Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

2.1. Latar Belakang


Dalam pembuatan suatu suspensi, kita harus mengetahui dengan baik karakteristik
fase terdispersi dan medium dispersinya. Dalam beberapa hal fase terdispersi
mempunyai afinitas terhadap pembawa untuk digunakan dan dengan mudah dibasahi
oleh pembawa tersebut selama penambahannya. Obat yang tidak dipenetrasi dengan
mudah oleh pembawa tersebut dan mempunyai kecenderungan untuk bergabung
menjadi satu atau mengambang di atas pembawa tersebut.
Dalam hal yang terakhir, serbuk mula-mula harus dibasahi dahulu dengan apa
yang disebut zat pembasah agar serbuk tersebut lebih bisa dipenetrasi oleh medium
dispersi. Alkohol, gliserin, dan cairan higroskopis lainnya digunakan sebagai zat
pembasah bila suatu pembawa air akan digunakan sebagai fase dispersi. Bahan-bahan
tersebut berfungsi menggantikan udara dicelah-celah partikel, mendispersikan partikel
tersebut dan kemudian menyebabkan terjadinya penetrasi medium dispersi ke dalam
serbuk.
Dalam pembuatan suspensi skala besar, zat pembasah dicampur dengan partikelpartikel menggunakan suatu alat seperti penggiling koloid (coloid mill), pada skala
kecil, bahan-bahan tersebut dicampur dengan mortir dan stamper. Begitu serbuk
dibasahi, medium dispersi (yang telah ditambah semua komponen-komponen formulasi
yang larut seperti pewarna, pemberi rasa, dan pengawet) ditambah sebagian-sebagian
ke serbuk tersebut, dan campuran itu dipadu secara merata sebelum penambahan
pembawa berikutnya.
Sebagian dari pembawa tersebut digunakan untuk mencuci alat-alat pencampur
agar bebas dari suspenoid, dan bagian ini digunakan untuk mencukupi volume suspensi
dan menjamin bahwa suspensi tersebut mengandung konsentrasi zat padat yang
diinginkan.
1.2. Tujuan
a. Untuk mengetahui sediaan suspense.
b. Mengetahui proses pembuatan sediaan suspense.

1.3. Manfaat
b.
c.
d.
e.

Mengetahui kekurangan dan kelebihan sediaan suspense


Memahami proses pembuatan suspense
Mengetahui macam-macam golongan sediaan suspensi
Mengetahui bahan yang baik untuk sediaan suspense

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian
Suspensi adalah sediaan cairan yang mengandung partikel padat tidak larut yang
terdispersi dalam fase cair. Sistem terdispersi terdiri dari partikel yang kecil yang
dikenal sebagai fase dispers, terdistribusi keseluruh medium kontinu atau medium
dispersi. Untuk menjamin stabilitas suspensi umumnya ditambahkan bahan tambahan
yang disebut bahan pensuspensi atau suspending agent
Suspeni oral adalah sediaan cair mengandung partikel dapat yang terdispersi
dalam pembawa cair dengan bahan pengaroma yang sesuai dan ditujukan untuk
penggunaan oral. Beberapa suspensi yang diberi etiket sebagai susu atau magma
termasuk dalam golongan ini. Beberapa suspensi dapat langsung digunakan sedangkan
yang lain berupa campuran padat yang harus dikonstitusikan terlabih dahulu dengan
pembawa yang sesuai segera sebelum digunakan.
Suspensi topikal adalah sediaan cair mengandung partikel padat yang terdispersi
dalam pembawa cair yang ditujukan untuk pengguanan pada kulit. Beberapa suspensi
yang diberi etiket sebagai lotio termasuk dalam kategori ini.
Suspensi tetes telinga adalah sediaan cair mengandung partikel-partikel halus yang
ditujukan untuk diteteskan telinga bagian luar.
Suspensi optalmik adalah sedaan cair steril yang mengandung partikel-partikel
yang terdispersi dalam cairan pembawa untuk pemakaian pada mata. Obat dalam
suspensi haru dalam bentu termikronisasi agar tidak menimbulka iritasi atau goresan
pada kornea. Supensi obat mata tidak boleh digunakan bila terjadi massa yang
mengeras atau menggumpal.
Suspensi untuk injeksi adalah sediaan berupa suspensi serbuk dalam medium cair
yang sesuai dan tidak disuntikkan secara intravena atau kedalam larutan spinal.
Suspensi untuk injeksi terkonstitusi adalah sediaan kering dengan bahan pembawa
yang sesuai untuk membentuklaruatan yang memenuhi semua persyaratan untuk
suspensi steril setelah penambahan bahan yang sesuai.

