Anda di halaman 1dari 7

TUGAS ZOONOSIS

ZOONOSIS DAN PENYAKIT ZOONOSIS STRATEGIS

OLEH :
BERGITHA SOGE
NIM 1309012019

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN


UNIVERSITAS NUSA CENDANA
KUPANG
2016

1. ZOONOSIS

Menurut PP No 18 Tahun 2009, Zoonosis adalah penyakit yang dapat menular dari
Hewan kepada manusia atau sebaliknya sedangkan menurut WHO (2008), Zoonosis adalah
suatu penyakit atau infeksi yang secara alami ditularkan dari hewan vertebrata ke manusia
atau sebaliknya. Menurut PP No 95 Tahun 2012, Wabah Zoonosis adalah kejadian
berjangkitnya suatu penyakit zoonotik pada populasi Hewan dan/atau masyarakat yang
jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari pada keadaan yang lazim pada
waktu dan daerah tertentu atau munculnya kasus penyakit zoonotik baru di daerah bebas.
Pengendalian dan Penanggulangan Zoonosis adalah serangkaian upaya yang meliputi
penetapan Zoonosis prioritas, manajemen risiko, kesiagaan darurat, Pemberantasan Zoonosis,
dan partisipasi masyarakat dengan memperhatikan kesehatan lingkungan dan Kesejahteraan
Hewan. One Health merupakan aktivitas global yang penting berdasarkan konsep bahwa
kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan atau ekosistem yang bersifat saling bergantung
satu sama lain atau interdependen, dan tenaga profesional yang bekerja dalam area tersebut
akan dapat memberikan pelayanan terbaik dengan saling berkolaborasi untuk mencapai
pemahaman yang lebih baik mengenai semua faktor yang terlibat dalam penyebaran penyakit,
kesehatan ekosistem, serta kemunculan patogen baru dan agen zoonotik, juga kontaminan
dan toksin lingkungan yag dapat menyebabkan morbiditas dan mortalitas substansial, serta
berdampak pada pertumbuhan sosioekonomik, termasuk pada negara berkembang.

2. PENYAKIT ZOONOSIS STRATEGIS


Dalam Kepmentan 4971 tahun 2013, jenis zoonosis yang memerlukan prioritas untuk
dikendalikan dan ditanggulangi, sebagai berikut:

Avian Influenza
Rabies
Anthrax
Japanese Enchephalitis
Salmonellosis
Leptospirosis
Bovine Tubercullosis
Pes
Toxoplasmosis
Brucellosis
Paratubercullosis
Echinococosis
Taeniasis
Scabies, dan

Trichinellosis
1. Avian Influenza
Avian influensa dikenal sebagai fowl plaque dari family Orthomyxoviridae, genus
Influenzavirus A dan spesies Avian Influenza virus. Virus ini memiliki 3 genus yaitu Type A
(Banyak spesies), Type B (Manusia) dan Type C (Manusia dan Babi). Virus ini bersifat
filterable atau mampu menembus barier tubuh sehingga mudah menginfeksi hewan dan
manusia.Virus AI dapat bertahan lama pada feses burung liar, dan dapat bertahan hidup
untuk waktu yang lama pada air dingin.
Secara umum, transmisi AI terjadi secara langsung melalui kontak dengan ayam atau
peternak yg terinfeksi, pakan terkontaminasi, migrasi burung tdk teratur,lendir yang berasal
dari hidung, mulut, mata dan feses unggas terinfeksi, kontak langsung baik hewan/manusia
dengan ternak yang sakit, melalui udara dan peralatan yang terkontaminasi virus, serta kontak
dari bahan asal hewan yang terkena virus AI ( daging, telur, feses,).
Replikasi virus ini terjadi di usus seperti halnya saluran pernafasan. Infeksi dengan
strain virulen virus HPAI, menyebabkan viremia dan multifocal lymphoid dan organ viscera
mengalami necrosis dan menyebabkan pancreatitis, myocarditis, myositis, dan ensephalitis.
Ayam dan kalkun, mati setelah beberapa hari terinfeksi dengan menunjukkan petechial
hemorrhages dan serous exudates pada pernapasan, pencernaan, dan jaringan jantung. Di
semua spesies avian, antibodi dapat terdeteksi pada hari ke 37 setelah terinfeksi penyakit,
mencapai puncak pada minggu kedua dan persisten selama 18 bulan.
Pada infeksi yang bersifat akut dapat menyebabkan kematian tanpa gejala klinis, dan
jika hewan survive lebih dari 48 jam maka terjadi penurunan produksi telur, distress respirasi,
lacrimation, sinusitis, diarrhea, edema pada kepala, muka dan leher, dan cyanosis, kulit tidak
berbulu terutama pada jengger dan pial. Gejala klinis pada ayam dan kalkun terlihat akibat
infeksi tambahan (virus, bakteri dan mikoplasma) seperti anorexia, depresi, menurunya
produksi telur, penyakit pernapasan dan sinusitis dan berakibat pada kematian. Masa inkubasi
virus avian influenza A (H5N1) sekitar 2- 4 hari setelah terinfeksi namun berdasarkan hasil
laporan belakangan ini masa inkubasinya bisa mencapai antara 4-8 hari.
Diagnosa dapat dilakukan berdasarkan gejala klinis atau kejadian penyakit yang
bersifat epizootics seperti influensa infeksi virus avian pada burung. Uji laboratorium yang
dapat dilakukan adalah dengan menggunakan uji RT PCR untuk mendeteksi gen dari virus
avian influensa secara langsung. Kontrol dari influensa infeksi virus avian dari peternakan
dapat dilakukan vaksinasi dan menerapkan biosecurity, pengawasan, serta pengurangan
jumlah populasi pada daerah yang endemik.

