Anda di halaman 1dari 15

KUAT GESER TANAH

Kuat geser tanah adalah gaya tahanan internal per satuan luas masa untuk menahan
keruntuhan atau gaya perlawanan yang dilakukan oleh butir-butir tanah terhadap
desakan atau tarikan. Dengan dasar pengertian ini, bila tanah mengalami pembebanan
akan ditahan oleh (Hardiyatmo, 2002) :
1. Kohesi tanah yang bergantung pada jenis tanah dan kepadatannya, tetapi tidak
tergantung dari tegangan normal yang bekerja pada bidang geser,
2. Gesekan antara butir-butir tanah yang besarnya berbanding lurus dengan tegangan
normal pada bidang gesernya.
Keruntuhan dapat terjadi karena kombinasi kritis dari tegangan normal dan tegangan
geser dan bukan bagian dari maksimum. Kegunaan kuat geser tanah adalah untuk :
_ Stabilitas lereng
_ Daya dukung tanah
_ Tekanan tanah aktif dan pasif
Factor yang mempengaruhi kuat geser tanah yaitu :

Faktor di Laboratorium :
1. Metode pengujian
2. Gangguan terhadap contoh tanah
3. Kadar air
4. Tingkat regangan
Faktor di Lapangan :
1. Keadaan tanah : angka pori, ukuran dan bentuk butiran
2. Jenis tanah : pasir, berpasir, lempung dsb
3. Kadar air (terutama lempung)
4. Jenis beban dan tingkatnya
5. Kondisi Anisotropis

Kuat geser tanah dibagi menjadi 2 komponen yaitu :

Gesekan intern
Perlawanan gesekan antar butiran. Gaya gesekan terjadi antara gaya normal
dengan koefisien gesek

Kohesi c (litologi lempung)


Perlawanan oleh pelekatan antara butir-butir.
Gaya lekatan = luas bidang x pelekat
S = A. C

friction kohesi soil

Kondisi khusus yaitu :


-

Tanah non cohesive soil C = 0


Tanah cohesive murni = 0

= kuat geser tanah (kN/m2)


c = kohesi tanah
= sudut gesek dalam tanah atau sudut gesek intern (derajat)
-

= tegangan normal pada bidang runtuh (kN/m2)

Tanah tidak terlalu banyak air,tetapi jika banyak jumlahnya diperhitungkan kongsoran
dan tanpa tidak menegalami konsolidasi. Jika tekanan air pori diperhitungkan geseran

yang diperhitungkan addalah tegangan efektif. Akibat nilai c dan berubah menjadi
C dan .

Untuk tanah berbentuk silinder :

Secara analisis :

Secara grafis berupa lingkaran mohr.

Kondisi tanah pecah terjadi bila : gaya kuat geser tanahnya lebih besar
(c + tan )

dalam keadaan kritis

Di Laboratorium
Tanah diberi tekanan yang konstan 3 konstan dana rah vertical diberi beban
1 yang selalu ditambah hingga pecah. Muncul bidang yang perlawanan
gesernya minimum yang diperoleh dari 1 minimum disebut timbul bidang
kritis.

Untuk tanah kohesi murni (

Untuk tanah non kohesi murni ( c = 0)

1 = 3 tg2(45 + )

Untuk c & di laboratorium dihitung dengan rumus :

secara grafis :

Ada beberapa cara untuk menentukan kuat geser tanah, antara lain :
1. Pengujian geser langsung (Direct shear test)
Suatu percobaan untuk memperoleh kuat geser tanah dengan percobaan geser
langsung untuk menentukan nilai kohesi ( C ) dan sudut geser tanah ( ). Dimana
tahanan geser diukur pada suatu cicin uji (proving ring), dan harga maksimum adalah
kekuatan geser tanah pada bidang keruntuhan. Kuat geser tanah ini diperoleh dengan
contoh tanah yang dibebani bermacam-macam beban tekan dan digambar suatu grafik

