Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM ILMU KEBUMIAN


IDENTIFIKASI MINERAL DAN BATUAN

DISUSUN OLEH
NAMA

: ANNIS SEPTIDIANI

NIM

: 14312244001

KELAS

: IPA A 2014

JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2015

A. JUDUL
Identifikasi Mineral dan Batuan
B. TUJUAN
1. Mengidentifikasi ciri-ciri beberapa sampel mineral dan batuan
2. Mengidentifikasi beberapa sampel mineral dan batuan berdasarkan indikator sampel
C. HIPOTESIS
Jenis batuan dapat diidentifikasi dengan melihat ciri-ciri fisik yaitu goresan, kilap,
kekerasan, dan patahan.
D. DASAR TEORI
1. Mineral
Mineral adalah zat padat anorganik yang mempunyai komposisi kimia tertentu
dengan susunan atom yang teratur, yang terjadi tidak dengan perantara manusia dan
tidak berasal dari tumbuh-tumbuhan dan hewan, dan dibentuk oleh alam (Warsito
Kusumoyudo, 1986). Kristal adalah zat padat yang mempunyai bentuk bangun yang
beraturan yang terdiri dari atam-atom dengan susunan yang teratur.
Penentuan nama mineral dapat dilakukan dengan membandingkan sifat-sifat
fisik mineral, antara mineral satu dengan mineral yang lainnya. Sifat-sifat fisik mineral
tersebut meliputi : warna, kilap (luster), kekerasan (hardness), gores (steak), belahan
(cleavage), pecahan (fracture), dan berat jenis.
a. Warna
Adalah kesan mineral jika terkena cahaya. Warna mineral dapat dibedakan
menjadi dua, yaitu idiokromatik dan alokromatik. Warna mineral yang tetap dan
tertentu karena elemen-elemen utama pada mineral disebut dengan nama
Idiokromatik (Idiochromatic). Misal : sulfur berwarna kuning,pyrite berwarna
kuning loyang, magnetite berwarna hitam.
Sedangkan warna akibat adanya campuran atau pengotor dengan unsur lain,
sehngga memberikan warna yang berubah-ubah tergantung dari pengotornya,
disebut dengan nama Alokromatik (Allochromatic).Misal : halite, warna dapat
berubah-ubah, seperti abu-abu, biru bervariasi, kuning, coklat gelap, merah muda.
Kuarsa tak berwarna, tetapi karena ada campuran/pengotoran, warna berubah-ubah
menjadi violet, merah muda, coklat-hitam. Kehadiran kelompok ion asing yang
dapat memberikan warna tertentu pada mineral disebut nama Chromophores.
Misal : Ion-ion Cu yang terkena proses hidrasi merupakan Chromophores dalam
mieral Cu sekunder ,maka akan memberikan warna hijau dan biru.

Meskipun memiliki kemungkinan mengalami perubahan fisik, berikut adalah


beberapa mineral yang memiliki warna khusus (khas) :
No
1

Warna
Putih

Jenis Mineral
Kaolin (Al2O3.2SiO2.2H2O), Gypsum
(CaSO4.H2O), Milky Kwartz (Kuarsa Susu)

Kuning
Hijau

(SiO2)
Belerang (S)
Klorit ((Mg.Fe)5 Al(AlSiO3O10) (OH)),

4
5

Emas
Biru

Malasit (Cu CO3Cu(OH)2)


Pirit (FeS2), Kalkopirit (CuFeS2), Emas (Au)
Azurit (2CuCO3Cu(OH)2), Beril (Be3Al2

6
7
8
9

Merah
Coklat
Abu-abu
Hitam

(Si6O18))
Jasper, Hematit (Fe2O3)
Garnet, Limonite (Fe2O3)
Galena (PbS)
Biotit (K2(MgFe)2(OH)2(AlSi3O10)), Grafit

2
3

(C), Augit
b. Kilap
Kilap ditimbulkan oleh cahaya yang dipantulkan dari permukaan sebuah
mineral, yang erat hubungannya dengan sifat pemantulan (refleksi) dan
pembiasan (refraksi). Intensitas kilap tergantung dari indeks bias dari mineral,
yang apabila makin besar indeks bias mineral, makin besar pula jumlah cahaya
yang dipantulkan.
c. Kekerasan
Adalah ketahanan mineral terhadap sutu goresan. Secara relatif sifat fisik
ini ditentukan dengan menggunakan skala Mohs (1773-1839), yang dimulai dari
skala 1 yang paling lunak hingga skala 10 untuk kineral yang paling keras.
Masing-masing mineral dapat menggores mineral lain yang bernomor lebih kecil
dan dapat digores oleh mineral yang bernomor lebih besar. Dengan kata lain Skala
Mohs adalah skala relatif.
Untuk pengukuran kekerasan ini, dapat digunakan alat sederhana seperti kuku,
tangan, pisau baja dan lain-lain seperti terlihat pada tabel :
The Scale of
Hardness

Mineral

Chemical Formula

Talc

H2Mg3 (SiO3)4

2
3
4
5
6
7
8
9
10

Gypsum
Calcite
Fluorite
Apatite
Orthoklase
Quartz
Topaz
Corundum
Diamond

CaSO4. 2H2O
CaCO3
CaF2
CaF2Ca3 (PO4)2
KAlSi3O8
SiO2
Al2SiO3O8
Al2O3
C

Untuk perbandingan dari skala mohs, kekerasan dibawah ini diberikan alat
uji standar :

Tools testers
Human Nails
Copper Wire
Nail/Spike
Broken Glass
Knife Steel
The Steel - fisted
Quartz

