Anda di halaman 1dari 14

makalah CRD (chronic respiratory disease)

PEMBAHASAN
2.1 Definisi Chronic Respiratory Disease (CRD) Non-Infeksius (Ngorok)
Chronic Respiratory Disease (CRD) non-infeksius adalah penyakit yang disebabkan
oleh karena populasi ayam dalam satu kandang yang terlalu banyak sehingga kurangnya
asupan sirkulasi udara yang dibarengi buruknya manajemen pembersihan dan penggantian
litter sehingga uap gas amoniak terhirup dan merusak sistem pernafasan, selain itu akibat
menajemen ventilasi dan sirkulasi udara yang buruk sehingga pergantian uap amoniak dari
litter dengan oksigen tidak berjalan dengan semestinya.
Penyakit ini juga ada yang disebabkan oleh agen infeksius bakteriMycoplasma
gallisepticum yang menyebabkan kerusakan pada saluran pernapasan.M. gallisepticummasuk
bersamaan dengan aliran udara yang sebelumnya telah terkontaminasi. Ketika memasuki
saluran pernapasan ayam, agen penyakit ini menempel pada mukosa saluran pernapasan dan
merusak sel-selnya.
2.2 Etiologi Chronic Respiratory Disesase (CRD)Non-Infeksius (Ngorok)
Penyakit ngorok biasa juga disebut dengan Chronic Respiratory Disease (CRD)pada
ayam bisa disebabkan oleh agen infeksius (penyakit, red) maupun non infeksius, seperti
udara yang berdebu, amonia, perubahan cuaca, dll. Biasanya menyerang ayam pada usia 4-9
minggu.Ayam komersial modern secara genetik mempunyai kemampuan tumbuh dan
berproduksi lebih cepat dibanding ayam tipe lain. Namun pertumbuhan badan yang cepat ini
tidak sebanding dengan perkembangan organ vital dalam ayam yaitu jantung dan paruparunya. Sehingga kedua organ ini sangat rentan terhadap gangguan baik dari dalam maupun
luar tubuh. Untuk menunjang pertumbuhan badan ayam, paru-paru dipaksa bekerja keras
menyuplai O2 untuk metabolisme tubuh. Karena pentingnya suplai O2 tersebut, maka udara
bebas yang terdapat di dalam kandang haruslah berkualitas. Manajemen litter, tingkat
kepadatan ayam, suhu dan kelembaban kandang, serta ventilasi kandang akan mempengaruhi
kualitas udara ini. Banyaknya partikel debu di udara tentu saja akan semakin memperberat
kerja saluran pernapasan atas. Dan bukan tidak mungkin, saluran pernapasan atas pun akan
mengalami kerusakan/luka akibat tingginya debu dalam udara dalam kandang.Faktor
predisposisi atau faktor pendukung non-infeksius:
a. kondisi kandang yang lembab
Kondisi suhu dan kelembaban yang tidak sesuai bisa mengakibatkan gangguan fungsi sinus
dan organ pernapasan lainnya. Suhu yang nyaman bagi ayam ialah 25-28C dengan
kelembaban 60-70%. Saat kelembaban udara <50% akan mengakibatkan membran mukosa
saluran pernapasan, termasuk sinus menjadi kering. Akibatnya aktivitas silia terhambat dan
potensi masuknya partikel debu maupun bibit penyakit pun semakin besar.
b. kepadatan kandang yang terlalu tinggi
c. litter yang kering
d.
kadar ammonia yang tinggi
suhu yang tinggi dalam kandang juga akan meningkatkan konsumsi air minum ayam
sehingga kotoran ayam menjadi lebih encer. Jika kondisi kelembaban udara dalam kandang
cukup tinggi, maka kondisi litter pun akan menjadi basah dan memicu tingginya kadar
amonia. Selain suhu dan kelembaban, tingginya kadar amonia juga bisa dipicu oleh kadar
protein ransum yang berlebih sehingga dibuang bersama feses, serta akibat sistem ventilasi
yang kurang baik.Amonia yang terhirup akan mengiritasi saluran pernapasan ayam, dan
menyapu silia di mukosanya. Sel-sel yang ada di permukaan saluran pernapasan menjadi
rusak, produksi lendir menjadi berlebih, gerakan silia terganggu bahkan tidak berfungsi.

Amonia juga mengakibatkan iritasi pada konjungtiva mata, sehingga mekanisme awal
pertahanan tubuh menjadi terganggu.