dari tegangan geser terhadap tegangan tekan, biasanya memberikan suatu grafik garis
lurus.
1. Alat geser langsung (Direct shear apparatus) terdiri dari
- Kotak geser.
- Proving ring
- Perlengkapan beban.
- Cincin dan batu pori.
- Arloji untuk mengukur regangan penggeseran dan penurunan benda uji.
2. Cincin cetak.
3. Stopwacth.
4. Alat pengeluar contoh.
Pesiapan benda uji
Benda uji yang perlu disiapkan untuk pemeriksaan ini sekurang-kurangnya sebanyak
3 buah :
a. Apabila contoh tanah yang diperiksa berupa contoh tanah asli dari tabung contoh
tanah, maka mengeluarkan contoh tanah dengan alat pengeluar contoh tanah (dengan
arah dari ujung ke pangkal tabung contoh) dan mendesak masuk cincin cetak
kemudian potong tanah dan ratakan sehingga contoh tanah rata dengan permukaan
cincin mencetak bagian atas maupun bawah,
b. Apabila yang diperiksa berupa tanah yang dipadatkan dalam laboratorium, maka
dapat digunakan alternatif cara :
1) Memadatkan tanah dalam silinder pemadatan dengan kadar air dan
kepadatan sesuai yang diinginkan. Kemudian mendesak contoh tanah keluar dari
tabung pemadatan masuk kedalam cincin cetak. Memasukkan pelan-pelan sambil
mengiris tanah di luar cincin. Kemudian memotong rata dengan cincin cetak atas dan
bawah,

2) Tanah padat dari silinder pemadatan seperti a, dikeluarkan dari silinder


pemadatan kemudian memotong dan membubut dengan bentuk benda uji yang akan
diperiksa,
3) Contoh tanah dipadatkan tidak dalam silinder pemadatan tetapi langsung
dalam ruang contoh tanah dalam kotak geser dengan kadar air dan kepadatan yang
dikehendaki, dan
c. Memeriksa dan mencatat kadar air dan berat volume contoh tanah.
2. Persiapan Alat
Langkah-langkah persiapan alat yang dilakukan dalam percoban geser langsung
sebagai berikut :
a. Kotak geser terdiri dari 2 bagian, yaitu bagian atas dan bagian bawah. Menyatukan
kedua bagian tersebut dengan sekrup pengunci yang ada,
b. Memasang dan mengatur pada kotak geser berturut-turut,
1) Paling bawah ditempatkan batu pori yang sebelumnya dibuat kenyang air
(direbus dalam air sekitar 15 menit atau direndam dalam waktu 4-8 jam,
2) Memasang diatasnya pelat bergigi dengan gigi menghadap keatas.
membuat arah gigi tegak lurus pada arah geseran. Untuk kondisi ConsolidatedDrained menggunakan pelat bergigi yang berlubang,
3) Memasang/memasukan benda uji (contoh tanah) diatas pelat bergigi
dengan mendorong keluar benda uji dari cincin cetak,
4) Memasang di atasnya lagi plat bergigi kedua (berlubang-lubang) dengan
gigi menghadap ke bawah. Arah gigi tegak lurus arah geseran. Menekan secara rata
pelat ini sehingga gigi pelat bergigi bawah maupun atas tertanam masuk ke dalam
tanah, Mengatur perlengkapan/alat untuk menggeser tanah, sehingga siap untuk
penggeseran termasuk cincin beban (provingring). Mengatur arloji ukur cincin beban
pada pembacaan nol, juga mengatur arloji pengukur pergeseran pada pembacaan nol,
d. Mengatur perlengkapan beban normal diatas pelat penerus beban.Mengatur arloji
pengukur penurunan pada pembacaan nol,

