Anda di halaman 1dari 66

BAB VII

KLASIFIKASI NEGARA
Seperti telah dikatakan di atas dalam Bab 1, pokok pembicaraan dalam klasifikasi
negara ini adalah masalah-masalah mengenai kemungkinan-kemungkinan daripada bentuk
negara artinya sesuatu yang dinamakan negara itu mempunyai kemungkinan bentuk apa saja.
Jadi tegasnya tidak akan dibicarakan bentuk-bentuk negara yang telah ada, dalam beberapa
hal hanya diambil sebagai contoh untuk menjelaskan, tetapi yang pokok yang akan
dibicarakan adalah kemungkinan-kemungkinan bentuk daripada sesuatu yang dinamakan
negara itu. Jadi lebih tegas lagi bahwa yang akan dibicarakan adalah ajaran-ajaran, yaitu
ajaran-ajaran mengenai klasifikasi bentuk-bentuk negara.
Disamping hal-hal yang telah dibicarakan di muka antara lain: asal mula negara,
hakekat negara, tujuan negara, legitimasi kekuasaan, maka teori tentang bentuk-bentuk
negara dan bentuk-bentuk pemerintahan wajib mendapatkan perhatian seperlunya, karena hal
ini adalah penting sekali. Pentingnya itu karena hal tersebut dapat menolong dalam
mengartikan dan menempatkan tiap tiap gejala baru yang disebut negara yang ditemui di
dalam penyelidikan selanjutnya.
Maka dari itu, hal ini adalah merupakan salah satu tugas pokok daripada ilmu negara.
Sejak timbulnya pemikiran tentang negara dan hukum orang telah membicarakan
kemungkinan-kemungkinan daripada bentuk negara, akan tetapi perlu diketahui bahwa hal ini
sampai sekarang belum mendapatkan kesatuan pendapat dari para ahli pemikir tersebut. Hal
ini antara lain disebabkan:
a. Negara itu sebenarnya adalah merupakan suatu proses yang setiap waktu dapat
mengalami perubahan, perubahan mana adalah sesuai dengan keadaan. Kita ingat
misalnya kepada teori-teori yang telah kira bicarakan, antara lain teori-teori tentang
bentuk negara dari Plato, Aristoteles, dan Polybius. Yang pada pokoknya menyatakan
bahwa tidak ada satu bentuk negarapun yang mempunyai sifat kekal. Malahan dalam
teori Polybius tadi dikatakan bahwa perubahan dari bentuk-bentuk negara itu berjalan
sedemikian rupa, sehingga pada akhirnya akan kembali ke bentuknya yang semula, ingat
Cyclus theory. Maka akibatnya hingga sekarang inipun untuk mengadakan klarifikasi
yang tetap dan bersifat umum serta yang berlaku untuk selama-lamanya adalah tidak
mungkin lagi pula karena perubahan jaman itu telah menimbulkan tipe-tipe baru dalam
pemikiran tentang negara dan hukum, maupun dalam praktek kenegaraan. Misalnya saja

dengan adanya formasi baru yang disebut Perserikatan Bangsa-bangsa, ini menimbulkan
bentuk baru dalam Ilmu Negara.
b. Di dalam perkembangan pemikiran tentang negara dan hukum peristilahan di dalam ilmu
kenegaraan sering mengalami perubahan pengertian. Hal ini disebabkan karena kurang
cepatnya perubahan istilah-istilah itu kalau dibandingkan dengan perubahan-perubahan
pengertian. Ingat saja dalam hal ini misalnya konsekuensi daripada ajaran Rousseau,
yang telah dibicarakan. Pula, misalnya istilah monarki, mono artinya satu, dan archien
artinya pemerintahan, maka monarki mendapatkan pengertian negara di mana
pemerintahannya itu hanya dipegang oleh satu orang tunggal, sepertinya dikemukakan
oleh Plato, Aristoteles, Polybius.
Tetapi kemudian pada jaman modern ini, pengertian monarki itu telah mengalami
perubahan. Yaitu menjadi negara dimana kepala negaranya itu ditunjuk atau diangkat
berdasarkan sistem atau stelses pewarisan, artinya jabatan atau kedudukan kepala negara
itu dapat diwariskan. Ini dikemukakan oleh Leon Duguit, yang nantinya ajarannya akan
kita bicarakan di bawah. Juga misalnya ajaran dari Georg Jellinek, istilah monarki
mendapatkan pengertian yang lain lagi.
c. Di dalam mengadakan klasifikasi bentuk-bentuk negara, para sarjana itu mengemukakan
atau mempergunakan kriteria atau dasar atau ukuran yang berbeda-beda. Ingat bahwa
yang kita bicarakan disini adalah suatu klasifikasi, bukan pembagian. Di dalam
mengklasifikasikan sesuatu itu harus mempergunakan suatu kriteria, tanpa kriteria hal itu
tidaklah mungkin, lain halnya dengan suatu pembagian.
d. Bahkan mengenai apa yang disebut negara itu saja para sarjana, khususnya para ahli
pemikir tentang negara dan hukum telah memberikan pengertian yang berbeda-beda,
menurut sudut pandangannya atau filsafatnya masing-masing, serta selalu menyesuaikan
dengan keadaan dan kebutuhan jamannya.
e. Sedangkan sesuatu istilah saja kadang-kadang mempunyai pengertian yang bermacammacam. Misalnya istilah monarki itu kadang-kadang mempunyai pengertian monarki
absolute, monarki terbatas, monarki konstitusionil.
1. Klasifikasi Negara Klasik-tradisional:
Monarki, Aristokrasi, Demokrasi
Telah dikatakan di atas bahwa sejak timbulnya pemikiran tentang negara dan
hukum, para ahli pemikir itu telah membicarakan kemungkinan-kemungkinan daripada
bentuk negara. Pada umumnya mereka itu mengklasifikasikan bentuk-bentuk negara
menjadi tiga golongan, dan yang dipergunakan sebagai kriteria pada umumnya dapat
dikatakan sama. Hanya saja mereka itu kadang-kadang mempergunakan cara atau sistem
serta istilah-istilah yang berbeda-beda. Periksa kembali misalnya ajaran-ajaran dari Plato,

Aristoteles, dan Thomas van Aquinas yang telah dibicarakan di atas. Mereka ini
mengklasifikasikan negara dalam tiga bentuk yaitu monarki, aristokrasi, dan demokrasi.
Sedangkan yang dipergunakan sebagai kriteria dalah :
a. Susunan dari pada pemerintahnnya. Artinya, kalah yang dimaskud adalah jumlah
orang yang memegang pemerintahan, pemerintahan itu dipegang atau dilaksanakan
oleh satu orang tunggal, beberapa atau segolongan orang, ataukah pada prinsipnya
pemerintahan itu ada pada rakyat.
b. Sifat dari pemerintahan. Artinya pemerintahan itu ditujukan untuk kepentingan
umum, ini yang baik: ataukah hanya untuk kepentingan mereka yang memegang
pemerintahan itu saja, ini yang buruk. Jadi pada azasnya mengakui bahwa mereka
tidak

melaksanakan

kekuasaan-kekuasaannya,

atau

tidak

menjalankan

pemerintahannya untuk kepentingan rakyatnya, melainkan hanya untuk kepentingan


mereka sendiri. Keadaan demikian inilah yang kemudian menimbulkan ekses
daripada monarki adalah Tyrani, ekses daripada aristokrasi adalah oligarki, sedang
ekses daripada demokrasi adalah: anarki.
Jadi dengan demikian seolah-olah ada enam bentuk negara, tetapi sebenarnya
hanya ada tiga, karena negara-negara yang buruk itu sebenarnya hanya merupakan ekses
daripada negara-negara yang baik, dan hanya bersifat sementara. Karena telah terbukti
berkali-kali bahwa dalam pemerintahan yang tidak memperhatikan kepentingan umum
selalu mendapat perlawanan dari rakyat, yang mengakibatkan berubahnya sifat
pemerintahan seperti yang dikehendaki oleh rakyatnya, entah bagamaina sifatnya,
pokoknya hak-hak rakyat itu terjamin.
2. Klasifikasi Negara Dalam bentuk Monarki dan Republik
Klasifikasi negara dengan sistema seperti tersebut di atas, untuk jaman modern
kiranya sudah tidak mungkin dapat dipertahankan lagi. Misalnya untuk negara Inggris,
ini kalau menurut istilah Aristoteles bukanlah monarki, sedangkan kalau menurut
pengertian sekarang negara Inggris itu disebut dengan istilah monarki dan memang
demikianlah keadaan yang sebenarnya. Demikian menurut Leon Duguit, karena
negaranya diangkat berdasarkan Stelsel pewarisan.
Juga mengenai pengertian Demokrasi yang dikemukakan oleh Aristoteles, tidak
dapat dipertahankan pada jaman modern ini. Bukanlah menurut pengertian sekarang
negara demokrasi itu bukanlah negara yang jelek seperti yang digambarkan oleh
Aristoteles. Melainkan Demokrasi itu menunjukan adanya sistem pemerintahan rakyat
yang reoresentatif.

Demikian pula mengenai pengertian-oengertian daripada istilah-istilah Aristikrasi


dan Oligarki. Kiranya juga sudah tidak dapat dipertahankan lagi untuk masa sekarang
karena memang sudah tidak ada lagi pemerintahan yang demikian itu. Tetapi meskipun
demikian kesemuanya itu masih penting di dalam dunia ilmu pengetahuan.
Maka kemudian pada jaman renaissance, seorang sarjana ahli pemikir besar
tentang negara dan hukum. Niccolo Machiavelli, dalam bukunya yang termasyur II
Proncipe, telah mengemukakan penjenisan negara menjadi dua bentuk, yaitu Republik
dan Monarki. Menurut ajaran tersebut negara itu adalah Republik atau Monarki.
Perlu kiranya diperhatikan bahwa baru mulai saat itu perkataan negara secara
lambat laun dipergunakan secara tegas. Dan dalam ajaran Niccole Machiavelli tersebut.
Negara, dipergunakan dalam pengertian genus, sedangkan istilah Republik dan Monarki
dipergunakan dalam pengertian Species.
Kemudian pada jaman modern Georg Jellinek dalam bukunya yang terkenal,
Allgemence Staatslehre, diterbitkan pada tahun 1914, juga mengemukakan penjelasan
bentuk negara menjadi dua, yaitu Republik dan Monarki. Jellinek mempergunakan istilah
monarki sebagai lawan daripada organisasi negara yang disebut Republik. Dan
sebetulnya menurut Jellinek perbedaan antara monarki dan republik itu benar-benar
mengenai perbedaan daripada sistem pemerintahannya, tetapi sekalipun demikian
Jellinek sendiri mengartikannya sebagai perbedaan daripada bentuk negaranya.
Di dalam mengemukakan perbedaan antara monarki, dengan republik tadi Jellinek
mempergunakan kriteria suatu pertanyaan tentang bagaimanakah cara terbentuk =nya
kemauan negara
Mengapa hal tersebut, yaitu cara terbentuknya kemauan negara dipergunakan oleh
Jellinek sebagai kriteria di dalam ajarannya tentang klasifikasi negara? Karena menurut
Jellinek, negara itu dianggap sebagai sesuatu kesatuan yang mempunyai dasar-dasar
hidup dan dengan demikian negara itu mempunyai kehendak atau kemauan. Kemauan
negara ini sifatnya adalah abstrak, sedangkan dalam bentuknya yang konkrit kemauan
negara itu menjelma sebagai hukum atau undang-undang. Jadi undang-undang atau
peraturan-peraturan itu dalah merupakan perwujudan atau penjelmaan daripada kemauan
negara. Negaralah yang memiliki kekuasaan tertinggi, dan negaralah yang mempunyai
wewenang membuat dan menetapkan undang-undang. Ingat dalam hubungan ini akan
teori kedaulatan negara dari Jellinek
Di atas dikatakan bahwa Jellinek di dalam ajarannya tentang klasifikasi negara
mempergunakan kriteria, bagaimanakah cara terbentuknya kemauan negara tersebut, kita
dapat melihat atau mempelajari cara terbentuknya serta bentuk daripada undang-undang

dari negara itu. Sebab sebagai cara terbentuknya undang-undang itu adalah demikian
juga cara terbentuknya kemauan negara.
Menurut Jellinek ada dua macam cara mengenai terbentuknya kemauan negara itu.
a. Kemauan negara itu terbentuk atau tersusun di dalam jiwa seseorang yang
mempunyai wujud atau bentuk fisik. Artinya kemauan negara itu hanya ditentukan
oleh satu orang tunggal, tiada orang atau badan lain yang dapat ikut campur dalam
pembentukan kehendak negara itu, kemauan negara yang terbentuk secara demikian
ini disebut kemauan fisik, dan negara yang mempunyai kemauan fisik itu disebut
monarki. Jadi tegasnya, di dalam monarki ini undang-undang negara itu hanya
ditentukan atau dibuat oleh satu orang tunggal.
b. Kemauan negara itu terbentuk atau tersusun di dalam suatu dewan. Dewan itu adalah
suatu pengertian yang adanya hanya di dalam hukum, dan sifatnya abstrak, serta
berbentuk yuridis. Memang sebenarnya anggota-anggota daripada dewan itu, yaitu
orang, masing-masing adalah merupakan kenyataan dan mempunyai bentuk fisik,
msaing-masing adalah merupakan kenyataan dan mempunyai bentuk fisik, tetapi
dewannya itu sendiri adalah merupakan kenyataan yuridis, karena dewan itu adalah
merupakan konstruksi hukum, jadi yang adanya ini justru sebagai akibat ditetapkan
oleh peraturan hukum, di mana beberapa orang merupakan suatu kesatuan, dan
dianggap sebagai suatu person. Kehendak negara yang terbentuk atau tersusun
secara demikian ini disebut kehendak atau kemauan yuridis dan negara yang
memiliki kemauan yuridis ini disebut Republik.
Kemauan negara itu sendiri tidak dapat kita lihat, karena sifatnya adalah abstrak.
Maka kalau kita ingin mengetahui dengan cara bagaimanakah kemauan negara itu
terbentuk kita harus melihat atau mempelajari undang-undang negara itu sendiri, sebab,
seperti tadi telah dikatakan, undang-undang itu adalah merupakan penjelmaan atau
bentuk konkrit daripada kemauan negara. Oleh karena itu dapatlah dikatakan apabila
dalam suatu negara itu undang-undangnya merupakan hasil karya dari satu orang tunggal
saja, maka negara itu disebut monarki. Sedangkan sebaliknya apabila undang-undangnya
merupakan hasil karya daripada suatu dewan, negara itu disebut Republik.
Bagaimanakah konsekuensi daripada pendapat Jellinek ini terhadap hukum
kebiasaan? Menurut Jellinek kebiasaan itu hanyalah merupakan hukum, apabila negara
menghendaki dan menetapkannya sebagai hukum.
Sesuai dengan sistem ajarannya, Jellinek menggolongkan negara yang disebut
Wahl-monarchie ke dalam bentuk negara monarki. Yang demikian ini disetujui pula oleh

Kranenburg tetapi sementara itu nanti di lain hal, yaitu terhadap pendapat Jellinek
mengenai perbedaan antara monarki dengan republik, Kranenburg tidak dapat
menerimanya, terutama monarki yang dipergunakan oleh Jellinek. Tetapi baiklah
sebelumnya kira membicarakan hal ini, dibicarakan dahulu apakah yang dimaksud
dengan Wahl-monarchie itu.
Wahl-monarchie itu adalah suatu negara di mana kepala negaranya itu dipilih atau
diangkat oleh suatu organ atau badan khusus, Kekhususannya itu dalam arti, bahwa meal
organ tersebut terbatas pada pemilihan atau pengangkatan itu saja; jadi sesudah
mengadakan pemilihan atau pengangkatan kepala negara, tugas organ tersebut adalah
sudah selesai. Hanya istimewanya, dan ini yang merupakan kekhususan pula, organ
tersebut tidak lalu dibubarkan, karena organ tersebut lalu menjadi bawahan daripada
kepala negara yang baru saja mereka pilih atau mereka angkat itu tadi.
Tegasnya, kepala negara tadi, yaitu monarki, menjadi kepala daerah, atau
pemimpin daripada organ tersebut. Jadi raja atau monarki tidaklah merupakan wakil
daripada para pemilih tadi. Dengan demikian kekuasaaannya lalu menjadi besar atau luas
sekali, karena tidak saja berkuasa dalam lapangan pemerintahan, tetapi juga dalam
lapangan perundang-undangan. Sebagai contoh daripada apa yang disebut Wahlmonarchie ini adalah: Kerajaan Jerman, di mana raja Romawi dipilih oleh raja-raja
pemilih. Juga misalnya negeri Polandia, yang sebenarnya bukan monarki, melainkan
adalah republik aristokrat, yang kepala negaranya dipilih oleh raja-raja pemilih, dan
bergelar raja.
Di atas telah dikatakan bahwa Kranenburg tidak dapat menerima ajaran atau
pendapat Jellinek mengenai perbedaan antara monarki dengan republik dan ini terutama
ditujukan terhadap kriteria yang dipergunakan oleh Jellinek di dalam pembedaan
tersebut. Karena di dalam ajarannya itu ada kelemahan atau keberatannya.
Kelemahan atau keberatan daripada pendapat Jellinek ini antara lain ternyata,
bahwa setelah Jellinek menetapkan kriterianya seperti tersebut di atas, yaitu cara
terbentuknya kemauan negara, maka adalah aneh sekali apabila ia, Jellinek,
menggolongkan negara Inggris ke dalam monarki, sebab kalau Jellinek konsekuen
dengan teorinya, seharusnya ia menyebut negara Inggris ke dalam golongan republik.
Karena di Inggris pembentukan kemauan negara yang berwujud undang-undang itu tidak
terjadi secara fisik, artinya tidak hanya dibuat, atau ditentukan oleh satu orang tunggal,
tetapi terjadi secara yuridis, yaitu bahwa pembentukan undang-undang di Inggris
dilakukan oleh King in Parliament, oleh Mahkota bersama-sama dengan parlemen,
sedang dimaksud dengan Mahkota itu adalah raja dan para menterinya.

Keadaan sama dengan di Inggris antara lain adalah di negara-negara: Swedia,


Norwegia, Denmark, Nederland, dan Belgia. Terhadap negara-negara ini Jellinek
seharusnya juga menyebutnya dengan istilah republik. Jadi dengan demikian teranglah
bahwa kalau menurut teori dari Jellinek negara-negara monarki konstitusionil itu
termasuk dalam spesis republik.
Maka kalau begitu, di Inggris, artinya bahwa undang-undang itu merupakan hasil
karya daripada Mahkota bersama-sama dengan parlemen, ini berarti bahwa pembentukan
kemauan negara Inggris itu tidak dilakukan oleh satu orang saja, tetapi dilakukan oleh
suatu dewan yang terdiri dari: raja, menteri-menteri, dan parlemen. Jadi tidak secara fisik
melainkan secara yuridis. Maka kalau kriteria Jellinek itu diterapkan secara konsekuen,
ia harus mengatakan bahwa Inggris adalah republik.
Tetapi Jellinek tetap berpendapat bahwa Inggris adalah monarki, jadi tetap
mempertahakan pendapatnya bahwa pembentukan kemauan negara Inggris terjadi secara
pisik, sebab di Inggris itu menurut Jellinek yang penting atau yang pokok di dalam
membuat dan atau menetapkan suatu undang itu adalah raja. Mengapa demikian?
Betul, demikian Jellinek, bahwa pembuatan undang-undang di Inggris itu
dilakukan oleh raja, para menteri dan parlemen. Tetapi bagaimanapun titik berat yang
memegang peranan pokok adalah raja. Sebab parlemen itu harus dapat berkumpul dan
bersidang untuk rancangan, undang-undang, kalau dikehendaki oleh raja, dan raja
menyatakan kehendaknya itu dengan memanggil parlemen untuk bersidang, dan
membuat rancangan undang-undang yang dikehendaki oleh raja. Jadi baru akan
bersidang saja parlemen itu harus ada panggilan raja. Hak atau wewenang raja untuk
memanggil parlemen supaya bersidang, ini disebut versammlungrecht.
Inilah yang merupakan titik awal atau permulaan daripada pembuatan suatu
undang-undang di Inggris. Sedangkan raja itu nanti juga akan merupakan titik akhir, oleh
karena setelah rancangan undang-undang itu dibuat oleh parlemen, undang-undang itu
belum mempunyai kekuatan berlaku, kalau raja belum memberikan royal assent atau
royal proclamation, artinya undang-undang itu belum disyahkan oleh raja. Inilah titik
akhirnya. Jadi titik berat daripada pembuatan suatu undang-undang itu ada pada raja,
dengan demikian sebenarnya kekuasaan tertinggi dalam pembuatan suatu undang-undang
ada pada raja. Ini berarti rajalah yang menentukan proses pembuatan suatu undangundang. Jadi juga yang menentukan pembentukan kehendak negara. Maka Inggris,
adalah monarki.
Dengan demikian Jellinek lalu berarti membedakan antara isi atau materi undangundang dengan perintah yang terdapat di dalam undang-undang itu, maksudnya perintah

untuk memperlakukan undang-undang karena meskipun betul isi atau materi undangundang itu yang menetapkan adalah Mahkota bersama-sama dengan perlemen, tetapi
perintah untuk memperlakukan undang-undang tetap ada pada tangga raja. Jadi proses
pembentukan undang-undang di Inggris itu dimulai dari raja dan diakhiri oleh raja pula.
Kalau seandainya raja tidak mau berbuat demikian, artinya raja tidak mau
mempergunakan versammlungsrecht yaitu mengundang parlemen untuk bersidang, dan
terlebih raja tidak mau memberikan royal assent atau royal proclamatian, maka tidak ada
suatu kekuasaaanpun di dunia ini yang dapat memaksanya. Oleh karena itu dapatlah
dikatakan bahwa Inggris adalah tetap monarki, sebab undang-undangnya, jadi berarti
juga kehendak negaranya, terjadi atau tersusun di dalam pisik raja dengan pisiknya.
Demikian pendapat Jelliinek.
Tetapi terhadap pendapat Jellinek ini Kranenburg tetap tidak dapat menerima dan
mempertahankan keberatan yang telah dianjurkan dengan mengatakan:
Bahwa kalau raja itu menjadi pusat pembentukan undang-undang, menjadi titik
awal dan titik akhit pembentukan undang-undang. Jadi merupakan faktor yang
menentukan. Kalau begitu keadaanya mestinya raja sendiri dapat membuat undangundang tanpa parlemen. Tetapi kenyataannya tidak demikian, raja tidak dapat membuat
undang-undang sendrian saja, tanpa turut sertanya parlemen, karena dengan satu royal
proclamatian saja, raja tidak dapat membuat dan memperlakukan undang-undang.
Karena yang menentukan itu adalah raja bersama-sama menteri dan perlemen, jadi yang
menentukan ini bukanlah raja yang sendirian. Maka kehendaknya, yaitu yang berupa
undang-undang, bukanlah kehendak negara bersifat fisik melainkan kehendak negara
yang bersifat yuridis, karena dalam pembentukan undang-undang ini raja, menteri dan
parlemen bertindak bersama-sama dalam arti adalah persesuaian kehendak dan
merupakan suatu dewan.
Selain daripada itu yang dikemukakan oleh Jellinek bahwa raja itu wenang
menolak undang-undang yang telah ditetapkan oleh parlemen dalam arti raja tidak mau
memberikan royal proclamation dan tidak ada satu kekuasaan pun di dunia ini yang
dapat memaksa raja, ini adalah tidak betul. Sebab hingga sekarang di dalam sejarah
ketatanegaraan Inggris, menurut convention, raja itu tidak pernah menolak suatu usul
undang-undang yang telah ditetapkan oleh parlemen. Dengan demikian ajaran Jellinek
tersebut bertentangan dengan kenyataan sejarah.
Memang demikianlah keadaannya, bahwa

