Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH

KALKULUS VARIABEL BANYAK DAN PEMBELAJARANNYA


PENGGUNAAN INTEGRAL GANDA

Dosen Pengampu :
Dr. KAMID, M.Si
Dr. SYAIFUL, M.Pd
Dr. JEFRI MARZAL, M.Sc

Disusun Oleh :
NURUL QADRIATI (P2A915004)
YUNI CHAIRUNNISA (P2A915018)

MAGISTER PENDIDIKAN MATEMATIKA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2016

Penerapan Integral Lipat-Dua


1. Massa
Penerapan lain dari integral lipat-dua antara lain adalah menghitung pusat massa,
momen inersia, dan luas permukaan. Tinjaulah sebuah lembaran tipis yang sedemikian
tipisnya sehingga kita dapat memandangnya sebagai objek berdimensi dua, kita
menyebut lembaran ini lamina. Di sini, kita akan mempelajari lamina-lamina dengan
berbagai kerapatan.

Andaikan sebuah lamina menutupi sebuah daerah S pada bidang xy , dan misalkan
kerapatan (massa per satuan luas) di (x , y) disimbolkan dengan

(x,y). Daerah S

dipartisi menjadi persegi panjang-persegi panjang kecil R 1, R2,.... Rk seperti ditunjukkan


pada gambar. Ambil sebuah titik (

k,

Maka massa Rk secara hampiran adalah

) pada R k .

k,

) A(Rk), dan massa total

lamina tersebut secara hampiran adalah

Massa sebenarnya, m diperoleh dengan mengambil limit rumus di atas sebagai norma
partisi mendekati nol, yang tentu saja merupakan sebuah integral lipat dua

Contoh 1 :
Sebuah lamina dengan kerapatan (x,y) = xy dibatasi oleh sumbu x, garis x = 8, dan
kurva
y=x

2/3

. Tentukan massa totalnya.

Penyelesaian :

2. Pusat Massa

Jika m1 , m2 ,......., mn berturut-turut adalah kumpulan titik-titik massa yang masingmasing terletak di (x1,y1) , (x2,y2),......,(xn,yn), maka momen total terhadap sumbu y dan
sumbu x dapat dinyatakan dengan

Lebih lanjut, koordinat ( x , y ) dari pusat massa (titik keseimbangan) adalah

(x,y) yang

Sekarang perhatikan sebuah lamina dengan kerapatan berupa peubah

melingkupi daerah S pada bidang xy. Buat partisi seperti pada gambar dan asumsikan
x

sebagai sebuah hampiran bahwa suatu massa dari setiap R k terpusat di (

k,

),

k = 1,2,.....,n.
Gunakan limitnya sebagai suatu aturan pembagian partisi yang mendekati nol. Cara ini
menghasilkan rumus umum,

Contoh 2 :
Tentukan pusat massa dari lamina pada contoh 1.
Penyelesaian :
Pada contoh 1 kita telah mendapatkan massa m dari lamina yaitu

768
5

Momen My dan Mx yang mengacu pada sumbu y dan sumbu x adalah

Maka,

3. Momen Inersia
Dari pelajaran fisika kita pelajari bahwa energi kinetik, KE , dari sebuah partikel
dengan massa m, dan kecepatan v, yang bergerak dalam sebuah garis lurus dirumuskan
dengan
KE =

1
2

mv2

(1)

Jika suatu partikel tidak bergerak dalam sebuah garis lurus tetapi berputar dalam sebuah
sumbu dengan kecepatan sudut sebesar
linearnya adalah v = r

radian per satuan waktu, maka kecepatan

, dimana r adalah jari-jari dari lintasan perputarannya.

