebijakan Dinas, h. 1

e. Peningkatan pengetahuan dan keterampilan (kecakapan hidup) serta mutu


lulusan
f. Peningkatan pendidikan nonformal dan informal (PNFI) dan keterampilan
masyarakat
g. Pembinaan perguruan tinggi85
5. Strategi Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta
Mendorong upaya pemerataan kesempatan Pendidikan Anak Usia Dini,
pendidikan dasar, pendidikan luar biasa, pendidikan menengah kepada
kelompok yang kurang mampu melalui kebijakan yang mendorong terciptanya
pendidikan-pendidikan alternatif khususnya Pendidikan Nonformal Informal
(PNFI),

mengurangi

angka

putus

sekolah

dengan

memperhatikan

keterjangkauan biaya, serta meningkatkan peran pendidikan tinggi guna


mendukung upaya peningkatan kerjasama antar perguruan tinggi 86.
6. Arah Kebijakan Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta
Berdasarkan rumusan program strategis atas visi dan misi Pemerintah Provinsi
DKI Jakarta terkait dengan pembangunan bidang pendidikan yaitu Peningkatan
Akses dan Mutu Pendidikan yang meliputi 9 (sembilan) kebijakan yaitu:
Penuntasan Wajib Belajar 12 Tahun, Meminimalkan Jumlah Siswa yang Drop
Out, Peningkatan Mutu Lulusan, Peningkatan Standar Kualitas Layanan
Pendidikan, Peningkatan Kompetensi Guru (Standar Asia), Peningkatan
Kapasitas Manajemen Sekolah, Peningkatan Daya Tampung dan Mutu Lulusan
SMK, Bantuan Biaya Pendidikan Bagi Masyarakat Miskin, dan Meningkatkan
Jumlah Sarana Tempat Belajar Mengajar 87.
7. Sasaran Strategik Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta
Sasaran strategik yang akan dicapai Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta
yaitu:
85

Dinas, Kebijakan Dinas, h. 2


Dinas, Kebijakan Dinas, h. 2
87
Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, Rencana Strategis Dinas Pendidikan Provinsi DKI
Jakarta Tahun 2009-2013, h. 66
86

a. Menurunnya jumlah siswa yang drop out


b. Meningkatnya daya tampung
c. Menurunnya angka buta aksara
d. Meningkatnya pembinaan pendidikan kesetaraan
e. Meningkatnya standar kualitas layanan pendidikan
f. Meningkatnya mutu lulusan
g. Meningkatnya kualifikasi dan sertifikasi guru
h. Meningkatnya pengembangan ICT dalam KBM
i.

Meningkatnya sarana dan prasarana belajar mengajar

j.

Meningkatnya penyelenggaraan akreditasi dan mutu pendidikan

k. Meningkatnya pemberdayaan komite sekolah dan dewan pendidikan


l.

Meningkatnya penerapan manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah 88

8. Kondisi Sekolah, Siswa, dan Guru di Lingkungan Dinas Pendidikan


Provinsi DKI Jakarta
Kondisi sekolah, siswa, dan guru di lingkungan Dinas Pendidikan Provinsi DKI
Jakarta dapat dilihat dari ilustrasi gambar-gambar di bawah ini. Data pada
gambar-gambar tersebut merupakan data pada tahun 2008. Jumlah sekolah, dari
mulai tingkat TK hingga tingkat SMA, baik negeri maupun swasta yaitu:
Gambar 389
Jumlah Sekolah di Provinsi DKI Jakarta

88
89

Dinas, Rencana Strategis, h. 66


Dinas, Kebijakan Dinas, h. 2

3002
3000
N
2500

JML

2249

2000

1733

1742

1500

937
1000

753
631
512

497
306

500

574

381
175

116

62

210

35

0
TK

SD

SMP

SMA

SMK

PKBM

Gambar di atas menunjukkan bahwa sekolah di Provinsi DKI Jakarta berjumlah


6.962 sekolah yang terdiri dari 2.777 sekolah negeri dan 4.185 sekolah swasta.
Adapun jumlah siswa di Provinsi DKI Jakarta dapat dilihat pada gambar di
bawah ini:
Gambar 490
Jumlah siswa di Provinsi DKI Jakarta
900000

862882

JML

800000

670559

700000

600000

500000

363187

400000

300000

227722
192323

200000

92779

177617
135465 91886
85731

93388

199599
157751
41848

100000

609

3933

TK

90

SD

Dinas, Kebijakan Dinas, h. 2

SMP

SMA

SMK

PKBM

Gambar di atas menunjukkan bahwa jumlah total siswa yang ada terdapat di
sekolah-sekolah di Provinsi DKI Jakarta yaitu 1.696.673 siswa. Mereka yang
menempuh pendidikan di sekolah negeri berjumlah 1.032.624 siswa. Adapun
yang menempuh pendidikan di sekolah swasta berjumlah 664.049 siswa.
Jumlah pendidik di Provinsi DKI Jakarta dapat dilihat pada gambar di bawah
ini:
Gambar 591
Jumlah Pendidik di Provinsi DKI Jakarta
45000

JML

40176

40000
35000

30918
30000

28802

25000
21095
20000
15849

15917
15000
10000

8938 8995

11374

11242
9853

12696
9144
6773
3153

5000
57
0
TK

SD

SMP

SMA

SMK

PKBM

Jumlah pendidik di Provinsi DKI Jakarta, berdasarkan gambar di atas, yaitu


102.032 orang yang terdiri dari 50.027 pendidik di sekolah negeri dan 52.005
pendidik di sekolah swasta.
B. Deskripsi dan Analisis Data

91

Dinas, Kebijakan Dinas, h. 3

Berdasarkan penelitian yang telah penulis lakukan mengenai kebijakan


penyelenggaraan pendidikan inklusif di Provinsi DKI Jakarta, penulis menemukan
data-data yang terkait dengan kebijakan penyelenggaraan pendidikan inklusif di
Provinsi DKI Jakarta. Data-data tersebut penulis temukan dengan menggunakan
metode dokumentasi dan wawancara. Data-data yang penulis temukan sebagai
berikut:
1. Kebijakan Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif di Provinsi DKI Jakarta
Penyelenggaraan pendidikan inklusif merupakan masalah yang telah menjadi
konsen bersama. Kebijakan penyelenggaraan pendidikan inklusif merupakan
kebijakan yang mengacu kepada beberapa ketetapan yang telah digariskan oleh
kesepakatan di tingkat dunia dan ketetapan yang telah digariskan pemerintah
Indonesia di tingkat pusat.
Pendidikan inklusif yang dimaksud dalam kebijakan yang dikeluarkan oleh
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta merupakan pendidikan bagi peserta didik
yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena
kelainan fisik, emosional, mental, sosial, dan/atau memiliki potensi kecerdasan
dan bakat istimewa. Pendidikan tersebut secara yuridis dimasukkan ke dalam
jenis pendidikan khusus yang diselenggarakan secara inklusif atau berupa
satuan pendidikan khusus pada tingkat pendidikan dasar dan menengah 92. Dari
sini dapat dipahami bahwa pendidikan inklusif merupakan salah satu
pendidikan yang secara khusus diselenggarakan bagi peserta didik yang
berkelainan.
Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 70 Tahun 2009 Tentang
Pendidikan Inklusif bagi Peserta Didik yang Memiliki Kelainan dan Memiliki
Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa disebutkan bahwa peserta didik

92

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 15, Pasal 32,
dan Penjelasan Pasal 15

yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, sosial, dan/atau memiliki


potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa perlu mendapatkan layanan
pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dan hak asasinya. Layanan
pendidikan tersebut

dapat

diselenggarakan secara

inklusif 93.

Layanan

pendidikan yang dimaksud dalam peraturan tersebut merupakan sistem


penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua
peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan/atau
bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam
lingkungan pendidikan secara bersama-sama dengan peserta didik pada
umumnya. Pada intinya, semua peserta didik, dalam kondisi bagaimana pun,
mendapatkan layanan pendidikan yang sama.
Pendidikan inklusif juga diatur dalam Peraturan Daerah (Perda) Provinsi DKI
Jakarta Nomor 8 Tahun 2006 Tentang Sistem Pendidikan. Dalam Perda tersebut
ditetapkan bahwa warga masyarakat yang memiliki kelainan fisik, mental,
emosional, dan mengalami hambatan sosial berhak memperoleh pendidikan
khusus. Begitu pula dengan warga masyarakat yang memiliki potensi
kecerdasan dan/atau bakat istimewa juga berhak mendapatkan pendidikan
khusus. Pendidikan khusus tersebut berfungsi memberikan layanan pendidikan
bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses
pembelajaran karena kendala fisik, emosional, mental, sosial dan/atau peserta
didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa. Pendidikan
khusus tersebut diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, nonformal
dan informal. Pendidikan khusus formal bagi peserta didik yang memiliki
kendala fisik, emosional, mental, sosial berbentuk Sekolah Luar Biasa (SLB)
dan/atau kelas inklusif sesuai dengan jenjang masing-masing. Pendidikan
khusus nonformal berbentuk lembaga kursus, kelompok belajar, lembaga
93

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 70 Tahun 2009 Tentang Pendidikan Inklusif bagi
Peserta Didik yang Memiliki Kelainan dan Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa

pelatihan serta satuan pendidikan lain yang sederajat. Pendidikan khusus


informal berbentuk pendidikan keluarga dan lingkungan. Jenis pendidikan
khusus dapat berupa pendidikan umum, kejuruan, keagamaan, dan khusus 94.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengeluarkan kebijakan penyelenggaraan
pendidikan inklusif lewat Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 116
Tahun 2007 Tentang Pendidikan Inklusif. Hal ini sebagaimana dikatakan Ibu
Septi Novida, Kepala Bidang TK, SD, PLB Dinas Pendidikan Provinsi DKI
Jakarta, yaitu:
kebijakan tentang penyelenggaraan pendidikan inklusif di DKI Jakarta
berdasarkan hasil kebijakan yang juga sudah ditetapkan oleh pemerintah
pusat melalui Direktorat PSLB Kementrian Pendidikan Nasional. Kebijakan
Direktorat PSLB ini terkait dengan kesepakatan di tingkat dunia dimana
anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus, khususnya dalam hal fisik dan
emosional diberikan kesempatan untuk bersekolah atau mengenyam
pendidikan. Sebenarnya dari dulu, anak-anak yang memiliki kebutuhan
khusus ini sudah diberi kesempatan untuk mengenyam pendidikan di SLB.
Namun kenapa tidak jika pendidikan mereka dijadikan satu di sekolah
reguler dari mulai tingkat TK, SD, SMP, dan SMA/SMK. Terkait dengan
itu, tahun 2007 keluar Peraturan Gubernur (Pergub) DKI Jakarta Nomor 116
Tahun 2007 Tentang Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif dimana di
dalamnya memuat ketentuan bahwa masing-masing kecamatan di Provinsi
DKI Jakarta harus memiliki lembaga yang menampung dan melayani anakanak berkebutuhan khusus95
Pendidikan inklusif yang diselenggarakan di lingkungan Dinas Pendidikan
Provinsi DKI Jakarta adalah pendidikan yang ditujukan bagi anak-anak
berkebutuhan khusus yang memiliki kekurangan dalam hal fisik, mental, dan
emosional agar mereka dapat belajar bersama-sama di sekolah reguler bersamasama anak-anak normal lain. Hal tersebut didukung dengan pernyataan yang
diberikan Dra. Septi Novida, M.Pd yaitu:

94

Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta Nomor 8 Tahun 2006 Tentang Sistem Pendidikan
Wawancara dengan Septi Novida, Kepala Bidang TK, SD, PLB Dinas Pendidikan Provinsi DKI
Jakarta (23 November 2010 Pukul 07.30) di Kantor Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta
95

anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus, khususnya dalam hal fisik


dan emosional diberikan kesempatan untuk bersekolah atau mengenyam
pendidikan. Sebenarnya dari dulu, anak-anak yang memiliki kebutuhan
khusus ini sudah diberi kesempatan untuk mengenyam pendidikan di SLB.
Namun kenapa tidak jika pendidikan mereka dijadikan satu di sekolah
reguler dari mulai tingkat TK, SD, SMP, dan SMA/SMK 96.
Wawancara yang penulis lakukan dengan guru program inklusif di lingkungan
Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta juga menunjukkan bahwa pendidikan
inklusif yang diselenggarakan di Provinsi DKI Jakarta ditujukan bagi anak-anak
berkebutuhan khusus yang memiliki kekurangan dalam hal fisik, mental, dan
emosional. Guru di SMP Negeri 223 Pasar Rebo Jakarta Timur menyatakan:
Pendidikan inklusif adalah pendidikan yang tidak membeda-bedakan
kemampuan peserta didik. Pendidikan inklusif adalah pendidikan yang
merangkul kekurangan-kekurangan yang terdapat dalam diri peserta
didik97
Ibu Fitri dari Hellen Keller Internasional (HKI) menyatakan bahwa pendidikan
inklusif yaitu:
Pendidikan inklusif adalah pendidikan yang memberi kesempatan kepada
peserta didik yang memiliki kekurangan dalam hal fisik, mental, dan
emosional untuk dapat belajar bersama di sekolah reguler bersama anakanak normal lain98
Manajer program inklusi di SMA Negeri 66 Cilandak Jakarta Selatan
memberikan pemaparan bahwa yang dimaksud dengan pendidikan inklusif
yaitu:
Pendidikan inklusif seringkali salah dipahami oleh sebagian besar
masyarakat. Pendidikan inklusif sebenarnya bukan hanya mengakomodir
kekurangan-kekurangan yang terdapat dalam diri peserta didik seperti
kekurangan dalam hal fisik, emosional, dan mental saja, namun lebih jauh
96

