Anda di halaman 1dari 26

Case Report Session

BELLS PALSY

Oleh :
Putri Dewita sari

06120088

Rila Rivanda

06120090

Preseptor :
Dr. Amilus Ismail., Sp.S

BAGIAN ILMU PENYAKIT SARAF


RSU DR. ACHMAD MOCHTAR
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
BUKITTINGGI
2011

BAB I
TINJAUAN PUSTAKA
1

I.1. Anatomi Nervus Fasialis


Untuk dapat menilai sebab-sebab paralisis wajah, perlu dimengerti anatomi
dan fungsi saraf. Nervus kranialis ketujuh berasal dari batang otak, berjalan
melalui tulang temporal, dan berakhir pada otot-otot wajah. Sedikitnya ada lima
cabang utama. Selain mengurus persarafan otot wajah, Nervus kranialis ketujuh
juga mengurus lakrimasi, salivasi, pengaturan impedansi dalam telinga tengah,
sensasi nyeri, raba, suhu dan kecap.1
Nervus fasialis merupakan nervus kranialis yang mengandung serabut
motorik, somatosensorik serta serabut nervus intermedius. Nervus ini sering
mengalami gangguan karena mempunyai perjalanan yang panjang dan berkelokkelok, berada di dalam saluran tulang yang sempit dan kaku.2
Saraf fasialis mempunyai 2 subdivisi , yaitu:5,6
1.

Saraf fasialis propius: yaitu saraf fasialis yang murni untuk mempersarafi
otot-otot ekspresi wajah, otot platisma, stilohioid, digastrikus bagian posterior

2.

dan stapedius di telinga tengah.


Saraf intermediet (pars intermedius wisberg), yaitu subdivisi saraf yang lebih
tipis yang membawa saraf aferen otonom, eferen otonom, aferen somatis.
- Aferen otonom: mengantar impuls dari alat pengecap di dua pertiga depan
lidah. Sensasi pengecapan dari 2/3 bagian depan lidah dihantar melalui
saraf lingual ke korda timpani dan kemudian ke ganglion genikulatum dan
kemudian ke nukleus traktus solitarius.
- Eferen otonom (parasimpatik eferen): datang dari nukleus salivatorius
superior. Terletak di kaudal nukleus. Satu kelompok akson dari nukleus ini,
berpisah dari saraf fasilalis pada tingkat ganglion genikulatum dan
diperjalanannya akan bercabang dua yaitu ke glandula lakrimalis dan
glandula mukosa nasal. Kelompok akson lain akan berjalan terus ke kaudal
dan menyertai korda timpani serta saraf lingualis ke ganglion
submandibularis. Dari sana, impuls berjalan ke glandula sublingualis dan
submandibularis, dimana impuls merangsang salivasi.
- Aferen somatik: rasa nyeri (dan mungkin juga rasa suhu dan rasa raba) dari
sebagian daerah kulit dan mukosa yang disarafi oleh saraf trigeminus.
Daerah overlapping (disarafi oleh lebih dari satu saraf atau tumpang
tindih) ini

terdapat di lidah, palatum, meatus akustikus eksterna, dan

bagian luar membran timpani.

Inti motorik saraf VII terletak di pons. Serabutnya mengitari saraf VI, dan
keluar di bagian lateral pons. Saraf intermedius keluar di permukaan lateral pons
di antara saraf VII dan saraf VIII. Ketiga saraf ini bersama-sama memasuki
meatus akustikus internus. Di dalam meatus ini, saraf fasialis dan intermediet
berpisah dari saraf VIII dan terus ke lateral dalam kanalis fasialis, kemudian ke
atas ke tingkat ganglion genikulatum. Pada ujung akhir kanalis , saraf fasialis
meninggalkan kranium melalui foramen stilomastoideus. Dari titik ini, serat
motorik menyebar di atas wajah. Dalam melakukan penyebaran itu, beberapa
melubangi glandula parotis.5

Gambar 1.Saraf Fasialis


Sewaktu meninggalkan pons, saraf fasialis beserta saraf intermedius dan
saraf VIII masuk ke dalam tulang temporal melalui porus akustikus internus.
Dalam perjalanan di dalam tulang temporal, saraf VII dibagi dalam 3 segmen,
yaitu segmen labirin, segman timpani dan segmen mastoid.1
Segmen labirin terletak antara akhir kanal akustik internus dan ganglion
genikulatum, panjang segmen ini 2-4 milimeter.1
Segmen timpani (segmen vertikal), terletak di antara bagian distal ganglion
genikulatum dan berjalan ke arah posterior telinga tengah, kemudian naik ke arah
tingkap lonjong (venestra ovalis) dan stapes, lalu turun kemudian terletak sejajar
dengan kanal semisirkularis horizontal. Panjang segmen ini kira-kira 12
milimeter.1
Segmen mastoid ( segmen vertikal) mulai dari dinding medial dan superior
kavum timpani. Perubahan posisi dari segman timpani menjadi segmen mastoid,
disebut segman piramidal atau genu eksterna. Bagian ini merupakan bagian paling
posterior dari saraf VII, sehingga mudah terkena trauma pada saat operasi.
Selanjutnya segmen ini berjalan ke arah kaudal menuju segmen stilomaoid.
Panjang segmen ini 15-20 milimeter.1
3

Gambar 2. Persarafan Nervus VII


Nukleus fasialis juga menerima impuls dari talamus yang mengarahkan
yang mengarahkan gerakan ekspresi emosional pada otot-otot wajah. Juga ada
hubungan dengan gangglion basalis. Jika bagian ini atau bagian lain dari sistem
piramidal menderita penyakit penyakit, mungkin terdapat penurunan atau
hilangnya ekspresi wajah (hipomimia atau amimi).
I.2. Definisi
Istilah Bells palsy telah digunakan untuk menjelaskan paralisis pada
wajah dengan onset yang akut dan terjadi secara cepat, dimana etiologinya belum
diketahui secara pasti. Bell's Palsy (BP) ialah suatu kelumpuhan akut n. fasialis
perifer yang tidak diketahui sebabnya. Sir Charles Bell (1821) seorang ahli bedah
dari Skotlandia adalah orang yang pertama meneliti beberapa penderita dengan
wajah asimetrik, sejak itu semua kelumpuhan n. fasialis perifer yang tidak
diketahui sebabnya disebut Bell's palsy3. Pengamatan klinik, pemeriksaan
neurologik, laboratorium dan patologi anatomi menunjukkan bahwa BP bukan
penyakit tersendiri tetapi berhubungan erat dengan banyak faktor dan sering
merupakan gejala penyakit lain. Penyakit ini lebih sering ditemukan pada usia
dewasa, jarang pada anak di bawah umur 2 tahun.Biasanya didahului oleh infeksi
saluran napas bagian atas yang erat hubungannya dengan cuaca dingin.4 Diagnosis
BP dapat ditegakkan dengan adanya kelumpuhan n. fasialis perifer diikuti
pemeriksaan untuk menyingkirkan penyebab lain kelumpuhan n. fasialis perifer.3
I.3. Epidemiologi
Prevalensi BP di beberapa negara cukup tinggi. Di Inggris dan Amerika
berturut-turut 22,4 dan 22,8 penderita per 100,000 penduduk per tahun. Di
Belanda (1987) 1 penderita per 5000 orang dewasa & 1 penderita per 20,000 anak