Jika organ pernapasan sudah rusak, maka bibit penyakit yang terbawa udara akan mudah
sekali menempel di saluran pernapasan karena sistem pertahanan mekanik tidak berfungsi
optimal. Di tempat ini agen tersebut akan berkembang biak, dan akhirnya menimbulkan
kerusakan lebih parah. Adanya luka di saluran pernapasan inilah yang menyebabkan ayam
ngorok dan batuk.
Sedangkan untuk faktor infeksiusnya, yaitu M. gallisepticum menimbulkan masalah
serius pada ayam pedaging dimana bakteri tersebut sering bekerja sinergis dengan agen
infeksi lain seperti E.coli. E. coli adalah bakteri yang hampir ditemukan pada semua tempat,
terlebih pada tempat-tempat yang kotor.Colibacillosis memang penyakit yang identik dengan
kebersihan. Semakin kotor lingkungan peternakan maka colibacillosis akan semakin tinggi
tingkat kejadiannya. Oleh karena itu colibasillosis sangat bergantung pada pelaksanaan
manajemen peternakan.Tingkat kematian akibat colibacillosis bisa mencapai 10%. Timbulnya
CRD yang menyerang saluran pernapasan, akan semakin membuka kesempatan bagi bakteri
lain seperti E.coli untuk ikut menginfeksi ayam sehingga terjadilah CRD kompleks. CRD
kompleks merupakan gabungan/komplikasi penyakit antara CRD dan colibacillosis.
2.3 Gejala Klinis Chronic Respiratory Disesase (CRD)Non-Infeksius (Ngorok)
Pada kasus akut, ngorok basah, adanya leleran hidung lengket dan terdapat eksudat
berbuih pada mata dan ayam suka menggeleng-gelengkan kepalanya.Pada kasus kronis
mengakibatkan kekurusan dan keluarnya cairan bernanah dari hidung.
Tanda yang kelihatan pada layer/breeders:
a. Ingusan, mata berair, batuk sesak nafas, ngorok terkadang menggoyangkan kepala
b. Konsumsi pakan menurun disertai penurunan produksi dan berat badan
c. Menurunnya daya tetas dan daya tahan DOC
Pada broiler:
a. Sering terjadi pada umur 3 minggu sampai panen
b. FCR jelek, penambahan berat badannya di bawah standard
c. Pertumbuhan lambat
d. Masalah pada sendi kaki
f. Kualitas karkas jelek
Gejala klinik mungkin tidak teramati bila tidak terjadi komplikasi. Tanda-tanda klinis
yang paling sering terlihat dari penyakit ngorok yang disebabkan oleh faktor noninfeksius adalah getah radang cair keluar dari hidung, cairan berbusa dari mata, dan

pembengkakan sinus periorbital, gejala yang paling menonjol adalah ngorok basah akibat
bunyi cairan yang melalui trakea, leleran dari hidung, dan batuk. Pada hidung dapat
ditemukan adanya eksudat serus yang lengket. Bulu sayap kerapkali menjadi kotor oleh
karena ayam akan berusaha untuk menggosok hidung dan mata yang mengeluarkan eksudat.
Jika lesi hanya terjadi pada kantong udara, maka gejala klinik yang spesifik tidak akan
muncul.
Mortalitas biasanya sangat rendah pada ayam dewasa, walaupun pada ayam petelur,
jumlah yang berproduksi akan menurun. Pada grower atau ayam pedaging mortalitas
biasanya rendah pada kasus yang tidak mengalami komplokasi. Sebaliknyapada kasus yang
mengalami komplikasi maka mortalitas dapat mencapai 30%. Ayam yang dapat bertahan
akan mengalami gangguan pertumbuhan, penurunan produksi telur, penurunan kualitas
karkas dan organ visceral.
Jika faktor infeksius M. gallisepticum menginfeksi ayam tanpa komplikasi, maka
gejala klinik tidak akan terlihat. Namun, karena ada faktor lain seperti E. coli akan
menyebabkan saluran pernapasan akan lebih teriritasi dan gejala klinis pun akan mulai
terlihat. Gejala klinis dari CRD kompleks pada ayam umur muda (DOC dan pullet) sering
terlihat gejala sakit pernapasan, menggigil, kehilangan nafsu makan, penurunan berat badan,
dan peningkatan rasio konversi ransum.Anak ayam lebih sering terlihat bergerombol di dekat
pemanas brooder.Pada ayam dewasa kadang-kadang terlihat ingus keluar dari hidung dan air
mata, sulit bernapas, ngorok, dan bersin.

2.4

PatogenesitasChronic Respiratory Disesase (CRD)Non-Infeksius (Ngorok)


Penularan penyakit ngorok infeksius terjadi baik secara vertikal maupun horizontal.
Secara vertikal dapat melalui induk yang menularkan penyakit melalui telur dan horizontal
disebarkan dari ayam yang sakit ke ayam yang sehat. Penularan penularan tidak langsung
dapat melalui kontak dengan tempat peralatan, tempat pakan, hewan liar maupun petugas
kandang.
Namun, patogenesitas penyakit ngorok non-infeksius terjadi jika dalam suatu kandang
tersebut litter yang dipergunakan tidak dijaga kelembabannya, sehingga menimbulkan rasa
tidak nyaman dan mengeluarkan amoniak banyak, kemudian dihirup oleh pernafasan ayamayam secara terus menerus, karena sifat amoniak yang keras sehingga gas amoniak tersebut
merusak lapisan mukosa yang ada trakea dan menimbulkan bintik-bintik darah (ptechiae),
dan kemudian terjadi radang pernafasan, sesak nafas, keluar leleran sehingga sulit bernafas
dan mengorok.
Perubahan pada bedah bangkai ditemukan peradangan pada saluran pernapasan
bagian atas (laring, trakea, bronkus), paru-paru berwarna kecoklatan, kantung udara tampak
adanya lesi yang khas (keruh dan menebal) serta pembentukan jaringan fibrin pada selaput
hati (perihepatitis) dan selaput jantung (pericarditis) dan perkejuan di organ dalam
(komplikasi colibacillosis). Selaput lendir pada trakea, bengkak dan berwarna merah.

