Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari sering kali kita berhadapan dengan peristiwa
difusi dan osmosis. Contohnya pada saat kita menyeduh teh celup dalam kemasan
kantong, warna dari teh tersebut akan menyebar. Hal ini disebabkan karena
konsentrasi teh dalam gelas lebih kecil dibandingkan dengan konsentrasi teh yang ada
dalam kantong teh tersebut sehingga terjadi perpindahan. Peristiwa tersebut disebut
sebagai difusi.
Difusi terjadi atas respon terhadap perbedaan konsentrasi. Konsentrasi adalah
sejumlah zat atau partikel per unit volume. Suatu perbedaan terjadi, apabila terjadi
perubahan konsentrasi dari suatu keadaan ke keadaan yang lain. Selain perbedaan
konsentrasi, perbedaan dalam sifat dapat juga menyebabkan difusi.
Osmosis merupakan proses perpindahan molekul-molekul pelarut dari
konsentrasi pelarut tinggi ke konsentrasi pelarut yang lebih rendah melalui membran
diferensial permeabel. Contoh peristiwa osmosis adalah kentang yang dimasukkan ke
dalam air garam. Osmosis merupakan suatu fenomena alami, tetapi dapat dihambat
secara buatan dengan meningkatkan tekanan pada bagian dengan konsentrasi pekat
yang lebih cair.
Eksperimen mengenai difusi dan osmosis dilakukan untuk mengetahui
bagaimana proses difusi dan osmosis berlangsung sehingga menyebabkan plasmolisis.
Percobaan ini dilakukan dengan latar belakang adanya berbagai peristiwa yang
berkenaan dengan difusi dan osmosis dalam kegiatan sehari-hari.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengaruh konsentrasi larutan sukrosa terhadap perubahan panjang
potongan jaringan tumbuhan?
2. Berapa konsentrasi larutan sukrosa yang tidak menyebabkan perubahan panjang
irisan jaringan umbi?
3. Bagaimana menghitung nilai potensial air jaringan tumbuhan?
C. Tujuan
1. Dapat menjelaskan pengaruh konsentrasi larutan sukrosa terhadap perubahan
panjang potongan jaringan tumbuhan.
2. Dapat mengidentifikasi konsentrasi larutan sukrosa yang menyebabkan
perubahan panjang irisan jaringan umbi.
3. Dapat menghitung nilai potensial air jaringan tumbuhan.
1

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Transpor Pasif
Struktur dan susunan membran sel yang terdiri dari 50% lemak dan 50%
protein, membuat organel sel satu ini bersifat semipermeabel atau selektif permeabel.
Dengan sifat ini, maka membran sel hanya bisa dilalui oleh air dan zat-zat tertentu
yang larut di dalamnya sehingga ia memiliki fungsi sebagai pengatur gerakan materi
atau transportasi dari dalam dan keluar sel.
Transpor pasif adalah pergerakan molekul melalui membran permeabel tanpa
mengeluarkan energi kimia. Zat berpindah dari konsentrasi tinggi ke rendah. Hal
tersebut memainkan peran penting dalam sejumlah proses biologis dengan
memungkinkan tubuh untuk menggerakkan nutrisi dan bahan limbah masuk dan
keluar dari sel tanpa harus menggunakan energi untuk melakukannya. Misalnya
seperti difusi dan osmosis, bahan dengan berat molekul kecil bergerak melintasi
membran.
B. Difusi
Difusi merupakan peristiwa perpindahan molekul dengan menggunakan
tenaga kinetik bebas, proses perpindahan ini berlangsung dari derajat konsentrasi
tinggi ke derajat konsentrasi rendah. Proses ini akan terus berlangsung hingga dicapai
titik keseimbangan.
Ketika sel tumbuhan diletakkan pada larutan yang hipertonik/lebih pekat
dibanding konsentrasi plasma selnya maka air yang berada dalam vakuola akan
merembes ke luar sel. Akibatnya protoplasma mengerut dan terlepas dari dinding sel,
peristiwa ini disebut dengan plasmolisis. Keadaan tersebut dapat kembali seperti
semula apabila lingkungan sel diganti dengan larutan hipotonik. Kembalinya keadaan
protoplasma setelah plasmolisis disebut deplasmolisis. Difusi terfasilitasi juga masih
dianggap ke dalam transpor pasif karena zat terlarut berpindah menurut gradien
konsentrasinya.
Ada beberapa faktor yang memengaruhi kecepatan difusi, yaitu ukuran
partikel, ketebalan membran, luas suatu area, jarak dan suhu. Semakin kecil ukuran
partikel, semakin cepat partikel itu akan bergerak sehingga kecepatan difusi semakin
tinggi. Semakin tebal membran dan besar luas area serta semakin besarnya jarak
antara dua konsentrasi, menyebabkan semakin lambat kecepatan difusinya. Begitu

