Anda di halaman 1dari 178

MODUL AKUNTANSI FORENSIK

BAB I
AKUNTANSI FORENSIK
Pe ndahuluan
Tujuan Pembelajaran
1. Mahasiswa memahami pengertian AFAI (akuntansi forensik dan audit investigatif)
2. Mahasiswa memahami istilah- istilah dalam Audit Forensik
3. Mahasiswa mampu menyebutkan kasus-kasus AFAI
Ruang lingkup bahan modul
Ruang lingkup modul ini adalah Bab 1 Akuntansi Forensik
Manfaat mempelajari modul
Diharapkan setelah mahasiswa membaca dan memahami modul ini maka dapat
menjelaskan mengenai Akuntansi Forensik
Akuntans i Fore ns ik
Dalam kamus bahasa inggris Merriam Websters Collegiate Dictionary akuntansi
forensik adalah penerapan disiplin akuntansi pada masalah hukum. Masalah hukum ini
dapat diselesaikan didalam pengadilan dengan cara litigasi atau dengan cara berpekara di
pengadilan maupun diluar pengadilan (out-of-court settlement) dengan cara non-litigasi.
Akuntansi Forensik ini dapat diterapkan di sektor publik maupun privat. Dengan
berbagai pihak berbeda yang terlibat maka definisi akuntansi forensik dapat diperluas
menjadi Akuntansi Forensik adalah penerapan disiplin akuntansi dalam arti luas, termasuk
auditing pada masalah hukum untuk penyelesaian hukum dalam atau diluar pengadilan,
disektor publik maupun privat.
Disiplin dan Profesi Forensik Lainnya
Terdapat beberapa macam profesi yang menggunakan kata forensik,seperti
antropologi, kimiawan, dokter gigi, investigator, dan lainnya. Dalam siding di pengadilan
para ahli diberbagai bidang forensik ini dapat dihadirkan untuk memberikan keterangan
ahli. Tidak jarang para ahli ini bertarung didalam pengadilan dimana ahli yang satu dapat
menguatkan dakwaan dan ahli yang lain mematahkan pendapat ahli yang pertama.

October 9, 2016

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


Akuntan Forensik di Pengadilan
Di Indonesia, akuntansi forensik lebih banyak digunakan dalam sektor privat
disebabkan jumlah perkara yang ada lebih banyak dibanding di sektor pemerintah. Untuk
sektor pemerintah atau publik sendiri, para penuntut umum yang terdiri dari jaksa dan KPK
menggunakan ahli dari BPK, BPKP dan Inspektorat Jenderal yang bersangkutan dan tim
terdakwa biasanya menggunakan ahli dari kantor-kantor akuntan publik.
Sengketa
Suatu sengketa dapat terjadi disebabkan satu pihak merasa dirugikan oleh pihak lain
yang dianggap mengurangi, menghilangkan dan merampas hak pihak pertama. Adapun hak
yang dikurangi atau dihilangkan dapat berupa:

Uang atau aset lainnya baik berwujud maupun tidak

Reputasi, misalnya pencemaran nama baik

Peluang bisnis, misalnya dibatasi keikutsertaan dalam tender

Gaya hidup, misalnya dilarang masuk kawasan yang dinyatan ekslusif

Hak lain yang berkaitan dengan bisnis

Dalam sengketa, antar pihak merasa dirinya yang paling benar dan faktor- faktor yang
dapat menentukan berhasil atau gagalnya penyelesaian sengketa adalah :

Besarnya konsekuensi keuangan.

Seberapa jauh pertikaian pribadi, iri atau dendam yang terjadi antar pihak

Dampaknya terhadap kasus lain yang serupa

Besarnya publikasi yang negative yang dapat ditimbulkan

Besarnya beban emosional yang harus ditanggung

misalnya pengucilan oleh

masyarakat, symbol kehormatan atas hak yang disengketakan dan lainnya.


Selain faktor-faktor diatas ada pula faktor yang dapat mempermudah penyelesaian
sengketa antar pihak misalnya pihak yang merasa dirugikan mampu mengiklaskan
penyelesaian sengketanya pada lawannya disebabkan pandangan atas nilai hidup.
Untuk kasus penyelesaian diluar pengadilan terutama dalam kasus utang piutang
sering kali melibatkan pihak ketiga yaitu debt collector. Adapun beberapa alasan kenapa
memilih

menyelesaikan kasus diluar pengadilan,

hal ini disebabkan beberapa

pertimbangan, diantaranya adalah : (1) biaya perkara yang mahal, (2) hasilnya sering
mengecewakan.

October 9, 2016

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


Akuntansi atau Audit Forensik
Di Amerika Serikat, pada awalnya akuntansi forensik digunakan untuk menentukan
pembagian harta warisan atau mengungkap motif pembunuhan. Bermula dari hal tersebut
maka istilah yang dipakai adalah akuntansi forensik bukan audit forensik.
Ada yang menggunakan sitilah audit forensik untuk kegiatan audit investigative,
dalam rangka sertifikasipun istilah yang digunakan adalah audit forensik, pertimbangannya
adalah yang melakukan sertifikasi tidak hanya akuntan.
Praktik Akuntansi Forensik di Indonesia
Di beberapa Negara Asia, termasuk Indonesia mengalami krisis moneter pada tahun
1997. Dalam bulan Oktober 1997 The Asian Wall Street Journal memberitahukan bahwa
untuk pertama kalinya pemerintah Indonesia akan meminta bantuan kepada IMF dan Bank
Dunia diikuti dengan saran-saran penyehatan perbankan Indonesia yang dikenal dari
ADDP (agreed-upon due diligence process).
Pada awalnya ADDP ini dikerjakan oleh akuntan asing atas nama kantor masingmasing. Saat itu terjadi ketegangan di dunia perbankan Indonesia karena keharusan
mengubah praktik-praktik lama menjadi ketentuan yang telah ditentukan oleh IMF dan
Bank Dunia dengan tujuan rehabilitasi dan opsi rekapitalisasi.
Hasil dari ADDP menunjukkan bahwa bank-bank di Indonesia dalam penyajian
laporan keuangannya menyajikan aset yang overstatement dan kewajiban yang
understatement. Dapat disimpulkan bahwa apa yang dilakukan oleh ADDP tidak lain
adalah audit investigatif namun dalam kasus ini sistem pengadilan di Indonesia tidak
berhasil menjerat banker-bankir kelas kakap yang menikmati BLBI.
Tahun 2005 merupakan tahun suksesnya akuntansi forensik dan sistem pengadilan.
Beberapa kasus yang menonjol adalah kasus Komisi Pemilihan Umum dan kasus kedua
adalah Kasus Bank BNI.
Model Akuntansi Forensik
Pada awalnya, akuntansi forensik adalah perpaduan dua hal yaitu akuntansi dan
hukum, semakin modern kasus yang dihadapi semakin sulit sehingga terdapat satu bidang
tambahan yaitu audit.
Dalam suatu audit secara umum maupun untuk mendeteksi kecurangan, auditor
secara proaktif berupaya melihat kelemahan-kelemahan dalam pengendalian internalnya
terutama yang berhubungan dengan aset yang rawan untuk terjadinya kecurangan.

October 9, 2016

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


Suatu audit investigatif dimulai dari fraud audit yang bersifat reaktif yaitu telah
ditemukan indikasi terjadinya kecurangan dan audit investigatif merupakan titik awal dari
audit forensik.
Segitiga Akuntansi Forensik
Konsep yang digunakan dalam segitiga akuntansi forensik ini adalah konsep hukum
dalam menetapkan adanya kerugian atau tidak, bila ada kerugian bagaimana cara
mengitungnya. Titik kedua adalah perbuatan melawan hukum, tentunya apabila perbuatan
tersebut tidak melawan hukum maka tidak dapat dituntuk secara hukum. Sedangkan titik
terakhir dalam segitiga ini adalah keterkaitan antara kerugian dan perbuatan melawan
hukum atau kausalitasnya.

Perbuatan Melawan Hukum

Perbuatan melawan hukum dan kausalitasnya adalah ranah para ahli dan praktisi
hukum, perhitungan kerugiannya adalah ranah akuntan forensik dan dalam mengumpulkan
bukti-buktinya akuntan forensik dapat membantu ahli dan praktisi hukum.
FOSA (Fraud-Oriented Systems Audit) dan Cosa (Corruption-Oriented Systems
Audit)
Fraud audit dapat dibagi menjadi dua komponen, komponen pertama adalah fraud
audit yang proaktif yang berada diluar paying akuntansi forensik. Komponen kedua adalah
audit investigatif yang merupakan bagian dari akuntansi forensik,
Dalam teknologi informasi, kajian atas sistem untuk mengetahui kelemahannya
disebut audit sistem, sedangkan pada fraud dapat disebut dengan fraud-oriented system
audit (FOSA).

October 9, 2016

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


FOSA dapat dilakukan oleh organisasi itu sendiri, misal pada perusahaan privat
maka dilakukan oleh auditor internalnya atau unit lain yang ditunjuk oleh komite audit.
Apabila organisasi tersebut tidak memiliki pegawai yang berkompeten melakukan FOSA
maka dapat meminta jasa kantor akuntan publik.
Di organisasi pemerintah seperti Kementerian, Bank Indonesia, BUMN, dan yang
lainnya terdapat KPK yang melakukan kajian semacam FOSA dengan fokus pada potensi
korupsi.
1. Sistematika FOSA atau COSA
Langkah- langkah pelaksanaan FOSA atau COSA pada sektor publik adalah sebagai
berikut:
a. Menilai Adanya Potensi atau Risiko Fraud
1) Peralatan FOSA
a) Pahami entitas dengan baik, manfaatkan analisis historis
Setiap entitas memiliki kekhasan masing- masing dan potensi terjadi
korupsi yang khas pula, tidak jarang pola atau potensi korupsi ini terlah
terjadi beberapa lama dari pemerintahan terdahulu sampai sekarang.
Korupsi semacam itu biasanya terjadi akibat struktur dan proses di
entitas yang dirancang untuk para rent seeker.
b) Gunakan segitiga fraud
c) Lakukan wawancara, bukan interogasi
d) Sebar kuisioner dan lakukan substansiasi terhadap kuisioner
Tidak jarang entitas meminta pelaksanaan FOSA dilakukan dengan
kuisioner, maka setelah kuisioner dikembalikan setelah diisi pelaksana
FOSA wajib memastikan bahwa jawaban atas kuisioner tersebut memang
benar.
e) Observasi lapangan
Dengan melakukan observasi di lapangan maka pelaksana FOSA dapat
melihat bagaimana entitas memberikan pelayanan kepada masya rakat,
apakah terdapat suap, calo, prosedur yang bertele-tele dan sebagainya.
f) Lakukan sampling dan perhatikan timing
Disebabkan kedatangan pelaksanaan FOSA sudah diketahui entitas maka
dapat muncul kemungkinan entitas telah mengatur kondisi di lapangan.

October 9, 2016

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


Untuk menghindari hal tersebut maka pelaksana FOSA dapat melakukan
kunjungan dadakan ke lapangan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.
g) Lihat titik lemah sistem PBJ
PBJ sering kali menjadi kegiatan yang paling banyak menghabiskan
anggaran di sektor publik, oleh karena itu memperhatikan titik lemah di
PBJ sangatlah penting.
h) Lakukan profiling
i) Lakukan analisis data
2) Risiko atau Potensi Fraud
Potensi fraud pada suatu entitas dapat dilihat pada:
a) Kelemahan di sistem dan pada aspek kepatuhan, pelaksana FOSA
melihat kelemahan dalam pengendalian internalnya maupun kelemahan
dalam kepemimpinan yang dapat menciptakan peluang untuk melakukan
fraud. Peluang ini merupakan salah satu sisi dari segitiga fraud.
b) Seringkali yang disebut sebagai pemangku kepetingan bukanlah benarbenar pihak yang berkepentingan didalam entitas namun malah sebagai
benalu atau rent seeker. Seorang pelaksana FOSA harus mengetahui
titik-titik lemah dalam PBJ dari observasi dan bertanya maka dapat
dilihat siapa saja pemangku kepentingan sebenarnya dan siapa yang
menjadi rent seeker.
3) Sumber
Kemampuan

melakukan

profiling

sangat

membantu

dalam

mengidentifikasi benalu yang ada dalam entitas. Yang perlu diwaspadai


adalah bila terdapat hubungan keuangan antara penyelenggara Negara dan
pihak swasta, apakah ada penyuapan (bribery) apakah ada pemerasan
(extortion) didalamnya.
Sumber-sumber informasi yang dapat dipakai oleh pelaksana FOSA
dalam melihat apakah ada penyuapan dan pemerasan adalah:
a) Entitas yang diaudit adalah sebuah sumber penting
b) Organisasi diluar entitas seperti berasal dari LSM, media cetak dapat
memberikan informasi bagi pelaksana FOSA.
c) Whistleblowers

dapat

memberikan

info-info

penting

didalam

pengumpulan materi dalam mengidentifikasi potensi dan risiko fraud.

October 9, 2016

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


d) Laporan dari masyarakat yang menikmati layanan jasa dari entitas
tersebut
e) Informasi dari internet
4) Analisis Historis
Pelaksana FOSA dapat memanfaatkan data historis yang dapat memberikan
petunjuk mengenai titik-titik lemah yaitu:
a) Kejian-kajian survey integritas atau COSA yang dilakukan oleh KPK
b) Perkara-perkara masa lalu yang ada di pengadilan yang masih berjalan
mupun sudah ditutup
c) Kajian tentang persepsi korupsi
d) Dokumentasi praktik-praktik korupsi dari Bank Dunia
b. Menganalisis Potensi atau Risiko Fraud
1) Kesimpulan Sementara
2) Umpan Balik dari Entitas
3) Analisis Kesenjangan
c. Menilai Risiko atau Potensi Fraud
Rangkuman
Akuntansi forensik adalah penerapan disiplin akuntansi dalam arti luas, termasuk
auditing, pada masalah hukum untuk penyelesaian hukum di dalam atau di luar pengadilan
di sektor publik maupun privat. Akuntan forensik di pengadilan adalah sebagai ahli, baik
ahli selaku pribadi (KUHAP) maupun ahli selaku lemabaga (UU BPK).
Model akuntansi forensik yang palign sederhana: perpaduan akuntansi dan hukum.
Model akuntansi forensik yang lebih kompleks melibatkan tiga bidang, yaitu akuntansi,
hukum, dan audit umum. Model akuntansi forensik yang lebih kompleks melibatkan tiga
bidang, yaitu akuntansi, hukum, dan fraud audit.
Segitiga akuntansi forensik merupakan konsep penting dalam menetapkan dan
menghitung ada tidaknya kerugian negara. Titik pertama Segitiga Akuntansi Forensik
adalah Kerugian. Titik kedua Segitiga Akuntansi Forensik adalah Perbuatan melawan
hukum. Titik ketiga Segitiga Akuntansi Forensik adalah Hubungan Kausalitas.
Fraud-oriented systems audit (FOSA) merupakan nama lain dari audit fraud proaktif
yang bertujuan untuk mengidentifikasi potensi dan risiko fraud. Corruption-oriented
systems audit (COSA) merupakan nama lain dari audit fraud proaktif yang bertujuan untuk
mengidentifikasi potensi dan risiko korupsi.
October 9, 2016

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


Latihan Bab 1
Sebutkan perbedaan mendasar antara akuntansi forensik dan audit forensic
Jelaskan mengenai segitiga fraud
Jelaskan alternatif penyelesaian sengketa dalam masalah hukum!
Te s Formatif
1. Bagaimanakah gambar dari segitiga akuntansi forensik?
2. Apakah perbedaan antara FOSA dan COSA?
3. Apa sajakah tahapan dalam FOSA?

Umpan Balik
Sebagai dasar penilaian apakah mahasiswa telah menguasai materi maka jawab
pertanyaan tes formatif dan gunakan kriteria sebagai berikut:
Jawaban Benar

Penilaian

Keterangan

Baik

Lanjut Bab Selanjutnya

Sedang

Lanjut Bab Selanjutnya

Kurang

Mengulang Bab Ini

Jawaban Tes Formatif


1.

Gambar segitiga fraud adalah :

2.

Perbedaan antara FOSA dan COSA

Fraud-oriented systems audit (FOSA) merupakan nama lain dari audit fraud proaktif yang
bertujuan untuk mengidentifikasi potensi dan risiko fraud. Corruption-oriented systems

October 9, 2016

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


audit (COSA) merupakan nama lain dari audit fraud proaktif yang bertujuan untuk
mengidentifikasi potensi dan risiko korupsi.
3.

Tahapan dalam FOSA

Menilai adanya potensi atau risiko fraud

Menganalisis potensi atau risiko fraud

Menilai risiko atau potensi fraud

October 9, 2016

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


BAB 2
Mengapa Akuntansi Forensik
Pe ndahuluan
Tujuan Pembelajaran
Mahasiswa memahami Penggunaan Indeks dalam Survey Fraud
Ruang lingkup bahan modul
Ruang lingkup modul ini adalah Bab 2 Mengapa Akuntansi Forensik
Manfaat mempelajari modul
Diharapkan setelah mahasiswa membaca dan memahami modul ini maka dapat
menjelaskan mengenai Akuntansi Forensik
M e ngapa Akuntans i Fore ns ik
Cabang akuntansi forensik ada disebabkan adanya fraud, baik berupa potensi
maupun yang telah terjadi. Fraud dapat menghancurkan suatu pemerintahan dan sebuah
bisnis terutama yang berbentuk korupsi.
Akuntan forensik mengamati dan memahami gejala fraud secara makro, pada tingkat
perekonomian Negara. Kajian-kajian lembaga internasional bermanfaat dalam me mberikan
pemahaman lebih dalam dan khusus di Indonesia kajian yang lebih dalam berasal dari
kajian integritas yang dibuat oleh KPK.
Corporate Governance
Meskipun sorotan fraud pada umumnya adalah kelemahan kelemahan di sektor
korporasi, namun pronsip umumnya adalah kelemahan di sektor governancenya.
Dampak kelemahan ini di sektor korporasi adalaha secara teoritis adalah perusahaan
yang lebah di bagian tersebut akan dihukum oleh pasar modal dengan rendahnya harga
sahamnya, dengan demikian maka dapat diambil kesimpulan bahwa la;au ingin menaikan
harga saham maka kelola perusahaannya juga harus baik.
Dalam sebuah survey, diketahui bahwa kebanyakan investor di amerika latin lebih
memilih praktik yang sehat. Sedangkan bila dihubungkan dengan survey yang sama
tentang korelasi antara tatakelola yang baik dengan kinerja keuangan maka hasil survey
menyebut terdapat korelasi hampir sempurna antara keduanya.

October 9, 2016

10

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


Khusus di Indonesia, perhatian akuntan foensik adalah pada penemuan fraud dalam
arti korupsi. Gerakan memerangi korupsi adalah gerakan global diaman didukung oleh
Negara- negara maju yang memiliki undang- undang Foreign Corrupt Practices Ac, U.N
Convention Again Corruption dan sebagainya.
1. Corruption Perception Index
Indek persepsi korupsi (CPI) sangat dikenal di Indo nesia dan diumumkan
setiap tahunnya oleh Transparancy International (TI). Ada beberapa tabel di indeks
ini yaitu tabel yang menunjukkan peringkat suatu Negara, skor dari Negara tersebut,
banyaknya survey yang digunakan dan tingkat keandalan data.
Beberapa hal yang perlu dipahami dalam membaca tabel CPI adalah:
a. Indeks ini menunjukkan urutan Negara sesuai dengan persepsi urutan
tingkat korupsi yang dilakukan oleh pegawai negeri dan politisi.
b. Indeks tersebut merupakan indeks gabungan yang berasal dari data yang
berkaitan dengan korupsi dalam berbagai survey.
c. Definisi korupsi disini adalah penyalahgunaan wewenang oleh pegawai
negeri dan politisi.
d. Hasil survey andal dan dapat dipercaya
e. Skor lebih penting daripada peringkat
f.

Indonesia tidak termasuk dalam Negara terkorup menurut CPI

g. Sangat sulit mengubah skor dalam CPI walau telah banyak undang-undang
yang mempersulit korupsi.
2. Global Corruption Barometer
Survey ini adalah survey pendapat umum yang dilakukan sejak tahun 2003 dan
dilakukan oleh Gallup International atas nama Transparancy International. Gallup
ingin mengetahui masyarakat umum sektor manakah yang paling korup, kehidupan
sehari- hari yang dipengaruhi oleh korupsi, apakah korupsi meningkat atau menurun
dibanding masa lalu.
Informasi diatas sangat penting dalam membantu memberantas korupsi dan
penyuapan, misal bila diketahui bagaimana penyuapan terjadi maka dapat dirancang
agar situasi yang mendukung penyuapan tersebut tidak ada.
Temuan dari survey tersebut adalah:
a. Rakyat miskin adalah korban utama korupsi
b. Sekitar 1 dari 10 orang harus membuar uang suap atau sogokan

October 9, 2016

11

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


c. Penyuapan marak dalam urusan kepolisian, peradilan dan izin-izin
d. Masyarakat percaya bahwa partai politik adalah lembaga terkorup, DPR,
kepolisian dan pengadilan
e. Setengah yang disurvei percaya bahwa korupsi akan meningkat tiga tahun yang
akan datang
f.

Setengah yang disurvei percaya bahwa pemerintah tidak efektif dalam


memerangi korupsi

3. Bribe Payers Index


Indek penyuapan (BPI) dilaksanakan oleh Gallup International atas nama
Transparancy International, dilaksanakan pada tahun 2008 yang meliputi 2.742
wawancara dengan para eksekutif bisnis di 26 negara.
Pertanyaan yang diajukan pada para eksekutif adalah berapa besar
kemungkinanya perusahaan asing melakukan penyuapan

ketika melakukan

transaksi di Negara tempatnya beroprasi dan hasilnya adalah Belgia dan Kanada
adalah Negara dengan kemungkinan terkecil penyuapan dan Rusia sebagai Negara
paling besar kemungkinanya.
Yang menarik adalah tidak terdapat Negara yang mendapat skor 9 atau 10 yang
berarti tiap Negara memiliki kemungkinan terjadi penyuapan di bidang ekspornya.
4. Korupsi dan Iklim Investasi Kajian PERC
PERC atau Political and Economic Risk Consultancy, Ltd melakukan kajian
untuk menilai risiko politik dan ekonomi suatu Negara.
Salah satu kajian PERC menunjukkan tingkat korupsi menurut perspektif
eksekutif asing di Negara tertentu dan Indonesia memeroleh skor 8,32 pada survey
yang dilaksanakan ditahun 2009.
Untuk tahun 2010, posisi Indonesia menurut PERC masih terkorup anatar
Negara- negara kunci di asia yakni 16 besar, adapun ringkasan hasil surveinya adalah
sebagai berikut:
a. Dalam skor tertinggi 10, Indonesia di tahun 2010 memeloreh skor 9,07
b. Presiden SBY kesulitan dalam memerangi korupsi karena permasalahan
tersebut banyak yang dipolitisasi
c. Survey 2010 menanyakan kepada 2.174 eksekutif bisnis tingkat menengah
dan atas di Negara Asia, Australia, dan USA
d. Negara paling tidak terkorup menurut survey adalah Singapura

October 9, 2016

12

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


5. Global Competitiveness Index
Tingkat kemampuan bersaing suatu Negara menandakan sampai berapa jauh
Negara tersebut dapat memakmurkan rakyatnya. Pada tahun 1979 World Economic
Forum (WEF) menerbitkan laporan Global Competitiveness Index yang meneliti
faktor yang memungkinkan suatu Negara memiliki petumbuhan ekonomi dan
kemakmuran jangka panjang yang berkesinambungan.
WEF membuat 12 pilar persaingan yang dibagi menjadi 3 bagian yaitu Basic
requirements, Efficiency enchancers dan Innovation and sophistication factors.
Bagian pertama terdiri dari 4 faktor yaitu (1) institusi, (2) infrastruktur, (3) stabilitas
makroekonomi dan (4) pendidikan kesehatan. Bagian kedua terdiri dari 6 faktor
yaitu (1) pelatihan dan pendidikan yang tinggi, (2) efesiensi pasar yang bagus, (3)
efisiensi pasar tenaga kerja yang bagus, (4) kondisi pasar modal, (5) kesiapan
teknologi dan (6) ukuran pasar. Bagian terakhir terdiri dari 2 faktor yaitu (1) kondisi
bisnis dan (2) inovasi.
Suatu Negara bergerak dari bagian ke satu dengan masing- masing faktornya
dapat dipenuhi barulah dapat bergerak kebagian selanjutnya dan seterusnya.
6. Survey Integritas oleh KPK
Setiap tahunnya KPK melakukan survey integritas dan hal ini merupakan wewenang
dari KPK dalam pelaksanaan koordinasi dan supervise. Berbeda dengan indek- indek
sebelumnya, indeks integritas yang diterbitkan oleh KPK tidak semata- mata
berdasarkan persepsi saja namun ada beberapa variable yang tersaji dibawah ini.
Tabel 1
Indeks Integritas
Frekuensi
Pengalaman
korupsi(0,748)

Indeks Integritas

pemberian
gratifikasi (0,694)

Pengalaman

Nilai atau jumlah

integritas (0,705)

gratifikasi (0,306)
Cara
(0,252)

pandang

Cara

pandang

tingkat gratifikasi
(1)

Potensi Integritas Lingkungan kerja Penawaran


(0,295)

(0,265)

dan

pemberian

October 9, 2016

13

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


gratifikasi sebagai
kebiasaan (0,658)
Kebutuhan
kontrak

diluar

prosedur (0,342)
Kemudahan SOP

Sistem
administrasi
(0,303)

(0,294)
Keterbukaan
informasi (0,706)
Keadilan

Perilaku

dalam

petugas layanan (0,727)

(0,261)

Harapan

atas

gratifikasi (0,273)
Upaya pencegahan
korupsi (0,556)
Pencegahan

Kemudahan

korupsi (0,171)

pengaduan
masyarakat
(0,444)

Latihan
1.

Jelaskan mengenai 12 pilar persaingan menurut PERC

2.

Bagaimana cara membaca CPI?

3.

Bagaimana ringkasan surfey oleh PERC?

Rangkuman
Akuntansi forensik pada dasarnya menangani fraud. Tindak pidana korupsi adalah
salah satu jenis fraud yang paling besar daya rusaknya. Profil pelaku fraud biasanya
serakah, licik dan lihai.
Di dunia internasional ini terdapat berbagai macam pengukuran indeks dan sebagai
akuntan forensik, kita perlu memahami makna dan arti dari masing- masing indeks tersebut.

October 9, 2016

14

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


Membasmi korupsi harus dimulai dari pendidikan di rumahm di sekolah dan di
kegiatan keagamaan. Pemberantasan korupsi tidak dapat dengan cara sekaligus atau hanya
dalam satu gebrakan saja.
Te s Formatif
1. Sebutkan Temuan Survey GCB!
2. Sebutkan cara Membaca CPI!
3. Sebutkan 12 Pilar oleh WEF!

Umpan Balik
Sebagai dasar penilaian apakah mahasiswa telah menguasai materi maka jawab
pertanyaan tes formatif dan gunakan kriteria sebagai berikut:
Jawaban Benar

Penilaian

Keterangan

Baik

Lanjut Bab Selanjutnya

Sedang

Lanjut Bab Selanjutnya

Kurang

Mengulang Bab Ini

Jawaban Tes Formatif


1. Temuannya adalah :

Rakyat miskin adalah korban utama korupsi

Sekitar 1 dari 10 orang harus membuar uang suap atau sogokan

Penyuapan marak dalam urusan kepolisian, peradilan dan izin-izin

Masyarakat percaya bahwa partai politik adalah lembaga terkorup, DPR,


kepolisian dan pengadilan

Setengah yang disurvei percaya bahwa korupsi akan meningkat tiga tahun yang
akan dating

Setengah yang disurvei percaya bahwa pemerintah tidak efektif dalam memerangi
korupsi

2. Membaca CPI

Indeks ini menunjukkan urutan Negara sesuai dengan persepsi urutan tingkat
korupsi yang dilakukan oleh pegawai negeri dan politisi.

Indeks tersebut merupakan indeks gabungan yang berasal dari data yang berkaitan
dengan korupsi dalam berbagai survey.

October 9, 2016

15

MODUL AKUNTANSI FORENSIK

Definisi korupsi disini adalah penyalahgunaan wewenang oleh pegawai negeri


dan politisi.

Hasil survey andal dan dapat dipercaya

Skor lebih penting daripada peringkat

Indonesia tidak termasuk dalam Negara terkorup menurut CPI

Sangat sulit mengubah skor dalam CPI walau telah banyak undang-undang yang
mempersulit korupsi.

3. Pilar WEF

institusi, (2)

infrastruktur

stabilitas makroekonomi

pendidikan kesehatan

pelatihan dan pendidikan yang tinggi

efesiensi pasar yang bagus

efisiensi pasar tenaga kerja yang bagus

kondisi pasar modal

kesiapan teknologi

ukuran pasar

kondisi bisnis

inovasi.

October 9, 2016

16

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


BAB III
Lingkup Akuntansi Forensik
Pendahuluan

Sasaran Pembelajaran yang Ingin Dicapai


SP 1

: Mampu menjelaskan jasa-jasa forensik di sektor swasta.

SP 2

: Mampu menjelaskan jasa-jasa forensik di sektor publik.

SP 3

: Mampu membedakan akuntansi forensik di sektor publik dan swasta.

Ruang Lingkup Bahan Modul


Ruang lingkup bahan modul meliputi konsep dasar yang dirujuk dari buku Akuntansi
Forensik dan Audit Investigatif, buku pendukung, dan diperkaya dengan ketentuan
perundang-undangan Republik Indonesia.
Manfaat Mempelajari Modul
Dengan mempelajari modul ini, pembaca akan memperoleh manfaat berupa
kemudahan dalam memahami materi tentang Lingkup Akuntansi Forensik. Hal tersebut
disebabkan materi dalam modul ini disusun secara sistematis dan dilengkapi dengan poinpoin penting yang harus diperhatikan pembaca. Di samping itu, pembaca akan dapat
menguji pemahamannya melalui Soal Latihan Sasaran Pembelajaran (SP) dan Soal Tes
Formatif yang dilengkapi dengan pembahasannya.
Praktik di Sektor Swasta

Jasa-jasa Bidang Forensik


Brosur dari salah satu kantor akuntan peringkat teratas (the big four) yang beroperasi
di Asia Tenggara memerinci forensic services (Jasa-jasa di bidang forensik). Jasa-jasa
tersebut adalah sebagaimana diikhtisarkan dalam Tabel 2.1.
Tabel 2.1. Jasa-jasa Bidang Forensik
No

Forensic Services

Jasa-jasa bidang forensik

1.

Fraud & finansial Investigations

Investigasi keuangan dan fraud

2.

Analytic & Forensic Technology

Teknologi analitik dan forensik

3.

Fraud Risk Management

Manjemen risiko terhadap fraud

October 9, 2016

17

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


4.

FCPA Reviews and Investigations

FCPA- Review dan Investigasi

5.

Anti Money Laundering Services

Jasa Pencegahan pencucian uang

6.

Whistleblower Hotline

Whistleblower Hotline

7.

Litigations Support

Dukungan dalam litigasi

8.

Intelectual Property Protection

Perlindugan hak intelektual

9.

Client Training

Pelatihan bagi klien di bidang forensik

10.

Business Intelligence Services

Jasa intelegen bisnis

Keterangan :
a. Analytic & Forensic Technology
Ini adalah jasa-jasa yang dikenal sebagai computer forensic, seperti data imaging(termasuk
memulihkan kembali data computer yang hilang atau dihilangkan) dan data mining.
Beberapa perangkat lunak ini dilindungi hak cipta seperti DTect.
b. Fraud Risk Management
Jasa ini serupa dengan FOSA dan COSA yang dijelaskan dalam Bab 1. Beberapa peralatan
analisisnya terdiri atas perangkat lunak yang dilindungi hak cipta, seperti Tip-Offs
Anonymous, DTermine, dan DTect.
c. FCPA Reviews and Investigations
FCPA adalah Undang-undang di Amerika Serikat yang memberikan sanksi hukum kepada
entitas tertentu atau pelakunya (agent) yang meyuap pejabat atau penyelenggara Negara di
luar wilayah Amerika Serikat. FCPA Reviews seupa dengan FOSA, tetapi orientasinya
adalah pada potensi pelanggaran terhada FCPA. FCPS investigations merupakan jasa
investigasi ketika pelanggaran terhadap FCPA sudah terjadi.
d. Anti Money Laundering Services
Jasa yang diberikan kantor akuntan ini serupa dengan FOSA, tetapi orientasinya adalah pada
potensi pelanggaran terhadap undang-undang pemberantasan pencucian uang.
e. Whistleblower Hotline
Banyak fraud terungkap karenaWhistleblower memberikan informasi (tip-off) secara diamdiam atau tersembunyi (anonymous) tenang fraud yang sudah atau sedang berlangsung.
Kantor Akuntan ini menggunakan perangkat yang lunak yang dilindungi hak cipta (TipoffAnonymous).
f.

Business Intelligence Services

Istilah Intelligence memberi kesan bahwa kantor akuntan memberikan jasa mata- mata aau

October 9, 2016

18

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


melakukan pekerjaan detektif. Hal yang dilakukan adalah pemeriksaan latar belakang
(background check) seseorang atau suatu entitas. Jasa ini diperlukan oleh perusahaan yang
akan melakukan akuisisi, merger atau menanamkan uangnya pada perusahaan lain.Ini ada lah
bagian dari jasa yang dikenal desbagai due diligence. Jasa intelligence juga bermanfaat
dalam menciptakan kesadaran mengenai siapa pelanggan perusahaan. Jasa intelligence juga
berguna dalam rangka merekrut orang untuk jabatan yang memerlukan kejujuran dan
integritas.
Jasa Forensik Asset Recovery
Asset recovery adalah upaya pemulihan kerugian dengan cara menemukan dan menguasai
kembali aset yang dijarah, misalnya dalam kasus korupsi, penggelapan, dan pencucian uang
(money launder). Asset recovery terbesar dalam sejaarah akuntasi adalah likuidasi Bank of
Credit and Commerce International (BCCI). BCCI bangkrut karena sarat fraud. Para ahli
dan paktisi perbankan menggambarkan kasus BCCI sebagai fraud terbesar dan paling rumit
dalam industry perbankan. BCCI dituduh melakukan pencucian uang (money laundering),
praktik tidak sehat dalam memberikan pinjaman, penggelapan pembukuan, perdagangan
valuta asing yang amburadul, dan pelanggaran ketentuan perbankan berskala besar. Karena
tenggelam dalam fraud, nama bank tersebut diplesetkan menjadi Bank of Crook and
Criminal International.
Berdasarkan Asset Recovery Handbook yang diterbitkan oleh Stolen Asset Recovery
(StAR), World Bank, tahapan dalam pelaksanaan Asset Recovery adalah sebagai berikut.
a. Pengumpulan Bukti dan Penelusuran Aset
Brun, et. al. (2011: 41) menjelaskan bahwa salah satu tantangan terbesar dalam pemulihan
kerugian adalah menunjukkan bukti yang menghubungkan aset yang akan disita dengan
kegiatan kriminal tertentu atau membuktikan bahwa aset merupakan keuntungan yang
diperoleh dari tindak kejahatan yang dilakukan tersangka. Untuk memperoleh bukti tersebut
pemeriksa harus mengidentifikasi dan menelusuri aset atau follow the money sampai
diperoleh hubungan antara aset tersebut dengan tindakan kriminal yang dimaksud atau
sampai dengan lokasi aset yang dimaksud dapat ditentukan. Teknik-teknik yang dapat
digunakan dalam pengumpulan bukti dan penelusuran aset antara lain:
-

merencanakan tindakan investigatif,

membuat profil subjek,

mendapatkan bukti keuangan dan bukti-bukti lain,

mengorganisasikan data: membuat profil keuangan,

October 9, 2016

19

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


-

menganalisis data: membandingkan aliran kas dengan profil rekening,

melaksanakan kerja sama internasional.

b. Pengamanan Aset
Pengamanan aset diwujudkan dengan sebuah tindakan pemblokiran yang menurut pasal 1
Undang-undang Nomor 1 Tahun 2006 adalah pembekuan sementara harta kekayaan untuk
kepentingan penyidikan, penuntutan, atau pemeriksaan di sidang pengadilan dengan tujuan
untuk mencegah dialihkan atau dipindahtangankan agar orang tertentu atau semua orang
tidak berurusan dengan harta kekayaan yang telah diperoleh, atau mungkin telah diperoleh
dari dilakukannya tindak pidana tersebut.
c. Proses Peradilan
Proses terpenting dalam tahapan peradilan ini adalah pengumpulan bukti yang dilaksanakan
melalui penyitaan. Definisi penyitaan menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor
8 Tahun 1981 Tentang Hukum Acara Pidana Pasal 1 ayat (16) adalah serangkaian tindakan
penyidik untuk mengambil alih dan/atau menyimpan di bawah penguasaannya benda
bergerak atau tidak bergerak, berwujud atau tidak berwujud untuk kepentingan pembuktian
dalam penyidikan, penuntutan dan peradilan.
d. Pelaksanaan Putusan
Pada saat proses peradilan telah menghasilkan putusan yang menginstruksikan perampasan
aset maka berbagai langkah harus ditempuh untuk melaksanakan putusan tersebut. Namun,
mengingat tindakan pidana saat ini sudah merambah ke dunia internasional maka semakin
mudah bagi pelaku tindak pidana untuk menyembunyikan dan melarikan harta hasil tindak
pidananya ke luar negeri. Untuk itulah diperlukan kerja sama internasional dalam
pelaksanaan program pengembalian aset tindak pidana.
e. Pengembalian Aset
Menurut Yanuar (2007: 206),mekanisme atau prosedur yang dapat diterapkan untuk proses
pengembalian aset hasil tindak pidana korupsi dapat berupa: (i) pengembalian aset melalui
perampasan jalur pidana, (ii) pengembalian aset melalui perampasan jalur perdata, (iii)
pengembalian aset melalui jalur administrasi atau politik. Dalam proses pengembalian aset
hasil tindak pidana korupsi yang dilaksanakan oleh Kejaksaan Agung dan KPK sebagai
aparat berwenang dalam penegakan hukum juga mengenal dua mekanisme pengembalian
aset, yaitu; (i) pengembalian aset melalui perampasan aset tanpa pemidanaan, serta (ii)
pengembalian aset secara sukarela. Untuk mengembalian aset hasil tindak pidana korupsi,
KPK diberikan wewenang sebatas pengembalian aset dengan jalur pidana dan penyerahan

October 9, 2016

20

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


secara sukarela, apabila diharuskan menempuh jalur di luar pidana maka kejaksaan selaku
pengacara negara menerapkan mekanisme selanjutnya, baik secara perdata maupun
mekanisme jalur administratif dan politik.
Jasa Expert Witness
Pemberian jasa forensik berupa penampilan Ahli (Expert witness) di pengadilan Negaranegara Anglo Saxon begitu lazim sehigga seorang praktisi menulis bahwa secara teknis,
akuntasi forensik berarti menyiapkan seorang akuntan menjadi saksi ahli dalam ligitasi,
sebagai bagian dari tim penuntut umum ,atau pembela dalam perkara yang berkenaan
dengan

fraud. Namun, dalam perkembangan selanjutnya istilah akuntasi forensik

bermakna sama dengan prosedur akuntansi investigatif.


Masalah yang timbul dalam penggunaan akuntan forensik sebagai ahli di persidangan,
khususnya dalam tindak pidana korupsi, adalah kompetensi dan independensi. Masalah
kompetensi dan idependensi sering dipertanyakan tim pembela atau pengacara terhadap
akuntan forensik yang membantu penuntut umum. Sebaliknya, tidak ada pertanyaan
mengenai kompetensi dan independensi akuntan forensik yang membantu tim pembela
(pengacara).
Di Amerika Serikat, ada persyaratan yang harus dipenuhi agar pengetahuan tertentu dapat
digunakaan sebagai dasar untuk keterangan saksi ahli. Saksi ahli yang memenuhi kualifikasi
karena memiliki pengetahuan, ketrampilan, pengalaman, pelatihan atau pendidikan ilmiah
diperkenankan memberikan keterangan atau pendapat jika:
a. keterangan atau pendapatnya didasarkan atas fakta atau data yang cukup,
b. keterangan atau pendapatnya merupakan hasil dari prinsip dan metode yang andal;
dan
c. saksi ahli sudah menerapkan prinsip dan metode dengan benar pada fakta dalam
kasus yang dihadapi.
Kata kunci dalam aturan di Amerika Serikat adalah prinsip dan metode yang andal (reliable
principles and methods). Frasa ini menjadi standar umum untuk apa yang diterima sebagai
keterangan saksi ahli.
Dalam kasus yang dikenal sebagai Dabert case, Makamah Agung (Supreme Court)
menginterpretasikan bahwa kondisi berikut dipenuhi:
a. teknik atau teori sudah diuji secara ilmiah,
b. teknik atau teori sudah dipublikasi dalam majalah ilmiah dimana sesama rekan dapat
menelaahnya (peer-reviewed scientific journal),

October 9, 2016

21

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


c. tingkat kesalahan dalam menerapkan teknik tersebut dapat ditaksir dengan memadai
atau diketahui, serta
d. teknik atau teori sudah diterima dalam masyarakat atau asosiasi ilmuwan terkait.
Mahkamah agung tidak bermaksud untuk menerapkan semua butir di atas pada semua
kasus. Butir- Butir di atas dikenal sebagai Daubert test. Hal ini dikehendaki adalah bahwa
butir-butir yang relevan harus diterapkan secara kasus per kasus. Butir-Butir tersebut juga
tidak perlu diterapkan secara ketat untuk semua jenis keterangan saksi ahli. Hal terpenting
adalah butir-butir tersebut diterapkan seketat mungkin dalam kasus yang dihadapi.
Ada kriteria lain yang dikenal sebagai Frye test. Frye test lebih dulu dikenal daripada
Daubert test. Di beberapa pengadilan Negara bagian, Frye test masih diterapkan. Frye test
hanya mensyaratkan bahwa keterangan saksi ahli didasarkan pada prinsip atau metode yang
sudah diterima oleh masyarakat atau asosiasi ilmuwan terkait.
Penerapan Daubert test dan Frye test bervariasi dari satu yurisdiksi ke yurisdiksi yang lain.
Semua pengadilan federal dan beberapa pengadilan Negara bagian menerapkan Daubert test.
Pengadilan Negara bagian lainnya menerapkan Frye test saja, kombinasi dari Frye test dan
Daubert test atau test lainnnya.
Setiap yurisdiksi umumnya tidak mendaftarkan para aahli yng disetujui pengadilan (courtapproved-experts). Secara Umum, setiap saksi ahli harus diterima (melalui proses
persidangan yang dijelaskan di atas) sebagai ahli dalam setiap kasus dimana dia bersaksi.
Oleh karena itulah, akuntan forensik harus siap, kalau pengadilan menerapkan Daubert test
kepadanya. Itu berarti sidang pengadilan (khususnya pihak lawan) bukan saja menanyakan
keahlian profesional dari saksi ahli yang dihadirkan, tetapi juga teknik, teori, dan metode
yang digunakan untuk merumuskan pendapat atau keterangan ahlinya.
Soal Latihan SP 1
1. Sebut dan jelaskan jasa-jasa forensik yang dilaksanakan pada sektor swasta!
2. Sebut dan jelaskan apa yang dimaksud dengan jasa asset recovery!
3. Sebut dan jelaskan apa yang dimaksud dengan jasa expert witness!
Praktik di Sektor Pemerintah
Di sektor publik (pemerintahan), praktik akuntan forensik serupa dengan apa yang
digambakan pada sektor swasta. Perbedaannya adalah bahwa tahap-tahap dalam seluruh
rangkaian akuntasi forensik terbagi-bagi diantara berbagai lembaga. Ada lembaga yang
melakukan pemeriksan keuangan Negara, ada beberapa lembaga yang merupakan bagian

October 9, 2016

22

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


dari pengawasan internal pemerintahan, ada lembaga- lembaga pengadilan, ada lembaga
yang menunjang memerangi kejahatan pada umumnya, dan korupsi khususnya (seperti
PPATK), dan lembaga- lembaga lainnya seperti KPK. Juga ada lembaga swadaya
masyarakat yang berfungsi sebagai pressure group.
Masing- masing lembaga tersebut mempunyai mandat dan wewenang yang diatur dalam
konstitusi, undang- undang, atau ketentuan lainnya. Mandat dan wewenang ini akan
mewarnai lingkup akuntasi forensik yang diterapkan.
Di samping itu, keadaan politik dan macam- macam kondisi lain akan memengaruhi lingkup
akuntasi forensik yang diterapkan, termasuk pendekatan hukum dan nonhukum. Hal ini dpat
dilihat dalam penanganan kasus-kasus korupsi atau dugaan korupsi mantan-mantan
kleptokrat dunia.
Soal Latihan SP 2
1. Sebutkan macam- macam lembaga pemerintah yang berhubungan dengan Akuntansi
Forensik!
2. Bagaimana kondisi politik mempengaruhi penerapan akuntansi forensik?
Akuntansi Forensik Di Sektor Publik dan Swasta
Dalam subbab sebelumnya telah dijelaskan beberapa aspek akuntansi forensik di sektor
publik dan swasta. Untuk Indonesia, akuntan forensik di sektor publik jauh lebih dominan
dibandingkan dengan akuntasi forensik di sektor swasta. Dalam perekonomian yang
didominasi sektor swasta kita akan melihat kebalikannya. Perbandingan akuntansi forensik
di sektor publik dengan akuntansi forensik di sektor swasta adalah sebagaimana
diikhtisarkan dalam Tabel 2.2.
Tabel 2.2. Perbedaan Akuntansi Forensik Di Sektor Publik dan Swasta
Dimensi
Landasan
Penugasan
Imbalan

Hukum

Sektor Publik

Sektor Swasta

Amanat Undang-undang

Penugasan tertulis secara spesifik

Lazimnya tanpa imbalan

Fee dan biaya (contingency fee and


expenses)

Pidana umum dan khusus, hokum Perdata,


administrasi Negara

Ukuran

Memenangkan perkara pidana dan

keberhasilan

memulihkan kerugian

arbitrase,

administratif/aturan internal
Memulihkan kerugian

October 9, 2016

23

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


Pembuktian

Dapat melibatkan instansi lain di Bukti intern dengan bukti ekstern


luar lembaga yang bersangkutan

Teknik

audit Sangat

bervariasi

karena

investigatif

kewenangan yag relatif besar

Akuntansi

Tekanan pada kerugian negara dan


kerugian keuangan negara

yang lebih terbatas


Relatif sedikit dibandingkan di
sektor publik, kreativitas dalam
pendekatan sangat menentukan
Penilaian bisnis (business valation)

Soal Latihan SP 3
1. Sebut dan jelaskan perbedaan akuntansi forensik di sektor publik dan swasta!
Rangkuman
Jasa-jasa forensik di sektor swasta: Fraud & finansial Investigations, Analytic &
Forensic Technology, Fraud Risk Management, FCPA Reviews and Investigations, Anti
Money Laundering Services, Whistleblower Hotline, Litigations Support, Intelectual
Property Protection,

Client Training, Business Intelligence Services. Tahapan-tahapan

dalam jasa asset recovery: Mengumpulkan bukti dan menelusuri aset, Mengamankan aset,
Proses peradilan, Melaksanakan putusan, Mengembalikan aset.
Masalah utama dalam jasa expert witness adalah pengujian kompetensi. Untuk itu,
dikenal dua metode, yaitu Daubert test dan Frye test. Daubert test adalah pemenuhan
kondisi-kondisi yang meliputi (1) teknik atau teori sudah diuji secara ilmiah, (2) tek nik atau
teori sudah dipublikasi dalam majalah ilmiah dimana sesama rekan dapat menelaahnya
(peer-reviewed scientific journal), (3) tingkat kesalahan dalam menerapkan teknik tersebut
dapat ditaksir dengan memadai atau diketahui, serta (4) teknik atau teori sudah diterima
dalam masyarakat atau asosiasi ilmuwan terkait. Adapun Frye test adalah Frye test hanya
mensyaratkan bahwa keterangan saksi ahli didasarkan pada prinsip atau metode yang sudah
diterima oleh masyarakat atau asosiasi ilmuwan terkait.
Di sektor publik (pemerintahan), praktik akuntan forensik serupa dengan apa yang
digambakan pada sektor swasta. Perbedaannya adalah bahwa tahap-tahap dalam seluruh
rangkaian akuntasi forensik terbagi-bagi diantara berbagai lembaga. Dimensi yang
membedakan akuntansi forensik di sektor publik dan swasta: Landasan penugasan, Imbalan,
Hukum, Ukuran Keberhasilan, Pembuktian, Teknik audit investigatif, Akuntansi
Tes Formatif
1. Jelaskan jenis jasa akuntansi forensik Fraud & financial Investigations!
October 9, 2016

24

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


2. Jelaskan jenis jasa akuntansi forensik Whistleblower Hotline!
3. Jelaskan Perbedaan antara akuntansi forensi Privat dan Publik!
Umpan Balik
Sebagai dasar penilaian apakah mahasiswa telah menguasai materi maka jawab
pertanyaan tes formatif dan gunakan kriteria sebagai berikut:
Jawaban Benar
3
2
1

Penilaian
Baik
Sedang
Kurang

Keterangan
Lanjut Bab Selanjutnya
Lanjut Bab Selanjutnya
Mengulang Bab Ini

Jawaban Tes Formatif


1. Adalah jasa audit forensik yang berhubungan dengan data imaging dan data mining,
data imaging adalah teknik untuk memulihkan kembali data komputer yang hilang
dan data mining adalah proses mengekstraksi pola-pola yang menarik.
2. Adalah jasa forensik dengan memberikan sebuah nomor Hotline untuk dapat
melporkan kasus fraud dimana pengungkapnya tidak diketahui.
3. Tabel Perbedaanya adalah:
DIMENSI
Landasan Penugasan
Imbalan
Hukum

Ukuran keberhasilan

Pembuktian

Teknik audit
investigatif
Akuntansi

SEKTOR PUBLIK
Amanat Undangundang
Lazimnya tanpa
imbalan
Pidana umum dan
khusus, hokum
administrasi Negara
Memenangkan
perkara pidana dan
memulihkan kerugian
Dapat melibatkan
instansi lain di luar
lembaga yang
bersangkutan
Sangat bervariasi
karena kewenangan
yag relatif besar
Tekanan pada
kerugian negara dan
kerugian keuangan
negara

SEKTOR SWASTA
Penugasan tertulis secara spesifik
Fee dan biaya (contingency fee and
expenses)
Perdata, arbitrase, administratif/aturan
internal
Memulihkan kerugian

Bukti intern dengan bukti ekstern


yang lebih terbatas
Relatif sedikit dibandingkan di sektor
publik, kreativitas dalam pendekatan
sangat menentukan
Penilaian bisnis (business valation)

October 9, 2016

25

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


BAB IV
Fraud Atribut dan Kode Akuntan Forensik Serta standar
Audit Investigatif
SASARAN

SP 1 : Mampu memahami dan menjelaskan atribut, karakteristik, dan

PEMBELAJARAN

Kualitas Akuntan Forensik.