The number of Mohs


Hardness
2,5
3
5,5
5,5 6
5,5 6
6,5 7
7

d. Gores
Gores merupakan warna asli dari mineral apabila mineral tersebut
ditumbuk sampai halus. Gores ini dapat lebih dipertanggungjawabkan karena stabil
dan penting untuk membedakan 2 mineral yang warnanya sama tetapi goresnya
berbeda. Gores ini diperoleh dengan cara menggorekan mineral pada permukaan
keping porselin, tetapi apabila mineral mempunyai kekerasan lebih dari 6, maka
dapat dicari dengan cara menumbuk sampai halus menjadi berupa tepung.Cerat
dapat sama dengan warna asli mineral, dapat pula berbeda. Warna cerat untuk
mineral tertentu umumnya tetap walaupun warna mineralnya berubah-ubah.
Mineral yang berwarna terang biasanya mempunyai gores berwarna putih.
Mineral bukan logam ( non metalic mineral ) dan berwarna gelap akan memberikan

gores yang lebh terang daripada warna mineralnya sendiri. Mineral yang
mempunyai kilap metallic kadang-kadang mempunyai warna gores yang lebih
gelap dari warna mineralnya sendiri. Pada beberapa mineral, warna dan gores
sering menunjukkan warna yang sama. Warna serbuk, lebih khas dibandingkan
dengan warna mineral secara keseluruhan, sehingga dapat dipergunakan untuk
mengidentifikasi mineral (Sapiie, 2006).
e. Belahan
Belahan merupakan kecenderungan mineral untuk membelah diri pada satu
atau lebih arah tertentu. Belahan merupakan salah satu sifat fisik mineral yang
mampu membelah yang oleh sini adalah bila mineral kita pukul dan tidak hancur,
tetapi terbelah-belah menjadi bidang belahan yang licin. Tidak semua mineral
mempunyai sifa ini, sehingga dapat dipakai istilah seperti mudah terbakar dan
sukar dibelah atau tidak dapa dibelah. Tenaga pengikat atom di dalam di dalam
sruktur kritsal tidak seragam ke segala arah, oleh sebab itu bila terdapat ikatan yang
lemah melalui suatu bidang, maka mineral akan cenderung membelah melalui
suatu bidang, maka mineral akan cenderung membelah melalui bidang-bidang
tersebut. Karena keteraturan sifat dalam mineral, maka belahan akan nampak
berjajar dan teratur (Danisworo, 1994).
f. Pecahan
Pecahan adalah kecenderungan mineral untuk terpisah-pisah dalam arah
yang tidak teratur apabila mineral dikenai gaya. Perbedaan pecahan dengan
belahan dapat dilihat dari sifat permukaan mineral apabila memantulkan sinar.
Permukaan bidang belah akan nampak halus dan dapat memantulkan sinar seperti
cermin datar, sedang bidang pecahan memantulkan sinar ke segala arah dengan
tidak teratur (Danisworo, 1994).
Pecahan mineral ada beberapa macam, yaitu:
1. Concoidal: bila memperhatikan gelombang yang melengkung di permukaan
pecahan, seperti kenampakan kulit kerang atau pecahan botol. Contoh Kuarsa.
2. Splintery/fibrous: Bila menunjukkan gejala seperti serat, misalnya asbestos,
augit, hipersten.
3. Even(pecahan rata): Bila pecahan tersebut menunjukkan permukaan bidang
pecahan halus, contoh pada kelompok mineral lempung.
4. Uneven(pecahan tidak rata): Bila pecahan tersebut menunjukkan permukaan
bidang pecahan yang kasar, contoh: magnetit, hematite, kalkopirite, garnet.

5. Hackly (pecahan runcing): Bila pecahan tersebut menunjukkan permukaan


kasar tidak teratur dan runcing-runcing. Contoh pada native elemen emas dan
perak.
g. Berat jenis
Adalah perbandingan antara berat mineral dengan volume mineral. Cara
yang umum untuk menentukan berat jenis yaitu dengan menimbang mineral
tersebut terlebih dahulu, misalnya beratnya x gram. Kemudian mineral ditimbang
lagi dalam keadaan di dalam air, misalnya beratnya y gram. Berat terhitung dalam
keadaan di dalam air adalah berat miberal dikurangi dengan berat air yang
volumenya sama dengan volume butir mineral tersebut. Dalam penentuan berat
jenis diperlukan alat-alat berupa Piknometer, Timbangan analitik, dan gelas ukur.
Tabel berat jenis beberapa mineral:

2. Batuan
Batuan adalah benda alam yang menjadi penyusun utama bumi.
Kebanyakan batuan merupakan campuran mineral yang tergabung secara fisik satu
sama lain. Beberapa batuan terutama

tersusun dari satu jenis mineral saja dan

sebagian kecil lagi dibentuk oleh gabungan mineral bahan organic serta bahan-bahan
vulkanik.
Pengertian batuan secara geologi:

Merupakan bagian yang padat, yang terdiri dari mineral-mineral yang belum

terganggu, di bawah lapisan soil dan vegetasi.


Adalah susunan dari kumpulan mineral dan bahan organik yang bersatu
membentuk kulit bumi.

Adalah semua material yang membentuk kulit bumi, yang terbagi atas : batuan
yang terkonsolidasi (consolidated rock), dan batuan yang tidak terkonsolidasi
(unconsolidated rock).
Berdasarkan kejadiannya (genesa), tekstur dan komposisi mineralnya dapat

dibagi menjadi tiga, yaitu:


1. Batuan beku (igneous rocks)
Batuan beku berasal dari cairan magma yang membeku akibat mengalami
pendinginan. Menurut ilmu petrologi semua bahan beku terbentuk dari magma
kaerena membekunya lelehan silikat yang cair dan pijar. Magma yang cair dan
pijar itu berada did lam bumi dan oleh kekuatan gas yang larut di dalamnya naik
ke atas mencari tempat-tempat yang lemah dalam kerak bumi seperti daerah
patahan/rekahan. Magma akan keluar mencapai permukaan bumi melalui pipa
gunung api dan disebut lava, akan tetapi ada pula magma yang membeku jauh di
dalm bumi dan dikenal dengan nama batuan beku dalam.
2. Batuan sedimen (sedimentary rocks)
Batuan sedimen adalah batuan yang terjadi karena pengendapan materi
hasil erosi, sekitar 80% permukaan benua tertutup batuan sedimen. Walaupun
volumenya hanya sekitar 5% dari volume kerak bumi.
3. Batuan metamorf (metamorphic rocks)
Merupakan batuan yang telah mengalami perubahan dari bentuk asalnya
dari batuan yang sudah ada baik batuan beku, sedimen ataupun dari batuan
metamorf yang lain. Terjadinya secara fisik dan kimiawi sehingga berbeda
dengan batuan induknya. Perubahan tersebut sebagai akibat dari tekanan,
temperature dan aliran panas baik cair maupun gas.
Dua tipe tekanan:
a. Tekanan statis, diakibatkan oleh berat batuan yang ada diatasnya, makin
dalam makin tinggi tekanan tersebut.
b. Tekanan dinamis, diakibatkan oleh gerak-gerak diatropisme atau tektonisme.
Temperature yang merpakan penyebab metamorfisme adalah temperature
yang tinggi di dalam kerak bumi, dapat berasal dari intrusi magma, aliran gas,
cairan yang panas, dll.
E. METODE PRAKTIKUM
1. Waktu dan Tempat

Hari, tanggal
: Kamis, 29 Oktober 2015
Pukul
: 07.30-09.10 WIB
Tempat
: Laboratorium IPA 2 FMIPA UNY
2. Alat dan Bahan
a. Beberapa batuan indikator
b. Beberapa sampel batuan acak
c. Kaca pembesar (LUP)
d. Neraca digital
e. Gelas ukur
f. Benang
g. Air
h. Larutan HCl
i. Pipet
j. Alat penggores (plat tipis)
3. Langkah Kerja
Kegiatan 1

Mengambil beberapa sampel batuan acak

Mengidentifikasi ciri-ciri fisik (warna, goresan, kilap, patahan,kekerasan)

Mengukur massa masing-masing sampel batuan

Mengukur volume masing-masing sampel batuan

Mengukur massa jenis masing-masing sampel batuan

Melakukan penetesan HCl pada masing-masing sampel batuan

Mengamati perubahan yang terjadi

Kegiatan 2
Mengambil batuan acak yang telah diidentifikasi ciri-ciri fisik tadi

Mengidentifikasi sampel batuan dengan indicator jenis batuan yang telah


disediakan
Mencatat hasil pengamatan

F. DATA HASIL PENGAMATAN


Kegiatan 1
SamNo.

Ciri-ciri fisik

pel

Go-

batu- Warna

resan

Kilap

Keke-

Pata-

rasan

han

Mas-

Vol-

Massa-

Reak-si

jenis

de-ngan

sa (g) (ml)

HCl

an
1.

Hitam

Ada

2.

Coklat

Ada

3.

Putih

Tidak
ada

7.46
+++

Ada

7.46

++

Ada

7.96

++

Tidak

+ +

ada

11.10

asap
3.98

4.

Abu-

abu

Tidak
ada
Ada

Ada
Ada

Ada

+++

Tidak
ada

5.43

Kegiatan 2
No
1
2
3
4

Sampel Batuan
Batuan A
Batuan B
Batuan C
Batuan D

Batuan Indikator
Batu Basa Lava
Batu Orcer
Batu Barit
Batu Pasir

Keluar

Tidak ada
perubahan

3.70

Ada

5.43

gelembung
Tidak ada
perubahan

G. ANALISIS DATA
Sampel Batuan A
Diketahui :
m = 7.46 gram ;
v = 1 ml

Sampel Batuan B
Diketahui :
m = 7.96 gram ;
v = 2 ml

= 7.46 gr/1ml
= 7.46 gram/ml

= 7.96 gr/2ml
= 3.98 gram/ml

Sampel Batuan C
Diketahui :
m = 11.10 gram ;
v = 3 ml

Sampel Batuan D
Diketahui :
m = 5.43 gram ;
v = 1 ml

=11.10gr/3ml
= 3.70 gram/ml

=5.43 gr/1ml
= 5.43 gram/ml

H. PEMBAHASAN
Percobaan yang berjudul Identifikasi Mineral dan Batuan memiliki tujuan
untuk mengidentifikasi ciri-ciri beberapa sampel mineral dan batuan

dan

mengklasifikasikan beberapa sampel mineral dan batuan berdasarkan indikator


sampel. Pengamatan ini dilakukan pada hari Kamis tanggal 29 Oktober 2015
bertempat di Laboratorium IPA 2 FMIPA UNY.
Pada pengamatan kali ini, alat dan bahan yang dibutuhkan antara lain
beberapa jenis batuan indikator yang sudah ditetapkan yang berguna untuk
menentukan batuan yang akan diidentifikasi, beberapa sampel batuan acak, kaca
pembesar (lup) berguna untuk melihat adanya patahan atau tidak, alat penggores (plat
tipis) berguna untuk menggores sampel batuan dan menentukan adanya goresan atau
tidak,

neraca Ohouse digunakan untuk mengetahui massa batuan, gelas ukur

digunakan untuk mengukur volume batuan, benang digunakan untuk mengikat batuan
yang akan diukur volume nya kedalam gelas ukur yang berisi air.
Terdapat 2 bagian pengamatan, yang pertama adalah mengidentifikasi
sampel

batuan secara acak, dan bagian yang

kedua adalah melakukan

pengklasifikasian terhadap batuan indikator (secara teori). Untuk kegiatan pertama

yaitu langkah awal dengan mengambil batuan secara acak kemudian mengidentifikasi
batuan tersebut dengan ciri-ciri fisik yaitu warna, goresan, kilap, kekerasan, dan
patahan. Setelah itu menimbang massa masing-masing sampel batuan, kemudian
mengukur volume masing-masing sampel batuan lalu mengukur massa jenis masingmasing sampel batuan dengan persamaan = m/v. Setelah itu memberi perlakuan
penetesan HCl terhadap masing-masing sampel batuan tersebut dan melihat
perubahan apa yang terjadi kemudian mencatat hasilnya. Untuk kegiatan kedua yaitu
dengan cara mengambil sampel batuan acak yang telah diidentifikasi ciri-ciri fisiknya
tadi kemudian mengklasifikasikan batuan tersebut dengan batuan indicator (secara
teori). Dengan kegiatan menggolongkan tersebut, praktikan dapat mengetahui jenis
batuan sampel yang telah diamatinya. Mineral kadang-kadang ditemukan sebagai
gumpalan yang tidak berbentuk, disebut masif. Tetapi mineral juga dapat tersusun
dalam bentuk yang khusus yang dapat membantu kita untuk mengenalinya (Mart,
2005: 82). Oleh karena itu, melalui pengamatan kali ini, diharapkan mahasiwa tidak
hanya bisa mengobservasi tetapi juga dapat menggolongkannya ke dalam jenis batuan
tertentu.
Berikut hasil identifikasi dari sampel batuan yang diambil secara acak:
A. Kegiatan 1
1.
Sampel Batuan A

