Anda di halaman 1dari 22

INI MENS BUKAN YA..???

STEP 1
1.
STEP 2
1. Mengapa pasien mengalami perdarahan dari jalan lahir?
2. Mengapa pasien mengeluh nyeri perut bagian bawah?
3. Mengapa ditemukan ku lemah ,pucat,TD rendah,HB rendah??
4. Indikasi jika ada gelembung didarah apa?
5. Apakah selama 2 bulan bisa dikatakan aminore?
6. Mengapa dulu HCG( +) dan sekarang hasilnya( -)?
7. Mengapa conjungtiva anemis?
8. Penatalaksanaan selanjutnya dari scenario diatas?
9. DD?
10.
TuJuan USG?
11.
Hubungan dengan melakukan hubungan dengan suami dengan
gejala?
STEP 3
1. Mengapa pasien mengalami perdarahan dari jalan lahir?
Perdarahan ada 2:
Organic:dan fungsional pada organ:
- servix uteri:ada (polip servix uteri ,portio ad ulcus,ca services uteri)
-Pada orga corpus uteri(polip endometrium,abortus iminens,abortus
inkomplitus,mola -hidatidosa,coriocarsinoma)
-Tuba fallopi(KET,radang pada tuba,ca tuba)
-Ovarium(radang ovarium dan tumor ovarium)
-tes kehamilan +>perdarahan->mungkin terjadi kehamilanika
perdarahan harus segera ditangani,ika patologis-->kehamilan ektopik
Kemungkinan abortus:
JENIS ABORTUS
-abortus iminens
-abortus inkomplit
-abortus komplit
-KET

ada

Perdarahan ada 2
-hamil-> kurang 20 minggu(KET,abortus) atau lebih 20 minggu.(solusio
plasenta,plasenta plevia)
-tdk hamil(ca servix.polip servix)
2. Mengapa pasien mengeluh nyeri perut bagian bawah?

-Abortusperdarahan decidua basalis->nekrosis jaringanhasil konsepsi


terlepaskrn dihambat uterus sbg organ asing->uterus berkontraksi untuk
mengeluarkan benda asing tsb.-->kontraksinyeri perut bag. Bawah.
Decidua basalis???
-Pada KET ad perdarahan cavum douglass juganyeri
3. Mengapa ditemukan ku lemah ,pucat,TD rendah,HB rendah?
-perdarahan>vol drh keluar(eritrosit)berkurangkompensasi eritrosit
baru->jk pd wanita hamil kebutuhan tinggi konsentrasi hb sdikit->lemas>perfusi ke jaringan
Nilai normal:
Ringan 10-11g%
Sedang 7-9g%
Berat <7g%
-TD MENURUN->cardiac output menurun>hipotensi.
4. Apa Indikasi jika ada gelembungcairan didarah di jalan lahir ?
Mola hidatidosa(hamil anggur)>abnormal fili corionicyg menadi kista dan
menyerupai anggur yg dipenuhi cairan->embrio mati>mola akan tumbuh
cepat dan membesar diuterus dan menghasilkan hormone HCG yang besar.
5. Apakah selama 2 bulan tidak haid bisa dikatakan aminore?
Criteria (+ )aminore:
-Tidak terjadi haid smpai usia 14 th dan tdk ad cri klamin sekunder
-Tdk haid sampai usia 16 th tp disertai perkembangan alat kelamin sekunder
yg normal
-Tdk terajdi haid untuk sdikitnya slma
3 bulan berturutturut pada
perempuan yg pernah haid.
-tdk mens->blm tntu kehamilan tp disebabkan hal lain missal:
Anovulasi,gangguan emosional,penyakit lain (sindrom asherman)agenesis
ductus mulleri))
Kompartemen 1 uterus
Kompartemen 2 ovarium
Kompartemen 3 hipofisis
Kompartemen 4 SSP
6. Mengapa dulu HCG( +) dan sekarang hasilnya( -)?
Tes kehamilan dgn urin--/.mencari hcg(dihasilkan sel trofoblas ))
Hcg bisa ditemukan kasus lain
-mola hidatidosa
Keganasan lainya
Sekarang ()-->(penghasilan hcg hilang)plasenta tdk ada dan tdk bs
menghasilkan hcg lg.