per tahun. BP pada orang dewasa lebih banyak dijumpai pada pria, sedangkan
pada anak tidak terdapat perbedaan yang menyolok antara kedua jenis kelamin.
I.4. Etiologi
Penyebab kelumpuhan saraf fasialis bisa disebabkan oleh kelainan
kongenital, infeksi, tumor, trauma, gangguan pembuluh darah, idiopatik, dan
penyakit-penyakit tertentu.1,3
1. Kongenital
Kelumpuhan yang didapat sejak lahir (kongenital) bersifat irreversible dan
terdapat bersamaan dengan anomaly pada telinga dan tulang pendengaran.1
Pada kelumpuhan saraf fasialis bilateral dapat terjadi karena adanya
gangguan perkembangan saraf fasialis dan seringkali bersamaan dengan
kelemahan okular (sindrom Moibeus).3
2. Infeksi
Proses infeksi di intraKranial atau infeksi telinga tengah dapat
menyebabkan kelumpuhan saraf fasialis. Infeksi intracranial yang
menyebabkan kelumpuhan ini seperti pada Sindrom Ramsay-Hunt, Herpes
otikus. Infeksi Telinga tengah yang dapat menimbulkan kelumpuhan saraf
fasialis adalah otitis media supuratif kronik (OMSK ) yang telah merusak
Kanal Fallopi.1
3. Tumor
Tumor yang bermetastasis ke tulang temporal merupakan penyebab yang
paling sering ditemukan. Biasanya berasal dari tumor payudara, paru-paru,
dan prostat. Juga dilaporkan bahwa penyebaran langsung dari tumor
regional dan sel schwann, kista dan tumor ganas maupun jinak dari
kelenjar parotis bisa menginvasi cabang akhir dari saraf fasialis yang
berdampak sebagai bermacam-macam tingkat kelumpuhan. Pada kasus
yang sangat jarang, karena pelebaran aneurisma arteri karotis dapat
mengganggu fungsi motorik saraf fasialis secara ipsilateral.2
4. Trauma
Kelumpuhan saraf fasialis bisa terjadi karena trauma kepala, terutama jika
terjadi fraktur basis cranii, khususnya bila terjadi fraktur longitudinal.
Selain itu luka tusuk, luka tembak serta penekanan forsep saat lahir juga
bisa menjadi penyebab. Saraf fasialis pun dapat cedera pada operasi

mastoid, operasi neuroma akustik/neuralgia

trigeminal dan operasi

kelenjar parotis.2
5. Gangguan Pembuluh Darah
Gangguan pembuluh darah yang dapat menyebabkan kelumpuhan saraf
fasialis diantaranya thrombosis arteri karotis, arteri maksilaris dan arteri
serebri media.1
6. Idiopatik ( Bells Palsy )
Parese Bell merupakan lesi nervus fasialis yang tidak diketahui
penyebabnya atau tidak menyertai penyakit lain. Pada parese Bell terjadi
edema fasialis. Karena terjepit di dalam foramen stilomastoideus dan
menimbulkan kelumpuhan tipe LMN yang disebut sebagai Bells Palsy.3
7. Penyakit-penyakit tertentu
Kelumpuhan fasialis perifer dapat terjadi pada penyakit-penyakit tertentu,
misalnya DM, hepertensi berat, anestesi lokal pada pencabutan gigi,
infeksi telinga tengah, sindrom Guillian Barre.
Bells palsy dapat terjadi pada pria atau wanita segala usia dan disebabkan
oleh kerusakan saraf fasialis yang disebabkan oleh radang, penekanan atau
pembengkakan. Penyebab kerusakan ini tidak diketahui dengan pasti, kendati
demikian para ahli meyakini infeksi virus Herpes Simpleks sebagai penyebabnya.
Sehingga terjadi proses radang dan pembengkakan saraf. Pada kasus yang ringan,
kerusakan yang terjadi hanya pada selubung saraf saja sehingga proses
penyembuhannya lebih cepat, sedangkan pada kasus yang lebih berat dapat terjadi
jeratan pada kanalis falopia yang dapat menyebabkan kerusakan permanen serabut
saraf.
Faktor-faktor yang diduga berperan menyebabkan BP antara lain: sesudah
bepergian jauh dengan kendaraan, tidur di tempat terbuka, tidur di lantai,
hipertensi, stres, hiperkolesterolemi, diabetes mellitus, penyakit vaskuler,
gangguan imunologik dan faktor genetik.
I.5. Patofisiologi
Bells Palsy merupakan lesi nervus fasialis yang terjadi secara akut,yang
tidak diketahui penyebabnya atau menyertai penyakit lain. Teori yang dianut saat
ini yaitu teori vaskuler. Pada Bells Palsy terjadi iskemi primer n. fasialis yang
disebabkan oleh vasodilatasi pembuluh darah yang terletak antara n. fasialis dan

dinding kanalis fasialis. Sebab vasodilatasi ini bermacam-macam, antara lain:


infeksi virus, proses imunologik dll. Iskemi primer yang terjadi menyebabkan
gangguan mikrosirkulasi intraneural yang menimbulkan iskemi sekunder dengan
akibat gangguan fungsi n. fasialis. Terjepitnya n. fasialis di daerah foramen
stilomastoideus dan menimbulkan kelumpuhan tipe LMN yang disebut sebagai
Bells Palsy.3 Perubahan patologik yang ditemukan pada n. fasialis sebagai
berikut:
1.
2.
3.
4.

Tidak ditemukan perubahan patologik kecuali udem


Terdapat demielinisasi atau degenerasi mielin.
Terdapat degenerasi akson
Seluruh jaringan saraf dan jaringan penunjang rusak

Perubahan patologik ini bergantung kepada beratnya kompresi atau strangulasi


terhadap Nv. VII.

