Anda di halaman 1dari 6

Strategic Management

Case 1: Mystic Monk Coffee

Gina Wulandari
Moni Yunitasari
Satrio Sadewo

392584
391821
391854

MAGISTER MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2016

CASE SUMMARY
Carmelite merupakan sebuah nama dari kelompok masyarakat religius dari gereja katolik
yang ada di Wyoming. Masyarakat ini hidup dalam nuansa religius di bawah biara Carmelite.
Biara ini didirikan oleh Pastor Daniel Mary.
Ketika pertama kali tiba di Wyoming, Pastor Daniel Mary mempunyai visi untuk
mengubah lahan seluas 500 hektar menjadi sebuah kawasan religious. Namun untuk
mewujudkan visi tersebut, pastor Daniel mary menemui hambatan karena rencana tersebut
membutuhkan biaya sebesa US$ 8,9 juta. Carmelite memperoleh donasi $250,000 yang
digunakan untuk membeli, dan biara telah memperoleh $75,000 selama operasi di Mystic Monk
Coffee.
Pastor Daniel dan beberapa pastur kemudian membuka kedai kopi bernama Mystic Monk
Coffee (MMC) yang visinya adalah menjual kopi yang berkualitas sebanyak mungkin sehingga
pendapatan yang terkumpul dapat digunakan untuk kebutuhan amal bagi biara carmelite di
Wyoming. Untuk mewujudkan visi dari biara carmelite, maka Pastor Daniel berusaha
mengembangkan MMC, sehingga dapat membantu dalam mewujudkan pembelian lahan
peternakan untuk dijadikan area peribadatan tersebut. Pastor Daniel bekerjasama dengan tokotoko lokal, dan gereja lain di carmelite untuk memasarkan paket kopi secara offline, serta
menggunakan sosial media untuk meningkatkan brand awareness dari masyarakat. Pastur Daniel
yang tidak memiliki banyak pengalaman di bidang bisnis menyadari apakah mampu
merealistikan visinya tersebut.
Meskipun Biara Carmellite telah menerima sumbangan $ 250.000 dari para donatur, dan
hampir $ 75.000 selama tahun pertama MMC berjalan, akan tetapi dana tersebut masih jauh dari
cukup untuk membeli area peternakan yang akan dijadikan area peribadatan. Pastor Daniel Mary
menyadari bahwa dukungan dana utama berasal dari penjualan MMC sehingga dia membuat
beberapa objektif / strategi agar pendapatan MMC bisa meningkat, antara lain dengan
meningkatkan kapasitas produksi kopi.
Ada beberapa kendala yang membuat penjualan MMC tidak maksimal antara lain
dikarenakan pekerja dari MMC itu sendiri para biarawan dan fokus dari biarawan adalah berdoa
dibanding bekerja yang mana dalam sehari 8 jam digunakan untuk sembahyang dan sisanya
untuk makan serta istirahat, hal inilah yang membuat produktivitas MMC terbatas. Selain itu dari
segi operasi pemasaran, MMC masih menggunakan cara tradisional melalui word of mouth
antara pelanggan setia di katolik jemaat lintas U.S. Adapun mayorias MMC menjual kopinya
melalui website, dan telepon. Berdasarkan kapasitas pemanggangan MMC terbatas yaitu 540 pon
per hari, produksi juga terbatas karena dikhususkan untuk berdoa, meditasi, dan sembahyang.
Permintaan MMC belum memenuhi kapasitas pemanggang, tapi biarawan berencana untuk
membeli yang lebih besar, 130 pon per jam ketika permintaan selanjutnya mendekati kapasitas
roaster saat ini. Menurut kinerja keuangan, Mistic Monk hanya memberikan rata-rata margin
laba bersih sekitar 11 persen dari pendapatan dimana pada penjualan kopi dan aksesoris lainnya

