Anda di halaman 1dari 17

PSAK 10

(PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN 10)


PENGARUH PERUBAHAN KURS VALUTA ASING
PENDAHULUAN
Tujuan
Paragraf 01 - Entitas dapat melakukan aktivitas luar negeri dengan 2 cara. Entitas mungkin
memiliki interaksi dalam valuta asing atau memiliki kegiatan usaha luar negeri. Sebagai
tambahan entitas dapat menyajikan laporan keuangan dalam valuta asing (valas). Tujuan dari
pernyataan ini menjelaskan bagaimana memasukkan transaksi dalam valas dan kegiatan
usaha luar negeri ke dalam laporan keuangan entitas dan bagaimana menjabarkan laporan
keuangan ke dalam mata uang penyajian.
Paragraf 02 - Permasalahan utama adalah kurs mana yang digunakan dan bagaimana
melaporkan pengaruh dari perubahan kurs dalam laporan keuangan.
Ruang Lingkup
Paragraf 03 - Pernyataan ini diterapkan pada:
(a)

dalam akuntansi untuk transaksi dan saldo dalam mata uang asing, kecuali untuk
transaksi-transaksi derivative dan saldo yang ada dalam ruang lingkup PSAK 55 (revisi
2006): Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran;

(b)

dalam menjabarkan hasil dan posisi keuangan dari kegiatan usaha luar negeri yang
termasuk dalam laporan keuangan konsolidasi entitas, konsolidasi secara proporsional
atau metode ekuitas; dan

(c)

dalam menjabarkan hasil dan posisi keuangan entitas kedalam suatu mata uang
pelaporan.

Paragraf 04 - PSAK 55 : Instrument Keuangan : pengakuan dan pengukuran diterapkan


beberapa derivatif valas dan sejalan dengan hal tersebut, hal itu tidak termasuk dalam ruang
lingkup pernyataan ini. Pernyataan ini juga diterapkan ketika suatu entitas menjabarkan
jumlah yang terkait dengan derivatif dari mata uang fungsional ke mata uang pelaporannya.
Paragraf 05 - Pernyataan ini tidak diterapkan pada akuntansi lindung nilai untuk mata uang
asing, termasuk lindung nilai dari investasi neto dalam kegiatan usaha luar negeri. PSAK 55
(revisi 2006) diterapkan untuk akuntansi lindung nilai.
Paragraf 06 - Pernyataan ini diterapkan pada akuntansi lindung nilai atas valas termasuk
lindung nilai investasi neto dalam kegiatan usaha luar negeri.

Paragraf 07 - Pernyataan ini tidak diterapkan pada penyajian laporan arus kas untuk arus kas
yang timbul dari transaksitransaksi dalam mata uang asing, atau pada penjabaran arus kas dari
suatu kegiatan usaha luar negeri (lihat PSAK 2: Laporan Arus Kas).
Definisi
Paragraf 08 - Berikut ini adalah pengertian istilah-istilah yang digunakan dalam Pernyataan
ini:

Investasi neto dalam suatu kegiatan usaha luar negeri adalah jumlah dari kepentingan

entitas pelapor di dalam aset neto dari kegiatan usaha tersebut.


Kegiatan usaha luar negeri adalah suatu entitas yang merupakan entitas anak,
perusahaan asosiasi, ventura bersama atau cabang dari entitas pelapor, yang aktivitasnya

dilaksanakan
di suatu negara atau menggunakan mata uang selain dari mata uang entitas pelapor.
Kurs penutup adalah nilai tukar spot pada akhir periode\ pela poran.
Mata uang asing adalah suatu mata uang selain mata uang fungsional suatu entitas.
Mata uang fungsional adalah mata uang pada lingkungan ekonomi utama dimana suatu

entitas beroperasi.
Mata uang pelaporan adalah mata uang yang digunakan dalam penyajian laporan

keuangan.
Nilai tukar adalah rasio pertukaran untuk dua mata uang.
Nilai tukar spot adalah nilai tukar untuk pengiriman segera.
Nilai wajar adalah jumlah yang dipakai untuk mempertukarkan suatu aset atau
menyelesaikan kewajiban antara pihak-pihak yang berkeinginan dan memiliki

pengetahuan memadai dalam suatu transaksi wajar (arms length transaction).


Pos-pos moneter adalah unit-unit mata uang yang dimiliki dan aset serta laibilitas yang
akan diterima atau dibayarkan dalam jumlah unit mata uang yang pasti atau dapat

ditentukan.
Selisih kurs adalah selisih yang dihasilkan dari penjabaran sejumlah tertentu satu mata

uang ke dalam mata uang lainnya pada nilai tukar yang berbeda.
Kelompok usaha adalah entitas induk dan semua entitas anaknya.

