Anda di halaman 1dari 19

I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Budidaya kelinci merupakan suatu alternatif yang dapat dijadikan sebagai

sumber protein hewani yang bermutu tinggi. Kelebihan kelinci sebagai penghasil
daging adalah kualitas dagingnya yang baik dengan kadar protein tinggi dan kadar
kolesterol yang rendah. Selain sebagai penghasil daging dan cepat berkembang,
kelinci merupakan ternak penghasil bulu yang sangat potensial. Beternak kelinci
tidak membutuhkan modal yang cukup besar serta lahan luas untuk beternak.
Pakan kelinci dapat dengan mudah didapat yaitu dengan cara memanfaatkan
limbah hasil pertanian. Kelinci mudah dipelihara karena kelinci mempunyai
potensi biologis yang tinggi, yaitu kemampuan reproduksi yang tinggi, cepat
berkembang biak, interval kelahiran yang pendek, prolifikasi yang sangat tinggi
dan mudah dalam pemeliharan.
Sebelum mendapatkan daging kelinci yang siap untuk dikonsumsi,
terdapat suatu proses yang harus dilalui yaitu pemotongan. proses pemotongan ini
dilakukan setelah bobot tubuh dan umur kelinci sesuai untuk pemanenan. Proses
pemotongan kelinci tidak berbeda jauh dengan ternak lain. perbedaannya hanya
pada proses karkasingnya saja dan akan dibahas lebih lanjut dalam laporan
praktikum ini.
1.2

Identifikasi Masalah
1. Bagaimana karteristik ternak kelinci.
2. Bagaimana ukuran tubuh ternak kelinci.
3. Bagaimana proses pemotongan ternak kelinci.
4. Bagaimana proses pengulitan ternak kelinci.

5. Apa saja alat pencernaan ternak kelinci.


6. Bagaimana komponen karkas ternak kelinci.
1.3

Maksud dan Tujuan


1. Untuk mengetahui bagaimana karteristik ternak kelinci.
2. Untuk mengetahui bagaimana ukuran tubuh ternak kelinci.
3. Untuk mengetahui bagaimana proses pemotongan ternak kelinci.
4. Untuk mengetahui bagaimana proses pengulitan ternak kelinci.
5. Untuk mengetahui apa saja alat pencernaan ternak kelinci.
6. Untuk mengetahui bagaimana komponen karkas ternak kelinci.

II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Karakteristik Ternak Kelinci


Kelinci termasuk: Phylum Chordata; Subphylum Craniata; Ordo

Lagomorpha; Class Mammalia; Familia Leporidae; Genus Oryctolagus dan


Spesies: Oryctolagus cuniculus (Thakur dan Puranik, 1981). Tubuh kelinci (Lepus
nigricollis) dibagi menjadi empat bagian yaitu : caput (kepala), cervix (leher),
truncus (bagian tubuh) dan cauda (ekor). Bagian tubuh kelinci terdiri dari bagian
anterior dan bagian posterior.
Kelinci mempunyai telinga yang panjang dan kaki belakang yang lebih
panjang dari pada kaki depan. kelinci termasuk hewan tetrapoda yang memiliki 4
anggota gerak berupa kaki. Telinga luar (pinnae) lebar. Mata besar, dengan
membran niktitans. Bibir lembek dan fleksibel. Disekitar moncong ada rambutrambut panjang (vibrisae). Kaki depan lebih kecil dari kaki belakang. Ekor
pendek. Anus dibawah ekor. Lubang urogenital disebelah anterior anus
(Brotowidjoyo, 1994).
Menurut Brotowijoyo (1994), kaki belakang panjang dan kuat, digunakan
untuk melompat. Jari-jari kaki depan berjumlah 5 jari dan kaki belakang terdapat
4 jari. Kulit tubuh berambut lebat, menutup hampir seluruh tubuh. vibrisae
ditemukan diujung moncong yang mana berfungsi sebagai pendeteksi makanan
pada waktu didalam tanah. Pada hewan ini terdapat 4-5 pasang puting susu di
ventrum yang terdapat pada hewan betina.

