Anda di halaman 1dari 15

2002 -2016

Perkembangan Kota & Transportasi Perkotaan


Studi Kasus Kota Banda Aceh

Dwi Fitrianingsih
08141001

Mata Kualiah Perencanaan Transportasi

1. Pendahuluan
1.1

Latar belakang
Secara geografis Kota Banda Aceh memiliki posisi sangat strategis yang

berhadapan dengan negara-negara di Selatan Benua Asia dan merupakan pintu


gerbang Republik Indonesia di bagian Barat. Kondisi ini merupakan potensi yang
besar baik secara alamiah maupun ekonomis, apalagi didukung oleh adanya
kebijakan pengembangan KAPET (Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu)
dan dibukanya kembali Pelabuhan Bebas Sabang, serta era globalisasi (RTRW
Kota Banda Aceh 2009 2029).
Letaknya yang dekat dengan pesisir, membuat Kota Banda Aceh menjadi
salah satu kota yang terdampak sangat parah oleh bencana tsunami pada tahun
2004. Berkembangnya Kota Banda Aceh dalam kurun waktu 3 tahun setelah
tsunami telah menumbuhkan pusat-pusat pelayanan baru yang berpengaruh
terhadap pertumbuhan kegiatan perekonomian khususnya kegiatan perdagangan
dan jasa. (Dr. Tonny Judiantono, 2007).
Perkembangan Kota Banda Aceh seiring dengan berjalannya masa
rehabilitasi dan rekonstruksi yang berlangsung menjadikan suasana kota menjadi
semakin pesat kemajuannya. Hal ini menuntut adanya sarana dan prasarana
transportasi yang memadai, karena peranan transportasi tidak hanya dapat
melancarkan perpindahan barang dan mobilitas manusia, tetapi juga dapat
membantu tercapainya pengalokasian sumber-sumber ekonomi secara optimal.
Dalam perkembangannya, kota akan tumbuh dan berkembang mengisi
ruang - ruang kota sesuai dengan fungsinya. Dalam proses perkembangannya
menimbulkan pergerakan secara internal pada masing masing ruang dengan
fungsi kegiatan tertentu. Oleh karena itu, kota akan semakin berkembang dan
akan membentuk pola tersendiri sesuai dengan kegiatan yang terjadi di kota
tersebut. (Nazarul Khairi, 2004).

Mata Kualiah Perencanaan Transportasi


Dalam laporan ini akan dibahas mengenai perkembangan sistem
transportasi Kota Banda Aceh dengan perbandingan tahun 2002 dan tahun 2016.
Analisis yang dilakukan antara lain analisis sistem kegiatan, sistem jaringan dan
juga sistem pergerakan.
1.2

Gambaran Umum Kota Banda Aceh


Banda Aceh adalah ibu kota dari Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam,

salah satu provinsi dari Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan status
Daerah Istimewa. Sesuai dengan keputusan Perdana Menteri Republik Indonesia
No. I/Missi/59 tanggal 26 Mei 1959, Aceh menjadi Daerah Istimewa dengan
otonomi yang seluas-luasnya terutama dalam lapangan keagamaan, peradatan
dan pendidikan.
Kota Banda Aceh terletak antara 050 16 15-050 36 16 Lintang Utara
dan 950 16 15 - 950 22 35 Bujur Timur dengan ketinggian rata-rata diatas
permukaan air laut 0,80 meter. Kota Banda Aceh terdiri dari 9 kecamatan, 70
desa dan 20 kelurahan dengan luas 61,36 Km2. Batas-batas wilayah Kota Banda
Aceh sebelah utara adalah Selat Malaka, sebelah selatan dan timur berbatasan
dengan Kabupaten Aceh Besar dan sebelah barat berbatasan dengan Samudera
Indonesia.
2. Analisa
2.1

Wilayah Studi
Lokasi studi berada pada Kecamatan Baiturrahman yang merupakan satu

dari dua pusat kota yang ada di Kota Banda Aceh. Lokasi studi menjadikan
masjid Baiturrahman sebagai central dengan radius sekitar 1 1,5 km dari
masjid. Masjid Baiturrahman sendiri merupakan masjid besar yang menjadi salah
satu pusat kegiatan Kota Banda Aceh.

Mata Kualiah Perencanaan Transportasi

Gambar 1. Wilayah Studi yang merupakan salah satu pusat Kota Banda Aceh
Sumber : RTRW Kota Banda Aceh 2009 - 2029

Mata Kualiah Perencanaan Transportasi


Daerah yang dijadikan wilayah studi merupakan salah satu pusat Kota
Banda Aceh. Untuk lebih detail mengenai wilayah studi yang akan dianalisis
dilakukan dengan batasan fisik, yaitu :

2.2

Utara

: Sungak Kreung Aceh, Jalan Diponogoro.