Kemungkinan
Usia 2 bulan hcg rendah ada 2 kehamilan(KET dan abortus iminens)
7. Penatalaksanaan selanjutnya dari scenario diatas?
-umum:istirahat baring,(bs menyebabkan aliran darah ke uterus)
Pada khmilan >1 minggu ->infuse oksitosin dimulai 8 tetes permenit.
Syok>infis LR dan secepatnya ditranfusi.
8. DD?
ABORTUS
-Definisi : berakhirnya kehamilan sebelum anin dapat hidup di dunia luar
-Etiologi: kelainan plasenta
-Manfes:terlambat haid <20 minggu
KU:lemah,perdarahan pervaginam.nyeri atas symphisis pubis
-klasifikasi
Abortus spontan: terjadinya tdk didahului factor mekanis
Abortus provokatus:aboruts yg disengaja(obatn atau disengaja)
-Ada 2 jenis abortus provokatus:
Medicinalis:krn ad kelainan /cacat bawaan dr rahimnya.(belum dapat
persetuuan dr tim dokter ahli
Criminalis:krn tindakan yg tdk legal(hamil diluar nikah)
Jenis abortus berdasarkan deraatnya
Abortus iminens:drh yg keluar sedikit-banyakbisa dikeluarkan dengan
obatan dan hormone)
Abortus insipiens:drh yg kluar sedang banyak,ada dilatasi servix
Keguguran sedang berlangsung teraba ketuban
Abortus inkomplit:sedikit-banyak bagian aringan janin
Abortus komplit:seluruh jaringan anin keluar
Missed abortion:bayi sudah mati didalam>darah kehitaman
KET
Definisi: kehamilan ektopik diluar cavum uteri
Etiologi:
-peny salphingitis,
-gangguan perlekatan di tuba,
-kelainan congenital,
-kelainan zigot,
-kromosom,
-mafformasi tdk wajar,
-Factor ovarium(migrasi ovarium,ovarium kanan ke tuba kiri./sebaliknya.
Penggunaan hormone estrogen,
Aborsi tuba
Manfes
Sering :Nyeri abdomen,nyeri tekan abdomen,perdarahan pervaginam.

Jarang :riwayat kehamilan ektopik.


9. TuJuan USG?
Trimester awal (pakai trasvaginal):untuk mengetahui:
-ada tidaknya kehamilan
-Mengetahui lokasi kehamilan
-Mencaru tanda kehidupan janin
-Usis janin
-Tinggi fundus uteri
10.
Hubungan melakukan hubungan dengan suami dengan gejala?
Orgasme uterus kontraksi-->keguguran

STEP 4

Amenore(HP
HT 30 agsts
2013
Tes
hamil

keluhan

Keluar darah
dari jalan
lahir

Nyeri perut
bag bawah

faktor

STEP 7 LBM 2 Repro


1. Mengapa pasien mengalami perdarahan dari jalan lahir?
Perdarahan yang terjadi pada masa kehamilan kurang dari 22 minggu. Pada
masa kehamilan
muda, perdarahan
pervaginam yang
berhubungan
dengan kehamilan dapat
berupa: abortus,kehamilan mola, kehamilan
ektopik.
Pada awal abortus terjadi pendarahan yang menyebabkan janin terlepas.
Pada kehamilan kurang dari 8 minggu janin biasanya dikeluarkan
seluruhnya karena villi koriales belum menembus desidua secara
mendalam. Pada kehamilan 814 minggu villi koriales menembus desidua
secara mendalam, plasenta tidak dilepaskan sempurna sehingga banyak
perdarahan. Pada kehamilan diatas 14 minggu, setelah ketubah pecah janin
yang telah mati akan dikeluarkan dalam bentuk kantong amnion kosong dan
kemudian plasenta (Prawirohardjo, S, 2002).
Prawirohardjo, Sarwono. 2002. ILMU KEBIDANAN. Jakarta: Tridasa Printer
JENIS ABORTUS
Abortus dapat dibagi atas dua golongan:
a. Abortus Spontan
Adalah abortus yang terjadi dengan tidak didahului faktor-faktor mekanis atau
pun medisinalis, semata-mata disebabkan oieh faktor-faktor alamiah.

b. Abortus Provakatus (induced abortion)