e. Menambahkan pada perlengkapan beban. Beban yang dipasang adalah sedemikin


sehingga jumlah berat beban dan berat rangka penggantung (perhitungan pengaruh
pengungkit) akan memberikan tekanan normal pada benda uji yang diinginkan, dan
f. Setelah beban diberikan, mengisi kotak geser sehingga muka air kira-kira rata
dengan muka atas contoh tanah.
3. Mengkonsolidasikan Tanah
Membiarkan beban normal yang telah dipasang sampai tanah mengalami konsolidasi.
Lamanya tergantung pada jenis tanah, yang untuk tanah berbutir kasar akan cukup 2
jam, yang untuk tanah lempung dapat sampai 24 jam. Selain proses konsolidasi,
mengamati dan mencatat penurunan yang terjadi pada waktu-waktu tertentu, seperti
yang dilaksanakan pada percobaan konsolidasi.
4. Melaksanakan penggeseran
a. Membuka kedua sekrup pengunci kedua bagian kotak atas dan bawah. Sesudah itu
meregangkan kedua bagian kotak ini dengan memutar sekrup peregang sehingga
terdapat keregangan sekitar 0,25 mm atau memutar sekrup peregang sebanyak
setengah putaran dihitung dari saat sekrup mulai menempel bagian bawah. Memutar
kedua sekrup secara bersama-sama. Setelah kedua bagian merenggang melepas kedua
sekrup peregang dan tanah siap digeser,
b. Pada percobaan geser langsung dengan kondisi consolidated drained pergeseran
tanah dilakukan sedemikian pelan, sehingga selama pergeseran air pori sempat
mengalir keluar dari tanah lewat batu pori,
c. Kecepatan pergeseran diambil antara 0,2 mm/menit (untuk tanah pasif) samapi
0,01 mm/menit (untuk tanah lempung ), dan Lebih tepat kecepatan penggeseran
sepanjang 10 % dari diameter/lebar benda uji akan diperlukan selama waktu T,
dimana T=50
t50. t50 adalah waktu untuk konsolidasi 50 % bagi contoh tanah yang diperiksa, yang
dapat dihitung dari hasil,
e. Selama penggeseran membaca dan mencatat arloji ukur cincin beban, arloji ukur
penurunan tanah dan arloji ukur penurunan tanah dan arloji ukur penggeseran tanah,

f. Mengerjakan penggeseran ini sampai gaya geser telah menunjukkan harga yang
konstan atau sampai panjang pergeseran yang terjadi mencapai 10 % diameter/lebar
benda uji,
g.

1) Setelah selesai, mengeluarkan contoh tanah dari kotak geser,


2) Mengadakan lagi pemeriksanaan kadar air tanah yang sudah digeser, dan

5. Melanjutkan pemeriksanaan ini untuk benda uji kedua dan ketiga yang akan
diperiksa dengan mengulangi pekerjaan-pekerjaan tersebut pada B, C, dan D dengan
tekanan normal atau beban yang berbeda. Mengambil beban untuk benda uji kedua
sebesar 2 kali beban pertama dan beban untuk benda uji ketiga sebesar 3 kali beban
pertama.
2. Pengujian tiaksial (Triaksial test)

Tujuan pengujian ini untuk mendapatkan nilai kohesi (c) dan sudut geser dalam tanah
(). Mendapatkan nilai kohesi (c) dan sudut geser dalam tanah () pada pengujian
triaksial ini bisa dengan penggambaran sampul mohr dan rumus kuat geser tanah.
Keterangan : 1 = tekanan sel (kN/m2)
3 = tekanan vertikal total (kN/m2)
= (1 3)/2
= (1 + 3)/2

