Anda di halaman 1dari 4

Ascaridiasis Pada Ayam

1. Signalment
Jenis hewan : Ayam
Breed : Layer
2. Anamnesa
Ayam mengalami diare, kurus serta terlihat lemah.
3. Temuan Klinis
Konsistensi feses lembek, ayam terlihat lemah dan kurus serta sayap terkulai.
4. Differential Diagnosa
a. Defisiensi nutrisi
b.
5. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan feses ditemukan adanya telur cacing Ascaridia galli.
Gambar 1. Telur cacing Ascaridia galli dengan perbesaran 400x

6. Diagnosa
Ascaridiosis
7. Pembahasan
A. Penyebab dan Morfologi
Penyebab ascaridiasis pada ayam yaitu cacing golongan nematoda Ascaridia
galli.

Menurut Soulsby (1982), klasifikasi cacing A. galli adalah sebagai berikut:


Kelas
Sub kelas

: Nematoda
: Secernentea

Ordo
Superfamili

: Ascaridia
: Ascaridiodea

Famili
: Ascarididae
Genus
: Ascaridia
Ascaridia galli merupakan parasit besar yang umum terdapat di dalam usus kecil
berbagai unggas peliharaan maupun unggas liar. Penyebarannya luas di seluruhdunia.
Cacing A. galli merupakan cacing terbesar dalam kelas nematoda pada unggas.

Tampilan cacing dewasa adalah semitransparan, berukuran besar, dan berwarna putih
kekuning-kuningan. Mulut cacing ini dilengkapi dengan tiga bibir yaitu satu bibir di
bagian dorsal dan dua bibir lainnya di bagian latero ventral. Pada kedua sisi terdapat
sayap yang sempit dan membentang sepanjang tubuh. Panjang cacing jantan 50 -76
mm sedangkan panjang cacing betina 72 116 mm. Bagian posterior dari cacing
jantan memiliki alae yang jelas, dilengkapi dengan papil sebanyak 10 pasang dan alat
penghisap prekloaka serta dua spikula langsing panjang. Vulva cacing petina terletak
sedikit anterior pada bagian tengah tubuh. Bentuk telur oval, berdinding rata, tidak
bersegmen serta belum berkembang saat dikeluarkan bersama feses dengan ukuran 73
93 m x 45 57 m (Koesdarto dkk, 2007).
B. Siklus Hidup dan Cara Penularan
Daur hidup A. galli bersifat langsung dan tidak langsung. Telur infektif yang
termakan oleh induk semang akan menetas di dalam proventrikulus (lambung
kelenjar) atau di dalam duodenum. Untuk berkembang menjadi cacing dewasa, telur
nematoda ini akan mengalami empat tingkatan molting.
Telur A. Galli yang dikeluarkan bersama feses hospes definitif akan berkembang
menjadi stadium infektif (telur infektif) dalam waktu 10 hari di udara terbuka.
Perkembangan selanjutnya telur menjadi larva stadium II yang sangat kuat (resisten)
dalam kondisi yang tidak menguntungkan. Pada stadium II ini, larva mampu bertahan
hidup lebih dari 3 bulan di tempat yang teduh namun akan segera mati bila keadaan
kering dan cuaca panas sekalipun larva berada di dalam tanah (Koesdarto, 2007).
Telur cacing yang tertelan oleh hospes definitif akan menetas menjadi larva
stadium III di dalam usus pada hari ke-8 pasca infeksi kemudian larva hidup bebas di
dalam intestine. Pada hari ke-9 hingga ke-10 larva stadium III akan menembus
mukosa usus kemudian berkembang menjadi larva stadium IV pada hari ke-14 hingga
ke-15 pasca infeksi. Pada hari ke-17 hingga ke-18 cacing muda akan keluar dari
mukosa usus menuju lumen intestine dan menjadi dewasa pada minggu ke-6 hingga
ke-8 (Koesdarto, 2007).
C. Patogenesis
Penetrasi larva stadium III ke dalam mukosa usus dapat menyebabkan enteritis
haemorhagis dan kerusakan dinding usus sedangkan pada ayam muda dapat
menyebabkan anemia, diare, nafsu makan turun serta haus yang berlebihan. Gejala
yang timbul berupa ayam terlihat lemas, malas, mengantuk, kaki menjadi pucat dan
sayap terkulai. Selanjutnya Calneck (1991) menjelaskan bahwa pada infeksi berat