Pericarditis dan perihepatitis

a. kantung udara keruh b. dan berbusa


2.5 Diagnosis dan Diferensial Diagnosa Chronic Respiratory Disesase (CRD)Non-Infeksius
(Ngorok)
Untuk diagnosis penyakit ngorok non-infeksius biasanya ada pemeriksaan rutin ke
kandang-kandang ayam, jika pada kandang tersebut terdapat ayam-ayam yang mengeluarkan
suara seperti ngorok, hidungnya terdapat leleran dan bulu sayap terlihat kotor karena
berusaha untuk menghapus lelerannya.Dan jika terdapat yang mati, kita lakukan
nekropsi.Dan ditemukan perdarahan pada bagian trakea, bronkus, ini bisa dikatakan bahwa
manajemen litter, populasi, dan ventilasi tidak baik.
Untuk diagnosis lebih lanjut, seperti untuk membuktikan apakan ini penyakit ngorok
infeksius maka specimen berupa tampon eksudat atau potongan jaringan alat pernafasan yang
diambil sewaktu pemneriksaan klinis atau pasca mati dikirimkan dalamkeadaaan dingin ke
laboratorium penyidikan penyakit hewan untuk isolasi mikroorganisme. Serum darah juga
dikirim dalam keadaaan segar dingin untuk uji serologi.Diagnosis penyakit infeksius ini dapat
juga dilakukan dengan pemeriksaan serologic seperti Rapid Plate Agglutination Test (RPAT),

Enzim Linked Imunosorbend Assay (ELISA), Standar Tube Aglutination Test, Standart
Hemaglutination Inhibition (HI) Test. Diantara beberapa uji serologim tersebut, RPAT
merupakan tes yang praktis dan murah, yang banyak digunakan dilapangan.
CRD komplek dapat didiagnosa berdasarkan gejala klinis, pemeriksan patologi
anatomi (pemeriksaan makroskopis), maupun mikroskopis (histopat) serta isolasi dan
identifikasi bakteri M. gallisepticum dan Escherichia coli. Isolasi bakteri dapat berasal dari
swab saluran pernafasan dan organ visceral seperti trakea, kantong udara,hepar, jantung,
lien, perikardium, air sac dan yolk sac. Penyakit yang menjadi diferensial diagnosa CRD
komplek adalah ILT, IB, ND, AI, dan pullorum.
2.6

Pengobatan dan Pencegahan Chronic Respiratory Disesase (CRD)Non-Infeksius


(Ngorok)
Pengobatan CRD pada ayam yang sakit dapat diberikan baytrit 10% peroral,
mycomas dengan dosis 0.5 ml/L air minum, tetraclorin secara oral atau bacytracyn yang
diberikan pada air minum. Pemberian multivitamin terutama yang mengandung vitamin C
dan A, serta pemberian pakan yang berkualitas baik dengan nutrisi seimbang akan membantu
mempercepat kesembuhan jaringan mukosa yang rusak. Membeli ayam baik indukan,
pejantan, dan anakan yang benar-benar terbebas dari chronic respiratory disease
(CRD).Menjaga kebersihan dan tingkat kelembaban kandang dan area ayam. Beberapa
pencegahannya adalah sebagai berikut:
a. Penerapan manajemen pemeliharaan yang baik
1. Pemilihan kandang yang baik (lebih bagus kandang panggung) dan berventilasi lancar.
2. Pola pemeliharaan all in all out
3. Jika memakai kandang postal gunakan litter yang mudah menyerap air dan jaga agar selalu
kering, perlu dilakukan pembalikan secara rutin, hindari pemilihan litter yang partikelnya
kecil (serbuk gergaji).
4. Pemasangan fan pada sistem kandang terbuka akan membantu pertukaran udara di kandang
5. Kepadatan ayam diatur tidak terlalu tinggi 8-10 ekor/m2 untuk kandang postal/panggung
sistem terbuka, jika sistem closed house (tunnel atau cooling pad) kepadatan bisa 15 ekor/m2.
6. Temperatur kandang yang optimal 21-27C, dan kelembaban 50-70%
7. Pakan yang diberikan harus segar dan mengandung nutrisi seimbang dan hindari kontaminasi
mikotoksin pada pakan karena toksin ini bersifat imunosupresif
8. Ketersediaan air minum bersih di kandang
b. Penerapan manajemen kesehatan
1. Dilakukan program biosecurity secara ketat di antaranya dengan penyemprotan desinfektan
secara rutin untuk menekan populasi organisme pathogen di kandang dan lingkungan
2. Kontrol terhadap vector penyakit seperti rodensia dan serangga
3. Program vaksinasi yang tepat untuk farm bersangkutan
4. Pelaksanaan vaksinasi yang benar dan meminimalisir reaksi pos vaksinasi yang dilakukan
dengan jalan pemilihan strain virus vaksin yang cocok (gunakan strain virus vaksin yang
ringan/sedang untuk mengendalikan virus lemah, dan strain yang keras/virulen hanya dipakai
jika tantangan di daerah tersebut tinggi), aplikasi vaksin yang benar dan tepat (spray akan
lebih keras reaksi post vaksinasinya dibanding tetes mata ataupun lewat air minum), dan
vaksinasi dilakukan hanya pada saat ayam dalam kondisi sehat.
5. Dilakukan monitoring vaksinasi dengan melihat titer antibodinya

