Anda di halaman 1dari 19

Laporan Kasus

ABORTUS INKOMPLIT

Disusun oleh:
Denis Puja Sakti S.Ked

04054821517045

Satria Wisnu Murti S.Ked

04084821517015

Ghea Duandiza S.Ked

04084821517016

Mutiara Khalida S.Ked

04084821517021

Kepaniteraan Klinik Bagian Obstetri dan Ginekologi


Periode 11 Januari 2016 - 25 Maret 2016
Pembimbing: dr. Iskandar Zulqarnain, Sp.OG(K)

BAGIAN DEPARTEMEN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI


RUMAH SAKIT Dr. MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2016

HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Kasus

ABORTUS INKOMPLIT
Oleh :
Denis Puja Sakti S.Ked

04054821517045

Satria Wisnu Murti S.Ked

04084821517015

Ghea Duandiza S.Ked

04084821517016

Mutiara Khalida S.Ked

04084821517021

Telah diterima dan disetujui sebagai salah satu syarat dalam mengikuti
Kepaniteraan Klinik di Bagian/Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas
Kedokteran Universitas Sriwijaya RSUP Dr. Moh. Hoesin Palembang Periode 11
Januari 2016 25 Maret 2016.

Palembang,

Februari 2016

Dr. Iskandar Zulqarnain, Sp.OG(K)

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kehadirat Allah S.W.T. atas karunia-Nya sehingga penulis
dapat menyelesaikan laporan kasus yang berjudul Abortus Inkomplit.
Laporan kasus ini merupakan salah satu syarat Kepaniteraan Klinik di
Bagian/Departemen Obstetri dan Ginekologi RSUP DR. Moh. Hoesin Palembang
Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Dr. Iskandar Zulqarnain,
Sp.OG(K) selaku pembimbing yang telah memberikan bimbingan selama
penulisan dan penyusunan laporan kasus ini.
Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan laporan
kasus ini. Oleh karena itu, kritik dan saran dari berbagai pihak sangat penulis
harapkan. Semoga laporan ini dapat memberi manfaat bagi pembaca.

Palembang,

Februari 2016

Penulis

DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL.................................................................................................i
HALAMAN PENGESAHAN.................................................................................ii
KATA PENGANTAR.............................................................................................iii
DAFTAR ISI...........................................................................................................iv
BAB I

PENDAHULUAN ..................................................................................1

BAB II

LAPORAN KASUS ...............................................................................3


3

Identifikasi...............................................................................................3
Anamnesis...............................................................................................3
Pemeriksaan Fisik....................................................................................4
Pemeriksaan Tambahan...........................................................................6
Diagnosis.................................................................................................6
Prognosis.................................................................................................6
Tatalaksana..............................................................................................7
BAB III TINJAUAN PUSTAKA ..........................................................................8
3.1. Abortus..............................................................................................................8
3.2. Abortus Inkompletus.......................................................................................10
BAB IV ANALISIS KASUS...............................................................................13
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................15

BAB I
PENDAHULUAN
Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator dalam menilai
derajat kesehatan masyarakat (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2013).
Berdasarkan data WHO pada tahun 2013, angka kematian ibu di Indonesia
mencapai 190 jiwa per 100.000 kelahiran hidup. Angka ini tentu saja masih cukup
tinggi bila dibandingkan dengan target Millennium Development Goals (MDGs),
yakni 102 jiwa per 100.000 kelahiran hidup di Indonesia pada tahun 2015.1
Tingkat kematian ibu di provinsi Sumatera Selatan mencapai 148 jiwa
pada tahun 2012, dengan kasus paling banyak ditemukan di kabupaten Muara
Enim. Kota Palembang menyumbang 13 kasus kematian ibu yang tersebar di 39
puskesmas. Tentu saja angka ini belum termasuk jumlah kematian ibu di rumah
sakit maupun yang tidak terdata.2
Terdapat beberapa hal yang mendasari terjadinya kematian ibu. Menurut
Laporan KIA Provinsi tahun 2011, penyebab kematian ibu adalah perdarahan
(32%), hipertensi dalam kehamilan (25%), infeksi (5%), partus lama (5%), dan
komplikasi abortus (1%). Perdarahan merupakan komplikasi terbanyak pada

