Anda di halaman 1dari 16

ANALISIS BIDANG HUKUM OLAHRAGA

TERHADAP KEBERLAKUAN STATUTA FIFA


SEBAGAI SISTEM HUKUM TRANSNASIONAL
SEBUAH STUDI KASUS PUTUSAN NO. 319/PID.B/2009/PN.SKA

Disusun Oleh:
Sahala David Domein (1506676430)

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK
2016

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Karena
berkat rahmat dan karunia-Nya, makalah yang membahas tentang peran hukum
nasional berhadapan dengan hukum transnasional dalam menyelesaikan sengketa
olahraga, berjudul Analisis Bidang Hukum Olahraga Terhadap Keberlakuan Statuta
FIFA sebagai Sistem Hukum Transnasional dapat saya selesaikan dengan tuntas
dan tepat waktu. Atas dukungan moral dan materiil yang diberikan dalam
penyusunan makalah ini, maka saya juga mengucapkan banyak terima kasih kepada
:
1. Ibu. Fully Handayani Ridwan, S.H., M.Kn. selaku dosen fasilitator kelas
Pengantar Hukum Indonesia, yang telah memberi bimbingan dan arahan
dalam proses penulisan makalah ini.

2. Teman-teman kelas Pengantar Hukum Indonesia yang tidak bisa saya


sebutkan satu per satu, yang telah saling mendukung dalam proses
pembelajaran maupun penyusunan makalah ini.
Mengingat keterbatasan pengetahuan dan keterampilan dari penulis, saya
mohon maaf apabila dalam penyusunan makalah ini terdapat banyak kekurangan
dan kesalahan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik yang
membangun demi penyempurnaan makalah ini, semoga makalah ini bisa
bermanfaat untuk kita semua.

Depok, 12 Juli 2016

BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Negara sebagai negara kesejahteraan memiliki peran penting dalam
perlindungan dan pengupayaan kesejahteraan umum (promoting public welfare).1
Dalam melaksanakan tujuan kesejahteraan itu, sebuah negara tidak dapat
mengingkarkan dirinya dari masyarakat global. Dengan kemampuannya untuk
dapat beradaptasi dengan keadaan global, sebuah negara dapat turut serta menjadi
bagian dari pembangunan global. Tujuan negara untuk memajukan kesejahteraan
umum tersebut sebenarnya sudah tercantum dalam rumusan pembukaan UUD
1945. Namun, dengan pengertian seperti dijelaskan sebelumnya, konsep negara
kesejahteraan juga dapat dimasukkan dalam kerangka ikut melaksanakan ketertiban
dunia yang berdasarkan perdamaian abadi dan keadilan sosial.2
Keadilan sosial dalam upaya memajukan kesejahteraan umum itu dapat
dimengerti seperti pengertian dalam Pancasila. Menurut Purnadi Purbacaraka dan
Soerjono Soekanto, perumusan itu terarah pada upaya penyerasian unsur rohaniah
dan jasmaniah, dimana olahraga menjadi salah satu upaya mendukung daya tahan
jasmaniah.3 Dengan demikian, dapat dimengerti konstruksi berfikir dimana
olahraga merupakan sebuah hak konstitusional seorang warga negara, dan
memberikan kewajiban bagi negara untuk membangun kondisi dan infrastruktur
yang sedemikian rupa sehingga terdapat akses yang cukup bagi warga negara untuk
berolahraga. Salah satu bidang olahraga yang sangat digemari dan dikatakan paling
berkembang belakangan ini adalah sepakbola. Pengembangan kompetisi sepakbola
profesional dapat dijadikan upaya memajukan kesejahteraan umum.
Yang menjadi permasalahan adalah sejauh mana peran negara dapat
mengintervensi jalannya sebuah kompetisi sepakbola profesional yang sepenuhnya
1