2.2

Pengenalan Ukuran Tubuh Ternak Kelinci

2.3

Pemotongan Kelinci
Pemotongan kelinci pada umumnya tidak berbeda dengan teknik

pemotongan ayam yaitu dengan cara melepas persendian leher. Pemotongan


kelinci dengan cara seperti memotong ayam yaitu dipegang keempat kakinya
dengan posisi rebah ke samping, pemotongan dilakukan pada bagian leher hingga
darah cepat keluar, darah ditampung kemudian ditimbang. Pemotongan dapat
dengan 3 cara yaitu Pemukulan pendahuluan, kelinci dipukul dengan benda
tumpul pada kepala dan saat koma disembelih, pematahan tulang leher,
dipatahkan dengan tarikan pada tulang leher (cara ini kurang baik), dan
pemotongan biasa, sama seperti memotong ternak lain (Kartadisastra, 1995).
1) Pemukulan pendahuluan, kelinci dipukul dengan benda tumpul pada
kepala dan saat koma disembelih.
2) Pematahan tulang leher, yaitu dengan cara melepaskan bagian tulang leher,
caranya dengan menarik bagian kepala dan tubuh pada arah yang
berlawanan. Tangan kiri memegang kaki kelinci bagian belakang,
sedangkan tangan kanan memegang kepala pada pangkal telinga. Kepala
kelinci dihadapkan keatas, kemudian secara serentak tangan kanan
memotong, sehingga kepala kelinci akan terlepas dari pertautan tulang
leher.
3) Cara penyembelihan langsung sama dengan pemotongan ternak lain yaitu
dengan cara memotong 3 saluran berupa saluran pencernaan, saluran
pernafasan, dan pembuluh darah.

2.4

Pengulitan Ternak Kelinci


Setelah dilakukan pemotongan, segera kuliti agar daging tidak berbau.

Menurut Sarwono (2001) cara pengulitan adalah sebagai berikut. Setelah kelinci
disembelih kemudian digantung dengan kaki belakang di atas, kulit dibuka dari
Articulatro ferrometatarsi kiri ke arah usus sampai pada pergelangan kaki kanan
atas sehingga kulit terbuka. Selanjutnya kulit ditarik ke bawah dan terkelupas
sampai badan. Dilanjutkan dengan membuka irisan dari anus ke dada sampai
organ dalam terlihat. Cara lain yang dapat dilakukan dengan membuka kulit lewat
kaki depan dengan caranya sama seperti menguliti lewat kaki belakang.
Kulit kelinci mempunyai prospek yang baik untuk dikembangkan karena
bila mendapat penanganan dan pengolahan yang baik, kulit ini akan memberikan
nilai tambah yang lain untuk menggantikan ongkos produksi, tetapi hal ini perlu
ditunjang oleh beberapa hal diantaranya pakan yang baik, umur potong yang tepat
dan bangsa kelinci yang digunakan, karena hal ini akan ikut menentukan dalam
penyediaan kulit yang berkualitas.
Kulit kelinci yang segar merupakan media yang baik untuk tumbuh dan
berkembang biaknya mikroorganisme, oleh karena itu setelah ditanggalkan dari
hewannya harus segera dilakukan penyamakan, namun popularitas daging kelinci
yang masih rendah dan skala pemeliharaan yang kecil menyebabkan masih
rendahnya ketersediaan kulit kelinci dan sulitnya kontinuitas penyediaannya,
sehingga tidak ekonomis untuk segera melakukan proses penyamakan. Oleh
karena itu sebelumnya harus dilakukakan proses pengawetan.
Sebelum dilakukan proses pengawetan, kulit harus dalam keadaan bersih
dari kotoran, feses, urine, darah, tanah dan sebagainya yang dapat mempercepat
proses pembusukan. Proses ini harus segera dilakukan paling lama lima jam

setelah proses pengulitan dengan cara pengeringan atau dengan pemberian bahan
pengawet.
2.5

