Anda di halaman 1dari 12

TUGAS TEORI AKUNTANSI

TENTANG
EXIT PRICE ACCOUNTING

Disusun Oleh:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.

Arum Nursahadati
Siti Zulaikah
Ajeng Putri K.
Yenny Ratnasari
Alfiyeni Nurul A.
Atika Nirmala Sari
Nurfatun Rahmania
Sara Kartika A.
Megha Anindya
Yoshita Rizqa S.
Ilma Fauziah

(041311323003 )
( 041411323002 )
( 041411323056 )
( 041411323080 )
(041411323030)
(041411323046)
( 041411323049 )
( 041411323018 )
( 041411323009 )
( 041411323010 )
( 041411323008 )

PROGRAM STUDI S1 AKUNTANSI-ALIH JENIS


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS AIRLANGGA
2015

EXIT PRICE ACCOUNTING

Pendekatan lain yang digunakan untuk menentukan current value adalah dengan exit value
atau selling price. Pendekatan ini mensyaratkan penilaian dari masing-masing aktiva dari
sudut pandang pelepasan (disposal), dimana tiap aktiva harus dinilai berdasarkan selling
price yang wajar jika perusahaan memilih untuk melepasnya. Dalam menentukan exit price
setara kas, diasumsikan bahwa aktiva tersebut akan dijual dengan cara biasa bukan karena
tekanan likuidasi.
Definisi Exit Price Accounting
Exit Price Accounting merupakan sistem akuntansi yang mengunakan harga jual
untuk mengukur posisi keuangan dan kinerja suatu badan usaha/perusahaan. Menurut
Edwards and Bell (1961) exit value adalah harga maksimum dari aset yang saat ini
ditahan apabila dijual dan dikurangi dengan biaya transaksi. Dengan sebutan lain exit
value disebut juga dengan nilai realisasi bersih (net relizable value) dari aset).
Memiliki dua hal utama dari biaya historis konvensional:
Nilai aset non moneter disesuaikan dengan harga jual pada saat ini yang
merupakan bagian dari laba yang belum terealisasi
Perubahan daya beli diperhitungkan untuk mengukur modal finansial dan hasil
operasi
Aset di neraca disajikan kembali sebesar nilai keluar (harga jual) sehingga mereka
mewakili 'nilai pasar wajar' kepada perusahaan dalam likuidasi, yaitu tidak dalam
situasi 'fire-sale'.
Laporan laba rugi merupakan laba (rugi) usaha serta keuntungan disesuaikan dengan
inflasi dari aset induk. Oleh karena itu, laba diukur dengan konsep 'komprehensif'
yang mengukur perubahan nyata total nilai semua elemen yang diakui dari ekuitas,
dan mewakili akuntansi surplus bersih .Akuntansi surplus bersih adalah ketika laporan
laba rugi menghubungkan keseimbangan neraca penutupan, dan tidak ada
penyesuaian yang dibuat langsung ke cadangan

Para Pendukung
1. MacNeal
Pendekatan sejarah
1) Era Pertama (abad 12-17)

Menurut MacNeal akuntansi pada era ini adalah memberi informasi


kepada owner-manager mengenai jumlah biaya pronyek sehingga
MacNeal berkesimpulan bahwa akuntansi pada saai ini berbasis pada
harga historis.
2) Era Kedua (abad 18-19)
Pada abad ini kondisi bisnis berubah, kebutuhan akan barang-barang
konsumsi semakin tinggi dan juga menuntut kepuasan yang semakin
tinggi pula terhadap penggunaan barang-barang konsumsi. Untuk
memenuhi kebutuhan manusia yang semakin meningkat diperlukan
alat-alat yang mampu bereproduksi secara besa-berasaran maka:
- Terjadi revolusi industri
- Perusahaan butuh dana pinjaman
- Kreditur butuh laporan keuangan
- Akuntan independen menampilkan dengan harga historis (dengan
going concern concept)
3) Era Ketiga (akhir abad ke 19)
Pada era ini perusahaan menjadi tumbuh besar dan mejadi korporasi
yaitu induk perusahaan (sebagai pemegang saham) dengan banyak
anak perusahaan dengan kekhususan jenis produksi. Owner-manager
telah terpisah,onwer tetap sebagai owner (pemegang saham) dan
menunjuk/mengangkat
perusahaan.