2. Rabies
Rabies adalah penyakit zoonosis (penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia)
yang disebabkan oleh virus rhabdovirus. Rabies dapat menular kepada manusia melalui
kontak dekat dengan air liur yang terinfeksi melalui gigitan atau cakaran. Penyebab utama
rabies kepada manusia adalah gigitan anjing penderita rabies (WHO, 2004). Virus rabies
merupakan virus RNA, termasuk dalam familia Rhabdoviridae, genus Lyssa. Virus berbentuk
peluru atau batang dengan salah satu ujungnya berbentuk kerucut

dan pada potongan

melintang berbentuk bulat atau elip (lonjong). Virus tersusun dari ribonukleokapsid dibagian
tengah, memiliki membran selubung (amplop) dibagian luarnya yang pada permukaannya
terdapat tonjolan (spikes) yang jumlahnya lebih dari 500 buah. Pada membran selubung
(amplop) terdapat kandungan lemak yang tinggi. Virus rabies terdiri dari dua komponen
dasar, yaitu inti dari asam nukleat yang disebut genom dan protein yang disebut kapsid.
Virus rabies masuk melalui luka gigitan, selama 2 minggu virus tetap tinggal pada tempat
masuk dan didekatnya, kemudian bergerak mencapai ujung-ujung serabut saraf posterior
tanpa menunjukkan perubahan-perubahan fungsinya. Bagian otak yang terserang adalah
medulla oblongata. Sesampainya di otak virus kemudian memperbanyak diri dan menyebar
luas dalam semua bagian neuron, terutama mempunyai predileksi khusus terhadap sel-sel
sistem limbik, hipotalamus dan batang otak. Setelah memperbanyak diri dalam neuronneuron sentral, virus kemudian ke arah perifer dalam serabut saraf eferen dan pada saraf
volunter maupun saraf otonom.
Gejala klinis pada hewan dibagi menjadi tiga stadium
Stadium Prodromal: keadaan ini merupakan tahapan awal gejala klinis yang
dapat berlangsung antara 2-3 hari. Pada tahap ini akan terlihat adanya
perubahan temperamen yang masih ringan.
Stadium Eksitasi: berlangsung lebih lama daripada tahap prodromal, bahkan
dapat berlangsung selama 3-7 hari. Hewan mulai garang, menyerang hewan
lain ataupun manusia yang dijumpai dan hipersalivasi.
Stadium Paralisis: dapat berlangsung secara singkat, sehingga sulit untuk
dikenali atau bahkan tidak terjadi dan langsung berlanjut pada kematian.
Hewan mengalami kesulitan menelan, suara parau, sempoyongan, akhirnya
lumpuh dan mati.

Pencegahan rabies terdiri 3 (tiga) yaitu pencegahan primer (prinsip dasar) dengan
karantina dan pemusnahan hewan tertular, pencegahan sekunder (pengendalian) dengan
vaksinasi dan pencegahan tertier (pemberantasan) dengan euthanasia pada anjing yang belum
divaksin. Penanganan yang dapat dilakukan setelah terjadi kasus gigitan yaitu cuci luka
dengan detergent dan air mengalir selama 15 menit sebelum korban dibawa ke klinik/ rumah
sakit. Luka kembali dicuci dengan detergent dan air mengalir selama 15 menit saat korban
sampai di klinik/rumah sakit. Selanjutnya mengikuti flowchart Penatalaksanaan Kasus
Gigitan Hewan Rabies (Pemberian Vaksin Anti Rabies dan/atau Serum Anti Rabies pada
korban gigitan hewan yang tidak bisa diobservasi, atau pada luka parah gigitan hewan yang
bisa diobservasi).

3. Anthrax
Antraks atau radang limpa adalah penyakit menular yang disebabkan oleh Bacillus
anthracis, bersifat fatal, baik pada hewan maupun pada manusia.

