Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRATIKUM TOKSIKOLOGI

SENYAWA KIMIA YANG BEKERJA LOKAL(SETEMPAT)

SHOBHA RAJANTIRAN

B04128017

ANNISA APRILLIA

B04130067

FARID MUKHTAR FATAH

B04130080

DHEA KHARISMA PUTRI

B04130135

HAKIM AZIZ SUPRIYANTO

B04120140

HERIANTO SITEPU

B04130155

PRINCESSE THERESA

B04130166

SUGGANYA A/P RAVI

B04138026

DIVISI FARMAKOLOGI DAN TOKSIKOLOGI


DEPARTEMEN ANATOMI, FISIOLOGI DAN FARMAKOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2015

PENDAHULUAN
Obat merupakan senyawa kimia yang mempengaruhi proses hidup. Obat juga sering digunakan
sebagai pencegahan, diagnosis dan pencegahan pengobatan penyakit. Berkaitan dengan mekanisme
kerjanya, obat dapat bekerja secara lokal maupun general. Faktor yang mempengaruhi keberhasilan obat
dalam menyelesaikan tugasnya adalah jumlah dosis yang tepat diberikan pada pasien. Efek obat hanya
ditentukan pada dua dosis sehingga mempengaruhi kondisi tubuh selanjutnya yaitu effective dose dan
toxic dose. Obat akan bekerja optimum bila memenuhi effective dose, dan menjadi racun bila melebihi
dosis efektif.
Obat atau senyawa kimia yang bekerja secara lokal merupakan senyawa yang bekerja pada
tempat dimana obat tersebut diaplikasikan. Obat digolongkan menjadi tiga kelompok yaitu irritansia,
protektiva dan depilator. Berdasarkan kekuatannya senyawa irritansia dibagi menjadi rubefaksi dan
kaustika. Sedangkan protektiva dikelompokkan menjadi demulsensia, astringensia dan adsorbensia.
Tubuh hewan hampir seluruhnya ditutupi oleh kulit, akibatnya kulit menjadi pelindung utama dari
paparan berbagai macam zat kimia seperti kosmetik, produk rumah tangga, obat topikal dan pencemaran
industri. Praktikum kali ini menggunakan senyawa kimia yang bekerja secara lokal, yaitu senyawa kimia
yang bersifat irritansia, protektiva dan depilator.
TINJAUAN PUSTAKA
A. Irritansia
Irritansia merupakan kelompok zat kimia lokal yang dapat menyebabkan kerusakan jaringan
tubuh. Paparannya tidak langsung mencapai pembuluh darah tetapi bereaksi secara lokal pada
tempat terjadinya paparan. Jaringan tubuh yang umumnya terkena dampak irritansia adalah kulit
dan mukosa. Berdasarkan daya kerjanya irritansia dibagi menjadi rubefaksi, vesikasi, pustulasi
dan korosi.
a. Rubefaksi
Merupakan kelompok senyawa kimia iritansia yang daya kerjanya lemah. Gejala utama
yang ditimbulkan adalah hiperemia arteriol yang dilanjutkan dengan dermatitis eritrematosa.
Contoh daya kerja dari rubefasiensia terlihat pada paparan menthol, kloroform atau fenol pada
kulit (Lorgue 1996).
b. Kaustika