Britannica, Editor of Encyclopdia. 2015. Encyclopdia Britannica. Agustus 21. Diakses pada 11
Juli 2016. https://www.britannica.com/topic/welfare-state.
2
Pandjaitan, Hinca. 2011. Kedaulatan Negara vs Kedaulatan FIFA. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama
3
Purbacaraka, Purnadi, dan Soekanto, Soerjono. 1982. Renungan Tentang Filsafat Hukum.
Jakarta Rajawali

ditangani oleh asosiasi sepakbola nasional dan federasi internasional yang


menaunginya. Hal yang mana terlihat ada intervensi dari badan peradilan Indonesia
melalui putusan Pengadilan Negeri Surakarta No. 319/Pid.B/2009/PN.SKA4 yang
menetapkan terdakwa Nova Zaenal Mutaqin bersalah melakukan tindak pidana
penganiayaan.
Kasus ini terjadi pada 12 Februari 2009 dalam pertandingan sepakbola
antara Persis Solo dan Gresik United pada Divisi Utama Liga Indonesia di Stadion
R. Maladi. Kronologi kejadian sebagaimana dijelaskan pada surat dakwaan berawal
dari protes pemain Persis Solo, Nova Zaenal atas tindakan pemain Gresik United,
Bernard Mamadou yang tidak melakukan tendangan fair play. Setelah terjadi
pertengkarang antara keduanya, Bernard Mamadou memukul kearah pelipis kiri
Nova Zaenal hingga terjatuh. Kemudian terdakwa Nova Zaenal berdiri dan
mengejar Bernard Mamadou untuk kemudian memukulnya di perut bagian kiri atas
sebanyak 3 kali.5
Jalannya peradilan berujung pada pemidanaan kedua pesepakbola karena
terbukti secara meyakinkan melanggar pasal 351 ayat (1) KUHP tentang tindak
pidanan penganiayaan. Dalam pertimbangannya, Majelis hakim menitikberatkan
pada yurisdiksi dan kompetensi PN Surakarata yang berbenturan dengan yurisdiksi
Komisi Disiplin PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia). Selain itu muncul
permasalahan pada keberlakuan sistem hukum Indonesia sebagaimana diatur pada
UU No. 10 tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan yang
bertentangan dengan sistem hukum transnasional yang dibentuk oleh FIFA (The
Fdration Internationale de Football Association) berupa law of the game (lex
lucida sebagai bagian dari lex sportiva).6

Terdapat dakwaan dengan register berbeda untuk locus dan tempus yang sama melalui putusan
No. 381/Pid.B/2009/PN.SKA atas nama terdakwa Bernard Mamadou. Karena pertimbangan
hukumnya adalah sama, digunakan salah satu untuk dikaji. Putusan ini belum berkekuatan
hukum tetap karean adanya upaya hukum lain dari Nova Zaenal.
5
Surat Dakwaan Penuntut Umum No. Register PDM-124/SKRTA/Ep.1/06/2009.
6
Pandjaitan, Hinca. Op. Cit. hlm 408

BAB II
ISI
PANDANGAN MENGENAI LEX SPORTIVA DAN HUKUM OLAHRAGA
NASIONAL

Kasus yang melibatkan Nova Zaenal Mutaqin dan Bernard Mamadou


merupakan hal baru yang sudah menciptakan preseden untuk insiden keolahragaan
di masa mendatang. Hal ini membuktikan bahwa jalannya sistem peradilan pidana
di Indonesia berjalan dengan konsisten tanpa membedakan orang yang berperkara.
Namun demikian, penggunaan aturan pidana sebagai upaya pada insiden olahraga
masih menjadi perdebatan. Sebagian orang menganggap pemberlakuan hukum
pidana sebagai bentuk intervensi negara dalam penyelenggaraan kompetisi
sepakbola. Orang yang berpendapat demikian beranggapan bahwa aturan dalam
jalannya pertandingan olahraga sudah diatur oleh badan-badan internal otonom
pada bidangnya. Pemberlakuan hukum pidana hanya akan menyebabkan rasa takut
masyarakat untuk berpartisipasi dalam kegiatan olahraga.
Di lain pihak, sebagian orang juga berpendapat bahwa pemberlakuan hukum
pidana diperlukan untuk membatasi tindakan olahragawan dalam sebuah
pertandingan olahraga. Aturan-aturan spesifik yang ditetapkan oleh badan otonom
internal olahraga tidak dapat mengesampingkan kepentingan hukum olahragawan
dengan menghilangkan sifat melawan hukum dari suatu tindakan. Adanya
konsensus yang tersirat dari olahragawan untuk kemungkinan terjadinya cedera
bukan berarti cedera yang mungkin terjadi tidak melawan hukum.7
Kedua pandangan ini berbeda dalam melihat sistem hukum yang semestinya
mengatur sebuah kompetisi olahraga. Pandangan pertama berpijak pada domestic
sport law dan global sport law, yang kemudian disebut dengan lex sportiva. Pada
lex sportiva, setiap sengketa olahraga mestinya diselesaikan secara internal dan
independen oleh badan peradilan dibawah organisasi olahraga yang bersangkutan.
Dengan demikian, muncul independensi dan imunitas asosiasi serta federasi
olahraga dari hukum nasional. Sebaliknya, pandangan kedua memberikan akses
7