Pengenalan Alat Pencernaan Ternak Kelinci


Pada dasarnya sistem pencernaan kelinci tidak berbeda jauh dengan sistem

monogastrik hewan lainnya, namun apabila dibanding kan dengan sistem


pencernaan unggas tentu saja terdapat perbedaan-perbedaan yang nyata. Kelinci
memiliki jaringan pelengkap dalam pencernaannya yaitu gigi, kemudian kelinci
tidak memiliki crop seperti halnya pada unggas. Pencernaan secara mekanik
dimulai ketika pakan yang dimakan kelinci mengalami pemotongan kecil oleh
dentes di cavum oris, kemudian makanan menuju ke esophagus, setelah
disekresikan saliva di cavum oris (Djamuara dkk., 2003)
Setelah melewati esophagus makanan akan menuju lambung yang akan
mengalami degradasi makanan secara kimiawi oleh asam lambung (HCl).
Menurut Soeharsono (2010) secara eksterior lambung dibagi menjadi kardia,
fundus, badan dan phylorus. Kardia dan phylorus merupakan sphincter yang
mengendalikan laju makanan dalam lambung. Phylorus merupakan penebalan
bagian urat daging dari antrum yang bila berkontraksi terlihat seperti corong, yang
berfungsi mencegah makanan yang sudah sampai di duodenum kembali ke
lambung. Otot yang terdapat pada hubungan lambung dengan esophagus
membentuk cincin yang disebut sphincter cardii. Makanan yang sudah
didegradasi di lambung selanjutnya akan mengalami proses penguraian secara
enzimatis dan absorpsi di bagian usus halus (duodenum, jejenum, ileum).
Peranan pankreas cukup penting sebagai organ yang mensekresi cairan
pankreas yang mengandung enzim seperti kemotripsin, tripsin, karboksipeptidase,
amilase, lipase, fosfolipase, kolesterol ester hidrolase. Setelah mengalami

pencernaan di usus halus, makanan akan menuju ke sekum di sini terjadi terdapat
bakteri pencerna serat kasar dan mensintesis thiamin atau vitamin B. Sistem
pencernaan kelinci mempunyai keunikan dari hewan monogastrik lainnya.
Keunikannya terletak pada kemampuan untuk menghasilkan feces malam (night
feces). Feces lunak ini mengandung nutrisi seperti protein dan vitamin yang larut
dalam air. Kelinci akan memakan kembali feces ini kemudian akan mengalami
pencernaan yang sama dengan pencernaan pakan normal sehingga sebagian pakan
yang dikonsumsi akan mengalami proses satu, dua, tiga bahkan empat kali
tergantung dari tipe makanan. Rektum yaitu sebagai saluran terkahir dari saluran
pencernaan sebagai tempat keluarnya feces (Djamuara dkk., 2003).
2.6

Karkas Ternak Kelinci


Karkas kelinci adalah daging bersama tulang kelinci hasil pemotongan

setelah dipisah dari kepala sampai batas pangkal leher dan dari kaki sampai batas
lutut, bulu, darah dan isi rongga perut kecuali ginjal dan paruparu. Untuk
mendapatkan bobot karkas yang tinggi dapat dilakuakn dengan memberikan
imbangan yang baik antara protein, vitamin dan mineral (Scott dkk., 2010)
Pada bobot potong yang berbeda, persentase karkas kelinci diantara galur
kelinci tidak berbeda, kisaran persentase karkas kelinci rex dan satin adalah
49,26% sampai dengan 51,95%. persentase karkas ini masih lebih rendah
dibandingkan dengan hasil penelitian Ozimba dan Lukefahr (1991) yang
memperoleh rataan persentase karkas sebesar 55% pada kelinci New Zealand
White, california dan persilangan New Zealand Whitexcalifornia. Diwyanto dkk.,
(1985) melaporkan produksi karkas kelinci new zealand white (New Zealand
White), lokal, persilangan New Zealand White-lokal dan chinchilla-lokal berturutturut sebesar 45,8, 42,6, 48,9 dan 46,7%. perbedaan persentase karkas ini diduga

