Anda di halaman 1dari 9

MODUL 5 RANGKAIAN AC

Christofer Yusalfino (13213075)


Asisten: Westyarian (23214121)
Tanggal Percobaan: 04/11/2014
EL2101 Praktikum Rangkaian Elektrik

Laboratorium Dasar Teknik Elektro - Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB
Abstrak
Percobaan yang telah dilakukan pada praktikum kali
ini antara lain mengukur beda fasa tegangan dan arus
pada rangkaian seri RC dan RL dengan metode
dengan osiloskop dual trace, memahami hubungan
antara tegangan dan arus pada rangkaian seri RC dan
RL. Memahami response terhadap frekuensi pada
rangkaian seri RC dan RL dengan cara
mengamatinya pada domain frekuensi dan mencatat
hasil dalam bode Plot untuk magnituda dan untuk
fasa.
Kata kunci: Integrator, Differensiator, Filter.
1.

PENDAHULUAN

Selain itu praktikum kali ini bertujuan untuk


mengukur beda fasa antara tegangan dan arus
pada rangkaian seri RC dan RL, dan memahami
response terhadap frekuensi pada rangkaian
seri RC dan RL.

STUDI PUSTAKA

phasor tegangan dan phasor arus.

Hal ini dinyatakan dengan adanya suatu operator


j yang besarnya = 1 yang menunjukan
perputaran 90o searah atau berlawanan arah
dengan jarum jam terhadap besaran semula.
Perhatikan rangkaian pada Gambar 5-1.

(Sumber : Modul Praktikum EL-2101 Semester 1


2013-2014)

= +

1
.

= +

Dari hubungan tegangan dan arus seperti v = R.i;


[1]

Bila perbandingan tegangan dan arus pada R


disebut resistansi, dan perbandingan tegangan
dan arus pada L dan C disebut reaktansi, maka
akan terlihat bahwa resistansi tidak akan
sebanding dengan reaktansi.

Menurut hukum Kirchoff II (KVL), dapat di tulis :

Dalam arus bolak-balik, untuk bentuk gelombang


sinus, impedansi adalah perbandingan

= ,

pada C ; tegangan ketinggian 90o dari arusnya

Rangkaian RC

Praktikum kali ini bertujuan agar praktikan


memahami konsep impedansi dalam arti fisik.
Praktikum kali ini juga bertujuan agar praktikan
memahami hubungan antara impedansi resistansi
dan impedansi reaktansi kapasitif dan induktif
pada rangkaian seri RC dan RL. Memahami
hubungan tegangan dan arus pada rangkaian seri
RC dan RL dilakukan dengan cara mengukur
bentuk gelombang output pada percobaan
rangkaian differensiator dan rangkaian integrator.

2.

pada L ; tegangan mendahului 90o terhadap


arusnya

i =

maka akan terlihat bahwa untuk sinyal tegangan


sinusoidal (sinus atau kosinus): [1]

Tegangan resistor vR sefasa dengan I sedangkan


tegangan kapasitor vC ketinggalan 90 dari arus.
Arus total mendahului antara 0 s.d. 90. Sudut
ketertingalan vi () ditentukan oleh perbandingan
reaktansi dan resistansinya. Beda fasa antara vC
dan i, atau vi dan i dapat dilihat dengan
membandingkan beda fasa antara vC dan vR, atau
antara vi dan vR. [1]

pada R ; tegangan sefasa dengan arusnya

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

2.1

DIFFERENSIATOR

Sehingga

Masih dari persamaan di atas, bila output diambil


pada resistor vo = vR, untuk vC >> vR akan
diperoleh vi vC sehingga

Bila
atau
di atas dapat dituliskan

, maka persamaan

Dengan demikian diperoleh hubungan output (vO


= vR) dengan input (vi) sebagai berikut :

2.3

HIGH PASS FILTER

Dari persamaa, VI =VR +VC bila diambil VO =VR ,


maka dapat dituliskan
Rangkaian dengan persyaratan ini dikenal sebagai
rangkaian differensiator.
Dalam bentuk phasornya, persyaratan di atas
dapat dituliskan sebagai berikut :

sehingga diperoleh CR >>1.


Bila
atau
diatas dapat dituliskan

, maka persamaan

Ada nilai utama yang diperoleh dari fungsi di


atas:

Untuk >> o akan diperoleh

Untuk << o akan diperoleh

Untuk = o akan diperoleh

Dari,

dapat diturunkan bahwa daya di R

adalah

2.2

daya pada R saat >> o. Rangkaian merupakan


High Pass Filter (HPF) yang sederhana.

