Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

TRANSLASI LAPORAN KEUANGAN


ENTITAS ASING

Nama kelompok:
Sofilis Aliya

131120000959

Fatimatuz Zahroh

131120000987

Zulia Khusnah

131120001141

FAKULTAS AEKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS ISLAM NAHDLATUL ULAMA JEPARA
2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami ucapkan atas kehadirat Allah S.W.T karena rahmat dan
karunia Nya kami dapat menulis dan menyusun makalah tentang TRANSLASI
LAPORAN KEUANGAN ENTITAS ASING. Pembuatan makalah ini tidak
terlepas dari bantuan banyak pihak terutama teman- teman baik secara langsung
maupun tidak langsung, sehingga makalah ini dapat terselesaikan oleh kami.
Penulisan makalah ini jauh dari kesempuranaan maka dari itu kami sangat
mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca, agar dapat
menjadi bahan pertimbangan dan perbaikan untuk makalah ini dimasa yang akan
datang. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca, khususnya penulis
untuk menambah wawasan.

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................................II
DAFTAR ISI........................................................................................................III
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................4
1.1

LATAR BELAKANG......................................................................................

1.2

RUMUSAN MASALAH..................................................................................

1.3

TUJUAN.......................................................................................................

BAB II PEMBAHASAN........................................................................................6
2.1.

PENGERTIAN TRANSLASI............................................................................

2.2

TRANSLASI MATA UANG ASING.................................................................

2.3

EFEK LAPORAN KEANGAN

TERHADAP

KURS ALTERNATIF TRANSLASI

MATA UANG ASING....................................................................................


2.4

TRANSLASI VERSUS PENGUKURAN KEMBALI LAPORAN KEUANGAN


ASING.......................................................................................................

2.5

TRANSLASI LAPORAN KEUANGAN MATA UANG FUNGSIONAL MENJADI


MATA UANG PELAPORAN PERUSAHAAN INDONESIA...............................

2.6

KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN TRANSLASI MATA UANG ASING............

BAB III PENUTUP..............................................................................................15


3.2

KESIMPULAN............................................................................................

DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................16

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Translasi mata uang asing adalah prosesinformasi keuangan dari satu mata
uang ke mata uang lainnya. Berbeda dengan konversi antar mata uang asing

yang memiliki pengertian pertukaran dari satu mata uang ke mata uang lain
secara fisik, translasi hanyalah perubahan satuan unit moneter, misalnya pada
sebuah neraca yang dinyatakan dalam pound inggris disajikan kedalam nilai
ekuivalen dolar AS. Tidak ada pertukaran fisik yang terjadi, dan tidak ada
transaksi terkait yang terjadi. Sedangkan konversi, memungkinkan adanya
pertukaran fisik yang terjadi dan ada transaksi terkait. Terdapat alasan
dilakukannya translasi mata uang asing, diantaranya:
1. Perusahaan dengan kegiatan operasional diluar negeri yang signifikan
mempersiapkan laporan keuangan gabungan yang informasi laporan
kepada pembaca mengenai laporan operasional perusahaan secara global
sehingga diperlukan adanya penyamaan mata uang.
2. Berkomunikasi dengan peminat saham asing. Perusahaan yang melakukan
translasi merupakan perusahaan yang dalam bentuk usaha terbuka
sehingga laporan keuangan dapat dibaca oleh masyarakat umum dengan
mudah, sehingga dengan laporan keuangan yang sudah dikonversikan
maka akan merangsang investor untuk menanam saham pada perusahaan.
3. Memperhitungkan efeknya perusahaan terhadap translasi mata uang.
4. Mencatat transaksi mata uang asing.
5. Translasi mata uang asing dilakukan untuk mempersiapkan laporan
keuangan yang memberikan laporan pada pembaca informasi mengenai
operasional perusahaan secara global, dengan memperhitungkan laporan
keuangan mata uang asing dari anak perusahaan terhadap mata uang asing
induk perusahaan.
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas, penulis menyimpulkan beberapa rumusan masalah
yang akan dibahas dalam makalah ini, antara lain sebagai berikut:
1. Apa pengertian translasi ?
2. Apakah pengertian mata uang fungsional ?
3. Apakah metode- metode yang berbeda untuk menyajikan kembali laporan
keuangan entitas asing kedalam rupiah ?
4. Bagaimana translasi laporan keuangan mata uang fungsional menjadi
mata uang pelaporan perusahaan indonesia ?
5. Bagaimanakah penyajian laporan keuangan dari selisih translasi ?

