Anda di halaman 1dari 57

ANALISIS TATANIAGA KACANG PANJANG

DI DESA SUSUNAN BARU KELURAHAN KEMILING


BANDAR LAMPUNG
(Laporan Turun Lapang Tataniaga Pertanian)

Oleh
Kelompok 1
Adek Fitri Sakinah
Anitha Andarini T
Candra Endah Pawestri
Chindy Yulianti Putri

1414131003
1414131015
1414131030
1414131031

JURUSAN AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2016

DAFTAR ISI

I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang .
1.2. Tujuan Penelitian .
1.3. Manfaat Penelitian ...
II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN
2.1. Tinjauan Pustaka .
2.2 Kerangka Pemikiran .
III. METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Konsep Dasar dan Definisi Operasional ....
3.2 Metode Penelitian, Lokasi, Responden dan Waktu Penelitian ....
3.3 Metode Analisis dan Pengolahan Data .
IV. GAMBARAN UMUM PENELITIAN ..........
V. HASIL DAN PEMBAHASAN .
VI. KESIMPULAN DAN SARAN ..
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Indonesia merupakan negara agraris karena sektor pertanian memegang
peranan yang sangat penting dari keseluruhan perekonomian nasional
karena pertanian merupakan salah satu sumber devisa bagi negara. Hal
tersebut juga didukung oleh orientasi pembangunan pertanian yang
berorientasi pada ketahanan pangan. Pembangunan pertanian juga
diharapkan dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi, serta
memperluas lapangan kerja, meningkatkan devisa negara melalui ekspor
produk pertanian.
Pembangunan nasional dewasa ini menempatkan sektor pertanian sebagai
prioritas utama dalam pemabangunan. Pembangunan pertanian sebagai
bagian dari pembangunan nasional adalah pembangunan yang
berkelanjutan dan berwawasan nasional yang diarahkan pada
perkembangan pertanian yang maju, efisien dan tangguh yang bertujuan
meningkatkan produksi, meningkatkan pendapatan dan taraf hidup petani,
memperluas kesempatan berusaha serta mengisi dan memperluas pasar
serta dapat membantu dalam mengatasi ketahanan pangan nasional.
Sayuran merupakan salah satu komoditas penting dalam mendukung
ketahanan pangan nasional. Komoditas ini memiliki keragaman yang luas
dan berperan sebagi sumber karbohidrat, protein nabati, vitamin dan
mineral yang bernilai ekonomi tinggi. Oleh sebab itu tanaman
holtikultura memiliki prospek yang cukup baik untuk kedepannya dalam
dunia perdagangan dan peningkatan ketahanan pangan.

Kacang panjang merupakan salah satu jenis sayuran yang banyak


dibudidayakan diindonesia. Dan tanaman ini merupakan tanaman semak
menjalar, semusim dengan tinggi kurang lebih 2,5 m. Batang tanaman ini
tegak, silindris, lunak, berwarna hijau dengan permukaan licin. Daunnya
majemuk, lonjong, dan berwarna hijau.

Buah tanaman ini berbentuk

polong, berwarna hijau, dan panjang 15-25 cm. Bijinya lonjong, pipih,
berwarna coklat muda. Akarnya tunggang berwarna coklat muda. Kacang
panjang banyak dibudidayakan diindonesia, salah satunya di lampung
tepat nya didesa susunan baru kelurahan kemiling. Kacang panjang
banyak dibudidayakan didaerah tersebut yang mengakibtakan turunnya
harga kacang panjang ditingkat petani.

Sehingga diperlukan sisem

pemasaran yang baik agar tataniaga pada produk tersebut dapat berjalan
dengan baik.
Dunia pemasaran sudah ada sejak manusia mengenal kebutuhan yang
beranekaragam.Namun dalam perjalanannya, sistem tataniaga yang ada
disekitar kita tercipta karena adanya perkembangan sistem tataniaga
terdahulu. Dahulu manusia memenuhi kebutuhannya dengan
menggunakan sistem barter atau pertukaran barang dan jasa yang memiliki
kesamaan nilai guna (kebutuhan) yang dilakukan oleh dua orang yang
memiliki tujuan akan barang dan jasa tersebut. Seiring berjalannya waktu
dan teknologi yang semakin maju, sistem tataniaga di Indonesia kususnya
mengalami perubahan yang semakin modern terlebih pada produk pokok,
yaitu produk pertanian.Ilmu terapan tataniaga produk pertanian termasuk
dalam ruang lingkup agribisnis. Dalam arti luas agribisnis didefinisikan
sebagai serangkaian kegiatan usaha yang menghasilkan produk pertanian
hingga dikonsumsi oleh konsumen. Oleh sebab itu dalam laporan ini akan
dibahas mengenai analisis tataniaga dan sistem pemasaran kacang panjang
didesa susunan baru keluraahan kemiling kota Bandar lampung.

B. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari adanya makalah mengenai penelitian tataniaga tanaman
kacang panjang di Desa Susunan Baru kelurahan Kemiling kota Bandar
Lampung ini diantaranya adalah untuk :
1. Menganalisa saluran tataniaga kacang panjang yang meliputi saluran
tataniaga yang dilakukan, serta fungsi yang dilakukan oleh masing-masing
lembaga tataniaga.
2.

Menganalisis margin tataniaga dan bagian yang diterima oleh petani serta
lembaga tataniaga kacang panjang.

3. Menganalisis efisiensi tataniaga yang terjadi di setiap saluran.

C. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari makalah penelitian tataniaga tanaman kacang panjang
di Desa Susunan Baru kelurahan Kemiling kota Bandar Lampung adalah
untuk :
1. Sebagai masukan bagi petani khususnya di Desa susunan baru, Kecamatan
kemiling dalam memahami pengaruh setiap saluran pemasaran terhadap
pendapatannya.
2. Sebagai tambahan pengetahuan dan memperluas wawasan peneliti dalam
bidang pemasaran khususnya yang berhubungan dengan pengaruh saluran
pemasaran terhadap pendapatan petani dan pedagang.
3. Sebagai sumber informasi bagi peneliti selanjutnya dan perbandingan
dalam melakukan penelitian di masa yang akan datang

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

A. Tinjauan Pustaka

a. Syarat Tumbuh
Adapaun syarat tumbuh tanaman kacang panjang adalah sebagai berikut.
Lahan yang cocok adalah sawah berpengairan teknis dengan ketinggian
tempat sekitar 600m dpl, suhu 25-35oC, pH tanah 5,5-6,5 dengan struktur
tanah yang gembur dan kaya bahan organik. Musim yang tepat untuk budidaya
kacang panjang pada musim kemarau. Iklimnya kering, curah hujan antara
600-1.500 mm/tahun (Guramalem. 2011).
Media tanam yang cocok untuk budidaya tanaman kacang panjang adalah :
a).Hampir semua jenis tanah cocok untuk budidaya kacang panjang, tetapi
yang paling baik adalah tanah Latosol/lempung berpasir, subur, gembur,
banyak mengandung bahan organik dan drainasenya baik.
b).Tanah kemasaman (pH) sekitar 5,5-6,5. Bila pH terlalu basa (diatas pH 6,5)
menyebabkan pecahnya nodula-nodula akar.
b. Persiapan Lahan
1) Pembentukan bedengan
Lahan dibersihkan dari rumput-rumput liar, dicangkul/dibajak sedalam 30
cm hingga tanah menjadi gembur. Buat parit keliling, biarkan tanah
dikeringkan selama 15-30 hari. Setelah 30 hari buatlah bedengan dengan

kuran lebar 60-80 cm, jarak antara bedengan 30 cm, tinggi 30 cm, panjang
tergantung lahan. Untuk sistem guludan lebar dasar 30-40 cm dan lebar atas
30-50 cm, tinggi 30 cm dan jarak antara guludan 30-40 cm.
2) Pengapuran
Pengapuran dilakukan jika pH tanah lebih rendah dari 5,5 dengan dosis
tergantung kemasaman tanah. Berikan kapur pertanian dalam bentuk kalsit,
dolomit, atau zeagro sebanyak 1-2 ton/ha tergantung dari pH awal dan jumlah
Alumunium. Kapur dicampur secara merata dengan tanah pada kedalaman 30
cm.
c. Pembibitan
Benih kacang panjang yang baik dan bermutu adalah yang memiliki
penampilan bernas/berisi, memiliki ukuran yang seragam dan normal, daya
kecambah tinggi di atas 85%, tidak rusak/cacat, tidak mengandung wabah
hama dan penyakit. Keperluan benih untuk 1 hektar antara 15-20 kg. Benih
tidak usah disemaikan secara khusus, tetapi benih langsung tanam pada lubang
tanam yang telah disiapkan.
d. Penanaman
Pembuatan jarak lubang tanam untuk tipe merambat adalah 20 x 50 cm, 40 x
60 cm, 30 x 40 cm. Dan jarak tanam tipe tegak adalah 20 x 40 cm dan 30 x 60
cm. Kedalaman lubang tanam jangan terlalu dalam karena bisa menghambat
pertumbuhan benih, cukup benih bisa tertutup oleh tanah saja sekitar 5 cm.
Benih yang dimasukkan dalam lubang tanam cukup 2 biji saja. Waktu tanam
yang baik adalah awal musim kemarau/awal musim penghujan, tetapi dapat
saja sepanjang musim asal air tanahnya memadai.

e.Pemupukan

1. Pupuk Dasar
Kacang panjang tipe merambat: Urea 150 kg + TSP 100 kg + 100 kg/ha.
Kacang panjang tipe tegak: Urea 22,5 kg + TSP 45 kg + KCl 45 kg/ha.
Kacang hibrida: 85 kg Urea + 310-420 kg TSP + 210 kg KCl/ha. Pupuk
diberikan di dalam lubang pupuk yang terletak di kiri-kanan lubang tanam.
Jumlah pupuk yang diberikan untuk satu tanaman tergantung dari jarak
tanam.
2. Pupuk Susulan
Pupuk susulan tanaman kacang panjang tipe merambat, diberikan 4 minggu
setelah tanam, pupuk berupa urea 150 kg/ha. Sedangkan pupuk susulan untuk
kacang panjang tipe tegak diberikan 4 minggu setelah tanam, pupuk berupa
urea 85 kg/ha.
3. Pengairan
Pada fase awal pertumbuhan benih hingga tanaman muda, penyiraman
dilakukan rutin tiap hari. Pengairan berikutnya tergantung musim.
f. Hama dan Penyakit
a) Lalat kacang (Ophiomya phaseoli Tryon)
Gejala: terdapat bintik-bintik putih sekitar tulang daun, pertumbuhan tanaman
yang terserang terhambat dan daun berwarna kekuningan, pangkal batang
terjadi perakaran sekunder dan membengkak. Pengendalian: dengan cara
pergiliran tanaman yang bukan dari famili kacang-kacangan dan penyemprotan
dengan insektisida berbahan aktif asefat dengan konsentrasi 1gr/liter.
b) Kutu daun (Aphis cracivora Koch)
Gejala: pertumbuhan terlambat karena hama mengisap cairan sel tanaman dan
penurunan hasil panen. Kutu bergerombol di pucuk tanaman dan berperan
sebagai vektor virus. Pengendalian: dengan rotasi tanaman dengan tanaman
bukan famili kacang-kacangan dan penyemprotan insektisida berbahan aktif
abamektin dengan konsentrasi 0,5ml/liter.
c) Ulat grayak (Spodoptera litura F.)