pendapat

Jellinek

itu

sangat

bertentangan dengan keadaan yang senyatanya. Karena kenyataanya jauh sekali berbeda
dengan apa yang dikemukakan oleh Jelink, apabila kriterianya itu diterapkan secara

konsekuen. Misalnya saja mengenai gambaran pembentukan undang-undang seperti


yang di \lukiskan Jelink di Inggris, itu dapat terjadi pula di negara Indonesia, yaitu
Pemerintah c.q. Presiden menyampaikan Rancangan Undang-undang kepada Dewan
Perwakilan Rakyat, setelah Rancangan Undang-undang tersebut disetujui oleh Dewan
baru dengan demikian undang-undang tersebut mempunyai kekuatan berlaku. Jadi kalau
di Inggris itu diperlukan adanya royal assent atau royal proclamation raja, sedangkan
kalau di negara kita itu diperlukan adanya pengesyahan dari kepala negaraa. Dengan
demikian apakah negara kita ini berbentuk monarki?
Jadi teranglah untuk keadaan sekarang kriteria yang diajukan oleh Jellinek ini
sudah tidak dapat dipertahankan lagi. Hal yang demikian ini antara lain juga dosebabkan
karena adanya pergeseran atau perubahan daripada pengertian monarki dari
pengertiannya yang semula. Semula pengertian monarki itu menunjuk kepada suatu
negara di mana kekuasaan pemerintah di dalam negara itu hanya dipegang oleh satu
orang saja, entah apa sebutannya, entah kepala negara ini menggunakan sebutan raja atau
pangeran, ini adalah tidak menentukan.
Tetapi pengertian monarki itu untuk jaman modern menunjuk adanya lembaga
kenegaraan yang khusus kedudukannya, yaitu lembaga kenegaraan yang disebut kepala
negara, yang mempunyai kedudukan khusus berbeda dengan kedudukan kepala negara
yang lain. Kekhususannya itu adalah bahwa lembaga ini sebgai kedudukan dapat
diwariskan. Jadi tegasnya kepala negara dari negara yang berbentuk monarki itu
mendapat kedudukan karena pewarisan. Maka yang lebih sesuai dengan keadaan
sekarang, untuk membedakan monarki dan republik apabila kita menggunakan kriteria
yang dikemukakan oleh Leon Duguit.
Leon Duguit, dalam mengadakan pembedaan atau penjenisan antara bentuk negara
monarki dengan republik kriteria yang dipergunakan adalah cara atau sistem penunjukan
atau pengangkatan kepala negara.
Pengertian daripada penunjukan atau pengangkatan ini adalah luas sekali, karena
hal ini dapat berarti pemilihan, pewarisan, perampasan dan sebagainya.
Berdasarkan kriteria tersebut diatas, maka menurut Leon Duguit negara itu disebut
monarki apabila kepala negaranya ditunjuk atau diangkat berdasarkan sistem pewarisan.
Tegasnya kepala negara itu mendapatkan kedudukannya karena warisan dari kepala
negara yang langsung mendahuluinya. Jadi di sini ada suatu lembaga negara, yaitu
kedudukan kepala negara, yang dapat diwariskan.
Tentang siapa-siapa yang berwenang mendapatkan warisan itu sudah barang tentu
negara itu sendirilah yang mengaturnya, karena tentunya dalam banyak hal ada attribute
yang harus dipenuhi.

Sedangkan suatu negara itu disebut republik, apabila kepala negaranya itu ditunjuk
atau diangkat tidak berdasarkan sistem pewarisan, jadi misalnya dapat dengan cara
pemilihan, perampasan, penunjukan, dan sebagainya.
Kalau kita bandingkan antara teori dari Jellinek dengan teori dari Leon Duguit,
maka untuk keadaan sekarang, teori dari Leon itulah yang lebih sesuai dengan keadaan
yang sebenarnya, walaupun harus diakui pula bahwa dalam kenyataanya yang terjadi itu
tidaklah semudah sebagaimana digambarkan oleh Leon Duguit seperti tersebut di atas.
Karena kenyataanya banyak hal-hal yang merupakan postulate tambahan atau attribute
dari seseorang kepala negara dari negara yang disebut monarki itu.
Tegasnya seseorang itu dapat menjadi kepala negara tidak saja karena itu
mendapatkan kedudukannya karena pewarisan, tetapi di samping itu masih ada beberapa
syarat-syarat, yang itu sudah menjadi suatu konvention, yang semuanya itu harus
dipenuhi di dalam suatu negara monarki. Tetapi bagaimanapun juga kiranya ajaran dari
Leon Duguit ini khususnya mengenai kriterianya, dapatlah dipergunakan sebagai dasar
perbedaaan antara monarki dan republik.
Perlu juga diperhatikan di sini bahwa Leon Duguit dalam urainnya itu
mempergunakan istilah bentuk pemerintahan, forme de gouverment, jadi bukannya
mempergunakan istilah bentuk negara, forme de staat. Dengan demikian beliau
mempergunakan istilah monarki dan republik ini adalam artian pemerintahan monarki
dan pemerintahan republik. Jadi menurut Leon Duguit monarki dan republik itu bukanya
bentuk negara, melainkan itu adalah bentuk pemerintahan. Sedangkan pada umumnya,
demikian pula menurut ajaran Jellinek, yang dimaksud dengan bentuk negara itu adalah
monarki dan republik. Kalau yang dimaskuddengan bentuk pemerintahan itu adalah
mengenai sistem bukunya yang lebih lanjut, yang didaptkan baik di dalam negara
monarki maupun di dalam negara republik
Misalnya bentuk Pemerintahan dari negara republik itu adalah :
1. Republik dengan sistem pemerintahan rakyat secara langsung, atau dengan sistem
referendum.
2. Republik dengan sistem pemerintahan perwakilan rakyat, atau dengan sistem
parlementer.
3. Republik dengan sistem pemisahan kekuasaan, atau dengan sistem presidensil
Sedangkan bentuk-bentuk atau sistem pemerintahan daripada negara yang
berbentuk monarki, adalah :
1. Monarki dengan sistem pemerintahan absolutisme
2. Monarki terbatas
3. Monarki konsittusionil
Lalu apakah sekarang yang dimaskud oleh Leon Duguit dengan bentuk negara itu?
Yang dimaksud dengan itu adalah

1. Negara kesatuan
2. Negara serikat
3. Perserikatan Negara-negara
Diatas telah diuraikan ajaran dua orang sarjana, Georg Jellick dan Leon Duguit,
yang masing-masing telah mengemukakan perbedaaan antara republik dan monarki,
menurut sistemnya masing-masing yang berbeda itu. Pada ajaran Jellinek terang
memasukan dengan tegas ke dalam golongan monarki negara di mana rajanya atau
kepala negaranya dipilih, yang kemudian disebut Wahl-monarchi
Tetapi pada ajaran Leon Duguit, negara di mana raja atau kepala negaranya
diangkat dengan sistem pemilihan bukanlah monarki, padalah kenyataanya negara
tersebut adalah terang suatu kerajaan, sepertinya menyebutnya dengan pasti suatu negara
republik, maka disebutlah Republik Aristokrat yang kepala negaranya bergelar Raja.
Tetapi bagaimanapun juga kiranya untuk keadaan pada jaman modern ajaran Leon
Duguit-lah yang agak sesuai dan mendekati keadaan yang senyatanya. Namun demikian
kita janganlah terlalu berpedoman pada sistem klasifikasi tersebut secara fundamental
untuk setiap jaman dan dalam setiap perubahan yang selalu terjadi, sepertinya dalam
sistem alata yang selalu mengalami perubahan fungsi. Maksudnya kepala negara
misalnya, itu tugasnya atau fungsinya dari jamur ke jamur telah mengalami perubahanperubahan besar.
3. Autoritaren Fuhrerstaat
Di samping penjenisan negara dalam dua bentuk, yaitu republik dan monarki,
seperti yang diajukan oleh Georg Jelinnk dan oleh Leon Duguit tersebut diatas, Prof Ono
Koellreutter yang sifat ajarannya adalah berdasarkan nasional-sosialisme menyebutkan
adanya spesis atau jenis ketika yaitu yang disebut negara autokrasi terpimpin, atau
Autoritaren Fuhrerstaat, atau autorithire Leiderstat.
Dalam permulaan uraiannya ia menyebutkan adanya bentuk republik dan monariki,
dan untuk ini ia agak condong kepada ajaran Leon Dugeon dan dalam pada itu ia
mengatakan bahwa sebagai kesimpulannya bahwa baik dalam bentuk republik maupun
monarki dikuasai oleh suatu azas, yaitu bahwa sifat hakekat daripada monarki terletak
pada negara yang diperintah oleh suatu dinasti, jadi dengan sendirinya penunjukan atau
pengangkatan kepala negaranya memakai stelsel atau sistem pewarisan, turun temurun,
maka dari itu monarki dikuasai oleh azas pewarisan turun temurun, maka dari itu
monarki dikuasai oleh azas ketidaksamaan, dalam arti bahwa yang dapat dan berhak
menduduki jabatan kepala negara itu hanya keluarga dari suatu kerutunan raja.
Sedangkan pada negara republik dikuasai oleh azas kesamaan, sebab penunjukkan
atau pengangkatan kepada kepala negaranya di sini tidak mempergunakan sistem atau

stelsel pewarisan, ini berarti bahwa pada azasnya setiap orang berhak menduduki jabatan
kepala negara.
Sedangkan pada negara republik dikuasai oleh azas kesamaan, sebab penunjukan
atau pengangkatan kepala negaranya di sini tidak mempergunakan sistem atau stelsel
pewarisan. Ini berarti bahwa pada azasnya setiap orang berhak menduduki jabatan kepala
negara.
Kemudian sekarang apakah yang disebut negara autoritaren Fuhrerstat itu? Ini
adalah suatu negara yang dipimpin oleh kekuasaaan negara, yang berdasarkan atas
pandangan autoritet negara. Jadi dalam negara ini juga sedikit banyak dikuasai azas
ketidaksamaan, tetapi di samping itu atau dikuasai oleh azas kesamaan, oleh karena itu
yang dapat memegang kekuasaan pemerintah negara itu bukan hanya orang-orang dari
suatu dinasti saja.
Jadi kiranya dapatlah dikatakan bahwa negara ini merupakan bentuk campuran
antara monarki dan republik, dan mempunyai sifat-sifat monarki dan republik. Dikatakan
mempunyai sifat monarki dalam arti bahwa negara autoritaren-Fuhrestaat ini juga
dikuasai oleh azas ketidaksamaan, hanya saja bedanya bahwa azas ketidaksamaan dalam
negara

autoritaren-Fuhrestaat

ini

maksudnya

ialah

bahwa

penunjukkan

atau

pengangkatan kepala negaranya tidak memakai azas seperti yang biasanya dipakai dalam
pengangkatan atau penunjukkan kepala negara pada negara republik.
Sedang di samping itu dikatakan juga mempunyai sifat republik dalam arti bahwa
negara autoritaren Fuhrerstaat ini juga dikuasai olh azas kesamaan, hanya saja bedanya
bahwa azas kesamaan dalam negara autoritaren Fuhrerstaat ini maksudnya ialah bahwa
penunjukan atau pengangkatan kepala negaranya itu tidak memakai azas seperti yang
biasanya dipakai dalam penunjukan atau pengangkatan kepala negara pada negara
monarki
Jadi sekali lagi penunjukan atau pengankatan kepala negara autoritaren Fuhrerstaat
ini tidak sama dengan penunjukan atau pengangkatan kepala negara pada negara monarki
maupun pada negara republik, melainkan berdasarkan pada pandangan autoritet negara,
berdasarkan pada kemampuan memerintah serta kemampuan menguasai rakyatnya.
Dengan demikian maka dalam negara autoritaren fuhrerstaat ini perbedaan antara
bentuk monarki dan bentuk republik tidak mempunyai arti yang pokok atau penting,
dalam arti bahwa baik azas ketidaksamaan maupun azas kesamaan dikesampingkan jauhjauh. Lalu kalau demikian memakai azas apakah, atau memakai sistem apakah dalam
penunjukan atau pengangkatan kepala negaranya itu? Kiranya Otto Koellreutter dalam
masalah ini tidak memberikan penjelasan secara tegas, juga dasar kekuasaaan daripada
negara ini.

Dalam hal ini Otto Koellreutter hanya menunjukan Adolph Hitler dalam bukunya
Mein Kamft, yaitu yang antara lain Adolph Hitler mengatakan bahwa, tujuan gerakan
nasional-sosialis tidak terletak dalam mendirikan monarki atau menegakan republik,
melainkan dalam menciptakan negara Jerman.
Tetapi meskipun demikian, dengan keterangan itu tadi belum membuat terang
masalahnya, karena tidak dikatakan pembentukan negara Jerman yang mana
dimaksudkan itu. Sedangkan dulu ada beberapa negara Jerman. Kalau toh yang
dimaksud itu adalah negara Jerman pada jamanya Hitler, Hitler sendiri pada waktu itu
akhirnya memilih semcam plebisit sebagai cara atau sistem penunjukan atau
pengangkatan kepala negara sesudah menjatuhkan kepala negara yang lama, yaitu
Hinderburg, dalam suatu Coup detat.
4. Klasifikasi Negara menurut Prof. Mr. R. Kranenburg
Teori Kekelompokan
Prof Mr. R. Kraenburg dengan bukunya yang termasyu yaitu Algemeine Staatsleer,
yang diterbitkan pada tahun 1937, dapatlah dikatakan bahwa ia menganut aliran historissociologist, dalam arti bahwa beliau mendasarkan teorinya atas dasar: bagaimanakah
sejarah pertumbuhan masyarakat itu, yaitu yang semula hidup dengan bebas, tanpa
terikat oleh sesuatu aturan apapun, menjadi suatu negara di mana berlaku beraneka
peraturan-peraturan hukum yang mempunyai sifat mengikat, serta ada sanksinya apabila
peraturan-peraturan hukum itu tidak ditaati. Yang kesemuanya ini akibatnya adalah
membatasi kebebasan para warga negaranya. Sedangkan kebebasan adalah merupakan
suatu hal yang mempunyai nilai pokok dalam negara.
Seperti telah kita katakan bahwa menurut Kranenburg negara itu pada hakekatnya
adalah suatu organiasi kekuasaan yang diciptakan oleh sekelompok manusia yang
disebut bangsa, dengan tujuan untuk menyelenggarakan kepentingan mereka bersama.
Maka di sini yang primer adalah kelompok manusianya, sedangkan organisasinya, yaitu
negara bersifat sekunder.
Dengan demikian Kranenburg menolah hipotesa yang dikemukakan oleh teori
hukum alam. Dan dengan pendapatnya itu Kranenburg yang hidup dalam pelbagi jenis
kelompok, atau

golongan, atau kolektivitet. Dalam hal ini pertanyaanya adalah

bagaimanakah kelompok-kelompok atau golongan-golongan ini dapat dimasukan dalam


suatu sistem. Kemudian menyusul pertanyaan, kelompok yang manakah yang
menciptakan organisasi atau negara itu?

Maka baiklah teori kekelompokan ini kita bicarakan terlebih dahulu. Dalam
membicarakan kelompok manusia ini, atau tegasnya dalam membicarakan penjenisan
atau klasifinkasi kelompok manusia ini Kranenburg mempergunakan dua macam kriteria.
a. Sifat kesempatan, artinya kelompok masnusia itu mempunyai sifat setempat ataukah
tidak setempat.
b. Sifat keteraturan, artinya kelompok manusia itu sifatnya teratur ataukah tidak teratur.
Dengan mempergunakan dua macam kriteria tersebut di atas. Kranenburg
mengklasifikasikan kelompok manusia menjadi empat jenis kelompok, yaitu
1) Kelompok manusia yang sifatnya setempat tetapi tidak teratur. Kelompok ini
misalnya kelompok orang-prang yang berkerumun atau berkumpul pada suatu
tempat untuk melihat atau menyaksikan suatu kejadian, kecelakaan misalnya, yang
terjadi itu dengan secara tiba-tiba. Orang-orang tersebut berkumpulnya pada suatu
tempat tadi tidak mempunyai kepentingan-kepentingan yang sama. Karena di antara
orang-orang tadi ada yang hanya mau melihat-lihat saja, tetapi ada pula yang akan
memberikan pertolongan. Ada pula yang datangnya ke tempat itu dengan tujuan
mendapatkan keterangan-keterangan seperlunya, atau ada pula orang yang datang ke
tempat itu akan mempergunakan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan
pribadi, dan sebgainya, pokoknya orang-orang yang berkumpul dalam kelompok itu
tidak mempunyai tujuan yang sama. Pula sifat daripada kelompok itu adalah
insidentil, serta orang-orang padakeompok itu saling tidak mengenal, dalam arti
tidak ada hubungan, dan sifatnya tidak teratur:
Ciri yang istimewa atau khusus daripada kelompok ini adalah sifatnya sangat
suggestif, mudah dipengaruhi dan mudah menimbulkan ekses atau perbuatanperbuatan yang menimbulkan akibat kurang baik, karena kesadaran mereka telah
menjadi sempit, sehingga berubah atau berganti menjadi suatu emosi sebgai akibat
daripada banyaknya kesan-kesan pendengan serta penglihatan mereka. Contoh untuk
ini oleh Kranenburg dikemukakan masa, Crowd, la foule.
2) Kelompok manusai yang sifatnya setempat dan teratur. Ini adalah kelompok orangorang yang berkumpul pada suatu tempat, dan yang mempunyai tujuan yang sama,
dan tujuan ini hanya dapat dicapai kalau mereka itu, kelompok tersebut, sifatnya
teratur. Contoh daripada kelompok ini misalnya para mahasiswa yang sedang
mengikuti kuliah, penonton-penonton pertunjukan dalam sebuah gedung, sesuatu
rapat dan sebgainya.
Jadi pada kempok ini ada unsur baru, yaitu keadaan yang teratur, yang timbulnya
karena adanaya tujuan yang sama, yang mereka terima dengan radar, karena tanpa
adanya sifat setempat dan teratur tujuan mereka tidak akan dapat tercapai.

3) Kelompok manusia yang sifatnya tidak setempat dan tidak teratur. Timbulnya
kelompok ini karena adanya persamaan-persamaan yang bersifat objektif. Contoh
daripada kelompok ini misalnya: para mahasiswa, para petani, para pedagang, yang
kesemuanya itu apabila tidak terikat oleh sesutu perkumpulan atau organisasi.
Mereka ini merupakan suatu kelompok oleh karena mempunyai persamaanpersamaan yang bersifat objektif atau lahiriah. Tetapi tentang keinsyafannya atau
kesadaranya akan persamaan-persamaan tersebut misalnya persamaan kepentingan,
nasib, tujuan, dan sebgainya, yang kesemuanya bersifat objektif atau lahiriah tadi
belum tentu kalau sama. Kelompok ini disebut juga kelompok objektif.
Persamaan yang bersifat objektif ini mudah menimbulkan suasana golongan,
kerjasama golongan, kepentingan golongan, dan sebgainya, yang kesemuanya itu
bersifat golongan. Serta mereka itu mempunyai kepentingan bersama yang amat
kuat dirasakan, misalnya kalau mereka melihat adanya bahaya yang mengancam
salah seorang anggota mereka, lebih-lebih bahaya itu mengancam mereka bersama
atau kemlompok mereka, mereka itu tentu segera mengambil indakan bersama, demi
keselamatan golongan atau kelompok mereka.
4) Kelompok manusia sifatnya tidak setempat tetapi teratur. Kelmpok ini adalah
merupakan kelompok yang tertinggi dan disebut juga kelompok subyektif, karena
mereka sudah mempunyai keisyafan dan kesadaran akan kekelompokannya. Yang
merupakan faktor pokok daripada kelompok ini adalah kelompoknya itu sendiri,
yang karena adanya kepentingan bersama, timbul suatu kehendak bersama untuk
mengadakan tata terti, yang akan mengatur kelompok itu sendiri, untuk tercapai
serta melaksanakan tujuan kelompok itu sendiri, untuk tercapai serta melaksanakan
tujuan kelompok itu. Ini menurut Kranenburg antara lain terbukti dari nama-nama
yang dipakai dalam penyebutan organisasi-organisasi internasional, misalnya
perserikatan bangsa-bangsa. Juga termasuk kelompok ini misalnya: keluarga atau
family, perkumpulan, partai politik. Yang diorganisir, negara, perserikatan negarnegara, dan negara serikat.
Kelompok yang ketiga tadi erat hubunganya dengan kelompok keempat, dalam arti
bahwa kemlompok obyekrif itu pada suatu saat dapat berubah menjadi kelompok
suyektif. Kelompok obyektif itu bila akan berubah menjadi kelompok suyektif selain
dibutuhkanya suatu unsur baru, yaitu harus ada kesadaran akan kekelompokannya,
tugasnya adalah:
Pertama. Pertama-tama tugasnya ialah mengatur kelompoknya itu dengan
mengadakan peraturan-peraturan. Ini disebabkan karena orang ingin memperoleh

kepastian tentang sikap. Tingkah laku dan perbuatannya yang harus diambil dan
dilakukannya di dalam oergaulan dengan orang lain. Demi untuk ini ditentukan di dalam
peraturan-peraturan yang akan dan harus dibuat,
Jadi pokok pertama, di dalam kelompok keempat adanya tugas atau fungsi
membuat peraturan, dan kalau ada tugas atau fungsi maka juga harus ada petugas atau
fungsionarisnya. Jadi harus ada petugas yang tugasnya itu membuat peraturan untuk
mengatur kehidupan bersama di dalam kelompok tersebut, agar tujuan daripada
kelompok tersebut dapat tercapai dan terlaksana.
Lalu siapakah petugas yang diserahi tugasa ini ? tugas tersebut diserhkan kepada
petugas yang disebut badan pembuat oeraturan-peraturan umum, atau badan perundangundangan, atau badan legislatif. Apa artinya peraturan umum? Peraturan umum adalah
peraturan yang dibuat oleh badan atau pejabat yang berwenang, dan sifat kekuasaannya
itu adalah umum, artinya kekuasannya itu meliputi seluruh wilayah negara.
Kalau sudah ada peraturannya, tentu ada maksud supaya peraturan-peraturan
tersebut dilaksanakan, dan untuk ini harus ada petugasnya. Jadi pokok kedua, di dalam
kelompok keempat ini adalah tugas untuk melaksanakan peraturan-peraturanm, dan tugas
ini diserahkan kepada suatu - badan yang disebut pemerintah atau badan eksekutif.
Kemudian meskipun segala sesuatunya di dalam kelompok itu sudah diatur, tetapi
mungkin masih ada perbuatan-perbuatan yang menyimpang atau melanggar peraturanperaturan tersebut, dan ini harus dibetulkan. Jadi harus ada sifat pengawasan terhadap
pelaksanaan daripada peraturan-peraturan tersebut. Dengan demikian pokok ketiga di
dalam kelompok keempat tersebut ialah adanya tugas mengawasi pelaksanaan daripada
peraturan-peraturan tersebut, ini adalah tugas pengawasan, atau pengadilan atau
yudikatif. Dan unutk tugas ini harus ada petugasnya, petugasnya adalah badan
pengadilan atau badan yudikatif.
Petugas-petugas tersebut diatas merupakan alat-alat perlengkapan negara, atau
organ-organ negara, sedangkan tugas-tugas itu tadi namanya fungsi negara atau
kekuasaaan negara. Dan selanjutnya menurut Kranenburg, bahwa menurut sejarah, baik
tidaknya sesuatu negara itu sebetulnya tergantung daripada hubungan antara fungsi atau
kekuasaaan negara itu sebetulnya tergantung daripada hubungan antara fungsi atau
kekuasaaan negar itu s=dengan organnya, dan hubungan antara organ-organ itu satu sama
lain.
Dalam hubungan ini maka ternyatalah dapat dibenarkan adanya pendapat
sementara sarjana yang menyatakan bahwa apabila ketiga fungsi negara ini dipusatkan
pada satu tangan atau satu organ, akan menyebabkan organ ini menjadi maha kuasa, dan
dapat menyalahgunakan kekuasaannya. Oleh karena organ itu membuat perturan sendiri,