kehamilan. Perdarahan dapat terjadi di setiap usia kehamilan. Pada kehamilan


muda, perdarahan sering dikaitkan dengan kejadian abortus (Prawirohardjo,
2010). Salah satu komplikasi abortus adalah syok, akibat terjadinya perdarahan
(syok hemoragik) maupun akibat infeksi berat (syok septik), sehingga dapat
menyebabkan.3
Abortus adalah pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di
luar kandungan, dengan batasan kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin
kurang dari 500 gram. Terdapat dua jenis abortus, yaitu abortus spontan dan
abortus provokatus. terjadi Abortus spontan tanpa suatu tindakan, sebaliknya
abortus provokatus terjadi dengan sengaja atau dilakukan suatu tindakan.3,4
Abortus inkompletus terjadi ketika hasil konsepsi telah keluar dari kavum
uteri, tetapi masih ada sisa jaringan yang tertinggal. Pada pemeriksaan vagina
dapat ditemukan kanalis servikalis yang masih terbuka, disertai tonjolan jaringan
di ostium uteri eksternum yang dapat diraba.3,4 Banyak faktor yang mempengaruhi
terjadinya abortus. Faktor janin (ovum), faktor ibu, dan faktor ayah berperan
sebagai penyebab abortus. Walaupun telah banyak faktor yang dianggap
berpengaruh, patofisiologi pasti terjadinya kejadian abortus belum banyak
diketahui.3,4,5,6
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Batista (2012) mengenai
abortus inkompletus di RSMH Palembang tahun 2010, didapatkan kejadian 3
abortus inkompletus paling banyak terjadi pada usia 20-35 tahun (71,1%). Usia
kehamilan pada 12 minggu memberikan proporsi paling tinggi pada periode
tersebut. Sebanyak 33,3% dari pasien abortus inkompletus tersebut adalah
nullipara. Mayoritas dari pasien abortus inkompletus (77,1%) tidak memiliki
riwayat abortus pada kehamilan sebelumnya. Hampir semua pasien yang menjadi
subjek penelitian, tidak memiliki riwayat penyakit kronis, yakni sebanyak 98,5%.7
Oleh karena itu penulis merasa perlu untuk menggali lebih dalam mengenai
kasus abortus inkomplit melalui pelaporan kasus beserta analisisnya. Laporan

kasus ini diharapkan bermanfaat bagi praktisi kesehatan yang ingin mengkaji
mengenai abortus inkomplit

BAB II
STATUS PASIEN
I.

IDENTIFIKASI
a. Nama

: Ny. NT

b. Umur

: 37 tahun

c. Alamat

: Jl. May Zen Lorong Perintis No. 79

d. Bangsa

: Indonesia

e. Agama

: Islam

f. Pendidikan : SMA

II.

g. Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

h. MRS

: 23 Januari 2016

i. No. RM

: 933867

ANAMNESIS (Tanggal 23 Januari 2016, Pukul 20.00)


Keluhan Utama
Pendarahan dari kemaluan
Riwayat Perjalanan Penyakit

+ 6 jam SMRS, os mengeluh keluar darah dari kemaluan, banyaknya 2


kali ganti kain basah, warna merah kehitaman disertai keluhan nyeri pada
perut bagian bawah. Riwayat keluar jaringan seperti hati ayam (+), riwayat
keluar jaringan seperti mata ikan (-), riwayat trauma (-), riwayat minum
jamu-jamuan (-), riwayat minum obat-obatan (-), riwayat diurut-urut (-),
riwayat mual muntah (-), riwayat post coital bleeding (-), OS mengaku
telambat haid dan hamil 3 bulan.
Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat darah tinggi (-)
Riwayat DM (-)
Riwayat trauma (-)
Riwayat Alergi (-)
Status Sosial Ekonomi dan Gizi
Status Perkawinan
Status Reproduksi

: Sedang
: Menikah, 1 kali,
: Menarche usia 12 tahun, siklus haid
28 hari, teratur lamanya 3-5 hari.
HPHT ( 2 November 2015)
: 1. 2008, laki-laki, spontan, sehat,
bidan ,3200 g
2. 2013, laki-laki, spontan, sehat,
bidan, 3000 g
3. Hamil ini

Status Persalinan

III.

