Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM ILMU KEBUMIAN


MENGUJI UDARA

DISUSUN OLEH
NAMA : ANNIS SEPTIDIANI
NIM

: 14312244001

KELAS : PENDIDIKAN IPA A

PROGAM STUDI PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2015

A. JUDUL

Menguji Udara
B. TUJUAN
Mempelajari bagaimana tanah dan air menyerap dan melepaskan energi dari matahari
C. HIPOTESIS
1. Jika air dipanaskan maka suhu air yang awalnya turun kemudian akan naik
2. Jika tanah dipanaskan maka suhu tanah akan naik dan dapat menyerap panas
D. DASAR TEORI
Udara merupakan zat paling penting setelah air dalam memberikan kehidupan di
muka bumi ini. selain memberikan oksigen, udara juga berfungsi sebagai alat penghantar
suara dan bunyi-bunyian, pendingin benda-benda yang panas, dan dapat menjadi media
penyebaran penyakit pada manusia. (Budiman Chandra, 2005:75). Udara merupakan
campuran mekanis dari bermacam-macam gas. Komposisi normal udara terdiri atas gas
nitrogen 78,1 %, oksigen 20,93%, dan karbondioksida 0,03%, sementara selebihnya
berupa gas argon, neon, kripton, xenon, dan helium. Udara juga mengandung uap air,
debu, bakteri, spora, dan sisa tumbuh-tumbuhan.
a. Pengertian suhu
Suhu merupakan karakteristik inherent, dimiliki oleh suatu benda yang
berhubungan dengan panas dan energi. Jika panas yang dialirkan pada suatu benda , maka
suhu benda tersebut akan meningkat, sebaliknya suhu benda akan turun jika benda
bersangkutan kehilangan panas. Akan tetapi hubungan antara satuan padanas (energi)
dengan satuan suhu tidak merupakan suatu konstanta karena besarnya peningkatan suhu
akibat penerimaan panas dalam jumlah tertentu akan dipengaruhi oleh daya tampung
panas (heat capacity) yang dimiliki oleh benda penerima tersebut.
Untuk memberikan definisi yang tepat tentang suhu, maka perlu dilihat terpisah
dengan hasil pengindraan manusia yang bersifat subjektif. Duhu merupakan ukuran
relatif dari kondisi termal yang dimiliki oleh suatu benda. Jika dua benda yang
bersinggungan dan tidak terjadi perpindahan panas antara kedua benda tersebut, maka
kedua benda ini disebut berada pada posisi.
Menurut Benyamin (1997), suhu udara adalah keadaan panas atau dinginnya
udara. Alat untuk mengukur suhu udara atau derajat panas disebut thermometer. Biasanya
pengukur dinyatakan dalam skala Celcius (C), Reamur (R), dan Fahrenheit (F). Suhu
udara di permukaan bumi adalah relative, tergantung pada faktor-faktor yang
mempengaruhinya seperti misalnya lamanya penyinaran matahari. Hal itu dapat
berdampak langsung akan adanya perubahan suhu di udara.