Senyawa bersifat kaustika antara lain adalah asam kuat dan basa kuat. Contoh asam kuat
adalah asam nitrat, asam sulfat dan asam klorida. Sedangkan basa kuat adalah natrium hidroksida.
Reaksi asam akan menyebabkan koagulasi protein dan reaksi basa menyebabkan terjadinya lisis.
B. Protektiva
Senyawa ini mampu untuk melindungi kulit dan mukosa dari kerusakan. Daya kerja protektiva
bersifat demulsensia, emoliensia, astringensia dan adsorbensia.
a. Demulsensia
Senyawa ini membentuk lapisan yang melindungi kulit. Hal ini ditimbulkan oleh efek
pencampuran cairan koloid dengan air. Resin, musilago dan pati merupakan bahan utama dari
senyawa demulsensia. Pada aplikasi lokal dalam bentuk larutan zat ini menghilangkan iritasi dan
melindungi sel di bawahnya terhadap kontak iritan dari luar (Ganiswarna 2005).
b. Astringensia
Memiliki kemampuan presipitasi, permeabilitas membran dapat ditekan tanpa
menyebabkan terjadinya kematian sel. Perubahan permeabilitas dapat mempengaruhi turunnya
penyerapan zat iritan. Contoh zat astringensia adalah tannin (Ganiswarna 2005).
c. Adsorbensia
Senyawa ini memiliki kemampuan untuk menyerap zat iritan. Contoh senyawa ini adalah karbon.
Senyawa ini tidak mengiritasi kulit, namun melindungi kulit dengan cara menyerap zat iritan.
Senyawa ini tidak diserap oleh tubuh dan akan dikeluarkan melalui ekskresi sehingga tidak
berbahaya (Ganiswarna 2005).
C. Depilator
Beberapa zat kimia dapat digunakan untuk merontokkan rambut atau bulu, bila diaplikasikan
pada kulit. Daya kerja tersebut dilaksanakan dengan memutus ikatan sulfur pada bagian akar bulu
atau rambut.

METODE KERJA
a. Irritansia
Rubefasiensia
Gosoklah sepotong menthol pada kulit.Catat hasilnua dan berikan keterangan.
Celupakan kaps ke dalam klorofom dan letakkan di atas kulit lengan selama 2-3 menit atau
sampai terasa nyeri.Sebagai perbandingan teteskan satu tetes klorofom di atas kulit lengan yang
lain.Catat hasilnya dan berikanlah keterangan.Celupkan 4 jari tangan dan berikanlah keterangan.
Kaustika
Lakukan anaethersi pada kelinci /marmot/tikus, sete;ah rambut-rambut bagian abdomen
dicukur.Teteskan pada tangan kiri kanan dari garis tengah abdomen bahan-bahan abdomen(asam
sulfat pekat, asam khlorida , asam nitat, fenol likuafaktum, NAOH 75%. Klorofom).Setelah

dibiarkan selama 30 menit untuk bekerjanaya zat tersebut, catatlah hasilnya dan lakukan
percobaaan yang sama pada mukosa usu setelah dilakukan pembedahan longitudinal pada
abdomen kelinci, marmot ,atau tikus tersebut.
b. Protektiva
Demulsensia
Teteskan H2SO4 yang konsentrasi( 1/50N,1/25N) pada kaki kodok dan amati ada perubahan pada
kaki kodok (reflex).
Astrigensia
Teteskan satu tetes larutan Tannin 5% pada permukaan ujung lidah. Rasakan untuk 2 menit
kemudian cuci mulut dengan berkumur air. Amati ujung lidah dengan cermin atau minta pada
peserta lain untuk melakukan pengamatan pada ujung lidah. Amati perubahan.
c. Daya kerja Depilator
Teteskan 1 atau 2 tetes dari masing-masing zat yang tersedia (NaOH, bAs, Na2s) di atas kulit
kelinci /marmot /tikus pada tempat yang berbeda .Biarkan selama 10 menit kemudian bersihkan
bekasnya dengan kapas. Amati ada atau tidaknya bulu yang lepas. Amati pula efek-efek lain
padda bagian yang lain pada kulit. Pada bagian kulit yang lain , oleskan krem ca(vet) kemudian
ikuti prosedur pengujian dan [engamatan,seperti pada larutan-larutan di Atas.

HASIL DAN PEMBAHASAAN


Astringensia
Senyawa kimia

Warna

Bentuk

Rasa

Tannin 5%

Merah

TB

pahit + sepet

TB = Tidak Berubah
Astringensia
Astringensia merupakan zat kimia yang digunakan lokal untuk mempresipitasikan protein (Ariens
et al. 1978) Permeabilitas membran dapat ditekan tanpa menyebabkan terjadinya kematian sel. Perubahan
permeabilitas menyebabkan menurunnya penyerapan zat iritan (contoh: Asam Tannin).
Pada percobaan astringensia dapat diamati mukosa lidah yang telah ditetesi tanin berwarna merah.
Lidah terasa kering dan pahit. Bahan yang bersifat astringent yaitu mempresipitasi protein akibat dari

permeabilitas sel menurun menyebabkan kulit menjadi kasar dan kulit menjadi kering bila digunakan
secara topikal. Hal ini mengakibatkan penyerapan racun menurun.
Irritansia
1. Rubefasiensia
Perlakuan
Gosokan mentol
Kloroform kapas
Kloroform tetes