6. Pencegahan masuknya penyakit imunosupresif terutama IBD, dengan jalan pemilihan strain
vaksin yang tidak merusak kekebalan ayam dan waktu aplikasi vaksin yang tepat dengan
mengetahui titer maternal antibodinya terlebih dahulu
7. Kontrol terhadap M. gallisepticum dan E. coli dengan pemberian antibiotik yang cocok dan
dosis tepat terutama di awal-awal kehidupan ayam dan juga pada saat ayam mendapat stress
berat.
8. Treatment air misal dengan klorin akan menekan populasi E. coli dalam air minum.
9. Pemberian multivitamin secara rutin terutama vitamin A dan C untuk menjaga mukosa
saluran pernafasan ayam.
Menghindari atau meminimalkan faktor penyebab kerusakan organ pernapasan
menjadi salah satu solusi yang perlu kita kedepankan. Pada dasarnya pengendalian faktorfaktor tersebut bisa dikelompokkan menjadi 3 macam, yaitu penerapan tata laksana
pemeliharaan secara baik, pelaksanaan biosecurity secara ketat dan aplikasi obat maupun
vaksin secara tepat.
a. Mengendalikan faktor infeksius
M. gallisepticum penyebab CRD merupakan bakteri yang memiliki predileksi di kantung
udara yang minim pembuluh darah, sehingga untuk pengobatan CRD digunakan antibiotik
yang mempunyai distribusi yang baik ke jaringan. Contoh antibiotik yang bisa diberikan
antara lain Doxyvet, NeoMeditril, Therapy atau Proxan-S.
b. Menekan faktor non-infeksius
Langkah menekan faktor non infeksius berkaitan erat dengan penerapan manajemen
pemeliharaan dan biosecurity.

c. Suplai oksigen harus terpenuhi secara kualitas dan kuantitas


d. Sistem penapasan ayam berfungsi mensuplai udara atau O2 ke dalam tubuh ayam. Jika
udaranya kurang berkualitas, tentu akan mengakibatkan gangguan pada sistem pernapasan
ayam. Beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait dengan suplai oksigen yang baik ialah
pengaturan ventilasi kandang, manajemen buka tutup tirai, penambahan exhaust fan dan
pengaturan kepadatan maupun jarak kandang.
e. Atur suhu dan kelembaban kandang. Suhu dan kelembaban yang tidak sesuai akan
mengakibatkan ayam stres (bersifat immunosuppressive) sehingga sistem kekebalan tubuh
menurun. Kepadatan kandang, sirkulasi udara dan penambahanexhaust fan bisa menjadi
solusi mempertahankan suhu dan kelembaban optimal.

f. Litter hendaknya berkualitas. Kondisi litter harus dijaga agar tidak lembab, karena litter yang
basah bisa memicu pembentukan amonia 300x lebih cepat. Pilih bahan litter yang memiliki
daya serap air baik, contohnya sekam padi. Hati-hati saat mengganti air minum, dan tampias
air hujan.
Litter yang basah (dan jika tidak diganti) akan menimbulkan beberapa masalah pada
ayam, diantaranya:
a. Menghasilkan gas amonia. Selain bau yang menyengat, amonia akan mengiritasi permukaan
saluran pernapasan ayam. Hal ini yang berpotensi menyebabkan penyakit saluran pernapasan
seperti CRD, ND, AI dan sebagainya. Beberapa literatur juga menyebutkan bahwa kadar
amonia sebesar 25 ppm atau lebih, bisa menyebabkan kerugian berupa pembengkakan nilai
FCR dan penurunan berat badan saat panen.
b. Menjadi sumber penularan penyakit (dari feses ayam sakit,red), seperti cacingan dan
koksidiosis
c. Mengundang vektor (serangga sebagai penyebar penyakit) seperti lalat
d. Menimbulkan luka di telapak kaki anak ayam dan kemerahan di bagian otot dada. Hal ini
karena panasnya amonia tersebut
Hal-hal yang bisa menyebabkan litter menjadi basah antara lain:
a. Feses basah. Kondisi feses basah bisa disebut dengan istilah wet dropping atau diare, akan
tetapi kedua istilah tersebut memiliki pengertian yang berbeda. Wet dropping adalah kondisi
dimana feses ayam menjadi lebih cair dari biasanya tetapi masih terlihat komponen padat dan
kondisi ayam masih terlihat sehat. Sedangkan feses ayam dikatakan diare apabila komponen
padat sudah tercampur dengan komponen cair sehingga terlihat lebih homogen. Selain itu
pada kondisi diare, ayam terlihat tidak sehat dan terdapat peningkatan frekuensi buang
kotoran.
b. Feses basah pada ayam bisa disebabkan oleh berbagai faktor yang terdiri dari faktor infeksius
(infeksi bibit penyakit) dan non infeksius. Faktor infeksius (berasal dari bibit penyakit, yang
dapat menyebabkan feses basah antara lain infeksi colibacillosis, ND, Gumboro, pullorum
dan koksidiosis. Namun infeksi penyakit ini juga diikuti oleh timbulnya gejala klinis yang
lain. Sedangkan faktor non infeksius penyebab feses basah diantaranya:
1. Heat stress (stres panas) yang menyebabkan konsumsi air minum ayam meningkat dibanding
konsumsi ransum (9:1), hal ini mengakibatkan feses basah. Ayam yang stres karena perlakuan
atau kondisi lingkungan yang kurang nyaman juga dapat mengakibatkan feses basah karena
ketidakseimbangan elektrolit dalam tubuh
2. Kualitas nutrisi ransum. Kadar garam yang terlalu tinggi di dalam ransum akan mengganggu
keseimbangan elektrolit dalam tubuh sehingga feses ayam menjadi basah. Kadar garam yang
tinggi juga akan memicu ayam mengkonsumsi air lebih banyak sehingga menyebabkan ayam
mengalami diare. Selain kadar garam, kadar protein yang terlalu tinggi juga dapat
menstimulasi terjadinya feses basah. Hal ini terjadi karena asam urat dalam ginjal terlalu
tinggi konsentrasinya sehingga memicu ayam mengkonsumsi air minum lebih banyak,
akibatnya feses menjadi basah dan encer
3. Pemberian obat tidak sesuai aturan pakai. Pemberian obat keras, seperti obat cacing atau obat
golongan sulfa yang berlebihan dari yang dianjurkan juga dapat memicu feses basah pada
ayam
4. Manajemen pemeliharaan yang kurang baik, seperti seperti sistem ventilasi kurang optimal,
tumpahan air saat membersihkan atau mengganti air minum, dll