rata-rata $56,500 per bulan. Untuk mewujudkan visi tersebut MMC perlu mengembangkan
rencana eksekusi yang akan memungkinkan MMC untuk meminimalkan efek dari kendala
monastik tertutup nya, memaksimalkan potensi peluang monastik, dan menyadari visinya tentang
membeli Irma Lake Ranch.
REASONING AND CASE EVIDENCES
Visi : Membuat sebuah Mount Carmel yang baru di Pegunungan Rocky, membangun sebuah
gereja untuk akomodasi 30 biarawan, tempat peristirahatan untuk pengunjung, sebuah gereja
bernuansa Gothic, sebuah biara untuk biarawati Carmelite, dan sebuah tempat pertapaan di lahan
perkebunan Irma Lake.
Misi : 1. Menggalang dana melalui yayasan New Mount Carmel; 2. Menjalankan bisnis
pembuatan kopi yang disebut Mystic Monk Coffee
Dari visi yang dibuat oleh Pator Daniel Mary selaku pemimpin disana, maka hal tersebut sudah
jelas bahwa Mystic Monk Coffee merupakan misi yang dijalankan dan merupakan jenis bisnis
non-sekuler yang artinya bukan bisnis murni yang berorientasi pada laba (bisnis murni), namun
bisnis ini bertujuan untuk kepentingan religious. Adapun beberapa beberapa hal yang
menegaskan bahwa MMC merupakan bisnis yang non-sekuler, yaitu:
1. Para pekerja pembuat kopi merupakan biarawan yang notabene memiliki fokus utama untuk
berdoa dan beribadah. Mereka menghabiskan waktu 8 jam sehari untuk beribadah, yang diatur
sedemikian rupa sambil bekerja untuk MMC.
2. Laba yang diperoleh dari MMC digunakan untuk pencapaian visi gereja, bukan untuk investasi
seperti bisnis pada umumnya yang menggunakan laba ditahan.
3. MMC tidak menggunakan modal dari investor bisnis, melainkan menggunakan sumber dana
yang berasal dari dana sumbangan yang dikumpulkan oleh yayasan gereja.
4. Pasar target dari MMC adalah segmen dari populasi umat katolik di Amerika Serikat yang
mengkonsumsi kopi sekaligus ingin mendukung visi gereja.
5. Promosinya utama yang dilakukan MMC berasal dari mulut ke mulut diantara konsumen loyal
jemaah Katolik di seluruh Amerika Serikat.
Dari fakta-fakta tersebut, terdapat beberapa peluang dan ancaman yang dihadapi oleh MMC
dalam perjalanannya.
Peluang (opportunity)
-

MMC bisa menjadi produsen kopi dengan kualitas biji kopi terbaik di Amerika Serikat karena
menggunakan perdagangan legal biji kopi Arabica dan organic Arabica.
Mampu meningkatkan produksi lebih banyak, distribusi yang lebih luas, dan menjadi supplier
kopi yang besar dan mampu bersaing dengan perusahaan yang sudah besar dan mempunyai
nama di industri kopi seperti Starbucks,

Ancaman (threat)
Melalui analisis 5 forces model of competition, dapat di analisa ancaman yang dihadapi
MMC dalam operasi bisnisnya.
1. Kompetisi dengan pesaing. Untuk model yang pertama, termasuk dalam kategori ancaman
persaingan yang lemah (weak) sebab dengan segmen pasar yang sudah jelas dan juga arah bisnis
non-sekuler, maka persaingan terjadi dalam industri yang sama namun sudah memiliki pasar
tujuan dan segmen yang sangat berbeda.
2. Kompetisi dari pendatang potensial di Industri dan juga segmen yang sama. Menurut kami, ini
merupakan ancaman kompetisi yang termasuk dalam kategori moderate atau bahkan strong. Hal
tersebut dikarenakan adanya kemungkinan gereja atau yayasan lain yang meniru gagasan
tersebut dengan penjualan kopi berkualitas serta mendapat pemberkatan, bahkan dengan konsep
dan manajemen yang bisa lebih baik dari MMC.
3. Kompetisi dengan produsen produk pengganti.
4. Bargaining power dari supplier. Dengan terbatasnya supplier yang dimiliki, maka hal ini akan
menjadi ancaman yang termasuk level moderate karena akan menambah biaya yang cukup besar
untuk beralih ke supplier lain (supplier switching cost).
5. Konsumen juga termasuk bisa menjadi ancaman, sebab segmen pasar dari MMC itu tidak terlalu
luas dan jika tidak berinovasi pada produk maka konsumen bisa beralih ke produk lain.
Selain ancaman tersebut, ada beberapa kelemahan yang dimiliki oleh MMC dalam perjalanan
yang kedepannya bisa mempengaruhi keberlangsungan dari MMC itu sendiri:
1.