Adalah abortus yang disengaja, baik dengan memakai obat-obatan maupun
alat-alat. Abortus ini terbagi menjadi:
- Abortus Medisinalis (abortus therapeutica)
Abortus karena tindakan kita sendiri, dengan alasan bila kehamilan
dilanjutkan, dapat membahayakan jiwa ibu (berdasarkan indikasi medis).
Biasanya perlu mendapat persetujuan 2 sampai 3 tim dokter ahli.
- Abortus Kriminalis
Abortus yang terjadi oleh karena tindakan-tindakan yang tidak legal atau
tidak berdasarkan indikasi medis. ( biasanya karena hamil diluar nikah )

Klinis Abortus Spontan


Dapat dibagi atas:
Abortus Kompletus (Keguguran lengkap): Artinya seluruh hasil
konsepsi dikeluarkan (desidua dan fetus), sehingga rongga rahim
kosong.
Terapi: hanya dengan uterotonika.

Abortus Inkompletus (Keguguran bersisa): Hanya sebagian dari


hasil konsepsi yang dikeluarkan, yang tertinggal adalah desidua atau
plasenta.
Gejala: didapati antara lain adalah amenorea, sakit perut, dan mulasmulas; perdarahan yang bisa sedikit atau banyak, dan biasanya
berupa stolsel (darah beku); sudah ada keluar fetus atau jaringan;
pada abortus yang sudah lama terjadi atau pada abortus provakatus
yang dilakukan oleh orang yang tidak ahli, sering teijadi infeksi. Pada
pemeriksaan dalam (V.T.) untuk abortus yang baru terjadi didapati
serviks terbuka, ka-dang-kadang dapat diraba sisa-sisa jaringan dalam
kanalis servikalis atau kavum uteri, serta uterus yang berukuran lebih
kecil dari seharusnya.

Terapi: Bila ada tanda-tanda syok maka atasi dulu dengan pemberian
cairan dan transfusi darah. Kemudian keluarkan jaringan secepat
mungkin dengan metode digital dan kuretase. Setelah itu beri obatobat uterotonika dan antibiotika.
Abortus Insipiens (Keguguran sedang berlangsung): Adalah
abortus yang sedang berlangsung, dengan ostium sudah terbuka dan
ketuban yang teraba. Kehamilan tidak dapat dipertahankan lagi.
Terapi: seperti abortus inkompletus.

b. Abortus Iminens (Keguguran membakat): Keguguran membakat


dan akan terjadi. Dalam hal ini keluarnya fetus masih dapat dicegah
dengan memberikan obat-obat hormonal dan antispasmodika serta
istirahat. Kalau perdarahan setelah beberapa minggu masih ada,
maka perlu ditentukan apakah kehamilan masih baik atau tidak. Kalau
reaksi kehamilan 2 kali berturut-turut negatif, maka sebaiknya uterus
dikosongkan (kuret).
Abortus imminens ialah peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus
pada kehamilan sebelum 20 minggu, dengan hasil konsepsi masih
dalam uterus dan viabel, dan serviks
tertutup.
c. Missed Abortion: keadaan dimana janin sudah mati, tetapi tetap
berada dalam rahim dan tidak dikeluarkan selama 2 bulan atau lebih.
Fetus yang meninggal ini:
(a) bisa keluar dengan sendirinya dalam 2-3 bulan sesudah fetus mati
(b) bisa diresorbsi kembali sehingga hilang

