Anda di halaman 1dari 8

PENDAHULUAN

Hutan mangrove merupakan suatu tipe hutan yang tumbuh di daerah


pasang surut, terutama di pantai yang terlindung, laguna dan muara sungai yang
tergenang pada saat pasang dan bebas dari genangan pada saat surut yang
komunitas tumbuhannya bertoleransi terhadap garam (Kusuma et al, 2003).
Nybakken (1988) mengatakan bahwa hutan mangrove adalah sebutan umum yang
digunakan untuk menggambarkan suatu komunitas pantai tropic yang didominasi
oleh beberapa spesies pohon yang khas atau semak-semak yang mempunyai
kemampuan untuk tumbuh dalam perairan asin. Mangrove tumbuh disepanjang
garis pantai tropis sampai sub tropis.
Ekosistem mangrove, memiliki fungsi fisik, ekonomi dan ekologi. Secara
fisik menjaga garis pantai agar tetap stabil, mereduksi terpaan angin laut,
melindungi pantai dari erosi laut/abrasi, mencegah instrusi air laut, dan mengolah
bahan limbah. Fungsi ekonomi adalah digunakan secara langsung sebagai sumber
bahan bakar, bahan dasar material bangunan, bahan baku kertas, tekstil, penyamak
kulit, pewarna dan lain-lain (Santoso dalam Rochana, 2009). Fungsi ekologi dari
ekosistem mangrove adalah sebagai tempat pemijahan (nursery ground), tempat
mencari (feeding ground ), dan tempat perlindungan (shelter) beberapa organisme
perairan, satwa liar, primata, serangga, burung, reptil dan amphibi (Nontji, 1993).
Kondisi fisik hutan mangrove yang kecenderungannya membentuk
kerapatan dan keragaman struktur tegakan, memerangkap sedimen yang
mengandung nutrien. Selain nutrien pada ekosistem mangrove juga terdapat
detritus yang di dekomposisi oleh detritivor dengan bahan dasar guguran daun
mangrove. Selanjutnya dimanfaatkan secara berantai oleh berbagai organisme dan
dimanfaatkan oleh ekosistem perairan lain yang berada disekitarnya seperti
ekosistem lamun dan terumbu karang (Kaswadji dalam Rochana, 2009). Hal
inilah yang menyebabkan banyak dan beragamnya fauna yang berinteraksi dengan
ekosistem mangrove.

Rantai Makanan
Rantai makanan merupakan pengalihan energi dari sumbernya dari dalam
tumbuhan melalui sederetan organisme yang makan dan yang di makan. Para
ilmuwan ekologi mengenal tiga macam rantai pokok, yaitu rantai pemangsa,
rantai parasit, dan rantai saprofit (Ridwanaz, 2010).

Salah satu cara suatu

komunitas berinteraksi adalah dengan peristiwa makan dan dimakan, sehingga


terjadi perpindahan energi, elemen kimia dan komponen lain dari satu bentuk ke
bentuk yang lain di sepanjang rantai makanan. Organisme dalam kelompok
ekologis yang terlibat dalam rantai makanan digolongkan dalam tingkat-tingkat
trofik. Tingkat trofik tersusun dari seluruh organisme pada rantai makanan yang
bernomor sama dalam tingkat memakan.
Sumber energi berasal dari matahari. Tumbuhan yang menghasilkan gula
lewat proses fotosintesis hanya memakai energi matahari dan C0 2 dari udara. Oleh
karena itu, tumbuhan tersebut digolongkan dalam tingkat trofik pertama. Hewan
herbivora atau organisme yang memakan tumbuhan termasuk anggota tingkat
trofik kedua. Karnivora yang secara langsung memakan herbivora termasuk
tingkat trofik ketiga sedangkan karnivora yang memakan karnivora di tingkat
trofik tiga termasuk dalam anggota tingkat trofik keempat.
Ekosistem mangrove juga merupakan daerah asuhan, berkembang biak,
dan mencari makan berbagai jenis ikan dan udang. Oleh karena itu keberadaan
ekosistem mangrove sangat penting dalam menjaga kelestarian stok perikanan.
Ekosistem mangrove juga berperan untuk menjaga stabilitas garis pantai. Pada
umumnya fauna yang hidup di hutan mangrove adalah serangga, crustaceae,
mollusca, ikan, burung, reptile dan mamalia.
Hutan bakau di beberapa daerah sebagian besar banyak yang telah beralih
fungsi dan di konversi menjadi lahan budidaya ikan maka akan terjadi pemutusan
rantai makanan yang mengandalkan nutrient yang ada di pohon mangrove
tersebut. Telah diketahui bahwa rantai makanan yang terjadi di hutan
mangrove/bakau tersebut memiliki tipe rantai makanan detritus, rantai makanan
ini sumber utamanya dari hasil penguraian guguran daun dan ranting yang