Reaksi
Merah, panas
Merah, perih, panas setelah ditekan dengan kapas tersebut
Dingin, cairan cepat hilang, reaksi dapat dirasakan lebuh cepat daripada
Klorofom kapas

Celupan jari ke fenol 5%:


+ Air

Pucat, keriput, kesemutan

+Alkohol 25%

Pucat, keriput, dingin

+Gliserin 25%

Hangat

+Minyak olivarium

Tidak ada perubahan

Penggosokan mentol pada permukaan tangan menyebabkan permukaan yang digosok menjadi
terasa panas dan merah. Salah satu dari penyebab ini adalah sifat penggesekan yang menghasilkan panas.
Sifat menthol yang mengandung mint juga meningkatkan panas yang terbentuk. Warna merah terjadi
karena terjadinya pembesaran diameter pembuluh darah (vasodilatasi) sehingga jumlah darah yang
terlihat dalam kapiler menjadi meningkat.
Kloroform merupakan zat yang mudah menguap, kulit yang ditetesi oleh kloroform membuat
kulit terasa dingin karena panas tubuh pada kulit tersebut digunakan untuk menguapkan kloroform. Kapas
yang dicelupkan ke dalam kloroform membuat kloroform tidak mudah menguap, sehingga efeknya dapat
bekerja lebih lama. Kapas berkloroform yang diletakkan pada kulit membuat kulit terasa perih dan panas.
Kloroform memiliki efek vasodilatasi dan menyebabkan rasa nyeri atau perih. Hal ini juga disebabkan
oleh penguapan kloroform yang dihambat oleh kapas, sehingga perangsangan dilatasi kapiler berlangsung
terus menerus. Dilatasi mula-mula mengenai vasa superficial, kemudian lebih mendalam pada struktur
subkutan, langsung, ataupun kena refleks sehingga kongesti ini disertai rasa gatal, terbakar atau nyeri.
Fenol merupakan agen iritan yang bersifat keratolisis dan vasokonstriktif. Artinya, pemberian
fenol dapat menyebabkan terjadinya lisis pada sel kulit dan menyempitnya pembuluh darah. Fenol
merupakan pelarut senyawa, khususnya senyawa polar. Karena merupakan senyawa polar, pelarutan air

dengan alkohol dapat menyebabkan terjadinya iritasi ringan apabila tersentuh. Hal ini terlihat dari hasil
percobaan bahwa pemasukan jari ke dalam campuran larutan fenol yang ditambah dengan air
menyebabkan jari berubah warna menjadi putih dan lebih keras. Setelah beberapa saat, tangan juga terasa
lebih mati rasa dan kemudian menjadi kesemutan. Hal ini menunjukan bahwa terjadi vasokonstriksi dan
kekurangpekaan pada saraf sensoris. Pada larutan fenol + alkohol, jari terlihat sedikit pucat dan terasa
sensasi dingin. Ketika jari dimasukan ke dalam larutan berisi fenol dan gliserin serta fenol dan minyak
olivarium, tidak terasa adanya perubahan klinis namun ketika jari dikeluarkan dari botol, jari terasa
hangat. Hal ini menunjukan bahwa sifat fenol berupa keratolisis dan vasokonstriktif tidak terasa akibatnya
apabila fenol dicampur degan gliserin dan minyak olivarium.
Depilator
Hasil-hasil Percobaan (Perbandingan Efek Depilator)
Zat yang digunakan
NaOH
Ca-tioglikolat

