Anda di halaman 1dari 41

MAKALAH MATA KULIAH

WAWASAN KEBANGSAAN
Dosen : Bu Niken Prasetyawati

Disusun oleh :
1. Hendrik Hermawan

(2215100011 / Kelas 3 )

2. Restu Maulana Azmi

(2215100046 / Kelas 3)

3. Nurcahyo Yunanto

(2215100077 / Kelas 3)

4. Aditya Zahid Pamuncak (2215100105 / Kelas 3)


5. Novi Rahayu W

(2715100049 / Kelas 3)

6. Habli Masyahid

(2215100106 / Kelas 3)
Kelompok 7

WAWASAN KEBANGSAAN
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOVEMBER
SURABAYA
2015

Kata Pengantar

Segala puji hanya milik Allah SWT. Shalawat dan salam selalu
tercurahkan kepada Rasulullah SAW. Berkat limpahan dan rahmat-Nya penyusun
mampu menyelesaikan tugas makalah ini guna memenuhi tugas mata kuliah
Wawasan Kebangsaan
Pada makalah ini, kami akan membahas tentang Otonomi Daerha yang
diterapkan di Indonesia. Seperti yang telah kita ketahui, otonomi daeah sudah lama
diterapkan di Indonesia, sudah mencapai lebih dari sepuluh tahun. Otonomi daerah
diberlakukan dengan tujuan untuk mengoptimalkan usaha mensejahterakan daerah
daerah di Indonesia, mengingat wilayah Negara Indobesia yang sangat luas dan
terdiri dari ribuan pulau. Dalam pelaksanaannya, otonomi daerah menggunakan
prinsip prinsip, dan aturan yang harus ditaati oleh tiap tiap daerah otonom.
Dalam penyusunan makalah ini, tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi.
Namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan makalah ini tidak
lain berkat bantuan, kerjasama dari teman teman, dan bimbingan dari Bu Niken
Prasetyawati selaku dosen Wawasan Kebangsaan.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang Otonomi
Daerah, yang kami sajikan berdasarkan materi mata kuliah Wawasan Kebangsaan,
yang kemudian penulis kembangkan dari berbagai sumber.
Penulis sadar bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari
sempurna. Oleh karena itu besar haraapan penulis atas kritik dan saran yang
membangun untuk penulis demi perbaikan kedepannya.
Surabaya, April 2016

Penulis

Daftar Isi
2

SAMPUL MAKALAH
KATA PENGANTAR .........................................................................................2
DAFTAR ISI .......................................................................................................3
BAB I

PENDAHULUAN.4

BAB II

1.1. Latar Belakang.......4


1.2. Rumusan Masalah..5
1.3. Tujuan Penulisan....5
TINJAUAN PUSTAKA .6

BAB III

2.1. Pengertian Otonomi Daerah6


2.2. Daerah otonom....9
2.3. Sistem Pemerintahan Daerah.11
2.4. Pengertian Pemerintahan Daerah...12
2.5. Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah.13
2.6. Hakekat, Tujuan, dan Prinsip Otonomi Daerah.14
2.7. Hak dan Kewajiban Otonomi Daerah17
2.8. Pengawasan Pelaksanaan Otonomi Daerah...18
2.9. Sumber dana Daerah20
PENUTUP.....38
3.1.

Kesimpulan38

DAFTAR PUSTAKA........39

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Masalah

Negara Kesatuan Republik Indosesia yang terhimpun dari bermacam


macam suku dan budaya dalam berbagai daerah dari Sabang hingga Merauke yang
memliki banyak perbedaan atas potensi Sumber Daya Alam dan Sumber Daya
Manusia yang timbul karena perbedaan letak geografis suatu daerah atau latar
belakang sejarah daerah tertentu, tentunya berbagai daerah tersebut membutuhkan
penerapan kebijakan daerah yang berbeda pula. Dalam hal ini bangsa Indonesia kini
telah berhasil membentuk kebijakan Otonomi Daerah yang memberikan kewenangan
yang luas kepada pemerintah daerah untuk mengatur daerahnya sendiri yang sesuai
dengan karakter Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Manusia di daerahnya sendiri.
Kebijakan otonomi daerah yang memberikan kewenangan terhadap
pemerintah daerah tetap harus berpedoman pada undang undang yang berlaku
secara nasional di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tidak ada pertentangan
antara kebijakan hukum secara nasional dengan kebijakan hukum di daerah. Adanya
perbedaan diantaranya sangat dimungkinkan terjadi selama perbedaan tersebut tidak
bertentangan dengan undang undang karena inti dari konsep pelaksanaan otonomi
daerah adalah upaya memaksimalkan daerah yakni, memaksimalkan hasil yang akan
dicapai dan sekaligus menghindari kerumitan dan hal hal yang dapat menghambat
pelaksanaan otonomi daerah. Dengan demikian, tuntutan masyarakat dapat terjawab
secara nyata dengan penerapan otonomi daerah yang luas dan kelangsungan
pelayanan umum tidak diabaikan.

1.2

Rumusan Masalah

Dari latar belakang tersebut kami merumuskan rumusan masalah sebagai


berikut :
1.
2.

Bagaimana dasar hukum otonomi daerah Indonesia?


Apa itu daerah otonom di Indonesia?
3.
Bagaimana prinsip dan dasar aturan otonomi

pembagian kekuasaan penyelenggaraan negara di Indonesia?


4.
Bagaimana daerah mendanai pelaksanaan otonomi

di

daerahnya?
5.

Bagaimana pembagian hasil kekayaan yang

dimiliki suatu daerah di Indonesia?


1.3

Tujuan Penulisan

Dari rumusan masalah tersebut, tujuan penulisannya sebagai berikut :


1.

Mengetahui dasar hukum otonomi di Indonesia.


2.
Mengetahui prinsip dan dasar aturan otonomi

pembagian kekuasaan penyelenggaraan negara di Indonesia.


3.
Mengetahui cara daerah mendanai pelaksanaan otonomi di
daerahnya.
4.

Mengetahui cara pembagian hasil kekayaan

yang dimiliki suatu daerah di Indonesia.


5.
Mengetahui daerah otonom di Indonesia.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Otonomi Daerah
Indonesia merupakan sebuah negara kesatuan yang menerapkan otonomi
kepada daerah atau desentralisasi yang sedikit mirip dengan negara serikat/federal.
Namun terdapat perbedaan-perbedaan yang menjadikan keduanya tidak sama.
Otonomi daerah bisa diartikan sebagai kewajiban yang dikuasakan kepada daerah
otonom untuk mengatur & mengurus sendiri urusan pemerintahan & kepentingan
masyarakat setempat menurut aspirasi masyarakat untuk meningkatkan daya guna
dan juga hasil guna penyelenggaraan pemerintahan dalam rangka pelayanan terhadap
masyarakat & pelaksanaan pembangunan sesuai dengan peraturan perundangundangan. Sedangkan yang dimaksud dengan kewajiban yaitu kesatuan masyarakat
hukum yg memiliki batas-batas wilayah yg berwenang mengutur dan mengatur
pemerintahan serta kepentingan masyarakatnya sesuai prakarsa sendiri berdasarkan
keinginan dan suara masyarakat. Pelaksanaan otonomi daerah selain berdasarkan
pada aturan hukum, juga sebagai penerapan tuntutan globalisasi yang wajib
diberdayakan dengan cara memberikan daerah kewenangan yang lebih luas, lebih
nyata & bertanggung jawab, utamanya dalam menggali, mengatur, dan memanfaatkan
potensi besar yang ada di masing-masing daerah.
Sistem penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia berdasarkan pendekatan
kesisteman meliputi sistem pemerintahan pusat atau disebut pemerintah dan sistem
pemerintahan daerah. Praktik penyelenggaraan pemerintahan dalam hubungan antar
pemerintah, dikenal dengan konsep sentralisasi dan desentralisasi. Konsep sentralisasi
menunjukkan karakteristik bahwa semua kewenangan penyelenggaraan pemerintahan
berada di pemerintah pusat, sedangkan sistem desentralisasi menunjukkan
karakteristik yakni sebagian kewenangan urusan pemerintahan yang menjadi

kewajiban pemerintah, diberikan kepada pemerintah daerah. Sistem desentralisasi


pemerintahan tidak pernah surut dalam teori maupun praktik pemerintahan daerah
dari waktu ke waktu. Desentralisasi menjadi salah satu isu besar yakni to choose
between a dispension of power and unification of power. Dispension of power adalah
sejalan dengan teori pemisahan kekuasaan dari John Locke. Berdasarkan tujuan
desentralisasi, yaitu sistem pemerintahan daerah, yang terdiri dari :
1.

untuk mengurangi beban pemerintah pusat dan campur tangan tentang


masalah-masalah kecil bidang pemerintahan di tingkat lokal.

