Anda di halaman 1dari 14

PENYEBAB, DAMPAK, PENCEGAHAN, DAN PEMECAHAN MASALAH

EUTROFIKASI

MAKALAH
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Limnologi yang Dibina oleh Dr. Hadi Suwono,
M.Si dan Sitoresmi Prabaningtyas, S.Si, M.Si

Oleh:
Kelompok 8:
Hilda Wardhani SN
Saiful Anwar F

(130342615346)
(130342615340)

The Learning University

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
September 2016

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Air sebagai sumber yang menyangkut hajat hidup orang banyak perlu
ditingkatkandan dipertahankan kualitasnya sehingga pemakaiannya tidak merugikan
kepentingan orang umum. Meningkatkan dan mempertahankan kualitas sumberdaya
air perlu dilakukan dengan cara pengedalian pencemaran air yang meliputi kualitas
air, penggolongan air, perlindungan air, dan izin pembuangan limbah. Meningkatkan
dan mempertahankan kualitas air, ada dua tindakan yang perlu dilaksanakan dan
dikembangkan, yaitu tindakan pengolahan dan tindakan pemurnian kembali air ynag
sudah tercemar (Yusanti,dkk. 2014)
Air merupakan sumberdaya alam yang berlimpah di muka bumi, menutupi
sekitar 71% dari permukaan bumi. Secara keseluruhan air di muka bumi, sekitar 98%
terdapat di Samudera dan laut dan hanya 2% yang merupakan air tawar yang terdapat
di sungai, danau dan bawah tanah. Diantara air tawar yang ada tersebut, 87%
diantaranya berbentuk es, 12% terdapat di dalam tanah, dan sisanya sebesar 1%
terdapat di danau dan sungai. Selain berlimpah keberadaannya di muka bumi, airpun
memiliki karakteristik yang khas (Effendi, 2003).
Air merupakan kebutuhan yang paling penting bagi semua organisme yang
ada di dunia dan tidak terkecuali juga manusia. Seiring dengan perkembangan zaman
yang semakin modern dan meningkatnya jumlah penduduk di dunia ditambah lagi
pengaruh perubahan iklim (climate change). Air dikatakan tercemar apabila ada
pengaruh atau kontaminasi zat organik maupun anorganik ke dalam air.
Perkembangan organisme perairan secara berlebihan merupakan gangguan dan dapat
dikategorikan sebagai pencemaran, yang merugikan organisme akuatik lainnya
maupun manusia secara tidak langsung. Pencemaran yang berupa penyuburan
organisme tertentu disebut eutrofikasi.
Limbah organik dalam air dan sedimen waduk mengalami dekomposisi dan
meningkatkan konsentrasi unsur nitrogen (N) dan fosfor (P), yang dapat mendorong
pertumbuhan fitoplanton. Pada konsentrasi yang optimum unsur hara N dan P
menguntungkan bagi pertumbuhan fitoplankton yang merupakan makanan ikan
sehingga dapat meningkatkan produksi ikan di waduk. Namun ketika konsentrasi
unsur-unsur tersebut tinggi, terjadi pertumbuhan fitoplankton yang berlebih

(blooming) atau eutrifikasi dan bisa terjadi pencemaran air waduk. Apabila sudah
parah, kualitas air akan menurun, air berubah menjadi keruh, oksigen terlarut rendah,
timbul gas-gas beracun dan bahan beracun (cyanotoxin) (Sugiura et al.,2004 dalam
Rustadi,2009).
1.2 Tujuan Penulisan
1. Menjelaskan pengertian eutrofikasi
2. Menjelaskan faktor penyebab eutrofikasi
3. Menjelaskan dampak eutrofikasi
4. Menjelaskan cara pencegahan eutrofikasi
5. Menjelaskan pemecahan masalah akibat eutrofikasi
6. Mengidentifikasi status trofik perairan tawar