dan melaksanakan peraturan tersebut menurut penafsirannya sendiri, dan melaksnakan


yang mengawasi pelaksanaanya, atau mengadili. Maka dari itu fungsi-fungsi negara
tersebut harus didistribusikan.
Maka menurut Kranenburg kesimpulannya ialah bahwa sifat hakekat negara itu
tergantung pada problem atau masalah bagaimanakah sifat hubungan antara fungsifungsi negara itu dengan organ-organya, serta sifat hubungan antara masing-masing
organ itu satu sama lain. Dengan demikian Kranenburg mengadakan klasifikasi negara
berdasarkan kriteria:
1. Sifat hubungan antara fungsi-fungsi dengan organ-organ yang ada di dalam negara
itu. Ini yang dimaksudkan adalah, apakah fungsi-fungsi negara itu hanya dipusatkan
pada satu organ, ataulah dipisah-pisahkan dan kemudian didistribusikan kepada
beberapa organ.
2. Sifat pada organ negara itu sendiri, ini maskudnya kalau fungsi-fungsi negara itu
dipusatkan pada satu organ; serta bagaimanakah sifat hubungan antara organ-organ
itu satu sama lain, ini kalau fungsi-fungsi negara itu dipisah-pisahkan dan masingmasing itu diserahkan kepada satu organ.
Dengan mempergunakan kriteria ini, negara dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
1. Negara di mana semua fungsi atau kekuasaan negara itu diousakan pada satu organ.
Negara yan demikian ini adalah negara yang melaksanakan sistema absolut.
Kemudian organnya itu sendiri begamanakah sifatnya, maksudnya organ negara itu,
yaitu organ negara yang tertinggi, dipegang atau dilaksanakan oleh beberapa orang,
Ini ada tiga kemungkinan, yaitu :
a. Organ itu dapat bersifat tunggal, artinya organ yang tertinggi, serta kekuasaan
negara yang tertinggi di dalam negara itu, hanya dipegang atau dilaksanakan
oleh satu orang tunggalh. Negara ini disebut monarki
b. Organ itu dapat bersifat beberapa orang, artinya organ yang tertinggi, serta
kekuasaaan negara yang tertinggi di dalam negara itu, dipegang dan atau
dilaksanakan oleh beberapa organ. Negara itu disebut aristokrasoi atau oligarki.
c. Organ itu dapat bersifat jamak. Artinya organ itu pada prinsipnya dipegang atau
dilaksanakan oleh seluruh rakyat. Negara ini disebut demokrasi.
Dengan demikian, maka kalau sistemnya itu, yaitu sistem absolutisme digabungkan
atau dikombinasikan dengan sifat organnya, akan kita dapatkan :
a. Monarki absolut. Yaitu negara dimana fungsi-fungsi atau kekuasaan negara itu
dipusatkan pada satu organ, sedangkan organnya itu sendiri hanya dipegang
oleh satu oragn tunggal saja.

b. Aristokrasi atau oligarki absolut. Yaitu negara di mana fungsi-fungsi atau


kekuasaan negara itu dipusatkan pada satu organ, sedangkan organnya sendiri
dipegang oleh bebrapa orang.
c. Demokrasi absolut. Yaitu negara dimana funsi-fungsi atau kekuasaan negara itu
dipusatkan pada satu organ, sedangkan organnya itu sendiri pada prinsipnya
dipegang oleh seluruh rakyat. Negara itu juga diesbut demorasi murni.
2. Negara di mana fungsi-fungsi artau kekuasaan-kekuasaan negara itu dipisahpisahkan, pemisahan kekuasan ini biasanya yang dianut adalah ajaran daripada
Montesquieu,

kemudian

masing-masing

kekuasaan

itu

diserahkan

atau

didistribusikan kepada beberapa organ. Sedangkan dalam hal ini yang penting atau
yang menentukan adalah bagaimanakah sifat hubungan organ-organ itu satu sama
lai. Khususnya sifat hubungan antara organ perundanh-undangan dengan organ
pelaksanaan yaitu pemerintah (sifat hubungan antara badan legislatif dengan badan
eksekutif);

Oleh

karena

tergantung

daripada

inilah

sifat

atau

sistem

pemerintahannya, sedangkan sistem daripada pemerintahan inilah yang selanjutnya


akan menentukan bentuk daripada negaranya. Dimaksudkan dengan sifat daripada
hubungan antara organ-organ tersebut ialah, apakah organ-organ tersebut satu sama
lain dapat saling mempengaruhi ataukah tidak. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas
negara yang melaksanakan sistem pemisahan kekuasaan ini dapat diklarifikasikan
menjadi:
a. Negara yang melaksanakan sistem pemisahan kekuasaan secara tegas, atau
secara sempurna. Artinya masing-masing organ tersebut tidak dapat saling
mempengaruhi, khususnya antara badan legislatif dengan badan eksekutif.
Sebagai contoh misalnya masyarakat Amerika Serika, disini kekuasaan
perundang-undangan ada pada kongres, seddangkan kekuasaan pelaksanaan
atau pemerintahan ada pada Presiden, dan di dalam konstitusinya dinyatakan
dengan tegas pemisahan antara kedua kekuasaan tersebut, yang satu sama lain
tidak dapat mempengaruhi, negara ini disebut negara dengan sistem
pemerintahan Presidensil
b. Negara yang melaksanakan sistem pemisahan kekuasaan, dan masing-masing
organ pemegang kekuasaan tersbut, khussnya antara badan legsilatif dengan
badan eksekutif, dapat saling mempengaruhi, atau ssaling berhubungan. Sifat
hubungan antara kedua badan atau organ ini adalah bersifat politis, maskudnya
kalau bejiksanaan badan yang satu tidak mendaptkan persetujuan dari badan

yang lain, badan tersebut dapat dibubarkan. Negara ini disebut negara dengan
sistem Parlementer.
c. Negara yang melakukan sistem pemisahan kekuasaan, tetapi pada prisnipnya
badan eksekutif itu hanya bersifat sebagai badan pelaksanaan atau badan pekerja
saja dari pada apa yang telah diputuskan oleh badan legislatif. Dan disertai
dengan pengawasan atau kontrol secara langsung dari rakyat, yaitu dengan
sistem referendum. Negara ini disebut negara dengan sistem referendum.
Uraian lebih lanjut dari pada sistem-sistem pemerintahan terserbut akan
dibicarakan nanti pada pembicaraan demokrasi modern.
II. Kriteria kedua yang dipergunakan atau dikemukakan oleh Kranenburg di dalam
mengkalsifkasikan bentuk negara ialah berdarkan perkembangan sejarah, dan
penjenisan negara modern yang timbul sebagai hasil atau akibat dari pada
perkembagan

politik

jaman

modern.

Berdasarkan

ini

negara

dapat

m=diklasifikasikan menjadi L
a. Negara dalam bentuk-bentuk historis. Ini misalnya
1. Federasi negara-negara dari jaman kuno.
2. Sistem provincia Romawi.
3. Negara-negara dengan sistem foedal.
b. Negara-negara dalam bentuk modern, atau dari jaman modern
1. Perserikatan negara-negara atau Staatenbund.
2. Negara serikat atau Bundesstaat.
3. Negara Kesatuan atau Negara Unitaris.
4. Negara Kesemakmuran Bersama Inggris atau British Commonwealth of
Nations
Terhadap klasifikasi negara dari Kranenburg tersebut dapatlah dikatakan bahwa
ajaran dari Aristoteles tentang bentuk-bentuk negara sangat besar pengaruhnya.
Demikian pula ajaran tentang pemisahan kekuasaan dari Montesquieu. Sedangkan
terhadap penjenisan negara yang berdasarkan perkembangan sejarah, dapatlah dikatakan
tidak berdasarkan ilmu pengetahuan, serta tidak bersifat sistematis.
Oleh karena dalam hal ini Kranenburg kurang jelas mengatakan bentuk negaranegara ,modern, dan yang mana pulakah yang merupakan hasil dari pada perkembangan
sejarah serta politik pad jaman modern ini.
Dalam uraian diatas telah tersinggung pula ajaran tentang pemisahan kekuasana
dari Montesquieu. Ajaran ini dalam banyak hal dipengaruhi oelh ajaran pembagian
kekuasaan dari John Locke. Hanya oleh karena keadian serta susunan negara pada waktu
hidupnya John Locke berbeda sekali dengan jamannya Montesquieu hidup maka

ajarannya sedikit berbeda, namun demikian dapatlah dikatakan bahwa ajaran


Montesquieu dalam banyak hal bersifat menyempurnakan ajaran John Locke.
John Locke inipun sebenarnya bukanlah sarjana yang pertama-tama
mengemukakan ajaran tentang pemisaha kekuasaan, oleh karena soal pemisahan
kekuasaan ini telah lama dikemukakan oleh seorang sarjana Yunani, yaitu Aristoteles.
Yang kemudian ajran ini mendapatkan nama Trias Politica dari Imanuel Kant.
5. Klasifikasi Negara menurut Hans Kelsen
Seperti telah diketahui Hans Kelsen adalah penganut ajaran positivisme. Ia menulis
ajarannya dalam bukunya Der Soziologische und der juristiche Staatsbegriff.
Dalam ajarannya tentang klasifikasi negara Hans Kelsen antara lain mengatakan
bahwa kalau akan mengklasifikasikan negara, terlbeih dahulu harus menetapkan apakah
cara yang akan dipergunakan sebgai kriteria. Kriteria ini menurut pendapat hans kelsen
haruslah sesai dengan hakekat negara, dan bahkan tidak boleh terlepas dari hakekat
negara, sebab inilah yang pokok. Maka dari itu pertama-tama dalam hal ini kita harus
mengetahui terlebih dahulu apakah hakekat negara itu. Hakekat negara ini akan
menimbulkan akibat-akibat tertentu terhadap warga negara, serta apakah yang
menimbulkan akibat-akibat ini tadi khususnya. Hakekat negara yang menimbulkan
akibat-akibat tertentu terhadap para warga negara inilah yang dipergunakan sebgai
kriteria di dalam mengklasifikasikan negara.
Menurut ajaran Hans Kelsen negara itu pada hakekatnya adalah merupakan
Zwangsordnung, suatu tertib hukum atau tertib masyarakat yang mempunyai sifat
memaksa, yang menimbulkan hak memerintah dan kewajiban tunduk. Oleh karena tertib
hukum mana menjelma dalam bentuk peraturan-peraturan hukum, dan peraturanperaturan hukum ini mengandung sanksi, artinya kalau peraturan-peraturan hukum ini
tidak ditaati dapat menimbulkan akibat-akibat hukum tertentu terhadap siapa yang tidak
menaati atau melanggar hukum tadi. Dan bahkan berlakunya peraturan-peraturan hukum
itu dapat dipaksakan.
Karena peraturan-peraturan hukum itu tadi sifatnya memaksa, maka dengan
sendirinya lain mengurangi atau mebatasi kebebasan daripada para warga negara.
Padahal kebebasan warga negara itu, menurut Hans Kelsen merupakan nilai yang
fundamentail atau pokok di dalam suatu negara.
Sekarang masalahnya, bagaimanakah sifat derajad pembatasan kebebasan warga
negara itu, maksudnya apakah derajad pembatasan kebebasan warga negara itu luas
sekali, ataukah sempit sekali. Dengan kata lain derajad pembatasan kebebasan warga
negara itu bersifat maksmimum ataukah bersifat minumum. Artinya, kalau dierajad

pembatasan kebebasan warga negara itu bersifat maksimum, maka akibatnya kebebasan
warga negaranya adalah bersifat minimum. Dan sebaliknya, apabila derajad pembatasan
kebebasan warga negara itu bersifat minimum, maka akibatnya kebebesan warga
negaranya akan bersifat maksimum.
Soalnya sekarang ialah, apakah yang menentukan sifat derajad pembatasan
kebebasan warga negara itu. Menurut Hans Kelsen, sifat kebebasan warga negara itu
ditentukan oleh dua hal, yaitu:
1. Sifat mengikatnya peraturan-peraturan hukum yang dibuat atau dikeluarkan oleh
penguasa yang berwenang.
2. Sifat keleluasan penguas atau pemerintah dalam mencampuri atau mengatur peri
kehidupan daripada para warga negaranya.
Inilah yang kemudian dipakai sebgai kriteria oleh Hans Kelsen di dalam
mengklasifikasikan

negara.

Dan

berdasarkan

kriteria

tersebut,

negara

dapat

diklasifikasikan menjadi:
1. Dengan kriteria pertama, yaitu sifat mengikatnya peraturan-peraturan hukum yang
dibuat atau dikeluarkan oleh penguasa yang berwenang. Berdasarkan ini maka:
a. Pada azasnya peraturan-peraturan hukum yang dikeluarkan oleh pneguasa yang
berwenang itu hanya mengikat atau berlaku terhadap rakyat atau warga negara
saja, jadi tidak berlaku atau mengikat penguasa yang membuat dan
mengeluarkan peraturan-peraturan hukum tersebut. Maka apabila dalam suatu
negara si pembuat peraturan-peraturan hukum itu tidak dikenai atau tidak terikat
oleh peraturan-peraturan hukum yang dibuatnya itu, jadi hanya mengikat, atau
hanya ditujukan terhadap para warga negaranya saja, peraturan-peraturan
hukum itu seakan-akan lalu berasal dari luar pribadi mereka yang dikenai oleh
peraturan-peraturan hukum. Maka akibatnya si penguasa lalu mempunyai
kecenderungan untuk membuat atau mngeluarkan peraturan-peraturan hukum
sebanyak mungkin. Konsekuensi daripada ini adalah bahwa derajad pembatasan
kebebasan pribadi warga negaranya bersifat maksimum, sedangkan kebebasan
pribadi warga bersifat minimum. Diaktakan oleh Hans Kelsen negara yang
demikian ini memakai sistem heteronomi, dan negara heteronom
b. Pada azasnya peraturan-peraturan hukum yang dikeluarkan oleh Penguasa yang
berwenang itu kecuali mengikat warga negaranya atau rakyatnya juga mengikat
si pembuat peraturan-peraturan hukum itu sendiri. Maka dalam hal ini terdapat
adanya suatu kesamaan antara si penguasa dengan warga negaranya, jadi
seakan-akan peraturan-peraturan hukum yang berlaku itu berasal dan

kemauannya sendiri, dus sifatnya lalu autonom. Maka akibatnya adalah di


penguasa itu lalu mempunyai kecenderungan untuk membuat dan mengeluarkan
peraturan-peraturan hukum sesedikit mungkin Konsekuensi daripada ini adalah
bahwa derajad pembatasan kebebasan pribadi warga negaranya bersifat
minimum, sedangkan kebebasan pribadi warga negaranya bersifat maksimum.
Negara yang demikian ini oleh Hans Kelsen dikatakan negara yang memakai
sistem autonomi, dan negaranya disebut negara autonom
2. Dengan kriteria yang kedua, yaitu sifat keleluasaan penguasa atau pemerintah dalam
mencampuri atau mengatur peri kehidupan daripada para warga negaranya.
Berdasarkan ini maka:
a. Pada azasnya penguasa atau negara mempunyai keleluasan untuk mencampuri
atau mengatur segi kehidupan daripada para warga negarnya. Jadi terhadap
segala hal penguasa atau negara berhak mengaturnya. Akibatnya ialah bahwa
penguasa lalu mempunyai kecenderungan mengeluarkan peraturan-peraturan
hukum sebanyak-mungkin untuk mengatur segala segi peri kehidupan para
warga negaranya. Konsekuensi daripada ini adalah bahwa derajad pembatasan
kebebasan pribadi warga negaranya bersifat maksimum, sedangkan kebebasan
pribadi warga negaranya bersifat minimum. Negara yang demikian ini oleh
Hans Kelsen disebut negara totaliter atau etatistis.
b. Pada azasnya pengusa atau negara hanya dapat mencmpuri atau mengatur
pribadi kehidupan para warga negaranya yang pokok-pokok saja, yang
menyangkut kehidupan warga negara secara keseluruhan. Sedangkan hal-hal
selainnya pengaturannya diserhkan kepada para warga negara sendiri. Maka
akibatnya ialaha bahwa derajad pembatan kebebasan pribadi warga negaranya
bersifat minimum, sedangkan kebebasan pribadi warga negaranya bersifat
maksimum.Oleh karena dalam hal ini si penguasa itu hanya mempunyai
kecendrungan untuk mengeluarkan peraturan-peraturan hukum sedikit, sebab
yang diserhakan pengaturannya kepada penguasa hanyalah soal-soal yang
pokok-pokok saja, sedangkan selebihnya pengaturannya diserahkan kepada
masing-masing warga negara itu sendiri. Negara yang melaksanakan sistem ini
oleh Hans Kelsen disebut negara liberal.
Setelah kita mempelajari klasifikasi negara yang dikemukakan oleh Hans Kelsen,
maka daapatlah ditarik suatu kesimpulan bahwa pada umumnya negara-negara yang

memakai sitem autonom, yaitu negara di mana si penguasa yang membuat itu
mengeluarkan peraturan-peraturan hukum itu ikut terikat atau tekena juga oleh peraturanperaturan hukum hukum yang dibuatnya, ada kecenderungan untuk merubah sistemnya
itu ke arah system liberalisme, sebab orang itu tidak begitu senang kalau sangat terikat,
atau kebebsannya sangat dibatai. Mengapa ada kecendrungan untuk merubah sistemnya
tersebut? Karena dalam kedua negara tersebut dapatolah dikatakan bahwa azas yang
dipakai adalah sama, gejalanyapun adalah sama.
Sebaliknyu, pada negara-nedara yang memakai sitem atau alas heteronom, ada
kecenderungan untuk berubah ke arah negara totaliter. Mengapa demikian? Tidak lain
azas yang dipakai dapat dikatakan ada persamaannya, gejalanya pun demikian pula ada
persamaannya. Dan pada negara-negara ini ada kemungkinan bahwa kekuasaan penguasa
itu bersifat absolut.
Kalau kita bandingkan ajaran klasifikasi negar dari Hans Kelsen tersebut di atas
dengan ajaran dari Aristoteles dan Epicurus mengenai sifat susunan negara atau
masyarakat, maka dapatlah dikatakan bahwa di situ pihak kalsifikasi negara Hans
Kelsen, yaitu negara heteronom dan negara totaliter, mempunyai persamaan dengan
ajaran Aristoteles mengenai sifat susunan negara atau masyarakat, yaitu yang menytakan
bahwa negara itu pada hakekatnya merupakan suatu organisme
Sedangkan pihak lain, klasifikasi negara Hans Kelsen, yaitu negara autonom dan
liberal, mempunyai perasamaan dengan ajaran Epicurus mengenai sifat susunan daripada
negara atau masyarakat, yaitu yang menyatakan bahwa susunan masyarakat atau negara
bersifat atomistis. Tetapi meskipun demikian janglanlah sekali-kali dicampur adukan
ajaran-ajaran tersebut, karena ajaran-ajaran tersebut masing-masing mengenai segi-segi
yang berlainan, walaupun ada hubungannya satu lam lain, serta pula yang mempunyai
kecenderungan untuk berubah ke arah yang lain. Misalnya susunan masyarakat yang
bersifat organistis seoerti faham Aristoteles, lambat laun dapat berubah menjadi negara
totaliter. Ataupun juga susunan masyarakat yang bersifat atomis dari faham epicurus
dapat berubah menjadi negara liberal.
Tegasnya adalah sebagai berikut, bahwa organisme, sebagai lawannya adalah
atomisme, itu adalah suatu faham atau ajaran mengenai masalah atau sifat susunan
masyarakat atau negara, yaitu pendangan bagaimanakah masyarakat atau negara itu
tersusun jadi pokoknya mengenai sifat susunan masyarakat atau negara.
Sedangkan totaliterisme dan liberalisme itu adalah faham atau ajaran mengenai
masalah bagaimanakah sifat kebebasan penguasa dalam mencampuri sego-segi peri
kehidupan warga negara atau masyarakat.