2.

meningkatkan

dukungan

dan

partisipasi

masyarakat

dalam

penyelenggaraan kegiatan pemerintahan local.


3.

melatih masyarakat untuk dapat mengatur urusan rumah tangganya


sendiri, dan

4.

mempercepat

bidang

pelayanan

umum

pemerintahan

kepada

masyarakat.
Pengertian otonomi daerah menurut beberapa ahli:
1.
F.
Sugeng Istianto
Otonomi daerah merupakan sebuah Hhk dan wewenang guna untuk
mengatur serta mengurus rumah tangga daerah.
2.
Ate
ng Syarifuddin
Otonomi memiliki makna kebebasan atau kemandirian namun bukan
kemerdekaan melainkan hanya sebuah kebebasan yang terbatas atau kemandirian itu
terwujud

sebagai

suatu

pemberian

dipertanggungjawabkan.

kesempatan

yang

harus

mampu

3.
Sy
arif Saleh
Otonomi daerah merupakan hak mengatur serta memerintah daerah sendiri
dimana hak tersebut adalah hak yang diperoleh dari pemerintah pusat.
4.
Ka
nsil
Otonomi daerah adalah hak, wewenang, serta kewajiban daerah guna untuk
mengatur serta mengurus rumah tangganya atau daerahnya sendiri sesuai perundangundangan yang masih berlaku.
5.
Wi
djaja
Otonomi daerah merupakan salah satu bentuk dari desentralisasi
pemerintahan yang dasarnya ditujukan guna untuk memenuhi kepentingan bangsa
secara menyeluruh, merupakan suatu upaya yang lebih mendekatkan berbagai tujuan
penyelenggaraan pemerintahan sehingga dapat mewujudkan cita-cita masyarakat
yang adil dan makmur.
6.
Ma
hwood
Otonomi daerah adalah hak dari masyarakat sipil guna untuk mendapatkan
kesempatan serta perlakuan yang sama, baik dalam hal mengekspresikan serta
memperjuangkan kepentingan mereka masing-masing, dan ikut mengontrol
penyelenggaraan kinerja pemerintahan daerah.

7.
Be
nyamin Hoesein
Menurut Benyamin Hoesein, otonomi daerah adalah pemerintahan oleh serta
untuk rakyat di bagian wilayah nasional Negara secara informal berada diluar
pemerintah pusat.
8.
Ma
riun
Otonomi daerah adalah suatu kebebasan atau kewenangan yang dimiliki
pemerintah daerah sehingga memungkinkan mereka dalam membuat inisiatif sendiri
untuk mengelola serta mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki daerahnya.
Otonomi daerah adalah kebebasan atau kewenangan untuk dapat bertindak sesuai
dengan kebutuhan masyarakat pada daerah setempat.
9.
Vin
cent Lemius
Otonomi daerah merupakan kebebasan atau kewenangan dalam membuat
keputusan politik maupun administasi yang sesuai dengan peraturan perundangundangan. Di dalam otonomi daerah terdapat kewenangan yang dimiliki oleh
pemerintah daerah dalam menentukan apa yang menjadi kebutuhan daerahnya namun
kebutuhan daerah setempat masih senantiasa harus disesuaikan dengan kepentingan
nasional sebagaimana diatur peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.
Pengertian Otonomi Daerah - sesuai Undang-Undang No. 32 tahun 2004
pasal 1 ayat 5, pengertian otonomi derah adalah hak ,wewenang, dan kewajiban
daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintah dan
kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Sedangkan menurut Suparmoko (2002:61) mendefinisikan otonomi daerah sebagai
9

kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan juga mengurus kepentingan


masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat.

2.2

Daerah Otonom

Daerah otonom, selanjutnya disebut daerah, adalah kesatuan masyarakat


hukum yang mempunyai batas batas wilayah yang berwenang mengatur dan
mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut
prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem Negara Kesatuan
Republik Indonesia
Dengan pembentukan daerah otonom baru tersebut, jumlah daerah otonom
di Indonesia saat ini menjadi 538, yang terdiri dari 34 provinsi, 411 kabupaten, dan
93 kota. Sidang tersebut juga menyetujui disahkannya RUU tentang Perubahan atas
UU Nomor 56 Tahun 2008 tentang Pembentukan Kabupaten Tambrauw di Provinsi
Papua Barat.
Dasar Hukum mengenai Otonomi Daerah

UUD 1945, Pasal 18, 18A, dan 18B

UU No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah

UU No. 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan

Pusat dan Pemerintah Daerah

Tap MPR No. XV/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan

Otonomi Daerah, Pengaturan, Pembagian, dan Pemanfaatan Sumber Daya


Nasional yang Berkeadilan, serta Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah
dalam Kerangaka NKRI

Tap MPR No. IV/MPR/2000 tentang Rekomendasi

Kebijakan dalam Penyelenggaraan Otonomi Daerah


Berikut Ketentuan mengenai Pemerintah Daerah dalam BAB VI
PEMERINTAH DAERAH Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun
1945
10

Pasal 18
(1) Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi
dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan Kota, yang tiap-tiap provinsi,
kabupaten, dan kota itu mempunyai pemerintahan daerah, yang diatur dengan
undang-undang.** )
(2) Pemerintah daerah provinsi, daerah Kabupaten, dan Kota mengatur dan
mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas
pembantuan.**)
(3) Pemerintahan daerah provinsi, daerah kabupaten, dan kota memiliki
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang anggota-anggotanya dipilih melalui
pemilihan umum.** )
(4) Gubernur, Bupati, dan Walikota masing-masing sebagai kepala
pemerintah daerah provinsi, kabupaten dan kota dipilih secara demokratis.**)
(5) Pemerintahan daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya, kecuali
urusan pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan sebagai urusan
Pemerintahan Pusat.**)
(6) Pemerintahan daerah berhak menetapkan peraturan daerah dan peraturanperaturan lain untuk melaksanakan otonomi dan tugas pembantuan.** )
(7)Susunan dan tata cara penyelenggaraan pemerintahan daerah diatur dalam
undang-undang.** )

Pasal 18A
(1) Hubungan wewenang antara pemerintah pusat dan pemerintahan daerah
provinsi, kabupaten, dan kota, atau provinsi dan kabupaten dan kota, diatur dengan
undang-undang dengan memperhatikan kekhususan dan keragaman daerah.**)
(2) Hubungan keuangan, pelayanan umum, pemanfaatan sumber daya alam
dan sumber daya lainnya antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah diatur dan
dilaksanakan secara adil dan selaras berdasarkan undang-undang.** )
Pasal 18B

11

(1) Negara mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintahan daerah


yang bersifat khusus atau bersifat istimewa yang diatur dengan undang-undang.**)
(2) Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat
hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan
perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang
diatur dalam undang-undang.** )
2.3