PEMERIKSAAN FISIK ( Tanggal 23 Januari 2016, pukul 20.10)


PEMERIKSAAN FISIK UMUM
Keadaan Umum

: Tampak sakit sedang

Kesadaran

: Compos mentis

BB

: 50 kg

TB

: 145 cm

Tekanan Darah

: 110/70 mmHg

Nadi

: 88 x/ menit, isi/kualitas cukup, reguler

Respirasi

: 20 x/menit, reguler

Suhu

: 36,5 oC

PEMERIKSAAN KHUSUS

Mata

: Konjungtiva anemis (+), sklera ikterik (-), edema


palpebra (-), pupil isokor 3 mm, refleks cahaya (+/+).

Hidung

: kavum nasi dbn, sekret (-), perdarahan (-).

Telinga

: CAE destra et sinistra lapang, sekret (-), serumen (+).

Mulut

: Perdarahan di gusi (-), sianosis (-), mukosa mulut dan


bibir kering (-), bibir pucat (+), cheilitis (-).

Lidah

: Atropi papil (-).

Faring/Tonsil

: Dinding faring posterior hiperemis (-), tonsil T1-T1,


tonsil tidak hiperemis, detritus (-).

Kulit

: CRT < 3 s

LEHER
Inspeksi

: Tidak ada kelainan

Palpasi

: Tidak ada pembesaran kelenjar getah bening

THORAX
A. PARU
Inspeksi

: simetris, retraksi intercostal, subkostal, suprasternal (-)

Palpasi

: Stem fremitus kanan = kiri

Perkusi

: Sonor pada kedua lapangan paru

Auskultasi

: vesikuler normal di kedua lapangan paru, rh (-), wh (-).

B. JANTUNG
Inspeksi

: iktus cordis tidak terlihat

Palpasi

: iktus cordis tidak teraba, tidak ada thrill

Perkusi

: Jantung dalam batas normal

Auskultasi

: BJ I-II normal, murmur (-), gallop (-).

ABDOMEN
Inspeksi : datar
Lihat pemeriksaan obstetrik
EKSTREMITAS

Akral hangat (+), edema pretibial (-).


PEMERIKSAAN OBSTETRIK
Pemeriksaan Luar (23 Januari 2016)
Abdomen datar, lemas, simetris, massa (-), nyeri tekan (-), TCB (-), FUT
setinggi simpisis pubis.
Pemeriksaan Dalam: (23 Januari 2016)
Portio livide, portio lunak, OUE terbuka, diameter 2cm, fluor (-), Fluxus (+)
darah aktif, E/L/P (-), tampak keluar jaringan dari muara OUE, AP kanan /
kiri lemas, CD tidak menonjol.
IV.

PEMERIKSAAN TAMBAHAN
Pemeriksaan Laboratorium (23 januari 2016)
Pemeriksaan
Hematologi
Hb
RBC
WBC
Ht
Trombosit
Diff. Count
KIMIA KLINIK
HATI
Billirubin Total
AST/ SGOT
ALT/ SGPT
GINJAL
Ureum
Kreatinin
ELEKTROLIT
Kalsium
Natrium
Kalium

V.

Hasil

Nilai Normal

7,0 g/dl
3,63 juta/m3
17,7 x 103/m3
23%
437.000/m3
0/1/83/11/5

11,2-15,5 g/dl
4,2-4,5 juta/m3
4,5-11 x 103/m3
43-49 %
150-450/m3
0-1/1-6//2-6/50-70/25-40/2-8

0.47 mg/dL
28 U/L
15 U/L

0,1 1,0 mg/dL


0-32 U/L
0-31 U/L

26 mg/dL
0,66 mg/dL

16,6-48,5 mg/dL
0,50- 0,90 mg/dL

9,1 mg/dL
136 mEq/L
3,6 mEq/L

8,8-10,2 mg/dL
135-155 mEq/L
3,5-5,5 mEq/L

DIAGNOSIS KERJA
Abortus Inkomplit
9

VI.

VII.