Akbari, Anugerah Rizki. 2011. Tindak Pidana Penganiayaan pada Cabang Olahraga Sepakbola.
Depok: Universitas Indonesia

seluas-luasnya bagi sistem hukum nasional untuk menyelesaikan sengketa olahraga


melalui badan peradilan nasional.8 Kedua pandangan tersebut berpijak pada
hubungan hukum yang sah diantaranya. Misalnya pada lex lucida yang berpijak
pada hubungan privat antara pemain sepakbola, organisasi sepakbola, asosiasi
sepakbola, dan federasi sepakbola internasional (FIFA). Sementara yang lainnya
berpijak pada hubungan antara warga negara yang tunduk pada hukum negaranya.9
Pertentangan keduanya masih terus diperbincangkan seiring pertumbuhan
olahraga sepakbola yang begitu pesat. Sementara untuk Indonesia, kasus
penganiayaan Nova Zaenal dan Bernard Mamadou membuka lembaran untuk
bidang hukum olahraga. Nyatanya sudah banyak kasus serupa yang terjadi jauh
sebelum ini. Hal ini karena begitu dekatnya perbedaan antara tindakan olahraga
yang disetujui dan tindakan kriminal yang sudah diatur melalui hukum nasional.
Maka dari itu, harus dipahami parameter penting untuk membedakan tindak pidana
atau laku olahraga. Selain itu, harus dipahami peran dan posisi FIFA sebagai
lembaga transnasional yang menaungi konfederasi dan asosiasi olahraga di seluruh
dunia.
ASPEK YURIDIS FIFA SEBAGAI ORGANISASI INTERNASIONAL
SERTA KOMPETENSINYA MENGADILI SENGKETA SEPAKBOLA
The Fdration Internationale de Football Association atau FIFA merupakan
badan pengatur dari sepakbola internasional. Organisasi ini dibentuk sebagai insiasi
beberapa federasi sepakbola nasional yang pada awalnya hanya bertujuan untuk
menyatukan klub-klub sepakbola dalam aturan disiplin yang sama. Sehingga sejak
saat itu, olahraga menjadi satu hal yang tidak dapat dipisahkan dari bentuk
organisasi yang teratur dan rapih.
Sebagai subyek hukum internasional, FIFA disebut sebagai International
Non-Governmental Organization (INGO). Organisasi internasional disini adalah
dalam arti luas, artinya mencakup pula organisasi internasional publik
(Intergovernmental
8
9

Organization)

maupun

privat

(Non-Governmental

Akbari, Anugerah Rizki. Ibid. hlm. 160


Santoso, Topo. 2011. Prosecuting Sport Violence: The Indonesian Football Case. Singapura: The
Asia Law Institute NUS.