Ada faham lain lagi yang hampir sama dengan hal-hal tersebut di atas terutama
dengan istilah-istilah yang dipergunakan dalam klasifikasi negara Hans Kelsen, yaitu
faham individualisme dan faham kolektisisme. Tetapi ini sebetulnya mengenai masalah
yang lain lagi. Yaitu bahwa indidualisme dan kolektivisme itu adalah faham atau ajaran
mengenai mengutamaan sifatnya mengutamakan kepentingan individu, jadi kepentingan
individu itualh yang primer bila dibandingkan dengan kepentingan umum atau
masyarakat yang sifatnya sekunder. Sedangkan kolektivisme adalah faham atau ajaran
yang sifatnya mengutamakan kepentingan umum atau masyarakat keseluruhannya. Jadi
yang primer disni adalah kepentingan umum atau masyarkat, sedangkan kepentingan
individu adalah bersifat sekunder.
Tetapi jangan dilupakan, bahwa masing-masing itu mempunyai hubungan yang
erat, karena memang prinsipnya adalah dapat dikatakan sama. Konsekuenasinya ialah
bahwa yang satu dapat meleburkan diri atau berubah ke arah yang lain.
Kembali keajaran klasifikasi negara menurut Hans Kelsen. Tadi di atas dikatakan
bahwa menurut Hans Kelsen ada empat jenis negara. Yaitu: heteronom, autonom,
totaliter dan lueral. Ini secara teoritis dapatlah disusun suatu sistem kombinasi.
1. Negara yang memanakai sistem kombinasi autonom-liberal, atau negara yang
memakai sistem kombinasi autonom-totaliter.
2. Negara yang memakai sistem kombinasi heteronom-liberal, atau negara yang
memakai sistem kombinasi heteronom-totaliter.
Tetapi sistem kombinasi ini dalam hal-hal tertentu adalah kurang tepat juga, karena
kadang-kadang mengalami kesukaran. Kesukarannya ialah, apabila pada negara-negara
tersebut azas yang dianutnya adalah bberlawanan. Sebgai contoh misalnya negara yang
memakai sistem kombinasi autonom-totaliter, ini praktis tidak mungkin, karena disini
terdapat adanya dua azas atau gejala yang berlawanan, yaitu azas atau gejala pada sistem
autonom adalah kebebasan, sedangkan azas atau gejala pada sistem totaliter adalah
pembatasan kebebasan sekeras-kerasnya.
Pula pada negara yang memakai sitem kombinasi heteromi-liberak, ini tidak
mungkin, karena azas atau gejalanya juga berlawanan. Yaitu azas atau negaranya sekeras
mungkin, sedangkan azas atau gejala pada sistem loberal adalah memebrikan kebebasan
seluas mungkin kepada warga negaranya.
Sedangkan sistem kombinasi lainya secara teoritis dapatlah kita pikirkan yaitu
bahwa negara autonom mempuinyai kecenderungan untuk berubah ke arahliberal, tadi
sistem kombinasi autonom-liberal ada kemungkinannya dapat terjadi, karena memang
azas atau gejalanya adalah sama, yaitu derajad pembahsan kebebasan pribadi warga
kepada para warga negaranya secara maksmimum

Atau mungkin juga dapat terjadi, sistem kombinasi antara sistem heteronomi
dengan sitem-totaliter, karena pada kedua sistem ini gejalanya adalah sama, ialah bahwa
derajat pembatasan kebebasan pribadi warga negaranya bersifat maksimum, jadi dengan
demikian hanya memberikan kebebasan kepada para warga negaranya secara minimum.
Bahkan dari negara yang satu ada kecenderungan untuk berubha ke araah negara yang
lain.
6. Klasifikasi Negara menurut R.M. Mac Iver
R.M. Mac Iver adlah seorang sarjana Amerika, dxalam ilmu kenegaraan ia menulis
ajarannya dalam bukunya The Web of Government dan dalam bukunya yang lain, The
Modern State.
Dalam bukunya yang disebutkan pertama, Mac Iver antara lain tentang terjadinya
negara ia mengatakan bahwa, negara itu terjadi dari pertumbuhan suatu keluarga atau
family. Bagamankah pertumbuhan keluarga itu sehingga menjadi negara? Pertumbuhan
atau perkembangan ini secara bertingkat, melalui beberapa phase.
Tingkatan atau phase pertama adalah keluarga atau family tersebut. Dalam
keluarga tersebut, meskipun sifatnya masih sangat sederhana, namun authority, yang
tidak dapat terlepasdari kebiasan-kebiasan tersebut. Dalam keluarga tersebut ada pula
kepala keluarganya, yang biasanya disebut Pater-familias atau Patriach.
Phase atau tingkatan selanjutnya dalah bahwa family atau keluarga itu berkembang
menjadi besar dan disebut klan yang dikepaklai oelh seorang primus inter pares. Primus
inter pares ini lama kelamaan menjadi pemimpin sungguh-sunguh daripada klan tersebut,
serta mempunyai kekuasaan yang nyata. Dan tidaklah mengherankan kalau beliau ini
kemudian menunjuk keturunannya untuk menggantikan memegang kekuasan. Maka
dengan demikian lalu timbulah sistem jabatan yang sifatnya turun-temurun (hereditary
office). Dan akibatnya keluarga pemimpin ini lalu menjadi keluarga yang memimpin atau
memerintah suatu jabatan yang sifatnya turun-temurun yang disebut raja.
Dalam pertumbuhan serta perkembangan dari family sehingga menjadi negara, di
sini peranan perang tidak boleh dilupakan, karena memang dengan jalan peperanganlah
keluarga itu menjadi bertambah besar, tetapi tentunya di samping itu juga ada cara-cara
lain, misalnya karena ekspansi, karena adanya perkawinan dari seorang anggota keluarga
yang satu dengan seorang anggota keluarga yang lain, dan kemudian kedua keluarga itu
bergabung.
Dalam uraiannya itu Mac Iver baru menyebut hasil perkembangan keluarga
tersebut sebagai suatu negara setelah tercapai territorial-state. Dan ini bari terjadi stelah

melewati jaman foedalisme. Sedangkan perkembangan antara family sampai pada


foedalisme ini, Mac Iver tidak menyebutkan nama-namanya.
Sebelum menguraikan tentang teori terjadinya negara ini, Mac Iver telah terlebih
dahulu mengemukakan pendapatnya tentang perbedaan antara pemerintah, goverment,
dengan negara state. Menurut beliau perbedaanya ialah: bahwa negara itu adalah
organisasinya, sedangkan pemerintahan adalah organ yang menjalnkan admistrasi
daripada organisasi tersebut.
Memang para sarjana jaman dahulu, kuno, itu agak kurang memperhatikan
perbedaan antara negara dengan pemerintahan, bahkan kadang-kadang kedua pengertian
tersebut dikacaukan dengan pengertian masyarakat, Mac Iver sendiri kiranya juga
demikian, ini terbukti dalam uraiannya mengenai klasifikasi negara, dalmhal ini ia
menyebutnya dengan istilah bentuk-bentuk pemerintahan, the forms of goverment.
Tetapi hal ini kiranya juga telah disadari Mac Iver, karena beliau juga menyinggunnyinggung pendapat yang mengatakan bahwa sebenarnya yang membedakan bentuk
negara yang satu dengan bentuk negara y7ang lain adalah bentuk atau sistem
pemerintahannya. Maka sebenarnya uraian tentang bentuk-bentuk pemerintahan adalah
sama saja dengan uraian tentang bentuk-bentuk negara, hanya saja titik beratnya yang
berlainan. Kalau kita membicarkan tentang bentuk-bentuk pemerintahan titik beratnya
pada administrainya, sedangkan kalau membicarakan tentang bentuk-bentuk negara kita
meinitik beratkan pad organisasinya.
Selanjutnya dalam uraiannya tentang bentuk-bentuk pemerintahan, sesungguhnya
yang dimaksudkan adalah uraian tentang bentuk-bentuk negara, mac Iver mengartakan
bahwa

sebenarnya

bentuk-bentuk

pemerintahan

itu

sangatlah

sukar

untuk

diklasifikasikan, hal ini disebakan bahwa sistem pemerintahan yang pernah ada dalam
sejarah ketatanegaaraan, itu tidaklah banyak yang dapat mempertahankan dirinya agak
lama, karena sistem itu mesti mendaptakan pengaruh dari kekuatan-kekuatan baru, oelh
karenanya secara cepat ataupun secara perlahan-lahan tentu mengalami perubahan.
Akibatnya meskipun namanya itu masih tetap, tetapi pengertiannya telah mengalami
perubahan-perubahan. Sebagai contoh misalnya nama atau sitilah demokrasi, ini
pengertiannya adalah berlainan sekali apabila kita bandingkan pengertian demokrasi
kuna, misalya yang berkembang pada jaman Yunani kuno, dengan pengertian demokrasi
pada jaman modern.
Jadi kesimpulannya, tidaklah ada satu betuk pemerintahan pun yang dapat bertahan
secara kekal, meskipun ada beberapa tipe bentuk pemerintahan yang utama, yang
kadang-kadang secara relatif dapat bertahan agak lama

Mac Iver mengemukakan adanya dua macam sistem mengklasifikasikan negara;


yaitu:
1. a tri partite classification of state
2. a bi partite classification of state
Sudah sejak jaman dahulu telah menjadi suatu kebiasaan dari para sarjana untuk
mengemukakan klasifikasi negar itu menjadi tiga macam bentuk, sesuai dengan sitem
atau bentuk pemerintahannya. Jadi yang dipergunakan sebgai dasar daripada klasifikasi
negara iut adalah bentuk atau sistem pemerintahanya, maka berdasarkan perbedaan
bentuk pemerintahan ini kemudian dikenal adanya penggolongan atau penjenisan atau
klasifikasi dari bentuk-bentuk negara.
Dari keterangan tersebut di atas ternyatalah bahwa pengertian bentuk negara
dengan bentuk negara dengan bentuk pemerintahan, staats vorm dengan regeringvorm,
the form of state dengan the form of government, itu dikacaukan, dan malahan kadangkadang dianggap sama. Padahal kedua pengertian tersebut sebenarnya adalah sangat
berlainan, tetapi mempunyai hubungan yang sangat erat, sehingga mudah menimbulkan
kecenderungan untuk menyamakan.
Demikianlah nanti di sini akan ternyata pula, bahwa Mac Iver sendiri sering
menyamakan pengertian bentuk negara dengan bentuk pemerintahan. Karena dalam
uraiannya tentang bentuk-bentuk pemerintahan, sebenarnya yang dimaksudkan oleh Mac
Iver adalah uraian tentang bentuk-bentuk negara.
Kalsifikasi tentang bentuk-bentuk negara dengan sitem yang pertama ini, yaitu
sistem

tri

partite

classification,

disebut

pula

sistem

tradisional-clasification,

mempergunakan dasar atau kriteria suatu pertanyaan: siapakah yang memegang


kekuasaan pemerintahn negara itu ? ini mempunyai dua macam maksud, yaitu:
1. Berapa orangkah yang memegang kekuasaan pemerintahan negar itu? Ini
mempunyai tiga kemungkinan: yaitu bahwa kekuasaan pemerintah negara itu
mungkin dipegang oleh saru, beberapa, atau pada azasnya seluruh rakyat.
2. Bagaimanakah sifat daripada pemerintahannya itu? Ini maksudnya pemerintahan itu
ditujukan untuk pemenuhan kepentingan umum, ini yang baik, ataukah hanya
ditujukan untuk pemenuhan kepentingan daripada orang-orang yang memegang
kekuasaan pemerintahan negara itu saja, ini adalah sifat pemerintahan yang jelek.
Berdasarkan kriteria ini, maka sistem klasifikasi ini akan menghasilkan bentukbentuk seperti yang pada umumnya telah diketemukan oleh sarjana-sarjana Yunani dan
Romawi, antara lain oleh: Plato, Aristoteles, Polybius dan Thomas Aquinas.

Bagaimanakah pendapat Mac Iver terhadap klasifikasi negara yang memakai


sistem in? Terhadap hal ini Mac Iver mengemukakan keberatan-keberatan atau kritik,
yang dianggap sebagai kelemahan daripada sistem tersebut sebgai berikut :
1. Dasar atau kriteria daripada klasifikasi negara dengan sistem ini, tri partite
classification, adalah: perbedaan-perbedaan tentang bentuk pemerintahan, dan
perbedaan-perbedaan ini tergantung daripada jawaban atas pertanyaan, siapakah
yang memegang kekuasaan pemerintahan tertinggi dalam negara itu. Berdasarkan
pertanyaan ini banyak jawaban yang tidak dapat dikemukakan dengan tepat.
Sepertinya pertanyaan, siapakah yang memegang kekuasaan pemerintahan tertinggi
dalam negara itu, ini sebenarnya tidaklah berguna. Sebab, demikian Mac Iver,
banyak orang saja itu tidak pernah dapat memerintah. Karena yang sungguhsungguh memegang kekuasaan pemerintahan tertinggi dalam negara itu hanya
beberapa orang.
Pendapat Mac Iver yang demikian ini telah dibuktikan dalam uraiannya, periksa
bukunya tersebut di atas,k di mana ia mengatakan bahwa pemerintahan pada negaranegara bukan primitif itu pasti selalu berada pada tangan ruling-class, kelas atau
golongan yang memerintah. Jadi government atau pemerintah itu sesungguhnya
adalah clas-government.
2. Klasifikasi negara dengan sistem tersebut dapat dikatakan tidaklah tepat, karena
tokoh misalnya pertanyaa-pertanyaan tersebut dapat diawab, sepertinya pertanyaan,
berapa orangkah yang memegang kekausaan tertinggi pemerintahan negara itu,
dijawab dengan jawaban bahwa kekuasaan tertinggi pemerintahan negara hanya
dipegang oleh orang saja, ini sesungguhnya telah memuat atau terkandung di
dalamnya bentuk-bentuk pemerintahan yang sangat berbeda sekali, sebab
pemerintahan satu orang itu dapat meliputi: monarki, inipun banyak macamnya,
karena dapat absolut, terbatas atau konsittusionil. Kadnag-kadang dapat juga sebagai
diktator ataupun tyranni. Sedangkan bentuk-bentuk ini sebenarnya tidak mungkin
dapat digolongkan menjadi satu golongan
3. Di dalam mengklasifikasikan negara itu tidaklah cukup kalau hanya mempergunakan
satu kriteria saja, misalnya hanya dengan kriteria siapakah yang memegang
kekuasaan pemerintahan tertinggi dalam negara itu, ataupun tidak cukup kalau
hanya berdasarkan konsitusinya saja, seperti yang dipakai dalam sistem bi partite
clasification, lihat di bawah, tetapi harus mempergunakan kriteria lebih daripada itu,
karena sepertinya negara foedal adalah lain sekali daripada negara-negara kepaitalis

atau sosialis, meskipun kadang-kadang namanya atau istlahnya itu sama, misalnya
republik.
Dasar atau kriteria daripada sistem klasifikasi ini adalah dasar atau alasan yang
bersifat praktis, yaitu mempergunakan dasar konstirtusional, yang meliputi pertanyaanpertanyaan :
1. Bagaimanakah sifat hubungan antara satu orang yang memegang pucuk pimpinan
pemerintahan daripada negara itu, the one, dengan beberapa orang yang memegang
kekuasaan pemerintah negara sebagai pendukungnya, the few, the one itu
menggambarkan atau menunjuk kepada kepala negaranya, sedangkan the few itu
menunjukkan kepada atau menggambarkan ruling-clas-nya.
2. Bagaimanakah sifat hubungan antara beberapa orang yang memegang kekuasaan
pemerintah negara itu, the few, dengan rakyat yang diperintahnyua, the many. Ini
adalah pertanyaan yang lebih penting daripada pertanyaan pertama tersebut diatas,
karena yang dipersoalkan di sini adalah soal pertanggung jawab, yaitu adakah
pertanggungan jawab atau tidak antara the few, beberapa orang yang memegang
kekuasaan pemerintahan negara, dengan the many, rakyat yang diperintah.
Kedua pertanyaan tersebut di atas, karena pertanyaan yang pertama tidak penting
karena tidak menentukan bentuk negaranya, karena tidak membutuhkan jawaban.
Sedangkan pertanyaan yang kedua mendapatkan dua macam jawaban, yaitu :
1. Apabila beberapa orang yang memegang kekuasaan pemerintah negara itu sebagai
pendukung daripada satu orang yang memegang pucuk pimpinan pemerintahan
negara atau the few, dengan rakyat yang diperintahnya yaitu the many jadi tegasnya
bahwa antara beberapa orang yang merupakan ruling-clas dengan rakyat yang
diperintah itu ada hubungan pertanggung-jawab maka negara tersebut adalah negara
demokrasi.
2. Sedangkan kalau antara the few dengan the many itu tidak terdapatkan hubungan
pertanggung-jawab, maka negara tersebut adalah negara oligarki
Jadi penggolongan negara dengan sistem bi partite classification ini, menghasilkan
dua golongan besar negara, yaitu : demokrasi dan oligarki.
Bagaimanakah sekarang pendapat Mac Iver?
Sesuai dengan kritikan atau kelemahan yang dikemukakan oleh Mac Iver terhadap
pemakaian sistem tri prtite classification atau sistem tradisionil, terutama kritikannya
yang ketiga, tersebut di atas, maka Mac Iver menyatakan bahwa adalah perlu untuk
diketahui, bahwa dalam proses perubahan politik pada setiap bentuk pemerintahan atau

negara yang ada pada suatu waktu, sering didapatkan ciri-ciri yang sesuai atau sama
daripada beberapa bentuk negara, yaitu bila bentuk negara itu sedang berkembang ke
suatu arah tertentu.
Maka agar dalam mengklasifikasikan negara berdasarkan ciri-ciri dalam
perkembangannya itu dapat pula dilaksanakan, Mac Iver mengemukakan kriteria-kriteria
lain di samping dasar konstitusionil tadi. Jadi tegasnya menurut Mac Iver dalam
mengklasifikasikan negara itu belumlah cukup kalau hanya mempergunakan satu kriteria
saja.
Pendapat Mac Iver ini kiranya dapatlah dipahami, sebab misalnya kita
menggolongkan negara A dalam golongan negara demokrasi, negara B juga dalam
golongan demokrasi. Jadi keduanya adalah sama yaitu negara demokrasi. Tetapi dengan
demikian ini saja, sesungguhnya kita belum dapat mengatakan bahwa negara A dan
negara B itu sama, sebab di samping itu ada pula cir-ciri tertentu yang membedakan
antara negara A dengan negara B tersebut. Misalkan berdasarkan sistem ekonominy,
negara A adalah negara kapitalis, sedangkan negara B adalah negara sosialis, sepertinya
lagi misalnya negara A adalah negara kesatuan, sedangkan negara B adalah negara
federal.
Maka dari itu untuk dapat mencakup semua ciri-ciri terutama ciri-ciri yang utama,
di dalam mengklasifikasikan negara Mac Iver mengajukan conspectus daripada bentukbentuk negara berdasarkan empat macam kriteria, dan berdasarkan kriteria itu secara
skematis bentuk-bentuk negara itu adalah sebagai berikut:
A
Constitutinal Basis

B
Economic Basis

C
Communal Basis

D
Sovereignity
Structure

I. Oligarchy
a1 Monarchy

b1 Folk Economy

c1 Tribal Goverment

d1

a2 Dictatirship

Primitiv Goverment
b2 Feudal Government

c2 Polis Goverment

Goverment
d2 Empire Colony

a3 Theocracy

b3 Capitalis

c3

a4 Plural Headship

Government
Goverment
Goverment
b4
Socialis c4
National
Government

Country d3

Unitary

Goverment
Federal

Goverment

II. Democracy
a5 Limited

-------------

c5 Multi-National

-------------------------

Monarchy
a6 Republic

-------------

Goverment
c6 Werid Goverment

-------------

Catatan : kalau misalnya kita akan menentukan sesuatu negara itu masuk golonga yang
mana, maka dengan dasar atau kriteria yang dikemukakan oleh Mac Iver tersebut di atas,
kita dapat mencarinya dengan mempergunakan dasar-dasar tersebut satu persatu.
Misalnya saja Indesia, itu dengan kriteria yang diajukan Mac Iver tadi masuk golongan
mana, dapatlah dicarinya sebgai berikut :
A.
B.
C.
D.

Dengan dasar konstitusiobal adalah republik(a6)


Dengan dasar ekonominya adalah sosialis (b4)
Dengan dasar persekutuannya adalah negara nasional (c4)
Dengan dasar kedaulatannya adalah negara kesatuan (d1)
Sedangkan dalam golongan besarnya Indonesia adalah termasuk demokrasi (A.II).

Demikianlah menurut tabel atau skema yang dikemukakan oleh Mac Iver,

dalam

mengklasifikasikan negara.
7. Klasifikasi Negar menurut Maurice Duverger
Maurice Duverger mengatakan bahwa dalam semua kelompok manusia, dari yang
paling kecil sampai yang paling besar, dari yang paling primitif sampai yang paling
modern, dari yang terlemah sampai yang terkuat, tentu terdapat perbedaan-perbedaan
yang bersifat prinsipal antara orang-orang yang berkuasa, atau yang memerintah dengan
orang-orang atau rakyat yang dikuasai atau diperintah. Dan besar kecilnya perbedaan ini
tergantung daripada sistem pemerintahnnya. Demikian pula dalam semua ikatan atau
perkumpulan, perbedaan yang demikian itu selalu ada.
Tetapi ada sementara sosiolog, yaitu aliran Durkhen, yang membenarkan adanya
pendapat bahwa semasa permulaan kebangunan peradaban manusia perbedaan antara
penguasa atau pemerintah dengan orang-orang yang diperintah itu tidak ada. Mereka ini
mengatakan bahwa dalam suatu kelompok manusia kekuasaan itu tidaklah hanya
dijalankan oleh beberapa orang tertentu saja, tetapi merata dalam kelompok tersebut, itu
tunduk pada norma-norma umum yang ditetapkan oleh kelompok tersebut. Jadi pada
waktu itu sesungguhnya semua orang diperintah dan tidak ada yang memerintah.
Tetapi kemudaian lalu ada beberapa orang yang menyatukan diri dan mengangkat
dirinya sebagai penjelmaan daripada norma-norma umum tersebut serta memerintah
kelompok tadi. Dengan demikian lalu timbul pemribadian kekuasaan, dan terjadilah
perbedaan-perbedaan antara yang memerintah dengan yang diperintah.
Menurut Maurice Duverger, teori ini mungkin betul dan mungkin pula sesuai
dengan kenyataannya. Akan tetapi kita akan sukar mengetahuinya, oleh karena dalam
kelompok tadi yang paling primitf sampai yang termodern, yang sudah kita kenal dan
dapat kita pelajari, tentu kita akan mendapatkan tanda-tanda pemribadian kekuasaan dan

orang dapat menyebutnya: pendeta, wali, ketua, kepala keluarga, kepala suku, atau
sebutan lain lagi. Jadi pendeknya dalam setiap kelompok manusia, yang memerintah.
Adapun baik buruknya memerintah itu sangat tergantung pada bijaksanaan orang-orang
yang duduk dalam memrintah, dan dalam hal ini cara atau sistem pengangkatan orangorang yang akan duduk dalam pemerintahan dan memegang kekuasaan, itu merupakan
sendi pokok dalam sistem pemerintahan dalam suatu negara.
Selanjutnya oleh Maurice Duverger dikatakan bahwa dari luar nampaknya seakanakan doktrin atau ajaran demokrasi menentang dan menolak keadaan umum ini, sebab
bukankah demokrasi yang dirumuskan sebgai pemerintah dan, oleh dan untuk rakyat
itu malahan menolak adanya perbedaan antara pemerintah dengan rakyat yang
diperintah? Sebagai contoh misalnya republik kota Yunani dulu, juga Romawi, juga pada
jaman modern, misalnya keadaan di Swiss, dan negara-negara demokrasi lainnya.
Bukankah disitu dikatakan bahwa rakyat memegang kekuasaan, rakyat menjadi baik
yang memerintah maupun yang diperintah. Sesungguhnya itu tidak lain daripada
merupaka khayalan serta permainan kata-kata belaka, bicara tentang pemerintah dan
oleh, dan untuk rakyat adalah bicara omong kosong.
Dalam republik kota Yunani dulu, juga romawi begitu pula dalam kanton-kanton
Swiss dewasa ini urusan-urusan kolektif diatur oleh bebrapa orang, dan jangan mengira
mereka itu tidak memerintah. Dewan Rakyat tidak terus menerus bersidang melainkan
berselang dalam waktu lama atau pendek, dan sesungguhnya mereka hanya dapat
mengurus beberapa hal yang luar biasa saja. Tambahan pula, di dalam tubuh dewan itu
sendiri selalu terjadi suatu fraksi, suatu minoritet gesit yang menguasai masa, orangorang yang memerintah pula, yang berkedudukan lain daripada orang-orang yang
diperintah.
Menurut Aristoteles, demikian Maurice Duverger selanjutnya, pembesar Athena
yang paling penting tidak disebut dalam undang-undang dasar, jabatan itu diduduki oleh
ketua fraksi, yang sesungguhnya memimpin dewan, lagipula selalu mendekatkan
putusan-putusannya. Aristoteles menamakannya menteri perdana, atau Prostates, dari
rakyat.
Teoritikus demokrasi yang paling terkemuka sekalipun yaitu Jean Jacques
Rousseau menunjukkan secara tegas, bahwa perbedaan antara yang memerintah dan
yang diperintah itu tidak dapat ditiadakan, dalam hal ini Rousseau mengatakan: Kalau di
pegang arti kata sperti diartikan umum, maka demokrasi yang sungguh-sungguh tidak
pernah ada, dan ia tidak akan ada. Adalah berlawanan dengan kodrat alam, bahwa yang
berjumlah besar memerintah, sedang yang paling sedikit jumlahnya harus diperintah.