Gambar 1. Sampel Batuan Acak A


Sumber : Dokumen Pribadi
Berdasarkan hasil pengamatan terhadap batuan sampel A, pada sampel
batuan A memiliki warna hitam. Ciri yang kedua yaitu goresan. Sampel batu A
dapat tergores dan menghasilkan warna putih. Berdasarkan teori, hal tersebut
menandakan bahwa batu non-metalik dan berwarna pada gelap menghasilkan
goresan berwarna putih. Ciri fisik yang lain yaitu kilap, pada sampel batuan A ini
tidak terdapat kilapan. Menurut literatur yang dimaksud dengan kilap disini adalah
kilap yang ditimbulkan oleh cahaya yang dipantulkan dari permukaan sebuah
mineral, yang erat hubungannya dengan sifat pemantulan (refleksi) dan

pembiasan (refraksi). Intensitas kilap tergantung dari indeks bias dari mineral,
yang apabila makin besar indeks bias mineral, makin besar pula jumlah cahaya
yang dipantulkan. Yang selanjutnya yaitu ciri fisik kekerasan. Untuk sample
batuan A ini tingkat kekerasan disimbolkan dengan (+ + +) karena pada ciri
kekerasan ini praktikan mengidentifikasi dengan cara melepaskan sampel batuan
dari ketinggian tertentu bukan dari alat ukur kekerasan. Kemudian untuk ciri fisik
selanjutnya yaitu patahan. Pada sampel batuan A terdapat patahan ketika
diidentifikasi dengan menggunakan kaca pembesar atau LUP. Dari hasil
identifikas dari sampel batuan A memiliki massa 7.46 gram, volume dari
batuannya adalah 1 mL. Dari hasil yang diperoleh berupa massa batuan dan
volume batuan, praktikan dapat mentukan besarnya massa jenis batuan sebesar
7.46 gr/mL. Massa jenis batuan ini akan menunjukkan jenis batuan sampel
tersebut, sehingga akan mempermudah pengklasifikasian batuan sampel A. Massa
jenis mineral adalah salah satu metode yang dapat digunakan untuk analisa
mineral baik secara fisik maupun secara kimia.
Selanjutnya yaitu ciri-ciri fisik yang diberi perlakuan penetesan HCl.

Gambar 2. Penetesan HCl


Sumber : Dokumen Pribadi
Dari sampel batuan A tidak mengalami reaksi. Hal ini ditandai dengan tidak
adanya gelembung pada saat terjadi reaksi. Akan tetapi pada saat penetesan timbul
sedikit asap. Larutan HCl digunakan untuk menguji mineral karbonat (CO32-).
Sampel A tidak bereaksi dengan HCl hal tersebut menandakan bahwa sampel A
tidak mengandung karbonat.
2. Sampel Batuan B

Gambar 3. Sampel Batuan Acak B


Sumber : Dokumen Pribadi
Pada sampel batuan B memiliki ciri fisik yang pertama adalah warna yaitu
coklat. Ciri yang kedua yaitu goresan. Sampel batu B memiliki goresan ketika
digores dengan plat tipis. Kemudian ciri selanjutnya yaitu kilap, pada sampel
batuan ini terdapat adanya kilapan ketika disinari. Kilap ditimbulkan oleh cahaya
yang dipantulkan dari permukaan sebuah mineral, yang erat hubungannya dengan
sifat pemantulan (refleksi) dan pembiasan (refraksi). Setelah mengidentifikasi
kilapan selanjutnya ciri fisik yang lain yaitu kekerasan. Pada sampel batuan ini
diberi tingkat kekerasan (+ +) yang artinya sampel batuan ini tidak keras atau
kekerasannya kurang, pada identifikasi kali ini hanya dengan cara menjatuhkan
sampel batuan kelantai sehingga kurang akurat untuk menunjukkan tingkat
kekerasan batuan pada sampel ini. Kemudian ciri yang lain adalah ada atau
tidaknya patahan pada sampel ini. Untuk sampel batuan B ini terdapat adanya
patahan ketika dilihat menggunakan LUP.
Dari hasil identifikas dari sampel batuan B memiliki massa 7.96 gram,
volume dari batuannya adalah 2 mL. Dari hasil yang diperoleh berupa massa
batuan dan volume batuan, praktikan dapat mentukan besarnya massa jenis batuan
sebesar 3.98 gr/mL. Massa jenis batuan ini akan menunjukkan jenis batuan sampel
tersebut, sehingga akan mempermudah pengklasifikasian batuan sampel B. Massa
jenis mineral adalah salah satu metode yang dapat digunakan untuk analisa
mineral baik secara fisik maupun secara kimia. Selanjutnya yaitu ciri-ciri fisik
yang diberi perlakuan penetesan HCl.