Gambar 3. Nervus VII


I.6. Gejala klinis
Manifestasi klinik Bells Palsy khas dengan memperhatikan riwayat penyakit
dan gejala kelumpuhan yang timbul mendadak. Perasaan nyeri, pegal, linu dan
rasa tidak enak pada telinga atau sekitamya sering merupakan gejala awal yang
segera diikuti oleh gejala kelumpuhan otot wajah berupa :
Dahi tidak dapat dikerutkan atau lipat dahi hanya terlihat pada sisi yang

sehat.
Kelopak mata tidak dapat menutupi bola mata pada sisi yang lumpuh
(lagophthalmus).

Gerakan bola mata pada sisi yang lumpuh lambat, disertai bola mata

berputar ke atas bila memejamkan mata, fenomena ini disebut Bell's sign.
Sudut mulut tidak dapat diangkat, lipat nasolabialis mendatar pada sisi

yang lumpuh dan mencong ke sisi yang sehat.


Selain gejala-gejala diatas, dapat juga ditemukan gejala lain yang
menyertai antara lain : gangguan fungsi pengecap, hiperakusis dan
gangguan lakrimasi.

Gejala dan tanda klinik yang berhubungan dengan lokasi lesi . (Lihat gambar 4) 3
1. Lesi di luar foramen stilomastoideus
Mulut tertarik kearah sisi mulut yang sehat, makanan terkumpul di antara
pipi dan gusi. Lipatan kulit dahi menghilang. Apabila mata yang terkena
tidak ditutup atau tidak dilindungi maka air mata akan keluar terus menerus.
2. Lesi di kanalis fasialis (melibatkan korda timpani)
Gejala dan tanda klinik seperti pada (1), ditambah dengan hilangnya
ketajaman pengecapan lidah (2/3 bagian depan) dan salivasi di sisi yang
terkena berkurang. Hilangnya daya pengecapan pada lidah menunjukkan
terlibatnya saraf intermedius, sekaligus menunjukkan lesi di antara pons dan
titik dimana korda timpani bergabung dengan saraf fasialis di kanalis
3.

fasialis.
Lesi di kanalis fasialis lebih tinggi lagi (melibatkan muskulus

stapedius)
Gejala dan tanda klinik seperti (1) dan (2) di tambah dengan hiperakusis.
4. Lesi ditempat yang lebih tinggi lagi (melibatkan ganglion genikulatum)
Gejala dan tanda kilinik seperti pada (1),(2),(3) disertai dengan nyeri di
belakang dan didalam liang telinga, dan kegagalan lakrimal. Kasus seperti
ini dapat terjadi pascaherpes di membrana timpani dan konka. Sindrom
Ramsay-Hunt adalah kelumpuhan fasialis perifer yang berhubungan dengan
herpes zoster di ganglion genikulatum. Tanda-tandanya adalah herpes zoster
otikus , dengan nyeri dan pembentukan vesikel dalam kanalis auditorius dan
dibelakang aurikel (saraf aurikularis posterior), terjadi tinitus, kegagalan
pendengaran, gangguan pengecapan, pengeluaran air mata dan salivasi.
5. Lesi di meatus akustikus internus
Gejala dan tanda klinik seperti diatas ditambah dengan tuli akibat
terlibatnya nervus akustikus.
6. Lesi ditempat keluarnya saraf fasialis dari pons.

Gejala dan tanda klinik sama dengan diatas, disertai gejala dan tanda
terlibatnya saraf trigeminus, saraf akustikus dan kadang kadang juga saraf
abdusen, saraf aksesorius dan saraf hipoglossus.

Gambar 4. Gejala Bells Palsy berhubungan dengan lokasi lesi


I.7. Diagnosis
Umumnya diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinik adanya
kelumpuhan n. fasialis perifer diikuti pemeriksaan untuk menyingkirkan penyebab
lain dad kelumpuhan n. fasialis perifer.
Beberapa pemeriksaan penunjang yang penting untuk menentukan letak lesi dan
derajat kerusakan n. Fasialis.
a. Anamnesis
Pasien biasa mengeluhkan : Perasaan nyeri, pegal, linu dan rasa tidak enak
pada telinga atau sekitamya sering merupakan gejala awal yang segera
diikuti oleh gejala kelumpuhan otot wajah yang terjadi secara mendadak.
b. Pemeriksaan Fisik
1. Pemeriksaan fungsi saraf motorik
Terdapat 10 otot-otot utama wajah yang bertanggung jawab untuk
terciptanya mimic dan ekspresi wajah seseorang. Adapun urutan ke-10
otot-otot tersebut dari sisi superior adalah sebagai berikut :
a. M. Frontalis
: diperiksa dengan cara mengangkat alis ke
b. M. Sourcilier
c. M. Piramidalis

atas.
: diperiksa dengan cara mengerutkan alis
: diperiksa dengan cara mengangkat dan

d. M. Orbikularis Okuli :
e. M. Zigomatikus

mengerutkan hidung ke atas


diperiksa dengan cara memejamkan kedua

mata kuat-kuat
: diperiksa dengan cara tertawa lebar sambil
memperlihatkan gigi
9

f. M. Relever Komunis : diperiksa dengan cara memoncongkan


mulut kedepan sambil memperlihatkan
g. M. Businator

gigi
: diperiksa dengan cara menggembungkan

kedua pipi
h. M. Orbikularis Oris : diperiksa dengan cara menyuruh penderita
i. M. Triangularis

bersiul
: diperiksa dengan cara menarik kedua

j. M. Mentalis

sudut bibir ke bawah


: diperiksa dengan cara memoncongkan
mulut yang tertutup rapat ke depan

Pada tiap gerakan dari ke 10 otot tersebut, kita bandingkan antara kanan
dan kiri :
a.

Untuk gerakan yang normal dan simetris dinilai dengan angka tiga

(3)
b. Sedikit ada gerakan dinilai dengan angka satu ( 1 )
c. Diantaranya dinilai dengan angka dua ( 2 )
d. Tidak ada gerakan sama sekali dinilai dengan angka nol ( 0 )
Seluruh otot ekspresi tiap sisi muka dalam keadaan normal akan
mempunyai nilai tiga puluh ( 30 ).1
2. Tonus
Pada keadaan istirahat tanpa kontraksi maka tonus otot
menentukan terhadap kesempurnaan mimic / ekspresi muka. Freyss
menganggap penting akan fungsi tonus sehingga mengadakan penilaian
pada setiap tingkatan kelompok otot muka, bukan pada setiap otot.
Cawthorne mengemukakan bahwa tonus yang jelek memberikan
gambaran prognosis yang jelek. Penilaian tonus seluruhnya berjumlah
lima belas (15) yaitu seluruhnya terdapat lima tingkatan dikalikan tiga
untuk setiap tingkatan. Apabila terdapat hipotonus maka nilai tersebut
dikurangi satu (-1) sampai minus dua (-2) pada setiap tingkatan
tergantung dari gradasinya.1
3. Gustometri

10

Sistem pengecapan pada 2/3 anterior lidah dipersarafi oleh n.


