Anda di halaman 1dari 3

Pembahasan

Alkaloid
Alkaloid merupakan senyawa organik yang banyak ditemukan pada berbagai jenis
tumbuhan, baik di bagian daun, biji, ranting dan kulit kayu (Pandiangan, 2009). Sebagai
antifungi, alkaloid menyebabkan kerusakan membran sel. Alkaloid akan berikatan kuat
dengan ergosterol membentuk lubang yang menyebabkan kebocoran membran sel. Hal
ini mengakibatkan kerusakan yang tetap pada sel dan kematian sel pada jamur (Mycek et
al, 2001; Setiabudy & Bahry, 2007).
Saponin
Saponin mengandung gugus gula terutama glukosa, galaktosa, xylosa, rhamnosa
yang beritakan dengan suatu aglikon hidrofobik berupa triterpenoid, steroid atau steroid
alkaloid (Faure, 2002 dalam Suryaningrum, 2011)
Saponin diketahui mempunyai efek sebagai antimikroba, antifungi dan
melindungi tanaman dari serangan serangga. Saponin mempunyai tingkat toksisitas yang
tinggi melawan fungi. Aktifivitas fungisida terhadap Trichoderma viride telah digunakan
sebagai metode untuk mengidentifikasikan saponin. Mekanisme kerja saponin sebagai
antifungi berhubungan dengan interaksi saponin dengan membran sterol (Morrissey, 1999
dalam Suryaninggrum, 2011)
Flavonoid
Flavonoid adalah suatu kelompok senyawa fenol yang terbesar yang ditemukan di
alam. Flavonoid mempunyai kerangka dasar karbon yang terdiri dari 15 atom karbon,
dimana dua cincin benzen (C6) terikat pada suatu rantai popan (C3) sehingga membentuk
suatu susunan C6 C3 C6. Senyawa ini merupakan zat warna merah, ungu, biru, dan

sebagian zat warna kuning yang ditemukan dalam tumbuh-tumbuhan (Noorhamdani,dkk,


2007).
Malik, dkk (2007) dalam Suryaninggrum (2011) telah melakukan uji aktivitas
antijamur senyawa flavonoid secara in vitro menggunakan tiga jenis biakan jamur
Candida albicans, Epidermophyton flocosum dan Microsporum gypseum dengan metode
difusi agar menggunakan cakram kertas. Dari penelitian tersebut didapatkan kesimpulan
bahwa flavonoid juga mempunyai efek antifungi.
Flavonoid selain memiliki aktivitas antioksidan juga memiliki aktivitas sebagai
antifungi dengan merusak permeabilitas membran sel sehingga dapat mengganggu proses
metabolisme jamur (Robinson, 1995).
Tanin
Tanin merupakan senyawa aktif metabolit sekunder yang diketahui mempunyai
beberapa khasiat yaitu sebagai astringen, anti diare, anti bakteri dan antioksidan. Tanin
merupakan komponen zat organik yang sangat kompleks, terdiri dari senyawa fenolik
yang sukar dipisahkan dan sukar mengkristal, mengendapkan protein dari larutannya dan
bersenyawa dengan protein tersebut (Desmiaty et al., 2008). Tanin dibagi menjadi dua
kelompok yaitu tanin terhidrolisis dan tanin terkondensasi. Tanin memiliki peranan
biologis yang kompleks mulai dari pengendap protein hingga pengkhelat logam. Tanin
juga dapat berfungsi sebagai antioksidan biologis (Hagerman, 2002).
Minyak Atsiri
Ditinjau dari segi fisika, minyak atsiri mengandung dua golongan senyawa, yaitu
oleoptena dan stearoptena. Oleoptena adlah bagian hidrokarbon dalam minyak atsiri dan
berwujud cair. Umumnya sebagai alat pertahanan diri agar tidak dimakan hewan (hama).

Untuk sebaliknya, minyak atsiri juga berfungsi sebagai penarik serangga untuk
membantuk proses penyerbukan. Untuk pengobatan manuasia sebagai antibakteri dan
antifungi, serta penolak nyamuk (Agusta, 2002 dalam Suryaninggrum, 2011).
Minyak atsiri akhir-akhir ini menarik perhatian dunia, hal ini disebabkan minyak
atsiri dari beberapa tumbuhan bersifat aktif biologis sebagai antijamur dan antibakteri
sehingga dapat dipergunakan sebagai bahan pengawet pada makanan dan sebagai
antibiotik serta anti jamur alami (Sundari, 2001).
Polifenol
Polifenol adalah kelompok zat kimia yang ditemukan pada
tumbuhan. Pada beberapa penelitian tentang polifenol disebutkan bahwa
kelompok polifenol dapat mengurangi risiko penyakit jantung dan
pembuluh darah serta kanker. Selain itu, polifenol merupakan senyawa
yang bersifat sebagai inhibitor pencernaan (Atmowidi, 2003).