dalam

manajer
kondisi

untuk
ini

menjalankan

laporan

keuangan

operasi
sebagai

pertanggungjawaban manajer kepada pemegang saham menjadi sangat


penting sehingga diperlukan standar akuntansi keuangan sebagi tolak
ukur kewajaran laporan keuangan yang disajikan kepda pemegang
saham.
MacNeal berpendapat bahwa laporan keuangan yang berbasis pada
biaya historis tidak mampu memberikan informasi sesuai dengan
kebutuhan pemegang saham, sehingga para akuntan ditutntut untuk
menyesuaiakan dengan kebutuhan pemegang saham akan inforrmasi,
yauitu informasi mengenai kekayaan bersih dan perubahannya dalam
periode tertentu. Secara ideal, solusinya adalah para akuntan
melaporakan seluruh laba atau rugi karena aktivitas perusahaan dan
melaporkan nilai aset secara selektif sesuai dengan harga pasar dalam
kondisi persaingan.
MacNeal menyarankan sebagai berikut:
a. Aset-aset yang mudah dipasarkan dinilai dengan harga pasar

b. Aset-aset reproduksi (mesin-mesin) dan tidak mudah dipasarkan dinilai


dengan nilai ganti (replacement cost)
c. Aset-aset yang tidak untuk reproduksi dan tidak mudah dipasarkan
(seperti alat kantor) dinilai dengan historis.
Laba atau rugi diakui baik yang telah terialisasi maupun yang belum
direalisasi.
2. Chambler
Chambler mengusulkan penggunaan Exit Price dengan judul Continuously
Contemporary Accounting (CoCoA). Dia berpendapat bahwa perusahaan
adalah organisasi yang selalu harus menyesuaikan diri dengan kondisi terkini,
kerena tugas perusahaan adalah melakukan aktivitas pembelian dan penjualan.
Manajer harus berperilaku menyesuaikan diri secara terus-menerus dengan
kondisi lingkungan ekonomi agar perusahaan tetap bertahan hidup dan
mengalami peningkatan aktivitas, sehingga mampu meningkatkan kekayaan
pemegang saham. Agar supaya kemapuan perusahaan nampak realistis, maka
aset-aset perusahaan ditampilkan dengan exit price. Kemampuan perusahaan
dalam menghasilkan laba ditunjukkan oleh nilai sekarang untuk kas bersih
yang dihasilkan mesin-mesin produksi dimasa yang akan datang.
3. Raymond, Sterling (1970)
Raymond Chamber dan Robert Sterling berpendapat bahwa exit value
memiliki pertalian keputusan.

Karenanya selama periode akuntansi,

manajemen memutuskan untuk mempertahankan, menjual, atau menggantikan


aktivanya. Manajemen menyatakan bahwa exit value menyediakan informasi
yang lebih baik bagi pengguna untuk mengevaluasi likuiditas dan kemampuan
perusahaan untuk membiasakan mengubah rangsangan ekonomi. Karena
manajemen memiliki pilihan untuk menjual aktiva, maka exit price
memberikan titk tengah taksiran risiko.
Sterling (1970) percaya bahwa tidak ada satu metode pun yang tepat untuk
menentukan laba, sebab masing-masing punya kelebihan dan kekurangan.
Sterling berfikir untuk menemukan metode terbaik apa yang dapat digunakan
untuk mengukur laba. Menurut Sterling kandungan informasi akuntansi yang
ada di dalam laporan keuangan tetap harus memiliki kualitas reliabel dan
relevan. Kualitas informasi yang relevan sangat dibutuhkan ketika keadaan
pasar produk dalam kondisi bersaing. Dalam hal ini Sterling berpendapat
bahwa pemakai laporan keuangan yang berbeda memiliki masalah yang