Korda timpani, salah satu cabang saraf fasialis. 1 Kerusakan pada N VII
sebelum percabangan korda
(hilangnya pengecapan).2
Pemeriksaan dilakukan

timpani dapat menyebabkan ageusi


dengan

cara

penderita

disuruh

menjulurkan lidah, kemudian pemeriksa menaruh bubuk gula, kina,


asam sitrat atau garam pada lidah penderita. Hali ini dilakukan secara
bergiliran dan diselingi istirahat. Bila bubuk ditaruh, penderita tidak
boleh menarik lidahnya ke dalam mulut, sebab bubuk akan tersebar
melalui ludah ke sisi lidah lainnya atau ke bagian belakang lidah yang
persarafannya diurus oleh saraf lain. Penderita disuruh untuk
menyatakan pengecapan yang dirasakannya dengan isyarat, misalnya 1
untuk rasa manis, 2 untuk rasa pahit, 3 untuk rasa asin, dan 4 untuk
rasa asam.2
Pada pemeriksaan fungsi korda timpani adalah perbedaan
ambang rangsang antara kanan dan kiri. Freyss menetapkan bahwa
beda 50% antara kedua sisi adalah patologis.1
4. Salivasi
Pemeriksaan uji salivasi dapat dilakukan dengan melakukan
kanulasi kelenjar submandibularis. Caranya dengan menyelipkan
tabung polietilen no 50 kedalam duktus Wharton. Sepotong kapas yang
telah dicelupkan kedalam jus lemon ditempatkan dalam mulut dan
pemeriksa harus melihat aliran ludah pada kedua tabung. Volume dapat
dibandingkan dalam 1 menit. Berkurangnya aliran ludah sebesar 25 %
dianggap abnormal. Gangguan yang sama dapat terjadi pada jalur ini
dan juga pengecapan, karena keduanya ditransmisi oleh saraf korda
timpani.4
5. Schimer Test atau Naso-Lacrymal Reflex
Dianggap sebagai pemeriksaan terbaik untuk pemeriksaan
fungsi serabut-serabut pada simpatis dari saraf fasialis yang disalurkan
melalui

saraf

petrosus

superfisialis

mayor

setinggi

ganglion

genikulatum. Kerusakan pada atau di atas saraf petrosus mayor dapat


menyebabkan berkurangnya produksi air mata.4,5
Tes Schimer dilakukan untuk menilai fungsi lakrimasi dari mata.
Cara pemeriksaan dengan meletakkan kertas hisap atau lakmus lebar
11

0,5 cm panjang 5-10 cm pada dasar konjungtiva. Setelah tiga menit,


panjang dari bagian strip yang menjadi basah dibandingkan dengan sisi
satunya. Freys menyatakan bahwa kalau ada beda kanan dan kiri lebih
atau sama dengan 50% dianggap patologis.
6. Refleks Stapedius
Untuk menilai reflex stapedius digunakan elektoakustik
impedans meter, yaitu dengan cara memberikan ransangan pada
muskulus stapedius yang bertujuan untuk mengetahui fungsi N.
stapedius cabang N.VII.
7. Uji audiologik
Setiap pasien yang menderita paralisis saraf fasialis perlu
menjalani pemeriksaan audiogram lengkap. Pengujian termasuk
hantaran udara dan hantaran tulang, timpanometri dan reflex stapes.
Fungsi saraf cranial kedelapan dapat dinilai dengan menggunakan uji
respon auditorik yang dibangkitkan dari batang otak. Uji ini bermanfaat
dalam mendeteksi patologi kanalis akustikus internus. Suatu tuli
konduktif dapat memberikan kesan suatu kelainan dalam telinga tengah,
dan dengan memandang syaraf fasialis yang terpapar pada daerah ini,
perlu dipertimbangkan suatu sumber infeksi. Jika terjadi kelumpuhan
saraf ketujuh pada waktu otitis media akut, maka mungkin gangguan
saraf pada telinga tengah. Pengujian reflek dapat dilakukan pada telinga
ipsilateral atau kontralateral dengan menggunakan suatu nada yang
keras, yang akan membangkitkan respon suatu gerakan reflek dari otot
stapedius. Gerakan ini mengubah tegangan membrane timpani dan
menyebabkan perubahan impedansi rantai osikular. Jika nada tersebut
diperdengarkan pada belahan telinga yang normal, dan reflek ini pada
perangsangan kedua telinga mengesankan suatu kelainan pada bagian
aferen saraf kranialis.2
8. Sinkinesis
Sinkinesis menetukan suatu komplikasi dari kelumpuhan saraf
fasialis yang sering kita jumpai. Cara mengetahui ada tidaknya
sinkinesis adalah sebagai berikut :1

12

a. Penderita diminta untuk memenjamkan mata kuat-kuat kemudian


kita melihat pergerakan otot-otot pada daerah sudut bibir atas. Kalau
pergerakan normal pada kedua sisi dinilai dengan angka dua (2).
Kalau pergerakan pada sisi paresis lebih (hiper) dibandingkan
dengan sisi normal nilainya dikurangi satu (-1) atau dua (-2),
tergantung dari gradasinya.
b. Penderita diminta untuk tertawa lebar sambil memperlihatkan gigi,
kemudian kita melihat pergerakan otot-otot pada sudut mata bawah.
Penilaian seperti pada (a).
c. Sinkinesis juga dapat dilihat pada waktu penderita berbicara
(gerakan emosi) dengan memperhatikan pergerakan otot-otot sekitar
mulut. Nilai satu (1) kalau pergerakan normal. Nilai nol (0) kalau
pergerakan tidak simetris.
Pemeriksaan House-Brackmann
Gambaran dari disfungsi motorik fasial ini sangat luas dan
karakteristik dari kelumpuhan ini sangat sulit. Beberapa sistem telah
usulkan tetapi semenjak pertengahan 1980 sistem House-Brackmann yang
selalu atau sangat dianjurkan . pada klasifikasi ini grade 1 merupakan
fungsi yang normal dan grade 6 merupakan kelumpuhan yang komplit.
Pertengahan grade ini sistem berbeda penyesuaian dari fungsi ini pada
istirahat dan dengan kegiatan. Ini diringkas dalam tabel:6
Grade