Suhu di permukaan bumi makin rendah dengan bertambahnya lintang seperti


halnya penurunan suhu menurut ketinggian. Bedanya, pada penyebaran suhu secara
vertikal permukaan bumi merupakan sumber pemanas sehingga semakin tinggi tempat
maka semakin rendah suhunya. Rata-rata penurunan suhu udara menurut ketinggian
contohnya di Indonesia sekitar 5C 6C tiap kenaikan 1000 meter. Karena kapasitas
panas udara sangat rendah, suhu udara sangat pekat pada perubahan energi dipermukaan
bumi. Diantara udara, tanah dan air, udara merupakan konduktor terburuk, sedangkan
tanah merupakan konduktor terbaik (Handoko, 1994)
Lautan mempunyai luas dan kapasitas panas yang lebih besar daripada daratan,
sehingga meskipun daratan merupakan penyimpanan panas yang lebih buruk tetapi
karena udara bercampur secara dinamis, maka pengaruh permukaan lautan secara vertikal
akan lebih dominan. Sedangkan daratan tidak mempunyai kapasitas yang sama seperti
lautan dalam kemampuannya menyimpan panas. Akibatnya, daratan akan lebih cepat
bereaksi untuk menjadi panas ketika menerima radiasi matahari dari pada lautan.
Sebaliknya, daratan akan lebih cepat pula menjadi dingin dari pada lautan pada waktu
tidak ada insolation (pemanasan sinar matahari yang diterima oleh permukaan bumi).
Akibatnya, di daratan terdapat perbedaan suhu yang amat besar dibandingkan dengan
yang terjadi di lautan. Perpindahan panas juga terjadi antara udara dengan lautan atau
tanah yang ada di bawahnya akan dapat memberikan suatu kenaikan tekanan atmosfer
pada daerah-daerah di sekitarnya.
b. Dinamika dan profil suhu udara
Proses pemindahan panas terjadi dari tempat/bendayang mempunyai tingkat
energi lebih tinggi ke tingkat yang lebih rendah. Proses pemindahan energi secara umum
dapat dibagi menjadi 3 macam, yaitu konduksi, konveksi, dan radiasi.
1. Konduksi
Proses pemindahan panas pada benda-benda padat seperti tanah terjadi secara
konduksi. Pada proses ini, sebagian energi kinetik molekul benda/medium yang
bersuhu lebih tinggi dipindahkan ke molekul benda bersuhu lebih rendah melalui
tumbukan molekul-molekul terasebut. Energi panas seolah-olah merambat melalui
medium tersebut. Jumlah aliran panas persatuan waktu dan luas tergantung dari sifat
fisik medium yang dicerminkan oleh konduktivitas panas medium tersebut.
Menurut Suhartini (2008), konduksi adalah perpindahan panas melalui zat
perantara, namun zat tersebut tidak ikut berpindah ataupun bergerak. Contohnya yaitu

pemindahan panas pada tanah. Tanah merupakan konduktor yang terbaik bila
dibandingkan dengan air dan udara.
Diantara udara, tanah, dan air, udara merupakan konduktor terburuk, sedangkan
tanah merupakan konduktor terbaik. Oleh karena itu, proses konduksi ini hanya
efektif untuk pemanasan tanah dan tidak efektif untuk pemanasan udara. Di udara,
proses pemindahan panas secara konduksi terjadi pada lapisan udara yang sangat tipis
dekat permukaan (beberapa milimeter) dikenal dengan konduksi semu karena tidak
sepenuhnya merupakan proses pemindahan panas secara konduksi.
2. Konveksi
Proses pemindahan panas secara konveksi terjadi pada fluida (cairan dan gas).
Jika pada proses konduksi medium dari aliran panas berada dalam keadaan diam,
pada proses konveksi panas dipindahkan bersama-sama fluida bergerak. Proses ini
dapat terjadi melalui konveksi paksa (forced convection) atau turbulensi dan konveksi
bebas (free convection).
Pada konveksi paksa, udara bergerak melalui lapisan pembatas pada permukaan
yang kasar sehingga timbul gerak edi yang acak. Pengaruh angin sangat nyata pada
proses ini terutama dekat permukaan. Sedangkan pada konveksi bebas, udara
dipanaskan oleh permukaan bumi akibat penerimaan radiasi surya, sehingga udara
akan mengembang dan naik menuju tekanan yang lebih rendah. Proses pemanasan
udara melalui konveksi lebih efektif dibandingkan dengan konduksi dan radiasi.
3. Radiasi
Menurut Suhartini (2008), radiasi merupakan perpindahan panas tanpa melalui
perantara. Radiasi yang dipancarkan oleh suatu permukaan berbanding lurus dengan
pangkat empat suhu mutlak permukaan. Energi radiasi gelombang panjang yang
dipancarkan permukaan bumi sebagian diserap atmosfer dan sisanya akan keluar dari
sistem atmosfer bumi. Adanya awan pada malam hari dapat menahan jumlah radiasi
bumi yang dipancarkan ke angkasa, sehingga akan mengurangi perubahan suhu udara
ekstrim. Radiasi matahari sangat berguna bagi keseimbangan panas bumi. Bumi dan
atmosfer secara tetap menyerap radiasi matahari dan mengemisikan kembali
radiasinya ke angkasa hingga sistem bumi-atmosfer berada dalam keseimbangan
radiatif dengan matahari.
c. Penyebaran Suhu Menurut Ruang Dan Waktu
Menurut ruang dan waktu, penyebaran suhu dibagi menjadi 2 cara yakni
sebagai berikut:

1. Penyebaran suhu vertical


Pada lapisan troposfer, secara umum suhu makin rendah menurut ketinggian.
Udara merupakan penyimpan panas terburuk, sehingga suhu udara sangat dipengaruhi
oleh permukaan bumi tempat bersentuhan antara udara dengan daratan dan lautan.
Permukaan bumi tersebut merupakan pemasok panas utama untuk pemanasan udara.
Lautan mempunyai luas dan kapasitas panas yang lebih besar daripada daratan,
sehingga meskipun daratan merupakan penyimpanan panas yang lebih buruk tetapi
karena udara bercampur secara dinamis , maka pengaruh permukaan lautan secara
vertikal akan lebih dominan. Akibatnya suhu akan turun menurut ketinggian baik
diatas daratan maupun lautan.
2. Penyebaran suhu di permukaan bumi
Suhu dipermukaan bumi makin rendah dengan bertambahnya lintang seperti
halnya penurunan suhu menurut ketinggian. Bedanya, pada penyebaran suhu secara
vertikal permukaan bumi merupakan sumber pemanasan sehingga makin tinggi
tempat makin rendah suhu. Sedangkan pada penyebaran suhu menurut letak lintang
sumber energi utama berasal dari daerah tropika yang merupakan penerima energi
radiasi surya terbanyak. Sebagian energi tersebut dipindahkan ke daerah lintang tinggi
untuk menjaga keseimbangan energi secara global.
Daratan tidak mempunyai kapasitas yang sama seperti air dalam kemampuannya
menyimpan panas. Akibatnya, daratan akan lebih cepat bereaksi untuk menjadi panas
ketika menerima radiasi matahari daripada lautan. Sebaliknya, daratan akan lebih
cepat pula menjadi dingin daripada lautan pada waktu tidak ada insolation
(pemanasan sinar matahari yang diterima oleh permukaan bumi). Akibatnya, di
daratan terdapat perbedaan suhu yang amat besar dibandingkan dengan yang terjadi
di lautan. Perpindahan panas juga terjadi antara udara dengan lautan / tanah yang ada
di bawahnya akan dapat memberikan suatu kenaikan tekanan atmosfer pada daerahdaerah di sekitarnya.
E. METODE PRAKTIKUM
1. Waktu praktikum
Hari,tanggal
: Kamis, 22 Oktober 2015
Tempat
: Laboratorium IPA 2 FMIPA UNY
Waktu
: 07.30-09.10 WIB
2. Alat dan Bahan
1. Beaker glass (2 buah)
2. Thermometer (4 buah)
3. Statif

4. Air
5. Tanah
3. Langkah Kerja

Mengisi gelas bekker I dengan tanah kurang lebih setengah volumenya.


Mengisi gelas bekker II dengan air kurang lebih setengah volumenya.

Memasang pada masing-masing gelas bekker 2 termometer. Termometer I


berada 1 cm di bawah permukaan tanah / air dan termometer II berada 1 cm
di atas permukaan tanah / air.

Meletakkan 2 gelas bekker yang sudah dipasang termometer pada ruang


yang terkena cahaya matahari.

Membaca dan mencatat suhu pada masing-masing termometer setiap 10


menit.