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Eutrofikasi


Eutrofikasi didefinisikan sebagai pengayaan (enrichment) air dengan nutrien
atau unsur hara berupa bahan anorganik yang dibutuhkan oleh tumbuhan dan
mengakibatkan terjadinya peningkatan produktivitas primer perairan. Nutrient yang
dimaksud adalah nitrogen dan fosfor. Eutrofikasi diklasifikasikan menjadi dua yaitu
artificial atau cultural eutrophication dan natural eutrophication. Eutrofikasi
diklasifikasikan sebagai artificial (cultural eutrophication) apabila peningkatan unsur
hara di perairan disebabkan oleh aktivitas manusia dan diklasifikasikan sebagai
natural eutrophication jika peningkatan unsur hara di perairan disebabkan oleh
aktivitas alam (Effendi, 2003). Ada yang mengatakan bahwa eutrofikasi adalah proses
pengkayaan perairan, terutama oleh Nitrogen dan Fosfor, tetapi juga elemen lainnya
seperti silikon, potassium, calcium dan mangaan yang menyebabkan pertumbuhan
tidak terkontrol dari tumbuhan air yang dikenal dengan istilah blooming (Welch &
Lindell, 1992).
Beberapa elemen (misalnya silikon, mangan, dan vitamin) merupakan faktor
pembatas bagi pertumbuhan algae. Akan tetapi, elemen-elemen tersebut tidak dapat
menyebabkan terjadinya eutrofikasi meskipun memasuki badan air dalam jumlah
yang cukup banyak. Hanya elemen tertentu, misalnya fosfor dan nitrogen, yang dapat
menyebabkan perairan mengalami eutrofikasi (Mason, 1993 dalam Effendi, 2003).
Eutrofikasi merupakan suatu problem yang mulai muncul pada dekade awal
abad ke-20, ketika banyak alga yang tumbuh di danau dan ekosistem lainnya.
Meningkatnya pertumbuhan algae dipengaruhi langsung oleh tingkat kesuburan
perairan oleh adanya aktivitas manusia biasanya berasal dari limbah organik yang
masuk ke perairan. Algae memiliki peran dalam proses fotosintesis untuk
menghasilkan bahan organik dan oksigen dalam air sebagai dasar mata rantai
makanan di perairan. Namun apabila keberadaan Algae di perairan dalam jumlah
berlebih, maka dapat menurunkan kualitas perairan. Tingginya populasi fitoplankton
(algae) beracun di perairan dapat menyebabkan berbagai akibat negatif yang
merugikan perairan, seperti berkurangnya oksigen perairan dan menyebabkan
kematian biota perairan lainnya.
Kesuburan perairan danau secara alamiah umumnya disebabkan pengayaan
oleh unsur hara yang dibawa oleh aliran sungai dari hasil pencucian lapisan tanah
permukaan dan limbah organik dari kegiatan pertanian. Proses masuknya hara ke
badan perairan dapat melalui dua cara, yaitu (1) penampisan air drainase lewat