Wawancara dengan Septi Novida


Wawancara dengan Sukarto, Guru Inklusi SMP Negeri 223 Pasar Rebo (9 Desember 2010, Pukul
13.00) di ruang guru SMP Negeri 223 Pasar Rebo
98
Wawancara dengan Fitri, Hellen Keller Internasional (HKI) (26 Nopember 2010 Pukul 10.00) di
ruang pelatihan Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta
97

pendidikan inklusif harus dimaknai lebih luas dimana seharusnya pendidikan


merangkul semua kekurangan karena sejatinya setiap orang memiliki
kekurangan99
Berdasarkan

pernyataan-pernyataan

diatas,

pendidikan

inklusif

yang

diselenggarakan di lingkungan Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta ingin


memberikan pelayanan pendidikan yang sesuai dengan hak yang dimiliki setiap
peserta didik atas perkembangan individu, sosial, dan intelektual, sebagaimana
dinyatakan MIF Baihaqi dan M. Sugiarmin. Peserta didik yang memiliki
ketidakmampuan khusus dan/atau memiliki kebutuhan belajar yang luar biasa
diberikan akses terhadap pendidikan yang bermutu di sekolah-sekolah
reguler 100.
Selain itu, penyelenggaraan pendidikan inklusif di lingkungan Dinas
Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, sebagaimana dinyatakan Daniel P. Hallahan,
memberikan kesempatan yang sama kepada setiap peserta didik berkebutuhan
khusus untuk ditempatkan bersama-sama dengan peserta didik normal lainnya
dalam kelas yang sama sepanjang hari101. Pendidikan inklusif memang berusaha
merangkul semua kekurangan yang terdapat dalam diri peserta didik. Sesuai
dengan yang dinyatakan Gavin Reid bahwa pendidikan inklusif memang
dimaksudkan untuk menghilangkan perbedaan dengan berpijak pada prinsip
persamaan, keadilan, dan hak individu 102.
Kebijakan penyelenggaraan pendidikan inklusif di Provinsi DKI Jakarta
dimaksudkan untuk menghilangkan pembedaan yang selama ini terjadi kepada
anak-anak berkebutuhan khusus. Pendidikan segregatif di SLB (Sekolah Luar
Biasa) yang selama ini diperuntukkan bagi anak-anak berkebutuhan khusus
99

Wawancara dengan Suparno, Manajer Program Inklusi SMA Negeri 66 Cilandak (17 Desember
2010 Pukul 12.30) di ruang guru SMA Negeri 66 Cilandak
100
MIF. Baihaqi dan M. Sugiarmin, Memahami dan Membantu Anak ADHD, (Bandung: PT. Refika
Aditama, 2006), h. 75-76.
101
Daniel P. Hallahan dkk., Exceptional Learners: An Introduction to Special Education, (Boston:
Pearson Education Inc., 2009), cet. ke-10, h. 53.
102
Gavin Reid, Dyslexia and Inclusion, Classroom Approaches for Assesment, Teaching and
Learning, (London: David Fulton Publisher, 2005), h. 88

memisahkan mereka dari kenormalan, sehingga mereka terbiasa dengan


ketidaknormalan yang selama ini dilekatkan kepada mereka. Dengan
penyelenggaraan pendidikan inklusif tersebut, diharapkan agar halangan yang
selama

ini

membatasi

akses

anak-anak

berkebutuhan khusus

untuk

mendapatkan pendidikan yang layak dapat teratasi.


Hanya saja peraturan perundangan seperti Peraturan Menteri Pendidikan
Nasional Nomor 70 Tahun 2009 dan Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta
Nomor 116 Tahun 2006 memberikan batasan mengenai siapa saja yang
termasuk dalam kategori peserta didik berkebutuhan khusus. Peserta didik yang
dimaksud dalam pendidikan inklusif sebagaimana disebutkan dalam Peraturan
Menteri Pendidikan Nasional Nomor 70 Tahun 2009 terdiri atas:
a. Tunanetra
b. Tunarungu
c. Tunawicara
d. Tunagrahita
e. Tunadaksa
f. Tunalaras
g. Berkesulitan belajar
h. Lamban belajar
i. Autis
j. Memiliki gangguan motorik
k. Menjadi korban penyalahgunaan narkoba, obat terlarang, dan zat adiktif
lainnya
l. Memiliki kelainan lainnya
m. Tunaganda103

103

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 70 Tahun 2009

Dalam Pergub Nomor 116 Tahun 2007 disebutkan bahwa peserta didik
berkebutuhan khusus yang dimaksud dalam pendidikan inklusif yaitu:
a. Siswa dengan gangguan penglihatan
b. Siswa dengan gangguan pendengaran
c. Siswa dengan gangguan wicara
d. Siswa dengan gangguan fisik
e. Siswa dengan kesulitan belajar
f. Siswa dengan gangguan lambat belajar
g. Siswa dengan gangguan pemusatan pemikiran
h. Siswa cerdas istimewa, dan
i. Siswa yang memiliki kebutuhan khusus secara sosial104
Dengan pembatasan ini, maka tidak semua peserta didik yang memiliki
kekurangan dapat

menjadi peserta didik pendidikan inklusif. Dalam

implementasi di lapangan ditemukan data bahwa tidak semua kelainan yang


dikategorikan pemerintah ke dalam jenis kelainan atau kebutuhan khusus dapat
ditemukan di sekolah sekolah reguler. Hal ini diakui oleh Kepala Bidang
TK/SD/PLB Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta dimana sebagian besar
peserta didik yang kelainan atau berkebutuhan khusus yang masuk ke sekolah
inklusif yaitu peserta didik kategori A (tunanetra). Kelainan lain yang banyak
ditemukan di sekolah-sekolah inklusif yaitu peserta didik dengan kategori B
(tunarungu) dan C (tunagrahita), walaupun keduanya juga jarang ditemukan.
Selain itu, peserta didik yang memiliki kelainan fisik dan harus memakai alat
bantu seperti kursi roda juga jarang ditemukan. Hingga penelitian skripsi ini
dilakukan untuk mengumpulkan data, penulis tidak menemukan data mengenai
jumlah dan kategori kelainan peserta didik yang terdapat di sekolah inklusif.

104

Peraturan Gubernur Nomor 116 Tahun 2007

Di sekolah inklusif seperti SMP Negeri 223 Pasar Rebo Jakarta Timur dan
SMA Negeri 66 Cilandak Jakarta Selatan sebagian besar peserta didik
berkebutuhan khusus adalah peserta didik kategori A. Kategori lain yang juga
banyak terdapat di sekolah tersebut yaitu anak-anak autis.
Pada prinsipnya, sesuai dengan konsep dasar pendidikan inklusif, Dinas
Pendidikan Provinsi DKI Jakarta memberikan arahan agar semua kelainan atau
kebutuhan khusus yang tertera dalam peraturan baik Peraturan Menteri
Pendidikan Nasional maupun Peraturan Gubernur untuk diterima sebagai
peserta didik di sekolah-sekolah inklusif yang telah ditunjuk. Namun
sebagaimana ditemukan dalam penelitian, tidak serta merta semua peserta didik
dengan kelainan atau kebutuhan khusus dapat diterima menjadi peserta didik
sekolah inklusif. Peserta didik yang ingin mendaftarkan diri di sekolah inklusif
harus melalui tahap identifikasi (skrining atau assesment) agar diketahui
kondisi dan kebutuhan peserta didik tersebut. Peserta didik dengan kelainan
ekstrem tidak dapat diterima menjadi peserta didik di sekolah inklusif karena
memang diakui pihak sekolah belum memiliki Sumber Daya Manusia yang
memadai untuk menangani kelainan ekstrem tersebut.
Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta lewat Kepala Bidang TK/SD/PLB
mengakui bahwa sebenarnya pihak Dinas telah menunjuk beberapa guru SLB
untuk menjadi Guru Pembimbing Khusus (GPK) untuk membantu proses
penyelenggaraan pendidikan inklusif di sekolah, namun hingga kini jumlah
GPK terus berkurang bahkan keberadaannya tidak jelas.
Selain tidak tertampungnya semua kelainan atau kebutuhan khusus peserta
didik di sekolah inklusif, peserta didik dengan kecerdasan luar biasa dan/atau
bakat

istimewa

sebagai

peserta

didik

yang

diikutsertakan

dalam

penyelenggaraan pendidikan inklusif jarang mendapatkan sorotan. Padahal


sebagaimana kebijakan yang tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan

Nasional dan Peraturan Gubernur, peserta didik dengan kecerdasan luar biasa
dan/atau baka istimewa merupakan salah satu kategori peserta didik yang
diikutsertakan dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif. Jarangnya sorotan
terhadap peserta didik dengan kecerdasan luar biasa dan/atau bakat istimewa
terlihat dari jarangya penyebutan peserta didik dengan kecerdasan luar biasa
dan/atau bakat istimewa dalam setiap kesempatan yang berkaitan dengan
pendidikan inklusif. Saat wawancara penulis lakukan dengan beberapa
narasumber, jarang sekali narasumber menyinggung mengenai peserta didik
dengan kecerdasan luar biasa dan/atau bakat istimewa. Begitu pula saat
pelatihan untuk guru-guru sekolah inklusif penulis ikuti, jarang sekali
pembahasan mengenai peserta didik dengan kecerdasan luar biasa dan/atau
bakat istimewa menjadi salah satu fokus.
Jika mengacu kepada konsep pendidikan inklusif, peserta didik dengan
kecerdasan dan/atau bakat istimewa tidak menjadi salah satu kategori yang
perlu dimasukkan dalam pendidikan inklusif, karena istilah pendidikan inklusif,
menurut J. David Smith, digunakan untuk mendeskripsikan penyatuan anakanak berkelainan (penyandang hambatan/cacat) ke dalam program sekolah.
Konsep inklusi memberikan pemahaman mengenai pentingnya penerimaan
anak-anak yang memiliki hambatan ke dalam kurikulum, lingkungan, dan
interaksi sosial yang ada di sekolah105.
Dari dokumen yang penulis dapatkan, kebijakan Dinas Pendidikan Provinsi
DKI Jakarta digambarkan sebagai berikut:
Gambar 6106
Kebijakan Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta

105
106

J. David Smith, Inklusi, Sekolah Ramah untuk Semua, (Bandung: Penerbit Nuansa, 2006), h. 45
Dinas, Kebijakan Dinas, h. 3

KEBIJAKAN DINAS PENDIDIKAN

LANDASAN

A. PUSAT
1. UU
2. PP
3. Kebijakan

B. PEMERINTAH
DAERAH
1. Perda
2. Pergub
3. Kebijakan
4. Program

C. KEADAAN UMUM, PERMASALAHAN, DAN TANTANGAN

Seluruh kebijakan Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta didasarkan atas


landasan yang ditetapkan pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Kebijakan
penyelenggaraan pendidikan inklusif di Provinsi DKI Jakarta didasarkan atas
ketetapan-ketetapan yang ditetapkan oleh pemerintah pusat dan pemerintah
daerah Provinsi DKI Jakarta yaitu:
a. Pusat
- Undang-Undang (UU)
Kebijakan penyelenggaraan pendidikan inklusif didasarkan atas ketetapan
pemerintah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang
Sistem Pendidikan Nasional.
- Peraturan Pemerintah (PP)
Peraturan Pemerintah (PP) yang mengatur pelaksanaan pendidikan
inklusif yaitu Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2005 Tentang
Standar Pendidikan Nasional.
- Peraturan Menteri

Peraturan Menteri Nomor 70 Tahun 2009 Tentang Pendidikan Inklusif


bagi Peserta Didik yang Memiliki Kelainan dan Memiliki Potensi
Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa mengatur pelaksanaan pendidikan
inklusif.
- Kebijakan
b. Pemerintah Daerah
- Peraturan Daerah (Perda)
Provinsi DKI Jakarta memiliki Peraturan Daerah (Perda) yang
didalamnya memuat aturan mengenai pendidikan inklusif. Perda yang
dimaksud yaitu Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2006 Tentang Sistem
Pendidikan.
- Peraturan Gubernur (Pergub)
Peraturan Gubernur (Pergub) yang mengatur penyelenggaraan pendidikan
inklusif di Provinsi DKI Jakarta yaitu Peraturan Gubernur Nomor 116
Tahun 2007 Tentang Penyelenggaraan Pendidikan Inklusi.
- Kebijakan
- Program
Program pendidikan inklusif di lingkungan Dinas Pendidikan Provinsi
DKI Jakarta berada di bawah koordinasi Bidang TK/SD/PLB. Program
tersebut dimasukkan ke dalam Program Pendidikan Luar Biasa yang
berisi program-program sebagai berikut107:
1. Pengembangan penyelenggaraan pendidikan inklusi
2. Pembinaan dan Pemberdayaan SD/SMP Model Inklusi
3. Pembinaan SLB sebagai Pusat Sumber Pendidikan Inklusi
107

Dinas, Rencana Strategis.., h. 120

4. Pembinaan Instruktur, Guru Pendamping dan Pembimbing (Guru SLB)


Khusus Penyelenggaraan Pendidikan Inklusi
5. Pembinaan Kepala Sekolah Penyelenggara Pendidikan Inklusi
6. Pembinaan Pengawas TK/SD dalam Penyelenggaraan Inklusi
7. Biaya Operasional Pokja Inklusi
8. Biaya Operasional Penyelenggara Pendidikan Inklusi TK, SD, dan
SMP
9. Operasional Guru Pendamping Khusus untuk Sekolah Inklusi
10. Operasional Guru Pembimbing Khusus Sekolah Inklusi
Semua program yang dicanangkan oleh Bidang TK/SD/PLB terkait pendidikan
inklusif sudah terlaksana. Kepala Bidang TK/SD/PLB Dra. Septi Novida, M.Pd
menyatakan bahwa saat ini Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta sedang
berusaha meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan inklusif setelah
kuantitas sekolah penyelenggara program pendidikan inklusif terpenuhi.
Kebijakan penyelenggaraan pendidikan inklusif di Provinsi DKI Jakarta
dilaksanakan

dengan

menunjuk

sekolah-sekolah

reguler

untuk

menyelenggarakan program pendidikan inklusif.