1.3 Tujuan
Dengan rumusan masalah diatas, maka makalah ini memiliki tujuan sebagai
berikut:
1. Memahami pengertian translasi, pengukuran kembali, dan mata uang
fungsional.
2. Mengerti akan metode- metode yang berbeda untuk menyajikan kembali
laporan keuangan entitas asing kedalam rupiah.
3. Menambah wawasan mengenai afilasi asing dikategorikan menjadi dua
kelompok serta penyajian laporan keuangan dari selisih translasi.
4. Serta mengetahui translasi laporan keuangan mata uang fungsional
menjadi mata uang pelaporan perusahaan indonesia.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1.

Pengertian Translasi
Neraca mata uang asing ditransalsikan terhadap padanannya mata uang
domestik oleh nilai mata uang domestik oleh nilai tukar mata uang asing:
harga satu buah unit mata uang diartikan dalam mata uang lainnya. Mata uang
pada perdagangan negara-negara utama dibeli dan dijual pada pasar global.
Peserta pasa termasuk bank dan perantara keuangan lainnya, perusahaan
bisnis, individu, dan pedagang internasional dihubungkan oleh jaringan
komunikasi modern. Dengan menyediakan tempat untuk para peminat dan
penjual mata uang, pasar translasi mata uang asing memfasilitasi transfer
pembayaran internasional (seperti dai importir ke eksportir), memungkinkan
pembelian internasional secara kredit (seperti surat kuasa dari bank yang
mengizinkan pengiriman barang dengan pembayaran uang muka terlebih
dahulu kepada pembeli baru), serta memberikan cara yang baik bagi individu
ataupun perusahaan untuk berjaga-jaga dari nilai mata uang yang tidak stabil.
Transaksi mata uang asing bisa terjadi langsung di pasar spot, pasar
forward, dan pasar swap. Pembelian atau penjualan mata uang langsung di
tempat normalnya harus segera disampaikan, yaitu sekitar dua hari kerja.
Penukara spot dan forward untuk mata uang asing utama pada tiap hari kerja
dapatditemukan pada bagian bisnis dibagian banyakkoran terkemuka. Kurs
dipasar spot dipengaruhi dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk juga
perbedaan tingkat inflasi antar negara, perbedaan pada saham nasional dan
ekspektasi mengenai arah tignkat atau mata uang selanjutnya.
Transaksi pada pasar forward adalah persetujuan untuk mentranslasikan
sejumlah mata uang yang telah ditetapkan untuk masa yang akan datang.
Translasi pada pasar forward mendapatkan potongan atau premi dari pasar
spot, atau sebagai tingkat palsu pasar forward. Transaksi swap melibatkan
pembelian spot dan penjualan forward mata uang. Para investor sering kali

menggunakan transaksi swap untuk mendapatkan untung dari tingkat saham


negara asing yang tinggi sementara juga simultan berjaga-jaga terhadap
pergerakan nilai tukar yang tidak stabil.
Sahabat Abu Said Al Khudri radhiallahu anhu menuturkan bahwasannya
Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:









.


Janganlah engkau menjual emas ditukar dengan emas melainkan sama
dengan sama, dan janganlah engkau melebihkan salah satunya dibanding
lainnya. Janganlah engkau menjual perak ditukar dengan perak melainkan
sama dengan sama, dan janganlah engkau melebihkan salah satunya
dibanding lainnya. Dan janganlah engkau menjual salah satunya diserahkan
secara kontan ditukar dengan lainnya yang tidak diserahkan secara kontan.
(Riwayat Al Bukhary dan Muslim)
2.2 Translasi Mata Uang Asing
Terdapat beberapa metode yang digunakan dalam translasi mata uang asing,
antara lain:
1. Single Rate Method
Berdasarkan pendekatan translasi ini, laporan keuangan operasi
luar negeri, yang dianggap oleh perusahaan induk sebagai entitas yang
otonom, memiliki domisili pelaporan mereka sendiri. Ini adalah
lingkungan akuntansi lokal tempat dimana perusahaan afiliasi asing
tersebut mentraksaksikan urusan bisnisnya. Untuk mempertahankan rasa
lokal dari laporan valuta, suatu cara harus ditemukan agar translasi bisa
dilaksanakan dengan distorsi yang minimal. Cara yang paling baik adalah
penggunaan metode kurs berlaku. Karena semua laporan keuangan valuta
asing sebenarnya dikalikan dengan suatu konstansta, metode translasi ini
mempertahankan hasil keuangan dan hubungan asli (misalnya. rasio-rasio
keuangan) dalam laporan konsolidasi dari entitas-entitas individual yang

