Anda di halaman 1dari 11

SISTEM OTOT PADA MANUSIA

(Tugas Anatomi Fisiologi Manusia)

Oleh :
Hanifa Nurmira Tama
1413024037

PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDARLAMPUNG
2016
1. Bagaimana sistem otot menyusun sistem gerak pada manusia
Otot merupakan suatu organ atau alat yang memungkinkan tubuh dapat bergerak.
Gerak sel dapat terjadi karena sitoplasma merubah bentuk. Pada sel-sel,

sitoplasma ini merupakan benang-benang halus yang panjang yang disebut


myofibril. Jika sel otot mendapat rangsangan maka myofibril akan memendek,
dengan kata lain sel otot akan memendekkan dirinya kearah tertentu
(berkontraksi).
Sistem otot terdiri dari beberapa bagian yang saling terpisah yang disebut otototot. Sebagian besar otot kita melekat pada kerangka tubuh. Otot dapat mengerut
dan dapat juga menegang. Oleh karena itu, susunan otot adalah suatu sistem alat
untuk menguasai gerak aktif dan posisi tubuh kita. Pada setiap otot terlihat
beberapa empal yang merupakan bagian yang aktif mengerut.
Otot merupakan alat gerak aktif karena kemampuannya berkontraksi. Otot
memendek jika sedang berkontraksi dan memanjang jika berelaksasi. Kontraksi
otot terjadi jika otot sedang melakukan kegiatan, sedangkan relaksasi otot terjadi
jika otot sedang beristirahat. Dengan demikian otot memiliki 3 karakter, yaitu :
a. Kontraksibilitas yaitu kemampuan otot untuk memendek dan lebih pendek
dari ukuran semula, hal ini teriadi jika otot sedang melakukan kegiatan.
b. Ektensibilitas, yaitu kemampuan otot untuk memanjang dan lebih panjang
dari ukuran semula.
c. Elastisitas, yaitu kemampuan otot untuk kembali pada ukuran semula.
Otot tersusun atas dua macam filamen dasar, yaitu filament aktin dan filament
miosin. Filamen aktin tipis dan filament miosin tebal. Kedua filamen ini
menyusun miofibril. Miofibril menyusun serabut otot dan serabut otot-serabut otot
menyusun satu otot.
1. Jenis-JenisOtot
Berdasarkan bentuk morfologi, sistem kerja dan lokasinya dalam tubuh, otot
dibedakan menjadi tiga, yaitu otot lurik, otot polos, dan otot jantung.
a. Otot lurik (Otot Rangka)
Otot lurik disebut juga otot rangka atau otot serat lintang. Otot ini bekerja
di bawah kesadaran. Pada otot lurik, fibril-fibrilnya mempunyai jalur-jalur
melintang gelap (anisotrop) dan terang (isotrop) yang tersusun berselangselang. Sel-selnya berbentuk silindris dan mempunvai banvak inti. Otot
rangka dapat berkontraksi dengan cepat dan mempunyai periode istirahat
berkali-kali. Otot rangka ini memiliki kumpulan serabut yang dibungkus
oleh fasia super fasialis. Gabungan otot berbentuk kumparan dan terdiri
dari bagian:
1. Ventrikel (empal), merupakan bagian tengah yang menggembung
2. Urat otot (tendon), merupakan kedua ujung yang mengecil. Urat otot
(tendon) tersusun dari jaringan ikat dan bersifat keras serta liat.