Membuat grafik perbandingan waktu (menit) dengan a) suhu tanah; b) suhu


air; c) suhu udara di atas tanah; d) suhu udara di atas air.

F. DATA HASIL PERCOBAAN


NO

Waktu

Tanah
Di atas

Di dalam

Air
Di atas air

Di dalam air

tanah

tanah

Mula-mula

30C

30C

30C

30C

10 menit pertama

35C

33C

33C

31C

10 menit kedua

36C

35C

33C

31C

10 menit ketiga

37C

38C

34C

32C

10 menit keempat

38C

40C

33C

32C

10 menit kelima

40C

42C

34C

32C

G. ANALISI DATA
Dari data hasil percobaan tersebut, dapat dibuat grafik hubungan antara waktu
dengan suhu, baik suhu di atas permukaan tanah, suhu di bawah permukaan tanah, suhu
di atas permukaan air dan suhu di bawah permukaan air. Dimana waktu dijadikan sebagai
variabel bebas pada sumbu-x dan suhu sebagai variabel yang akan dicari, terletak di
sumbu-y.
a. Grafik hubungan antara waktu dengan suhu dibawah permukaan tanah

b. Grafik hubungan antara waktu dengan suhu diatas permukaan tanah

c. Grafik hubungan antara waktu dengan suhu dibawah permukaan air

d. Grafik hubungan antara waktu dengan suhu diatas permukaan air

H. PEMBAHASAN
Percobaan Ilmu Kebumian yang berjudul Menguji Udara dilakukan pada hari
Kamis, 22 Oktober 2015 di Laboratorium IPA 2, FMIPA UNY. Percobaan ini memiliki
tujuan untuk mengetahui bagaimana tanah dan air menerima dan melepaskan energi
matahari. Percobaan dilakukan dengan mengukur suhu di atas dan di bawah permukaan
tanah maupun air. Gelas bekker yang pertama diisi dengan tanah dan gelas bekker kedua
diisi dengan air. Kedua gelas bekker tersebut diletakkan di tempat yang berdekatan
dengan maksud agar kedua gelas bekker mendapatkan sinar matahari yang sama.
Kemudian termometer digantungkan pada statif dan diatur ketinggiannya sekitar 1 cm
berada di atas permukaan dan sekitar 1 cm di bawah permukaan baik tanah maupun air.
Setelah termometer terpasang semua, praktikan mengukur suhu mula-mula dari setiap
gelas bekker. Suhu udara di atas permukaan dan di bawah permukaan tanah maupun air
diamati setiap 10 menit sekali hingga didapatkan 5 data dan dengan data yang diperoleh

tersebut dapat dibuat grafik perbandingan antara waktu dengan suhu di atas permukaan
dan dibawah permukaan baik tanah maupun air.
Hasil percobaan yang diperoleh praktikan adalah sebagai berikut :
a. Suhu di atas permukaan tanah
Suhu awal yang digunakan praktikan pada termometer 1 cm di atas permukaan
tanah adalah 30C. Praktikan mengamati suhunya pada setiap 10 menit sekali hingga
diperoleh 5 data. Suhu pada 10 menit pertama adalah 35C, 10 menit kedua adalah 36C,
10 menit ketiga adalah 37C, 10 menit keempat adalah 38C dan 10 menit kelima adalah
40C. Dari 5 data tersebut dapat dibuat grafik hubungan waktu dengan suhu di bawah
permukaan tanah, grafik tersebut adalah sebagai berikut :