Penunjukkan sekolah-sekolah untuk menyelenggarakan program pendidikan
inklusif sudah ditetapkan dari pusat. Berdasarkan Surat Edaran Dirjen
Dikdasmen (Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah) No.
380/C.C6/MN/2003 Tanggal 20 Januari 2003 Perihal Pendidikan Inklusif,
setiap Kabupaten/Kota sekurang-kurangnya memiliki 4 (empat) sekolah yang
terdiri dari SD, SMP, SMA, dan SMK108.
Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 70 Tahun 2009 Tentang
Pendidikan Inklusif bagi Peserta Didik yang Memiliki Kelainan dan Memiliki
108

Surat Edaran Dirjen Dikdasmen No. 380/C.C6/MN/2003 Tanggal 20 Januari 2003 Perihal
Pendidikan Inklusif

Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa disebutkan bahwa Pemerintah


Kabupaten/Kota menunjuk paling sedikit 1 (satu) Sekolah Dasar, dan 1 (satu)
Sekolah Menengah Pertama pada setiap kecamatan dan 1 (satu) satuan
pendidikan menengah untuk menyelenggarakan pendidikan inklusif yang wajib
menerima peserta didik berkebutuhan khusus 109.
Sebagai Daerah Khusus Istimewa dan otonom, Provinsi DKI Jakarta
mengeluarkan peraturan khusus berupa Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor
116 Tahun 2007 Tentang Penyelenggaraan Pendidikan Inklusi. Dalam Pergub
ini disebutkan bahwa setiap Kecamatan sekurang-kurangnya memiliki 3 (tiga)
TK/RA, SD/MI dan 1 (satu) SMP/MTs yang menyelenggarakan pendidikan
inklusi. Untuk tingkat SMA/SMK, MA/MAK, setiap Kotamadya sekurangkurangnya memiliki 3 (tiga) SMA/SMK, MA/MAK110. Pergub inilah yang
kemudian dijadikan acuan Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta untuk
menunjuk sekolah-sekolah reguler dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif.
Berdasarkan Pergub tersebut, Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta
merealisasikannya

dengan

menunjuk

sekolah-sekolah

reguler

untuk

menyelenggarakan pendidikan inklusif sejumlah 164 sekolah dari jenjang TK


hingga SMA. Penunjukkan sekolah-sekolah tersebut berdasarkan Keputusan
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor
1190/2010 Tentang Penunjukkan Nama-nama TK, SD, SMP, dan SMA/SMK
Penyelenggara Pendidikan Inklusif di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2010 111.
Sekolah-sekolah yang menyelenggarakan program pendidikan inklusif yaitu
sebagai berikut:

109

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 70 Tahun 2009


Peraturan Gubernur Nomor 116 Tahun 2007
111
Keputusan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 1190/2010
Tentang Penunjukkan Nama-nama TK, SD, SMP, dan SMA/SMK Penyelenggara Pendidikan Inklusif
di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2010
110

Tabel 1112
DAFTAR NAMA TK, SD, SMP, SMA/SMK NEGERI PENYELENGGARA
PENDIDIKAN INKLUSI
PROVINSI DKI JAKARTA
No

Nama Sekolah

Alamat

Kecamatan

Taman Kanak-Kanak (TK)


1

TK Negeri Pembina Nasional

Jl. Muchtar Raya

Pesanggrahan

TK Negeri Cipete

Jl. Cipete VII No. 70

Cilandak

Jl. Bambu Duri X Pd


3

TK Pembina Tingkat Provinsi

Bambu

Duren Sawit

Sekolah Dasar (SD)


1

SDN Johar Baru 29

Jl. Percetakan Negara II


Jl.

SDN Bendungan Hilir 01

Danau

Johar Baru

Toba

Pejompongan

Tanah Abang

Jl. Cempaka Putih Barat


3

SDN Cempaka Putih Barat 16

19

Cempaka Putih

SDN Kartini 02

Jl. Gotong Royong Gg. E

Sawah Besar

SDN Mangga Dua Selatan 01 Pg Jl. Melawai Dalam No. 1

Sawah Besar

SDN Pasar Baru 01 Pg

Jl. Pintu Besi I/42

Sawah Besar

SDN Petamburan 01 Pg

Jl. Petamburan IV

Tanah Abang

SDN Bendungan Hilir 07

Jl. Danau Limboto No. 9

Tanah Abang

SDN Kenari 01

Jl. Kramat IV/25

Senen

10

SDN Bungur 01 Pg

Jl. Angsana No. 4

Senen

11

SDN Kebon Sirih 01 Pg

Jl. Kebon Sirih No. 29

Menteng

12

SDN Cikini 01 Pg

Jl. Cidurian No. 2 A

Menteng

13

SDN Cempaka Putih Timur 02

Jl. Rawasari Timur IV/2

Cempaka Putih

112

Lampiran Keputusan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor
1190/2010 Tentang Penunjukkan Nama-nama TK, SD, SMP, dan SMA/SMK Penyelenggara
Pendidikan Inklusif di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2010 Tanggal 19-08-2010

14

SDN Cempaka Putih Barat 07

Jl. Percetakan Negara

Cempaka Putih

15

SDN Tanah Tinggi 11

Jl. Tanah Tinggi I/2

Johar Baru

Jl. Mardani Raya No. 12


16

SDN Johar Baru 10

Johar Baru

17

SDN Cideng 11 Pt

Jl. Cimalaya No. 1

Gambir

18

SDN Petojo Selatan 05

Jl. Petojo Encelek XIV

Gambir

19

SDN Serdang 01 Pt

Jl. Lapangan Poros

Kemayoran

Jl. Sumur Batu Utara No.


20

SDN Sumur Batu 07 Pt

Kemayoran

Komplek PT. HI Kelapa


21

SDN Kelapa Gading Timur 04

Gading

Kelapa Gading

Jl. Marundo Pulo Rt.


22

SDN Merunda 02

01/01
Jl.

Komplek

Cilincing
Nelayan

23

SDN Pluit 06

Muara Angke Rt. 01/01

Penjaringan

24

SDN Sungai Bambu 02 Pg

Jl. Gadang No. 52

Tanjung Priok

Jl. Baru Gg. II Rt. 011/02


25

SDN Cilincing 05 Pg

No. 2

Cilincing

26

SDN Semper Barat 07 Pg

Jl. Pepaya V No. 20

Cilincing

Jl. Kramat Jaya Gg. 8


27

SDN Tugu Utara 12

Blok R

Koja

28

SDN Rawa Badak Selatan 11 Pg

Jl. Bendungan Selatan

Koja

Jl. Bandengan Utara No.


29

SDN Penjaringan 11

80

Penjaringan

30

SDN Kapuk Muara 03 Pg

Jl. SMP Negeri 122

Penjaringan

31

SDN Sunter Jaya 07 Pg

Jl. Sunter Jaya VI No. 31

Tanjung Priok

32

SDN Sunter Agung 04 Pt

Jl. Agung Jaya No. 15

Tanjung Priok

33

SDN Ancol 03 Pg

Jl. Kampung Muka Rt. Pademangan

09-04
34

SDN Pademangan Barat 08 Pt

Jl. Ampera VII

Pademangan

35

SDN Pegangsaan Dua 03 Pg

Jl. Kepu Pegangsaan Dua

Kelapa Gading

36

SDN Slipi 18 Pg

Jl. KS Tubun III Dalam

Palmerah

37

SDN Sukabumi Selatan 07

Jl. Pos Pengumben

Kebon Jeruk

Jl.

Lapangan

Jabek

38

SDN Meruya Selatan 06 Pg

Komp. Mega

Kembangan

39

SDN Kembangan Utara 05 Pg

Jl. Kampung Rt. 05/03

Kembangan

Jl.

Komplek DKI Rt.

40

SDN Joglo 04 Pg

002/08

Kembangan

41

SDN Duri Kelapa 06 Pg

Jl. Mangga XIV Rt. 06/04 Kebon Jeruk

42

SDN Kelapa Dua 04 Pg

Jl. Inpres Rt. 004/05

Kebon Jeruk

Jl. Seroja No. 16 Rt.


43

SDN Jatipulo 08 Pg

004/01

Palmerah

Jl. Komplek PJKA Pndk.


44

SDN Kota Bambu Selatan 01 Pg

Bandung

Palmerah

Jl. Jembatan Besi IX No.


45

SDN Jembatan Besi 01 Pg

31

Tambora

46

SDN Duri Utara 02 Pg

Jl. Duri Utara I No. 1

Tambora

47

SDN Pinangsia 02 Pg

Jl. Pinangsia I No. 20

Tamansari

Jl. KH. Zaenal Arifin No.


48

SDN Krukut 03 Pg

Tamansari

SDN Tanjung Duren Utara 01 Jl. Tanjung Duren Utara


49

Pg

III/3

Grogol

50

SDN Jelambar 03 Pg

Jl. Jelambar Selatan XVI

Grogol

51

SDN Pegadungan 11 Pg

Jl. Peta Utara No. 10

Kalideres

52

SDN Kamal 02 Pg

Jl. Kebon 200 Rt. 03/06

Kalideres

53

SDN Cengkareng Timur 01 Pg

Jl. Daan Mogot Km. 14

Cengkareng

54

SDN Rawa Buaya 03 Pg

Jl. Al Barkah Rt. 001/03

Cengkareng

55

SDN Menteng Atas 04

Jl. Dr. Saharjo 121

Setiabudi

56

SDN Cipete Utara 12 Pg

Jl. Kirai Ujung

Kebayoran Baru

57

SDN Lebak Bulus 02 Pg

Jl. Pertanian Raya No. 59

Cilandak

58

SDN Lebak Bulus 03 Pg

Jl. Pertanian III No. 88

Cilandak

59

SDN Lebak Bulus 06 Pg

Jl. Gunung Balong

Cilandak

60

SDN Cipete Selatan 04

Jl. Anggus II

Cilandak
Mampang

61

SDN Pela Mampang 01 Pg

Jl. Bangka II Gg. IV

Prapatan

62

SDN Pejaten Timur 15 Pg

Jl. Siaga Dharma VIII

Pasar Minggu

63

SDN Ragunan 11 Pg

Jl. Harsono RM

Pasar Minggu

64

SDN Pondok Labu 01 Pg

Jl. RS Fatmawati

Cilandak

65

SDN Gandaria Selatan 01 Pg

Jl. Teladan No. 3

Cilandak

66

SDN Pesanggrahan 03 Pg

Jl. Kodam

Pesanggrahan

67

SDN Petukangan Selatan 05

Jl. Inpres Rt. 0014/02

Pesanggrahan

68

SDN Grogol Selatan 03

Jl. Raya Kebayoran Lama

Pesanggrahan
Kebayoran

69

SDN Grogol Utara 09 Pagi

Jl. Kemandoran I

Lama

70

SDN Pulo 05 Pg

Jl. Jembatan Selatan

Kebayoran Baru

71

SDN Gandaria Utara 11 Pagi

Jl. BRI Radio Dalam

Kebayoran Baru

72

SDN Pancoran 05 Pg

Jl. Pancoran Timur II

Pancoran

73

SDN Pengadegan 08 Pagi

Jl. Pengadegan Barat XIII

Pancoran
Mampang

74

SDN Kuningan Barat 03 Pagi

Jl. PLN Kuningan Barat

Prapatan

Jl. Kapten Tendean Gg. Mampang


75

SDN Mampang Prapatan 05 Pg

Kamboja

Prapatan

76

SDN Karet Kuningan 03 Pagi

Jl. Genteng Ijo No. 1

Setiabudi

77

SDN Setiabudi 01

Jl. Setiabudi Barat No. 8

Setiabudi

78

SDN Cipedak 03 Pagi

Jl. Timbul Rt. 007/05

79

SDN Lenteng Agung 07 Pagi

Jl. Raya Depok Gg. Subur Jagakarsa


Jl.

Raya

Jagakarsa

Condet

Rt.

80

SDN Gedong 04

012/03

Pasar Rebo

81

SDN Kramatjati 24

Jl. Langgar Rt. 008/10

Kramatjati

82

SDN Kebon Pala 03 Pagi

Jl. Raya Condet

Makasar

83

SDN Batu Ampar 04

Jl. Batu Ampar III

Kramatjati

Jl.

Raya

Condet

Gg.

84

SDN Gedong 12

Masjid

Pasar Rebo

85

SDN Gedong 03

Jl. Raya Condet

Pasar Rebo

86

SDN Cipinang Muara 24 Pt

Jl. Cipinang Muara

Jatinegara

87

SDN Cipayung 09 Pt

Jl. SMU 64 Cipayung

Cipayung

88

SDN Cakung Barat 18 Pt

Jl. Raya Bekasi Km. 23

Cakung

89

SDN Jatinegara 05 Pg

Jl. Raya Bekasi Km. 17

Cakung

90

SDN Jatinegara Kaum 03 Pg

Jl. Raya Bekasi Km. 18

Pulo Gadung

91

SDN Pisangan Timur 16 Pt

Jl. Mugeni I

Pulo Gadung

92

SDN Rawabunga 16 Pg

Jl. Jatinegara Timur IV

Jatinegara

93

SDN Bidaracina 04 Pt

Jl. Setia No. 10

Jatinegara

Jl. Jenderal A. Yani No.


94

SDN Pisangan Baru 02 Pg

30

Matraman

95

SDN Pisangan Baru 10 Pt

Jl. Pisangan Baru I

Matraman

96

SDN Pondok Bambu 03 Pg

Jl. Pahlawan Revolusi

Duren Sawit

97

SDN Klender 17 Pt

Jl. Pertanian Utara

Duren Sawit

98

SDN Ciracas 13 Pt

Jl. Kramat Rt. 12/10

Ciracas

99

SDN Susukan 13 Pt

Jl. Makmur IV Rt. 009/02

Ciracas

Jl. Dewi Sartika No. 200

Kramat Jati

100 SDN Cawang 06 Pt

Jl. Raya Pondok Gede Rt.


101 SDN Dukuh 02 Pt

001/01

Kramat Jati

102 SDN Kebon Pala 08 Pt

Jl. Permata Rt. 07/005

Makasar

103 SDN Kebon Pala 15 Pg

Jl. SD Inpres Rt. 003/04

Makasar

Jl. Gongseng Raya Rt.


104 SDN Cijantung 09 Pt

010/01

Pasar Rebo

105 SDN Kalisari 10 Pt

Jl. Kalisari Rt. 006/02

Pasar Rebo

106 SDN Ceger 03 Pt

Jl. SMP 222 Rt. 05/02

Cipayung

107 SDN Lubang Buaya 02 Pt

Jl. Yusufiah Rt. 010/01

Cipayung

108 SDN Cijantung 01

Jl. Pertengahan

Pasar Rebo

109 SDN Kramat Jati 01

Jl. Masjid Al Amin

Kramatjati

110 SDN Kramat Jati 16

Jl. Langgar Rt. 008/010

Kramatjati

111 SDN Rambutan 01

Jl. HM. Sabar No. 49

Ciracas

112 SDN Cilangkap 01

Jl. Mabes ABRI

Cipayung

113 SDN Halim Perdanakusuma 01

Jl. Halim Golf

Makasar

Jl. Komp. Perwira TNI


114 SDN Cipayung 02

AD

Cipayung

115 SDN Kebon Pala 01 Pagi

Jl. Cakrawala No 01

Makasar

Jl. Matraman Raya No.