B. Stabilitas suspensi
Salah satu problem yang dihadapu dalam proses pembuatan suspensi adalah
memperlambat penimbunan partikel serta menjaga homo genitas dari partikel. Cara
tersebut merupakan salah satu tindakan untuk menjaga stabilitas suspensi. Beberapa
faktor yang mempengaruhi stabilitas suspensi ialah :
Ukuran partikel
Ukuran partikel erat hubungannya dengan luas penampang partikel tersebut serta
daya tekan keatas dari cairan suspensi itu. Hubungan antara ukuran partikel merupakan
perbandingan terbalik dengan luas penampangnya. Sedangkan antara luas penampang
dengan daya tekan keatas merupakan hubungan linier. Artinya semakin besar ukuran
partikel ukuran partikel semakin kecil luas penampangnya. (dalam volume yang sama).
Sedangkan semakin besar luas penampang partikel daya tekan keatas cairan akan
semakin memperlambat gerakan tersebut dapat dilakukan dengan memperkecil ukuran
partikel.
Kekentalan (viscositas)
Kekentalan suatu cairan mempengaruhi pula kecepatan aliran dari cairan tersebut,
makin kental susu caira kecepatan alirannya makin turun (kecil). Kecepatan aliran dari
cairan tersebut akan mempengaruhi pula gerakan turunnya partikel yang terdapat
didalamnya. Dengan demikian dengan menambah viskositas cairan , gerakan turun dari
partikel yang kekentalan suspensi tidak boleh terlalu tinggi agar sediaan mudah
dikocok dan dituang. Hal ini dapat dibuktikan dengan hukum STOKES
Keterangan : V = kecepatan aliran.
d = diameter dari partikel
= berat jenis dari partikel
o = berat jenis cairan
g = gravitasi
12 n = viskositas cairan

Jumlah partikel (konsentrasi)


Apabila didalam suatu ruangan berisi partikel dalm jumlah besar, maka partikel
tersebut akan susah melakukan gerakkan yang bebas karena sering terjadi benturan
antara partikel tersebut. Benturan itu akan menyebabkan terbentuknya endapan dari zat
tersebut, oleh karena itu makin besar konsentrasi partikel, makin besar kemungkinan
terjadinya endapan partikel dalam waktu yang singkat.

Sifat atau muatan partikel


Dalam suatu suspensi kemungkinan besar terdiri dari beberapa macam campuran
bahan yang sifatnya tidak selalu sama. Dengan demikian ada kemungkinan terjadi
interaksi antar bahan tersebut yang menghasilkan bahan yang sukar larut dalam cairan
tersebut. Karena sifat bahan tersebut sudah mempengaruhi sifat alam. Maka kita tidak
dapat mempengaruhinya.
Stabilitas fisik suspensi farmasi ddidefinisikan sebagai kondisi suspensi dimana
partikel tidak mengalami agregasi dan tetap terdistribusi merata. Bila partikel
mengendap mereka akan mudah tersuspensi kembali dengan pengocokan yang ringan.
Partikel yang mengendap ada kemungkinan dapat saling melekat oleh suatu kekuatan
untuk membentuk agregat dan selanjutnya membentuk compacted cake dan peristiwa
ini disebut caking.
Kalau dilihat dari faktor-faktor tersebut diatas, faktor konsetrasi dan sifat dari
partikel merupakan faktor yang tetap, artinya tidak dapat diubah lagi karena konsentrasi
merupakan jumlah obat yang tertulis dalamresep dan sifat partikel merupakan sifat
alam. Yang dapat diubah atau disesuaikan adalah ukuran partikel dan viskositas.
Ukuran partikel dapat diperkecil dengan menggunakan pertolongan mixer,
homogeniser colloid mill dan mortir. Sedangkan viskositas fase eksternak dapat
dinaikkan denan penambahan zat pengental ini sering disebut sebagai suspending agent
(bahan pensuspensi), umumnya bersifat mudah berkembang dalam air (hidrokoloid).