berbeda, sehingga calon keputusan pun berbeda. Kesimpulannya adalah


metode penilaian apa yang akan digunakan, tergantung dari calon keputusan
para pemakai laporan keuangan
Alasan Lainnya
1. Additivy
Chamber menyatakan bahwa penyajian laporan keuangan yang disesuaikan
menjadi exit price mendukung CoCoA. Posisi keuangan pada suatu saat
menunjukkan hubungan antara aset dan sumbernya (kewajiban). Kewajiban
disajikan dengan setara uang tunai sekarang sebagai tandingannya set juga
disajikan juga dengan setara dengan uang tunai beli sekarang (current cash
Equivalent). Current cash equivalent menurut Chambler adalah exit price.
2. Alokasi.
Menurut Thomas (1974:112-114) laporan keuangan penuh dengan alokasi, tetapi
laporan laba rugi bukan perubahan karena alokasi tetapi perubahan aset dan
kewajiban menjadi harga jual dalam satu periode tertentu. Laba bersih
menunjukkan jumlah perubahan daya beli aset. Laba bersih menunjukkan jumlah
perubahan (tidak termasuk tambahan investasi dan pengurangan investasi oleh
pemegang saham). Perubahan-perubahan ini menurut Thomas tidak harus dari
hasil operasi, tetapi juga selisih harga historis dengan xit price.
3. Realitas
Exit price adalah kenyataan. Pernyataan-pernyataan tidak perlu dibuat karena
setiap nilai menunjukkan kondisi yang nyata. Didalam akuntansi konvensional
penyusuna aktiva tetap merupakan alokasi biaya harga beli aktova tetap yang
dialokasikan secara periodik dan dibebankan pada pendapatan. Perlakuan ini tidak
sesuai dengan kenyataan, sebab pada kenyataannya nilai aktiva tetap justru naik.
Bila mengalami penurunan, maka seharusnya yang menjadi beban biaya adalah
selisih antara historis dengan harga barunya (exit price).
4. Objektif
Sering orang mengatakan bahwa harga pasar (exit price) tidak objektif.
Berdasarkan penelitian menunjukkan bahwa exit price justru lebih objektif. Parker
(1975) melakukan penelitian mengenai kualitas daya banding informasi akuntansi
dan kualitas informasi akuntansi yang objektif antara penggunaan harga historis
(nilai buku) dengan exit price.
MANFAAT EXIT PRICE ACCOUNTING
1. Menyediakan informasi yang berguna

Perusahaan bisnis pada masa lalu dimiliki langsung oleh orang atau mitra kelompok
kecil. Sehinggga Akuntan memiliki kewajiban untuk menyiapkan Laporan Keuangan
hanya untuk dua pihak, pemilk : yang mengelola bisnis dan tahu semua rinciannya,
dan kreditur : yang tertarik terutama dalam kemampuan pemiliknya untuk membayar
rekening atau pinjaman saat jatuh tempo.
Pada masa sekarang, dengan banyaknya jumlah pemegang saham pada suatu
perusahaan menyebabkan Laporan keuangan perusahaan sebagai media informasi
utama mengenai perusahaan tersebut, sehingga Laporan keuangan dari akuntan
eksternal menjadi sangat penting. Menurut MacNeal, Prinsip-prinsip Akuntansi yang
Konvensional yang didasari Historical Cost berpotensi menghasilkan laporan
keuangan yang salah dan menyesatkan serta tidak berorientasi pada keputusan pemilik
saham.
2. Relevan dan Informasi yang dapat dipercaya
Untuk menjadi relevan, informasi harus berguna dalam model keputusan pengguna
laporan akuntansi. Model keputusan, pada gilirannya, memungkinkan pengguna untuk
menentukan tindakan untuk mengambil dari beberapa alternatif. Jika tidak ada
kendala, informasi dapat dikumpulkan yang relevan untuk setiap user untuk atau
masalahnya diberikan dan model keputusan. Namun, kendala ada karena informasi
sumber daya produksi langka dan mahal. Masalahnya adalah untuk memilih model
keputusan yang sesuai dengan menilai kemampuan model untuk memprediksi
konsekuensi dari program Alternatif yang tersedia saat tindakan.
Sterling