Organization). Perbedaan yang jelas terlihat adalah bahwa pada NGO, anggotanya
bukanlah negara sebagai dirinya sendiri. 10
FIFA sebagai sebuah federasi sepakbola internasional dapat dikatakan
sebagai organisasi internasional (INGO) dengan memenuhi unsur sebuah INGO
sebagaimana diatur dalam European Convention on the Recognition of the Legal
Personality of INGOs 1991. Disyaratkan bagi NGO untuk memenuhi syarat seperti;
1. have a non-profit-making aim of international utility; 2. have been established
by an instrument governed by the internal law of a Party; 3. carry on their activities
with effect in at least two States; dan 4. have their statutory office in the territory of
a Party and the central management and control in the territory of that Party or of
another Party.11
FIFA merupakan organisasi dengan registrasi pada wilayah administrasi
Zurich, Swiss, yang dibentuk berdasarkan Pasal 60 kitab hukum perdata Swiss
tentang pendirian sebuah perhimpunan.12 Pasal tersebut hanya mensyaratkan
sebuah anggaran dasar atau konstitusi bagi sebuah perhimpunan untuk mendapat
sifat badan hukumnya. Dalam konstitusi tersebut harus disebutkan objek lembaga,
tempat beroperasi, struktur kelembagaan, serta tujuan pembentukan.13 Konstitusi
ini merupakan anggaran dasar FIFA yang disebut Statuta FIFA.
Anggaran dasar inilah yang kemudian dimengerti sebagai lex sportiva dalam
arti sempit. Lex sportiva diartikan sebagai sistem hukum yang tidak berada pada
wilayah hukum nasional maupun internasional, melainkan transnasional (global
dan domestik). Banyak aturan yang berlaku umum dalam sepakbola secara global
tanpa harus diratifikasi menjadi hukum nasional. Hukum yang demikian bersumber
dari organisasi privat internasional.14 Walau demikian, ada pula aturan hukum
nasional yang berkenaan dengan olahraga. Maka dari itu, harus dapat dimengerti
10

Aruan, Hotman Bintang Parulian. 2014. Berlakunya Statuta FIFA Dikaitkan Dengan Kedaulatan
Negara. Sumatera Utara: Universitas Sumatera Utara.
11
Pasal 1 European Convention on the Recognition of the Legal Personality of INGOs.
http://www.uia.org/archive/legal-status-4-11
12
Pasal 1 ayat (1) Statuta FIFA Edisi April 2016
13
Art 60 Swiss Civil Code: (1) Associations with a political, religious, scientific, cultural, charitable,
social or other non-commercial purpose acquire legal personality as soon as their intention to
exist as a corporate body is apparent from their articles of association.
14
Aruan, Hotman Bintang Parulian. Op. Cit. hlm. 16.

perbedaan antara hukum olahraga (lex sportive/sports law) dan hukum yang
berkaitan dengan olahraga (sports and the law).15
Sebagai sistem hukum yang terlepas dari kedaulatan nasional, FIFA
melaksanakan urusan yang berkenaan dengan sengketa sepakbola antar anggotanya
menurut mekanisme yang dibentuk sendiri. FIFA membagi sistem peradilan
kedalam tiga lembaga; Komite Disiplin, Komite Etika, dan Komite Banding. Selain
itu, FIFA juga menunjuk badan arbitasi Court of Arbitration for Sport (CAS)
sebagai badan independen yang berwenang menangani banding terhadap putusan
dari badan peradilan FIFA, konfederasi, asosiasi sepakbola, dll.16 Penyelesaian
sengketa tanpa institusi peradilan negara ini didasari pandangan lex sportiva dimana
segala urusan diselesaikan secara internal sesuai konstitusi organisasi sepakbola.
Hal ini bahkan diperkuat pada Pasal 19 Statuta FIFA yang memerintahkan seluruh
asosiasi anggota untuk menyelesaikan urusannya secara independen tanpa campur
tangan dari pihak ketiga.
Dengan konstruksi yang sedemikian pada Statuta FIFA, setiap tindakan yang
semestinya diancam pidana jika dilakukan ketika berlangsung suatu pertandingan
sepakbola, dianggap sebagai tingkah laku buruk bukan tindak pidana. Maka dari
itu, hanya wasit sebagai pemilik kekuasaan penuh untuk melaksanakan Law of The
Game yang dapat menjatuhkan hukuman, terlepas dari kekuasaan asosiasi atau
federasi menjatuhkan sanksi hukuman melalui komite disiplin.