Bahan pensuspensi atau suspending agent dapat dikelompokkan menjadi dua,


yaitu :
b. Bahan pensuspensi dari alam
Bahan pensuspensi alam dari jenis gom sering disebut gom/hidrokoloid. Gom
dapat larut atau mengembang atau mengikat air sehingga campuran tersebut
membentuk mengikat air sehingga campuran tersebut membentuk mucilago atau lendir.
Dengan terbentuknya mucilago maka viskositas cairan tersebut bertambah dan akan
menambah stabilitas suspensi. Kekentalan mucilago sangat dipengruhi oleh panas, ph
dan fermentasi bakteri.

Hal yang dapat dibuktikan dengan suatu percobaan:


Simpan 2 botol yang berisi mucilago sejenis

Satu botol ditambah dengan asam dan dipanaskan, kemudian keduanya disimpan

ditempat yang sama


Setelah beberapa hari diamati ternyata botol yang ditambah dengan asam dan
dipanaskan mengalami penurunan viskositas yang lebih cepat dibanding dengan botol
tanpa ppemanasan
Termasuk golongan gom adalah :

Acasia (pulvis gummi arabici)


Didapat sebagai eksudat tanaman akasia sp,dapat larut dalam air, tidak larut dalam
alkohol, bersifat asam. Viskositas optimum dari mucilagonya antara pH 5 9. Dengan
penambahan suatu zat yang menyebabkan pH tersebut menjadi diluar 5 9 akan
menyebabkan penurunan viskositas yang nyata. Mucilago gom arab denan kadar 35%
kekentalannya kira-kira sama dengan gliserin. Gom ini mudah dirusak oleh bakteri
sehingga dalam suspensi harus ditambahkan zat pengawet(preservatif).

Chondrus
Diperoleh dari tanaman chondrus crispus dan mamilosa, dapat larut dalam air,
tidak larut dalam alkihol, bersifat alkali. Ekstrak dari chondrus disebut caragen, yang
banyak dipakai oleh industri makanan. Caragen merupakan derivat dari saccharida, jadi
mudah dirusak oleh bakteri, sehingga perlu ditambahkan bahan pengawet untuk
suspensi tersebut.

Tragacanth
Merupakan eksudat dari tanaman astragalus gumnifera. Tragcanth sangat lambat
mengalami hidrasi, untuk mempercepat hidrasi biasanya dilakukan pemanasan,
mucilago tragacath lebih kental dari mucilago dari gom arab.mucilago tragacanth baik
sebagai stabilisator suspensi saja, tetapi bukan sebagai emulgator.

Algin
Diperoleh dari beberapa spesies ganggang laut. Dalam perdagangan terdapat
dalam bentuk garamnya yakni Natrium Alginat. Algin merupakan senyawa organik
yang mudah mengalami fermentasi bakteri sehingga suspensi dalam algin memerlukan
bahan pengawet. Kadar yang dipakai sebagai suspending agent umumnya 1 -2 %.
Golongan bukan gom
Suspending agent dari alam bukan gom adalah tanah liat. Tanah liat yang sering
dipergunakan untuk tujuan menambah stabilitas suspensi ada tiga macam yaitu

bentonite, hectorite dan veegum. Apabila tanah liatdimasukkan kedalam air mereka
akan mengembang dan mudah bergerak jika dilakukan penggojokan. Peristiwa ini
disebut tiksotrofi. Karena peristiwa tersebut, kekentalancairan akan bertambah
sehingga stabilitas dari suspensi menjadi lebih baik.

Sifat ketiga tanah liat tersebut tidak larut dalam air, sehingga penambahan bahan
tersebut kedalam suspensi adalah dengan menaburkannya pada campuran suspensi.
Kebaikan bahan suspensi dari bahan tanah liat adalah tidak dipengaruhi oleh suhu atau
panas dan fermentasi dari bakteri, karena bahan-bahan tersebut merupakan senyawa
anorganik, bukan golongan karbohidrat.
c. Bahan pensuspensi sintesis
Derivat selulosa
Termasuk dalam golongan ini adalah metil selulosa (methol, tylose), karbrsi metil
selulosa (CMC), hidroksi metil selulosa. Dibelakang dari nama tersebut biasanya
terdapat angka atau nomor, misalnya methosol 1500. Angka ini menunjukkan
kemampuanmenambah vislositas dari cairan yang dipergunakan untuk melarutkannya
semakin besar angkanya bearti kemampuannya semakin tinggi. Golongan ini tidak
diabsorbsi oleh usus halus dan tidak beracun sehingga banyak dipakai dalam produksi
makanan. Dalam farmasi selain untuk bahan pensuspensi juga diginakan sebagai
laksansia dan bahan penghancur (disintergator) dalam pembuatan tablet.