Demikianlah Maurice Duverger dalam usahanya untuk mempertahankan


pendapatnya, bahwa dalam setiap kelompok, dari yang paling primitif sampai yang
paling modern, yang kemudian disebut negara, selalu terdapat segolongan orang-orang
yang memerintah, dan selalu terdapat pula perbedaan antara yang memerintah dengan
yang diperintah. Dan memang demikianlah kenyataanya.
Sesuai dengan pendapatnya itu, maka Maurice Duverger mengatakan, atau
berpendapat bahwa, dalam arti yang seluas-luasnya yang disebut tatanegara ialah rupa
daripada perbedaan umum antara orang-orang yang memerintah dengan orang-orang
yang diperintah, sebagaimana itu terjadi dalam suatu kelompok sosial.
Sedangkan dalam arti yang lebih terbatas, istilah tata-negara hanya dapat dipakai
buat menunjukkan bangun pemerintahan dalam masyarakat manusia yang tertentu
macamnya, yaitu negara. Baiklah diperhatikan, bahwa jika diadakan

perbandingan

antara bentuk pemerintahan dalam kerukunan-kerukunan, macam bentuk tadi tidak


merupakan pangkal daripada perbedaan hakiki, sebab perbedaan itu bersifat tingkat saja.
Dari semua kelompok atau kesatuan sosial, negara itu sesungguhnya merupakan
kesatuan sosial lain-lain itu dapat dipelajari dalam hubungan dengan tatanegara nasional.
Juga dalam mengambil batas-batas sedemikian penyelidikan kita ternyata luar
biasa luasnya, sedangkan hasil-hasilnya sulit benar diutarakan dalam penjelmaan yang
singkat. Jadi haruslah kita membatasi diri pada usaha untuk menggambarkan suatu
skema umum, membuat suatu pembagian umum dimana semua tatanegara dapat
ditempatkan sedemikian rupa sehingga urutannya menunjukkan orisinalitet masingmasing.
Smentara itu, berdasarkan urainnya tersebut di atas, Maurice Duverger membagi
pembicaraan dalam bukunya tersebut dalam dua bagian, yaitu Bagian pertama uraiannya
atau pembicaraannya bersifat analitis, dalam bagian ini dibicarakan suatu penentuan
sendi klasifikasi atau pembagian, dengan mempeklajari satu persatu masalah-masalah
perihal struktur yang sama-sama dimiliki oleh semua tatanegara, sepertinya pemilihan
para penguasa, bentuk badan-badan pemerintah, pembagian dan pembatasan kekuasaaan
pemerintah.
Dalam bagian kedua uraiannya bersifat sintesis, di sini digambarkan jenis-jenis
terpenting daripada pemerintah-pemerintah yang betul-betul ada di dunia, serta variasivariasi daripada setiap jenis tadi.
Mengenai metode penyelidikannya serta pembicaraannya, Maurice Duverger
mengatakan bahwa sering dijumpai kecondongan untuk menggambarkan ketatanegaraan
menurut bentuk yuridisnya, dengan mengesampingkan kenyataan daripada caranya ia
bertindak. Mungkin juga pendirian itu dibenarkan oleh kejadian-kejadian, di mana orang-

orang yang memerintah benar-benar berusaha untuk menyesuaikan tindakannya pada


ketentuan ketentuan dalam konstitusi. Bila demikian halnya kita akan bersyukur, tetap
dewasa ini terdapat jurang antara hukum dan kenyataannya, antara naskah dan
pelaksanaannya, jurang yang semakin lama semakin lebar. Di dunia ini tidak kurang
jumlah konstitusi-konstitusi yang sama sekali hampa, yang merumuskan suatu
pemerintahan engan tiada pertalian yang nyata dengan pihak yang benar-benar
memerintah negara, sehingga konstitusi itu hanya merupakan tedeng, atau penyekat bat
pihak itu. Maka kalau hendak dijaga kebenarannya, kenyataan terakhir itu harus
diperhitungkan pula.
Selanjutnya dalam permulaan bagian pertama dari bukunya tersebut di atas,
dikatakan oelh Maurice Duverger bahwa tata negara seluruhnya adalah sekelompok
jawaban-jawaban atas soal-soal yang menghadapi kehidupan dan organisasi orang-orang
yang memegang pemerintahan di dalam suatu kesatuan sosial atau negara. Dalam hal ini,
seperti tadi telah dikatakan, banyak persoalan-persoalan atau maslah-masalah yang
timkbul untuk dihadapi, sepertinya: bagaimana pemilihan para penguasa itu, bagaimana
cara pembagian kekuasaan, perlu tidaknya adanya pembatasan kekuasaan para penguasa,
jika perlu bagaimana caranya dan sebagainya.
Semua penyelesaian atau jawaban daripada masalah-masalah tersebut di atas,
menurut Maurice Duverger dapat dibagi dalam dua kategori, yaitu :
1. Bertalian dengan adanya kecenderungan ke arah doktrin liberalisme, yaitu
kecenderungan

untuk

mengurangi

kekuasaan

para

oenguasa,

sehingga

menguntungkan orang-orang yang diperintah.


2. Bertalian dengan adanya kecendrungan ke arah doktrin autoritarisme, yaitu
kecendrungan untuk mempertahankan serta memperkuat kekuasaan orang-orang
yang memegang kekuasaan pemerintahan negara, sehingga memperlemah orangorang yang diperintah.
Dengan demikian di sini orang berdiri pada persimpangan dua konsepsi perihal
kehidupan manusia, perihal masyarakat beserta seluk beluknya, pada titik silang dua
filsafat, dua doktrin, dua sistem hidup, yang kesemuanya merupakan pokok pangkal dan
mana timbul berbagai macam sistem ketatanegaraan sebagai modalitet pelaksanaan
tehnis daripada suatu konsepsi
Sedangkan nilai daripada sesuatu pemerintahan itu untuk sebagian besar sangatlah
tergantung daripada kualitet orang-orang yang duduk di dalam pemerintahan tersebut.
Itulah sebabnya, maka cara atau sistem pemilihan atau pengangkatan para penguasa itu
merupakan salah satu sendi pokok daripada sesuatu pemerintahan.

Sesuai dengan pendaptnya tersebut di atas, maka Maurice Duverger dalam


mengklasifikasikan negara mempergunakan kriteria, bagaimanakah sifat relasi atau
hubungan antara para penguasa dengan rakyat yang diperintah. Relaso tersebut nampak
degan jelas pada cara atau sistem pemiolihan atau pengangkatan para penguasa tersebut.
Adapun cara atau sistem ini, banyak sekali corak ragamnya, yang meskipun demikian
dapat digolongkan dalam dua cara, yang kemudian nanti dua cara ini masih dapat
dikombinasikan dalam sistem campuran, yaitu:
I. Cara pertama dalam pengangkatan para penguasa itu ialah cara atau sistem di
mana rakyat tidak akan diikutsertakan dalam pengangkatan atau pemilihan orang-orang
yang akan memegang kekuasaan pemerintahan negara. Jadi di sini hendak menjauhkan
rakyat yang diperintah itu dari pemilihan orang-orang yang akan memegang kekuasaan
pemerintahan negara. Sistem demikian ini oleh Maurice Duverge dinamakan sistem
autokratis, ini sesuai dengan doktrin autoreiter, negara yang demikian disebut negara
autokrasi.
Sistem ini untuk masa sekarang praktis sudah tidak ada lagi negara yang
menganutnya, kecuali dalam negara-negara yang sosiologis terbelakang dan negaranegara diktator modern. Akan tetapi sistem tersebut, yang praktis pada garis besarnya
sesuai dengan ajaran atau doktrin autoriter, selama beberapa abad yang lampau banyak
negara-negara yang menganutnya, dan ini dikamuflase atau terselubung dalam berbagai
macam sistem, yaitu:
1. Perebutan kekuasaan. Ini adlah cara yang pertama-tama untuk pengangkatan para
penguasa, yaitu pihak yang satu merebut kekuasaan dari pihak yang lain. Orang
pertama yang berkuasa, yang menjadi raja, tentunya seorang prajurit yang mujur
nasibnya. Perbeutan kekuasaan ini sesungguhnya bukanlah suatu cara yang bersifat
yuridis, berdasarkan hukum, untuk pengangkatan para penguasa. Tetapi hanyalah
merupakan kenyataan belaka, dan malahan sebetulnya merupakan suatu pelanggaran
hukum, tetapi kemudian dari pelanggaran hukum ini segera akan meinbulkan
keadaan hukum baru, oleh karena pihak yang menang dalam perebutan kekuasaan
tersebut selalu berusaha selekas mungkin meresmikan atau mengesyahkan
kedudukannya. Perbutan kekuasaan ini dapat berbentuk atau dijalankan dengan
berbagai macam cara ialah :
a. Revolusi, yaitu suatu cara perebutan kekuasaan dengan mempergunakan
kekuatan seluruh rakyat.

b. Coup detat, yaitu suatu cara perebutan kekuasaan dengan menggunakan


kekuatan

pemerintah

lama

untuk

menggunlingkan

dan

kemudian

menggantikannya.
c. Pronunciamiento, cara ini adalah semacam coup detat, tetapi dengan
mempergunakan kekuatan militer.
Menurut Maurice Duverger yang paling banyak terjadi adalah bentuk kombinasi dari
berbagai bentuk cara tersebut di atas.
2. Sistem keturunan. Ini adalah merupakan bentuk pemerintahan autokratis yang paling
banyak kita dapatkan. Dan pada umumnya sistem ini hanya berlaku terhadap satu
orang raja digantikannya oleh keturunannya yang berhak. Tetapi di samping itu ada
pula suatu badan atau organ yang haknya turun-temurun.
Kalau ditinjau dari sejrahnya sistem keturunan ini sering datang menyusul pada
sistem perebutan kekuasaan, yaitu si pemegang menyerahkan kekuasaanya kepada
keturunannya. Atau kadang-kadang sistem ini timbul sebgai deformasi, perubahan
bentuk ke aras keburukan, daripada kooptasi, atau malahan daripada sistem
pemilihan.
3. Kooptasi. Ini adalah penunjukan calon-calon penguasa oleh penguasa lama yang
kemudian akan menggantikannya. Jadi di sini penguasa yang akan digantikan itu
telah menunjuk penggantinya, sebelum mereka itu digantikan. Seperti dalam hal
sistem keturunan, sistem ini dapat berlaku unutk satu orang tunggal, atau untuk suatu
dewan.
4. Sistem pengundian. Sistem ini pernah dilaksanakan di bebrapa kota Yunani kuno
untuk mengangkat magistrat- magistrat. Untuk masa sekarang sistem pengundian ini
hanya terdapat sebgai hipotesa saja, di lapangan administratif atau pengadilan,
teristimewa untuk mengangkat anggauta-anggauta yuri.
5. Ada lagi suatu sistem, yaitu bahwa pengangkatan penguasa yang akan menggantikan
itu dilakukan oleh penguasa lain. Jadi yang mengangkat atau memilih itu bukanya
penguasa ang akan menggantikannya, melainkan adalah penguasa lain, maka cara ini
tidaklah murni autokratis karena segala sesuatunya akan tergantung kepada penguasa
yang melakukan pengangkatan tersebut. Dalam hal ini terdapat dua kemungkinan,
pengangkatan itu dapat dilakukan dengan sistem pemilihan, jika demikian maka
akan mempunyai sifat demokratis. Tetapi dapat juga pengangkatan itu dilakukan
dengan cara bukan pemilihan, jika demikian ini akan mempunyai sifat autokratis.
Biasanya para penguasa yang diangkat dengan sistem ini kedudukannya agak lebih
rendah daripada penguasa yang mengangkat para pembesar administratif, dan jarang
dilakukan dalam pengangkatan para pembesar pemerintahan dalam arti kata yang

sesungguhnya. Sesungguhpun demikian dalam praktek sering juga dilakukan untuk


pengangkatan para menteri.
Selanjutnya oleh Maurice Duverger dikatakan bahwa dlam bentuk apapun juga
buat kelahiran dan kehidupan autokrasi diperlukan suatu konsepsi yang bersemu
keagamaan perihal kekuasaan. Sebab, bagaimana sesungguhnya dibenarkan, bahwa
beberapa orang memerintah manusia sesamanya dengan tiada dirintangi di dlam
melaksanakn jabatan itu, kalau para penguasa itu tidak dipandang sebagai perwujudan
daripada Tuhan atau daripada kekuatan-kekuatan gaib yang dalam batin manusia primitf
mendahului keinyafan tentang Tuhan, atau daripada mythe-mythe yang lepas yang dalam
bathin masnusia modern menggantikan pikiran tentang Tuhan? Jadi ketatanegaraan dari
negara-negara autokratis bersandarkan pada yang irasional.
II. Cara atau sistem yang kedua yang dikemukakan oleh Maurice Duverger dalam
pengangkatan para penguasa adalah suatu cara di mana dalam pengangkatan para
pengusaha tersebut rakyat diikut-sertakan. Jadi di sini ada keingina untuk mendekatkan
hubungan antara penguasa dengan rakyat yang diperintah. Cara yang demikian ini
disebutnya cara yang demokratis, maka negaranya lalu juga disebut negara demokrasi.
Selanjutnya ia juga menyatakan bahwa sistem ini sesuai dengan doktrin liberlaisme,
karena kekuasaan penguasa di sini lalu dapat dibatasi. Dalam sisetm inilah orang hendak
membangun pemerintahan dengan dasar-dasar yang rasional.
Sistem demokrasi ini menurut sejarahnya lahir pada jaman Yunani kuno, dan
disebut sistem demokrasi langsung dalam arti kata bahwa menurut konsepsinya semua
warga negara dapat secara langsung memilih serta ikut memikirkan jalannya
pemerintahan, bahkan dikatakan semua orang ikut memerintah. Maka sistem ini
sebetulnya hanya dapat dilaksanakan dalam negara-negara yang masih kecil, rakyatnya
masih sedikit, jadi mudah dikumpulkan, serta urusannya masih sangat sedrhana, di mana
rakyat dapat secara langsung mengurusnya.
Wlaupun dmeikian, dalam bentuk hal sistem ini selalu menjadi sasaran deformasideformasi yang sama sekali merubah corak dan sifatnya. Sepertinya disaksikan oleh
Aristoteles di Athena, bahwa di dunia majelis umum selalu terjadi golongan-golongan,
yaitu beberapa orang berkumpul mendekati ketuanya, sedangkan masa rakyat menganut
saja dengan menerima dan meresmikan usul-usul mereka ini.
Tetapi bagaimanapun juga keadannya, sistem demokrasi langsung ini belum pernah
dapat dilaksanakan secara konsekuen dalam sejarah ketatanegaraan, sekalipun pada
jaman Yunani kuno itu sendiri. Kalau tokoh orang selalu mengatakan sebgai contoh
klasik daripada pelaksanaan demokrasi langsung adalah negara Yunani kuno, itu hanya

namanya saja, tetapi kenyataannya? Oleh karena pada jaman Yunani kuni itupun
kenyataannya yang berhak ikut memikirkan jalannya pemerintahan, lebih-lebih yang ikut
memerintah, itu hanyalah orang-orang yang tertentu saja, yaitu orang-orang yang
merdeka. Jadi misalnya: budak-budak belian, orang-orang yang sakit ingatan, anak-anak
yang dianggap belum dewasa, orang-orang yang tidak mampu membayar pajak, bahkan
juga orang-orang perempuan, itu tidak mempunyai hak kenegaraan sama sekali.
Baru kemudian pada abad ke XVIII timbul suatu sistem demokrasi baru, yang
memberikan kemungkinan untuk dapat dilaksankan dalam negara-negara yang besar
serta berkembang ke arah peradaban modern, karena dalam sistem demokrasi ini tidaklah
semua orang warga negara diikutsertakan secara langsung dalam pemerintahan,
melainkan mereka itu memilih wakil-wakil mereka di antara itu sendiri, yang kemudian
duduk dalam badan-badan perwakilan. Inilah sebabnya juga demokrasi perwakilan. Dan
di sinilah demokrasi itu mendapatkan pengertian yang sebenarnya, dalam arti bahwa para
penguasa itu dipilih oleh rakyat. Adapun tentang bagaimana cara pemilihannya wakilwakil rakyat yang akan duduk dalam pemerintahan, dan pelaksanaannya ada berbagai
macam cara. Lagi pula mengenai jumlah dan susunan daripada badan perwakilan itu
masing-masing negara tidaklah sama. Tetapi pokoknya di mana ada pemilihan secara
bebas dan rahasia serta beres di situlah ada sistem demokrasi. Dan dalam bentuk inilah
sistem demokrasi sedikit demi sediit meluas ke hampir semua negara-negara modern.
Semenjak timbulnya sistem do=emokrasi perwakilan, sejak itu pulalah lahir dua
mcam keadaan baru, ialah : penerimaan sistema pemilihan umum, dan partai-partai
politik yang teroganisir. Memang, semula sistem demokrasi perwakilan ini kurang
mendapatkan kesempurnaan dalam pelaksanaannya, hal ini disebabkan karena dalam hal
pemilihan para penguasa itu tidak beres, yaitu bahwa para penguasa itu hanya dipilih
oleh segolongan orang-orang saja, dan golongan ini hanya terdiri daripada orang-orang
tertentu saja, dan golongan ini hanya terdiri daripada orang-orang tertentu saja, yang
biasanya ini adalah golongan orang-orang kaya. Tetapi kemudian secara berangsurangsur jumlah pemilih ini bertambah benar, disebabkan karena desakan-desakan daripada
prinsip-prinsip demokrasi itu sendiri. Teristimew ketika pada tahun 1848, yaitu ketika
Prancis menghapuskan perbedaan tingkat kekayaan sebagi syarat untuk dapat memiliki
hak suara dalam pemilihan. Tetapi, ini sayangnya, perbedaan hak antara orang laki-laki
dengan orang wanita belum dapat dihapuskan pada wakti itu. Bagi kaum wanita ini, di
kebanyakan negara baru pada abad ke XX dapat diikut-sertakan dalam pemilihan, dan

dengan demikian pemilihan umum ini lalu mendapatkan kesempurnaan dalam


pelaksanaanya.
Mengenai partai-partai politik, ini memang mempunyai peranan penting serta
menentukan sekali pada waktu pertumbuhan serta perkembangan sistem demokrasi
perwakilan. Tetapi kiranya baiklah kita jangan sampai melupakan kenyataan bahwa pada
masa akhir-akhir ini partai-partai politik tersebut malahan mengancam kewibawaan
sistem demokrasi perwakilan tersebut, hal ini dapat terjadi apabila dewan pimpinan
partai mau menggantikan para penguasa yang telah terpilih itu, atau apabila para
penguasa itu memasukkan kehendaknya dalam suatu partai dengan melalui rakyat
pemilih. Maka di sini akan terjadilah pelanggaran-pelanggaran terhadap prinsip-prinsip
demokrasi.
Dalam banyak hal, sistem demokrasi perwakilan ini, individu mendaptkan
kebebasan seluas-luasnya dalam lapangan pemerintahan. Dalam arti dapat ikut
menentukan jalannya pemerintahan secara bebas. Maka sistem demokrasi ini disebut
pula demokrasi liberal.
III. Cara atau sistem yang ketiga yang dikemukakan oleh Maurice Duverger dalam
pengangkatan atau pemilihan para penguasa adalah suatu sistem campuran atau
kombinasi antara sistem demokrasi dengan sistem autokrasi. Sistem campuran ini nanti
akan menimbulkan negara oligarki.
Jelasnya ialah sebagai berikut. Bahwa di samping negara-negara yang
melaksanakan sistem pemerintahan autokratis dan demokratis seperti diuraikan di atas,
masih ada lagi sistem pemrintahan yang merupakan sistem campuran atau kombinasi
daripada kedua sistem tersbut. Dan ini sebetulnya adalah merupakan bentuk-bentuk
peralihan dari autokrasi ke demokrasi. Dalam pemerintahan sistem campuran ini, unsurunsur atau prinsip-prinsip demokrasi mendesak unsur-unsur atau prinsip-prinsip
autokrasi.
Menurut Maurice Duverger sistem pemerintahan campuran ini adalah merupakan
suatu

sistem

pemerintahan

dimana

orang-orang

yang

memegang

kekuasaan

pemerintahan negara itu dipilih atau diangkat dengan cara-cara yang merupakan bentuk
peralihan dari cara autokrasi ke cara demokrasi. Dan sistem pemerintahan campuran ini
menurut beliau dapat dibedakan dalam tiga jenis bentuk, dan untuk dapat membedakan
ini orang harus melihat dengan cara bagaimanakah prinsip-prinsip autokrasi dan prinsipprinsip demokrasi itu bercampur, yaitu:
1. Sistem pemerintahan campuran menurut juxtaposition

Dalam sistem ini kita ketemukan adanya dua organ pemerintahan, yang satu sifatnya
autokratis, sedang yang lain sifatnya demokratis, dan yang keduanya itu
kedudukannya berdampingan, ini masih dapat dibedakan lagi menjadi :
a. Juxtaposition antara seorang raja atau monarki yang sifatnya autokratis, dengan
badan perwakilan atau, parlemen yang sifatnya demokratis. Ini misalnya negara
yang diperintah oelh seorang raja yang sifatnya urun temurun atau oleh seorang
diktator yang berhadapan atau dihadapi oleh sebuah badan perwakilan atau
parlemen yang anggauta- anggautanya pengangkatannya dengan memakai
sistem pemilihan oleh rakyat yang diperintah.
b. Juxtaposition antara unsur-unsur, autokratis dengan unsur-unsur demokratis
dalam suatu badan perwakilan rakyat atau parlemen. Jadi di sini terdapat
juxtaposition dalam parlemen, artinya badan perwakilan rakyat itu terdiri
daripada dua kamar, yang satu pengangkatan anggauta- anggautanya dengan
cara pemilihan oleh rakyat yang diperintah, jadi sifatnya adalah demokratis,
sedangkan yang lain diperintah, jadi sifatnya adalah demokratis, sedangkan
yang lain pengangkatan anggauta- anggautanya ditentukan secara autokratis,
sepertinya dengan cara ketuunan, kooptasi, atau benuman. Ini misalnya terjadi
di Inggris, di mana House of Commons itu sifatnya demokratis, karena
pengangkatannya dengan cara pemilihan; berhadapan dengan House of Lords
yang sifatnya autokratis, karena keanggotaannya itu bersifat turun-temurun.
c. Juxtaposition antara unsur-unsur autokratis dengan unsur-unsur demokratis
dalam satu badan perwakilan rakyat atau parlemen. Maksudnya di sini dalam
negara itu hanya ada satu badan perwakilan rakyat yang pengangkatan
anggauta-anggautanya sebagian bersifat demokratis, sedangkan sebagian
lainnya bersifat autokratis. Ini sangat jarang terjadi, salah satu contoh type
daripada bentuk ini ialah parlemen Prancis, atau senat Prancis yag terjadi pada
tahun 1875. Di sini di samping dua ratus dua puluh lima anggauta senator yang
pengangkatannya

dengan

cara

pemilihan,

jadi

dengan

sistem

demokratis;sesungghnya ada lagi enam puluh lima senator yang kedudukannya


atau

keanggautanya

tidak

dapat

diganggu-gugat

atau

dipecat,

pengangkatannya itu dengan sistem kooptasi, jadi secara autokrasi.