pelepasan hara tanaman terlarut dari tanah; dan (2) lewat erosi permukaan tanah atau
gerakan dari partikel tanah halus masuk ke system drainase (Suwono, 2011).
2.2 Faktor Penyebab Eutrofikasi
Eutrofikasi dapat disebabkan oleh beberapa hal diantaranya karena aktifitas
manusia yang tidak ramah terhadap lingkungan. Proses eutrofikasi dapat berlangsung
secara alami, namun hampir 90 % disebabkan oleh aktifitas manusia di bidang
pertanian. Petani biasanya menggunakan pupuk untuk meningkatkan produksi
tanaman. Sisa pupuk dan air yang mengalir dari daerah pertanian membawa pupuk
menuju ke ekosistem perairan.
Selain itu, limbah organik yang berasal dari sisa-sisa atau buangan dari rumah
tangga, industri, pemukiman, peternakan, dan perikanan juga dapat menyebabkan
terjadinya eutrofikasi. Limbah organik tersebut berupa bahan organik yang biasanya
tersusun oleh karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, fosfor, sulfur dan mineral lainnya.
Limbah organik yang masuk ke dalam perairan dalam bentuk padatan yang terendap,
koloid, tersuspensi dan terlarut. Pada umumnya, limbah organik yang berbentuk
padatan akan langsung mengendap menuju dasar perairan sedangkan bentuk lainnya
berada di badan air, baik di bagian yang aerob maupun anaerob. Semakin
terakumulasinya limbah organik dalam perairan dapat menurunkan kualitas perairan,
sehingga dapat membahayakan bagi kehidupan organisme perairan. Proses terjadinya
pengkayaan perairan tawar oleh unsur hara berlangsung dalam waktu yang cukup
lama, namun proses tersebut dapat dipercepat oleh berbagai aktivitas penduduk di
sekitar perairan. Peningkatan jumlah penduduk yang semakin tinggi di sekitar
perairan, dapat mengganggu keseimbangan lingkungan perairan. Hal ini akan
memberikan kontribusi pada laju penambahan zat hara dan limbah organik lainnya
yang masuk ke badan air. Jumlah unsur hara yang masuk ke badan perairan biasanya
lebih besar dari pemanfaatan unsur hara tersebut oleh biota perairan, sehingga akan
terjadi penyuburan yang berlebihan (Ahl, 1980).
Proses ini akan menjadi masalah besar jika perairan telah mulai menunjukkan
gejala-gejala adanya eutrofikasi yaitu apabila telah terjadi peningkatan produktivitas
yang disebabkan oleh masuknya bahan organik yang cukup drastik, sehingga dapat
mempercepat terjadinya pengkayaan dan terjadinya pencemaran. Pengisian dan
peningkatan sedimen secara cepat akan menyebabkan semakin cepat pula terbetuknya
rawa dan hilangnya perairan (Payne, 1986). Menurut Goldman & Horne (1983) dan

Sastrawijaya (2000), fosfor dan nitrogen merupakan unsur pembatas dalam proses
eutrofikasi. Bila rasio N dan P > 12, maka sebagai faktor pembatas adalah P,
sedangkan rasio N dan P < 7 sebagai pembatas adalah N. Rasio N dan P yang berada
antara 7 dan 12 menandakan bahwa N dan P bukan sebagai faktor pembatas (nonlimiting factor).

2.3 Dampak Eutrofikasi


Sumber eutrofikasi ada dua macam, yaitu sumber titik (point resources) dan
sumber non titik ( non pointresources). Pembagian ini didasarkan pada perilaku
sumber dan mekanisme penyebaran nutrient terhadap perairan tawar. Sumber titik
bercirikan memiliki satu pengaruh yang bersifat langsung. Nutrien dari sumber titik
dibawa secara langsung menuju perairan tawar, contohnya pabrik yang memiliki
keluaran berupa nutrient yang kemudian di keluarkan langsung ke badan perairan
diklasifikasi sebagai sumber titik. Sumber eutrofikasi non titik terutama berasal dari
air larian, misalnya dari daerah pertanian dan lokasi peternakan. Alasan eutrofikasi
sumber non titik menyebabkan banyak masalah dan sulit penanggunalannya, yaitu
sebagai berikut :
1. Retensi tanah
Nutrient yang berasal dari aktivitas manusia diakumuasi di dalam tanah
dan mampu bertahan beberapa tahun. Bisa jadi kadar nutrient di air
permukaan kecil tetapi di dalam tanah besar.
2. Aliran air permukaan dan pencucian di tanah
Nutrient larut dalam air permukaan dan mengalir ke berbagai habitat.
Nutrien mengalami pencucian dan terikat dengan tanah.