Golongan organik polimer


Yang paling terkenal dalam kelompok ini adalah Cabophol 934 (nama dagang
suatu pabrik). Merupakan serbuk putih bereaksi asam, sedikit larut dalam air, tidak
beracun dan tidak mengiritasi kulit,serta sedikit pemakaiannya. Sehingga bahan
tersebut banyak digunakan sebagai bahan pensuspensi. Untuk memperoleh viskositas
yang baik diperlukan kadar 1%. Carbophol sangat peka terhadap panas dan elektrolit.
Hal tersebut akan mengakibatkan penurunan viskositas dari larutannya.
C. Cara mengerjakan obat dalam suspensi
3. Metode pembuatan suspensi
Suspensi dapat dibuat dengan cara :
a. Metode dispersi
Dengan cara menambahkan serbuk bahan obat kedalam mucilago yang telah
terbentuk kemudian baru diencerkan. Perlu diketahui bahwa kadang-kadang terjadi
kesukaran pada saat mendispersi serbuk dalam vehicle, hal tersebut karena adanya

udara, lemak, atau kontaminan pada serbuk. Serbuk yang sangat halus mudah
kemasukkan udara sehingga sukar dibasahi. Mudah dan sukarnya serbuk terbasahi
tergantung besarnya sudut kontak antara zat terdispersi dengan medium. Bila sudut
kontak 90 serbuk akan mengambang diatas cairan . serbuk yang demikian
disebut memiliki sifat hidrofob. Untuk menurunkan tegangan antar muka antar
partikel zat padat dengan cairan tersebut perlu ditambahkan zat pembasah atau
welling agent.
b.

Metode praesipitasi
Zat yang hendak didespersi dilarutkan dahulu dalam pelarut organik yang
hendak dicampur dengan air. Setelah larut dalam pelarut organik diencerkan
dengan larutan pensuspensi dalam air. Akan tetapi endapan halus dan tersuspensi
dengan bahan pensuspensi. Caiaran organik tersebut adalah etanol, propilenglikol
dan polietilenglikol.

4. Sistem pembentukan suspensi


Sistem flokulasi
Dalam sistem flokulasi, partikel terflokulasi terikat lemah, cepat mengendap
dan pada penyimpanan tidak terjadi cake dan mudah tersuspensi kembali.

Sistem deflokulasi
Dalam sistem deflokulasi partikel deflokulasi mengendap dan akhirnya
membentuk sedimen, dimana terjadi agregasi akhirnya terbentuk cake yang keras
dan sulit tersuspensi kembali.
Secara umum sifat-sifat dari partikel flokulasi dan deflokulasi adalah :
Deflokulasi
a. Partikel suspensi dalam keadaan terpisah satu dengan yang lain.
b. Sedimentasi yang terjadi lambat masing-masing partikel mengendap terpisah
dan ukuran partikel adalah minimal.
c. Sedimen terbentuk lambat.
d. Akhirnya sedimen akan membentuk cake yang keras dan sukar terdispersi
lagi.
e. Ujud suspensi menyenangkan karena zat tersuspensi dalam waktu relatif lama.
Terlihat bahwa ada endapan dan cairan atas berkabut.

Flokulasi
a. Partikel merupakan agregat yang bebas.
b. Sedimen terjadi cepat
c. Sedimen terbentuk cepat
d. Sedimen tidak membentuk cake yang keras dan padat dan mudah terdispersi
kembali seperti semula
e. Ujud suspensi kurang menyenangkan sebab sedimentasi terjadi cepat dan
diatasnya terjadi daerah cairan yang jernih dan nnyata

D. Formulasi suspensi
Membuat suspensi stabil secara fisis ada 2 kategori :
Penggunaanstructured vehicle untuk menjaga partikel deflokulasi dalam suspensi

structure vehicle, adalah larutan hidrokoloid seperti tilose, gom, bentonit, dan lain-lain.
Penggunaan prinsip-prinsip flokulasi untuk membentuk flok, meskipun terjadi cepat
pengendapan, tetapi dengan penggojokan ringan mudah disuspensikan kembali.