Sistem Pemerintahan Daerah

Sistem pemerintahan daerah begitu dekat hubungannya dengan otonomi


daerah yang saat ini telah diterapkan di Indonesia. Jika sebelumnya semua sistem
pemerintahan bersifat terpusat atau sentralisasi maka setelah diterapkannya otonomi
daerah diharapkan daerah bisa mengatur kehidupan pemerintahan daerah sendiri
dengan cara mengoptimalkan potensi daerah yang ada. Meskipun demikian, terdapat
beberapa hal tetap diatur oleh pemerintah pusat seperti urusan keuangan negara,
agama, hubungan luar negeri, dan lain-lain. Sistem pemerintahan daerah juga
sebetulnya merupakan salah satu wujud penyelenggaraan pemerintahan yang efisien
dan efektif. Sebab pada umumnya tidak mungkin pemerintah pusat mengurusi semua
permasalahan negara yang begitu kompleks. Disisi lain, pemerintahan daerah juga
sebagai training ground dan pengembangan demokrasi dalam sebuah kehidupan
negara. Sistem pemerintahan daerah disaradi atau tidak sebenarnya ialah persiapan
untuk karir politik level yang lebih tinggi yang umumnya berada di pemerintahan
pusat.
UU no 32 tahun 2004
Kelahiran undang-undang ini dilatarbelakangi dengan adanya perkembangan
keadaan, ketatanegaraan, dan tuntutan otonomi daerah. Menurut Undang-undang
Nomor 32 Tahun 2004 ini, dalam penyelenggaraan otonomi menggunakan format
otonomi seluas-luasnya. Artinya, azas ini diberlakukan oleh pemerintah seperti pada
era sebelum UU Nomor 5 Tahun 1974. Alasan pertimbangan ini didasarkan suatu
asumsi bahwa hal-hal mengenai urusan pemerintahan yang dapat dilaksanakan oleh
daerah itu sendiri, sangat tepat diberikan kebijakan otonomi sehingga setiap daerah

12

mampu dan mandiri untuk memberikan pelayanan demi meningkatkan kesejahteraan


rakyat di daerah. Kontrol pusat atas daerah dilakukan dengan mekanisme pengawasan
yang menunjukkan formulasi cukup ketat dengan mekanisme pengawasan preventif,
represif, dan pengawasan umum. Proses pemelihan kepala/wakil kepala daerah
menurut UU Nomor 32 Tahun 2004 tidak lagi menjadi wewenang DPRD, melainkan
dilaksanakan dengan pemilihan langsung yang diselenggarakan oleh lembaga Komisi
Pemilihan Umum daerah (KPUD).
2.4

Pengertian Pemerintahan Daerah

Pemerintahan daerah sesuai pasal 1 huruf d UU no. 22 tahun 1999 adalah


penyelenggara pemerintahan daerah otonom oleh pemerintah daerah dan juga DPRD
menurut azaz desentralisasi.
Menurut UU no. 32 tahun 2004 pada pasal 1 ayat 2, pemerintahan daerah
adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintahan daerah dan DPRD
menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi yang seluasluasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana
dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

ayat 3 Pemerintah daerah adalah Gubernur, Bupati, atau Walikota, dan

perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah.

ayat 4.Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang selanjutnya disebut


DPRD adalah lembaga perwakilan rakyat daerah sebagai unsur penyelenggara
pemerintahan daerah.
2.5

Penyelenggaraan Pemerintahan

Penyelenggara pemerintahan daerah adalah pemerintah daerah dan DPRD.


Penyelenggaraan pemerintahan berpedoman pada Asas Umum Penyelenggaraan
Negara yang terdiri atas: asas kepastian hukum, asas kepentingan umum, asas tertib
penyelenggara negara, asas proporsionalitas, asas keterbukaan, asas akuntabilitas,
asas efektivitas, asas profesionalitas, dan asas efisiensi.

13

Sesuai dengan penjelasan Undang-Undang No. 32 tahun 2004, bahwa


pemberian kewenangan otonomi daerah dan kabupaten / kota didasarkan kepada
desentralisasi dalam wujud otonomi yang luas, nyata dan bertanggung jawab.
a.

Kewenangan Otonomi Luas

Kewenangan otonomi luas berarti keleluasaan daerah untuk melaksanakan


pemerintahan yang meliputi semua aspek pemerintahan kecuali bidang pertahanan
keamanan, politik luar negeri, peradilan, agama, moneter & fiscal serta kewenangan
pada aspek lainnya ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan. Disisi lain
keleluasaan otonomi meliputi juga kewenangan yang utuh & bulat dalam
penyelenggaraan mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, pengendalian
hingga evaluasi.
b.

Otonomi Nyata

Otonomi nyata berarti keleluasaan daerah untuk menjalankan kewenangan


pemerintah di bidang tertentu yang secara nyata ada & diperlukan serta tumbuh hidup
& berkembang di daerah.
c. Otonomi Yang Bertanggung Jawab
Otonomi yang bertanggung jawab berarti berwujud pertanggungjawaban
sebagai konsekuensi pemberian hak serta kewenangan kepada daerah dalam
mencapai tujuan pemberian otonomi daerah berupa , pengembangan kehidupan
demokrasi, peningkatan kesejahteraan masyarakat yang semakin tinggi, keadilan dan
pemerataan serta pemeliharaan hubungan yang sehat antara pusat & daerah serta antar
daerah dalam usaha menjaga Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Sesuai dengan UU No. 32 tahun 2004 pasal 1 ayat 7, 8, 9 tentang Pemerintah
Daerah, ada 3 dasar sistem hubungan antara pusat & daerah yaitu :
1.

Desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintah pusat

kepada daerah otonom untuk mengatur & mengurus urusan pemerintah dalam
sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.

14

2.

Dekonsentrasi merupakan pelimpahan wewenang pemerintah

kepada Gubernur sebagai wakil pemerintah dan/atau kepada instansi vertikal di


wilayah tertentu
3.
Tugas perbantuan yaitu penugasan dari pemerintah kepada
daerah & atau desa atau sebutan lain dengan kewajiban melaporkan &
mempertanggung jawabkan pelaksanaannya kepada yang menugaskan.
2.6

Hakekat, Tujuan dan Prinsip Otonomi Daerah

a.

Hakekat Otonomi Daerah

Pelaksanaan otonomi daerah pada hakekatnya merupakan upaya dalam


rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan cara melaksanakan
pembangunan sesuai dengan kehendak & kepentingan masyarakat. Sehubungan
dengan hakekat otonomi daerah tersebut yang berkaitan dengan pelimpahan
wewenang pengambilan keputusan kebijakan, pengelolaan dana publik & pengaturan
kegiatan dalam penyelenggaraan pemerintah & pelayanan masyarakat maka peranan
data keuangan daerah sangat diperlukan untuk mengidentifikasi sumber-sumber
pembiayaan daerah dan juga jenis & besar belanja yang harus dikeluarkan agar
perencanaan keuangan dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien. Data keuangan
daerah yang menunjukan gambaran statistik perkembangan anggaran & realisasi, baik
penerimaan maupun pengeluaran & analisa terhadapnya merupakan informasi yang
penting terutama untuk membuat kebijakan dalam pengelolaan keuangan daerah
untuk

meliahat

kemampuan/

kemandirian

daerah

(Yuliati,

2001:22) Sistem

kebijakan

otonomi

daerah

Pemerintahan Daerah

b.

Tujuan Otonomi Daerah

Tujuan

utama

dilaksanakannya

adalah

membebaskan pemerintah pusat dari urusan yang tidak seharusnya menjadi pikiran
pemerintah pusat. Dengan demikian pusat berkesempatan mempelajari, memahami,
merespon berbagai kecenderungan global dan mengambil manfaat daripadanya. Pada

15

saat yang sama pemerintah pusat diharapkan lebih mampu berkonsentrasi pada
perumusan kebijakan makro (luas atau yang bersifat umum dan mendasar) nasional
yang bersifat strategis. Di lain pihak, dengan desentralisasi daerah akan mengalami
proses pemberdayaan yang optimal. Kemampuan prakarsa dan kreativitas pemerintah
daerah akan terpacu, sehingga kemampuannya dalam mengatasi berbagai masalah
yang terjadi di daerah akan semakin kuat. Menurut Mardiasmo (Otonomi dan
Manajemen Keuangan Daerah) adalah: Untuk meningkatkan pelayanan publik
(public service) dam memajukan perekonomian daerah. Pada dasarnya terdapat tiga
misi utama pelaksanaan otonomi daerah & desentralisasi fiskal, yaitu:

Meningkatkan kualitas & kuantitas pelayanan publik &

kesejahteraan masyarakat.

Memberdayakan & menciptakan ruang bagi masyarakat

(publik) untuk berpartisipasi dalam proses pembangunan.

Menciptakan efisiensi & efektivitas pengelolaan sumber daya

daerah.
Kemudian tujuan otonomi daerah menurut penjelasan Undang-undang No 32
tahun 2004 pada intinya hampir sama, yaitu otonomi daerah diarahkan untuk memacu
pemerataan pembangunan & hasil-hasilnya, meningkatkan kesejahteraan rakyat,
menggalakkan prakarsa & peran serta aktif masyarakat secara nyata, dinamis, &
bertanggung jawab sehingga memperkuat persatuan & kesatuan bangsa, mengurangi
beban pemerintah pusat & campur tangan di daerah yang akan memberikan peluang
untuk koordinasi tingkat lokal.
c.