Gejala: daun berlubang dengan ukuran tidak pasti, serangan berat di musim
kemarau, juga menyerang polong. Pengendalian: dengan peraikan kultur
teknis, rotasi tanaman, penanaman serempak, perangkap hama kimiawi dan
insektisida klorpirifos dengan konsentrasi 1-2ml/liter.
d)..Penggerek biji (Callosobruchus maculatus L)
Gejala: biji dirusak berlubang-lubang, hancur sampai 90%. Pengendalian:
dengan membersihkan dan memusnahkan sisa-sisa tanaman tempat
persembunyian hama. Benih kacang panjang diberi perlakuan minyak jagung
10 cc/kg biji.
e) Ulat bunga ( Maruca testualis)
Gejala: larva menyerang bunga yang sedang membuka, kemudian memakan
polong. Pengendalian: dengan rotasi tanaman dan menjaga kebersihan kebun
dari sisa-sisa tanaman. Disemprot dengan insektisida berbahan aktif triazofos
dengan konsentrasi 1-2ml/liter.
g.Penyakit Utama Kacang Panjang
a. Antraknose
Penyebab: jamur Colletotricum lindemuthianum. Gejala: serangan dapat
diamati pada bibit yang baru berkecamabah, semacam kanker berwarna coklat
pada bagian batang dan keping biji. Pengendalian: dengan rotasi tanaman,
perlakuan benih sebelum ditanam dengan fungisida mankozeb dan
karbendazim.
b. Penyakit mozaik
Penyebab: virus Cowpea Aphid Borne Virus/CAMV. Gejala: pada daun-daun
muda terdapat gambaran mosaik yang warnanya tidak beraturan. Penyakit
ditularkan oleh vektor kutu daun. Pengendalian: dengan menggunakan benih
yang sehat dan bebas virus, disemprot dengan insektisida yang efektif untuk
kutu daun dengan bahan aktif abamektin dan tanaman yang terserang dicabut
dan dibakar.

c. Penyakit sapu
Penyebab: virus Cowpea Witches-broom Virus/Cowpea Stunt Virus. Gejala:
pertumbuhan tanaman terhambat, ruas-ruas (buku-buku) batang sangat pendek,
tunas ketiak memendek dan membentuk "sapu". Penyakit ditularkan kutu daun.
Pengendalian: sama dengan pengendalian penyakit mosaik.
d. Layu bakteri
Penyebab: bakteri Pseudomonas solanacearum E.F. Smith. Gejala: tanaman
mendadak layu dan serangan berat menyeabkan tanaman mati. Pengendalian:
dengan rotasi tanaman, perbaikan drainase dan mencabut tanaman yang mati,
dan penyemprotan fungisida bahan aktif mankozeb atau klorotalonil dengan
konsentrasi 2-3gr/liter.
h. Manfaat Kacang Panjang

Berikut adalah beberapa manfaat kacang panjang yang bisa kita dapatkan
dengan rajin mengkonsumsinya :
a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)

Mengendalikan kadar gula darah.


Mengatasi hipertensi.
Membantu memperkecil resiko terkena penyakit stroke.
Mencegah serangan jantung.
Meningkatkan fungsi organ pencernaan.
Mengurangi resiko terserang penyakit kanker.
Membantu mengatasi sembelit.

i. Panen Dan Pascapanen

Ciri-ciri kacang panjang yang siap dipanen adalah ukuran dan panjang polong
telah maksimal, mudah dipatahkan dan biji-bijinya di dalam polong tidak
menonjol. Waktu panen yang paling baik pada pagi/sore hari. Umur tanaman
siap panen 3,5-4 bulan. Cara panen pada tanaman kacang panjang cukup
memotong pangkal buahnya saja. Produksi polong muda per satuan luas dapat

mencapai minimal 2,0 ton/ha, tergantung varietasnya. Pada varietas KP-I dapat
mencapai 6,2 ton/ha dan KP-2 sebesar 2,1 ton/ha.
Selepas panen, polong kacang panjang dikumpulkan di tempat penampungan,
lalu dicuci dan ditiriskan. Kemudian menyortir atau memisahkan polong yang
baik dengan yang rusak. Untuk sasaran pasar ekspor, kriteria mutu polong
muda yaitu ukuran polong minimal 20 cm, tingkat ketuaan polong tergolong
muda, penampakan biji tidak menonjol dan warna hijau dan segar.
Untuk mempertahankan kesegaran polong, penyimpanan sementara sebelum
dipasarkan sebaiknya di tempat teduh. Penggunaan remukan es/lemari
pendingin, sedangkan polong tua disimpan di dalam kaleng dan diletakkan di
tempat yang kering dan sirkulasi udara baik.

B.Tataniaga Pertanian
Khol dan uhl (2002) mendefinisikan tataniaga sebagai suatu aktivitas bisnis
yang didalamnya terdapat aliran barang dan jasa dari titik produksi sampai ke
titik konsumen. Produksi adalah penciptaan kepuasan, proses membuat
kegunaan barang dan jasa. Kepuasan dibentuk dari proses produktif yang
diklasifikasikan menjadi kegunaan bentuk, tempat, waktu dan kepemilikan.
Pendekatan dalam tataniaga pertanian dikelompokan menjadi pendekatan
kelembagaan (institutional approach), pendekatan fungsi (fungtional approach),
pendekatan barang (the commodity approach) dan pendekatan sistem (sistim
approach).
1. Pendekatan Kelembagaan (institutional approach)
Yaitu suatu pendekatan yang menekankan untuk mempelajari pemasaran
dari segi organisasi lembaga-lembaga yang turut serta dalam proses
penyampaian barang dan jasa dari titik produsen sampai titik konsumen.
Lembaga-lembaga yang terlibat dalam proses penyampaian barang dan jasa
antara lain: produsen, pedagang besar dan pedagang pengecer.

2. Pendekatan Fungsi (fungtional approach)


Adalah mengklasifikasikan aktivitas-aktivitas dan tindakan atau
perlakuan-perlakuan ke dalam fungsi yang bertujuan untuk menyampaikan
proses penyampaian barang dan jasa. Adapun fungsi pemasaran terdiri
dari tiga fungsi pokok, yaitu:
a. Fungsi pertukaran :
- Penjualan : Mengalihkan barang ke pembeli dengan harga yang
memuaskan.
- Pembelian : Mengalihkan barang dari penjual dan pembeli dengan
harga yang memuaskan.
b. Fungsi pengadaan secara fisik
- Pengangkutan : Pemindahan barang dari tempat produksi dan atau
tempat penjualan ke tempat-tempat dimana barang
tersebut akan terpakai (kegunaan tempat).
- Penyimpanan : Penahanan barang selama jangka waktu antara
dihasilkan atau diterima sampai dijual (kegunaan waktu).
c. Fungsi pelancar
- Pembiayaan : Mencari dan mengurus modal uang yang berkaitan dengan
transaksi-transaksi dalam arus barang dari sektor
produksi sampai sektor konsumsi.
- Penanggungan risiko : Usaha untuk mengelak atau mengurangi
kemungkinan rugi karena barang yang rusak,
hilang, turunnya harga dan tingginya biaya.
- Standardisasi dan Grading : Penentuan atau penetapan dasar penggolongan
(kelas atau derajat) untuk barang dan
memilih barang untuk dimasukkan ke dalam
kelas atau derajat yang telah ditetapkan dengan
jalan standardisasi.
- Informasi Pasar : Mengetahui tindakan-tindakan yang berhubungan dengan
fakta-fakta yang terjadi, penyampaian fakta, menafsirkan
fakta dan mengambil kesimpulan akan fakta yang
terjadi.

3. Pendekatan barang (the commodity approach)


Yaitu suatu pendekatan yang menekankan perhatian terhadap kegiatan atau
tindakan-tindakan yang diperlakukan terhadap barang dan jasa yang selama
proses penyampaiannya mulai dari titik produsen sampai ke titik konsumen.
Pendekatan ini menekankan pada komoditi yang akan diamati.
4. Pendekatan Sistem (sistim approach)
Yaitu merupakan suatu kumpulan komponen-komponen yang bekerja
secara bersama-sama dalam suatu cara yang terorganisir. Suatu komponen
dari suatu sistem, mungkin merupakan suatu system tersendiri yang lebih
kecil yang dinamakan subsistem.

a.

Saluran Tataniaga

Menurut Kotler (2002), saluran tataniaga adalah serangkaian lembaga


yang melakukan semua fungsi yang digunakan untuk menyalurkan produk
dan status kepemilikannya dari produsen ke konsumen. Produsen memiliki
peranan utama dalam menghasilkan barang-barang dan sering melakukan
sebagian kegiatan pemasaran, sementara itu pedagang menyalurkan
komoditas dalam waktu, tempat, bentuk yang diinginkan konsumen. Hal ini
berarti bahwa saluran tataniaga yang berbeda akan memberikan keuntungan
yang berbeda pula kepada masing-masing lembaga yang terlibat dalam
kegiatan tataniaga tersebut.
Saluran tataniaga dari suatu komoditas perlu diketahui untuk menentukan jalur
mana yang lebih efisien dari semua kemungkinan jalur-jalur yang dapat
ditempuh.

Selain itu saluran pemasaran dapat mempermudah dalam

mencari besarnya margin yang diterima tiap lembaga yang terlibat.


Menurut Kotler dan Amstrong (2001), Saluran tataniaga terdiri dari
serangkaian lembaga tataniaga atau perantara yang akan memperlancar
kegiatan tataniaga dari tingkat produsen sampai tingkat konsumen. Tiap

perantara yang melakukan tugas membawa produk dan kepemilikannya


lebih dekat ke pembeli akhir yang merupakan satu tingkat saluran. Saluran
nol-tingkat (saluran tataniaga nol-langsung) terdiri dari produsen yang menjual
langsung ke konsumen akhir. Saluran satu-tingkat terdiri dari satu
perantara penjual, yaitu pengecer. Saluran dua-tingkat dari dua perantara,
seperti pedagang besar dan pengecer. Saluran tiga-tingkat dalam saluran
tataniaga barang konsumsi memiliki tiga perantara, yaitu pedagang besar,
pemborong dan pengecer.

b. Marjin Tataniaga

Marjin tataniaga didefinisikan sebagai perbedaan harga atau selisih harga yang
dibayar konsumen dengan harga yang diterima petani produsen atau dapat
pula dinyatakan sebagai nilai dari jasa-jasa pelaksanaan kegiatan tataniaga
sejak dari tingkat produsen sampai ke titik konsumen akhir. Kegiatan untuk
memindahkan barang dari titik produsen ke titik konsumen membutuhkan
pengeluaran baik fisik maupun materi. Pengeluaran yang harus dilakukan
untuk menyalurkan komoditi dari produsen ke konsumen disebut biaya
tataniaga.
Hammond dan Dahl (1977) menyatakan bahwa marjin tataniaga
menggambarkan perbedaan harga di tingkat konsumen (Pr) dengan
harga di tingkat produsen (Pf). Setiap lembaga pemasaran melakukan
fungsi-fungsi pemasaran yang berbeda sehingga menyebabkan perbedaan
harga jual dari lembaga satu dengan yang lainnya sampai ke tingkat
konsumen akhir. Semakin banyak lembaga pemasaran yang terlibat
semakin besar perbedaan harga antar produsen dengan harga di tingkat
konsumen.
Marjin pemasaran pada suatu saluran pemasaran tertentu dapat dinyatakan
sebagai jumlah dari marjin pada masing-masing lembaga tataniaga yang
terlibat. Rendahnya biaya tataniaga suatu komoditi belum tentu

mencerminkan efisiensi yang tinggi. Salah satu indikator yang berguna


dalam melihat efisiensi kegiatan tataniaga adalah dengan membandingkan
persentase atau bagian harga yang diterima petani (farmers share)
terhadap harga yang dibayar konsumen akhir.
Tingkat efisiensi tataniaga juga dapat diukur melalui besarnya rasio
keuntungan terhadap biaya tataniaga. Rasio keuntungan terhadap biaya
tataniaga didefinisikan sebagai besarnya keuntungan yang diterima atas
biaya tataniaga yang dikeluarkan. Semakin meratanya penyebaran rasio
keuntungan terhadap biaya maka dari segi operasional sistem tataniaga akan
semakin efisien. (Limbong dan Sitorus, 1987).