Penguraian definisi
Mata uang fungsional
Paragraf 09 - Lingkungan ekonomi utama dimana sebuah entitas beroperasi adalah
lingkungan dimana entitas tersebut uta manya menghasilkan dan mengeluarkan kas. Suatu
entitas mempertimbangkan faktorfaktor berikut dalam menentukan mata uang fungsionalnya:
(a)

mata uang:
2

i.

yang paling mempengaruhi harga jual untuk barang dan jasa (mata uang ini
seringkali menjadi mata uang dimana harga jual untuk barang dan jasa

ii.
(b)

didenominasikan dan diselesaikan); dan


dari suatu negara yang kekuatan persaingan dan perundang- undangannya sebagian
besar menentukan harga jual dari barang dan jasanya.
mata uang yang paling mempengaruhi biaya tenaga kerja, material dan biaya-biaya lain
dari pengadaan barang atau jasa (mata uang ini seringkali menjadi mata uang dimana
biaya-biaya tersebut didenominasikan dan diselesaikan).

Paragraf 10 - Faktor-faktor berikut juga dapat memberikan bukti dari mata uang fungsional
suatu entitas:
a) mata uang yang mana dana dari aktivitas pendanaan (antara lain penerbitan instrumen
utang dan instrumen ekuitas) dihasilkan.
b) mata uang dalam mana penerimaan dari aktivitas operasi\ pada umumnya ditahan.
Paragraf 11 - Faktor-faktor berikut ini dipertimbangkan dalam menentukan mata uang
fungsional dari suatu kegiatan usaha luar negeri, dan apakah mata uang fungsionalnya sama
seperti mata uang entitas pelapor (entitas pelapor, dalam konteks ini, merupakan entitas yang
memiliki kegiatan usaha luar negeri sebagai entitas anak, cabang, entitas asosiasi atau ventura
bersama):
a) apakah aktivitas-aktivitas dari kegiatan usaha luar negeri dilaksanakan sebagai suatu
perpanjangan dari entitas pelapor, bukan dilaksanakan dengan otonomi yang signifi kan.
b) tinggi rendahnya proporsi kegiatan usaha luar negeri terhadap transaksi dengan entitas
pelapor.
c) apakah arus kas dari kegiatan usaha luar negeri secara langsung mempengaruhi arus kas
entitas pelapor dan apakah arus kas tersebut siap tersedia untuk dikirimkan\ ke entitas
pelapor.
d) apakah arus kas dari aktivitas-aktivitas kegiatan usaha luar negeri cukup untuk
membayar kewajiban instrumen utang yang ada ataupun yang diperkirakan dapat terjadi
tanpa ada nya dana yang disediakan oleh entitas pelapor.
Paragraf 12 Jika indikator-indikator tersebut bercampur dan mata uang fungsionalnya tidak
jelas, manajemen menggunakan pertimbangannya untuk menentukan mata uang fungsional
manakah yang paling tepat menggambarkan pengaruh ekonomi dari transaksi-transaksi,
peristiwa dan kondisi yang mendasari. Sebagai bagian dari pendekatan ini, manajemen
memberikan prio ritas pada indikator-indikator utama dalam paragraf 9 sebelum
mempertimbangkan indikator-indikator dalam paragraf 10 dan 11, yang didesain untuk
memberikan tambahan bukti pendukung dalam menentukan mata uang fungsional.

Paragraf 13 - Mata uang fungsional suatu entitas mencerminkan transaksi, kejadian dan
kondisi yang mendasari yang relevan. Sehingga, sekali ditentukan, mata uang fungsional
tidak berubah kecuali ada perubahan pada transaksi, kejadian dan kondisi yang mendasari
tersebut.
Paragraf 14 - Jika fungsional adalah mata uang dari ekonomi hiperinflasi, maka laporan
keuangan entitas disajikan kembali sesuai dengan PSAK 63 : Pelaporan Keuangan dalam
Ekonomi Hiperinflasi.