PROGNOSIS
Quo ad vitam

: dubia

Quo ad fungsionam

: dubia

TATALAKSANA (Planning / P)

1. Bed rest total


2. Observasi tanda vital dan perdarahan
3. IVFD RL gtt XXX/menit
4. Transfusi PRC hingga Hb 10g/dL
5. Inj Ceftriaxon 2x1 g IV
6. Pro kuretase
7. Cek lab ( Darah rutin, Kimia darah)

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Abortus
3.1.1 Definisi Abortus
Abortus adalah pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di
luar kandungan. Abortus memiliki batasan kehamilan kurang dari 20
minggu atau berat janin kurang dari 500 gram. Abortus dapat terjadi secara
spontan maupun dengan tindakan. Abortus merupakan komplikasi
perdarahan yang paling banyak pada kehamilan muda, sehingga sering
juga dikaitkan dengan miscarriage atau early pregnancy loss. Abortus
yang terjadi pada bulan pertama dari kehamilan hampir selalu diawali oleh
kematian janin.3,4,6
3.1.2 Patogenesis

10

Pada awalnya, terjadi perdarahan di dalam desidua basalis. Perdarahan


terjadi karena terbukanya sinus venosus sebagai akibat terlepasnya zigot
dari zona spongiosa. Perdarahan ini akan diikuti oleh nekrosis di jaringan
sekitar, dan kemudian seluruh konsepsi akan terlepas. Uterus akan
berkontraksi, untuk mengeluarkan jaringan yang dianggap sebagai benda
asing. Perdarahan tidak terlalu banyak terjadi bila kehamilan dibawah 8
minggu, dimana vili korealis belum menembus desidua terlalu dalam
sehingga bisa dikeluarkan seluruhnya. Bila kehamilan diatas 8 minggu,
akan ada bagian yang tertinggal, sehingga akan terjadi banyak
perdarahan.3,8

3.1.3 Klasifikasi Abortus


Abortus dikelompokkan menjadi dua golongan, yaitu:3,4,6
a. Abortus spontan, adalah abortus yang tidak diawali faktor-faktor
mekanis maupun medisinalis, melainkan terjadi secara alamiah.
i. Abortus iminens, adalah abortus pada tingkat awal, merupakan
ancaman terjadinya abortus, ditandai dengan perdarahan pervaginam,
namun ostium uteri masih tertutup dan hasil konsepsi masih baik di
dalam kandungan.
ii. Abortus insipiens, adalah abortus yang sedang berlangsung, ditandai
dengan ostium uteri yang sudah terbuka, tetapi hasil konsepsi masih di
dalam kavum uteri.
iii. Abortus inkompletus, adalah abortus dengan sebagian hasil konsepsi
telah keluar dari kavum uteri dan masih ada yang tertinggal.

11

iv. Abortus kompletus, adalah abortus yang sudah selesai dengan seluruh
hasil konsepsi dikeluarkan dan kavum uteri menjadi kosong.
v. Missed abortion, adalah abortus dengan keadaan janin sudah mati,
tetapi tetap berada di dalam rahim dan tidak dikeluarkan selama 2
bulan atau lebih.
vi. Abortus habitualis, adalah abortus spontan dengan keadaan penderita
mengalami keguguran tiga kali berturut-turut atau lebih.
vii. Abortus infeksious, adalah abortus yang disertai dengan infeksi pada
alat genitalia.
b. Abortus provokatus, adalah abortus yang dilakukan dengan sengaja.
i. Abortus medisinalis, adalah abortus yang dilakukan berdasarkan
indikasi medis, dengan persetujuan 2 sampai 3 tim dokter ahli.
ii. Abortus kriminalis, adalah abortus yang dilakukan dengan tindakan
tidak legal, atau tidak berdasarkan indikasi medis
3.2 Abortus Inkompletus
3.2.1 Definisi
Abortus inkompletus terjadi ketika hasil konsepsi telah keluar dari kavum
uteri, tetapi masih ada sisa jaringan yang tertinggal. Batasan kehamilan
kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram tetap dijadikan
patokan. Pada pemeriksaan vagina dapat ditemukan kanalis servikalis yang
masih terbuka, disertai tonjolan jaringan di ostium uteri eksternum yang
dapat diraba.3,4
Pasien biasanya mengalami gejala-gejala kehamilan pada umumnya,
sebelum muncul sakit perut dan mulas yang sangat hebat, disertai dengan
perdarahan. Perdarahan terjadi dengan volume yang banyak atau sedikit,
tergantung pada jaringan yang tersisa. Biasanya darah yang keluar berupa
darah beku (stolsel). Selain darah, sebagian jaringan hasil sisa konsepsi juga
sudah keluar.3,4