dihancurkan oleh bakteri dan fungi sehingga menghasilkan detritus, hancuran


detrirus ini menghasilkan nutrient yang sangat penting bagi cacing, mollusca,
crustaceae dan hewan lainnya. Dengan rantai tersebut apabila hutan bakau ini di
ubah menjadi lahan budidaya maka, cacing, crustacea, mollusca dan hewan
lainnya

tidak

mendapatkan

nutrient

yang

cukup

utuk

perkembangan

kehidupannya. Bakteri dan fungi akan dimakan oleh sebagian protozoa dan
avertebrata, kemudian protozoa dan avertebrata akan dimakan oleh karnivora
sedang yang selanjutnya di makan oleh karnivora tingkat tinggi (Juwana dan
Romimohtarto, 1999).
Fungi dan bakteri yang tadinya hidup untuk menguraikan dedaunan
bakau/mangrove yang sudah jatuh dan seperti itu kehidupannya maka bakteri dan
fungi tersebut akan berkurang. Mungkin untuk selanjutnya tidak ada yang berubah
karena protozoa dan avertebrata memakan baketri dan fungi yang kita tahu bahwa
lahan tersebut tinggal beberapa jenis bakteri dan fungi.
Menurut Hernandhi hidayat (2010) mata rantai makanan yang terdapat
pada ekosistem mangrove terdiri atas 2 jenis yaitu :
1.

Rantai Makanan Langsung

Pada rantai makanan langsung yang bertindak sebagai produsen adalah


tumbuhan mangrove. Tumbuhan mangrove ini akan menghasilkan serasah yang
berbentuk daun, ranting, dan bunga yang jatuh ke perairan. Selanjutnya sebagai
konsumen tingkat 1 adalah ikan-ikan kecil dan udang yang langsung memakan
serasah mangrove yang jatuh tersebut. Untuk konsumen tingkat 2 adalah
organisme karnivora yang memakan ikan-ikan kecil dan udang tersebut.
Selanjutnya untuk konsumen tingkat 3 terdiri atas ikan-ikan besar maupun burung
burung pemakan ikan. Pada akhirnya konsumen tingkat 3 ini akan mati dan
diuraikan oleh detritus sehingga akan menghasilkan senyawa organik yang bisa
dimanfaatkan oleh tumbuhan mangrove tersebut.

Gambar 1. Rantai Makanan Langsung

2.

Rantai Makanan Tidak Langsung / Rantai Detritus


Pada rantai makanan tidak
langsung atau rantai detritus ini
melibatkan

lebih

banyak

organisme.

