Anda di halaman 1dari 15

SEL LIMFOSIT

Oleh:
Nanda Nabilah Ubay
153112620120100
Kelas Fisiologi Manusia B-Selasa

UNIVERSITAS NASIONAL
BIOLOGI MEDIK 2016/2017

A. Pengertian dan Karakteristik Limfosit


Limfosit adalah sel darah putih yang berjumlah 40 hingga 50% dari sel darah
putih yang jumlah terbesar kedua. Menurut Merk, limfosit terbagi atas sel T, sel B dan
sel pembunuh alami. Sel T dan sel pembunuh alami berperan dalam menyerang sel-sel
asing dan membuat racun sedangkan sel B yakni membuat anti bodi. Limfosit memiliki
1 nukleus dan tidak motil. Fungsi secara umum limfosit adalah membuat anti bodi dan
menjaga kekebalan tubuh.
Limfosit adalah salah satu jenis sel darah putih (leukosit). Limfosit berukuran
kecil, biasanya memiliki diameter 7 sampai 8 mikrometer. Inti (nukleus) dari limfosit
adalah terbuat dari kelompok besar benang tipis yang dikenal sebagai kromatin yang
berwarna keunguan.
Susunan Anatomi Sel Limfosit:
Besarnya sel (7114 mikron): limfosit besar, limfosit sedang, limfosit kecil

Inti Sel:

Letaknya dalam sel

: excentric

Bentuk inti

: oval/bulat dan relatif besar

Warna inti

: biru gelap

Chromatin

: kompak, memadat

Membran inti

: kurang jelas terlihat

Butir inti

: tidak ada

Sitoplasma :

Luasnya/lebarnya

: relatif sempit

Warna sitoplasma

: oxyphil

Perinuklear zone

: umumnya tidak ada

Granula dalam sitoplasma

: tidak ada, kalau ada granula disebut granula azurofilik

Gambar 1. Sel Limfosit


Seperti yang terlihat pada gambar, inti biasanya berbentuk bulat tapi bisa sedikit
menjorok. Inti sel dikelilingi oleh sitoplasma berwarna biru muda yang tipis. Tidak
seperti jenis leukosit lainnya, misalnya basofil dan eosinofil , sitoplasma limfosit
biasanya tidak mengandung partikel yang berupa butiran-butiran kasar.

Gambar 2. A: Limfosit normal besar dengan sitoplasma pucat tanpa granul,


B: Limfosit granular besar dengan butir azurofilik kasar dan sitoplasma jernih

Gambar 3. Sel Limfosit Reaktif


Limfosit reaktif dapat terlihat selama infeksi khususnya infeksi virus, namun
bisa juga dijumpai pada darah normal.

Gambar 4. Limfosit Plasma Biru


Limfosit plasma biru adalah limfosit dengan sitoplasma biru tua dan berukuran
lebih besar. Inti terletak pada salah satu tepi sel, berbentuk bulat oval atau berbentuk
ginjal. Limfosit plasma biru erat kaitannya dengan infeksi virus terutama virus dengue
sehingga bisa membantu untuk menegakkan diagnosis demam berdarah dengue atau
DBD.
B. Fungsi Sel Limfosit

Limfosit merupakan pusat sistem kekebalan

Melindungi tubuh dari infeksi virus

Membantu sel lainnya untuk melindungi tubuh dari infeksi bakteri dan
jamur

Berubah menjadi sel yang membentuk antibodi (sel plasma)

Melawan kanker

Membantu mengatur aktivitas sel lainnya dalam sistem kekebalan.