Investasi Neto dan Kegiatan Usaha Luar Negeri


Paragraf 15 - Entitas mungkin memiliki suatu pos moneter yang merupakan tagihan dari atau
utang kepada suatu kegiatan usaha luar negeri. Pos yang penyelesaiannya tidak direncanakan
ataupun mungkin tidak akan terjadi dimasa depan, pada hakekatnya adalah bagian dari
investasi neto entitas tersebut di dalam kegiatan usaha luar negeri, dan diperlakukan sesuai
dengan paragraf 32 dan 33. Pos moneter tersebut dapat berupa piutang atau utang jangka
panjang. Pos moneter ini tidak mencakup piutang usaha atau utang usaha.
Paragraf 15A - Entitas yang memiliki pos moneter yang merupakan tagihan dari atau utang
kepada suatu kegiatan usaha luar negeri yang dideskripsikan dalam paragraf 15 dapat
merupakan entitas anak mau pun dari suatu kelompok usaha tertentu. Sebagai contoh, entitas
memiliki dua entitas anak, A dan B. B adalah suatu kegiatan usaha luar negeri. A memberikan
pinjaman ke B. Piutang tagihan A atas B akan menjadi bagian dari investasi neto entitas induk
pada entitas anak B jika penyelesaian pinjaman tidak direncanakan ataupun penyelesaian
tidak akan terjadi di masa mendatang. Ini juga berlaku apabila entitas anak A itu sendiri
adalah kegiatan usaha luar negeri.
Pos Moneter
Paragraf 16 - Fitur utama dari suatu pos moneter adalah hak untuk menerima (atau
kewajiban untuk menyerahkan) suatu jumlah unit mata uang yang tetap atau dapat ditentukan.
Sebagai contoh mencakup: pensiun dan imbalan kerja lain yang dibayar dalam kas, povisi
yang diselesaikan secara kas, dan dividen kas yang diakui sebagai liabilitas. Serupa dengan
hal tersebut, kontrak untuk menerima (atau menyerahkan) jumlah bervariasi dari instrumen
ekuitas yang dimiliki oleh entitas atau suatu jumlah variasi dari aset yang nilai wajarnya
diterima (atau diserahkan) setara dengan suatu jumlah unit mata uang yang tetap atau dapat
ditentukan merupakan pos moneter. Sebaliknya, fitur utama pos nonmoneter adalah tidak
4

adanya hak untuk menerima (atau kewajiban untuk menyerahkan) suatu jumlah unit mata
uang yang tetap atau dapat ditentukan. Sebagai contoh mencakup: uang muka untuk barang
dan jasa (contohnya sewa dibayar dimuka), goodwill, aset tak berwujud, persediaan, aset
tetap, dan provisi yang diselesaikan dengan penyerahan aset nonmoneter.
RINGKASAN PENDEKATAN YANG DISYARATKAN PERNYATAAN INI
Paragraf 17 - Dalam menyiapkan laporan keuangan, setiap entitas, baik entitas yang berdiri
sendiri, entitas dengan kegiatan usaha luar negeri (seperti sebuah entitas induk) ataupun suatu
kegiatan usaha luar negeri (seperti sebuah entitas anak atau cabang) menentukan mata uang
fungsionalnya sesuai dengan paragraf 09-14. Entitas menjabarkan pos valuta asing ke dalam
mata uang fungsionalnya dan melaporkan pengaruh dari penjabaran tersebut sesuai dengan
paragraf 20-37 dan 50.
PELAPORAN

TRANSAKSI

VALUTA ASING

KE

DALAM

MATA

UANG

FUNGSIONAL
Pengakuan Awal
Paragraf 20 - Transaksi valuta asing adalah transaksi yang didenominasikan atau
memerlukan penyelesaian dalam suatu valuta asing, termasuk transaksi yang timbul ketika
entitas:
(a)

membeli atau menjual barang atau jasa yang harganya didenominasikan dalam suatu
valuta asing.

(b)

meminjam atau meminjamkan dana ketika jumlah yang merupakan utang atau tagihan
didenominasikan dalam suatu mata uang asing; atau

(c)

memperoleh atau melepas aset, atau mengadakan atau menyelesaikan kewajiban yang
didenominasikan dalam suatu valuta asing.

Paragraf 21 - Pada pengakuan awal, suatu transaksi valuta asing harus dicatat dalam mata
uang fungsional. Jumlah valuta asing dihitung ke dalam mata uang fungsional dengan kurs
spot antara mata uang fungsional dan valuta asing pada tanggal transaksi.
Paragraf 22 Tanggal transaksi adalah tanggal pada saat pertama kali transaksi memenuhi
kriteria pengakuan sesuai dengan SAK. Untuk alasan praktis, suatu kurs yang mendekati kurs
aktual pada tanggal transaksi sering digunakan, sebagai contoh, kurs rata-rata untuk seminggu
atau sebulan mungkin dapat digunakan untuk semua transaksi dalam valuta asing yang terjadi
selama periode tersebut. Akan tetapi, jika kurs berfluktuasi secara signifikan, maka
penggunaan kurs rata-rata untuk suatu periode adalah tidak tepat.
5

Pelaporan pada Akhir Periode Pelaporan Berikutnya


Paragraf 23 - Pada akhir setiap periode pelaporan:
(a)

pos moneter valuta asing harus dijabarkan menggunakan kurs penutup;

(b)

pos nonmoneter yang diukur dalam biaya historis, dalam suatu valuta asing dijabarkan
menggunakan kurs pada tanggal transaksi; dan

(c)

pos nonmoneter yang diukur pada nilai wajar, dalam valuta asing harus dijabarkan
menggunakan nilai tukar pada tanggal ketika nilai wajar diukur.