(c) bisa terjadi mengering dan menipis yang disebut: fetus


papyraceus
(d) bisa jadi mola karnosa, dimana fetus yang sudah mati 1 minggu
akan mengalami degenerasi dan air ketubannya diresorbsi.
Gejala: Dijumpai amenorea; perdarahan sedikdt-sedikit yang
berulang pada permulaannya, serta selama observasi fundus tidak
bertambah tinggi, malahan tambah rendah, Kalau tadinya ada gejalagejala kehamilan, belakangan menghilang, diiringi dengan reaksi
kehamilan yang menjadi negatif pada 2-3 minggu sesudah fetus mati.
Pada pemeriksaan dalam, serviks tertutup dan ada darah sedikit.
Sekali-sekali pasien merasa perutnya dingin atau kosong.
Terapi: Berikan obat dengan maksud agar terjadi his sehingga fetus
dan desidua dapat dikeluarkan, kalau tidak berhasil lakukan dilatasi
dan kuretase. Dapat juga dilakukan histerotomia anterior. Hendaknya
pada penderita juga diberikan tonika dan antibiotika.
Komplikasi: Bisa timbul hipo atau afibrinogenemia. Fetus yang sudah
mati begitu melekatnya pada rahim sehingga sulit sekali untuk
dilakukan kuretase
f. Abortus Habitualis (Keguguran berulang): keadaan dimana
penderita mengalami keguguran berturut-turut 3 kali atau lebih.
Menurut HERTIG abortus spontan terjadi dalam 10% dari kehamilan
dan abortus habitualis 3,6 - 9,8% dari abortus spontan. Kalau seorang
penderita telah mengalami 2 kali abortus berturut-turut maka
optimisme untuk kehamilan berikutnya berjalan normal adalah sekitar
63%. Kalau abortus 3 kali berturut-turut, maka kemungkinan
kehamilan ke 4 berjalan normal hanya sekitar 16%.
Etiologi:
(1) Kelainan dari ovum atau spermatozoa, dimana kalau terjadi
pembuahan hasilnya adalah pembuahan yang patologis.
(2) Kesalahan-kesalahan pada ibu, yaitu disfungsi tiroid, kesalahan
korpus luteum, kesalahan plasenta, yaitu tidak sanggupnya plasenta
menghasilkan progesteron sesudah korpus luteum atrofis. Ini dapat
dibuktikan dengan mengukur kadar pregnandiol dalam urin. Selain itu
juga bergantung kepada keadaan gizi si ibu (malnutrisi), kelainan
antomis dari rahim, febris undulands (contagious abortion), hipertensi
oleh karena kelainan pembuluh darah sirkulasi pada plasenta/villi
terganggu dan fetus jadi mati. Dapat juga gangguan psikis, serviks
inkompeten, atau rhesus antagonisme.
Pemeriksaan:
(1) Histerosalfingografi, untukmengetahui ada tidaknya mioma uterus
submukosa dan anomali kongenital.

(2) BMR dan kadar yodium darah diukur untuk mengetahui apakah
ada atau tidak gangguan glandula thyroidea.
(3) Psiko analisis.
Terapi: Pengobatan pada kelainan endometrium pada abortus
habitualis lebih besar hasilnya jika dilakukan sebelum ada konsepsi
daripada sesudahnya. Merokok dan minum alkohol sebaiknya
dikurangi atau dihentikan. Pada serviks inkompeten terapinya adalah
operatif: SHIRODKAR atau MC DONALD (cervical cerclage),
g. Abortus Infeksiosus dan Abortus Septik: keguguran yang disertai
infeksi genital. Abortus septik adalah keguguran disertai infeksi berat
dengan penyebaran kuman atau toksinnya ke dalam peredaran darah
atau peritoneum.
Hal ini sering ditemukan pada abortus inkompletus, atau abortus
buatan, terutama yang kriminalis tanpa memperhatikan syarat- syarat
asepsis dan antisepsis. Bahkan pada keadaan tertentu dapat terjadi
perforasi rahim.

2. Mengapa pasien mengeluh nyeri perut bagian bawah?


Nyeri tekan abdomen di perut bawah artinya yang kita pikirkan pada bagian
perut bawah yang berhubungan dengan perdarahan pervaginam adalah
uterus dan vagina
Dimana penyulit kehamilan pada TM1 beberapa diantaranya adalah :
1. abortus
2. kehamilan ektopik

3. pykt trofoblast / molahidatidosa


Ilmu Kandungan, Sarwono Prawirohardjo
Decidua basalis???
Desidua (decidua) adalah sebuah membran mukosa yang melapisi rahim
(endometrium),dan diluruhkan pada saat nifas atau menstruasi.
Decidua adalah mokusa rahim pd kehamilan,yg terbagi atas:
decidua basalis
= terletak diantara hasil konsepsi dgn dinding
uterus
decidua capsularis
= diantara hasil konsepsi dgn cavum uteri
decidua parietalis/vera
= yg meliputi dinding uterus yg lain

3. Mengapa ditemukan ku lemah ,pucat,TD rendah,HB rendah?


PerdarahanEritrosit & Hb menurunpasokan O2 ke jaringan berkurang
sehingga terjadi pucat sedangkan pucat karena anemia disebabkan
hemoglobin sebagai alat transportasi O2 berkurang yang menyebabkan
suplai gas tersebut berkurang ke jaringan.
Anemia adalah suatu keadaan di mana terjadi kelainan hematologi yang
ditandai dengan disfungsi eritrosit dan/atau hemoglobin dalam mensuplai
oksigen ke jaringan. Secara laboratorik, anemia terjadi penurunan kadar Hb,
hitung eritrosit, dan hematokrit (I Made Bakta, 2006). Kriteria klinik anemia
untuk di Indonesia pada umumnya adalah:
1. Hemoglobin < 10 g/dl
2. Hematokrit < 30%
3. Eritrosit < 2,8 juta/mm3
(I Made Bakta, 2006)