yakin

bahwa

ada

suatu

metode

terbaik

dalam

menentukan

keuntungan.Kriteria dalam menentukan metode penilaian mana yang terbaik adalah


metode yang memberikan informasi lebih banyak dimana isi informasi tersebut harus
relevan dan dapat dipercaya.
Untuk menjadi relevan, informasi harus berguna dalam model keputusan pengguna
laporan akuntansi.Model keputusan, pada gilirannya, memungkinkan pengguna untuk
menentukan tindakan yang diambil dari beberapa alternatif.Jika tidak ada kendala,
informasi yang dikumpulkan dapat relevan untuk setiap user atau untuk setiap
masalah yang diberikan dan model keputusan. Namun, karena informasi sumber daya
produksi langka dan mahal maka menjadi kendala untuk memilih model keputusan
yang sesuai dengan menilai kemampuan model untuk memprediksi konsekuensi dari
program alternatif yang tersedia saat tindakan.

Contohnya, seorang pedagang gandum pada pasar sempurna dan harga yang
stabil.Dia mengartikan keuntungannya sebagai perbedaan antara modal pada dua hal
diwaktu yang berbeda antara tambahan investasi atau distribusi ke pemilik. Untuk
pedagang tersebut dapat dilihat 3 keputusan dan permasalahan
a. Melanjutkan keputusan untuk masuk dan tetap didalam pasar
b. Melanjutkan keputusan untuk menahan cash atau gandum
c. Mengevaluasi keputusan yang lalu
Sterling menjelaskan bahwa untuk kasus pedagang gandum metode penilaian yang
paling tepat dan relevan adalah Present Selling Prices
Kesimpulan Sterling, Present market Method valuation mempunyai unsur:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Relevant ke semua
Dapat dipercaya
Bermakna empiris
Additive
Konsisten
Suatu penilai
Lebih informatif

3. Additivity
Chambers telah mengajukan pendapat secara komprehensif mengenai Exit Price
Accounting

dalam

continuously

contemporary

accounting

(CoCoA)

dan

dikembangkan menjadi Current Cash Equivalents (CCE).Chambers melihat bahwa


perusahaan sebagai suatu entitas yang adaptif terlibat dalam pembelian dan penjualan
barang dan jasa.Dalam bisnisnya, sebuah perusahaan harus dapat ikut serta dalam
transaksi pasar dan hal ini diungkap dalam Laporan Keuangan.Pada Lingkungan
pasar, monetary asset dan liabilities dapat ditentukan dengan harga pasar, contohnya
harga beli atau current cost tidak menampakkan kemampuan masuk kedalam pasar
dengan cash untuk tujuan adaptasi. Sedangkan harga jual atau Current Cash
Equivalent mmenunjukkan harga realisasi pada dasar likuidasi
Ketika perusahaan membeli aktiva tidak lancar, ia akan mengubah kemampuannya
untuk beradaptasi. Jika aset tersebut dibeli untuk kas, penurunan saldo kas perusahaan
menyebabkan berkurangnya kebebasan untuk berinvestasi pada yang lain. Jika aset
tersebut dibeli secara kredit, hal ini mengurangi kemampuan perusahaan untuk
memperoleh kredit lebih lanjut.Tetapi konsep perilaku adaptif melihat perusahaan
selalu siap untuk tindakan membuang asset jika hal itu merupakan yang terbaik.
Maka, perusahaan akan menjaga aktiva tidak lancar hanya apabila nilai sekarang dari