Paragraf 24 - Jumlah tercatat beberapa pos ditentukan dengan membandingkan dua atau
lebih dari pos tersebut. Sebagai contoh, jumlah tercatat persediaan adalah nilai yang lebih
rendah antara biaya perolehan dan nilai realisasi bersih sesuai dengan PSAK 14: Persediaan.
Serupa dengan hal tersebut, sesuai dengan PSAK 48 Penurunan Nilai Aset, jumlah tercatat
suatu aset yang terdapat indikasi penurunan nilai adalah nilai yang lebih rendah antara jumlah
tercatatnya sebelum mempertimbangkan kemungkinan rugi penurunan nilai dan jumlah
terpublihkannya. Jika aset adalah nonmoneter dan diukur dalam suatu valuta asing, maka
jumlah tercatatnya ditentukan dengan membandingkan:
(a)

biaya perolehan atau jumlah tercatat (mana yang sesuai), dijabarkan dengan nilai tukar
pada tanggal ketika jumlah itu ditentukan (yaitu nilai pada tanggal transaksi untuk suatu
pos yang diukur dalam biaya historis); dan

(b)

nilai realisasi bersih atau jumlah terpulihkan (mana yang sesuai), dijabarkan dengan
nilai tukar pada tanggal ketika nilai itu ditentukan (misalnya kurs penutup pada akhir
periode pelaporan).

Pengaruh dari perbandingan ini mungkin merupakan rugi penurunan nilai yang diakui dalam
mata uang fungsional tetapi tidak diakui dalam mata uang asing, atau sebaliknya.
Pengakuan Selisih Nilai Tukar
Paragraf 28 - Selisih nilai tukar yang timbul pada penyelesaian pos moneter atau pada
penjabaran pos moneter pada kurs yang berbeda dari kurs pada saat pos moneter tersebut
dijabarkan, pada pengakuan awal selama periode atau pada periode laporan keuangan
sebelumnya, harus diakui dalam laba atau rugi dalam periode pada saat terjadinya, kecuali
sebagaimana dideskripsikan dalam paragraf 32.

Paragraf 30 - Jika keuntungan atau kerugian pada pos nonmoneter diakui dalam penghasilan
komprehensif lain, maka setiap komponen kurs dari keuntungan atau kerugian tersebut diakui
dalam penghasilan komprehensif lain. Sebaliknya, jika keuntungan atau kerugian pada
pos nonmoneter diakui dalam laba atau rugi, maka setiap komponen kurs dari keuntungan
atau kerugian tersebut diakui dalam laba atau rugi.
Paragraf 32 - Selisih kurs yang timbul pada suatu pos moneter yang membentuk bagian dari
investasi neto suatu entitas pelapor dalam kegiatan usaha luar negeri
(lihat paragraf 15) diakui dalam laba atau rugi pada laporan keuangan tersendiri entitas
pelapor sesuai dengan PSAK 4: Laporan Keuangan Tersendiri atau laporan keuangan
individual kegiatan usaha luar negeri dan entitas pelapor (contohnya laporan keuangan
konsolidasian ketika kegiatan usaha luar negeri adalah entitas anak), selisih kurs diakui
awalnya dalam penghasilan reklasifikasi dari ekuitas ke laba atau rugi pada saat pelepasan
investasi neto sesuai dengan paragraf 48.