C. Jenis Sel Limfosit


Ada dua jenis limfosit yaitu limfosit T dan limfosit B. Sel T dan sel B berbeda
dalam fungsi dan molekul yang ada di permukaannya.
Karakteristik dan Fungsi Limfosit T
Sel T (limfosit T) adalah jenis limfosit yang beredar melalui kelenjar timus dan
telah berubah menjadi sel-sel yang dikenal sebagai thymocytes (sel-sel yang telah
berkembang di kelenjar timus). Kelenjar timus adalah organ yang terletak di bagian atas
dada dan sangat penting dalam memproduksi zat yang melindungi tubuh terhadap
penyakit. Ketika thymocytes terpapar antigen (zat/organisme asing misalnya bakteri dan
virus), maka dengan cepat akan membelah dan menghasilkan sejumlah besar sel T baru
yang sensitif terhadap jenis antigen. Lebih dari 80% dari limfosit dalam sirkulasi darah
adalah limfosit T. Ada dua jenis utama sel T, yaitu sel T killer sel pembunuh (juga
dikenal sebagai Sel T sitotoksik) karena mereka menghasilkan zat kimia yang dikenal
sebagai limfokin yang penting dalam membantu sel B menghancurkan zat-zat asing.
Jenis sel T satunya yaitu sel T helper. Sel T helper membantu sel T sitotoksik dalam
melakukan kegiatannya dan membantu melindungi tubuh terhadap penyakit dengan cara
lain.
Karakteristik dan Fungsi Limfosit B
Sel B (juga dikenal sebagai limfosit B) merupakan jenis limfosit yang beredar
dalam darah orang dewasa. Sekitar 10% dari darah putih yang beredar adalah limfosit
B. Sel B ini berfungsi memproduksi protein yang dikenal sebagai antibodi yang
kemudian berperan untuk membasmi mikroorganisme jahat yang telah dikenali
sebelumnya. Proses limfosit B melindungi tubuh seperti itu dikenal sebagai kekebalan
humoral, karena sel-sel B melepaskan antibodi ke dalam cairan (juga dikenal sebagai
humor) dari tubuh. Proses inilah yang telah dimanfaatkan sebagai upaya pencegahan
penyakit infeksi melalui vaksinasi.

D. Perkembangan Sel Limfosit


Limfosit berasal dari sel tunas dari sumsum tulang, dan berdiferensiasi pada
organ limfoid sentral. Organ limfoid sentral dapat berupa timus dan sumsum tulang. Sel
T berdiferensiasi pada timus dan sel B berdiferensiasi pada sumsum tulang. Sel-sel
limfosit bermigrasi dari organ sentral menuju sirkulasi darah dan dibawa menuju organ
limfoid sekunder atau disebut organ limfoid periferal. Yang termasuk organ limfoid
sekunder itu adalah: lymph node, spleen, limfoid mukosa, Payers patches, dan
appendix. Organ limfoid periferal merupakan tempat terjadinya aktivasi limfosit
oleh

antigen.

Limfosit

keluar-masuk pembuluh darah dan organ ini sampai

menemukan antigen. Pembuluh limfa menarik cairan ekstraselluler dari jaringan


periferal melalui lymph node dan masuk pada thoracic duct (duktus thoracic), dan
mencurahkan cairan yang dibawa itu masuk dalam vena subclavian kiri. Cairan yang
berasal dari ekstraselluler itu disebut lymph, yang membawa antigen menuju lymph
node dan membawa kembali limfosit dari lymph node menuju ke sirkulasi darah.
Jaringan

limfoid

juga

berasosiasi

dengan mukosa contohnya

yang

terletak

sepanjang saruran bronkus pada paru.


Pengolahan pendahuluan limfosit T dan limfosit B
Walaupun semua limfosit tubuh berasal dari sel stem yang membentuk limfosit
di embrio, sel stem ini sendiri tidak mampu membentuk limfosit T teraktifasi atau
antibodi. Sebelum melakukan hal itu, mereka harus dideferensiasi lebih lanjut pada
tempat pengolahan yang tepat didalam timus atau tempat pengolahan sel B. Kelenjar
timus

melakukan

pengolahan

pendahuluan

terhadap

limfosit

T.

Setelah

pembentukannya di sumsum tulang, mula-mula bermigrasi ke kelenjar timus. Disini


limfosit T membelah secara cepat dan pada waktu yang bersamaan membentuk
keanekaragaman yang ekstrim untuk bereaksi melawan berbagai antigen yang spesifik.
Artinya, tiap satu limfosit dikelenjar timus membentuk reaktifitas yang spesifik untuk
melawan satu antigen.
Kemudian limfosit berikutnya membentuk spesifisitas melawan antigen yang
lain. Hal ini terus berlangsung sampai terdapat bermacam-macam limfosit timus dengan
reaktifitas spesifik untuk melawan jutaan antigen yang berbeda-beda.