Prinsip Otonomi Daerah

Berdasarkan penjelasan Undang-Undang No. 32 tahun 2004, prinsip


penyelenggaraan otonomi daerah adalah sebagai berikut :

Penyelenggaraan otonomi daerah dilaksanakan dengan aspek keadilan,

demokrasi, pemerataan serta potensi & keaneka ragaman daerah.

Pelaksanaan otonomi daerah dilandasi pada otonomi luas, nyata &

bertanggung jawab.

16

Pelaksanaan otonomi daerah yang luas & utuh diletakkan pada daerah

& daerah kota, sedangkan otonomi provinsi merupakan otonomi yang


terbatas.

Pelaksanaan otonomi harus selaras konstitusi negara sehingga tetap

terjamin hubungan yang serasi antara pusat & daerah.

Pelaksanaan otonomi daerah harus lebih meningkatkan kemandirian

daerah kabupaten & derah kota tidak lagi wilayah administrasi. Begitu juga
di kawasan-kawasan khusus yang dibina oleh pemerintah.

Pelaksanaan otonomi daerah harus lebih meningkatkan peranan &

fungsi badan legislatif daerah baik sebagai fungsi pengawasan, fungsi


legislatif, mempunyai fungsi anggaran atas penyelenggaraan otonomi daerah

Pelaksanaan dekonsentrasi diletakkan pada daerah propinsi dalam

kedudukan sebagai wilayah administrasi untuk melaksanakan kewenangan


pemerintah tertentu dilimpahkan kepada gubernur sebagai wakil pemerintah.

Pelaksanaan asas tugas pembantuan dimungkinkan tidak hanya di

pemerintah daerah dan daerah kepada desa yang disertai pembiayaan, sarana
dan pra sarana serta sumber daya manusia dengan kewajiban melaporkan
pelaksanaan dan mempertanggung jawabkan kepada yang menugaskan.

2.7

Hak dan Kewajiban Daerah

Dalam menyelenggarakan otonomi, daerah mempunyai hak:


a. mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahannya;
b. memilih pimpinan daerah;
c. mengelola aparatur daerah;
d. mengelola kekayaan daerah;
e. memungut pajak daerah dan retribusi daerah;
f. mendapatkan bagi hasil dari pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya
lainnya yang berada di daerah;

17

g. mendapatkan sumber-sumber pendapatan lain yang sah


h. mendapatkan hak lainnya yang diatur dalam Peraturan perundang-undangan.
Dalam menyelenggarakan otonomi, daerah mempunyai kewajiban:
a. melindungi masyarakat, menjaga persatuan, kesatuan dan kerukunan nasional,
serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia;
b. meningkatkan kualitas kehidupan, masyarakat;
c. mengembangkan kehidupan demokrasi;
d. mewujudkan keadilan dan pemerataan;
e. meningkatkan pelayanan dasar pendidikan;
f. menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan;
g. menyediakan fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak;
h. mengembangkan sistem jaminan sosial;
i. menyusun perencanaan dan tata ruang daerah;
j. mengembangkan sumber daya produktif di daerah;
k. melestarikan lingkungan hidup;
l. mengelola administrasi kependudukan;
m. melestarikan nilai sosial budaya;
n. membentuk dan menerapkan peraturan perundang-undangan sesuai dengan
kewenangannya
o. kewajiban lain yang diatur dalam peraturan perundang-undangan.
2.8

Pengawasan terhadap Pelaksanaan Otonomi Daerah

Pengawasan yang dianut menurut undang-undang no 32 tahun 2004 meliputi


dua bentuk pengawasan yakni pengawasan atas pelaksanaan urusan pemerintah di
daerah dan pengawasan terhadap peraturan daerah dan peraturan kepala daerah.
Pengawasan ini dilaksanakan oleh aparat pengawas intern pemerintah. Hasil
pembinaan dan pengawasan tersebut digunakan sebagai bahan pembinaan selanjutnya
oleh pemerintah dan dapat digunakan sebagai bahan pemeriksaan oleh Badan
Pemeriksa Keuangan. Pembinaan atas penyelenggaraan pemerintahan daerah adalah
upaya yang dilakukan oleh pemerintah dan/atau gubernurselaku wakil pemerintah di

18

daerah untuk mewujudkan tercapainya tujuan penyelenggaraan otonomi daerah.


Dalam rangka pembinaan oleh pemerintah, menteri dan pimpinan lembega
pemerintah non-departemen melakukan pembinaan sesuai dengan fungsi dan
kewenangan masing-masing yang dikoordinasikan oleh Mmenteri Dalam Negeri
untuk pembinaan dan pengawasan provinsi, serta oleh gubernur untuk pembinaan dan
pengawasan kabupaten / kota.
Dalam hal pengawasan terhadap rancangan peraturan daerah dan perataturan
kepala daerah, pemerintah melakukan dua cara sebagai berikut.
1.

Pengawasan terhadap rancangan perda yang mengatur pajak daerah,

retribusi daerah, APBD, dan RUTR, sebelum disyahkan oleh kepala daerah terlebih
dahulu dievaluasi oleh Menteri Dalam Negeri untuk Raperda Provinsi, dan oleh
gubernur terhadap Raperda Kabupaten/Kota. Mekanisme ini dilakukan agar
pengaturan tentang hal-hal tersebut dapat mencapai daya guna dan hasil guna yang
optimal.
2.

Pengawasan terhadap semua peraturan daerah di luar yang termuat di

atas, peraturan daerah wajib disampaikan kepada Menteri Dalam Negeri untuk
provinsi dan gubernur untuk kabuapten/kota, untuk memperoleh klarifikasi terhadap
peraturan daerah yang bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau peraturan
lain yang lebih tinggi dan sebab itu dapat dibatalkan sesuai mekanisme yang berlaku.
Dalam rangka mengoptimalkan fungsi pembinaan dan pengawasan,
pemerintah dapat menerapkan sanksi kepada penyelenggara pemerintahan daerah
apabila ditemukan adanya penyimpangan dan pelanggaran. Sanksi yang dimaksud
antara lain berupa penataan kembali suatu daerah otonom, pembatalan pengangkatan
pejabat, penangguhan dan pembatalan berlakunya suatu kebijakan yang ditetapkan
daerah, sanksi pidana yang diproses sesuai dengan peraturan perundangundangan. Sistem Pemerintahan Daerah

2.9

SUMBER PENDAPATAN DAERAH

19

Pada dasarnya wujud keuangan negara pada pemerintah pusat hampir sama
dengan wujud keuangan negara pada pemerintah daerah. Hal ini terlihat dari
komponen atau klasifikasi aset, utang, ekuitas, belanja dan pembiayaan negara pada
pemerintah pusat yang sama dengan komponen atau klasifikasi aset, utang, ekuitas,
belanja dan pembiayaan daerah pada pemerintah daerah. Namun, perbedaannya
terletak pada struktur pendapatan antara pendapatan negara dan pendapatan daerah.
Jika komponen pendapatan negara pada pemerintah pusat yang tergambarkan dalam
APBN terdiri dari pendapatan perpajakan, pendapatan negara bukan pajak dan
pendapatan hibah, berbeda dengan komponen pendapatan daerah sebagaimana pada
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), yaitu terdiri dari Pendapatan Asli
Daerah (PAD), Dana Perimbangan, dan Lain-lain Pendapatan Yang Sah.
a.

PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD)

Pendapatan Daerah adalah hak pemerintah daerah yang diakui sebagai


penambah nilai kekayaan bersih, sedangkan Pendapatan Asli Daerah (PAD)
merupakan pendapatan daerah yang bersumber dari pelaksanaan hak dan kewajiban
pemerintah daerah, serta pemanfaatan potensi atau sumber daya daerah, baik yang
dimiliki oleh Pemerintah daerah maupun yang terdapat di wilayah daerah
bersangkutan, yang mana pemungutannya merupakan tanggung jawab pemerintah
daerah.
PAD bertujuan untuk memberikan keleluasaan kepada Daerah dalam
menggali pendanaan dalam pelaksanaan otonomi daerah sebagai perwujudan asas
Desentralisasi, yang mana Komponennya terdiri dari: Pajak Daerah, Retribusi
Daerah, hasil pengelolaan kekayaan Daerah yang dipisahkan dan lain-lain PAD yang
sah.
1. Pajak Daerah
Pajak Daerah adalah kontribusi wajib kepada daerah yang terutang oleh
orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang,

20

dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan
daerah bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Dasar hukum pemungutan pajak daerah dan retribusi daerah yang berlaku
saat ini adalah UU No. 28 Tahun 2009 tentang pajak daerah dan retribusi daerah.
Dalam Undang-Undang tersebut pajak daerah dibagi menjadi 2 jenis, yaitu pajak
provinsi dan pajak kabupaten/kota. Yang termasuk pajak daerah untuk provinsi
adalah:
(a) Pajak Kendaraan Bermotor;
(b) Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor;
(c) Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor;
(d) Pajak Air Permukaan;
(e) Pajak Rokok.
Sedangkan yang termasuk pajak daerah untuk kabupaten/kota terdiri atas:

21

(a)

Pajak Hotel;

(h)

Pajak Air Tanah;

(b)

Pajak Restoran;

(i)

Pajak Sarang Burung Walet;

(c)

Pajak Hiburan;

(j)

Pajak Bumi dan Bangunan

(d)

Pajak Reklame;

(e)

Pajak Penerangan Jalan;

(f)

Pajak Mineral Bukan Logam

(PBB)

dan

Perkotaan;
(k)

Bea Perolehan Hak atas


Tanah

dan Batuan;
(g)

Perdesaan

dan

Bangunan

(BPHTB).

Pajak Parkir;

Berkaitan dengan pemungutan pajak daerah, pemerintah daerah diberikan


kebebasan untuk menentukan tarif pajak daerah sesuai keputusan bersama antara
pemerintah daerah dengan DPRD, sepanjang tidak melebihi batas maksimum yang
telah ditetapkan. Selain itu, Pemerintah Daerah juga tidak dibenarkan untuk
memungut pajak daerah selain pajak daerah yang telah ditetapkan pada UU No. 28
Tahun 2009 tersebut. Sedangkan untuk melakukan pemungutan pendapatan daerah
yang bersumber dari pajak daerah merupakan wewenang dan tanggungjawab Dinas
Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD) atau Biro Keuangan
pada Pemerintah Provinsi atau Pemerintah Kabupaten/Kota masing-masing.
2. Retribusi Daerah
Retribusi daerah adalah pungutan Daerah sebagai pembayaran atas jasa atau
pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh Pemerintah
Daerah untuk kepentingan orang pribadi atau Badan. Perbedaan utama antara pajak
daerah dan retribusi daerah terletak pada imbal jasanya. Pada saat membayar pajak
daerah, pihak yang membayar pajak (wajib pajak) tidak langsung mendapatkan
imbalan pada saat melakukan pembayaran, berbeda dengan retribusi daerah.
22

Pembayaran retribusi daerah dapat dilakukan jika pembayar retribusi (wajib retribusi)
telah mendapatkan pelayanan atau keperluannya telah difasilitasi oleh pemerintah
daerah.
Objek retribusi adalah jasa umum, jasa usaha dan perizinan tertentu yang
disediakan atau diberikan oleh pemerintah daerah. Untuk itu, retribusi dapat
digolongkan ke dalam 3 jenis, yaitu Retribusi Jasa Umum, Retribusi Jasa Usaha dan
Retribusi Perizinan Tertentu.
(a) Retribusi Jasa Umum
Objek Retribusi Jasa Umum adalah pelayanan yang disediakan atau
diberikan Pemerintah Daerah untuk tujuan kepentingan dan kemanfaatan umum serta
dapat dinikmati oleh orang pribadi atau Badan, yang antara lain terdiri dari: Retribusi
Pelayanan Kesehatan, Retribusi Pelayanan Persampahan/Kebersihan, Retribusi
Penggantian Biaya Cetak Kartu Tanda Penduduk dan Akta Catatan Sipil, Retribusi
Pelayanan Pemakaman dan Pengabuan Mayat, Retribusi Pelayanan Parkir di Tepi
Jalan Umum, Retribusi Pelayanan Pasar, Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor,
Retribusi Pemeriksaan Alat Pemadam Kebakaran, Retribusi Penggantian Biaya Cetak
Peta, Retribusi Penyediaan dan/atau Penyedotan Kakus, Retribusi Pengolahan
Limbah Cair, Retribusi Pelayanan Tera/Tera Ulang, Retribusi Pelayanan Pendidikan,
dan Retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi.
Selain jenis Retribusi diatas, baik pemerintah daerah provinsi maupun
kabupaten/kota dapat menetapkan retribusi jasa umum lainnya, sepanjang telah
ditetapkan pada peraturan pemerintah dan memenuhi kriteria sebagai berikut:

Retribusi Jasa Umum bersifat bukan pajak dan bersifat

Retribusi Jasa Usaha atau Retribusi Perizinan Tertentu;

Jasa yang bersangkutan merupakan

kewenangan

Daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi;

Jasa tersebut memberi manfaat khusus bagi orang


pribadi atau Badan yang diharuskan membayar retribusi, disamping untuk
melayani kepentingan dan kemanfaatan umum;
23

Jasa tersebut hanya diberikan kepada orang pribadi atau

Badan yang membayar retribusi dengan memberikan keringanan bagi


masyarakat yang tidak mampu;

Retribusi tidak bertentangan dengan kebijakan nasional


mengenai penyelenggaraannya;

Retribusi dapat dipungut secara efektif dan efisien,


serta merupakan salah satu sumber pendapatan Daerah yang potensial;

Pemungutan Retribusi memungkinkan penyediaan jasa


tersebut dengan tingkat dan/atau kualitas pelayanan yang lebih baik.

(b) Retribusi Jasa Usaha


Objek Retribusi Jasa Usaha adalah pelayanan yang disediakan oleh
Pemerintah Daerah dengan menganut prinsip komersial yang meliputi:
Pelayanan

dengan

menggunakan/memanfaatkan

kekayaan Daerah yang belum dimanfaatkan secara optimal;


Pelayanan oleh Pemerintah Daerah sepanjang belum
disediakan secara memadai oleh pihak swasta.
Jenis Retribusi Jasa Usaha antara lain terdiri dari: Retribusi Pemakaian
Kekayaan Daerah, Retribusi Pasar Grosir dan/atau Pertokoan, Retribusi Tempat
Pelelangan, Retribusi Terminal, Retribusi Tempat Khusus Parkir, Retribusi Tempat
Penginapan/Pesanggrahan/Villa,

Retribusi

Rumah

Potong

Hewan,

Retribusi

Pelayanan Kepelabuhanan, Retribusi Tempat Rekreasi dan Olahraga, Retribusi


Penyeberangan di Air, dan Retribusi Penjualan Produksi Usaha Daerah.
Baik Pemerintah Provinsi maupun Pemerintah Kabupaten/Kota dapat
mengembangkan Retribusi Jasa Usaha, sepanjang telah ditetapkan pada peraturan
pemerintah dan memenuhi kriteria sebagai berikut:

24

Retribiusi Jasa Usaha bersifat bukan pajak dan

bersifat bukan Retribusi Jasa Umum atau Retribusi Perizinan Tertentu;

Jasa yang bersangkutan adalah jasa yang


bersifat komersial yang seyogyanya disediakan oleh sektor swasta
tetapi belum memadai atau terdapatnya harta yang dimiliki/dikuasai
Daerah yang belum dimanfaatkan secara penuh oleh Pemerintah
Daerah.
(c) Perizinan Tertentu
Objek Retribusi Perizinan Tertentu adalah pelayanan perizinan tertentu oleh
Pemerintah Daerah kepada orang pribadi atau Badan yang dimaksudkan untuk
pengaturan dan pengawasan atas kegiatan pemanfaatan ruang, penggunaan sumber
daya alam, barang, prasarana, sarana, atau fasilitas tertentu guna melindungi
kepentingan umum dan menjaga kelestarian lingkungan. Jenis Retribusi Perizinan
Tertentu antara lain terdiri dari: Retribusi Izin Mendirikan Bangunan (IMB), Retribusi
Izin Tempat Penjualan Minuman Beralkohol, Retribusi Izin Gangguan (HO),
Retribusi Izin Trayek, dan Retribusi Izin Usaha Perikanan.
Pemerintah daerah diperbolehkan untuk menetapkan retribusi perizinan
tertentu lainnya, sepanjang telah ditetapkan pada peraturan pemerintah dan memenuhi
kriteria sebagai berikut:
Perizinan tersebut termasuk kewenangan pemerintahan
yang diserahkan kepada Daerah dalam rangka asas desentralisasi;

Perizinan tersebut diperlukan guna melindungi kepentingan


umum;

biaya yang menjadi beban Daerah dalam penyelenggaraan izin

tersebut dan biaya untuk menanggulangi dampak negatif dari pemberian izin tersebut
cukup besar sehingga layak dibiayai dari retribusi perizinan;
Sama halnya dengan pemungutan PNBP, pemungutan retribusi dapat
dilakukan oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) selain DPPKAD, sepanjang

25

masih dalam kewenangannya dan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi SKPD yang
bersangkutan.
3.