SP 2 : Mampu memahami dan menjelaskan kode etik Akuntan Forensik.
SP 3 : Mampu memahami dan menjelaskan standar
profesional audit forensik dan investigatif.

RUANG

Ruang lingkup modul ini adalah pembahasan mengenai atribut, kode etik

LINGKUP

akuntan forensik serta standar audit Investigatif yang ada di Indonesia

BAHAN MODUL

maupun dari penulis-penulis luar negeri serta dari The Association


Certified Fraud Examiner.

MANFAAT

Dengan membaca modul ini diharapkan pembaca dapat meningkatkan

MEMPELAJARI

pengetahuan tentang akuntansi forensik dan audit investigatif, khususnya

MODUL

dalam hal atribut dan kode etik akuntan forensik serta standar audit
investigatif.

URUTAN

Urutan pembahasan materi dalam modul ini sebagai

PEMBAHASAN

berikut
a. Atribut seorang akuntan forensik.
b. Kode etik akuntan forensik
c. Standar audit investigatif

Sas aran 1 : Atribut Se orang Akuntan Fore ns ik


Dalam menghadapi fraud maka seorang auditor pemula harus melakukan :

October 9, 2016

26

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


a. Menghindari pengumpulan fakta dan data yang berlebihan secara prematur. Identifikasi
lebih dahulu siapa pelaku atau yang mempunyai potensi menjadi pelaku.
b. Seorang fraud auditor harus mampu membuktikan niat pelakunya. Banyak kasus gugur di
sidang pengadilan karena penyidik dan saksi ahli gagal membuktikan niat melakukan
kejahatan atau pelanggaran.
c. Seorang auditor forensik harus kreatif, berpikir seperti pelaku fraud, jangan dapat
ditebak. Dalam proses audit investagatif, keadaan dapat berubah dengan cepat, misalnya,
bukti dan barang bukti disembunyikan atau dihancurkan atau pelaku bersembunyi atau
melarikan diri. Dalam kondisi seperti tersebut auditor forensik harus berpikir kreatif
dalam menggunakan prosedur, kombinasi prosedur atau alternatif prosedur untuk
mengumpulkan bukti. Seorang auditor forensik harus dapat berpikir layaknya seorang
pelaku fraud agar dapat mengantisipasi langkah- langkah yang akan diambil pelaku fraud
jika mereka mengetahui bahwa tindakan mereka telah tercium atau terungkap. Seorang
auditor forensik juga tidak gampang ditebak dalam melakukan proses audit invest igatif,
agar tidak dengan mudah dapat diantisipasi oleh pelaku fraud.
d. Auditor harus tahu bahwa banyak kecurangan dilakukan dengan persekongkolan.
Seorang auditor forensik harus memiliki indra atau intuisi yang tajam untuk merumuskan
adanya patner ini crime untuk memudahkan dalam pengumpulan bukti
e. Seorang auditor harus mengenali pola fraud yang dilakukan oleh pelaku. Pendeteksian
dan pengumpulan bukti terhadap fraud yang dilakukan dalam pembukuan, seperti
pencatatan ganda atas pembayaran kepada pemasok, akan memerlukan tehnik dan
prosedur audit yang berbeda dengan pola fraud yang ada di luar pembukuan seperti
kickback, penagihan piutang yang sudah dihapus dan penjualan barang yang sudah
dibesituakan.
ACFE menjelaskan karakteristik pemeriksa fraud yang harus memiliki kemampuan yang
unik. Pemeriksa fraud yang sukses mempunyai kemampuan mengumpulkan fakta- fakta dari
berbagai saksi secara (1) adil (fair), (2) tidak memihak, (3) sahih (mengikuti perundangundangan), (4) akurat, (5) mampu melaporkan fakta- fakta yang dikumpukan dan kemudian
melaporkannya dengan akurat dan lengkap.

October 9, 2016

27

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


Pemeriksa fraud juga harus memiliki kualitas seorang detektif yaitu (1) hati- hati (tidak
gegabah), (2) menjaga kerahasiaan pekerjaannya, (3) kreatif dalam menemukan hal-hal baru, (4)
pantang menyerah, (5) berani, (6) jujur. Disamping itu diharuskan untuk memiliki kemampuan
dalam pendekatan dengan manusia dan ketangguhan mencari informasi seluas- luasnya yang
memungkinkannya menerapkan kemahirannya sebagai detektif dengan segera dan secara efektif.
Terdapat enam kualitas yang harus dimiliki oleh akuntan forensik, yaitu:
a. Kreatif.
Yaitu kemampuan untuk melihat sesuatu secara berbeda dari orang lain. Suatu hal yang
normal bagi orang lain belum tentu dianggap normal oleh akuntan forensik.
b. Rasa ingin tahu.
Rasa keingin tahuan untuk menemukan apa yang sesungguhnya terjadi dalam rangkaian
peristiwa dan situasi.
c. Tidak menyerah.
Memiliki keinginan untuk maju terus pantang mundur walaupun fakta seolah-olah tidak
mendukung, dan ketika dokumen atau informasi sulit diperoleh.
d. Akal sehat.
Adalah kemampuan untuk mempertahankan perspektif dunia nyata.
e. Business sense
Kemampuan untuk memahami bagaimana bisnis sesungguhnya berjalan dan bukan hanya
sekedar memahami bagaimana transaksi dicatat.
f.

Percaya diri.
Kemampuan untuk mempercayai diri dan temuannya sehingga dapat bertahan di bawah
cross examination dari jaksa penuntut umum dan pembela.

Selanjutnya selain kualitas diatas maka seorang investigator harus memiliki beberapa
kemampuan penting yaitu:
a. Kemampuan analisis.
Seorang investigator memiliki banyak kesamaan dengan dokter : membutuhkan
sejumlah pekerjaan diagnosa dan eksplorasi untuk menemukan apa yang sebenarnya
terjadi. Tidak mungkin untuk menjadi investigator yang baik tanpa kemampuan analitis
yang baik pula.

October 9, 2016

28

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


b. Kemampuan berkomunikasi yang baik.
Seorang komunikator yang baik akan tahu bagaimana untuk dapat mendapatkan bukti
dan pengakuan, bagaimana struktur pertanyaan dan wawancara, dan bagaimana cara
menulis laporan yang berkualitas untuk disajikan dalam pengadilan.
c. Penguasaan teknologi.
Teknologi memungkinkan investigator menganalisis database yang besar secara efisien.
Komputer dan bentuk lain dari teknologi menghasilkan beberapa bukti terbaik untuk
menentukan apakah seseorang bersalah atas fraud atau tidak.
d. Pemahaman mengenai akuntansi dan bisnis.
Salah satu perbedaan antara fraud dan jenis-jenis kejahatan lain adalah cara dan upaya
penyembunyian terhadap jejak kejahatan fraud. Biasanya, cara penyembunyiannya
adalah merubah catatan akuntansi maupun dokumen. Investigator yang memahami
akuntansi dan bisnis sangat dibutuhkan di masa depan.
e. Pengetahuan tentang hukum perdata dan pidana, kriminologi, masalah privasi, hak
karyawan, undang-undang terkait fraud/korupsi dan isu-isu hukum terkait fraud lainnya.
Tehnik pengumpulan bukti secara legal apa yang bisa diambil dan kapan sebaiknya
penegak hukum mulai terlibat, pengetahuan tentang hukum perdata dan pidana,
kriminologi, masalah privasi, hak karyawan, undang- undang terkait fraud/korupsi dan
isu-isu hukum terkait fraud lainnya sangat diperlukan oleh akuntan forensik.
f.

Kemampuan untuk berbicara dan menulis dalam bahasa asing.


Investigasi lintas batas negara bukanlah hal yang akan jarang terjadi, sehinggu auditor
forensik akan membutuhkan kemampuan berbicara dan menulis dalam bahasa asing.

g. Pengetahuan tentang perilaku manusia,


Termasuk mengapa dan bagaimana orang merasionalisasi ketidakjujuran, bagaimana
mereka bereaksi ketika tertangkap, dan apa cara yang efektif untuk mencegah individu
dari melakukan fraud.
Soal Latihan 1
1.

Jelaskan maksud seorang auditor forensik harus memiliki kualitas seperti detektif

2.

Jelaskan persamaan antara investigator fraud dengan seorang dokter

3.

Jelaskan maksud akal sehat dalam unsur enam kualitas yang harus dimiliki auditor forensik
October 9, 2016

29

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


Sas aran 2: Kode Etik Akuntan Fore ns ik.
Etika adalah ajaran moral yang biasanya tidak tertulis namun bagi suatu organisasi profesi,
etika dituangkan dalam aturan tertulis yang disebut kode etik. Kode etik pada prinsipnya
merupakan sistem dari prinsip-prinsip moral yang diberlakukan dalam suatu kelompok profesi
yang ditetapkan secara bersama. Kode etik tersebut dibuat untuk dijadikan sebagai aturan
tindakan etis bagi para anggota profesi yang bertujuan menjaga reputasi serta kepercayaan
masyarakat agar profesi dapat tetap eksis dan survive.
ACFE dalam Certified Fraud Examiner (CFE) Code of Proffesional Standards Interpretation and
Standards mengatur kode etik profesional CFE yang terdiri dari :
1. Integritas dan Objektivitas.
a. CFE harus berintegritas, mengingat kepercayaan publik dibangun dengan integritas. CFE
tidak boleh mengorbankan integritas demi melayani klien, employer, atau bahkan
kepentingan publik.
b. Sebelum menerima penugasan, CFE harus terlebih dahulu menginvestigasi tentang
adanya kemungkinan benturan kepentingan. CFE harus mengungkapkan benturan
kepentingan aktual atau potensial kepada pihak-pihak yang berpotensi untuk menerima
dampak benturan kepentingan tersebut, baik kepada klien atau employer.
c. CFE harus memelihara objektivitas dalam melaksanakan tanggung jawab profesionalnya
yang ada dalam lingkup pemeriksaannya.
d. CFE dilarang melakukan tindakan yang mendiskreditkan asosiasi atau keanggotaannya
dan senantiasa berprilaku sesuai dengan kebaikan reputasi profesi.
e. CFE dilarang secara sadar memberikan kesaksian palsu d i bawah sumpah pada sidang
pengadilan atau forum penyelesaian sengketa lainnya. CFE harus mematuhi perintah
yang sah dari pengadilan atau badan penyelesaian sengketa lainnya . CFE dilarang
melakukan tindak pidana atau sengaja membujuk orang lain untuk melakukannya.
2. Kompetensi Profesional.
a. CFE harus kompeten dan tidak boleh menerima penugasan ketika kurang memiliki
kompetensi terkait penugasan tersebut. Pada situasi tertentu, dimungkinkan bagi CFE
untuk menyewa konsultan untuk memenui persyaratan kompentensi yang diperlukan.

October 9, 2016

30

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


b. CFE harus mempertahankan program pendidikan berkelanjutan minimal yang
dipersyaratkan oleh profesi. Komitmen profesional yang menggabungkan pendidikan dan
pengalaman harus berlanjat sepanjang karir CFE. CFE secara berkelanjutan harus
berusaha untuk meningkatkan kompetensi dan efektifitas pelayanannya.
3. Kehati-hatian Profesional.
a. CFE wajib menerapkan kehati- hatian profesional dalam melaksanakan jasanya. Kehatihatian profesional memerlukan ketekunan, analisis krits, dalam melaksanakan
tanggungjawab profesional.
b. Kesimpulan yang diambil oleh CFE harus berdasarkan bukti yang relevan, andal dan
cukup.
c. Pemeriksaan fraud harus direncanakan secara memadai.
d. Pekerjaan yang dilakukan oleh asisten dan profesional lain yang beroperasi di bawah
arahan CFE pada pemeriksaan fraud harus disupervisi secara memadai.
e. Kesepakatan Dengan Klien atau Employer.
Pada awal pemeriksaan fraud, CFE harus mencapai kesepakatan dengan klien atau
employer tentan ruang lingkup, keterbatasan dan tanggung jawab semua pihak yang
terlibat
f.

Kapanpun ruang lingkup atau keterbatasan pemeriksaan fraud atau tanggung jawab antar
pihak berubah secara signifikan, CFE harus mendapatkan kesepakatan baru dengan klien
atau employer.

4. Komunikasi dengan klien atau employer.


CFE harus mengomunikasikan kepada pihak yang menggunakannya (klien atau employer)
temuan signifikan yang diperoleh pada saat pemeriksaan fraud.
Komunikasi ini akan memastikan klien/employer mengetahui progres perikatan dan
menyediakan keyakinan kepada klien/employer bahwa CFE

me laksanakan tugas

profesionalnya dengan kompetensi dan kehati-hatian.


5. Kerahasiaan.
CFE tidak boleh mengungkapkan informasi rahasia atau pribadi yang diperoleh selama
pemeriksaan fraud tanpa izin dari otoritas yang tepat atau perintah yang sah dari pengadila n.

October 9, 2016

31

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


Persyaratan ini tidak menghalangi professional practice atau badan peninjau investigatif
selama organisasi meninjau setuju untuk mematuhi pembatasan kerahasiaan.
Soal Latihan 2
1.

Sebutkan Kode Etik Profesional yang harus dimiliki oleh CFE

2.

Sebutkan unsur-unsur Kehati-hatian Profesional

3.

Apakah yang disebut dengan Etika?

Sas aran 3: Standar Audit Inve s tigative


Terdapat 7 standar bagi seorang fraud auditor dalam pelaksanaan audit investigasinya,
yaitu:
1. Standar 1
Seluruh investigasi harus dilandasi accepted best practice dimana maksudnya adalah (1)
adanya upaya membandingkan antara praktik praktik yang ada dengan merujuk kepada
yang terbaik pada saat itu (benchmarking). (2) upaya benchmarking dilakukan terus menerus
untuk mencari solusi terbaik.
2. Standar 2
Kumpulkan bukti dengan prinsip due care sehingga bukti dapat diterima di pengadilan.
3. Standar 3
Pastikan bahwa seluruh dokumentasi dalam keadaan aman, terlindungi dan diindeks dan
jejak audit tersedia.
4. Standar 4
Pastikan bahwa para investigator memahami hak asasi pegawai dan senantiasa menghormati.
5. Standar 5
Beban pembuktian ada pada perusahaan yang menduga pegawainya melakukan kecurangan
dan pada penuntut umum yang mendakwa pegawai tersebut, baik dalam kasus hukum
administrasi maupun kasus pidana.
6. Standar 6
Cakup seluruh substansi investigasi dan kuasai seluruh target yang sangat kritis ditinjau dari
segi waktu, perlu diingat bahwa fraud auditor menghadapi keterbatasan waktu. Dalam
menghormati asas praduga tidak bersalah, hak dan kebebasan seseorang harus dihormati.

October 9, 2016

32

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


7. Standar 7
Liput seluruh kunci dalam proses investigasi yaitu:
a. perencanaan
b. pengumpulan bukti dan barang bukti
c. wawancara
d. kontak dengan pihak ketiga
e. pengamanan mengenai hal yang bersifat rahasia
Standar akuntansi forensik yang terdiri dari:
1. Indepedensi
Akuntan Forensik Harus Independen Dalam Melaksanakan Tugas, misalnya:
a. Di internal instansi, akuntansi forensik harus independen dalam melaksanakan tugasnya.
Ia bertanggung langsung ke Dewan Komisaris kalau penugasan diberikan oleh
lembaganya, atau kepada penegak hukum dan/ atau regulator, jika penugasannya datang
dari luar lembaganya
b. Dalam hal akuntan forensik tersebut independen ia menyampaikan laporan kepada
seorang eksekutif senior yang kedudukannya lebih tinggi dari orang yang diduga
melakukan fraud.
c. Dalam hal akuntan forensik tersebut independen dan penugasan diterimanya dan lembaga
penegak hukum atau pengadilan, pihak yang menerima laporannya harus ditegaskan
dalam kontrak penugasan.
2. Objektivitas
Akuntan forensik harus objektif dalam melaksanakan telaah akuntansi forensiknya
3. Kemahiran profesional:
Akuntansi forensik harus dilaksanakan dengan kemahiran dan kehati hatian profesional
4. Sumber Daya Manusia
Semua sumber daya manusia yang menjalani akuntansi forensik harus mempunyai kemahiran
teknis, pendidikan, dan pengalaman yang memadai sesuai dengan tugas yang diserahkan
kepadanya
5. Pengetahuan, Pengalaman, Keahlian dan Disiplin

October 9, 2016

33

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


Akuntansi forensik harus memiliki atau menggunakan sumber daya manusia yang memiliki
pengetahuan, pengalaman, keahlian, dan disiplin untuk melaksanakan tugasnya dengan baik
6. Supervisi
Dalam hal lada lebih dari satu akuntan forensik dalam satu penugasan, salah seorang diantara
mereka berfungsi sebagai in-charge yang bertanggung jawab dalam mengarahkan penugasan
dan memastikan bahwa rencana kerja dilaksanakan sebagai mana seharusnya dan
dikomunikasikan dengan baik.
7. Kepatuhan terhadap Standar Prilaku
Akuntan forensik harus mematuhi standar prilaku profesional terbaik yang diharapkan dari
akuntan, auditor, rekan dari profesi hukum baik tim pembela maupun jaksa umum dan
regulator.
8. Hubungan Manusia
Akuntan forensik harus memiliki kemampuan berinteraksi dengan sesama manusia
(interpersonal skills) seperti yang diterapkan dalam hubungan antar manusia di dunia bisnis
dalam kegiatan sehari-hari, atau ketika melakukan wawancara (yang netral) dan interogasi
(yang mengandung tuduhan) dan kegiatan akuntansi forensik lainnya.
9. Komunikasi
Akuntan forensik harus memiliki kemampuan komunikasi yang sangat baik (excellent) ketika
ia mengomunikasikan temuan secara (a) lisan, kepada pemberi penugasan, atau dalam
memberikan keterangan ahli di pengadilan; dan (b) secara tertulis, dalam bentuk laporan
kemajuan (progress report), laporan khusus, dan laporan akhir, baik kepada pemberi tugas,
penegak hukum dan pengadilan.
10. Pendidikan Berkelanjutan.
Akuntan forensik harus senantiasa mempertahankan dan meningkatkan kompetensi teknisnya
dengan mengikuti pendidikan berkelanjutan.
11. Kehati-hatian Profesional.
Akuntan forensik harus melaksanakan kehati- hatian profesional dalam melaksanakan
tugasnya.
12. Lingkup Penugasan.

October 9, 2016

34

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


Akuntan forensik harus memahami dengan baik penugasan yang diterimanya. Ia harus
mengkaji penugasan itu dengan teliti untuk menentukan apakah penugasan dapat diterima
secara profesional, dan apakah ia mempunya i keahlian yang diperlukan atau dapat
memperoleh sumber daya yang mempunyai keahlian tersebut. Lingkup penugasan ini
dicantumkan dalam kontrak.
13. Keandalan Informasi
Akuntan forensik harus menelaah sistem yang menghasilkan informasi yang akan
dipergunakannya, untuk memastikan keandalan dan integritas dari informasi tersebut, dan
keamanan serta pengamanan inforamsi tersebut.
14. Kepatuhan terhadap Kebijakan, Rencana, Prosedur, dan Ketentuan Perundang-undangan.
Akuntan forensik

harus menelaah sistem yang dikembangkan untuk

memastikan

terlaksananya kepatuhan terhadap kebijakan, rencana, dan prosedur yang berlaku di lembaga
tersebut, dan kepatuhan terhadap ketentuan perundang-undangan.
15. Pengamanan Aset:
Akuntan forensik harus menelaah cara-cara pengamanan aset, termasuk manajemen tesiko
atas aset tersebut.
16. Penggunaan sumberdaya secara efisien dan ekonomis.
Akuntan forensik harus menelaah apakah sumber daya di lembaga tersebut telah dipakai
secara efisien, efektif dan ekonomis, termasuk sikap kehati-hatian manajemen dalam
mengelola sumberdaya itu.
17. Penggunaan sumberdaya secara efisien dan ekonomis.
Akuntan forensik harus menelaah kegiatan (operasi), program dan proyek untuk memastikan
apakah pelaksanaan dan hasilnyan sesuai dengan tujuan dan sasaran.
18. Pelaksanaan Tugas Telaahan.
Pelaksanaan tugas akuntan forensik harus meliputi (1) perumusan mengenai apa masalahnya,
evaluasi atas masalah itu dan perencanaan pekerjaan, (2) pengumpulan bukti, (3) penilaian
bukti, (4) mengomunikasikan hasil penugasan.
19. Perumusan Masalah dan Evaluasi:
Dalam hal ini akuntan forensik yang dibantu oleh mereka yang punya keahlian dalam
masalah yang dihadapi, mengumpulkan sebanyak mungkin fakta dan peristiwa mengenai

October 9, 2016

35

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


situasi yang mempunyai potensi fraud secara informal. Ini meliputi (1) penentuan bagaimana
potensi terjadinya masalah diketahui, (2) bagaimana masalah itu dikomunikasikan, dan
dugaan dimana serta kapan hal itu terjadi.
20. Perencanaan.
Perumusan masalahnya dipertajam, dan rencana dibuat. Dalam rencana ditentukan tujuan dan
sasaran dari penugasan ini. Juga dibuat rencana mengenai jumlah dan jenis keahlian yang
dibutuhkan, sedapat mungkin dengan mengidentifikasikan orangnya. Rencana harus
fleksibel, dengan cepat jadwal berubah apabila situasi di lapangan berubah.
21. Pengumpulan bukti:
Akuntan

forensik

bersama

timnya

melaksanakan apa

yang direncanakan

untuk

mengumpukan bukti berkenaan dengan dugaan fraud.


22. Evaluasi Bukti
Akuntan forensik bersama timnya harus menganalisis den menginterpretasikan bukti-bukti
yang dikumpulkan. Tentukan apakah masih ada data yang perlu dikumpulkan, atau ada data
yang harus ditindaklanjuti untuk mencapai kesimpulan yang benar.
23. Komunikasi Hasil Penugasan
Akuntan forensik bersama timnya harus meringkaskan evaluasi atas bukti-bukti yang
dikumpulkan ke dalam laporan. Laporan berisi fakta dan kesimpulan. Akuntan forensik harus
mempunyai kemampuan menyajikan laporan secara lisan.
Standar Audit Investigatif.
ACFE dalam Certified Fraud Examiner Code of Proffesional Standards Interpretation and
Standards mengatur standar akuntansi forensik yang terdiri dari standar pemeriksaan dan standar
pelaporan dengan uraian sebagai berikut:
1. Standar Pemeriksaan.
Standar pemeriksaan terdiri dari pemeriksaan fraud dan bukti.
a. Pemeriksaan Fraud.
1) Pemeriksaan kecurangan harus dilaksanakan secara sah, pro fesional dan
menyeluruh. Tujuan pemriksaan kecurangan untuk mendapatkan bukti dan
informasi yang lengkap, handal dan relevan.

October 9, 2016

36

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


2) CFE harus menetapkan prediksi dan ruang lingkup prioritas pada awal
pemeriksaan kecurangan dan mengevaluasi kembali saat diperoleh hasil
pemeriksaan. CFE harus mengusahakan efisiensi dalam pemeriksaannya.
3) CFE harus waspada terhadap opini yang belum terbukti kebenarannya serta bias
dari saksi dan pihak lain. CFE harus mempertimbangkan semua bukti baik yang
meringankan atau memberatkan tersangka.
b. Bukti.
1) CFE wajib membangun pengendalaian dan prosedur pengelolaan dokumen, data
dan bukti lain yang diperoleh selama pelaksanaan pemeriksaaan. CFE harus
mengetahui lacak balak, termasuk jejek, kepemilikan dan pemindahan material
dan bukti yang relevan. CFE harus berusaha menjaga integritas bukti dan material
yang relevan.
2) Hasil pekerjaan CFE akan bervariasi sesuai dengan kondisi dan situasi masingmasing pemeriksaan. Tingkat dokumentasi bukti harus sesuai dengan kebutuhan
dan tujuan klien dan employer.
2.

Standar Pelaporan.
Standar pelaporan terdiri dari umum dan isi laporan.
a. Umum.
Laporan pemeriksaan fraud dapat berupa laporan lisan atau tertulis, termasuk saksi fakta
dan atau keterangan saksi ahli dan mungkin dapat berbentuk lainnya. Tidak terdapat
struktur dan format tunggal yang disarankan bagi laporan CFE. Meskipun demikian,
laporan pemeriksaan fraud tidak boleh menyesatkan.
b. Isi Laporan.
1) Laporan CFE harus didasarkan pada bukti-bukti yang cukup , dapat diandalkan dan
relevan untuk mendukung fakta , kesimpulan , pendapat dan / atau rekomendasi
terkait dengan pemeriksaan fraud. Laporan haruslah terbatas pada pokok
permasalahan, metodologi dalam area pengetahuan, keahlian, pengalaman, pelatihan
atau pendidikan.
2) Tidak mengandung pendapat mengenai bersalah tidaknya orang atau pihak secara
hukum.

October 9, 2016

37

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


Standar Audit Investigatif dalam BPKP
1.

Standar Pelaksanaan
Standar pelaksanaan pekerjaan audit investigatif mendeskripsikan sifat kegiatan audit
investigatif dan menyediakan kerangka kerja untuk melaksanakan dan mengelola pekerjaan
audit investigatif yang dilakukan oleh auditor investigatif.
Sistematika standar pelaksanaan audit investigatif meliputi:
a. Perencanaan.
Dalam setiap penugasan audit investigatif, auditor investigatif harus menyusun rencana
audit. Perencanaan audit investigatif dimasudkan untuk memperkecil tingkat risiko
kegagalan dalam melakukan audit investigatif dan memberikan arah agar pelaksanaan
audit investigatif dapat dilaksanakan secara efisien dan efektif.
Informasi yang diterima dari berbagai sumber, seperti: pengaduan masyarakat,
pengembangan hasil audit kinerja atau audit lainnya, permintaan instansi aparat penegak
hukum atau instansi lainnya dijadikan sebagai dasar penyusunan rencana audit
investigatif.
Setiap informasi yang diterima dianalisis dan dievaluasi untuk menentukan satu
keputusan dari 3 keputusan, yaitu: (1) melakukan audit investigatif, (2) meneruskan ke
pejabat yang berwenang, (3) tidak perlu ditindak-lanjuti.
Apabila keputusan yang diambil adalah melakukan audit investigatif, maka rencana
tindakan memuat langkah-langkah berikut:
1) Menentukan sifat utama pelanggaran;
2) Menentukan fokus perencanaan dan sasaran audit investigatif;
3) Mengindentifikasi kemungkinan pelanggaran hukum, peraturan, atau perundangundangan, dan memahami unsur-unsur yang terkait dengan pembuktian atau standar;
4) Mengindentifikasi dan menentukan prioritas tahapan audit investigatif yang
diperlukan untuk mencapai sasaran audit investigatif;
5) Menentukan sumber daya yang diperlukan untuk memenuhi persyaratan audit
investigatif;
6) Melakukan koordinasi dengan instansi yang berwenang, termasuk instansi penyidik
jika diperlukan.

October 9, 2016

38

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


Dalam membuat perencanaan harus dipertimbangkan berbagai hal antara lain:
1) Penetapan Sasaran, Ruang Lingkup dan Alokasi Sumber Daya.
Sasaran audit investigatif adalah terungkapnya kasus penyimpangan yang
berindikasi dapat menimbulkan kerugian keuangan negara/daerah. Ruang lingkup
audit investigatif meliputi pengungkapan fakta dan proses kejadian, sebab dan
dampak penyimpangan, dan penentuan pihak-pihak yang diduga terlibat dalam atau
bertanggung jawab atas penyimpangan.
Tujuan penetapan alokasi sumber daya pendukung audit investigatif adalah agar
kualitas audit investigatif dapat dicapai secara optimal. Kebutuhan sumber daya
yang harus ditentukan antara lain terkait dengan personil, pendanaan, dan sarana
prasarana lainnya.
2) Pertimbangan dalam Perencanaan.
Dalam penyusunan

rencana

audit

investigatif,

auditor

investigatif

harus

mempertimbangkan berbagai hal. Berbagai hal yang harus dipertimbangkan dalam


penyusunan rencana audit investigatif antara lain:
a) Sasaran, ruang lingkup dan alokasi sumber daya;
b) Pemahaman mengenai akuntabilitas berjenjang;
c) Aspek kegiatan operasi auditi dan aspek pengendalian intern;
d) Jadwal kerja dan batasan waktu;
e) Hasil audit periode sebelumnya dengan mempertimbangkan tindak lanjut
terhadap rekomendasi atas temuan sebelumnya; dan
f) Mekanisme koordinasi antara auditor, auditi, dan pihak terkait lainnya.
b. Supervisi.
Pada setiap tahap audit investigatif, pekerjaan auditor harus disupervisi secara memadai
untuk memastikan tercapainya sasaran, terjaminnya kualitas, dan meningkatnya
kemampuan auditor, tujuannya adalah:
1) Pemahaman tim audit atas tujuan dan rencana audit;
2) Kesesuaian pelaksanaan audit dengan standar audit;
3) Ketaatan terhadap prosedur audit;
4) Kelengkapan bukti-bukti yang terkandung dalam

October 9, 2016

39

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


5) kertas kerja audit untuk mendukung temuan dan
6) rekomendasi; dan
7) Pencapaian tujuan audit.
c. Pengumpulan dan pengujian bukti.
Auditor investigatif harus mengumpulkan dan menguji bukti untuk mendukung
kesimpulan dan temuan audit investigatif. Auditor investigatif harus mengumpulkan
bukti audit yang cukup, kompeten dan relevan.
Pengumpulan bukti bertujuan untuk menentukan apakah informasi awal yang diterima
dapat diandalkan karena akan digunakan auditor untuk mendukung kesimpulan dan
temuan audit. Auditor investigatif harus menguji bukti audit yang dikumpulkan.
Pengujian bukti dimaksudkan untuk menilai kesahihan bukti yang dikumpulkan dan
kesesuaian bukti dengan hipotesis.
Bukti diuji dengan memperhatikan urutan proses kejadian (sequences) dan kerangka
waktu kejadian (time frame) yang dijabarkan dalam bentuk bagan arus kejadian (flow
chart) atau narasi, evaluasi bukti memiliki tujuan untuk mencari:
1) Fakta-fakta dan proses kejadian
2) Sebab dan dampak penyimpangan
3) Pihak-pihak yang diduga terlibat/bertanggung jawab atas kerugian keuangan
negara/daerah.
d. Dokumentasi.
Auditor harus menyiapkan dan menatausahakan dokumen audit investigatif dalam
bentuk kertas kerja audit. Dokumen audit investigatif harus disimpan secara tertib dan
sistematis agar dapat secara efektif diambil kembali, dirujuk, dan dianalisis.
Hasil audit investigatif harus didokumentasikan dalam berkas audit investigatif secara
akurat dan lengkap. Pedoman internal audit investigatif harus secara khusus dan jelas
menekankan kecermatan dan pentingnya ketepatan waktu. Laporan temuan audit
investigatif dan pencapaian hasil audit investigatif harus didukung dengan dokumentasi
yang cukup dalam berkas audit investigatif.
2. Standar Pelaporan Audit Investigatif.

October 9, 2016

40

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


Standar pelaporan ini merupakan acuan bagi penyusunan laporan hasil audit yang merupakan
tahap akhir kegiatan audit investigatif, untuk mengomunikasikan hasil audit investigatif
kepada auditi dan pihak lain yang terkait. Secara sistematis standar pelaporan audit
investigatif meliputi butir-butir sebagai berikut:
a. Kewajiban Membuat Laporan
Auditor investigatif harus membuat laporan hasil audit investigatif sesuai dengan
penugasannya yang disusun dalam format yang tepat segera setelah melakukan tugasnya.
Laporan hasil audit investigatif dibuat secara tertulis, dengan tujuan untuk memudahkan
pembuktian dan berguna untuk proses hukum berikutnya sesuai dengan peraturan
perundang-undangan. Beberapa hal yang perlu dipedomani adalah:
1) Dalam setiap laporan, fakta harus diungkapkan untuk membantu pemahaman
pembaca laporan. Hal ini termasuk suatu pernyataan yang singkat dan jelas.
2) Laporan harus memuat bukti-bukti baik yang mendukung maupun yang melemahkan
temuan audit.
3) Laporan harus didukung dengan kertas kerja audit investigatif yang memuat referensi
kepada semua wawancara, kontak, atau aktivitas audit investigatif yang lain.
4) Laporan harus mencerminkan hasil yang diperoleh dari audit investigatif, yaitu
berupa: denda, penghematan, pemulihan, tuduhan, rekomendasi dan sebagainya.
5) Auditor harus menulis laporannya dalam bentuk deduktif, menggunakan kalimat dan
pernyataan yang berupa ulasan dan kalimat topik. Penulisan kalimat dan paragraf
harus singkat, sederhana dan langsung.
6) Laporan harus ringkas tanpa mengorbankan kejelasan, kelengkapan dan ketepatan
untuk mengomunikasikan temuan audit investigatif yang relevan.
7) Laporan tidak boleh mengungkapkan pertanyaan yang belum terjawab atau
memungkinkan interpretasi yang keliru.
8) Laporan audit investigatif tidak boleh mengandung opini atau pandangan pribadi.
Semua penilaian, kesimpulan, pengamatan dan rekomendasi harus didasarkan fakta
yang tersedia.
9) Kelemahan sistem atau permasalahan manajemen yang terungkap dalam audit
investigatif harus dilaporkan pejabat yang berwenang dengan segera.

October 9, 2016

41

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


b. Cara dan Saat Pelaporan.
Laporan hasil audit investigatif dibuat secara tertulis dan segera setelah berakhirnya
pelaksanaan audit investigatif. APIP harus menetapkan kapan laporan akan diberikan
secara tertulis sesuai dengan situasi dan kasus yang diaudit.
c. Bentuk dan Isi Laporan.
Laporan hasil audit investigatif harus memuat semua aspek yang relevan dari audit
investigatif. Laporan hasil audit investigatif minimal harus memuat hal-hal berikut:
1) Dasar melakukan audit;
2) Identifikasi auditi;
3) Tujuan/sasaran, lingkup dan metodologi audit;
4) Pernyataan bahwa audit investigatif telah dilaksanakan sesuai Standar Audit;
5) Fakta-fakta dan proses kejadian mengenai siapa, di mana, bilamana, bagaimana dari
kasus yang diaudit, sebab dan dampak penyimpangan;
6) Pihak yang diduga terlibat atau bertanggung jawab; dan
7) Dalam pengungkapan pihak yang bertanggung jawab atau yang diduga terlibat,
auditor harus memperhatikan asas praduga tidak bersalah yaitu dengan tidak
menyebut identitas lengkap.
d. Kualitas Laporan.
Laporan hasil audit investigasi harus akurat, jelas, lengkap, singkat, dan disusun dengan
logis, tepat waktu, dan obyektif. Laporan harus akurat dan jelas, singkat, menunjukkan
hasil- hasil relevan dan upaya auditor investigatif. Laporan harus disajikan secara
langsung tepat secara gramatikal, menghindari penggunaan kata yang tidak perlu,
mengganggu, atau membingungkan.
Laporan harus disajikan dengan baik, relevan dengan audit investigatif dan mendukung
penyajian. Semua audit investigatif harus dilaksanakan dan dilaporkan secara cermat dan
tepat waktu. Hal ini disebabkan besarnya dampak hasil audit investigatif terhadap karir
seseorang atau kehidupan suatu organisasi.
e. Pembicaraan Akhir dengan Auditi.

October 9, 2016

42

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


Auditor investigatif harus meminta tanggapan/pendapat terhadap hasil audit investigatif.
Tanggapan/ pendapat tersebut harus dikemukakan pada saat melakukan pembicaraan
akhir dengan auditi.
Salah satu cara yang paling efektif untuk memastikan bahwa suatu laporan hasil audit
investigatif dipandang adil, lengkap, dan obyektif adalah adanya reviu dan ta nggapan dari
pejabat yang bertanggung jawab, sehingga dapat diperoleh suatu laporan yang tidak
hanya mengemukakan kesimpulan auditor investigatif saja, melainkan memuat pula
pendapat pejabat yang bertanggung jawab tersebut.
Tanggapan tersebut harus dievaluasi dan dipahami secara seimbang dan obyektif, serta
disajikan secara memadai dalam laporan hasil audit investigatif. Apabila tanggapan dari
auditi bertentangan dengan kesimpulan dalam laporan hasil audit investigatif, dan
menurut pendapat auditor investigatif tanggapan tersebut tidak benar, maka auditor
investigatif harus menyampaikan ketidak-setujuannya atas tanggapan tersebut beserta
alasannya secara seimbang dan obyektif. Sebaliknya, auditor harus memperbaiki
laporannya, apabila auditor berpendapat bahwa tanggapan tersebut benar.
f.

Penerbitan dan Distribusi Laporan.


Laporan hasil audit investigatif diserahkan kepada pimpinan organisasi, auditi, dan pihak
lain yang diberi wewenang untuk menerima laporan hasil audit sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
Laporan hasil audit investigatif harus didistribusikan tepat waktu kepada pihak yang telah
ditentukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Namun dalam hal yang diaudit
merupakan rahasia negara, maka untuk tujuan keamanan negara atau menurut peraturan
perundangundangan

dilarang

dipublikasikan,

maka

APIP

harus

membatasi

pendistribusian laporan tersebut.


Soal Latihan 3
1.

Sebutkan standar pelaporan Audit Investigatif menurut BPKP

2.

Sebutkan standar pemeriksaan Audit Investigatif

3.

Kepada siapakah laporan Audit Investigatif diberikan?

October 9, 2016

43

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


Rangkuman
Terdapat enam kualitas yang harus dimiliki oleh akuntan forensik, yaitu:
1. Kreatif,
2. Rasa Ingin Tahu
3. Tidak Menyerah
4. Akal Sehat
5. Businness Sense
6. Percaya Diri
Seorang investigator harus memiliki beberapa kemampuan penting yaitu:
1. Kemampuan analisis.
2. Kemampuan berkomunikasi yang baik.
3. Penguasaan teknologi.
4. Pemahaman mengenai akuntansi dan bisnis.
5. Pengetahuan tentang hukum perdata dan pidana, kriminologi, masalah privasi, hak
karyawan, undang-undang terkait fraud/korupsi dan isu-isu hukum terkait fraud lainnya..
6. Kemampuan untuk berbicara dan menulis dalam bahasa asing.
7. Pengetahuan tentang perilaku manusia
ACFE dalam Certified Fraud Examiner (CFE) Code of Proffesional Standards Interpretation and
Standards mengatur kode etik profesional CFE yang terdiri dari :
1. Integritas dan Objektivitas.
2. Kompetensi Profesional.
3. Kehati-hatian Profesional.
4. Komunikasi dengan klien atau employer.
5. Kerahasiaan.
Te s Formatif
1.

Apakah yang harus diperhatikan oleh auditor forensik pemula dalam melaksanakan
penugasan?

2.

Sebutkan langkah- langkah yang harus dilakukan apabila sebuah audit diputuskan akan
diteruskan sebagai audit investigasi

October 9, 2016

44

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


3.

Sebutkan pedoman dalam membuat laporan audit investigasi

Umpan Balik
Sebagai dasar penilaian apakah mahasiswa telah menguasai materi maka jawab pertanyaan tes
formatif dan gunakan kriteria sebagai berikut:
Jawaban Benar

Penilaian

Keterangan

Baik

Lanjut Bab Selanjutnya

Sedang

Lanjut Bab Selanjutnya

Kurang

Mengulang Bab Ini

Jawaban Tes Formatif


1.

Yang harus dilakukan auditor forensik pemula adalah :


a.

Menghindari pengumpulan fakta dan data yang berlebihan secara prematur. Identifikasi
lebih dahulu siapa pelaku atau yang mempunyai potensi menjadi pelaku.

b.