Berdasarkan cara melekatnya pada tulang, tendon dibedakan sebagai


berikut ini:
1. Origo merupakan tendon yang melekat pada tulang yang tidak berubah
kedudukannya ketika otot berkontraksi.
2. Insersio merupakan tendon yang melekat pada tulang yang bergerak
ketika otot berkontraksi.
Otot yang dilatih terus menerus akan membesar atau mengalami hipertrofi,
Sebaliknya jika otot tidak digunakan (tidak ada aktivitas) akan menjadi
kisut atau mengalami atrofi. Kebanyakan otot rangka (jumlah dalam
manusia 600) menyambungkan tulang ke tulang; ada yang
menggerakkan bahagian tertentu tanpa melibatkan tulang, misalnya
kelopak mata, otot sfinkter, lidah. Otot rangka hanya mampu menarik,
tidak menolak. Oleh itu, untuk menggerakkan anggota (pergerakan tulang)
otot lazimnya berpasangan, disebut pasangan antagonis.
Contoh: untuk membengkokkan tangan, otot biseps mengecut dan
pasangan antagonisnya, otot triseps mengendur. Pasangan otot antagonis
dikawal dengan cara maklumat eferen somatik merangsang otot pertama
(melalui neurotransmiter perangsang) dan merencat otot kedua (melalui
neurotransmiter perencat). Otot rangka kelihatan berjalur dan tersusun
dalam keadaan selari.
b. Otot Polos
Otot polos disebut juga otot tak sadar atau otot alat dalam (otot viseral).
Otot polos tersusun dari sel-sel yang berbentuk kumparan halus. Masingmasing sel memiliki satu inti yang letaknya di tengah. Kontraksi otot polos
tidak menurut kehendak, tetapi dipersarafi oleh saraf otonom. Otot polos
terdapat pada alat-alat dalam tubuh, misalnya pada:
1. Dinding saluran pencernaan
2. Saluran-saluran pernapasan
3. Pembuluh darah
4. Saluran kencing dan kelamin
c. Otot Jantung
Otot jantung mempunyai struktur yang sama dengan otot lurik hanya saja
serabut-serabutnya bercabang-cabang dan saling beranyaman serta
dipersarafi oleh saraf otonom. Otot jantung hanya terdapat di jantung. Otot
jantung terlihat berjalur seperti otot rangka. Otot jantung dikawal oleh
sistem saraf autonomi. Setiap sel bersambung-sambung dengan sel lain
melalui cakera interkalari yang berupaya mengalirkan arus elektrik dari sel
ke sel. Manfaat: supaya pengecutan jantung terselaras untuk mengepam
darah. Otot jantung mengecut secara spontan walaupun tiada rangsangan
diterima dari sistem saraf pusat. Letak inti sel di tengah. Dengan demikian,
otot jantung disebut juga otot lurik yang bekerja tidak menurut kehendak.