Hasil pengelolaan kekayaan Daerah yang dipisahkan.

Kekayaan daerah yang dipisahkan adalah bagian dari aset pemerintah daerah
yang digunakan sebagai penyertaan modal pemerintah daerah pada perusahaan atau
badan usaha, baik badan usaha milik negara/daerah (BUMN/BUMD) maupun badan
usaha milik swasta atau kelompok usaha masyarakat. Hasil pengelolaan kekayaan
daerah yang dipisahkan berupa bagian laba yang dibagikan (deviden) dari perusahaan
atau badan usaha yang bersangkutan, yang dapat dikategorikan sebagai berikut:
(a) Bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik daerah/BUMD;
(b)

Bagian

laba

atas

penyertaan

modal

pada

perusahaan

milik

pemerintah/BUMN; dan
(c) Bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik swasta atau
kelompok usaha masyarakat.
4. Lain-lain PAD yang sah.
Lain-lain PAD yang sah merupakan pendapatan daerah yang tidak dapat
dikategorikan sebagai pajak daerah, retribusi dan hasil pengelolaan kekayaan daerah
yang dipisahkan, namun masih termasuk dalam kategori PAD. Lain-lain PAD yang
sah dirinci menurut obyek pendapatan yang mencakup:
(a)

Hasil

penjualan

Daerah

yang

kekayaan

(d) Penerimaan keuntungan selisih

tidak

nilai tukar rupiah terhadap

dipisahkan;
(b)

Jasa giro;

(c)

Pendapatan bunga;

mata uang asing;


(e)

Penerimaan komisi, potongan,


ataupun bentuk lain sebagai
akibat dari penjualan dan/atau

26

pengadaan barang dan/atau

(j)

jasa oleh Daerah.


(f)

Penerimaan

jaminan;

atas

tuntutan

(k)

ganti kerugian daerah;


(g)

Pendapatan
keterlambatan

denda

Pendapatan

atas

(l)

pelaksanaan

dari

Pendapatan dari pemanfaatan


fasilitas sosial dan fasilitas
umum;

denda

pajak

(m)

daerah;
(i)

Pendapatan
pengembalian;

pekerjaan;
(h)

Pendapatan hasil eksekusi atas

Pendapatan

dari

penyelenggaraan pendidikan
dan pelatihan;

Pendapatan denda retribusi;


(n)

Pendapatan

dari

angsuran/cicilan penjualan.

27

b.

Dana Perimbangan

Perimbangan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah


adalah suatu sistem pembagian keuangan yang adil, proporsional, demokratis,
transparan, dan efisien dalam rangka pendanaan penyelenggaraan desentralisasi,
dengan mempertimbangkan potensi, kondisi, dan kebutuhan daerah, serta besaran
pendanaan penyelenggaraan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan. Perimbangan
Keuangan antara Pemerintah dan Pemerintahan Daerah merupakan bagian pengaturan
yang tidak terpisahkan dari sistem Keuangan Negara, dan dimaksudkan untuk
mengatur sistem pendanaan atas kewenangan pemerintahan pusat yang diserahkan,
dilimpahkan, dan ditugasbantukan kepada Daerah.
Dana Perimbangan adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN
yang dialokasikan kepada Daerah untuk mendanai kebutuhan Daerah dalam rangka
pelaksanaan Desentralisasi. Dana Perimbangan selain dimaksudkan untuk membantu
Daerah dalam mendanai kewenangannya, juga bertujuan untuk mengurangi
ketimpangan sumber pendanaan pemerintahan antara Pusat dan Daerah serta untuk
mengurangi kesenjangan pendanaan pemerintahan antar-Daerah. Pendanaan tersebut
menganut prinsip money follows function, yang mengandung makna bahwa
pendanaan mengikuti fungsi pemerintahan yang menjadi kewajiban dan tanggung
jawab masing-masing tingkat pemerintahan.
Dana Perimbangan merupakan pendanaan Daerah yang bersumber dari
APBN yang terdiri atas Dana Bagi Hasil (DBH), Dana Alokasi Umum (DAU), dan
Dana Alokasi Khusus (DAK). Ketiga komponen Dana Perimbangan ini merupakan
sistem transfer dana dari Pemerintah pusat serta merupakan satu kesatuan yang utuh.
1. Dana Bagi Hasil (DBH)
Dana Bagi Hasil (DBH) adalah dana yang bersumber dari APBN yang
dibagihasilkan kepada daerah berdasarkan angka persentase tertentu dengan
memperhatikan potensi daerah penghasil. Pada dasarnya, selain dimaksudkan untuk
menciptakan pemerataan pendapatan daerah, DBH juga bertujuan untuk memberikan

keadilan bagi daerah atas potensi yang dimilikinya. Dalam hal ini, walaupun
pendapatan atas pajak negara dan pendapatan yang berkaitan dengan sumber daya
alam (SDA) merupakan wewenang pemerintah pusat untuk memungutnya, namun
sebagai daerah penghasil, pemerintah daerah juga berhak untuk mendapatkan bagian
atas pendapatan dari potensi daerahnya tersebut.
Dana Bagi Hasil yang bersumber dari pajak negara, meliputi:
(a)

Pajak Bumi dan Bangunan (PBB);

(b)

Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB); dan

(c)

Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 25 dan Pasal 29 Wajib Pajak Orang


Pribadi Dalam Negeri dan PPh Pasal 21.

Sedangkan Dana Bagi Hasil yang bersumber dari sumber daya alam,
meliputi:
(a)

Sektor Kehutanan;

(b)

Sektor Pertambangan umum;

(c)

Sektor Perikanan;

(d)

Sektor Pertambangan minyak bumi;

(e)

Sektor Pertambangan gas bumi; dan

(f)

Sektor Pertambangan panas bumi.

Besarnya proporsi dana bagi hasil antara pemerintah pusat dengan


pemerintah daerah tergantung dari jenis pendapatan. Begitupula antara pemerintah
daerah provinsi dengan pemerintah kabupaten/kota proporsinya tidak merata untuk
setiap jenis pendapatan.
Adakalanya Pemerintah Pusat mendapatkan proporsi bagi hasil yang lebih
besar dibandingkan dengan Pemerintah Daerah, seperti: Pendapatan yang bersumber
dari Pajak Penghasilan (PPh), namun Pemerintah Pusat juga bisa saja menerima

proporsi yang lebih kecil dibandingkan proporsi bagi hasil kepada Pemerintah
Daerah, seperti: Pendapatan yang bersumber dari Penerimaan Pajak Bumi dan
Bangunan (PBB). Pembagian proporsi ini tergantung dari keterlibatan Pemerintah
Daerah dalam melakukan pemungutan dan dampaknya terhadap masyarakat daerah.
Adapun proporsi bagi hasil masing-masing jenis pendapatan digambarkan pada tabel
1.1 berikut ini:
Tabel 1.1
Proporsi Dana Bagi Hasil Untuk Masing-masing Jenis Pendapatan
No

Jenis Pendapatan

Penerimaan PBB

Proporsi Dana Bagi Hasil


Untuk

Untuk

Pemerintah Pusat

Pemerintah Daerah

10%, dengan
alokasi:

90%, dengan alokasi:

Dibagikan dgn
porsi yang sama besar
untuk seluruh
Kab./Kota
=
6,5%
Insentif
3,5%
2
.

