Anda di halaman 1dari 3

BAB IV

ANALISA KASUS
Pasien hepatoma seringkali tidak mengalami gejala sampai kanker pada tahap
akhir, sehingga jarang ditemukan dini. Pada pertumbuhan kanker hati, beberapa
pasien mungkin mengalami gejala seperti sakit di perut sebelah kanan atas yang
meluas ke bagian belakang dan bahu, penurunan berat badan, kehilangan nafsu
makan, mudah lelah, mual, muntah, demam, ikterus bahkan sesak nafas.
Laki-laki, 33 tahun datang dengan keluhan sesak napas sejak 1 jam SMRS, disertai
muntah dan BAB cair warna hitam kecap sejak 1 hari SMRS, muntah frekuensi > 6
kali/hari, banyaknya 1/3 gelas. BAB cair frekuensi > 5 kali/hari, banyaknya 1/2 ember. Os
juga mengeluh nyeri pada perut bagian kanan atas. Organ - organ yang dipikirkan menjadi

salah satu sumber nyeri yaitu hepar, saluran empedu maupun ginjal. Organ yang
kemungkinan terganggu yaitu hepar karena pasien mengeluh perut semakin
membesar, nyeri pada perut kanan atas, keras apabila diraba dan terasa mendesak ke
atas. Pembesaran hepar yang terjadi akibat dari hepatoma mengakibatkan hepar
mendorong diafragma sehingga pasien merasa sesak, selain itu juga kemungkinan
dapat dikarenakan adanya metastasis ke paru.
Pasien mengeluhkan BAB berwarna hitam kecap disebabkan karena
hipertensi portal, makin tinggi tekanan portalnya makin besar kemungkinan pasien
mengalami perdarahan varises, apabila terjadi perdarahan varises pasien dapat
mengalami muntah darah atau hematemesis dan BAB hitam atau melena. Pasien
mengeluhkan juga bahwa badan semakin lemas, mual dan muntah apa yang dimakan,
1 bulan SMRS pasien muntah hitam. Hal ini dikarenakan hepar yang semakin
membesar sehingga mendesak lambung dan timbulah perasaan mual dan muntah
serta perut terasa cepat kenyang. Muntah hitam terjadi akibat dari perdarahan varises
esofagus.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan abdomen cembung, venektasi vena (+), dinding
perut distensi, hepatomegali, nyeri tekan kanan atas, lien tidak teraba, pekak diatas

42

massa, timpani (+), asites (+), shifting dulness (+), bising usus (+) normal. Didapatkan
pula pada pemeriksaan penunjang melalui USG abdomen bahwa terdapat kesan hepatoma +
sirosis hepatis + ascites + splenomegali. Ascites terjadi karena tekanan koloid plasma

yang biasa bergantung pada albumin di dalam serum. Pada keadaan normal albumin
dibentuk oleh hati. Apabila hati terganggu fungsinya, maka pembentukan albumin
juga terganggu, dan kadarnya menurun, sehingga tekanan koloid osmotik juga
berkurang.
Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan Hb 10 g/dl menandakan bahwa
terjadi anemia, yang kemungkinan dikarenakan kehilangan darah akibat BAB cair
hitam kecap akibat adanya perdarahan saluran cerna. Didapatkan hasil SGPT
meningkat yaitu 575U/l, adanya peningkatan SGOT maupun SGPT menandakan
bahwa terjadi kerusakan sel-sel hati. Serum glutamat oksaloasetat transaminase
(SGOT) merupakan enzim mitokondria yang berfungsi mengkatalisis pemindahan
bolak-balik gugus amino dari asam aspartat ke asam -oksaloasetat membentuk asam
glutamat dan oksaloasetat. Enzim GOT dan GPT mencerminkan keutuhan atau
intergrasi sel-sel hati. Adanya peningkatan enzim hati tersebut dapat mencerminkan
tingkat kerusakan sel-sel hati. Makin tinggi peningkatan kadar enzim GPT dan GOT,
semakin tinggi tingkat kerusakan sel-sel hati.
Menurut PPHI ( Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia), diagnosa HCC dapat
ditegakkan apabila terdapat kriteria berikut:
1. Hati membesar berbenjol-benjol dengan/tanpa disertai bising arteri.
2. AFP ( Alphafetoprotein ) yang meningkat lebih dari 500 mg/ml.
3. Ultrasonography ( USG ), Nuclear Medicine, Computed Tomography Scann ( CT
Scann ), Magnetic Resonance Imaging ( MRI ), Angiogrphy, ataupun Positron
Emission Tomography ( PET ) yang menunjukkan adanya Kanker Hati Selular.
4. Peritoneoscopy dan biopsi menunjukkan adanya Kanker Hati Selular.
5. Hasil biopsi atau aspirasi biopsi jarum halus menunjukkan adanya Kanker Hati
Selular.

43

Diagnosa HCC didapatkan bila ada dua atau lebih dari lima kriteria atau hanya satu
kriteria empat atau lima. Pada kasus ini didapatkan dua dari lima kriteria tersebut
yaitu kriteria pertama dan ketiga, sehingga pasien dapat dikatakan menderita
hepatoma. Diagnosis sirosis hepatis dapat ditegakkan dari anamnesis yaitu keluhan
BAB hitam dan riwayat muntah hitam, pada pemeriksaan fisik ditemukan adanya
venektasi vena, ascites dan shifting dullness (+), selain itu dari USG abdomen
didapatkan pula hasil hepatoma + sirosis hepatis + ascites + splenomegali.
Pada hepatoma sangat diperlukan biopsy hati untuk mengatahui sejauh mana
invasi sel-sel kanker. Sehingga dapat ditentukan penatalaksaan invasif jika
memungkinkan untuk menambah prognosis kesembuhan pada pasien. Pemeriksaan
CT Scan juga diperlukan pada kasus ini untuk membantu memperjelas diagnosis,
menunjukkan lokasi tepat, jumlah dan ukuran tumor. Tatalaksana untuk hepatoma
adalah dengan reseksi hepatik, transplantasi hepar, dan ablasi tumor perkutan.
Sehingga tatalaksana pada kasus ini yang diberikan untuk mengurangi keluhankeluhan yang ada.

44