Beberapa hal yang perlu kita perhatikan agar litter tetap kering dan berfungsi optimal antara
lain:
a. Gunakan litter dengan ketebalan yang optimal, yaitu 8-12 cm sehingga littermenjadi lebih
kering dan bisa menjaga suhu saat masa brooding
b. Lakukan manajemen pembolakbalikan litter untuk mencegah litter basah. Pada
masa brooding, pembolak-balikan litter dilakukan secara teratur setiap 3-4 hari sekali mulai
umur 4 hari sampai umur 14 hari. Segera ganti litter yang basah. Pergantian pun jangan
terlalu sering karena dapat menurunkan produktivitas ayam. Bila ada litter yang
menggumpal, maka ganti litter yang menggumpal tersebut sesuai dengan kondisinya.
Misalnya saja jika jumlah yang menggumpal sedikit, maka dapat dipilah dan dikeluarkan dari
kandang. Namun jika jumlah litter yang menggumpal atau basah sudah banyak, lebih baik
tumpuk dengan litter yang baru hingga yang menggumpal tidak tampak
c. Cek kondisi dan pemasangan tempat air minum. Tumpahan air minum bisa diatasi dengan
manajemen air minum yang baik. Pertama, lebih berhati-hati saat mengganti air minum.
Pastikan juga tempat air minum baik manual maupun otomatis (TMAO dan nipple ND-360)
tidak bocor. Khusus untuk sistem nipple, perhatikan ketinggiannya dan tekanan air dalam
pipa. Penempatan nipple yang terlalu rendah, menyulitkan ayam minum air sehingga
menimbulkan banyak tetesan air di bawah nipple. Tekanan air yang tidak sesuai
standar nipple juga dapat menyebabkan menetesnya air
d. Jika litter basah diakibatkan feses basah oleh infeksi seperti E. coli dan Eimeria sp. (penyebab
koksidiosis) maka solusi pertama ialah lakukan pengobatan dengan Antikoksi, Coxy atau
Koksidex untuk kasus koksidiosis dan Proxan-C, Amoxitin, Neo Meditril atau Ampicol untuk
kasus colibacillosis. Kemudian lakukan desinfeksi air minum dengan Antisep, Desinsep atau
Neo Antisep khusus untuk kasus infeksi colibacillosis
e. Perhatikan kualitas ransum. Jangan memberikan ransum dengan kandungan garam dan
protein terlalu tinggi (sesuaikan dengan kebutuhan). Untuk menjamin kualitas ransum tetap
sesuai, sebaiknya uji kualitas ransum. Uji kualitas ransum bisa dilakukan di Medilab
f. Mengatur sistem ventilasi melalui sistem buka tutup tirai untuk memastikan kadar amonia
dalam kandang tidak terlalu tinggi. Untuk ayam dewasa, penggunaan kipas angin bisa
membantu pergerakan udara dalam kandang dan hal ini bisa mengurangi kadar air litter dan
akumulasi amonia
g. Saat musim hujan, perbaiki kerusakan dan kesalahan struktur kandang. Atap yang bocor
harus segera diperbaiki. Selain itu, perhatikan apakah atap mampu mencegah tampias air
hujan. Periksa juga kondisi tirai, apakah ada yang bolong atau tidak atau dibuka dari bawah
sehingga ayam terkena tampias air hujan. Termasuk juga selokan harus lancar agar air tidak
menggenangi kandang. Simpanlitter pada tempat yang terhindar dari tampias air hujan