12

3.2.2 Diagnosis
Diagnosis didapatkan melalui anamnesis dan hasil pemeriksaan fisik
lengkap. Pada anamnesis dicari informasi mengenai usia kehamilan, riwayat
kehamilan, riwayat abortus, riwayat penyakit, serta yang paling penting
volume darah yang keluar, dan ada tidaknya jaringan sisa konsepsi yang
keluar.3 Pemeriksaan fisik menilai tanda-tanda umum pasien, menilai
apakah ditemukan gejala syok atau infeksi. Pada pemeriksaan vagina (VT)
ditemukan kanalis servikalis yang masih terbuka, disertai tonjolan jaringan
di ostium uteri eksternum yang dapat diraba, serta kadang dapat diraba sisasisa jaringan. Dinilai juga ukuran uterus untuk memperkirakan usia gestasi.
Pemeriksaan USG hanya dilakukan bila diagnosis secara klinis masih
meragukan.3,4,6,7

13

2.2.3 Penatalaksanaan
Langkah-langkah dalam penatalaksanaan abortus adalah sebagai berikut:
a. Penanganan umum
Lakukan tirah baring pada pasien untuk mengurangi rangsangan mekanis
pada pasien. Lakukan penilaian umum secara cepat pada pasien, dan nilai
apakah ditemukan tanda-tanda syok. Bila dibutuhkan, fenobarbital 3x30
mg dapat diberikan sebagai penenang.7,9,10 Bila ditemukan tanda-tanda
syok, segera pasang infus dengan kanula besar (16 G). Berikan larutan
NaCl atau Ringer Laktat dengan tetesan cepat (500 ml dalam 2 jam).
Periksa kadar Hb, golongan darah, dan crossmatch pasien. Persiapkan
peralatan transfusi darah bila dibutuhkan. Penggunaan antibiotik
profilaksis untuk mencegah sepsis juga harus dipersiapkan.7,9-12
b. Penanganan spesifik abortus inkompletus
Tentukan besar uterus (taksir usia gestasi), dan atasi tanda bahaya bila
muncul. Setelah itu lakukan evaluasi perdarahan yang terjadi:
- Bila perdarahan tidak terlalu banyak dan usia gestasi <16 minggu,
dapat dilakukan evakuasi jaringan hasil konsepsi secara digital atau
dengan

cunam

ovum.

Jika

perdarahan

berhenti,

berikan

metilergometrin 0,2 mg IM atau misoprostol 400 g per oral.


Misoprostol diindikasikan untuk kasus abortus dengan usia gestasi
kurang dari 12 minggu.
- Bila perdarahan banyak dan kontinu dengan usia gestasi <16 minggu,
maka dilakukan evakuasi jaringan hasil konsepsi dengan aspirasi
vakum manual (AVM) atau kuretase. Bila evakuasi belum bisa
dilakukan, berikan metilergometrin 0,2 mg IM (dapat diulang setelah
15 menit bila perlu) atau misoprostol 400 g per oral (dapat diulang
setelah 4 jam jika perlu).
- Bila perdarahan banyak dan kontinu dengan usia gestasi >16 minggu,
berikan infus oksitosin 20 U dalam 500 ml cairan RL/ NaCl 40 tetes/
menit sampai terjadi ekspulsi hasil konsepsi. Selanjutnya evakuasi sisa
14

hasil konsepsi dengan AVM, dan pantau kondisi ibu setelah


penanganan.7,9,13
Prinsip penanganan abortus inkompletus adalah pengosongan sisa
konsepsi. Ada 2 metode yang sering dipakai untuk tindakan ini. Yang
pertama