karena umur potong yang lebih tua (6 bulan vs. 4 bulan) dan galur kelinci yang
diamati berbeda. jenis kelamin tidak berpengaruh terhadap persentase karkas,
pada jantan dan betina kelinci rex (51,95 dan 51,19%) dan satin (51,66 dan
51,13%). hal ini sesuai dengan pendapat Lakabi dkk., (2004) yang menyatakan
jenis kelamin kelinci kabylian yang dipotong pada bobot potong dan umur yang
sama adalah tidak berbeda. Fennell dkk., (1990) menyatakan bahwa persentase
karkas sangat bergantung dari bagian karkas yang diukur. persentase karkas
kelinci New Zealand White diperoleh sebesar 50,3 0,7% jika yang diukur hanya
komponen karkas panas, meningkat menjadi 54,2 0,7% apabila komponen
karkas panas ditambah organ dalam yang dapat dikonsumsi, dan meningkat terus
apabila ditambahkan lemak abdominal menjadi 55,4 0,8%. persentase karkas
yang dilakukan dalam penelitian ini adalah persentase karkas panas tanpa
dilayukan dan tanpa organ yang dapat dikonsumsi dan lemak abdomen, sehingga
produksi daging kelinci rex dan satin yang diteliti masih cukup tinggi produksi
karkasnya perlemakan subkutan dan abdomen kelinci akan tinggi dengan bobot
potong yang tinggi. persentase lemak subkutan tertinggi pada kelinci betina reza
(2,86%) dan terendah pada kelinci satin jantan (1,80%) sedang persentase lemak
abdomen tertinggi terdapat pada kelinci rex betina (3,40%) dan kelinci reza jantan
(1,40%).
Menurut Fraga dkk., (1983), kandungan energi dan protein karkas dapat
berubah karena tingkat pertumbuhan atau karena komposisi bahan pakan dalam
ransum. kelinci yang lambat tumbuhnya mengandung protein tinggi dan rendah
kadar lemaknya dibandingkan dengan kelinci yang cepat tumbuhnya. kelinci rex
dan satin adalah kelinci penghasil fur dengan ukuran tubuh sedang dan
pertumbuhan yang lambat sehingga perlemakannya tidak banyak. selain galur,

tampak adanya pengaruh jenis kelamin pada lemak subkutan dan kecenderungan
lebih tinggi lemak abdomen betina dibandingkan jantan sesuai dengan pendapat
Noval dkk., (1996), yang menyatakan jenis kelamin berpengaruh pada persentase
lemak abdomen dengan betina lebih tinggi dibandingkan jantan. persentase lemak
kelinci jantan lebih rendah dibandingkan kelinci betina, diduga hal ini
dikarenakan faktor hormonal dimana betina telah mulai mendeposit lemak sebagai
persiapan kebuntingan. galur kelinci dan jenis kelamin berpengaruh terhadap
deposit lemak.

III
ALAT, BAHAN DAN PROSEDUR KERJA
3.1

Alat
1. Meteran untuk mengukur tubuh kelinci
2. Mikrometer Skrup untuk mengukur tubuh kelinci
3. Pisau untuk menyembelih kelinci
4. Timbangan untuk menimbang kelinci
5. Talenan untuk alas memotong karkas kelinci
6. Plastik untuk menjiplak kulit
7. Rafia untuk menggantung kelinci

3.2

Bahan
1 ekor kelinci

3.3

Prosedur Kerja
1. Amati karakterisrik kelinci dan lakukan pendugaan bangsa kelinci
berdasarkan warna, bentuk kuping, warna bulu, dan warna mata.
2. Mengukur tubuh kelinci yang meliputi panjang kepala, lebar kepala, tinggi
kepala, lingkar dada, dalam dada, lebar dada, radius ulna, humerus, tibia,
femuris, panjang tulang punggung, lebar tulang punggung, panjang daun
telinga, dan lebar daun telinga.
3. Memotong kelinci dengan cara penyembelihan langsung dengan prinsip
halal. gantung kelinci dengan kepala berada di bawah agar darah dapat
mengalir dengan baik. potong kepala dan kaki depan.

4. Menguliti dengan cara membuat sayatan pada kulit di bagian tarsus kaki
belakang kemudian sayat sampai ekor, ekor dipotong. Ukur keprimaan
kulit dan luas kulit kelinci.
5. Mengamati alat pencernaan kelinci.
6. Mengukur produksi dan komponen karkas yang telah dipotong menjadi 7
bagian.