4. Apa Indikasi jika ada gelembungcairan didarah di jalan lahir ?

Sumber :
5. Apakah selama 2 bulan tidak haid bisa dikatakan aminore?
Amenorrhea :

Tidak terjadinya menstruasi selain akibat kehamilan dapat disebabkan oleh


beberapa keadaan. Kemungkinan sebab yang paling sering mundurnya
permulaan menstruasi adalah anovulasi, dan dapat sebagai akibat sejumlah
faktor termasuk gangguan emosi, misalnya takut menjadi hamil. Perubahan
lingkungan dan juga berbagai proses penyakit kronis juga dapat menekan
ovulasi dengan merangsang terjadinya anovulasi yang anestrogenik atau
yang estrogenic.
agenesis ductus mulleri))

Pada minggu ke-7 gestasi(kehamilan), embrio memiliki duktus genitalis


primordial pria dan wanita.Pada janin wanita normal, sistem duktus mulleri
berkembang menjadi tuba uterina(oviduktus) dan uterus.Pada janin pria
normal, sistem duktus wolffian dikedua sisi berkembang menjadi epididimis
dan vas deferens.
Agenesis ductus mulleri : Terhambatnya perkembangan duktus Mulleri
- Bila satu duktus Mulleri tidak terbentuk disebut Uterus unikornis
Uterus unikornis -> vagina dan serviks normal, sedangkan uterus
hanya mempunyai satu tanduk serta satu tuba. Biasanya hanya ada
satu ovarium dan satu ginjal.
- Bila kedua duktus Mulleri tidak terbentuk -> Uterus dan vagina tidak
ada (kecuali 1/3 bagian bawah vagina) kedua tuba tidak terbentuk
6. Mengapa dulu HCG( +) dan sekarang hasilnya( -)?

Tes kehamilan: positif bila janin masih hidup, bahkan 2 3 minggu setelah
abortus.
Jangan terpengaruh hanya pemeriksaan B-HCG yang positif, karena
meskipun janin sudah mati, B-HCG mungkin masih tinggi, bisa bertahan
sampai 2 bulan setelah kematian janin.
Arif mansjoer,dkk. 2004. KAPITA SELEKTA KEDOKTERAN. Jakarta: Media
Aesculapius
HCG meningkat pada keadaan :
Patologis: Mola hidatidosa, choriocarcinoma, tumor testis
epithelioma), tumor ovarium, hematuri, proteinuri>50 gr/dl.
Fisiologis: Menopause, Luteinizing Hormon (LH) saat ovulasi.
Buku Petunjuk Praktikum Patologi Klinik, FK Unissula, 2013.

(chorio

7. Penatalaksanaan selanjutnya dari scenario diatas?


8. DD?
a. ABORTUS
- Definisi
merupakan pengeluaran hasil konsepsi pada usia kehamilan kurang
dari 26 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram. Atau buah
kehamilan belum mampu untuk hidup diluar kandungan.
-

Etiologi
o Defek anatomik uterus
o AutoimunSLE, Antiphospholipid Antibodies

o Infeksi:
Bakteria: Listeria monositogenes, klamidia trakomatis, dll
Virus: CMV, rubella, HSV, dll
Parasit: Toxoplasma gondii, Plasmodium falsiparum
Spirokaeta: treponema pallidum
Abortus dapat terjadi karena beberapa sebab, yaitu :
a) Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi, biasa menyebabkan
abortus pada kehamilan sebelum usia 8 minggu. Faktor yang
menyebabkan kelainan ini adalah :
1) Kelainan kromosom, terutama trisomi autosom dan monosomi
X
2) Lingkungan sekitar tempat implantasi kurang sempurna.
3) Pengaruh teratogen akibat radiasi, virus, obat-obatan,
tembakau, dan alkohol.
b) Kelainan pada plasenta, misalnya endarteritis vili korialis karena
hipertensi menahun.
c) Faktor maternal, seperti pneumonia, tifus, anemia berat,
keracunan, dan toksoplasmosis.
d) Kelainan traktus genitalia, seperti inkompetensi serviks (untuk
abortus pada trimester kedua), retroversi uteri, mioma uteri, dan
kelainan bawaan uterus.
e) Kelainan endokrin, misalnya kekurangan progesteron atau
disfungsi kelenjar gondok.
f) Trauma, misalnya laparatomi atau kecelakaan langsung pada ibu.
g) Gizi ibu yang kurang baik.
h) Faktor psikologis ibu.
-