adalah

dilatasi

dan

kuretase

(D&K),

yaitu

dengan

mendilatasikan serviks untuk memasukkan instrumen logam untuk


membersihkan (mengerok) dinding uterus. Metode kedua adalah
menggunakan tekanan negatif melalui kanula plastik untuk menghisap
sisa konsepsi di dalam kavum uteri.14
2.2.4 Komplikasi
Beberapa komplikasi dapat muncul bila penanganan terhadap kasus abortus
inkompletus tidak adekuat. Komplikasi utama dari abortus adalah
perdarahan. Selain itu dapat juga terjadi perforasi akibat tindakan yang
salah, infeksi dan sepsis, gagal ginjal akut, serta syok. Syok dapat
diakibatkan oleh perdarahan yang banyak (syok hemoragik), atau akibat
sepsis.3
2.2.5 Prognosis
Abortus inkompletus dengan evakuasi lebih dini dan tidak disertai dengan
infeksi memberikan prognosis yang baik terhadap ibu. Resiko terjadinya
abortus spontan akan meningkat bila seseorang sudah pernah mengalami
abortus sebelumnya. Penundaan kehamilan sampai benar-benar pulih dapat
memberikan efek positif terhadap kehamilan berikutnya.7,9

15

ANALISIS KASUS
Berdasarkan hasil anamnesis didapatkan bahwa + 6 jam SMRS, os
mengeluh keluar darah dari kemaluan, banyaknya 2 kali ganti kain basah, warna
merah kehitaman disertai keluhan nyeri pada perut bagian bawah. Riwayat keluar
jaringan seperti hati ayam (+), OS mengaku telambat haid dan hamil 3 bulan.
Pasien mengaku HPHT nya pada tanggal 2 November 2015 sehingga dapat
disimpulkan bahwa usia kehamilannya yaitu 14 minggu. Adanya keluhan berupa
nyeri perut pada bagian bawah dan disertai dengan adanya riwayat keluar jaringan
seperti hati ayam merupakan suatu kecurigaan terjadinya suatu abortus. Apalagi
mengingat usia kehamilan pada pasien yang kurang dari 20 minggu.
Pada pemeriksaan fisik dilakukan pemeriksaan luar dengan hasil abdomen
datar, lemas, simetris, massa (-), nyeri tekan (-), TCB (-), FUT setinggi simpisis
pubis. Pemeriksaan Dalam: Portio livide, portio lunak, OUE terbuka, diameter
2cm, fluor (-), Fluxus (+) darah aktif, E/L/P (-), tampak keluar jaringan dari muara
OUE, AP kanan / kiri lemas, CD tidak menonjol. Adanya darah yang keluar aktif
dari portio dan tampak keluar jaringan dari muara OUE menandakan telah
terjadinya abortus tipe inkomplit pada pasien ini.
Berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik pada pasien
mengarahkan kecurigaan terjadinya suatu abortus inkomplit. Mengingat usia
pasien yang sudah berusia 37 tahun, dimana perempuan yang hamil pada usia >35
tahun dapat terjadi penurunan pada sistem reproduksi. Hal ini diakibatkan oleh
kemunduran pada jaringan sistem reproduksi dan jalan lahir, seperti penurunan
elastisitas ligamentum pada uterus. Namun perlu juga diperhatikan faktor risiko
lainnya, karena penyebab dari abortus inkomplit ini bersifat multifaktorial.
Untuk penatalaksanaan pasien yaitu:
1. Bed rest total
2. Observasi tanda vital dan perdarahan
3. IVFD RL gtt XXX/menit
4. Transfusi PRC hingga Hb 10g/dL
5. Inj Ceftriaxon 2x1 g IV
16