BERLAKUNYA HUKUM PIDANA DALAM SENGKETA SEPAKBOLA


Jika dalam menangani sengeketa sepakbola sepenuhnya dilihat dengan
pandangan lex sportiva, segala tindakan yang dilakukan dalam sebuah pertandingan
sepakbola dapat terlepas dari jerat hukum. Seberat apapun tindak pidana yang
dilakukan dalam pertandingan olahraga memiliki dasar yang menghilangkan sifat
melawan hukumnya. Kenyataannya, Hukum pidana sudah diterapkan beberapa kali

15
16

Pandjaitan, Hinca. Op. Cit. hlm. 136


Pasal 52-58 Statuta FIFA Edisi April 2016

dalam sejarah sepakbola, dan ada tiga hal yang dapat dijadikan dasar legitimasi
pemberlakuan hukum pidana dalam dunia sepakbola.17
Pertama, mekanisme penyelesaian sengketa pidana dalam sistem hukum
nasional memungkinkan untuk itu. Hal ini berkenaan dengan asas teritorialitas yang
terkandung pada Pasal 2 KUHP. Asas ini menjadi dasar keberlakuan segala aturan
pidana perundang-undangan Republik Indonesia bagi setiap orang yang melakukan
tindak pidana di wilayah Indonesia. Selain itu, Undang-undang No. 3 Tahun 2005
tentang Sistem Keolahragaan Nasional juga memungkinkan pengadilan nasional
untuk menyelesaikan sengketa keolahragaan 18
Kedua, sifat dasar olahraga yang memang memungkinkan terjadinya kontak
fisik. Kekerasan dalam cabang olahraga sepakbola memang bukan keharusan untuk
memenangkan sebuah pertandingan, namun kekerasan merupakan dampak logis
dari kemungkinan adanya kontak fisik. Untuk mengerti kekerasan dalam olahraga,
Michael D. Smith dalam bukunya Violence and Sport, membagi kekerasan dalam
olahraga menjadi 4 bentuk19; 1. Brutal Body Contact, tindakan ini adalah bentuk
kontak fisik yang masih dimaklumi oleh aturan olahraga. 2. Borderline Violence,
berupa serangan yang dilarang oleh aturan formal olahraga, namun kerap kali
terjadi. 3. Quasi-criminal Violence, bentuk kekerasan ini sering berujung pada
cedera yang mencuri perhatian penyelenggara pertandingan. Penjatuhan hukuman
disiplin bahkan upaya hukum sering kali ditempuh, namun pemidanaan jarang
terjadi untuk bentuk ini. 4. Criminal Violence, serangan yang jelas keluar dari
permainan, merupakan tindakan yang seringkali dianggap sebagai tindak pidana.
Ketiga, dari sistem hukum pidana yang berlaku di Indonesia yang sudah
mengakomodasi hak profesi olahragawan sebagai dasar penghapus pidana untuk
menghapuskan sifat melawan hukum dari tindakan yang dilakukannya didalam
pertandingan olahraga. Namun, hak tersebut bukannya tanpa batas. Dasar
penghapus pidana tersebut didasarkan adanya konsensus secara implisit dari

17

Akbari, Anugerah Rizki. Op. Cit. hlm. 162


Pasal 88 ayat (3), dengan mengutamakan cara musyawarah mufakat dan jalur arbitrase atau
alternatif lain sesuai undang-undang.
19
Smith, Michael D., sebagaimana dikutip oleh Miedzian, Myriam. 2002. Boys will be Boys.
Amerika Serikat: Lantern Books.
18

olahragawan bahwa dengan memasuki pertandingan olahraga ada kemungkinan


terjadinya tindak kekerasan20. Adami Chazawi mencontohkan bidang olahraga tinju
atau karate, dimana setiap olahragawan dianggap sudah menyetujui tubuhnya untuk
dipukul sesuai dengan aturan ketentuan dan aturan olahraga yang bersangkutan.
Jadi, jika terjadi pukulan yang tidak sesuai dengan aturan olahraga (lex ludica),
tindakan tersebut dapat dikualifikasikan sebagai tindakan pidana.21