Alat
Peralatan yang dipergunakan dalam percobaan triaxial adalah sebagai berikut:
1. Sel triaksial dengan diding transparan dan perlengkapannya,
2. Alat untuk memberikan tekanan yang konstan pada cairan dalam sel dengan
ketelitian 0,1 atau 0,05 kg/cm2,
3. Alat kompresi untuk menekan benda uji secara aksial dengan kecepatan yang dapat
diatur antara 0,05 -7,5 mm/menit,
4. Arloji ukur untuk mengukur pemeriksaan pemadatan aksial benda uji,
5. Membran karet yang sesuai dengan ukuran benda uji, alat peregang membran dan
gelang pengikat,
6. Cetakan tanah, gergaji, alat bubut tanah, dan sebagainya, dan
7. Alat pemeriksa kadar air tanah.
Pelaksanaan
Langkah-langkah percobaan triaxial adalah sebagai berikut:
1. Mempersiapkan contoh tanah triaksial Contoh tanah yang disiapkan berbentuk
silinder dengan ukuran tinggi adalah dua kali diameter contoh. Cara membuat
tanah adalah sebagai berikut ini:
a. Memasukan cetakan ke dalam tabung contoh,
b. Mengeluarkan tabung cetak beserta contohnya dengan ekstruder dari
tabung contoh,
c. Memotong tanah dengan pisau sesuai dengan cetakan,
d. Meratakan permukaan contoh tanah dan mengeluarkan contoh tanah dari
tabung cetak dengan alat ekstruder, kemudian menimbang beratnya,
2. Pemasangan contoh tanah dengan triaksial Pemasangan contoh tanah dalam
sel triaksial dilaksanakan dengan cara sebagai berikut :
a. Memasang membran karet pada contoh tanah sebelum diuji,
b. Memeriksa membran karet terhadap kemungkinan bocor dan memeriksa
batu pori serta pipa drainase agar tidak terhambat udara atau tersumbat
kotoran, kemudian memasang katup-katup pengatur drainase yang terdapat
pada landasan bagian bawah sel triaksial, yaitu:
1) Sistem tekanan sel
2) Sistem tekanan air pori

3) Sistem tekanan balik


c. Mengisi sistem drainase pada alat ukur tekanan air pori dengan air bebas
udara,
d. Mengatur batu pori dan kertas saring dengan ketentuan sebagai berikut :
1) Menjenuhkan batu pori terlebih dahulu dengan cara merebus batu pori
tersebut hingga mendidih minimal selama 10 menit. Mendinginkan batu pori
yang telah jenuh air sesuai dengan suhu ruangan, kemudian menempatkan
pada bagian alas dan bagian atas contoh tanah,
2) Pada percobaan ini tidak diperlukan kertas saring, karena percobaan ini
tidak memerlukan penjenuhan terlebih dahulu,
e. Memasang contoh tanah dan perlengkapan lain, dengan ketentuan sebagai
berikut :
1) Menempatkan membran karet pada alat peregang membran dan dibalutkan
pada contoh tanah,
2) Membalutkan ujung-ujung membran karet pada alas dan menutup contoh
serta mengikat ujung-ujungnya dengan menggunakan cincin karet berbentuk
lingkaran,
3) Memasang pipa drainase atas dan menjaga letak tutup contoh agar tetap
berada di tengah alas contoh tanah,
4) Memasang sel triaksial,
5) Menurunkan torak pembebanan sampai menyentuh tutup contoh dan
menguncinya agar tidak bergerak,
6) Menjaga contoh tanah agar tidak terbebani melebihi lima persen dari beban
yang dapat meruntuhkan contoh tanah, dan
f. Mengisi sel triaksial dengan air secara perlahan-lahan dengan membuka
katup udara bagian atas. Setelah air penuh, menutup katup udara kembali.
3. Pembebanan pada kondisi tidak berdrainase Selama pembebanan, tekanan sel
harus selalu konstan. Drainase tidak diperbolehkan dalam pengujian ini dan
pembebanan aksial lewat piston ditingkatkan secara perlahan lahan. Proses
pengujian dilakukan dengan langkah langkah sebagai berikut :
a. Tahap persiapan
1) Menutup klep tekanan sel (CIA) dan klep tekanan balik (C2A) serta klep
drainase pada sel triaksial, dan
2) Menyetel alat ukur beban aksial dan piston triaksial dijaga tetap sentris
terhadap mesin pembebanan.
b. Tahap pembebanan vertical