3. Deposisi di atmosfer
Nitrogen dilepaskan ke udara dan membentuk nitrogen oksida.
Gejala

eutrofikasi

di

perairan

danau

biasanya

ditunjukkan

dengan

melimpahnya konsentrasi unsur hara dan perubahan parameter kimia seperti oksigen
terlarut (DO), kandungan klorofil-a dan turbiditas serta produktivitas primer. Adanya
Eutrofikasi pada suatu perairan juga dapat diketahui apabila telah terjadi perubahan
warna air menjadi kehijauan, air yang keruh dan berbau busuk.
Limbah organik yang masuk ke suatu perairan akan mengalami dekomposisi
dan menghasilkan senyawa nutrien (nitrogen dan fosfor) yang menyuburkan perairan.
Nitrogen dan Fosfor merupakan unsur kimia yang diperlukan alga (fitoplankton)
untuk hidup dan pertumbuhannya. Peningkatan kelimpahan fitoplankton akan diikuti
dengan peningkatan kelimpahan zooplankton. Dikarenakan fitoplankton dan
zooplankton adalah makanan utama ikan, maka kenaikan kelimpahan keduanya akan
menaikan kelimpahan (produksi) ikan dalam badan air tersebut. Akan tetapi
peningkatan konsentrasi nutrien yang berkelanjutan dalam badan air, apalagi dalam
jumlah yang cukup besar akan menyebabkan badan air menjadi sangat subur atau
eutrofik dan akan merangsang fitoplankton untuk tumbuh dan berkembang-biak
dengan pesat sehingga terjadi blooming sebagai hasil fotosintesa yang maksimal dan
menyebabkan peningkatan biomasa perairan tersebut.
Kilham dan Kilham mengemukakan bahwa setiap jenis fitoplankton
mempunyai respon yang berbeda terhadap perbandingan jenis nutrien yang ada
utamanya perbandingan konsentrasi nitrogen, fosfor dan silika dalam badan air.
Fenomena inilah yang mendorong beberapa pakar ekologi menyimpulkan bahwa
dominasi suatu jenis fitoplankton lebih ditentukan oleh perbandingan jenis nutrien
yang terlarut dalam badan air . Hal ini dikarenakan fitoplankton yang sesuai dengan
perbandingan unsur hara dalam badan air akan tumbuh dengan baik sehingga menjadi
dominan, sedangkan fitoplankton yang tak sesuai dengan perbandingan unsur hara
yang

ada

akan

mati

atau

hidup

tertekan

tidak

berkemban

Peningkatan biomassa perairan karena fitoplankton akan merugikan dan


mengancam keberlanjutan fauna karena perairan didominasi oleh fitoplankton yang
tidak dapat dimakan dan beracun. Blooming yang menghasilkan biomasa tinggi juga
merugikan fauna karena fenomena blooming selalu diikuti dengan penurunan oksigen
terlarut secara drastis akibat pemanfaatan oksigen yang berlebihan untuk dekomposisi
biomasa (bahan organik) yang mati. Rendahnya konsentrasi oksigen terlarut apalagi

sampai batas nol akan menyebabkan ikan dan fauna lainnya tidak bisa hidup dengan
baik dan mati. Selain menekan oksigen terlarut proses dekomposisi tersebut juga
menghasilkan gas beracun seperti NH3 dan H2S yang pada konsentrasi tertentu dapat
membahayakan fauna air, termasuk ikan. Selain badan air didominasi oleh
fitoplankton yang tidak ramah lingkungan, eutrofikasi juga merangsang pertumbuhan
tanaman air lainnya, seperti eceng gondok (Eichhornia crassipes) dan hydrilla. Oleh
karena itu, pada rawa-rawa dan danau-danau yang telah mengalami eutrofikasi
tepiannya ditumbuhi dengan subur oleh tanaman air seperti eceng gondok
(Eichhornia crassipes) dan hydrilla. Selain menyuburkan fiplankton dan tanaman air,
eutrofikasi juga menyuburkan cyanobacteria (blue-green algae) yang diketahui
mengandung toksin sehingga membawa risiko kesehatan bagi manusia dan hewan.
Adanya cyanobacteria akan meningkatnya penyakit kulit pada manusia.

2.4 Cara Pencegahan Eutrofikasi


Pada umumnya ada dua cara untuk menanggulangi eutrofikasi:
a. Attacking symptoms
- Mencegah pertumbuhan vegetasi penyebab eutrofikasi
- Menambah atau meningkatkan oksigen terlarut di dalam air
Bila menggunakan cara ini, ada beberapa metode yang dapat digunakan :
-

Chemical treatment yang dimaksudkan untuk mengurangi kandungan nutrien

yang berlebihan di dalam air


Aerasi
Harvesting algae (memanen alga) yang dimaksudkan untuk mengurangi alga

yang tumbuh subur di permukaan air


b. Getting at the root cause
- Mengurangi nutrient dan sedimen berlebih yang masuk ke dalam air