2. Sistem pemerintahan campuran secara kombinasi

yang

Ini adlah suatu negara di mana kekuasaan pemerintahannya itu hanya dipegang atau
dilaksanakan oleh satu organ saja. Di mana organ tersbut pengangkatannya
dilakukan dengan cara baik secata demokratis maupun secara autokratis. Sebgai
contoh misalnya sistem itu semula dilakukan dengan secara autokratis, mi misalnya
dapat dengan : perebutan kekuasaan, kooptasi, keturunan. Tetapi penguasa itu belum
dapat melakukan fungsi-fungsi pemerintahan sebulum suara rakyat meratifisir, atau
mengesyahkan pemilihan atau pengangkatan yang dilakukan sebelumnya itu, jadi di
sini lalu terjadi semacam plesbisit, sedangkan plesbisit mi sesungguhnya bukanlah
merupakan pemilihan dalam arti kata yang sesungguhnya. Sistem ini pernah terjadi
di Perancis.
3. Sistem pemerintahan campuran secara berfusi atau berpadu
Ini adalah suatu sistem di mana para pengusaha itu pengangkatannya tidak dapat
dikatakan secara autokratis ataupun secara demokratis yang murni, ataupun secara
beringkat seperti dalam sistem pemerintahan campuran secara kombinasi atau sistem
campuran menurut juxtaposition, di mana yang satu, atau tingkat pertama bersifat
autokratis, sedang selanjutnya bersifat demokratis. Tetapi dalam sistem campuran
secara berfusi dan usur-unsur autokratis dan unsur-unsur demokratis sekaligus
berfusi atau berpadu. Sistem mi misalnya terjadi dalam pengangkatan para penguasa
dalam m=negara oligarki.
Dalam negara oligarki ini para penguasa hanya dipilih oleh segolongan rakyat yang
diperintah. Jadi di sini memang di satu pihak mendekati cara demokratis, oleh
karena para penguasa itu dipilih oleh rakyat yang diperintah. Tetapi di lain pihak
cara mi mendekati sistem autokratis, ini mengingat kecilnya jumlah rakyat yang
diperintah yang dapat ikut serta dalam pemilihan. Jadi di sini unsur-unsur
demokratis dan unsur-unsur autokratis bercampur menjadi satu, berfusi, atau
berpadu, yang tidak dapat dipisahkan.
Bentuk pemerintahan negara seperti tersebut di atas, terakhir, banyak kita jumpai,
dan ini sebetulnya adalah merupakan bentuk peralihan, yaitu bentuk peralihan dari
autokrasi ke demokrasi. Hanya saja dalam hal ini pelaksanaannya mengalami berbagaibagai macam variasi. Variasi mana dapat dilihat di dalam pemberian hak bersuara di
dalam pemilihan.
Jarang sekali di sini terjadi peralihan dari keadaan yang tidak mengenal pemilihan,
yaitu negara-negara autokrasi, ke keadaan penyelenggaraan hak suara umum atau
pemilihan, yaitu pada negara-negara demokrasi. Jadi terlebih dahulu harus mengenal
proto-type daripada sistem-sistem pemilihan, atau penyelenggaraan hak suara umum.

Hak bersuara ini mula-mula hanya diberikan kepada segolongan kecil orang-orang yang
berkedudukan istimewa, malahan semula ada negara yang tidak mau memberikan hak
suara ini kepada kaum wanita. Tetapi dalam perkembangan selanjutnya, lebih-lebih
dalam negara-negara yang sudah modern jumlah orang yang berhak bersuara di dalam
suatu pemilihan ini maikin diperbesar, dan akhirnya semua orang warga negara yang ada
di dalam negara itu mempunyai hak suata di dalam suatu pemilihan dengan syarat-syarat
tertentu. Jadi, dengan kata lain, semua warga negara itu pada prinsipnya mempunyai hak
suara dalam pemilihan.
Demikianlah akhirnya terjadi bahwa autokrasi itu harus terleb ih dahulu membuka
serta mengosongkan dirinya untuk memberikan tempat kepada oligarki yang tertutup,
oligarki ini kemudian dengan secara pelahan-lahan dan berangsur-angsur juga membuka
dirinya serta mengosongkan tempat unutk demokrasi. Di sinilah terjadi peralihan dari
autokrasi ke demokrasi.
Sedangkan dalam sistem pemerintahan campuran secara kombinasi, agak jarang
terjadi peralihan dari autokrasi ke demokrasi, melinkan yang hanya mengambil bebrapa
tanda lahir saja, tetapi menolak dengan keras hakekat demokrasi. Cara inilah yang
kebanyakan dilaksanakn di beberapa negara modern untuk melumpuhkan sistem
demokrasi sambil secara berpura-pura menyanjung-nyanjungnya.
8. Klasifikasi Negara menurut Harold J. Laski
H.J. Laski terhadap bentuk-bentuk negara mengatakan bahwa yang menjadi inti
soal dalam organisasi negara adalah hubungan atau relasi antara rakyat dengan undangundang. Maksudnya dalam negara itu rakyat dapat atau tegasnya wenang ikut campur
dalam pembuatan undang-undang, ataukah tidak. Berdasarkan kriterja ini maka negara
dapat diklasifikasikan menjadi :
1. Bila rakyat dapat atau mempunyai wewenang ikut campur dalam pembuatan
undang-undang, maka dalam hal ini bentuk negara tersebut sedikit banyak adalah
demokrasi.
2. Bila rakyat tidak dapat atau tidak mempunyai wewenang untuk ikut campur dalam
pembuatan undang-undang, maka dalam hal ini bentuk negara tersebut sedkit
banyak adalah autokrasi.
Tetapi dalam kenyataannya tiada satu daripada kedua bentuk organisasi negara
tersebut dapat berada dalam bentuknya yang semurni-murninya. Sebab suatu demokrasi
murni haruslah meminta pendapat rakyat seluruhnya mengenai segala soal-soal yang
harus dipecahkan, terutama dalam pengaturannya; sedangkan suatu autokrasi murni
haruslah merencanakan serta melaksanakan sendiri suatu autokrasi murni haruslah

merencanakan serta melaksanakan sendiri semua undang-undang di dalam negara itu. Di


dalam masyarakat-masyarakat luas seperti yang kita kenal dewasa ini, tiada satupun di
antara kedua bentuk organisasi negara tadi dapat terlaksana atas dasar yang demikian itu.
Apa yang sebenarnya dapat kita dapatkan dalam kehidupan daripada organisasi
negara yang biasa adalah bentuk negara campuran. Hanya saja kadang-kadang yang satu
lebih tegas memperlihatkan diri daripada yang lain. Demikian misalnya di Inggris,
Perancis, juda di Indonesia, unsur demokrasi itu lebih tegas memperlihatkan diri
daripada unsur autokrasi. Sedangkan sebaliknya, misalnya di Rusia, Italia, di mana unsur
autokrasinya yang lebih tegas memperlihatkna diri, daripada unsur demokratisnya.
Bagaimanakah bentuk-bentuk campuran ini, banyaklah variasinya. Dalam
menjelaskan bentuk-bentuk campuran ini, haruslah kita perhatikan bahwa H.J. Laski
dalam uraian-uraian selanjutnya berpendapat bahwa dalam tiap-tiap pentelidikan tentang
sistem peraturan-peraturan hukum nampaknya menunjukkan akan kebutuhan kepada tiga
jenis kekuasaan, yaitu:
1. Adanya badan yang menetapkan aturan-peraturan umum, bik yang mengenai seluruh
warga negara maupun sebagian, yang mempunyai kepentingan yang tertentu yang
nyata-nyata berbeda daripada kepentingan masyarakat seluruhnya. badan ini disebut
badan perundang-undangan.
2. Adanya badan yang bertugas melaksanakan peraturan-peraturan hukum yang telah
ditetapkan oelh badan perundang-undangan tadi. Dia adalah pemerintah
3. Adanya badan yang berweang memberikan keputusan bilaman dalam hal
pelaksanaan tadi terjadi pelanggaran-pelanggaran. Wewenang ini meliputi dua hal,
pertama, bila terjadi perselisihan atau pelanggaran antara warga negara dengan
pemerintah, kedua, bila terjadi pelanggaran atau perselisihan antara sesama warga
negara itu sendiri. Badan ini disebut pengadilan.
Dengan adanya kenyataan tersebut di atas, yaitu adanya tiga badan yang pada
umumnya dibutuhkan negara, maka dapat :
1. Suatu badan perundang-undangan yang bersifat demokratis dapat didampingi oleh
suatu badan pelaksanaan kekuasaan atau pemerintahan yang mempunyai kekuasaan
yang sifatnya mendekati autokratis. Ini misalnya di Inggris, meskipun perlemennya
tidak murni demokratis.
2. Suatu badan perundang-undangan yang siffatnya demokratis, karena memang
dikontrol langsung oelh rakyat, dan hampir dapat menguasai seluruh badan yang
menjalnkan kekuasaan pemerintahan. Keadaan ini mislanya terjadi di Swiss.

3. Satu keadaan lagi, yaitu di Amerika Serikat, di mana kekuasaan badan perundangundangan dan kekuasaan badan pemerintahan dapat ditetapkan pula oleh hakim,
yang kekuasaannya tunduk pda amandemen-amandemen atas konstitusi.
Seterusnya dikatakan oleh H.J. laski bahwa bentuk-bentuk daripada tiap-tiap
negara yang ada ditentukan oleh adat kebiasaan hasil sejarahnya. Perbedaan kecil
mengenai arah titik beratnya, yang dimasukkan oleh pengalaman rakyatnya kedalamnya,
tidak memungkinkan kita untuk terus mempertahankan, bahwa sistem standard yang satu
lebih baik daripada yang lain. Kita hanya dapat mengemukakan atas dasar umum, bahwa
sistem demokrasi itu lebih baik daripada sistem autokrasi. Inipun kalau ditinjau dari adat
kebiasaan peradaban barat, aygn meskipun kedua sistem tersebut tidak terlepas daripada
kelemahan-kelemahan tertentu.
Bagaimanakah pendapat H.J. Laski tentang adanya kenyataan bahwa pad setiap
negara itu dibutuhkan adanya tiga badan yang masing-masing mempunyai kekuasaan
tersendiri serta yang satu terlepas daripada yang lain, dikatakan olehnya bahwa, tidak
dapat disangksikan lagi, bahwa sudah semenjak jamannya Aristoteles Ilmu Negara
Umum itu menghendaki, supaya di dalam tiap-tiap negara yang teratur ketiga jenis
kekuasaan itu mesti harus terpisah satu sama lainnya, baik yang mengenai tugas yang
harus dilakukannya, maupun badannya itu sendiri satu sama lain.
Malahan beberapa ahli pemikir besar tentang negara dan hukum sepertinya John
Locke dan Montesquieu, sampai sedemikian jauh jalan pemikirannya, sehingga
mengatakan bahwa pemisahan itu adalah rahasia daripada seluruh kemerdekaan
kenegaraan.
Lain halnya dengan pandangan H.J. Laski tentang hal tersebut yang tidak setegas
itu betul. Terangnya H.J. Laski tidak dapat menerima ajaran tentang pemisahan
kekuasaan aspertinya dikemukakan oleh Aristotele, John Locke, dan kemudian
disempurnakan serta dipercaya oleh Montesquieu. Mengapa demikian? Hal ini
dikemukakan dengan alasan
1. Dilihat dari sudut teori semata-mata pengadilan itu adalah barang yang sudah
sewajarnya benar menjadi bagian daripada badan pembuat undang-undang, karena
tentu tidak ada satu badanpun yang dapat mengetahui betul-betul tentang undangundang itu, selain daripada badan yan membuatnya.
2. Dalam praktek, tidaklah mungkin ditetapkan adanya pemisahan yang tegas benarbenar. Satu badan pembuat undng-undang tidak akan dapat memnuhi tugasnys
dengan sempurna, bilaman ia tidak boleh turut campur tangan dalam pelaksanaan
undang-undang itu, dan bila ia sewaktu-waktu tidak boleh mengadakan undangundang baru untuk mengubah putusan hakim, yang oleh umum dianggap kurang

memuaskan. Bilamana badan pelaksanaan undang-undang melaksanakan undangundang, maka dasar-dasar umumnya mesti diisi denga, hal-hal yang khusus; Tugas
yang demikian itu sebegitu luasnya di dalam negara di masa kita ini, sehingga sering
kali sukar untuk membedakannya dari perbuatan undang-undangg.
3. Kekuasaan pengadilan, yang mengambil putusan tentak hak kekuasaan badan
pelaksanaan undang-undang, dalam hal ini ia menetapkan isi kemauan badan
pembuat undang-undang, atau memutuskan dalam perselisihan antara dua warga
negara, dalam hal ini ia memperluas lapangan undang-undang negara, atau
memutuskan bahwa satu lapangan yang tertentu malahan tidak termasuk lingkungan
undang-undang.
Menurut hemat saya, pandanganH. J. Laski ini agak kurang dapat diterima, sebab
engan demikian, pertama tidak ada gunanya diselenggarakannya pemisahan kekuasaan,
toh segala-galanya sesungguhnya terpusat pada badan perundang-undang. Kedua,
keadaan yang demikian itu malahan akan menimbulkan sistem absolutise, apakah ini
tidak bertentangan dengan pendapatnya yang mengatakan bahwa sistem demokrasi itu
lebih baik daripada sistem autokrasi. Memang menurut Dr. E. Utrecht S.H. pun dikatakan
bahwa ajaran tentang pemisahan kekuasaan, yaitu trias politika, terutama yang
dikemukakan oleh Montesquieu, tidaklah ddapat dilaksanakan secara konsekuen,
terutama pada negara-negara modern. Tetapi dengan alasan yang berbeda degan alasan
yang dikemukakan oleh H.J.Laski tersebut.
Ajaran tentang pemisahan kekuasaan, maksudnya ajaran Trias Politika dari
Montesquieu, tidaklah dapat dilaksanakan padaa negara-negara modern, adapun
alasannya:
1. Pemisahan kekuasaan secara mutlak seperti yang dikemukakan oleh montesquieu,
mengakibatkan adanya badan kenegaraan yang tidak dapat ditempatkan di bawah
pengawasan dari suatu badan kenegaraan yang lain. Tidak adanya pengawasan itu
berarti adanya kemungkinan bagi sesuatu badan untuk melampaui batas kekuasaan
atau wewenangnya, dan oleh sebab itu kerjasama antara masing-masing badan
kenegaraan dipersulit.
Jadi pemisahan kekuasaan secara mutlak sperti yang dikemukakan oleh
Montesquieu yang tujuan utamanya adalah untuk memberantas kekuasaan mutlak
serta tindakan yang sewenang-wenang dari raja, tetapi malahan hanya akan
mengakibatkan pemindahan saja sifat mutlak itu dari raja kepada tiap-tiap badan
yang memegang kekuasaan tersebut, sebab, badan-badan tersebut satu sama lain lalu

tidak dapat saling mengaawasi. Jadi akibatnya, sekarang yang dapat bertindak
sewenang-wenang bukanlah raja melainkan badan-badan kenegaraan tersebut.
Pada negara-negara hukum modern, alat-alat perlengkapan negaranya selalu dapat
saling mengawasi, dan mempunyai susunan yang bersifat hierarchies. Hal inilah
yang sesungguhnya merupakan corak daripada sistem permeintahan modern.
kelemahan daripada ajaran pemisahan kekuasaan, atau ajaran Trias Politika, seperti
dikemukakan di atas sesungguhnya telah diketahui dan disadari oelh Montesquieu
sendiri, tetapi secara sengaja beliau memang tidak membuat atau memikirkan
bagaimana cara pemecahannya, dan hal tersebut diserhkan saja dalam praktek di
mana perlu. Demikianlah kemudian timbul penafsiran-penafsiran terhadap
pelaksanaan ajaran Trias Poitika
Di Amerika Serikat misalnya, kekuasaan perundang-undangan diserahkan kepada
Kongres, yang terdiri dari Dewan Perwakilan Rakyat dan Senat. Kemudian
pelaksanaan atau pemerintahan diserahkan kepada Presiden. Sedangkan kekuasaan
pengawasan, atau pengadilan diserahkan kepada Supreme Court. menurut teori
ketiga kekuasaan serta bdan-badan kenegaraan yang diserahi memegang kekuasaan
tersebut adalah terpisah, memang Amerika Serikat-lah negara modern yang paling
konsekueb melaksanakan ajaran pemisahana kekuasaan.
Tetapi dalam praktek ketiga badan kenegaraan tersebut dapat saling mengawasi.
Sistem pengawasan yang dilaksanakan serta dikembangkan dalam praktik ini disebut
Checks dan Balances, dengan tujuan agar di antara ketiga kekuasaan tersebut selalu
terdapat keseimbangan dalam keadaan-keadaan tertentu. Jadi pengawasan tersebut
tidaklah dilaksanakan secarqa terus menerus, tetapi hanya pada keadaan-keadaan
tertenu di mana dipandang perlu, jadi pengawasan tersebut bersifat kasuistik.
Keadaan inilah yang kemudian menimbulkan sistem pemerintahan presidensil.
Di negara-negara eropa Barat, sepertinya di Inggris, kekuasaan perundang-undangan
diserhakan kepada badan perwakilan rakyat bersama-sama dengan badan
pemerintahan. Sedang kalau menurut ajaran Trias Politika kekuasaan perundangundangan hanya diserahkan kepada badan perwakilan rakyat. Kekuasaan
pelaksanaan atas pemerintahan diserhkan kepada pemerintah, yang harus
bertanggungjawab kepada badan perwakilan rakyat. sedangkan kekuasaan
pengawasan diserahkan kepada badan pengadilan yang mandiri. Jadi dalam sistem
ini terdapat pengawasan yang lebih ketat. Keadaan ini kemudaian menimbulkan
sistem pemerintahan parlementer.

Lain keadaanya adalah di Swiss. Di mana sistem pengawasannya lebih ketat lagi,
karena dilakukan secaara langsung oleh rakyat, yang kemudian lebih terkenal
dengan sistem referendum.
2. Ajaran Trias Politika Montesquieu yang mengemukakan ajaran tentang pemisahan
kekuasaan secara mutlak, tidak dapat disesaikan atau berdampingan dengan ajaran
kedaulatan rakyat yang dikemukakan oleh Rousseau, yang beberapa dalilnya
menjadi dasar daripada sistem pemerintahan langsung atau direct gouvernment, dan
sistem Echo
3. Pada negara-negara hukum modern, moderne rechtsstaat, ajaran Trias Politika
Montesquieu tidak mungkin dapat dilaksanakn secara konsekuen, dalam arti bahwa
satu badan kenegaraan, atau satu organ itu hanya diserahu satu fungsi atau
kekuasaan saja seperti diajarkan oleh Montesquieu. Sebab pada negara-negara
hukum modern satu organ itu tidak hanya diserahi satu fungsi atau kekuasaan saja,
tetapi kadang-kadang lebih dari pada itu. Atau mungkin juga selabiknya, bahwa satu
fungsi atau kekuasaan itu tidak hanya diserahkan kepadasatu organ saja, tetapi
kadang-kdang diserahkan kepada dua atau lebih organ.
Ajaran Trias Politika Montesquieu kiranya hanya mungkin dapat dilaksanakn
secara konsekuen pada negara hukum dalam pengertian sempit, seperi yang pernah
dikemukakan oleh Immanuel Kant dan Fichte, yaitu negara di mana tugasnya itu hanya
membuat serta mempertahankan hukum, lain tidak. Negara dan masyarakat dipisahkan
sama sekali, negara tidak boleh mengurusi soal-soal kemasyarakat, terutama soal-soal
perkonomian.
Hal demikian kiranya sesauai dengan jaman pada waktu itu, yaitu sedang
berkembangnya aliran liberalisme, di mana berlaku azass : laissez flaire, laissez aller,
negara hanya melindungi golongan yang berkuasa saja.
Tetapi dalam negar hukum modern, dalam abad ke XX, tugas pemerintah atau
negara adalah asngat luas, yaitu mengusahakan kesejahteraan bagi rakyatnya, dan
menjaga kemanan dalam ari seluas-luasnya. Dengan demikian negara hukum modern
disebut juga Wlfare State. Dan dalam hal ini banyak tugas-tugas yang dahulu dipegang
oleh partikelir, sekarang diambil alih oleh pemerintahan atau negara, dengan demiian
tugas pemerintah atau negara semakin luas.
Menurut isitilah Dr. Lemaire, dalam hal ini pemerintah disertai tugas bestuurszorg,
yaitu penyelenggaraan kesejahteraan umum yang dilakukan oleh pemerintah. Jadi
bestuurszorg menjadi tugas pemerintah pada negara hukum modern, dan ini merupakan

ciri daripada adanya Welfare State. Dan dalam hal ini yaitu agar pemerintah dapt
melakukan apa saja demi kesejahteraan rakyat, maka pemerintah memrlukan
kemerdekaan untuk berbuat atas inisiatif sendri, terutama dalam penyelesaian soal-soal
genting yang timbul dengan sekonyong-konyonng, dan yang peraturan penyelesaiannya
belum ada , karena belum dibuat atau dikeluarkan sendirilah yang memuat peraturannya.
Kemerdekaan pemerintah seperti diuraikan diatas disebut freies Ermenssen (Jerman),
atau pouvoir decritionnaire (Perancis)
9. Klasifikasi Negara menurut Sir John A.R. Marriott
Sir John A.R. Marriot adalah seorang sarjana Inggris ajaran-ajaran beliau dapat
kiita ketahui dalam bukunya yang berjudul : The Mechanism of the modern State. Dalam
bukunya tersebut beliau mengkritik klasifikasi Aristoteles. oleh karena menurut beliau ,
klasikasi Aristoteles tersebut meskipun meruapakan klasifikasi yang fundamentil, namun
tidak dapat memnuhi tuntutan bentuk-bentuk negara modern, dalam arti bahwa ada
beberapa bentuk negara modern yang tidak dapat dimasukkan ke dalam klasfikasinya
tersebut.
Maka dari itu Marriot lalu mengajukan klasifikasi baru, dengan maksud agar dapat
mecakup semua bentuk-bentuk negara-negara modern. Dalam klasifikasinya tersebut
beliau mempergunakan dasar atau kriteria sistem kenegaraannya. Dan yang dimaksud
dengan sistem kenegaraan ini ada tiga hal pokok, yaitu
1. Mengenai susunan perintahnya.
2. Mengenai sifat konsititusina, atau undang-undang dasarnya.
3. mengenai sistem pemerintahannya.
ad.1. Mengenai susunan pmerintahannya. Dengan memeprgunakan krieteria ini
beliau menggolong-olongkan negara kembali menjadi dua goongan besar, yaitu :
1. Negara kesatuan
2. Negara federasi
ad.2. Mengenai sifat konstitusinya, atau undang-undang dasarnya. Berdasarkan
kriteria ini negara dapatdigolongkan menjadi dua golongan besar yaitu :
a. Negara yang konstitusinya, atau saya kira lebih tepat bila memakai undang-undang
dasar bersifat rigid, atau kaku, artinya undang-undang dasar tersebut mempunyai
sifat-sifat istimewa, keistimewaanny itu ialah terletak dalam hal perubahannya, atau
apabila akan mengandir undang-undang dasar tersebut. Dalam hal ini diperlukan
syarat-syarat yang sifatnya sangat berat. Hal ini yang demikian ini memperngaruhi
pula fungsi atau outoritas badan legislatif, yaitu bahwa badan legislatif di sini hanya

bertugas membuat undang-undang menurut ketentuan-ketentuan yang tercantum


atau ditetapkan dalam undang-undang dasar.
b. Negara yang undang-undang dasarnya itu bersifat flexible atau lunak, sebagai lawan
daripada sifat regid, atau keras, kaki. Disini perubahan-perubahn atau pengamndiran
undang-undang dasar berlangsung atau dapat dilaksankan seperti proses pembuatan
udnang-undang biasa. Badan legislatif disini fungsinya atau tugasnya tidak hanya
dalam bidang legislatif saja, tetapi juga constituent, artinya bahwa badan legislatif
tidak hanya bertugas mengundang, mangamandir, dan mencabut undang-undang,
melainkan juga bertugas membentuk dan merubah undang-undang dasar.
ad.3. Mengenai sistem pemerintahannya. Di isni yang di maksudkan ialah
bagaimanakah perimbangan kedudukan antara badan eksekutif dengan badan legislatif.
Hal ini dapat menimbulkan tiga macam kemunkinan, yaitu
a. Badan eksekutif berkedudukan sederajad dengan badan legislatif
b. Badan eksekutif berkedudukan lebih tinggi daripada badan legislatif
c. Badan eksekutif berkedudukan lebih rendah daripada badan legislatif
Berdasarkan kriteria ini negara dapat digolongkan lebih rendah daripada badan
legislatif
a. Negara yang memakai sistem pemerintahan presidensil.
b. Negara yang memakai sistem pemerintahan parlementer.
Mengeai perimbangan keuidukan antara badan eksekutif dengan badan legislatif
dapat diternagkan sebgai berikut: dalam negara-negara autokrasi: kedudukan badan
eksekutif ;lebih tinggi daripada kedudukan badan legislatif, bentuk pemerintahnnya dpat
disebut despos. Ini pernah terjadi di Russia pada jaman oemerintahan Tsar.
Sebaliknya dalam negara-negara demokrasi perimbangan kedudukan antara badan
eksekutif dengan badan legislatif ada dua kemungkinan, yaitu mungkin kedudkan badan
eksekutif lebih rendah daripada kedudukan badan legislatif. Ini misalnya yang pernah
terjadi di Amerika Serikat, Peracis, Inggris, beserta semua negara anggauta-anggauta
negara persemakmuran bersama Inggris. Atau, kemungkinan yang kedua, ialah bahwa
kedudukan badan eksekutif sederajad dengan kedudukan badan legislatif.
Dengan ajaran klasifikasinya seperti tersebut di ataas, Marriott lalu berpendapat
dapat menempatkan bentuk-bentuk pemerintahan daripada negara-negara modern,
ingatlah bahwa sesungguhnya yang menentukan bentuk suatu negara itu adalah sistem
pemerintahannya, ke dalam golongannya masing-masing. Inggris misalnya, negara
Marriott sendiri, menurut beliau dapat digolongkan ke dalam golongan negara kesatuan,
yang berundang-undang dasar fleksibel serta berpemerintahan dengan sistem presidensil.
Demikianlah ajaran Marriott tentang klasifikasi negara.

