Anda di halaman 1dari 2

Pelayanan Penyakit Arteri Karotis

Pengertian :
Carotid endarterectomy (CEA) merupakan prosedur bedah yang bertujuan
untuk mencegah kejadian stroke, dengan mengoreksi kelainan (stenosis) pada arteri
karotis komunis, dimana pengertian endarterectomy sendiri adalah pembuangan
material yang berada di sisi dalam (end) dari arteri itu sendiri. Penyebab utama
penyakit pembuluh darah karotis adalah proses aterosklerosis yang
mengakibatkan stenosis pembuluh darah karotis. Penyakit pembuluh darah karotis
dapat tidak menimbulkan gejala (asimptomatik) maupun menimbulkan gejala
(simptomatik), mulai dari gejala nyeri kepala, gangguan vertebrobasiler berupa
vertigo dan gangguan keseimbangan, serta stroke. Kejadian stroke iskemik
merupakan masalah kesehatan mayor dan menjadi penyebab kecacatan jangka
lama. Mortalitas mencapai 10-30% dan penderita stroke yang mampu bertahan
hidup berisiko untuk mengalami kejadian iskemik berulang bahkan hingga kematian.
Risiko stroke meningkat seiring peningkatan usia. Atherosclerosis menempati hingga
sepertiga penyebab stroke. Atherosclerosis dari pembuluh darah supra aorta dan
utamanya dari bifurcation karotis komunis adalah penyebab utama stroke iskemik
rekuren, terhitung sampai 20% dari semua stroke, dan hampir 80% diantaranya
tanpa peringatan, sehingga penekanan pada follow-up sangatlah penting.
Anamnesis :
Pasien sebelum dilakukan tindakan harus dilakukan stratifikasi risiko. Faktor risiko
dapat dkelompokkan menjadi faktor risiko utama (major risk factors) dan factor risiko
lain (other risk factors). Faktor risiko utama terdiri atas : a. Hipertensi, b. Diabetes, c.
Dislipidemia (Kadar kolesterol LDL yang tinggi dan kadar kolesterol HDL rendah), d.
Rokok, e. Berat badan lebih atau obesitas, f. Kurang aktivitas fisik, g. Usia; laki-laki >
45 tahun dan perempuan > 55 tahun. h. Riwayat keluarga dengan penyakit
pembuluh. Faktor risiko lain terdiri atas : a. Kadar trigliserida yang tinggi (khsusnya
pada wanita), b. Kadar c-reactive protein (CRP) yang tinggi, c. Sleep apnea, d.
Stress, e. Konsumsi alcohol, f. Kanker dengan atau tanpa radioterapi. Stratifikasi
faktor risiko dibagi atas risiko ringan (low risk), risiko sedang (moderate risk) dan
risiko tinggi (high risk) berdasarkan kemungkinan manifestasi penyakit pembuluh
darah, khususnya karotis dalam 10 tahun ke depan. Risiko rendah (low risk) bila
terdapat 0-1 faktor risiko utama, dan/atau terdapat factor risiko lain. Risiko sedang
(moderate risk) bila terdapat 2 atau lebih faktor risiko utama, dengan atau tanpa
diserta faktor risiko lain. Risiko tinggi (high risk) bila terdapat gejala penyakit jantung
koroner (CHD), penyakit pembuluh darah perifer (PAD), stroke dan aneurisma aorta
abdominalis. CEA direkomendasikan pada pasien simptomatik >50% stenosis dan
jika angka perioperative stroke / tingkat kematian <6%, dan lebih disarankan CEA
dilakukan dalam 2 minggu setelah gejala terakhir dialami oleh pasien. CEA juga
direkomendasikan pada laki-laki dengan asimptomatik jika stenosis 70-99% dan jika
angka perioperative stroke / tingkat kematian <3%. Keuntungan dilakukannya CEA
pada wanita asimptomatik secara signifikan kurang jika dibandingkan dengan pria.
CEA sebaiknya benar-benar dipertimbangkan hanya pada wanita yang fit dengan
usia lebih muda. Carotid patch angioplasty adalah yang utama dipilih untuk
penutupan primer pada arteri komunis. Aspirin dosis rendah 75-325 mg dan statin
sebaiknya diberikan sebelum, saat, dan setelah prosedur CEA dilakukan. Carotid
artery stenting (CAS) sebaiknya hanya dilakukan pada pasien yang terindikasi untuk
CEA namun berisiko tinggi untuk operasi, dan hanya pada pusat yang angka
perioperatif stroke dan tingkat kematiannya rendah. CAS sebaiknya dilakukan
setelah pemberian aspirin dan clopidogrel.

Kriteria Diagnostik :
Adanya diagnosis stroke iskemik ditentukan oleh Departemen Neurologi.
Pemeriksaan Penunjang :
Penunjang yang dibutuhkan adalah laboratorium darah rutin, protrombin time dan
activated plasma thromboplastin time, fungsi ginjal, fungsi hati, albumin, elektrolit
serum, dan kadar gula. Selain itu, Brain-CT diperlukan untuk penegakan stroke.
Pengukuran stenosis karotis diperlukan Doppler ultrasonografi.
Terapi :
Tindakan CEA dilakukan di kamar operasi dengan anestesi umum dengan tindakan
membuka karotis komunis sisi yang terkena stenosis dan mengambil plak
atherosclerosis di dalamnya dan dilakukan carotid patch angioplasty melalui graft
auto dari vena safena magna pasien. Uraian tindakan terperinci ada dalam lembar
kerja pembuatan CEA di Divisi Vaskuler dan Endovaskuler Departemen Ilmu Bedah.
Tindakan CEA hanya dilakukan oleh trainee dan konsultan bedah vaskuler dan
endovaskuler.
Edukasi :
Pasien pasca tindakan CEA diberikan aspirin dosis rendah 75-325 mg per hari,
dievaluasi ada tidaknya defisit neurologis pasca tindakan dan hindari hipertensi.
Follow up neurologi dan bedah vaskuler mutlak diperlukan untuk mencegah
terjadinya stroke berulang.