Anda di halaman 1dari 2

Pelayanan Chronic Venous Disease (ICD IX No. I83.

9)
Pengertian :
Varices pada tungkai mengenai 30 % dari usia dewasa dan lebih tinggi lagi
pada kelompok pekerja tertentu. Keluhan pasien bervariasi dari mulai pegal yang
sering diabaikan sampai timbulnya ulkus yang sangat mengganggu. Disamping itu
ada keluhan kosmetik yang membawa pasien segera berobat.
Patogenesis penyakit ini diduga berhubungan dengan pekerjaan/posisi bekerja,
hormonal, keturunan, trauma, kelainan kongenital vena, adanya sumbatan ataupun
aliran balik vena.
Varices sendiri didefinisikan sebagai pelebaran vena yang berkelok-kelok, disertai
adanya kerusakan katup vena. Saat ini klasifikasi yang digunakan adalah klasifikasi
CEAP.
Anamnesis :
Anamnesis pada pasien varices meliputi :
Keluhan pegal, rasa kram, panas, sampai nyeri dibetis
Keluhan kosmetik, karena vena yang melebar & berkelok-kelok
Bengkak atau koreng pada mata kaki
Kebiasaan dan pekerjaan, riwayat keluarga, terapi hormonal
Riwayat trauma
Pemeriksan Fisik :
Pada pemeriksaan fisik dilihat adanya pelebaran vena, perubahan warna
kulit, edema, ulkus. Diraba adanya vena yang trombosisi atau pasca plebitis.
Dilakukan juga pemeriksaan :
Tes impuls batuk/mengejan menentukan inkompetensi katup Saphena
Femoral junction
Tes Trendelemberg menentukan inkompetensi katup vena perforantes
dan atau vena saphena
Tes Torniquet menentukan lokasi vena perforantes yang bocor
Tes Perthes menentukan inkompetensi vena dalam dan perforantes
Kriteria Diagnostik :
Diganosis Varices tungkai ditegakkan dengan dengan klasifikasi CEAP sesuai
dengan buku panduan yang ada di Divisi Bedah Vaskuler Departemen Bedah RSUP
HAM.
Pemeriksaan Penunjang :
Jika ada dugaan kelainan dalam penilaian vena dalam dapat dilakukan
pemeriksaan duplex sonografi ataupun phlebografi.
Sedangkan pemeriksaan penunjang lain diperlukan jika pasien dipersiapkan untuk
operasi dalam narkose dimana pemeriksaan ini berhubungan dengan penilaian
toleransi operasi yang ditentukan oleh anestesi ataupun dokter Penyakit Dalam.

Terapi :
Non Pembedahan
Untuk semua stadium klinis dan kelainan anatomi meliputi :
Balutan elastic verban, untuk pasien yang tidak aktif
Pemakaian Medical Stocking, untuk pasien aktif
Obat-obatan; Ardium 2 x 1 selama 3 bulan
Latihan gerakan kaki, edukasi
Terapi Sklerotik

Diindikasikan untuk klasifikasi klinis C1 dan


C2 yang tidak luas dengan syarat tidak ada gangguan pada vena dalam
Suntikan aethoxysklerol 1 % untuk yang
intra dan subdermal sebanyak 2 cc atau 2 % untuk varices C 2 dilanjutkan balut
elastic selama 1 2 minggu. Pasien kontrol setiap minggu untuk evaluasi dan
kemungkinan injeksi ulang
Selain itu terapi Skin Laser untuk
telangiektasis juga dapat dilakukan atau pelebaran pembuluh darah dengan
diameter 1-2 mm, sebagai alternatif dari injeksi skleroting agent.
Terapi Bedah
Meliputi phlebektomi dan
stripping varices untuk C2 dengan syarat vena dalam baik
Debridement luka dan tandur
kulit untuk ulkus yang ada
Pada kasus kebocoran vena
perforantes dan sulit dilakukan phlebektomi ataupun Stripping, dapat dilakukan
ligasi perforantes dengan cara membuat Flap kulit diatas farcia untuk
meligasi/cauterisasi vena perforantes
Tindakan endovaskuler untuk
varises meliputi EVLT (Endovenous Lasert Treatment)

Pada semua tindakan bedah pasien harus tirah baring selama 2 hari dan
mendapat antibiotik injeksi maupun oral disamping analgetik oral. Pasien latihan
jalan pada hari ketiga dan dianjurkan menggunakan medikal stocking untuk
dipulangkan. Pada penderita dengan ulkus, diperlukan jika sudah ada penyembuhan
ulkusnya.

Edukasi :
Pada pasien diberi penjelasan untuk menghindari atau meninggalkan faktor
resiko terjadinya varices meliputi kebiasaan menggunakan pakaian/celana ketat,
sepatu tinggi, terapi hormonal, posisi kerja, ataupun merendam kaki dengan air
hangat. Olah raga yang dianjurkan adalah jalan kaki dan berenang.