Ketika kita mensubstitusikan ini ke dalam (1) , maka akan di peroleh


KE =

1
2

(r 2 m)

Suku r 2 m di sebut momen inersia dari suatu partikel dan dilambangkan dengan I.
Jadi, untuk sebuah partikel yang berputar
KE =

1
2

(2)

Kita simpulkan dari (1) dan (2) bahwa momen inersia dari benda dalam gerak berputar
memainkan peranan yang serupa dengan massa benda dengan gerak linear.
Untuk sebuah sistem dengan n partikel pada suatu bidang dengan massa m 1 , m2 ,.......,
mn dan pada jarak-jarak r1 , r2 ,.........., rn dari garis L, maka momen inersia sistem
terhadap L di definisikan sebagai

Dengan kata lain, kita melakukan penjumlahan momen inersia dari setiap partikel.
Misalnya sebuah lamina dengan kerapatan

(x,y) yang melingkupi daerah S pada

bidang xy. Jika kita mempunyai partisi S, membuat hampiran untuk momen inersia dari
setiap bagian Rk , menjumlahkan dan menentukan limitnya, maka akan diperoleh
rumus-rumus berikut.
Momen Inersia (disebut juga momen kedua) dari suatu lamina terhadap sumbu x,
sumbu y, dan sumbu z dinyatakan dengan,

Contoh 3 :
Tentukan momen inersia terhadap sumbu x, y, dan z dari lamina pada contoh 1.
Penyelesaian :

4. Luas Permukaan
Pada materi ini, kita akan membahas mengenai luas permukaan yang didefinisikan
dengan z = f(x , y) atas sebuah daerah spesifik. Andaikan G adalah permukaan atas
sebuah daerah S yang tertutup dan terbatas pada bidang xy. Asumsikan bahwa f
mempunyai turunan-turunan parsial pertama kontinu fx dan fy.
Kita akan mulai dengan membuat partisi P pada daerah S dengan garis-garis sejajar
dengan sumbu x dan sumbu y (Gambar kiri).
Misalkan Rm , m = 1,2,.....,n, menyatakan persegi panjang-persegi panjang yang
dihasilkan dan terletak sepenuhnya di dalam S. Untuk setiap m, misalkan Gm adalah
bagian dari permukaan yang diproyeksikan ke Rm , dan misalkan Pm adalah suatu titik
dari Gm yang diproyeksikam ke sudut Rm dengan koordinat x dan koordinat y yang
terkecil. Misalkan Tm menyatakan suatu jajaran genjang dari bidang singgung di P m
yang diproyeksikan ke Rm seperti ditunjukkan pada gambar kiri, dan perincian
selanjutnya ditunjukkan pada( Gambar kanan).
Selanjutnya kita mencari luas jajaran genjang Tm

yang proyeksinya adalah Rm .

Misalkan um dan vm menyatakan vektor-vektor yang membentuk sisi-sisi Tm . Maka

Luas jajaran genjang Tm adalah |um vm| di mana:

Dengan demikian, luas Tm adalah

Kemudian, jumlahkan luas dari bidang-bidang singgung jajaran genjang Tm ini, m =


1,2,...,n, dan ambil limitnya agar diperoleh luas permukaan G.

Singkatnya,

Gambar diatas dibuat seolah-olah daerah S pada bidang xy adalah sebuah persegi
panjang, tapi prakteknya tidak selalu demikian. Gambar berikut memperlihatkan apa
yang terjadi ketika S bukan merupakan sebuah persegi panjang.

Contoh 1 :
Jika S adalah daerah persegi panjang pada bidang xy yang dibatasi oleh garis x = 0,
= 1, y = 0 dan y = 2, tentukan luas dari bagian permukaan silindris z =

4x 2

x
yang

diproyeksikan ke S.

Contoh 2.
Tentukan luas permukaan z = x2 + y2 di bawah bidang z = 9

Penyelesaian :
Bagian G (yang diarsir) dari permukaan tersebut di proyeksikan ke daerah melingkar S
di dalam lingkaran x2 + y2 = 9. Misalkan f(x,y) = x2 + y2 maka fx = 2x, fy = 2y, dan

Bentuk S menyarankan kita untuk menggunakan koordinat kutub.