2.5 Pemecahan Masalah Akibat Eutrofikasi


Jika peningkatan nutrien terus berlanjut maka dampak positif seperti itu hanya
bersifat sementara bahkan akan terjadi proses yang berdampak negatif bagi
kualitas badan air. Peningkatan konsentrasi nutrien yang berkelanjutan dalam
badan air, apalagi dalam jumlah yang cukup besar akan menyebabkan badan air
menjadi sangat subur atau eutrofik. Proses peningkatan kesuburan air yang
berlebihan yang disebabkan oleh masuknya nutrien dalam badan air terutama
fosfat.
Publikasi yang ada menyatakan bahwa kandungan fosfor > 0,010 mgPl-1 dan
nitrogen > 0,300 mgNl-1 dalam badan air akan merangsang fitoplankton untuk
tumbuh dan berkembang-biak dengan pesat (Henderson dan Markland, 1987),
sehingga terjadi blooming sebagai hasil fotosintesa yang maksimal dan
menyebabkan peningkatan biomasa perairan tersebut . Sehubungan dengan
peningkatan konsentrasi nutrien dalam badan air, setiap jenis fitoplankton
mempunyai kemampuan yang berbeda dalam memanfaatkannya sehingga
kecepatan tumbuh setiap jenis fitoplankton berbeda (Henderson dan Markland
1987). Selain itu setiap jenis fitoplankton juga mempunyai respon yang berbeda
terhadap perbandingan jenis nutrien yang terlarut dalam badan air (Kilham dan
Kilham, 1978). Fenomena ini menyebabkan komunitas fitoplankton dalam suatu
badan air mempunyai struktur dan dominasi jenis yang berbeda dengan badan air
lainnya.
2.6 Status Trofik Perairan Tawar
Berdasarkan status trofiknya, secara umum kualitas perairan dapat
dikelompokkan menjadi 3 golongan yaitu oligo-, meso-, dan eutrofik (Straskraba
Iet al., 1993). Namun oleh beberapa peneliti ada yang mengelompokannya
menjadi 4 golongan (Barus, 2002) atau 5 (OECD, 1982). Status trofik perairan
dapat diindikasikan oleh produktivitas primer perairan yang berhubungan sangat
erat dengan kandungan klorofil fitoplankton. Semakin tinggi pasokan nutrien ke
perairan akan meningkatkan produktivitas primernya. Besarnya produktivitas
primer fitoplankton merupakan ukuran kualitas suatu perairan. Semakin tinggi
produktivitas primer fitoplankton suatu perairan semakin besar pula daya
dukungnya bagi kehidupan komunitas penghuninya, sebaliknya produktivitas
primer fitoplankton yang rendah menunjukkan daya dukung yang rendah pula.
Produktivitas primer adalah variable yang sering digunakan sebagai indikator

penentuan kualitas perairan. Produktivitas primer dapat diartikan sebagai laju


pembentukan senyawa organik dari senyawa anorganik. Produktivitas primer
perairan dihasilkan oleh proses fotosintesis dan kemosintesis. Dalam pelaksanaan
pengukuran produktivitas primer fitoplankton, selama ini dilakukan dengan
memperhitungkan intensitas matahari saat penyinaran tertinggi. Dengan dasar itu
dilakukan pengingkubasian untuk menghitung besarnya produktivitas primer
fitoplankton dalam suatu perairan. Ketepatan penentuan besarnya kandungan
produktifitas primer fitoplankton dalam suatu perairan sangat berguna dalam
menentukan tingkat kesuburan dan kelayakan suatu perairan mendukung
kehidupan organisme di perairan itu sendiri.
Masalah eutrofikasi merupakan salah satu aspek penting dalam pengelolaan
badan perairan. Salah satu penyebab eutrofikasi adalah masuknya nutrient secara
berlebihan ke dalam waduk. Eutrofikasi memberikan dampak negaif, beberapa
diantaranya adalah kadar oksigen terlarut yang rendah, berkembangnya tumbuhan
akuatik (ganggang dan enceng gondok) secara tidak terkontrol, dan timbulnya bau
yang tidak sedap akibat pembusukan ganggang. Apabila keadaan ini dibiarkan
dalam waktu yang cukup lama dampaknya akan sangat buruk yaitu pendangkalan
dan hilangnya adan perairan.
Carlson (1977) mengembangkan metode untuk mengetahui status trofik suatu
danau yang disebut sebagai TSI (Trophic State Index). Parameter yang digunakan
adalah tranparansi, yang dikorelasikan dengan kadar klorofil a dan total fosfor.
Jorgensen (1980) menyatakan bahwa tingkat trofik (kesuburan) suatu danau dapat
dinyatakan berdasarkan, kandungan total nitrogen (TN), total fosfat (TP), klorofila dan biomassa fitoplankton. Jika eutrofikasi sudah demikian parah maka upaya
yang dilakuakan adalah restorasi badan perairan.