116 SDN Balimester 01

226

Jatinegara

117 SDN Kampung Melayu 02 Pt

Jl. Kebon Pala I No. 34

Jatinegara

118 Pg

Jl. Bekasi Timur IV No. 1

Jatinegara

119 SDN Duren Sawit 01 Pagi

Jl. Kelurahan I

Duren Sawit

120 SDN Klender 03 Pagi

Jl. Raden Inten II Buaran

Duren Sawit

SDN Cipinang Besar Utara 01

Sekolah Menengah Pertama (SMP)


1

SMPN 118

Jl. Pramuka Sari I

Cempaka Putih

SMPN 183

Jl. Cempaka Baru VII/47

Kemayoran

Jl.
3

SMPN 269

Harapan

Kemayoran

Mulia
Cempaka Putih

SMPN 4

Jl. Perwira No. 10-11

Sawah Besar

SMPN 70

Jl. H. Awaludin IV

Tanah Abang

SMPN 42

Jl. Pademangan Timur 3

Pademangan

Jl. Kamal Muara Raya


7

SMPN 120

No. 9

Penjaringan

SMPN 122

Jl. SMP 122 Penjaringan

Penjaringan

Jl.

HM.

Darpi

Plum

SMPN 114

Semper

Koja

10

SMPN 266

Jl. Cilincing Batik VI

Cilincing

Jl. Kompi Udin Rt. 01/01


11

SMPN 270

Pgangs Dua

Kelapa Gading

Jl. Barkah I Rt. 001/03


12

SMPN 264

Rawa Buaya

Cengkareng

Jl. Duta Raya


13

SMPN 191

Kebon

Jeruk
Jl.

Kebon Jeruk
Kamal

Raya

14

SMPN 248

Cengkareng Timur

Cengkareng

15

SMPN 207

Jl. Meruya Utara

Kembangan

16

SMPN 63

Jl. Perniagaan No. 31

Tambora

Jl. Pahlawan Sukabumi


17

SMPN 271

Selatan VI/F1

Kebon Jeruk

18

SMPN 226

Jl. Kayu Kapur No. 2

Pondok Labu

19

SMPN 240

Jl. H. Raya No. 16 B

Gandaria Utara

20

SMPN 235

Jl. Pondok Indah

Pesanggrahan

Jl. Palmerah Barat 59 Kebayoran


21

SMPN 16

Grogol Utara

Lama

22

SMPN 276

Jl. Srengseng Sawah

Jagakarsa

23

SMPN 15

Jl.

Profesor

Supomo Tebet

Menteng
24

SMPN 223

Jl. Surilang No. 6

Pasar Rebo

25

SMPN 36

Jl. Pedati

Jatinegara

26

SMPN 62

Jl. Jatinegara Timur IV

Jatinegara

27

SMPN 259

Jl. Komplek TMII

Cipayung

28

SMPN 165

Jl. Balai Rakyat III/16

Duren Sawit

29

SMPN 287

Jl. Balai Rakyat III/16

Makasar

Jl. Raya Bekasi Km. 18


30

SMPN 90

Jatinegara

Cakung

Jl. Gading Raya No. 16


31

SMPN 232

Pisang Timur

Pulo Gadung

Sekolah Menengah Atas (SMA)/Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)


1

SMA Negeri 5

Jl. Raya Sumur Batu

Kemayoran

SMK Negeri 27

Jl. Dr. Sutomo No. 1

Senen

Jl.
3

SMA Negeri 40

Budi

Mulia

Raya

Pademangan

Pademangan

Jl. Gading Timur Kelapa


4

SMK Negeri 33

Gading

Kelapa Gading

Jl. Senggrehan Meruya


5

SMA Negeri 112

Utara

Kembangan

SMK Negeri 13

Jl. Rawa Belong II E

Palmerah

Jl. Bango III Pondok


7

SMA Negeri 66

Labu

Cilandak

SMK Negeri 30

Jl. Pakubuwono 6

Kebayoran Baru

SMA Negeri 54

Jl. Jatinegara Timur IV

Jatinegara

Jl. SMIK Bambu Apus


10

SMK Negeri 58

TMII

Cipayung

Sebagai Daerah Khusus Istimewa dan daerah otonom, Provinsi DKI Jakarta
telah mengeluarkan peraturan daerah dalam bentuk Peraturan Gubernur Nomor
116 Tahun 2007 Tentang Penyelenggaraan Pendidikan Inklusi. Secara umum,
tidak ada perbedaan antara Pergub tersebut dengan peraturan-peraturan di
atasnya seperti Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 70 Tahun 2009
Tentang Pendidikan Inklusif bagi Peserta Didik yang Memiliki Kelainan dan
Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa. Kedua peraturan
tersebut secara teknis memberikan ketentuan-ketentuan umum mengenai
pelaksanaan pendidikan inklusif.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional berlaku secara nasional, sedangkan
Peraturan Gubernur berlaku hanya di Provinsi DKI Jakarta. Yang membedakan
keduanya

yaitu

pada

penunjukkan

sekolah-sekolah

reguler

yang

menyelenggarakan program pendidikan inklusif. Dalam Peraturan Menteri


Pendidikan Nasional Nomor 70 Tahun 2009 disebutkan bahwa Pemerintah
Kabupaten/Kotamadya menunjuk paling sedikit 1 (satu) Sekolah Dasar dan 1
(satu) Sekolah Menengah Pertama pada setiap kecamatan dan 1 (satu) satuan
pendidikan menengah untuk menyelenggarakan pendidikan inklusif yang wajib
menerima peserta didik berkebutuhan khusus. Adapun dalam Peraturan
Gubernur disebutkan bahwa setiap Kecamatan sekurang-kurangnya memiliki 3
(tiga) TK/RA dan SD/MI dan 1 (satu) SMP/MTs yang menyelenggarakan
pendidikan inklusi. Untuk tingkatan SMA/SMK atau MA/MAK, setiap
kotamadya sekurang-kurangnya memiliki 3 (tiga) SMA/SMK atau MA/MAK
yang menyelenggarakan pendidikan inklusif.
Di lingkungan Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta telah terdapat sejumlah
164 sekolah yang ditunjuk untuk menyelenggarakan program pendidikan
inklusif dari mulai tingkat SD hingga SMA. Jumlah TK penyelenggara program
pendidikan inklusif berjumlah 3 sekolah. SD yang menyelenggarakan program
pendidikan inklusif berjumlah 120 sekolah. SMP yang menyelenggarakan

program pendidikan inklusif berjumlah 31 sekolah. Di tingkat SMA/SMK,


jumlah penyelenggara program pendidikan inklusif mencapai 10 sekolah.
Secara terperinci, sebaran sekolah-sekolah penyelenggara program pendidikan
inklusif di masing-masing kecamatan se-Provinsi DKI Jakarta adalah sebagai
berikut:
Tabel 2
Sebaran Sekolah Inklusif di Provinsi DKI Jakarta

No

Kecamatan

Kotamadya/Kabupaten

Sekolah Inklusif
TK

SD

SMP

SMA/SMK

Gambir

Jakarta Pusat

Tanah Abang

Jakarta Pusat

Menteng

Jakarta Pusat

Senen

Jakarta Pusat

Jakarta Pusat

Cempaka
Putih

Johar Baru

Jakarta Pusat

Kemayoran

Jakarta Pusat

Sawah Besar

Jakarta Pusat

20

Jumlah
9

Tamansari

Jakarta Barat

10

Tambora

Jakarta Barat

11

Palmerah

Jakarta Barat

Jakarta Barat

12

Grogol
Petamburan

13

Kebon Jeruk

Jakarta Barat

14

Kembangan

Jakarta Barat

15

Cengkareng

Jakarta Barat

16

Kalideres

Jakarta Barat

19

Jakarta Selatan

Jakarta Selatan

Jumlah
17

18

Kebayoran
Baru
Kebayoran
Lama

19

Pesanggrahan

Jakarta Selatan

20

Cilandak

Jakarta Selatan

21

Pasar Minggu

Jakarta Selatan

22

Jagakarsa

Jakarta Selatan

Jakarta Selatan

23

Mampang
Prapatan

24

Pancoran

Jakarta Selatan

25

Tebet

Jakarta Selatan

26

Setiabudi

Jakarta Selatan

22

Jumlah
27

Matraman

Jakarta Timur

28

Pulo Gadung

Jakarta Timur

29

Jatinegara

Jakarta Timur

30

Duren Sawit

Jakarta Timur

31

Kramat Jati

Jakarta Timur

32

Makasar

Jakarta Timur

33

Pasar Rebo

Jakarta Timur

34

Ciracas

Jakarta Timur

35

Cipayung

Jakarta Timur

36

Cakung

Jakarta Timur

38

Jumlah
37

Cilincing

Jakarta Utara

38
39

Koja
Kelapa
Gading

Jakarta Utara

Jakarta Utara

40

Tanjung Priok

Jakarta Utara

41

Pademangan

Jakarta Utara

42

Penjaringan

Jakarta Utara

15

Kepulauan Seribu

Kepulauan Seribu

Jumlah

Jumlah Total

120

31

10

Jumlah
43

44

Kepulauan
Seribu Utara
Kepulauan
Seribu Selatan

Provinsi DKI Jakarta memiliki 5 Kotamadya dan 1 Kabupaten yang terdiri dari
44 Kecamatan113. Tabel di atas menunjukkan sebaran sekolah-sekolah yang
ditunjuk sebagai penyelenggara program pendidikan inklusif di kecamatankecamatan yang terdapat di Provinsi DKI Jakarta. 164 sekolah penyelenggara
program pendidikan inklusif hanya tersebar di 5 Kotamadya di Provinsi DKI
Jakarta yaitu Kotamadya Jakarta Pusat, Kotamadya Jakarta Barat, Kotamadya
Jakarta Selatan, Kotamadya Jakarta Timur, dan Kotamadya Jakarta Utara. Di 2
kecamatan, yaitu Kecamatan Kepulauan Seribu Utara dan Kecamatan
Kepulauan

Seribu

Selatan

tidak

terdapat

satu

sekolah

pun

yang

menyelenggarakan program pendidikan inklusif.


Tidak semua kecamatan memiliki TK penyelenggara program pendidikan
inklusif. Jumlah TK yang ditunjuk Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta
113

Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan Provinsi DKI Jakarta, dari
http://www.depdagri.go.id/media/filemanager/2010/01/29/1/1/11__dki_jakarta.pdf, 23 Januari 2011

hanya berjumlah 3 TK yang terdapat di Kecamatan Pesanggrahan dan


Kecamatan Cilandak. Kedua Kecamatan tersebut terdapat di Kotamadya Jakarta
Selatan. Satu TK lagi terdapat di Kecamatan Duren Sawit Kotamadya Jakarta
Timur.
Jumlah SD penyelenggara program pendidikan inklusif di Provinsi DKI Jakarta
sebanyak 120 sekolah. Jumlah tersebut tersebar di 41 Kecamatan dari jumlah
total 44 Kecamatan yang terdapat di Provinsi DKI Jakarta. 3 Kecamatan yang
tidak memiliki SD yaitu Kecamatan Tebet Kotamadya Jakarta Selatan,
Kecamatan Kepulauan Seribu Utara Kabupaten Kepulauan Seribu, dan
Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan.
Di tingkat SMP, sebaran sekolah penyelenggara program pendidikan inklusif
hampir merata di setiap Kecamatan karena tidak setiap Kecamatan memiliki
sekolah penyelenggara program pendidikan inklusif di tingkat SMP. Di
Kotamadya Jakarta Pusat yang memiliki 8 Kecamatan, terdapat 5 SMP
penyelenggara program pendidikan inklusif yang tersebar di 4 Kecamatan.
Kotamadya Jakarta Barat yang memiliki 8 Kecamatan, terdapat 6 SMP
penyelenggara program pendidikan inklusif yang tersebar di 4 Kecamatan.
Kotamadya Jakarta Selatan yang memiliki 10 Kecamatan, terdapat 6 SMP
penyelenggara program pendidikan inklusif yang tersebar di 6 Kecamatan. Di
Kotamadya Jakarta Timur, SMP penyelenggara program pendidikan inklusif
berjumlah 7 sekolah yang tersebar di 6 Kecamatan dari 10 Kecamatan yang
terdapat di Kotamadya Jakarta Timur. Adapun di Kotamadya Jakarta Utara
yang memiliki 6 Kecamatan terdapat 6 SMP penyelenggara program
pendidikan inklusif yang tersebar di 5 Kecamatan.
Dengan demikian, 120 SMP penyelenggara program pendidikan inklusif
tersebut tersebar di 25 Kecamatan dari total 44 Kecamatan yang terdapat di

Provinsi DKI Jakarta. Sehingga terdapat 19 Kecamatan di Provinsi DKI Jakarta


yang tidak memiliki SMP penyelenggara program pendidikan inklusif.
Di tingkat SMA/SMK terdapat 10 sekolah penyelenggara program pendidikan
inklusif. 10 SMA/SMK tersebut tersebar di 10 Kecamatan di 5 Kotamadya.
Masing-masing Kotamadya memiliki 2 SMA/SMK penyelenggara program
pendidikan inklusif. Dengan demikian, terdapat 34 Kecamatan yang tidak
memiliki SMA/SMK penyelenggara program pendidikan inklusif.
2. Implementasi Kebijakan Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif di Provinsi
DKI Jakarta
Implementasi kebijakan-kebijakan yang terkait penyelenggaraan pendidikan
inklusif di lingkungan Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta dapat
dikelompokkan menjadi:
h. Kesiswaan
Kebijakan yang terkait dengan kesiswan pendidikan inklusif dilaksanakan
dengan menerima semua kategori anak-anak berkebutuhan khusus. Dalam
implementasi di lapangan, tidak serta semua jenis kebutuhan khusus yang
dimiliki peserta didik dapat diterima di sekolah reguler. Proses skrining dan
assesment selalu dilakukan sebelum peserta didik berkebutuhan khusus
masuk di sekolah reguler. Dra. Septi Novida, M.Pd sendiri menyatakan
bahwa:
Sampai saat ini memang hanya kasus-kasus tertentu yang dapat
tertampung di sekolah-sekolah inklusif. Biasanya anak A yang banyak
masuk di sekolah-sekolah inklusif, anak B masih jarang ditemukan karena
faktor komunikasi yang menyulitkan. Kasus anak C yang lambat belajar
juga masih jarang ditemukan. Anak-anak berkebutuhan khusus yang
memiliki kekurangan dalam hal fisik, misalnya anak-anak yang memakai

kursi roda juga masih jarang ditemukan yang masuk ke sekolah-sekolah


inklusif114
Pada kenyataan yang terjadi di lapangan, sekolah pada prinsipnya menerima
semua jenis kebutuhan khusus yang terdpat dalam diri calon peserta didik.
Guru program inklusi SMP Negeri 223 Pasar Rebo memberikan pemaparan
bahwa:
Pada prinsipnya kami menerima semua jenis anak-anak berkebutuhan
khusus. Namun memang kami harus melakukan identifikasi agar anakanak berkebutuhan khusus yang memiliki kekurangan ekstrem tidak serta
merta kami terima sebagai siswa di sini. Kalau anak-anak berkebutuhan
khusus tersebut dianggap mampu mengikuti proses pembelajaran, maka
mereka kami terima sebagai siswa, namun jika mereka tidak dapat
mengikuti proses pembelajaran maka mereka kami arahkan untuk masuk
ke SLB dan disitu ada pendidikan secara khusus. Kalau di sekolah reguler
seperti ini kan semuanya harus mengikuti pendidikan yang sama,
kalaupun anak-anak berkebutuhan khusus tersebut harus ditangani secara
khusus maka kami sudah menyiapkan program pembelajaran khusus bagi
mereka. Selain itu, di sekolah reguler juga tidak banyak terdapat tenaga
pendidikan khusus yang dapat menangani pembelajaran khusus bagi
anak-anak berkebutuhan khusus...115
Berkaitan dengan penerimaan peserta didik berkebutuhan khusus, manajer
program inklusi SMA Negeri 66 Cilandak menyatakan bahwa:
Pada dasarnya kami menerima semua jenis kebutuhan khusus yang
dimiliki peserta didik. Hanya saja memang tidak serta merta mereka yang
berkebutuhan khusus dapat masuk menjadi peserta didik, karena tidak
mungkin kami menerima anak-anak berkebutuhan khusus dengan
kekurangan-kekurangan yang ekstrem. Kami pun tidak serta merta
menerima mereka yang sebelumnya bersekolah di SLB. Pada saat
penerimaan pun kami mewajibkan orang tua-orang tua yang anaknya
berkebutuhan khusus untuk datang ke sekolah menemui kami untuk kami
jelaskan mengenai bagaimana anak-anak mereka kami tangani di sekolah.
Kalau para orang tua tersebut menyanggupi agar anak-anak mereka
114
115