Manifestasi klinis
a. Terlambat haid atau aminore kurang dari 20 minggu.
b. Pada pemeriksaan fisik, keadaan umum tampak lemah atau kesadaran
menurun, tekanan darah normal atau menurun, denyut nadi normal atau
cepat dan kecil, suhu badan normal atau meningkat.
c. Perdarahan per vaginam, mungkin disertai keluarnya jaringan hasil
konsepsi.
4) Rasa mulas atau kram perut di daerah simfisis, sering disertai nyeri
pinggang akibat kontraksi uterus.

Pemeriksaan ginekologi :
a. Inspeksi vulva : Perdarahan per vaginam, ada atau tidak jaringan hasil
konsepsi, tercium atau
tidak bau busuk dari vulva.
b. Inspekulo : Perdarahan dari kavum uteri, ostium uteri terbuka atau sudah
tertutup, ada atau
tidak jaringan keluar dari ostium, ada atau tidak cairan atau jaringan
berbau busuk dari ostium.

c. Vagina touche : Porsio masih terbuka atau sudah tertutup, teraba atau
tidak jaringan dalam
kavum uteri, besar uterus sesuai atau lebih kecil dari usia kehamilan,
tidak nyeri saat porsio
digoyang, tidak nyeri pada perabaan adneksa, kavum douglasi tidak
menonjol dan tidak nyeri

Patofisiologi
Pada awal abortus terjadi perdarahan dalam desidua basalis kemudian
diikuti nekrosis jaringan disekitarnya.Hal tersebut menyebabkan hasil
konsepsi terlepas sebagian atau seluruhnya,sehingga merupakan
benda asing dalam uterus.Keadaan ini menyebabkan uterus
berkontraksi untuk mengeluarkan isinya.Pada kehamilan kurang dari 8
minggu hasil konsepsi biasanya dikeluarkan seluruhnya karena villi
korialis belum menembus desidua lebih dalam,sehingga hasil konsepsi
mudah dilepaskan.Pada kehamilan 8 14 minggu villi koriales
menembus desidua lebih dalam sehingga umumnya plasenta tidak
dilepaskan sempurna yang dapat menyebabkan banyak
perdarahan.Pada kehailan 14 minggu keatas umunya yang
dikeluarkan setelah ketuban pecah adalah janin disusul dengan
plasenta.Perdarahan jumlahnya tidak banyak jika plasenta segera
terlepas dengan lengkap.
( Sarwono,2008)

Penatalaksanaan
a. Abortus Imminens
Istirahat berbaring
Tidur berbaring merupakan unsure penting dalam pengobatan
karena cara ini menyebabkan bertambahnya aliran darah ke uterus
dan berkurangnya rangsangan mekanik.
Periksa denyut nadi dan suhu badan 2x sehari bila pasien
tidak panas dan tiap 4 jam bila pasien panas
Tes kehamilan dapat dilakukan dan pemeriksaan USG
untuk menentukan lebih pasti apakah janin masih hidup
Pemberian obat penenang, biasanya fenobarbital 330 mg
dan preparat hematinik misalnya sulfas ferosus 600-100 mg
Diet tinggi protein dan vitamin C
Bersihkan vulva minimal 2x sehari dengan cairan antiseptic
untuk mencegah infeksi terutama saat masih mengeluarkan cairan coklat
b. Abortus Insipiens
Bila perdarahan tidak banyak ,tunggu terjadinya abortus
spontan tanpa pertolongan selama 36 jam dengan diberikan mrfin
Pada kehamilan kurang dari 12 minggu , yang biasanya
disertai perdarahan ,tangani dengan pengosonga uterus memakai