Berdasarkan grafik di atas, dapat dilihat bahwa suhu mengalami kenaikan pada
setiap pertambahan waktu. Meskipun kenaikannya tidak terlalu signifikan hal ini telah
menandakan bahwa tanah merupakan konduktor yang baik. Hal ini telah sesuai pada
literatur yang menyatakan bahwa tanah merupakan konduktor yang baik dibandingkan
dengan air dan udara.
b. Suhu dibawah permukaan tanah
Suhu awal yang digunakan praktikan pada termometer 1 cm di bawah permukaan
tanah adalah 30C. Praktikan mengamati suhunya pada setiap 10 menit sekali hingga
diperoleh 5 data. Suhu pada 10 menit pertama adalah 33C, 10 menit kedua adalah 35C,
10 menit ketiga adalah 38C, 10 menit keempat adalah 40C dan 10 menit kelima adalah
42C. Dari 5 data tersebut dapat dibuat grafik hubungan waktu dengan suhu di bawah
permukaan tanah, grafik tersebut adalah sebagai berikut :

Berdasarkan grafik di atas, dapat dilihat bahwa suhu mengalami kenaikan pada
setiap pertambahan waktu. Meskipun kenaikannya tidak terlalu signifikan hal ini telah
menandakan bahwa tanah merupakan konduktor yang baik. Hal ini telah sesuai pada
literatur yang menyatakan bahwa tanah merupakan konduktor yang baik dibandingkan
dengan air dan udara. Pada proses ini, sebagian energi kinetik molekul benda atau
medium yang bersuhu lebih tinggi dipindahkan ke molekul benda bersuhu lebih rendah
melalui tumbukan molekul-molekul tersebut. Energi panas seolah-olah merambat melalui
medium tersebut. Jumlah aliran panas persatuan waktu dan luas tergantung dari sifat fisik
medium yang dicerminkan oleh konduktivitas panas medium tersebut.
Hasil percobaan yang telah dilakukan telah sesuai dengan literature bahwa suhu di
atas permukaan dan di bawah permukaan tanah akan mengalami kenaikan suhu dan suhu
relatif konstan karena tanah akan menyerap panas yang dipancarkan matahari dengan
cepat. Hal demikian ini dikarenakan tanah merupakan zat padat. Zat padat memiliki
partikel yang tersusun rapat sehingga ketika sinar matahari mengenainya, sinar akan
secara cepat mengalami konduksi sehingga menaikkan suhu udara di sekitarnnya.
c. Suhu diatas permukaan air
Suhu awal yang digunakan praktikan pada termometer 1 cm di atas permukaan air
adalah 30C. Praktikan mengamati suhunya pada setiap 10 menit sekali hingga diperoleh
5 data. Suhu pada 10 menit pertama dan kedua adalah 33C, 10 menit ketiga adalah
34C, 10 menit keempat adalah 33C dan 10 menit kelima adalah 34C. Dari 5 data
tersebut dapat dibuat grafik hubungan waktu dengan suhu di bawah permukaan tanah,
grafik tersebut adalah sebagai berikut :

Berdasarkan grafik hubungan waktu dengan suhu di atas permukaan air, dapat
diketahui bahwa suhu yang ditunjukkan termometer bersifat fluktuatif, artinya suhu yang
ditunjukkan termometer mengalami kenaikan dan penurunan. Kenaikan dan penurunan
perolehan suhu ini disebabkan oleh keadaan cuaca dan pengaruh angin. Radiasi panas
matahari yang diamati dalam percobaan ini dipengaruhi oleh sudut datang sinar matahari
dan keadaan cuaca. Selain itu intensitas cahaya matahari yang tidak menentu juga sangat
berpengaruh terhadap perpindahan kalor (bersumber dari matahari) kepada suhu di
sekitar air.
d. Suhu dibawah permukaan air
Suhu awal yang digunakan praktikan pada termometer 1 cm di bawah permukaan
air adalah 30C. Praktikan mengamati suhunya pada setiap 10 menit sekali hingga
diperoleh 5 data. Suhu pada 10 menit pertama dan kedua adalah 31C, 10 menit ketiga,
keempat dan kelima adalah 35C. Dari 5 data tersebut dapat dibuat grafik hubungan
waktu dengan suhu di bawah permukaan tanah, grafik tersebut adalah sebagai berikut:

Berdasarkan grafik hubungan waktu dengan suhu di bawah permukaan air, dapat
diketahui bahwa suhu yang ditunjukkan termometer mengalami kenaikan pada 10 menit
pertama dan 10 menit ketiga serta suhu stabil pada 10 menit keempat dan kelima.
Kenaikan yang terjadi juga tidak terlalu signifikan. Sehingga dapat dikatakan bahwa suhu
pada kondisi ini relatif konstan dan tidak mengalami penurunan. Hal ini sesuai dengan
literatur yang mengatakan bahwa air akan mengalami kenaikan suhu yang relatif lambat
dibandingkan tanah.
Menurut Tipler (2004), panas jenis air jauh lebih besar dari pada panas jenis zat
lain. Karena kapasitas panasnya yang sangat besar, air adalah bahan yang baik untuk
menyimpan energi termis. Air juga merupakan pendingin yang baik. Air dalam jumlah
banyak, seperti danau atau lautan, cenderung membuat variasi temperatur tidak
berlebihan di dekatnya karena air dapat menyerap atau melepas energi termis dalam
jumlah yang besar sementara mengalami perubahan temperatur sangat kecil.
Dari percobaan yang telah dilakukan, dapat diperoleh data bahwa suhu udara di
atas dan di bawah permukaan tanah lebih berfluktuasi atau cepat menyesuaikan dengan
panas yang diterima dari matahari dibandingkan udara di sekitar zat cair. Dari keadaan
awal suhu udara hingga mulai dikenai panas, udara di sekitar permukaan tanah dengan
cepat mengalami kenaikan suhu. Hal ini dikarenakan tanah merupakan zat padat. Zat
padat memiliki partikel yang tersusun rapat sehingga ketika sinar matahari mengenainya,
sinar akan secara cepat mengalami konduksi sehingga menaikkan suhu udara di
sekitarnnya. Ketika panas yang diterima mulai berkurang, maka dengan cepat suhu di
sekitar tanah juga berkurang.
Sedangkan pada air, partikel-partikelnya tersusun kurang rapat sehingga sulit
mengalami konduksi panas. Namun demikian, setelah menyerap panas, zat cair tidak
lekas melepas panas. Dengan kata lain, air sulit menerima panas dan juga sulit
melepaskan panas. Sehingga pada percobaan dapat dilihat bahwa setelah mengalami
kenaikan suhu, udara di sekitar air cenderung tetap dibandingkan di sekitar tanah.

Dari hasil percobaan yang telah dilakukan adanya kesesuaian terhadap hipotesis
yang dibuat yaitu jika air dipanaskan maka suhu air yang awalnya turun kemudian akan
naik atau dapat juga dikatakan suhunya naik turun dan untuk hipotesis yang kedua yaitu
jika tanah dipanaskan maka suhu tanah akan naik dan dapat menyerap panas hal ini juga
sesuai dengan literature yang didapat bahwa tanah memiliki kemampuan menyerap panas
lebih cepat, tetapi cepat pula dalam melepaskan panas. Sedangkan air lebih sulit
menerima panas dan lebih lambat dalam melepas panas. Dengan kata lain, air memiliki
sifat penyimpan panas yang lebih baik dari tanah, namun memerlukan waktu yang lebih
lama dalam menerima panas.
I. KESIMPULAN
Dari praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa Tanah memiliki
kemampuan menyerap panas lebih cepat, tetapi cepat pula dalam melepaskan panas.
Sedangkan air lebih sulit menerima panas dan lebih lambat dalam melepas panas. Dengan
kata lain, air memiliki sifat penyimpan panas yang lebih baik dari tanah.
J. JAWABAN PERTANYAAN
1. Wadah manakah yang suhunya naik lebih cepat? Mengapa?
Jawab

: Tanah, karena tanah merupakan zat padat. Zat padat memiliki partikel
yang tersusun rapat sehingga ketika sinar matahari mengenainya, sinar
akan secara cepat mengalami konduksi sehingga menaikkan suhu udara di
sekitarnnya. Sedangkan pada air, partikel-partikelnya tersusun kurang
rapat sehingga sulit mengalami konduksi panas. Namun demikian, setelah
menyerap panas, zat cair tidak lekas melepas panas. Dengan kata lain, air
sulit menerima panas dan juga sulit melepaskan panas.