IV
PEMBAHASAN
4.1

Karakteristik Ternak Kelinci


Berdasarkan hasil pengamatan pada karakteristik kelinci berupa warna

bulu yang berwarna putih, kondisi ternak baik, bentuk telinga panjang, dan warna
mata kemerahan maka dapat diduga bahwa kelinci ini berasal dari bangsa New
Zealand White. Sesuai dengan pendapat Lebas dkk (1986), New Zealand White
merupakan Kelinci berwarna putih, mata merah dan telinga tegak, bulu halus,
dapat dijadikan kelinci potong karena cepat tumbuh dengan berat dewasa 4,5-5
kg. Anaknya dapat mencapai 10-12 ekor.
Kelinci ini memiliki beberapa keunggulan antara lain: sifat produksi
tinggi, tidak dibutuhkan banyak biaya dalam pemeliharaan, siklus hidup yang
pendek, daya tahan yang lebih kuat terhadap penyakit, adaptif terhadap
lingkungan yang baru, dan tidak memerlukan tempat yang luas. Kelinci New
Zealand White ini termasuk dalam bangsa medium yang memiliki bobot hidup
antara 3,5-4 kg dan mencapai bobot dewasa pada umur 5-6 bulan (Cheeke dkk.,
1992).
4.2

Pengukuran Tubuh Ternak Kelinci

4.3

Pemotongan Ternak Kelinci


Pemotongan kelinci yang dilakukan pada praktikum dilakukan dengan

teknis penyembelihan dengan cara memotong vena jugularis, arteri carotis,


oesophagus dan trachea. Sebelum dilakukan pemotongan, kelinci dipuasakan
terlebih dahulu selama 5-6 jam yang bertujuan untuk mengosongkan usus kelinci,

sehingga otot menjadi lemas, warna daging menjadi cerah sehingga daging dan
kulit yang dihasilkan baik. Setelah kepala dipisahkan, kelinci digantungkan
bertujuan untuk mengalirkan darah keluar dari seluruh tubuh kelinci. Setelah
darah kelinci keluar dan tidak mengalir lagi, kemudian dilakukan pengulitan.
Sesuai dengan pendapat Kartadisastra (1995), Pemotongan dapat dilakukan
dengan 3 cara yaitu pemukulan pendahuluan, pematahan tulang leher dan
pemotongan 3 saluran secara halal, sama seperti memotong ternak lain.
4.4

Pengulitan Ternak Kelinci


Setelah proses pemotongan, maka dapat dilakukan proses pengulitan.

proses ini akan menghasilkan kulit segar yang nantinya akan diukur luasannya.
Sesuai dengan pendapat Judoamidjojo (1979) kulit segar adalah kulit hewan yang
baru dilepas atau dikuliti dari tubuh hewan. Bobot kulit yang didapatkan sebesar
180 gram atau sekitar 9% dari bobot hidup kelinci. Sesuai dengan pendapat
Cheeke dkk., (1987) Persentase bobot kulit segar terhadap bobot hidup relatif
tidak berbeda jauh yaitu pada kisaran 8-10%. Luas kulit segar meningkat sesuai
bobot kulit dan umur potong, karena semakin besar ternak maka kulit yang
menutupi akan semakin luas sedangkan luas kulit yang didapatkan yaitu 1270,5
cm2.
Untuk menghasilkan kulit bulu (lit) yang baik sangat ditentukan oleh umur
potong yang tepat. Kulit bulu (fur) yang berasal dari kelinci muda memiliki
struktur yang halus dan kompak, tetapi kurang kuat jika dibandingkan dengan fur
kelinci dewasa. Selain itu kepadatan bulu (density) masih sangat rendah juga dari
penampilan masih kurang menarik karena masih terlihat kusam kurang
mengkilap. Umur potong kelinci sangat erat berhubungan dengan persentase
keprimaan kulit bulu yaitu persentase dari luas kulit yang prima yang memiliki

pertumbuhan bulu yang sempurna dibandingkan dengan luas kulit yang tidak
prima (Rossuartini dkk., 2001). Selanjutnya Cheeke dkk., (1987) mengemukakan,
bahwa umur potong menentukan keprimaan kulit kelinci yang erat hubungannya
dengan kerontokan bulu dan kematangan pigmentasi bulu.
4.5