Seorang fraud auditor harus mampu membuktikan niat pelakunya. Banyak kasus gugur
di sidang pengadilan karena penyidik dan saksi ahli gagal membuktikan niat melakukan
kejahatan atau pelanggaran.

c.

Seorang auditor forensik harus kreatif, berpikir seperti pelaku fraud, jangan dapat
ditebak. Dalam proses audit investagatif, keadaan dapat berubah dengan cepat,
misalnya, bukti dan barang bukti disembunyikan atau dihancurkan atau pelaku
bersembunyi atau melarikan diri. Dalam kondisi seperti tersebut auditor forensik harus
berpikir kreatif dalam menggunakan prosedur, kombinasi prosedur atau alternatif
prosedur untuk mengumpulkan bukti. Seorang auditor forensik harus dapat berpikir
layaknya seorang pelaku fraud agar dapat mengantisipasi langkah- langkah yang akan
diambil pelaku fraud jika mereka mengetahui bahwa tindakan mereka telah tercium atau
terungkap. Seorang auditor forensik juga tidak gampang ditebak dalam melakukan
proses audit investigatif, agar tidak dengan mudah dapat diantisipasi oleh pelaku fraud.

d.

Auditor harus tahu bahwa banyak kecurangan dilakukan dengan persekongkolan.


Seorang auditor forensik harus memiliki indra atau intuisi yang tajam untuk
merumuskan adanya patner ini crime untuk memudahkan dalam pengumpulan bukti

October 9, 2016

45

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


e.

Seorang auditor harus mengenali pola fraud yang dilakukan oleh pelaku. Pendeteksian
dan pengumpulan bukti terhadap fraud yang dilakukan dalam pembukuan, seperti
pencatatan ganda atas pembayaran kepada pemasok, akan memerlukan tehnik dan
prosedur audit yang berbeda dengan pola fraud yang ada di luar pembukuan seperti
kickback, penagihan piutang yang sudah dihapus dan penjualan barang yang sudah
dibesituakan.

2. Yang harus dilakukan adalah:


a.

Menentukan sifat utama pelanggaran;

b.

Menentukan fokus perencanaan dan sasaran audit investigatif;

c.

Mengindentifikasi kemungkinan pelanggaran hukum, peraturan, atau perundangundangan, dan memahami unsur-unsur yang terkait dengan pembuktian atau standar;

d.

Mengindentifikasi dan menentukan prioritas tahapan audit investigatif yang diperlukan


untuk mencapai sasaran audit investigatif;

e.

Menentukan sumber daya yang diperlukan untuk memenuhi persyaratan audit


investigatif;

f.

Melakukan koordinasi dengan instansi yang berwenang, termasuk instansi penyidik jika
diperlukan.

3. Yang perlu dipedomani adalah :


a. Dalam setiap laporan, fakta harus diungkapkan untuk membantu pemahaman pembaca
laporan. Hal ini termasuk suatu pernyataan yang singkat dan jelas.
b. Laporan harus memuat bukti-bukti baik yang mendukung maupun yang melemahkan
temuan audit.
c. Laporan harus didukung dengan kertas kerja audit investigatif yang memuat referensi
kepada semua wawancara, kontak, atau aktivitas audit investigatif yang lain.
d. Laporan harus mencerminkan hasil yang diperoleh dari audit investigatif, yaitu berupa:
denda, penghematan, pemulihan, tuduhan, rekomendasi dan sebagainya.
e. Auditor harus menulis laporannya dalam bentuk deduktif, menggunakan kalimat dan
pernyataan yang berupa ulasan dan kalimat topik. Penulisan kalimat dan paragraf harus
singkat, sederhana dan langsung.

October 9, 2016

46

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


f.

Laporan harus ringkas tanpa mengorbankan kejelasan, kelengkapan dan ketepatan untuk
mengomunikasikan temuan audit investigatif yang relevan.

g. Laporan

tidak

boleh

mengungkapkan pertanyaan

yang

belum

terjawab

atau

memungkinkan interpretasi yang keliru.


h. Laporan audit investigatif tidak boleh mengandung opini atau pandangan pribadi. Semua
penilaian, kesimpulan, pengamatan dan rekomendasi harus didasarkan fakta yang tersedia.
i.

Kelemahan sistem atau permasalahan manajemen yang terungkap dalam audit investigatif
harus dilaporkan pejabat yang berwenang dengan segera

October 9, 2016

47

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


BAB VI
Fraud
SASARAN

SP 1 : Mampu Menjelaskan Fraud dan Korupsi

PEMBELAJARAN

SP 2 : Mampu Menjelaskan Tindakan Pencegahan Fraud


SP 3 : Mampu Menjelaskan Profil Pelaku, Korban dan
Perbuatan Fraud

RUANG

Ruang lingkup modul ini adalah berasal dari Bab 6 yang membahas

LINGKUP

tentang Fraud pada buku buku Akuntansi Forensik dan Audit

BAHAN MODUL

Investigatif, karya Theodorus Tuanakotta

MANFAAT

Dengan

MEMPELAJARI

memahami dan menjelaskan tentang fraud..

mempelajari modul ini,

memudahkan pembaca dalam

MODUL
URUTAN

Urutan pembahasan materi dalam modul ini sebagai

PEMBAHASAN

berikut
1. Pengertian Fraud
2. Pohon Fraud (Fraud Tree)
3. Akuntan Forensik dan Jenis Fraud
4. Mamfaat Fraud Tree
5. Fraud Triangle
6. Pencegahan dan Pendeteksian Fraud
7. Fraud dalam Undang-Undang Indonesia

October 9, 2016

48

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


MATERI PEMBELAJARAN

A. Pengertian Fraud
Fraud adalah suatu tindakan ilegal yang dilakukan secara sengaja dengan cara
berbohong, menyembunyikan dan merekayasa yang dilakukan oleh individu maupun organisasi
dengan maksud memperkaya diri dan menghindari pembayaran. Beberapa aspek kunci dari
Fraud yaitu tindakan yang ilegal act, intentional, deceit dan menguntungkan.
B. Pohon Fraud (Fraud Tree)
Secara skematis, ACFE menggambarkan Occupational Fraud dalam bentuk fraud tree.
Pohon ini menggambarkan cabang-cabang dari fraud dalam hubungan kerja, beserta ranting
dan anak rantingnya. Occupational fraud tree ini mempunyai tiga cabang utama, yakni
corruption, asset misappropriation, dan fraudulent statements.
1. Corruption
Terdapat empat bentuk seperti yang digambarkan dalam ranting- ranting pohon fraud ini
yaitu: conflicts of interest,bribery, illegal gratuities, economic extortion.
Conflicts of interest atau benturan kepentingan sering kita jumpai dalam berbagai bentuk,
di antaranya bisnis pelat merah atau bisnis pejabat (penguasa) dan keluarga serta krooni
mereka yang menjadi pemasok atau rekanan di lembaga-lembaga pemerintah dan di
dunia bisnis sekalipun. Ciri-ciri atau indikasinya, mereka menjadi pemasok:
a. Selama bertahun-tahun. Bukan saja selama pejabat tersebut berkuasa. Melalui konrak
jangka panjang, bisnis berjalan terus meskipun pejabat tersebut sudah lengser.
b. Nilai kontrak-kontrak itu relatif mahal ketimbang kontrak yang dibuat at arms
length. Dalam bahsa sehari- hari praktik ini dikenal sebagai mark up atau
penggelembungan. Istilah mark up sendiri sebenarnya kurang tepat, karena baik mark
up maupun mark down merupakan bagian dari praktik bisnis yang sehat.
c. Para rekanan ini, meskipun hanya segelintir, menguasai pangsa pembelian yang
relative sangat besar di lembaga tersebut.
d. Meskipun rekanan ini keluar sebagai pemenang dalam proses tender yang resmi,
namun kemenangan dicapai dengan cara-cara tidak wajar.

October 9, 2016

49

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


e. Hubungan antara penjual dan pembeli lebih dari hubungan bisnis. Pejabat atau
penguasa bisa menggunakan sanak saudaranya (nepotisme) sebagai orang depan
atau ada persekongkolan (kolusi) yang melibatkan penyuapan (bribery).
Bisnis yang mengandung benturan kepentingan sering disamarkan dengan kegiatan sosial
keagamaaan dan muncul dalam bentuk yayasan-yayasan. Indonesia meratifikasi konvensi
ini pengertian, definisi, atau konsep conflicts of interest dalam memperkaya wawasan
kita

mengenai

makna korupsi kalau

ia

dicantumkan dalam

undang-undang

pemberantasan tindak pidana korupsi.


Memasukkan conflicts of interest ke dalam undang-undang mempunyai keuntungan
yakni pembuktian tindak pidana korupsi yang mengandung unsur (bestanddeel) conflicts
of interest relative lebih mudah. Kumudahan pembuktian tindak pidana korupsi ini
bermanfaat dalam kasus-kasus pengadaan barang dan jasa.
Benturan kepentingan bisa terjadi dalam skema permainan pembelian (purchases schema)
maupun penjualan (sale schema). Lembaga pemerintah atau bisnis selaku pembeli (baik
barang dan jasa) ber-KKN dengan penjual. Indikasi mengenai hal ini terlihat dalam hal
pembeli merupakan lembaga besar, nilai pembeliannya tinggi, dan penjual merupakan
penyuplai terkenal tingkat dunia. Jadi, seharusnya jual beli dapat (dan lazim) dilakukan
secara langsung dan bukan melalui penjual perantara.
Bribery atau penyuapan merupakan bagian yang akrab dalam kehidupan bisnis dan
politik di Indonesia. Kasus-kasus tindak pidana korupsi tahun 2008 dan 2009
menunjukkan hal ini. Oleh karena itu, tidak perlu ada uraian yang panjangl ebar tentang
ranting ini.
Kickbacks (secara harfiah berarti tendangan balik) merupakan salah satu bentuk
penyuapan dimana si penjual mengiklaskan sebagian dari hasil penjualannya.
Persentase yang diikhlaskannya bisa diatur di muka, atau diserahkan sepenuhnya kepada
keikhlasan penjual. Dalam hal terakhir, apabila penerima kickback menganggap
kickback yang diterimanya terlalu kecil, maka ia akan mengalihkan bisnisnya ke rekanan
yang lebih ikhlas (memberi kickback yang lebih tinggi)
Kickback berbeda dari bribery. Dalam hal bribery pemberinya tidak mengorbankan
suatu penerimaan. Misalnya, apabila seseorang menyuap atau menyogok seorang

October 9, 2016

50

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


penegak hukum, ia mengharapkan keringanan hukuman. Dalam contoh kickback di atas,
pemberinya menerima keuntungan materi.
Bid rigging merupakan permainan dalam tender. Illegal gratuities adalah pemberian
hadiah yang merupakan bentuk terselubung dari penyuapan. Dalam kasus korupsi di
Indonesia kita melihat hal ini dalam bentuk hadiah perkawinan, hadiah ulang tahun,
hadiah perpisahhan, hadiah kenaikan pangkat dan jabatan, dan lain- lain yang diberikan
kepada pejabat.
2. Asset Misappropriation
Asset Misappropriation atau pengambilan aset secara illegal dalam bahasa sehari-hari
disebut mencuri. Namun, dalam istilah hukum mengambil aset secara illegal (tidak sah,
atau melawan hukum) yang dilakukan oleh seseorang yang diberi wewenang untuk
mengelola atau mengawasi aset tersebut, disebut menggelapkan. Istilah pencurian, dalam
fraud tree disebut larceny. Istilah pencurian, dalam fraud tree disebut larceny. Istilah
penggelapan dalam bahasa Inggrisnya adalah embezzlement.
Hal yang sering menjadi sasaran penjarahan adalah uang (baik di kas maupun bank: yang
di bank, baik yang berupa giro, tabungan, maupun deposito). Uang tunai atau uang di
bank yang menjadi sasaran, langsung dapat dimanfaatkan oleh pelakunya.
Asset misappropriation dalam bentuk penjarahan cash atau cash misappropriation di
lakukan dalam tiga bentuk: skimming, larceni dan fraud ulent disbursements. Klarifikasi
penjarahan kas dalam tiga bentuk di sesuaikan dengan arus uang masuk.
Dalam skimming, uang di jarah sebelum uang tersebut secara fisik masuk ke perusahaan.
Dari penjelasan diatas, kita mengenal satu bentuk lain. Yakni penjarahan atas dana-dana
yang tidak masuk ke perusahaan secara fisik atau secara ad ministratif. Dana-dana ini di
himpun dari berbagai sumber, misalnya komisi resmi dari perusahaan asuransi atau
kickback dari penyuplai. Dana-dana ini di sebut dana taksis: dalam bahasa belanda tatishe
fonds : dalam bahasa inggris, slush funds. Dalam fraud tree diatas, baik pembentukan
maupun pengeluaran dari dana taksis ini di definisikan sebagai corruption bukan asset
misappropriation. Corruption seperti ini mengandung ciri skimming. Dalam praktik yang
khas Indonesia, jarahan ini di kerjakan secara bergoto ng-royong dan di ketahui secara

October 9, 2016

51

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


umum, bahkan dilegitimasi dalam bentuk sumber penghasilan yayasan kesejahteraan
karyawan.
Larceni atau pencurian adalah bentuk penjarahan yang paling kuno dan di kenal sejak
awal pradaban manusia. Peluang untuk terjadinya penjarahan jenis ini berkaitan erat
dengan lemahnya system pengendalian intern, khususnya yang berkenaan dengan
perlindungan keselamatan aset (safeguarding of assets).
Pencurian melalui pengeluaran yang tidak sah (fraudulent disbursements) sebenarnya
satu langkah lebih jauh dari pencurian. Sebelum tahap pencurian,ada tahap perantara.
Kembali ke diagram, kita lihat lima kolom (sub ranting) sebaga berikut: billing schemes,
payroll schemes, expense reimbursement schemes, check tampering, dan register
disbursements. Tahap perantara dengan menggunakan subranting ini lazimnya di bahas
dalam buku-buku auditing. Secara singkat akan di bahas di bawah.
Billing schemes adalah skema permainan (schemes) dengan menggunakan proses billing
atau pembenan tagihan sebagai sarananya. Pelaku fraud dapat mendirikan perusahaan
bayangan (shell company) yang seolah-olah merupakan penyuplai atau rekanan atau
kontraktor sungguhan. Perusahaan bayangan ini merupakan sarana untuk mengalirkan
dana secara tidak sah keluar perusahaan.
Payroll schemes adalah skema permainan

melalui pembayaran gaji.

Bentuk

permainannya antara lain dengan pegawai atau karyawan fiktif (ghost employee) atau
dalam pemalsuan jumlah gaji. Jumlah gaji dilaporkan lebih besar dari gaji yang di
bayarkan.
Expense reimbursement schemes adalah skema permainan melalui pembayaran kembali
biaya-biaya, misalnya biaya perjalanan. Seorang pemasar mengambil uang muka
perjalanan, dan sekembalinya dari perjalanan, ia membuat perhitungan biaya perjanan.
Kalau biaya perjalanan melampaui uang mukanya, ia meminta reimbursement atau
penggantian. Ada beberapa skema permainan melalui mekanisme reimbursement ini.
Rincian biaya menyamarkan jenis pengeluaran yang sebenarnya (mischaracterized
expenses). Contoh: perusahaan tidak memberikan pe nggantian konsumsi alcohol;
pengeluaran ini disamarkan sebagai biaya makan dan minum atau biayanya dilaporkan
lebh besar dari pengeluaran yang sebenarnya; ini lazimnya dilakukan dalam pengeluaran

October 9, 2016

52

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


yang tidak ada atau tidak memerlukan bukti pendukung atau biayanya sama sekali fiktif
(fictitious expenses).
Check tampering adalah skema permainan melalui pemalsuan cek. Hal yang dipalsukan
bisa tanda tangan orang yang mempunyai kuasa mengeluarkan cek, atau endorsementnya,
atau nama kepada siapa cek dibayarkan, atau ceknya disembunyikan (concealed checks).
Dalam contoh terakhir, pegawai meminta dua buku cek dari bank. Sesuatu yang diketahui
secara resmi hanya satu buku, sedangkan pengeluaran melalui buku cek kedua
dirahasiakan. Di Amerika Serikat, cek yang sudah diuangkan, akan dikembalikan oleh
bank kepada yang mengeluarkan cek (paid checks). Paid checks ini dan bonggol buku
cek (check stub) yang disembunyikan.
Register disbursements adalah pengeluaran yang sudah masuk dalam cash register.
Skema permainan melalui register disbursements pada dasarnya ada dua, yakni false
founds (pengembalian uang yang dibuat-buat) dan false voids (pembatalan palsu).
Pelanggan dating membawa barang yang dikembalikannya, misalnya karena tidak puas
dengan barang yang dibelinya. Untuk itu ia akan mendapat refund atau menerima
kembali uangnya (atau pembatalan pembebanan credit card-nya). Dalam false refund ada
berbagai cara penggelapan, di antaranya, penggelapan dengan seolah-olah ada pelanggan
yang mengembalikan barang dan perusahaan memberikan refund
Seperti yang dijelaskan di atas, skimming merupakan sebelum uang secara fisik masuk
ke perusahaan. Contoh yang sangat popular adalah praktik gali lubang tutup lubang
dalam penagihan piutang (lapping). Contoh lain piutang dihapus bukukan, namun tetap
ditagih dari pelanggan. Hasil tagihan tidak masuk ke perusahaan dan dijarah oleh si
penagih.
Sasaran lain dari penjarahan adalah persediaan persediaan barang (inventory). Umumnya
daya tarik untuk mencuri kas lebih tinggi dari asset lainnya. Namun, dalam situasi
tertentu persediaan barang sangat menarik untuk dijadikan sasaran pencurian.
Modus operandi dalam penjarahan aset yang bukan uang tunai atau uang di bank adalah
misuse dan larceny. Misuse adalah penyalahgunaan, misalnya pengunaan kendaraan
bermotor atau aset teap lainnya untuk kepentingan pribadi. Hal ini sangat umum terjadi
sehingga seringkali dianggap biasa dan bukan merupakan fraud. Contoh: alat transport

October 9, 2016

53

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


(mobil, kapal terbang, helikopter) perusahaan atau lembaga pemerintah yang dipakai
untuk mengangkut barang-barang pribadi atau inventaris kantor atau instansi pemerintah
yang

dipinjam

selama

seseorang

memegang

jabatan

(misuse)

dan

tidak

mengembalikannya sesudah ia tidak lagi menjabat (larceny).


3. Fraudulent Statements
Cabang dan ranting yang menggambarkan fraud yang diberi label Fraudulent
Statements dapat dilihat di sisi kanan dari fraud tree. Jenis fraud ini sangat para auditor
yang melakukan general audit (opinion audit). Fraud yang berkenaan dengan penyajian
laporan keuangan, sangat menjadi perhatian auditor, masyarakat atau para LSM/NGO,
namun tidak menjadi perhatian akuntan forensik.
Ranting pertama menggambarkan fraud dalam menyusun laporan keuangan. Fraud ini
berupa salah saji (misstatements baik overstatements maupun understatements). Cabang
dari ranting ini ada dua. Pertama, menyajikan aset atau pendapatan lebih tinggi dari yang
sebenarnya (asset/revenue understatements). Kedua, menyajikan aset atau pendapatan
lebih rendah dari yang sebenarnya ( asset/revenue understatements).
Praktik-praktik ini secara ekstensif dibahas dalam buku-buku auditing, dan tidak akan
dibahas disini.
Ranting kedua menggambarkan fraud dalam menyusun laporan non-keuangan. Fraud
berupa penyampaian laporan non keuangan secara menyesatkan, lebih bagus d ari
keadaan yang sebenarnya, dan sering kali merupakan pemalsuan atau pemutarbalikan
keadaan. Bisa tercantum dalam dokumen yang dipakai untuk keperluan intern maupun
ekstern. Contoh: perusahaan minyak besar di dunia yang mencantumkan cadangan
minyaknya lebih besar secara signifikan dari keadaan yang sebenarnya apabila diukur
dengan standar industrinya, atau perusahaan yang alat produksinya atau limbahnya
membawamembawa bencana bagi masyarakat, tetapi secara terbuka (misalnya melalui
iklan) mengklaim keadaan sebaliknya
SOAL LATIHAN 1
1

Sebutkan pengertian dari Asset Misappropriation!

Sebutkan 4 ranting dalam pohon fraud!

C. Akuntan Forensik dan Jenis Fraud

October 9, 2016

54

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


Dari tiga cabang fraud tree di atas, yakni corruption misappropriation of asset, dan
fraudulent statements menjadi pusat perhatian dalam audit atas laporan keuangan (general audit
atau opinion audit).
Sarbanes-Oxley Act di Amerika Serikat menggema ke seluruh penjuru dunia. Negara
maju dan Negara berkembang di luar Amerika mengadopsi secara langsung maupun tidak
langsung ketentuan-ketentuan Sarbanes-Oxley Act. Secara langsung, dengan memasukkan
ketentuan Sarbanes-Oxley Act dalam ketentuan perundang-undangannegara tersebut. Secara
tidak langsung, melalui penerapan ketentuan Sarbanes-Oxley Act pada anak-anak perusahaan (di
luar Amerika) dari perusahaan yang mencatat atau memperdagangkan saham, obligasi, dan surat
berharga lainnya di bursa-bursa Amerika Serikat.
Oleh karena itu akuntan forensik atau audit investigatif hampir tidak menyentuh fraud
yang menyebabkan laporan keuangan menjadi menyasatkan, dengan dua pengecualian.
Pertama, ketika regulator mempunyai dugaan kuat bahwa laporan audit suatu kantor akuntan
public mengandung kekeliruan yang serius dapat meminta kantor akuntan lain melakukan
pendalaman, atau mereka sendiri melakukan penyidikan.
Ketika fraudulent statements

dilakukan dengan pengolahan data secara elektronis,

terintegrasi, dan besar-besaran atau penggunaan komputer yang dominan dalam penyiapan
laporan. Selain pertimbangan penyelesaian kasus di dalam atau di luar pengadilan, juga ada
pertimbangan diperlukannya keahlian khusus, yakni computer forensics.

D. Manfaat Fraud Tree


Fraud tree yang dibuat ACFE sangat bermanfaat. Frud tree memetakan fraud dalam
lingkungan kerja. Peta ini membantu akuntan forensik mengenali dan mendiagnosis fraud yang
terjadi. Ada gejala- gejala penyakit yang dalam auditing dikenal sebagai red flags. Dengan
memahami gejala-gejala ini dan menguasai teknik-teknik audit investigatif, akuntan forensik
dapat mendeteksi fraud tersebut.
Akuntan forensik sebaiknya membuat sendiri fraud tree atau peta dari tindak pidana
yang diperiksanya. Seorang penyidik tindak pidana perpajakan, misalnya, perlu membuat
Pohon Tindak Pidana Perpajakan, ia dapat membat pohon atau skema yang komprehensif unt uk
semua jenis pajak atau Pohon Tindak Pidana Perpajakan yang khusus untuk suatu jenis pajak

October 9, 2016

55

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


tertentu, (misalnya , restitusi pajak), atau tindak pidana perpajakan dalam industri tertentu
misalnya, pertambangan, production sharing contractors (PSC), dan seterusnya.
E. Fraud Triangle
Fraud Examiners Manual (edisi 2006) menyebut Donald R. Cressey sebagai mahasiswa
terpandainya Edwin H. Sutherland. Kalau penelitian Sutherland dipusatkan pada kriminalitas
masyarakat atas, Cressey mencari arah yang lain dalam penelitiannya. Sewaktu menulis
disertasi doktornya dalam bidang sosiologi, ia memutuskan untuk meneliti para pegawai yang
mencari uang perusahaan (embezzlers). Ia mewancarai 200 orang yang dipenjara karena fraud
tersebut.
Cressey tertarik pada embezzlers yang disebutnya trust violators atau pelanggar
kepercayaan, yakni mereka yang melanggar kepercayaan atau amanah yang dititipkan kepada
mereka . ia secara khusus tertarik kepada hal-hal yang menyebabkan mereka menyerah kepada
godaan. Oleh karena ialasan itu dalam penelitiannya, ia tidak menyertakan mereka yang
memang mencari pekerjaan dengan tujuan mencuri.
Setelah menyelesaikan penelitiannya, ia mengembangkan suatu model yang sampai
sekarang merupakan model klasik untuk menjelaskan occupational offender atau pelaku fraud
ditempat kerja (atau terkait dengan pekerjaan dan jabatannya). Penelitiannya diterbitkan dengan
judul Other Peoples Money: A Study in the Sosial

Psychology of Emblezzlement.

Hipotesisnya yang terakhir adalah orang yang dipercaya menjadi pe langgar kepercayaan ketika
ia melihat dirinya sendiri sebagai orang yang mempunyai masalah keuangan yang tidak dapat
diceritakannya kepada orang lain, sadar bahwa masalah ini secara diam-diam dapat diatasinya
dengan menyalahgunakan wewenangnya sebagai peme gang kepercayaan di bindang keuangan,
dan tindak-tinduk sehari- hari memungkinkannya menyesuaikan pandangan mengenai dirinya
sebagai seorang yng bisa dipercayakan.
Sudut pertama dari segi tiga itu diberi judul pressure yang merupakan perceived nonshareable financial need. Sudut keduanya, perceived opportunity. Sudut ketiga rationalization.
1. Pressure
Penggelapan uang perusahaan oleh pelakunya bermula dari suatu tekanan (pressure) yang
menghimpitnya. Orang ini mempunyai kebutuhan keuangan yang mendesak, yang t idak
dapat diceritakannya kepada orang lain. Konsep yang penting di sini adalah, tekanan

October 9, 2016

56

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


yang menghimpit hidupnya (berupa kebutuhan akan uang), padahal ia tidak bisa berbagi
(sharing) dengan orang lain. Setidak-tidaknya, itulah yang dirasakannya. Konsep ini
dalam bahasa Inggris disebut perceived non-shareable financial need.
Bagi pelaku embezzler, ia tidak bisa berbagi masalah (keuangannya) dengan orang lain,
padahal sebenarnya berbagi masalah dengan orang lain dapat membantunya mencari
pemecahan. Apa yang bisa diceritakan kepada orang lain tentunya bergantung pada orang
tersebut. Ada orang yang kehilangan uang dalam jumlah besar di meja judi dan ia
menyadarinya sebagai suatu masalah, tetapi bukan masalah yang tidak dapat
diceritakannya kepada orang lain. Non-shareable problems timbul dari situasi yang dapat
dibagi dalam enam kelompok:
a. Violation of Ascribed Obligation
Suatu kedudukan atau jabatan dengan tanggung dengan keuangan membawa
konsekuensi tertentu bagi yang bersangkutan dan juga menjadi harapan atasan atau
majikannya. Di samping harus jujur, ia dianggap perlu memiliki perilaku tertentu.
Banyak lembaga Negara dan asosiasi profesi dan bisnis Indonesia merasa perlu
menyusun pedoman perilaku pejabat atau anggotanya. Bahkan keperluan yang lebih
mendesak sering kali bukan pada penyusunan atau pemberitaan pemahaman kepada
yang akan diatur perilakunya, tetapi pada piblikasi terhadap masyarakat bahwa kita
sudah punya pedoman perilaku tanpa peduli apakah perilkunya akan seperti yang
tercantum dalam pedomannya.
b. Problems Resulting from Personal Failure
Kegagalan pribadi juga merupakan situasi yang dipersepsikan oleh orang yang
mempunyai kedudukan

serta

dipercaya

dalam

bidang

keuangan,

sebagai

kesalahannya menggunakan akal sehatnya, dan arena itu menjadi tanggung jawab
pribadinya.
c. Business Reversals
Cressey menyimpulkan bahwa kegagalan bisnis merupakan kelompok situasi yang
juga mengarah kepada non-shareable problem. Masalah ini berbeda dari kegagalan
pribadi yang dijelaskan di atas, karena pelakunya merasa bahwa kegagalan itu berada
di luar dirinya atau di luar kendalinya. Dalam persepsinya, kegagalan itu karena

October 9, 2016

57

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


inflasi yang tinggi, atau krisi moneter/ekonomi, tingkat bunga yang tinggi dan lainlain.
d. Physical Isolation
Secara bebas, situasi ini dapat diterjemahkan sebagai keterpurukan dalam
kesendirian. Dalam situasi ini, orang itu bukan tidak mau berbagi keluhan dengan
orang lain. Ia tidak mempunyai orang lain tempat ia berkeluh dan mengungkapkan
masalahnya. Cressey member contoh seorang yang baru kematian istrinya dan ia
tidak mampu mengungkapkan masalah keuangan kepada orang lain.
e. Status Gaining
Situasi kelima ini tidak lain dari kebiasaaan (buruk) untuk tidak mau kalah dengan
tetangga. Orang lain punya harta tertentu, ia juga harus seperti itu atau lebih dar i
itu. Orang lain punya jabatan tertentu, ia juga harus punya jabatan seperti itu atau
lebih baik dari itu. Dalam situasi yang dibahas di atas, pelaku berusaha
mempertahankan sratus. Di sini pelaku berusaha meningkatkan statusnya.
f.

Employer-Employee Relations
Cressey

menjelaskan bahwa

umumnya situasi keenam

ini

mencerminkan

kekesalan(atau kebencian) seorang pegawai yang menduduki jabatan yang


dipegangnya sekarang, tetapi pada saat yang sama ia merasa tidak ada pilihan
baginya, ia harus tetap menjalankan yang dikerjakannya sekarang. Kekesalan itu bisa
terjadi karena ia merasa gaji atau imbalan lainnya tidak layak dengan pekerjaan atau
kedudukannya, atau ia merasa beban pekerjaannya teramat banyak, atau ia merasa
kurang mendapat penghargaan batiniah.
2. Perceived Opportunity
Dari pembahasan mengenai keenam kelompok situasi di atas, yang menarik adalah
bahwa situasi tersebut membawa seseorang kepada kebutuhan menyelesaikan
persoalannya secara diam-diam, secara rahasia. Bukan pencurian atau embezzlement-nya
yang mendorong kebutuhan untuk diam-diam atau berahasia , melainkan situasi yang
mendahului pencurian itu (seperti violation of ascribed obligation, business reversal, dan
lain-lain).

October 9, 2016

58

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


Adanya non-shareable financial problem saja, tidaklah akan menyebabkan orang
melakukan fraud. Untuk memahami teori Cressey kita harus ingat bahwa ketiga unsur
yang digambarkan dalam fraud triangle harus ada, untuk bisa terjadinya fraud. Nonshareable financial problem menciptakan motif bagi terjadinya kejahatan. Akan tetapi,
pelaku kejahatan harus mempunyai persepsi bahwa ada peluang baginya untuk
melakukan kejahatan tanpa diketahui orang lain. Persepsi ini, perceived opportunity,
merupakan sudut kedua dari fraud triangle.
3. Rationalization
Sudut ketiga dari fraud triangle adalah rationa lization (rasionalisasi) atau mencari
pembenaran sebelum melakukan kejahatan, bukan sesudahnya. Mencari pembenaran
sebenarnya merupakan bagian yang harus ada darim kejahatan itu sendiri, bahkan
merupakan bagian dari motivasi untuk melakukan kejahatan. Rationalization diperlukan
agar si pelaku dapat mencerna perilakunya yang melawan hukum untuk tetap
mempertahankan jati dirinya sebagai orang yang dipercaya.
Kejahatan Kerah Putih
Kejahatan kerah putih adalah terjemahan untuk istilah yang sangat dikenal dalam bahasa
Inggris, yakni white-collar crime. Istilah ini dikenalkan oleh Edwin H. Sutherland di
bulan Desember 1939 ketika ia menyampaikan pidato pengukuhannya selaku ketua
perhimpunan sosiolog Amerika (American Sociological Society) di Philadelphia. Sejak
istilah itu diperkenalkan, terjadi perdebatan mengenai apa yang harus dicakup di
dalamnya. Sepuluh tahun kemudian, Sutherland menerbitkan monograf White-Collar
Crime yang dicatatan kakinya ia menjelaskan makna istilah itu sebagai: Crime in the
upper, white-collar class, which is composed of respectable, or at least respected,
business, and professional men. (kejahatan kelas atas, kelas manusia berkerah putih
yang terdiri atas orang-orang bisnis dan profesional terhormat, atau paling tidak,
dihormati.)
SOAL LATIHAN 2
1

Sebutkan alasan tekanan menjadi salah satu sudut dari segitiga fraud!

Apakah yang disebut dengan kejahatan kerah putih?

F. Pencegahan dan Pendeteksian Fraud

October 9, 2016

59

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


1. Pencegahan Fraud
Tidak ada organisasi yang terbebas dari fraud, karena pemasalahannya kembali berkutat
ke masalah manusia. Bagaimanapun bentuk aturan dan prosedur disusun sangat
dipengaruhi oleh manusia yang menjalankannya, karena tidak semua orang jujur dan
berintegritas tinggi. Oleh karena itu perlu upaya pencegahan yang dapat mengurangi
terjadinya fraud.
a. Tanggungjawab Pencegahan dan Pendeteksian Fraud
Secara umum, tanggung-jawab pencegahan dan pendeteksian serta penugasan untuk
melakukan investigasi merupakan tanggung jawab manajemen, akan tetapi fraud
auditor wajib melakukan tiga hal tersebut sebagai bagian dari manajemen.
Tanggung jawab manajemen dalam pencegahan dan pendeteksian fraud mencakup:
1) Pengembangan lingkungan pengendalian, yang dimulai dari kesadaran tentang
perlunya pengendalian.
2) Penetapan tujuan dan sasaran organisasi yang realistis
3) Menetapkan aturan perilaku (code of conduct) bagi semua pegawai,
didokumentasikan dan dimplementasikan dengan baik. Aturan perilaku
menjelaskan hal- hal yang tidak boleh dan boleh dilakukan, sekaligus
menjelaskan kegiatan-kegiatan yang merupakan upaya secara personal untuk
mengungkapkan adanya penyimpangan-penyimpangan.
4) Kebijakan-kebijakan otorisasi yang tepat untuk setiap transaksi yang terus
diwujudkan dan dipelihara.
5) Kebijakan, praktik, prosedur, pelaporan dan mekanisme lainnya untuk
memonitor aktivitas dan menjaga asset khususnya yang memiliki tingkat risiko
tinggi dan bernilai mahal.
6) Mekanisme

komunikasi

informasi

yang

dapat

dipercaya

serta

berkesinambungan, antara seluruh karyawan dengan pihak manajemen atau


pimpinan instansi.
b. Pengertian Upaya Pencegahan
Pengertian pencegahan fraud menurut modul Pusat Pendidikan dan Pelatihan
Pengawasan (Pusdiklatwas) BPKP tentang fraud auditing (2008:37) yaitu upaya

October 9, 2016

60

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


terintegrasi yang dapat menekan terjadinya faktor penyebab Fraud (fraud triangle)
yaitu :
1) Memperkecil peluang terjadinya kesempatan untuk berbuat kecurangan
2) Menurunkan tekanan kepada pegawai agar ia mampu memenuhi kebutuhannya
3) Mengeliminasi alasan untuk membuat pembenaran/rasionalisasi atas tindak
kecurangan yang dilakukan.
c. Tujuan Pencegahan
Pencegahan fraud yang efektif memiliki 5 (lima) tujuan yaitu :
1) Prevention, mencegah terjadinya fraud secara nyata pada semua lini organisasi;
2) Deterence, menangkal pelaku potensial bahkan tindakan untuk yang bersifat
coba-coba;
3) Discruption, mempersulit gerak langkah pelaku fraud sejauh mungkin;
4) Identification,

mengidentifikasi kegiatan berisiko tinggi dan kelemahan

pengendalian;
5) Civil action prosecution, melakukan tuntutan dan penjatuhan sanksi yang
setimpal atas perbuatan kecurangan kepada pelakunya.
d. Metode Pencegahan
Beberapa metode pencegahan yang lazim ditetapkan oleh manajemen mencakup
namun tidak terbatas pada beberapa langkah berikut ini:
1) Penetapan Kebijkan Anti Fraud
Kebijakan unit organisasi harus memuat a high ethical tone dan harus dapat
menciptakan lingkungan kerja yang kondusif untuk mencegah tindakan-tindakan
fraud dan kejahatan ekonomi lainnya. Seluruh jajaran manajemen dan karyawan
harus mempunyai komitmen yang sama. Dengan demikian, kebijaksanaan yang
ada akan dilaksanakan dengan baik.
2) Prosedur Pencegahan Baku
Pada dasarnya komitmen manajemen dan kebijakan suatu instansi/ organisasi
merupakan kunci utama dalam mencegah dan mendeteksi fraud. Namun
demikian, harus pula dilengkapi dengan prosedur penanganan pencegahan secara

October 9, 2016

61

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


tertulis dan ditetapkan secara baku sebagai media pendukung. Secara umum
prosedur pencegahan harus memuat :
a) Pengendalian intern, di antaranya, adalah pemisahan fungsi sehingga
tercipta kondisi saling cek antar fungsi.
b) Sistem reviu dan operasi yang memadai bagi sistem komp uter, sehingga
memungkinkan komputer tersebut untuk mendeteksi fraud secara otomatis.
Hal-hal yang menunjang terciptanya sistem tersebut adalah:

Desain sistem harus mencakup fungsi pengendalian yang memadai.

Harus ada prinsip-prinsip pemisahan fungsi.

Ada screening (penelitian khusus) terhadap komputer dan karyawan


pada saat rekrutmen dan pelatihan.

Adanya pengendalian atas akses dalam komputer maupun data.

c) Adanya prosedur mendeteksi fraud secara otomatis (built in) dalam sistem,
mencakup:

Prosedur yang memadai untuk melaporkan fraud yang ditemukan

Prosedur yang memadai untuk mendeposisikan setiap individu yang


terlibat fraud

3) Organisasi
a) Adanya audit committee yang independen menjadi nilai plus.
b) Unit audit internal mempunyai tanggung jawab untuk melakukan evaluasi
secara berkala atas aktivitas organisasi secara berkesinambungan. Bagian ini
juga berfungsi untuk menganalisis pengendalian intern dan tetap waspada
terhadap fraud pada saat melaksanakan audit.
c) Unit audit internal harus mempunyai akses ke audit committee maupun
manajemen puncak. Walaupun pimpinan auditor internal tidak melapor ke
senior manajemen puncak, akan tetapi untuk hal-hal yang sifatnya khusus, ia
harus dapat langsung akses ke pimpinan yang lebih tinggi.
d) Auditor internal harus mempunyai tanggung jawab yang setara dengan
jajaran eksekutif, paling tidak memiliki akses yang tindependen terhadap
unit rawan fraud.
October 9, 2016

62

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


4) Teknik Pengendalian
Sistem yang dirancang dan dilaksanakan secara kurang baik akan menjadi
sumber atau peluang terjadinya fraud, yang pada gilirannya menimbulkan
kerugian finansial bagi organisasi.

Berikut ini disajikan teknik-teknik

pengendalian dan audit yang efektif untuk mengurangi kemungkinan fraud.


a) Pembagian tugas yang jelas, sehingga tidak ada satu orang pun yang
menguasai seluruh aspek dari suatu transaksi.
b) Pengawasan memadai.
c) Kontrol yang memadai terhadap akses ke terminal komputer, terhadap data
yang ditolak dalam pemrosesan, maupun terhadap program- program serta
media pendukung lainnya.
d) Adanya manual pengendalian terhadap file-file yang dipergunakan dalam
pemrosesan komputer ataupun pembuangan file (disposal) yang sudah tidak
terpakai
5) Kepekaan Terhadap Fraud
Kerugian dan fraud dapat dicegah apabila organisasi atau instansi mempunyai
staf yang berpengalaman dan mempunyai SILA (Suspicious, Inquisitive,
Logical dan Analytical Mind), sehingga mereka peka terhadap sinyalsinyal
fraud. Hal- hal yang perlu diperhatikan untuk menumbuh-kembangkan SILA
adalah:
a) Kualifikasi calon pegawai harus mendapat perhatian khusus, bila
dimungkinkan, menggunakan referensi dari pihak-pihak yang pernah
bekerja sama dengan mereka.
b) Implementasikan prosedur curah pendapat yang efektif, sehingga para
pegawai yang tidak puasnmempunyai jalur untuk mengajukan protesnya.
c) Setiap pegawai selalu diingatkan dan didorong untuk melaporkan segala
transaksi atau kegiatan pegawai lainnya yang mencurigakan.
d) Para karyawan hendaknya tidak diperkenankan untuk lembur secara rutin
tanpa pengawasan yang memadai.

October 9, 2016

63

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


e) Karyawan diwajibkan cuti tahunan setiap tahun. Biasanya pelaku fraud
memanipulasi sistem tertentu untuk menutupi perbuatannya. Hal ini dapat
terungkap pada saat yang bersangkutan mengambil cuti tahunannya, dan
tugas-tugasnya diambil alih oleh karyawan lain. Bila mungkin, lakukan
rotasi egawai secara periodik untuk tujuan yang sama
e. Peran Auditor dalam Pencegahan
Internal auditor dituntut untuk waspada terhadap setiap hal yang menunjukkan
adanya kemungkinan fraud, yang mencakup:
1) Identifikasi titik-titik kritis terhadap kemungkinan terjadinya fraud,
2) Penilaian terhadap sistem pengendalian yang ada, dimulai sejak lingkungan
pengendalian hingga pemantauan terhadap penerapan sistem pengendalian.
Jika terdapat indikasi perbuatan fraud, seorang internal auditor setidak-tidaknya
harus mampu melakukan beberapa hal berikut dalam upaya pencegahan:
1) Melakukan telaahan kritis atas sistem pengendalian manajemen
2) Menyimpulkan kekuatan dan kelemahan sistem pengendalian manajemen
tersebut.
3) Mengidentifikasi kerugian yang mungkin timbul karena terjadinya kecurangan,
dengan adanya kelemahan sistem pengendalian manajemen tersebut.
4) Mengidentifikasi berbagai transaksi dan kejadian yang tidak biasa.
5) Mampu membedakan antara kelalaian manusia (human errors) dan tindakan
penyimpangan dari peraturan (irregularities).
6) Mampu menelusuri arus dokumen dan arus dana yang berkaitan dengan
transaksi-transaksi yang mencurigakan.
7) Mampu mendapatkan dokumen-dokumen yang terkait dengan transaksi tersebut.
8) Mengumpulkan dan menyusun bukti yang mendasari kecurangan tersebut.
9) Mendokumentasikan dan membuat laporan tindak kecurangan dengan tujuan
untuk proses pemberian sanksi, penuntutan secara hukum, baik perdata maupun
pidana, ataupun untuk mengajukan klaim kepada pihak lainnya.
2. Pendeteksian Fraud

October 9, 2016

64

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


Langkah penting yang harus dilakukan oleh auditor untuk mengeta hui ada atau tidaknya
fraud adalah dengan cara mendeteksinya. Pendeteksian fraud oleh internal auditor
merupakan pengidentifikasian indikator- indikator kecurangan yang mengarahkan perlu
tidaknya dilakukan pengujian. Indikator- indikator yang dibuat mengacu kepada kendalikendali yang telah ditetapkan oleh manajemen, pengujian yang dilakukan oleh auditor,
dan sumber-sumber lainnya baik dari dalam maupun dari luar organisasi.
a. Tujuan Pendeteksian
Deteksi fraud adalah aktivitas untuk mengetahui :
1) Bahwa tindakan fraud telah terjadi (ada).
2) Apakah organisasi/perusahaan menjadi korban atau sebagai pelaku fraud.
3) Adanya kelemahan dalam pengendalian intern serta moral pelaku yang menjadi
penyebab terjadinya fraud
4) Adanya kondisi lingkungan di organisasi/ perusahaan yang menyebabkan
terjadinya fraud.
5) Adanya suatu kesalahan dan ketidak beresan
Pendeteksian fraud dapat dilakukan baik secara proaktif maupun reaktif, sebagai
berikut :
1) Dengan penerapan pengendalian intern yang memadai, yaitu adanya pemisahan
tugas dalam fungsi penyimpanan, otorisasi dan pencatatan.
2) Pelaksanaan audit finansial, operasional, dan ketaatan.
3) Pengumpulan data intelijen terhadap gaya hidup dan kebiasaan pribadi pegawai.
4) Penerapan prinsip pengecualian (exception) di dalam pengendalian dan prosedur.
5) Pelaksanaan reviu terhadap penyimpangan (variances) dalam kinerja operasi
(standar, tujuan, sasaran, anggaran, rencana).
6) Adanya pengaduan dan keluhan dari karyawan.
7) Intuisi atasan pegawai.
8) Adanya kecurigaan (suspicion)
b. Tanggung jawab Internal Auditor
Tanggung jawab internal auditor dalam rangka mendeteksi kecurangan,
selama penugasan audit, termasuk:

October 9, 2016

65

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


1) Memiliki pengetahuan yang memadai tentang kecurangan, dalam rangka
mengidentifikasi indikasi- indikasi yang mungkin terjadi dan dilakukan oleh
anggota organisasi. Pengetahuan tersebut, antara lain, mengenai karakteristik
kecurangan, teknik yang digunakan oleh pelaku dalam melakukan kecurangan,
dan bentuk kecurangan sesuai dengan aktivitas yang sedang diaudit.
2) Memiliki sensitivitas yang berkaitan dengan kemungkinan adanya kesempatan
terjadinya fraud, seperti kelemahan-kelemahan pengendalian yang memungkinkan
terjadinya kecurangan. Beberapa contoh dari indikator terjadinya kecurangan
adalah:
a) Transaksi yang tidak terotorisasi
b) Pengendalian yang tidak dipatuhi.
c) Kerugian yang sangat mencolok berkaitan dengan adanya kerugian.
d) Motivasi yang ada di manajemen.
3) Melakukan

evaluasi

terhadap

indikator-indikator

yang

mungkin

dapat

memberikan peluang terjadinya kecurangan dan menentukan apakah perlu


dilakukan investigasi lanjutan.
4) Menentukan predikasi/dugaan awal terjadinya suatu

tindak

kecurangan.