Kerja otot untuk sistem gerak


Rangka kerangka tubuh kita ditutupi oleh otot, yang fungsi utamanya adalah
untuk menyediakan mobilitas untuk tubuh. Otot-otot tubuh bekerja berpasangan
(otot antagonis dan agonis) untuk memberikan suatu gerakan dalam tubuh.
Mereka memindahkan tulang dengan menarik mereka. Otot hanya bisa menarik
dan tidak mendorong, itulah sebabnya mengapa kerja tim dari otot sangat penting.
Setelah otot menarik dan menyebabkan gerakan, maka otot lain dari pasangannya
menarik dalam arah yang berlawanan untuk melakukan tindakan sebaliknya.
Dengan demikian, kemampuan tubuh untuk bergerak berasal dari sistem otot.
Ketika seseorang ingin berpindah dari satu tempat ke tempat lain, sistem saraf
pusat memberi petunjuk pada serat otot tubuh berkontraksi atau bersantai,
sehingga membantu dengan gerakan yang diperlukan. Karena sistem saraf pusat
menginstruksikan serat otot untuk melaksanakan fungsi yang diperlukan, mereka
adalah gerakan sadar. Tindakan seperti berjalan, memanjat, berlari, mengangkat,
menari, jogging, dll adalah contoh dari gerakan yang disebabkan sebagai akibat
dari kontraksi otot sadar dan relaksasi.
Sifat kerja otot dibedakan menjadi dua, yaitu :
a. Antagonis Otot
Antagonis adalah dua otot atau lebih yang tujuan kerjanya berlawanan. Jika
otot pertama berkontraksi dan yang kedua berelaksasi, akan menyebabkan
tulang tertarik atau terangkat. Sebaliknya, jika otot pertama berelaksasi dan
yang kedua berkontraksi akan menyebabkan tulang kembali ke posisi semula.
Contoh otot antagonis adalah otot bisep dan trisep. Otot bisep adalah otot yang
memiliki dua ujung (dua tendon) yang melekat pada tulang dan terletak di
lengan atas bagian depan. Otot trisep adalah otot yang memiliki tiga jung (tiga
tendon) yang melekat pada tulang, terletak di lengan atas bagian belakang.
Untuk mengangkat lengan bawah, otot bisep berkontraksi dan otot trisep
berelaksasi. Untuk menurunkan lengan bawah, otot trisep berkontraksi dan otot
bisep berelaksasi. Antagonis juga adalah kerja otot yang kontraksinya
menimbulkan efek gerak berlawanan, contohnya adalah:
1. Ekstensor (meluruskan) dan fleksor (membengkokkan), misalnya otot
trisep dan otot bisep.
2. Abduktor (menjauhi badan) dan adductor (mendekati badan) misalnya
gerak tangan sejajar bahu dan sikap sempurna.
3. Depresor (kebawah) dan adduktor (keatas), misalnya gerak kepala
merunduk dan menengadah.
4. Supinator (menengadah) dan pronator (menelungkup), misalnya gerak
telapak tangan menengadah dan gerak telapak tangan menelungkup.
b. Sinergis

Sinergis juga adalah otot-otot yang kontraksinya menimbulkan gerak searah.


Contohnya pronator teres dan pronator kuadratus (Otot yang menyebabkan
telapak tngan menengadah atau menelungkup).
Otot sinergis adalah dua otot atau lebih yang bekerja bersama-sama dengan
tujuan yang sama. Jadi, otot-otot itu berkontraksi bersama dan berelaksasi
bersama. Misalnya, otot-otot antar tulang rusuk yang bekerja bersama ketika
kita menarik napas, atau otot pronator, yaitu otot yang menyebabkan telapak
tangan menengadah atau menelungkup. Gerakan pada bagian tubuh, umumnya
melibatkan kerja otot, tulang, dan sendi. Apabila otot berkontraksi, maka otot
akan menarik tulang yang dilekatinya sehingga tulang tersebut bergerak pada
sendi yang dimilikinya.
Otot yang sedang bekerja akan berkontraksi sehingga otot akan memendek,
mengeras, dan bagian tengahnya menggembung. Karena memendek, tulang
yang dilekati otot tersebut tertarik atau terangkat. Kontraksi satu macam otot
hanya mampu untuk menggerakan tulang ke satu arah tertentu. Agar tulang
dapat kembali ke posisi semula, otot tersebut harus mengadakan relaksasi.
Namun relaksasi otot ini saja tidak cukup. Tulang harus ditarik ke posisi
semula. Oleh karena itu, harus ada otot lain yang berkontraksi yang merupakan
kebalikan dari kerja otot pertama. Jadi, untuk menggerakan tulang dari satu
posisi ke posisi yang lain, kemudian kembali ke posisi semula, diperlukan
paling sedikit dua macam otot dengan kerja berbeda.
Mekanisme Gerak
Otot Dari hasil penelitian dan pengamatan dengan mikroskop elektron dan
difraksi sinar X, Hansen dan Huxly mengemukkan teori kontraksi otot yang
disebut model sliding filaments.
Model ini menyatakan bahwa kontraksi didasarkan adanya dua set filamen di
dalam sel otot kontraktil yang berupa filament aktin dan filamen miosin..
Rangsangan yang diterima oleh asetilkolin menyebabkan aktomiosin mengerut
(kontraksi). Kontraksi ini memerlukan energi. Pada waktu kontraksi, filamen aktin
meluncur di antara miosin ke dalam zona H (zona H adalah bagian terang di
antara 2 pita gelap). Dengan demikian serabut otot menjadi memendek yang tetap
panjangnya ialah ban A (pita gelap), sedangkan ban I (pita terang) dan zona H
bertambah pendek waktu kontraksi. Ujung miosin dapat mengikat ATP dan
menghidrolisisnya menjadi ADP. Beberapa energi dilepaskan dengan cara
memotong pemindahan ATP ke miosin yang berubah bentuk ke konfigurasi energi
tinggi. Miosin yang berenergi tinggi ini kemudian mengikatkan diri dengan
kedudukan khusus pada aktin membentuk jembatan silang. Kemudian simpanan
energi miosin dilepaskan, dan ujung miosin lalu beristirahat dengan energi rendah,
pada saat inilah terjadi relaksasi. Relaksasi ini mengubah sudut perlekatan ujung