Gambar 4. Penetesan HCl


Sumber : Dokumen Pribadi
Dari sampel batuan B tidak mengalami reaksi. Hal ini ditandai dengan
tidak adanya gelembung pada saat terjadi reaksi. Larutan HCl digunakan untuk
menguji mineral karbonat. Sampel B tidak bereaksi dengan HCl hal tersebut
menandakan bahwa sampel B tidak mengandung karbonat. Dan dapat dikatakan
sampel batuan B ini bersifat basa.
3. Sampel Batuan C

Gambar 5. Sampel Batuan Acak C


Sumber : Dokumen Pribadi
Pada sampel batuan C memiliki ciri fisik yang pertama adalah warna yaitu
putih. Ciri yang kedua yaitu goresan. Sampel batu C tidak memiliki goresan ketika
digores dengan plat tipis. Kemudian ciri selanjutnya yaitu kilap, pada sampel
batuan ini terdapat adanya kilapan ketika disinari. Kilap ditimbulkan oleh cahaya
yang dipantulkan dari permukaan sebuah mineral, yang erat hubungannya dengan
sifat pemantulan (refleksi) dan pembiasan (refraksi). Setelah mengidentifikasi
kilapan selanjutnya ciri fisik yang lain yaitu kekerasan. Pada sampel batuan ini
diberi tingkat kekerasan (+ + + +) yang artinya sampel batuan ini sangat keras,
pada identifikasi kali ini hanya dengan cara menjatuhkan sampel batuan kelantai

sehingga kurang akurat untuk menunjukkan tingkat kekerasan batuan pada sampel
ini. Kemudian ciri yang lain adalah ada atau tidaknya patahan pada sampel ini.
Untuk sampel batuan C ini tidak terdapat patahan ketika dilihat menggunakan
LUP.
Dari hasil identifikasi dari sampel batuan C memiliki massa 11.10 gram,
volume dari batuannya adalah 3 mL. Dari hasil yang diperoleh berupa massa
batuan dan volume batuan, praktikan dapat mentukan besarnya massa jenis batuan
sebesar 3.70 gr/mL. Massa jenis batuan ini akan menunjukkan jenis batuan sampel
tersebut, sehingga akan mempermudah pengklasifikasian batuan sampel C. Massa
jenis mineral adalah salah satu metode yang dapat digunakan untuk analisa
mineral baik secara fisik maupun secara kimia. Selanjutnya yaitu ciri-ciri fisik
yang diberi perlakuan penetesan HCl.

Gambar 6. Penetesan HCl


Sumber : Dokumen Pribadi
Sampel batuan C mengalami reaksi. Reaksi ditunjukkan dengan
pembentukan

gelembung

pada

permukaan

batuan.

Gelembung

tersebut

menunjukkan adanya mineral karbonat seperti pada kalsit (kapur) atau dolomite.
Adanya reaksi dengan HCl menandakan bahwa sampel batuan C bersifat asam.
4. Sampel Batuan D

Gambar 7. Sampel Batuan Acak D

Sumber : Dokumen Pribadi


Pada sampel batuan D memiliki ciri fisik yang pertama adalah warna yaitu
abu-abu. Ciri yang kedua yaitu goresan. Sampel batu D memiliki goresan ketika
digores dengan plat tipis. Kemudian ciri selanjutnya yaitu kilap, pada sampel
batuan ini tidak terdapat kilapan ketika disinari. Kilap ditimbulkan oleh cahaya
yang dipantulkan dari permukaan sebuah mineral, yang erat hubungannya dengan
sifat pemantulan (refleksi) dan pembiasan (refraksi). Setelah mengidentifikasi
kilapan selanjutnya ciri fisik yang lain yaitu kekerasan. Pada sampel batuan ini
diberi tingkat kekerasan (+ + +) sama seperti sampel batuan A yang artinya sampel
batuan ini tingkat kekerasannya sedang, pada identifikasi kali ini hanya dengan
cara menjatuhkan sampel batuan kelantai sehingga kurang akurat untuk
menunjukkan tingkat kekerasan batuan pada sampel ini. Kemudian ciri yang lain
adalah ada atau tidaknya patahan pada sampel ini. Untuk sampel batuan D ini tidak
terdapat patahan ketika dilihat menggunakan LUP.
Dari hasil identifikasi dari sampel batuan D memiliki massa 5.43 gram,
volume dari batuannya adalah 1 mL. Dari hasil yang diperoleh berupa massa
batuan dan volume batuan, praktikan dapat mentukan besarnya massa jenis batuan
sebesar 5.43 gr/mL. Massa jenis batuan ini akan menunjukkan jenis batuan sampel
tersebut, sehingga akan mempermudah pengklasifikasian batuan sampel D. Massa
jenis mineral adalah salah satu metode yang dapat digunakan untuk analisa
mineral baik secara fisik maupun secara kimia. Selanjutnya yaitu ciri-ciri fisik
yang diberi perlakuan penetesan HCl.

Gambar 8. Penetesan HCl


Sumber : Dokumen Pribadi
Dari sampel batuan D tidak mengalami reaksi. Hal ini ditandai dengan
tidak adanya gelembung pada saat terjadi reaksi. Larutan HCl digunakan untuk
menguji mineral karbonat. Sampel D tidak bereaksi dengan HCl hal tersebut

menandakan bahwa sampel D tidak mengandung karbonat. Dan dapat dikatakan


sampel batuan D ini bersifat basa.
B. Kegiatan 2
Pada kegiatan ini batuan yan diambil secara acak dibandingkan dengan
sampel batuan indikator yang sudah diketahui nama batuannya.
1. Sampel batuan A

Gambar 9. Batuan indicator


Sumber : Dokumen Pribadi
Sampel batuan A memiliki warna hitam. Berdasarkan batuan indikator,
sampel batuan A termasuk jenis batuan beku lebih tepatnya yaitu batu BasaLava
yang ditemukan didaerah Cimande, Jawa Barat. Batuan beku adalah batuan yang
berasal dari cairan magma yang membeku akibat mengalami pendinginan.
Menurut ilmu petrologi semua bahan beku terbentuk dari magma karena
membekunya lelehan silikat yang cair dan pijar. Magma yang cair dan pijar itu
berada didalam bumi dan oleh kekuatan gas yang larut di dalamnya naik ke atas
mencari tempat-tempat yang lemah dalam kerak bumi seperti daerah
patahan/rekahan. Magma akan keluar mencapai permukaan bumi melalui pipa
gunung api dan disebut lava, akan tetapi ada pula magma yang membeku jauh di
dalm bumi dan dikenal dengan nama batuan beku dalam. Berdasarkan literature,
batuan Basa Lava adalah tebentuk dari magma basaltik mengandung Fe dan Mg
tinggi.
2. Sampel Batuan B