Perubahan dalam Mata Uang Fungsional


Paragraf 35 - Ketika terdapat perubahan dalam mata uang fungsional, entitas menerapkan
prosedur penjabaran untuk mata uang fungsional yang baru secara prospektif sejak tanggal
perubahan itu.
PENGGUNAAN MATA UANG PENYAJIAN SELAIN MATA UANG FUNGSIONAL
Penjabaran dalam Mata Uang Penyajian
Paragraf 38 Pada umumnya mata uang penyajian di Indonesia adalah rupiah. Entitas dapat
menyajikan laporan keuangan dalam mata uang (atau beberapa mata uang) selain mata uang
fungsionalnya. Jika mata uang penyajian berbeda dengan mata uang fungsional entitas, maka
entitas menjabarkan hasil dan posisi keuangannya ke dalam mata uang penyajian.
Paragraf 39 - Hasil dan posisi keuangan entitas yang mata uang fungsionalnya bukan
mata uang dari suatu ekonomi hiperinflasi harus dijabarkan ke dalam mata uang
penyajian yang berbeda, dengan menggunakan prosedur sebagai berikut:
(a) aset dan laibilitas untuk setiap laporan posisi keuangan yang disajikan (yaitu termasuk
komparatif) dijabarkan menggunakan kurs penutup pada tanggal laporan posisi keuangan
tersebut.

(b) penghasilan dan beban untuk setiap laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif
lain (yaitu termasuk komparatif) dijabarkan menggunakan kurs pada tanggal transaksi;
dan
(c) seluruh selisih kurs yang dihasilkan diakui dalam penghasilan komprehensif lain.
Paragraf 41 - Selisih kurs yang mengacu paragraf 39(c) dihasilkan dari:
(a) penjabaran penghasilan dan beban dengan kurs pada tanggal transaksi serta aset dan
liabilitas dengan kurs penutup.
(b) penjabaran saldo awal aset neto dengan kurs penutup yang berbeda dari kurs penutup
sebelumnya.
Selisih kurs ini tidak diakui dalam laba rugi karena perubahan kurs memiliki sedikit atau
tidak memiliki pengaruh langsung terhadap arus kas sekarang dan masa depan dari kegiatan
usaha luar negeri.
Paragraf 42 Hasil dan posisi keuangan entitas yang mata uang fungsionalnya adalah
mata uang dari suatu ekonomi hiperinflasi dijabarkan ke dalam mata uang penyajian
yang berbeda dengan menggunakan prosedur sebagai berikut:
a. seluruh jumlah (yaitu aset, liabilitas, pos ekuitas, penghasilan, dan beban termasuk
komparatifnya) dijabarkan dengan kurs penutup pada tanggal laporan posisi keuangan
terkini, kecuali bahwa
b. ketika jumlah tersebut dijabarkan ke dalam mata uang uang ekonomi nonhiperinflasi,
maka jumlah komparatif adalah jumlah yang disajikan sebagai jumlah tahun berjalan
dalam laporan keuangan tahun sebelumnya yang relevan (yaitu tidak disesuaikan
dengan perubahan tingkat harga berikutnya atau perubahan kurs berikutnya).
Paragraf 43 Ketika mata uang fungsional entitas adalah mata uang ekonomi
hiperinflasi, maka entitas menyajikan kembali laporan keuangannya sesuai dengan PSAK
63: Pelaporan Keuangan dalam Ekonomi Hiperinflasi sebelum menerapkan metode
penjabaran yang dijelaskan di paragraf 42, kecuali untuk jumlah komparatif yang
dijabarkan ke dalam mata uang ekonomi bukan hiperinflasi (lihat paragraf 42(b)). Ketika
ekonomi hiperinflasi berakhir dan entitas tidak lagi menyajikan kembali laporan
keuangannya sesuai dengan PSAK 63, maka entitas menggunakan jumlah yang disajikan
kembali ke tingkat harga pada tanggal entitas berhenti menyajikan kembaki laporan
keuangannya, sebagai biaya historis untuk penjabaran ke dalam mata uang penyajian.
Penjabaran Kegiatan Usaha Luar Negeri

Paragraf 44 - Paragraf 45-47, sebagai tambahan paragraf 38-43, diterapkan ketika hasil dan
posisi keuangan kegiatan usaha luar negeri dijabarkan ke dalam mata uang penyajian
sehingga kegiatan usaha luar negeri dapat digabungkan ke dalam laporan keuangan entitas
pelapor dengan cara konsolidasi atau metode ekuitas.
Paragraf 45 - Penggabungan dari hasil dan posisi keuangan kegiatan usaha luar negeri
dengan entitas pelapor mengikuti prosedur konsolidasi normal, seperti eliminasi saldo dan
transaksi intra kelompok usaha dari entitas anak (lihat PSAK 65: Laporan Keuangan
Konsolidasian). Akan tetapi, aset atau liabilitas moneter intrakelompok usaha, baik jangka
pendek atau jangka panjang tidak dapat dieliminasi dengan liabilitas atau aset intrakelompok
usaha tanpa menunjukkan hasil fluktuasi mata uang dalam laporan keuangan konsolidasian.
Hal ini karena pos moneter menggambarkan komitmen untuk mengkonversi satu mata uang
ke dalam mata uang lain dan mengakibatkan entitas pelapor memiliki risiko atas keuntungan
atau kerugian melalui fluktuasi mata uang. Sejalan dengan hal tersebut, dalam laporan
keuangan konsolidasian entitas pelapor, selisih kurs diakui dalam laba rugi atau, jika selisih
kurs tersebut timbul dari kondisi yang dideskripsikan dalam paragraf 32, maka selisih kurs
diakui dalam penghasilan komprehensif lain dan diakumulasikan dalam komponen ekuitas
sampai pelepasan kegiatan usaha luar negeri.
Paragraf 46 - Jika laporan keuangan kegiatan usaha luar negeri memiliki tanggal yang
berbeda dari entitas pelapor, maka kegiatan usaha luar negeri sering menyusun laporan
keuangan tambahan dengan tanggal yang sama dengan laporan keuangan entitas pelapor.
Ketika