Wawancara dengan Septi Novida


Wawancara dengan Sukarto

bersekolah di sini, kami menyiapkan perjanjian di atas kertas mengenai


apa saja yang harus mereka penuhi ketika anak-anak mereka yang
berkebutuhan khusus bersekolah di sini 116
Pada saat masa Penerimaan Siswa Baru (PSB), jalur penerimaan peserta
didik berkebutuhan khusus tidak sama dengan peserta didik reguler lainnya.
Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Manajer Program Inklusi SMA Negeri
66 Cilandak:
Kebijakan lain yaitu mengenai adanya jalur penerimaan yang
diperuntukkan secara khusus bagi anak-anak berkebutuhan khusus
dimana mereka yang berkebutuhan khusus ketika mendaftarkan diri di
sekolah maka penerimaannya tidak disamakan dalam hal ujian masuk dan
persyaratan-persyaratan lainnya117
Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 70 Tahun 2009
disebutkan bahwa penerimaan peserta didik berkelainan dan/atau peserta
didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa pada satuan
pendidikan mempertimbangkan sumber daya yang dimiliki sekolah. Satuan
pendidikan penyelenggara pendidikan inklusif mengalokasikan kursi peserta
didik yang memiliki kelainan paling sedikit 1 (satu) peserta didik dalam 1
(satu) rombongan belajar yang akan diterima. Apabila dalam waktu yang
telah ditentukan, alokasi peserta didik tidak terpenuhi, satuan pendidikan
dapat menerima peserta didik normal118.
Di lingkungan Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, satuan pendidikan
penyelenggara program pendidikan inklusif hanya menerima maksimal 2
(dua) peserta didik yang memiliki kelainan atau kebutuhan khusus dalam 1
(satu) rombongan belajar. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Dra. Septi
Novida, M.Pd:

116

Wawancara dengan Suparno


Wawancara dengan Suparno
118
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 70 Tahun 2009, Pasal 5
117

Kami sendiri memiliki kebijakan agar anak-anak berkebutuhan khusus


dalam satu kelas tidak lebih dari 2 orang sehingga guru sendiri tidak
kerepotan dalam menangani anak-anak berkebutuhan khusus119
Dinas

Pendidikan

Provinsi

DKI

Jakarta

dengan

sekolah-sekolah

penyelenggara pendidikan inklusif telah merencanakan program identifikasi


kebutuhan peserta didik berkebutuhan khusus untuk mengetahui kondisi dan
kebutuhan mereka. Identifikasi dilakukan melalui proses skrining atau
assesment yang bertujuan agar pada saat pembelajaran di kelas, bentuk
intervensi pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus merupakan bentuk
intervensi pembelajaran yang sesuai bagi mereka. Assesment yang dimaksud
yaitu proses kegiatan untuk mengetahui kemampuan dan kelemahan setiap
peserta didik dalam segi perkembangan kognitif dan perkembangan sosial
melalui pengamatan yang sensitif120.
Selain itu, Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta juga memberikan subsidi
beasiswa bagi peserta didik berkebutuhan khusus yang terdapat pada
sekolah-sekolah yang telah ditunjuk untuk menyelenggarakan program
pendidikan inklusif. Daftar sekolah yang menerima subsidi beasiswa sebagai
berikut:
Tabel 3121
Daftar Nama Sekolah Inklusif Penerima Subsidi Beasiswa
Tahun Anggaran 2010

No

119

Nama Sekolah

Alamat

Wilayah

Jumlah

Beasiswa /1

Peserta

Tahun

Wawancara dengan Septi Novida


Bandi Delphie, Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus dalam Setting Pendidikan Inklusi,
(Bandung: PT. Refika Aditama, 2006), h. 1
121
Lampiran I Keputusan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta Nomor 1449/2010
Tanggal 13 Oktober 2010
120

Didik
1

SDN

Cempaka Jl. Cempaka Putih Pusat

30

3.600.000

23

2.760.000

12

1.440.000

Toba Pusat

22

2.640.000

Kelapa Jl. Komplek PT. Utara

23

2.760.000

Utara

26

3.120.000

SDN Marunda 02 Jl. Marunda Pulo Utara

71

8.520.000

57

6.840.000

Jabek Barat

66

7.920.000

Palmerah Jl. Rawa Belong II Barat

50

6.000.000

14

1.680.000

Putih Barat 16 Barat XIX


PG
2

SD Johar Baru 29 Jl.


PG

Negara II A

SDN Kartini 02 Jl. Gotong Royong Pusat


Petang

Gg. E

SDN Bendhil 01 Jl.


PG

Percetakan Pusat

Danau

Pejompongan

SDN

Gading Timur 04 HII


PG
6

SDN

Sungai Jl. Gadang No. 52

Bambu 02 PG
7

PAGI

Rt.

003/07

Marunda
8

SDN SLIPI 18 Jl. KS Tubun III Barat


PAGI

Dalam

SD

Negeri Jl.

Lap.

Meruya

Selatan Komp. Mega

06 Pagi
10

SDN
24 Pagi

E Rt. 06/10 No.


153

11

SDN
Bulus 03

Lebak Jl. Pertanian III/58

Selatan

12

SDN

Lebak Jl. Gunung Balong Selatan

10

1.200.000

18

2.160.000

32

3.840.000

14

1.680.000

Selatan

32

3.840.000

Lebak Jl. Pertanian Raya Selatan

23

2.760.000

24

2.880.000

50

6.000.000

10

1.200.000

24

2.880.000

35

4.200.000

Bulus 06 Pagi
13

SDN

Lebak Bulus

Cipete Jl.

Selatan 08 PT

Anggur

Komplek

II Selatan
BRI

Cilandak
14

SDN

Menteng Jl.

Atas 04 PG

Dr.

Sahardjo Selatan

No. 121 Menteng


Atas

15

SDN

Cipete Jl.

Selatan 04

Anggur

Komplek

II Selatan
BRI

Cilandak
16

SDN

Cipete Jl. Kirai Ujung

Utara 12 PG
17

SDN

Bulus 02 PAGI

No.

59

Lebak

Bulus
18

SDN

Pela Jl. Bangka II Gg V Selatan

Mampang

01 Rt 10/02

PAGI
19

20

SDN Kebon Pala Jl.

Asem Kebon Pala

TK

Negeri Jl. Bambu Duri X Timur


Pd. Bambu

SDN Gedong 04 Jl.


Pagi

22

Cip. Timur

03

Pembina DKI
21

Jengki

Gedong

SDN Gedong 12 Jl.


Pagi

Raya Condet Timur

Raya Condet Timur

Gg. Pembangunan
II

23

SDN

Cijantung Jl. Pertengahan Rt. Timur

25

3.000.000

31

3.720.000

40

4.800.000

Rt. Timur

27

3.240.000

Cipayung Jl. SMAN 64 Rt. Timur

26

3.120.000

01 Pagi
24

06/07 Cijantung

SDN Gedong 03 Jl.


Pagi

25

Raya Condet Timur

Gedong

SDN Kramat Jati Jl. Kerja Bakti Rt. Timur


24 Pagi

26

003/09 No. 40

SDN Kramat Jati Jl.


16 Pagi

27

SDN

Langgar

008/10

09 PTG

005/02

i. Kurikulum
Kurikulum yang digunakan dalam proses pembelajaran pendidikan inklusif
sama dengan kurikulum yang digunakan dalam proses pembelajaran
pendidikan inklusif karena program pendidikan inklusif dilaksanakan di
sekolah-sekolah reguler.
Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 70 Tahun 2009
disebutkan bahwa satuan pendidikan penyelenggara pendidikan inklusif
menggunakan kurikulum tingkat satuan pendidikan yang mengakomodasi
kebutuhan dan kemampuan peserta didik sesuai dengan bakat, minat, dan
potensinya 122. Dalam Peraturan Gubernur Nomor 116 Tahun 2007
disebutkan bahwa kurikulum yang digunakan dalam penyelenggaraan
pendidikan inklusi adalah kurikulum yang berlaku yang disesuaikan dengan
kebutuhan khusus masing-masing peserta didik berkebutuhan khusus 123.

122
123

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 70 Tahun 2009


Peraturan Gubernur Nomor 116 Tahun 2007 Tentang Penyelenggaraan Pendidikan Inklusi

Mengenai kurikulum pada program pendidikan inklusif, Dra. Septi Novida,


M.Pd menyatakan bahwa:
Kebijakan mengenai kurikulum sama dengan kebijakan kurikulum
yang diselenggarakan di sekolah reguler atau dengan kata lain kebijakan
kurikulum pendidikan inklusif mengikuti kurikulum yang sudah ada.
Kurikulum itu bersifat fleksibel. Contoh penyelenggaraan pendidikan
inklusif yaitu pendidikan yang terdapat dalam film Laskar Pelangi dimana
Harun sebagai anak yang mentally retarded diberikan treatment khusus
yang disesuaikan dengan kondisi Harun yang tidak sama dengan anakanak normal lainnya yang berada di kelas 124
Berkaitan dengan kurikulum pendidikan inklusif, guru SMP Negeri 223
Pasar Rebo menyatakan:
Secara umum kurikulum bagi anak-anak berkebutuhan khusus adalah
sama dengan anak-anak reguler. kalau ada kasus-kasus tertentu dalam
kurikulum maka kami adakan modifikasi pada kurikulum agar dapat
memenuhi kebutuhan anak-anak berkebutuhan khusus125
Manajer program inklusi SMA Negeri 66 menyatakan bahwa:
Tidak ada kurikulum khusus yang kami rancang untuk anak-anak
berkebutuhan khusus, karena anak-anak berkebutuhan khusus yang
bersekolah di sini rata-rata malah anak-anak yang memiliki prestasi.
Namun kami selalu menyiapkan modifikasi agar anak-anak berkebutuhan
khusus yang membutuhkan layanan khusus dapat terbantu126
Sebagaimana dikemukakan di atas, kurikulum yang digunakan dalam
penyelenggaraan program pendidikan inklusif adalah kurikulum yang
digunakan di sekolah-sekolah reguler, karena peserta didik berkebutuhan
khusus belajar di ruang kelas yang sama seperti halnya anak-anak reguler
yang tidak digolongkan ke dalam peserta didik berkebutuhan khusus.

124

Wawancara dengan Septi Novida


Wawancara dengan Sukarto
126
Wawancara dengan Suparno
125

Kurikulum yang digunakan saat ini adalah Kurikulum Tingkat Satuan


Pendidikan (KTSP). Jika memang diperlukan, pihak sekolah melakukan
modifikasi terhadap kurikulum sesuai dengan kebutuhan peserta didik
berkebutuhan khusus di kelas.
j. Pendidik dan Tenaga Kependidikan
Dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif di Provinsi DKI Jakarta, Dinas
Pendidikan Provinsi DKI Jakarta menyiapkan tenaga pendidik agar dapat
memahami konsep dan pelaksanaan pendidikan inklusif yang benar.
Penyiapan tenaga pendidikan tersebut dilakukan dengan cara mengadakan
pelatihan kepada guru-guru sekolah penyelenggara program pendidikan
inklusif. Pelatihan ini dilaksanakan bekerjasama dengan LSM Hellen Keller
Internasional (HKI) yang memiliki konsen, salah satunya, dalam pendidikan
inklusif. Hal ini sesuai dengan pernyataan Dra. Septi Novida, yaitu:
Kebijakan mengenai tenaga pendidik sendiri hingga sekarang kami
melakukan pemberdayaan guru-guru di sekolah reguler agar dapat
memahami konsep inklusif sehingga mereka dapat melayani anak-anak
berkebutuhan khusus. Hingga kini memang kami sedang berusaha agar
pengetahuan mengenai pendidikan inklusif dapat dipahami dengan baik
oleh para pendidik, terutama mereka yang terlibat dalam penyelenggaraan
program pendidikan inklusif. Kami sendiri memiliki kebijakan agar anakanak berkebutuhan khusus dalam satu kelas tidak lebih dari 2 orang
sehingga guru sendiri tidak kerepotan dalam menangani anak-anak
berkebutuhan khusus. Tugas guru GPK nantinya adalah membantu anakanak berkebutuhan khusus agar dapat mengikuti pembelajaranKami
sendiri menjalin kerjasama dengan Hellen Keller Internasional (HKI)
sejak tahun 2003 dimana kami dengan HKI menyelenggarakan pelatihan
untuk guru-guru di sekolah reguler agar dapat melayani dan membimbing
anak-anak berkebutuhan khusus di sekolah reguler penyelenggara
program pendidikan inklusif 127
Pihak Hellen Keller Internasional (HKI) sendiri menyatakan bahwa:

127

Wawancara dengan Septi Novida

Sejak tahun 2003 HKI menjalin kerjasama dengan Dinas Pendidikan


Provinsi DKI Jakarta. Kerjasama yang kami jalin yaitu dalam pendidikan
program pendidikan inklusif. Di HKI program ini masuk ke dalam
program Opportunities for Vulnerable Children (OVC) kami juga
mengadakan pelatihan untuk guru-guru dengan mengundang guru-guru
sekolah penyelenggara program pendidikan inklusif. Namun pelatihan ini
Cuma beberapa kali saja kami adakan. Pelatihan untuk guru lebih banyak
kami adakan di sekolah-sekolah model pendidikan inklusif 128
Selain mengadakan pelatihan bagi guru-guru sekolah penyelenggara
program pendidikan inklusif, Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta juga
menunjuk beberapa guru SLB (Sekolah Luar Biasa) di lingkungan Dinas
untuk menjadi GPK (Guru Pembimbing Khusus) yang mendampingi
pelaksanaan pendidikan inklusif di sekolah reguler. Dra. Septi Novida, M.Pd
menyatakan:
kami juga menunjuk beberapa guru di SLB untuk berperan sebagai
Guru Pembimbing Khusus (GPK) guna mendampingi anak-anak
berkebutuhan khusus di sekolah penyelenggara program pendidikan
inklusif. Memang kondisi GPK sejak 2003 sudah ditunjuk beberapa orang
guru untuk bisa membantu sekolah-sekolah reguler dalam
menyelenggarakan program pendidikan inklusif. Namun semakin ke sini
jumlah mereka semakin menyusut karena status mereka adalah guru
honorer. Kondisi kehidupan yang seperti sekarang ditambah dengan
status guru honorer yang mereka sandang, kalau tidak berangkat dari hati
nurani maka sulit bagi mereka untuk tetap bertahan, apalagi kebanyakan
dari mereka masih memiliki status sebagai mahasiswa yang sekarang
sudah sarjana dan akhirnya memutuskan untuk bertugas di tempat lain.
Berbeda dengan guru-guru yang berstatus PNS yang sampai sekarang
masih bertahan sebagai GPK 129
Guru SMP Negeri 223 Pasar Rebo menyatakan bahwa:
Pendidik dan tenaga kependidikan yang menanganai pelaksanaan
pendidikan inklusif sama dengan pendidik dan tenaga kependidikan yang
menangani pendidikan reguler. Tidak banyak pendidik dan tenaga
pendidikan yang memang secara khusus menangani pelaksanaan
128
129

Wawancara dengan Fitri


Wawancara dengan Septi Novida

pendidikan inklusif, karena sekolah ini dari awal pelaksanaan program


pendidikan inklusif sudah ditunjuk, maka kami pun belajar bagaimana
menangani pelaksanaan pendidikan inklusif130
Manajer program Inklusi SMA Negeri 66 menyatakan:
Sampai saat ini masing-masing pendidik dan tenaga kependidikan di
sekolah mengetahui dengan baik mengenai keberadaan anak-anak
berkebutuhan khusus dan bagaimana mereka seharusnya mendapatkan
pembelajaran dan pelayanan pendidikan yang baik. Saya selaku manajer
program inklusi pun selalu menyampaikan dalam berbagai kesempatan
mengenai pentingnya pelayanan bagi anak-anak yang berkebutuhan
khusus. Ketika ada kesulitan dalam penanganan anak-anak berkebutuhan
khusus, pendidik-pendidik di sekolah selalu melakukan kerjasama yang
sampai saat ini terjalin dengan baik 131
Kebijakan yang terkait dengan tenaga pendidik dan kependidikan dalam
penyelenggaraan pendidikan inklusif dilaksanakan dengan melakukan
sosialisasi kepada guru-guru agar dapat memahami dengan baik konsep
pendidikan inklusif sehingga peserta didik berkebutuhan khusus dapat
terpenuhi kebutuhannya di sekolah.
Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta mengadakan pelatihan-pelatihan
yang diperuntukkan bagi guru-guru sekolah penyelenggara program
pendidikan inklusif. Pelatihan tersebut, salah satunya, bekerjasama dengan
LSM

Hellen Keller

Internasional (HKI)

yang

memiliki

program

Opportunities for Vulnerable Children (OCV). Salah satu yang program


OVC tersebut bergerak untuk membantu anak-anak berkebutuhan khusus
agar memperoleh pendidikan yang layak dengan tidak ditempatkan dengan
serta merta di SLB.
Penunjukkan Guru Pembimbing Khusus ditujukan agar sekolah-sekolah
penyelenggara program pendidikan inklusif mendapatkan pendampingan dan
130
131

Wawancara dengan Sukarto


Wawancara dengan Suparno

arahan yang tepat sehingga ketika terdapat kesulitan-kesulitan dalam


pelaksanaan pendidikan inklusif, sekolah dapat berkonsultasi dengan GPK.
Namun memang hingga sekarang keberadaan GPK sendiri tidak jelas,
sebagaimana yang dijelaskan oleh Dra. Septi Novida, M.Pd, sehingga
kadang-kadang kesulitan-kesulitan yang terdapat di sekolah dalam
pelaksanaan pendidikan inklusif tidak dapat teratasi dengan baik.
Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar
Nasional Pendidikan disebutkan bahwa setiap satuan pendidikan yang
melaksanakan pendidikan inklusif harus memiliki tenaga kependidikan yang
mempunyai kompetensi menyelenggarakan pembelajaran bagi peserta didik
dengan kebutuhan khusus132.
Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 70 Tahun 2009
disebutkan bahwa pemerintah Kabupaten/Kota wajib menyediakan paling
sedikit 1 (satu) orang guru pembimbing khusus pada satuan pendidikan yang
ditunjuk untuk menyelenggarakan pendidikan inklusif. Satuan pendidikan
penyelenggara pendidikan inklusif yang tidak ditunjuk oleh pemerintah
Kabupaten/Kota wajib menyediakan paling sedikit 1 (satu) orang Guru
Pembimbing Khusus.
Ketersediaan Guru Pembimbing Khusus dalam Peraturan Gubernur Nomor
116 Tahun 2007 dipenuhi oleh sekolah yang menyelenggarakan program
pendidikan inklusif. Dalam hal tidak tersedia Guru Pembimbing Khusus
pada sekolah yang bersangkutan, pemerintah daerah dapat menyediakan
dengan meminta bantuan kepada SLB atau Pusat Sumber atau lembaga lain.
k. Sarana dan Prasarana

132

Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 41

Sarana

dan

prasarana

dalam

penyelenggaran

pendidikan

inklusif

menggunakan sarana dan prasarana yang terdapat di sekolah dimana


pendidikan inklusif diselenggarakan. Bila memang dibutuhkan, Dinas
Pendidikan Provinsi DKI Jakarta memberikan bantuan kepada sekolah yang
mengajukan proposal. Hal ini sesuai dengan pernyataan Dra. Septi Novida:
Kebijakan sarana prasarana sendiri mempergunakan sarana dan
prasarana yang sudah tersedia di sekolah-sekolah reguler. Jika memang
dibutuhkan, kami memberikan dana khusus bagi sekolah-sekolah
penyelenggara pendidikan inklusif agar dapat memenuhi kebutuhan
sarana dan prasarana. Namun tidak semua sekolah kami bantu karena
mereka harus mengajukan proposal permohonan bantuan dana. Pada
prinsipnya, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah membantu
pihak sekolah dengan catatan pihak sekolah mengajukan proposal
permohonan bantuan mengenai kebutuhan apa saja yang diperlukan
mereka dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif. Bila memang
diperlukan, saya sendiri mengajukan rekomendasi kepada pemerintah
pusat agar sekolah tertentu dibantu oleh pemerintah pusat133
Guru SMP Negeri 223 Pasar Rebo menyatakan bahwa Dinas Pendidikan
Provinsi DKI Jakarta sangat membantu dalam pengadaan sarana dan
prasarana penyelenggaraan pendidikan inklusif. Hal ini sebagaimana
penjelasan Sukarto, S.Pd:
Dinas Pendidikan Provinsi memberikan bantuan sarana dan prasarana
agar memudahkan pelaksanaan pendidikan inklusif. Misalnya alat rekam
agar siswa berkebutuhan khusus dapat merekam pelajaran untuk diputar
ulang di rumah dengan bantuan orang tua134
Hal senada juga diungkapkan oleh Manajer Program Inklusi SMA Negeri 66
Cilandak. Ketika ditanya mengenai pengadaan sarana dan prasarana dalam
penyelenggaraan pendidikan inklusif, ia menjawab bahwa pihak sekolah
sangat terbantu oleh bantuan-bantuan yang diberikan oleh Dinas Pendidikan

133
134

Wawancara dengan Septi Novida


Wawancara dengan Sukarto

Provinsi DKI Jakarta. Selain dari Dinas Pendidikan Provinsi, SMA Negeri
66 juga mendapatkan bantuan dari Direktorat PSLB Kementerian
Pendidikan Nasional. Hal ini sebagaimana yang dinyatakan oleh Suparno,
S.Pd:
Sampai saat ini kami sangat terbantu dengan bantuan-bantuan yang
diberikan baik oleh Direktorat PSLB maupun oleh Dinas Pendidikan
Provinsi DKI Jakarta. Orang tua anak-anak berkebutuhan khusus pun ada
beberapa yang membantu kami, sehingga sarana dan prasarana dalam
penyelenggaraan pendidikan inklusif pun dapat terpenuhi dengan baik.
Misalnya ketika kebutuhan untuk laptop bagi peserta didik, kami pun
menyediakan laptop khusus untuk anak-anak berkebutuhan khusus agar
tidak ada pembedaan antara anak-anak reguler dengan anak-anak
berkebutuhan khusus...135
Dapat dipahami bahwa Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta memiliki
komitmen tinggi dalam pengadaan sarana dan prasarana yang dibutuhkan
sekolah dalam penyelenggaraan program pendidikan inklusif.
Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 70 Tahun 2009
disebutkan bahwa satuan pendidikan penyelenggara pendidikan inklusif
berhak memperolah bantuan profesional sesuai dengan kebutuhan dari
pemerintah Kabupaten/Kota. Bantuan profesional yang dimaksud dalam
peraturan tersebut dapat berupa penyediaan sarana dan prasarana 136.
Ketentuan mengenai sarana dan prasarana disebutkan dalam Peraturan
Gubernur Nomor 116 Tahun 2007. Dalam peraturan tersebut disebutkan
bahwa sarana dan prasarana yang terdapat pada satuan pendidikan
penyelenggara pendidikan inklusi adalah sarana dan prasarana yang telah
terdapat pada sekolah/madrasah yang bersangkutan dan ditambah dengan

135
136

Wawancara dengan Suparno


Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 70 Tahun 2009

aksesabilitas serta media pembelajaran yang diperlukan bagi peserta didik


berkebutuhan khusus137.
l. Keuangan/Dana
Sesuai dengan ketentuan yang terdapat dalam Peraturan Gubernur Nomor
116 Tahun 2007, pembiayaan untuk penyelenggaraan pendidikan inklusif
bersumber pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah pada pos
anggaran Dinas Dikdas dan Dinas Dikmenti138.
Dalam hal keuangan, Dinas Pendidikan Provinsi DKI menyatakan bahwa
Dinas memberikan bantuan finansial bagi sekolah-sekolah yang mengajukan
proposal dan proposalnya diterima. Selain itu, dana yang dialokasikan untuk
penyelenggaraan pendidikan inklusif di lingkungan Dinas Pendidikan
Provinsi DKI Jakarta diambil dari dana BOP (Bantuan Operasional
Pendidikan) dan DOP (Dana Operasional Pendidikan). Hal ini sesuai dengan
pernyataan Dra. Septi Novida, M.Pd:
Kebijakan keuangan untuk penyelenggaraan pendidikan inklusif kami
berikan kepada sekolah-sekolah yang mengajukan proposal permohonan
bantuan dana. Dana tersebut kami ambil dari dana BOP dan DOP. Di
samping itu kami juga mengalokasikan dana dari bidang kami (Bidang
TK, SD, dan PLB) untuk diberikan kepada sekolah-sekolah
penyelenggara program pendidikan inklusif jika dibutuhkan 139
Dana operasional dari Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta yang
diperuntukkan untuk penyelenggaraan pendidikan inklusif sudah diberikan
sebanyak 2 (dua) kali yaitu pada tahun 2009 dan tahun 2010. Pada tahun
2009 jumlah sekolah penyelenggara pendidikan inklusif yang menerima
dana operasional sebanyak 20 sekolah dengan besaran dana sebesar Rp.
20.000.000,- (Dua puluh juta rupiah) untuk masing-masing sekolah. Alokasi
137

Peraturan Gubernur Nomor 116 Tahun 2007 Pasal 11


Peraturan Gubernur Nomor 116 Tahun 2007 Pasal 16
139
Wawancara dengan Septi Novida
138

anggaran biaya operasional penyelenggara pendidikan inklusif tersebut


berasal dari Dana APBD Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Dokumen
Pelaksanaan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (DPA-SKPD) Dinas
Pendidikan Tahun 2009 140.
Pada tahun 2010, jumlah sekolah penyelenggara program pendidikan
inklusif yang menerima dana pendamping berjumlah 5 (lima) sekolah
dengan besaran dana untuk masing-masing sekolah berjumlah Rp.
18.000.000,- (Delapan belas juta rupiah).
Daftar sekolah penyelenggara program pendidikan inklusif yang menerima
biaya operasional tahun 2009 dan dana pendamping tahun 2010 sebagai
berikut:
Tabel 4
Daftar Nama Sekolah Penyelenggara Pendidikan Inklusif Penerima Biaya
Operasional Tahun Anggaran 2009
No Nama Sekolah

Alamat

Kecamatan

Wilayah

Jl. Percetakan

Johar Baru

Pusat

SDN Johar Baru 29 Pagi

Negara II A
2

SDN Cempaka Putih

Jl. Cempaka Putih

Barat 16 Pagi

Barat XIX

SDN Kramat Jati 24 Pagi

Jl. Kerja Bakti Rt.

Cempaka Putih Pusat

Kramat Jati

Timur

Kebon Jeruk

Barat

003/09 No. 40
4

140

SDN Sukabumi Selatan

Jl. Raya Pos

07 Pagi

Pengumben Rt.