Penerimaan
BPHTB

Provinsi
16,2%
Kab./Kota

Penerimaan PPh
Pasal 25 dan Pasal
29 WP Orang
Pribadi Dalam
Negeri dan PPh
Pasal 21

20%, dibagikan
dgn porsi yang sama
besar untuk seluruh
Kab./Kota
80%

= 64,8%

By. Pemungutan = 9%

80%, dengan alokasi:


Provinsi
16%
Kab./Kota

=
= 64%

20%, dengan alokasi:


Provinsi
8%

Kab./Kota dalam provinsi


yg bersangkutan = 12%

Dengan rincian sbb:


Kab./Kota tempat wajib
pajak terdaftar = 8,4%
Dibagikan dgn porsi yang
sama besar untuk seluruh
Kab./Kota dalam provinsi yg
bersangkutan = 3,6%
4
.

Penerimaan
Iuran Izin Usaha
Pemanfaatan Hutan
(IIUPH)

20%

80%, dengan alokasi:


Provinsi
16%
Kab./Kota

5
.

Penerimaan
Provisi Sumber
Daya Hutan
(PSDH)

20%

=
= 64%

80%, dengan imbangan:


Provinsi
16%
Kab./Kota

=
= 32%

Dibagikan dgn porsi yang


sama besar untuk seluruh
Kab./Kota dalam provinsi yg
bersangkutan = 32%
6

Penerimaan
Dana Reboisasi

Penerimaan
Pertambang-an
Umum (Iuran
Tetap) dari
Kabupaten/ Kota

20%

Penerimaan
Pertambangan
Umum (Iuran
Eksplorasi dan
Eksploitasi) dari

20%

8
.

60% (digunakan
untuk rehabilitasi
hutan dan lahan
secara nasional)

40% (digunakan untuk


rehabilitasi hutan dan lahan
di Kab./Kota penghasil )
80%, dengan alokasi:
Provinsi
16%
Kab./Kota

=
= 64%

80%, dengan alokasi:


Provinsi
16%
Kab./Kota

=
= 32%

Kabupaten/Kota

9
.

Penerimaan
Pertambangan
Umum (Iuran Tetap
dan Iuran
Eksplorasi dan
Eksploitasi) dari
Provinsi
Jenis Pendapatan

20%

80%, dengan alokasi:


Provinsi
26%

Dibagikan dgn porsi yang


sama besar untuk seluruh
Kab./Kota dalam provinsi yg
bersangkutan = 54%
Proporsi Dana Bagi Hasil
Untuk

Untuk

Pemerintah Pusat

Pemerintah Daerah

Penerimaan
Perikanan (Secara
Nasional)

20%

Penerimaan
Pertambangan
Minyak Bumi dari
Kabupaten/ Kota

84,5%

0.

1.

Dibagikan dgn porsi yang


sama besar untuk seluruh
Kab./Kota dalam provinsi yg
bersangkutan = 32%

80%, Dibagikan dgn porsi


yang sama besar untuk
seluruh Kab./Kota.
15,5%, dengan alokasi:
Provinsi
3%
Kab./Kota

=
= 6%

Dibagikan dgn porsi yang


sama besar untuk seluruh
Kab./Kota dalam provinsi yg
bersangkutan = 6%
Dialokasikan untuk
anggaran pendidikan
dasar
= 0,5%,
dengan rincian sbb:
Provinsi
0,1%

Kab./Kota

= 0,2%

Dibagikan dgn porsi yang


sama besar untuk seluruh
Kab./Kota dalam provinsi yg
bersangkutan = 0,2%.
1
2.

Penerimaan
Pertambangan
Minyak Bumi dari
Provinsi

84,5%

15,5%, dengan alokasi:


Provinsi
5%

Dibagikan dgn porsi yang


sama besar untuk seluruh
Kab./Kota dalam provinsi yg
bersangkutan = 10%
Dialokasikan untuk
anggaran pendidikan
dasar
= 0,5%,
dengan rincian sbb:
Provinsi
0,17%

Dibagikan dgn porsi yang


sama besar untuk seluruh
Kab./Kota dalam provinsi yg
bersangkutan = 0,33%.

1
3.

Penerimaan
Pertambangan Gas
Bumi dari
Kabupaten/ Kota

69,5%

30,5%, dengan alokasi:


Provinsi
6%
Kab./Kota

=
= 12%

Dibagikan dgn porsi yang


sama besar untuk seluruh
Kab./Kota dalam provinsi yg
bersangkutan = 12%
Dialokasikan untuk

anggaran pendidikan
dasar
= 0,5%,
dengan rincian sbb:
Provinsi
0,1%
Kab./Kota

=
= 0,2%

Dibagikan dgn porsi yang


sama besar untuk seluruh
Kab./Kota dalam provinsi yg
bersangkutan = 0,2%.

Jenis Pendapatan

1
4.

Penerimaan
Pertambangan Gas
Bumi dari Provinsi

Proporsi Dana Bagi Hasil


Untuk

Untuk

Pemerintah Pusat

Pemerintah Daerah

69,5%

30,5%, dengan alokasi:


Provinsi
10%

Dibagikan dgn porsi yang


sama besar untuk seluruh
Kab./Kota dalam provinsi yg
bersangkutan = 20%
Dialokasikan untuk
anggaran pendidikan
dasar
= 0,5%,
dengan rincian sbb:
Provinsi
0,17%

Dibagikan dgn porsi yang


sama besar untuk seluruh
Kab./Kota dalam provinsi yg
bersangkutan = 0,33%.

1
5.

Penerimaan
Pertambangan
Panas Bumi

20%

80%, dengan alokasi:


Provinsi
16%
Kab./Kota

=
= 32%

Dibagikan dgn porsi yang


sama besar untuk seluruh
Kab./Kota dalam provinsi yg
bersangkutan = 32%
Sumber: UU No. 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan
Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah & PP No. 55 Tahun
2005 Tentang Dana Perimbangan.
2. Dana Alokasi Umum (DAU)
Dana Alokasi Umum (DAU) merupakan dana yang bersumber dari APBN
yang bertujuan untuk pemerataan kemampuan keuangan antar-daerah atau
mengurangi ketimpangan kemampuan keuangan antar-daerah melalui penerapan
formula tertentu. DAU suatu daerah ditentukan atas alokasi dasar dan besar kecilnya
celah fiskal (fiscal gap) suatu daerah. Alokasi dasar dihitung berdasarkan jumlah gaji
pegawai negeri sipil daerah (belanja pegawai daerah) pada daerah yang bersangkutan.
Sedangkan celah fiskal merupakan selisih antara kebutuhan daerah (fiscal need) dan
potensi daerah (fiscal capacity).
Kebutuhan

daerah

merupakan

kebutuhan

pendanaan

daerah

untuk

melaksanakan fungsi layanan dasar umum yang dicerminkan dari luas daerah,
keadaan geografis, jumlah penduduk, tingkat kesehatan dan kesejahteraan masyarakat
di daerah, dan tingkat pendapatan masyarakat di daerah. Sedangkan kapasitas fiskal
dicerminkan dari Pendapatan Asli Daerah, Dana Bagi Hasil Pajak, dan Sumber Daya
Alam.
Alokasi DAU bagi daerah yang potensi fiskalnya besar tetapi kebutuhan
fiskalnya kecil akan memperoleh alokasi DAU yang relatif kecil. Sebaliknya, daerah
yang potensi fiskalnya kecil, namun kebutuhan fiskalnya besar akan memperoleh