hal

ini

tidak

dilakukan,

PSAK

65:

Laporan

Keuangan

Konsolidasian

memperkenankan untuk penggunaan tanggal yang berbeda yang mana perbedaan tersebut
tidak lebih dari tiga bulan dan penyesuaian dilakukan atas dampak setiap transaksi atau
peristiwa signifikan lain yang terjadi antara tanggal yang berbeda tersebut.
Paragraf 47 - Setiap goodwill yang timbul dari akuisisi kegiatan usaha luar negeri dan
setiap penyesuaian nilai wajar jumlah tercatat aset dan liabilitas yang timbul dari akuisisi
kegiatan usaha luar negeri diperlakukan sebagai aset dan liabilitas kegiatan usaha luar
negeri tersebut. Dengan demikian, aset dan liabilitas tersebut dinyatakan dalam mata uang
fungsional kegiatan usaha luar negeri dan dijabarkan dengan menggunakan kurs
penutup.
Pelepasan atau Pelepasan Sebagian Kegiatan Usaha Luar Negeri
Paragraf 48 - Dalam pelepasan kegiatan usaha luar negeri, jumlah kumulatif selisih kurs
yang terkait dengan kegiatan usaha luar negeri tersebut, yang diakui dalam penghasilan
9

komprehensif

lain

dan

diakumulasi

dalam

komponen

ekuitas

yang

terpisah,

direklasifikasikan dari ekuitas ke laba rugi (sebagai penyesuaian reklasifikasi) ketika


keuntungan atau kerugian dari pelepasan kegiatan usaha luar negeri diakui (lihat PSAK
1: Penyajian Laporan Keuangan).
Paragraf 48A Sebagai tambahan pelepasan seluruh kepentingan entitas pada kegiatan usaha
luar negeri, pelepasan parsial berikut ini dicatat sebagai pelepasan:
(a) ketika pelepasan sebagian melibatkan hilangnya pengendalian pada entitas anak yang
mencakup kegiatan usaha luar negeri, terlepas dari apakah entitas masih memilki kepentingan
nonpengendali pada entitas anak setelah pelepasan parsial; dan
(b) ketika kepentingan yang masih dimiliki setelah pelepasan parsial atas kepentingan dalam
peraturan bersama, atau pelepasan parsial atas kepentingan dalam entitas asosiasi yang
mencakup kegiatan operasi luar negeri, merupakan aset keuangan yang mencakup kegiatan
operasi luar negeri.
Paragraf 48B - Pada pelepasan entitas anak yang mencakup kegiatan usaha luar negeri,
jumlah kumulatif selisih kurs yang terkait dengan kegiatan usaha luar negeri yang telah
diatribusikan pada kepentingan nonpengendali dihentikan pengakuannya, tetapi tidak
direklasifikasi ke laba rugi.
Paragraf 48C - Dalam pelepasan sebagian dari entitas anak yang mencakup kegiatan
usaha luar negeri, entitas mereatribusi bagian yang sebanding dari jumlah kumulatif
selisih kurs yang diakui dalam penghasilan komprehensif lain ke kepentingan
nonpengendali pada kegiatan usaha luar negeri tersebut. Dalam setiap pelepasan yang
lain atas sebagian kegiatan usaha luar negeri, entitas mereklasifikasi hanya bagian
proporsional dari jumlah kumulatif selisih kurs yang diakui dalam penghasilan
komprehensif lain ke laba rugi.
Paragraf 48D Pelepasan sebagian kepentingan entitas pada kegiatan usaha luar negeri
adalah setiap pengurangan kepentingan kepemilikan entitas dalam suatu kegiatan usaha luar
negeri, kecuali pengurangan di paragraf 48A yang diperlakukan sebagai pelepasan.
Paragraf 49 - Entitas dapat melepas atau sebagian kepentingannya pada kegiatan usaha luar
negeri melalui penjualan, likuidasi, pembayaran kembali modal saham atau meninggalkan
seluruh atau sebagian dari entitas tersebut.
PENGARUH PAJAK DARI SELURUH SELISIH KURS
Paragraf 50 - Keuntungan atau kerugian transaksi valuta asing dan selisih kurs yang timbul
dalam penjabaran hasil dan posisi keuangan entitas (termasuk suatu kegiatan usaha luar
10