pula dengan besarnya luas dan tingginya suhu akan menyebabkan bertambah cepatnya
laju difusi.
C. Osmosis
Osmosis adalah difusi pelarut melalui membran. Jika terdapat dua larutan
yang tidak sama konsentrasinya, maka molekul air melewati membran sampai kedua
larutan seimbang. Jika sel dimasukkan ke dalam larutan isotonis, bentuk sel tetap
karena keadaan seimbang. Akan tetapi, jika sel tumbuhan berada dalam larutan
hipertonik (konsentrasi larutan lebih tinggi daripada cairan sel), air dalam plasma sel
akan berosmosis keluar sehingga sel mengerut/menyusut. Protoplasma yang
kekurangan air menyusut volumenya mengakibatkan membran sel terlepas dari
dinding sel, sehingga terjadi plasmolisis. Sebaliknya, jika sel berada dalam larutan
hipotonik (konsentrasi larutan lebih rendah daripada cairan sel), air dari luar akan
masuk ke dalam sel sehingga sel membengkak. Proses osmosis akan berhenti ketika
kedua larutan mempunya konsentrasi yang sama atau disebut isotonik.
Tekanan osmotik yang terkandung pada suatu larutan disebut potensial
osmotik (osmotic potential). Suatu percobaan memperlihatkan bahwa bila sel darah
merah dimasukkan ke larutan yang hipotonik, sel darah merah akan mengembang.
Sebaliknya, bila sel darah merah dimasukkan ke larutan hipertonik, sel darah merah
tersebut akan mengerut (krenasi).
Terjadinya proses osmosis sangat ditentukan dengan perbedaan Potensial
Kimia Air atau Potensial Air (PA). Potensial air adalah kemampuan air untuk
melakukan osmosis. Potensial air menggambarkan tingkah laku air dan pergerakan air
dalam tanah dan tubuh tumbuhan berdasarkan suatu hubungan energi potensial. Air
mempunyai kapasitas untuk melakukan kerja, yaitu akan bergerak dari daerah dengan
energi potensial tinggi ke daerah dengan energi potensial rendah. Energi potensial
dalam sistem cairan dinyatakan dengan cara membandingkannya dengan energi
potensial air murni. Air murni memiliki potensi air yang sama dengan 0 bar, potensi
air dalam tumbuhan biasanya kurang dari 0 bar, sehingga mempunyai nilai negatif.
semakin negatif nilainya semakin rendah potensi airnya.
Faktorfaktor yang mempengaruhi terjadinya osmosis pada sel hidup :
a. Ukuran zat terlarut: semakin banyak zat terlarut maka peristiwa terjadinya
osmosis akan semakin cepat. Karena zat terlarut memiliki tekanan osmotik

yang berfungsi untuk memecah zat pelarut bergerak melalui membran


semipermeabel.
b. Tebal membran: semakin tebal suatu membran akan memperhambat terjadinya
osmosis. Karena dapat menyebabkan semakin sulitnya zat terlarut menembus
membran tersebut.
c. Luas permukaan
d. Jarak zat pelarut dan zat terlarut
e. Suhu
D. Hipotesis
1. H1 : ada pengaruh konsentrasi larutan sukrosa terhadap perubahan panjang
potongan jaringan tumbuhan.
2. H0 : tidak ada pengaruh konsentrasi larutan sukrosa terhadap perubahan panjang
potongan jaringan tumbuhan.

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Jenis
Jenis penelitian ini adalah eksperimen sebab penelitian ini dilakukan untuk
menjawab rumusan masalah. Di dalam percobaan ini juga melibatkan adanya
variabel-variabel pada metode penelitiannya.
B. Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilakukan pada tanggal 1 September 2016 pada pukul 13.30 WIB
dan bertempat di gedung C.10 Laboratorium Fisiologi.

Larutan sukrosa
konsentrasi 0 M, 0,2 M, 0,4 M, 0,6 M, 0,8 M, 1Kentang
M
C. Variabel
Variabel yang digunakan dalam percobaan ini adalah:
1. Variabel Manipulasi : Larutan sukrosa dengan molaritas yang
Dibuat silinder dengan alat pengeboran g
berbeda.
Dimasukkan 25 ml larutan2.sukrosa
dengan
konsentrasi
berbeda
kesepanjang
dalam
kimia
Dipotong
2 cm
Variabel Kontrol
: Volume larutan
sukrosa,
wadah,gelas
plastik,
karet
gelang, panjang awal kentang.
3. Variabel Respon
: Sel yang terplasmolisis.
D. Alat dan Bahan
Potongan silinder umbi
Alat sukrosa
:
Gelas kimia + larutan
dengan konsentrasi berbeda
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Gelas plastik sebanyak 6 buah