1) Menggerakkan landasan mesin pembebanan vertical ke atas hingga torak


menyentuh alat ukur beban aksial (proving ring),
2) Membuka pengunci torak dan gerakan landasan mesin pembebanan vertical
keatas sehingga torak menyentuh tutup atas pada contoh tanah,
3) Pada saat itu, arloji ukur dari cincin pengukur beban aksial yang ditunjukan
pada mesin pembaca digital sudah menunjukan beban gesekan piston dan
tekanan sel, Menghilangkan beban tersebut dengan koreksi atau dengan
menyetel arloji ukur sampai nol dan diikuti dengan mereset ulang mesin
pembaca digital, dan
5) Menyetel arloji ukur perpindahan vertikal hingga menyentuh dudukan
arloji pengukur gerakan vertikal.
c. Untuk mencari laju regangan dan perpindahan dapat menggunakan
persamaan 12.2,
d. Tahap melakukan dan pembacaan pergeseran.
1) Menyiapkan formulir pengujian geser,
2) Menekan tombol untuk menggerakan mesin pembebanan,
3) Melakukan pembacaan pada mesin pembaca digital, yaitu manometer
tekanan air pori, perubahan volume, nilai pembebanan dan penurunan yang
terjadi, dan
4) Pembacaan dilakukan setiap peningkatan gerak vertkal 0,25 milimeter
sampai contoh tanah mengalami keruntuhan.
e. Tahap setelah pergeseran dengan melakukan cara sebagai berikut ini :
1) Menurunkan tekanan pori, tekanan sel dan tekanan balik hingga nol,
kemudian mengeluarkan air dari sel triaksial,
2) Menutup semua katup sel triaksial,
3) Melepaskan contoh tanah dan membran karetnya dari alas bawah,
kemudian mengeluarkan contoh tanah dari membran karet, dan
4) Menimbang contoh tanah untuk mendapatkan berat dan kadar air.

3. Pengujian tekan bebas (Unconfined compression test)


Bowles, 1989. Teori pemadatan pertama kali dikembangkan oleh R.R. Proctor. Empat
variabel pemadatan tanah yang didefinisikan oleh Proctor, yaitu usaha pemadatan
atau energi pemadatan, jenis tanah (gradasi, kohesif atau tidak kohesif, ukuran
partikel dan sebagainya), kadar air dan berat isi tanah. Oleh karena itu, prosedur

dinamika laboratorium yang standar biasanya disebut dengan uji Proctor. Tujuannya
adalah untuk menentukan kuat tekan bebas tanah kohesif. Pemeriksaan kuat tekan
bebas dapat dilakukan pada tanah asli atau contoh tanah padat buatan, dan Kuat tekan
bebas adalah besarnya tekanan axial (kg/cm2), yang diperlukan untuk menekan suatu
silinder tanah sampai pecah atau besarnya tekanan yang memberikan perpendekan
tanah sebesar 20
%, apabila sampai dengan perpendekan 20 % tersebut tanah tidak pecah.
Benda yang diuji :
Benda uji berupa tanah kohesif berbentuk silinder. Tinggi silinder harus antara 2-3
kali diameter. Diameter minimum benda uji adalah 3,3 cm. Apabila diameter benda
uji < 7,1 cm, butir tanah terbesar yang diijinkan adalah 1/10 kali diameter benda uji,
sedang bila diameter benda uji > 7,1 cm butir tanah terbesar yang diijinkan 1/6 kali
diameter. Peralatan yang digunakan dalam percobaan uji tekan bebas antara lain:
1. Alat/mesin penekan tanah,
2. Alat pengeluar contoh tanah dari tabung contoh,
3. Pengukur regangan,
4. Tabung cetak belah,
5. Timbangan dengan ketelitian 0,1 gram,
6. Stopwatch,
7. Alat bubut tanah, dan
8. Alat-alat pemeriksa kadar air, pengukur diameter dan tinggi dan sebagainya.
Pelaksanaan
Langkah-langkah yang dilaksanakan dalam percobaan tekan bebas antara lain sebagai
berikut:
1. Persiapan benda uji
a. Bila contoh tanah yang diperiksa adalah contoh tanah asli dari dalam tabung contoh
yang diameternya sudah sesuai dengan diameter silinder benda uji yang diijinkan,
maka : mengeluarkan contoh tanah dari tabung contoh dengan alat pengeluar contoh
didorong masuk cetakan contoh belah. Mengolesi tipis cetakan contoh dengan