10. Klasifkasi Negara Menurut S.D. Leacock.


Dalam bukunya yang berjudul Elements of Political Science, belaiu berpendapat
bahwa mengklasifikasikan negara ke dalam negara-negara despotis dan negara-negara
demokratis adalah sebgai tanda penjenisan bentuk-bentuk negara yang bersifat
fundamentil daripada segenap negara-negara modern. Jadi pertama-tama Leacocok
mengklasifikasikan negara ke dalam dua jenis, yaitu negara-negara despotis, dan negaranegara demokratis. Kemudian negara demokratis dijeniskan lagi menjadi kerajaan
terbatas dan republik. Masing-masing ini dejniskan lagi menjadi negara kesatuan dan
negara federasi. Inipun masing-masing masih dijeniskan lagi menjadi, apakah negara
tersebut berparlemen ataukah tidak. Jadi secara skhematis dapatlah dilukiskan sebgai
berikut :

Negara-negara modern
1. Despotis
2. Demokratis

1.Republik

:1. Federal

: 1. Tidak

2. Kesatuan

berparlemen
2. Berparlemen
: 1. Tidak

:1. Federal

berparlemen
2. Berparlemen
: 1. Tidak

2. Kesatuan

berparlemen
2. Berparlemen
: 1. Tidak

2.Kerajaan Terbatas

berparlemen
2. Berparlemen
11. Klasifikasi Negara menurut H.N. Sinha.
H.N. Sinha. adalah seorang sarjana berkebangsaan India, dalam bukunya yang
bernama Outlines of Political Science, antara lain mengatakan bahwa klasifikasi dari
Leacock itu sebenarnya kurang sempurna, meskipun pada prinsipnyua H.N. Sinha. dapat
menerimanya. Dikatakan kurang sempurna oleh karena ke dalam klasifikasinya itu tidak
dapat dimasukkan bentuk-bentuk negara totaliter atau otoriter yang tibul sesudah Perang
Dunia Pertama, sepertinya negara-negara : fascist Italia, Nazi-Jerman, dan negara Uni

Sovyet, bentuk-bentuk pemerintahan dari ketiga negara tersebut bersifat totaliter atau
otoriter atau proletar dan anti demokratis.
Sekalipun demikian, masih juga diakui oleh H.N. Sinha. bahwa klasifikasi Leacock
yang telah diperbaiki ini belum juga sempurna, karena tidak dapat juga menempatkan
negara-negara demokrasi modern, ataupun demokrasi kuno. Maka setelah H.N. Sinha.
menambah kekurangan-kekurangan klasifikasi Leacock dengan bentuk pemerintahn
yang totaliter atau otoriter dan bersidat anti demokratis itu, kemudaian memberikan
skema sebgai berikut

Negara-negara modern
1. Demokratis

:1.Republik

2.Kerajaan Terbatas

:1. Kesatuan

: 1. Berparlemen
2. Tidak

2. Federal

Berparlemen
: 1. Berparlemen
2. Tidak

:1. Kesatuan

Berparlemen
: 1. Berparlemen
2. Tidak

2. Federal

Berparlemen
: 1. Berparlemen
2. Tidak
Berparlemen

2. Anti-

:1.Republik

:1. Kesatuan
2. Federal

Demokratis
(Totaliter atau
Autoriter)
2.Kerajaan Terbatas

:1. Kesatuan
2. Federal

4. Negara-negara Despotis.
Demikianlah secara skematis ajaran klasifikasi negara dari H.N. Sinha, yang ternyata
belum sempurna. Juha mengapa tidak disebutkan bahwa oada Negara-negara antidemokratis pun sesungguhnya ada yang berparlemen meskipun sifatnya lain daripad
parlemen pada negara-negara demokratis. Untuk ini periksa urain kami pada autokrasi
modern.

BAB VIII
SUSUNAN NEGARA
Negara apabila dilihat dari segi susunannya, akan menghasilkan dua kemungkinan
bentuk susunan negara yaitu :
1. Negara yang bersusunan tunggal, yang disebut Negara Kesatuan.
2. Negara yang bersusunan jamak, yang disebut Negara Federasi.
1. Negara Kesatuan
Negara Kesatuan disebut Negara Unitaris. Negara ini susunannya bersifat tunggal
maksudnya Negara Kesatuan ini adalah negara yang tidak tersusun dari beberapa negara,
melainkan hanya terdiri dari satu negara, sehingga tidak ada negara di dalam negara.
Dengan demikian dalam negara Kesatuan hanya ada satu pemerintah,yaitu pemerintah
pusat yang memiliki kekuasaan serta wewenang tertinggi dalam bidang pemerintah
negara, menetapkan kebijakksanaan pemerintah dan melaksanakan pemerintahan baik di
pusat maupun di daerah- daerah.
Ditinjau dari segi sejarah ketatanegaraan serta Ilmu Negara, pada permulaan
perkembangannya, yaitu dari jaman purba, jaman kuma, jaman abad pertengahan, jaman
renaissance, kemudian memasuki jaman hukum alam baik abad XVIII,maupun para
penguasa itu pada umumnya bersifat absolut, dan masih dilaksanakannya azas
sentralisasi dan azas konsentrasi.
Kedua azas itu secara singkat pengertiannya dapatlah dikemukakan sebagai
berikut:
1. Azas S entralisasi, adalah azas yangmenghendaki bahwa segala kekusaan serta
urusan pemerintahan itu milik Pemerintah Pusat.
2. Azas Konsentrasi, adalah azas yang menghendaki bahwa segalakekuasaan serta
urusan pemerintahan itu dilaksanakan sendiri oleh Pemerintah Pusat, baik yang ada
di Pusat maupun yang ada di daerah-daerah.
Memang sesungguhnyalah setelah memasuki abad perkembangan hukum alam,
abad XVIII, lahir dan berkembanglah usaha-usaha untuk membatasi kekuasaan para
penguasa negara, yang antara lain didukung oleh:
1. John Locke dengan ajarannya hak asasi manusia.
2. Montesquieu dengan ajarannya trias politika.
3. J.J Rousseeau dengan ajarannya kedaulatan rakyat.

4. Immanuel Kant dengan ajarannya negara hukum; dan


5. Maurice Duverger dengan ajarannyan pemiliha dan pengangkatan penguasa negara
yang akan memegang dan melaksanakan kekuasaan negara.
Hal-hal yang dilakukan oleh pemikir besar tentang negara dan hukum dalam
rangka usahanya untuk dapat membatasi kekuasaan para penguasa tersebut, ternyata baru
sekedar menciptakan teori atau ajaran yang diharapkan dapat membatasi kekusaan para
penguasa, karena dalam praktek penyelenggara pemerintahan negara kekusaan para
penguas itu masih tetap bersifat absolut.
Dalam perkembangan lebih lanjut dibeberapa negara disamping telah
dilaksanakan azas dekonsterassi juga telah dilaksanakan azas sentralisasi, yaitu
penyerahan urusan pemerintah dari pemerintah pusat atau daerah otonom tingkat atasnya
kepada daerah otonom menjadi urusan rumah tangganya.
Pelaksanaan azas desentralisasi inilah yang melahirkan atau dibentuknya daerahdaerah otonom, yaitu suatu kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas wilayah
tertentu yang berhak, berwenang dan berkewajiban mengatur rumah tangganya sendiri.
Dengan demikian daerah otonom itu memiliki otonom daerah yaitu hak, wewenang, dan
kewajiban.
Ciri pokok daerah otonom ialah dibentuknya Badan Perwakilan Rakyat yang
reoresentatif yang dapat pula disebut Parlemen, Dewan Perwakilan Rakyat, atau
Bundesrat.
Dalam pelaksanaannya, dapat pula dibuat kombinasi:
1. Konsentrasi dan Sentralisasi
2. Dekonsentrasi dan Sentralisasi
3. Dekonsentrasi dan Desentralisasi;bahkan kombinasi ini dapat ditambah dengan azas
tugas pembantuan, sehingga kombinnasinya menjadi:
4. Dekonsentrasi, desentralisasi, dan tugas pembantuan.
Tugas pembantuan ialah tugas untuk turut serta untuk melaksanakan urusan
pemerintah yang ditugaskan kepada Pemerintah Daerah Otonom olehPemerintah Pusat
atau Daerah Otonom tingkat atasnya dengan kewajiban mempertanggung-jawabkan
kepada yang menugaskannya.
2. Negara Federasi
Negara federasi adalah negara yang bersusunan jamak, maksudnya neegara ini
tersusun dari beberapa negara yang semula telah berdiri sendiri sebagai negara yang
merdeka dan berdaulat, mempunyai Undang-undang Dasar sendiri serta pemerintahan
sendiri. Tetapi kemudian karena sesuatu kepentingan, entah kepentingan politik,

ekonomi, atau kepentingan lainnya, negara-negara tersebut saling menggabungkan diri


untukmembentuk suatu ikatan kerja sama yang efektif. Namun disamping itu negaranegara itu , nkegara-negara saling menggabungkan diri tersebut yang disebut negara
bagian, masih ingin memiliki urusan-urusan pemerintah yang wewenang yang dapat
diatur dan dirus sendiri, disamping uusan-urusan pemerintahan yang diatur dan diurus
bersama-sama oleh ikatan kerja samanya tersebut.
Kerja sama negara-negara tersebut yang kemudian disebut Negara Federasi
memiliki Undang-undang Dasar dan Pemerintah Pusat yang disebut Pemerintah
Gabungan atau Pemerintah Federasi. Dengan demikian dalam Negara Federasi ini ada :
a. 2 (dua) macam negara yaitu Negara Federasi atau Negara Gabungan dan
Negar-negara bagian.
b. 2 (dua) macam Pemerintah yaitu Pemerintah Negara Federasi dan
Pemerintah Negara bagian-bagian.
c. 2 (dua) macam undang-undang dasar, yaitu undang-undang dasar negara
bagian dan undang-undang dasar masing-masing negara bagian.
d. Negara di dalam negara, yaitu bahwa negara-negara bagian itu berada di
dalam negara federasi .
e. 2 (dua) macam urusan pemerintahan, yaitu pemerintahan yang pokokpokok dan yang berkaitan dengan kepentingan bersama negara-negara
bagian.
Jadi yang diatur dan diurus bersama oleh PemerintahFederasi itu pada prinsipnya
adalah urusan-urusan pokok yang menentukan hidup matinya Negara Federasi tersebut.
Diatur dan diurus oleh Pemerintah Federasi dengan maskud agar ada kesatuan, baik
dalam hal pengaturannya maupun dalam hal pelaksanaannya serta penyelenggaraannya.
Sedangkan urusan-urusan selebihnya, maksudnya yang tidak diatur dan diurus
secara bersama-sama, masih tetap menjadi wewenang Pemerintah Negar-negara begian
untuk mengatur dan mengurusnya.
Maka tepatlah kiranya apabila Dicy menggambarkan Negara Federasi itu sebagai
suatu perakalan untuk mengadakan suatu perpaduan antara kesatuan atau ikatan dan
kekuatan nasional dengan pengertian bahwa negara-negara nasional atau negara-negara
bagian itu masih tetap memiliki hak-hak serta wewenang-wewenangnya.
Sebgaimana telah dikemukakan di atas, bahwa Negara Federasi itu pada
hakikatnya adalah suatu ikan kerja sama, dengan maksud untuk mengadakan kerja sama
antara negara-negara yang saling menggabungkan diri tersebut, dengan tujuan agar
kepentingan bersama mereka dapat tercapai, disamping itu negara-negara bagian masih
tetap memiliki hak-hak kenegaraannya, bahkan kedaulatannya.

Suatu ikatan kerja sama itu dapat bersifat erat, tetapi dapat pula bersifat agak
renggang, yang hampir menyerupai perjanjian multilateral, karena pada hakikatnya
hubungan antar negara-negara bagian dalam negara federasi itu pada prinsipnya
berdasarkan perjanjian saja, yang pada suatu sat dapat saja diputuskan, dalam arti bahwa
negara itu keluar dari iaktan kerja samanya atau negara federasinya. Dengan demikian
putus pula hubungan antara negara bagian itu dengan negara federasi.
Berdasarkan sifat hubungan ikatan kerja sama antara Pemerintah Negara Federasi
dengan Pemerintah Negara-negara Bagian tersebut, maka Negara Federasi itu dapat
dibedakan menjadi du macam jenis, yaitu :
1) Negara Serikat; dan
2) Perserikatan Negara
Mengenai perbedaan antara Negara Serikat degan Perserikatan Negara telah ada
beberapa ahli pemikir besar tentang negara dan hukum yang mengemukakn pendaptnya,
dengan kriterianya masing-masing sehingga mereka mencapai hasil atau kesimpulan
yang berbeda-beda pula. Hal inilah yang menyebabkan adanya kekayaan ajaran atau teori
dalam pemikiran tentang negara dan hukum.
3. Perbedaan Antara Negara Serikat dengan Perserikatan Negara menurut Georg
Jellinek
Georg Jellinek mengemukakan perbedaan antara negara serikat dengan perserikatan
negara-negara tersebut. Lama sudah Jellinek meninjau dari berbagai sudut untuk mencari
perbedaan tersebut. dan kiranya beliausamapai pada kesimpulan yang sesuai dengan
pendapatnya bahwa negara itu pada hakekatnya adalah meruapakan suatu organisme,
yang mempunyai kehendak atau kemauan, yang kemudian menjelma dalam bentuknya
yang konkrit berupa peraturan-peraturan negara, atau undang-undang atau hukum. Jadi
hukum adalah merupakan penjelmaan daripada kehendak negara, dengan demikian
negaralah yang berdaulat.
Sekarang persoalannya, di dalam negara federal itu pada siapakah kedaulatan itu, ada
pada negara federalnya, ataukah ada pada negara-negara bagian? Inilah kriteria Jellinek
di dalam membedakan antara negara serikat dengan perserikatan negara-negara tersebut.
Apabila kedaulatan itu ada pada negara federal, jadi yang memegang kedaulatan
itu adalah pemerintah federal, atau pemerintah gabungannya, maka negara federal itu
disebut negara serikat.
Sedangkan kalau kedaulatan itu masih tetap ada negara-negara bagian maka negara
federal yang demikian ini disebut perserikatan negara.
Jadi seakan-akan sudah tegas, tinggal melihat saja, ada pada siapa-kah kedaulatan
itu, ada pada negara federalnya, ataukah ada pada negara-negara bagian. Tetapi meskipun

demikian kiranya Kranenburg berkebratan menerima pendepat Jellinek tersebut. Dan


mengajukan kelemahan pendepat Jellinek sebagai berikut:
bahwa kriteria yang dipergunakan oleh Jellinek di dalam mengemukakan pendapat
tentang perbedaan antara negara serikat dengan perserikatan negara itu kurang tepat,
lemah. Oleh karena mengenai pengertian kedaulatan atau souvereinitet, atau sovereighty,
itu masih banyak menimbulkan perbedaan-perbedaan pendapat, jadi belum ada kesatuan
bermacam-macam pengertian dari jaman ke jaman. Misalnya saja, semula kedaulatan
atau souvereinitet itu dipakai di dalam pengertian yang sifatnya relatif. Menurut asal
katanya, souvereinitet itu berasal dari kata superanus atau supernitas, yang berarti
wewenang atau kekuasaan yang tertingi di dalam suatu daerah, ini misalnya seorang tuan
tanah itu berdaulat di suatu daerah, ini berarti bahwa mengenai hal-hal intern dari daerah
tersebut tuan itu tidak tergantung pada siapapun juga. Jadi tuan tanah itulah yang
mempunyai kekuasaan tertinggi di dalam menentukan atau memutuskan segala hal di
dalam daerah tersebut.
Kemudaian pada waktu tibulnya raja-raja yang berkekuasaan absolut, kekuasaan
para tuan tanah itu berkurang dan kekuasaan rajalah sekarng yang merupakan kekuasaan
tunggal, serta perkataan souverein hanya melulu diperuntukkan bagi kekuasaan raja-raja,
dan berarti kekuasaan yang tertinggi, yang berarti selain raja itu tidak tergantung pada
kekuasaan lain, juga weang menentukan segala sesuatunya yang ada di dalam negara
tersebut, bahkan wenang menentukan hidup matinyanya seseorang.
Di dalam jaman modern ini perkataan atau istilah kedaulatan sudah mempunyai
pengertian yang lain lagi, misalnya ada yang mengatakan bahwa kedaulatan itu adalah
kekuasaan yang tertinggi di dalam suatu daerah atau negara untuk menentukan atau
membuat hukum yang berlaku di daerah atau negara tersebut. Demikianlah pendapat
Jean Bodin.
Dalam hubungan ini telah terlihat pula dengan tegas, bahwa pengertian istilah telah
berubah dengan adanya pergantian tugas. Kata atau istilah kedaulatan, demikian
pernyataan Leon Duguit, hanya merupakan sifat dan tabiat kekuasaan raja sendiri, sebgai
kekuasaan tertinggi, dijadikan sebutan bagi kekuasaan raja itu sendiri.
Memang, di dalam sejarah ketatanegaraan, ada pula yang dengan tegas menyatakan
bahwa

pengertian

kedaulatan

atau

souvereinitet

itu

di

dalam

sejarahnya

perkembangannya mengalami tiga phase, demikian pendapat Mac. Iver dalam bukunya :
The Web of Government, beliau membagai sejarah perkembangan souvereinitet itu
dalam tiga phase :

1) Comparative. Phase ini menunjuk pada jaman foedal, yaitu dalam abad-abad
pertengahan, karena pada jaman itu kedaulatan ada pada raja, kadang-kadang
sebagai leenheer, dan pada Baron atau leenman.
2) Absolute. Phase ini menunjuk pada jaman raja-raja yang mempunyai kekuasaan
absolute.
3) Relative. Phase ini menunjuk pada jaman modern di mana kedaulatan negara yang
satu adalah relatif apabila dihadapkan dengan kedaulatan negara-negara lain dalam
lapangan internasional.
Menurut hemat saya, pendapat Kranenburg tersebut di atas, yatu yang menyatakan
bahwa kedaulatan itu tidak dapat dipakai segai kriteria, di dalam membedakan antara
negara serikat dengan perserikatan negara, seperti pendapat Jellinek tersebut, karena
pengertian kedaulatan itu masih kabur, itu adalah benar, dalam arti bahwa terhadap
istilah kedaulatan itu belum ada kesatuan pendapat, dan nyatanya meang demikian,
misalnya saja pengertian kedaulatan dari Jellinek itu sendiri, sudah berbeda dengan
pengertian kedaulatan yang dikemukakan oleh Jean Bodin.
tetapi disamping itu, sesungguhnya tidaklah benar apabila Kranenburg itu
mengatakan bahwa kedaulatan atau souvereinitet itu tidak dapat dipakai sebgai kriteria,
sebgaimana halnya Jellinek mempergunakannya sebgai kriteria untuk membedakan
antara negara serikat dengan perserikatan negara. Seperti tadi di atas dikatakan
Kranenburg menyatakan bahwa pendapat Jellinek dalam hal ini adalah kurang kuat,
lemah, karena pengertian kedaulatan itu sendiri masih sangat kabur.
Pendapst Kranenburg ini, diatu pihak memang benarm dalam arti bahwa pengertian
kedaultan itu hingga saat ini belum mendapatkan kesatuan pendapat. Tetapi di lain pihak
pernyataan Kranenburg itu adalah tidak tepat, tidak benar, oleh karena dengan demikian
Kranenburg juga mengganggap bahwa pengertian kedaulatan atau souvereinitet itu bagi
Jellinek masih merupakan suatu pengertian yang kabur. Ini adlah tidak benar. Oleh
karena Jellinek memaiaki pengertian kedaulatan atau souvereinitet itu menurut
pengertiannya, menurut pahamnya sendiri. baginya memang telah ada pengertian antara
negara serikat dengan perserikatan negera, jadi bukan mempergunakan pengertian
kedaulatan itu menurut paham umum, atau tegasnya bukan menurut kata sepakat dari
semua orang, melainkan menurut pengertian Jellinek sendiri.
Menurut Jellinek, pengertian kedaulatan atau souvereinitet itu adlah kekuasaan
tertinggi untuk menentukan hukum di dalam suatu negara. Jadi Jellinek itu telah
mempunyai pengertian yang psti dan tetap terhdap istilah kedaultan atau souvereinitet
itu, Negaralah yang mempunyai kekuasaan tertinggi, negaralah yang merupakan sumber