KASUS NOVA ZAENAL DILIHAT DARI PARAMETER LEGITIMATE


SPORT
Dengan berpedoman pada penjelasan diatas, dapat dimengerti bahwa
diperlukan adanya parameter yang jelas antara mengenai tindakan yang
diperbolehkan dan tindakan yang berada diluar batas dapat dilakukan dalam sebuah
pertandingan olahraga. Di Indonesia sendiri baru terdapat 2 kasus yang berkenaan
dengan sengketa olahraga, dengan terdakwa Nova Zaenal dan Bernard Mamadou.
Jadi pada dasarnya, putusan pada perkara tersebut menjadi preseden satu-satunya
untuk membantuk hakim di masa mendatang dalam memutus perkara.
Parameter untuk membedakan tindakan yang diperbolehkan dan tindakan
pidana sebenarnya sudah pernah dibuat dan dilaksanakan melalui putusan pada
kasus sengketa olahraga di luar negeri. Kasus tersebut adalah R vs. Barnes pada
tahun 2004. Parameter ini disebut legitimate sport yang sering digunakan untuk
pemberlakuan hukum pidana pada sengketa olahraga. Pada parameter ini ada lima
pertimbangan dalam menangani kasus kekerasan olahraga; 1. Tipe olahraga yang
dilakukan, apakah diharuskan atau dimungkinkan terjadi kontak fisik. 2. Level
pertandingan yang dipertandingkan, semakin tinggi levelnya dianggap pemain
sudah mengerti peraturan olahraga. 3. Karakteristik kekerasan, apakah kekerasan
tersebut sejalan dengan karakteristik olahraga. 4. Resiko terjadinya cedera, dan 5.
Keadaan pikiran pelaku.

20

Akbari, Anugerah Rizki. Op. Cit. hlm. 176


Chazawi, Adami. 2007. Kejahatan Terhadap Tubuh dan Nyawa. Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada.
21

10

Jika kita telaah lebih dalam lagi dari surat putusan terhadap Nova Zaenal, ada
beberapa hal yang dijadikan pertimbangan oleh majelis hakim dalam menjatuhkan
pidana. Salah satunya adalah pertimbangan bahwa aturan yang dibuat oleh PSSI
berdasarkan aturan FIFA adalah rule of the game (lex ludica), bukan merupakan
rule of law (diartikan sebagai hukum nasional), sehingga tidak dapat
mengesampingkan asas teritorialitas keberlakuan hukum pidana di Indonesia.
Pertimbangan tersebut menggambarkan pandangan majelis hakim yang
memisahkan secara tegas antara sistem hukum nasional dengan Laws of The Game
sebagai lex ludica, sub-bagian lex sportiva yang dikeluarkan oleh FIFA. Namun,
pada sisi lain, majelis hakim juga mengakui hukuman disiplin dari wasit serta
hukum yang dijatuhkan Komisi Disiplin PSSI.22
Pertimbangan lain juga mengatakan bahwa rule of the game bukanlah lex
specialis, sehingga KUHP berlaku jika terjadi penganiayaan yang bukan dalam
perebutan bola atau sedang tidak dimainkan dalam pertandingan sepakbola. Dengan
pertimbangan ini, majelis hakim berusaha menciptakan preseden dimana KUHP
dapat diberlakukan jika tindak pidana dilakukan pada saat bola mati, tanpa
memerhatikan konsep konsensus yang sudah dijelaskan sebelumnya. 23
Dengan demikian, dapat terlihat upaya intervensi negara dalam urusan
internal yang semestinya dilakukan secara independen sesuai Statuta FIFA.
Intervensi ini menjadi bukti bahwa PSSI gagal untuk menjaga independensi dan
karenanya dapat dikenakan sanksi oleh FIFA berupa pencabutan status keanggotaan
FIFA.24

22

Pandjaitan, Hinca. Op. Cit. hlm. 414


Akbari, Anugerah Rizki. Op. Cit. hlm. 176
24
Pasal 19 ayat (1) jo. Pasal 17 ayat (1) Statuta FIFA Edisi April 2015.
23