Pengamatan Sistem Pencernaan Ternak Kelinci


Pada praktikum kali ini setelah melalui proses pemotongan, bagian

pencernaan atau jeroan dari kelinci dikeluarkan. Pengeluaran harus dilakukan


secara hati-hati agar kotoran yang menempel pada saluran pencernaan tidak
mengenai bagian daging terutama bagian empedu. Setelah saluran pencernaan
dikeluarkan, selanjutnya saluran pencernaan tersebut ditimbang. Setelah
ditimbang didapatkan berat dari saluran pencernaan kelinci adalah sebesar 530
gram. Menurut teori pada umumnya berat saluran pencernaan pada kelinci adalah
sekitar 10-20 % dari bobot tubuh. Saluran pencernaan kelinci memiliki ph sebesar
1-2 sementara pada kelinci muda ph berkisar antara 5-6,5. Motilitas saluran
pencernaan sangat beperan penting karena berhubungan dengan konversi
makanan menjadi energi. Motilitas saluran pencernaan dipengaruhi oleh beberapa
hal diantaranya. Jenis pakan yang diberikan, kondisi sistem saraf (Stress), dan
pengaruh hormon. Sehingga manajemen pemberian pakan, kondisi lingkungan,
serta kondisi kesehatan meruapakan aspek yang harus diperhatikan peternak
dalam budidaya ternak kelinci.
4.6

Karkasing Ternak Kelinci


Data bobot karkas kelinci pada saat kami melakukan praktikum yaitu

berkisar 970 gram dari total bobot hidup 2060 gram, atau sekitar 47% dan tidak
jauh berbeda dengan pendapat dwiyanto kelinci new zealand white (New Zealand

White) sebesar 45,8%, untuk rusuk beratnya 180 gram, paha belakang 1 yaitu 180
gram, paha belakang 2 yaitu 170 gram atau rata-rata berat paha belakang yaitu
175 gram, untuk berat paha depan 1 yaitu 70 gram, berat paha depan 2 yaitu 60
gram, dan didapat berat paha depan 65 gram. Hasil praktikum ini menunjukkan
persentase potongan karkas bagian belakang lebih besar dibandingkan dengan
persentase potongan karkas bagian depan. Sesuai dengan pendapat (Bahmantyo,
2009), menyatakan bahwa persentase paha bagian depan lebih rendah dari pada
persentase paha bagian belakang.
Morra (2008) menyatakan bahwa harga daging bagian dada ayam
memiliki harga lebih mahal dari harga daging bagian paha, hal ini dikarenakan
deposisi daging yang lebih banyak terdapat pada bagian dada daging ayam. Hasil
penelitian menujukan bahwa berat karkas kelinci pada potongan bagian belakang
lebih tinggi dari pada potongan karkas pada bagian depan. Sehingga dapat ditarik
kesimpulan bahwa harga komersial daging bagian belakang kelinci lebih tinggi
dibandingkan dengan harga perkilo bagian depan. serta untuk loin berkisar
beratnya 260 gram.

V
KESIMPULAN
1. Karakteristik kelinci dapat dilihat dari ekterior maupun interiornya. Bangsa
kelinci yang digunakan pada saat praktikum yaitu New Zealand White, yaitu
bangsa kelinci pedaging yang memiliki warna tubuh putih dan mata
kemerahan.
2. Bagian tubuh ternak kelinci yang diukur meliputi bagian eksterior yaitu
bagian kepala, badan, ekor, dan kaki.
3. Proses pemotongan kelinci dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu Pemotongan
dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu pemukulan pendahuluan, pematahan
tulang leher dan pemotongan 3 saluran secara halal.
4. Pengulitan dilakukan dengan cara membuat sayatan pada kulit di bagian
tarsus kaki belakang kemudian sayat sampai ekor lalu dapat dilakukan
pengukuran kualitas kulit berupa keprimaan dan luas kulit.
5. Sistem pencernaan kelinci meliputi mulut, oesophagus, ventriculus, usus
halus, caecum, rectum dan anus.
6. Karkas kelinci dapat dibagi menjadi 7 bagian. Karkas bagian belakang kelinci
lebih besar daripada karkas bagian depan.