hukum, oleh karena menurut pendapatnya, hukum itu pada hakekatnya merupakan
penjelmaan atau perwujudan daripada kemauan atau kehendak negara.
jadi sekali lagi, bagi Jellinek itu sudah mempunyai pengertian yang pasti dan tetap
tentang istilah kedaulatan atau souvereinitet. Maka tidaklah mungkin kalau pengertian
kedaulatan atau souvereinitet yang dipergunakan oleh Jellinek sebgai kriteria untuk
membedakan pengertian antara negara serikat dengan perserikatan negara-negara itu
diganti dengan pengertian yang lain
Setelah Kranenburg menyatakn ketidak persetujuannya terhadap pendapat Jellinek,
maka beliau sendiri juga kemudian mengajukan pendapat atau ajaran tentang perbedaan
antara negara serikat dan perserikatan-negara.
4. Perbedaan Negara Serikat dengan Perserikatan Negara menurut Kranenburg
Menurut pendapat Kranenburg, perbedaan antara negara serikat dengan
perserikatan negara-negara itu terletak pada persoaln : dapat atau tidaknya pemerintah
Federal atau pemerintah gabungan itu membuat atau mengelurkan peraturan-peraturan
hukum yang langsung mengikat atau berlaku terhadap para warga negara daripada
negara-negara bagian. Jadi inilah yang harus dipergunakan sebgai kriteeria di dalam
pembedaan antara negara serikat dengan perserikatan negara-negara tersebut, dan
bukannya letak kedaulatannya
Apabila peraturan-peraturan hukum yang dikeluarkan oleh pemerintah negara
federal, pemerintah gabungannya itu dapat secara langsung berlaku atau mengikat
terhadap para warga negara dari negara-negara bagian, maka negara federasi itu adalah
berjenis negara serikat. Jadi tanpa ada tindakan-tindakan tertentu dari pemerintah negara
bagian, peraturan-peratuan hukum yang berasal dari pemerintah federal, atau pemerintah
gabungan itu telah dapat berlaku atau mengikat secara langsung para warga negara dari
negara-negara bagian.
Sedangkan kalau peraturan-peraturan hukum yang dibuat dan dikeluarkan oleh
pemerintah federal atau pemerintah gabungannya itu tidak dapat secara langsung berlaku
atau mengikat terhadap para warga negara dari negara-negara bagian, maka negara yang
demikian ini disebut perserikatan negara. Dalam hal ini, maka apabila peraturanperaturan hukum yang dibuat atau dikeluarkan oleh pemerintah federal atau pemerintah
gabungannya itu akan diberlakukan terhadap para warga negara dari negara-negara
bagian, maka pemerintah negara bagian yang bersangkutan terlebih dahulu harus
mengadakan suatu tindakan, yaitu mengadakan atau membuat suatu peraturan, atau
undang-undang, atau pernyataan, atau mungkin berupa tindakan lain,

yang pada

pokoknya menyatakan berlakunya peraturan-peraturan hukum dari pemerintah federal


atau pemerintah negara gabungannya itu terhadap para warga negaranya.
Setelah kita mempelajari pendapat dari Jellinek dan pendapat dari Krenenburg
tentang perbedaan antara negara serikat dengan perserikatan negara-negara, maka
dapatlah koita membuat suatu perbandingan antara kedua pendapat tersebut. Menurut
hemat saya, kedua pendapat tersebut pada prinsipnya adalah sama.
Menurut Jellinek negara serikat itu adalah jenis negara federal di mana pemerintah
federalnya, atau pemerintah negara gabungannya, yang memgang kedaulatan, jadi
kedaulatan atau souvereiniteit itu ada atau terletak pada pemerintah negara gabungannya.
Jika demikian halnyua, maka tentunya pemerintah federal atau pemerintah negara
gabungannya itu dapat atau wenang membuat atau mengeluarkan peraturan-peraturan
hukum yang dapat mengikat atau berlaku secara langsung terhadap para warga negara
dari negara-negara bagian. Maka ini adalah sesuai dengan pendapat Kranenburg yang
mengatakn bahwa negara serikat itu adalah negara federal di mana pemerintah
federalnya atau pemerintah negara gabungannya dapat atau wenang membuat atau
mengelurkan peraturan-peraturan hukum yang sifatnya dapat mengikat atau berlaku
secara langsung terhadap para warga negara dari negara-negara bagian.
Sedangkan yang disebut perserikatan negara itu menurut Jellinek adalah jenis
negara federal di mana yang memgang kedaulatan itu adalah tetap pemrintah negaranegara bagian, jadi tegasnya kedaulatan itu ada atau terletak pada pemerintah federal
atau pemerintah negara gabungannya itu tidak dapat atau tidak berwenang membuat atau
mengelurkan peraturan-peraturan hukum yang sifatnya dapat berlaku atau mengikat
secara langsung terhadap para warga negara dari negara-negara bagian. Maka inipun
adalah sesuai dengan pendapat Kranenbur yang mengatakan bahwa perserikatan negara
itu dalah jenis negara federal di mana atau tidak berwenang membuat atau mengeluarkan
peraturan-peraturan hukum yang sifatnya dapat berlaku atu mengikat secara langsung
terhadp para warga negara dari negara-negara bagian.
Demikianlah menurut pendapt saya terhdap pendapat Jellinek dan pendapat
Krenenburg tentang perbedaan antara negara serikat dengan Perserikatan negara-negara,
yang mana kecuali telah tersebut di atas kiranya masih dapat juga dikuatkan dengan
pendapat Kranenburg sendiri tentang perbedaan antara negara serikat dengan negara
kesatuan yang didesentrlisir, di mana dikatakan bahwa dalam negara serikat, negarnegara bagiannya mempunyai wewenang untuk membuat konstitusi atau undang-undang
dasar sendiri, negara-negara bagian wenang mengatur sendiri bentuk organisasi

negaranya, meskipun masih harus dalam batas-batas yang ditentukan dalam konstitusi
atau undang-undang dasar negara federalnya.
Demikianlah negara itu kalai ditinjau dari segi susunannya, kita dapat menemukan
dua jenis golongan besar, yaitu negara kesatuan, dan negara federasi. Sedangkan keduaduanya masih dapat dijeniskan lagi. negara kesatuan dapat, negara kesatuan yang
didesentralisir, dan negara kesatuan yang didekonsentralisir. Sedangkan negara federasi
dapat : negara serikat dan perserikatan negara.
Dari jenis-jenis negara tersebut di atas ada kiranya yang perlu mendapatkan
perhatian ;lebih lanjut untuk mendapatkan keterangan yang lebih jelas. Demikianlah
sepertinya negara kesatuan yang didesentralisir dengan negara federasi khususnya
dengan negara serikat itu terdapat persamaan-persamaan, serta perbedaan-perbedaan
tertentu.
Persamaan-persamaannya. Terdapatnya persamaan-persamaan ini dalam arti bahwa
di dalam kedua negara tersebut terdapat :
1) Pembagian daerah atau wilayah, hanya namanya yang berbeda. Di dalam negara
kesatuan yang didesentralisir daerah-daerah bagian itu namanya daerah, entah
daerah tingkat I, daerah tingkat II, daerah tingkat III yang berhak mengatur dan
mengurus tumah tangganya sendiri, sedangkan pada negara esrikat, daerah-daerah
bagian itu namanya negara-negara. Jadi di sini ada negara di dalam negara,
tidaklah demikian halnya pada negara kesatuan yang didesentralisir.
2) Adanya dua macam pemerintah pad kedua negara terserbut, yaitu : pada negara
kesatuan yang didesentralisir terdapt, pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
Sedangkan pada negara serikat terdapt, pemerintah federal atau pemerintah negara
gabungan dan pemerintah negara bagian.
Perbedaan-perbedaannya. Perbedaan antara sistem negara kesatuan yang didesentralisir
dengan sistem negara serikat adalah bahwa perbedaan-perbedaan itu tidak saja terdapat
pada perbedaan-perbedaan sebutannya, sepertinya sebutan-sebutan daerah, propinsi,
negara bagian, kanton melainkan perbedaan-perbedaan tersebut sungguh-sungguh
mengenai hukum positifnya, yaitu :
a. Wewenang mengadakan atau membuat undang-undang dasar. Seperti telah kita
ketahui bahwa di dalam negara serikat itu pada azasnya ada dua macam negara,
yaitu negara federal atau negara gabungannya itu sendiri dan negara-negara bagian,
jadi juga ada dua macam pemerintah, yaitu pemerintah federal atau pemerintah
negara gabungannya dan pemerintah dari negara-negara bagian. Sedangkan pada
azasnya masing-masing negara bagian itu berdiri sendiri, dan mempunyai wewenang

untuk membuat undang-undang dasar sendiri, jadi di sini ada dua macam undangundang dasar, yaitu souvereiniteit dasar dari tiap-tiap negara bagian, dan
souvereiniteit

dasar dari negara federasi itu sendiri, yang pada hakekatnya ini

merupakan suatu pderjanjian dari masing-masing negara bagian untuk mengadakan


ikatan kerjasama yang efektf. Jadi wewenang untuk membuat undang-undang dasar
dalam negara serikat, baik ada pada negara federasinya itu sendiri, maupun pada
masing-masing negara bagian.
Sedangkan pada negara kesatuan yang didesentralisir, pada azasnya hanya ada satu
negara, satu pemerintahan negara, yaitu pemerintah pusat, dan padanya yang
mempunyai wewenang untuk membuat undang-undang dasar, sedang daerah-daerah
tidak mempunyai wewenang itu. Jadi dengan demikian pada negara kesatuan yang
didesentralisir hanya ada satu undang-undang dasar.
b. Sistem pembagian kekuasaan di dalam undang-undang dasar. Maksudnya
bagaimanakh sistem pembagian kekuasaan antara pemerintah negara federal dengan
pemerintah-pemerintah negara bagian. Pada negara serikat urusan-urusan apa yang
menjadi wewenang atau kekuasaan pemerintah fedrela atu pemerintah negara
gabungannya itu disebutkan satu per satu secara terperinci di dalam undang-undang
dasarnya. Malahan sering juga diadakan suatu lampiran khusus untuk menyebutkan
hal-al atau urusan-urusan yang pengurusnya itu diserahkan kepada, atau menjadi
wewenang pemerintah federal, dan biasanya ini adalah hal-hal atau urusan-urusan
yang menyangkut keperntingan dari semua negara bagian. Periksa misalnya
konstitusi daripada negara kita sendiri pada waktu negara kita ini berbentuk negara
serikat, yaitu konstitusi Republik Indonesia Serikat,. Dengan demikian maka
wewenang atau kekuasaan pemerintah negara-negara bagian hanya dirumuskan
secara umum, atau juga dapat dikatakan merupakan restan daripada wewenang atau
kekuasaan pemerintah federal, artinya apa yang tidak menjadi wewenang atau
kekuasaan pemerintah federal, itulah yang merupakan wewenang atau kekuasaan
pemerintah negara-negara bagian.
Sedangkan pada negara kesatuan yang didesentralisir keadannya adalah sebaliknya.
Di sini apa yang menjadi urusan, wewenang atau kekuasaan pemerintah pusat yang
dirumuskan secara umum, sdangkan urusa, wewenang atau kekuasaan daripada
pemerintah daerah disebutkan atau dirumuskan satu persatu terperinci, Di negara
kita ini misalnya apa yang menjadi urusan pemerintah daerah disebutkan dan
diserahkan secara tegas. jadi apa yang menjadi urusan daerah itulah yang disebutkan
sedangkan sisanya menjadi urusan pusat.

c. Tentang asal kekuasaan asli


Pada negara serikat kekuasaan asli itu berasal dari negara-negara bagian. Oleh
karena setelah negara-negara itu bergabung membentuk suatu ikatan, maka sebgaian
daripada kekuasaan meraka itu diserahkan kepada pemerintah gabungannya,
pemerintah federal. Dan biasanya kekuasaan yang diserahkan ini adlah kekuasaan
yang bersifat umum yang menyangkut kepentingan mereka bersama, maka baiklah
dipustkan supaya tidak ada kesimpangan siuran. Jadi di sini ada semacam kontribusi
kekuasaan dari negar-negara bagian kepad negara federal.
Lagipula perlu diingat dan diperhatikan bahwa di dalam negara serikat ini tidak
mungkin setiap waktu diadakan perubahan kekuasaan pemerintah federal,
pemerintah pusat, karena setiap perubahan kekuasaan pemerintah federal, atau
pemerintah pusat, akan merupakan pula perubahan kekuasaan daripada kekuasaan
pemerintah negara-negara bagian. Selain itu, karena kekuasaan itu asalnya dari
negara-negara bagian, maka pabila akan diadakan perubhan terhadap kekuasaan
pemerintah federal, haruslah mendaptkan persetujuan terlebih dahulu dari
pemerintah-pemerintah negara bagain.
Sedangkan pada negara kesatuan yang didesentraliser kekuasaan asli itu ada pada
pemerintah pusat jadi segala kekuasaan itu berasal dari pemerintah pusat. Kekuasaan
asli yang ada pada pemerintah pusat itu, kemudaian sebagian daripadanya
diserahkan

atau

diberikan

kepada

pemerintah-pemerintah

daerah

untuk

dilaksanakan. Biasanya yang diserhakna kepada pemerintah daerah ini adalah


kekuasaan untuk mengurus hal-hal yang sangat erat hubungannya dngan daerah
yang bersangkutan, lagipula menurut perimbangan tidak akan efektif apabila hal-hal
tersebut diurus oleh pemerintah pusat sendiri. Jadi di sini ada semacam distribusi
kekuasaan dari pusat ke daerah.
d. Tentang kedaulatan.
Biasannya pada kedua negara tersebut kedaulatan ada pada pusat, jadi dapat
dikatakn ada perasamaan, tetapi meskipun demikian kedaulatan yang ada pada
pemerintah pusat daripada negara kesatuan yang didesentraliser lebih kuat daripada
kedaulatan yang ada pada pemerintah pusat daripada negara serikat, terlebih pada
perserikatan negara. karena di sini tiap-tiap negara bagian itu dapat dikatakan
mempunyai kedaultan, baik ke dalam maupun keluar.
5. Perserikatan Bangsa-bangsa
Liga bangsa-bangsa dulu, dan Perserikatan bangsa-bangsa sekrang pun merupakan
subyek hukum, spertinya negara, daripada hukum antar bangsa-bangsa. Perserikatan

bangsa-bangsa yang ada di New York itu sesungguhnya bukanlah merupakan suatu
negara, bukan pula merupakan perserikatan negara, melainkan adalah merupakan suatu
organisasi internasional, organiasasi antar bangsa-bangsa di mana tergabung negaranegara. Organisasi ini dikatakan berdasarkan atas : The proinciple of the souvereign
equality of all its members, dan atas cooperatif.
Masalahnya yang sering timbul ialah, bagamianakh sifat hukumannya daripada
Perserikatn bangsa-bangsa tersebut. Dalam hubungan ini, Sir John Fisher Wiliams, dalam
Suatu ceramahnya di depan International Law Association, dengan judul : the Status of
the League of Nations in International Law, antara lain menyatakan bahwa apabila
masalah sifat hukum daripada Perserikatan bangsa-bangsa itu dikemukakan, secara tidak
salah pula, maka disambutlah kita dengan suara banyak yang serupa, dari pelbagai pihak
yang berkuasa, secara dulu mendahului menyatakan hal-hal tentang ketidakan
organiasi itu.
Perserikatan, bukanlah merupakan negara, bukan pula merupaka negara besar.
Pernyataan ini adalah betul, akan tetaapi hal ini hanya merupakan penyangkalan belaka.
Komentator Inggris yang resmi telah menyatakan tentang perserikatan itu sebagai : a
living organism. Pernyataan ini betul pula, dan dari pernyataan ini dapatlah disimpulkan
bahwa organisai itu, yaitu Perserikatan bangsa-bangsa, mempunyai badan, men-jadi
pendukung hak-hak dan kewjibdan, dan pula mempunyai kekayaan.
Memang demikianlah keadaanya, bahwa Perserikatan bangsa-bangsa itu
mempunyai : pengurus, yang disebut dewn; rapat, yang terdiri atas utusan-utusan
anggauta-anggautanya; pegawai-pegawai sendiri; kantor; sekretariat; dan alat-alat
perlengkapannya tidak dapat diganggu-gugat sepertinya para diplomat. Semuanya itu
dsebutkan dengan tegas di dalam Piagamnya. Piagam daripada Perserikatan bangsabangsa tersebut lahir pada masa perang dunia kedua tanggal 26 Juni 1945, dalam suatu
konperensi internasioanl di San Fransisco. Dan dalam piagam itu pulalah ditetapkan
sebag badan-badan utama daripada Perserikatan bangsa-bangsa ini adalah:
1) General Assembly, atau Majelis Umum. Ini terdiri daripada wakil-wakil negara
anggauta, dan dalam majelis ini setiap negara anggauta mempunyai satu saura.
2) Security Council, atau Dewan Keamanan. ini terdiri daripad lima anggauta tetap,
yang masing-masing memppunyai hak veto, yaitu Amerika Serikat, Inggris,
Perancis, Unie Soviet, dan Tiongkok Nasionalis.
3) Economic and Social Council, atau Dewan Ekonomi dan Sosial. Ini terdiri daripada
18 anggauta yang dipilih oleh majelis umum, untuk jangka waktu 3 tahun, adapun
tugasnya ialah, mengkoordinir aktivitas-aktivitas badan-bdan khusus untuk

memajukan pertumbuhan dan perkembangan ekonomi, sosial, kesejahteraan umum,


dan mengawasi pelaksanaan hak-hak azasi serta kebebasan fundamentuil manusia.
4) Trusteeship Council, atau Dewan Perwakilan. Ini anggotanya terdiri daripada
negara-negara besar, dan mengurus daerah-daerah perwakilan
5) Internatinal Court of Justice, atau Mahkamah International.

Mahkamah ini

berkedudukan di Den haag, Nederland, yang anggauta-anggautanya dipilih oleh


Majelis Umum dan Dewan Keamanan.
6) Secretariat, atau Sekretariat. Sekretariat ini dikepalai oleh seorang Seretaris jenderal,
yang diangkat oleh Majelis Umum atas usul Dewan Keamanan. Dalam menjalankan
tugasnys Sekretqaris Jenderas tadi dibantu oelh staf. Sekretariat ini berfungsi sebagai
international civil service, esbgai pamong praja internasional.
Dalam pasal 1 dari Piagam Perserikatan Bangsa-bangsa disebutkan tentang maksud
dan tujuan daripada organisai itu sendiri, yang mana hal itulah yang sesungguhnya
mendorong untuk berdirinya Perserikatan bangsa-bangsa. Tujuan tersebut adalah :
1) Membebaskan manusia dari ancaman perang. Jadi memlihara peradamaian dan
keamanan internasional, dan mengadakan perhubungan persahabtan antar bagnsabangsa.
2) Memulihkan kepercayaan orang atas hak-hak azasi manusia, atas martabat dan nilai
diri manusia, atas hak-hak yang sama antara laki-laki dan perempuan, serta antara
bangsa-bangsa besar dan kecil.
3) Menetapkan syarat-syarat dengan mana dapat dipertahankan hak-hak serta ditaatinya
kewajiban-kewajiban yang timbul dari traktat-traktat serta dari sumber-sumber lain
dari hukum antar bangsa-bangsa.
4) Mendorong kemajuan-kemajuan sosial dan tingkat hidup ke arah yang lebih tinggi
dalam alam kebebasan yang lebih besar.
Negara-negara yang mengadakan perjanjian serta melahirkan piagam tersebut,
disebut original members. Dengan piagam itulah para original members itu secara suka
rela menerima kewajiban-kewajiban mereka sebagai anggauta, dan dalam piagam itu
pulalah ditentukan bahwa : membership is open to all other peace loving which accept
the obligation contains in the chapter, and in the judgment og the organisation, are able
and willing to carry out these obligation (pasal 4).
Ketentuan ini sebenarnya mempunyai arti yang penting. Dia menjamin dengan
kalimatnya yang terakhir itu, sampai pada suatu tingkat tertentu, akan ada homogenitet
dalam organisasi bangsa-bangsa ini.

Permohonan untuk menjadi anggauta diputuskan oleh general assembly sidang


umum atau majelis umum, atas usul dari Security Council, Dewan Keamanan, Jadi
penerimaan itu berdasarkan atas persetujuan organisai ini, karenanya ini adalah
meupakan suatu perbuatan hukum.
Pada Dewan Keamanan dibebankan tanggung-jawab untuk menjaga dan
mempertahankan perdamaian dan keamanan. Anggauta-anggautanya ada sebelas,
masing-masing dan satu suara. lima dari anggauta-anggauta ini adalah anggautaanggauta tetap. Seperti tadi telah disebutkan ialah :Amerika Serikat, Inggris, Unie Soviet,
dan Tiongkok Nasionalis. Anggauta-anggauta yang lain berganti-ganti setiap dua tahun,
dan ini dipilih oleh General Asembly dengan dua pertiga suara, dan diantaranya itu
haruslah ada suara dari anggauta-anggauta tetap semuanya. Jadi dengan demikian tiaptiap anggauta tetap ini mempunyai hak veto.
Sidang umum harus diadakan sekurang-kurangnya satu kali setahun. Dan yang
diselesaikannya adalah segala masalah yang termasuk bidang piagam. Dan Dapat pula
menentukan pula pulu usul. Tetapi Sidang Umum tidak dapat membicarakan masalahmaslah yang secara essensiel adalah termasuk dalam yuridiksi dalam negeri dari suatu
negara anggauta. Sidang Umum terbagi atas enam komisi, yitu :
1) Komisi politik dan keamanan.
2) Komisi ekonomi dan keungan.
3) Komisi sosial, dan kulturil.
4) Komisi trustee.
5) Komisi administrasi dan anggaran.
6) Komisi masalah-masalah hukum.
Adapun azas yang dianut oleh Perserikatan Bangsa-bangsa sebagai mana tercantum
dalam pasal 1 dari Piagamnya ialah bahwa :
1. Perserikatan bangsa-bangsa didirikan atas dasar kedaulatn yang sederajat dari semua
anggauta.
2. Semua anggauta harus melaksanakan dengan etikad baik semua kewajibankewajiban yang telah disetujui sesuai dengan ketentuan Piagam.
3. Sengketa-sengketa internasional akan diselesaikan dengan cara-cara damai
sedemikian rupa sehingga perdamaian, keamanan dan keadilan internasioanl tidak
terganggu.
4. Segenap anggauta tidak akan mengancam atau menggunakan kekerasan terhadap
keutuhan teritorial atau kemerdekaan setiap negara, atau dengan cara lainnya yang
tidak seusia dengan Piagam.
5. Segenap anggauta harus membantu Perserikatan bangsa-bangsa dalam tindakantindaknnya yang diambil berdasarkan ketentuan-ketentuan Piagam. Dan tidak akan
membantu negara mana terhdap siapa dilakukan tindakan-tindakan itu.

6. Perserikatan Bangsa-bangsa harus menjamin agar negara-negara yang bukan


anggauta Perserikan bangsa-bangsa bertindak sesuai dengan azas-azas yang
ditetapkan oleh Perserikatan bangsa-bangasa.
7. Perserikatan bangsa-bangasa tidak akan mengadakan campur tangan dalam maslahmasalah dalam negeri dari setiap negara atau mengharuskan penyelsaian masalah itu
menurut ketentuan-ketentuan Piagam Perserikatan bangsa-bangsa.
Dilihat dari sejararah serta aktivitasnya. Perserikatan bangsa-bangsa lebih baik dan lebih
maju daripada Liga Bangsa-bangsa dulu, terutama dalam menyelesaikan masalahmasalah internasional. Demikianlah mungkin benar ucapan : bila organisai internasional
ini telah ada sebelum meletusnya Perang Dunia Pertama, maka kiranya Perang Dunia
Pertama itu tidak akan terjadi. Mudah-mudahan demikian pulalah halnya dalam
menghadapi keadaan internasional dewasa ini, sehingga Perang Dunia Ketiga dapat
dielakkan. Mudah-mudahan !

Anda mungkin juga menyukai