Penjelasan

Normal

II

Disfungsi
ringan

Karakteristik
Fungsi fasial normal
Kelemahan yang sedikit yang terlihat pada inspeksi
dekat, bisa ada sedikit sinkinesis.
Pada istirahat simetri dan selaras.
Pergerakan dahi sedang sampai baik
Menutup mata dengan usaha yang minimal
Terdapat sedikit asimetris pada mulut

jika

melakukan pergerakan

13

III

Disfungsi
sedang

Terlihat tapi tidak tampak adanya perbedaan antara


kedua sisi
Adanya sinkinesis ringan
Dapat ditemukam spasme

atau

kontraktur

hemifasial
Pada istirahat simetris dan selaras
Pergerakan dahi ringan sampai sedang
Menutup mata dengan usaha
Mulut sedikit lemah dengan pergerakan yang
IV

Disfungsi
sedang berat

Disfungsi berat

VI

Total parese

maksimum
Tampak kelemahan bagian wajah yang jelas dan
asimetri
Kemampuan menggerakkan dahi tidak ada
Tidak dapat menutup mata dengan sempurna
Mulut tampak asimetris dan sulit digerakkan.
Wajah tampak asimetris
Pergerakan wajah tidak ada dan sulit dinilai
Dahi tidak dapat digerakkan
Tidak dapat menutup mata
Mulut tidak simetris dan sulit digerakkan
Tidak ada pergerakkan

b. Pemeriksaan Penunjang
Salah satu pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk mengetahui
kelumpuhan saraf fasialis adalah dengan uji fungsi saraf. Terdapat beberapa
uji fungsi saraf yang tersedia antara lain Elektromigrafi (EMG),
Elektroneuronografi (ENOG).2
1.

Elektromiografi (EMG)
EMG sering kali dilakukan oleh bagian neurologi. Pemeriksaan ini
bermanfaat untuk menentukan perjalanan respons reinervasi pasien.
Pola EMG dapat diklasifikasikan sebagai respon normal, pola
denervasi, pola fibrilasi, atau suatu pola yang kacau yang
mengesankan suatu miopati atau neuropati. Namun, nilai suatu EMG
sangat terbatas kurang dari 21 hari setelah paralisis akut. Sebelum 21
14

hari, jika wajah tidak bergerak, EMG akan memperlihatkan potensial


denervasi. Potensial fibrilasi merupakan suatu tanda positif yang
menunjukkan kepulihan sebagian serabut. Potensial ini terlihat
sebelum 21 hari.
2.

Elektroneuronografi (ENOG)
ENOG memberi informasi lebih awal dibandingkan dengan EMG.
ENOG melakukan stimulasi pada satu titik dan pengukuran EMG
pada satu titik yang lebih distal dari saraf. Kecepatan hantaran saraf
dapat diperhitungkan. Bila terdapat reduksi 90% pada ENOG bila
dibandingkan dengan sisi lainnya dalam sepuluh hari, maka
kemungkinan sembuh juga berkurang secara bermakna. Fisch Eselin
melaporkan bahwa suatu penurunan sebesar 25 persen berakibat
penyembuhan tidak lengkap pada 88 persen pasien mereka, sementara
77 persen pasien yang mampu mempertahankan respons di atas angka
tersebut mengalami penyembuhan normal saraf fasialis.2

I.8. Tatalaksana
a) Glukokortikoid
Farmakologi dan penggunaan klinis
Glukokortikoid berperan dalam menghambat tiap fase dari respon
inflamasi, obat-obat ini juga memainkan peran penting dalam parahnya
inflamasi dan kelainan immune-immediate. Mekanisme pasti oleh
keuntungan steroid digunakan tidak begitu jelas ditemukan dalam banyak
kondisi dimana steroid ini digambarkan. Pada berbagai petunjuk dan
indikasi menyatakan penggunaan steroid sebagai empiris. Penggunaan
steroid lebih diarahkan ke fase aku saat serangan, contohnya pada Cerebral
Palsy, tapi tidak berefek penuh pada pemulihan total.
Respon inflamasi di mediasi oleh beberapa

bahan-bahan

intermediate dan tipe-tipe sel. Efek anti inflamasi umum dari


kortikosteroid antara lain adalah efek dari denyut pembuluh darah,
permiabilitas, dan penekanan dari produksi leukosit dan biosintesis
kolagen. Demopilus et al menerangkan buktti bawa peroksidasi lemak

15

menginduksi radikal-radikal oksigen bebas membenttuk basis molekul


untuk degenerasi neuron postraumatik dan steroid mengambat proses
tersebut. Hall dan Braugter mengamati secara luas dosis-dosis prepenatalaksanaan metilprednisolon yang dibutuhkan untuk memproduksi
pengaruh anti-oksidan ini, dan pre-penatalaksanaan dengan dosis yang
lebih rendah tidak efektif.
Terapi steroid untuk inlamasi neouropati seperti neuritis optic
idiopatik masih menadi controversial. Sementara glukokortikoid nampak
dalam penggunaanya untuk mengurangi rasa sakit dan memperpendek
periode dari kebutaan, ada sedikit bukti bahwa steroid tersebut
mempengaruhi level utama dari penyembuhan visual.
Sebagai tambahan dari keuntungan ani inflamasi glukokortikoid,
glokokortikoid steroid memfasilitasi aksi dari neuromuscular junction.
Efek-efek

yang

saling

mempengaruhhi

dari

steroid

ini

dapat

mengkontribusikan penyembuhan fungsi neuromuskular pada kelainan


seperti inflamasi polyradiculoneuropati (Guilan Barre Syndrom), patologi
yang disebabkan inflamasi, demyelinisasi segmental.
Penggunaan steoid pada tatalaksana Bells Palsy
Adour, Stankevitch, dan May telah menyediakan pandangan
komprehensiv dalam penggunaan terapi steroid pada Bells Palsy.
Kebanyakan pembelajaran akhir-akhir ini mengenai kegunaan steroid pada
Belss Palsy didasarkan pada pasien yang diperlakukan dengan control
sebelumnya.
Berdasarkan penelitian ini, yang menggunakan dosis yang lebih
besar dari steroid dan dosis luas gllukokortikoid dengan dextrran dan
pentoxiflin memberikan dampak rata-rata perkembangan kesembuhan dari
pasien yang mendapat tindakan walaupun penatalaksanaan tersebut tidak
menampakkan statistic yang signifikan pada sudi-studi sebelumnya.
Hasil evaluasi dari Stankewicz, steroid diberikan pada pasien Bells
Palsy dengan alasan stetroid dapat:
Mengurangi resiko denervasi jika diberikan secara dini
Mencegah atau mengurangi sinkinesis
Mencegah dari perkembangan inkompit menjadi komplit paralisis
Mencegah sinkinesis autonomic