Berbagai tipe limfosit T yang diproses ini sekarang meninggalkan timus dan
menyebar ke seluruh tubuh untuk memenuhi jaringan limfoid di setiap tempat. Timus
juga membuat ketentuan bahwa setiap limfosit T yang meninggalkan timus tidak akan
bereaksi terhadap protein atau antigen lain yang terdapat dijaringan tubuhnya sendiri.
Sebaliknya, limfosit T akan dimatikan oleh tubuh hanya dalam waktu beberapa hari.
Timus menyeleksi limfosit T yang akan dilepaskan, yaitu pertama-tama dengan
mencampurkannya dengan semua antigen-sendiri yang spesifik yang berasal dari
jaringan tubuhnya sendiri. Jika limfosit T bereaksi, ini akan dihancurkan dan
difagositosis, tetapi yang tidak bereaksi akan dilepaskan, inilah yang terjadi pada
sebanyak 90% sel. Jadi yang akhirnya dilepaskan hanyalah sel-sel yang bersifat
nonreaktif terhadap antigen tubuhnya sendiri. Malahan hanya dapat melawan antigen
dari sumber di luar tubuh, seperti dari bakterium, toksin, atau bahkan jaringan yang
ditransplantasikan dari orang lain.
Hati dan sumsum tulang melakukan pengolahan pendahuluan bagi limfosit B.
Lebih sedikit lagi yang diketahui mengenai rincian pengolahan pendahuluan limfosit B
daripada yang diketahui mengenai limfosit T. Pada manusia limfosit B diketahui diolah
lebih dulu di hati selama pertengahan kehidupan janin, dan di sumsum tulang selama
masa akhir janin dan setelah lahir. Limfosit B berbeda dengan limfosit T dalam dua hal:
Pertama, berbeda dengan seluruh sel yang membentuk reaktifitas terhadap antigen,
seperti yang terjadi pada limfosit T, maka limfosit B secara aktif mengekresi antibodi
yang merupakan bahan reaktif. Bahan ini berupa molekul protein yang besar yang
mampu berkombinasi dengan dan menghancurkan bahan antigenik. Kedua, limfosit B
bahkan memiliki lebih banyak keanekaragaman dari pada limfosit T, jadi membentuk
banyak sekali sampai berjuta-juta dan bahkan bermiliar-miliar antibodi tipe limfosit B
dengan berbagai reaktifitas yang spesifik. Setelah diolah lebih dulu, limfosit B seperti
juga limfosit T, bermigrasi ke jaringan limfoid diseluruh tubuh dimana mereka
menempati daerah yang sedikit lebih kecil dari pada limfosit T.
Terdapat berjuta-juta limfosit B dan limfosit T yang mampu membentuk
antibodi yang sangat spesifik atau sel T bila dirangsang oleh antigen yang sesuai.
Masing-masing limfosit ini hanya mampu membentuk satu jenis antibodi atau satu jenis
sel T dengan satu macam spesifisitas. Begitu limfosit spesifik diaktifkan oleh