1.
2.
3.
4.
5.

Pembuatan suspensi sistem flokulasi ialah :


Partikel diberi zat pembasah dan dispersi medium.
Lalu ditambah zat pemflokulasi, biasanya berupa larutan elektrolit, surfaktan atau
polimer.
Diperoleh suspensi flokulasi sebagai produk akhir.
Apabila dikehendaki agar flok yang terjadi tidak cepat mengendap, maka ditambah
stucture vehicle.
Produk akhir yang diperoleh ialah suspensi flokulasi dalam structure vehicle.
Bahan pemflokulasi yang digunakan dapat berupa larutan elektrolit, surfaktan,
atau polimer. Untuk partikel yang bermuatan positif digunakan zat pemflokulasi yang
bermuatan negatif dan sebaliknya. Contohnya suspensi bismuthi subnitras yang
bermuatan positif digunakan zat pemflokulasi yang bermuatan negatif yaitu kalium
fosfat monobase. Suspensi sulfameranzin yang bermuatan positif yaitu AlCl3
(Alumunium trichlorida).
Bahan pengawet
Penambahan bahan lain dapat pula dilakukan untuk menambah stabilitas suspensi,
antara lain penambahan bahan pengawet. Bahan ini sangat diperlukan terutama untuk
suspensi yang menggunakan hidrokoloid alam, karena bahan ini sangat mudah dirusak
oleh bakteri.
Sebagai bahan pengawet dapat digunakan butil para benzoat (1:1250), etil p.

Benzoat (1:14000), nipasol, nipagin 1 %. Disamping itu, banyak pula digunakan


garam komplek dari mercuri untuk pengawet, karena memerlukan jumlah yang kecil,
tidak toksik dan tidak iritasi. Misalnya fenil mercuri nitrat, fenil mercuri chlorida, fenil
mercuri asetat.

1.

2.

3.

4.

E. Penilaian stabilitas suspensi


Volume sedimentasi
Adalah suatu rasio dari volume sedimentasi akhir (Va) terhadap volume mulamula dari suspensi (Vo) sebelum mengendap.
Derajat flokulasi
Adalah suatu rasio volume sedimen akhir dari suspensi flokulasi (Vu) terhadap
volume sedimen akhir suspensi deflokulasi (Voc).
Metode reologi
Berhubungan dengan faktor sedimen dan redispersibilitas, membantu
menentukan perilaku pengendapan, mengatur vehicle dan susunan partikel
untuk tujuan perbandingan.
Perubahan ukuran partikel
Digunakan carafreeze thaw cycling yaitu temperatur diturunkan sampai titik
beku, lalu dinaikkan sampai mencair kembali. Dengan cara ini dapat dilihat
pertumbuhan kristal, yang pokok menjaga tidak terjadi perubahan ukuran
partikel dan sifat kristal.

F. Kelemahan dan Keuntungan suspensi


1. Keuntungan sediaan suspensi antara lain sebagai berikut :
a. Bahan obat tidak larut dapat bekerja sebagai depo, yang dapat
memperlambat terlepasnya obat .
b. Beberapa bahan obat tidak stabil jika tersedia dalam bentuk larutan.
c. Obat dalam sediaan suspensi rasanya lebih enak dibandingkan dalam
larutan, karena rasa obat yang tergantung kelarutannya.
2. Kerugian bentuk suspensi antara lain sebagai berikut :
a. Rasa obat dalam larutan lebih jelas.
b. Tidak praktis bila dibandingkan dalam bentuk sediaan lain, misalnya
pulveres, tablet, dan kapsul.
d. Rentan terhadap degradasi dan kemungkinan terjadinya reaksi kimia antar kandungan
dalam larutan di mana terdapat air sebagai katalisator.