Selatan

: Jalan Nyak Adam Kamil II

Timur

: Jalan Teuku Chik Di Tiro, Jalan Teuku Muhammad Hasan

Barat

: anak Sungai Kreung Aceh.

Analisa Sistem Kegiatan


Analisa sistem kegiatan dilakukan dengan mengidentifikasi kegiatan

kegiatan apa saja yang berada pada kawasan studi melalui peta landuse wilayah
studi. Analisisi sistem kegiatan ini dilakukan untuk mengetahui kegiatan yang
menjadi bangkitan dan kegiatan yang menjadi tarikan.

Gambar 2. Overlay penggunaan lahan dengan citra satelit tahun 2002

Sumber : Hasil analisis, 2016


Gambar 2. Overlay penggunaan lahan dengan citra satelit tahun 2002

Sumber : Hasil analisis, 2016

Mata Kualiah Perencanaan Transportasi


Pada tahun 2002, hanya terdapat satu kawasan CBD di Kota Banda Aceh
yaitu disekitar Masjid Baiturrahman yang menjadi lokasi studi. Pada wilayah studi
penggunaan

lahan

terbangun

terdiri

dari

permukiman,

perkantoran

(pemerintahan dan bangunan umum), pelayanan sosial, serta perdagangan dan


jasa. Selain lahan terbagun, pada wilayah studi juga terdapat lahan tidak
terbangun pada tahun 2002.

Gambar 3. Overlay penggunaan lahan dengan citra satelit tahun 2016

Sumber : Hasil analisis, 2016

Pasca tsunami, perkembangan struktur kota memunculkan pusat aktivitas


baru diwilayah selatan Kota Banda Aceh. Sehingga pada tahun 2016 terdapat
dua kawasan CBD, yaitu kawasan pusat kota lama dan pusat kota baru. Hal ini
mengakibatkan perkembangan struktur menjadi Multiple Nuclei dengan banyak
pusat kota.
Pada tahun 2016, penggunaan lahan di wilayah studi terjadi beberapa
perubahan. Ketika sebelumnya terdapat lahan yang belum terbangun, saat ini
sudah tidak ada lagi lahan kosong. Selain itu, pada tahun 2016 muncul kawasan
permukiman diwilayah CBD.
5

Mata Kualiah Perencanaan Transportasi


Tabel 1. Perbandiangan Sistem Kegiatan Kota Banda Aceh

2002

2016

Struktur ruang

Konsentris

Multiple Nuclei

Jumlah
pusat kota
T
Kegiatan
di CBD
a

Satu pusat kota

Dua pusat kota

kantor pemerintahan dan kantor pemerintahan dan

bangunan umum.

Perdagangan

dan

jasa, Perdagangan dan jasa,


bangunan umum,
permukiman

Sumber : Hasil Analisis, 2016

2.3

Analisis Sistem Jaringan


Sebagai pusat Kota Banda Aceh, perkembangan struktur kota pada

wilayah studi bersifat konsentris dan radial sepanjang sungai Kreung Aceh dan
jalan-jalan utama. Jalan utama yang menunjukkan perkembangan kota relatif
pesat adalah Jalan Iskandar Muda, Jalan Teuku Chik Di Tiro, Jalan Dr. Ir. Moh.
Hasan, Jalan Teuku Umar.
Pola jaringan jalan yang terbentuk di Kota Banda Aceh secara umum
adalah jenis radial dan grid. Pola jenis radial dibentuk oleh jalan-jalan utama
yang menghubungkan pusat kota dengan wilayah pinggiran, yaitu Jalan Teuku
Umar, Jalan Tgk. Daud Beureueh dan Jalan Teuku Nyak Arief, Jalan Iskandar
Muda, Jalan Teuku Chik Di Tiro. Pusat jaringan jalan tersebut terletak di pusat
kota sehingga mengakibatkan intensitas lalu lintas kawasan relatif lebih tinggi
disbandingkan dengan wilayah sekitarnya. Sedangkan pola jalan jenis grid di
kawasan pusat kota, kawasan permukiman, dan kawasan kegiatan lainnya.
Terbentuknya pola jaringan jalan radial yang berorientasi ke pusat kota ini
dipengaruhi oleh kondisi geografis Kota Banda Aceh yang dialiri oleh sungai
Krueng Aceh. Adanya sungai Krueng Aceh dan banjir kanal yang lebar
menjadikan wilayah kota ini seolah-olah terbelah menjadi tiga bagian dan hanya