myosin menjadi miosin ekor. Ikatan antara miosin energi rendah dan aktin
terpecah ketika molekul baru ATP bergabung dengan ujung miosin. Kemudian
siklus tadi berulang lagi.
Sumber Energi untuk Gerak Otot
ATP (Adenosht Tri Phosphat) merupakan sumber energi utama untuk kontraksi
otot. ATP berasal dari oksidasi karbohidrat dan lemak. Kontraksi otot merupakan
interaksi antara aktin dan miosin yang memerlukan ATP.
ATP ---- ADP + P
Aktin + Miosin ------------------------- Aktomiosin
ATPase
Fosfokreatin merupakan persenyawaan fosfat berenergi tinggi yang terdapat
dalam konsentrasi tinggi pada otot. Fosfokreatin tidak dapat dipakai langsung
sebagai sumber energi, tetapi fosfokreatin dapat memberikan energinya kepada
ADP.
kreatin
Fosfokreatin + ADP ----------------- keratin + ATP
Fosfokinase
Pada otot lurik jumlah fosfokreatin lebih dari lima kali jumlah ATP. Pemecahan
ATP dan fosfokreatin untuk menghasilkan energy tidak memerlukan oksigen
bebas. Oleh sebab itu, fase kontraksi otot sering disebut fase anaerob.
2. Sistem mikro otot untuk melaksanakan fungsinya
Otot sehubungan dengan fungsinya sebagai alat gerak maupun penghasil panas,
melakukan kerjanya dengan kontraksi yaitu memendekkan otot, kontraksi otot
akan terjadi bila mendapatkan rangsang dengan kekuatan tertentu yang dikenal
dengan nilai ambang. Agar terjadi respon, maka besarnya pacu minimal sama
dengan nilai ambang. Rangsang yang pacunya sama dengan nilai ambang disebut
pacu luminal, sedang yang kurang dari nilai ambang disebut subminimal, kalu
lebih dari nilai ambang dinamakan supraliminal. Hokum All or nothing berlaku
untuk kontraksi otot tersebut yang artinya bila sel otot kontraksi maka akan
melakukan kontraksi secara penuh, jika nilai ambang telah tercapai, walaupun
ditambah rangsang maka kontraksi tak akan bertambah, sebaliknya jika rangsang
kurang dari nilai ambang, maka sama sekali otot tidak kontraksi. Namun demikian
kondisi pada waktu stimulus berubah maka kekuatan kontraksipun berubah,
misalnya sel otot yang baru diregangkan, diberi suplay makanan cukup,
dioksigenasi dengan baik maka kontraksinya lebih kuat dibandingkan dengan
makan dan oksigenasi yang kurang. Prinsip all or nothing tersebut hanya berlaku
pada sel otot tunggal tetapi berlaku pada segumpal otot ataupun organ otot