Berdasarkan indikator- indikator yang diperoleh selama melakukan audit dan


pengawasan serta bukti-bukti yang ada, internal auditor dapat menyiapkan proses
yang mengarah kepada pengujian terfokus untuk mengungkapkan kecurangan.
5) Melakukan penilaian kembali terhadap pelaksanaan pengendalian di lingkungan
dimana terjadinya tindak kecurangan, dan selanjutnya menentukan upaya untuk
memperkuat pengendalian di dalamnya. Penguatan interna l kontrol diharapkan
dapat mengurangi vulnerabilities (tingkat kerentanan/kelemahan yang dapat
memicu terjadinya suatu kecurangan) untuk masa yang mendatang, sekaligus juga
melakukan bentuk langkah-langkah pengujian dalam audit, dengan tujuan audit
untuk mendeteksi kemungkinan tindak kecurangan yangsama di masa mendatang.
c. Langkah-Langkah Deteksi Fraud
Langkah-langkah dalam mendeteksi fraud antara lain:
1) Pemahaman Atas Tugas Pokok dan Fungsi Instansi

October 9, 2016

66

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


Pengetahuan dan pemahaman auditor atas proses kegiatan instansi merupakan
suatu langkah awal dalam mendeteksi fraud. Pengetahuan yang berkaitan dengan
proses kegiatan ini secara signifikan akan membantu auditor dalam:
a) Memperkirakan kekuatan dan kelemahan sistem pengendalian intern dan
implementasinya, guna mengidentifikasi tindak kecurangan yang mungkin
terjadi.
b) Memperkirakan tingkat keterjadian dan potensi dampak tindak kecurangan
yang mungkin terjadi dalam suatu institusi.
c) Mengevaluasi bukti-bukti awal yang diperlukan untuk dikembangkan dalam
tahapan audit, atau hanya dipergunakan untuk memperbaiki kelemahan sistem
yang terdeteksi.
d) Menetapkan rencana dan langkah pelaksanaan audit kecurangan secara efektif
dan efisien, jika diminta oleh manajemen.
Sumber-sumber yang dapat menjadi media auditor dalam memahami proses
kegiatan yang akan dideteksi, di antaranya:
a. Pengalaman sebelumnya tentang instansi, tugas pokok dan sifat kegiatan yang
dijalankannya
b. Diskusi dengan pihak internal instansi.
c. Diskusi dengan pihak internal audit dan reviu terhadap laporan internal.
d. Diskusi dengan auditor sebelumnya serta reviu terhadap laporan yang dibuat
oleh pihak eksternal
e. Diskusi dengan pihak yang memiliki keahlian di bidang industri yang
diperiksa.
f.

Publikasi atas proses kegiatan yang dilakukan oleh instansi.

g. Peraturan yang secara signifikan berdampak pada proses kegiatan instansi.


h. Dokumen-dokumen yang dihasilkan oleh instansi yang bersangkutan.
2) Identifikasi Kelemahan Pengendalian Intern
Setelah memahami proses kegiatan, auditor harus memahami pula pengendalian
intern

auditee,

yang berkaitan dengan

tingkat keandalannya sekaligus

mengidentifikasikan kelemahannya. Hal ini penting untuk melihat latar belakang

October 9, 2016

67

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


terjadinya indikasi tindak kecurangan, dan pertimbangan risiko kemungkinan
terjadinya tindak kecurangan.
Evaluasi dilakukan terhadap 5 komponen pengendalian intern dan kaitannya
dengan audit fraud, yaitu:
a) Lingkungan Pengendalian
Lingkungan pengendalian menetapkan corak suatu organisasi, memengaruhi
kesadaran pengendalian orang-orangnya. Lingkungan pengendalian sebagai
dasar bagi komponen pengendalian intern yang lain menyediakan disiplin dan
struktur.
Lingkungan Pengendalian mencakup faktor-faktor berikut ini:

Integritas dan nilai etika

Komitmen terhadap kompetensi

Partisipasi dewan komisaris atau komite audit

Filosofi dan gaya operasi manajemen

Struktur organisasi

Pemberian wewenang dan tanggung jawab

Kebijakan dan praktik sumber daya manusia

b) Penaksiran Risiko
Dalam komponen ini dilakukan pengidentifikasian, analisis dan pengelolaan
risiko, untuk mendapatkan indikasi fraud yang berkaitan dengan keuangan.
Sebagai contoh, penaksiran risiko ditujukan kepada bagaimana instansi
mempertimbangkan kemungkinan adanya transaksi yang tidak dicatat atau
mengidentifikasi dan menganalisis estimasi signifikan transaksi yang dicatat
dalam laporan keuangan. Risiko yang relevan dengan kecurangan keuangan
juga berkaitan dengan peristiwa atau transaksi khusus.
Risiko dapat timbul atau berubah karena keadaan berikut ini:

Perubahan dalam lingkungan operasi.

Personil baru.

Sistem informasi baru atau yang diperbaiki.

October 9, 2016

68

MODUL AKUNTANSI FORENSIK

Pertumbuhan yang pesat.

Teknologi baru

c) Aktivitas Pengendalian
Aktivitas pengendalian adalah kebijakan dan prosedur yang membantu
meyakinkan bahwa tindakan yang diperlukan telah dilaksanakan untuk
menghadapi risiko dalam pencapaian tujuan instansi. Aktivitas pengendalian
memiliki berbagai tujuan dan diterapkan di berbagai tingkat organisasi dan
fungsi. Umumnya, aktivitas pengendalian yang relevan dengan audit fraud
dapat digolongkan sebagai kebijakan dan prosedur yang berkaitan dengan:

Review kinerja.

Pengolahan informasi.

Pengendalian fisik.

Pemisahan tugas.

d) Informasi dan Komunikasi


Sistem informasi dalam pengendalian intern mencakup sistem akuntansi, yaitu
metode dan catatan yang yang digunakan untuk:

Mengidentifikasi dan mencatat semua transaksi yangsah.

Menjelaskan, pada saat yang tepat, transaksi secara cukup rinci untuk
memungkinkan penggolongan transaksi semestinya dalam laporan
keuangan.

Mengukur nilai transaksi dengan cara sedemikian rupa sehingga


memungkinkan pencatatan nilai moneter semestinya dalam laporan
keuangan.

Menentukan periode waktu terjadinya transaksi untuk mernungkinkan


pencatatan transaksi dalam periode akuntansi semestinya.

Menyajikan transaksi semestinya dan pengungkapan yang berkaitan


dalam laporan keuangan.

Kualitas informasi yang dihasilkan oleh sistem akan berdampak pada


kemampuan manajemen dalam mengambil keputusan semestinya, untuk

October 9, 2016

69

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


keperluan mengolah dan mengendalikan aktivitas instansi dan mencegah
terjadinya tindak kecurangan.
e) Pemantauan
Pemantauan adalah proses penetapan kualitas kinerja pengendalian intern
sepanjang waktu. Pemantauan mencakup penentuan desain pengendalian
intern, pelaksanaannya secara tepat waktu, dan tindakan perbaikan yang
dilakukan.
Proses ini dilaksanakan melalui aktivitas pemantauan secara terus menerus,
evaluasi secara terpisah, atau kombinasi di antara keduanya. Pemantauan
secara terus menerus terhadap aktivitas dibangun ke dalam aktivitas normal
instansi yang terjadi secara berulang, meliputi aktivitas pe ngelolaan dan
supervisi reguler.
Aktivitas pemantauan dapat mencakup penggunaan informasi dan komunikasi
dari pihak luar. Misalnya, dalam urusan penagihan, pelanggan secara tersirat
menguatkan data penagihan dengan pembayaran fakur mereka atau pengajuan
keluhan tentang besarnya ongkos yang harus dibayar. Di samping itu, badan
legislasi pemerintah ada kemungkinan berkomunikasi dengan instansi,
berkaitan dengan masalah masa lalu yang berdampak terhadap berfungsinya
pengendalian intern. Contohnya, komunikasi tentang audit oleh badan
pengatur perbankan. Demikian pula, manajemen dapat mempertimbangkan
komunikasi, yang berkaitan dengan pengendalian intern, dengan auditor
ekstern dalam pelaksanaan aktivitas pemantauan.
d. Teknik Pendeteksian Fraud
Fraud dapat dideteksi dengan teknik critical point of audit dan sensitivity analysis.
1) Critical point auditing
Critical point auditing adalah suatu teknik pendeteksian fraud melalui audit atas
catatan pembukuan yang mengarah pada gejala atau kemungkinan terjadinya
fraud, yang mengarahkan auditor untuk melakukan penyelidikan lebih rinci. Cara
ini dapat digunakan pada setiap organisasi. Makin akurat dan komprehensif suatu
catatan, semakin efektif pula teknik ini.

October 9, 2016

70

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


Keberhasilan dalam mendeteksi fraud tergantung 3 (tiga) faktor, yaitu:
a) Besarnya organisasi dan jumlah transaksi/ catatan yang tersedia untuk audit.
b) Jumlah item yang diaudit
c) Jumlah fraud yang terjadi
Pendekatan yang sering digunakan dalam critical point auditing, antara lain:
a) Analisis trend
Pengujian ini terutama ditujukan untuk menilai kewajaran pembukuan dalam
rekening buku besar, dan menyangkut pola perbandingannya dengan data
sejenis untuk periode sebelumnya (historical data).
Perbandingan dengan data sejenis dari cabang perusahaan, maupun
perbandingan dengan data periode sebelumnya berguna untuk :

Mendapatkan gejala manipulasi yang dilakukan oleh pihak intern


perusahaan.

Mendeteksi kemungkinan adanya fraud baru yang terjadi.

b) Pengujian Khusus
Pengujian khusus biasanya dilakukan terhadap kegiatan-kegiatan yang
berisiko tinggi terhadap fraud, antara lain:

Fraud pembelian pada umumnya dilakukan dengan cara meninggikan


nilai yang terdapat dalam faktur atau pembelian fiktif.

Verifikasi buku besar, terutama rekening hutang yang muncul setelah


penunjukan pejabat baru, khususnya yang menangani pembelian.

Tidak jarang pejabat baru memilih atau membawa supplier yang telah
dikenalnya dan mengganti supplier yang selama ini banyak berhubungan
dengan instansinya.

Fraud dalam penjualan dapat berupa penjualan fiktif, lapping dan lainlain.

2) Teknik Analisis Kepekaan (Job Sensivity Analysis)


Setiap pekerjaan dalam suatu organisasi memiliki berbagai peluang/kesempatan
untuk mengalami fraud. Hal ini bergantung pada beberapa faktor, seperti akses,
kemampuan, dan waktu yang tersedia untuk merencanakan dan melaksanakannya.
October 9, 2016

71

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


a) Metode Pendekatan
Langkah awal yang dilakukan adalah dengan mengidentifikasi semua posisi
pekerjaan di dalam suatu instansi/organisasi yang rawan terhadap fraud.
Untuk itu auditor harus mempelajari:

Struktur organisasi

Uraian tugas masing-masing pejabat

Manual akuntansi dan formulir-formulir

Pendelegasian wewenang

Langkah berikutnya adalah

memperoleh spesifikasi pekerjaan setiap

pejabat/pegawai dan mencatat perbedaan antara akses yang diperbolehkan atas


suatu rekening dan akses yang direncanakan. Misalnya, petugas bagian
pembelian/ pengadaan tidak diperbolehkan memiliki akses atas catatan
pembelian. Tetapi kalau dia berbagi ruang dengan pegawai bagian pembelian,
adalah suatu hal yang tidak realistis bila menganggap bahwa petugas
pembelian/ pengadaan tersebut tidak mungkin membaca, mengubah atau
menyembunyikan catatan.
b) Pengawasan Rutin Mudah bagi pencuri untuk beroperasi, bilamana
manajer/pimpinan sibuk dengan tanggung jawab

lain. Maka tingkat

pengendalian yang dilakukan juga harus dipertimbangkan jikalau bawahan


lebih pandai dari atasannya, atau apabila atasan memiliki bawahan yang
mempunyai latar belakang pendidikan berbeda.
c) Karakter Pribadi
Karakter pribadi pegawai harus dipertimbangkan. Gejala-gejala tersebut
termasuk:

Kekayaan yang tidak dapat dijelaskan

Pola hidup mewah

Pegawai tidak puas (tidak naik pangkat)

Egois (mementingkan diri sendiri)

Sering mengabaikan instruksi/prosedur Ingin dianggap paling penting

October 9, 2016

72

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


d) Tindak Lanjut
Hasil analisis akan menunjukkan jenis pekerjaan yang berisiko tinggi, dan
metode fraud yang mungkin dilakukan. Pengujian secara rinci harus dilakukan
guna menentukan apakah kesempatan yang ada telah digunakan.
3. Identifikasi Fraud yang Merugikan Keuangan Negara
Apabila dari hasil audit ditemukan penyimpangan yang merugikan keuangan negara atau
perekonomian negara, maka auditor perlu mengidentifikasi kasus tersebut untuk
penanganan lebih lanjut.
Mengidentifikasi kasus artinya menetapkan penyimpangan dipandang dari aspek hukum,
yakni apakah kasus tersebut merupakan kasus pidana, kasus perdata, atau kasus tuntutan
untuk penyelesaian kerugian negara/daerah, yang dibedakan antara :
a. Pengenaan ganti kerugian negara/daerah terhadap bendahara.
b. Pengenaan ganti kerugian negara/daerah terhadap pegawai negeri bukan bendahara.
SOAL LATIHAN 3
1

Apakah faktor yang menyebabkan berubahnya tingkat risiko?

Bagaimanakah implementasi pengujian khusus pada fraud?

Rangkuman
Fraud adalah suatu tindakan ilegal yang dilakukan secara sengaja dengan cara
berbohong, menyembunyikan dan merekayasa yang dilakukan oleh individu maupun organisasi
dengan maksud memperkaya diri dan menghindari pembayaran.
ACFEmenggambarkan Occupational Fraud dalam bentuk fraud tree yang terdiri dari
corruption, asset misappropriation, dan fraudulent statements. Peta ini membantu akuntan
forensik mengenali dan mendiagnosis fraud yang terjadi. Ada gejala- gejala yang dalam auditing
dikenal sebagai red flags. Dengan memahami gejala- gejala ini dan menguasai teknik-teknik audit
investigatif, akuntan forensik dapat mendeteksi fraud tersebut.
Tidak ada organisasi yang terbebas dari fraud, karena pemasalahannya kembali berkutat
ke masalah manusia. Bagaimanapun bentuk aturan dan prosedur disusun sangat dipengaruhi oleh
manusia yang menjalankannya, karena tidak semua orang jujur dan berintegritas tinggi.
TES FORMATIF

October 9, 2016

73

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


1. Sebutkan enam kelompok penyebab Non-shareable problems!
2.

Sebutkan cakupan dari tanggung jawab manajemen dalam pencegahan dan pendeteksian
fraud!

3. Sebutkan sumber-sumber yang dapat menjadi media auditor dalam memahami proses
kegiatan yang akan dideteksi!
UMPAN BALIK
Sebagai dasar penilaian apakah mahasiswa telah menguasai materi maka jawab pertanyaan tes
formatif dan gunakan kriteria sebagai berikut:
Jawaban Benar

Penilaian

Keterangan

Baik

Lanjut Bab Selanjutnya

Sedang

Lanjut Bab Selanjutnya

Kurang

Mengulang Bab Ini

JAWABAN TES FORMATIF


1. Enam kelompokny adalah :
a. Violation of Ascribed Obligation
Suatu kedudukan atau jabatan dengan tanggung dengan keuangan membawa
konsekuensi tertentu bagi yang bersangkutan dan juga menjadi harapan atasan ata u
majikannya. Di samping harus jujur, ia dianggap perlu memiliki perilaku tertentu.
Banyak lembaga Negara dan asosiasi profesi dan bisnis Indonesia merasa perlu
menyusun pedoman perilaku pejabat atau anggotanya. Bahkan keperluan yang lebih
mendesak sering kali bukan pada penyusunan atau pemberitaan pemahaman kepada
yang akan diatur perilakunya, tetapi pada piblikasi terhadap masyarakat bahwa kita
sudah punya pedoman perilaku tanpa peduli apakah perilkunya akan seperti yang
tercantum dalam pedomannya.
b. Problems Resulting from Personal Failure
Kegagalan pribadi juga merupakan situasi yang dipersepsikan oleh orang yang
mempunyai kedudukan

serta

dipercaya

dalam

bidang

keuangan,

sebagai

kesalahannya menggunakan akal sehatnya, dan arena itu menjadi tanggung jawab
pribadinya.
October 9, 2016

74

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


c. Business Reversals
Cressey menyimpulkan bahwa kegagalan bisnis merupakan kelompok situasi yang
juga mengarah kepada non-shareable problem. Masalah ini berbeda dari kegagalan
pribadi yang dijelaskan di atas, karena pelakunya merasa bahwa kegaga lan itu berada
di luar dirinya atau di luar kendalinya. Dalam persepsinya, kegagalan itu karena
inflasi yang tinggi, atau krisi moneter/ekonomi, tingkat bunga yang tinggi dan lainlain.
d. Physical Isolation
Secara bebas, situasi ini dapat diterjemahkan sebagai keterpurukan dalam
kesendirian. Dalam situasi ini, orang itu bukan tidak mau berbagi keluhan dengan
orang lain. Ia tidak mempunyai orang lain tempat ia berkeluh dan mengungkapkan
masalahnya. Cressey member contoh seorang yang baru kematian istrinya dan ia
tidak mampu mengungkapkan masalah keuangan kepada orang lain.
e. Status Gaining
Situasi kelima ini tidak lain dari kebiasaaan (buruk) untuk tidak mau kalah dengan
tetangga. Orang lain punya harta tertentu, ia juga harus seperti itu atau lebih dari
itu. Orang lain punya jabatan tertentu, ia juga harus punya jabatan seperti itu atau
lebih baik dari itu. Dalam situasi yang dibahas di atas, pelaku berusaha
mempertahankan sratus. Di sini pelaku berusaha meningkatkan statusnya.
f.

Employer-Employee Relations
Cressey

menjelaskan bahwa

umumnya situasi keenam

ini

mencerminkan

kekesalan(atau kebencian) seorang pegawai yang menduduki jabatan yang


dipegangnya sekarang, tetapi pada saat yang sama ia merasa tidak ada pilihan
baginya, ia harus tetap menjalankan yang dikerjakannya sekarang. Kekesalan itu bisa
terjadi karena ia merasa gaji atau imbalan lainnya tidak layak dengan pekerjaan atau
kedudukannya, atau ia merasa beban pekerjaannya teramat banyak, atau ia merasa
kurang mendapat penghargaan batiniah.
2. Tanggung jawab manajemennya adalah:
a. Pengembangan lingkungan pengendalian, yang dimulai dari kesadaran tentang
perlunya pengendalian.

October 9, 2016

75

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


b. Penetapan tujuan dan sasaran organisasi yang realistis
c. Menetapkan

aturan

perilaku

(code

of

conduct)

bagi

semua

pegawai,

didokumentasikan dan dimplementasikan dengan baik. Aturan perilaku menjelaskan


hal- hal yang tidak boleh dan boleh dilakukan, sekaligus menjelaskan kegiatankegiatan yang merupakan upaya secara personal untuk mengungkapkan adanya
penyimpangan-penyimpangan.
d. Kebijakan-kebijakan otorisasi yang tepat untuk setiap transaksi yang terus
diwujudkan dan dipelihara.
e. Kebijakan, praktik, prosedur, pelaporan dan mekanisme lainnya untuk memonitor
aktivitas dan menjaga asset khususnya yang memiliki tingkat risiko tinggi dan
bernilai mahal.
f.

Mekanisme komunikasi informasi yang dapat dipercaya serta berkesinambungan,


antara seluruh karyawan dengan pihak manajemen atau pimpinan instansi.

3. Sumber-sumber yang dapat dijadikan sumber deteksi oleh auditor adalah:


a. Pengalaman sebelumnya tentang instansi, tugas pokok dan sifat kegiatan yang
dijalankannya
b. Diskusi dengan pihak internal instansi.
c. Diskusi dengan pihak internal audit dan reviu terhadap laporan internal.
d. Diskusi dengan auditor sebelumnya serta reviu terhadap laporan yang dibuat oleh
pihak eksternal
e. Diskusi dengan pihak yang memiliki keahlian di bidang industri yang diperiksa.
f. Publikasi atas proses kegiatan yang dilakukan oleh instansi.
g. Peraturan yang secara signifikan berdampak pada proses kegiatan instansi.
h. Dokumen-dokumen yang dihasilkan oleh instansi yang bersangkutan.

October 9, 2016

76

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


BAB VII
Korupsi
SASARAN

SP 1 : Mampu Menjelaskan Pengertian Korupsi

PEMBELAJARAN

SP 2 : Mampu Menjelaskan Dampak dari Korupsi


SP 3 : Mampu Menjelaskan Korupsi dari Pendekatan
Sosiologis
SP 4 : Mampu Menjelaskan Nilai dan Prinsip Anti
Korupsi

RUANG

Ruang lingkup modul ini adalah berasal dari Bab 7 yang membahas

LINGKUP

tentang Korupsi pada buku buku Akuntansi Forensik dan Audit

BAHAN MODUL

Investigatif, karya Theodorus Tuanakotta

MANFAAT

Dengan

MEMPELAJARI

memahami dan menjelaskan tentang Korupsi.

mempelajari modul ini,

memudahkan pembaca dalam

MODUL
URUTAN

Urutan pembahasan materi dalam modul ini sebagai

PEMBAHASAN

berikut
1. Pengertian Korupsi
2. Dampak Korupsi
3. Korupsi dari Pendekatan Sosiologis
4. Nilai dan Prinsip Anti Korupsi

October 9, 2016

77

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


Sasaran 1 : PENGERTIAN KORUPSI
A. Definisi
Kata korupsi berasal dari bahasa Latin corruptio atau corruptus. Dari bahasa Latin
tersebut kemudian dikenal istilah corruption, corrupt (Inggris), corruption (Perancis) dan
korruptie (Belanda).
Arti kata korupsi adalah kebusukan, keburukan, kebejatan, ketidakjujuran, dapat disuap,
tidak bermoral, penyimpangan dari kesucian. Selanjutnya untuk beberapa pengertian lain,
disebutkan bahwa :
1. Korup artinya busuk, suka menerima uang suap/sogok, memaka i kekuasaan untuk
kepentingan sendiri dan sebagainya;
2. Korupsi artinya perbuatan busuk seperti penggelapan uang, penerimaan uang sogok, dan
sebagainya; dan
3. Koruptor artinya orang yang melakukan korupsi.
Dengan demikian arti kata korupsi adalah sesuatu yang busuk, jahat dan merusak,
berdasarkan kenyataan tersebut perbuatan korupsi menyangkut: sesuatu yang bersifat amoral,
sifat dan keadaan yang busuk, menyangkut jabatan instansi atau aparatur pemerintah,
penyelewengan kekuasaan dalam jabatan karena pemberian, menyangkut faktor ekonomi dan
politik dan penempatan keluarga atau golongan ke dalam kedinasan di bawah kekuasaan
jabatan.
B. Bentuk Bentuk Korupsi
Sesuai dengan buku saku yang dikeluarkan KPK pada tahun 2006, terdapat berbagai bentuk
korupsi yaitu:
No. Bentuk Korupsi

Perbuatan Korupsi

1.

Kerugian Keuangan
Negara

Secara

melawan

hukum

melakukan

perbuatan

memperkaya diri sendiri atau orang lain atau korporasi;

Dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang


lain atau korporasi, menyalahgunakan kewenangan,
kesempatan atau sarana yang ada.

Suap Menyuap

Memberi atau menjanjikan sesuatu kepada Pegawai

October 9, 2016

78

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


Negeri atau penyelenggara negara dengan maksud
supaya berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu dalam
jabatannya;

Memberi

sesuatu

kepada

Pegawai

Negeri

atau

penyelenggara negara karena atau berhubungan dengan


kewajiban, dilakukan atau tidak dilakukan dalam
jabatannya;

Memberi hadiah atau janji kepada Pegawai Negeri


dengan mengingat kekuasaan atau wewenang yang
melekat pada jabatan atau kedudukannya atau oleh
pemberi hadiah/janji dianggap melekat pada jabatan
atau kedudukan tersebut;

Bagi Pegawai Negeri atau penyelenggara negara yang


menerima pemberian atau janji;

Bagi Pegawai Negeri atau penyelenggara negara yang


menerima hadiah atau janji, padahal diketahui atau
patut diduga bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan
untuk menggerakan agar melakukan sesuatu atau tidak
melakukan

sesuatu

dalam

jabatannya,

yang

bertentangandengan kewajibannya;

Bagi Pegawai Negeri atau penyelenggara negara yang


menerima hadiah, padahal diketahui atau patut diduga
bahwa hadiah tersebut diberikan sebagai akibat atau
disebabkan karena telah melakukan sesuatu atau tidak
melakukan

sesuatu

dalam

jabatannya,

yang

bertentangan dengan kewajibannya;

Bagi Pegawai Negeri atau penyelenggara negara yang


menerima hadiah atau janji, padahal diketahui atau
patut diduga bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan

October 9, 2016

79

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


karena kekuasaan atau kewenangan yang berhubungan
dengan jabatannya, atau yang menurut pikiran orang
yang memberikan hadiah atau janji tersebut ada
hubungan dengan jabatannya;

Memberi atau menjanjikan sesuatu kepada hakim


dengan maksud untuk mempengaruhi putusan perkara;

Memberi atau menjanjikan sesuatu kepada advokat


untuk menghadiri sidang pengadilan dengan maksud
untuk mempengaruhi nasihat atau pendapat yang akan
diberikan, berhubung dengan perkara;

Hakim yang menerima hadiah atau janji, padahal


diketahui atau patut diduga bahwa hadiah atau janji
tersebut diberikan

untuk

memepengaruhi putusan

perkara.
Penggelapan dalam

Jabatan

Pegawai negeri atau orang selain pegawai negeri yang


ditugaskan menjalankan suatu jabatan umum secara
terus menerus atau untuk sementara waktu, dengan
sengaja menggelapkan uang atau surat berharga yang
disimpan karena jabatannya, atau uang/surat berharga
tersebut diambil atau digelapkan oleh orang lain atau
membantu dalam melakukan perbuatan tersebut;

Pegawai negeri atau orang selain pegawai negeri yang


ditugaskan menjalankan suatu jabatan umum secara
terus menerus atau untuk sementara waktu, dengan
sengaja memalsu buku-buku atau daftar-daftar yang
khusus untuk pemeriksaan adminstrasi;

Pegawai negeri atau orang selain pegawai negeri yang


ditugaskan menjalankan suatu jabatan umum secara
terus menerus atau untuk sementara waktu, dengan

October 9, 2016

80

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


sengaja menggelapkan, merusakkan atau membuat tidak
dapat dipakai barang, akta, surat atau daftar yang
digunakan untuk meyakinkan atau membuktikan di
muka pejabat yang berwenang, yang dikuasai karena
jabatannya;

Pegawai negeri atau orang selain pegawai negeri yang


ditugaskan menjalankan suatu jabatan umum secara
terus
menerus atau untuk sementara waktu, dengan sengaja
membiarkan

orang

lain

menghilangkan,

menghancurkan, merusakkan, atau membuat tidak dapat


dipakai barang, akta, surat, atau daftar tersebut;

Pegawai negeri atau orang selain pegawai negeri yang


ditugaskan menjalankan suatu jabatan umum secara
terus menerus atau untuk sementara waktu, dengan
sengaja

membantu

orang

lain

menghilangkan,

menghancurkan, merusakkan, atau membuat tidak dapat


dipakai barang, akta, surat, atau daftar tersebut;
Pemerasan

Pegawai negeri atau penyelenggara negara yang dengan


maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain
secara melawan hukum, atau dengan menyalahgunakan
kekuasaannya memaksa seseorang memberikan sesuatu,
membayar,

atau

menerima

pembayaran

dengan

potongan atau untuk mengerjakan sesuatu bagi dirinya


sendiri;

Pegawai negeri atau penyelenggara negara yang pada


waktu menjalankan tugas, meminta atau menerima
pekerjaan

atau

penyerahan

barang,

seolah-olah

merupakan utang kepada dirinya, padahal diketa hui

October 9, 2016

81

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


bahwa hal tersebut bukan merupakan utang;

Pegawai negeri atau penyelenggara negara yang pada


waktu menjalankan tugas, meminta atau menerima atau
memotong pembayaran kepada Pegawai negeri atau
penyelenggara negara yang lain atau kepada kas umum,
seolah-olah Pegawai negeri atau penyenggara negara
yang lain atau kas umum tersebut mempunyai utang
kepadanya, padahal diketahui bahwa hal tersebut bukan
merupakan utang.

Perbuatan Curang

Pemborong, ahli bangunan yang pada waktu membuat


bangunan, atau penjual bahan bangunan yang pada
waktu menyerahkan bahan bangunan,

melakukan

perbuatan curang yang dapat membahayakan keamanan


orang atau barang, atau keselamatan negara dalam
keadaan perang;

Setiap orang yang bertugas mengawasi pembangunan


atau

menyerahkan

bahan

bangunan,

sengaja

membiarkan perbuatan curang;

Setiap orang yang pada waktu menyerahkan barang


keperluan TNI atau Kepolisian Negara RI melakukan
perbuatan

curang

yang

dapat

membahayakan

keselamatan negara dalam keadaan perang;

Setiap orang yang bertugas mengawasi penyerahan


barang keperluan TNI atau Kepolisian Negara RI
melakukan

perbuatan

curang

dengan

sengaja

membiarkan perbuatan curang.


Benturan Kepentingan
Dalam Pengadaan

Pegawai negeri atau penyelenggara

negara baik

langsung maupun tidak langsung dengan sengaja turut


serta dalam pemborongan, pengadaan atau persewaan

October 9, 2016

82

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


yang pada saat dilakukan perbuatan, untuk seluruh atau
sebagian

ditugaskan

untuk

mengurus

atau

mengawasinya.
Gratifikasi

Setiap

gratifikasi

kepada

penyelenggara dianggap

pegawai

negeri

pemberian suap,

atau

apabila

berhubungan dengan jabatannya dan yang berlawanan


dengan kewajiban tugasnya.
C. Tingkatan Korupsi
Ada 3 (tiga) tingkatan korupsi, yaitu :
1

Materi Benefit
Penyimpangan kekuasaan untuk mendapatkan keuntungan material baik bagi dirinya
sendiri maupun orang lain.

Penyalahgunaan kekuasaan
Penyalahgunaan kekuasaan merupakan korupsi tingkat menengah. Merupakan segala
bentuk penyimpangan yang dilakukan melalui struktur kekuasaan, baik pada tingkat
negara maupun lembaga- lembaga struktural lainnya termasuk lembaga pendidikan tanpa
mendapatkan keuntungan materi.

Pengkhianatan terhadap kepercayaan


a.

Pengkhianatan merupakan korupsi paling sederhana

b.

Orang yang berkhianat atau mengkhianati kepercayaan atau amanat yang


diterimanya adalah koruptor.

c.

Amanat dapat berupa apapun, baik materi maupun nonmateri

d.

Anggota DPR yang tidak menyampaikan aspirasi rakyat atau memanfaatkan jabatan
untuk kepentingan pribadi merupakan bentuk korupsi

D. Faktor Penyebab Korupsi


Berikut adalah faktor-faktor penyebab korupsi:
1

Penegakan hukum tidak konsisten.

Penyalahgunaan kekuasaan/ wewenang, takut dianggap bodoh kalau tidak menggunakan


kesempatan.

Langkanya lingkungan yang antikorup

October 9, 2016

83

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


4

Rendahnya pendapatan penyelenggara negara.

Kemiskinan, keserakahan: masyarakat kurang mamp u melakukan korupsi karena


kesulitan ekonomi. Sedangkan mereka yang berkecukupan melakukan korupsi karena
serakah, tidak pernah puas dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan
keuntungan.

Budaya memberi upeti, imbalan jasa, dan hadiah.

Konsekuensi bila ditangkap lebih rendah daripada keuntungan korupsi

Budaya permisif/ serba membolehkan; tidak mau tahu: menganggap biasa bila ada
korupsi, karena sering terjadi. Tidak peduli orang lain, asal kepentingannya sendiri
terlindungi

Soal Latihan 1
4.

Apa yang dimaksud dengan korupsi?

5.

Sebutkan arti dari gratifikasi!

6.

Tingkatan korupsi manakah yang paling banyak di Indonesia?

Sasaran 2 : DAMPAK MASIF KORUPSI


A. Dampak Ekonomi
Korupsi memiliki berbagai efek penghancuran yang hebat (an enermous destruction
effects) terhadap berbagai sisi kehidupan bangsa dan negara, khususnya dalam sisi ekonomi
sebagai pendorong utama kesejahteraan masyarakat.
Berbagai macam permasalahan ekonomi lain akan muncul secara alamiah apabila
korupsi sudah merajalela dan berikut ini adalah hasil dari dampak ekonomi yang akan terjadi,
yaitu:
1. Lesunya Pertumbuhan Ekonomi dan Investasi
Korupsi bertanggung jawab terhadap lesunya pertumbuhan ekonomi dan investasi dalam
negeri. Korupsi juga mempersulit pembangunan ekonomi dengan membuat distorsi dan
ketidak efisienan yang tinggi. Dalam sektor privat, korupsi meningkatkan ongkos niaga
karena kerugian dari pembayaran ilegal, ongkos manajemen dalam negosiasi dengan
pejabat korup, dan resiko pembatalan perjanjian atau karena penyelidikan. Penanaman
modal yang dilakukan oleh pihak dalam negeri (PMDN) dan asing (PMA) yang
semestinya bisa digunakan untuk pembangunan negara menjadi sulit sekali terlaksana,
October 9, 2016

84

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


karena permasalahan kepercayaan dan kepastian hukum dalam melakukan investasi,
selain masalah stabilitas.
2. Penurunan Produktifitas
Dengan semakin lesunya pertumbuhan ekonomi dan investasi, maka tidak dapat
disanggah lagi, bahwa produktifitas akan semakin menurun. Hal ini terjadi seiring dengan
terhambatnya sektor industri dan produksi untuk bisa berkembang lebih baik atau
melakukan pengembangan kapasitas. Program peningkatan produksi dengan berbagai
upaya seperti pendirian pabrik-pabrik dan usaha produktif baru atau usaha untuk
memperbesar kapasitas produksi untuk usaha yang sudah ada menjadi terkendala dengan
tidak adanya investasi.
3. Rendahnya Kualitas Barang dan Jasa Bagi Publik
Rusaknya jalan-jalan, ambruknya jembatan, tergulingnya kereta api, beras murah yang
tidak layak makan, tabung gas yang meledak, bahan bakar yang merusak kendaraan
masyarakat, tidak layak dan tidak nyamannya angkutan umum, ambruknya bangunan
sekolah, merupakan serangkaian kenyataan rendahnya kualitas barang dan jasa sebagai
akibat korupsi. Korupsi menimbulkan berbagai kekacauan di dalam sektor publik dengan
mengalihkan investasi publik ke proyek-proyek lain yang mana sogokan dan upah
tersedia lebih banyak.
4. Menurunnya Pendapatan Negara Dari Sektor Pajak
Kondisi penurunan pendapatan dari sektor pajak diperparah dengan kenyataan bahwa
banyak sekali pegawai dan pejabat pajak yang bermain untuk mendapatkan keuntungan
pribadi dan memperkaya diri sendiri. Kita tidak bisa membayangkan apabila
ketidakpercayaan masyarakat terhadap pajak ini berlangsung lama, tentunya akan
berakibat juga pada percepatan pembangunan, yang rugi juga masyarakat sendiri
5. Meningkatnya Hutang Negara
Korupsi yang terjadi di Indonesia akan meningkatkan hutang luar negeri yang semakin
besar. Dari data yang diambil dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Hutang, posisi utang
pemerintah terus meningkat dari tahun ke tahun.

October 9, 2016

85

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


Bila melihat kondisi secara umum, hutang adalah hal yang biasa, asal digunakan untuk
kegiatan yang produktif hutang dapat dikembalikan. Apabila hutang digunakan untuk
menutup defisit yang terjadi, hal ini akan semakin memperburuk keadaan
B. Dampak Sosial dan Kemiskinan Masyarakat
1 Mahalnya Harga Jasa dan Pelayanan Publik
Praktek korupsi yang terjadi menciptakan ekonomi biaya tinggi. Beban yang ditanggung
para pelaku ekonomi akibat korupsi disebut high cost economy.
Yang disalahgunakan adalah perangkat-perangkat publik atau pemerintahan dan yang
diuntungkan adalah kepentingan-kepentingan yang bersifat pribadi. Kondisi ekonomi
biaya tinggi ini berimbas pada mahalnya harga jasa dan pelayanan publik, karena harga
yang ditetapkan harus dapat menutupi kerugian pelaku ekonomi akibat besarnya modal
yang dilakukan karena penyelewengan yag mengarah ke tindak korupsi.
2 Pengentasan Kemiskinan Berjalan Lambat
Pengentasan kemiskinan dirasakan sangat lambat. Hal ini terjadi karena berbagai sebab
seperti lemahnya koordinasi dan pendataan, pendanaan dan lembaga. Karena korupsi dan
permasalahan kemiskinan itu sendiri yang pada akhirnya akan membuat masyarakat sulit
untuk mendapatkan akses ke lapangan kerja.
3 Terbatasnya Akses Bagi Masyarakat Miskin
Korupsi yang telah menggurita dan terjadi di setiap aspek kehidupan mengakibatkan
high-cost economy, di mana semua harga- harga melambung tinggi dan semakin tidak
terjangkau oleh rakyat miskin. Kondisi ini mengakibatkan rakyat miskin semakin tidak
bisa mendapatkan berbagai macam akses dalam kehidupannya seperti pendidikan,
kesehatan, rumah layak huni, informasi, hukum.
4 Meningkatnya Angka Kriminalitas
Dampak korupsi, tidak diragukan lagi dapat menyuburkan berbagai jenis kejahatan dalam
masyarakat. Melalui praktik korupsi, sindikat kejahatan atau penjahat perseorangan dapat
leluasa melanggar hukum, menyusupi berbagai oraganisasi negara dan mencapai
kehormatan.
5 Solidaritas Sosial Semakin Langka dan Demoralisasi

October 9, 2016

86

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


Orang semakin segan membantu sesamanya yang terkena musibah atau bencana, karena
tidak yakin bantuan yang diberikan akan sampai kepada yang membutuhkan dengan
optimal.
Soal latihan 2
4.

Jelaskan bagaimana korupsi dapat menurunkan produktifitas dalam sektor ekonomi!

5.

Jelaskan bagaimanja korupsi membebani utang negara!

6.

Bagaimana dampak korupsi terhadap kehidupan sosial masyarakat?

Sasaran 3 : KORUPSI DAN PENDEKATAN SOSIOLOGIS


A. Delapan Pertanyaan Tentang Korupsi
Svensson mengajukan dan membahas delapan pertanyaan mengenai korupsi sebagai berikut:
1 What is corruption?
Korupsi umumnya didefinisi adalah penyalahgunaan jabatan di sektor pemerintahan
(misuse of public office) untuk keuntungan pribadi. Korupsi yang didefinisikan seperti itu
meliputi, misalnya, penjualan kekayaan negara secara tidak sah oleh pejabat, kickbacks
dalam pengadaan di sektor pemerintahan, penyuapan, dan "pencurian" (embezzlement)
dana-dana pemerintah.
Sejumlah kerangka berpikir yang berupaya mencari kesamaan (parallel) korupsi telah
diajukan. Sekalipun masing- masing kerangka ini membantu menjelaskan hall- hall
tertentu, tidak satupun mampu menangkap gejala korupsi secara sempurna.
Tidak ada definisi yang sempurna menjelaskan fenornena korupsi. Beberapa kegiatan
menimbulkan pertanyaan mengenai legalitas atau keabsahan dari segi hukum, misalnya
lobbying, pemberian sumbangan kampanye partai politik, memberikan jabatan tinggi
dengan gaji besar kepada mantan pejabat, dan lain-lain.
2 Which countries are the most corrupt?
Inti dari pertanyaan ini adalah, bagaimana kita mengukur korupsi sedemikian rupa
sehingga kita memperoleh gambaran antar- negara. Kajian mengenai pengukuran korupsi
antar-negara oleh Knack dan Keefer (1995) dan Mauro (1995) didasarkan atas indikator
korupsi yang dihimpun oleh perusahaan-perusahaan yang berkecimpung dalam usaha
mengukur risiko, (private risk-assessment firms).
Bentuk yang kedua adalah indeks yang menunjukkan rata-rata dari berbagai peringkat
October 9, 2016

87

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


oleh sumber-sumber yang menghimpun data mengenai persepsi adanya korupsi. Di
antaranya yang paling populer adalah Corruption Perception Index, disingkat CPI.
Kaufmann, Kraay dan Mastruzzi (2003) menghasilkan ukuran yang nielengkapi
pengukuran tersebut di atas, yakni Control of Corruption (CoC).
Kesimpulannya adalah, ketiga indikator tersebut sebenarnya mencerminkan hal serupa.
Metodologi agregasi data di antara ketiga indikator itu hanya berbeda tipis. Korelasi
sederhana antara CoC (sejak 2002) dan CPI (sejak 2003) adalah 0,97. Sedangkan korelasi
antara CoC atau CPI dan skor dari ICRG (sejak 2001) adalah 0,75. Ketiga indeks ini
dalam ilmu statistik dikenal sebagai ordinal indices.
3 What are the common characteristics of countries with high corruption?
Kelompok teori pertama memandang mutu lembagadan karenanya juga korupsidibentuk oleh faktor- faktor ekonomi. Secara singkat, perkembangan lembaga- lembaga
merupakan respons terhadap tingkat pendapatan negara.
Kelompok institutional theories kedua menekankan peran lembaga- lembaga secara lebih
langsung. Teori-teori ini wring kali memandang lembaga-lembaga sebagai panting
menyerah (persistent) dan bawaan (inherited).
Pandangan lain dikemukakan LaPorta, Lopez-de Silanes, Shleifer, dan Vishny (1998,
1999) yang menekankan identitas penjajah, khususnya sistem hukum yang dibawanya
dari negara asal dan ditanamkan di wilayah jajahan. Mereka berpandangan bahwa Prancis
dan negara dengan sistem hukum sosialis (sebagai lawan dari negara-negara bekas
jajahan Inggris) lebih banyak mengeluarkan peraturan, dan peraturan mengarah kepada
korupsi.
Dalam pandangan kelompok teori kedua, lembaga- lembaga ekonomi dan politik
mernengaruhi tingkat korupsi, khususnya dalam ca ra-cara di mana lembaga- lembaga itu
membatasi persaingan pasar dan politik.
4 What is the magnitude of corruption?
Peringkat negara-negara berdasarkan persepsi tingkat korupsi bersifat subjektif.
Kesimpulan diambil bukan dari penelitian yang mendalam, melainkan atas dasar kesan,
dan pengamatan sekilas (anecdotal). Dalam beberapa tahun terakhir mulai ada penelitian
mengenai berapa besar sesungguhnya korupsi itu.

October 9, 2016

88

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


5 Do higher wages of bureaucrats reduce corruption?
Secara historis hal ini dialami Swedia. Swedia ya ng sekarang dikenal sebagai negara
yang paling tidak korup dalam survei lintas negara, dianggap negara yang paling korup di
Eropa pada abad ke-17 dan 18. Kenaikan gaji pegawai negeri Swedia, yang dibarengi
dengan kebijakan deregulasi, dikemukakan sebagai penyebab tumbuhnya administrasi
negara yang jujur dan kompeten pada bagian akhir abad ke-19 (Lindbeck, 1975).
Dasar teoretis dari gagasan untuk rekomendasi kebijakan menaikkan gaji pegawai negeri,
datang dari Becker dan Stigler (1974). Mereka menunjukkan bahwa dengan menaikkan
gaji pegawai negeri di atas gaji resmi, kita dapat memastikandengan kondisi tertentu
bahwa pegawai akan berperilaku jujur. Namun, apabila masalah korupsinya tidak
diselesaikan dan penegakan hukum tetap lemah, yang terjadi adalah tingkat korupsi
(biaya korupsi) justru akan meningkat (Mookherjee dan Png, 1995).
Bukti sistematis yang menunjukkan hubungan antara kenaikan gaji dan tingkat korupsi
memang meragukan. Rauch dan Evans (2000) dan Treisman (2000) menemukan tidak
ada bukti kuat mengenai hubungan antara kenaikan gaji dan turunnya tingkat korupsi.
Sebaliknya Van Rijckeghem dan Weder (2001) menunjukkan sebaliknya. Memang sulit
untuk mengukur korupsi dengan menggunakan data persepsi korupsi lintas negara. Sulit
untuk memastikan bahwa gaji yang tinggi merupakan fungsi dari rendahnya korupsi, atau
sebaliknya. Hal yang menambah kesulitan untuk menarik I.-I-simpulan adalah data gaji
yang agregat. Kenaikan gaji dari suatu kelompok penerima gaji mungkin tidak berkaitan
dengan korupsi oleh kelompok yang lain.
Ini kesimpulan yang penting bagi negara berkembang dengan tingkat korupsi yang tinggi.
Tanpa sistem pemantauan yang jujur dan konsisten, kenaikan gaji tidak akan menurunkan
tingkat korupsi.
6 Can competition reduce corruption?
Persaingan dapat menekan korupsi, berkaitan dengan pendekatan untuk menekan korupsi.
Ketika ada persaingan yang kuat, peserta tender akan persaingan berusaha menekan harga
jual mereka sekuat mungkin. Sehingga tidak tersedia dana untuk menyogok pejabat.
Dalam kenyataannya, hubungan antara laba perusahaan dan korupsi sangatlah kompleks,
dan secara analitis tidaklah selalu jelas.