Mata Kualiah Perencanaan Transportasi


dihubungkan oleh lima buah jembatan, tiga diantaranya berada di kawasan
pusat kota.
Jalan Arteri Primer
Jalan Arteri Sekunder
Jalan Kolektor

Gambar 4. Jaringan Jalan Kota Banda Aceh

Sumber : Hasil analisis, 2016

Klasifikasi jalan di Kota Banda Aceh terbagi atas beberapa jenis,


diantaranya adalah jalan arteri primer, jalan arteri sekunder, dan jalan kolektor.
Pada gambar diatas jalan arteri primer berwarna biru, merupakan jalan tipe 4/2
D (4 lajur 2 arah dengan median) dengan lebar Right of Way (ROW) atau Ruang
Milik Jalan (Rumija) berkisar antara 30 m sampai 40 m. Jalan yang merupakan
jalan arteri primer pada wilayah studi adalah Jalan Iskandar Muda dan Jalan
Teuku Chik Di Tiro. Untuk jalan arteri sekunder pada gambar diberi warna ungu,
berkisar antara 24 m sampai 30 m dan jalan arteri sekunder yang berada pada
wilayah studi yaitu Jalan Diponogoro, Jalan Muh. Jam, Jalan Lintas Banda Aceh,
Jalan Teuku Umar, Jalan Pahlawan, dan Jalan Nyak Adam Kamil. Kemudian jalan
yang berwana putih merupakan jalan kolektor berkisar antara 16 m sampai 24
m.

Mata Kualiah Perencanaan Transportasi

2.4

Analisa Sistem Pergerakan


Pergerakan masyarakat di Kota Banda Aceh menggunakan kendaraan

bermotor, baik kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. Selain itu,


pergerakan juga dilakukan dengan berjalan kaki dengan memanfaatkan jalur
pendestrian.
A. Moda transportasi yang digunakan
Moda transportasi di Kota Banda Aceh memiliki jaringan pelayanan dalam
dan luar kota. Jaringan pelayanan dalam kota berupa kendaraan umum berupa
angkutan bus Damri, bus mahasiswa, angkutan labi-labi, taksi, dan becak
bermotor. Sedangkan untuk jaringan luar kota dilayani oleh angkutan lintas
provinsi seperti mini bus dan L300, serta bus antarkota.
Secara keseluruhan jumlah angkutan penumpang umum untuk dalam kota
adalah sebanyak 1.012 unit. Kendaraan angkutan umum Kota Banda Aceh
didominasi oleh jenis angkutan labi-labi dengan jumlah sekitar 771 unit atau
sebesar 76,19 % dari jumlah angkutan umum keseluruhan. Berikut jumlah
angkutan umum yang beroperasi di Kota Banda Aceh :
Tabel 2. Jumlah jenis angkutan di Kota Banda Aceh

No.

Jenis Angkutan

Jumlah

1.

Damri

29

2.

Bus Mahasiswa

26

3.

Labi-labi

771

4.

Taksi

47

5.

Becak

139

Sumber : Dinas Perhubungan NAD, tahun 2007

Mata Kualiah Perencanaan Transportasi


Saat ini, rute angkutan penumpang umum di Kota Banda Aceh umumnya
hanya melintasi jalan-jalan utama dalam kota, sedangkan jalan lingkungan
ataupun jalan gampong/desa sebagian besar belum terlayani oleh rute angkutan
penumpang. Angkutan umum yang beroperasi di wilayah studi adalah angkutan
umum labi-labi dan bus mahasiswa.

Gambar 5. Angkutan Labi-labi


Sumber : RTRW Kota Banda Aceh 2009 2029

Labi-labi merupakan angkutan umum roda empat yang sangat khas di


Kota Banda Aceh. Rute resmi labi-labi di Kota Banda Aceh terdiri dari 11 rute,
yang terbagi ke dalam beberapa kelompok tujuan. Tetapi rute yang berada pada
wilayah studi hanya ada 6 rute, yaitu :
Tabel 3. Rute Labi-labi pada wilayah studi

Nomor Nama Rute

Jalan yang dilalui


Keutapang Dua Jl. Jend Sudirman Jl. T

03A

Terminal APK Keudah


Keutapang Dua, PP

Umar Jl. ST Iskandarmuda Jl. A Madjid


Ibrahim I Jl. Panglateh Jl. Taman
Siswa Jl. Tentara Pelajar Masuk
Terminal APK Keudah.