16

Tujuan utama dari terapi glukokortikoid pada facial paralysis akut


adalah menginduksi kontrol anti inflamasi efektif. Regimen dosis
glukokortikoid yang optimal untuk penanganan inflamasi neuritis
tergantung dari pemberian kortikosteroid saat proses penyakit berlangsung.
Seperti yang telah ditunjukkan pada respon EEMG, pemberian
glokokortikoid pada Bells Palsy dalam 5-10 hari. Lesi-lesi pada pada
organ-organ lain biasanya hilang 1 sampai 2 minggu, tampaknya pada
inflamasi saraf facial (saraf VII) pada virus ini dapat ditangani pada
periode ini.
Strategi pemberian steroid pada Belss Palsy disarankan dengan oral
prednisone (1mg/kgBB/hari)dibagi menjadi 3 dosis tiap harinya selama 710 hari. Dosis harian harus ditappering off setelah 10 hari. Secara teori
regimen dosis ini memaksimalkan aktivitas anti inflamasi sementara
meminimalkan efek samping dan konsisten dengan anti inflamasi yang
efektif pada hipersensitiv akut, autoimun, dan kelainan inflamasi lainnya.
Efek samping
Efek samping biasanya manifestasi selama tatalaksana steroid
jangka pendek termasuk aksi hiperglikemik. Harus diwaspadai pemberian
steroid pada pasien palsy facial akut yang berhubungan dengan intoleransi
glukosa. Efek samping akut lainnya termasuk perubahan CNS seperti
psychotic breaks,

ketidakseimbangan cairan dan elektrolit, dan iritasi

gastrointestinal.
Efek glukokortikoid pada seluler dan komponen-komponen
jaringan inflamasi dapat mengurangi imunitas host terhadap bakteri, virus,
dan infeksi jamur. Infeksi laten dapat reaktivasi dan berkembang.
Ditambah lagi pemberian steroid yang menekan system imun bisa
menutupi gejala adanya tanda klinik dari suatu peyakit infeksi.
b) Terapi Antivirus
Kemoterapi antivirus menghadirkan cara yang lebih baru dalam
menangani facial palsy akut dari penyebab virus. Berdasarkan spectrum
dari aktivitasnya, toksisitas yang rendah, asiklovir (acycloguanosine),
analog nukleosida purin sintetik, telah digunakan untuk mencegah HS tipe
I dan II, VZ, dan Epstein Barr virus dan cytomegalovirus. Asiklovir
17

mencegah DNA polymerase dan replikasi DNA virus dengan bentuk yang
dikonversi (difosforilasi), itulah asiklovir bertindak sebagai analog
nukleosida.
Dickens, Smith, dan Graham menyarankan pemberian asiklovir
pada deficit neurologic yang dihasilkan herpes zoster otikus adalah
asiklovir intravena (10mg/kgBB setiap 8 jam selama 7 hari). Pemberian
antivirus secara dini ini telah dibuktikan oleh Given mencegah degenerasi
dari saraf yang dapat menyebab hilangnya pendengaran.
c) Dekompresi nervus
Pembedahan dekompresi dari saraf fasial untuk Bells Palsy pernah
dilakukan Balance dan Duel pada tahun 1932. Kemudian penggunaan
stimulasi listrik nervus fasial mulai ditinggalkan. Yang terpenting, segen
vertical telah didekompresi, lalu dekompresi dari seluruh segmen mastoid
direkomendasi (prosedur yang dilakukan adalah termasuk htimpani dan
segmen mastoid), dan akhir-akhir ini segmen labirin termasuk foramen
meatal.
Menggunakan pendekatan transmastoid untuk dekompesi saraf,
May menemukan bahwa dekompresi meningkatkan penyembuhan pada
pasien yang stimulasi nervusnya telah berkurang 75%atau lebih.
Bagaimanapun, prosedur ini tidak menampakkan bukti signifikan antara
yang mendapatkan operasi yang sembuh (87% dari 273pasien) dengan
pasien yang sembuh dengan sendirinya.

I.9. Prognosis
Sangat bergantung kepada derajat kerusakan n. fasialis. Pada anak
prognosis umumnya baik oleh karena jarang terjadi denervasi total.
Penyembuhan spontan terlihat beberapa hari setelah onset penyakit dan pada
anak 90% akan mengalami penyembuhan tanpa gejala sisa. Jika dengan
prednison dan fisioterapi selama 3 minggu belum mengalami penyembuhan,
besar kemungkinan akan terjadi gejala sisa berupa kontraktur otot-otot
wajah, sinkinesis, tik fasialis dan sindrom air mata buaya

18

BAB II
LAPORAN KASUS
IDENTITAS PASIEN
Nama
:
Umur
:
Jenis Kelamin :
Pekerjaan
:
Suku Bangsa :
Alamat
:

Tn. M
22 tahun
Laki-laki
Pegawai toko
Minang
Perum KB Putih, Bukittinggi

ANAMNESIS
Seorang pasien laki-laki berumur 22 tahun datang ke Poliklinik Neurologi RS DR.
Ahmad Muchtar Bukittingi pada tanggal 3 November 2011, dengan :
Keluhan Utama :
Mulut mencong ke sebelah kiri sejak 2 hari yang lalu
Riwayat Penyakit Sekarang
- Mulut mencong ke sebelah kiri sejak 2 hari yang lalu
- Awalnya pasien merasa wajahnya bergerak-gerak sendiri dan terasa
tebal, lidah juga terasa tebal, hingga ketika pasien bangun tidur pasien
-

merasakan mulutnya tiba-tiba mencong ke kiri.