11

BAB III
KESIMPULAN
Kasus yang melibatkan Nova Zaenal dan Bernard Mamadou ini merupakan
sebuah tragedi yang menggambarkan kekosongan hukum serta ketidakmampuan
sistem hukum Indonesia untuk memidanakan beberapa tindak pidana yang
nyatanya memenuhi unsur yang diperlukan. Namun demikian, bukan berarti setiap
tindakan kekerasan dalam olahraga harus didakwakan. Sistem hukum harus pula
menghormati independensi dan kedaulatan internal FIFA serta segala anggotanya.
Namun demikian, penerapan hukum pidana pada bidan olahraga tetap harus
diusahakan agar tercipta kepastian hukum, dan kekerasan dalam olahraga dapat
ditekan. Maka, diperlukan sebuah parameter khusus dalam sistem hukum Indonesia
untuk membedakan tindak yang dianggap sesuai dengan aturan olahraga dan tindak
pidana. Maka, dapat dilakukan revisi pada Undang-undang Sistem Keolahragaan
Nasional dengan menambahkan parameter legitimate sport, atau hakim dapat
membuat preseden dengan parameter legitimate sport jika terjadi kasus yang
serupa.

12

DAFTAR PUSTAKA
Akbari, Anugerah Rizki. 2011. Tindak Pidana Penganiayaan pada Cabang Olahraga
Sepakbola. Depok: Universitas Indonesia
Aruan, Hotman Bintang Parulian. 2014. Berlakunya Statuta FIFA Dikaitkan Dengan
Kedaulatan Negara. Sumatera Utara: Universitas Sumatera Utara.
Britannica, Editor of Encyclopdia. 2015. Encyclopdia Britannica. Agustus 21. Diakses
pada 11 Juli 2016. https://www.britannica.com/topic/welfare-state.
Chazawi, Adami. 2007. Kejahatan Terhadap Tubuh dan Nyawa. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada.
Pandjaitan, Hinca. 2011. Kedaulatan Negara vs Kedaulatan FIFA. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama
Purbacaraka, Purnadi, dan Soekanto, Soerjono. 1982. Renungan Tentang Filsafat Hukum.
Jakarta Rajawali
Santoso, Topo. 2011. Prosecuting Sport Violence: The Indonesian Football Case.
Singapura: The Asia Law Institute National University of Singapore.
Smith, Michael D., sebagaimana dikutip oleh Miedzian, Myriam. 2002. Boys will be Boys.
Amerika Serikat: Lantern Books.

13

Lampiran 1

Nova Zaenal & Mamadou Dihukum Tiga


Laga
Kedua pemain sempat mendekam di penjara.

Rabu, 25 Maret 2009 | 19:25 WIB


Oleh : Edwan Ruriansyah, Marco Tampubolon
Nova Zaenal (biru, depan) (Ongisnade)

VIVAnews - Jerat sanksi akhirnya menyentuh Nova Zaenal dan Bernard


Mamadou. Pemain Persis Solo dan Gresik United itu dilarang tampil seusai baku
hantam di lapangan.
Dalam sidang Komisi Disiplin (Komdis) PSSI di kantor PSSI, Senayan, Rabu 25
Maret 2009, Nova dan Mamadou dinyatakan bersalah. Mereka dilarang tampil
dalam tiga pertandingan berikut Kompetisi Divisi Utama.
Menurut Ketua Komdis, Hinca Panjaitan, keduanya dianggap bertingkah laku
buruk. "Kita sudah mendapatkan keterangan dari semua pihak atas kejadian ini.
Kami memutuskan mereka bersalah dan melarang tampil dalam tiga pertandingan,"
kataHinca.
Pada pertandingan Kompetisi Divisi Utama Wilayah Timur antara Persis vs Gresik
di Stadion Sriwedari, Solo, 12 Februari 2009, kedua pemain terlibat perkelahian di
lapangan. Pertandingan itu sendiri berakhir imbang 1-1.
Akibat kejadian itu, Nova dan Mamadou sempat diperiksa oleh pihak kepolisian.
Bahkan, keduanya sempat mendekam di penjara. Kondisi ini sempat menimbulkan
pro dan kontra di kalangan pengamat sepakbola nasional.
Ketua Umum PSSI, Nurdin Halid, menyebut hal ini tak sesuai dengan prosedur
FIFA.Komdis PSSI mengambil alih kasus ini setelah kedua pemain ke luar dari bui.
Meski lolos dari bui, kedua pemain ini tak lolos dari hukuman PSSI.