antigennya, maka ia akan berkembang dengan baik membentuk banyak sekali limfosit
turunan. Bila limfosit itu adalah limfosit B, maka turunannya kemudian akan
mengekresi antibodi yang kemudian bersirkulasi diseluruh tubuh. Dan bila limfosit
tersebut adalah limfosit T, maka turunannya adalah sel T yang rentan yang akan
dilepaskan kedalam cairan limfe dan diangkut ke dalam darah, kemudian disirkulasikan
ke seluruh cairan jaringan dan kembali lagi ke dalam limfe, sirkulasi dalam lingkaran ini
kadang-kadang terjadi selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun.
Mekanisme untuk mengaktifkan suatu klon limfosit
Setiap klon limfosit hanya responsif terhadap satu tipe antigen tunggal (atau
terhadap beberapa antigen yang sifat stereokimianya hampir sama). Alasannya adalah
sebagai berikut: pada limfosit B, pada permukaan setiap membran selnya terdapat kirakira 100.000 molekul antibodi yang hanya akan bereaksi secara sangat spesifik terhadap
satu macam antigen spesifik saja. Jadi bila ada antigen yang cocok, maka antigen ini
segera melekat pada membran sel, keadaan ini akan menimbulkan proses aktifasi. Pada
permukaan membran limfosit sel-T nya terdapat molekul yang sangat mirip dengan
antibodi, yang disebut protein reseptor permukaan (atau penanda sel T), dan ternyata
protein ini juga bersifat sangat spesifik terhadap satu macam antigen tertentu yang
mengaktifikasinya
Peran sel T dalam mengaktifkan limposit B
Kebanyakan antigen mengaktifkan limfosit T dan limfosit B pada saat yang
bersamaan. Beberapa sel T yang terbentuk, disebut sel pembantu. Kemudian
menyekresi bahan khusus (yang secara kolektif disebut limfokim) yang selanjutnya
mengaktifkan limposit B. sesungguhnya tanpa bantuan limfosit T ini, jumlah antibodi
yang dibentuk oleh limfosit B biasanya sedikit.

Peran sel Limfosit T


Peran sel T dapat dibagi menjadi dua fungsi utama : fungsi regulator dan fungsi
efektor. Fungsi regulator terutama dilakukan oleh salah satu subset sel T, sel T penolong
(CD4). Sel-sel CD4 mengeluarkan molekul yang dikenal dengan nama sitokin (protein
berberat molekul rendah yang disekresikan oleh sel-sel sistem imun) untuk
melaksanakan fungsi regulatornya. Sitokin dari sel CD4 mengendalikan proses imun
seperti pembentukan imunoglobulin oleh sel B, pengaktivan sel T lain dan pengaktifan
makrofag. Fungsi efektor dilakukan oleh sel T sitotoksik (sel CD8). Sel-sel CD8 ini
mampu mematikan sel yang terinfeksi oleh virus, sel tumor dan jaringan transplantasi
dengan menyuntikkan zat kimia yang disebut perforin ke dalam sasaran asing. Baik
sel CD4 dan CD8 menjalani pendidikan timus di kelenjar timus untuk belajar mengenal
fungsi.
Sel limfosit T pada umumnya berperan dalam imflamasi, aktifasi makrofag
dalam fagositosis, aktifasi dan proliferasi sel B dalam membentuk antibodi. Sel T juga
berperan dalam pengenalan dan penghancuran sel yang terinfeksi virus.
Sel T memiliki prekursor berupa sel punca hematopoietik yang bermigrasi dari
sumsum tulang menuju kelenjar timus, tempat sel punca tersebut mengalami
rekombinasi VDJ pada rantai-beta pencerapnya, guna membentuk protein TCR yang
disebut pre-TCR, pencerap spesial pada permukaan sel yang disebut pencerap sel T.
Huruf "T" pada kata sel T adalah singkatan dari kata timus yang merupakan organ
penting tempat sel T tumbuh dan menjadi matang. Beberapa jenis sel T telah ditemukan
dan diketahui mempunyai fungsi yang berbeda-beda.

Organ Lymph Node

Gambar 5. Organ Lymph Node


Organ ini tersebar dalam tubuh sebagai titik simpul dari sistem pembuluh
limfa. Lymph merupakan cairan ekstraselluler yang secara kontinyu

diatur

keberadaannya dalam tubuh. Lymph merupakan carian yang berasal dari filtrasi
darah. Lymph yang menumpuk pada jaringan dan tidak segera memasuki pembuluh
limfa, akan menimbulkan kebengkaan jaringan yang dikenal dengan istilah adema.
Lymph akan dibawa masuk ke jaringan

lymph node melalui sistem limfa. Lymph

masuk ke organ lymph node melalui pembuluh limfa afferent.