G. Pengemasan dan Penandaan Sediaan

Semua suspensi harus dikemas dalam wadah mulut lebar yang mempunyai tuang
udara diatas cairan sehingga dapat dikocok dan mudah dituang.
Kebanyakan suspensi harus disimpan dalam wadah yang tertutup rapat dan
terlindung dari pembekuan, panas yang berlebihan dan cahaya. Suspensi perlu dikocok
setiap kali sebelum digunakan untuk menjamin distribusi zat padat yang merata dalam
pembawa sehingga dosis yang diberikan setiap kali tepat dan seragam. Pada etiket
harus juga tertera "Kocok Dahulu".
Evaluasi sediaan suspensi.
Penetapan Bobot Jenis
Kecuali dinyatakan lain dalam masing-masing monografi, penetapan bobot jenis
digunakanhanya untuk cairan, dan kecuali dinyatakan lain, didasarkan pada perbandingan
bobot zat diudara pada suhu 25 terhadap bobot air dengan volume dan suhu yang sama. Bila
suhuditetapkan dalam monografi, bobot jenis adalah perbandingan bobot zat di udara pada
suhu yangtelah ditetapkan terhadap bobot air dengan volume dan suhu yang sama. Bila pada
suhu 25 zat berbentuk padat, tetapkan bobot jenis pada suhu yang telah tertera pada masingmasingmonografi, dan mengacu pada air pada suhu 25.Prosedur :Gunakan piknometer
bersih, kering, dan telah dikalibrasi dengan menetapkan bobot piknometer dan bobot air yang
baru dididihkan, pada suhu 25. Atur hingga suhu zat ujilebih kurang 20, masukkan ke
dalam piknometer. Atur suhu piknometer yang telah diisihingga suhu 25, buang kelebihan
zat uji dan timbang. Kurangkan bobot piknometer kosong dari bobot piknometer yang telah
diisi. Bobot jenis suatu zat adalah hasil yangdiperoleh dengan membagi bobot zat dengan
bobot air dalam piknometer. Kecualidinyatakan lain dalam monografi keduanya ditetapkan
pada suhu 25. (FarmakopeIndonesia IV, 1995)
2.
Penetapan Bobot per Mililiter Bobot per milliliter suatu cairan adalah bobot dalam g per ml cairan yang
ditimbang diudara pada suhu 20
0
C, kecuali dinyatakan lain dalam monografi. (Farmakope Indonesia IV,1995)Bobot per ml zat cair ditetapkan
dengan membagi bobot zat cair di udara yang dinyatakandalam g, dari sejumlah cairan yang mengisi piknometer
pada suhu yang telah ditetapkan dengankapasitas piknometer yang dinyatakan dalam ml, pada suhu yang sama.
Kapasitas piknometer ditetapkan dari bobot di udara dari sejumlah air yang dinyatakan dalam g, yang mengisi
piknometer pada suhu tersebut. Bobot 1 liter air pada suhu yang telah ditetapkan bila ditimbangterhadap bobot
kuningan di udara dengan kerapatan 0,0012 g/ml seperti tertera dalam tabel berikut. Penyimpangan kerapatan
udara dari harga tersebut di atas, yang diambil sebagai hargarata-rata, tidak mempengaruhi hasil penetapan yang
dinyatakan dalam Farmakope Indonesia.(Farmakope Indonesia IV, 1995)Suhu Bobot per liter air 20 997,1825
996,0230 994,62(Farmakope Indonesia IV, 1995)3.
HomogenitasHomogenitas dapat ditentukan berdasarkan jumlah partikel maupu distribusi ukuran partikelnya
dengan pengambilan sampel pada berbagai tempat (ditentukan menggunakanmikroskop untuk hasil yang lebih
akurat). Jika sulit dilakukan atau membutuhkan waktu yanglama, homogenitas dapat ditentukan secara visual.