arus kas masa depan bersih dari penggunaan aktiva lebih besar dari nilai sekarang dari
arus kas yang diharapkan bersih dari investasi alternatif exit value aset tersebut. Oleh
karena itu, perusahaan harus mempertimbangkan apakah kesempatan alternatif
memberi keuntungan yang lebih besar jika aset non-lancar mereka jual atau
diinvestasi.Ini adalah konsep opportunity cos, yang menggunakan harga jual dan
bukan harga penggantian aset, sebagai basis pengukuran.
Chamber mengakui bahwa setiap aset, pada prinsipnya merupakan sebuah nilai tukar
(harga keluar) dan nilai pakai. Nilai pakai (nilai sekarang) pada dasarnya adalah
sejumlah nilai yang dihitung dari harapan sekarang dan chambers berpendapat bahwa
itu merupakan keyakinan tentang masa depan, bukan fakta sekarang.
4. Alokasi
Thomas mengeluhkan kenyataan bahwa sistem akuntansi biaya (historis dan arus)
sangat bergantung pada alokasi exit price adalah bahwa laporan keuangan bebas
alokasi. Laporan laba-rugi tidak dapat melaporkan perubahan dalam jumlah yang
dialokasikan, tapi melaporkan arus masuk aktiva dan perubahan nilai-nilai keluar dari
aset perusahaan dan kewajiban dalam suatu periode tertentu. Laba menampilkan
jumlah perubahan daya beli riil dari aktiva bersih, tidak termasuk investasi tambahan
oleh dan distribusi kepada pemilik.
5. Kenyataan
Exit price melibatkan referensi untuk contoh-contoh yang nyata karena, berpendapat
bahwa mengacu pada saat ini, harga pasar sebenarnya. Penyusutan tidak didefinisikan
dengan cara konvensional, namun dalam arti ekonomi penurunan harga pasar.
Penyusutan tidak mungkin terjadi dalam beberapa tahun jika harga naik atau tetap
konstan. Jika tidak ada nilai realisasi dapat dikaitkan dengan item, maka item tersebut
akan memiliki saldo nol. Selain itu, dipertukarkan adalah bagian dari definisi suatu
aset sehingga goodwill tidak dapat dijual secara terpisah, tidak termasuk dari
pertimbangan. Dengan dua kendala - dipertukarkan dan adanya harga jual - semua
item pada laporan keuangan dapat dikuatkan dengan bukti nyata-dunia.
6. Obyektifitas
Hal ini sering dikatakan bahwa harga pasar saat ini tidak objektif. Namun, beberapa
studi penelitian menunjukkan bahwa harga pasar relatif lebih objektif daripada
kebanyakan orang percaya. Parker melakukan studi penelitian tentang perbandingan