2. Bagaimana tanah dan air dapat mempengaruhi suhu udara di atasnya?


Jawab

: Tanah mempengaruhi suhu udara di atasnya dengan cara melepaskan


energi yang dikandungnya setelah menyerap energi matahari dengan cepat
sehingga udara diatasnya tetap panas. Sedangkan pada air mempengaruhi
suhu udara di atasnya dengan cara menyimpan energi yang dikandungnya
setelah menyerap energi matahari dengan lambat.. Sehingga udara di atas
air akan konstan dan relatif lama untuk melepaskan energi lagi.

3. Bagaimana permukaan tanah yang luas (daratan) mempengaruhi suhu udara di bumi?

Jawab

: Daratan tidak mempunyai kapasitas yang sama seperti air dalam


kemampuannya menyimpan panas. Akibatnya, daratan akan lebih cepat
bereaksi untuk menjadi panas ketika menerima radiasi matahari daripada
lautan. Jadi, semakin luas daratan tersebut maka akan semakin banyak
pula radiasi sinar dari sinar matahari yang diserap atau lebih mudah
menyerap panas. Tanah yang mempunyai tekstur kasar dan berwarna
hitam/gelap membuat penyerapan panas dari sinar matahari akan berjalan
dengan baik. Dengan tekstur dan warna yang seperti itu, membuat tanah
mampu dengan cepat menyerap panas dan juga mampu dengan cepat
melepakannya lagi. Sebaliknya, daratan akan lebih cepat menjadi dingin
dari pada lautan pada waktu tidak ada insulation (pemanasan sinar
matahari yang diterima oleh permukaan bumi). Akibatnya, di daratan
terdapat perbedaan suhu yang amat besar dibandingkan dengan yang
terjadi di lautan. Perpindahan panas juga terjadi antara udara dengan
lautan atau tanah yang ada dibawahnya akan dapat memberikan suatu
kenaikan tekanan atmosfer pada daerah-daerah di sekitarnya.

4. Bagaimana permukaan air yang luas mempengaruhi suhu udara di bumi?


Jawab

: Lautan mempunyai luas dan kapasitas panas lebih besar dari pada
daratan, sehingga meskipun daratan merupakan penyimpanan panas yang
lebih buruk tetapi karena udara bercampur secara dinamis, maka pengaruh
permukaan lautan secara vertikal akan lebih dominan. Akibatnya suhu
akan turun menurut ketinggian baik di atas daratan maupun lautan. Radiasi
sinar matahari yang dipancarkan akan masuk ke dalam lautan, kemudian
air laut akan menyerap panas dan menguap. Sehingga, semakin luas
permukaan lautan maka semakin cepat pula penguapan terjadi, maka
menyebabkan suhu udara naik. Semakin naik penguapan air hingga
menuju tempat tertinggi, akan merubah uap air menjadi titik-titik hujan.
Titik-titk tersebut akan turun pada daerah yang beriklim dingin singga
turun hujan yang menyebabkan suhu udara mejadi dingin.

K. DAFTAR PUSTAKA

Benyamin, Lakitan. 1997. Klimatologi Dasar. Radja Grafindo Persada. Jakarta.


Budiman, Chandra. 2005. Pengantar Ilmu Kesehatan Lingkungan. Jakarta: EGC Press.
Handoko. 1994. Klimatologi Dasar. Bogor : Pustaka Jaya.
Suhartini D, dkk. 2008. Ilmu Pengetahuan Alam. Jakarta: PT Macanan Jaya Cemerlang.

L. LAMPIRAN

Anda mungkin juga menyukai