Gelas ukur 50 ml sebanyak 6 buah
Alat pengebor gabus
Penggaris
Pisau
tajam
Dimasukkan
4 potong umbi kentang ke dalam masing-masing gelas ki
Plastik
Dicatat waktu pemasukan potongan umbi kentang
Karet
gelangrapat gelas kimia selama 1,5 jam
Ditutup
Kertas label

Bahan :
1. Umbi kentang.
2. Larutan sukrosa dengan molaritas 0 M, 0,2 M, 0,4 M, 0,6 M, 0,8 M, 1 M.
Gelas kimia + 4 potong umbi kentang + larutan sukrosa dengan konsentrasi berbeda

E. Rancangan Percobaan
Dikeluarkan dan diatur panjang setiap potongan umbi kentang
Dihitung nilai rata-rata pertambahan panjangnya untuk setiap konsentrasi laru

Pertambahan panjang potongan umbi kentang

F. Langkah Kerja
1. Mengukur dan Mengidentifikasi. Isilah gelas kimia ke 1 dengan larutan
sukrosa 0 M, gelas kimia ke 2 dengan larutan sukrosa 0,2 M, dan seterusnya
sampai gelas kimia ke 6. Masing-masing gelas 25 ml, beri label setiap gelas.
2. Mengerjakan praktikum. Pilih umbi ketang yang cukup besar dan baik, buatlah
silinder umbi dengan alat pengebor gabus. Potong silinder umbi kentang
sepanjang 2 cm.
3. Masukkan potongan umbi ke dalam gelas kimia yang berisi larutan sukrosa
dengan konsentrasi yang berbeda setiap gelas, masing-masing gelas 4 potongan
umbi. Catat waktu awalnya, tutup gelas kimia untuk mengurangi penguapan
selama percobaan.
4. Mengamati dan Mengukur. Setelah 1,5 jam, setiap umbi dikeluarkan dari gelas
dan diukur panjang akhirnya.
5. Menghitung. Hitunglah rata-rata pertambahan panjang umbi kentang untuk setiap
konsentrasi larutan sukrosa.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil dan Analisis


1. Tabel
No
.

1.

2.

3.

4.

5.

6.

Konsentrasi

Panjang
awal (cm)

Panjang
akhir (cm)

Pertambahan
panjang (cm)

Rata-rata
pertambahan
panjang

2
2,2
0,2
2
2,2
0,2
0M
0,15
2
2,1
0,1
2
2,1
0,1
2
2,2
0,2
2
2,0
0
0,2 M
0,15
2
2,2
0,2
2
2,2
0,2
2
2,1
0,1
2
2,1
0,1
0,4 M
0,10
2
2,1
0,1
2
2,1
0,1
2
2,0
0
2
1,9
-0,1
0,6 M
-0,025
2
2,0
0
2
2,0
0
2
1,9
-0,1
2
1,9
-0,1
0,8 M
-0,075
2
1,9
-0,1
2
2,0
0
2
1,9
-0,1
2
1,9
-0,1
1M
-0,10
2
1,9
-0,1
2
1,9
-0,1
Tabel 1. Pengaruh konsentrasi larutan sukrosa terhadap perubahan panjang
potongan silinder umbi kentang.

2. Grafik
0.2
0.15
0.15

0.15

0.1

0.1

0.05
Column2

Pertambahan Panjang (cm)


0
0 M
-0.05
-0.1

0,2 M

0,4 M

0,6 M

0,8 M

1 M

-0.03
-0.08
-0.1

-0.15

Grafik 1. Grafik Hubungan Konsentrasi Larutan Sukrosa Terhadap Pertambahan


Panjang Silinder Umbi Kentang
3. Analisis
Dari percobaan yang telah dilakukan didapatkan data sebagai berikut,
yaitu pada konsentrasi larutan sukrosa 0 M rata-rata pertambahan panjang
potongan umbi kentang adalah 0,15 cm; pada konsentrasi larutan sukrosa 0,2 M
rata-rata pertambahan panjang umbi kentang adalah 0,15 cm; pada konsentrasi
larutan sukrosa 0,4 M rata-rata pertambahan panjang potongan umbi kentang
adalah 0,10 cm; pada konsentrasi sukrosa 0,6 M rata-rata pertambahan panjang
umbi kentang adalah -0,025 cm; pada konsentrasi sukrosa 0,8 M rata-rata
pertambahan panjang potongan umbi kentang adalah -0,075 cm; dan pada
konsentrasi larutan sukrosa 1 M rata-rata pertambahan panjang potongan umbi
lobak adalah -0,10 cm. Konsentrasi larutan sukrosa yang tidak menyebabkan
pertambahan panjang pada potongan umbi kentang adalah pada 0,4 M. Nilai
konsentrasi sukrosa tersebut akan digunakan untuk mencari nilai Tekanan
Osmotik (TO) cairan sel, sebagai berikut :
22,4 . M .T
TO sel
273

