Anda di halaman 1dari 8

Nama : Asri Budi Yulianti

NPM : 260110140110

TUGAS PENDAHULUAN
MODUL 1
PENGUJIAN AKTIVITAS ANTIDIARE DAN PENCAHAR

1. Terangkan bagaimana penggolongan antidiare dan pencahar, berikan


contoh serta jelaskan mekanisme kerjanya masing-masing!
2. Jelaskan bahaya penggunaan pencahar yang terus menerus dan dalam
jangka waktu lama!
Jawaban
1. Obat Antidiare
Tujuan pengobatan yang utama pada diare adalah mencegah dehidrasi dan
mengurangi durasi serta tingkat keparahan diare. Regimen terapi yang
direkomendasikan adalah rehidrasi oral, sebab cukup efektif meringankan
dehidrasi (Faure, 2013).
Penggolongan obat antidiare
1) Kemoterapeutika
Walaupun pada umumnya obat tidak digunakan pada diare, ada
beberapa pengecualian dimana obat antimikroba diperlukan pada
diare yag disebabkan oleh infeksi beberapa bakteri dan protozoa
(Departemen Farmakologi dan Terapi UI, 2007). Obat ini digunakan
untuk terapi kausal, yakni memberantas bakteri penyebab diare
(Tjay, 2007).

Mekanisme :
Pemberian antimikroba dapat mengurangi parah dan lamanya diare
dan mungkin mempercepat pengeluaran toksin (Departemen
Farmakologi dan Terapi UI, 2007).
Contoh :
Antibiotika

(tetrasiklin,

kloramfenikol,

dan

amoksisilin,

sulfonamida, furazolidin, dan kuinolon) (Departemen Farmakologi


dan Terapi UI, 2007).
2) Obstipansia untuk terapi simtomatis, yang dapat menghentikan
duare dengan beberapa cara, yakni :
a. Zat-zat penekan peristaltik usus
Zat-zat penekan peristaltik usus sehingga memberikan lebih
banyak waktu untuk resorpsi air dan elektrolit oleh mukosa
usus (Tjay, 2007).
Mekanisme :
Obat golongan ini bekerja memperlambat motilitas saluran
cerna dengan mempengaruhi otot sirkuler dan longitudinal
usus (Departemen Farmakologi dan Terapi UI, 2007).
Contoh :
Candu dan alkaloidanya, derivat petidin (loperamida) dan
antikolinergika (Atropin, ekstrak belladonna) (Tjay, 2007).
b. Adstringensia
Mekanisme :
Menciutkan selaput lendir usus.
Contoh :
Asam samak (tanin) dan tannalbumin, garam-garam bismut
dan alumunium (Tjay, 2007).
c. Adsorbensia
Adsorben adalah obat yang memiliki daya serap yang cukup
baik (Departemen Farmakologi dan Terapi UI, 2007).

Mekanisme :
mengikat atau menyerap toksin bakteri dan hasil-hasil
metabolisme serta melapisi permukaan mukosa usus
sehingga toksin dan mikroorganisme tidak dapat merusak
serta menembus mukosa usus (Departemen Farmakologi dan
Terapi UI, 2007).
Contoh :
Obat-obat yang termasuk kedalam golongan ini adalah
karbon, musilage, kaolin, pektin, garam-garam bismut, dan
garam-garam alumunium) (Departemen Farmakologi dan
Terapi UI, 2007).
3) Spasmolitika, yakni zat-zat yang dapat melepaskan kejang-kejang
otot yang sering kali mengakibatkan nyeri perut pada diare (Tjay,
2007).
Contoh obat antidiare :
Loperamide
Deskripsi
Antidiare opioid ; merupakan derivat petidin, bekerja memperlambat
motilitas saluran cerna dengan menghambat rilis asetilkolin melalui reseptor
opioid prasinaptik pada system saraf usus (Baker, 2007).
Mekanisme Kerja Loperamide
Sebagai antidiare bekerja dengan beberapa mekanisme yang berbeda, yaitu
mengurangi