c. Pemasaran

Perkembangan dunia usaha pada dewasa ini ditandai dengan makin tajamnya
persaingan. Oleh karena itu, peranan pemasaran semakin penting dan
merupakan ujung tombak setiap perusahaan. Keberhasilan usaha suatu
perusahaan ditentukan oleh keberhasilan pemasarannya. Pemasaran
merupakan kunci keberhasilan usaha perusahaan.
Dalam pemasaran komoditi pertanian terdapat pelaku-pelaku ekonomi yang
terlibat secara langsung maupun tidak langsung. Proses pemasaran merupakan
proses yang sedang dan terus berlangsung dan membentuk suatu sistem. Suatu
sistem pemasaran tersusun atas beberapa sub-sistem yang saling berinteraksi
satu sama lain, yang sangat menentukan hasil akhir dari suatu sistem itu
sendiri.
Dalam membahas pemasaran pertanian tidak terlepas dari konsep pasar,
pemasaran dan pemasaran pertanian. Adapun pemasaran pertanian merupakan
bagian dari ilmu pemasaran pada umumnya, tetapi dianggap sebagai suatu
ilmu yang berdiri sendiri. Anggapan ini didasarkan pada karakteristik produk
pertanian serta subyek dan obyek pemasaran pertanian itu sendiri. Dalam

mendefinisikan pasar, perlu diperhatikan adanya pihak-pihak yang terlibat


dalam aktivitas pemasaran.
Pasar secara sempit didefinisikan sebagai lokasi geografis, dimana penjual dan
pembeli bertemu untuk mengadakan transaksi faktor produksi, barang, dan jasa
(Sudiyono, 2004). Pasar dalam arti modern berarti suatu proses aliran barang
dari produsen ke konsumen yang disertai penambahan guna barang baik guna
tempat, waktu, bentuk dan kepemilikan.
Berdasarkan beberapa definisi di atas, pasar dapat didefinisikan sebagai tempat
ataupun terjadinya pemenuhan kebutuhan dan keinginan dengan menggunakan
alat pemuas yang berupa barang ataupun jasa, dimana terjadi pemindahan hak
milik antara penjual dan pembeli.
Pemasaran pertanian adalah semua aktivitas perdagangan yang meliputi aliran
barang-barang dan jasa-jasa secara fisik dari pusat produksi pertanian ke pusat
konsumsi pertanian.
Tataniaga merupakan salah satu cabang aspek pemasaran yang menekankan
bagaimana suatu produksi dapat sampai ke tangan konsumen (distribusi).
Tataniaga dapat dikatakan efisien apabila mampu menyampaikan hasil
produksi kepada konsumen dengan biaya semurah-murahnya dan mampu
mengadakan pembagian keuntungan yang adil dari keseluruhsn harga yang
dibayar konsumen kepada semua pihak yang ikut serta dalam kegiatan
produksi dan tataniaga. (Rahardi, 2000).
Definisi tataniaga di atas didasarkan pada konsep inti tataniaga sebagai
berikut:
1.

Kebutuhan, keinginan, dan permintaan

2.

Produk

3.

Utilitas, nilai dan kepuasan

4.

Pertukaran, transaksi, dan hubungan

5.

Pasar

6.

Pemasaran dan pemasar.

Tataniaga sayuran, sebagai salah satu produk pertanian, masih kurang efisien,
yaitu kurang adilnya pembagian keuntungan. Hal ini tergambar dari sangat
rendahnya harga produk sayuran di tingkat pengusaha produsen sayuran,
terutama pengusaha sayuran skala kecil (petani). Untuk menanggulangi
masalah itu perlu diketahui mata rantai distribusi beserta permasalahannya.
Dalam bisnis sayuran terdapat tiga pendukung yang memegang peranan
penting dalam sistem distribusinya. Ketiganya adalah konsumen, petani, dan
pengusaha perantara. Konsumen adalah orang terakhir atau pembeli terakhir
suatu produksi sayuran. Petani adalah pengusaha yang langsung berhubungan
dengan proses produksi sayuran. Sedangkan pengusaha perantara adalah
pengusaha yang tidak berhubungan langsung dengan proses produksi sayuran,
melainkan sebagai penyalur produksi sayuran. Berikut ini beberapa pengusaha
perantara sayuran :

1. Pedagang pengumpul, yaitu pedagang yang mengumpulkan barang-barang


hasil pertanian dari petani produsen, dan kemudian memasarkannya
kembali dalam partai besar kepada pedagang lain.
2. Pedagang besar, yaitu pedagang yang membeli hasil pertanian dari
pedagang pengumpul dan atau langsung dari produsen, serta menjual
kembali kepada pengecer dan pedagang lain dan atau kepada pembeli
untuk industri, lembaga, dan pemakai komersial yang tidak menjual dalam
volume yang sama pada konsumen akhir.
3. Pedagang pengecer, yaitu pedagang yang menjual barang hasil pertanian
ke konsumen dengan tujuan memenuhi kebutuhan dan keinginan
konsumen dalam partai kecil. (Rahardi, 2000).

C.Kerangka Pikiran
Tanaman sayuran Kacang panjang merupakan salah satu komoditi
hortikultura yang memiliki peluang pasar yang cukup menjanjikan. Melalui

terjadinya peningkatan kesadaran masyarakat akan pemenuhan kebutuhan


vitamin dan mineral, maka konsumsi masyarakat terhadap sayuran terus
meningkat. Ketersediaan sayuran kacang panjang di Indonesia sangat
fluktuatif. Harga
yang terjadi di pasar pun tidak dapat di prediksi secara tepat. Jalur tataniaga
kacang panjang dinilai kurang efisien karena melibatkan banyak pedagang
perantara informasi yang tersedia untuk semua pihak masih relatif kurang,
kemudian kelemahan dalam mencari dan menentukan peluang pasar serta
belum kuatnya segmentasi pasar. Hal ini menyebabkan adanya margin atau
perbedaan harga di tingkat produsen dan di tingkat konsumen yang cukup
besar, serta tidak adanya keterpaduan harga ditingkat produsen dengan harga
di tingkat konsumen.
Analisis saluran tataniaga dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Secara
kuantitatif dilakukan dengan menghitung marjin tataniaga yang terbentuk
antara produsen dengan konsumen akhir, analisis B/C Rasio, farmers
share,dan analisis keterpaduan pasar dengan menggunakan model IMC
(Index Marketing Connection). Secara kualitatif dilakukan dengan
mendeskripsikan melalui SCP (Structure, performance, conduct), yaitu
dengan mengidentifikasi struktur, keragaan, dan tingkah laku pasar, sehingga
diketahui pola saluran pemasaran kacang panjang. Pemikiran konseptual
secara bagan dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Jumlah penduduk semakin bertambah


Kesadaran akan mengonsumsi sayuran

Ketersediaan dan harga sayuran sawi yang


fluktuatif
Perbedaan marjin harga yang relatif besar di Desa
Susunan Baru
Tidak adanya keterpaduan harga di tingkat
produsen dengan harga di tingkat konsumen

Menganalisis saluran tataniaga


Menganalisis keterpaduan pasar

Analisis
kuantitatif

Analisis kualitatif

Analisis Saluran Tataniaga


Saluran
Pendekatan SCP
(Sturcture, performance,
conduct)

Analisis B/C ratio


Analisis marjin Tataniaga
Analisis Farmers Share
Analisis Keterpaduan
pasar (Index Marketing
Connection)

Alternatif saluran pemasaran


Pasar yang terintegrasi
sempurna
Peningkatan pendapatan dan
kesejahteraan petani di Desa Susunan
Baru

III. METODE PENELITIAN

A. Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian


Lokasi penelitian dilakukan di Desa Susunan Baru kelurahan kemiling
Kecamatan Tanjung Karang Baru Kota Bandar Lampung Provinsi Lampung.
Lokasi tersebut diambil secara sengaja (purposive), penelitian ini dilakukan
atas dasar Desa Susunan Baru merupakan salah satu sentra produksi kacang
panjang di Kecamatan Tanjung Karang Kota Bandar Lampung. Pengambilan
data sampel petani dan lembaga tataniaga untuk komoditi kacang panjang
dilakukan pada tanggal 28 mei 2016.

B. Metode Penelitian dan Pengumpulan Data


Metode penentuan sampel petani dalam penelitian ini dilakukan dengan
sengaja (purposive), sampel dalam penelitian ini adalah petani sayur yang
membudidayakan tanaman kacang panjang. Jumlah responden petani terdiri
dari 12 orang, sedangkan penentuan sampel pedagang dilakukan dengan
metode snowball sampling yaitu dengan cara mengikuti arus komoditi kacang
panjang dari petani sampai konsumen. Jumlah sampel pedagang yaitu 5 orang,
yang terdiri dari 1 pedagang pengumpul dan 4 pedagang pengecer. Pemilihan
petani responden dan lembaga-lembaga pemasaran dimaksudkan untuk
memperoleh data primer dengan menggunakan kuisioner. Data primer berupa
pengamatan dan wawancara langsung kepada petani dan pedagang perantara
atau pedagang pengempul.

C. Metode Pengolahan dan Analisis Data


Terdapat dua jenis analisis data analisis kualitatif dan kuantitatif, telah
dilakukan langkah pengolahan dan analisis data. Analisis kualitatif bertujuan
untuk menganalisis saluran pemasaran, struktur pasar, keragaman dan perilaku
pasar. Analisis kuantitatif digunakan untuk menganalisis margin tataniaga,
analisis imbangan penerimaan terhadap biaya, serta analisis keterpaduan pasar.
Pada penelitian kacang panjang dilakukan analisis secara kualitatif untuk
melihat saluran pemasaran yang ada di desa penelitian dan lembaga-lembaga
pemasaran yang terlibat dalam menyalurkan komoditi kacang panjang mulai
dari produsen sampai ke pedagang pengecer yang pada akhirnya sampai ke
konsumen akhir. Alur tataniaga tersebut dijadikan dasar dalam
menggambarkan pola tataniaga. Perbedaan saluran tataniaga yang dilalui oleh
suatu jenis barang akan berpengaruh pada pembagian pendapatan yang
diterima oleh masing-masing lembaga tataniaga yang terlibat didalamnya.

Metode Analisis Data


Ada beberapa metode analisis yang digunakan untuk mendapatkan gambaran
kondisi komponen-komponen yang ada di dalamnya. Beberapa metode analisis
tersebut adalah metode analisis deskriptif, metode analisis saluran pemasaran,
metode fungsi-fungsi pemasaran, metode analisis struktur pasar, metode
analisis perilaku pasar, metode analisis marjin pemasaran, metode analisis
farmers share, serta rasio keuntungan dan biaya.

Analisis Struktur dan Prilaku Pasar


Untuk mengetahui struktur pasar kacang panjang dapat dilihat berdasarkan
saluran pemasaran yang didukung peranan fungsi-fungsinya, jumlah lembaga
pemasaran yang terlibat (penjual dan pembeli), sifat produk, kebebasan keluar
masuk pasar dan informasi harga pasar yang terjadi. Perilaku pasar kacang
panjang dianalisis dengan mengamati praktek penjualan dan pembelian,

kerjasama antar lembaga tataniaga, sistem penentuan dan pembayaran harga.


Struktur pasar dapat dilihat dengan mengetahui jumlah petani dan penjual yang
terlibat, heterogenitas produk yang dipasarkan, kondisi dan keadaan produk,
mudah tidaknya keluar masuk pasar serta perubahan informasi harga pasar.