Keseluruhan tenaga kerja yang bekerja di MMC merupakan biarawan, maka produktivitas
mereka sangat terbatas yang disebabkan oleh sebagian besar waktu biarawan digunakan untuk
berdoa dan beribadah dibandingkan dengan waktu produksinya. Dengan kata lain, sumber daya
manusia dalam MMC tidak bisa bekerja dengan maksimal karena hanya mengandalkan biarawan
yang ada di Carmelite.
2. Dengan keuntungan yang ditujukan untuk kepentingan gereja, maka tidak ada laba ditahan yang
bisa di gunakan MMC sebagai modal. Sehingga dengan modal yang berasal dari yayasan, jumlah
produksi MMC masih terbatas dari yang sebenarnya masih bisa di maksimalkan karena adanya
permintaan yang cukup tinggi dari pasar. Selain itu kapasitas mesin pemanggang kopi juga
terbatas dalam produksinya yaitu hanya sebanyak 540 pon per hari.
3. Walaupun bertujuan sebagai bisnis non-sekuler, di sisi lain terdapat pernyataan bahwa MMC
akan membuat model bisnis baru termasuk menjadi penjual grosir ke gereja-gereja dan juga toko
kopi lokal. Hal tersebut merupakan salah satu bentuk upgrade dari MMC untuk bisa menambah
kapasitas produksi serta penyebarannya yang lebih luas. Ini akan menimbulkan peluang untuk
MMC yang awalnya bisnis non-sekuler menjadi bisnis sekuler. Selain itu, MMC juga berafiliasi
dengan pihak pemasang iklan melalui website dan ini merupakan bisnis sekuler.
CONCLUSION AND RECOMMENDATIONS

Dari keseluruhan fakta dalam kasus tersebut, dapat disimpulkan bahwa MMC merupakan
bisnis non-sekuler yaitu bisnis yang tidak murni berorientasi pada laba namun orientasinya
merupakan religious sesuai dengan visi yang sudah dibuat. Hal tersebut menimbulkan dilemma
antara pencapaian visi yang bersifat religious dengan perjalanan bisnis MMC yang memerlukan
format bisnis sekuler (murni) untuk keberlangsungan dan perkembangannya dalam jangka
panjang dan bisa mencapai visi secara efektif. Dengan demikian, kami dapat merekomendasikan
beberapa hal yang dapat dilakukan MMC untuk keberlangsungannya tanpa harus merubah esensi
religious dan visi yang ingin di capai.
1. Dari fungsi pengelolaan operasional.
MMC bisa menambah produktivitas dengan menambah kapasitas roaster yang sudah dimiliki
saat ini. Selain ini penambahan supplier juga diperlukan untuk menjaga ketersediaan bahan
untuk produksi.
2. Dari fungsi pengelolaan sumberdaya manusia.
MMC sebaiknya tidak mempekerjakan biarawan sebagai pekerja utama dalam produksi
melainkan bisa dilibatkan dalam manajemennya. Sedangkan untuk pekerja produksi,
sebaiknya merekrut orang secara professional seiring dengan bentuk bisnis yang sudah
sekuler. Sehingga para biarawan bisa focus dengan tugas utamanya yaitu berdoa dan
produktivitas MMC maksimal dengan dikerjakan oleh pekerja yang sudah direkrut.
3. Dari fungsi pengelolaan keuangan
MMC bisa mencari investor melalui kelompok pemilik bisnis Cody dan juga kredit dari bank
untuk menambah modal yang digunakan untuk pengembangan MMC dan investasi jangka
panjang. Pengelolaan keuangan dilakukan secara professional yang nantinya terdapat alokasi
dana yang paling besar untuk pencapaian visi.
4. Dari fungsi pengelolaan pemasaran
Dengan strategi bisnis yang kami rekomendasikan, maka pemasaran juga harus lebih gencar
dilakukan, yaitu dengan memperluas target pasar tidak hanya di wilayah Amerika saja;
merambah segmen pasar diluar umat katolik saja; memperbanyak channel distribusi dengan
memasok ke swalayan atau pusat perbelanjaan; dan juga promosi melalui website, memasang
iklan, sosial media, dan media promosi lainnya.

REFERENCES
New Mount Carmel Foundation, Inc. Building Plan. Tersedia

http://www.newmountcarmelfoundation .org/ [21 Agustus 2016].

Mistic Monk Coffee. All Coffee. Tersedia https://www.mysticmonkcoffee.com/.


Carmelite Monks. Building Project. Tersedia http://www.carmelitemonks.org/ManualLabor.php.

Anda mungkin juga menyukai