kuret vakum atau cunam abortus,disusul dengan kerokan memakai


kuret tajam.Suntikan ergometrin 0,5 mg IM
Pada kehamilan lebih dari 12 minggu ,berikan infuse
oksitosin 10 IU dalam dekstrose 5% 500ml dimulai 8 tetes permenit
dan naikkan sesuai kontraksi uterus sampai terjadi abortus komplit.
Bila janin keluar ,tetapi plasenta masih tertinggal lakukan
pengeluaran plasenta secara manual
c. Abortus Inkomplit
Bila disertai syokkarena perdarahan,berikan infuse cairan NaCl
fisiologis atau ringer laktat dan seleka mungkin ditranfusi darah
Setelah syok diatasi ,lakukak kerokan dengan kuret tajam lalu
suntikannergometrin 0,2 mg IM
Bila janin sudah keluar,tetapi plasenta masih tertinggal,lakukan
pengeluaran plasenta secara manual
Berikan antibiotic untuk mencegah infeksi
d. Abortus Komplit
Bila kondisi pasien baik,berikan ergometrin 3 x 1 tablet selama
3- 5 hari
Bila pasien anemia ,berikan hematinik seperti sulfas ferosus
atau tranfusi darah
Berikan antibiotic untuk mencegah infeksi
Anjurkan pasien diet tinngi protein,vitamin,mineral
Sumber : Kapita Selekta jilid I. Edisi ke 3. 2001 Media Aesculapius
Sastrawinata, Sulaiman. 1992. Obstetri Patologi, Universitas Padjajaran
Bandung
b. KET

Definisi
KE ialah suatu kehamilan yang pertumbuhan sel telur yang telah
dibuahi tidak menempel pada dinding endometrium kavum uteri.
Lebih dari 95% kehamilan ektopik berada di saluran telur (tuba
fallopi),

Etiologi
a. Semua faktor yang menghambat migrasi embrio ke kavum uteri
menyebabkan seorang ibu semakin rentan untuk menderita
kehamilan ektopik, yaitu :
Faktor dalam lumen tuba:
- Endosalpingitis, menyebabkan terjadinya penyempitan lumen tuba
- Hipoplasia uteri, dengan lumen tuba menyempit dan berkelok-kelok
- Operasi plastik tuba dan sterilisasi yang tidak sempurna
b. Faktor pada dinding tuba:
- Endometriosis, sehingga memudahkan terjadinya implantasi di tuba
- Divertikel tuba kongenital, menyebabkan retensi ovum.
c. Faktor di luar dinding tuba:
- Perlekatan peritubal dengan distorsi atau lekukan tuba
- Tumor yang menekan dinding tuba
- Pelvic Inflammatory Disease (PID)

Manifestasi klinis

Gambaran klinik:
Gejala2 kehamilan muda, nyeri sedikit di perut bagian bawah
Pada VT: uterus membesar dan lembek walaupun tdk sebesar
tuanya kehamilan
Nyeri merupakan keluhan utama pada KET
Ruptur tubasakit perut mendadaksyok atau pingsan
Prawirohardjo, Sarwono. 2002. ILMU KEBIDANAN. Jakarta: Tridasa
Printer.
Penatalaksanaan
Seorang pasien yang terdiagnosis dengan kehamilan tuba dan masih dalam
kondisi baik dan tenang, memiliki 2 pilihan, yaitu penatalaksanaan medis
dan penatalaksanaan bedah.
a. Penatalaksanaan Medis
Pada penatalaksanaan medis digunakan zat-zat yang dapat merusak
integritas jaringan dan sel hasil konsepsi. Tindakan konservativ medik
dilakukan dengan pemberian methotrexate. Methotrexate adalah obat
sitotoksik yang sering digunakan untuk terapi keganasan, termasuk
penyakit trofoblastik ganas
b. Penatalaksanaan Bedah
Penatalaksanaan bedah dapat dikerjakan pada pasien-pasien dengan
kehamilan tuba yang belum terganggu maupun yang sudah terganggu.

Tentu saja pada kehamilan ektopik terganggu, pembedahan harus


dilakukan secepat mungkin.

Pemeriksaan penunjang

i. Laboratorium : Hb, Leukosit, urine B-hCG (+).