Analisis Marjin Pemasaran


Analisis margin pemasaran untuk mengetahui tingkat efisiensi pemasaran
kacang panjang. Margin pemasaran dihitung berdasarkan pengurangan harga
penjualan dengan harga pembelian pada setiap tingkat lembaga pemasaran atau
perbedaan harga yang diterima oleh petani dengan harga yang dibayarkan oleh
konsumen. Limbong dan Sitorus (1987), menyatakan bahwa marjin
pemasaran terdiri dari dua komponen yaitu biaya dan keuntungan pemasaran
yang dapat dirumuskan secara sederhana sebagai berikut : Mi = Ci +
Keterangan :
Mi = marjin pemasaran pada lembaga ke-i
Ci = biaya pemasaran yang dikeluarkan oleh lembaga ke-i
= keuntungan yang diperoleh lembaga ke-i

Analisis Fungsi-fungsi Pemasaran


Fungsi-fungsi pemasaran dapat dilihat dari masing-masing fungsi yang
dilakukan oleh lembaga pemasaran dalam menyalurkan kacang panjang dari
produsen ke konsumen. Fungsi-fungsi pemasaran tersebut meliputi fungsi
pertukaran, fungsi fisik dan fungsi fasilitas. Analisis ini diperlukan yakni
untuk mengetahui fungsi-fungsi yang dilakukan oleh setiap lembaga
pemasaran yang terlibat, perhitungan kebutuhan biaya dan fasilitas yang
dibutuhkan. Fungsi fisik adalah kegiatan yang berhubungan dengan
kegunaan bentuk, tempat dan waktu. Fungsi fisik meliputi kegiatan
pengolahan, penyimpanan dan pengangkutan. Fungsi fasilitas adalah

kegiatan yang ditujukan untuk memperlancar kegiatan pertukaran yang mencakup


semua tindakan yang berhubngan dengan kegiatan pertukaran yang terjadi antara
produsen dan konsumen. Adapun fungsi fasilitas terdiri dari empat fungsi yaitu
standarisasi dan grading, fungsi penanggungan resiko, fungsi pembiayaan dan
fungsi informasi pasar. Fungsi pengangkutan berfungsi untuk menyediakan
barang di daerah konsumen baik menurut waktu, jumlah dan mutunya. Adanya
keterlambatan dalam pengangkutan dan jenis alat angkutan dapat menimbulkan
kerusakan dan penurunan mutu dari barang yang bersangkutan. Fungsi
standarisasi adalah suatu ukuran atau penentuan mutu suatu produk dengan
berbagai ukuran warna, bentuk, kadar air, kematangan, rasa dan kriteria lainnya.
Sedangkan grading adalah tindakan menggolongkan suatu produk menurut
standarisasi yang diinginkan oleh pembeli. Fungsi standarisasi dan grading
memberikan manfaat dalam proses pemasaran yaitu mempermudah pelaksanaan
jual-beli serta mengurangi biaya pemasaran terutama biaya pengangkutan.

Analisis Rasio Kentungan dan Biaya


Rasio keuntungan dan biaya (analisis L/C Ratio) adalah persentase keuntungan
pemasaran terhadap biaya pemasaran yang secara teknis (operasional) untuk
mengetahui tingkat efisiensinya. Untuk mengetahui penyebaran rasio keuntungan
dan biaya pada masing-masing lembaga pemasaran dapat dirumuskan sebagai
berikut: Rasio keuntungan biaya (R/C) i i L C =
Keterangan :
Li : keuntungan lembaga pemasaran
Ci : biaya pemasaran

Analisis Farmers Share


Pendapatan yang diterima petani farmers share merupakan perbandingan
persentase harga yang diterima oleh petani dengan harga yang dibayar di tingkat

konsumen akhir. Secara matematis farmers share dihitung sebagai berikut:


100%f r P Fsi x P =
Keterangan :
Fsi = Persentase yang diterima petani
Pf = Harga di tingkat petani
Pr = Harga di tingkat konsumen
Semakin mahal konsumen membayar harga yang ditawarkan oleh lembaga
pemasaran (pedagang), maka bagian yang diterima oleh petani akan semakin
sedikit, karena petani menjual komoditi pertanian dengan harga yang relatif
rendah. Hal ini memperlihatkan adanya hubungan negatif antara margin
pemasaran dengan bagian yang diterima petani. Semakin besar margin maka
penerimaan petani relatif kecil.

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN

A. Gambaran Umum Kecamatan Kemiling

1. Kondisi Wilayah
Kecamatan kemiling merupakan bagian dari salah satu kecamatan dalam
wilayah kota Bandar Lampung. Kecamatan kemiling merupakan kecamatan
hasil pemekaran dari kecamatan induknya, yaitu Tanjung Karang Barat, yang
berdasarkan pada peraturan daerah Nomor 4 tahun 2001 Tanggal 3 Oktober
2001 Tentang Pembangunan, Penghapusan dan Pemekaran Kecamatan dan
Kelurahan di Kota Bandar Lampung.
Kecamatan Kemiling merupakan bagian wilayah Kota Bandar Lampung yang
berpenduduk lebih kurang 56.375 jiwa Pada tahun 2007 dengan luas wilayah
2.765 Ha. Adapun batas wilayah Kecamatan kemiling adalah sebagai berikut:
1.Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Raja Basa
2.Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Teluk Betung Utara
3.Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Tanjung Karang Barat
4.Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Gedong Tataan Kabupaten
Pesawaran.
Secara geografis Kecamatan kemiling sebagian besar daerahnya datar sampai
dengan berombak 60%, berombak sampai dengan berbukit 25%, berbukit
sampai dengan bergunung 15%, adapun sisanya 15% merupakan wilayah
dengan ketinggian 450 meter diatas permukaan laut. Kecamatan kemiling
secara topografi mempunyai wilayah yang bergunung terutama di bagian

sebelah barat dan hampir hampir 30% dari luas wilayahnya merupakan daerah
pemukiman (Perumnas).Kecamatan Kemiling termasuk wilayah yang beriklim
tropis dengan curah hujan rata-rata 2000 mm s/d 3000 mm/tahun, dengan suhu
rata-rata 2530 C.

2. Potensi Wilayah

a.Kondisi Lahan
Kecamatan Kemiling mempunyai struktur tanah yang berwarna merah
kehitaman yang sangat cocok untuk pengembangan pertanian terutama jenis
palawija dan sayur-sayuran. Luas daerah Kecamatan Kemiling adalah seluas
kurang lebih 2.765 Hektar, yang terdiri dari 213,5 Hektar tanah sawah, 536,5
Hektar tanah kering (bukan sawah), hutan seluas 360 Hektar, areal perkebunan
seluas 577 Hektar, dan selebihnya seluas 1002,7 Hektar dipergunakan untuk
kepentingan umum dan kepentingan-kepentingan lainnya.
Berdasarkan pernyataan diatas, maka penggunaan tanah terluas adalah tanah
yang digunakan untuk kepentingan umum dan kepentingan-kepentingan lainya
seperti perumahan dan fasilitas-fasilitas lainnya yaitu seluas 1002,7 Hektar dari
luas tanah keseluruhan, kemudian tanah yang dipergunakan untuk perkebunan
seluas577 Hektar, dan 536,5 Hektar merupakan tanah kering (tanah bukan
sawah), 360 Hektar tanah yang masih berupa hutan, dan seluas 213,5 Hektar
merupakan tanah persawahan.

b.Keadaan Penduduk
Perkembangan suatu wilayah sangat dipengaruhi oleh faktor perkembanga
penduduknya. Komposisi jumlah dan perkembangan penduduk menurut jenis
kelamin di Kecamatan Kemiling selama lima tahun terakhir dinilai cukup
tinggi, hal ini terlihat pada Tabel. 1berikut :

Tabel 1. Komposisi Jumlah dan Perkembangan Penduduk Kecamatan


KemilingMenurut Jenis Kelamin Tahun 2003 2007

Tahun

Laki-Laki

Perempuan

Jumlah

2003

(jiwa)
26.664

(jiwa)
26.031

(jiwa)
52.667

2004

27.394

26.724

54.118

2005

27.772

26.979

54.751

2006

28.140

27.230

55.370

2007

28.499

27.876

56.375

Jumlah
138.469
134.840
Sumber: Monografi Kecamatan Kemiling 2007

273.281

Pada Tabel 1 diatas, terlihat bahwa jumlah penduduk yang ada di kecamatan
kemiling tahun 2003 tercatat sebanyak 52.667 jiwa, yang terdiri dari 26.664 jiwa
penduduk laki-laki dan 26.031 jiwa penduduk perempuan. Sedangkan pada tahun
2007 mengalami perkembangan sebesar 56.375 jiwa, yang terdiri dari 28.499 jiwa
penduduk laki-laki dan 27.876 jiwa penduduk perempuan. Ini berarti selama
periode 2003-2007 terjadi peningkatan jumlah penduduk sebesar 3.708 jiwa.
Tingkat kepadatan penduduk Kecamatan Kemiling dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Kepadatan Penduduk Kecamatan Kemiling Berdasarkan Luas Daerah


Tahun 2003 2007

No

Desa/Kelurahan

Luas Daerah Jumlah Pemduduk

Kepadatan

Kedaung
Sumber Agung

(km)
57,70
49,80

(jiwa)
1.236
4.309

(jiwa/Km2)
2,14
5,39

Pinang Jaya

19,50

3.438

17,63

Beringin Raya

43,90

16.386

37,33

Sumberejo

50,47

9.193

11,09

.
1
2

Kemiling permai

21,35

11.437

53,57

Langkapura

26,25

10.376

39,53

Jumlah

276,57

56.375

18,12

Dari Tabel 2. terlihat bahwa jumlah penduduk tertinggi yakni di Kelurahan


Beringin Raya sebesar 16.386 jiwa, dengan kepadatan 37,33/Kmdaerah 439
Hektar. Sedangkan Jumlah Penduduk terendah di Desa Kedaung yaitu 1.236 jiwa,
dengan luas daerah 577 Hektar. Sedangkan berdasarkankepadatan/Km, kepadatan
tertinggi di Kelurahan Kemiling Permai sebesar 53,57 jiwa/Kmdan kepadatan
terendah di Desa Kedaung yakni 2,14 jiwa/Km. Gambaran penduduk Kecamatan
Kemiling berdasarkan pada tingkat pendidikannya di dapat dilihat pada Tabel 3
berikut:
Tabel 3. Komposisi Penduduk Berdasarkan Pada Tingkat Pendidikan di
Kecamatan Kemiling Tahun 2007 (Dalam Jiwa)
Tingkat Pendidikan
Belum Sekolah
Tidak Tamat SD
Tamat SD/ Sederajat
Tamat SLTP/ Sederajat
Tamat SLTA/ Sederajat
Diploma (D1, D2, D3)
Sarjana (S1)
Jumlah
Sumber: Monografi Kecamatan Kemiling 2007

Jumlah
3.294
3.072
12.985
12.318
14.326
5.553
5.203
56.375

Tabel 3 memperlihatkan bahwa jumlah penduduk kecamatan kemiling yang


belum sekolah tahun 2007 berjumlah 3.294 jiwa, penduduk yang tidak tamat
SD berjumlah 3.072 jiwa, penduduk yang tamat SD/Sederajat berjumlah
12.985 jiwa, penduduk yang tamat SLTP/Sederajat berjumlah 12.318 jiwa,
penduduk yang tamat SLTA/Sederajat berjumlah 14.326 jiwa, tamatan
Diploma sebanyak 5.553 jiwa dan Tamatan Sarjana Sebanyak 5.203 jiwa.
Dengan melihat kenyataan tersebut, tampak adanya perbedaan yang sangat
mencolok dalam pemerataan tingkat pendidikan, hal ini bisa disebabkan karena
kurangnya fasilitas pendidikan di lingkungan kecamatan kemiling.

c.Fasilitas Sosial

Beberapa fasilitas sosial yang ada di Kecamatan Kemiling adalah fasilitas


pendidikan. Untuk mengetahui jumlah fasilitas pendidikan yang ada di
Kecamatan Kemiling dapat dilihat pada Tabel 3 dan untuk mengetahui fasilitas
umum serta pendukung lainnya yang ada di Kecamatan Kemiling dapat dilihat
pada Tabel 4.
Tabel 4 Jumlah Fasilitas Pendidikan di Kecematan Kemiling
Tahun 2003-2007
Tingkat Pendidikan
Sekolah Dasar (SD)
Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama
Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA)
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)
Madrasah Ibtidaiyah (MI)
Perguruan Tinggi (PT)
Jumlah
Sumber: Monografi Kecamatan Kemiling 2007

Jumlah
(unit)
21
16
8
7
3
1
56

Tabel 4 memperlihatkan fasilitas pendidikan yang ada di kecamatan kemiling


yaitu Sekolah Dasar (SD) sebanyak 21 sekolah; Sekolah Lanjutan
TingkatPertama (SLTP) sebanyak 16 SLTP; Sekolah Lanjutan Tingkat Atas
(SLTA) sebanyak sebanyak 8 sekolah; Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)
sebanyak 7SMK; kemudian Madrasah Ibtidaiyah (MI) berjumlah 3 sekolah,
sedangkan Perguruan Tinggi (PT) di kecamatan kemiling hanya berjumlah 1
perguruan tinggi.