October 9, 2016

89

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


7 Why have there been so few (recent) successful attempts to fight corruption?
Gebrakan- gebrakan sebenarnya berasumsi bahwa semakin banyak dan semakin balk
penegakan hukum, semakin besar korupsi bisa dibasmi. Padahal di banyak negara miskin,
lembaga hukum dan keuangannya lemah. Menambah somber daya kepada lembaga ini
sering kali bukan jawabannya.
8 Does corruption adversely affect growth?
Dalam kebanyakan teori yang menghubungkan korupsi dengan pertumbuhan ekonomi
yang lambat, tindakan korup itu sendiri bukanlah biaya sosial terbesar. Kerugian terbesar
dari korupsi adalah bahwa korupsi melahirkan perusahaan yang tidak efisien dan alokasi
talenta (SDM), teknologi, dan modal justru menjauhi penggunaannya yang paling
produktif bagi masyarakat. Para pengusaha (entrepreneur) yang baik menjauhi sektor
publik. Kalau mereka dipaksa untuk berkolusi dengan birokrasi yang korup, perilaku
mereka akan menjadi "tembak dan lari".
B. Tinjauan Sosiologis korupsi menurut Prof. Syed Hussein Alatas
1 Tipologi korupsinya tidak banyak berubah. Beberapa di antaranya merupakan penyakit
kekanak-kanakan alias mencuri terang-terangan.
2 Bahkan "pemain"- nya masih yang itu- itu jugs (meskipun sudah berganti nama) seperti
bank-bank BUMN yang menjacli Bank Mandiri atau Bank BNI, Pertamina, distributor
pupuk, ABRI (sekarang TNI), dan lain-lain.
3 Gebrakan membawa sukses "sesaat" seperti terlihat dalam hasil kerja Komisi Ernpat,
Opstib, Opstibpus, dan lain-lain.
C. Tinjauan Sosiologis Korupsi Menurut George Junus Aditjondro
Ada bebrapa kesimpulan yang dibuat Aditjondro mengenai korupsi Kepresidenan di
Indonesia, yang perlu diketahui akuntan forensik:
1 Bentuk oligark i berkak i tiga (Ista na, Ta ngs i, dan Part a i Penguasa) ya ng
melanggengkan dan mewariskan korupsi kepacla pemerintahan penerus.
2 Oligark i ya ng d ip imp in ole h is tr i (Nyo nya Tie n Soehar to) atau s ua mi ( Ta ufiq
Kie mas) pres iders ata u spouse- led o ligarc hs. Ad itjondro me na mba hka n bahwa
itula h sebabnya sejumla h penulis me ngingatka n Ta ufiq

Kie mas,

sua mi

Megawa ti Soekarnop utr i, untuk mena r ik pe lajara n dar i kasus M ike Arro yo

October 9, 2016

90

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


(suami Gloria Macapagal Arroyo) dan dari Asif Zardari (suami Benazir Bhutto).
3 Oligarki dan jejar ing b isnis dan politik yang membente ngi kep entingan ma ntar,
penguasa dengan segala cara "pemindahan kekayaan".
Soal Latihan 3
1.

Sebutkan delapan pertanyaan yang dibuat oleh Svennsons!

2.

Bagaimana tinjauan korupsi menurut Prof. Alatas?

3.

Bagaimana tinjauan korupsi menurut Aditjondro?

Sasaran 4 : NILAI DAN PRINSIP ANTI KORUPSI


A. Anti Korupsi
Anti korupsi merupakan kebijakan untuk mencegah dan menghilangkan peluang bagi
berkembangnya korupsi. Peluang bagi berkembangnya korupsi dapat dihilangkan dengan
melakukan perbaikan sistem (sistem hukum, sistem kelembagaa n) dan perbaikan manusianya
(moral dan kesejahteraan).
B. Nilai- nilai Anti Korupsi
1 Kejujuran
2 Kepedulian
3 Kemandirian
4 Kedisiplinan
5 Tanggung Jawab
6 Kerja keras
7 Sederhana
8 Keberanian
9 Keadilan
C. Prinsip-Prinsip Anti Korupsi
1. Akuntabilitas
Akuntabilitas adalah kesesuaian antara aturan dan pelaksanaan kerja. Semua lembaga
mempertanggung jawabkan kinerjanya sesuai aturan main baik dalam bentuk konvensi
(de facto) maupun konstitusi (de jure), baik pada level budaya (individu dengan individu)
maupun pada level lembaga (Bappenas: 2002). Lembaga- lembaga tersebut berperan
dalam sektor bisnis, masyarakat, publik, maupun interaksi antara ketiga sektor.
October 9, 2016

91

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


Akuntabilitas publik secara tradisional dipahami sebagai alat yang digunakan untuk
mengawasi dan mengarahkan perilaku administrasi dengan cara memberikan kewajiban
untuk dapat memberikan jawaban (answerability) kepada sejumlah otoritas eksternal
(Dubnik: 2005). Selain itu akuntabilitas publik dalam arti yang paling fundamental
merujuk kepada kemampuan menjawab kepada seseorang terkait dengan kinerja yang
diharapkan (Pierre: 2007). Seseorang yang diberikan jawaban ini haruslah seseorang yang
memiliki legitimasi untuk melakukan pengawasan dan mengharapkan kinerja (Prasojo:
2005).
Akuntabilitas publik memiliki pola-pola tertentu dalam mekanismenya, antara lain adalah
akuntabilitas program, akuntabilitas proses, akuntabilitas keuangan, akuntabilitas
outcome, akuntabilitas hukum, dan akuntabilitas politik (Puslitbang, 2001). Dalam
pelaksanaannya, akuntabilitas harus dapat diukur dan d ipertanggungjawabkan melalui
mekanisme pelaporan dan pertanggungjawaban atas semua kegiatan yang dilakukan.
Evaluasi atas kinerja administrasi, proses pelaksanaan, dampak dan manfaat yang
diperoleh masyarakat baik secara langsung maupun manfaat jangka panjang dari sebuah
kegiatan.
2. Transparansi
Salah satu prinsip penting anti korupsi lainnya adalah transparansi. Prinsip transparansi
ini penting karena pemberantasan korupsi dimulai dari transparansi dan mengharuskan
semua proses kebijakan dilakukan secara terbuka, sehingga segala bentuk penyimpangan
dapat diketahui oleh publik (Prasojo: 2007). Selain itu transparansi menjadi pintu masuk
sekaligus kontrol bagi seluruh proses dinamika struktural kelembagaan. Dalam bentuk
yang paling sederhana, transparansi mengacu pada keterbukaan dan kejujuran untuk
saling menjunjung tinggi kepercayaan (trust) karena kepercayaan, keterbukaan, dan
kejujuran ini merupakan modal awal yang sangat berharga bagi para pegawai untuk dapat
melanjutkan tugas dan tanggungjawabnya pada masa kini dan masa mendatang
(Kurniawan: 2010). Dalam prosesnya, transparansi dibagi menjadi lima yaitu:
a.

proses penganggaran

b.

proses penyusunan kegiatan

c.

proses pembahasan

October 9, 2016

92

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


d.

proses pengawasan

e.

proses evaluasi.

Proses penganggaran bersifat bottom up, mulai dari perencanaan, implementasi, laporan
pertanggung-jawaban dan penilaian (evaluasi) terhadap kinerja anggaran.
Proses penyusunan kegiatan atau proyek pembangunan terkait dengan proses pembahasan
tentang sumber-sumber pendanaan (anggaran pendapatan) dan alokasi anggaran
(anggaran belanja).
Proses pembahasan membahas tentang pembuatan rancangan peraturan yang berkaitan
dengan strategi penggalangan (pemungutan) dana, mekanisme pengelolaan proyek mulai
dari pelaksanaan tender, pengerjaan teknis, pelaporan finansial dan pertanggungjawaban
secara teknis.
Proses pengawasan dalam pelaksanaan program dan proyek pembangunan berkaitan
dengan kepentingan publik dan yang lebih khusus lagi adalah proyek-proyek yang
diusulkan oleh masyarakat sendiri. Proses lainnya yang penting adalah proses evaluasi.
Proses evaluasi ini berlaku terhadap penyelenggaraan proyek dijalankan secara terbuka
dan bukan hanya pertanggungjawaban secara administratif, tapi juga secara teknis dan
fisik dari setiap output pembangunan.
Hal-hal tersebut merupakan panduan bagi pegawai untuk dapat melaksanakan
kegiatannya agar lebih baik. Setelah pembahasan prinsip ini, pegawai sebagai individu
dan

juga

bagian

dari

masyarakat/

organisasi/

institusi

diharapkan

dapat

mengimplementasikan prinsip transparansi di dalam kehidupan keseharian pegawai.


3. Kewajaran
Prinsip anti korupsi lainnya adalah prinsip kewajaran. Prinsip fairness atau kewajaran ini
ditujukan untuk mencegah terjadinya manipulasi (ketidakwajaran) dalam penganggaran,
baik dalam bentuk mark up maupun ketidakwajaran lainnya. Sifat-sifat prinsip kewajaran
ini
terdiri dari lima hal penting yaitu komprehensif dan disiplin, fleksibilitas, terprediksi,
kejujuran, dan informatif.
Komprehensif dan disiplin berarti mempertimbangkan keseluruhan aspek, berkesinambungan, taat asas, prinsip pembebanan, pengeluaran dan tidak melampaui batas (off

October 9, 2016

93

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


budget), sedangkan fleksibilitas artinya adalah adanya kebijakan tertentu untuk mencapai
efisiensi dan efektifitas. Terprediksi berarti adanya ketetapan dalam perencanaan atas
dasar asas value for money untuk menghindari defisit dalam tahun anggaran berjalan.
Anggaran yang terprediksi merupakan cerminan dari adanya prinsip fairness. Prinsip
kewajaran dapat mulai diterapkan oleh pegawai
dalam kehidupan di dunia kerja. Misalnya, dalam penyusunan anggaran program kegiatan
kepegawaian harus dilakukan secara wajar. Demikian pula dalam menyusun Laporan
pertanggung-jawaban, harus disusun dengan penuh tanggung-jawab.
4. Kebijakan
Prinsip anti korupsi yang keempat adalah prinsip kebijakan. Pembahasan mengenai
prinsip ini ditujukan agar pegawai dapat mengetahui dan memahami kebijakan anti
korupsi. Kebijakan ini berperan untuk mengatur tata interaksi agar tidak terjadi
penyimpangan yang dapat merugikan negara dan masyarakat. Kebijakan anti korupsi ini
tidak selalu identik dengan undang-undang anti-korupsi, namun bisa berupa undangundang kebebasan mengakses informasi, undang-undang desentralisasi, undang-undang
antimonopoli, maupun lainnya yang dapat memudahkan masyarakat mengetahui
sekaligus mengontrol terhadap kinerja dan penggunaan anggaran negara oleh para pejabat
negara.
Aspek-aspek kebijakan terdiri dari isi kebijakan, pembuat kebijakan, pelaksana kebijakan,
kultur kebijakan. Kebijakan anti-korupsi akan efektif apabila di dalamnya terkandung
unsur-unsur yang terkait dengan persoalan korupsi dan kualitas dari isi kebijakan
tergantung pada kualitas dan integritas pembuatnya.
Kebijakan yang telah dibuat dapat berfungsi apabila didukung oleh aktor-aktor penegak
kebijakan, kejaksaan, pengadilan, pengacara, dan lembaga pemasyarakatan. Eksistensi
sebuah kebijakan tersebut terkait dengan nilai- nilai, pemahaman, sikap, persepsi, dan
kesadaran masyarakat terhadap hukum atau undang-undang anti korupsi. Lebih jauh lagi,
kultur kebijakan

ini akan

menentukan

tingkat partisipasi

masyarakat dalam

pemberantasan korupsi.
5. Kontrol Kebijakan

October 9, 2016

94

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


Prinsip terakhir anti korupsi adalah kontrol kebijakan. Kontrol kebijakan merupakan
upaya agar kebijakan yang dibuat betul-betul efektif dan mengeliminasi semua bentuk
korupsi. Pada prinsip ini, akan dibahas mengenai lembaga- lembaga pengawasan di
Indonesia, self-evaluating organization, reformasi sistem pengawasan di Indonesia,
problematika pengawasan di Indonesia. Bentuk kontrol kebijakan berupa partisipasi,
evolusi dan reformasi. Kontrol kebijakan berupa partisipasi yaitu melakukan kontrol
terhadap kebijakan dengan ikut serta dalam penyusunan dan pelaksanaannya dan kontrol
kebijakan berupa oposisi.
Soal Latihan 4
1.

Apakah yang dimaksud dengan anti korupsi?

2.

Sebutkan nilai-nilai anti korupsi!

3.

Sebutkan prinsip-prinsip anti korupsi!

Rangkuman
Korupsi adalah penyalahgunaan wewenang yang ada pada pejabat atau mahasiswa demi
keuntungan pribadi, keluarga dan teman atau kelompoknya, baik dalam bentuk Bribery,
extortion, maupun nepotism. Korupsi menghambat pembangunan, karena merugikan negara dan
merusak sendi-sendi kebersamaan dan menghianati cita-cita perjuangan bangsa.
Cara penaggulangan korupsi adalah bersifat Preventif dan Represif. Pencegahan (preventif)
yang perlu dilakukan adalah dengan menumbuhkan dan membangun etos kerja pejabat maupun
mahasiswa tentang pemisahan yang jelas antara milik negara atau perusahaan dengan milik
pribadi, mengusahakan perbaikan penghasilan (gaji), menumbuhkan kebanggaan-kebanggaan
dan atribut kehormatan diri setiap jabatan dan pekerjaan, teladan dan pelaku pimpinan atau
atasan lebih efektif dalam memasyarakatkan pandangan, penilaian dan kebijakan, terbuka untuk
kontrol, adanya kontrol sosial dan sanksi sosial,dan pendidikan dapat menjadi instrumen penting
bila dilakukan dengan tepat bagi upaya pencegahan tumbuh dan berkembangnya korupsi.
Untuk tindakan represif penegakan hukum dan hukuman yang berat perlu dilaksanakan dan
apabila terkait dengan implementasinya maka aspek individu penegak hukum menjadi dominan,
dalam perspektif ini pendidikan juga akan berperan penting di dalamnya.
Tes Formatif
1. Jelaskan bentuk-bentuk korupsi menurut buku saku KPK!
October 9, 2016

95

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


2.

Jelaskan bentuk-bentuk gratifikasi!

3.

Sebutkan Tingkatan dari korupsi!

Umpan Balik
Sebagai dasar penilaian apakah mahasiswa telah menguasai materi maka jawab pertanyaan tes
formatif dan gunakan kriteria sebagai berikut:
Jawaban Benar

Penilaian

Keterangan

Baik

Lanjut Bab Selanjutnya

Sedang

Lanjut Bab Selanjutnya

Kurang

Mengulang Bab Ini

Jawaban Tes Formatif


1.

Bentuk-bentuk korupsi menurut buku saku KPK adalah :

No. Bentuk Korupsi

Perbuatan Korupsi

1.

Kerugian Keuangan
Negara

Secara

melawan

hukum

melakukan

perbuatan

memperkaya diri sendiri atau orang lain atau korporasi;

Dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang


lain atau korporasi, menyalahgunakan kewenangan,
kesempatan atau sarana yang ada.

Suap Menyuap

Memberi atau menjanjikan sesuatu kepada Pegawai


Negeri atau penyelenggara negara dengan maksud
supaya berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu dalam
jabatannya;

Memberi

sesuatu

kepada

Pegawai

Negeri

atau

penyelenggara negara karena atau berhubungan dengan


kewajiban, dilakukan atau tidak dilakukan dalam
jabatannya;

Memberi hadiah atau janji kepada Pegawai Negeri


dengan mengingat kekuasaan atau wewenang yang
melekat pada jabatan atau kedudukannya atau oleh

October 9, 2016

96

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


pemberi hadiah/janji dianggap melekat pada jabatan
atau kedudukan tersebut;

Bagi Pegawai Negeri atau penyelenggara negara yang


menerima pemberian atau janji;

Bagi Pegawai Negeri atau penyelenggara negara yang


menerima hadiah atau janji, padahal diketahui atau
patut diduga bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan
untuk menggerakan agar melakukan sesuatu atau tidak
melakukan

sesuatu

dalam

jabatannya,

yang

bertentangandengan kewajibannya;

Bagi Pegawai Negeri atau penyelenggara negara yang


menerima hadiah, padahal diketahui atau patut diduga
bahwa hadiah tersebut diberikan sebagai akibat atau
disebabkan karena telah melakukan sesuatu atau tidak
melakukan

sesuatu

dalam

jabatannya,

yang

bertentangan dengan kewajibannya;

Bagi Pegawai Negeri atau penyelenggara negara yang


menerima hadiah atau janji, padahal diketahui atau
patut diduga bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan
karena kekuasaan atau kewenangan yang berhubungan
dengan jabatannya, atau yang menurut pikiran orang
yang memberikan hadiah atau janji tersebut ada
hubungan dengan jabatannya;

Memberi atau menjanjikan sesuatu kepada hakim


dengan maksud untuk mempengaruhi putusan perkara;

Memberi atau menjanjikan sesuatu kepada advokat


untuk menghadiri sidang pengadilan dengan maksud
untuk mempengaruhi nasihat atau pendapat yang akan
diberikan, berhubung dengan perkara;

October 9, 2016

97

MODUL AKUNTANSI FORENSIK

Hakim yang menerima hadiah atau janji, padahal


diketahui atau patut diduga bahwa hadiah atau janji
tersebut diberikan

untuk

memepengaruhi putusan

perkara.
Penggelapan dalam

Jabatan

Pegawai negeri atau orang selain pegawai negeri yang


ditugaskan menjalankan suatu jabatan umum secara
terus menerus atau untuk sementara waktu, dengan
sengaja menggelapkan uang atau surat berharga yang
disimpan karena jabatannya, atau uang/surat berharga
tersebut diambil atau digelapkan oleh orang lain atau
membantu dalam melakukan perbuatan tersebut;

Pegawai negeri atau orang selain pegawai negeri yang


ditugaskan menjalankan suatu jabatan umum secara
terus menerus atau untuk sementara waktu, dengan
sengaja memalsu buku-buku atau daftar-daftar yang
khusus untuk pemeriksaan adminstrasi;

Pegawai negeri atau orang selain pegawai negeri yang


ditugaskan menjalankan suatu jabatan umum secara
terus menerus atau untuk sementara waktu, dengan
sengaja menggelapkan, merusakkan atau membuat tidak
dapat dipakai barang, akta, surat atau daftar yang
digunakan untuk meyakinkan atau membuktikan di
muka pejabat yang berwenang, yang dikuasai karena
jabatannya;

Pegawai negeri atau orang selain pegawai negeri yang


ditugaskan menjalankan suatu jabatan umum secara
terus
menerus atau untuk sementara waktu, dengan sengaja
membiarkan

orang

lain

menghilangkan,

October 9, 2016

98

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


menghancurkan, merusakkan, atau membuat tidak dapat
dipakai barang, akta, surat, atau daftar tersebut;

Pegawai negeri atau orang selain pegawai negeri yang


ditugaskan menjalankan suatu jabatan umum secara
terus menerus atau untuk sementara waktu, dengan
sengaja

membantu

orang

lain

menghilangkan,

menghancurkan, merusakkan, atau membuat tidak dapat


dipakai barang, akta, surat, atau daftar tersebut;
Pemerasan

Pegawai negeri atau penyelenggara negara yang dengan


maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain
secara melawan hukum, atau dengan menyalahgunakan
kekuasaannya memaksa seseorang memberikan sesuatu,
membayar,

atau

menerima

pembayaran

dengan

potongan atau untuk mengerjakan sesuatu bagi dirinya


sendiri;

Pegawai negeri atau penyelenggara negara yang pada


waktu menjalankan tugas, meminta atau menerima
pekerjaan

atau

penyerahan

barang,

seolah-olah

merupakan utang kepada dirinya, padahal diketahui


bahwa hal tersebut bukan merupakan utang;

Pegawai negeri atau penyelenggara negara yang pada


waktu menjalankan tugas, meminta atau menerima atau
memotong pembayaran kepada Pegawai negeri atau
penyelenggara negara yang lain atau kepada kas umum,
seolah-olah Pegawai negeri atau penyenggara negara
yang lain atau kas umum tersebut mempunyai utang
kepadanya, padahal diketahui bahwa hal tersebut bukan
merupakan utang.

Perbuatan Curang

Pemborong, ahli bangunan yang pada waktu membuat

October 9, 2016

99

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


bangunan, atau penjual bahan bangunan yang pada
waktu menyerahkan bahan bangunan,

melakukan

perbuatan curang yang dapat membahayakan keamanan


orang atau barang, atau keselamatan negara dalam
keadaan perang;

Setiap orang yang bertugas mengawasi pembangunan


atau

menyerahkan

bahan

bangunan,

sengaja

membiarkan perbuatan curang;

Setiap orang yang pada waktu menyerahkan barang


keperluan TNI atau Kepolisian Negara RI melakukan
perbuatan

curang

yang

dapat

membahayakan

keselamatan negara dalam keadaan perang;

Setiap orang yang bertugas mengawasi penyerahan


barang keperluan TNI atau Kepolisian Negara RI
melakukan

perbuatan

curang

dengan

sengaja

membiarkan perbuatan curang.


Benturan Kepentingan

Dalam Pengadaan

Pegawai negeri atau penyelenggara

negara baik

langsung maupun tidak langsung dengan sengaja turut


serta dalam pemborongan, pengadaan atau persewaan
yang pada saat dilakukan perbuatan, untuk seluruh atau
sebagian

ditugaskan

untuk

mengurus

atau

mengawasinya.
Gratifikasi

Setiap

gratifikasi

kepada

penyelenggara dianggap

pegawai

negeri

pemberian suap,

atau

apabila

berhubungan dengan jabatannya dan yang berlawanan


dengan kewajiban tugasnya.
2.

Bentuk Gratifikasi
a. Gratifikasi Positif adalah pemberian hadiah dilakukan dengan niat yang tulus dari
seseorang kepada orang lain tanpa pamrih artinya pemberian dalam bentuk tanda
kasih tanpa mengharapkan balasan apapun.
October 9, 2016

100

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


b. Gratifikasi negatif adalah pemberian hadiah dilakukan dengan tujuan pamrih, pemberian
jenis ini telah membudaya di kalangan birokrat maupun pengusaha karena adanya
interaksi kepentingan.
3.

Tiga tingkatan korupsi adalah:


a.

Materi Benefit
Penyimpangan kekuasaan untuk mendapatkan keuntungan material baik bagi dirinya
sendiri maupun orang lain. Korupsi pada level inimerupakan tingkat paling
membahayakan karena melibatkan kekuasaan dan keuntungan material. Ini merupakan
bentuk korupsi yang paling banyak terjadi di Indonesia.

b.

Penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power)


Abuse of power merupakan korupsi tingkat menengah. Merupakan segala bentuk
penyimpangan yang dilakukan melalui struktur kekuasaan, baik pada tingkat negara
maupun lembaga-lembaga struktural lainnya termasuk lembaga pendidikan tanpa
mendapatkan keuntungan materi.

c.

Pengkhianatan terhadap kepercayaan (betrayal of trust)


(1) Pengkhianatan merupakan korupsi paling sederhana
(2) Orang yang berkhianat atau mengkhianati kepercayaan atau amanat yang
diterimanya adalah koruptor.
(3) Amanat dapat berupa apapun, baik materi maupun nonmateri
(4) Anggota DPR yang tidak menyampaikan aspirasi rakyat atau memanfaatkan jabatan
untuk kepentingan pribadi merupakan bentuk korupsi

October 9, 2016

101

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


BAB VIII
Pencegahan Fraud
SASARAN

SP 1 : Memberikan pemahaman akan pentingnya pencegahan fraud

PEMBELAJARAN

SP 2 : Memberikan pemahaman dimensi pencegahan fraud


SP 3 : Mengetahui Internal audit di Pencegahan Fraud

RUANG

Ruang lingkup modul ini adalah berasal dari Bab 8 yang membahas

LINGKUP

tentang Pencegahan Fraud pada buku buku Akuntansi Forensik dan Audit

BAHAN MODUL

Investigatif, karya Theodorus Tuanakotta

MANFAAT

Dengan

MEMPELAJARI

memahami dan menjelaskan tentang fraud..

mempelajari modul ini,

memudahkan pembaca dalam

MODUL
URUTAN

Urutan pembahasan materi dalam modul ini sebagai

PEMBAHASAN

berikut
1. Gejala Gunung Es
2. Pelajaran dari Report To The Nations
3. Pengendalian Intern
4. Langkah-langkah Pencegahan Fraud
5. Mengefektifkan fungsi Internal Audit dalam Pencegahan Fraud

Sasaran 1 : Gejala Gunung Es


Kecurangan bermula dari yang kecil, kemudian membesar dan pada akhirnya akan
mencelakakan. Untuk itu perlu ada semacam program yang terstruktur serta tertata baik menekan
praktik kecurangan. Tujuan utamanya mencegah dan mendeteksi kecurangan serta melakukan
langkah penyelamatan dari kerugian yang tidak diinginkan.

October 9, 2016

102

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


Menurut Vona (2011:8) dalam mendefenisikan fraud maka tindakan tersebut harus
dikategorikan sebagai berikut:
1. Tindakan yang dilakukan pada organisasi atau oleh organisasi atau untuk organisasi
2. Tidakan yang dilakukan oleh sumber internal atau eksternal. skenario dapat mencakup kedua
belah pihak.
3. Tindakan yang disengaja dan tersembunyi.
4. Tindakan biasanya ilegal atau menunjukkan kesalahan.
5. Tindakan menyebabkan hilangnya dana perusahaan, nilai perusahaan, atau reputasi
perusahaan, atau manfaat yang tidak sah apakah diterima secara pribadi atau oleh orang lain.
Dari definisi ini memperlihatkan bahwa dalam kecurangan ada penyimpangan dan atau
tindakan illegal, penipuan yang disengaja yang menguntungkan individu maupun organisasi,
artinya dibalik itu ada pihak yang dirugikan, sedangkan pelakunya bisa organisasi atau individu.
Artinya ini dapat dilakukan untuk manfaat dan/atau kerugian organisasi oleh orang di luar
atau orang lain dalam organisasi. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa kecurangan ini adalah
suatu penyajian yang palsu atau penyembunyian fakta yang material yang menyebabkan
seseorang memiliki sesuatu secara tidak sah.
Meskipun belum ada penelitian mengenai besarnya fraud (termasuk korupsi) di Indonesia
sukar untuk menyebutkan suatu angka yang handal. Tetapi penelitian yang dilakukan diluar
negeri (dengan sampling) mengindikasikan bahwa fraud yang terungkap, sekalipun secara
absolute besar, namun dibandingkan dengan seluruh fraud yang sebenarnya terjadi, relative
kecil.Inilah gejala gunung es.
Davia et al dalam tuanakotta (2010:272) mengelompokan fraud dalam tiga kelompok
sebagai berikut:
1. fraud yang sudah ada tuntutan hukum (prosecution), tanpa memperhatikan bagaimana
keputusan pengadilan.
2. fraud yang ditemukan, tetapi belum ada tuntutan hukum.
3. fraud yang belum ditemukan.
Yang bisa diketahui khalayak ramai adalah fraud dalam kelompok I. Dengan dibukanya
kepada umum laporan- laporan hasil pemeriksaan BPK, kelimpok II juga bisa diketahui. Namun
khusus untuk fraud yang berupa tindak pidana (korupsi misalnya), hasil pemeriksaan tersebut

October 9, 2016

103

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


masih berupa indikasi. Kalau sudah lebih konkrit sekalipun, itu adalah khusus kasus-kasus yang
berkenaan dengan keuangan Negara.
Fraud dalam kelompok II lebih sulit lagi diketahui karena adanya lembaga perlindungan
hukum yang sering dimanfaatkan tertuduh, yakni pencemaran nama baik apalagi fraud dalam
kelompok III, tertutup rapat, hanya diketahui Tuhan dan pelakunya.
Kelompok I hanyalah 20% sedangkan kelompok II dan III masing- masing 40%,
kesimpulannya lebih banyak yang tidak kita ketahui daripada yang kita ketahui tentang fraud.
Yang lebih gawat lagi, fraud ditemukan secara kebetulan.
Soal Latihan 1
7.

Sebutkan 3 kelompok fraud!

8.

Kenapa fraud yang ditemukan secara kebetulan bisa gawat?

9.

Sebtkan maksud dari gejala gunung es!

sasaran 2 : Pelajaran dari Report To The Nations


Mempelajari ringkasan dari ACFE menunjukkan penerapan pengendalian untuk mencegah
fraud dan besarnya kerugian yang dapat dicegah. Berikut penjelasan singkat dari anti fraud
controls dan pengurangan kerugian (%)
AFC

Surprise Audit

66,2

Jobs Rotation

61,0

Hotline

60,0

Employee support program

56,0

Fraud training for managers

55,9

Internal audit

52,8

Fraud training for employees

51,9

Anti fraud policy

49,2

External audit of ICOFR

47,8

Code of conduct

45,7

Management review of IC

45,0

External audit of F/S

40,0

October 9, 2016

104

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


Independent audit comitee

31,5

Management certification of F/S

29,5

Rewards for whistleblowers

28,7

Sasaran 3 : pengendalian intern


Pengendalian intern atau internal control mengalami perkembangan dalam pemikiran dan
praktiknya. Oleh karena itu, Davia et al. dalam tuanakotta (2010:275) mengingatkan kita untuk
meyakinkan apa yang dimaksud dengan pengendalian intern, ketika orang menggunakannya
dalam percakapann sehari-hari. Mereka mencatata sedikitnya empat defenisi pendendalian intern
sebagai berikut:
1. Definisi 1 (sebelum September 1992)
The condition sought by, and/or resulting from, processes undertaken by an entity to
prevent and deter fraud, terjemahan: kondisi yang diinginkan, atau merupakan hasil, dari
berbagai proses yang dilaksanakan suatu entitas untuk mencegah dan menimbulkan efek jera
terhadap fraud (sebelum definisi COSO).
2. Definisi 2 (sesudah tahun 1992)
A process, effected by an entitys board of directors, management, and other personnel,
designed to provide reasonable assurance regarding the achie vement of effectiveness and
afficiency of operations, reliability of financial reporting, and compliance with applicable
laws and regulations, terjemahan : suatu proses yang dirancang dan dilaksanakan oleh Dewan,
manajemen dan pegawai untuk memberikan kepastian yang memadai dalam mencapai
kegiatan usaha yang efektif dan efisien, kehandalan laporan keuangan, dan kepatuhan
terhadap undang-undang dan peraturan lainnya yang relevan.
Definisi ini dikenal sebagai definisi COSO (the Committee of Sponsoring Organizations
of the Treaddway Commission) yang merambah ke spektrum fungsi manajemen yang luas,
dan bukan pada fraud semata-mata.
Pertama, definisi COSO langsung menyinggung tujuan bisns yang paling mendasar
yakni pencapaian sasaran-sasaran kinerja dan profitabilitas, dan pengamanan sumber daya.
Kedua, berkenaan dengan pembuatan laporan keuangan yang handal, termasuk laporan-

October 9, 2016

105

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


laporan interim dan pengumuman kepada khalayak ramai seperti terbitan mengenai laba.
Ketiga, definisi ini menekankan ketaatan kepada ketentuan perundang-undangan.
Definisi COSO sangat luas, ingin mengatur segala-galanya sehingga kehilangan
kekhasan, dalam laporan COSO: Perspektif yang berbeda-beda mengenai pengendalian intern
bukanlah tidak perlu. Pengendalian intern berurusan dengan tujuan entitas dan kelompok yang
berbeda-beda tertarik dengan tujuan-tujuan yang berbeda dan untuk alasan yang berbeda.
Selanjutnya, laporan COSO menulis: definisi yang mempunyai tujuan khusus. Meskipun
suatu entitas mempertimbangkan efektivitas dari ketiga kelompok tujuan bisnis,ia mungkin
juga ingin memusatkan perhatian pada kegiatan atau tujuan tertentu. Dengan menentukan dan
menjelaskan tujuan-tujuan khusus, definisi pengendalian intern dengan tujuan yang khas..
3. Definisi 3 (AICPA 1988)
For the purposes of an audit of financial statement balances, an entitys internal control
structure consists of the following three elements:the control environment,the accounting
system,and control procedures.Statement on Auditing Standards No.53, April 1988.
Terjemahan: untuk tujuan audit saldo laporan keuangan, struktur pengendalian intern suatu
entitas terdiri atas tiga unsur: lingkungan pengendalian, sistem akuntansi, dan prosedurprosedur pengendalian. Definisi ini sederhana tetapi menimbulkan kesulitan dalam
pelaksanaannya, terutama bagi anggota AICPA yang mengharapkan adanya petunjuk.
SAS 53 agaknya memagari penerapan pengendalian intern untuk mencegah dan
mengungkapkan fraud pada fraud yang dilakukan karyawan, yang nilainya tidak besar:
kecurangan oleh karyawan biasanya tidak besar jumlahnya dan disembunyikan dengan cara
yang tidak membuat aktiva bersih dan laba bersih salah saji. Ketidak beresan semacam ini
lebih efisien dan efektif ditangani dengan struktur pengendalian intern yang berfungsi dan
dengan penutupan asuransi kerugian terhadap karyawan. Selanjutnya SAS menegaskan bahwa
pengendalian intern jangan diharapkan mencegah atau membuat jera terhadap fraud yang
dilakukan manajemen: penyimpangan yang besar-besar oleh manajemen di eselon atas jarang
terjadi dan tidak dapat dicegah oleh prosedur pengendalian tertentu karena manajemen tingkat
tinggi itu berada diatas pengendalian yang membuat jera pegawai (kecil) atau manajemen
senior dengan mudah mematikan atau mengabaikan pengendalian tersebut.
4. Definisi 4 (khusus untuk mencegah fraud)

October 9, 2016

106

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


A system of special purpose processes and procedures designed and practiced for the
primary if not sole purpose of preventing or deterring fraud. Terjemahan: suatu sistem dengan
proses dan prosedur yang bertujuan khusus, dirancang dan dilaksanakan untuk tujuan utama,
kalau bukan satu-satunya tujuan untuk mencegah dan menghalangi (dengan membuat jera)
terjadinya fraud.
Inilah definisi pengendalian intern yang secara khusus atau spesifik ditujukan untuk
menangani fraud atau fraud-specific internal control yang akan dipakai dalam pembahasan
berikut.
Pengendalian Intern Aktif
Pengendalian Intern

adalah pengendalian intern yang dilakukan secara aktif. Aktif

biasanya merupakan bentuk pengendalian intern yang paling banyak di terapkan. Saranasarana
Pengendalian Intern Aktif yang sering di pakai pada umumnya sudah dikenal dalam sistem
akuntansi, meliputi:
1

Tandatangan
Tanda tangan merupakan sarana Pengendalian Intern Aktif karena dokumen yang
seharusnya ditandatangani tetapi belum ditandatangani adalah tidak sah. Asumsinya tanpa
tandatangan apa musti dilaksanakan tidak dapat terlaksana (pembayaran,transfer,dll).
Masalahnya adalah bahwa mereka yang perlu mengetahui benar tidaknya tandatangan
(1) bukan ahli membaca tandatangan atau tulisan tangan; (2) tidak mempunyai kesempatan
yang cukup untuk mempelajari tandatangan yang ada pada dokumen yang bersangkutan; (3)
tidak mempunyai sample tandatangan untuk mengetahui otentik/tidaknya tandatangan; (4)
tandatangannya sendiri tidak mempunyai titik-titik yang memungkinkan analisis
tandatangan yang memadai dan (5) tidak mempunyai pengetahuan mengenai siapa yang
berhak menandatangani.

Tandatangan kaunter (countersigning)


Pembubuhan lebih dari satu tandatangan dianggap lebih aman, khususnya bagi pihak
ketiga atau pihak diluar perusahaan atau lembaga yang berangkutan. Anggapannya adalah
penandatanganan lainnya mengawasi rekannya. Dalam fraud, memalsu lebih dari satu
tandatangan tidak lebih sukar dari memalsukan satu tandatangan.

Password dan PIN (Personnel Identification Numbers )

October 9, 2016

107

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


Sarana ini menjadi popular ketika manusia berinteraksi dengan komputer. Tanpa
password atau PIN, seseorang tidak bisa mengakses apa yang diinginkannya.karena itu
password atau PIN dianggap sarana dalam Pengendalian Intern Aktif. Kuncinya adalah
kerahasiaan. Masalahnya, orang mencatat password atau PIN-nya. Catatan ini bisa
ditemukan oleh pelaku fraud. Lebih dari itu ada kecenderungan orang meminjamkan
password atau PIN kepada rekannya.
4

Pemisahan tugas
Pemisahan tugas menghndari seseorang dapat melaksanakan sendiri seluruh transaksi.
Merupakan bagian dari Pengendalian Intern Aktif karena secara teoritis pelaku fraud yang
bertindak seorang diri tidak dapat melaksanakan fraudnya. Latar belakang pemikirannya
orang-orang yang tugasnya dipisahkan, tidak bersekongkol.

Pengendalian asset secara fisik


Pengendalian asset secara fisik pada dasarnya mengatur gerak-gerik barang (masuk,
keluar, dan penyimpanannya) memerlukan otorisasi. Di sini justru titik lemahnya. Dokumen
dan tandatangan mudah dipalsukan.

Pengendalian persediaan secara real time (Real-time inventory control)


Ini adalah perpetual inventory yang mengikuti pergerakan persediaan secara on time.
Persediaan diberi bar code atau bahkan ditanam dengan radio chip yang merekam
keberadaannya. Keuntungan nyatanya adalah pencatatan menjadi akurat. Kelemahannya
sistem automatisasi juga mudah dimanipulasi.

Pagar, gembok, dan semua bangunan dan penghalang fisik


Perlindungan melalui pembatasan akses terhadap harta berharga sangat popular. Harga
peralatan canggih yang mahal seringkali memberi rasa aman yang palsu.

Pencocokkan dokumen
Pencocokkan antara order pembelian, dokumen penerimaan barang, dan nota tagihan
mencoba menghindari selisih-selisih dan kerugian bagi perusahaan.

Formulir yang sudah dicetak nomornya (Pre-numbered accountable forms)


Mencegah penggunaan formulis berganda, bahwa formulir digunakan sesuai urutan dan
gagasannya sangat sederhana.
Pengendalian Intern Pasif

October 9, 2016

108

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


Dalam Pengendalian Intern Pasif dari permukaan kelihatan tidak ada pengamanan namun
ada peredam yang membuat pelanggar atau pelaku fraud jera. Peredam ini diumumkan secara
luas, dan sistemnya memastikan hal ini.
Perbedaan antara Pengendalian Intern Aktif dan Pengendalian Intern Pasif adalah:
1

Dalam hal biaya, Pengendalian Intern Aktif jauh lebih mahal dari Pengendalian Intern Pasif.

Pengendalian Intern Aktif kasat mata atau dapat diduga dan dapat ditembus. Pengendalian
Intern Pasif dilain pihak tidak kasat mata dan tidak dapat diduga (orang yang tertangkap
tangan seolah-olah mendapat lotere atau terkutuk) dan karenanya tidak terelakkan. Dalam
Pengendalian Intern Pasif pertanyaannya adalah seberapa nekadnya si calon pelaku.
Beberapa bentuk lain dari Pengendalian Intern Pasif meliputi :
a.

Pengendalian yang khas untuk masalah yang dihadapi (Customized Controls)


Sebenarnya customized controls merupakan hasil dari berpikir positif, ketika
Pengendalian Intern Aktif tidak memberikan pemecahan. Contohnya dari suatu lembaga
di Amerika. Secara tidak sengaja terungkap fraud yang dilakukan suatu kontraktor. Ia
hanya mengecat satu kali (satu lapisan cat) tetapi menagih kepada lembaga ini seolaholah menagih mengecat dua kali, karenanya lembaga tersebut mempertimbangkan
Pengendalian Intern Aktif yang mana mengeluarkan biaya yang sangat tinggi. Kegagalan
Pengendalian Intern Aktif memberi solusi, menyebabkan seseorang yang berfikir positif
menemukan jawaban yang brilian. Setiap pengecatan pertama selesai, kontraktor juga
memberi lapisan tipis dengan warna terang lalu melaksanakan pengecatan kedua dan
biayanya tidak seberapa. Pengendalian Intern Pasif ini Customized untuk masalah yang
dihadapi.

b.

Jejak Audit (Audit Trails)


Sistem yang dikomputerisasi seringkali menggunakan Pengendalian Intern Pasif, karena
ada jejak-jejak atau perubahan dalam catatan, yang ditinggalkan atau terekam dalam
sistem. Ini akan menjadi Pengendalian Intern Pasif yang efektif apabila jejak-jejak yang
berupa fraud dapat menunjuk kepada pelakunya.

c.

Audit yang fokus (Focused Audits)

October 9, 2016

109

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


Focused audit adalah audit terhadap hal- hal tertentu yang sangat khusus, yang
berdasarkan pengalaman rawan dan sering dijadikan sasaran fraud. Mungkin ada
petunjuk tentang profile tertentu, apakah dari perbuatannya atau jenis transaksinya.
Secara psikologis, focused audits juga memberi kesan ja ngan coba-coba lakukan hal
itu, selalu ketahuan deh!
d.

Pengintaian atas kegiatan kunci (surveillance Of Key Activities)


Pengintaian bisa dilakukan denga bermacam- macam cara, mulai dari kamera video yang
merekam kegiatan di suatu ruangan sampai ruang kaca de ngan cermin satu arah.
Surveillance juga dapat dilakukan dalam jaringan computer, dari waktu ke waktu untuk
melihat kegiatan pegawai yang memanfaatkan fasilitas kantor.

e.

Pemindahan tugas (Rotation Of Key Personnel


Rotasi karyawan kunci merupakan Pengendalia n Intern Pasif yang efektif kalau
kehadirannya merupakan persyaratan utama dalam melakukan fraud. Seorang supervisor
di bank harus ada di bank kalau ia menyelewengkan uang pelanggab yang mendapat
kesan bahwa itu transaksi bank yang sah. Kalau ia harus mengambil cuti dan tugasnya
diambil alih oleh rekannya, mekanisme pengawasannya berjalan tanpa biaya tambahan.

Soal latihan 3
1.

Apa kegunaan tandatangan dalam pencegahan fraud?

2.

Terdapat berapa definisi mengenai pencegahan fraud? Sebutkan!

3.

Mengapa pengendalian intern aktif lebih mahal daripada yang pasif?

Sasaran 4 : langkah pencegahan fraud


AICPA dan beberapa organisasi profesional lainya ACFF, IMA, dan society for Human
Resource management, mensposori sebuah pedoman atau guide tentang pencegahaan
kecuranganManagement Antifraud Programs and control:guidance to help prevent and detect
Fraud
Menurut Zabihollah Rezaee dan Richard Riley (2005:7) menjelaskan ada tiga unsur yang
harus diperhatikan oleh pihak manajemen perusahaan bila ingin mencegah terjadinya t indakan
fraud, yaitu:
1

Menciptakan dan mengembalikan budaya yang menghargai kejujuran dan nilai- nilai etika
yang tinggi.
October 9, 2016

110

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


Salah satu tanggung jawab organisasi adalah menumbuhkan budaya yang menghargai
kejujuran dan nilai- nilai etika yang tinggi dan menjelaskan perilaku yang diharapakan dan
kesadaran dari masing- masing pegawai, menciptakan budaya yang menghargai kejujuran
dan nilai-nilai etika tinggi hendaknya mencangkup hal-hal sebagai berikut:
a. Setting the at the top
Penelaahan peraturan perundang-undangan, tujuanya untuk memperoleh pengertian
mengenai peraturan-peraturan yang bersifat umum yang ditetapkan pada semua instansi
atau organisasi.
b. Merekrut dan mempromosikan karyawan yang tepat
Diadakan penyeleksian pada setiap perekrutan staff dan

ditempa tkan sesuai dengan

bidang keahlianya.
c. Pelatihan
Setiap anggota pada sub-sub organisasi seharusnya mengikuti pelatihan- pelatihan
diadakan

oleh

pemerintah

kota

bandung

yang

untuk meningkatkan profesionalisme

dan kualitas kerja karyawan maupun entitas itu sendiri.


d. Disiplin.
Seluruh staff baik karyawan maupun atasan harus mentaati peraturan- peraturan yang
telah dibuat oleh instansi pemeritah kota bandung, agar kinerja staff dapat berjalan lancar.
2

Penerapan dan evaluasi Proses Pengendalian anti kecurangan.


Fraud

tidak akan

terjadi tanpa persepsi adanya kesempatan dan menyembunyikan

perbuatannya organisasi hendaknya proaktif mengurangi kesempatan dengan :


a. mengidentifikasi dan mengukur resiko fraud
Identifikasi fraud mencakup identifikasi indikator- indikator kecurangan sebenarnya dapat
teridentifikasi jika pengendalian internal dalam entitas tersebut berjalan dengan baik.
Beberapa hal yang harus dimiliki oleh entitas agar pendeteksian fraud lebih lancar
antara lain :
(1) Memiliki

keahlian

dan

pengetahuan

yang

memadai

dalam

mengidentifikasi indikator terjadinya fraud.