peristaltik

dan

sekresi

cairan

serta

meningkatkan

tonus sphincter, sehingga waktu transit gastrointestinal lebih lama sehingga


meningkatkan penyerapan cairan dan elektrolit dari saluran pencernaan
(Baldi et al., 2009).
Loperamide

merupakan

obat

agonis

opiate

sintetis

yang

dapat

mengaktivasi receptors pada pleksus myenterik usus besar. Aktivasi

terhadap

receptors

tersebut

akan

menghambat

pelepasan acetylcholine sehingga terjadi relaksasi otot pada saluran cerna.


Di samping itu, penghambatan terhadap acetylcholine juga menimbulkan
efek anti sekretori sehingga mengurangi sekresi air dan dapat mencegah
kekurangan cairan dan elektrolit (Faure, 2013).
Obat Pencahar
Obat pencahar atau lakansia adalah zat-zat yang dapat menstimulasi
gerakan peristalticusus sebagai reflex sebagai rangsangan langsung
terhadap

dinding

usus

dan

dengandemikian

menyebabkan

atau

mempermudah buang air besar (defekasi) atau meredakan sembelit.


Menurut definisi ini, zat zat yang menyebabkan efek defekasi karena
mempengaruhisusunan saraf pusat (kolinergika misalnya nikotin dan
asetilkolin) atau obat spasmolitk (papaverin) tidak termasuk obat pencahar
sejati (Neal, 2005).
Penggolongan obat pencahar berdasarkan atas farmakologi dan sifat
kimiawinya yakni :
1) Laksansia kontak
Mekanisme :
Zat-zat ini merangsang secara langsung dinding usus dengan akibat
peningkatan peristaltik dan pengeluaran isi usus dengam cepat.
Contoh :
Derivat-antrakinon (Rhamnus = Cascara sagrada, Senna, Rhei),
derivat-derivat difenilmetan (bisakodil, pikosulfat, fenolftalein) dan
minyak kastor (Tjay, 2007).
2) Laksansia osmotik
Mekanisme :
Zat-zat ini mencahar berdasarkan lambat absorpsinya oleh usus,
sehingga menarik air dari luar usus melalui dinding ke dalam usus
via proses osmosa. Tinja menjadi lebih lunak dan volumenya

diperbesar yang merupakan suatu rangsangan mekanis atas dinding


usus. Peristaltik diperkuat yang mempermudah pengeluaran isi usus.
Contoh :
magnesium sulfat/ sitrat dan natrium sulfat, gliserol, manitol dan
sorbitol, juga laktosa dan laktitol (Tjay, 2007).
3) Zat-zat pembesar volume
Mekanisme :
Zat-zat ini berdaya menahan air sambil mengembang. Di samping
itu pada perombakan oleh kuman-kuman usus akan terbentuk asamasam organik dan gas-gas (CO2, O2, H2 dan CH4), sedangkan
massa bakteri juga meningkat, semua ini turut memperbesar volume
chymus. Dengan demikian khasiat mencaharnya berdasarkan
rangsangan mekanis dan kimiawi terhadap dinding usus ditambah
dengan pelunakan tinja.
Contoh :
Zat-zat lendir (agar-agar, metilselulose, CMC) dan zat-zat nabati
Psyllium, gom sterculia dan katul (Tjay, 2007).
4) Zat-zat pelicin dan emulien
Mekanisme :
Melunakkan tinja dengan cara meningkatkan penetrasi air ke
dalamnya.
Contoh :
Natrium-docusat, natriumlauril-sulfo-asetat dan parafin cair (Tjay,
2007).
Contoh obat pencahar :
Bisacodil
Deskripsi
Bisakodil mengandung tidak kurang dari 98.0% dan tidak lebih dari 101.0%
C22H19NO4, dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan. Bisakodil