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Identitas Petani Responden

1. Petani
Karakteristik antara satu dengan petani yang lain tidak banyak berbeda.
Berikut merupakan penjelasan beberapa petani yang telah kami wawancarai.
1. Responden Pertama
Responden pertama bernama Khoirul.Bertempat tinggal di desa Susunan
Baru, Kelurahan Kemiling,Bandar lampung.Luas lahan usaha yang
dimilikinya mencapai 0,75 Ha, dan keseluruhan lahan tersebut digunakan
untuk menanam kacang panjang. Modal yang dimiliki Khoirul adalah Rp
4.500.000.Modal tersebut berasal dari Khoirul sendiri, dikarenakan ia tidak
meminjam modal kepada pihak lain.Produksi kacang panjang yang
dihasilkan secara kesuluruha oleh pak Khoirul dalam satu musim tanam
mencapai 9000 kg.Pak Khoirul memasarkan hasil produksinya ke pedagang
pegumpul dengan harga Rp 1500/ikat dan pedagang mendatangi produsen
dengan harga Rp 2500/ikat. Cara pembayaran dilakukan secara
tunai.Ongkos pemasarannya sebesar Rp. 35.000 yang digunakan untuk
membeli bensin.Hambatan yang dialami Bapak Khoirul dalam memasarkan
hasil produksinya ke pasar ialah jika musim panen serempak akan
mengakibatkan rendahnya harga jualnya, karena barang mudah ditemukan.
2. Responden Kedua
Responden kedua bernama Bapak Yaqub.Bertempat tinggal di desa Susunan
Baru, Kelurahan Kemiling,Bandar lampung.Luas lahan usaha yang

dimilikinya mencapai 0,25 Ha yang keseluruhan digunakan untuk menanam


kacang panjang. Modal awal pembiayaan usahatani berasal dari Bapak
Yaqub sendiri yaitu sebesar Rp 2.750.000
Produksi kacang panjang yang dihasilkan Bapak Yaqub dalam satu musim
tanam mencapai 4500 kg. Dalam peasaran hasil produksiBapak Yaqub
memasarkan hasil produksinya ke pedagang pengumpul dengan harga Rp
1500/ikat.Dengan cara pembayaran dilakukan yaitu secara tunai.Ongkos
dalam melakukan pemasarannya sebesar Rp. 30.000 yang digunakan untuk
membeli bensin. Hambatan yang dialami bapak Yaqub dalam memasarkan
hasil produksinya ke pasar ialah ketika musim panen di daerah itu seragam,
maka ia kesulitan mendapatkan pedagang untuk membeli barang
dagangannya.
3. Responden Ketiga
Responden ketiga bernama Surtono.Bertempat tinggal di desa Susunan
Baru, Kelurahan Kemiling,Bandar lampung.Luas lahan usaha yang
dimilikinya mencapai 0,25 Ha yang keseluruhan lahan tersebutdigunakan
untuk menanam kacang panjang. Modal yang dimiliki bapak Surtono Rp
5.000.000.Modal tersebut berasal dari Bapak Surtono sendiri.Produksi
kacang panjang yang dihasilkan Bapak Surtono dalam satu musim tanam
mencapai 4500 kg.Bapak Surtono memasarkan hasil produksinya ke
pedagang pengumpul dengan harga Rp 1500/ikat.Cara pembayaran yang
dilakukan yaitu secara tunai. Dengan ongkos pemasarannya sebesar Rp
40.000 yang digunakan untuk membeli bensin. Hambatan yang dialami
Bapak Surtono dalam memasarkan hasil produksinya ke pasar ketika hasil
produksi tidak optimal karena terserang hama, Pak Surtono sulit
memasarkan produksi kacang panjangnya.
4. Responden Keempat
Responden keempat bernama Bapak Misyanto.Bertempat tinggal di
desaSusunan Baru, Kelurahan Kemiling,Bandar lampung.Luas lahan usaha
yang dimilikinya mencapai 0,5 Ha yang keseluruhan digunakan untuk

menanam kacang panjang. Modal awal pembiayaan usahatani berasal dari


Bapak Misyantosendirisebesar Rp 6.000.000.
Hasil produksi Bapak Misyanto sebesar 7500 kg. Bapak
Misyantomemasarkan hasil produksinya kepada pedangang pengumpul
dengan harga Rp 1500/ikat dan pedangang mendatangi produsen dengan
harga yang sama.Cara pembayaran secara tunai. Ongkos pemasaran Rp
30.000 untuk membeli bensin. Tidak ada hambatan yang dialami Bapak
Misyanto dalam melakukan pemasaran hasil produksinya, karenaBapak
Misyanto sudah memiliki pelanggan tetap yagn akan membeli kacang
panjang miliknya.
5. Responden Kelima
Responden kelima bernama Wagiman.Bertempat tinggal di desa Susunan
Baru, Kelurahan Kemiling, Bandar lampung.Luas lahan usaha yang
dimilikinya mencapai 0,5 Ha, yang keseluruhan lahan tersebut digunakan
untuk menanam kacang panjang. Modal yang dimiliki pak Wagiman
sebesar Rp 7.000.000 dengan rincian Rp 2.000.000 meminjam ke tetangga
dan Rp 5.000.000 modal sendiri.
Produksi kacang panjang yang dihasilkan Bapak Wagiman dalam satu
musim tanam mencapai 7000 kg.Bapak Wagimanmemasarkan hasil
produksinya ke pedagang pengumpul dengan harga Rp.1500/ikat dan ke
konsumen akhir dengan harga Rp.3500/ikat.Cara pembayaran secara tunai.
Cara penjualan secara borongan untuk pedangan pengumpul dan per ikat
kepada konsumen akhir. Ongkos pemasarannya sebesar Rp. 30.000 yang
digunakan untuk membeli bensin.Hubungan dengan pedagang adalah
langganan. Hambatan yang dialami Bapak Wagiman dalam memasarkan
hasil produksinya ke pasar yaitu harga yang murah.
6. Responden Keenam
Responden keenam bernama Borim.Bertempat tinggal di desa Susunan
Baru, Kelurahan Kemiling,Bandar lampung.Luas lahan usaha yang
dimilikinya mencapai 0,25 Ha yang seluruhnya digunakan untuk menanam

kacang panjang.Bapak Borim mulai berusaha pada tahun 2010. Modal yang
dimiliki pak Panjul sebesar Rp 4.000.000 modal sendiri.
Produksi kacang panjang yang dihasilkan Bapak Borim dalam satu musim
tanam mencapai 5000 kg.Bapak Borim memasarkan hasil produksinya ke
pedagang pengecer dengan harga Rp 1000/ikat.Cara pembayaran hasil
produksi yang dilakukan yaitu secara tunai. Dengan penjualan secara
borongan. Ongkos dalam melakukan pemasarannya sebesar Rp. 50.000
yang digunakan untuk membeli bensin.Hubungan dengan pedagang adalah
bebas pedagang yang membeli. Hambatan yang dialami yaitu ketika hujan
maka kacang panjang yang diantarkan akan menghambat perjalanan
sehingga tingkat kesegaran kacang panjang menrun.
7. Responden Ketujuh
Responden ketujuh bernama Yono.Bertempat tinggal di desa Susunan Baru,
Kelurahan Kemiling,Bandar Lampung.Luas lahan usaha yang dimilikinya
mencapai 0,5 ha yang digunakan untuk menanam kacang panjang.Bapak
Yono mulai berusaha pada tahun 2012. Modal yang dimiliki pak Yono
sebesar Rp 6.500.000.
Produksi kacang panjang yang dihasilkan Bapak Yono dalam satu musim
tanam mencapai 8000 kg.Bapak Yono memasarkan hasil produksinya ke
pedagang pengumpuldengan harga Rp 1500/ikat.Cara pembayaran secara
tunai. Cara penjualan secara borongan. Ongkos pemasarannya sebesar Rp.
50.000 yang digunakan untuk membeli bensin.Hubungan dengan pedagang
adalah langganan. Hambatannya dalam menjalankan dalam usaha tersebut
yaitu cuaca. Karena cuaca dapat mengurangi hasil produksi dari kacang
panjang tersebut dan produk yang dihasilkan kualitas nya menurun.
8. Responden Kedelapan
Responden kedelapan bernama Warto.Bertempat tinggal di desa Susunan
Baru, Kelurahan Kemiling,Bandar lampungLuas lahan usaha yang
dimilikinya mencapai 0,5 Ha. Pak Warto mulai berusaha pada tahun 2011.
Modal yang dimiliki pak Warto adalah sebesar Rp 7.500.000 modal sendiri.

Produksi kacang panjang yang dihasilkan Bapak Warto dalam satu musim
tanam mencapai 7000 kg.Bapak Wartomemasarkan hasil produksinya ke
pedagang pengumpul dengan harga Rp 1500/ikat.Cara pembayaran secara
tunai. Cara penjualan secara borongan. Ongkos pemasarannya sebesar Rp.
20.000 yang digunakan untuk membeli bensin.Hubungan dengan pedagang
adalah langganan.Hambatannya yaitu sarana transportasi yang kurang baik.
Sehingga dalam melakukan pemasarannya mengalami kesulitan.
9. Responden Kesembilan
Responden kesembilan bernama Karsiman.Bertempat tinggal di desa
Susunan Baru, Kelurahan Kemiling,Bandar lampung.Dengan Luas lahan
usaha yang dimilikinya mencapai 0,25 Ha yang keseluruhan lahan yang
dimiliki digunakan untuk menanam kacang panjang. Pak Karsiman mulai
berusaha pada tahun 2009. Modal yang dimiliki pak Karsiman adalah
sebesar Rp 3.750.000 modal sendiri.
Produksi kacang panjang yang dihasilkan Bapak Karsiman dalam satu
musim tanam mencapai 5000 kg.Bapak Karsiman memasarkan hasil
produksinya ke pedagang pengumpul dengan harga Rp 1500/ikat. Cara
pembayaran yang dilakukan secara tunai. Dan cara penjualannya yaitu
secara borongan. Ongkos pemasarannya sebesar Rp. 50.000.Hubungan
bapak karsian dengan pedagang adalah langganan. Sehingga dalam
melakukan pemasarannya tidak megalami hambatan.
10. Responden Kesepuluh
Responden kesepuluh bernama Sodiqin.Bertempat tinggal di desa Susunan
Baru, Kelurahan Kemiling,Bandar lampung.Luas lahan usaha yang
dimilikinya mencapai 0,25 Ha yang keseluruhan lahan yang dimiliki
digunakan untuk menanam kacang panjang. Pak Sodiqin mulai berusaha
pada tahun 2011. Modal yang dimiliki pak Sodiqin adalah sebesar Rp
4.500.000 modal sendiri.