Restorasi merupakan upaya menurunkan kandungan nitrogen, fosfat,dan


biomassa planton. Namun, biaya restorasi itu sangat mahal. Biayanya jauh lebih
mahal dibandingkan apabila dilakukan pengelolaan terhadap perairan tawar sejak

dini untuk mengurangi eutrofikasi. Proses restorasi badan perairan meliputi


kegiatan sebagai berikut:
1. Mereduksi nutrient dan sendimen yang masuk ke dalam perairan dilakukan
dengan cara meminimalkan jumlah beban nutrient dan sedimen yang masuk ke
dalam danau. Metode ini dilakukan dengan cara memproses terlebih dahulu air
yang masuk ke badan perairan agar nutrient dan sedimennya kadarnya
menurun.Selain itu juga dilakukan pengarahan kepada industry dan
masyarakat agar jangan membuang limbah organik ke perairan.
2. Meredeuksi nutrient yang terdapat di dalam perairan terutama di perairan
daunau fosfat dilakukan dengan penambahan alum Al2(SO4)3

Alum akan

menjadi alumunium hidroksit yang mampu mengikat P sehingga konsentrasi P


menurun. Alumunium ini bersifat toksik terutama pada danau yang asam. Ada
juga cara dengan pengerukan dasar dasar badan perairan karena pada
umumnya merupakan timbunan fosfat dan nitrogen. Pengerukan secara
langsung akan menurunkan jumlah fosfat dan nitrogen. Pada eutrofikasi
jumlah nutrient terbesar berada di lapisan hipolimnion. Oleh sebab itu
pengambilan nutrient dari lapisan hipolimnion juga dapat menurunkan kadar
nutrient dalam air. Melakukan aerasi pada lapisan hipolimnion yang dapat
meningkatkan proses pemecahan bahan organik sehingga menurunkan kadar
bahan organik dan menurunkan kepadatan populasi ganggang.

3. Mengubah rantai makanan dilakukan dengan introduksi ikan-ikan pemakan


fitoplankton, agar kelimpahan fitoplankto menurun sehingga meningkatkan
transparensi air.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan pada makalah ini, dapat disimpulkan bahwa:
1. Eutrofikasi didefinisikan sebagai pengayaan (enrichment) air dengan nutrien atau
unsur hara berupa bahan anorganik yang dibutuhkan oleh tumbuhan dan
mengakibatkan terjadinya peningkatan produktivitas primer perairan. Nutrient
yang dimaksud adalah nitrogen dan fosfor. Eutrofikasi diklasifikasikan menjadi
dua yaitu artificial atau cultural eutrophication dan natural eutrophication.
2. Eutrofikasi dapat disebabkan oleh beberapa hal diantaranya karena aktifitas
manusia yang tidak ramah terhadap lingkungan. Selain itu, limbah organik yang
berasal dari sisa-sisa atau buangan dari rumah tangga, industri, pemukiman,
peternakan, dan perikanan juga dapat menyebabkan terjadinya eutrofikasi.
3. Sumber eutrofikasi ada dua macam, yaitu sumber titik (point resources) dan
sumber non titik ( non pointresources). Gejala eutrofikasi di perairan danau
biasanya ditunjukkan dengan melimpahnya konsentrasi unsur hara dan perubahan
parameter kimia seperti oksigen terlarut (DO), kandungan klorofil-a dan
turbiditas serta produktivitas primer.
4. Pada umumnya ada dua cara untuk menanggulangi eutrofikasi Attacking
symptoms (Mencegah pertumbuhan vegetasi penyebab eutrofikasi dan menambah
atau meningkatkan oksigen terlarut di dalam air) dan Getting at the root cause
(Mengurangi nutrient dan sedimen berlebih yang masuk ke dalam air).