menyebabkan ayam kehilangan banyak darah, penurunan kadar gula darah,


peningkatan kadar asam urat.
Ayam muda lebih peka dibandingkan dengan ayam tua. Hal ini disebabkan karena
mukus intestinum pada ayam tua lebih banyak dibandingkan pada ayam muda. Mukus
intestinum merupakan tempat dibentuknya antibodi terhadap parasit. Sehingga dengan
adanya peningkatan jumlah mukus pada intestin ayam yang lebih tua akan menjadi
faktor penghambat perkembangan larva cacing A. Galli (Koesdarto, 2007).
Dilaporkan pula oleh Calneck (1991) bahwa dalam perkembangannya A.
galli dapat tersasar dan terperangkap di dalam uterus sehingga cacing mi dapat pula
ditemukan di dalam telur ayam. Pada ayam betina infeksi cacing ini dapat
menyebabkan penurunan produksi telur, kehilangan bobot badan walaupun konsumsi
pakannya tetap meningkat. Penurunan bobot badan dan penurunan konsumsi pakan
terutama terjadi pada umur 9-21 minggu setelah infeksi. Ascaridia galli dilaporkan
juga menyebabkan terlambatnya waktu ayam mulai bertelur dan penurunan berat telur
sampai sebesar 33% (Tiuria, 1991).
D. Gejala Klinis
Apabila jumlah cacing ascaridia galli dalam usus seekor ayam sedikit, maka
cacing tersebut tidak menimbulkan gangguan pada ayam. Apabila jumlahnya cukup
banyak akan menimbulkan ganguan kesehatan atau kematian terutama pada anak
ayam. Anak ayam yang menderita cacingan akan memperlihatkan tanda-tanda seperti;
tampak kurus, pucat, lemas, sayap agak terkulai, bulunya tidak mengkilat, terjadi
diare bewarna keputih-putihan (seperti kapur, encer dan agak berlendir), pada anak
ayam terjadi kematian yang banyak dan pada yang dewasa terjadi penurunan produksi
telur (Koesdarto, 2007).
E. Diagnosa
Pemeriksaan feses untuk menemukan telur cacing A. Galli serta penemuan cacing
saat pemeriksaan post mortem (Koesdarto, 2007).
F. Perubahan Post Mortem
Perubahan anatomi (makroskopik) berupa kerusakan terbesar terjadi sewaktu
tahap perpindahan dari pertumbuhan larva cacing. Perpindahan dari dalam lapisan
usus dapat menyebabkan radang usus mendarah, cacing dapat ditemukan secara relatif
lebih banyak di lumen usus, seperti terlihat pada Gambar 1 (Akoso, 1998). Tabbu
(2002) menambahkan infeksi Ascaridia galli dalam jumlah besar akan kehilangan

darah, mengalami penurunan kadar gula darah, peningkatan asam urat, atrofi timus,
gangguan pertumbuhan dan peningkatan mortalitas.
Perubahan histopatologi (mikroskopik) biasanya terlihat bahwa usus terjadi erosi
sel epitel dan terlihat adanya hemoragi, sehingga ayam tersebut didiagnosa menderita
ascaridiasis. Hemoragi yang terjadi pada usus kecil bisa menyebabkan usus
mengalami ulserasi sel epitel. Kerusakan pembuluh darah menyebabkan terjadinya
obstruksi akut atau enteristis yang disebabkan oleh cacing atau protozoa akan terjadi
penetrasi yang lebih dalam pada lapisan usus. Disamping itu bisa terjadi nekrosis dan
penebalan lokal pada lapisan muskularis yang akan mengakibatkan usus halus tidak
berfungsi secara sempurna (Tabbu, 2002).
G. Terapi
Menurut Koesdarto (2007) beberapa jenis obat yang dapat digunakan sebagai
terapi dari Ascaridiasis antara lain :
1. Piperazin adipat 300 400 mg/kg pakan
2. Piperazin sitrat 400 mg/liter iar untuk 24 jam
3. Phenotiazin 2200 mg/kg pakan
4. Hygromycin-B 8 gram/ton pakan
5. Mebendazol, Tetramizol dan Haloxon
Daftar Pustaka
Akoso, B.T. 1998. Kesehatan Unggas. Kanisius. Yogyakarta
Calneck, B.W. 1991. Diseases of Poultry 9th Edition. Wolfe Publishing Ltd. USA
Koesdarto S. dkk. 2007. Ilmu Penyakit Nematoda Veteriner Edisi 2 Cetakan 2.
Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga. Surabaya
Soulsby, E.J.L. (1982) Helminths, Arthropods and Protozoa of Domesticated Animals.
7th Edition, Bailler, Tindall, London.
Tabbu, C. R. 2002. Penyakit Ayam dan Penanggulangannya Volume 2. Kanasius.
Yogyakarta
Tiuria R. 1991. Hubungan Antara Dosis Infeksi, Biologi Ascaridia galli dan
Produktivitas Ayam Petelur. Tesis. Program Pascasarjana. Program Studi
Sains Veteriner, Institut Pertanian Bogor