Kondisi litter sebaiknya tetap harus dijaga agar selalu dalam kondisi kering. Karena
kondisi litter sangat mempengaruhi performa ayam, maka lakukan strategi penanganan di
peternakan Anda agar litter tidak basah.
Faktor penyebab ayam ngorok banyak sekali macamnya, dan hal itu mengindikasikan
bahwa organ pernapasan ayam sudah mengalami gangguan/kerusakan. Hal ini tentunya tidak
bisa dibiarkan berlarut-larut dan dianggap sepele, sehingga penyebab ayam ngorok harus
cepat ditelusuri agar bisa segera ditangani.
Untuk memberantas CRD komplek ini tidak gampang. Caranya adalah dengan
melakukan pengobatan yang tepat, melakukan hal yang dapat menyebabkan putusnya mata
rantai penyebab terjadinya CRD komplek. Misalnya kita harus menjaga masuknya agent
penyakit ke dalam tubuh ayam, selain itu para peternak harus mempertahankan kesehatan
ayamnya dengan memberikan multivitamin dan juga para peternak harus memelihara
lingkungan kandang supaya segar dan sehat, tentunya tidak pengap, ventilasi cukup dan tidak
lembab. Selain itu kepadatan kandang harus selalu diperhatikan, sehingga udara bersih selalu
terjamin. Suhu kandang yang terlalu panas juga dapat menyebabkan meningkatnya nafsu
minum dan menurunnya nafsu makan. Dengan meningkatnya nafsu minum, maka akan
merangsang peningkatan urinasi dan litter menjadi basah, sehingga konsentrasi ammonia
tinggi dan dapat menyebabkan gangguan pernafasan, akhirnya ayam akan rawan terhadap
CRD komplek.
Suatu strategi dalam melakukan pengendalian CRD komplek yang efektif adalah
dengan melakukan pemeriksaan terhadap anak ayam umur 1 (satu) hari atau sering disebut
dengan Day Old Chick (DOC) dari pembibitnya, hasil diagnosa yang tepat bersamaan
dengan biosecurity yang efektif dan pelaksanaan tatalaksana pemeliharaan yang baik. Adapun
cara-cara melakukan pengendalian CRD komplek yaitu (1) memperbaiki tatalaksana
kandang, (2) melakukan sanitasi air minum yang baik, (3) melakukan pengobatan yang tepat
dan (4) melaksakan biosecurity yang ketat.
Langkah-langkah untuk melakukan biosecurity yang ketat antara lain (1) melakukan
pengafkiran pada ayam yang terinfeksi, (2) membersihkan kandang dengan tekanan air yang
tinggi serta melakukan penyemprotan kandang dengan memakai desinfektan, (3) kosongkan
kandang minimal 2 (dua) minggu setelah kandang dibersihkan, (4) pengontrolan lalu-lintas
dengan mengontrol kendaraan yang keluar masuk lokasi peternakan.
Dari uraian tersebut di atas maka dapat disimpulkan apabila peternakan anda terkena
CRD komplek, yang perlu diperhatikan adalah (1) menekan kadar amonia dan debu yang ada
di kandang, dengan melakukan perbaikan pada kondisi kandang, mengurangi kepadatan
kandang, perhatikan tatalaksana litter, ventilasi kandang dan pengaruh lingkungan, (2)
pemeliharaan ayam harus dilakukan secara all-in all-out, (3) melakukan pemilihan obat yang
tepat dan kita harus memperhatikan faktor resistensi dari kuman.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