INTEGRATOR

Dari persamaan

2.4

= +

LOW PASS FILTER

Dari persamaa, vi = vR + vC bila diambil vo =vc ,


maka dapat dituliskan

atau
= +

. Pmax adalah

1
.

bila tegangan output diambil pada kapasitor ( vo =


vc ) dan vR >> vc , maka vi vR sehingga v Ri

atau i . Pada output diperoleh


Ada nilai utama yang diperoleh dari fungsi di
atas:
Fungsi rangkaian ini dikenal sebagai rangkaian
integrator. Syarat terpenuhinya fungsi rangkaian
integrator RC yang baik adalah vR >> vC. Dalam
bentuk phasornya, hubungan di atas dapat
dituliskan sebagai berikut :

Untuk >> o akan diperoleh

Untuk << o akan diperoleh

Untuk = o akan diperoleh

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

Rangkaian RL
Analisa pada rangkaian RL seperti pada Gambar
5-2 dapat dilakukan dengan cara yang sama
seperti pada rangkaian RC.

Buatlah rangkaian
dengan harga-harga
besaran seperti pada
Gambar 5-3.

Ukurlah VR dan VC
dengan multimeter.
Cek apakah Vi = VR +
VC. Amati Vi, VR dan
VC dengan osiloskop.

Menurut hukum Kirchoff II (KVL) vi=vR+vL


sehingga
= +

Untuk sinyal berbentuk sinusoidal, vR sefasa


dengan I dan vi mendahului terhadap I (dengan
sudut atara 0 dan 90). Sama seperti pada
rangkaian RC, sudut ditentukan oleh
perbandingan reaktansi dan resistansinya. Beda
fasa antara vL dan I, atau anata vi dan I dapat
dilihat dengan membandingakan beda fasa vL dan
vR, atau vI dan vR. [1]

3.

Carilah beda fasa


antara Vi dan VR,
juga antara VC dan
VR dengan bantuan
osiloskop.

Carilah hasil perhitungan,


pengukuran dan
pengamatan saudara ke
dalambentuk tabel dalam
Buku Catatan Laboratorium
(BCL).

3.2

RANGKAIAN RL

METODOLOGI

Alat dan komponen yang


praktikum kali ini antara lain :

3.1

Hitunglah VR dan VC
dengan harga besaran
yang telah diketahui.

digunakan pada

1.

Kit Rangkaian RC & RL

2.

Generator sinyal

3.

Osiloskop

4.

Multimeter

5.

Resistor : 1 K, 10 K, 100 K, 1 M

6.

Kapasitor : 0,1 F, 0,01 F, 0,001 F

7.

Inductor : 2,5 mH

RANGKAIAN RC

Buatlah rangkaian dengan harga-harga besaran seperti


pada Gambar 5-4
Hitunglah VR dan VL dengan harga besaran yang telah diketahui.

Amati nilai Vi dengan osiloskop, catat pada Buku Catatan


Laboratorium.
Carilah beda fasa antara Vi dan VR dan VL dengan bantuan
osiloskop.

Carilah hasil perhitungan, pengukuran dan pengamatan


saudara ke dalam bentuk tabel dalam BCL.

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

3.3

RANGKAIAN DIFFERENSIATOR

Buatlah rangkaian seperti pada


Gambar 5-5.
Aturlah input dengan bentuk
gelombang segi empat sebesar 4 V peak
to peak(Vpp) pada frekuensi 500 Hz
dengan bantuan osiloskop.
Hitunglah konstanta waktu RC
dengan harga-harga C dan R yang
tersedia.Gambarlah bentuk
gelombang output (ideal) dengan
input bentuk gelombang segi empat.
Ukurlah bentuk gelombang
output yang terjadi dengan
osiloskop.
Catatlah hasil perhitungan dan
pengukuran serta gambarlah hasil
pengamatansaudara dalam bentuk
tabel dalam BCL.

3.4

RANGKAIAN INTEGRATOR

Buatlah rangkaian seperti pada Gambar 5-6.

Aturlah input dengan bentuk gelombang segi


empat sebesar 4 Vpp pada frekuensi 500Hz
dengan bantuan osiloskop
Hitunglah konstanta waktu RC dengan hargaharga C dan R yang tersedia (lihat table-5).

Gambarlah bentuk gelombang output (ideal)


dengan input bentuk gelombang segi empat

Amati dan ukurlah bentuk gelombang output


yang terjadi dengan osiloskop

Catatlah hasil perhitungan dan pengukuran serta


gambarlah hasil pengamatan saudara dalam bentuk
tabel dalam BCL. Ulangi untuk gelombang segitiga.

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

3.5

PENGARUH FREKUENSI DIAMATI


PADA DOMAIN FREKUENSI

Buatlah rangkaian RC seperti pada percobaan rangkaian


diferensiator, dengan harga R = 10 K dan C = 8,2nF.