pelumas. Arah mendorongnya harus dari ujung tabung contoh kepangkal (dari bagian
yang tajam). Memotong benda uji rata bagian atas dan bawahnya, kemudian
mengeluarkan /membuka cetakan,
b. Membentuk/memotong contoh tanah dengan pisau atau gergaji kawat, bila contoh
tanah asli ukurannya lebih besar dari diameter silinder benda uji yang diinginkan
Kemudian membubut sehingga didapat ukuran yang dikehendaki,
c. Bila contoh tanah berupa tanah padat buatan, maka dapat berupa:
1. Contoh tanah yang rusak (gagal pada persiapan, pelaksanaan percobaan) dapat
dibentuk kembali dengan memasukkan tanah dalam kantong plastik/karet, meremas
dengan jari sampai rata seluruhnya. Menghindarkan tambahnya udara dalam pori
tanah. Kemudian membentuk kembali dan memadatkan dalam cetakan sehingga
kepadatannya sama dengan aslinya,
2. Contoh tanah padat buatan dapat diperoleh dengan memadatkan contoh tanah
dengan kadar air dan kepadatan yang diinginkan. Pemadatan dapat dilaksanakan pada
silinder pemadatan dan ditumbuk, kemudian tanah didorong masuk tabung contoh
atau dipotong dan dibubut, Pemadatan dapat pula dilaksanakan langsung dalam
cetakan belah sesuai dengan persyaratan yang diinginkan, maka bila diperlukan
sebelum pelaksanaan percobaan, contoh tanah dapat dijenuh terlebih dahulu. Bila
demikian catat dan cantumkan dalam laporan,
d. Mengukur dan mencatat ukuran diameter dan tinggi benda uji,
2. Pembebanan
a. Menempatkan benda uji pada alat tekan, berdiri vertikal dan sentris pada pelat
dasar alat, Mengatur alat tekan, sehingga pelat atas menyentuh benda uji,
b. Mengatur arloji ukur pada cincin beban arloji pengukur regangan pada pembacaan
nol,
c. Mengerjakan alat beban dengan kecepatan 0,5-2 % terhadap tinggi benda uji
permenitnya. Kecepatan ini diperkirakan, sedemikian sehingga pecahnya benda uji
tidak melampaui 10 menit. Mencatat pembacaan arloji pengukur beban dan arloji
pengukur regangan setiap 30 detik,

d. Menghentikan pembebanan apabila tampak beban yang bekerja telah mengalami


penurunan. Jika beban yang bekerja tidak pernah turun, kerjakan pembebanan sampai
regangan/pemendekan benda uji mencapai 20 persen dari tinggi benda uji,
e. Memeriksa kadar air tanah benda uji, Membuat sketsa dan mencatat perubahan
bentuk benda uji. Bila dapat ukur sudut kemiringan bidang pecahnya benda uji, dan
Pelaksanaan pemeriksaan ini (persiapan + pembebanan) dilakukan dalam waktu
secepat-cepatnya, tidak ditunda-tunda agar kadar air tanah tidak berubah karena
penguapan.
DAFTAR PUSTAKA
Noname,

2015

http://edycivil.blogspot.co.id/2015/04/pengujian-triaxial-triaxial-

test.html diakses pada tanggal 23 Maret 2016


Noname, 2011 http://idpoenk.blog.com/2011/05/27/uji-geser-triaxial/ diakses pada
tanggal 23 Maret 2016
Noname,

2012.

https://laporantekniksipil.wordpress.com/2012/07/08/pengujian-

tekan-bebas-tanah/ diakses pada tanggal 23 Maret 2016


Noname,

2011.

http://home-civil.blogspot.co.id/2011/06/uji-geser-langsung.html

diakses pada tanggal 23 maret 2016.