Bakteri

Anthrax

dapat

menyebabkan penyakit yang mematikan, karena dapat menghasilkan toksin yang dapat
masuk ke dalam sirkulasi darah. Toksin anthrax bekerja dengan merusak dan menghancurkan
fagosit, meningkatkan permeabilitas pembuluh kapiler, merusak mekanisme pembekuan
darah sehingga terjadi perdarahan hebat di seluruh tubuh. Spora dari bakteri Anthrax dapat
bertahan di tanah sampai bertahun-tahun. Oleh karena itu, penyakit ini termasuk penyakit
zoonosis dan penyakit strategis yang keberadaannya di tanah air kita perlu diwaspadai.
Keberadaan antraks pada hewan di Indonesia, telah dibuktikan secara laboratorik
sejak tahun 1885. Sejak itu sampai sekarang antraks dianggap penting, karena banyak
menyerang ternak rakyat. Ternak ruminansia besar (sapi dan kerbau) digolongkan hewan
yang paling rentan terhadap antraks. Di Jawa Tengah pernah terjadi kasus kematian sapi
perah akibat antraks pada tahun 1990. Selain itu, dilaporkan pula adanya 97 kasus antraks
yang menyerang manusia di Kabupaten Semarang dan Boyolali. Sementara itu, di beberapa
provinsi lain di Indonesia juga diketahui sebagai daerah antraks yaitu, NTB dan NTT. Selama
11 tahun (1984-1994), kasus antraks di Provinsi NTB terjadi hampir setiap tahun, dan laporan
kasus terbanyak di Pulau Sumbawa.

4. Japanese Enchephalitis
Disebabkan virus Arbo dari genus Flaviviridae dan bersifat zoonosis. Virus ini dapat
menyebabkan radang selaput otak

dengan inang antara yaitu

babi

sedangkan

manusia,ruminansia, kuda, kelinci, kelelawar merupakan inang defenitif. Penularan penyakit


ini terjadi melalui gigitan nyamuk
5. Salmonellosis
6. Leptospirosis
Penyakit ini merupakan penyakit zoonosis yang tersebar luas di seluruh dunia yang
ditularkan melalui urine tikus dan sering muncul mengiringi fenomena alam seperti banjir.
Leptospirosis bersifat akut dan menyebabkan risiko kematian cukup tinggi. Gejala klinis
leptospirosis mirip dengan penyakit demam dengan pendarahan (haemorragic fever) lainnya
sehingga seringkali luput dari diagnosa.
7. Bovine Tubercullosis
8. Pes
Pes merupakan zoonosis yang termasuk dalam Public Health Emergency of
International Concern (PHEIC) selain Flu Burung. Pes disebabkan oleh bakteri Yersinia
pestis yang ditularkan melalui gigitan pinjal tikus (Xenopsylla cheopis) Pes berpotensi
menjadi wabah apabila muncul dalam bentuk pes paru (pneumonic pes) yang ditularkan
melalui percikan ludah penderita.
9. Toxoplasmosis
10. Brucellosis
Brucellosis atau penyakit keguguran menular pada sapi adalah penyakit zoonosis yang
disebabkan oleh bakteri Brucella abortus. Di Indonesia, penyakit ini sudah diketahui sejak
tahun 1925. Kejadian brucellosis di daerah sumber bibit sapi bali yaitu Sulawesi Selatan dan
NTT relatif tinggi yakni 14,3 dan 6,6%. Kasus yang sama juga dijumpai di daerah
penyebaran sapi bali (di Lampung, bengkulu, Sumatra Selatan, Riau dan Sumatera Utara).
Umumnya, serangan brucellosis menimbulkan keguguran pada hewan bunting muda dan
terus terjadi pada setiap kebuntingan. Hal ini disebabkan oleh endotoksin yang dihasilkan
oleh B. Abortus pada uterus yang dapat menimbulkan aborsi. akibat plasentitis dan
endometritis. Predileksi B. abortus dalam tubuh hewan penderita adalah di kelenjar
pertahanan tubuh. Pada saat sapi bunting bakteri ini akan berkembangbiak di dalam uterus
dan menyebabkan peradangan. Pada penyakit ini, kuman akan tetap tinggal di jaringan induk
semangnya selama hidup dan tidak memperlihatkan tanda sakit. Oleh karena kasus subklinis
inilah yang menyulitkan pemberantasan brucellosis. Gejala yang timbul atau ciri-ciri dari
penyakit ini adalah:
1. Terjadi abortus terutama pada usia kebuntingan 6 9 bulan
2. Adanya kotoran yang keluar dari vagina hewan sapi;

3. Jika sapi jantan, yang terkena adalah bagian testis dan bisa menyebabkan gangguan
pada alat reproduksinya;
4. Induk sapi yang mengalami keguguran masih membawa kuman Brucella abortus
sampai pada masa 2 tahun;
5. Sapi yang terinfeksi penyakit Brucellocis akan mengalami higroma. Higroma
merupakan pembesaran kantong persendian disebabkan isi cairan bening atau
fibrinopurulen
11. Paratubercullosis
12. Echinococosis
13. Taeniasis
14. Scabies
15. Trichinellosis