Hitunglah konstanta waktu = RC. Aturlah input


dengan bentuk gelombang segi empat sebesar 4 Vpp
pada frekuensi 50 Hz dengan bantuan osiloskop.
Ukur dan gambarlah bentuk gelombang output untuk hargaharga frekuensi 50 Hz, 500 Hz , 5 KHz, dan 50 KHz. Catatlah
hasilnya dalam bentuk tabel dalam BCL. Kemudian buatlah
rangkaian RC seperti pada percobaan rangkaian integrator,
dengan harga R = 10 K, dan C = 8,2nF. Lakukanlah langkah
sebelumnya.

4. HASIL DAN ANALISIS


4.1

Buatlah rangkaian RC seperti pada percobaan rangkaian


diferensiator dengan harga R = 10 K dan C = 8,2nF.
Hitunglah konstanta waktu ( = RC) serta frekuensi cut-off
(fo) = 1/(2 ). Aturlah bentuk masukan sinusoidal.

RANGKAIAN RC

Kejadian di Laboratorium :
Tidak ada kejadian negatif yang terjadi pada
saat percobaan berlangsung.
Pengesetan Alat :

Ukurlah Vo (tegangan keluaran) /Vi (tegangan masukan)


dengan bantuan osiloskop (input di kanal-1 dan output di
kanal-2) untuk 5 titik pengukuran yaitu:
1 titik frekuensi cut off (petunjuk: ubah frekuensi input
dimana frekuensi ini di sekitar frekuensi cut off hasil
perhintungan sehingga diperoleh Vo/Vi = 1/ 2 atau = 0,7.
Kemudian catat frekuensi ini sebagai fo).
2 titik untuk zona datar (LPF) atau zona naik (HPF).
(petunjuk: pilih titik frekuensi 1/100 fo dan 1/10 fo)
2 titik untuk zona turun (LPF) atau zona datar (HPF).
(petunjuk: pilih titik frekuensi 10 fo dan 100 fo)

Semua alat diset tepat sesuai dengan petunjuk


yang telah diberikan pada modul.
Tabel 5-1 Hasil Percobaan Rangkaian RC
Yang diukur

Beda Fasa ()

Keterangan

Vi dengan VR

31,32

Vi rms= 1,984 V

VC dengan VR

108

VC = 0,943 V

Vi dengan VC

4,32

VR = 1,743 V

Analisis Hasil Percobaan:


Beda fasa yang tertera pada hasil percobaan diatas
diukur dengan menggunakan metode osiloskop
dual trace. Terlihat bahwa beda fasa untuk tiap
pasang V yang diukur berbeda-beda.
Hitunglah Vo/Vi yang terjadi dalam dB. Catatlah hasilnya
dalam tabel dalam BCL. Plot 5 titik pengukuran tersebut
dengan skala logaritmik. Hasil plot 5 titik pengukuran adalah
seperti grafik pada Gambar 5-7.
Ukur beda fasa dengan menggunakan metode Lissajous. Plot
hasil tersebut ke dalam grafik frekuensi-fasa seperti contoh
pada Gambar 5.8.
Kemudian buatlah rangkaian RC seperti pada percobaan 4.5
(Rangkaian Integrator) dengan harga R = 10 K, dan C =
8,2nF..Lakukanlah langkah b, c, d, e dan f.

4.2

RANGKAIAN RL

Kejadian di Laboratorium :
Tidak ada kejadian negatif yang terjadi pada saat
percobaan berlangsung.
Pengesetan Alat :

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

Semua alat diset tepat sesuai dengan petunjuk


yang telah diberikan pada modul.

dari rangkaian. Semakin besar nilai C maka


semakin besar juga nilai Vavg yang terukur.

Tabel 5-2 Hasil Percobaan Rangkaian RL


Yang diukur

Beda Fasa ()

Vi dengan VL

4,32

Vi rms= 2V

VR dengan VL

43,2

VL = 1,52 V

Vi dengan VR

8,64

Tabel 5-3 Hasil Percobaan Rangkaian Integrato

Keterangan

Kapasitor

Resistor

(s)

0,1 F

1 K

10-4

10 K

10-3

100 K

10-2

1 K

8,2 x
10-6

10 K

8,2 x
10-5

100 K

8,2 x
10-4

Grafik

Analisis Hasil Percobaan:


Beda fasa yang tertera pada hasil percobaan
diatas diukur dengan menggunakan metode
osiloskop dual trace. Terlihat bahwa beda fasa
untuk tiap pasang V yang diukur berbeda-beda.