Bertindak

sebagai

produsen adalah mangrove yang


akan menghasilkan serasah yang
berbentuk daun, ranting, dan bunga
yang jatuh ke perairan. Selanjutnya
serasah

ini

akan

terurai

oleh

detrivor / pengurai. Detritus yang


mengandung

senyawa

organic

kemudian akan
Gambar 2. Rantai Makanan Tidak Langsung

dimakan oleh crustacea, bacteria, alga, dan mollusca yang bertindak sebagai
konsumen tingkat 1. Khusus untuk bacteri dan alga akan dimakan protozoa
sebagai konsumen tingkat 2. Protozoa ini kemudian akan dimakan oleh

amphipoda sebagai konsumen tingkat 3. Lalu, baik crustacea ataupun amphipoda


ini dimakan oleh ikan kecil (konsumen tingkat 4) dan kemudian akan dimakan
oleh ikan besar (konsumen 5). Selanjutnya untuk konsumen tingkat 6 terdiri atas
ikan-ikan besar maupun burung burung pemakan ikan dan pada akhirnya
konsumen tingkat 6 ini akan mati dan diuraikan oleh detritus sehingga akan
menghasilkan senyawa yang bisa dimanfaatkan oleh tumbuhan mangrove
tersebut.

Jaring-Jaring Makanan
Pada uraian sebelumnya tentang rantai makanan, dijelaskan bahwa setiap
organisme seakan-akan hanya memakan atau dimakan oleh satu organisme lain
saja. Hal yang sebenarnya terjadi adalah dalam suatu ekosistem tidaklah
demikian. Tiap organisme mungkin memakan atau dimakan lebih dari satu
organisme dalam satu rantai makanan yang sama atau makan dari rantai makanan
lain. Ini biasanya terjadi pada hewan karnivora taraf trofik tinggi. Dalam
ekosistem, rantai makanan-rantai makanan tersebut saling berkaitan. Kebanyakan
sejenis hewan memakan beragam, dan makhluk tersebut pada gilirannya juga
menyediakan makanan untuk berbagai makhluk yang memakannya, maka terjadi
yang dinamakan jarring-jaring makanan (food web).
Jaring-jaring

makanan

merupakan

rantai-rantai

makanan

yang

saling berhubungan satu sama lain sedemikian rupa sehingga membentuk seperi
jarring-jaring. Jaring-jaring makanan terjadi karena setiap jenis makhluk hidup
tidak hanya

memakan

atau

dimakan

oleh

satu

jenis

makhluk

hidup

lainnya.Berdasarkan beberapa penjelasan dan pengertian di atas dapat


diperoleh bahwa jarring-jaring makanan adalah kumpulan antara berbagai rantai
makanan yang saling berhubungan secara lebih kompleks dalam suatu ekosistem

Gambar 3. Jaring-Jaring Makanan Ekosistem Mangrove

Dalam ekosistem mangrove, sisa organik dari daun bakau dan rumput laut
menjadi produsen primer jaring-jaring makanan. Kemudian sisa organik
daun bakau diuraikan oleh detrivor menjadi detritus. Rumput laut dan detritus
kemudian di makan oleh cacing dan udang kecil. Selanjutnya udang kecil
dimakan oleh kepiting, ikan kecil dan ikan besar dan kerang-kerangan di makan
oleh ikan kecil. Setelah itu ikan kecil di makan oleh ikan besar, ikan besar dan
kepiting kemudian di makan oleh burung bangau. Akhirnya, burung bangau
dimakan oleh burung elang sebagai konsumen puncak atau predator

DAFTAR PUSTAKA
Kusuma, C, Onrizal dan Sudarmaji, 2003. Jenis-Jenis Pohon Mangrove di teluk Bintuni,
Papua. Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor dan PT. Bintuni Utama
Murni. Wood Industries. Bogor.
Nontji, A. 1993. Laut Nusantara. Penerbit Djambatan.
Nybakken, J.W, 1998. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis. PT. Gramedia, Jakarta.
Ridwanaz. 2010. Pengertian Ekosistem-Susunan dan Macam Ekosistem. Jakarta. Fakultas
Matematika dan Pengetahuan Alam. Universitas Indonesia.
Rochana, E. 2009. Ekosistem
www.irwantoshut.com.

Mangrove

dan

Pengelolaannya

di

Indonesia.

Romimohtarto, K dan S. Juwana, 1999. Biologi Laut. Ilmu Pengetahuan TentangBiota


Laut. Puslitbang Osenologi-LIPI, Jakarta : 527 hal.