Chronic Respiratory Disease (CRD) non-infeksius (ngorok) adalah penyakit yang


disebabkan oleh karena populasi ayam dalam satu kandang yang terlalu banyak sehingga
kurangnya asupan sirkulasi udara yang dibarengi buruknya manajemen pembersihan dan
penggantian litter sehingga uap gas amoniak terhirup dan merusak sistem pernafasan, selain
itu akibat menajemen ventilasi dan sirkulasi udara yang buruk sehingga pergantian uap
amoniak dari litter dengan oksigen tidak berjalan dengan semestinya.
Biasanya dapat diketahui jika dalam suatu kandang tersebut litter yang dipergunakan
tidak dijaga kelembabannya, sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman dan mengeluarkan
amoniak banyak, kemudian dihirup oleh pernafasan ayam-ayam secara terus menerus, karena
sifat amoniak yang keras sehingga gas amoniak tersebut merusak lapisan mukosa yang ada
trakea dan menimbulkan bintik-bintik darah (ptechiae), dan kemudian terjadi radang
pernafasan, sesak nafas, keluar leleran sehingga sulit bernafas dan mengorok.
Pencegahannya adalah lebih memperbaiki manajemen yang kurang baik, seperti
manajemen litter agar tidak terjadi penumpukan gas amoniak yang berbahaya untuk
pernafasan ayam.Manajemen populasi dan ventilasi sirkulasi agar tidak terlalu banyak dan
dapat bernafas dengan baik.
3.2 Saran
Sebaiknya peternakan-peternakan yang ada lebih memperhatikan manajemen
perkandangannya, karena sedikit saja manajemen itu salah maka akan muncul masalah atau
penyakit yang bersifat mengganggu metabolisme.
G. GEJALA UMUM
Masa inkubasi tidak diketahui dengan pasti. Secara percobaan berlangsung 24-48 jam
setelah infeksi atau intra sinus dengan biakan bakteri atau eksudat. Lama berlangsungnya
penyakit tergantung dari inokulum dan keganasan bakteri. Ayam terserang ditandai dengan
gejala pernafasan yaitu:
1. Pengeluaran cairan air mata
2. Keluar lendir dari hidung, kental berwarna kekuningan dan berbau khas
3. Pembengkakan di daerah sinus infraorbitalis
4. Terdapat kerak dihidung
5. Napsu makan turun
6. Pertumbuhan menjadi lambat.
7. Kelopak matannya menjadi lengket.
8. Nanah pada mata berbau busuk yang dapat mengerak disekitar lubang hidung dan mengkeju
disekitar lubang hidung dan sinus.
Angka kematian dapat mencapai 50%, tetapi bila tanpa komplikasi dengan penyakit
ikutan biasanya hanya mencapai 20% atau kurang (Akoso, 1992).
H. DIAGNOSA
Penyakit didiagnosa berdasarkan epidemiologi, gejala klinis, patologi, isolasi dan
identifikasi penyakit. Berbagai uji serologis dapat digunakan seperti aglutinasi tabung atau
plat, AGP dan HI. Dengan AGP dapat mendeteksi antibodi 2 minggu pascainfeksi atau
pascavaksinasi kurang lebih 11 minggu.
I.

DIAGNOSA BANDING

Penyakit ini dapat dikelirukan dengan beberapa penyakit seperti ND, CAA, IB, CRD,
kolera unggas kronis, cacar unggas, defisiensi vitamin A yang mempunyai gejala klinis yang
mirip dengan coryza.
J.

PENGOBATAN
Pengobatan
Snot
yang
diberikan
adalah
preparat
sulfat
seperti sulfadimethoxine atau sulfathiazole. Seorang penulis menyebutkan pengobatan
tradisional juga dilakukan dengan memberikan susu bubuk yang dicampur dengan air dan
dibentuk sebesar kelereng sesuai dengan bukaan mulut ayam dan diberikan 3 kali sehari.
Sedangkan pengobatan tradisional lain yang dapat dilakukan adalah memberikan
perasan tumbukan jahe, kunir, kencur dan lempuyang. Air perasan ini dicampurkan pada air
minum.Selain ramuan ini menghangatkan tubuh ayam, ramuan ini juga berkhasiat untuk
menambah napsu makan ayam. Selain memberikan obat yang diberikan bersama dengan air
minum, juga diberikan obat secara suntikan pada ayam yang sudah parah. Obat yang
diberikan adalah Sulfamix dengan dosis 0.4 cc/kg bobot badan ayam. Hal lain yang perlu
dilakukan karena penyakit ini mempunyai penularan yang sangat cepat dan luas, ayam yang
terkena Snot harus sesegera mungkin dipisahkan dari kelompoknya. Belakangan ini telah
dikembangkan vaksin coryza yang dikembangkan dengan vaksin IB dan ND inaktif.

K. CONTOH HEWAN YANG TERSERANG CORYZA


Ayam menjadi hospes utama penyakit ini. Unggas lainnya juga terserang seperti ayam
mutiara, dan puyuh. Sedangkan kalkun, itik, burung merpati, gelatik dan gagak relatif tahan.
Semua umur ayam dapat terserang, umur 4 minggu sampai 3 tahun peka. Anak ayam berumur
3-7 hari dilaporkan tahan penyakit karena adanya antibodi maternal.
1. AYAM

a.
1.
2.
3.
4.
5.

Ayam yang secara klinis telah terinfeksi menunjukkan Gejala sebagai berikut:
Pengeluaran cairan air mata
Ayam terlihat ngantuk dengan sayapnya turun atau menggantung
Keluar lendir dari hidung, berwarna kekuningan dan berbau khas
Pembengkakan didaerah sinus infra orbital
terdapat kerak dihidung dan Rongga hidung mengeluarkan lendir kental yang lengket
dan berbau busuk.
6. napsu makan dan minum menurun sehingga terjadi penurunan produksi.
7. Getah radang dalam trachea dan bronchi dapat menghasilkan bunyi ngorok.
8. Sering kali dibarengi diare dan ayam dapat menjadi kerdil.

b.
1.
2.
3.
4.
c.

d.
1.
2.
3.
4.