dikonsolidasi. Hanya bentuk perkiraanperkiraan luar negeri, bukan


hakekatnya, yang berubah dalam metode kurs berlaku.
Metode kurs berlaku juga dipersalahkan karena mengasumsikan
bahwa semua aktiva-valuta lokal dipengaruhi oleh risiko nilai tukar (yaitu,
mengasumsikan bahwa fluktuasi valuta domestik yang ekivalen, yang
disebabkan oleh fluktuasi kurs translasi berjalan, merupakan indikator
perubahan nilai intrinsik aktiva-aktiva tersebut). Hat ini jarang benar
karena nilai persediaan dan aktiva-aktiva tetap di luar negeri umumnya
didukung oleh inflasi lokal.
2. Multiple Rate Method
Metode-metode kurs berganda mengkombinasikan nilai tukar berjalan dan
historis dalam proses translasi, diantaranya:
a. Metode berlaku-historis
Berdasarkan pendekatan berlaku-historis, yang populer di AS dan
ditempat-tempat lain sebelum tahun 1976, aktiva lancar dan kewajiban
lancar sebuah perusahaan anak di luar negeri ditranslasikan kedalam
valuta pelaporan perusahaan induknya dengan menggunakan kurs
berlaku. Aktiva dan kewajiban non-lancar ditranslasikan dengan kurs
historis. Item-item laporan laba-rugi, kecuali beban depresiasi dan
amortisasi, ditranslasikan dengan kurs rata-rata masing-masing bulan
operasi atau dengan basis rata-rata tertimbang dari seluruh periode
yang akan dilaporkan. Beban depresiasi dan amortisasi ditranslasikan
dengan memakai kurs historis yang berlaku pada saat aset yang
bersangkutan diperoleh. Metodologi ini, sayangnya, memiliki
sejumlah kelemahan. Misalnya, metode ini kurang memilik justifikasi
konseptual. Definisi-definisi yang ada mengenai aktiva dan kewajiban
lancar dan non-lancar tidak menjelaskan mengapa cara klasifikasi
seperti itu menentukan kurs mana yang akan digunakan dalam proses
transiasi.
b. Metode moneter-non moneter
Seperti halnya metode berlaku-historis, metode moniter-nonmoneter
memakai pola klasifikasi neraca untuk menentukan kurs translasi yang
tepat. Karena item-item moneter diselesaikan dalam kas; pemakaian

kurs

berlaku

untuk

mentranslasikan

item-item

valuta

asing

menghasilkan valuta domestik ekivalen yang mencerminkan nilai


realisasi atau nilai penyelesaiannya.
c. Metode Temporal
Menurut pendekatan temporal, translasi valuta merupakan suatu
proses konversi pengukuran (yaitu, penyajian ulang nilai tertentu).
Karena itu, metode ini tidak dapat digunakan untuk mengubah atribut
suatu item yang sedang diukur; metode ini hanya dapat mengubah unit
pengukuran. Translasi saldo valuta asing, misalnya, hanya mengubah
(restate) denominasi persediaan. tidak penilaian aktualnya. Dalam
GAAP AS, aktiva kas diukur berdasarkan jumiah yang dimiliki pada
tanggal neraca. Piutang dan hutang dinyatakan dalam jumlah yang
diharapkan akan diterima atau dibayar pada saat jatuh tempo.
Kewajiban dan aktiva lain diukur pada harga yang berlaku ketika
itemitem tersebut diperoleh atau terjadi (harga historis). Meskipun
begitu, beberapa diantaranya diukur berdasarkan harga yang berlaku
pada tanggal laporan keuangan (harga berjalan), seperti persediaan
dibawah aturan biaya atau pasar. Pendek kata, ada dimensi waktu yang
berkaitan dengan nilai-nilai uang ini.
2.3 Efek Laporan Keangan terhadap Kurs Alternatif Translasi Mata Uang
Asing
Terdapat tiga kurs translasi yang digunakan untuk mentranslasikan neraca
mata uang asing terhadap mata uang domestik, yaitu:
1. Kurs saat ini, kurs yang berlaku pada tanggal laporan keuangan
2. Kurs historis, translasi mata uang yang berlaku saat asset dengan mata
uang pertama kali didapatkan atau saat kewajiban dengan mata uang asing
pertama kali muncul.
3. Kurs rata-rata, nilai rata-rata biasa atau dengan pembobotan baik pada kurs
historis atau saat ini.