22,4.0,4 .298
273

= 9,78 atm

Nilai tekanan osmotik yang didapatkan digunakan untuk mencari nilai


potensial air, sehingga diperoleh
PA = PO
PA = PO + PT
PA = - TO
PA = - 9,78 atm
B. Pembahasan
Berdasarkan data analisis didapatkan bahwa potongan umbi kentang yang
direndam di dalam larutan sukrosa dengan konsentrasi yang berbeda mengalami
pertambahan panjang pada konsentrasi 0 M, 0,2 M, dan 0,4 M serta mengalami
penyusutan panjang pada konsentrasi 0,6 M, 0,8 M, dan 1 M.
Dari data di atas menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi sukrosa
maka

umbi kentang semakin mengalami penyusutan yang disebabkan proses

osmosis. Larutan sukrosa 1 M konsentrasinya

tinggi dan lebih pekat sehingga

kandungan airnya sedikit sedangkan potongan umbi lobak konsentrasinya rendah dan
kandungan airnya lebih banyak, akibatnya cairan dalam sel keluar menuju larutan
sukrosa dan menyebabkan penyusutan terhadap potongan umbi lobak.
Konsentrasi larutan 0,4 M menyebabkan rata-rata pertambahan panjang umbi
kentang 0,10 M, merupakan pertambahan panjang yang mendekati nol karena
potensial air pada larutan sukrosa hampir sama dengan potensial air pada sel umbi
atau hampir seimbang oleh karena itu terjadi proses osmosis namun sedikit.

10

BAB V
PENUTUP

A. Simpulan
Dari percobaan yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa adanya
pengaruh konsentrasi sukrosa terhadap rata-rata pertambahan panjang potongan
jaringan umbi kentang. Semakin tinggi konsentrasi larutan sukrosa maka akan
mengalami penyusutan pada potongan jaringan umbi kentang, hal ini dikarenakan
konsentrasi larutan sukrosa yang lebih pekat maka kandungan airnya sedikit
dibandingkan pada potongan umbi kentang yang lebih banyak kandungan airnya
menyebabkan keluarnya cairan di dalam sel umbi keluar membran dan terjadilah
proses osmosis karena sedikitnya kandungan air pada larutan sukrosa. Di dalam
percobaan konsentrasi larutan 0,4 M hampir tidak menyebabkan pertambahan panjang
pada potongan jaringan umbi kentang.
Saat umbi kentang direndam dalam larutan sukrosa 0,6 M, 0,8 M dan 1 M
akan terjadi perpindahan air secara osmosis dari sel-sel umbi kentang keluar menuju
ke larutan. Perpindahan air ini terjadi karena sel-sel umbi kentang hipotonik terhadap
larutan sukrosa yang hipertonik. Saat umbi kentang direndam dalam larutan sukrosa 0
M, 0,2 M, dan 0,4 M mengalami difusi di mana kandungan air yang ada di luar umbi
kentang lebih besar sehingga air cenderung masuk dan menyebabkan pertambahan
panjang umbi kentang (hipotonik).
B. Saran
Saat percobaan dilakukan sebaiknya praktikan lebih memperhatikan mengenai
ketelitian pengukuran panjang jaringan umbi kentang, menghitung waktu, koordinasi
antara anggota kelompok dan kebersihan laboratorium. Sehingga proses percobaan
(praktikum) berjalan dengan baik, lancar dan selesai tepat waktu.

11

DAFTAR PUSTAKA

Hamdi

H.

2013.

Transportasi

Melalui

Membran

Sel.

[terhubung

berkala].

www.sibarasok.com/2013/03/transportasi-sel-melalui-membran-sel. [1 September 2016].

Nadjib. 2009. Sistem Transpor pada Sel. [terhubung berkala]. www.nadjeeb.com/sistemtranspor-pada-sel/. [1 September 2016].

Rachmadiarti, Fida. dkk. 2007. Biologi Umum. Surabaya: Unesa University Press.
Kustiyah. 2007. Miskonsepsi Difusi dan Osmosis Pada Siswa MAN Model
Palangkaraya. Jurnal Ilmiah Guru Kanderang Tingang 1 : 24-37.

12

LAMPIRAN

Umbi kentang dipotong dengan


pengebor gabus

Potongan diukur 2 cm

Potongan kentang dimasukkan dalam larutan sukrosa


dengan konsentrasi berbeda lalu ditutup selama 1,5 jam

13