Perubahan Pascamati
Selaput lendir hidung dan sinus mengalami peradangan katar yang akut.
Peradangan katar selaput mata.
Busung bawah kulit pada muka dan tulang.
Radang paru dan radang kantung udara
Diagnosa
Contoh penyakit berupa tampon nanah dari hidung dan mata serta potongan jaringan dari
alat pernapasan terutama batang tenggorok dan cabang tenggorok dikirimkan ke laboratorium
dalam keadaan segar dingin untuk pengasingan dan identifikasi bakteri. Bahan pemeriksaan
ini hendaknya diambil dari kejadian penyakit yang baru untuk menghindari pencemaran oleh
bakteri sekunder.
Diagnosa banding (mempunyai kemiripan) dari penyakit coryza / snot adalah
Mikoplasmosis atau Chronic Respiratory Disease (CRD),Swollen Head
Syndrome (SHS) dan Infectious Laryngotracheitis (ILT).
Pencegahan
Ayam yang sakit pilek dipisahkan dari kandang (kelompok) ayam yang sehat.
Jangan mencampur ayam yang umurnya berbeda.
Kandang dan lingkungan harus selalu dalam keadaan bersih.
Usahakan dalam kandang terkena sinar matahari.

e.

Perlakuan dalam Pemotongan


Ayam yang sakit pilek dapat dipotong dan dagingnya boleh dikonsumsi.Bangkai ayam yang
mati dan sisa pemotongan dibakar atau dikubur.

f.

Pengobatan
Obat kimia yang bisa digunakan antara lain:
Sulfatiasol.
Sulfadimetoksin.
Streptomisin.
Sulfametasin.
Sulfamerasin.
Eritromisin.
Vibravet (soluble powder) dengan takaran 4 gram dicampur 1 liter air minum, diberikan
4-5 hari.

g.

Ramuan jamu tradisional yang dapat digunakan:


Tepung beras padi 150 gram.
Kencur 100 gram, ditumbuk halus.
Jahe sebanyak 25 gram atau kurang lebih 1 jari tangan, diparut.
Bahan tersebut digilas dengan pipisan (lumpang) hingga halus dan tercampur merata.
Ramuan ini dibentuk pil sebesar biji jagung, lalu dijemur hingga kering.

Pil disuapkan dua kali sehari (pagi dan sore)


L. KASUS DI LAPANGAN
Jenis ayam yang dijadikan objek pengamatan pada tugas ini adalah ayam layer
strain lohmann. Peternakan ini sudah menerapkan vaksinasi Coryza pada umur 57 dan 122
hari. Vaksin yang digunakan adalah vaksin inaktif coryza T Sus pada umur 57 hari dan
coryza T pada umur 122 hari dengan aplikasi penggunaan melalui injeksi intramuskuler
sebanyak 1 dosis tiap ekor (0,5 ml tiap ekor). Vaksin Coryza T dipilih dengan harapan agar
mampu melindungi dan membentuk antibodi terhadap serangan Coryza serotipe A, B dan C.
Saat vaksinasi kondisi ayam dipastikan dalam keadaan sehat dengan tujuan agar
pembentukan antibodi menjadi optimal.
Pada umur 20 minggu ada salah satu ayam yang terindikasi terkena
gejala coryza yaitu bengkak disekitar sinus infraorbitalis, pada area lubang hidung terdapat
eksudat kental berwarna kuning. Penyebab ayam ini terkena penyakit coryza ada banyak
antara lain: saat di vaksin kondisi ayam tidak sehat (pengamatan kondisi kesehatan dilihat
secara massal bukan secara individu), faktor vaksinator yang kurang tepat dalam proses
vaksinasi. Faktor tersebut dapat mempengaruhi pembentukan antibodi sehingga pada saat
terjadi serangan Coryza ayam yang tidak mempunyai antibodi yang cukup akibatnya dapat
terserang Coryza. Hal yang dilakukan pemilik peternakan ketika ada salah satu ayam yang
terindikasi terkena Coryza segera mengobati ayam yang sakit tersebut dengan antibiotik dan
memperketat biosecurity (penyemprotan kandang, peralatan dan pengunjung yang masuk
dalam area kandang) dengan tujuan agar serangan Coryza tersebut tidak menular ke ayam
lain.
Antibiotik yang digunakan adalah Gentamin yang mengandung gentamicin sulfate.
Gentamicin sulfate bekerja dengan mengikat reseptor di ribosom 30S, yang menyebabkan
terjadinya penghambatan sintesis protein dan gangguan pembentukan membran sel pada
bakteri penyebab Coryza. Aturan pakai gentamin sebanyak 0,2-0,25 ml tiap kg bobot badan
yang disuntikkan secara intramuskuler selama 3 hari berturut-turut menggunakan automatic
injection. Pada saat pengobatan obat juga dicampur dengan B komplek injeksi dengan tujuan
menambah nafsu makan dan mempercepat proses penyembuhan. Dosis yang digunakan
sebanyak 0,5 ml tiap bobot badan ayam.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Melihat pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa Infectious Coryza
(Snot) menyerang
ternak
unggas. Infectious
coryza disebabkan
oleh
bakteri Haemophillus gallinarum yang menyerang saluran pernafasan pada unggas.
Penularan infectious coryza dapat melalui kontak langsung antara unggas yang terserang
dengan unggas yang sehat, dapt juga melalui pakan dan minum unggas. Tingkat kematian
unggas akibat penyakit ini tergolong rendah tetapi morbiditas nya tinggi, dapat menyebabkan
penurunn bobot badan pada unggas pedaging dan menurunkan produksi telur pada unggas
petelur serta meningkatkan jumlah unggas afkir pada sebuah usaha peternakan unggas.