relatif dan objektivitas untuk exit price dan jumlah biaya historis tercatat. Objektivitas
didefinisikan sebagai konsensus di antara penilai. Komparatif didefinisikan sebagai
sebuah konsensus dalam pengukuran. Menggunakan 148 perusahaan bisnis, Parker
menunjukkan bahwa untuk mengukur objektivitas dan komparatif, exit price
mengungkapkan dispersi kurang dari jumlah tercatat. Penyebab utama dari kurangnya
objektivitas nilai tercatat adalah dispersi estimasi akuntansi di masa manfaat dan nilai
sisa. McKeown juga menerapkan model ruang untuk sebuah perusahaan berukuran
sedang jalan kontraksi, dan menyimpulkan dengan analisa statistik bahwa metode
yang digunakan untuk menentukan exit price adalah objektivitas lebih (diverifikasi)
daripada metode berdasarkan Financial Accounting Standard. Dalam studi lain,
McKoewn dibandingkan empat model yang diusulkan dengan metode GAAP untuk
objektivitas mereka (verifiability) dan menyimpulkan bahwa model CCE adalah yang
paling objektivitas.
7. Ukuran Resiko
Exit price dan perubahan exit price juga bisa menjadi indikasi risiko keuangan
pembelian aset. Misalnya, jika sebuah perusahaan pembelian aset dengan nilai keluar
yang berbeda secara signifikan dari harga entri, maka aset tersebut adalah proposisi
berisiko. Informasi keuangan menunjukkan bahwa pembelian aset tersebut harus
merupakan proposisi jangka panjang dimana nilai ekonomi yang ditemukan oleh nilai
pakai, Sebaliknya, jika exit price meningkat secara dratis, biaya peluang meningkat
kembali dan harus dioperasikan dengan lebih efisien.
Untuk memungkinkan pengguna laporan keuangan untuk mengevaluasi posisi risiko
dan kinerja dalam mengelola risiko keuangan yang signifikan dengan rancangan
standar akan membutuhkan:
a. deskripsi dari setiap risiko keuangan yang signifikan dan tujuan perusahaan
serta kebijakan
b. informasi tentang dampak risiko tersebut terhadap laporan posisi keuangan
(neraca) dan laporan kinerja keuangan.
Informasi mengenai metode dan asumsi utama yang digunakan untuk memperkirakan
nilai wajar instrumen keuangan
Kritik Terhadap Exit Price
1. Konsep Laba
Yang diinginkan oleh pemegang saham dari laporan keuangan adalah menjawab 5
pertanyaan berikut:
a. Bagaminama agar perusahaan dapat tampak lebih baik dari periode
sebelumnya

b. Bagaimana perusahaan mencapainya,apa yang dikerjakan oleh


manajemen,bagaimana manajemen mengerjakannya,apakah terdapat aspekaspek kinerja yang menonjol secara menyakinkan misal bidang
produksi,pemasaran dan lain-lain fungsi perusahaan
c. Bagaimana kinerja perusahaan bila dibanding dengan perusahaan yang lain
yang sama
d. Apa yang dikerjakan perusahaan untuk masa yang akan datang
e. Bagaimana dapat menghasilkan manfaat bagi pemegang saham
Dalam mejawab kelima pertanyaan tersebut, solusi exit price tidak relevan, karena
tidak memberi informasi mengenai laba perusahaan. Weston (dalam Sterling)
mengatakan bahwa exit price hanya cocok apabila perusahaan direncanakan untuk
dilikuidasi. Apabila tidak maka informasi exit price tidak relevan. Namun penggunaan
exit price dengan alasan realistis tealh dikemukakan oleh Chambler yang
menyampaikan konsep alaba. Bell (1971:27-28) didukung oleh Sterling (1970) dan
Mattesaich (1971) mendukung exit price dengan fokus pada perencanaan jangka
panjang perusahaan yang disajikan dengan exit prixe dianggap relevan karena
mencerminkan pengembalian kas di masa yang akan datang (cash Equivalent).
Berdasarka pemikirian tersebut maka jawaban atas pertanyaan diatas adalah:
1. Masih relevan bila laporan keuangan disajikan dengan exit price
2. Tidak akan terjawab dengan solusi exit price karena perubahan nilai persediaan
dengan harga historis ke persediaan dengan nilai exit price tidak menunjukkan
hasil upaya manajemen.
3. Tidak terjawab dengan solusi exit price karena perbandingan dengan perusahaan
lain hanya menunjukkan perubahan harga pada saat tertentu (tanggal neraca),
bukan pada harga-harga pembelian faktor produksi dan penjualan hasil produksi
perusahaan.dengan demikian penyajian dengan exit price tidak akan membantu
investor

dalam

menialai

kinerja

manajemen

atau

perusahaan

dalam

perbandingannya dengan perusahaan lain yang sejenis.