Efek yang teramati


Bau
Irritansia
v
-

Depilator
v
v

Percobaan menggunakan NaOH pada punggung tikus merontokkan rambut tikus 10 menit setelah
aplikasi pertama. Zat ini tidak memiliki bau. Rambut tikus yang berwarna putih berubah menjadi kuning.
Efek depilator NaOH cukup cepat dan akurat, rambut rontok hingga bersih tanpa dibantu alat atau
semacamnya. Terlihat efek irritansia yang sangat jelas, kulit di daerah tersebut menjadi merah seperti
terdapat edema dibawah permukaan kulit.
Percobaan menggunakan Ca-tioglikolat menggunakan produk perontok rambut Veet. Zat berupa
krim berwarna putih dan tidak berbau. Setelah 10 menit dioleskan di punggung tikus, efek depilator
menunjukkan rambut tampak layu dan bila dicabut akan lepas atau rontok dengan sangat mudah. Tidak
terlihat adanya efek irritansia pada kulit tikus, namun tanpa bantuan alat pencabut, rambut tidak dapat
rontok dengan bersih.

Adsorbensia
Adsorbensia adalah zat yang dapat mengadsorpsi zat-zat yang merugikan. Dua ekor katak
digunakan pada praktikum ini untuk mengamati efek kerja dari adsorbensia. Katak pertama diberi striknin

dengan konsentrasi 0,2 mg/mL sebanyak 1 mL melalui rute subkutan. Katak kedua diberi striknin yang
sudah disaring beberapa kali dengan menggunakan karbon aktif dan kertas saring sebanyak 1 mL melalui
rute subkutan. Katak pertama menunjukkan gejala konvulsi pada detik ke-8 setelah pemberian. Intensitas
konvulsi yang terjadi cukup kuat. Katak kedua tidak mengalami gejala apapun setelah lebih dari 30 menit
setelah pemberian. Hal ini dikarenakan kandungan striknin pada larutan telah dinetralkan oleh karbon
aktif pada proses penyaringan. Karbon aktif bersifat adsorbensia sehingga mampu menyerap striknin yang
ada pada larutan.
Demulsensia
Asam sulfat (H2SO4) merupakan sejenis asam kuat yang dapat mengiritasi jaringan. Apabila
cairan ini diteteskan pada lapisan mukosa yang sudah ditusuk sebelumnya dengan jarum, mukosa akan
terasa terbakar dan sangat sakit. Pada pemberian asam sulfat pekat 1/10N, terlihat refleks katak dengan
cepat menarik kakinya iaitu di dalam 2.5 detik untuk menghindari sumber sakit. Hal yang sama terjadi
dengan pemberian asam sulfat pekat sebesar 1/25N, tetapi refleks terjadi lebih lambat iaitu setelah 30
detik . Namun, apabila ke dalam larutan asam sulfat pekat ditambahkan gum arab sebesar 10%, waktu
sampai terjadinya refleks bertambah menjadi tiga kali lipat untuk H2SO4 dengan konsentrasi 1/10N iaitu
7 detik dan dua kali lipat untuk H2SO4 dengan konsentrasi 1/25N iaitu 1 menit. Hal ini disebabkan
karena Gum Arab merupakan demulensia, sebuah senyawa koloid yang bercampur dengan air. Zat ini
dapat membentuk sebuah lapisan pelindung pada permukaan kulit yang akan melindungi kulit atau
mukosa dari iritasi, dalam hal ini asam sulfat pekat. Senyawa demulensia ini merupakan salah satu contoh
senyawa yang bersifat melindugi (protektiva

DAFTAR PUSAKA
Chang, Raymond. 2005. Kimia Dasar Konsep-Konsep Inti Edisi Ketiga. Diterjemahkan oleh : Suminar
Setiati Achmadi, Ph.D. Jakarta : Erlangga.
Fessenden dan Fessenden. 1984. Kimia Organik II. Jakarta : Erlangga.
Ganiswarna, SG. 2005. Farmakologi dan Terapi. Jakarta: FK-UI Press.
Loomis, Ted A. 1978. Toksikologi Dasar. Edisi ketiga. Semarang: IKIP semarang press.
Lorgue,G., Lechenet, J. & Riviere, A. 1996. Clinical Veterinary Toxicology. London: Blackwell Science
Ltd.
Mutschler, E. 1991. Dinamika Obat, edisi ke-5. Bandung: ITB-Press.
Rahardjo, Rio. 2008. Kumpulan Kuliah Farmakologi Edisi-2. Jakarta : EGC.