04A

Terminal APK Keudah


Lamteumen, PP

Lamteumen Jl. Cut Nyak Dhien Jl. T


Umar Jl. ST Iskandarmuda Jl. A Madjid
Ibrahim I Jl. Panglateh Jl. Merduati -

Mata Kualiah Perencanaan Transportasi


Jl. Tentara Pelajar Masuk Terminal APK
Keudah.
Lamlagang Jl. ST Malikul Saleh Jl.
Hasan Saleh Jl. Nyak Adam Kamil II Jl.

Belum
Ada

Terminal APK Keudah

Nomor Lamlagang
Trayek

Makam Pahlawan Jl. T Sulaiman Daud


Jl. Nyak Adam Kamil I Jl. T Umar Jl. ST
Iskandarmuda Jl. A Madjid Ibrahim I
Jl. Panglateh Jl. Merduati Jl. Tentara
Pelajar Masuk Terminal APK Keudah.
M i b o Jl. Wedana - Jl. ST Malikul Saleh
Jl. Hasan Saleh Jl. Nyak Adam Kamil II
Jl. Makam Pahlawan Jl. T Sulaiman

07B

Terminal APK Keudah M

Daud Jl. Nyak Adam Kamil I Jl. T Umar

I B O, PP

Jl. ST Iskandarmuda Jl. A Madjid


Ibrahim I Jl. Panglateh Jl. Merduati
Jl. Tentara Pelajar Masuk Terminal APK
Keudah.
Tanjung Jl. Tgk Imum Lueng Bata Jl.
Tgk Chik Ditiro Jl. Mohd Jam Jl. Tgk

08B

Terminal APK Keudah

Abu Lam U Jl. ST Iskandarmuda Jl. A

Tanjung, PP

Madjid Ibrahim I - Jl. Panglateh Jl.


Merduati Jl. Tentara Pelajar Masuk
Terminal APK Keudah.
Ulee Lheue Jl. ST Iskandarmuda Jl. A

05A

Terminal APK Keudah


Ulee Lheue, PP

Madjid Ibrahim I Jl. Panglateh Jl.


Merduati Jl. Tentara Pelajar Masuk
Terminal APK Keudah.

Sumber : RTRW Kota Banda Aceh 2009 2029

10

Mata Kualiah Perencanaan Transportasi


Selain labi-labi, pada wilayah studi juga terdapat angkutan umum berupa
bus mahasiswa dengan rute Keudah Batoh. Pengangkutan penumpang bus
mahasiswa ini tidak hanya diperuntukkan bagi mahasiswa tetapi bisa juga
dimanfaatkan oleh penumpang umum yang akan bepergian sesuai dengan asal
tujuan trayek kendaraan, tarif sekali perjalanan sebesar Rp. 1.000,-.
B. Simpul pergerakan
Seperti yang dijelaskan dalam revisi RTRW Kota Banda Aceh, tidak
terdapat titik pergantian moda diwilayah studi berupa terminal, pelabuhan atau
bandara. Namun, pendestrian dimanfaatkan sebagai simpul pergantian angkutan
umum.
Pola pergerakan pedestrian dapat dikelompokan atas dua pola, yakni pola
pergerakan di kawasan pusat kota dan di luar kawasan pusat kota. Pergerakan
di kawasan pusat kota disebabkan fungsi-fungsi pusat kota sebagai kawasan
perdagangan dan perkantoran, rekreasi, kawasan terbuka hijau. Bila dikaitkan
dengan sistem intermoda (Angkutan penumpang umum), sebagian besar
pedestrian di Banda Aceh adalah merupakan kegiatan pendestrian yang terjadi
antara kawasan perumahan dengan simpul perhentian angkutan umum dan
simpul-simpul pergantian moda.
Pergerakan pada wilayah studi terhadap daerah lain di Kota Banda Aceh
merupakan pergerakan Trip Production dan Trip Attraction. Trip Production
merupakan bangkitan perjalanan dari wilayah studi ke wilayah lain. Sedangkan
Trip Attraction merupakan tarikan dari kegiatan pada wilayah studi untuk
membuat perjalanan dari daerah lain menuju wilayah studi.