Cairan lymph tersebut membawa antigen dari jaringan yang terinfeksi dan
juga APC yang telah membawa berbagai macam antigen. Lymph juga berperan
membawa kembali limfosit ke luar dari lymph node ke dalam sirkulasi darah. Di dalam
organ lymph node sel B menempati daerah folikel, sedangkan

sel T menempati

terutama daerah parakortikal. Folikel sel B meliputi daerah yang disebut germinal
center. Pada

germinal center inilah sel B mengalami proliferasi setelah menerima

signal dari sel T.

10

Gambar 5. Penyebaran jaringan limfoid pada tubuh manusia

Organ Limfa (Slpeen)


Spleen terletak di belakang lambung. Organ ini bertugas mengumpulkan antigen
dari darah dan juga mengumpulkan

dan menghancurkan darah merah yang telah

kehilangan fungsi. Sebagian besar organ spleen terdiri dari daerah yang disebut pulpa
merah. Pada pulpa merah, darah merah yang telah tua dihancurkan. Pada spleen terdapat
daerah yang disebut pulpa putih. Pulpa putih adalah tempat berkumpulnya sel B yang
berasal dari arteri di sekitarnya. Pada pulpa putih terdapat daerah tertentu tempat
berkumpulnya
(PALS).

11

sel

yaitu daerah yang disebut periarteriolar lymphoid sheath

Gambar 6. Organ Spleen


Gut-Associated Limfoid Tissue (GALT)
GALT adalah organ limfoid mencakup adenoid, tonsils, appendix, dan Peyers
patches pada usus halus. GALT ini mempunyai tugas mengumpulkan antigen yang
berasal dari daerah pencernaan.

Gambar 7. Struktur jaringan limfoid yang berasosiasi dengan usus


Payers

patches merupakan GALT yang

paling

besar peranannya. Pada

Payers patches, antigen dikumpulkan oleh sel epitel khusus yang disebut multifenestrated
12

atau sel M. Limfosit membentuk folikel tersusun atas sel B yang sangat

rapat yang dikelilingi oleh sedikit sel T. Lymph node, spleen, dan limfoid mukosa
merupakan organ yang berbeda namun semua organ ini memiliki

tugas yang sama.

Semua organ tersebut mempunyai tugas mengumpulkan antigen dari daerah infeksi
yang selanjutnya akan dikenali oleh sel-sel limfosit untuk dimulainya simtem
imunitas adaptif. Organ limfoid periferal juga mempunyai peran memberikan signal
transduksi kepada limfosit yang tidak menemukan antigen agar tetap hidup.
Limfosit-limfosit yang belum menemukan antigen itu akan mengadakan
sirkulasi ke dalam peredaran darah sampai

menemukan antigen

yang

spesifik.

Pemberian signal transduksi terutama oleh sel-sel stroma dalam organ limfoid ini
sangat penting untuk mengatur jumlah sel T dan sel B yang bersirkulasi dalam darah.
Untuk diketahui bahwa sel-sel tetap hidup karena ada signal dari lingkungannya yang
memintanya untuk hidup. Begitu sel tersebut tidak memperoleh signal untuk tetap
hidup dari lingkungannya, sel-sel tersebut akan segera mati dengan proses alamiah
yang disebut apoptosis. Dengan demikian signal transduksi dari jaringan limfoid akan
memberikan peluang untuk mempertahankan limfosit yang punya potensial merespon
antigen asing. Limfosit bersirkulasi pada darah dan cairan lymph.
Sel B dan sel T yang telah masak pada sumsum tulang dan timus disebut
limfosit naive, sebelum sel-sel tersebut terpapar antigen.

Sel-sel naive akan terus

bersirkulasi dari darah ke jaringan limfoid periferal sampai menemukan antigen. Sel-sel
naive memasuki jaringan limfoid periferal dengan menyelinap dan menembus di antara
sel-sel yang menyusun pembuluh kapiler. Sel-sel tersebut memasuki peredaran darah
kembali melalui pembuluh

limfa, kecuali pada spleen sel-sel tersebut langsung

memasuki darah kembali. Ketika limfosit menemukan agen penginfeksi pada jaringan
limfoid maka sel-sel tersebut akan tetap tinggal

pada jaringan

limfoid

dan

mengadakan proliferasi dan diferensiasi menjadi sel yang disebut sel efektor.
Sel-sel efektor mempunyai kemampuan untuk melawan antigen. Ketika
terjadi infeksi di daerah periferal, maka sel dendritik segera menangkap antigen
tersebut dan membawanya dari tempat infeksi ke draining lymph node melalui
pembuluh limfatik afferent. Pada lymph node sel dendritik akan mempresentasikan
antigen yang ditangkap dalam bentuk peptida ke sel T yang bersirkulasi di daerah
tersebut. Sel dendritik juga memproduksi sitokin untuk membantu aktivasi sel T. Sel B