2.4 Translasi Versus Pengukuran Kembali Laporan Keuangan Asing


Terdapat dua metode yang berbeda untuk menyajikan kembali laporan
keuangan entitas asing kedalam rupiah yaitu:
1. Tranlasi laporan keuangan entitas asing ke rupiah.
2. Pengukuran kembali laporan keuangan entitas asing kemata uang
fungsional entitas tersebut.
Setelah penguuran kembali, keuangan tersebut harus ditranslasikan jika
mata uang fungsionalnya bukan rupiah. Jika mata uang fungsionalnya adalah
rupiah maka tidak diperlukan translasi lagi.
Translasi adalah metode yang umum digunakan dan diterapkan jika mata
uang lokal adalah mata uang fungsional entitas asing. Ini merupakam kasus
normal dimana, sebagai contoh, anak perusahaan Indonesia di Prancis
menggunakan euro ke rupiah. Setiap selisih translasi yang terjadi akan
dimasukan sebagai komponen laba komprensif. Oleh karena pendapatan dan
beban diasumsikan terjadi secara beragam sepanjang periode, pendapatan dan
beban yang ada dalam laporan laba rugi ditranslasikan dengan mengguakan
nilai tukar rata-rata sepanjang periode pelaporan. Metode translasi sering
disebut sebagai metode nilai tukar sekarang (current rate methods).
Pengukuran kembali adalah pengukuran kembali laporan keuangan entitas
asing dari mata uang lokal yang digunakan entitas ke mata uang fungsional
entitas asing. Metode yang digunakan untuk pengukuran kembali laporan
keuangan dari mata uang lokal kepada mata uang fungsionalnya disebut
metode temporal (temporal methods). Berdasarkan metode temporal, nilai
tukar sekarang digunakan untuk mentranslasikan jumlah uang dalam mata
uang fungsionalnya. Tabel berikutmenyajikan metode-metode yang dapat
digunakan oleh perusahaan Indonesia untuk menyatakan kembali laporan
keuangan afiliasi asing menjadi rupiah.

2.5 Translasi Laporan Keuangan Mata Uang Fungsional Menjadi Mata


Uang Pelaporan Perusahaan Indonesia
Sebagian besar entitas bisnis melakukan transaksi dan mencatat aktivitas
bisnisnya dalam mata uang lokal. Oleh karna itu, mata uang lokal dari entitas
asing adalah mata uang fungsionalnya. Translasi laporan keuangan entitas
asing ke dalam rupiah merupakan proses yang relatif sederhana.
DSAK menyakini bahwa hubungan ekonomi yang mendasari disajikanya
laporan keuangan entitas asing tidak boleh terdistorsi atau berubah selama
proses translasi dari mata uang fungsional entitas asing menjadi mata uang
asing induk perusahaan. Sebagai contoh, jika laporan keuangan mata uang
fngsional melaporkan rasio lancar 2:1 dan laba kotor 60% dari penjualan,
maka hubungan ini harus tetap dalam proses translasi menjadi mata uang
pelaporan induk perusahaan Indonesia. Merupakan hal yang penting untuk
dapat mengevaluasi kinerja dari manajemen afiliasi asing dengan
menggunakn ukuran ekonomi yang sama dengan yang digunakan dalam
operasi entitas asing. Untuk memepertahankan hubungan ekonomi tersebut
dalam laporan keuangan mata uang fungsional, saldo akun harus
ditranslasikan dengan nilai tukar yang sebanding.
Translasi dilakukan dengan menggunakan nilai tukar sekarang untuk
semua aset dan kewajiban. Nilai tukar ini merupakan spot rate pada tanggal
neraca. Akun ekuitas pemegang saham, selain saldo laba, ditranslasikan
menggunakan nilai tukar historis. Nilai tukar historis yang digunakan adalah
nilai tukar yang terakhir diantara tanggal induk perusahaan mengakuisisi
investasi pada entitas asing atau tanggal anak perusahaan melakukan transaksi
ekuitas pemegang saham.
Oleh karena untuk translasi masing-masing akun entitas asing digunakan
kurs yang berbeda-beda, maka umumnya debit dan kredit dalam neraca
percobaan setelah translasi tidak sama. Pos penyeimbang debit percobaan
translasi dengan kreditnya disebut selisih translasi.
a. Penyajian Laporan Keuangan dari selisih Translasi.