October 9, 2016

111

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


(2) Memiliki sikap kewaspadaan yang tinggi terhadap kemungkinan kelemahan
pengendalian intern dengan melakukan serangkaian pengujian untuk menemukan
indikator terjadinya fraud.
(3) Memiliki keakuratan & kecermatan dalam mengevaluasi indikator- indikator fraud
tersebut.
b. Pengurangan risiko fraud
(1) Memastikan ketaatan terhadap kebijakan, rencana dan prosedur yang telah ditetapkan
oleh manajemen.
(2) Memastikan seberapa jauh harta perusahaan dipertanggungjawabkan dan dilindungi
dari

kemungkinan

terjadinya

segala

bentuk

pencurian,

kecurangan

dan

penyalahgunaan.
(3) Memastikan bahwa pengelolaan data yang dikembangkan dalam organisasi dapat
dipercaya.
(4) Menilai mutu pekerjaan setiap bagian dalam melaksanakan tugas yang diberikan oleh
manajemen.
(5) Menyarankan

perbaikan-perbaikan

operasional

dalam

rangka meningkatkan

efisensi dan efektifitas


c. implementasi dan monitoring pengendalian intern.
Implementasi dan monitoring pengendalian intern yang diterapkan kepada bawahan
akan sangat meminimalisir terjadinya fraud tentunya dengan mengandalkan kemampuan
teknis yaitu pengetahuan akuntansi dan auditing yang dibantu dengan kemampuan
penyidikan
3

Pengembangan Proses Pengawasan (Oversight Process)


Soal latihan 4

1.

Sebutkan tiga unsur yang harus diperhatikan untuk mencegah fraud!

2.

Apa tanggung jawab organisasi dalam mencegah fraud?

3.

Sebutkan pengembangan proses pengawasan!

Sasaran 5 : mengefektifkan fungsi internal audit


Walaupun internal auditor tidak dapat menjamin bahwa kecurangan tidak
terjadi,

namun

ia

harus

menggunakan

akan

kemahiran jabatannya dengan saksama sehingga


October 9, 2016

112

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


diharapkan mampu mendeteksi terjadinya kecurangan dan dapat memberikan saran-saran yang
bermafaat kepada manajemen untuk mencegah terjadinya kecurangan.
Beberapa hal yang harus diperhatikan oleh manajemen agar fungsi internal
bisa

efektif

membantu

manajemen

audit

dalam melaksanakan tanggungjawabnya dengan

memberikan analisa, penilaian, saran dan komentar mengenai kegiatan yang diperiksanya
adalah:
1. Internal audit departemen

harus

mempunyai kedudukan

yang independen dalam

organisasi perusahaan dalam artikata ia tidak boleh terlibat kegiatan operasional perusahaan
dan bertanggungjawab kepada atau melaporkan kegiatannya kepada top manajemen
2. Internal audit

departemen harus mempunyai uraian tugas secara tertulis, sehingga setiap

auditor mengetahui dengan jelas apa yang menjadi tugas, wewenang dan tanggungjawabnya.
3. Internal

audit harus mempunyai

internal audit manual

yang berguna untuk

a.

mencegah terjadinya penyimpangan dalam pelaksanaan tugas

b.

menentukan standar yang berguna untuk mengukur dan meningkatkan performance

c.

memberi keyakinan bahwa hasil akhir internal audit departemen sesuai dengan
requirement dari internal audit director

4. Harus ada dukungan yang kuat dari top manajemen

kepada internal audit departemen

Dukungan tersebut dapat berupaya:


a.

penempatan internal audit departemen dalam posisi yang independen

b.

penempatan audit staf dengan gaji yang cukup menarik

c.

penyediaan

waktu

yang

cukup

dari

top

manajemen

untuk membaca,

mendengarkan dan mempelajari laporan laporan internal audit departemen dan respon
yang cepat dan tegas terhadap saran-saran perbaikan yang diajukan oleh internal
auditor
5. Internal audit

departemen harus memiliki sumber daya yang profesional, capable, bisa

bersikap objective dan mempunyai integritas serta loyalitas yang tinggi


Internal auditor harus bisa bekerjasama dengan akuntan public Jika internal auditor
sudah bisa bekerja secara efisien dan efektif dan bisa bekerjasama dengan akuntan publik,
maka audit fee yang harus dibayar kepada KAP bisa ditekan menjadi lebih rendah

October 9, 2016

113

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


karena

hasil

kerja

internal

auditor

bisa

mempercepat

dan mempermudah

penyelesaian pekerjaan KAP


Soal latihan 5
1.

Mengapa internal audit departemen harus independen?

2.

Mengapa harus ada dukungan kuat dari top manajemen dalam mngefektifkan fuyngsi
internal audit?

3.

Apa guna manual dalam internal audit?

Rangkuman
6.

Kecurangan bermula dari yang kecil, kemudian membesar dan pada akhirnya akan
mencelakakan. Untuk itu perlu ada semacam program yang terstruktur serta tertata baik
menekan praktik kecurangan. Tujuan utamanya mencegah dan mendeteksi kecurangan serta
melakukan langkah penyelamatan dari kerugian yang tidak diinginkan.
Menurut Vona (2011:8) dalam mendefenisikan fraud maka tindakan tersebut harus
dikategorikan sebagai berikut:
a. Tindakan yang dilakukan pada organisasi atau oleh organisasi atau untuk organisasi
b. Tidakan yang dilakukan oleh sumber internal atau eksternal. skenario dapat mencakup
kedua belah pihak.
c. Tindakan yang disengaja dan tersembunyi.
d. Tindakan biasanya ilegal atau menunjukkan kesalahan.
e. Tindakan menyebabkan hilangnya dana perusahaan, nilai perusahaan, atau reputasi
perusahaan, atau manfaat yang tidak sah apakah diterima secara pribadi atau oleh orang
lain

7. Pengendalian internal terbagi atas pengendalian internal aktif dan pengendalian internal
pasif
8. Agar internal audit efektif :
a. Internal audit departemen harus mempunyai kedudukan yang independen dalam
organisasi perusahaan
b. Internal audit departemen harus mempunyai uraian tugas secara tertulis.
c. Internal audit harus mempunyai internal audit manual

October 9, 2016

114

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


d. Harus

ada

dukungan yang kuat dari top

manajemen kepada internal audit

departemen
e. Internal audit departemen harus memiliki sumber daya yang profesional, capable, bisa
bersikap objective dan mempunyai integritas serta loyalitas yang tinggi
Tes Formatif
1.

Dalam kelompok fraud, kelompok nomor lebih sulit untuk ditangani, sebutkan alasannya!

2.

Sebutkan empat definisi pengendalian internal!

3.

Sebutkan langkah-langkah pencegahan fraud secara pasif!

Umpan Balik
Sebagai dasar penilaian apakah mahasiswa telah menguasai materi maka jawab pertanyaan tes
formatif dan gunakan kriteria sebagai berikut:
Jawaban Benar

Penilaian

Keterangan

Baik

Lanjut Bab Selanjutnya

Sedang

Lanjut Bab Selanjutnya

Kurang

Mengulang Bab Ini

Jawaban Tes Formatif


1. Fraud dalam kelompok II lebih sulit lagi diketahui karena adanya lembaga perlindungan
hukum yang sering dimanfaatkan tertuduh, yakni pencemaran nama baik apalagi fraud dalam
kelompok III, tertutup rapat, hanya diketahui Tuhan dan pelakunya. Kelompok I hanyalah
20%,sedangkan kelompok II dan III masing- masing 40%, kesimpulannya lebih banyak yang
tidak kita ketahui daripada yang kita ketahui tentang fraud. Yang lebih gawat lagi, fraud
ditemukan secara kebetulan.
2. Empat definisi
a. Definisi 1 (sebelum September 1992)
The condition sought by, and/or resulting from, processes undertaken by an entity to
prevent and deter fraud,
b. Definisi 2 (sesudah tahun 1992)

October 9, 2016

115

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


A process, effected by an entitys board of directors, management, and other personnel,
designed to provide reasonable assurance regarding the achievement of effectiveness and
afficiency of operations, reliability of financial reporting, and compliance with applicable
laws and regulations
c. Definisi 3 (AICPA 1988)
For the purposes of an audit of financial statement balances, an entitys internal control
structure consists of the following three elements:the control environment,the accounting
system,and control procedures.Statement on Auditing Standards No.53, April 1988.
d. Definisi 4 (khusus untuk mencegah fraud)
A system of special purpose processes and procedures designed and practiced for the
primary if not sole purpose of preventing or deterring fraud.
3. Langkah-langkahnya adalah :
a. Pengendalian yang khas untuk masalah yang dihadapi (Customized Controls)
Sebenarnya customized controls merupakan hasil dari berpikir positif, ketika Pengendalian
Intern Aktif tidak memberikan pemecahan. Contohnya dari suatu lembaga di Amerika.
Secara tidak sengaja terungkap fraud yang dilakukan suatu kontraktor. Ia hanya mengecat
satu kali (satu lapisan cat) tetapi menagih kepada lembaga ini seolah-olah menagih
mengecat dua kali, karenanya lembaga tersebut mempertimbangkan Pengendalian Intern
Aktif yang mana mengeluarkan biaya yang sangat tinggi. Kegagalan Pengendalian Intern
Aktif memberi solusi, menyebabkan seseorang yang berfikir positif menemukan jawaban
yang brilian. Setiap pengecatan pertama selesai, kontraktor juga memberi lapisan tipis
dengan warna terang lalu melaksanakan pengecatan kedua dan biayanya tidak seberapa.
Pengendalian Intern Pasif ini Customized untuk masalah yang dihadapi
b. Jejak Audit (Audit Trails)
Sistem yang dikomputerisasi seringkali menggunakan Pengendalian Intern Pasif, karena
ada jejak-jejak atau perubahan dalam catatan, yang ditinggalkan atau terekam dalam
sistem. Ini akan menjadi Pengendalian Intern Pasif yang efektif apabila jejak-jejak yang
berupa fraud dapat menunjuk kepada pelakunya
c. Audit yang fokus (Focused Audits)

October 9, 2016

116

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


Focused audit adalah audit terhadap hal- hal tertentu yang sangat khusus, yang berdasarkan
pengalaman rawan dan sering dijadikan sasaran fraud. Mungkin ada petunjuk tentang
profile tertentu, apakah dari perbuatannya atau jenis transaksinya
d. Pengintaian atas kegiatan kunci (surveillance Of Key Activities)
Pengintaian bisa dilakukan denga bermacam- macam cara, mulai dari kamera video yang
merekam kegiatan di suatu ruangan sampai ruang kaca dengan cermin satu arah.
Surveillance juga dapat dilakukan dalam jaringan computer, dari waktu ke waktu untuk
melihat kegiatan pegawai yang memanfaatkan fasilitas kantor.
e. Pemindahan tugas (Rotation Of Key Personnel)
f. Rotasi karyawan kunci merupakan Pengendalian Intern Pasif yang efektif kalau
kehadirannya merupakan persyaratan utama dalam melakukan fraud. Seorang supervisor di
bank harus ada di bank kalau ia menyelewengkan uang pelanggab yang mendapat kesan
bahwa itu transaksi bank yang sah. Kalau ia harus mengambil cuti dan tugasnya diambil
alih oleh rekannya, mekanisme pengawasannya berjalan tanpa biaya tambahan

October 9, 2016

117

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


BAB IX
Mendeteksi Fraud
1. Sasaran pembelajaran yang ingin dicapai

Memberikan pemahaman akan pentingnya mencegah fraud

Memiliki dimensi pemikiran terkait tindakan mencegah fraud yang lebih luas melalui
studi kasus dan pengembangan teknik.

Memahami hal-hal yang menjadi penghambat dalam proses pencegahan fraud

Mengetahui profil prilaku fraud untuk mendeteksi dan mencegah fraud

Mengetahui profil korban fraud untuk memudahkan penyebaran informasi fraud

Mengetahui profil perbuatan fraud untuk memudahkan identifikasi upaya ataupun


operandi fraud dan mengukur dampak perbuatan fraud tersebut.

2. Ruang lingkup bahan modul


Bahan modul ini terutama berasal dari buku Akuntansi Forensik dan Investigatif oleh
Tuanakotta (2010).
3. Manfaat mempelajari modul
Dengan mempelajari modul ini, memudahkan pembaca dalam memahami Tindakan
mendeteksi fraud

A. PENGANTAR
Tindakan yang dilakukan untuk mengetahui bahwa suatu kasus kecurangan memang benar
terjadi, siapa pelakunya, siapa korbannya, serta apa yang menyebabkan kecurangan itu terjadi.
Karena ketika seorang pelaku melakukan tindakan kecurangan pastilah ada alasan atau
pendorong yang mengakibatkannya melakukan tindak kecurangan. Kunci utama pada
pendeteksian fraud adalah untuk dapat melihat adanya kesalahan dan ketidakberesan.
Fraud (kecurangan) pada hakekatnya tersembunyi dan pelakunya pada umumnya juga akan
menyembunyikan jejaknya. Oleh karena itu, pendeteksian fraud juga tidak dapat dilakukan
langsung dengan melihat jejak yang ditinggalkannya. Pendeteksian fraud dilakukan dengan
mengidentifikasi tanda- tanda atau gejala terjadinya, kemudian dianalisis apakah tanda-tanda itu
dapat menunjukkan identifikasi awal terjadinya fraud.
October 9, 2016

118

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


Menurut Karyono dalam bukunya berjudul Fornsic Fraud (2013 : 92-94) terdapat beberapa
langkah dalam mendeteksi fraud. Langkah awal dari pendeteksian fraud ialah memahami
aktivitas organisasi dan mengenal serta memahami seluruh sektor usaha. Pada pemahaman itu
diidentifikasi apakah organisasi telah menerapkan pengendalian intern yang andal baik dalam
rancangan struktur pengendalian maupun dalam pelaksanaan. Langkah selanjutnya adalah
dengan memahami tanda-tanda penyebab terjadinya fraud. Tanda-tanda penyebab terjadinya
fraud berupa berbagai keanehan, keganjilan, dan penyimpangan dari keadaan yang seharusnya
serta kelemahan dalam pengendalian intern.
Pendeteksian fraud terhadap gejala dan tanda-tanda fraud dapat pula dilakukan terhadap
kondisi atau situasi tertentu yang disebut bendera merah (red flags) yaitu suatu kondisi yang
memberi isyarat dini terjadinya fraud (fraud warning signs).
Dalam pendeteksian fraud, auditor independen mempunyai tanggung jawab untuk
melakukan deteksi atas kecurangan yang terjadi. Tidak hanya auditor independen, akan tetapi
auditor intern maupun auditor pemerintah juga memiliki tanggung jawab untuk mendeteksi
fraud. Tanggung jawab auditor independen untuk mendeteksi fraud diatur di dalam standar
profesinya. Dalam standar Profesional Akuntan Publik diatur tentang tanggung jawab auditor
independen untuk mendeteksi kekeliruan, ketidakberesan, dan pelanggaran hukum.
Pada standar tersebut, tidak ada jaminan penuh bahwa hasil auditor independen akan dapat
mendeteksi kekeliruan, ketidakberesan, dan pelanggaran hukum. Akan tetapi, diatur keharusan
bagi para auditor untuk dapat menemukan risiko bahwa suatu kekeliruan, ketidakberesan, dan
pelanggaran hukum yang mungkin menyebabkan laporan keuangan berisi salah satu material.
Tanggung jawab yang dimiliki auditor untuk mendeteksi kekeliruan dan ketidakberesan
mengharuskan auditor untuk memahami karakteristik dan kerumitan yang terkait dengan
berbagai karakteristik tersebut, kemudian dirancang prosedur audit yang cocok dan hasilnya
dievaluasi.
B.

KESENJANGAN ANTARA KENYATAN DAN HARAPAN


Sejak permulaan, profesi audit yang dijalankan oleh akuntan publik menolak mengambil

tanggungjawab dalam menemukan fraud. Dalam bulan November 1974, AICPA menunj uk suatu
komisi independen yang dikenal dengan nama the Cohen Commission yang diberi nama
berdasarkan ketua komisinya. Komisi Cohen pada awal tahun 1978 melaporkan bahwa terdapat

October 9, 2016

119

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


kesenjangan antara harapan atau kebutuhan masyarakat dengan apa yang seharusnya dapat
diharapkan dari auditor untuk memenuhinya.
Gagasan bahwa audit umum tidak dirancang untuk mengungkapkan kecuraan sampai pasca
Sarbanes Oxley tercermin dari praktik audit yang peduli dengan kecurangan yang menyebabkan
laporan keuangan tidak disajikan dengan wajar. Para auditor ini sangat kwatir dengan penyajian
kembali laporan keuangan, terutama apabila dilakukan oleh KAP saingannya di tahun
berikutnya.
Yang kurang diperhatikan oleh auditor independen adalah kategori fraud berupa pencurian
atau kehilangan aset, contohnya adalah apabila persediaan menggunakan metode fisik bukan
perpetual, selama persediaan awal dan akhir sudah benar maka angka persediaan dan harga
pokok penjualan dapat dianggap wajar meskipun mungkin sebenarnya ada yang dicuri.
Akhir-akhir ini the Treadway Commission dan SOX berfokus pada fraudulent financial
reporting (kesengajaan atau keceobohan dalam menyusun laporan keuangan yang menyebabkan
informasi didalamnya menjadi menyesatkan secara material). Penyebab dari fraudulent financial
reporting ini adalah:
1. Keserakahan
2. Adanya tekanan yang dirasakan oleh manajemen untuk menunjukkan prestasi.
Dalam banyak konstruksi kejahatan korporasi dimana bentuk perseroan terbatas yang
dipilih, direksinya malah menjadi boneka. Tidak jarang direksi terdiri dari mantan pejabat militer
dan sipil yang KTP- nya dipinjam untuk membuat akte, padahal mereka tidak mengerti bisnis
sama sekali. Fraudulent financial reporting ini dimanfaatkan untuk mengelola pinjaman bank.
Contoh dari fraudulent financial report tersaji di tabel dibawah ini:

October 9, 2016

120

MODUL AKUNTANSI FORENSIK

October 9, 2016

121

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


No Perusahaan

Tanggal
Terungkap
Juni 2000
Oktober 2001
Januari 2002

1
2
3

Xerox
Enron
Kmart

Qwest Comm.
Int.
Worldcom

Februari 2002

Adelphia
Comm.

April 2002

Tyco

Mei 2002

Duke Energy

Juli 2002

C.

Maret 2002

Sangkaan Fraud
Pemalsuan data keuangan
Mendongkrak laba dan menyembunyikan utang
Akuntansi Kmart
memberikan
gambaran
menyesatkan tentang kesehatan keuangan
Mendongkrak omzet dan akuntansi tidak wajar
untuk kontrak jangka panjang
Arus kas didongkrak dengan mencatat oprating
expenses menjadi capital expenses
Adanya pinjaman pribadi yang dicatat atas nama
perusahaan, laba didongkrak dengan menaikan
capital expenditures dan menyembunyikan hutang
Penggelapan pajak dan penggunaan akuntansi
tidak wajar dalam merger
Terdapat 23 perdagangan berulang- ulang untuk
transaksi yang sama untuk meningkatkan volume
perdagangan dan omzet

MENGENALKAN STANDAR AUDIT UNTUK MENEMUKAN FRAUD


Kalau auditor independen bekerja tanpa standar audit, ia menempatkan dirinya dalam

posisi yang sangat lemah. Terutama ketika ia memberikan audit yang diharapkan menemukan
fraud. Maka diperlukan fraud-specific examination.
Para praktisi harus tahu apa yang mereka harapkan dari standar untuk pemeriksaan yang
secara spesifik ditujukan untuk menemukan fraud. Sekurang kurangnya para praktisi harus
menyadari hal hal berikut:
1. Mereka tidak bisa memberikan jaminan bahwa mereka bisa menemukan fraud. Klien
dapat membatasi upaya menemukan fraud di atas jumlah tertentu dengan pengertian
bahwa potensi menemukan fraud ini tergantung kepada waktu dan keahlian yang
digunakan.
2. Seluruh pekerjaan didasarkan atas standar audit
3. Jumlah fee bergantung pada luasnya upaya pemeriksaan yang ditetapkan klien
4. Praktisi bersedia untuk memperluas jasanya dari tahap proactive review ke tahap
pendalaman apabila ada indikasi terjadinya fraud. Tentunya dengan tambahan fee
D.

AUDIT UMUM DAN PEMERIKSAAN FRAUD

October 9, 2016

122

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


Masih banyak orang beranggapan bahwa suatu perusahaan atau instansi pemerintah yang
telah diaudit/diperiksa laporan keuangannya maka otomatis akan terbebas dari fraud. Padahal
terdapat perbedaan antara audit secara umum dengan pemeriksaan fraud yang tergambar pada
tabel berikut ini:
Permasalahan
Timing

Scope

Objective

Relationship

Methodology

Presumption

Auditing
Recurring
(Audit dilakukan secara
teratur,
berkala
dan
berulang)
General
(Lingkupnya
adalah
pemeriksaan umum atas
data keuangan)
Opinion
(Tujuannya
memberikan
opini
atas
kewajaran
laporan keuangan)
Non-adversarial
(Sifatnya tidak bermusuhan)

Audit techniques
(Dilakukan terutama yang
menyangkut masalah data
keuangan)
Professional skepticism
(Auditor
melaksanakan
tugasnya
dengan
berdasarkan skeptis secara
profesional)

Fraud Examination
Non-recurring
(Pemeriksaan
fraud
hanya
dilakukan ketika timbul indikasi)
Spesific
(Pemeriksaan fraud difokuskan
pada dugaan, tuduhan dan
sangkaan yang spesifik)
Affix blame
(Tujuannya untuk memastikan
apakah fraud benar-benar terjadi
dan siapa yang bertanggungjawab)
Adversarial
(Karena harus menentukan siapa
yang bersalah maka sifatnya
bermusuhan)
Fraud examination techniques
(Dilakukan dengan memeriksan
dokumen, telaah data eksternal
dan wawancara)
Proof
(Pemeriksa
fraud
berupaya
mengumpulkan
bukti
untuk
mendukung atau membantah
dugaan, tuduhan atau sangkaan)

October 9, 2016

123

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


E. TANDA-TANDA TERJADINYA FRAUD
Fraud dapat sedini mungkin terdeteksi jika manajemen atau internal auditor jeli melihat
tanda-tanda fraud tersebut. Tanda-tanda fraud tersebut beberapa diantaranya yaitu :
1. Terdapat perbedaan angka laporan keuangan yang mencolok dengan tahun tahun
sebelumnya.
2. Tidak ada pembagian tugas dan tanggung jawab yang jelas.
3. Seseorang menangani hampir semua transaksi yang penting.
4. Transaksi yang tidak didukung oleh bukti yang memadai.
5. Perkembangan perusahaan yang sulit.
Dari penjelasan di atas, dapat diketahui dengan jelas tanda-tanda fraud dapat dilihat dari
perbedaan angka laporan keuangan yang mencolok dari tahun-tahun sebelumnya. Hal ini
disebabkan karena adanya manipulasi laporan keuangan yang dilakukan oleh pelaku untuk
menutupi fraud sehingga timbul perbedaan angka-angka. Pembagian tugas dan tanggung jawab
yang tidak jelas juga dapat memicu seseorang melakukan fraud karena karyawan dapat bertindak
semena-mena.
Sebagian besar bukti-bukti kecurangan merupakan bukti-bukti tidak sifatnya langsung.
Petunjuk adanya kecurangan biasanya ditunjukkan oleh munculnya gejala-gejala (symptoms)
seperti adanya perubahan gaya hidup atau perilaku seseorang, dokumentasi yang mencurigakan,
keluhan dari pelanggan ataupun kecurigaan dari rekan sekerja. Pada awalnya, kecurangan ini
akan tercermin melalui timbulnya karakteristik tertentu, baik yang merupakan kondisi / keadaan
lingkungan, maupun perilaku seseorang. Karakterikstik yang bersifat kondisi / situasi tertentu,
perilaku / kondisi seseorang personal tersebut dinamakan Red flag (Fraud indicators).
Meskipun timbulnya red flag tersebut tidak selalu merupakan indikasi adanya kecurangan,
namun red flag ini biasanya selalu muncul di setiap kasus kecurangan yang terjadi.
Pemahaman dan analisis lebih lanjut terhadap Red flag tersebut dapat membantu langkah
selanjutnya untuk memperoleh bukti awal atau mendeteksi adanya kecurangan.
F.

PELAJARAN DARI REPORT TO THE NATIONS


Pada bab 6 telah disajikan ringkasan dari laporan ACFE yang secara singkat dokenal

sebagai Report to the Nation. Laporan ini memberikan banyak petunjuk untuk menegah maupun
mendeteksi fraud. Beberapa pelajaran dari laporan tersebut mengenai deteksi fraud adalah:

October 9, 2016

124

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


1. Rata rata (median) berlangsungnya fraud sebelum dideteksi adalah lebih dari satu
tahun, yakni antara 17 sampai 30 bulan
2. Hampir separuh fraud (46,2% tahun 2008) diketahui karena ada yang membocorkan.
20% di 2008 terungkap secara kebetulan.
3. 51,7% fraud yang dilakukan oleh pemilik, terungkap karena bocoran. 57,7% bocoran
datang dari karyawan.
Data diatas adalah untuk Amerika Serikat, untuk Indonesia sendiri belum terdapat
penelitian berskala nasional mengenai pengungkapan fraud akan tetapi kalau temuan di Report to
the Nation adalah petunjuk maka dapat disimpulkan terdapat kabar baik dan buruk.
Kabar baiknya ialah bahwa dengan desain sistem yang tepat maka sistem whistleblower
akan berjalan secara efektif untuk memberitahukan mengenai fraud yang akan, sedang atau telah
terjadi.
Berita buruknya adalah dinegara maju seperti Amerika Serikat saja butuh waktu lebih dari
satu tahun sampai tiga tahun dalam mendeteksi fraud dan beberapa terdeteksi secara kebetulan.
Mengapa internal auditor atau eksternal auditor tidak merupakan penemu utama dalam
mendeteksi fraud? Hallinan mengatakan bahwa if you dont find often, you often dont find it.
Hallinan memberi contoh bahwa kajian mengenai dokter di rumah sakit terkemuka di Amerika
Serikat, dokter-dokter memeriksa kembali hasil rontgen para penderita yang menderita kanker
paru-paru. Dalam rontgen berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun sebelumnya, dalam 90% kasus,
kanker tersebut sudah nyata jelas namun lolos dari hasil pengamatan radiologist.
Contoh lain diberikan oleh Hallinan yaitu mengenai gagalnya para pemeriksa di bandara.
Dalam tahun 2002 sebuah tes menunjukkan bahwa mereka tidak me nemukan satu diantara empat
senjata yang ditaruh didalam koper atau tas. Tes serupa dua tahun kemudian dibandara Newark
menunjukkan hasil yang sama dimana 25% senjata tidak terdeteksi. Ditahun 2006, 60% bahan
peledak yang disembunyikan oleh agen yang sedang menyamar tidak terdeteksi di bandara
OHare di Chicago dan di bandara Los Angles mencapai 75% tidak terdeteksi.
G.

TEKNIK PEMERIKSAAN FRAUD


Ada bermacam- macam teknik audit investigasi dalam mengungkapkan fraud, teknik

tersebut antara lain adalah:


1. Penggunaan teknik-teknik audit yang lebih mendalam dan luas

October 9, 2016

125

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


2. Pemanfaatan teknik audit infestigatif dalam kejahatan terorganisir dan penyelundupan
pajak penghasilan
3. Penelusuran jejak-jejak arus uang
4. Penerapan teknik analisis dalam bidang hukum
5. Penggunaan teknik audit investigatif untuk mengungkap fraud di PBJ
6. Penggunaan computer forensic
7. Penggunaan teknik interograsi
8. Penggunaan operasi penyamaran
9. Pemanfaatan Whistleblower
H.

MENDETEKSI FRAUD BERDASAR PADA FRAUD TREE


1. Financial Statement Fraud
Kecurangan dalam penyajian laporan keuangan umumnya dapat dideteksi
melalui analisis laporan keuangan sebagai berikut:
a. Analisis vertikal, sebuah teknik yang digunakan untuk menganalisis hubungan
antara item- item dalam laporan laba rugi, neraca, atau laporan arus kas dengan
menggambarkannya dalam persentase.
Sebagai contoh, adanya kenaikan persentase piutang dagang dengan total piutang
dari rata-rata 28% menjadi 52% dilain pihak adanya penurunan persentase
penjualan kredit dengan total penjualan dari 20% menjadi 17% dapat menjadi
indikasi awal adanya fraud.
b. Analisis horizontal, yaitu teknik untuk menganalisis persentase- persentase
perubahan item laporan keuangan selama beberapa periode laporan. Sebagai
contoh adanya kenaikan penjualan sebesar 80% dibanding tahun sebelumnya
sedangkan harga pokok mengalami kenaikan 140%. Dengan asumsi tidak ada
perubahan lainnya dalam unsur-unsur penjualan dan pembelian, maka dapat
menjadi indikator awal terjadinya fraud.
c. Analisis rasio, yaitu alat untuk mengukur hubungan antara nilai- nilai item dalam
laporan keuangan. Sebagai contoh adalah current ratio, bila nilainya turun tanpa
sebab yang diketahui dapat menjadi indikasi awal adanya fraud.

October 9, 2016

126

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


2. Asset Missappropriation
Teknik untuk mendeteksi terjadinya fraud dalam pencurian aset sangatlah
banyak tekniknya. Dengan memahami pengendalian internal maka seorang pemeriksa
fraud akan lebih mudah menemukan titik-titik lemah yang memungkinkan terjadinya
fraud. Beberapa teknik yang dapat digunakan adalah:
a.

Analytical review
Suatu review atas berbagai akun yang mungkin menunjukkan ketidak biasaan atau
kegiatan-kegiatan yang tidak diharapkan. Sebagai contoh adalah perbandingan
antara pembelian barang persediaan dengan penjualan bersihnya yang dapat
mengindikasikan adanya pembelian yang terlalu tinggi atau terlalu rendah bia la
dibandingkan dengan tingkat penjualannya.

b.

Statistical sampling
Sebagaimana persediaan, dokumen dasar pembelian dapat diuji secara sampling
untuk menentukan ketidakbiasaan (irregularities), metode deteksi ini akan efektif
jika ada kecurigaan terhadap satu attributnya, misalnya pemasok fiktif. Suatu
daftar alamat PO BOX akan mengungkapkan adanya pemasok fiktif

c.

Vendor or outsider complaints


Komplain / keluhan dari konsumen, pemasok, atau pihak lain merupakan alat
deteksi yang baik yang dapat mengarahkan aud itor untuk melakukan pemeriksaan
lebih lanjut.

d.

Site visit observation


Observasi ke lokasi biasanya dapat mengungkapkan ada tidaknya pengendalian
intern di lokasi- lokasi tersebut. Observasi terhadap bagaimana transaksi akuntansi
dilaksanakan kadangkala akan memberi peringatan pada CFE akan adanya
daerah-daerah yang mempunyai potensi bermasalah
Dalam banyak kasus kecurangan, khususnya kasus pencurian dan penggelapan

aset, biasanya terdapat tiga faktor, yaitu:


a.

ada satu tekanan pada seseorang, seperti kebutuhan keuangan.

b.

adanya kesempatan untuk

melakukan kecurangan dan menyembunyikan

kecurangan yang dilakukan.

October 9, 2016

127

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


c.

adanya cara pembenaran perilaku tersebut yang sesuai dengan tingkatan integritas
pelakunya.
Metode- metode tersebut akan sangat efektif bila digunakan secara kombinasi.

Dengan melakukan gabungan teknis, setiap metode deteksi akan menunjukkan


anomalies/gejala penyimpangan yang dapat diinvestigasi lebih lanjut untuk menentukan
ada tidaknya kecurangan. Selain itu, metode-metode tersebut akan menunjukkan
kelemahan-kelemahan

dalam

pengendalian

intern

dan

mengingatkan/memberi

peringatan pada auditor akan adanya potensi terjadinya kecurangan di masa mendatang.
3. Korupsi
Sebagian besar kecurangan ini dapat dideteksi melalui keluhan dari rekan kerja
yang jujur, laporan dari rekan, atau pemasok yang tidak puas dan menyampaikan
komplain ke perusahaan. Atas sangkaan terjadinya kecurangan ini kemudian dilakukan
analisis terhadap tersangka atau transaksinya.
Pendeteksian atas kecurangan ini dapat dilihat dari karakteristik (Red flag) si
penerima maupun si pemberi. Orang-orang yang menerima dana korupsi ataupun
penggelapan dana pada umumnya mempunyai karakteristik (red flag) sebagai berikut:
a. The Big Spender
b. The Gift taker
c. The Odd couple
d. The Rule breaker
e. The Complainer
f.

The Genuine need

Sedangkan orang yang melakukan pembayaran mempunyai karakteristik (red flag)


sebagai berikut:
a. The Sleaze factor
b. The too Succesful bidder
c. Poor quality, higher prices
d. The one-person operation

October 9, 2016

128

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


BAB X
Profiling
1. Sasaran pembelajaran yang ingin dicapai

Mengetahui profil prilaku fraud untuk mendeteksi dan mencegah fraud

Mengetahui profil korban fraud untuk memudahkan penyebaran informasi fraud

Mengetahui profil perbuatan fraud untuk memudahkan identifikasi upaya ataupun


operandi fraud dan mengukur dampak perbuatan fraud tersebut.

2. Ruang lingkup bahan modul


Bahan modul ini terutama berasal dari buku Akuntansi Forensik dan Investigatif oleh
Tuanakotta (2010).
3. Manfaat mempelajari modul
Dengan mempelajari modul ini, memudahkan pembaca dalam memahami Tindakan
Profiling dalam Fraud

A. DEFINISI PROFILING
Dalam upaya menemukan dan memberantas kecurangan, kita perlu mengetahui profil
pelaku. Profil berbeda dengan foto yang menggambarkan fisik seseorang. Profil memberi
gambaran mengenai berbagai ciri (traits) dari suatu kelompok orang, seperti: rentan umur,
jenjang pendidikan, kelompok sosial (kelas atas, menengah, bawah), bahkan kelompok etnis,
dan seterusnya.
Menurut Mulyani (1983) profil adalah pandangan sisi, garis besar, atau biografi dari
diri seseorang atau kelompok yang memiliki usia yang sama. Sedangkan menurut Alwi
(2005) profil adalah pandangan mengenai seseorang.
Upaya untuk mengertahui profil disebut profiling, dimulai dengan mengidentifikasi
factor keturunan, segi bentuk fisik tubuh sampai dengan ciri psikologi dan psikiatris.
Pengertian profiling dalam praktek hukum dikarakteristikkan seberapa jauh tindak kriminal
berlangsung sehigga penegak hukum dapat dengan mudah menangkap para pelaku kriminal.
Profiling pelaku fraud bertujuan untuk memudahkan penangkapan pelaku.

October 9, 2016

129

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


B. PROFIL PELAKU FRAUD
Profiling adalah upaya untuk mengidentifikasi profil. Profiling dalam memberantas
kejahatan bukanlah upaya baru. Menurut FBI yang dimaksud dengan profiling adalah
menggambaran seorang tersangka yang dicari berdasarkan je nis jenis kejahatan yang biasa
dilakukan oleh segolongan orang dari kultur atau ras tertentu. Misalnya untuk kasus
pembunuhan FBI mengidentifikasi pelaku berdasarkan statistik di semua negara bagian
bahwa:
a. orang kulit hitam biasanya membunuh orang dengan berkelompok (keroyokan) dibanding
orang kulit putih yang perorangan,
b. orang kulit putih lebih banyak membunuh didalam rumah dibanding orang kulit hitam
diluar rumah atau orang kulit putih lebih banyak membunuh menggunakan pisau
dibanding kulit hitam.
c.

Jika digolongkan berdasarkan ras/kultur misalnya orang kulit putih dari ras hispanik,
italia, irlandia sedangkan orang kulit hitam dibedakan dengan jamaican, cuban atau
native African.
Jika Casere Lambroso,mengamati para penjahat dari faktor keturunan sebaga i

penentu tingkah laku kriminal, maka ACFE atau Association of Certified Fraud Examiners di
Amerika Serikat melakukan profiling penjahat kerah putih di Amerika Serikat sebagi berikut:
Profil Penjahat Kerah Putih di Amerika Serikat

1. Laki-laki, kulit putih, berpendidikan S1


2. Suka mengambil risiko
3. Egois
4. Rasa ingin tau yang tinggi
5. Keinginan untuk melanggar ketentuan dan sedapat mungkin mencari jalan pintas
6. Bekerja sepanjang hari untuk memberika kesan bahwa ia pekerja keras.
7. Di bawah tekanan dan penyendiri, mesk ipun pada saat yang sama ia mempunyai
hubungan kerja yang erat dengan pemasok tertentu.
8. Termotivasi oleh ketamakan dan hadiah- hadiah yang bersifat materi,menghamburkan

October 9, 2016

130

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


uang secara teratur.
9. Berada dalam kesulitan keuangan seperti memiliki utang yang banyak
10. Tidak bahagia di tempat kerjanya dan mengeluh karena diperlakukan tidak adil atau
atasannya korup.
11. Menganggap auditor, inspektur atau atasannya sebagai musuh.
Gambaran diatas dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Dalam profilong tersebut secara spesifik disebutkan bahwa profil pelaku kejahatan kerah
putih adalah orang berkulit putih. Untuk dapat melakukan kejahatan kerah putih,
seseorang mesti menduduki jabatan kerah putih. Dan melalui berbagai program
pemerintah disana, kelompok minoritas seperti etnis Afro American dan Latino, mulai
memperoleh peluang menduduki jabatan kerah putih. Sebaliknya, profil pelaku kejahatan
perampokan, pembunuhan dan kejahatan lain dengan kekerasan menunjuk kepada
kelompok etnis minoritas yang tidak berpendidikan dan tidak mempunyai lapangan
kerja..
b. Pelaku kejahatan kerah putih di Amerika Serikat berasal dari kelompok berpenghasilan
menengah ke atas, mereka sering dihubungkan dengan ketamakan.
c. Sejalan dengan argumen yang menjelaskan profil etnis dan kelompok penghasilan
menengah ke atas, kita dapat memaklumi profil pendidikan mereka.
George A. Manning, seorang akuntan forensik dari kantor pajak Amerika Serikat
menulis tentang profile dari organisasi yang melakukan kejahatan yang terorganisasi.
Dimana pelaku kejahatan ini lazimnya merupakan penyelundup pajak. Dalam masyarakat
dengan beraneka ragam etnis seperti di Amerika Serikat, profiling dilakukan dari segi budaya
atau kebiasaan etnis yang bersangkutan. Berikut beberapa ciri penjahat dari etnis Asia yang
dikemukakan Manning:
a. Para penjahat di Asia menyepelekan dan tidak menganggap penegak hukum sebagai abdi
masyarakat. Menurutnya di Asia penegak hukum berfungsi untuk melindungi para
penguuasa dan pertai meraka bukan untuk melindungi masayarakat
b. Mereka menciptakan mata uang bawah tanah dengan mempertukarkan komoditas.
Mata uang bawah tanah ini memungkinkan mereka menghilangkan jejak dokumen dan

October 9, 2016

131

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


melakukan penyelundupan pajak. Biasanya mereka menanamkan uang mereka dalam
emas, permata, intan dan berlian daripada menggunakan jasa perbankan.
c. Menyelenggarakan perkumpulan simpan pinjam yang sangat informal. Terdiri atas 1020 orang, umumnya wanita. Terjadi tawar menawar untuk penggunaan uang dalam
periode tertentu, pemenangnya adalah penawar tertinggi. Di Indonesia dikenal dengan
sebutan arisan.
d. Kebanyakan orang Asia yakin bahwa setiap pejabat dapat dibeli, tindakan penyuapan
sangat biasa di Asia karena mereka menggangapnya sebagai way of life. Suap dimulai
dari jumlah yang kecil seperti free lunches dan terus meningkat sampai jumlah yang
sangat besar.
Terkait dengan poin terakhir, beberapa kebijakan KPK berkaitan dengan hal tersebut
yang wajib diikutu oleh pimpinan KPK :
a. Memberitahukan kepada pimpinan lain mengenai pertemuan dengan pihak lain.
b. Menolak dibayari makan, biaya akomodasi dan bentuk kesenangan lain oleh siapa pun.
c. Membatasi pertemuan di ruang publik.
d. Memberitahukan kepada pimpinan lain mengenai keluarga, kawan, dan pihak lain yang
secara intensif masih berkomunikasi.
Jika dibandingkan dengan profiling yang dilakukan terhadap pro fil pelaku korupsi di
Indonesia ditemukan bahwa penerima suap (bribe) adalah pejabat, pegawai negeri sipil dan
militer, di pemerintah pusat atau daerah sedangkan profil pemberi suap adalah pengusaha.
Hal ini dikuatkan dengan hasil riset yang dilakukan oleh Lembaga Indonesia Corruption
Watch (ICW), menyatakan bahwa profil korupsi terbanyak berasal dari kalangan pejabat atau
pegawai kementerian dan pemerintah daerah. Pada penelitian yang dilakukan tahun 2015
kurun waktu semester 1, ICW telah mengidentifikasi 10 latar belakang pekerjaan yang paling
banyak melakukan tindak pidana korupsi.
a. Urutan teratas sebanyak 212 pelaku berlatar pejabat negara yang paling banyak terjerat
korupsi
b. Pada urutan selanjutnya yang paling banyak melakukan korupsi adalah pegawai swasta,
mulai dari tingkat direktur, komisaris dan pegawai sebanyak 97 orang.

October 9, 2016

132

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


c. Selanjutnya, latar belakang kepala daerah seperti kepala desa, camat, dan lurah
menempati posisi ketiga dengan jumlah pelaku mencapai 28 orang.
d. Sedangkan posisi selanjutnya secara berurutan ialah kepala daerah 27 orang, kepala dinas
26 orang, anggota DPR/DPRD/DPD 24 orang, pejabat atau pegawai lembaga negara lain
12 orang, direktur/pejabat/pegawai BUMN atau BUMD 10 orang.
e. Dua posisi terakhir ialah kelompok masyarakat dengan pelaku sebanyak 10 orang, dan
pejabat atau pegawai bank juga 10 orang.
Profiling sangat penting dan bermanfaat, bagi para pemeriksa menjadi sebuah
kebutuhan agar mampu mendeteksi secara dini sumber-sumber permasalahan. Bagi para
pejabat perbendaharaan, sebagai langkah awal mengetahui profil para pelaksana kegiatan
yang dapat digunakan sebagai alat control atas kewenangan yang diembannya. hanya kita
perlu memahami makna dari profil yang dihasilkan.
Di pasar uang dan pasar modal, profil pelaku fraud sering kali menga gumkan.
Kebanyakan dari mereka cerdas, mempunyai track record yang luar biasa, pekerja keras dan
cenderung menjadi informal leader dengan kharisma yang melampaui wewenang yang
diberikan jabatan, contohnya Nick Lesson dalam kasus Barings Bank merupakan profil
pelaku fraud yang bersifat spekulatif di bursa valuta asing.
C. PROFIL KORBAN FRAUD
Profiling umumnya dilakukan terhadap pelaku kejahatan tetapi juga dapat dilakukan
untuk korban kejahatan. Berikut berbagai pengertian korban yang dikemukakan oleh para
ahli maupun sumber dari konvensi-konvensi adalah sebagai berikut:
1. Arik Gosita
Korban adalah mereka yang menderita jasmaniah dan rohaniah sebagai akibat tindakan
orang lain yang mencari pemenuhan, kepentingan diri sendiri atau orang lain yang
bertentangan dengan kepentingan hak asasi pihak yang dirugikan.
2. Muladi
Korban (Victim) adalah orang-orang yang baik secara individu maupunkolektif telah
menderita kerugian termasuk kerugian fisik atau mental, emosional, ekonomi atau
gangguan subtansial terhadap hak-haknya yang fundamental, melalui perbuatan atau

October 9, 2016

133

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


komisi

yang

melanggar

hukum pidana di

masing- masing

negara,

termasuk

penyalahgunaan kekuasaan.
3. Undang-Undang Nomor 27 tahun 2004 tentang komisi kebenaran dan rekonsiliasi.
Korban adalah orang perseorangan atau kelompok orang yang mengalami penderitaan
baik fisik, mental, maupun emosional. Kerugian ekonomi atau mengalmi pengabdian,
pengurangan atau perampasan hak- hak dasarnya, sebagai akibat pelanggaran hak asasi
manusia yang berat, termasuk korban adalah ahli warisnya.
4. Undang-Undang Nomor 13 tahun 2006 tentang perlindungan saksi dan korban, yang
dimaksud dengan korban adalah seseorang yang mengalami penderitaan fisik, mental,
dan/atau kerugian ekonomi yang diakibatkan oleh suatu tindak pidana
5. kamus Crime Dictionary yang dikutip seorang ahli (Abdussalam, 2010:5) bahwa Victim
adalah orang yang telah mendapat penderitaan fisik atau penderitaan mental, kerugian
harta benda atau mengakibatkan mati atas perbuatan atau usaha pelanggaran ringan
dilakukan oleh pelaku tindak pidana dan lainnya. Disini jelas yang dimaksud orang
yang mendapat penderitaan fisik dan seterusnya itu adalah korban dari pelanggaran atau
tindak pidana.
6. Resolosi Majelis Umum PBB No. 40/34 Tahun 1985 adalah orang-orang, baik secara
individual maupun kolektif, yang menderita kerugian akibat perbuatan atau tidak berbuat
yang menlanggar hukum pidana yang berlaku disuatu negara, termasuk peraturan yang
melarang penyalahgunaan kekuasaan.
Pada dasarnya korban tidak hanya orang-perorangan atau kelompok yang secara
langsung menderita akibat dari perbuatan-perbuatan yang menimbulkan kerugian/
penderitaan bagi diri/ kelompoknya, bahkan lebih luas lagi termasuk di dalamnya keluarga
dekat atau tanggungan langsung dari korban. iranya untuk korban institusi, masyarakat,
bangsa, dan Negara dikaitkan maraknya kejahatan baik kualits maupun kuantitas dapat
ditambahkan, antara lain sebagai berikut:
1. Dalam perkara korupsi dapat menjadi korban tindak pidana korupsi berupa kerugian
keuangan Negara dan perekonomian Negara, kualitas kehidupan, ruaknya insfrasturktur
dan sebagainya.