11

Mata Kualiah Perencanaan Transportasi

Gambar 6. Sistem pergerakan menuju dan berasal dari pusat kota


Sumber : Hasil Analisis, 2016

2.4

Analisis Perubahan Sistem Kegiatan


Sistem Kegiatan pada wilayah studi mengalami perubahan, yaitu

munculnya kawasan permukiman. Perubahan tersebut mempengaruhi sistem


pergerakan. Sistem pergerakan berperan dalam melayani perubahan sistem
kegiatan.

Sedangkan

sistem

jaringan

juga

melayani

perubahan

sistem

pergerakan melalui sistem pergerakan yang didukung oleh sistem jaringan.


SJ
melayani
perubahan
SK

dinamika
perubahan
SK

SP
melayani
perubahan
SK
Gambar 7. Skema perubahan sistem kegiatan
Sumber : Hasil Analisis, 2016

12

Mata Kualiah Perencanaan Transportasi


3. Kesimpulan
Dalam jangka waktu 14 tahun dan setelah terjadi tsunami, pada wilayah
studi terdapat perubahan sistem kegiatan yaitu konversi lahan dari yang
sebelumnya lahan tidak terbangun menjadi kawasan permukiman. Awalnya
struktur kota hanya memiliki satu pusat kota, namun seiring perkembangannya
kini terdapat dua pusat kota.
Dilihat dari pola jaringan dan kerapatannya, sistem jaringan jalan internal
Kota Banda Aceh untuk jalur pergerakan utama sudah cukup memadai, namun
saat ini tidak ditunjang oleh titik pergantian moda sebagai penunjang dari
angkutan umum yang beroperasi.
4. Daftar Pustaka
_____. RTRW Kota Banda Aceh tahun 2009 2029.
_____. Revisi RTRW Kota Banda Aceh 2006 - 2026
Anonim. 2007. Identifikasi Angkutan Umum Kota Banda Aceh. Di akses dari
kotabandaaceh.blogspot.co.id pada tanggal 20 September 2016.
Budiman, Amin. (2009). Konsep Struktur Kota dan Persebaran Fasilitas Pendidikan
dalam Penentuan Rute Angkutan Sekolah di Kota Banda Aceh. Tesis. Universitas
Diponogoro. Semarang.
Judiantono, Tonny. (2008). Estimasi Kebutuhan Angkutan Umum Kota Banda Aceh. Jurnal.
Universitas Islam Bandung. Bandung.
Kamal, Syauqi. (2002). Kajian dan Arahan Pengembangan Jaringan Pelayanan Angkutan
Kota di Kota Banda Aceh. Tesis. Universitas Diponogoro. Semarang.
Khairi, Nazarul. 2004. Kajian Pola Keterkaitan Antara Aksessibilitas Pergerakan dengan
Pusat-pusat Perkotaan di Kota Banda Aceh. Tesis. Universitas Diponogoro.
Semarang.
Ridha, Muhammad. (2014). Sistem Angkutan Umum Damri. Universitas Syiah Kuala.
Darussalam-Banda Aceh.

13

Mata Kualiah Perencanaan Transportasi


Lampiran Pertanyaan dan jawaban saat Presentasi
1. Klasifikasi jalan yang dimaksud adalah jalan apa saja ?
Klasifikasi jalan di Kota Banda Aceh terbagi atas beberapa jenis,
diantaranya adalah jalan arteri primer, jalan arteri sekunder, dan jalan
kolektor.
o Jalan yang merupakan jalan arteri primer pada wilayah studi adalah
Jalan Iskandar Muda dan Jalan Teuku Chik Di Tiro.
o jalan arteri sekunder yang berada pada wilayah studi yaitu Jalan
Diponogoro, Jalan Muh. Jam, Jalan Lintas Banda Aceh, Jalan Teuku
Umar, Jalan Pahlawan, dan Jalan Nyak Adam Kamil.
o Jalan lainnya pada lokasi setudi merupakan jalan kolektor
2. Perubahan struktur kota menjadi multiple nuclei dengan dua pusat kota
apakah karena dampak tsunami atau karena intervensi pemerintah ?
Perubahan kota menjadi memiliki dua pusat kota merupakan pengaruh
dari adanya bencana tsunami pada pesisir kota yang berada di bagian
utara Kota Banda Aceh. Pasca bencana tersebut, kegiatan mulai
dikembangan di daerah selatan yang mencadi cikal bakal pusat kota baru.
hal ini didukung dengan intervensi pemerintah dalam revisi RTRW yang
menjadikan wilayah utara Kota Banda Aceh lebih banyak dimanfaatkan
sebagai buffer zone. Jadi perubahan strktur kota di pengaruhi oleh
bencana tsunami yang didukung oleh intervensi pemerintah.

14