Gambar 10. Batuan Indikator


Sumber : Dokumen Pribadi
Sampel batuan B memiliki warna coklat. Berdasarkan batuan indikator,
sampel batuan B termasuk jenis mineral yaitu batu orcer yang ditemukan didaerah
Ciater, Jawa Barat. Batuan ini termasuk mineral. Menurut literatur Mineral adalah
zat non-organik padat yang terbentuk secara alamiah, terdiri atas unsur atau
senyawa unsur-unsur yang mempunyai susunan kimia tertentu dan struktur internal
kristal beraturan.
3. Sampel Batuan C

Gambar 11. Batuan Indikator


Sumber : Dokumen Pribadi
Sampel batuan C memiliki warna putih. Berdasarkan indicator sampel
batuan C termasuk jenis mineral barit. Barit merupakan salah satu komponen
lumpur pemboran (drilling fluids) sangat penting. Batu ini ditemukan didaerah
Karang Bolong, Jawa Tengah.
4. Sampel Batuan D

Gambar 12. Batuan Indikator


Sumber : Dokumen Pribadi

Sampel batuan D memiliki warna abu-abu. Berdasarkan batuan indicator,


sampel batuan D termasuk batu pasir. Menurut literatur batu pasir adalah batuan
endapan yang terutama terdiri dari mineral berukuran pasir atau butiran batuan.
Sebagian besar batu pasir terbentuk oleh kuarsa atau feldspar karena mineralmineral tersebut paling banyak terdapat di kulit bumi. Seperti halnya pasir, batu
pasir dapat memiliki berbagai jenis warna, dengan warna umum adalah coklat
muda, coklat, kuning, merah, abu-abu dan putih. Karena lapisan batu pasir sering
kali membentuk karang atau bentukan topografis tinggi lainnya, warna tertentu
batu pasir dapat dapat diidentikkan dengan daerah tertentu. Batu pasir tahan
terhadap cuaca tapi mudah untuk dibentuk. Hal ini membuat jenis batuan ini
merupakan bahan umum untuk bangunan dan jalan. Karena kekerasan dan
kesamaan ukuran butirannya, batu pasir menjadi bahan yang sangat baik untuk
dibuat menjadi batu asah (grindstone) yang digunakan untuk menajamkan pisau
dan berbagai kegunaan lainnya. Bentukan batuan yang terutama tersusun dari batu
pasir biasanya mengizinkan perkolasi air dan memiliki pori untuk menyimpan air
dalam jumlah besar sehingga menjadikannya sebagai akuifer yang baik.
Dari praktikum yang telah dilakukan, ada kesesuaian dengan hipotesis
yaitu jenis batuan dapat diidentifikasi dengan melihat ciri-ciri fisik yaitu goresan,
kilap, kekerasan, dan patahan.

I. KESIMPULAN
Berdasar hasil pengamatan yang dilakukan dapat disimpulkan sebagai
berikut:
1. Mengidentifikasi ciri-ciri beberapa sampel mineral dan batuan
SamNo.

Ciri-ciri fisik

pel
batu- Warna

Goresan

Kilap

Keke-

Pata-

rasan

han

Mas-

Vol-

Massa-

Reak-si

jenis

de-ngan

sa (g) (ml)

HCl

an
1.

Hitam

Ada

Tidak
ada

7.46
+++

Ada

7.46

asap
3.98

2.

Coklat

Ada

Ada

++

Ada

7.96

Keluar

Tidak ada
perubahan

3.

4.

Putih
Abuabu

Tidak
ada
Ada

Ada

Ada

++

Tidak

+ +

ada

+++

Tidak
ada

11.10

5.43

3.70

Ada

5.43

gelembung
Tidak ada

perubahan

2. Mengidentifikasi beberapa sampel mineral dan batuan berdasarkan indikator sampel


a. Sampel Batuan A termasuk dalam jenis batuan indikator batuan beku lebih
tepatnya yaitu batu BasaLava yang ditemukan didaerah Cimande, Jawa Barat.
b. Sampel Batuan B termasuk jenis mineral yaitu batu orcer yang ditemukan
didaerah Ciater, Jawa Barat.
c. Sampel Batuan C termasuk jenis mineral yaitu Barit yang ditemukan didaerah
Karang Bolong, Jawa Tengah.
d. Sampel Batuan D termasuk jenis batuan sedimen yaitu batu pasir.

J. DAFTAR PUSTAKA
Danisworo, dkk.1994.Penuntun Praktikum Kristalografi dan Mineralogi.Yogyakarta :
UPN.
Isbandi, Djoko. 2000. Mineralogi. Yogyakarta: Nur Cahaya.
Sapiie, B., N. A. Magetsari, A. H. Harsolumakso, C. I. Abdullah. 2006. Geologi Fisik.
Bandung : ITB.
Siegesmund, Siegfriend. 2011. Stone in Architecture. Gerany: Springer.
Warsito, Kusumoyudo.1986.Mineralogi Dasar.Bandung : Bina Cipta

K. JAWABAN PERTANYAAN
1. Analisislah hasil pengukuran perhitungan massa jenis batuan!
Jawab :
Sampel Batuan A
Diketahui :
m = 7.46 gram ;
v = 1 ml