Selisih transasi dari proses translasi adalah bagian dari pendapatan


komprehensif untuk periode tersebut. Pendapatan komprehensif termasuk
semua perubahan dalam ekuitas selama tahun berjalan kecuali perubahan
yang timbul dari investasi pemilik dan pembagian ke pemilik.
Pendapatan komprehensif termasuk laba bersih dan pendapat
komperensif lainnya yang merupakan bagian dari perubahan aset bersih
perusahaan dari sumber selain pemilik (yaitu bukan investasi modal
tambahan dan deviden) selama periode berjalan. PSAK mengharuskan
pelaporan pendapatan komperensif sebagai bagian dari laporan keuangan
utama entitas. Pos utama yang menjadi bagian dari pendapatan
komperensif lainnya adalah perubahan selisih translasi selama periode
berjalan, keuntungan atau kerugian belum direalisasi dari efek tersedia
untuk dijual, penilaian kembali lindung nilai arus kas, dan penyesuaian
dalam kewajibana pensiun minimum.
Terdapat beberapa alternatif format penyajian untuk pendapatan
komprehensif. Laporan tunggal, pendekatan laporan gabungan, pertama
menyajikan pos-pos dalam laporan laba rugi dan kemudian mempunyai
bagian yang menyajikan pos pendapatan komprenhesif lainya. Sebagai
alternatif, yaitu penyajian dua laporan, pertama menyajikan perhitungan
laba bersih dalam satu laporan dan kemudian laporan terkait yang dimulai
dengan laba bersih dan merekonsiliasi menjadi pendapatan komprehensif
dengan melaporkan pos pendapatan komprehensif secara terpisah.
Alternatif ketiga, yang sering digunakan oleh banyak perusahaan, adalah
hanya menyajikan pos yang merupakan bagian dari pendapatan
komprehensif lainnya dalam skedul akumulasi pendapatan komprehensif
lainnya dalam laporan perubahan ekuitas konsolidasi. Suatu entitas dapat
menyajikan komponen dari pos pendapatan komprehensif lainnya bersih
dari pajak atau dapat menyajikan pengaruh agregat pajak terkait dengan
total pendapatan komprehensif lainnya dalam suatu angka.
b. Kepemilikan Minoritas pada Anak Perusahaan Luar Negeri
Sebagian besar perusahan di Indonesia suka memiliki 100% anak
perusahaan luar negerinya. Dengan demikian akan memungkinkan

manajemen yang lebih efesien atas anak perusahaan dan tidak ada
keharusan untuk menyusun laporan keuangan anak perusahaan untuk
kepemilikan minoritas. Akan tetapi, jika anak perusahaan luar negeri tidak
dimiliki sepenuhnya, maka kepemilikan minoritas harus dihitung dan
diperlakukan sebagaimana yang sudah dilelaskan sebelumnya. Satusatunya perbedaan adalah alokasi selisih translasi yang timbul dari
translasi akun neraca percobaan anak perusahaan luar negeri. Oleh karna
itu, sebagai contoh, jika PT. Induk memiliki 80% kepemilikan di German
Cempanydan investor lain memiliki kepemilikan minaritos 20%, maka
kepemilikan akan mendapat alokasi sebesar presentase kepemilikan dari
selisih translasi melalui proses ayat jurnal eliminasi.
2.6 Keuntungan Dan Kerugian Translasi Mata Uang Asing
Jika sudut pandang mata uang local yang digunakan ( sudut pandang
perusahaan lokal), masuknya penyesuaian translasi dalam laba berjalan tidak
perlu dilakukan. Memasukkan keuntungan dan kerugian translasi dalam laba
akan mendistorsikan hubungan keuangan yang asli dan dapat menyesatkan
para pengguna informasi tersebut. Keuntungan atau kerugian translasi harus
diperlakukan dari sudut pandang mata uang local sebagai penyesuaian
terhadap ekuitas pemilik. Jika mata uang pelaporan induk perusahaan
merupakan unit pengukuran laporan keuangan yang ditranslasikan ( sudut
pandang induk perusahaan ), sangat disarankan untuk mengakui keuntungan
atau kerugian translasi laba sesegera mungkin. Sudut pandang induk
perusahaan melihat anak perusahaan luar negeri sebagai perluasan dari induk
perusahaannya. Keuntungan dan kerugian translasi mencerminkan kenaikan
atau penurunan ekuitas investasi asing dalam mata uang domestic dan harus
diakui.
Keuntungan Dan Kerugian Translasi Mata Uang Asing
1. Penangguhan
Perubahan nilai ekuivalen mata uang domestik dari aktiva bersih anak
perusahaan luar negeri tidak direalisasikan dan tidak berpengaruh
terhadap arus kas mata uang lokal yang dihasilkan dari entitas asing.