Produksi kacang panjang yang dihasilkanBapak Sodiqin dalam satu musim


tanam mencapai 5000 kg.Bapak Sodiqin memasarkan hasil produksinya ke
pedagang pengumpul dengan harga Rp 1500/ikat. Cara pembayaran secara
tunai. Cara penjualan secara borongan. Ongkos pemasarannya sebesar Rp.
40.000.Hubungan dengan pedagang adalah langganan.
11. Responden Kesebelas
Responden kesebelas bernama Yusuf.Bertempat tinggal di desa Susunan
Baru, Kelurahan Kemiling Bandar lampung.Luas lahan usaha yang
dimilikinya mencapai 0,5 Ha yang keseluruhan lahan yang dimiliki
digunakan untuk menanam kacang panjang. Pak Yusuf mulai berusaha pada
tahun 2000. Modal yang dimiliki pak Yusuf adalah sebesar Rp 5.000.000
modal sendiri.
Produksi kacang panjang yang dihasilkan Bapak Yusuf dalam satu musim
tanam mencapai 7000 kg.Bapak Yusuf memasarkan hasil produksinya ke
pedagang pengumpul dengan harga Rp 1500/ikat.Dan memasarkan ke
pedagang dengan harga Rp 2500/ikat. Cara pembayaran secara tunai. Cara
penjualan secara borongan. Ongkos pemasarannya sebesar Rp. 20.000 yang
digunakan untuk membeli bensin.Hubungan dengan pedagang adalah
langganan. Hambatannya yaitu sarana transportasi yang kurang baik.
12. Responden Keduabelas
Responden keduabelas bernama Tumiar.Bertempat tinggal di desa Susunan
Baru, Kelurahan Kemiling,Bandar lampung.Luas lahan usaha yang
dimilikinya mencapai 0,25 Ha yang keseluruhan lahan yang dimiliki
digunakan untuk menanam kacang panjang. Pak Tumiar mulai berusaha
pada tahun 2000. Modal yang dimiliki pak Tumiar adalah sebesar Rp
7.500.000 modal sendiri.
Produksi kacang panjang yang dihasilkan Bapak Tumiar dalam satu musim
tanam mencapai 5000 kg.Bapak Tumiar memasarkan hasil produksinya ke
pedagang pengumpul dengan harga Rp 1000/ikat. Cara pembayaran secara
tunai. Cara penjualan secara borongan. Ongkos pemasarannya sebesar Rp.

20.000 yang digunakan untuk membeli bensin.Hubungan dengan pedagang


adalah langganan. Hambatannya yaitu sarana transportasi yang kurang baik.

B. Karakteristik Pedagang Responden

1. Pedagang Pengumpul
Penelitian selanjutnya dilakukan dengan mengajukan beberapa pertanyaan
kepada pedagang pengumpul, yang hasilnya adalah Pedagang pengumpul
bernama Warsito.Bertempat tinggal di Jl. Imam Bonjol, Kabupaten
Kemiling,Bandar lampung.Bapak Warsito menjual jenis sayuran seperti
tomat dan kacang panjang yang didapat dari membeli ke petani secara
langsung. Besarnya modal yang dimiliki Bapak Warsito adalah Rp
60.000.000 dengan rincian Rp 30.000.000 modal sendiri dan Rp 30.000.000
modal pinjaman.Dia membeli kacang panjang dari petani seharga
Rp.1500/ikat dengan harga jual Rp.2500/ikat ke pedagang pengecer.Biaya
pemasaran beli dari petaniRp 30.000.Tidak ada perlakuan terhadap produk
yang dijualnya.
Tenaga kerja dalam keluarga 2 orang, dan ia menggunakan tenaga kerja luar
keluarga 8 orang, dengan upah tenaga kerja Rp. 40.000/hari. Cara
pembayaran produk yang dibeli dan dijual secara tunai. Alat transportasi
yang digunakan adalah mobil pick up milik sendiri, dengan biaya angkut Rp.
30.000/angkutuntuk pembayaran bensin.Tidak ada hambatan dalam memilih
pembeli atau penjual karena pedagang pengumpul bebas dalam memilih
pembeli dan penjual. Cara menetapkan harga ditentukan dengan cara tawar
menawar.
2. Pedagang Pengecer
Penelitian selanjutnya dilakukan dengan mengajukan beberapa pertanyaan
kepada pedagangpengecer, yang hasilnya antara lain :
1. Pedagang Pengecer Pertama

Pedagang pengecer pertama bernama Yadiman.Bertempat tinggal di desa


Susunan Baru, Kabupaten Kemiling,Bandar lampung.Lokasi usaha pasar
Susunan Baru Bapak Yadiman menjual jenis sayuran seperti kacang
panjang, kangkung, cabai dan bayam yang didapat dari membeli ke
pedagang besar. Besarnya modal yang dimiliki Bapak Yadiman adalah Rp
50.000.000 dengan rincian Rp 20.000.000 modal sendiri dan 30.000.000
modal pinjaman.Dia membeli kacang panjang dari pedagang besar seharga
Rp. 2.500/ikat dengan harga jual Rp. 3.500/ikat ke konsumen akhir.Biaya
pemasaran beli dari pedagang besar Rp 30.000.Tidak ada perlakuan
terhadap produk yang dijualnya.
Tenaga kerja dalam keluarga 2 orang. Cara pembayaran produk yang dibeli
dan dijual secara tunai. Alat transportasi yang digunakan adalah mobil pickup milik sendiri, dengan biaya angkut Rp. 30.000/angkutuntuk pembayaran
bensin. Tidak ada hambatan, karena sudah banyak pedang pengecer bebas
memilih pembeli atau penjual. Cara menetapkan harga jual yaitu ditentukan
oleh penjual.
2. Pedagang Pengecer Kedua
Pedagang pengecer kedua bernama Sulardi.Bertempat tinggal di desa
Jatimulyo, Kecamatan Jati Agung, Bandar lampung. Lokasi usaha pasar
Jatimulyo. Bapak Sulardi menjual jenis sayuran seperti sawi, kangkung,
kacang panjang dan bayam yang didapat dari membeli ke pedagang besar.
Besarnya modal yang dimiliki Ibu Bunder adalah Rp 50.000.000 dengan
rincian Rp 20.000.000 modal sendiri dan Rp.30.000.000 modal
pinjaman.Dia membeli kacang panjang dari pedagang besar seharga Rp.
2.500/ikatdengan harga jual Rp. 3.500/ikat ke konsumen akhir.Biaya
pemasaran beli dari pedagang besar Rp 20.000 dan biaya pemasaran jual ke
konsumen akhir Rp. 20.000. Tidak ada perlakuan terhadap produk yang
dijualnya.
Tenaga kerja dalam keluarga 2 orang. Cara pembayaran produk yang dibeli
dan dijual secara tunai. Alat transportasi yang digunakan adalah motormilik
sendiri, dengan biaya angkut Rp. 20.000/angkutuntuk pembayaran

bensin.Tidak terdapat hambatan, karena sudah merupakan langganan. Cara


menetapkan harga jual yaitu ditentukan dengan cara tawar menawar.
3. Pedagang Pengecer Ketiga
Pedagang pengecer ketiga bernama Inah.Bertempat tinggal di desa Susunan
Baru, Kabupaten Kemiling, Bandar Lampung. Lokasi usaha pasar Way
kandis Ibu Inah menjual jenis sayuran seperti kacang panjang, kangkung
dan bayam yang didapat dari membeli ke pedagang besar. Besarnya modal
yang dimiliki Ibu Inah adalah Rp 50.000.000 dengan rincian Rp 20.000.000
modal sendiri dan Rp. 30.000.000 modal pinjaman.Ibu Inah membeli
kacang panjang dari pedagang besar seharga Rp. 2.500/ikat dengan harga
jual Rp. 3.500/ikat ke konsumen akhir. Biaya pemasaran beli dari pedagang
besar dan menjual ke konsumen sebesar Rp 50.000.Tidak ada perlakuan
terhadap produk yang dijualnya.
Tenaga kerja dalam keluarga 2 orang.Cara pembayaran produk yang dibeli
dan dijual secara tunai. Alat transportasi yang digunakan adalah mobilpickup milik sendiri, dengan biaya angkut Rp. 50.000/angkutuntuk pembayaran
bensin.Ada hambatan, karena jika sayur-sayuran tidak terjual semua maka
pedang akan rugi. Cara menetapkan harga jual yaitu dilakukan dengan cara
tawar menawar.
4. Pedagang Pengecer Keempat
Pedagang pengecer keempat bernama Sugi.Bertempat tinggal di desa
Susunan Baru, Kelurahan Kemiling, Bandar Lampung.Lokasi usaha pasar
Way Kandis Ibu Sugi menjual jenis sayuran seperti kacang panjang, sawi,
kangkung, slada dan bayam yang didapat dari membeli ke pedagang besar.
Besarnya modal yang dimiliki Ibu Nani adalah Rp 60.000.000 dengan
rincian Rp 30.000.000 modal sendiri dan Rp. 30.000.000 modal
pinjaman.Dia membeli kacang panjang dari pedagang besar seharga Rp.
2500/ikat dengan harga jual Rp. 3.500/ikat ke konsumen akhir.Biaya
pemasaran beli dari pedagang besar Rp50.000. Tidak ada perlakuan
terhadap produk yang dijualnya.

Tenaga kerja dalam keluarga 1 orang.Cara pembayaran produk yang dibeli


dan dijual secara tunai. Alat transportasi yang digunakan adalah mobil pickupsendiri, dengan biaya angkut Rp.50.000/angkutuntuk pembayaran bensin.
Tidak terdapat hamabatan, karena saat pedagang pengecer membeli produk
kacang panjang ke produsen, Ibu Sugi membeli pada produsen yang telah
menjadi langganan. Cara menetapkan harga jual yaitu dengan cara tawar
menawar antara produsen dengan pedagang pengecer.
C. Saluran Tataniaga

Saluran tataniaga adalah serangkaian lembaga yang melakukan semua fungsi yang
digunakan untuk menyalurkan produk dan status kepemilikannya dari produsen ke
konsumen. Saluran atau jalur distribusi produsen kacang panjang yang dipakai oleh
petani kacang panjang berbeda-beda satu sama lain. Pengalihan produk bisa terjadi
secara langsung maupun tidak langsung. Pasar yang berada di sekitar daerah
kemiling dan pasar tempel didaerah rajabasa adalah tujuan dari distribusi kacang
panjang. Perantara yang terlibat dalam pendistribusikan kacang panjang tidak selalu
sama. Semakin baik saluran yang dipilih maka semakin efektif dan juga efisien
pendistribusian kacang panjangnya.
Saluran tataniaga yang terdapat di Desa Susunan Baru dapat dilihat pada gambar
dibawah ini.Pada gambar tersebut terlihat bahwa terdapa tiga saluran tataniaga
kacang panjang di Desa Susunan baru, yaitu :

1. Petani

Pedagang Pengumpul

2. Petani

Pedagang Pengumpul

3. Petani

Pedagang Pengecer

Pedagang Pengecer

Konsumen

Konsumen
Konsumen

PETANI PRODUSEN

PEDAGANG PENGUMPUL

PEDAGANG PENGECER

KONSUMEN

D. Lembaga dan Fungsi-Fungsi Tataniaga


Lembaga tataniaga yang ditemukan di lokasi penelitian adalah pedagang
pengumpul dan pedagang pengecer. Dari wawancara yang telah dilakukan,
produsen biasanya lebih memilih menjual kacang panjang hasil usahataninya
ke pengumpul untuk mengurangi biaya transportasi atau pengangkutan.
Selain itu, pengumpul juga menurunkan ketidakpastian terjualnya hasil
usahataninya. Pelaku tataniaga dapat menjual produknya secara langsung
maupun tidak langsung ke konsumen.
Saluran distribusi pada sayur kacang panjang sangat dibutuhkan untuk
memenuhi permintaan para konsumen di berbagai tempat. Tanpa adanya
saluran distribusi maka konsumen akan sulit menemukan kacang panjang dan
produsen akan sulit untuk memasarkan produknya. Proses distribusi pada
umumnya digunakan untuk mencipatakan kegunaan bentuk waktu dan
tempat.