Keputusan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 842/2009
Tentang Penunjukkan Sekolah Penyelenggara Pendidikan Inklusi TK, SD, SMP yang Mendapatkan
Biaya Operasional Tahun Anggaran 2009

002/08 Sukabumi
Selatan
5

SDN Slipi 18 Pagi

Jl. KS Tubun III

Palmerah

Barat

Senen

Pusat

Pulo Gadung

Timur

Dalam
6

TK Aisyiyah 31

Jl. Salemba Bluntas


I/77 Salemba
Paseban

SDN Jatinegara Kaum 14

Jl. Jatinegara Kaum

Pagi

10/3

SDN Lebak Bulus 06

Jl. Gunung Balong

Cilandak

Selatan

Jl. Marunda Pulo

Cilincing

Utara

Pagi
9

SDN Marunda 02 Pagi

Rt. 003/07
10

SMP Negeri 118

Jl. Pramukasari I

Cempaka Putih Pusat

No. 19
11

12

SDN Tanah Tinggi 01

Jl. Tanah Tinggi I

Pagi

Gang 2

SDN Rawabadak Selatan

Jl. Mundari

07 Pagi

Bendungan Melayu

Johar Baru

Pusat

Koja

Utara

Penjaringan

Utara

Duren Sawit

Timur

Sawah Besar

Pusat

Rawabadak
13

SDN Pluit 06 Petang

Jl. Komp. Nelayan


Muara Angke Rt.
001/01

14

TK Negeri Pembina DKI

Jl. Bambu Duri X

Jakarta

Pondok Bambu
Duren Sawit

15

SDN Kartini 02 Petang

Jl. Gotong Royong


Gang E

16

SMP Negeri 191

Jl. Kepa Duri Raya

Kebon Jeruk

Barat

17

SMP Negeri 240

Jl. H. Raya No. 16

Kebayoran

Selatan

Baru

Jl. Kamal Muara

Penjaringan

Utara

Pasar Rebo

Timur

Pasar Rebo

Timur

18

SMP Negeri 120

Raya No. 9
19

SDN Gedong 12 Pagi

Jl. Raya Cindet Gg.


Masjid

20

SMP Negeri 223

Jl. Surilang No. 6

Tabel 5
Daftar Nama Sekolah Penyelenggara Pendidikan Inklusif
Penerima Dana Pendamping Tahun Anggaran 2010
No

Nama Sekolah

Alamat

Kecamatan

SDN Cempaka Putih

Jl. Cempaka Putih

Cempaka Putih Pusat

Barat 16 Pagi

Barat XIX

SDN Marunda 02 Pagi

Jl. Marunda Pulo

Wilayah

Cilincing

Utara

Kembangan

Barat

Setiabudi

Selatan

Kramat Jati

Timur

Rt. 003/07
3

SDN Meruya Selatan 06

Jl. Lap. Jabek Rt.

Pagi

002/001 Mega

SDN Mentas 04

Jl. Dr. Sahardjo


No. 121 Menteng

SDN Kramat Jati 24 Pagi

Jl. Kerja Bakti Rt.


003/09 No. 40

Dalam hal pendanaan, guru SMP Negeri 223 menyatakan bahwa pendanaan
untuk penyelenggaraan program pendidikan inklusif selain berasal dari

sekolah sendiri, juga berasal dari Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta dan
Direktorat PSLB. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Sukarto:
Pendanaan untuk pelaksanaan pendidikan inklusif berasal dari biaya
sekolah, Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, dan Direktorat PSLB
Pusat141
Hal yang sama juga diungkapkan oleh Suparno selaku Manajer Program
Inklusi SMA Negeri 66 Cilandak. Ia menyatakan:
Pendanaan penyelenggaraan pendidikan inklusif diperoleh dari
bantuan dari Direktorat PSLB, Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta,
dan dana sekolah yang dialokasikan untuk penyelenggaraan pendidikan
inklusif142
Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta memang belum bisa memberikan
bantuan finansial kepada semua sekolah yang telah ditunjuk untuk
menyelenggarakan program pendidikan inklusif. Hal ini dikarenakan dana
yang dibutuhkan sangat besar jika semua sekolah yang telah ditunjuk
tersebut diberikan bantuan finansial. Maka, sebagaimana dijelaskan oleh
Dra. Septi Novida, M.Pd, bantuan diberikan hanya kepada sekolah-sekolah
yang mengajukan proposal permohonan bantuan dana dan proposal tersebut
diterima karena telah dipertimbangkan kelayakannya. Namun demikian,
pihak sekolah sendiri pun mengakui bahwa sekolah sendiri sudah
mengalokasikan dana untuk penyelenggaraan pendidikan inklusif. Dana
yang dibutuhkan sekolah pun ada juga yang berasal dari pemerintah pusat
yang diberikan lewat Direktorat PSLB.
m. Model Pendidikan Inklusif

141
142

Wawancara dengan Sukarto


Wawancara dengan Suparno

Model inklusif yang dipakai di lingkungan Dinas Pendidikan Provinsi DKI


Jakarta adalah model inklusif moderat, dimana peserta didik berkebutuhan
khusus belajar bersama-sama dengan peserta didik lainnya di kelas reguler.
Pada kesempatan-kesempatan tertentu dimana peserta didik berkebutuhan
khusus membutuhkan penanganan khusus maka peserta didik berkebutuhan
khusus dipisahkan untuk diberikan treatment khusus. Hal ini sesuai dengan
pernyataan Dra. Septi Novida, M.Pd:
Pada prinsipnya, baik anak-anak normal dan anak-anak berkebutuhan
khusus selalu bersama-sama dalam pembelajaran di sekolah inklusif. Hal
ini dimaksudkan agar anak-anak normal dapat mengetahui dan
memahami bahwa di sekitar mereka terdapat anak-anak berkebutuhan
khusus yang memiliki kekurangan dalam hal fisik maupun emosional.
Pun dengan anak-anak berkebutuhan khusus agar mereka dapat
merasakan kehidupan normal layaknya anak-anak lainnya. Namun dalam
prakteknya, sebagian dari anak-anak berkebutuhan khusus mungkin dapat
dipisah ketika memang mereka tidak dapat disatukan. Ini bagian dari
strategi pembelajaran yang dapat dipraktikkan oleh guru143
Hal senada juga diungkapkan oleh guru inklusi SMP Negeri 223 Pasar Rebo
yang menyatakan:
Dari awal sudah disampaikan bahwa di sekolah ini ada siswa yang
berkebutuhan khusus sebelum tahun ajaran baru dimulai. Informasi ini
kami sampaikan di kelas-kelas agar guru-guru di sini mengetahui kondisi
yang ada di sekolah Selain itu, ada juga anak-anak berkebutuhan
khusus yang diberi catatan oleh psikolog. Hal ini diperlukan karena
masing-masing siswa berkebutuhan khusus memiliki kebutuhan yang
berbeda-beda. Misalnya siswa tuna netra yang bisa saja duduk di
belakang atau duduk di depan kelas. Contoh lain misalnya siswa tuna
rungu yang harus duduk di depan. Pada awal proses belajar mengajar,
kami menginformasikan kepada wali kelas untuk membuat denah yang
disesuaikan dengan kondisi anak-anak berkebutuhan khusus144
Manajer program inklusi SMA Negeri 66 Cilandak juga menyatakan hal
yang serupa yaitu:
143
144

Wawancara dengan Septi Novida


Wawancara dengan Sukarto

Proses pembelajaran bagi anak-anak berkebutuhan khusus disamakan


dengan anak-anak reguler lainnya145
Pada prinsipnya, peserta didik berkebutuhan khusus diberikan kesempatan
yang sama untuk mendapatkan pembelajaran di kelas bersama-sama dengan
peserta didik yang tidak digolongkan ke dalam anak-anak berkebutuhan
khusus. Pemisahan peserta didik berkebutuhan khusus dari kelas reguler
dilakukan hanya pada kesempatan-kesempatan tertentu dimana proses
pembelajaran tidak bisa disama ratakan. Dra. Septi Novida, M.Pd sendiri
menyatakan bahwa hal tersebut merupakan bagian dari strategi yang
disesuaikan saja dengan kebutuhan. Pihak dinas sendiri tidak memberikan
aturan ketat mengenai bagaimana model pendidikan inklusif seharusnya
dipraktikkan di sekolah. Sekolahlah yang paling mengetahui kondisi peserta
didiknya, sehingga kebutuhan peserta didik harus diidentifikasi sendiri oleh
sekolah.
Berdasarkan pernyataan-pernyataan di atas, penyelenggaraan pendidikan
inklusif di lingkungan Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta mengacu
kepada konsep inklusi penuh (full inclusion) dimana peserta didik
berkebutuhan khusus belajar secara penuh di kelas reguler. Dengan demikian
model tersebut tidak sesuai dengan model yang ditentukan oleh pemerintah.
Pernyataan Dra. Septi Novida, M.Pd sendiri memberikan pemhaman bahwa
proses pembelajaran yang diperuntukkan bagi peserta didik berkebutuhan
khusus baik penuh maupun parsial hanya merupakan bagian dari strategi
yang perlu dipahami dengan baik oleh guru-guru yang menangani
pendidikan inklusif.
Model pendidikan inklusif moderat seperti yang menjadi ketentuan dari
pemerintah pusat secara literatur tidak ditemukan karena sebagaimana
dinyatakan Morrison, pendidikan inklusif pada dasarnya memiliki dua
145

Wawancara dengan Suparno

model. Pertama yaitu model inklusi penuh (full inclusion) dimana peserta
didik berkebutuhan khusus menerima pembelajaran individual dalam kelas
reguler. Kedua yaitu model inklusif parsial (partial inclusion) dimana
peserta didik berkebutuhan khusus sebagian mengikuti pembelajaran yang
berlangsung di kelas reguler dan sebagian lagi dalam kelas-kelas pull out
dengan bantuan guru pendamping khusus146.
Model kelas inklusif yang dimodifikasi sesuai dengan ketentuan pemerintah
yang terdiri dari kelas reguler penuh, kelas reguler dengan cluster, kelas
reguler dengan pull out, kelas reguler dengan cluster dan pull out, kelas
khusus dengan berbagai pengintegrasian, dan kelas khusus penuh di sekolah
reguler sebagaimana dinyatakan oleh Sip Jan Pijl dan Cor J.W.Meijer 147,
tidak dipakai dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif di Provinsi DKI
Jakarta. Sebagaimana dinyatakan pemerintah pusat lewat Direktorat PSLB,
penyelenggaraan pendidikan bagi peserta didik berkebutuhan khusus di
Indonesia tetap mengambil semangat dan filosofi inklusif.
Implementasi kebijakan penyelenggaraan pendidikan inklusif di Provinsi DKI
Jakarta selalu dievaluasi oleh Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta. Hal ini
sebagaimana dinyatakan oleh Dra. Septi Novida, M.Pd:
Sebenarnya kami tidak mengalokasikan proses khusus untuk penilaian
atau peninjauan ulang terhadap kebijakan-kebijakan penyelenggaraan
pendidikan inklusif yang sudah kami keluarkan, namun kami melakukan
proses penilaian saat kami melakukan monitoring di sekolah-sekolah
penyelenggara program pendidikan inklusif dengan cara menanyakan

146

George Morrison, Early Childhood Education Today, (New Jersey: Pearson Education Inc.,
2009), h. 462.
147
Sip Jan Pijl dan Cor J.W.Meijer, Factor In Inclusion: A Framework dalam Sip Jan Pijl (eds.),
Inclusive Education; A Global Agenda, (London: Routledge, 1997), h. 12.

langsung apakah kebijakan-kebijakan penyelenggaraan program pendidikan


inklusif sudah berjalan di sekolah atau belum terselenggara 148
Guru inklusif di SMP Negeri 223 Pasar Rebo mendukung pernyataan tersebut
dengan mengatakan bahwa:
Dinas Pendidikan melakukan monitoring terhadap pelaksanaan
pendidikan inklusif di sini. Di samping itu, monitoring juga dilakukan oleh
pengawas dan pihak penyelenggara Sekolah Luar Biasa 149
Manajer Program Inklusi SMA Negeri 66 Cilandak menambahkan dukungan
atas pernyataan Dra. Septi Novida, M.Pd dengan menyatakan:
Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta selalu melakukan pengawasan
terhadap penyelenggaraan pendidikan inklusif. Kami sebagai penyelenggara
pendidikan inklusif merasa sangat terbantu dengan adanya pengawasan yang
dilakukan oleh pihak Dinas. Selain dari Dinas Pendidikan Provinsi DKI
Jakarta, monitoring juga dilakukan oleh Direktorat PSLB Pusat150
Dengan ini Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta melakukan evaluasi
terhadap kebijakan karena melihat pentingnya proses evaluasi terhadap
kebijakan. Dalam hal ini Budi Winarno menyatakan bahwa evaluasi diperlukan
untuk melihat sejauh mana kebijakan telah mampu memecahkan masalah atau
tidak151. Selain itu, evaluasi tersebut akan menentukan perubahan terhadap
kebijakan. Kebijakan Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta terkait
penyelenggaraan pendidikan inklusif dapat tetap seperti semula, diubah, atau
dihilangkan sama sekali152.

148

Wawancara dengan Septi Novida


Wawancara dengan Sukarto
150
Wawancara dengan Suparno
151
Budi Winarno, Kebijakan Publik: Teori dan Proses, (Yogyakarta: Media Presindo, 2007), h. 34
152
Robert B. Denhardt dan Janet V. Denhardt, Public Administration: An Action Orientation,
(Boston: Wadsworth, 2009), h. 55
149

Dari deskripsi dan analisis data di atas, kebijakan penyelenggaraan pendidikan


Inklusif di Provinsi DKI Jakarta telah melalui tahap-tahap kebijakan sebagai
berikut:
a. Penyusunan agenda, dikaitkan dengan dimasukkannya pendidikan peserta
didik berkebutuhan dalam bentuk pendidikan inklusif sebagai salah satu
masalah yang perlu disusun dalam agenda kebijakan Pemerintah Daerah
Provinsi DKI Jakarta.
b. Formulasi kebijakan, dikaitkan dengan formulasi kebijakan penyelenggaraan
pendidikan inklusif yang secara substansi sama dengan kebijakan dari tingkat
pusat dengan penyesuaian yang disesuaikan dengan kemampuan sumber daya
Provinsi DKI Jakarta
c. Adopsi

kebijakan,

dikaitkan

dengan

dilegitimasinya

kebijakan

penyelenggaraan pendidikan inklusif di Provinsi DKI Jakarta lewat Peraturan


Pemerintah Daerah Nomor 8 Tahun 2006 Tentang Sistem Pendidikan Nasional
dan Peraturan Gubernur Nomor 116 Tahun 2007 Tentang Penyelenggaraan
Pendidikan Inklusi
d. Implementasi

kebijakan,

dikaitkan

dengan

pelaksanaan

kebijakan

penyelenggaraan pendidikan inklusif seperti penunjukkan sekolah-sekolah


penyelenggara pendidikan inklusif oleh Kepala Dinas Pendidikan Provinsi
DKI Jakarta, pemberian bantuan kepada sekolah-sekolah penyelenggara
program pendidikan inklusif, pemberian beasiswa bagi peserta didik
berkebutuhan khusus, dan lain-lain.
e. Evaluasi kebijakan, dikaitkan dengan monitoring terhadap pelaksanaan
pendidikan inklusif yang dilakukan oleh Bidang SD/TK/PLB Dinas
Pendidikan Provinsi DKI Jakarta

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang telah penulis lakukan mengenai kebijakan
penyelenggaraan pendidikan inklusif di Provinsi DKI Jakarta, didapati kesimpulan
sebagai berikut:
1.