6. Pro kuretase
7. Cek lab ( Darah rutin, Kimia darah)
Dilakukan tirah baring pada pasien untuk mengurangi rangsangan mekanis
pada pasien. Selain itu dilakukan pula penilaian umum secara cepat pada pasien,
dan dinilai apakah ditemukan tanda-tanda syok, mengingat adanya perdarahan
yang aktif keluar dari muara OUE nya. Diberikan pula infuse berupa RL untuk
memenuhi kebutuhan cairan pasien dan sebagai salah satu langkah dalam
mencegah terjadinya dehidrasi dan syok pada pasien.
Dilakukan transfusi PRC pada pasien karena berdasarkan hasil
laboratorium yang dilakukan pada tanggal 23 Januari 2016 didapatkan adanya
penurunan jumlah hemoglobin, RBC dan hematokrit, sehingga harus dilakukan
tindakan transfusi sampai kadar hemoglobin pasien mencapai >10 g/dL. Diberikan
injeksi ceftriaxon sebagai antibiotic profilaksis yang berguna untuk mencegah
terjadinya sepsis.
Sedangkan penatalaksanaan untuk abortus inkomplit nya itu sendiri,
pasien akan direncanakan untuk dilakukan kuretase. Prinsip penanganan abortus
inkompletus adalah pengosongan sisa konsepsi. Ada 2 metode yang sering dipakai
untuk tindakan ini. Yang pertama adalah dilatasi dan kuretase (D&K), yaitu
dengan mendilatasikan serviks untuk memasukkan instrumen logam untuk
membersihkan (mengerok) dinding uterus. Metode kedua adalah menggunakan
tekanan negatif melalui kanula plastik untuk menghisap sisa konsepsi di dalam
kavum uteri.

17

DAFTAR PUSTAKA
1. WHO.

2013.

Maternal

Mortality

in

1990-2013,

(http://www.who.int/gho/maternal_health/countries/idn.pdf?ua=1, diakses 11
Juli 2014).
2. Departemen Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan. 2013. Profil Kesehatan
Provinsi

Sumatera

Selatan

Tahun

2012,

(http://www.depkes.go.id/downloads/PROFIL_KES_PROVINSI_2012/06_Pr
ofil_Kes_Prov.SumateraSelatan_2012.pdf, diakses 12 Juli 2014).
3. Mochtar, R. 1998. Sinopsis Obstetri Jilid 1 Edisi 2. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
4. Prawirohardjo, S. 2010. Ilmu Kebidanan. Jakarta: P.T. Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.
5. Noerjasin, H., Handono, B., Kuwano, H., Wirakusumah, F. F. 2010. Korelasi
antara Kadar Protein Bcl-2 dan Kaspase-3 sebagai Faktor Resiko pada
Kejadian Abortus. Majalah Obstetri Ginekologi Indonesia, 34-1: 12-8.
6. Cunningham, F. G., Leveno K. J., Bloom, S. L., Hauth, J. C., Rouse, D. J.,
Spong,C. Y. 2010. Williams Obstetrics 23rd Edition. United States: McGrawHill Companies.
7. Batista, B. 2012. Hubungan Karakteristik Ibu dengan Kejadian Abortus
Inkomplit di Rumah Sakit Umum Mohammad Husein Palembang Periode
Januari Desember 2010. Skripsi Sarjana Kedokteran pada Program Studi
Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya yang tidak
dipublikasikan, hal: 7-11.
8. Radhanpuri, A. K. 2002. Handbook of Obstetrics and Gynecology.
Palembang: Bagian Obstetri dan Ginekologi FK Unsri.
9. Mirzanie, H., Kurniawati, D. 2009. Obgynacea. Yogyakarta: TOSCA
Enterprise.
10. Achadiat, C. M. 2010. Prosedur Tetap Obstetri & Ginekologi. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC.

18

11. Manuaba, I. B. G. 1998. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan & Keluarga


Berencana untuk Pendidikan Bidan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
12. May, W., Gulmezoglu, A. M., Ba-Thike, K. 2007. Antibiotics for Incomplete
Abortion (Review). The Cochrane Collaboration, (4): 4
13. Blum, J., Winikoff, B., Gemzell-Danielsson, K., Ho, P. C., Schiavon, R.,
Weeks, A. 2007. Treatment of Incomplete Abortion and Miscarriage with
Misoprostol. International Journal of Gynecology and Obstetrics, 99: S186S189.
14. Qadhar, R., Adriaansz, G., Amran, R. 2000. Perbandingan Keamanan dan
Efektifitas Tindakan Dilatasi dan Kuretase dengan Aspirasi Vakum Manual
pada Abortus Inkomplit. Majalah Kedokteran Sriwijaya, 32: 3031.

19