E. Struktur Pasar
Struktur pasar adalah berbagai hal yang dapat mempengaruhi tingkah laku
dan kinerja perusahaan dalam pasar, antara lain jumlah perusahaan dalam
pasar, skala produksi, dan jenis produksi. Suatu struktur pasar dikatakan
kompetitif jika perusahaan tersebut tidak mempunyai kemampuan untuk
mempengaruhi harga dan jumlah barang di pasar.Semakin lemah kemampuan
perusahaan untuk mempengaruhi pasar, semakin kompetitif struktur
pasarnya.Struktur pasar pada tataniaga kacang panjang adalah pasar
oligopsoni. Hal ini dikarenakan jumlah lembaga tataniaga kacang panjang

tidak sebanding dengan jumlah petani. Jumlah petani lebih banyak


dibandingkan jumlah pedagang. Sedikitnya jumlah pedagang menyebabkan
harga lebih banyak ditentukan oleh pedagang pengumpul, sehingga petani
hanya bertindak sebagai price taker akibat posisi tawar yang lemah walaupun
dalam proses transaksi dilakukan secara tawar-menawar. Petani dalam hal ini
belum mampu menghitung keuntungan yang dia peroleh jika melakukan
penjualan sendiri ke pasar atau dengan adanya kendala modal yang relatif
lebih besar jika melakukan penjualan sendiri.

F. Perilaku Pasar
Perilaku pasar dapat diketahui dengan melakukan pengamatan terhadap
perilaku lembaga pemasaran yaitu praktek pembelian dan penjualan.
Kemudian proses penentuan dan pembentukan harga, pembayaran serta
kerjasama diantara berbagai lembaga tataniaga. Masing-masing bagian
tersebut akan diuraikan sebagai berikut.
a. Praktek Penentuan Harga
Pada kegiatan penentuan harga kacang panjang di lokasi penelitian, antara
pedagang pengumpul I dan pedagang pengumpul II didasarkan pada harga
yang berlaku di pasaran dan proses tawar-menawar, dimana pedagang
memperoleh informasi harga dari sesama pedagang pengumpul dan
pedagang pengecer. Proses terjadinya harga yaitu seorang pedagang yang
akan memborong kacang panjang akan menghubungi pedagang pengecer
melalui telepon untuk mengetahui harga yang bersedia diterima oleh
pedagang pengecer. Setelah itu pedagang pengumpul mengadakan
kesepakatan harga dengan petani. Pencapaian kesepakatan harga tidak
terlalu sulit dan memakan waktu yang tidak lama karena terbatasnya
informasi harga yang sampai pada petani sehingga petani cenderung
sebagai penerima harga (price taker).

kacang panjang merupakan komoditi sayuran yang tingkat fluktuasi


harganya tinggi. Fluktuasi harga sangat tergantung pada penawaran dan
permintaan kacang panjang di pasar. Harga kacang panjang dapat berubah
setiap harinya bahkan dalam hari yang sama dapat terjadi perubahan harga
kacang panjang. Harga kacang panjang pada pagi hari cukup tinggi,
kemudian siang hari terjadi penurunan sampai pada sore harinya harga
kacang panjang lebih rendah lagi. Hal ini dapat mengakibatkan kerugian
baik kepada produsen maupun pedagang, karena mereka tidak dapat
memperkirakan harga dengan baik.
b. Sistem Pembayaran
sistem pembayaran yang dilakukan oleh lembaga tataniaga kacang
panjang yaitu ,sistem pembayaran tunai, dimana pedagang memiliki modal
awal yang memadai sehingga mampu membayar tunai kepada petani di
tempat transaksi penjualan kacang panjang tersebut.
c. Kerjasama Antar Lembaga Tataniaga
Kerjasama telah dilakukan oleh lembaga tataniaga dalam pendistribusian
kacang panjang dari produsen dan konsumen. Lembaga pemasaran
melakukan kerjasama atas dasar lamanya mereka melakukan hubungan
dagang atau langganan dan rasa saling percaya, namun pada penetapan
harga tetap didasarkan pada mekanisme pasar atau besarnya permintaan
dan penawaran.

G. Keragaan Pasar (Market Performance)


Keragaan pasar menunjukkan sampai sejauh mana pengaruh riil struktur dan
perilaku pasar yang berkenaan dengan harga, biaya dan volume produksi.
Keragaan pasar juga dapat diidentifikasi melalui penggunaan teknologi dalam
pemasaran, efisiensi penggunaan sumberdaya dan penghematan pembiayaan
sehingga mencapai keuntungan maksimum.
Proses pemasaran kacang panjang di Desa Susunan Baru sudah menggunakan

teknologi, seperti teknologi transportasi dan teknologi telekomunikasi. Alat


transportasi yang digunakan dalam pemasaran kacang panjang adalah pick
up, sedangkan teknologi telekomunikasi yang digunakan adalah telepon
seluler. Teknologi telekomunikasi ini dapat menunjang kelancaran pemasaran
kacang panjang diantara lembaga pemasaran.
Efisiensi penggunaan sumberdaya sudah dilakukan oleh pedagang pengecer,
pada saluran pemasaran I antara lain dengan memilih cara melakukan
pembelian kacang panjang dari pedagang pengepul dari pada langsung dari
petani. Pedagang pengecer lebih menguntungkan membeli kacang panjang
dari pedagang Pengepul karena pedagang pengepul tesebut sudah
menyediakan kacang panjang dalam satuan ikat yang akan dibeli oleh
pedagang pengecer.

H. Analisis Efisiensi Tataniaga Kacang Panjang


1. Margin Tataniaga
Analisis marjin pemasaran dengan menggunakan pendekatan serba barang
(Commodity Approach) digunakan untuk melihat tingkat efisiensi teknik
pemasaran di Desa Susunan Baru. Marjin pemasaran merupakan
penjumlahan dari seluruh biaya pemasaran yang dikeluarkan dan
keuntungan yang diambil oleh lembaga pemasaran selama proses
penyaluran komoditas dari satu lembaga pemasaran ke lembaga pemasaran
lainnya. Marjin juga merupakan imbalan jasa yang diterima oleh lembaga
pemasaran yang dilalui sehingga pada akhirnya didistribusikan oleh
pedagang pengecer di tingkat konsumen akhir. Penghitungan marjin
meliputi biaya pemasaran dan keuntungan lembaga yang terlibat. Besarnya
marjin pada setiap pola saluran pemasaran dapat dilihat pada Tabel H.1

Tabel H.1. Analisis Marjin Tataniaga Kacang Panjang Pada Saluran 1, 2 dan
3 di Desa Susunan Baru, Kelurahan Kemiling Bandar Lampung
Saluran I
Saluran II
Saluran III

Rp/Ikat

Rp/Ikat

Rp/Ikat

PETANI
Harga Jual
Biaya Produksi
Keuntungan

875
450
425

29,16%
15,00%
14,16%

875
450
425

35,00%
18,00%
17,00%

29,16%
0,83%
4,16%
0,83%
15,00%
50,00%
20,83%

875
50
125
25
1425
2500
1625

35,00%
2,00%
5,00%
1,00%
57,00%
100%
65,00%

1500
450
1050

50,00%
15,00%
30,00%

1500
25
125
25
1325
3000
1500

50,00%
0,83%
4,16%
0,83%
44,16%
100%
50,00%

PEDAGANG PENGUMPUL
Harga Beli
Biaya Sortasi
Biaya Transportasi
Biaya Penyusutan
Keuntungan
Harga Jual
Margin

875
25
125
25
450
1500
625

III. PEDAGANG PENGECER


Harga Beli
Biaya Sortasi
Biaya Transportasi
Biaya Penyusutan
Keuntungan
Harga Jual
Margin

1500
25
150
25
1300
3000
1500

50,00%
0,83%
5,00%
0,83%
43,33%
100%
50.00%

Free on Board

100%
2500
100% 3000
100%
3000
Total Biaya
825 27,48%
650 26,00%
625
20,82%
Total Keuntungan
1750 58,33%
1425 57,00% 1325
44,16%
Total Marjin
2125 70,83%
1625 65,00% 1500
50,00%
Dari Tabel H.1 dapat dilihat komponen dari pemasaran yaitu biaya pemasaran dan
keuntungan pemasaran. Biaya pemasaran adalah merupakan segala biaya yang
dikeluarkan oleh lembaga pemasaran dalam memasarkan komoditas kacang
panjang

di Desa Susunan Baru sampai konsumen akhir. Biaya pemasaran

tersebut meliputi biaya transportasi, tenaga kerja (untuk grading dan sortasi serta
pengangkutan), penyusutan.

Sedangkan yang dimaksud dengan keuntungan

pemasaran adalah merupakan selisih antara harga jual dengan biaya-biaya yang
dikeluarkan oleh lembaga-lembaga yang bersangkutan.

Harga jual petani untuk kacang panjang di Desa Susunan Baru berbeda- beda
untuk setiap jalur. Hal tersebut karena setiap jalur mempunyai daerah pemasaran
yang berbeda-beda sehingga pedagang pun membeli dengan harga yang berbeda
pula sesuai dengan tingkat keuntungan yang diharapkan. Dalam penelitian ini,
marjin pemasaran dihitung berdasarkan tiga pola saluran pemasaran yaitu:
4. Petani
5. Petani
6. Petani

Pedagang Pengumpul
Pedagang Pengecer
Pedagang Pengumpul
Konsumen
Pedagang Pengecer
Konsumen