Sampel Batuan B
Diketahui :
m = 7.96 gram ;
v = 2 ml

= 7.46 gr/1ml
= 7.46 gram/ml

= 7.96 gr/2ml
= 3.98 gram/ml

Sampel Batuan C
Diketahui :
m = 11.10 gram ;
v = 3 ml

Sampel Batuan D
Diketahui :
m = 5.43 gram ;
v = 1 ml

=11.10gr/3ml
= 3.70 gram/ml

=5.43 gr/1ml
= 5.43 gram/ml

2. Berilah pembahasan hasil pengamatan!


Jawab :
A. Kegiatan 1
1. Sampel Batuan A
Memiliki warna warna hitam. Ciri yang kedua yaitu goresan. Sampel batu
A dapat tergores dan menghasilkan warna putih. Berdasarkan teori, hal
tersebut menandakan bahwa batu non-metalik dan berwarna pada gelap
menghasilkan goresan berwarna putih. Ciri fisik yang lain yaitu kilap, pada
sampel batuan A ini tidak terdapat kilapan. Menurut literatur yang dimaksud
dengan kilap disini adalah kilap yang ditimbulkan oleh cahaya yang
dipantulkan dari permukaan sebuah mineral, yang erat hubungannya dengan
sifat pemantulan (refleksi) dan

pembiasan (refraksi). Intensitas kilap

tergantung dari indeks bias dari mineral, yang apabila makin besar indeks bias
mineral, makin besar pula jumlah cahaya yang dipantulkan. Yang selanjutnya
yaitu ciri fisik kekerasan. Untuk sample batuan A ini tingkat kekerasan
disimbolkan dengan (+ + +) karena pada ciri kekerasan ini praktikan
mengidentifikasi dengan cara melepaskan sampel batuan dari ketinggian
tertentu bukan dari alat ukur kekerasan. Kemudian untuk ciri fisik selanjutnya
yaitu patahan. Pada sampel batuan A terdapat patahan ketika diidentifikasi
dengan menggunakan kaca pembesar atau LUP. Dari hasil identifikas dari
sampel batuan A memiliki massa 7.46 gram, volume dari batuannya adalah 1

mL. Dari hasil yang diperoleh berupa massa batuan dan volume batuan,
praktikan dapat mentukan besarnya massa jenis batuan sebesar 7.46 gr/mL.
Dari sampel batuan A tidak mengalami reaksi pada saat penetesan HCl.
Hal ini ditandai dengan tidak adanya gelembung pada saat terjadi reaksi. Akan
tetapi pada saat penetesan timbul sedikit asap. Larutan HCl digunakan untuk
menguji mineral karbonat (CO32-). Sampel A tidak bereaksi dengan HCl hal
tersebut menandakan bahwa sampel A tidak mengandung karbonat.
2. Sampel Batuan B
Pada sampel batuan B memiliki ciri fisik yang pertama adalah warna yaitu
coklat. Ciri yang kedua yaitu goresan. Sampel batu B memiliki goresan ketika
digores dengan plat tipis. Kemudian ciri selanjutnya yaitu kilap, pada sampel
batuan ini terdapat adanya kilapan ketika disinari. Kilap ditimbulkan oleh
cahaya yang dipantulkan dari permukaan

sebuah mineral, yang erat

hubungannya dengan sifat pemantulan (refleksi) dan pembiasan (refraksi).


Setelah mengidentifikasi kilapan selanjutnya ciri fisik yang lain yaitu
kekerasan. Pada sampel batuan ini diberi tingkat kekerasan (+ +) yang artinya
sampel batuan ini tidak keras atau kekerasannya kurang, pada identifikasi kali
ini hanya dengan cara menjatuhkan sampel batuan kelantai sehingga kurang
akurat untuk menunjukkan tingkat kekerasan batuan pada sampel ini.
Kemudian ciri yang lain adalah ada atau tidaknya patahan pada sampel ini.
Untuk sampel batuan B ini terdapat adanya patahan ketika dilihat
menggunakan LUP.
Dari hasil identifikas dari sampel batuan B memiliki massa 7.96 gram,
volume dari batuannya adalah 2 mL. Dari hasil yang diperoleh berupa massa
batuan dan volume batuan, praktikan dapat mentukan besarnya massa jenis
batuan sebesar 3.98 gr/mL. Massa jenis batuan ini akan menunjukkan jenis
batuan sampel tersebut, sehingga akan mempermudah pengklasifikasian
batuan sampel B. Dari sampel batuan B tidak mengalami reaksi. Hal ini
ditandai dengan tidak adanya gelembung pada saat terjadi reaksi. Larutan HCl
digunakan untuk menguji mineral karbonat. Sampel B tidak bereaksi dengan
HCl hal tersebut menandakan bahwa sampel B tidak mengandung karbonat.
Dan dapat dikatakan sampel batuan B ini bersifat basa.

3. Sampel Batuan C
Pada sampel batuan C memiliki ciri fisik yang pertama adalah warna yaitu
putih. Ciri yang kedua yaitu goresan. Sampel batu C tidak memiliki goresan
ketika digores dengan plat tipis. Kemudian ciri selanjutnya yaitu kilap, pada
sampel batuan ini terdapat adanya kilapan ketika disinari. Kilap ditimbulkan
oleh cahaya yang dipantulkan dari permukaan

sebuah mineral, yang erat

hubungannya dengan sifat pemantulan (refleksi) dan pembiasan (refraksi).


Setelah mengidentifikasi kilapan selanjutnya ciri fisik yang lain yaitu
kekerasan. Pada sampel batuan ini diberi tingkat kekerasan (+ + + +) yang
artinya sampel batuan ini sangat keras, pada identifikasi kali ini hanya dengan
cara menjatuhkan sampel batuan kelantai sehingga kurang akurat untuk
menunjukkan tingkat kekerasan batuan pada sampel ini. Kemudian ciri yang
lain adalah ada atau tidaknya patahan pada sampel ini. Untuk sampel batuan C
ini tidak terdapat patahan ketika dilihat menggunakan LUP.
Sampel batuan C mengalami reaksi. Reaksi ditunjukkan dengan
pembentukan gelembung pada permukaan batuan. Gelembung tersebut
menunjukkan adanya mineral karbonat seperti pada kalsit (kapur) atau
dolomite. Adanya reaksi dengan HCl menandakan bahwa sampel batuan C
bersifat asam.
4. Sampel Batuan D
Pada sampel batuan D memiliki ciri fisik yang pertama adalah warna yaitu
abu-abu. Ciri yang kedua yaitu goresan. Sampel batu D memiliki goresan
ketika digores dengan plat tipis. Kemudian ciri selanjutnya yaitu kilap, pada
sampel batuan ini tidak terdapat kilapan ketika disinari. Kilap ditimbulkan oleh
cahaya yang dipantulkan dari permukaan

sebuah mineral, yang erat

hubungannya dengan sifat pemantulan (refleksi) dan pembiasan (refraksi).