(Farmakope Indonesia IV, 1995)Pengambilan sampel dapat dilakukan pada bagian atas, tengah, atau bawah.
Sampelditeteskan pada kaca objek kemudian diratakan dengan kaca objek lain sehingga terbentuk lapisan tipis .
(Farmakope Indonesia IV, 1995)Suspensi yang homogen akan memperlihatkan jumlah atau distribusi ukuran
partikel yangrelative hampir sama pada berbagai tempat pengambilan sampel (suspense dikocok
terlebihdahulu). (Farmakope Indonesia IV, 1995)4.
Volume TerpindahkanUji berikut dirancang sebagai jaminan bahwa larutan oral dan suspense yang
dikemasdalam wadah dosis ganda, dengan olume yang tertera pada etiket tidak lebih dari 250 ml, yang
tersedia dalam bentuk sediaan cair atau sediaan cair yang dikonstitusi dari bentuk padat denganvolume yang
ditentukan, jika dipindahkan dari wadah asli, akan memberikan volume sediaanseperti yang tertera pada etiket.
Untuk penetapan volume terpindahkan, pilih tidak kurang dari 30wadah, dan selanjutnya ikuti prosedur berikut
untuk bentuk sediaan tersebut. Larutan oral,suspensi oral, dan sirup dalam wadah dosis ganda, kocok isi 10
wadah satu persatu. (FarmakopeIndonesia IV, 1995)Serbuk dalam wadah dosis ganda yang mencantumkan
penandaan volume untuk larutanoral atau suspensi oral yang dihasilkan bila serbuk dikonstisusi dengan
sejumlah pembawaseperti tertera pada etiket, konstitusi 10 wadah dengan volume pembawa seperti tertera
padaetiket diukur secara saksama, dan campur. (Farmakope Indonesia IV, 1995)Prosedur : Tuang isi perlahanlahan dari tiap wadah ke dalam gelas ukur kering terpisahdengan kapasitas gelas ukur tidak lebih dari dua
setengah kali volume yang diukur dan telahdikalibrasi, secara hati-hati untuk menghindarkan pembentukan
gelembung udara pada waktu penuangan dan diamkan selama tidak lebih dari 30 menit. Jika telah bebas dari
gelembung udara,ukur volume dari tiap campuran: volume rata-rata larutan, suspensi, atau sirup yang
diperolehdari 10 wadah tidak kurang dari 100%, dan tidak satupun volume wadah yang kurang dari 95%dari
volume yang dinyatakan pada etiket. Jika A adalah volume rata-rata kurang dari 100%tertera pada etiket akan
tetapi tidak ada satu wadahpun volumenya kurang dari 95% dari volumeyang tertera pada etiket, atau B tidak
lebih dari satu wadah volume kurang dari 95%, tetapi tidak kurang dari 90% dari volume yang tertera pada
etiket, lakukan pengujin terhadap 20 wadahtambahan. Volume rata-rata larutan, suspensi, atau sirup yang
diperoleh dari 30 wadah tidak kurang dari 100% dari volume yang tertera pada etiket, dan tidak lebih dari satu
dari 30 wadahvolume kurang dari 95%, tetapi tidak kurang dari 90% seperti yang tertera pada etiket.(Farmakope
Indonesia IV, 1995)
5.
Penetapan KekentalanKekentalan adalah suatu sifat cairan yang berhubungan erat dengan hambatan untuk
mengalir. Kekentalan didefinisikan sebagai gaya yang diperlukan untuk menggerakkan secara
berkesinambungan suatu permukaan datar melewati permukaan datar lain dalam kondisi mapa

BAB III
KESIMPULAN
A. Kesimpulan
Dalam membuat sediaan suspensi kita harus memperhatikan syarat-syarat atau
karakteristik bahan yang akan digunakan sehingga hasilnya memuaskan. Kita juga
harus mengetahui kekurangan dan kelemahan dari sediaan suspensi serta mengetahui
faktor-faktor yang mempengaruhi formulasi pembuatan sediaan farmasi.
B. Saran
Sebagai tenaga kefarmasiaan kita harus mempelajari dan memahami tentang
sediaan suspensi. Karena sangat bermanfaat dalam dunia farmasi yang akan kita geluti.

DAFTAR PUSTAKA
Anief. Moh. 2000. Farmasetika. Gajah Mada University Press : Yogyakarta
Lahman. L, dkk.1994. Teori dan Praktek Farmasi Industri. Edisi III.
UI Press : Jakarta
Soetopo. Seno, dkk. 2001. Teori Ilmu Resep. Jakarta
http://rgmaisyah.wordpress.com/2008/12/03/emulsi/
http://medicafarma.blogspot.com/2008/08/suspensi_28.html
http://wahidrock.blogspot.com/2012/12/suspensi.html
http://pelanginetponsel.com/makalah