Penyesuaian translasi harus diakumulasikan secara terpisah sebagai


bagian dari ekuitas konsolidasi.
2. Pengangguhan dan Amortisasi
Penangguhan keuntungan atau kerugian translasi dan melakukan
amortisasi penyesuaian ini selama masa manfaat pos-pos neraca terkait,
terutama yang terkait dengan utang akan ditangguhkan dan diamortisasi
selama umur aktiva tetap terkait, yaitu dibebankan terhadap laba dengan
cara yang sama dengan beban depresiasi atau ditangguhkan dan
diamortisasi selama sisa masa pinjaman sebagai penyesuaian terhadap
beban bunga.
3. Penangguhan parsial
Keuntungan dan kerugian translasi adalah dengan mengakui kerugian
sesegera mungkin setelah terjadi, tetapi mengakui keuntungan hanya
setelah direalisasikan, hal ini semata-mata hanya karena merupakan
keuntungan, tetap mengabaikan terjadinya perubahan kurs.
4. Tidak ditangguhkan
Mengakui keuntungan dan kerugian translasi dalam laporan laba rugi
sesegera mungkin. Namun, memasukkan keuntungan dan kerugian
translasi dalam laba tahun berjalan akan memperkenalkan elemen acak
ke dalam laba sehingga dapat menghasilkan fluktuasi laba yang sangat
signifikan apabila terjadi perubahan kurs nilai tukar. Keuntungan dan
kerugian translasi ini mencerminkan kenaikan atau penurunan ekuitas
investasi dalam mata uang domestik dan harus diakui.

BAB III
PENUTUP

3.2 Kesimpulan
Translasi mata uang asing adalah proses informasi keuangan dari satu
mata uang ke mata uang lainnya. Adapun Keuntungan dan kerugian translasi
mencerminkan kenaikan atau penurunan ekuitas investasi asing dalam mata
uang domestic dan harus diakui, terdiri atas : (1) Penangguhan; (2)
Pengangguhan dan Amortisasi; (3) Penangguhan parsial; (4) Tidak
ditangguhkan. Berdasarkan Gambaran Standar No.52/Standar Akuntansi
Internasional 21, translasi mata uang asing dapat terjadi pada tiga keadaan,
diantaranya adalah translasi saat mata uang lokal adalah mata uang
fungsional, translasi saat mata uang induk perusahaan adalah mata uang
fungsional, translasi saat mata uang asing adalah mata uang fungsional.
Penggunaan kurs kini untuk mentranslasikan biaya perolehan aktiva nonmoneter yang berlokasi di lingkungan berinflasi pada akhirnya akan
menimbulkan nilai ekuivalen dalam mata uang domestik yang jauh lebih
rendah dari pada dasar pengukuran awalnya.

DAFTAR PUSTAKA

http://sharfanwae.blogspot.co.id/2014/11/makalah-akutansi-multinasional.html
http://andamifardela.wordpress.com/2011/05/11/translasi-mata-uang-asing/.html
http://nurulakuntansiinternasional.blogspot.com/2012/06/translasi-matauangasing.html
http://galuhwardhani.wordpress.com/2012/06/23/alasan-translasi-mata-uangasing/.html