Konsumen

Pola 2 dan 3 untuk pemasaran yang pembelinya di sekitar daerah produksi (lokal),
sedangkan pola 1 untuk pemasaran yang biasanya pembeli berasal dari luar
daerah produksi.
a. Saluran Pemasaran I
Saluran pemasaran I mempunyai saluran yang lebih panjang dari pada saluran
yang lainnya karena melibatkan 2 pedagang perantara yaitu pedagang
pengumpul dan pedagang pengecer. Berdasarkan tabel Bx dapat dilihat bahwa
nilai tunai yang diterima petani produsen adalah sebesar Rp. 875 (29,16%).
Biaya produksi rata-rata yang dikeluarkan petani Rp. 450 per ikat. Dengan
demikian share petani adalah sebesar Rp. 425 (14,16%) dari harga konsumen
akhir. Jika dibandingkan dengan pedagang perantara mulai dari petani
produsen sampai konsumen akhir jumlah ini tergolong relatif kecil.
Untuk marjin keuntungan pada masing-masin g tingkat lembaga tataniaga
tidak menyebar merata menggambarkan adanya kesenjangan tingkat kepuasan
diantara lembaga tataniaga. Marjin keuntungan yang terbesar adalah pedagang
pengecer yaitu sebesar Rp.1500 (50%). Hal ini menunjukkan adanya
pengambilan keuntungan berlebihan oleh pedagang pengecer. Sehingga pada
saluran I sistem tataniaganya dapat dikatakan tidak efisien karena, penyebaran
marginnya tidak merata.
Saluran I merupakan marjin pemasaran terbesar diantara saluran pemasaran
lainnya, yaitu sebesar Rp 2125 (70,83%) hal ini karena pada saluran I
merupakan rantai tataniaga terpanjang dari keseluruhan saluran distribusi yang

ada serta konsumen akhirnya bukan merupakan penduduk lokal sehingga


pedagang menjual komoditinya dengan harga yang cukup tinggi.
Pada ketiga saluran pemasaran yang ada di Desa Susunan Baru biaya terbesar
juga ditanggung oleh saluran I yaitu Rp 825 (27,48%). Hal ini karena jarak
distribusinya yang cukup jauh serta rantai tataniaganya yang sangat panjang.
Keuntungan pemasaran pada saluran II merupakan keuntungan terbesar yaitu
Rp 1750 (19,33%) karena merupakan rantai tataniaga terpanjang serta
konsumen akhirnya merupakan bukan penduduk lokal sehingga pedagang
menjual komoditinya dengan harga yang cukup tinggi.
b. Saluran Pemasaran II
Saluran pemasaran II mempunyai saluran yang lebih pendek dari pada saluran
I karena hanya melibatkan 1 pedagang perantara yaitu pedagang pengumpul.
Pada saluran II petani menjual kacang panjang dengan harga Rp. 875/ikat.
Biaya produksi rata-rata yang dikeluarkan petani Rp. 450 per ikat. Dengan
demikian share petani adalah sebesar Rp. 425 (17%) dari harga konsumen
akhir. Margin tataniaga kacang panjang pada petani pengumpul sebesar Rp.
1625 atau 65% dari harga konsumen akhir. Pedagang pengumpul mengambil
keuntungan sebesar Rp. 1425 atau 57% dari harga konsumen akhir dan
pengambilan keuntungan ini terbilang cukup besar.
Saluran II memiliki total biaya yang ditanggung oleh saluran II yaitu Rp 650
(26%). Total biaya ini terbilang cukup kecil karena pada jalur ini jarak
distribusinya cukup dekat dari lokasi penelitian serta rantai tataniaga yang
pendek. Untuk saluran pemasaran II ini juga diperoleh keuntungan sebesar Rp
1425 (57%) dan Total marjin pemasaran sebesar Rp 1625 (65%). Besarnya
margin pemasaran terutama disebabkan oleh besarnya keuntungan yang
diambil pedagang pengumpul dan biaya-biaya yang harus ditanggung oleh
pedagang pengumpul tersebut.
c. Saluran Pemasaran III

Saluran pemasaran III mempunyai saluran yang lebih pendek dari pada
saluran I karena hanya melibatkan 1 pedagang perantara yaitu pedagang
pengecer. Pada saluran III petani menjual kacang panjang dengan harga Rp.
1500/ikat. Biaya produksi rata-rata yang dikeluarkan petani Rp. 450 per ikat.
Dengan demikian share petani adalah sebesar Rp. 1050 (30%) dari harga
konsumen akhir. Margin tataniaga kacang panjang pada petani pengecer
sebesar Rp. 1500 dari harga konsumen akhir.
Saluran III merupakan marjin pemasaran terkecil diantara saluran pemasaran
lainnya, yaitu sebesar Rp 1500 (50%) hal ini disebabkan daerah tujuan
pemasaran kacang panjang hanya dikawasan kemiling saja untuk memenuhi
kebutuhan konsumen lokal sehingga pada saluran III ini petani dapat menjual
dengan harga yang cukup tinggi ke pedagang pengecer yaitu Rp. 1500/ikat .
Pedagang pengecer juga menjual dengan marjin yang cukup rendah sesuai
dengan biaya yang dikeluarkan serta keuntungan yang tidak terlalu besar.
Pada ketiga saluran pemasaran yang ada di Desa Susunan Baru biaya terkecil
juga ditanggung oleh saluran III yaitu Rp 625 (20,82%). karena pada jalur ini
jarak distribusinya cukup dekat dari lokasi penelitian serta rantai tataniaga
yang pendek. Untuk Keuntungan pemasaran pada saluran III merupakan
keuntungan terkecil yaitu Rp 1325 (44,16%) hal ini marjin pemasarannya
yang kecil sehingga keuntungan yang diambil pedagang juga tidak terlalu
besar.
Jika ditinjau dari jumlah marjin, biaya dan keuntungan maka saluran III
merupakan saluran yang lebih efisien, hal ini dikarenakan marjin
pemasarannya yang paling kecil, biaya pemasaran juga kecil, serta keuntungan
yang cukup besar jika dibandingkan dengan saluran pemasaran satu dan dua.
d. Farmers Share
Farmers share merupakan perbandingan antara harga yang diterima petani
dengan harga yang dibayar oleh konsumen akhir dan sering dinyatakan dalam
persentase. Untuk mengetahui besarnya bagian yang diterima petani digunakan
konsep Farmers share yaitu bagian yang diterima petani sebagai balas jasa

atas kegiatan yang dilakukan dalam usahatani kacang panjang. Farmers share
berhubungan negatif dengan marjin tataniaga, artinya semakin tinggi marjin
tataniaga maka bagian yang akan diterima petani semakin rendah. Farmers
share yang diterima petani pada saluran tataniaga kacang panjang dapat dilihat
pada Tabel D berikut.
Tabel D. Farmers Share Pada Saluran Tataniaga Kacang Panjang
Saluran Pemasaran

Harga di Tingkat Harga di Tingkat Farmers


Petani
Konsumen
Share
(Rp/ikat)
(Rp/ikat)
(%)
Saluran Pemasaran I
875
3.000
29,16
Saluran Pemasaran II
875
2.500
35,00
Saluran Pemasaran III
1.500
3.000
50,00
Bagian terbesar yang diterima petani terdapat pada saluran pemasaran III yaitu
sebesar 50 persen. Saluran ini merupakan saluran terpendek jika dilihat dari
jumlah lembaga pemasaran yang terlibat dan pasar tujuan. Hal ini disebabkan
daerah pemasaran kacang panjang hanya di kawasan kemiling dan untuk
memenuhi kebutuhan konsumen lokal saja sehingga petani dapat menjual
dengan harga yang cukup tinggi dan pedagang tidak mengambil keuntungan
yang terlalu besar. Bagian yang diterima petani pada saluran pemasaran I yang
merupakan saluran tataniaga terpanjang dari semua jalur yang ada adalah
sebesar 29,16 persen. Sedangkan bagian yang diterima petani pada saluran II
adalah sebesar 35 persen. Dari ketiga saluran pemasaran tersebut dapat
diketahui bahwa saluran pemasaran III merupakan saluran pemasaran yang
paling menguntungkan bagi petani.
e. Rasio Keuntungan terhadap Biaya
Indikator lain untuk menentukan efisiensi tataniaga suatu
komoditas adalah dengan menghitung rasio keuntungan terhadap biaya.
Rasio keuntungan terhadap biaya digunakan untuk mengetahui penyebaran
rasio keuntungan terhadap biaya yang diperoleh pada masing-masing
lembaga pemasaran yang terlibat dalam setiap saluran pemasaran. Untuk
rasio keuntungan terhadap biaya pada komoditas kacang panjang di Desa

Susunan Baru dapat dilihat pada Tabel E.

Tabel E. Rasio Keuntungan terhadap Biaya Tataniaga K


Panjang di Desa Susunan Baru
Uraian
Biaya (c)
Keuntungan ()
Rasio /c

Salu
ran
825
217
5
2,63

Saluran II
650
1850
2,84

acang

Saluran III
625
2375
3,80

Berdasarkan Tabel E dapat disimpulkan bahwa berdasarkan ketiga


saluran tataniaga Kacang Panjang, maka secara operasional saluran
tataniaga III adalah saluran yang paling menguntungkan untuk petani.
Saluran tataniaga III memiliki nilai Rasio /c paling besar yaitu 3,80
artinya satu rupiah yang dikeluarkan untuk biaya tataniaga Kacang
Panjang akan diperoleh hasil sebesar Rp 3,80. Berdasarkan uraian di atas
maka pada intinya analisis tataniaga Kacang Panjang ini adalah ingin
memberikan alternatif bagi petani dalam memilih saluran tataniaga yang
memberikan keuntungan paling besar, sehingga dapat meningkatkan
bagian harga yang diterima oleh petani sebagai produsen utama.

VI. KESIMPULANDANSARAN

A. Kesimpulan

Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari hasil penelitian analisis


tataniaga ini adalah, sebagai berikut :
1. Pola saluran pemasaran kacang panjang yang terbentuk di Desa susunan
baru terdiri dari 3 macam saluran pemasaran yaitu saluran I dari petani ke
pedagang pengumpul kemudian pedagang pengecer baru ke konsumen;
saluran II dari petanike pedagang pengumpul dan langsung ke konsumen;
saluran III dari petani ke pedagang pengecer dan ke konsumen. Praktek
jual beli diantara mereka menggunakan sistem pembayaran tunai. Dalam
tataniaga kacang panjang ini pedagang pengepul bertindak sebagai
penentu harga.
2. Margin tataniaga terbesar terdapat pada saluran I yaitu sebesar 70,83% ,
pada saluran pemasaran II besar marjin tataniaga yaitu 65% dan saluran
pemasaran III sebesar 50%.

3. Hasil analisis MarjinTataniaga, Farmers Share, serta Rasio Keuntungan


terhadap Biaya menunjukkan bahwa saluran III merupakan saluran yang
lebih efisien, hal ini dikarenakan marjin pemasarannya yang paling kecil,
biaya pemasaran juga kecil, serta keuntungan yang cukup besar jika
dibandingkan dengan saluran pemasaran lainnya dan memberikan
keuntungan yang paling besar ke petani.

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat direkomendasikan kepada petani


kacang panjang di Desa susunan baru yang ingin meningkatkan
pendapatannya sebaiknya memilih saluran pemasaranIII. Syarat yang harus
dipenuhi dalam sistem pemasaran kacang panjang di Desa susunan baru,
yaitu tidak ada hambatan masuk dan keluar bagi setiap petani dalam
memasuki setiap saluran pemasaran kacang panjang yang ada.

DAFTAR PUSTAKA

Daniel, Moehar. 2004. Pengantar Ekonomi Pertanian. Jakarta : PT Bumi Aksara.


Fatimah, Siti, Dkk. 2008. Pengaruh Komposisi Media Tanam Terhadap
Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Sambiloto (Andrographis Paniculata,
Nees). Embriyo 5 (2)
Hasyim, Ali Ibrahim. 2012. Tataniaga Pertanian. Bandar Lampung. Universitas
Lampung.
Kotler, Philip dan Garry Amstrong, 1997. Principles Of Management,
Diterjemahkan Oleh Alexander Sindoro Dalam Buku DasarDasar Pernasaran, Jilid 1. PT Phehallindo. Jakarta.
Limbong, W. H ; dan Pangabean Sitorus. 1987. Pengantar Tataniaga Pertanian.
Jurusan Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian. Institut
Pertanian Bogor. Bogor.
Nurwandani, Paristiyanti. 2008. Teknik Pembibitan Tanaman Dan Produksi Benih.
Jakarta : Depdiknas.
Prabawa, W. 2007. Pertanian Tips Menanam Sayur. Karya Mandiri Pratama,
Jakarta.
Rubatzky, VE., dan Yamaguchi, M. 1997. Sayuran dunia 2. Penerbit ITB
Bandung.
Steenis. 1975. Flora. Pradyparamitha, Yogyakarta.

Soekartawi.2002. Manajemen Pemasaran Hasil-Hasil Pertanian. Jakarta: PT. Raja


Grafindo Persada.
Sudiyono. 2004. Pemasaran Pertanian. Universitas Muhammadiyah Malang.
Malang.
Widiastuti, S. 2007. Bertanam Tanpa Tanah. Musi Perkasa Utama, Jakarta.

LAMPIRAN