4. Penyajian dengan exit price tidak akan banyak membantu para calon investor dan
investor dalam menilain kinerja perusahaan.
5. Penyajian dengan exit price tidak akan banyak membantu para calon investor dan
investor dalam menilain kinerja perusahaan.
Argumen yang bertentangan dengan exit price yang harus mengukur peristiwa masa
lalu, yang benar-benar terjadi, daripada yang mungkin terjadi jika perusahaan
melakukan sesuatu yang lain dari apa yang direncanakan
2. Nilai yang berlaku dan nilai yang digunakan

Adam Smith (Ekonom) membedakan antara nilai yang berlaku dan nilai
dalam transaksi pertukaran. Nilai yang berlaku adalah harga hsitoris.
Sedangkan nilai yang digunakan dalam pertukaran adalah harga kini.
Adam smith setuju bahwa pada awalnya oenilaian menggunakan j=harga

historis namun selanjutnya menggunakan harga kini.


Solomon (1966:208) mengatakan bahwa laporan dengan nilai selain harga
historis adalah relevan. Untuk ast-asey yang dibeli tidak untuk dijual tetapi
untuk produksi juga lebih relevan disajikan dengan nilai bukan historis
sebab pada dasarnya aset tersebut memiliki nilai ekonomos sepanjang
produk yang dihasilkan masih laku dipasaran.selisih antara exit price
dengan harga histiris merupakan opportunity cost yaitu keuntungan karena
pembelian dimasa lalu sebelum terjadi kenaikan harga aset tersebut.
Solomon (dalam Sterling) menyatakan bahwa penyajian dengan exit price
dengan alasan opportunity cost kurang tepat, sebab opportunity cost dalam
penggunaan aset untuk produksi berhubungan dengan alternatif terbaik
dimasa yang akan datang tanpa menjual aset tersebut. Bila alternatif yang
terbaik adalah menghentikan produksi semnetara dimasa yang akan datang
oleh karena tidak ada order maka nilai aset ditentukan oleh jumlah aliran

kas dimasa yang akan datang yang semakin menurun.


Chamber juga mendukung pendapat solomon sebab aset (mesin-mesin)
yang masih mampu bereproduksi dan produknya laku dipasaran pasti
mesin tersebut mempunyai harga yang lebih tinggi dari harga historisnya

atau nilai bukunya.


3. Penilaian kewajiban
Chambers berpendapat bahwa hutang obligasi secara efektif berbentuk modal dan
harus dinyatakan sebesar nilai nominal, bukan di nilai pasar.Ini telah membuat
inkonsistensi, karena obligasi sebagai aktiva harus dinyatakan sebesar nilai
pasar.Dalam pertahanan, Chambers menyatakan bahwa pada waktu tertentu,
terlepas dari harga di pasar, perusahaan yang berutang kepada pemegang obligasi
hanya sebesar jumlah kontrak obligasi, karena itu adalah jumlah kontrak yang
relevan dalam menilai posisi keuangan saat ini.Dalam kebanyakan kasus, ini
setara dengan nilai nominal.Tapi kritikus tidak yakin karena, menurut definisi,
posisi keuangan menunjukkan kemampuan perusahaan untuk terlibat dalam
transaksi.Hal ini secara logis menyiratkan kemampuan perusahaan untuk pasar
untuk membeli obligasi sendiri dengan harga pasar

Kelemahan Exit Price


Kelemahan exit value, seperti halnya entry prices, penentuan exit value juga
mengakibatkan masalah pengukuran, yakni :

Masalah dasar penentuan harga jual untuk aktiva, seperti properti, tanah, dan
peralatan, dimana tidak terdapat pasar.

Gagasan bahwa exit price harus didasarkan pada harga yang timbul dari penjualan
pada kondisi bisnis normal, bukan atas paksaan likuidasi, sulit diterapkan pada aktiva
tetap.

Exit price atau selling price tidak konsisten dengan physical capital maintenance
concepts. Exit price adalah jenis dari opportunity cost, yang mengukur pengorbanan
dari menahan aktiva daripada biaya yang diperkirakan untuk menggantinya.
Sementara itu, pemeliharaan modal fisik didasarkan pada konsep keberlangsungan,
bukan likuidasi.