alokasi DAU relatif besar, yang mana secara implisit, prinsip tersebut menegaskan
fungsi DAU sebagai faktor pemerataan kapasitas fiskal. Begitupula jika dibandingkan
dengan alokasi dasar, daerah yang memiliki nilai celah fiskal sama dengan nol
menerima DAU sebesar alokasi dasar. Daerah yang memiliki nilai celah fiskal negatif
dan nilai negatif tersebut lebih kecil dari alokasi dasar menerima DAU sebesar
alokasi dasar setelah dikurangi nilai celah fiskal. Sedangkan daerah yang memiliki
nilai celah fiskal negatif dan nilai negatif tersebut sama atau lebih besar dari alokasi
dasar tidak menerima DAU.
Pemerintah pusat bertugas untuk merumuskan formula dan melakukan
penghitungan DAU dengan berdasarkan data untuk menghitung kebutuhan fiskal dan
kapasitas fiskal yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan/atau lembaga
pemerintah yang berwenang menerbitkan data yang dapat dipertanggungjawabkan.
Sementara itu, jumlah keseluruhan DAU ditetapkan sekurang-kurangnya 26% (dua
puluh enam persen) dari Pendapatan Dalam Negeri Neto yang ditetapkan dalam
APBN.
3. Dana Alokasi Khusus (DAK)
Dana Alokasi Khusus (DAK) merupakan dana yang bersumber dari APBN
yang dimaksudkan untuk membantu membiayai kegiatan-kegiatan khusus di daerah
tertentu yang merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional,
khususnya untuk membiayai kebutuhan sarana dan prasarana pelayanan dasar
masyarakat yang belum mencapai standar tertentu atau untuk mendorong percepatan
pembangunan daerah.
Pemerintah pusat menetapkan kriteria DAK yang meliputi kriteria umum,
kriteria

khusus,

dan

kriteria

teknis.

Kriteria

umum

ditetapkan

dengan

mempertimbangkan kemampuan Keuangan Daerah dalam APBD. Kriteria khusus


ditetapkan dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan dan karakteristik
Daerah. Sedangkan kriteria teknis ditetapkan oleh kementerian teknis pelaksana
program/kegiatan.

Berbeda dengan daerah penerima DBH dan DAU, daerah penerima DAK
wajib menyediakan Dana Pendamping sekurang-kurangnya 10% (sepuluh persen)
dari alokasi DAK. Dana Pendamping tersebut harus dianggarkan dalam APBD pada
periode bersamaan dengan dianggarkannya DAK dalam APBN. Namun, untuk daerah
dengan kemampuan fiskal tertentu atau daerah yang selisih antara penerimaan umum
APBD dan Belanja Pegawainya sama dengan 0 (nol) atau negatif, tidak diwajibkan
menyediakan Dana Pendamping tersebut.
c.

Lain Lain Pendapatan yang Sah

Kelompok lain-lain pendapatan daerah yang sah dibagi menurut jenis


pendapatan dapat mencakup:
Hibah

yang

berasal

dari

pemerintah,

pemerintah

daerah

lainnya,

badan/lembaga/organisasi swasta dalam negeri, kelompok masyarakat/ perorangan,


dan lembaga luar negeri yang tidak mengikat;
Dana darurat dari pemerintah pusat dalam bencana nasional dan/atau
peristiwa luar biasa yang tidak dapat ditanggulangi oleh daerah dengan menggunakan
sumber APBD.
Dana penyesuaian dan dana otonomi khusus yang ditetapkan oleh
pemerintah;
Dana bagi hasil pajak dari provinsi kepada kabupaten/kota;
Bantuan keuangan dari provinsi atau dari pemerintah daerah lainnya.
Komponen pendapatan daerah yang meliputi Pendapatan Asli Daerah (PAD),
Dana Perimbangan, dan Lain-lain Pendapatan Yang Sah, setiap tahunnya harus
dianggarkan dan dimasukkan dalam APBD masing-masing Pemerintah Daerah
bersamaan dengan anggaran belanja dan pembiayaan daerah. Seluruh pendanaan
yang dianggarkan dalam APBD tersebut dikategorikan sebagai dana desentralisasi.
Lain halnya dengan dana dekonsentrasi dan/atau dana tugas pembantuan.

Urusan pemerintahan yang menjadi urusan Pemerintah pusat dan tidak dapat
didesentralisasikan meliputi: urusan politik luar negeri, pertahanan, keamanan,
yustisi, moneter dan fiskal nasional serta agama. Dalam menyelenggarakan urusan
pemerintahan tersebut Pemerintah Pusat menyelenggarakan sendiri atau dapat
melimpahkan sebagian urusan pemerintahan kepada perangkat Pemerintah pusat atau
wakil Pemerintah Pusat di daerah atau dapat menugaskan kepada pemerintahan
daerah dan/atau pemerintahan desa. Pelimpahan wewenang pemerintahan oleh
Pemerintah Pusat kepada Gubernur sebagai wakil pemerintah pusat dan/atau kepada
instansi vertikal di wilayah tertentu disebut dengan Dekonsentrasi. Sedangkan
penugasan dari Pemerintah Pusat kepada pemerintah daerah dan/atau desa, dari
pemerintah provinsi kepada kabupaten/kota dan/atau desa, serta dari pemerintah
kabupaten/kota kepada desa untuk melaksanakan tugas tertentu disebut tugas
pembantuan.
Pelaksanaan dekonsentrasi dan tugas pembantuan tersebut didanai oleh
Pemerintah Pusat atau dianggarkan dalam APBN pada pos anggaran belanja
kementerian terkait, sehingga walaupun pelaksanaan urusan tersebut dilimpahkan
atau diserahkan kepada pemerintah daerah, pendanaan pelaksanaannya tidak dapat
dianggarkan pada APBD. Inilah yang membedakan dana desentralisasi dengan dana
dekonsentrasi dan dana tugas pembantuan. Konsekuensi dari sistem pendanaan ini,
jika terdapat sisa anggaran lebih dan/atau saldo kas dari dana dekonsentrasi dan tugas
pembantuan, sisa dan/atau saldo kas tersebut harus disetor kembali ke rekening Kas
Umum Negara, dan apabila dalam hal pelaksanaan dekonsentrasi dan tugas
pembantuan menghasilkan penerimaan, maka penerimaan tersebut merupakan
penerimaan APBN dan disetor ke Rekening Kas Umum Negara sesuai dengan
peraturan perundang-undangan.
Begitupula kaitannya dengan barang yang diperoleh atas pelaksanaan
kegiatan tersebut. Jika barang yang diperoleh dari dana desentralisasi, langsung
menjadi barang milik daerah. Barang yang diperoleh dari dana dekonsentrasi dan
tugas pembantuan merupakan barang milik negara. Namun, tidak menutup

kemungkinan barang milik negara tersebut dihibahkan kepada Daerah, sehingga jika
barang milik negara tersebut telah dihibahkan kepada Daerah maka wajib dikelola
dan ditatausahakan oleh pemerintah daerah, sedangkan jika barang milik negara
tersebut tidak dihibahkan kepada Daerah, wajib dikelola dan ditatausahakan sendiri
oleh kementerian negara/lembaga yang memberikan pelimpahan wewenang atau
tugas pembantuan tersebut, walaupun barang tersebut berada atau digunakan oleh
pemerintah daerah.

BAB III
PENUTUP
3.1

Kesimpulan
Dari berbagai uraian diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa
otonomi daerah dibentuk sebagai jalan pintas pemerintah pusat untuk
melaksanakan pengontrolan dan pelaksanaan pemerintahan secara
langsung di daerah yang sesuai dengan karakteristik masing masing
daerah dan kemudian semua kebijakan atau hukum yang akan
dibentuk di daerah tersebut adalah merupakan bentuk aplikasi
langsung terhadap sistem demokratisasi yang mengikutsertakan
rakyat melalui lembaga atau partai politik di daerah. Tujuan daripada
pengadaan kebijakan otonomi daerah adalah untuk pengembangan
daerah dan masyarakat daerah menuju kesejahteraa dengan cara dan
jalannya masing masing.

DAFTAR PUSTAKA
http://demokrasiindonesia.blogspot.co.id/2014/10/sistem-pemerintahandaerah-otonomi.html
http://woocara.blogspot.co.id/2015/10/pengertian-otonomi-daerah-dasarhukum-prinsip-asas-dan-tujuan-otonomi-daerah.html
http://www.indonesia.go.id/en/ministries/ministers/ministry-of-homeaffairs/637-politik/12495-indonesia-miliki-538-daerah-otonom
http://www.kemendagri.go.id/basis-data/2013/04/08/daerah-otonomi-baru
http://www.kemendagri.go.id/news/2013/04/15/indonesia-miliki-538-daerahotonom