(kecuali otot jantung), pada segumpal otot rangsang yang kuat, juga akan
menimbulkan kontraksi yang lebih kuat. Perbedaan tersebut terjadi karena serabut
syaraf motoris yang didistribusikan ke otot. Setiap serabut otot tunggal
dicabangkan menjadi seratus cabang kecil yang masing-masing berakhir pada
ujung otot tertentu yang disebut motor and plate dan myoneural junction
(hubungan otot-syaraf). Jadi satu serabut syaraf menginervasi seratus serabut otot.
Serabut syaraf motor tunggal bersama seratus cabang serabut otot membentuk
suatu motor unit pada terminalnya. Suatu stimulus yang lebih kuat mengaktifkan
beberapa motor unit, dengan demikian menghasilkan kontraksi yang lebih kuat
bila dibandingkan dengan stimulus yang lebih lemah. Jantung meruppakan suatu
organ yang mengikuti prinsip all or nothing karena struktur percobaan sel otot
jantung, maka setiap stimulus menyebar keseluruh sel, mengaktifkan semua setiap
waktu, sehingga dapat dihasilkan kontraksi maksimum setiap waktu pada kondisi
tertentu. Kekuatan setiap kontraksi otot bervariasi dari waktu ke waktu tergantung
beberapa factor : Intensitas stimulus, lemah kuatnya stimulus, besarnya beban
yang diterima otot, panjang serabut pada awal kontraksi, panjang serabut pada
awal relaksasi, kondisi metabolic yang menyertainya.
a. Dasar molekuler kontraksi
Proses yang menyebabkan pemendekan unsure-unsur kontrasi otot adalah
pergeseran filament halus dan filament tebal. Sewaktu kontraksi, filament halus
dari ujung berlawanan dari sarcomer akan saling mendekati, kadang-kadang
filament tersebut saling menetupi.
Pergeseran pada waktu otot kontraksi dihasilkan dengan pemutusan dan
pembentukan kembali ikatan silang antara myosin dan aktin. Kepala molekul
myosin terikat aktin secara menyudut, menggeser myosin terhadap aktin secara
memutar, melepaskan ikatan dan menyambung kembali pada titik-titik yang
selanjutnya. Tiap siklus pengikatan, penutaran dan pemutusan memendekkan
otot 1%.
b. Langkah-langkah kontaksi

Pelepasan muatan dari neuron motorik

Pelepasan transmitter/asetilkholin pada lempeng ujung motorik/motor end


plate.

Pembangkitan potensial lempeng ujung

Pembangkitan potensial aksi pada serabut otot

Penyebaran depolarisasi ke dalam sepanjang saluran

Pembebasan ion Ca+ dari reticulum sarkoplasma dan difusi Ca++ ke


filament kasar dan halus.

Pengikatan Ca++ pada troponin C membebaskan daerah pengikatan


myosin pada aktin.

Pembentukan ikatan melintang antara aktin dan myosin dan pergeserkan


pada filament kasar, yang menyebabkan pemendekkan.

c. Langkah-langkah relaksasi

Ca++ dipompa kembali masuk ke dalam reticulum sarcoplasma.

Pembebasan Ca++ dari tropin

Penghentian interaksi antara aktin dan myosin

d. Jenis-jenis kontraksi
Adanya kontraksi otot dapat dilihat dan dicatat dengan alat yang dinamakan
kymograph atau electromyograf sedang hasil gambarnya berupa kymogram
(grafik), yang mempunyai 3 fase :

Fase kontraksi, memendekkan serabut otot

Fase relaksasi, kembali memanjang seperti semula.

Fase laten merupakan fase sebelum kontrasi, perubahan ini belum terlihat
dari luar.