October 9, 2016

134

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


2. Dalam tindak pidana terorisme, dapat mengalami korban jiwa masyarakat, keresahan
masyarakat, kerusakan infrastuktur, terusiknya ketenangan, kerugian materiil, dan
imateriil lainnya.
3. Dalam tindak pidana narkotika, dapat menjadi korban rusaknya generasi muda,
menurunya kualitas hidup masyarakat, dan sebagainya.
4. Dalam tindak pidana perusakan lingkungan hidup, pembabatan hutan dan illegal logging,
dapat menyebabkan rusaknya, lingkungan, tanah tandus, banjir bandang, serta merusak
infrastuktur dan penderitaan rakyat yang berkepanjangan.
Profiling terhadap pelaku kejahatan dimaksudkan untuk memudahkan menangkap
pelaku, maka profiling terhadap korban kejahatan dimaksudkan untuk memudahkan target
penyebaran informasi. Ini adalah bagian dari disiplin ilmu yang disebut viktimologi.
Viktimologi adalah ilmu yang mempelajari tentang korban (victim = korban)
termasuk hubungan antara korban dan pelaku, serta interaksi antara korban dan sistem
peradilan - yaitu, polisi, pengadilan, dan hubungan antara pihak-pihak yang terkait - serta
didalamnya juga menyangkut hubungan korban dengan kelompok -kelompok sosial lainnya
dan institusi lain seperti media, kalangan bisnis, dan gerakan sosial.
Viktimologi juga membahas peranan dan kedudukan korban dalam suatu tindakan
kejahatan

di masyarakat, serta

bagaimana

reaksi

masyarakat

terhadap

korban

kejahatan. Proses dimana seseorang menjadi korban kejahatan disebut dengan "viktimisasi".
Dilihat dari peranan korban dalam terjadinya tindak pidana, Stephen Schafer
mengatakan pada prinsipnya terdapat empat ciri-ciri korban:
1. Orang yang tidak mempunyai kesalahan apa-apa, tetapi tetap menjadi korban. Untuk tipe
ini, kesalahan ada pada pelaku
2. Korban secara sadar atau tidak sadar telah melakukan sesuatu yang merangsang orang
lain untuk melakukan kejahatan. Untuk tipe ini, korban dinyatakan turut mempunyai
andil dalam terjadinya kejahatan sehingga kesalahan terletak pada pelaku dan korban.
3. Mereka yang secara biologis dan sosial potensial menjadi korban. Anak-anak, orang tua,
orang yang cacat fisik atau mental, orang miskin, golongan minotitas dan sebagainya
merupakan orang-orang yang mudah menjadi korban. korban dalam hal ini tidak dapat
disalahkan tetapi masyarakatlah yang harus bertanggung jawab.

October 9, 2016

135

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


4. Korban karena ia sendiri merupakan pelaku. inilah yang dikatakan sebagai kejahatan
tanpa korban. Pelacuran, perjudian, zina, merupakan beberapa kejahatan yang tergolong
kejahatan tanpa korban. pihak yang bersalah adalah korban karena ia juga sebagai pelaku.
Surat kabar sering memberitakan orang yang mudah menjadi korban kejahatan
tertentu. Di Indonesia sendiri dalam beberapa waktu sempat ramai dengan berbagai macam
aksi penipuan berkedok hadiah yang meminta korban membayar sejumlah uang tertentu,
dan juga berbagai bentuk yang lain yang umumnya cenderung mirip.
D. PROFILING PERBUATAN FRAUD (KEJAHATAN,FRAUD, DAN LAIN-LAIN)
Profiling dapat dilakukan dalam upaya mengenal perbuatannya atau cara
melaksanakan perbuatannya (modus operandi). Modus operandi berasal Dari bahasa Latin
kata modus berarti cara, metode dan operandi adalah "bekerja". Modus operandi adalah
cara operasi orang perorang atau kelompok penjahat dalam menjalankan rencana
kejahatannya.
Upaya untuk mengelompokan perbuatan fraud berdasarkan tipe atau jenis disebut
profil fraud atau tipologi fraud. Berbagai lembaga besar seperti Bank Indonesia, Dirjen
Pajak, PPATK mengumpulkan tipologi fraud yang ada di wilayahnya, untuk mengantisipasi
jenis fraud yang muncul dalam wilayah lembaga tersebut. Direktorat Jenderal Pajak
mengkompilasi tipologi kejahatan perpajakan. Bank Indonesia melakukan hal yang sama
untuk kejahatan perbankan. PPATK melakukannya untuk kasus-kasus pencurian uang, dan
pakar-pakar hukum pidana mengompilasi kasus-kasus tindak pidana berdasarkan konsep
hukum yang ditetapkan agar memudahkan mereka dalam menyiapkan argument untuk kasus
serupa.
Jenis tipologi yang akan dibahas pada makalah ini adalah tipologi fraud yang
dilakukan oleh PPATK yaitu tipologi pencucian uang. Dikutip dari www.hukumonline.com
menyebutkan bahwa sepanjang tahun 2006 PPATK mengklaim terdapat 430 kasus yang
termasuk dalam kategori tindak pidana pencucian uang sebagaimana dimaksud pasal 1 angka
1 Undang-Undang No. 25 Tahun 2003 tentang Perubahan UU No. 15 Tahun 2002, dengan
rincian berikut:

October 9, 2016

136

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


No

Kasus

Jumlah

Korupsi

177

Penipuan

157

Kejahatan Perbankan

27

Pemalsuan Dokumen

19

Teroris

Penggelapan Pajak

Perjudian

Penyuapan

Narkotika

10

Pornografi anak

11

Pemalsuan Uang Rupiah

12

Pencurian

13

Pembalakan

14

Tidak teridentifikasi/dll

18

Total

430

Pencucian uang dapat dilakukan dengan modus operandi yang sangat beragam, mulai
dari menyimpan uang di bank hingga membeli rumah mewah atau saham. Namun, pada
dasarnya seluruh modus tersebut dapat diklasifikasikan ke dalam tiga jenis tipologi, yang
tidak selalu terjadi secara bertahap, tetapi dapat dilakukan secara bersamaan. Ketiga tahapan
tipologi tersebut yaitu: penempatan (placement ), pemisahan/pelapisan (layering), dan
penggabungan (integration). Sebagaimana diilunstrasikan pada gambar berikut:

October 9, 2016

137

MODUL AKUNTANSI FORENSIK

1. Penempatan (placement ) adalah upaya menempatkan dana yang dihasilkan dari suatu
kegiatan tindak pidana ke dalam sistem keuangan. Penempatan (placement) adalah
tahapan pertama dalam pencucian uang, yaitu ketika harta hasil tindak pidana pertama
kali masuk ke dalam sistem keuangan atau berubah bentuk. Dengan perkembangan
teknologi sistem keuangan, setelah mendapatkan harta hasil tindak pidana, pelaku
kejahatan memiliki banyak sekali pilihan untuk melakukan proses penempatan
(placement) harta kekayaannya. Beberapa modus penempatan tersebut di antaranya:
1) Menempatkan uang dalam sistem perbankan
2) Menyelundupkan uang atau harta hasil tindak pidana ke negara lain
3) Melakukan konversi harta hasil tindak pidana
4) Melakukan penempatan secara elektronik
5) Memecah-mecah transaksi dalam jumlah yang lebih kecil (structuring)
6) Menggunakan beberapa pihak lain dalam melakukan transaksi (smurfing)
Modus-modus diatas dijelaskan sebagai berikut:
1. Penempatan: Menempatkan Uang dalam Sistem Perbankan
Penerima suap misalnya, dapat melakukan penempatan hasil suapnya dengan
menyimpannya di bank. Baik menggunakan namanya sendiri atau orang lain.

October 9, 2016

138

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


Tidak jarang pula hal ini kemudian diikuti dengan pengajuan kredit atau pembiayaan.
Kemudian menyetorkan uang pada penyedia jasa keuangan sebagai pembayaran
kredit untuk mengaburkan audit trail.
2. Penempatan: Menyelundupkan Uang atau Harta Hasil Tindak Pidana ke Negara Lain
Pelaku kejahatan dapat juga melakukan penempatan dengan melakukan pembawaan
tunai melewati negara. Penerima suap tersebut, misalnya bisa membawa harta hasil
suapnya ke negara lain, kemudian ditukarkan dengan mata uang yang berbeda.
Pembawaan tunai ini dapat dilakukan dengan memperlakukannya sebagai barangbarang ekspedisi atau dengan terlebih dahulu dikonversi ke dalam bentuk barang
berharga seperti emas atau perhiasan. Sehingga pembawaan hasil kejahatan ke negara
lain tersebut bisa dilakukan banyak cara, baik itu melalui ekspedisi, maupun dibawa
secara sendiri dengan kendaraan pribadi.
Karakteristik lainnya adalah dengan membawa harta hasil tindak pidana tersebut ke
negara-negara yang tidak memiliki pengaturan mata uang yang ketat.
3. Penempatan: Melakukan Transfer Secara Elektronik
Penempatan juga dilakukan dengan cara melakukan transfer secara elektronik.
Dengan dilakukan secara elektronik transfer uang dapat dilakukan hanya dalam
hitungan menit ke manapun, termasuk melintasi berbagai negara. Kecepatan proses
peralihan harta atau aset dan lintas batas negara dan yurisdiksi membuat proses
penelusuran aset menjadi sangat rumit.
Sebagai contoh, pelaku tindak pidana dapat mengirimkan uang melalui jasa
pengiriman uang (alternative remittance) yang secara elektronik langsung terkirim ke
lembaga pengiriman uang di luar negeri. Rekanan pelaku cukup membawa
identitasnya ke lembaga pengiriman uang yang menerima uangnya di luar negeri.
Dalam transaksi atau kegiatan transfer tersebut, uang tidak perlu berpindah secara
fisik.
4. Penempatan: Melakukan Konversi Harta Hasil Tindak Pidana
Salah satu modus penempatan yang lazim dilakukan adalah dengan melakukan
konversi harta hasil tindak pidana. Konversi ini dilakukan umumnya dengan cara

October 9, 2016

139

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


merubah bentuk asal harta hasil tindak pidana, misalnya dengan melakukan
pembelian atau merubah mata uangnya.
Tahapan ini umumnya juga dilakukan dengan melibatkan orang lain. Misalnya,
penerima suap akan menyerahkan uang yang diterimanya kepada orang yang ia
percayai. Baik itu rekanan, anak buah, keluarga, atau pihak lain.
Rekan yang menerima uang tunai hasil suap tersebut kemudian melakukan pembelian
barang-barang berharga. Baik itu emas, mobil mewah, rumah, atau bahkan barang
berharga lain seperti lukisan atau barang antik. Penerima suap tadi kemudian
menerima uang yang telah berubah menjadi barang tadi seolah-olah sebagai
pemberian. Sehingga asal-usul harta kekayaan menjadi lebih samar.
2. Pemisahan atau pelapisan (layering)
Layering adalah tahapan kedua dari perbuatan pencucian uang. Dalam tahapan ini, uang
hasil tindak pidana dipindahkan, disebarkan, dan disamarkan untuk menyembunyikan
asal usulnya. Dalam kegiatan ini terdapat proses pemindahan dana dari beberapa rekening
atau lokasi tertentu sebagai hasil placement ke tempat lain melalui serangkaian transaksi
yang kompleks dan didesain untuk menyamarkan dan menghilangkan jejak sumber dana
tersebut. Beberapa modus layering tersebut di antaranya:
1) Transfer dana secara elektronik
Setelah ditempatkan dalam sistem perbankan, pelaku tindak pidana dapat mudah
melakukan transfer terhadap asetnya tersebut ke mana pun yang ia kehendaki.
Apabila transfer tersebut dilakukan secara elektronik, ia dapat memindahkan asetnya
dengan segera, lintas batas negara, dan berkali-kali, melewati berbagai rekening yang
ia kendalikan, rekanannya, atau bahkan rekening dengan identitas palsu hingga sulit
ditelusuri lagi asal usulnya.
2) Transfer melalui kegiatan perbankan lepas pantai (offshore banking)
Offshore banking menyediakan layanan pembukaan rekening koran untuk penduduk
luar negeri. Dengan menempatkan dana pada suatu bank, yang selanjutnya ditransfer
ke rekening Offshore Banking, pelaku tindak pidana dapat seolah-olah menjauhkan
harta hasil tindak pidannya dengan dirinya.

October 9, 2016

140

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


Offshore Banking cenderung memiliki jaringan bank yang luas sehingga memberika n
kemudahan bagi pelaku tindak pidana untuk melakukan proses pencucian uang.
3) Transaksi menggunakan perusahaan boneka (shell corporation)
Perusahaan boneka (shell company) adalah perusahaan yang didirikan secara formal
berdasarkan aturan hukum yang berlaku, namun tidak digunakan untuk melakukan
kegiatan usaha. Perusahaan boneka didirikan hanya untuk melakukan transaksi fiktif
atau menyimpan aset pendirinya atau orang lain untuk menyamarkan kepemilikan
sebenarnya terhadap aset tersebut.
Modus yang digunakan dengan perusahaan boneka misalnya diawali dengan
pendirian perusahaan virtual di luar negeri. Perusahaan virtual ini kemudian membuat
rekening koran di beberapa bank. Pelaku tindak pidana dapat meminta beberapa
orang rekanannya untuk menjadi smurf untuk mentransfer uang hasil tindak pidana ke
dalam rekening bank perusahaan virtual, sehingga seolah-olah merupakan transaksi
pembelian saham.
3. Penggabungan (Integration)
Integration (penggunaan harta hasil tindak pidana) adalah upaya menggunakan harta
kekayaan yang telah tampak sah, baik untuk dinikmati langsung, diinvestasikan ke dalam
berbagai bentuk kejayaan material maupun keuangan, dipergunakan untuk membiayai
kegiatan bisnis yang sah, ataupun untuk membiayai kembali kegiatan tindak pidana.
Modus integration dalam pencucian uang dapat dilakukan dengan beberapa cara, di
antaranya:
1) Melakukan investasi pada suatu kegiatan usaha
Investasi pada suatu kegiatan usaha merupakan salah satu proses integrasi yang lazim
dilakukan. Melalui investasi tersebut, pelaku tindak pidana menggunakan harta hasil
kejahatan yang telah dicuci untuk membiayai suatu kegiatan bisnis. Setelah
diinvestasikan, uang yang ia peroleh dari kegiatan usaha tersebut dianggap sebagai
pendapatan usahanya
2) Penjualan dan pembelian aset
Dalam melakukan integrasi harta hasil tindak pidana dalam sistem keuangan, pelaku
pencucian uang umumnya diawali dengan penempatan yaitu dengan sebelumnya

October 9, 2016

141

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


menempatkan harta hasil tindak pidananya dalam perbankan atau sebagai aset
perusahaan boneka yang didirikan.
Perusahaan boneka tersebut kemudian dibuat seolah-olah melakukan transaksi
pembelian aset properti seperti gedung, dengan harga yang dinaikkan (marked up).
Hasil penjualan aset tersebut kemudian dianggap sebagai pendapatan dari transaksi
yang sah.
3) Pembiayaan korporasi
Pembiayaan korporasi melibatkan proses pencucian uang yang sangat rumit meliputi
proses penempatan dan pemisahan yang juga luar biasa canggih. Misalnya, pelaku
tindak pidana mendirikan perusahaan boneka di luar negeri. Pelaku kemudian
menyimpan harta hasil tindak pidana di dalam perbankan sebagai harta kekayaan
perusahaan boneka. Menggunakan harta tersebut, kemudian perusahaan boneka
bertindak sebagai perusahaan pembiayaan menyediakan skema investasi atau
pembiayaan kepada perusahaan lain yang memiliki kegiatan usaha yang sah.
Berikut ini adalah topologi kasus tindak pidana pencucian uang terkait tindak pidana
korupsi (penyuapan) dengan terpidana Rudi Rubiandini yang kutip dari laporan hasil riset
topologi semester 1 tahun 2015 Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK).
Terdakwa Rudi Rubiandini (RR) selaku pegawai negeri/penyelenggara negara yaitu
Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK
Migas) pada waktu antara bulan Februari 2013 hingga 13 Agustus 2013 menerima hadiah:
1. melalui Deviardi berupa uang dari Widodo Ratanachaitong (WR) dan PT KOPL
Indonesia yang diserahkan melalui Simon Gunawan Tanjaya (SGT) sejumlah
SGD200.000 dan USD900.000 dan uang sejumlah USD522.500 melalui Deviardi dari
Artha Meris Simbolon (AMS) selaku Presiden Direktur PT Kaltim Parna Industri (PT
KPI) dengan maksud agar melakukan sesuatu dalam jabatannya yang bertentangan
dengan kewajibannya terkait pelaksanaan lelang terbatas Minyak Mentah dan Kondensat
Bagian Negara di SKK Migas serta memberikan rekomendasi/persetujuan untuk
menurunkan Formula Harga Gas kepada Menteri energi dan Sumber Daya Mineral
2. serta menerima uang melalui Deviardi dari Yohanes Widjonarko (YW) sebagai Wakil
Kepala SKK Migas sejumlah SGD600.000 serta menerima uang melalui Deviardi dari

October 9, 2016

142

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


Gerhard Rumesser (GR) sebagai Deputi Pengendalian Dukungan Bisnis SKK Migas
sejumlah USD200.000
3. serta menerima uang melalui Deviardi dari Iwan Ratman (IR) sebagai Kepala Divisi
Penunjang Operasi SKK Migas sejumlah USD50.000 terkait karena jabatan terdakwa
selaku Kepala SKK Migas.
Modus operansi terdakwa RR bersama dengan Deviardi secara keseluruhan yaitu
menitipkan USD772.500 dan SGD800.000, membelanjakan dan membayarkan sejumlah
Rp3,6 miliar, menempatkan uang USD300.000, menga lihkan Rp300 juta, menukarkan mata
uang asing Rp2,9 miliar, bertujuan untuk menyembunyikan atau menyamarkan asal usul
harta kekayaan Terdakwa yang diketahui berasal dari tindak pidana korupsi atau patut diduga
sebagai hasil dari tindak pidana korupsi yang berkaitan dengan tugas dan jabatan terdakwa
selaku Kepala SKK Migas. Berikut rician modus operandi pencucian uang yang dilakukan
RR:
1. RR menempatkan uang dari WR pada Safe Deposit Box (SDB) milik terdakwa sejumlah
USD200.000 dan uang sejumlah USD100.000 pada brankas di ruangan kerja milik
terdakwa.
2. RR mengalihkan dengan cara meminta Asep Toni (sopir) menyetorkan uang secara tunai
ke rekening atas nama RG (Rp100 juta), ERRS (Rp50 juta), RA (Rp50 juta), RB (Rp50
juta).
3. RR meminta Deviardi (pelatif golf) untuk menyetorkan uang ke RH (Rp100 juta).
4. RR menitipkan uang pada SDB milik Deviardi sejumlah USD522.500 dari AMS,
USD50.000 dari IR, USD200.000 dari GR, SGD600.000 dari YW dan uang sejumlah
SGD200.000 dari GR dimasukkan ke rekening bank atas nama Deviardi di Singapura.
5. RR meminta Deviardi membelanjakan 1 unit mobil Volvo seharga Rp1,6 Miliar dengan
cara menukarkan USD50,000 di money changer lalu ditransfer ke Bank sebagai
pembayaran uang muka dengan kepemilikan atas nama Deviardi.
6. RR meminta Deviardi melakukan pelunasan pembelian 1 unit rumah di Tebet Jakarta
Selatan seharga Rp2 Miliar dengan cara menukarkan SGD di money changer lalu
disetorkan tunai ke bank.

October 9, 2016

143

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


7. Deviardi atas permintaan RR juga membeli 1 jam tangan Rolex dan 1 jam tangan Citizen
ECHO Drive dan 1 unit sedan Camry.
8. RR membayarkan biaya pernikahan anaknya kepada MW Organizer sebesar Rp405 juta
dengan cara menukarkan USD di money changer lalu disetorkan tunai ke Bank.
9. RR meminta Deviardi untuk menukarkan SGD lalu mentransfer uang tersebut kepada
YRA (Rp700 juta).
10. RR meminta Trikusuma Lydia (pegawai SKK Migas) menukarkan SGD70.000 di money
changer lalu ditransfer ke rekening RG sejumlah Rp500 juta dan sisanya Rp47 juta
diserahkan kepada
11. RR serta menukarkan SGD20.000 lalu ditransfer ke rekening IA dengan sisa Rp106 juta
diserahkan kepada RR.
12. RR meminta Asep Toni menukarkan SGD 9x di money changer setara dengan Rp1,5
miliar dan Rp300 juta hasil dari penukaran tersebut disetorkan ke beberapa bank.
13. Uang yang masih tersisa dalam Safe Deposit Box sejumlah USD60.000 dan SGD252.000
dan pada rekening milik Deviardi sejumlah Rp1 miliar disita oleh KPK.
Atas kasus ini Pengedilan Negeri Tipikor pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat
menetapkan Rudi Rubiandini (RR) telah melakukan tindak pidana korupsi dan pencucian
uang atau melanggar pasal 12 huruf ajo pasal 11 UU Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana
telah diubah UU nomor 20 tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi jo pasal
3 UU RI nomor 8 tahun 2010 tentang pencegahan dan pemberantasan tindak pidana
pencucian uang j.o pasal 55 ayat 1 ke-1 jo pasal 65 ayat 1 KUHP, dihukum dengan penjara 7
tahun dan denda 200.000.000 subsider 3 bulan.

October 9, 2016

144

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


BAB XI
Tujuan Audit Investigatif
Deskripsi Mata Kuliah
Akuntansi forensik dapat diartikan sebagai penerapan disiplin akuntansi pada masalah
hukum.. Mata kuliah Akuntansi Forensik merupakan mata kuliah yang memanfaatkan teknikteknik akuntansi forensik dalam upaya pencegahan fraud, khususnya korupsi.
Kegunaan Mata Kuliah
Setelah mengikuti perkuliahan akuntansi forensik, mahasiswa diharapkan mampu
mamahami mengenai Tujuan dari audit investigasi.
Sasaran belajar
Setelah menyelesaikan mata kuliah ini, mahasiswa diharapkan mampu memahami,
menjelaskan, dan memraktikkan audit investigatif, khususnya dalam hal pemberantasan tindak
pidana korupsi di Indonesia.
Urutan Penyajian
Modul Akuntasi Forensik disusun dengan struktur sebagai berikut :
I.
II.

Tinjauan Mata kuliah


Pendahuluan

III.

Materi Pembelajaran : Tujuan Audit Investigatif

IV.

Latihan

V.
VI.

Rangkuman
Daftar Pustaka

Petunjuk Belajar Bagi Mahasiswa dalam mempelajari Modul


Pembelajaran modul ini dilakukan dengan menggunakan metode Student Center
Learning (SCL). Metode ini menempatkan mahasiswa sebagai subyek pembelajaran yang aktif
menyerap materi kuliah dengan pendekatan cooperative/colaborative learning untu topik-topik
yang membutuhkan keterampilan dan bekerja dalam bentuk kelompok (tim) dan studi
lapangan. Setiap kelompok akan mempresentasikan topik tertentu di depan kelas dengan format
presentasi seperti seminar, untuk kemudian didiskusikan dalam bentuk sesi Tanya Jawab.

October 9, 2016

145

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


PENDAHULUAN

Sasaran Pembelajaran yang ingin dicapai


Mahasiswa mampu memahami Tujuan Audit Investigatif
Ruang Lingkup Bahan Modul
Ruang Lingkup modul ini adalah mengenai tujuan audit investigatif.
Manfaat Mempelajari modul
Dapat menjelaskan tujuan audit investigatif
Urutan pembahasan
Materi pokok Pembahasan dalam modul ini yaitu Tujuan Audit Investigatif
TUJUAN AUDIT INVESTIGATIF

Pengantar
Sebelum memulai suatu investigasi pimpinan perusahaan

atau lembaga perlu

menetapkan apa yang sesungguhnya ingin dicapai dari investigasi itu. Investigasi merupakan
proses yang panjang, mahal, dan bisa berdampak negatif terhadap perusahaan atau
stakeholder-nya.
Proses yang panjang dan lama, diikuti dengan banyaknya pihak (baik inte rn maupun
ekstren) yang terlibat atau dilibatkan, menyebabkan investigasi itu menjadi mahal. Perusahaan
juga harus menyediakan banyak sumber daya atau harus meng-commit sumber daya yang
akan disediakan.
Reputasi perusahaan juga bisa hancur kalau pengungkapan investigasi ini tidak
dikomunikasikan dengan baik. Contoh

obat yang sudah kadaluarsa dan seharusnya di

hancurkan, justru di jual oleh pegawai bagian gudang. Kecurangan ini dapat menjadi bencana
bagi konsumen. Namun kalau hasil investigasi dikomunikasikan dengan baik, maka hubungan
antara perusahaan dan konsumen justru dapat mencegah hancurnya reputasi perusahaan.
Oleh karena itu, tujuan dari audit investigasi harus di sesuaikan dengan keadaan khusus
yang dihadapi dan ditentukan sebelum investigasi d mulai.

October 9, 2016

146

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


Contoh dari Tujuan Investigatif
Di bawah ini disajikan bermacam- macam alternatif mengenai tujuan investigasi yang di
ambil dari K. H. Spencerr Picket dan Jenifer Picket, Financial Crime Investigation and
Control :
A. Memberikan manajemen. Tujuan utamanya adalah sebagai teguran keras bahwa
manajemen tidak

mampu

mempertanggungjawabkan kewajiban

fidusiannya,

kewajiban fidusia ini termasuk mengawasi dan mencegah terjadinya kecurangan oleh
karyawannya.
B. Memeriksa, mengumpulkan dan menilai cukupannya dan relevannya bukti. Tujuan
ini akan menekankan bisa diterimanya bukti-bukti sebagai alat bukti untuk
meyakinkan hakim di pengadilan. Konsepnya adalah forensicnevidence, dan bukan
sekedar bukti audit.
C. Melindungi reputasi dari karyawan yang tidak bersalah. Misalnya dalam pemberitaan
di media massa bahwa karyawan di bagian produksi menerima uang suap. Tanpa
investgasi, reputasi di semua karyawan di bagian produksi akan tercemar. Investigasi
mengungkapkan siapa yang bersalah. Mereka yang tidak bersalah terbebas dari
tuduhann (meskipun pergunjingan sering kali tidak terhindari)
D. Menemukan dan menggambarkan dokumen yang relevan untuk investigasi. Banyak
bukti dalam kejahatan keuangan berupa dokumen. Kalau banyak dokumen disusun
untuk menyembunyikan kejahatan, atau kalau dokumen ini dapat memberi petunjuk
kepada pelaku dan penaggung jawab kecurangan, maka tujuan dari investigasi ini
adalah menjaga keutuhan dokumen. Ruang kerja harus diamankan, tidak boleh ada
orang masuk keluar tanpa izin, dokumen harus diindeks dan dicatat.
E. Menemukan aset yang digelapkan dan mengupayakan pemulihan dari kerugian yang
terjadi. Ini meliputi penelusuran rekening bank, pembekuan rekening, izin- izin untuk
proses penyitaan dan atau penjualan aset, dan penentuan kerugian yang terjadi.
F. Memastikan bahwa semua orang, terutama mereka yang diduga menjadi pelaku
kejahatan, mengerti kerangka acuan dari investigasi tersebut, harapannya adalah
bahwa mereka brsedia bersikap

kooperatif dalam investigasi itu.

Teknik

pelaksanaanya adalah dengan dengar pendapat terbuka yang menghadirkan orang

October 9, 2016

147

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


luar sebagai penulis. Orang luar ini biasanya orang terkemuka dan terpadang . Hal ini
umumnya dilakukan apabila operasi tertutup dan rahasia(covert operation) gagal
mengungkapkan kecurangan yang berdampak luas.
G. Memastikan bahwa pelaku kejahatan tidak bisa lolos dari perbuatannya. Ada dua
versi dari pendekatan ini. Pertama, lakukan penuntutan tanpa pandang bulu, berapa
pun besar biayanya, siapapun pelakunya (penjahat besar maupun kecil Hal ini akan
mengirimkan pesan kepada seluruh karyawan dan pihak luar, bahwa perusahaan atau
lembaga itu serius dalam mengejar si penjahat. Kedua kejar si penjahat untuk
mengembalikan dana atau aset yang dicurinya, dan kemudian minta dia
mengundurkan diri atau diberhentikan. Pendekatan kedua, lebih tenang tidak ada
gembar-gembor.
H. Menyapu bersih semua karyawan pelaku kejahatan. Seperti pada butir di atas, tujuan
utamanya adalah menyingkirkan buah busuk agar buah segar tidak ikut busuk.
Pendekatannya adalah pendekatan disiplin perusahaan. Pembuktian terhadap tindak
kejahatan ini mungkin tidak akan lolos di sidang pengadilan. Akan tetapi pembuktian
di sini di arahkan kepada penerapan peraturan intern perusahaan .
I.

Memastikan bahwa perusahaan tidak lagi menjadi sasaran penjarahan. Kecurangan


menggorogoti sumber daya perusahaan, dan umumnya pemulihan kerugian ini tidak
ada atau sangat sedikit. Pendekatan ini menghentikan kerugian lebih lanjut dan
menutup celah-celah peluang terjadinya kejahatan.

J. Menentukan bagaimana investigasi akan dilanjutkan. Apakah investigasi akan


diperuas atau diperdalam, atau justru dibatasi lingkupnya. Kadang-kadang suatu
investigasi dilaksanakan secara tentatif atau eksploratif dan bertahap. Dalam
investigasi ini laporan kemajuan memungkinkan evaluasi, apakah kita akan
melanjutkannya. Kalau iya bagaimana lingkupnya.
K. Melaksanakan investigasi sesuai standar, sesuai dengan peraturan perusahaan, sesuai
dengan buku pedoaman. Tujuan semacam ini biasanya didasarkan atas pengalaman
buruk. Dimasa lalu, misalnya, tujuan daripada investigasi adalah untuk menagkap
pelakunya. Ketika investigasi dilakukan secara gencar, investigasinya kebablasan
dan pelaksanaannya melanggar ketentuan.

October 9, 2016

148

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


L. Menyediakan laporan kemajuan secara teratur untuk membantu pengambilan
keputusan mengenai investigasi di tahap berikutnya. Banyak investigasi bersifat
iterative, artinya suatu investigasi atas dugaan kejahatan menghasilkan temuan baru
yang melahirkan dugaan tambahan atau suatu dugaan baru. Investigasi pertama
diikuti dengan investigasi berikutnya, dan seterusnya, secara iterative memperluas
pemahaman investigator mengenai berapa dalamnya masalah yang dihadapi.
Konsultasi, diskusi, dan persentasi dari temuan-temuan secara berkala (mingguan,
misalnya) merupaka ciri khas dari pendekatan ini.
M. Memastikan pelakunya tidak melarikan diri atau menghilang sebelum tindak lanjut
yang tepat dapat diambil. Ini biasanya merupakan tujuan investigasi dalam hal pelaku
tertangkap tangan, seperti dalam kasus pencurian di supermarket. Umumnya
kejahatan di tempat kerja tidak memiliki ciri khusus ini karena karyawan dikenal atau
mempunyai identitas yang disimpan dalam catatan perusahaan. Akan tetapi dalam
kejahatan tertentu, misalnya penggelapan uang yang melibatkan piha-pihak di luar
perusahaan, pendekataa ini sangat tepat.
N. Mengumpulkan cukup bukti yang dapat diterima pengadilan, dengan sumber daya
dan terhentinya kegiatan perusahaan seminimal mungkin. Pendekatan ini berupaya
mencari pemecahan yang optimal dalam kasus yang terjadi.
O. Memperoleh gambaran yang wajar tentang kecura ngan yang terjadi dan membuat
keputusan yang tepat mengenai tindakan yang harus diambil. Hasil investigasi sering
kali ditindaklanjuti secara emosional. Kalau karyawan itu disukai oleh atasan atau
rekan sekerjanya, pimpinan cenderung memaafkan

perbuatannya dan tidak

memanfaatkan peluang untuk memperbaiki sistem yang berhasil dijebolnya.


Sebaliknya, kalau pimpinan atau rekan sekerjanya tidak menyukai si pelaku
kecurangan, pimpinan cenderung menghukumnya seberat-beratnya. Kedua sikap tadi
akan merugikan perusahaan. Dengan memperoleh gambaran yang layak (fair) maka
pimpinan secara sadar membuat keutusan tentang siapa yang melakukan investigasi
(harus seorang profesional) dan bagaimana tindak lanjutnya.
P. Mendalami tuduhan (baik oleh orang dalam atau luar perusahaan, baik lisan maupun
tertulis, baik dengan nama terang atau dalam bentuk surat kaleng) untuk

October 9, 2016

149

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


menaggapinya secara tepat. Investigasi yang didasarkan pada tujuan ini, tidak akan
menelan mentah- mentah fakta yang diajukan dalam tuduhan itu. Fokusnya adalah
pada konteks tuduhan itu dan apakah tuduhan itu akan dianggap serius.
Q. Memastikan bahwa hubungan dan suasana kerja tetap baik. Hal ini sangat penting
ketika moral kerja merupakan kunci keberhasilan dalm perusahaan atau tim kerja.
R. Melindungi nama baik perusahaan atau lembaga. Tujuan dari investigasi ini tentunya
bukan untuk melindungi lembaga yang sebagian besar memang sudah korup. Kalau
tujuan ini ditetapkan dalam kondisi semacam ini, maka yang terjadi adalah
persekongkolan jahat atau kolusi. Tujuan investigasi di atas sangat tepat apabila
kejahatan dilakukan oleh segelintir orang, padahal reputasi perusahaan secara
keseluruhan terancam.
S. Mengikuti seluruh kewajiban hukum dan mematuhi semua ketentuan mengenai due
diligence dan klaim kepada pihak ketiga (misalnya klaim asuransi)
T. Melaksanakan investigasi dalam koridor kode etik. Kita umumnya menyadari akan
perlunya ketentuan perundang-undangan dipatuhi, dan konsekuensi terhadap
pelanggarannya. Namun, lebih sulit mengikuti kewajiban etika. Dalam situasi di
mana pelaku kecurangan pasrah, ia sering kali mengikuti kehendak sang
investigator. Dalam kondisi seperti ini, si investigator lupa akan kode etiknya,
sekadar karena pada saat itu si terduga tidak mempertanyakan sikap dan tinggkah si
investigator. Sering kali kepasrahan si terduga diikuti dengan arogansi si
investigator, menyuburkan praktik-raktik pelanggaran kode etik. Dengan menetapkan
tujuan investigasi ini, perusahaan ingin memastikan bahwa investigator senantiasa
mengikuti kode etik yang sudah ditetapkan.
U. Menentukan siapa pelaku dan mengumpulakan bukti mengenai niatntya. Prakarsa ini
bermaksud untuk menyeret si pelaku ke pengadilan pidana, misalnya pengadilan
tindak pidana korupsi. Oleh karena itu, perlu mengumpulkan bukti yang cukup untuk
proses penyidikan yang diikuti dengan penuntutan dan selanjutnya proses pengadilan.
Dengan demikian, seluruh daya dikerahkan disertai publisitas penuh, yang sangat
sejalan dengan kebiajkan tanpa ampun

October 9, 2016

150

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


V. Mengumpulkan bukti yang cukup untuk menindak pelaku dalam perbuatan yang
tidak terpuji. Ini serupa dengan tujuan dalam butir 21 di atas, dengan perbedaan
bahwa butir ini diproses melalui ketentuan administratif atau perdata.
W. Mengidentifikasi praktik manajemen yang tidak dapat dipertanggungjawabkan atas
perilaku yang melalaikan tanggung jawab. Seorang karyawan dibagian pengadaan
berkolusi dengan pemasok. Hal ini memungkinkan karyawan memperkaya dirinya
sendiri, yang dipakainya untuk pembelian properti mewah. Investigasi dilakukan
dalam dua tahap. Tahap pertama diarahkan kepada pelaku. Sedangkan tahap kedua
kepada atasannya. Tahap kedua ingin menjawab pertanyaan : mengapa atasannya
tidak melihat petunjuk awal (anak buah bertambah kekayaan dalam jangka waktu
pendek) ataukah sekurang-kurangnya mewawancarai anak buahnya.

Tujuan

investigasi dalam butir ini adalah untuk tahap kedua tadi.


X. Mempertahankan kerahasiaan dan memastikan bahwa perusahaan atau lembaga ini
tidak terperangkap dalam ancaman tuntutan pencemaran nama baik. Gaya kerja
serbu dan tangkap atau tangkap dulu, jelaskan kemudian, sering kali rawan
terhadap kemungkinan perusahaan dituntut. Oleh karena itu, tujuan investigasi ini
harus jelas dan ditegaskan sebelum investigasi dilakukan.
Y. Mengidentifikasi saksi yang melihat atau mengetahui terjadinya kecurangan dan
memastikan bahwa mereka memberikan bukti yang mendukung tuduhan atau
dakwaan terhadap si pelaku. Tujuan ini berkaitan dengan petunjuk bahwa si pelaku
mengidentifikasikan orang-orang yang secara potensial bisa menjadi saksi, baik
dalam proses penyidikan maupun dalam sidang pengadilan. Perlindungan terhadap
para saksi ini dapat mendorong mereka memberikan keterangan, petunjuk, atau bukti
yang diperlukan.
Z. Memberikan rekomendasi mengenai bagaimana mengelola risiko

terjadinya

kecurangan ini dengan tepat. Dalam jangka panjang, manajemen risiko yang baik
yang akan mencegah atau mengurangi terjadinya kecurangan.
Penutup
Dari contoh-contoh di atas, terlihat adanya berbagai tujuan dalam melakukan
suatu investigasi. Istilah investigasi dalam pengunaan sehari- hari, memberi kesan seolah-

October 9, 2016

151

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


olah hanya ada satu jenis. Jenis yang kita kenal umumnya adalah dalam konteks tindak
pidana korupsi. Tujuan akhirnya, menjebloskan koruptor ke penjara dan/ atau
mendapatkan kembali sebagian atas seluruh hasil jarahannya.
Pemilihan diantara berbagai alternatif tujuan investigasi, tergantung dari
organisasi atau lembaganya serta mandat yang dipunyainya, jenis dan besarnya
kecurangan, dan budaya di lembaga tersebut. Tanggung jawab untuk menentukan tujuan
yang ingin dicapai dalam suatu investigasi terletak pada pimpinan.
IV. LATIHAN SOAL
1. Sebutkan yang dimaksud dengan Tujuan audit investigatif!
2. Bagaimana komunikasi hasil audit investigatif memengaruhi reputasi perusahaan?
3. Mengapa audit investigatif haus disesuaikan dengan keadaan khusus perusahaan?

October 9, 2016

152

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


RANGKUMAN
Tujuan Investigatif
a. Memberhentikan manajemen
b. Memeriksa, mengumpulkan, dan menilai cukupnya & relevannya bukti
c. Melindungi reputasi dari karyawan yang tidak bersalah
d. Menemukan dan mengamankan dokumen yang relevan untuk investigasi
e. Menemukan aset yang digelapkan dan mengupayakkan pemulihan dari kerugian yang
terjadi
f.

Memastikan bahwa semua orang, terutama terduga pelaku mengerti kerangka acuan
investigasi dengan harapan mereka bersedia kooperatif

g. Memastikan bahwa pelaku kejahatan tidak bisa lolos dari perbuatannya


h. Menyapu bersih semua karyawan pelaku kejahatan
i.

Memastikan bahwa perusahaan tidak lagi menjadi sasaran penjarahan

j.

Menentukan bagaimana investigasi yang akan dilanjutkan

k. Melaksanakan investigasi sesuai standar


l.

Menyediakan laporan kemajuan secara teratur untuk membantu pengambilan


keputusan mengenai investigasi tahap berikutnya

m. Memastikan pelaku tidak melarikan diri atau menghilang sebelum tindak lanjut yang
tepat dapa di ambil
n. Memgumpulkan bukti yang dapat diterima pengendalian
o. Memperoleh gambaran yang wajar tentang kecurangan yang terjadi dan membuat
keputusan yang tepat mengenai tindakan yang harus diambil
p. Mendalami tuduhan (baik oleh orang dalam atau luar perusahaan)
q. Memastikan bahwa hubungan dan suasan kerja tetap baik
r. Melindungi nama baik perusahaan dan lembaga
s. Mengikuti seluruh kewajiban hukum dan mematuhi semua ketentuan mengenai due
diligensi dan klaim kepada pihak ketiga
t.

Melaksakan investigasi dalam koridor kode etik

u. Menetukan siapa pelaku dan mengumpulkan bukti mengenai niatnya

October 9, 2016

153

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


v. Mengumpulkan bukti yang cukup untuk menindak pelaku dalam perbuatan yang tidak
trpuji
w. Mengidentifikasi Praktik manajemen yang idak dapat dipertanggungjawabkan atau
perilaku yang melalaikan tanggung jawab
x. Mempertahankan kerahasiaan dan memastikan bahwa perusa haan atau lembaga ini
tidak terperangkap ancaman hukum pencearan nama baik
y. Mengidentifikasi saksi yang melihat atau mengetahui terjadinya kecurangan dan
memastikan bahwa mereka memberikan bukti yang mendukung tuduhan atau
dakwaan terhadap si pelaku
z. Memberikan rekomendasi mengenai bagaimana mengelola risiko

terjadinya

kecurangan ini dengan tepat.

October 9, 2016

154

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


BAB XII
Investigasi dan Audit Investigatif
Deskripsi Mata Kuliah
Akuntansi forensik dapat diartikan sebagai penerapan disiplin akuntansi pada masalah
hukum.. Mata kuliah Akuntansi Forensik merupakan mata kuliah yang memanfaatkan teknikteknik akuntansi forensik dalam upaya pencegahan fraud, khususnya korupsi.
Kegunaan Mata Kuliah
Setelah mengikuti perkuliahan akuntansi forensik, mahasiswa diharapkan mampu
mamahami mengenai Investigasi dan Audit Investigatif.
Sasaran belajar
Setelah menyelesaikan mata kuliah ini, mahasiswa diharapkan mampu memahami,
menjelaskan, dan memraktikkan audit investigatif, khususnya dalam hal pemberantasan tindak
pidana korupsi di Indonesia.
Urutan Penyajian
Modul Akuntasi Forensik disusun dengan struktur sebagai berikut :
VII.
VIII.
IX.
X.
XI.
XII.
XIII.

Tinjauan Mata kuliah


Pendahuluan
Materi Pembelajaran : Investigasi dan Audit Investigatif
Latihan
Rangkuman
Tes Komparatif dan Penilaian
Daftar Pustaka

Petunjuk Belajar Bagi Mahasiswa dalam mempelajari Modul


Pembelajaran modul ini dilakukan dengan menggunakan metode Student Center
Learning (SCL). Metode ini menempatkan mahasiswa sebagai subyek pembelajaran yang aktif
menyerap materi kuliah dengan pendekatan cooperative/colaborative learning untu topik-topik
yang membutuhkan keterampilan dan bekerja dalam bentuk kelompok (tim) dan studi
lapangan.