DAFTAR PUSTAKA
Brahmantyo, B. Y. C. Raharjo. 2009. Karateristik Karkas dan Potongan
Konersial Kelinci Rex dan Satin. Seminar Nasional Teknologi Peternakan
dan Veteriner Tahun 2009.
Brotowidjoyo, M.1994. Zoologi Dasar. Jakarta : Erlangga.
Cheeke, P .R., N.M. Patton And G .S. Templeton. 1987. Rabbit Production . Fifth
Ed ., The Interstate Printers And Publisher,Inc . Denville, Illinois, Usa .
Pp 144-151
Cheeke, P. R. & N. M. Patton. 1992. Rabbit Production. 6th Edition. The
Interstate Printers And Publisher Inc. Danville. Illinois.
Diwyanto, K., R. Sunarlim dan P. Sitorus. 1985. Pengaruh Persilangan Terhadap
Nilai Karkas dan Preferensi Daging Kelinci Panggang. Ilmu dan
Peternakan 1(10): 427 430.
Djamuara Aritonang, N.A. Tul Roefiah. Tiurma Pasaribu, Yono C. Raharjo. 2003.
Laju Pertumbuhan Kelinci Rex, Satin, dan Persilangannya yang Diberi
Lactosym dalam Sistem Pemeliharaan Intensif. Jiiv Hal. 165 Vol. 8. No.
3. 29 Agustus 2003. Balai Penelitian Ternak, Bogor.
Fennel, F.L., N.N. Ekhator And R.J. Coppings. 1990. A Note on The Calculation
of Carcass Yield. J. Appl. Rabbit Res. 13(2): 91 92.
Fraga, M.J., J.C. De Blas, E. PeRez, J.M. RodriGuez, C.J. PeRez And J.F. Ga
Lvez. 1983. Effect of Diet on Chemical Composition of Rabbits
Slaughtered at Fixed Body Weights. J. Anim. Sci. 56: 1097.
Judoamidjojo M ., 1979. Komoditi Kulit Indonesia. Pendidikan Ketrampilan
Teknis. Laboratorium Pengendalian Mutu. Departemen Teknologi Hasil
Pertanian . Fakultas Pertanian . Institut Pertanian Bogor.
Kartadisastra, 1995. Betemak Kelinci Unggul. Kanisius, Yogyakarta
Lebas, F., P. Coudert, R. Rouvier & H. D. Rochambeau. 1986. The Rabbit
Husbandry, Health And Production. Food And Agriculture Organization
Of The United Nation. Rome. Italy.
Noval, R.Y., S. Toth And G.Y. Virag. 1996. Evaluation of Seven Genetic Groups
of Rabbit For Carcass Traits. Proc. of 6th World Rabbit Congress,
Toulouse, France. 2 :341 345.

Ozimba, C.E. And S.D. Lukefahr. 1991. Evaluation of Purebreed And Crossbreed
Rabbits For Carcass Merit. J. Anim. Sci. 69: 2371 2378.
Pedoman Beternak Kelinci. 1980. Direktorat Bina Produksi. Direktorat Jenderal
Peternakan.
Rossuartini Dan R .Denny Purnama, 2001. Faktor-Faktor yang dapat
Mempengaruhi Kualitas Kulit Mentah Kelinci Rex. H : 89-94. Dalam
Penyunting Tresnawati, M.B Dkk. Prosiding Temu Teknis Fungsional
Non Peneliti 2001. Puslitbang Peternakan, Badan Litbang Pertanian.
Sarwono, B., 2001. Kelinci Potong dan Hias. Agromedia Pustaka, Jakarta.
Soeharsono. 2010. Fisiologi Ternak. Bandung : Widya Padjadjaran.
Thakur, R.S. And P.G. Puranik. 1981. Rabbit A Mammalian Type. S. Chand And
Co.Ltd. Ram Nagar, New Delhi.

LAPORAN PRAKTIKUM
PRODUKSI TERNAK KELINCI

Oleh :
Kelompok 8
Kelas A
Etya Nurrimas G

200110130333

Sabila Gilang T

200110130342

Witono Brotoseno

200110130371

Ganang Tri B

200110130372

Alvin Yusuf

200110130422

Aliyatul Widyan

200110130424

Dendy Joeny

200110130429

LABORATORIUM TERNAK POTONG


DEPARTEMEN PRODUKSI TERNAK
FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS PADJADJARAN
JATINANGOR - SUMEDANG
2016