berkhasiat

sebagai

laksativum

(The

United State Pharmacopeial

Convention, 2015).
Mekanisme kerja bisacodil
Pencahar rangsang, pencahar iritan, pencahar sekretori bekeja pada sel-sel
crypt mukosa usus dengan membuka kanal klorida yang memberi
peluang untuk pergerakan klorida, natrium, dan air ke dalam lumen usus.
Kanal klorida dari sel-sel enterocytes (sel yang ada di mukosa usus) diatur
terutama leh cAMP intraselular. Oleh karena itu, banyak pencahar rangsang
yang secara langsung maupun tidak langsung diperkirakan dapat
menstimulasi aktivitas adenilat siklase sehingga meningkatkan konsentrasi
cAMP dalam sel-sel crypt. Pencahar rangsang merangsang sel-sel
mukosa usus untuk menyekresi cairan dan elektrolit ke dalam lumenusus
menimbulkan akumulasi cairan dan isi usus menjadi cair sehingga mengalir
dengan cepat dalam usus (Staff Pengajar Departemen Farmakologi FK
Unsri, 2009).
2. Bahaya penggunaan pencahar yang terus menerus dalam jangka waktu lama
dapat merugikan kesehatan karena pencahar dapat menimbulkan masalahmasalah berikut :
a. Mengganggu absorpsi normal dari bahan-bahan gizi di usus kecil.
Sintesa vitamin K dan B-Kompleks oleh flora usus besar juga akan
dihambat. Elemen-elemen spura dan mineral-mineral penting, seperti
kalium dan natrium, tidak diserap kembali dalam usus besar, sehingga
keseimbangan air dan elektrolit (Na dan K) maupun susunan flora usus
akan kacau. Akibatnya adalah kemungkinan timbulnya kelemahan otot,
kejang perut dan diare.
b. Menimbulkan berbagai gangguan saluran cerna, misalnya usus
besar berkejang (spastic colon). Terutama jika pencahar kontak (zat
perangsang) digunakan terus menerus dapat mencetuskan diare cair
dengan kehilangan air dan elektrolit, juga kerusakan jaringan saraf usus
sehingga motoriknya menjadi lumpuh.

c. Menimbulkan ketergantungan, sehingga obat terutama pencahar,


harus diminum terus menerus. Dosisnya pun perlu ditingkatkan untuk
mendapatkan hasil yang sama karena kepekaan usus telah menurun dan
tidak lagi bereaksi terhadap rangsangan normal. Akibat rangsangan
yang kontinu dan rusaknya saraf-saraf dinding usus, akhirnya timbul
gejala yang lazim disebut usus malas (Tjay, 2007).

Daftar Pustaka
Baker, D.E. 2007. Loperamide: A Pharmacological Review. Rev
Gastroenterol Disord.
Baldi, F et al. 2009. Focus on Acute Diarrhoeal Disease. World J
Gastroenterol, Vol. 15(27): 33413348.
Departemen Farmakologi dan Terapi UI, 2007. Farmakologi dan Terapi ed
5. Jakarta : Penerbit UI Press.
Faure, C. 2013. Role of Antidiarrhoeal Drugs as Adjunctive Therapies for
Acute Diarrhoea in Children. International Journal of Pediatrics.
Neal, M. J, 2005. At a glance farmakologi medis edisi 5. Jakarta: Erlangga.
Staff Pengajar Departemen Farmakologi FK Universitas Sriwijiaya. 2009.
Kumpulan Kuliah Farmakologi Edisi 2. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
The United State Pharmacopeial Convention. 2015. The United States
Pharmacopeia (USP), 38th Edition, United States.
Tjay, H.T. dan Rahardja, K. 2007. Obat-Obat Penting Kasiat, Penggunaan
Dan Efek-Efek Sampingnya Edisi Keenam. Jakarta : PT. Gramedia.