Hemoglobin menurun setelah 24 jam dan jumlah sel darah merah dapat
meningkat.
ii. USG : - Tidak ada kantung kehamilan dalam kavum uteri
- Adanya kantung kehamilan di luar kavum uteri
- Adanya massa komplek di rongga panggul
iii. Kuldosentesis : suatu cara pemeriksaan untuk mengetahui apakah dalam
kavum Douglas ada darah.
iv. Diagnosis pasti hanya ditegakkan dengan laparotomi.
v. Ultrasonografi berguna pada 5 10% kasus bila ditemukan kantong
gestasi di luar uterus (Mansjoer, dkk, 2001).

c. Molahidatidosa

Definisi

Etiologi

Manifestasi klinis

Patofisiologi

Penatalaksanaan
Penatalaksanaan : Kuretase : 2x harus sampai bersih
o Kontrol I: 2 mgg setelah kuretase yg dievaluasi:
Masihkah ada perdarahan
Masih ada pembesaran uterus
Apakah HCG msh positif
Adanya kista folikel
o Kontrol II: 2mgg stlh kontrol I
Masihkah ada perdarahan
Masih ada pembesaran uterus
Apakah HCG msh positif
Adanya kista folikel
Foto thorax : apakah ada coin lession

o Kontrol III: 2mgg stlh kontrol ke II


apabila smua msh positif disebut clinical choriocarsinoma.

9. TuJuan USG?
USG kehamilan antara lain bermanfaat sebagai berikut:
a. Diagnosis dan konfirmasi awal kehamilan.
Dengan pemindaian USG, embrio dapat diamati dan diukur pada usia
lima setengah minggu. Bila terjadi perdarahan pada trimester pertama,
USG sangat diperlukan untuk diagnosis awal kehamilan ektopik
(kehamilan di luar rahim) dan kehamilan molar/anggur (kehamilan yang
disertai tumor).
b. Melihat posisi dan kondisi plasenta.
Plasenta yang menghalangi jalan lahir (plasenta previa) dapat menyulitkan
proses kelahiran bayi
c. Memeriksa denyut jantung janin.
Denyut jantung janin bisa dilihat dan dideteksi pada umur kehamilan 6 minggu
dan menjadi jelas pada 7 minggu.
d. Mengetahui bila Anda memiliki lebih dari satu bayi (kembar).
e. Menghitung usia kehamilan dan berat janin.
Ukuran tubuh janin mencerminkan usia kehamilan.

f. Mendiagnosis kelainan janin.


Banyak kelainan struktural janin seperti malformasi janin (anensefali,
spina bifida, dll), kelainan jantung, dan hidrosefalus dapat didignosis
dengan USG yang biasanya dilakukan sebelum 20 minggu
g. Memeriksa jumlah cairan ketuban.
Jumlah cairan ketuban terlalu banyak atau terlalu sedikit dapat dengan
jelas digambarkan oleh USG. Kedua kondisi ini dapat berdampak
merugikan pada janin:
- Polihidramnion, (kelebihan cairan ketuban) dapat mengakibatkan sesak
-

nafas berat pada ibu dan persalinan prematur.


Oligohidramnion, kekurangan cairan ketuban) dapat menyebabkan
kematian janin. Kondisi ini sering terkait dengan kelainan bawaan pada
saluran kemih, hambatan pertumbuhan janin dan berat janin kurang.

h. Mengetahui jenis kelamin bayi.


Jenis kelamin bayi tidak memiliki signifikansi medis. Namun, banyak
calon orangtua yang sangat ingin tahu jenis kelamin bayinya sebelum
lahir.
Sumber : eprints.undip.ac.id/19907/2/BAB_I.pdf
10.

Hubungan melakukan hubungan dengan suami dengan gejala?

Ada sebagian orang berteori, hubungan seks pada usia kehamilan tua akan
mempermudah kelahiran karena pada saat itu terjadi kekejangan pada otot Rahim.
Yang terjadi ialah pria mengalami ejakulasi dan sperma masuk ke vagina. Di dalam
sperma terdapat prostaglandin, yakni hormone yang bisa menimbulkan kontraksi.
Bagian dari prostaglandin ini memang bisa menyebabkan kekejangan otot Rahim
meski kontraksinya tak cukup besar untuk menimbulkan kekejangan. Justru
kekejangan lebih sering dan lebih kuat karena orgasme. orgasme pada wanita juga
bisa menyebabkan rahim kontraksi (dan ternyata saat orgasme tubuh
memproduksi oksitosin juga) dan bisa menyebabkan keguguran.

Sumber : DR INYOMAN RUDI SUSANTHA,SPOG