Diambil dari; http://www.viva.co.id/bola/read/43888-nova-zaenal-mamadou-dihukumtiga-laga

14

Lampiran 2

Nova Zaenal-Bernard Jadi Tersangka,


PSSI Kecewa
Oleh Liputan6
pada 14 Feb 2009, 13:18 WIB

Liputan6.com, Jakarta: Ketua Komisi Disiplin PSSI Hinca Panjaitan mengaku


kecewa dengan tindakan polisi yang menahan pemain Persis Solo, Nova Zaenal,
dan pemain Gresik United, Bernard Momadao. Polisi, kata Hinca, Sabtu (14/2),
dinilai

bertindak

berlebihan.

Kedua pemain sepakbola itu ditahan di Markas Kepolisian Kota Besar Solo, Jawa
Tengah, setelah ditetapkan sebagai tersangka kasus kericuhan saat kedua tim yang
dibelanya

bertanding

di

Stadion

Sriwedari

Dalam pertandingan itu Nova dan Bernard terlibat baku pukul. Kepala Kepolisian
Daerah Jawa Tengah Inspektur Jenderal Polisi Alex Bambang Riatmojo yang
menonton pertandingan langsung meminta anak buahnya menangkap Nova dan
Bernard.
Nova dan Bernard terlihat akrab saat ditahan di Mapoltabes Solo. Keduanya dijerat
dengan pasal penganiayaan dengan ancaman hukuman tiga bulan penjara.
Terus terjadinya kericuhan dalam sepakbola seharusnya menjadi cermin bagi PSSI
apakah benar sanggup menjadi salah satu nominator tuan rumah Piala Dunia
2022.(IAN/Tim Liputan 6 SCTV)

Diambil dari; http://news.liputan6.com/read/172876/nova-zaenal-bernard-jaditersangka-pssi-kecewa

15

Lampiran 3

Nova Zaenal divonis 3 bulan


Kamis, 11 Maret 2010 18:15 WIB | |
|

Solo (Espos)Majelis hakim menjatuhkan vonis tiga bulan dengan masa percobaan enam bulan
terhadap pesepakbola Persis, Nova Zaenal di Pengadilan Negeri Solo, Kamis (11/3). Vonis
tersebut sama dengan hukuman terhadap pemain Gresik united yang tersandung kasus sama,
Bernard Mamadou.
Majelis hakim yang diketuai Saparudin Hasibuan SH menyatakan Nova terbukti bersalah dan
meyakinkan telah melakukan tindak pidana penganiayaan atau melanggar Pasal 351 ayat 1
KUHP. Namun, hukuman tersebut baru dilakukan jika dalam masa percobaan, Nova melakukan
tindak pidana yang sama.
Dalam pertimbangannya, majelis hakim melihat hasil visum yang diperoleh dari dr Naryana
selaku ketua tim medis Poltabes dalam pemeriksaan terhadap kasus ini. Hasil tersebut
menyebutkan, Mamadou menderita luka memar di bagian wajah. Selain itu, majelis hakim juga
menyatakan hal yang meringankan Nova, yakni produktif dan dibutuhkan dalam dunia
persepakbolaan.
Tidak berbeda dengan vonis Mamadou, putusan tersebut diikuti dengan penetapan barang bukti
berupa satu keping compact disc (CD) rekaman pertandingan sepak bola antara Gresik United
melawan Persis Solo yang terselenggara pada tanggal 12 Februari 2009.
Barang bukti selanjutnya adalah fotokopi lampiran laporan pertandingan yang menerangkan
insiden khusus dari tim pengawas pertandingan dan Persis Solo dengan nomor 112/II. Beberapa
barang bukti tersebut memungkinkan dijadikan sebagai bahan oleh jaksa untuk mengadakan
tuntutan atas kasus yang berbeda. Putusan tersebut disikapi dengan mengambil waktu selama
tujuh hari untuk pikir-pikir.

Diambil dari; http://www.solopos.com/2010/03/11/nova-zaenal-divonis-3-bulan-16349

16