Kebijakan penyelenggaraan pendidikan inklusif di Provinsi DKI Jakarta


merupakan kebijakan yang akomodatif dan fleksibel. Disebut akomodatif
karena kebijakan tersebut memberikan kesempatan kepada peserta didik
berkebutuhan khusus yang memiliki kelainan dalam hal fisik, mental,
emosional, dan sosial dan peserta didik dengan kecerdasan luar biasa dan/atau
bakat istimewa untuk bersama-bersama belajar di kelas yang sama dengan
peserta didik normal lainnya. Disebut fleksibel karena kebijakan tersebut tidak
secara rigid diterapkan di lapangan. Kebijakan penyelenggaraan pendidikan
inklusif disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan sekolah-sekolah
penyelenggara pendidikan inklusif

2.

Definisi yang dipakai pemerintah untuk pendidikan inklusif cenderung untuk


mendeskripsikan

penyatuan

anak-anak

berkelainan

(penyandang

hambatan/cacat) ke dalam program sekolah. Aturan mengenai pendidikan


inklusif ingin memberikan pemahaman mengenai pentingnya penerimaan
anak-anak yang memiliki hambatan ke dalam kurikulum, lingkungan, dan
interaksi sosial yang ada di sekolah. Walaupun peserta didik dengan
kecerdasan dan/atau bakat istimewa juga dimasukkan dalam salah satu peserta
didik pendidikan inklusif, keberadaan mereka tidak banyak menjadi isu dalam
penyelenggaraan pendidikan inklusif. Dengan demikian pendidikan inklusif
yang diselenggarakan di lingkungan Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta
berbicara mengenai hak anak berkebutuhan khusus yang memiliki kelainan
atau kekurangan dalam hal fisik, mental, dan emosional untuk dapat belajar
bersama dengan peserta didik lainnya di sekolah reguler.
3.

Tidak terdapat model pendidikan inklusif yang dijadikan acuan dalam


penyelenggaraan pendidikan inklusif di lingkungan Dinas Pendidikan Provinsi
DKI Jakarta. Model yang terdapat dalam literatur hanya dipandang sebagai
bagian dari strategi yang perlu dipahami dan diterapkan oleh guru-guru
pendidikan inklusif.

4.

Belum semua kategori peserta didik yang telah ditentukan pemerintah


tertampung di sekolah inklusif. Hal ini disebabkan karena keterbatasan
sumber daya yang dapat memenuhi kebutuhan pelayanan pendidikan bagi
semua kategori peserta didik berkebutuhan khusus. Selain itu, orang tua anak
berkebutuhan khusus banyak yang masih enggan memasukkan anak mereka
ke sekolah-sekolah inklusif

5.

Penunjukkan sekolah-sekolah penyelenggara pendidikan inklusif di Provinsi


DKI Jakarta melebihi ketentuan yang ditetapkan oleh pemerintah pusat.
Jumlah sekolah penyelenggara pendidikan inklusif di Provinsi DKI Jakarta
sendiri hingga saat ini belum memenuhi ketentuan yang termuat dalam

Peraturan Gubernur Nomor 116 Tahun 2007 Tentang Penyelenggaraan


Pendidikan Inklusif.
6.

Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta memberikan bantuan dalam bentuk


pelatihan bagi guru-guru inklusi, bantuan finansial, bantuan sarana dan
prasarana, dan beasiswa bagi sekolah-sekolah penyelenggara pendidikan
inklusif

B. Saran
Beberapa saran yang dapat penulis kemukakan dalam penelitian ini yaitu:
1.

Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta perlu terus melakukan koordinasi


internal, terutama dengan Bidang Tenaga Kependidikan, dalam rangka
pemenuhan kebutuhan pendidik yang memahami dengan baik konsep dan
implementasi pendidikan inklusif sehingga semua kategori peserta didik
berkebutuhan khusus dapat tertangani dengan baik

2.

Sebaiknya, Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta melakukan pendataan


kembali jumlah Guru Pembimbing Khusus (GPK) yang saat ini ada di
lingkungan Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta agar peningkatan kualitas
pendidikan inklusif, sebagaimana dicanangkan oleh Bidang TK/SD/PLB,
dapat berjalan dengan lancar

3.

Sebaiknya, Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta dan sekolah-sekolah


inklusif melakukan pendataan secara berkala mengenai jumlah dan kondisi
peserta didik setiap tahun ajaran baru di sekolah-sekolah penyelenggara
pendidikan inklusif agar kebutuhan-kebutuhan peserta didik di sekolah dapat
dipetakan untuk kemudian dipenuhi

4.

Sebaiknya, Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta melakukan peninjauan


ulang mengenai keberadaan peserta didik dengan kecerdasan dan/atau bakat
istimewa yang dimasukkan ke dalam kategori peserta didik pendidikan
inklusif

5.

Sebaiknya, Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta terus mengadakan


kerjasama dengan pihak luar seperti LSM Hellen Keller Internasional (HKI)
dalam rangka peningkatan mutu penyelenggaraan pendidikan inklusif

6.

Agar aspek pemerataan sekolah penyelenggara pendidikan inklusif tidak


diabaikan, maka Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta perlu meninjau
kondisi kecamatan-kecamatan yang memiliki sekolah inklusif dalam jumlah
yang sedikit atau bahkan belum memiliki sekolah inklusif seperti Kecamatan
Kepulauan Seribu Utara dan Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan di
Kabupaten Kepulauan Seribu

7.

Agar pelaksanaan pendidikan inklusif di sekolah-sekolah inklusif dapat


berjalan dengan baik, maka guru-guru di sekolah reguler, terutama guru-guru
di sekolah penyelenggara pendidikan inklusif (yang ditunjuk Dinas
Pendidikan Provinsi DKI Jakarta) perlu terus meningkatkan pemahaman dan
kompetensi yang berkaitan dengan konsep pendidikan inklusif

8.

Agar sekolah penyelenggara pendidikan inklusif tidak melaksanakan


pendidikan inklusif sendirian, maka orang tua peserta didik berkebutuhan
khusus perlu terus aktif untuk berkordinasi dengan pihak sekolah dalam
rangka mengetahui kondisi, perkembangan, dan kebutuhan anak-anak mereka
di sekolah

DAFTAR PUSTAKA
Agustyawati dan Solicha, Psikologi Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus, Jakarta:
Lembaga Penelitian UIN Jakarta, 2009
Anderson, James E., dkk., Public Policy and Politics in America, California:
Brooks/Cole Publishing Company, 1984, cet. ke-2
_________________, Public Policy Making, New York: Holt, Rinehart and Winston,
1984, cet. ke-3
_________________, Public Policy Making: An Introduction, Boston: Houghton
Mifflin Company: 1994, cet. ke-2
Baihaqi, MIF. dan M. Sugiarmin, Memahami dan Membantu Anak ADHD, Bandung:
PT. Refika Aditama, 2006
Barton, Len dan Felicity Armstrong, Policy, Experience, and Change; Cross Cultural
Reflection on Inclusive Education, Dordrecht: Springer, 2007
Bungin, M. Burhan, Penelitian Kualitatif, Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik,
dan Ilmu Sosial Lainnya, Jakarta: Kencana, 2009
Danim, Sudarwan, Pengantar Studi Penelitian Kebijakan, Jakarta: PT. Bumi Aksara,
2005), cet. ke-3
Delphie, Bandi, Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus dalam Setting Pendidikan
Inklusi, Bandung: PT. Refika Aditama, 2006
_______, Bandi, Pembelajaran Anak Tunagrahita; Suatu Pengantar dalam
Pendidikan Inklusi, Bandung: PT. Refika Aditama, 2006
Denhardt, Robert B. dan Janet V. Denhardt, Public Administration: An Action
Orientation, Boston: Wadsworth, 2009
Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, Rencana Strategis Dinas Pendidikan Provinsi
DKI Jakarta Tahun 2009-2013

Direktorat Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Policy Brief, Sekolah


Inklusif; Membangun Pendidikan Tanpa Diskriminasi, No. 9. Th.II/2008,
Departemen Pendidikan Nasional
Dunn, William N., Pengantar Analisis Kebijakan Publik, Yogyakarta: Gajah Mada
University Press, 2000, cet. ke-4
Dye, Thomas R., Understanding Public Policy, (New Jersey: Pearson Education Inc.,
2005)
Edwards III, George C. dan Ira Sharkansky, The Policy Predicament: Making and
Implementing Public Policy, San Francisco: W.H. Freeman and Company, 1978
Fliegler, Louis A., Curriculum Implementation dalam Curriculum Planning for The
Gifted, New Jersey: Prentice Hall Inc., 1961
Hallahan, Daniel P. dkk., Exceptional Learners: An Introduction to Special
Education, Boston: Pearson Education Inc., 2009, cet. ke-10

Hanbal, Ahmad Ibn, Musnad Ahmad Ibnu Hanbal, (Kairo: Muassasah


Qurtubah, tt), juz 5
Hardin, Brent dan Maria Hardin, Into the Mainstream: Practical Strategies for
Teaching in Inclusive Environments, dalam Kathleen M. Cauley (ed.),
Educational Psychology, New York: McGraw-Hill/Dushkin, 2004
Harjaningrum, Agus Tri, dkk., Peranan Orang Tua dan Praktisi dalam Membantu
Tumbuh Kembang Anak Berbakat Melalui Pemahaman Teori dan Tren
Pendidikan, Jakarta: Prenada, 2007
Hornby, AS, Oxford Advanced Learners Dictionary of Current English, (Oxford:
Oxford University Press, 1995), cet. ke-5
http://en.wikipedia.org/wiki/Inclusion_%28education%29
http://en.wikipedia.org/wiki/Mainstreaming_%28education%29
http://groups.yahoo.com/group/ditplb/message/130
http://puslitjaknov.org/data/file/2008/makalah_undangan/DYAH%20S_Pengkajian%
20Pendidikan%20Inklusif.pdf

http://www.depdagri.go.id/media/filemanager/2010/01/29/1/1/11__dki_jakarta.pdf
Islamy, M. Irfan, Prinsip-Prinsip Perumusan Kebijaksanaan Negara, Jakarta: Bina
Aksara, 1988, cet. ke-3
Keputusan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor
842/2009 Tentang Penunjukkan Sekolah Penyelenggara Pendidikan Inklusi TK,
SD, SMP yang Mendapatkan Biaya Operasional Tahun Anggaran 2009
Keputusan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor
1190/2010 Tentang Penunjukkan Nama-nama TK, SD, SMP, dan SMA/SMK
Penyelenggara Pendidikan Inklusif di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2010
Lindgren, Henry Clay, Educational Psychology in the Classroom, Tokyo: Charles E.
Tuttle Company, 1967, cet. ke-3
Moloeng, Lexy J., Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 2009
Morrison, George S., Early Childhood Education Today, New Jersey: Pearson
Education Inc., 2009
Muslim, al Imam Abi Husain bin al Hajjaj, Shahih Muslim, Kairo: Daar Ibnu Al
Haitam, 2001
Nawawi, Hadari dan Martini Hadari, Instrumen Penelitian Bidang Sosial,
Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1995
Nawawi, Ismail, Public Policy; Analisis, Strategi, Advokasi, Teori, dan Praktek,
Surabaya: PMN, 2009
Pedoman Umum Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif, Direktorat Pembinaan
Sekolah Luar Biasa Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan
Menengah Departemen Pendidikan Nasional, 2007
Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 116 Tahun 2007
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 70 Tahun 2009 Tentang Pendidikan
Inklusif Bagi Peserta Didik yang Memiliki Kelainan dan Memiliki Potensi
Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa
Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan

Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 1991 Tentang Pendidikan Luar Biasa


Perlu Pelatihan Khusus untuk Guru; Sekolah Inklusi Butuh Pengajar, Kompas, Rabu,
3 Maret 2010
Pijl, Sip Jan (eds), Inclusive Education: A Global Agenda, London: Routledge, 1997
Putt, Allen D. dan J. Fred Springer, Policy Research; Concepts, Methods, and
Application, New Jersey: Prentice Hall, 1989
Reid, Gavin, Dyslexia and Inclusion; Classroom Approaches for Assesment,
Teaching and Learning, London: David Fulton Publisher, 2005
Santrock, John W., Psikologi Pendidikan, Jakarta: Prenada Media Group, 2008
Schulz, Jane B., Mainstreaming Exceptional Students; A Guide for Classroom
Teachers, Boston: Allyn and Bacon, 1991
Smith, J. David, Inklusi: Sekolah Ramah untuk Semua, Bandung: Penerbit Nuansa,
2006
Stephens, Thomas M. dkk., Teaching Mainstreamed Students, Canada: John
Wiley&Sons, 1982
Suharto, Edi, Analisis Kebijakan Publik; Panduan Praktis Mengkaji Masalah dan
Kebijakan Sosial, Bandung: CV. Alfabeta, 2005
Sukmadinata, Nana Syaodih, Metode Penelitian Pendidikan, Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 2008, cet. ke-4.
Surat Edaran Dirjen Dikdasmen No. 380/C.C6/MN/2003 Tanggal 20 Januari 2003
Perihal Pendidikan Inklusif
Taylor, Ronald L., Assesment of Exceptional Students; Educational and
Psychological Procedures, New Jersey: Pearson Education Inc., 2009, Cet. Ke-8
Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem
Pendidikan Nasional
Usman, Husaini dan Purnomo Setiady Akbar, Metodologi Penelitian Sosial, Jakarta:
PT. Bumi Aksara, 2008

Winarno, Budi, Kebijakan Publik: Teori dan Proses, Yogyakarta: Media Presindo,
2007

Anda mungkin juga menyukai