13

yang berhasil menangkap antigen sebagaimana APC yang lain juga berhenti dan
menjadi aktif dengan bantuan sel T. Sel-sel limfosit yang telah mengalami aktivasi dan
diferensiasi akibat adanya antigen, segera meninggalkan lymph node lewat pembuluh
limfatik efferent dalam bentuk sel aktif yang disebut sel efektor.
Jaringan limfoid periferal merupakan jaringan yang labil karena selalu terlibat
dalam respon imunitas adaptif. Sebagai contoh, bentuk serta struktur lymph node selalu
berubah sesuai dengan kepentingan. Pada saat ada infeksi akan terlihat bahwa folikel
untuk produksi sel B semakin banyak, demikian juga bentuknya akan menjadi besar,
mengalami pembengkakan karena terjadi proliferasi sel B yang berlebihan.
E. Kelainan Limfosit
Limfositosis Jumlah Limfosit Tinggi
Ada banyak kemungkinan penyebab limfositosis, peningkatan sebesar 40%
dianggap abnormal. Beberapa penyebab utama limfosit tinggi adalah flu dan cacar air.
Penyebab lain limfositosis antara lain TBC, gondongan, rubella, varicella, batuk rejan,
brucellosis,

dan

herpes

simpleks.

Obat-obat

tertentu

juga

dapat

menyebabkan tingginya limfosit. Obat-obatan yang dimaksud antara lain: Dilantin


dan Phenytoin, keduanya merupakan obat anti-kejang. Kejang adalah gerakan otot tak
sadar dan / atau penurunan kesadaran lingkungan karena overexcitement dari sel-sel
saraf di otak. limfosit tinggi juga terjadi setelah transfusi darah.
Limfositopenia Jumlah Limfosit Rendah
Ada banyak kemungkinan penyebab untuk rendahnya limfosit. Seperti kita
ketahui bahwa limfosit dibuat di sumsum tulang, jika ada masalah pada sumsum tulang
atau aktivitas sumsum tulang berkurang, maka jumlah limfosit yang rendah dapat
terjadi. Kerusakan sumsum tulang terjadi pada anemia aplastik. Baca juga sel darah
putih rendah: Leukopenia Orang dengan penyakit AIDS (Acquired Immune Deficiency
Syndrome) sering memiliki limfosit yang rendah. Steroid dapat menyebabkan
penurunan limfosit yang abnormal. Beberapa gangguan yang mempengaruhi saraf
dalam tubuh juga dapat menyebabkan limfositopenia. Contohnya adalah multiple
sclerosis, myasthenia gravis, dan sindrom Guillain-Barre.

14

Sumber Pustaka
1. Syamsul Bakri. AK. Kalma, dkk. 1989. HEMATOLOGI. Jakarta: Departemen
Kesehatan Nasional
2. Guyton, Arthur C. 1997. Fisiologi Kedokteran. Edisi 9. Jakarta: EGC
3. Hartawan, Jerry, 2011, Hubungan Jumlah Limfosit Total dan Limfosit T CD4+
Dengan Ganggungan Fungsi Kognitif Pada Pasien HIV-AIDS, Universitas
Diponegoro, Semarang
4. Kamaluddin, Asnidar. 2014. Perkembangan Sel Limfosit. Diakses 20 September
2016 di https://www.academia.edu/8814819/
5. Anonim. Limfosit: Pengertian, Fungsi, Implikasi Klinis. Diakses 20 September
2016 di http://mediskus.com/dasar/limfosit

15