negeri) ke dalam mata uang yang berbeda mungkin memiliki pengaruh pajak. PSAK 46:
Pajak Penghasilan diterapkan ke pengaruh pajak tersebut.
PENGUNGKAPAN
Paragraf 51 - Pada paragraf 53 dan 55-57, dalam kasus suatu kelompok, acuan mata
uang fungsional berlaku pada mata uang fungsional dari entitas induk.
Paragraf 52 - Entitas mengungkapkan:
(a) jumlah selisih kurs yang diakui dalam laba rugi, kecuali untuk selisih kurs yang timbul
pada instrumen keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laba rugi sesuai dengan
PSAK 55: Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran; dan
(b) selisih kurs neto yang diakui dalam penghasilan komprehensif lain dan
diakumulasikan dalam komponen ekuitas yang terpisah, serta rekonsiliasi dari selisih kurs
tersebut pada awal dan akhir periode.
Paragraf 53 - Jika mata uang penyajian berbeda dari mata uang fungsional, maka fakta
tersebut dinyatakan bersama dengan pengungkapan tentang mata uang fungsional dan
alasan untuk menggunakan suatu mata uang penyajian yang berbeda.
Paragraf 54 - Jika terdapat perubahan dalam mata uang fungsional entitas pelapor
maupun kegiatan usaha luar negeri yang signifikan, maka fakta dan alasan perubahan
dalam mata uang fungsional tersebut diungkapkan.
Paragarf 55 - Jika entitas menyajikan laporan keuangan dalam mata uang yang berbeda
dari mata uang fungsionalnya, maka entitas mendeskripsikan bahwa laporan keuangan
telah patuh pada SAK hanya jika entitas mematuhi seluruh persyaratan SAK yang
berlaku.
Paragraf 57 - Jika entitas menyajikan laporan keuangan atau informasi keuangan lain
dalam mata uang yang berbeda, baik mata uang fungsional maupun dari mata uang
penyajian, dan persyaratan dari paragraf 55 tidak terpenuhi, maka entitas:
(a) mengidentifikasi secara jelas informasi tersebut sebagai informasi tambahan untuk
membedakannya dengan informasi yang patuh pada SAK;
(b) mengungkapkan mata uang yang digunakan dalam informasi tambahan tersebut
disajikan; dan
(c) mengungkapkan mata uang fungsional entitas dan metode penjabaran yang digunakan
untuk menentukan informasi tambahan tersebut.

11

CONTOH PENERAPAN PENGARUH PERUBAHAN KURS VALUTA ASING


Contoh kasus ini kami ambil dari laporan keuangan PT. Garuda Indonesia (PERSERO)
Tbk. Berserta entitas anak, berdasarkan Laporan Catatan Atas Laporan Keuangan per tanggal
31 Desember 2013, di dapat informasi :
(a) Pembukuan Perusahaan sejak tahun 2012 telah menggunakan bahasa Inggris dan dalam
mata uang Dolar Amerika Serikat (USD) dan telah disetujui oleh Direktorat Jendral
Pajak dengan keputusan No. KEP-289/WPJ.19/2012.
12

(b) Mata uang pelaporan yang digunakan untuk penyusunan laporan keuangan
konsolidasian adalah mata uang Dolar Amerika Serikat (USD), dan Iaporan keuangan
konsolidasian tersebut disusun berdasarkan nilai historis, kecuali beberapa\ akun
tertentu disusun berdasarkan pengukuran lain sebagaimana diuraikan dalam kebijakan
akuntansi masing-masing akun tersebut.
(c) Transaksi dan Penjabaran Laporan Keuangan Dalam Mata Uang Asing Pembukuan
pada masing-masing entitas di dalam Grup, kecuali GA, AWS dan entitas anak
diselenggarakan dalam mata uang Dolar Amerika Serikat (USD), mata uang dari
lingkungan ekonomi utama di mana entitas beroperasi (mata uang fungsional).
Transaksitransaksi selama periode berjalan dalam mata uang non-fungsional dicatat
dengan kurs yang berlaku pada saat terjadinya transaksi. Pada tanggal pelaporan, aset
dan liabilitas moneter dalam mata uang non fungsional disesuaikan untuk
mencerminkan kurs yang berlaku pada tanggal tersebut. Keuntungan atau kerugian/
yang timbul dikreditkan atau dibebankan dalam laporan laba rugi. Pos nonmoneter
diukur dalam biaya historis dalam valuta asing yang tidak dijabarkan kembali.