Pasien juga merasakan mata kiri tidak bisa tertutup sempurna dan

terasa kering
- Gangguan pendengaran tidak ada
- Gangguan pengecapan tidak ada
- Riwayat demam sebelum mulut mencong tidak ada
- Riwayat trauma pada kepala tidak ada
- Kelumpuhan anggota gerak tidak ada
Riwayat Penyakit Dahulu :
- Tidak pernah sakit seperti ini sebelumnya
- Riwayat hipertensi tidak ada
- Riwayat telinga berair tidak ada
Riwayat Penyakit Keluarga :
- Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit yang sama seperti
pasien
Riwayat Pekerjaan, Sosial, Ekonomi, dan Kebiasaan:
- Pasien seorang pegawai toko, sering kelelahan dan terpapar udara
dingin
PEMERIKSAAN FISIK
Hari/tanggal : Kamis, 3 November 2011
Keadaan umum
: Baik
Kesadaran
: CMC, GCS 15, E4M6V5
19

Tekanan darah
: 130/90 mmHg
Frekuensi Nadi
: 80x/mnt
Frekuensi pernafasan
: 20x/mnt
Suhu
: 36,7C
Kepala :
Konjungtiva : tak anemis
Sklera
: tak ikterik
Leher
: tidak ada kelainan
Thorax
:
Pulmo
:
Inspeksi
: simetris kiri dan kanan
Palpasi
: tidak dapat dinilai
Perkusi
: sonor
Auskultasi
: vesikuler, ronchi -/-, wheezing -/Cor
:
Inspeksi
: ictus cordis tak terlihat
Palpasi
: ictus teraba 1 jari medial LMCS RIC IV
Perkusi
: batas jantung dalam batas normal
Auskultasi
: bunyi jantung murni, irama takikardi, bising (-)
- Abdomen
:
Inspeksi
: tidak tampak membuncit
Palpasi
: hepar dan lien tidak teraba
Perkusi
: tympani
Auskultasi
: Bising usus (+) normal
- Korpus Vertebrae
Inspeksi
: deformitas (-)
Palpasi
: gibbus (-)
Pemeriksaan Neurologis
1. Tanda rangsang Meningen:
- Kaku kuduk
- Kernig
- Brudzinski I
- Brudzinski II
2. Tanda peningkatan TIK
-Pupil
3. Pemeriksaan Nervus Cranialis:
Nervus kranialis
N I (Olfaktorius)
-subjektif
-objektif (dg bahan)
N II (Optikus)
-tajam penglihatan
-lapangan pandang
-melihat warna

::::: isokor, reflek cahaya +/+ 3mm/3mm

Kanan

Kiri

Baik
Tidak dilakukan

Baik
Tidak dilakukan

Baik
Baik
Baik

Baik
Baik
Baik

20

-funduskopi
N III (Okulomotorius)
-bola mata
-ptosis
-gerakan bulbus
-strabismus
-nistagmus
-ekso/endotalmus
-pupil
bentuk
reflex cahaya
reflex akomodasi
reflex konvergensi
N IV (Trochlearis)
-gerakan mata ke bawah
-sikap bulbus
-diplopia
N V (Trigeminus)
-Motorik
membuka mulut
menggerakkan rahang
menggigit
mengunyah
-Sensorik
Divisi Oftalmika
*reflex kornea
*sensibilitas
Divisi Maksila
*reflex Masseter
*sensibilitas
Divisi Mandibula
*sensibilitas
N VI (Abdusen)
-gerakan mata ke lateral
-sikap bulbus
-diplopia
N VII (Fasialis)
-raut wajah
-sekresi air mata
-fisura palpebra
-menggerakkan dahi
-menutup mata
-mencibir/bersiul
-memperlihatkan gigi
-sensasi lidah 2/3 depan
-hiperakusis

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Ortho
Tidak ada
Ke segala arah
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

Ortho
Tidak ada
Ke segala arah
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

Bulat, isokor, 3 mm
+
+
+

Bulat, isokor, 3 mm
+
+
+

Bebas
Ortho
Tidak ada

Bebas
Ortho
Tidak ada

Baik
Baik
Baik
Baik

Baik
Baik
Baik
Baik

+
+

+
+

Baik
Baik

Baik
Baik

Baik

Baik

Bebas
Ortho
Tidak ada

Bebas
Ortho
Tidak ada

Plika nasolabialis kiri lebih datar


+
+
+
+
+
+
+
+
+
21

N VIII (Vestibularis)
-suara berbisik
-detik arloji
-rinne test
-weber test
-swabach test
*memanjang
*memendek
-nistagmus
*pendular
*vertical
*siklikal
-pengaruh posisi kepala
N IX (Glossofaringeus)
-sensasi lidah 1/3 blkg
-refleks muntah (Geg Rx)
N X (Vagus)
-Arkus faring
-uvula
-menelan
-artikulasi
-suara
-nadi
N XI (Asesorius)
-menoleh ke kanan
-menoleh ke kiri
-mengangkat bahu kanan
-mengangkat bahu kiri
N XII (Hipoglosus)
-kedudukan lidah dalam
-kedudukan lidah

Baik
Baik
Tidak diperiksa
Tidak diperiksa
Tidak diperiksa

Baik
Baik
Tidak diperiksa
Tidak diperiksa
Tidak diperiksa

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Baik
+

Baik
+
Simetris
Di tengah
Baik
Baik
Baik
Teratur
+
+
+
+
Di tengah
Di tengah

dijulurkan
-tremor
-fasikulasi
-atropi

4. Koordinasi: baik
5. Pemeriksaan Fungsi Motorik;
Kanan
a.Badan
b.Berdiri

-Respirasi
-duduk
& -gerakan spontan

Kiri
Simetris kiri dan kanan
Simetris
Simetris
Tidak ada
Tidak ada

berjalan
-tremor

Tidak ada

Tidak ada

22

-atetosis
-mioklonik
-khorea
c.Ekstremitas

Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

Superior
Kanan
Aktif
555
Eutropi
Eutonus

-gerakan
-kekuatan
-tropi
-tonus

Inferior

Kiri
Aktif
555
Eutropi
Eutonus

Kanan
Aktif
555
Eutropi
Eutonus

Kiri
Aktif
555
Eutropi
Eutonus

6. Pemeriksaan sensibilitas: baik


7. Sistim reflex
a.fisiologis
Kornea
Berbangkis
Laring
Masseter
Dinding

Kanan
+

Kiri
+

Biseps
triseps
KPR
APR
Bulbokavernosus

kanan
++
++
++
++

Kiri
++
++
++
++

perut
-atas
-bawah
-tengah
Cremaster
Sfingter
b.Patologis
Lengan
Hofmann-

Kanan
-

Kiri
-

Tungkai
Babinski

Kanan
-

Kiri
-

Chaddoks
Oppenheim
Gordon
Schaeffer
Klonus paha
Klonos kaki

Tromner

8. Fungsi otonom
-miksi
-defekasi
-sekresi keringat

: baik
: baik
: baik

9.Fungsi luhur :
23

Kesadaran
-reaksi bicara : baik
-reaksi intelek : baik
-reaksi emosi : baik

Diagnosis
Diagnosa klinis
Diagnosa topik
Diagnosa etiologi
Diagnosa sekunder

Tanda demensia
-refleks Glabella : -refleks Snout
:-refleks mengisap : -refleks memegang : -refleks Palmomental : -