Setelah mengidentifikasi kilapan selanjutnya ciri fisik yang lain yaitu
kekerasan. Pada sampel batuan ini diberi tingkat kekerasan (+ + +) sama
seperti sampel batuan A yang artinya sampel batuan ini tingkat kekerasannya
sedang, pada identifikasi kali ini hanya dengan cara menjatuhkan sampel
batuan kelantai sehingga kurang akurat untuk menunjukkan tingkat kekerasan
batuan pada sampel ini. Kemudian ciri yang lain adalah ada atau tidaknya

patahan pada sampel ini. Untuk sampel batuan D ini tidak terdapat patahan
ketika dilihat menggunakan LUP.
Dari hasil identifikasi dari sampel batuan D memiliki massa 5.43 gram,
volume dari batuannya adalah 1 mL. Dari hasil yang diperoleh berupa massa
batuan dan volume batuan, praktikan dapat mentukan besarnya massa jenis
batuan sebesar 5.43 gr/mL. Massa jenis batuan ini akan menunjukkan jenis
batuan sampel tersebut, sehingga akan mempermudah pengklasifikasian
batuan sampel D.
Dari sampel batuan D tidak mengalami reaksi. Hal ini ditandai dengan
tidak adanya gelembung pada saat terjadi reaksi. Larutan HCl digunakan untuk
menguji mineral karbonat. Sampel D tidak bereaksi dengan HCl hal tersebut
menandakan bahwa sampel D tidak mengandung karbonat. Dan dapat
dikatakan sampel batuan D ini bersifat basa.
B. Kegiatan 2
1. Sampel Batuan A
Sampel batuan A memiliki warna hitam. Berdasarkan batuan indikator,
sampel batuan A termasuk jenis batuan beku lebih tepatnya yaitu batu BasaLava
yang ditemukan didaerah Cimande, Jawa Barat. Batuan beku adalah batuan yang
berasal dari cairan magma yang membeku akibat mengalami pendinginan.
Menurut ilmu petrologi semua bahan beku terbentuk dari magma karena
membekunya lelehan silikat yang cair dan pijar. Magma yang cair dan pijar itu
berada didalam bumi dan oleh kekuatan gas yang larut di dalamnya naik ke atas
mencari tempat-tempat yang lemah dalam kerak bumi seperti daerah
patahan/rekahan. Magma akan keluar mencapai permukaan bumi melalui pipa
gunung api dan disebut lava, akan tetapi ada pula magma yang membeku jauh di
dalm bumi dan dikenal dengan nama batuan beku dalam. Berdasarkan literature,
batuan Basa Lava adalah tebentuk dari magma basaltik mengandung Fe dan Mg
tinggi.
2. Sampel Batuan B
Sampel batuan B memiliki warna coklat. Berdasarkan batuan indikator,
sampel batuan B termasuk jenis mineral yaitu batu orcer yang ditemukan
didaerah Ciater, Jawa Barat. Batuan ini termasuk mineral. Menurut literatur

Mineral adalah zat non-organik padat yang terbentuk secara alamiah, terdiri
atas unsur atau senyawa unsur-unsur yang mempunyai susunan kimia tertentu
dan struktur internal kristal beraturan.
3. Sampel Batuan C
Sampel batuan C memiliki warna putih. Berdasarkan indicator sampel
batuan C termasuk jenis mineral barit. Barit merupakan salah satu komponen
lumpur pemboran (drilling fluids) sangat penting. Batu ini ditemukan didaerah
Karang Bolong, Jawa Tengah.
4. Sampel Batuan D
Sampel batuan D memiliki warna abu-abu. Berdasarkan batuan indicator,
sampel batuan D termasuk batu pasir. Menurut literatur batu pasir adalah
batuan endapan yang terutama terdiri dari mineral berukuran pasir atau butiran
batuan. Sebagian besar batu pasir terbentuk oleh kuarsa atau feldspar karena
mineral-mineral tersebut paling banyak terdapat di kulit bumi. Seperti halnya
pasir, batu pasir dapat memiliki berbagai jenis warna, dengan warna umum
adalah coklat muda, coklat, kuning, merah, abu-abu dan putih.

L. LAMPIRAN

Gambar 1. Pipet Tetes


Sumber : Dokumen Pribadi

Gambar 2. Gelas Ukur


Sumber : Dokumen Pribadi

Gambar 3. Plat Tipis


Sumber : Dokumen Pribadi

Gambar 4. Tali
Sumber : Dokumen Pribadi

Gambar 5. LUP
Sumber : Dokumen Pribadi

Gambar 6. Sampel Batuan A


Sumber : Dokumen Pribadi

Gambar 7. Sampel Batuan B

Gambar 8. Sampel Batuan C

Sumber : Dokumen Pribadi

Sumber : Dokumen Pribadi

Gambar 9. Sampel Batuan D


Sumber : Dokumen Pribadi

Gambar 10. Penetesan HCl sampel A


Sumber : Dokumen Pribadi

Gambar 11. Penetesan HCl sampel B


Sumber : Dokumen Pribadi

Gambar 12. Penetesan HCl sampel C


Sumber : Dokumen Pribadi

Gambar 13. Penetesan HCl sampel D


Sumber : Dokumen Pribadi

Gambar 14. Batuan Indikator


Sumber : Dokumen Pribadi

Gambar 15. Batuan Indikator


Sumber : Dokumen Pribadi

Gambar 16. Batuan Indikator


Sumber : Dokumen Pribadi