Pelaporan yang digunakan oleh

13

Penyajian ASET dan LIABILITAS moneter dalam mata uang asing dengan
penyajian sebagai berikut :

14

KOMENTAR
Menurut kelompok kami, PSAK 10 telah menerapkan Konsep Dasar Akuntansi dalam
peraturannya. Konsep dasar akuntansi yang diterapkan, antara lain :
Pertimbangan
Konsep ini menjelaskan dalam menyusun laporan
(Judgement)

keuangan banyak diperlukan pertimbangan-pertimbangan


akuntan

atau

manajemen

berdasarkan

keahlian

atau

pengalaman yang dimilikinya.


15

Alasan :

Paragraf 12. Ketika indikator-indikator diatas semuanya


tergabung
manajemen

dan

mata

uang

menggunakan

fungsionalnya

tidak

pertimbangannya

jelas,
untuk

menentukan mata uang fungsional manakah yang paling tepat


menggambarkan pengaruh ekonomi dari transaksi-transaksi,
kejadian dan kondisi yang mendasarinya. Sebagai bagian dari
pendekatan ini, manajemen memberikan prioritas pada
indikator-indikator

utama

dalam

paragraf

sebelum

mempertimbangkan indikator-indikator dalam paragraf 10 dan


11, yang didesain untuk memberikan tambahan bukti
pendukung untuk menentukan mata uang fungsional suatu
Measurement

entitas.
Konsep ini menjelaskan bahwa akuntansi adalah sebagai
alat pengukuran sumber-sumber ekonomi atau Economic
Resources dan kewajiban (Liability) beserta perubahannya
yang terjadi akibat operasi perusahaan. Akuntansi mencoba
mengukur nilai suatu aset, kewajiban, modal, hasil, dan biaya.
Dalam prinsip diatur alat ukurnya adalah moneter.

Alasan :

Paragraf 13. Mata uang fungsional suatu entitas


mencerminkan transaksi, kejadian dan kondisi yang mendasari
yang relevan. Sehingga, sekali ditentukan, mata uang
fungsional tidak berubah kecuali ada perubahan pada

Unit Moneter

transaksi, kejadian dan kondisi yang mendasari tersebut.


Konsep ini menyatakan bahwa pengukuran yang dipakai

(Monetery Unit)

dalam akuntansi adalah dalam bentuk ukuran moneter atau


uang. Semua transaksi di perusahaan dikuantitatifkan dan
dilaporkan dalam bentuk nilai uang (rupiah/dollar).

Alasan :

Paragraf 16 - Fitur utama dari suatu pos moneter adalah


hak untuk menerima (atau kewajiban untuk menyerahkan)
suatu jumlah unit mata uang yang tetap atau dapat ditentukan.
Sebagai contoh mencakup: pensiun dan imbalan kerja lain
yang dibayar dalam kas, povisi yang diselesaikan secara kas,
dan dividen kas yang diakui sebagai liabilitas. Serupa dengan
hal tersebut, kontrak untuk menerima (atau menyerahkan)
16

jumlah bervariasi dari instrumen ekuitas yang dimiliki oleh


entitas atau suatu jumlah variasi dari aset yang nilai wajarnya
diterima (atau diserahkan) setara dengan suatu jumlah unit
mata uang yang tetap atau dapat ditentukan merupakan pos
moneter.
Paragraf 38 Pada umumnya mata uang penyajian di
Indonesia adalah rupiah. Entitas dapat menyajikan laporan
keuangan dalam mata uang (atau beberapa mata uang) selain
mata uang fungsionalnya. Jika mata uang penyajian berbeda
dengan

mata

uang

fungsional

entitas,

maka

entitas

menjabarkan hasil dan posisi keuangannya ke dalam mata


uang penyajian.

DAFTAR PUSTAKA
Ikatan Akuntan Indonesia. 2014. Standar Akuntansi Keuangan Per Efektif 1 Januari 2015.
Jakarta: Dewan Standar Akuntansi Keuangan-Ikatan Akuntan Indonesia

17