5. Sehubungan dengan peningkatan konsentrasi nutrien dalam badan air, setiap jenis
fitoplankton mempunyai kemampuan yang berbeda dalam memanfaatkannya
sehingga kecepatan tumbuh setiap jenis fitoplankton berbeda.
6. Berdasarkan status trofiknya, secara umum kualitas

perairan

dapat

dikelompokkan menjadi 3 golongan yaitu oligo-, meso-, dan eutrofik. Metode


untuk mengetahui status trofik suatu danau yang disebut sebagai TSI (Trophic
State Index). Parameter yang digunakan adalah tranparansi, yang dikorelasikan
dengan kadar klorofil a dan total fosfor. Jorgensen (1980) menyatakan bahwa
tingkat trofik (kesuburan) suatu danau dapat dinyatakan berdasarkan, kandungan
total nitrogen (TN), total fosfat (TP), klorofil-a dan biomassa fitoplankton.
Daftar Rujukan
Ahl, T. (1980), Eutrofication of Norwegian Freshwater in Relation to Natural Conditions. in:
Eutrofication of Deep Lakes, Progress in Water Technology, 12(2):49 61.
Barus, T.A. (2002). Pengantar Limnologi. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Jakarta.

Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan
Perairan. Kanisius. Yogyakarta.
Goldman, C.R. dan Horne, A.J. 1989. Limnology. McGraw Hill Company. New York
Henderson-Sellers, B. dan H. R. Markland. 1987. Decaying Lakes the Orign and Control of
Cultral Eutrofication: Principles and Tecniques in the Environmental Science. John Willey
and Sons Ltd, Chichester.
Kilham, S.S, dan P. Kilham 1978:Natural community bioasaays: Predictions of result based
on nutrien physiology and competition, Int. Ver. Theor. Angew. Limnol. Verh., 20, 68-74
OECD. (1982). Eutrophication of waters, monitoring assessment and control. Paris.

Payne, A.I. 1986. The Ecology of Tropical Lake and Rivers. John Wiley and Sons. New York.
Mason. 1993. Biology of Freshwater Pollution. John Willey and Sons. New York.
Rustadi. 2009. Eutrofikasi Nitrogen Dan Fosfor serta Pengendaliannya Dengan Perikanan Di
Waduk Sermo. J.Manusia Dan Lingkungan,Vol.16, No.3,November 2009:176-186. UGM
Sastrawijaya, A. T. 2000. Pencemaran Lingkungan. Edisi kedua. Rineka Cipta. Jakarta.
Straskraba, M.; Tundisi, J.G. And Duncan, A. (1993). Comparative Reservoir Limnology And Water
Quality Management. Kluwer Academic Publishers, Dordret.

Sugiura,N., et al . 2004. Assessment for the Compicated Occurrence of Nuisance Odours


from Phytoplankton and Environmental Factors in a Eutrophic Lake; Lake &
Reservoirs : Res.and Man.,9:195-201
Suwono, Hadi. 2011. Limnologi. Malang: Bayumedia Publishing.
Syahrul., et al._______. Kajian Analisis Kualitas Air Danau UNHAS : Pembahasan Khusus
Pada Proses Eutrofikasi. UNHAS. Makasar.
Welch, E.B. And Lindell, T. (1992). Ecological Effect Of Wastewater: Applied Limnology
And Pollutant Effect. 2nd Ed. E & FN Spon, London.
Yusanti, Indah.A., Septinar.Helfa. 2014. Proses Terjadinya Eutrofikasi Di Suatu Perairan.
Universitas PGRI Palembang. Palembang.