Secara sistematis ketiga fase tersebut seperti dibawah ini

Fase laten

Fase kontraski

Fase relaksasi

Rangsangan biasanya dating pada otot secara berturut-turut. Pacu tersebut


tergantung pada fase tertentu, dating pada kedua selanjunya pacu ketiga dan
seterusnya. Berdasarkan proses tersebut, dikenal beberapa tipe grafik :

Bentuk tunggal

Bentuk tetanus tak sempurna (klonus)

Bentuk tetanus sempurna

Jenis kontraksi otot :


1. Kontraksi isotonis yaitu kontraksi yang melawan beban tetap dengan
mendekatkan kedua ujung otot. Sehingga ke dua otot sama-sama
menghasilkan tonus (otot menggadakan pemendekkan).
2. Kontraksi isometric, yaitu kontraksi tanpa pemendekkan yang nyata tetapi
terjadi penembahan tonus.
3. Ya, terdapat perbedaan pada sistem subseluler pada jenis-jeis otot
sehingga memiliki mekanisme gerak yang berbeda. Contohnya :
a. Otot bagian kepala
1) Otot pundak kepala (musculus oksipiti frontalis), sebagian besar membentuk
galea aponeurika. Dibagi menjadi dua :

Muskulus frontalis; berfungsi mengerutkan dahi dan menarik dahi mata

Muskulus oksipitalis; menarik kulit ke belakang

2) Otot wajah

M. Rektus Okuli/ otot bola mata sebanyak 4 buah;

M. Oblikus Okuli/ otot bola mata sebanyak 2 buah; memutar mata

M. Orbikularis Okuli/ otot lingkar mata; sebagai penutup mata

M. Levator Palpebra Superior, terdapat pada kelopak mata;


mengangkat, kelopak mata atas

3) Otot mulut dan pipi

menarik,

M. Triangularis dan M. Orbikularis/ otot sudut mata; menarik sudut mulut


kebawah

M. Quadratus Labii Superior/ otot bibir atas

M. Quadratus Labii Inferior, terdapat pada dagu, lanjutan otot leher;


menarik bibir kebawah dan membentuk mimik muka kebawah

M. Buksinator, membentuk dinding samping rongga mulut; menahan


makanan waktu mengunyah

4) Otot pengunyah, bekerja pada waktu mengunyah

M. Maseter; mengangkat rahang bawah pada waktu mulut terbuka

M. Temporalis; menarik rahang bawah ke atas dan ke belakang

M. Pterigoid internus dan eksternus; menarik rahang bawah ke depan

5) Otot lidah

M. Genioglosus; mendorong lidah ke depan

M. Stiloglosus; menarik lidah ke atas dan ke belakang

b. Otot leher
1. M. Platisma, terdapat disamping leher menutupi sampai bagian dada;
menekan mandibula, menarik bibir kebawah dan mengerutkan kuli bibir
2. M. Sterno Kleidomastoid, disamping kiri kanan leher; menarik kepala ke
samping, ke kiri, ke kanan, memutar kepala,
3. M. Longisimus Kapitis, terdiri dari splenius dan semispinalis kapitis
c. Otot bagian dada
1. M. Pectoralis Mayor/ otot dada besar
2. M. Pectoralis Minor/ otot dada kecil
3. M. Subklavikula/ otot bawah selangka

4. M. Seratus Anterior/ otot gergaji depan


5. Otot dada sejati, yaitu otot- otot sela iga luar dan otot- otot sela iga dalam

M. Interkostalis Eksternal dan Internal/ otot- otot antara tulang iga

M. Diafragmatikus

DAFTAR PUSTAKA
C.Pearce, Evelyn. 1992. Anatomi dan Fisiologi. PT Gramedia Pustaka Utama.
Jakarta
Ethel, Sloane. 2004. Anatomi dan Fisiologi. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Jakarta.
Gibson, John. 2003. Anatomi dan Fisiologi Modern untuk Perawat. Penerbit Buku
Kedokteran EGC. Jakarta.
Lewis, Heitkemper & Dirksen. 2000. Medical Surgical Nursing. Mosby.
Philadelphia.
Sloane, Ethel. 2003. Anatomi dan Fisiologi. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Jakarta.