: Paralisis nervus fasialis sinistra tipe perifer


: Nervus VII sinistra
: Idiopatik
:-

Prognosis:
Quo ad vitam : bonam
Quo ad sanam : bonam
Quo ad functionam: bonam
Terapi
Istirahat
Prednisone 3x5 mg
Neurodex 3x1 tab
Fisioterapi

BAB III
DISKUSI
Seorang pasien laki-laki, usia 22 tahun, datang ke Poliklinik RSU Dr.
Achmad Mochtar Bukittinggi dengan keluhan wajah mencong ke kiri sejak 2 hari
yang lalu. Awalnya pasien merasa wajahnya bergerak-gerak sendiri dan terasa
tebal, lidah juga terasa tebal, hingga ketika pasien bangun tidur pasien merasakan
mulutnya tiba-tiba mencong ke kiri. Pasien juga merasakan mata kiri tidak bisa
tertutup sempurna dan terasa kering. Berdasarkan anamnesis, keluhan pasien ini
sesuai dengan paralisis nervus fasialis tipe perifer, dimana paralisis terjadi pada
sisi wajah sebelah kiri saja. Hal ini terjadi karena kerusakan pada inti nervus
fasialis atau infranuklearnya, sehingga impuls homolateral untuk otot-otot wajah
bagian atas dan kontralateral untuk otot-otot wajah bagian bawah terganggu. Pada
pasien ini tidak ditemukan gangguan pengecapan dan pendengaran. Hal ini dapat

24

menyingkirkan keterlibatan ganglion genikulatum sebagai induk sel pengecap 2/3


bagian depan lidah maupun meatus akustikus internus yang dapat mengganggu
pendengaran. Pasien tidak memiliki riwayat telinga berair, sehingga dapat
disingkirkan kemungkinan etiologinya merupakan suatu otitis media. Riwayat
trauma juga disangkal sehingga dapat disingkirkan kemungkinan fraktur os
temporal, dan tidak adanya riwayat hipertensi serta tidak adanya kelumpuhan
anggota gerak dapat menyingkirkan kemungkinan suatu lesi sentral.
Dari riwayat sosial dan kebiasaan, pasien adalah seorang pegawai toko
yang terbiasa terkena udara dingin dan kelelahan. Hal ini merupakan faktor risiko
yang dapat menyebabkan nervus fasialis menjadi sembab dan terjepit pada
foramen stilomastoideum dan menimbulkan kelumpuhan nervus fasialis tipe LMN
(perifer). Kelumpuhan ini disebut dengan Bells Palsy.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum pasien baik, tekanan
darah 130/90 mmHg, nadi 80x/menit, nafas 20x/menit, suhu 36,5 0 C. Dari
pemeriksaan nervus kranialis, didapatkan pemeriksaan Nv.I-Nv.XII baik, kecuali
Nv.VII. Pada pemeriksaan Nv.VII didapatkan raut wajah yang tidak simetris,
dimana plika nasolabialis kiri lebih datar, dahi sebelah kiri tidak dapat dikerutkan,
kelopak mata kiri tidak dapat ditutup, tidak dapat bersiul, dan tidak dapat
memperlihatkan gigi. Tidak ditemukan hipeakusis karena jika nervus fasialis
terjepit di foramen stilomastoideum maka ia tidak lagi mengandung serabut korda
timpani dan serabut yang mempersarafi muskulus stapedius. Tidak adanya
kelumpuhan anggota gerak dapat menyingkirkan kemungkinan stroke yang dapat
menyebabkan paralisis Nv.VII, yang lesinya bersifat sentral.
Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik tersebut dapat ditegakkan diagnosis
klinis Parelisis Nervus VII tipe perifer (Bells Palsy), dengan diagnosis topik
Nervus VII, dan etiologi idiopatik.
Prinsip penatalaksanaan pada pasien dengan Bells Palsy secara
medikamentosa yaitu dengan pemberian kortikosteroid, seperti prednison 1
mg/kgBB (prednisone 60 mg), di tappering off diturunkan 2 tab/hari sampai 10
hari (stadium akut), diberikan Nurodex 3x1 tab, dan dapat ditambahkan analgetik
(bila nyeri). Tatalaksana non medikamentosa berupa fisioterapi, dilakukan setelah
hari ke 4 awitan. Hal ini dapat dilakukan dengan melatih sisi wajah yang lumpuh
untuk melakukan gerakan seperti mengerutkan dahi, menutup mata, tersenyum,
bersiul/meniup, mengangkat sudut mulut, dapat juga dilakukan massase wajah sisi
25

yang lumpuh. Tujuan fisioterapi ini untuk mempertahankan tonus otot yang
lumpuh.
Prognosis kasus ini adalah bonam, karena berdasarkan epidemiologi 80-85
% penderita dengan Bells Palsy akan sembuh sempurna (dalam waktu 3 bulan).
Paralisis ringan atau sedang pada saat awitan merupakan tanda prognosis baik.

DAFTAR PUSTAKA
1. Mardjono M, Sidharta P, 2004. Nervus fasialis. Dalam Neurologi Klinis
Dasar. Jakarta : Dian Rakyat
2. Sjarifuddin, Bashiruddin J, Bramantyo B. Kelumpuhan Nervus Fasialis
Perifer. Dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok
Kepala Leher. 6th ed. Jakarta : Balai Penerbit FK-UI, 2007.
3. Aminoff, MJ et al. 2005. Lange medical book : Clinical Neurology, Sixth
Edition, Mcgraw-Hill.
4. Ropper, AH., Brown, Robert H. 2005. Adams & Victors Principles of
Neurology, Eight Edition, McGraw-Hill.
5. Maisel R, Levine S. Gangguan Saraf Fasialis. Dalam Boies Buku Ajar
Penyakit THT edisi 6. Jakarta : EGC, 1997.
6. SM. Lumbantobing. Neurologi Klinik, Pemeriksaan Fisik dan Mental.
Jakarta : Balai Penerbit FK-UI, 2006.
7. Nara,Sukardi. Bells Palsy. Cermin Dunia Kedokteran. Diakses dari
www.kalbe.co.id/files/cdk/files/espalsy.pdf/espalsy.html. Pada tanggal 4
November 2011.
8. John
YS
Kim.

Facial

Nerve

Paralysis.

Diakses

dari

www.emedicine.com/plastic/topic522.htm. Pada tanggal 4 November


2011.

26