October 9, 2016

155

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


PENDAHULUAN

Sasaran Pembelajaran yang ingin dicapai


Mahasiswa mampu memahami Investigasi dan Audit Investigatif
Ruang Lingkup Bahan Modul
Ruang Lingkup modul ini adalah mengenai Investigasi dan Audit Investigatif
Manfaat Mempelajari modul
Dapat menjelaskan Investigasi dan Audit Investigatif
Urutan pembahasan
Materi pokok Pembahasan dalam modul ini yaitu Investigasi dan Audit
Investigatif
TUJUAN AUDIT INVESTIGATIF
Pengantar
Bab ini akan membahas investigasi dalam makna auditing dan hukum. Pengertian
investigasi dan pemeriksaan fraud digunakan silih berganti berbagai sinonim. Idealnya ada
kesamaan makna konsep-konsep auditing dan hukum.
Dalam filsafat auditing, kita mengenal konsep due audit care, prudent auditor, seorang
profesional yang berupaya menghindari tuntutan dengan tuduhan teledor (negligent) dalam
melaksanakan tugasnya. Untuk itu pemeriksa fraud atau investigator perlu mengetahui tiga
aksioma dalam pemeriksaan fraud.
Aksioma dalam Investigasi
Aksioma atau postulate adalah pernyataan yang tidak dibuktikan atas atau tidak
diperagakan, dan dianggap sudah jelas dengan sendirinya. Kebenaran dari proposisi ini tidak
dipertanyakan lagi. Aksioma merupakan titik tolak untuk menarik kesimpulan tentang suatu
kebenaran yang harus dibuktikan melalui pembentukan teori
Association of Certified Fraud Examiners (ACFE) menyebut tiga aksioma dalam
melakukan investigasi atau pemeriksaan fraud. Ketiga aksioma ini oleh ACFE diistilahkan fraud
axioms (aksioma fraud) yang terdiiri atas

October 9, 2016

156

MODUL AKUNTANSI FORENSIK

Aksioma -1, fraud is hidden

Aksioma-2, Reverse proof

Aksioma-3, Existence of Fraud


Aksioma tentang fraud sangat gamblang (self-evident). Ketiga aksioma tentang fraud ini

pun tidak memerlukan pembuktian mengenai kebenaannya. Namun, jangan remehkan


kegambalangannya. Pemeriksa yang berpengalaman pun sering kali menghadapi berbagai
masalah ketika ia mengabaikan aksioma-aksioma ini.
Fraud is Hidden
Fraud is hidden atau fraud selalu tersembunyi Berbeda dengan kejahatan lain, sifat
perbuatan fraud adalah tersembunyi. Metode atau modus operandinya mengandung tipuan, untuk
menyembunyikan sedang berlangsugnya fraud. Hal yang terlihat di permukaan bukanlah yang
sebenarnya terjadi atau berlangsung.
Bandingkan perampokan bank dengan adegan lain. Direksi bank atau kepala cabang bank
besar memfasilitasi pelanggangnya dengan membuka L/C fiktif atau memberikan kredit
bodong yang segera menjadi NPL (non-performing loan).
Transaksi ini di dukung dengan segala macam berkas resmi dari perusahaan sang
pelanggan, bank, notaris, kantor akuntan, pengacara, bermacam- macam legitimasi (termasuk
surat-surat keputusan dari lurah sampai petinggi negara lainnya) dan entah berkas apalagi
(mungkin risalah rapat direksi). Hal kedua, pihak-pihak yang terlibat menutup rapat-rapat
kebusukan mereka. Penyuapan aparat penegak hukum dari instansi lain merupakan biaya
penutup kebusukan ini. Kedua skenario ini tidak terpisah, satu menguatkan yang la in dalam
jalinan atau packaging yang rapi. Ada Arranger. Kalau perlu ada seremoni penandatanganan
perjanjian kredit atau L/C yang di hadiri pejabat negara.
Adegan pembobolan pertama (oleh perampok) terlihat kasar dan kasat mata. Adegan
pembobolan kedua (oleh kelompok yang disebut atau menamakan diri mereka profesional)
terlihat bersih. Jumlah yang di jarah dalam adegan pertama hanya ratusan juta rupiah. Dalam
adegan kedua, nilai jarahan ratusan miliar atau triliun rupiah.
Metode untuk menyembunyikan fraud begitu banyak, pelaku fraud sangat kreatif mencari
celah-celah untuk menyembunyikan fraud-nya, sehingga investigasi yang berpengalaman pun
sering terkicuh. Meskipun pendapat bahwa fraud terjadi (padahal fraud tidak terjadi) atau,

October 9, 2016

157

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


sebaliknya, memberikan pendapat bahwa fraud tidak terjadi (padahal sebenarnya fraud terjadi),
membuat investigator (pemeriksa fraud) berisiko menghadapi tuntutan hukum.
Reverse Proof
Reverse proof secara harfiah berarti pembuktian secara terbalik. Agar kita tidak keliru
mencampuradukkannya dengan istilah hukum pembalikan beban pembuktian (omkeren va de
bewijslat, penulis menerjemahkan reverse proof sebagai pembuktian fraud secara timbal
balik
Penjelasannya adalah sebagai berikut. Misalnya kita (investigator atau pemer iksa fraud)
membantu jaksa penyidik, dan berupaya membuktikan terjadinya fraud (misalnya dalam bentuk
korupsi). Investigator mengumpulkan bukti dan barang bukti sesuai dengan ketentuan
perundang-undangan yang bersangkutan. Tujuannya adalah agar bukti dan barang bukti, di
dalam persidangan dapat diterima sebagai alat bukti yang diapakai (majelis) hukum untuk
membuat putusan tentang telah terjadi korupsi. Ini adalah arah pertama dari pemeriksaan korupsi
atau fraud.
Arah keduanya, justru terbalik. Investigator mengumpulkan bukti dan barang bukti ssuai
dengan ketentuan perundang- undangan, untuk membuktikan tidak terjadi korupsi. Arah atau
perpesktif kedua dari pemeriksaan fraud sering kali (karena kurang pengalaman pemeriksa)
diabaikan oleh pemeriksa. Upaya dua arah (timbal balik ) ini merupakan bagian yang sangat sulit
dalam proses pembuktian.
Penjelasan serupa dapat diberikan untuk investigator yang membantu penasihat hukum tim
pembela. Ia berupaya membuktikan tidak terjadi fraud atau korupsi. Ini adalah arah p ertama dari
pemeriksaannya untuk membuktian korupsi atau fraud tidak terjadi.
Kita di Indonesia dapat mengabaikan ketentuan perundang-undangan Amerika Serikat
(dengan beberapa pengecualian seperti Foreign Corrupt Practices Act). Namun kita tidak dapat
mengabaikan reverse proof ini. Kalau kita melihat fraud dari dua sisi (terjadi dan tidak terjadinya
fraud) kita dapat mengantisipasi posisi lawan, sambil memperkuat posisi kita dalam
pertempuran di sidang pengadilan.
Existence of Fraud
Aksioma ini secara sederhana ingin mengatakan bahwa hanya pengadilan yang dapat
(berhak) menetapkan bahwa fraud memang terjadi atau tidak terjadi.

October 9, 2016

158

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


Pemeriksa fraud berupaya membuktikan terjadi atau tidak terjadinya fraud. Nmun hanya
pengadilan yang mempunyai kewenangan untuk menetapkan hal itu. Di Amerika Serikat
berwenang itu ada pada pengadilan (majelis hakim) dan para juri.
Dalam upaya menyelidiki adanya fraud, pemeriksa membuat dugaan mengenai apakah
seseorang bersalah (guilty) atau tidak (innocent). Bersalah atau tidaknya seseorang merupakan
dugaan atau bagian dari teori fraud, sampai pengadilan (majelis hakim) memberikan putusan
atau vonis.
Pertemuan Pendahuluan
Akuntan Foerensik melakukan pertemuan pendahuluan dengan calon klien(pimpinan
perusahaan di sektor swasta). Ia bisa bertemu dengan dan mewawancarai komite audit (atau
pejabat perusahaan lainnya) dan menanyakan hal-hal sebagai berikut .
1. Mengapa pimpinan menduga atau mencurigai adanya fraud?
2. Pada unit usaha (cabang, departemen, bagian) atau transaksi apa diduga terjad i fraud
sehingga audit investigatif diperlukan?
3. Apa sifat (nature) dari fraud tersebut?
4. Kapan fraud diduga atau dicurigai terjadi?
5. Bagaimana masalahnya ditemukan?
6. Siapa yang menemukan masalahnya?
7. Bagaimana fraud tersebut diklakukan (modus operandi) ?
8. Berapa banyak jumlah yang dijarah?
9. Siapa yang di duga menjadi pelaku fraud?
10. Apakah ada pekerjaan pendahuluan yang sudah dilakukan sebagai persiapan untuk audit
investigatif
Akuntan forensik kemudian merumuskan lingkup dan tujuan audit investigatif yang
memenuhi harapan klien, misalnya berikut ini
1. Pemecatatan pelaku fraud
2. Pengumpuan bukti dan barang bukti yang cukup untuk penuntutan di pengadilan
3. Penentuan apakah terjadi salah saji yang material di dalam laporan keuangan, dan tindak
lanjutnya (misalnya, melapor ke Bapepam-LK, melakukan restatement, dan lain-lain)

October 9, 2016

159

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


4. Persiapan terhadap potensi tuntutan kelompok (class-action) oleh pemegang saham,
konsumen (pemakai produk yang dihasilkan klien), dan lain- lain, dan investigasi oleh
penegak hukum (kejaksaan, KPK, Bappepam, Penyidik dari Direktorat Jenderal Pajak,)
terkait dengan kasus yang diaudit investigatif.
5. Persiapan untuk menghadapi negoisasi dengan lembaga- lembaga pemerintahan yang
berkenaan dengan kasus yang diaudit investigatif.
Contoh di sektor publik adalah penunjukan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK RI untuk
melakukan audit investigatif atas kasus Bank Century. Pemberi tugas adalah Dewan
Pertimbangan Rakyat. Auditee (atau objek pemeriksaan terdiri atas berbagai instansi seperti
Bank Century ( yang berubah menjadi Bank Mutiara), Bank Indonesia, Komite Stabilitas Sistem
Keuangan (KSSK), Departemen Keuangan, dan lain-lain.
Tentunya BPK juga mengantisipasi konsekuensi laporan audit investigatifnya terhadap
pembentukan Panitia Khusus Hak Angket mengenai Bank Century da n dampak politik yang
luas. Sikap kehati-hatian (prudent) dan penerapan professional skepticim sangat mengemuka
dalam kasus ini.
Predication
Setiap investigasi dimulai dengan keinginanan atau harapan bahwa kasus ini berakhir
dengan suatu litigasi. Padahal ketika memulai investigasi, pemeriksa belum memiliki bukti yang
cukup. Ia baru mempunyai dugaan atas dasar predication.
Keadan ini tidak berbeda dengan ilmuwan yang membuat dugaan atas dasar
pengamatannya terhadap berbagai fakta, kemudian dugaan ini ujiannya. Seperti hipotesis yang
harus diuji oleh ilmuwan, pemeriksa fraud membuat teori tentang bagaimana fraud itu terjadi,
selanjutnya akan di sebut teori fraud. Teori ini tidak lain dari rekaan atau perkiraan yang harus di
buktikan.
Investigasi dengan pendekatan teori fraud meliputi langkah-langkah sebagai berikut.
1. Analisis data yang tersedia
2. Ciptakan (atau kembangkan) hipotesis berdasarkan analisi di atas.
3. Uji atau tes hipotesis tersebut.
4. Perhalus atau ubah hipotesis berdasarkan hasil pengujian sebelumnya.

October 9, 2016

160

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


Dengan predication ini kita dapat membangun teori fraudnya, dan kita dapat mengarahkan
investigasi pada pengumpulan bukti-bukti yang diperlukan. Dalam membangun teori fraud, harus
menerapkan enam kata tanya.
Seorang Pemeriksa mewawancarai tiga orang (A,B, dan C) secara terpisah. Oleh karena
faktor- faktor yang sudah disebutkan di ata, mereka memberikan keterangan menurut versi
masing- masing. Keterangan ketiga orang disajikan dalam bentuk lingkaran pada Gambar 12.1.
Keterangan mereka ada yang bersesuaian (konsisten), tetapi ada juga yang berbeda
(bahkan mungkin bertentangan). Ada keterangan yang sama sekali tidak benar, ada yang
merupakan white lies (sebagian keterangannya benar untuk memberi kesan bahwa bagian lain
juga benar, tetapi sebenarnya bohong), dan ada keterangan yang tidak relevan . Keterangan tiga
pasangan (A dan B, B dan C: dan A dan C) saling menutupi di bidang AB, BC, dan AC dalam
gambar 12.1. Ketiga bidang ini menunjukkan persesuaian keterangan dari ketiga pasangan. Di
samping itu, ada persesuaian keterangan dari ketiga orang, ini ditunjukkan oleh ABD dalam
gambar 12.1.
Pemeriksa memutuskan perhatiannya pada persesuaian keterangan. Keterangan tambahan
yang masuk secara bertahap dan dengan bermacam- macam teknik investigasi lainnya, akan
mengonfirmasi atau melemahkan hipotesis yang di buat. Apabila melemahkan hipotesis semula,
pemeriksa memperbaiki hipotesisnya. Proses ini terus berjalan sampai persidangan pengadilan,
di mana bukti (evidence) diharapkan dapat di ubah menjadi alat bukti (proof)

October 9, 2016

161

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


Secara sistematik, proses pengembangan teori fraud disajikan di bagan 12.1 . Investigasi
hanya dilakukan apabila ada predication yang memadai. Pada mulanya, ada sejumlah data. Data
ini bisa berasal dari laporan audit internal, temuan audit umum, atau aduan, keluhan dan
petunjuk awal (disingkat AKP) yang dijadikan predication awal yang diperkuat dengan data
dan informasi dari berbaga sumber.
Pada tahap awal ada sumber-sumber yang sukarela bersedia diwawancarai. Juga ada
dokumen/catatan perusahaan (akuntansi, perjanjian, akta-akta, risalah rapat, dan lain- lain) dan
sumber-sumber lain (misalnya data industri, publikasi asosiasi, atau kamar dagang, dan lainlain). Semua sumber ini dianalisis untuk melihat ada keganjilan, penyimpanangan atau indikasi
fraud yang lebih kuat dari predication awal tau sebaliknya, semua informasi dan data baru
memberi petunjuk bahwa predication awal keliru, dan pemeriksa tidak mempunyai predication
yang memadai.
Pada persimpangan inilah pemeriksa membuat keputusan untuk terus atau berhenti
melaksanakan investigasi (go or no go). Tidak jarang pemeriksa meningkatkan investigasi,
misalnya dari penyelidikan ke penyidikan, karena pelaku berupaya menghancurkan bukti,
melarikan diri, atau melakukan fraud yang lebih besar.
PEMERIKSAAN DALAM HUKUM ACARA PIDANA
Pembahasan mengenai pemeriksaan fraud di atas adalah dari kaidah-kaidah auditing.
Istilah yang dingunakan dalam pembahasan sebelumnya adalah istilah akutansi dan auditing.
Padahal, pemeriksaan Fraud dimaksudkan untuk pembuktian di pengadilan. Idealnya,
pendekatan auditing dan hukum berjalan seiring. Namun, latar belakang kedua bidang ilmu itu
berbeda .
Undang-Undang Hukum Acara Pidana (Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981) mengatur
tahapan hukum acara pidana sebagai berikut .
1. Penyelidikan
2. Penyidikan
3. Penuntutan
4. Pemeriksaan di sidang pengadilan
5. Putusan pengadilan
6. Upaya hukum

October 9, 2016

162

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


7. Pelaksanaan putusan pengadilan
8. Pengawasan terhadap pelaksanaan putusan pengadilan
Tahap 1 (Penyelidikan) sampai dengan Tahap 6 (Upaya Hukum) merupakan satu ra ngkaian
pemeriksaan yang merupakan upaya pembuktiaan. Hal itu dijelaskan dalam tiap tahap dari Tahap
1 sampai dengan tahap 6 .
Penyelidikan
Penyelidikan adalah serangkaian kegiatan penyelidik untuk mencari dan menemukan suatu
perbuatan yang diduga merupakan tindak pidana guna menentukan dapat atau tidaknya
penyidikan dilakukan .
Penyelidikan tidaklah berdiri sendiri atau terpisah dan penyidikan, melainkan merupakan
satu rangkaian yang mendahului tindakan penyidikan lainnya, yakni penangkapan, penahanan,
penggeledahan, atau penyitaan . Penyelidik mempunyai wewenang sebagai berikut .
1.

Menerima laporan atau pengaduan tentang adanya dugaan tindak pidana

2.

Mencari keterangan dan barang bukti.

3.

Menyuruh berhenti orang yang dicurigai dan menanyakan serta memeriksa tanda
pengenal diri .

Alat perintah penyidik , penyelidik dapat melakukan tindakan berupa :


1.

Penangkapan, larangan meninggalkan tempat , penggeledahan, dan penyitaan .;

2.

Pemeriksaan dan penyitaan surat ;

3.

Membawa dan menghadapkan seseorang kepada penyidik .


Wewenang penyelidik seperti mencari keterangan dan barang bukti sudah memasuki ruang

lingkup pembuktiaan. Kalau keterangan yang diperoleh dari beberapa orang saling bersesuaian
satu sama lain, apalagi kalau ada keterkaitan dengan barang bukti yang ditemukan, maka
penyelidik dapat menduga telah terjadi suatu tindak pidana. Selanjutnya penyidikan dapat
dilakukan .
Apabila Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan penyelidikan dan dari
penyelidikan itu tidak ditemukan sekurang-kurangnya dua bukti, maka penyelidik melaporkan
kepada KPK untuk menghentikan penyelidikan. Sedangkan apabila kejaksaan dan kepolisian
yang melakukan penyelidikan, tidak dikenal penghentian penyelidikan. Dalam hal penyelidik

October 9, 2016

163

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


(kejaksaan dan kepolisian) berpendapat perbuatan tersebut b ukan merupakan tindak pidana maka
penyidikan tidak dilanjutkan, tanpa proses .
Penyidikan
Penyidikan adalah serangkaian kegiatan penyidik untuk mencari dan mengumpulkan bukti,
dan dengan bukti itu membuat terang tindak pidana yang terjadi untuk menemukan
tersangkanya. Untuk mencari dan mengumpulkan bukti, undang-undang memberi wewenang
kepada penyidik untuk :
1.

.Menggeledah dan menyita surat dan barang bukti ;

2.

Memanggil dan memeriksa saksi , yang keterangannya di tuangkan dalam berita acara
pemeriksaan tersangka ;

3.

Memanggil dan memeriksa tersangka , yang keterangnya dituangkan dalam berita acara
pemeriksaan tersangka ;

4.

Mendatangkan ahli untuk memperoleh keterangan ahli yang dapat juga diberikan dalam
bentuk laporan ahli ;

5.

Menahan tersangka , dalam hal tersangka dikhawatirkan akan melarikan diri ,


menghilangkan barang bukti atau mengulangi melakukan tindak pidana .
Apabila dari bukti-bukti yang terkumpul diperoleh persesuaian antara yang satu dengan

yang lainya, dan dari persesuaian itu diyakini bahwa memang telah terjadi tindak pidana dan
tersangka itulah yang melakukanya, maka penyidik menyerahkan hasil penyidikannya kepada
penuntutan umum. Hasil penyidikan itu tertuang dalam berkas perkara yang didalamnya terdapat
bukti-bukti.
Dalam hal penyidik (kepolisian dan kejaksaan) berpendapat bahwa dari bukti-bukti yang
dikumpulkan secara meksimal ternyata tidak terdapat cukup bukti atau terbukti tapi bukan
merupakan tindak pidana (korupsi) maka mereka berwenang menghentikan penyidikan .KPK
tidak menghentikan penyidikannya , karena kewenangannya ada pada penghentian penyelidikan.
Prapenuntutan
Prapenuntutan adalah tindakan jaksa (penuntut umum ) untuk memantau pekembangan
penyidikan setelah menerima pemberitahuan dimulainya penyidikan dari penyidik, mempelajari
atau meniliti kelengkapan berkas perkara hasil penyelidik yang diterima dari penyidik serta

October 9, 2016

164

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


memberikan petunjuk guna dilengkapi oleh penyelidik untuk dapat menentukan apakah berkas
perkara tersebut dapat dilimpahkan atau tidak ke tahap penuntutan.
Penuntut umum tidak akan menerima berkas perkara hasil penyidikan yang buktinya tidak
lengkap. Oleh karena bukti ini akan dijadikan alat bukti di sidang pengadilan untuk
membuktikan tidak pidana yang di dakwakan . Di tahap prapenuntutan, pembuktian merupakan
fokus utama dalam meneliti berkas perkara hasil penyidikan .
Penuntutan
Penuntutan adalah tindakan penuntutan umum yang melimpahkan perkara ke pengadilan
negeri yang berwenang,sesuai dengan cara yang diatur dalam hukum acara pidana,dengan
permintaan agar diperiksa dan diputuskan oleh hakim disidang pengadilan .
Setelah penuntut umum menerima atau menerima kembali hasil penyidikan yang lengkap
dari penyidik, ia segera menentukan apakah berkas perkara itu sudah atau belum memenuhi
syarat untuk dilimpahkan ke pengadilan.
Apabila penuntut umum berpendapat bahwa tidak dapat dilakukan penuntutan karena dari
hasil penyidikan tidak terdapat cukup bukti, maka penuntut umum dengan surat ketetapan
menghentikan penuntutan. Sebaliknya, apabila penuntutan umum berpendapat bahwa terdapat
cukup bukti maka ia segera membuat surat dakwaan. Bersmaan berkas perkara, surat dakwaan
dilimpahkan ke pengadilan untuk selanjutnya dijadikan dasar pemeriksaan di sidang pengadilan
Pemeriksaan dan Pengadilan
Seperti pada tahap tahap sebelumnya, acara pemeriksaan di sidang pengadilan tidak lain
berkenaan dengan pembuktiaan .Bukti bukti yang diperoleh di tingkat penyidikan diperiksa
kembali disidang pengadilan untuk dijadikan alat bukti adalah berikut ini
1.

Saksi-saksi yang telah diperiksa oleh penyidik dipanggil kembali ke siding pengadilan
untuk memperoleh alat bukti keterangan saksi .

2.

Tersangka yang sudah diperiksa di tahap penyidikan, diperiksa kembali di sidang


pengadilan, untuk mendapatkan alat bukti keterangan terdakwa .

3.

Ahli yang telah memberikan keterangan di penyidikan atau yang telah membuat laporan
ahli, di panggil lagi untuk didengar pendapatnya atau dibacakan laporannya di siding
pengadilan, agar diperoleh alat bukti keterangan ahli .

October 9, 2016

165

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


4.

Surat dan barang bukti yang telah disita oleh penyidik diajukan ke sidang pengadilan
untuk dijadikan alat bukti surat dan petujuk .
Itulah cara memperoleh alat bukti di sidang pengadilan. Hanya alat bukti yang sah yang

diperoleh di sidang pengadilan, yang dapat meyakinkan hakim tentang kesalahan terdakwa. Alat
bukti yang sah terdiri atas :
1.

Keterangan saksi

2.

Keterangan ahli

3.

Surat Keterangan dakwa

4.

Petunjuk
Pemeriksaan di sidang pengadilan mempunyai satu tujuaan saja, yaitu mencari alat bukti

yang membentuk keyakinan hakim tentang bersalah atau tidaknya terdakwa .


Putusan Pengadilan
Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang kecuali apabila dengan
sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak
pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah. Kesalahan terdakwa
ditentukan oleh keyakinan hakim, namun keyakinan itu harus didasarkan atas sekurangkurangnya dua alat bukti yang sah , yang harus ada persesuaian satu dengan yang lain .
Berdasarkan alat bukti yang diperoleh disidang pengadilan, hakim menjatuhkan putusan
berikut ini .
1.

Putusan pemidanaan, apabila pengadilan berpendapat bahwa terdakwa terbukti bersalah


melakukan tindak pidana yang didakwakan kepadanya .

2.

Putusan bebas, apabila pengadilan berpendapat bahwa dari hasil pemeriksaan di sidang,
kesalahan terdakwa atas perbuatan yang di dakwakan tidak terbukti secara sah dan
meyakinkan

3.

Putusan lepas dari segala tuntutan hukum, apabila pengadilan berpendapat bahwa
perbuatan yang didakwakan kepada terdakwa terbukti, tetapi perbuatan itu tidak
merupakan

suatu

tindak

pidana

atau

terbukti tetapi

terdakwa

tidak

dapat

dipertanggungjawabkan terhadap perbuatanya.


Upaya Hukum

October 9, 2016

166

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


Upaya hukum adalah hak terdakwa atau penuntut umum tidak menerima putusan
pengadilan yang berupa perlawanan atau banding atau kasasi, atau hak terpidana untuk
mengajukan permohonan peninjauan kembali, atau hak jaksa agung untuk mengajukan kasasi
demi kepentingan hukum dalam hal serta menurut cara yang diatur dalam undang undang .
Upaya hukum ada dua macam, yaitu upaya hukum biasa dan upaya Hukum Luar Biasa.
Upaya Hukum Biasa terdiri atas pemeriksaan tingkat Banding dan Pemeriksaan Kasasi. Upaya
Hukum Luar Biasa terdiri atas Pemeriksaan Kasasi Demi Kepentingan Hukum dan Peninjauan
Kembali putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap .
Permintaan banding ke pengadilan tinggi dilakukan terhadap putusan pemindanaan . Ini
berarti bahwa terdakwa atau penuntut umum tidak menerima putusan pengadilan negeri dan
menyangkut masalah pembuktian dimana pengadilan tinggi yang berhak menilainya.
Permintaan peninjauan kembali diajukan oleh terpidana untuk diperiksa Mahkamah Agung
terhadap semua peytusan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap, kecuali putusan bebas,
atau lepas dari segala tuntutan hukum. Dasarnya adalah novum (bukt i baru ) yang ditemukan
setelah putusan pengadilan mempunyai kekuatan hukum tetap .
Bukti dan Pembuktian Auditing dan Hukum
Dari penjelasan di bagian terdahulu, jelas bahwa keenam tahapan dalam KUHAP (mulai
tahap Penyelidikan sampaI Tahap Upaya Hukum, baik upaya hukum biasa maupun upaya hukum
luar biasa ) berkenaan dengan pembuktian. Juga penjelasan mengenai fraud theory tidak lain dari
proses mengumpulkan bukti yang dapat diterima di pengadilan
Para auditor yang berlatar belakang pendidikan akutansi mengenai istilah bukti audit.
mereka bahkan mengira bahwa pengertian bukti dalam auditing sama dengan pengertian yang
digunakan di pengadilan atau dalam bidang hukum. Mautz dan Sharaf (membandingkan
pengertiaan bukti dalam ilmu eksakta (matematika, logika), ilmu fisikal (eksperimental),
hukum, sejarah, dan auditing..
Dalam bidang mereka sendiri para akuntan dan auditor di Indonesia sering terkecoh
dengan bukt dan sesuatu yang mengandung unsur-unsur pembuktian (evidential matter). Hasil
pemahaman dan keyakinan akan bukti-bukti pengauditan itulah yang di maksud

dengan

evidential matter. Jadi, evidential matter ada di dalam benak auditor, bukan realitas objektif dan

October 9, 2016

167

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


konkret yang berada di luar kesadaran intelektual dan mental auditor. Evidential matter tidak
sama dengan evidence seperti dikontraskan pada Tabel 2.
Tabel 2
Perbandingan Sifat antara Evidential Matter dan Evidence
Evidential Matter

Evience

1. Ada di dalam benak atau kesadarn Ada di luar benak auditor


intelektuak dan mebtal auditor
2. Abstrak

Konkret, empiris

3. Realitas subjektif

Realitas objektif

4. Realitas substantif

Realitas bentuk

LATIHAN SOAL
1. Apakah arti dari aksioma?
2. Sebutkan tiga jenis aksioma!
3. Jelaskan Investigasi dengan pendekatan fraud!
RANGKUMAN
Investigas dan Audit Investigasi
Audit Investigasi merupakan sebuah kegiatan sistematis dan terukur untuk mengungkap
kecurangan sejak diketahui, atau diindikasikannya sebuah peristiwa/ kejadian/transaksi yang
dapat memberikan cukup keyakinan, serta dapat digunakan sebagai bukti yang memenuhi
pemastian suatu kebenaran dalam menjelaskan kejadian yang telah diasumsikan sebelumnya
dalam rangka mencapai keadilan (search of the truth)
Tiga aksioma dalam fraud yaitu
Aksioma -1, fraud is hidden
Aksioma-2, Reverse proof
Aksioma-3, Existence of Fraud
Undang-Undang Hukum Acara Pidana (Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981) mengatur
tahapan hukum acara pidana sebagai berikut:
Penyelidikan
Penyidikan

October 9, 2016

168

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


Penuntutan
Pemeriksaan di sidang pengadilan
Putusan pengadilan
Upaya hukum
Pelaksanaan putusan pengadilan
Pengawasan terhadap pelaksanaan putusan pengadilan
TES KOMPARATIF
1.

Sebutkan dan jelaskan mengenai aksioma

2.

Sebutkan tahapan Undang-Undang Hukum Acara Pidana (Undang-Undang Nomor 8 Tahun


1981) mengenai hukum acara fraud!

3.

Gambarkan keterangan saksi dari 3 saksi

Jawaban
1. Tiga aksioma adalah
a. Fraud is Hidden
Berbeda dengan kejahatan lain, sifat perbuatan fraud adalah tersembunyi. Metode
atau modus operandinya mengandung tipuan, untuk menyembunyikan sedang
berlangsugnya fraud. Hal yang terlihat di permukaan bukanlah yang sebenarnya
terjadi atau berlangsung
b. Reverse Proof
Pemeriksaan fraud didekati dari dua arah. Untuk membuktikan fraud memang terjadi,
pembuktian harus meliputi upaya untuk membuktikan bahwa fraud tidak terjadi. Dan
sebaliknya, dalam upaya membuktikan fraud tidak terjadi, pembuktian harus meliputi
upaya untuk membuktikan bahwa fraud memang terjadi
c. Exstence of Fraud
Aksioma ini secara sederhana ingin mengatakan bahwa hanya pengadilan yang dapat
(berhak) menetapkan bahwa fraud memang terjadi atau tidak terjadi
2. Tahapannya adalah:
a. Penyelidikan
b. Penyidikan

October 9, 2016

169

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


c. Penuntutan
d. Pemeriksaan di sidang pengadilan
e. Putusan pengadilan
f.

Upaya hukum

g. Pelaksanaan putusan pengadilan


h. Pengawasan terhadap pelaksanaan putusan pengadilan
3. Gambarnya sebagai berikut

UMPAN BALIK/PENILAIAN
Setelah mahasiswa mengerjakan Tes Formatif di atas, mahasiswa dapat mencocokkan
jawabannya dengan Kunci Tes Formatif. Berdasarkan hasil tersebut, terdapat beberapa kriteria
pemahaman mahasiswa sebagai berikut.
Jawaban Benar

Pemahaman

Keterangan

Amat Baik

Lulus

Baik

Lulus

<2

Cukup

Mengulang

October 9, 2016

170

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


BAB XIII
Audit Investigatif dengan teknik Audit
Deskripsi Mata Kuliah
Akuntansi forensik dapat diartikan sebagai penerapan disiplin akuntansi pada masalah
hukum.. Mata kuliah Akuntansi Forensik merupakan mata kuliah yang memanfaatkan teknikteknik akuntansi forensik dalam upaya pencegahan fraud, khususnya korupsi.
Kegunaan Mata Kuliah
Setelah mengikuti perkuliahan akuntansi forensik, mahasiswa diharapkan mampu
mamahami mengenai Audit Investigatif dengan Teknik Audit.
Sasaran belajar
Setelah menyelesaikan mata kuliah ini, mahasiswa diharapkan mampu memahami,
menjelaskan, dan memraktikkan audit investigatif, khususnya dalam hal pemberantasan tindak
pidana korupsi di Indonesia.
Urutan Penyajian
Modul Akuntasi Forensik disusun dengan struktur sebagai berikut :
XIV.
XV.
XVI.
XVII.
XVIII.
XIX.

Tinjauan Mata kuliah


Pendahuluan
Materi Pembelajaran : Audit Investigatif dengan Teknik Audit
Latihan
Rangkuman
Daftar Pustaka

Petunjuk Belajar Bagi Mahasiswa dalam mempelajari Modul


Pembelajaran modul ini dilakukan dengan menggunakan metode Student Center
Learning (SCL). Metode ini menempatkan mahasiswa sebagai subyek pembelajaran yang aktif
menyerap materi kuliah dengan pendekatan cooperative/colaborative learning untu topik-topik
yang membutuhkan keterampilan dan bekerja dalam bentuk kelompok (tim) dan studi
lapangan. Setiap kelompok akan mempresentasikan topik tertentu di depan kelas dengan format
presentasi seperti seminar, untuk kemudian didiskusikan dalam bentuk sesi Tanya Jawab.

October 9, 2016

171

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


PENDAHULUAN

Sasaran Pembelajaran yang ingin dicapai


Mahasiswa mampu memahami Audit Investigatif dengan Teknik Audit
Ruang Lingkup Bahan Modul
Ruang Lingkup modul ini adalah mengenai Audit Investigatif dengan Teknik
Audit
Manfaat Mempelajari modul
Dapat menjelaskan Audit Investigatif dengan Teknik Audit
Urutan pembahasan
Materi pokok Pembahasan dalam modul ini yaitu Audit Investigatif dengan
Teknik Audit
AUDIT INVESTIGASI DENGAN TEKNIK AUDIT
Pengantar
Katainvestigasi dalam akuntansi forensik umumnya berati audit investigasi atau
investigatif. Karena itu secara alamiah, diantara beberapa teknik investigasi ada teknik-teknik
yang berasal dari teknik-teknik audit
Banyak auditor yang sudah berpengalaman pun, merasa ragu untuk terjun dalam bidang
investigasi. Padahal tekni-teknik audit yang mereka kuasai, memadai untuk dipergunakan dalam
audit investigasi.
Audit umum merupakan suatu pemeriksaan umum atas laporan keuangan yang dilakukan
oleh Kantor Akuntan Publik (KAP) yang independen dengan maksud untuk memberikan opini
mengenai kewajaran laporan keuangan secara keseluruhan sesuai dengan PABU. Pemeriksaan
tersebut harus memperhatikan SPAP (Standar Profesional Akuntan Publik) dan memperhatikan
Kode Etik Akuntan Indonesia yang telah disahkan oleh IAI. Teknik audit adalah cara-cara yang
dipakai dalam mengaudit kewajaran penyajian laporan keuangan. Hasil dari penerapan teknik
audit adalah bukti audit

October 9, 2016

172

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


Dalam audit atas laporan keuangan, tujuannya adalah memberikan pendapat mengenai
kewajaran laporan keuangan sesuai dengan standar akuntansi keuangan. Hasil audit ini
ditunjukkan oleh bentuk opini, seperti unqualified opinion, qualified opinion, disclaimer opinion,
atau adverse opinion
Auditor dalam audit atas laporan keuangan, berpikir mengenai teknik observasi
perhitungan. Misalnya, persediaan barang sekedar untuk melihat kecocokkan jumlah fisik dan
jumlah administrasi. Selama jumlah kedua informasi ini cocok, auditor tidak akan komplain.
Teknik audit yang memanfaatkan teknik-teknik audit yang sudah dikenal oleh auditor selama ini
yaitu audit atas laporan keuangan, perbedaannya adalah tujuan dan ruang lingkup.
Kalau teknik audit diterapkan dalam audit umum, maka bukti audit yang berhasil dihimpun
akan mendukung auditor dalam mengeluarkan pendapat independen. Dalam audit investigative,
teknik-teknik tersebut bersifat eksploratif, mencari wilayah atau probing maupun pendalaman.
Audit Investigatif
Audit investigatif merupakan audit yang dilakukan dalam upaya untuk mengungkapkan
adanya indikasi kuat terjadinya kecurangan yang berakibat kepada kerugian yang diderita oleh
pihak-pihak terkait baik berupa suatu institusi maupun terhadap perorangan. Adapun proses yang
dilalui memiliki target agar terselesaikannya berbagai indikasi kepada suatu kejelasan dan
ketetapan secara hukum atas tindak kecurangan.
Audit investigatif lebih dalam dan tidak jarang melebar ke audit atas hal-hal yang tidak
disentuh oleh opini audit. Audit investigatif diarahkan kepada pembuktian ada atau tidak adanya
fraud dan perbuatan melawan hukum. Meskipun tujuan opini audit berbeda dari audit
investigatif, teknik auditnya sama. Hal yang berbeda hanyalah penerapan yang lebih intens
dalam audit investigatif. Penerapan teknik yang lebih mendalam, kadang-kadang melebar,
dengan fokus pada pengumpulan bukti hukum untuk menentukan apakah seseorang melakukan
fraud atau tidak.
Tujuan audit investigatif adalah mengumpulkan bukti-bukti yang dapat diterima oleh
ketentuan perundang- undangan yang berlaku atau mengumpulkan bukti hukum dan barang bukti
sesuai dengan hukum acara atau pembuktian yang berlaku.
Kunci keberhasilan dari teknik audit investigasi adalah :
1. Mengerti dengan baik persoalan yang akan dipecahkan, apa yang akan diaudit.

October 9, 2016

173

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


2. Kuasai teknik-tekni audit investigative
3. Cermat dalam menerapkan teknik yang dipilih
4. Cermat dalam menarik kesimpulan dari hasill penerapan teknik yang dipilih
Jika auditor dalam audit investigatif memanfaatkan teknik observasi misalnya, perhitungan
persediaan barang untuk menentukan apakah persediaan barang tidak terlalu banyak,
dibandingkan dengan jumlah pesanan ekonomis. Ia melihat potensi fraud dalam pengadaan
barang yang berlebihan.
Teknik Audit didalam Audit Investigatif
Ada tujuh teknik yang dirinci dalam bentuk kata kerja bahasa Indonesia, dengan jenis bukti
auditnya dalam kurung (kata benda bahsa inggris), yaitu :
1. Memeriksa fisik (physical examination)
Memeriksa fisik atau (physical examination) diartikan sebagai perhitungan uang
tunai (baik dalam mata uang rupiah atau mata uang asing) , kertas berharga, persediaan
barang, aktiva tetap, dan barang berwujud lainnya.
Mengamati sering diarikan sebagai pemanfaatan indera kita untuk mengetahui
sesuatu. Jika kita lakukan kunjungan pabrik, kita melihat luasnya pabrik, peralatan yang
ada, kegiatan yang dilakukan dan beragamnya tenaga kerja.
Untuk audit investigative, tidak dibedakan antara pemeriksaan fisik dan
pengamatan. Dalam kedua teknik ini investigator menggunakan inderanya, untuk
mengetahui atau memahami sesuatu. Beberapa contohnya adalah:
a.

Dari kunjungan ke lokasi yang terkena dampak semburan lumpur panas di Porong,
investigator menyaksikan sendiri apa yang terjadi dan luasnya musibah, ini
merupakan salah satu bentuk pemahaman.

b.

Dari kunjungan ke wilayah yang terkena gempa, para relawan dan petugas dari Dinas
Sosial dapat menentukan jumlah kilometer jalan, rumah, sekolah, tempat ibadah,
jkantor, pabrik dan lain- lain yang rusak. Pemahaman ini lebih luas daripada
bayangan mengenai intensitas kerugian dari contoh pertama

c.

Pengamatan tenaga ahli dari amskapai asuransi akan memberikan kepadanya


pemahaman yang lebih mendalam lagi, yakni siapa yang bertanggungjawab dan
siapa yang layak menerima klaim ganti rugi.

October 9, 2016

174

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


2. Meminta Informasi dan konfirmasi (confirmation)
Meminta Informasi dan konfirmasi baik lisan maupun tertulis kepada auditan,
merupaka prosedur yang biasa dilakukan auditor. Pertanyaannya, apakah dalam
incestigasi hal itu perlu dilakukan? Apakah sebaiknya kita tidak meminta informasi,
supaya yang diperiksa tidak mengetahui apa yang kita cari? Yang bersangkutan juga
mempunyai kepentingan dan peluang untuk berbohong
Permintaan informasi harus dibarengi, diperkuat, atau dikolaborasikan dengan
informasi dari sumber lain atau diperluas dengan cara lain, sedangkan meminta
konfirmasi adalah meminta pihak lain untuk menegaskan kenenaran atau tidak kebenaran
suatu informasi
3. Membandingkan Anggaran Dengan Realisasi
Hasil dari membandingkan data anggaran dan realisasi dapat mengindikasikan
adanya fraud. Hal yang perlu dipahami di sini adalah mekanisme pelaksanaan anggaran,
evaluasi atas pelaksanaan anggaran, dan insentif yang terkandung dalam sistem
anggarannya.
Dalam entitas yang merupakan profit center atau revenue center, pejabat tertentu
menerima insentif sesuai dengan keberhasilan yang diukur denga n pelampauan anggaran.
Investigator perlu mengantisipasi kecenderungan realisasi penjualannya dibuat tinggi.
Penjualan kredit dan pengiriman barang secara besar-besaran pada akhir tahun
merupakan indikasi mengenai hal itu. Pengembalian barang sesudah akhir tahun
memperkuat indikasi adanya fraud.
Insentif tidak perlu berupa insentif keuangan seperti bonus. Mempertahankan
seseorang bisa menjadi suatu insentif. Misalnya, dalam perusahaan yang berkecimpung di
bidang teknologi, dewan komisaris berupaya menjatuhkan anggota direksinya dengan
mempertanyakan mengapa anggaran modal untuk mendatangkan peralatan berteknologi
tinggi belum juga direalisasi. Investigator perlu memahami kepentingan tersebut.
4. Memeriksa dokumen (dokumentation)
Teknik ini tidak memerlukan pembahasan khusus. Tidak ada investigasi tanpa
pemeriksaan dokumen. Hanya saja, dengan kemajuan teknologi, definisi dokumen

October 9, 2016

175

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


menjadi luas, termasuk informasi yang diolah, disimpan

dan dipindahkan secara

elektronik
5. Mereview analitikal (analitic review)
Dalam review analitikal yang penting bukannya perangkat lunakny, tetapi
semangatnya, pada dasarnya seorang investigator secara intuitif terobsesi dengan
sesuatu yang melenceng dan bawa something must be wrong because it ppears so.
Karena itu ia memerlukan patokan atau benchmark untuk membandingkan dengan apa
yang dihadapinya. Patokan inilah yang dirumuskan Stinger dan Stewart sebagai results
taht may reasonably be expected.
6. Hubungan Antara Satu Data Keuangan Dengan Data Keuangan Lain
Beberapa akun, baik dalam suatu maupun beberapa laporan keuangan, dapat
mempunyai keterkaitan yang dapat dimanfaatkan untuk reviu analitikal. Contoh: angka
penjualan dengan piutang dan persediaan rata-rata, angka penjualan dengan bonus bagian
penjualan, penghasilan bunga dengan saldo rata-rata tabungan.
7. Menggunakan Data Non Keuangan
Inti dari reviu analitikal adalah mengenal pola hubungan, relationship pattern. Pola
hubungan ini tidak mesti hanya antara satu data keuangan dengan data keuangan lain.
Dalam bisnis perkebunan ada hubungan jumlah pupuk yang dipergunakan dengan hasil
produksi atau panen, angka masukan ataupun keluaran dinyatakan dalam satuan non
keuangan, seperti jumlah ton untuk pupuk dan sawit.
Reviu analitikal sering dilakukan dengan hitungan cepat untuk menunjukkan
keganjilan. Seorang bankir mencatat informasi yang diterimanya dari calon debiturnya.
Dengan cepat ia menentukan bahwa pabrik berkapasitas besar di lokasi yang terisolasi,
tidak akan dapat beroperasi karena bahan bakunya tidak akan c ukup. Semua data untuk
membuat kesimpulan tersebut dia peroleh selama makan siang dengan calon debiturnya.
8. Menghitung kembali (reperformance)
Menghitung kembali atau repeform tidak lain dari mencek perhitungan (kali, bagi,
tambah, kurang dan lain- lain). Ini prosedur yang sangat lazim dalam audi. Biasanya tugas
ini diberikan kepada seseorang yang baru mulai bekerja sebgau auditor, seorang junior
auditor di kantor akuntan.

October 9, 2016

176

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


Dalam investigatif, perhitungan yang dihadapi umumnyasangat kompleks,
didasarkan atas kontrak atau perjanjian yang rumt, mungkin sudah terjadi perubahan dab
rebnegoisasi berkalikali degan pejabat (atau kabinet) yang berbeda. Perhitungan ini
dilakuka atau disurvisi oleh investigator yang berpengalaman.
IV SOAL LATIHAN
1. Sebutkan Perbedaan Audit Umum dan Audit Investigatif!
2. Apa Saja Kunci Keberhasilan dalam Audit Investigatif?
3. Sebutkan Teknik-teknik Audit dalam Audit Investigatif!
RANGKUMAN
Terdapat perbedaan antara ruang lingkup atau intensitas antara audit general dan audit
investigatif. Dalam audit atas laporan keuangan, auditor mengumpulkan bukti audit untuk
memberikan reasonable assurance atau keyakinan yang memadai.
Audit investigatif lebih dalam dan lebih luas dari audit atas laporan keuangan, karena
bukti hukum dan barang bukti yang dikumpulkan akuntan forensik, akan diuji dalam
persidangan. Pengujian inilah yang akan menentukan apakah bukti dan barang bukti ini dapat
menjadi bukti yang dapat memberikan keyakinan kepada majelis hakim.

October 9, 2016

177

MODUL AKUNTANSI FORENSIK


DAFTAR PUSTAKA
Association of Certified Fraud Examiner. (2015). Report to the nation on occupational fraud and
abuse. Austin: Association of Certified Fraud Examiner.
Burn, Gray, Scott, dan Stephenson. 2011. Asset Recovery Handbook A Guide for Practitioners.
Washington DC: The World Bank
Hartanti, Evi (2008), Tindak Pidana Korupsi, Jakarta : Sinar Grafika.
Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pengawasan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan.
(2008). Fraud Auditing. Bogor: Pelatihan Pengawasan Badan Pengawasan Keuangan
dan Pembangunan.
Puslitbang BPKP (2001), Evaluasi Perkembangan Akuntansi Pemerintah Pusat dan Daerah,
Tuanakotta, Theodorus M (2010), Akuntansi Forensik dan Audit Investigatif Edisi 2, Jakarta:
Salemba Empat.
Vona, L. W. (2011). The Fraud Audit. New Jersey: John Wiley & Sons, Inc.
Undang-Undang nomor 1 Tahun 2006 tentang Bantuan Timbal Balik dalam Masalah Pidana.
2006. Jakarta: Kementerian Hukum dan HAM.
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Hukum Acara Pidana. 1981. Jakarta:
Departemen Kehakiman.
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana
Pencucian Uang. 2010. Jakarta: Kementerian Hukum dan HAM.

October 9, 2016

178