4.3

RANGKAIAN DIFFERENSIATOR
Tabel 5-3 Hasil Percobaan Rangkaian
Differensiator (dari BCL)

0,0082 F

Analisis Hasil Percobaan :


Hasil grafik yang didapatkan selalu berbeda
karena grafik dipengaruhi oleh besarnya
resistansi R dan reaktansi kapasitif dari C.
Semakin besar nilai R maka semakin besar Vavg
Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

4.4

RANGKAIAN INTEGRATOR

Tabel 5-4b Hasil Percobaan Rangkaian Integrator


dengan Sinyal Segitiga

Tabel 5-4a Hasil Percobaan Rangkaian Integrator


dengan Sinyal Segi Empat
Kapasitor

Resistor

(s)

0,1 F

1 K

10-4

10 K

100 K

Grafik

Kapasitor

Resistor

(s)

0,1 F

1 K

10-4

10 K

10-3

100 K

10-2

1 K

8,2 x
10-6

10 K

8,2 x
10-5

100 K

8,2 x
10-4

10-3

10-2

0,0082 F
0,0082 F

1 K

10 K

100 K

Grafik

8,2 x
10-6

8,2 x
10-5

8,2 x
10-4

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

Tabel 5-4a Hasil Percobaan Rangkaian Integrator


dengan Sinyal Segi Empat (dari BCL)

Analisis Hasil Percobaan:


Hasil grafik yang didapatkan selalu berbeda
karena grafik dipengaruhi oleh besarnya resistansi
R dan reaktansi kapasitif dari C. Di sinilah terletak
perbedaan antara rangkaian Integrator dan
rangkaian Differensiator, yaitu :
Semakin besar nilai R maka semakin kecil Vavg
dari rangkaian. Semakin lebar juga grafik yang
diperlihatkan pada layar osiloskop.
Semakin besar nilai C maka semakin kecil juga
nilai Vavg yang terukur.
Sinyal Segi Empat dan sinyal Segitiga
menghasilkan grafik keluaran yang berbeda. Hal
ini dapat dibuktikan dengan membandingkan
tabel 5-4a dan tabel 5-4b.

4.5

PENGARUH FREKUENSI DIAMATI


PADA DOMAIN FREKUENSI

Hasil Percobaan Rangkaian Differensiator untuk


4 frekuensi yang berbeda

Tabel 5-4b Hasil Percobaan Rangkaian Integrator


dengan Sinyal Segitiga (dari BCL)

Hasil Percobaan Rangkaian Differensiator untuk


4 frekuensi yang berbeda

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB

= 8,2 x 10-5 s

5.

fo = 1940,91394 Hz

Besarnya impedansi resistansi dan impedansi


reaktansi pada rangkaian seri RC memiliki
hubungan yang penting karena memengaruhi
besarnya V output pada rangkaian differensiator,
rangkaian integrator dan rangkaian RC pada
percobaan kali ini. Kombinasi R dan C yang
berbeda menghasilkan V output yang berbeda
juga, dan akan menghasilkan grafik keluaran yang
berbeda juga.

Berikut adalah tabel dari data percobaan ini : (data


didapatkan dari praktikan lain yaitu Arnoldus
Janssen Krisma P. )
f

Diferensiator
Vo/Vi

Integrator

Vo/
Vi
(dB)

Vo/Vi

Vo/
Vi
(dB)

0,01 fo

10-2

-40

90

0,1 fo

10-1

-20

84,3

5,64

fo

0,7

-3

45

0,7

-3

45

10 fo

5,64

10-1

-20

84,3

100 fo

10-2

-40

90

Berdasarkan data diatas maka didapatkan gambar


Bode Plot untuk magnitude-frequency dan phasefrequency sebagai berikut :

KESIMPULAN

Besarnya impedansi resistansi dan impedansi


reaktansi pada rangkaian seri RL memiliki
hubungan yang penting karena memengaruhi
besarnya V output pada rangkaian RL. Kombinasi
R dan L yang berbeda menghasilkan V output
yang berbeda juga.
Hubungan arus dan tegangan pada rangkaian seri
RC adalah beda fasa arus mendahului beda fasa
tegangan sebesar 90. Turunan dari tegangan
terhadap waktu pada kapasitor dapat digunakan
untuk mencari
arus yang mengalir
pada
rangkaian, hubungan ini dapat
dibuktikan
dengan persamaan :
i=

Hubungan arus dan tegangan pada rangkaian seri


RL adalah beda fasa tegangan mendahului beda
fasa arus sebesar 90. Turunan dari arus terhadap
waktu pada kapasitor dapat digunakan untuk
mencari tegangan pada induktor di rangkaian,
hubungan ini dapat
dibuktikan dengan
persamaan :
=

Rangkaian seri RC saat menerima frekuensi yang


berbeda memberikan respon yang berbeda juga.
Semakin besar frekuensi yang kita pakai, maka
tegangan yang dihasilkan akan semakin kecil.

DAFTAR PUSTAKA
[1]

Hutabarat, Mervin T. , Praktikum Rangkaian


Elektrik , Laboratorium Dasar Teknik Elektro
ITB, Bandung, 2013.

Laporan Praktikum - Laboratorium Dasar Teknik Elektro STEI ITB