Anda di halaman 1dari 3

Sarcoidosis

Sarkoidosis adalah penyakit granulomatosa multisistem yang tidak


diketahui etiologi pastinya, dengan manifestasi sistemik dan okular yang
bervariasi. Meskipun manifestasi intratorakal adalah yang paling umum (90%),
organ lain yang juga terkena yaitu nodus limfe, kulit, mata, SSP, tulang dan
sendi, hepar, dan jantung. Keterlibatan mata biasanya timbul dalam bentuk
uveitis.
Sarkoidosis dapat mengenai jaringan mata manapun, termasuk orbita dan
adneksa. Keterlibatan kulit berupa granuloma pada kelompak mata juga sering
timbul. Dapat juga ditemukan nodul pada palpebra dan konyungtiva bulbar.
Infiltrasi pada kelenjar lakrimal dapat menimbulkan keratokonyungtivitis sicca.
Secara biomikroskopis dapat ditemukan mutton-fat keratic precipitates,
nodul Koeppe & Busacca pada iris, dan gumpalan sel-sel putih pada viterous
anterior inferior (snowballs). Pada kornea, dapat terbentuk infiltrat numular dan
pengeruhan endotel. Granuloma iris yang besar, bersama dengan sinekia
posterior yang ekstensif dapat menyebabkan iris bombe dan glaukoma sudut
tertutup. Glaukoma sekunder ini dapat menjadi penanda prognosis yang buruk
dan berhubungan dengan kehilangan visus yang parah.
Infiltrasi vitreous sering terjadi, bisa dalam bentuk difus, atau dalam
bentuk yang lebih klasik sebagai gumpalan sel putih kekuningan, atau tersusun
sebagai string of pearls. Granuloma nodular berukuran hingga 1 diameter
optic disk dapat ditemukan pada nervus optikus. Lapisan perivaskular juga sering
terjadi, biasanya muncul sebagai periflebitis linear atau segmental. Oklusi
pembuluh darah retina, terutama cabang vena retina sentral, bersama dengan
gangguan perfusi kapiler retina perifer, dapat menyebabkan neovaskularisasi
retina dan perdarahan vitreous.
Toksoplasmosis
Toksoplasmosis adalah penyebab paling sering dari retinokoroiditis
infeksius pada dewasa maupun anak-anak. Penyakit ini disebabkan oleh parasit
Toxoplasma gondii. Kucing adalah host definitifnya, sedangkan manusia dan
beberapa hewan lain sebagai host intermediet. T gondii memiliki siklus hidup
yang kompleks dan memiliki 3 bentuk utama :

Ookista (di tanah)


Takizoit (bentuk infeksius)
Kista jaringan (bentuk laten)

Transmisi T gondii ke manusia dapat melalui ketiga bentuk tersebut


melalui berbagai vektor. Ookista banyak berada di feses kucing dan
mengontaminasi lingkungan. Beberapa model transmisi ke manusia yaitu :

konsumsi daging yang kurang matang yang mengandung kista T gondii,


air, buah, dan sayuran yang terkontaminasi, susu yang tidak
dipasteurisasi.

kontak dengan feses kucing, atau dengan tanah yang mengandung


ookista
transplasenta
terpapar dengan takizoit melalui luka
transfusi darah dan transplantasi organ

Transmisi transplasenta paling banyak pada trimester ketiga. Infeksi pada


kehamilan awal sering berakibat abortus spontan, lahir mati, sedangkan infeksi
pada akhir kehamilan dapat mengakibatkan infeksi laten pada bayi yang tampak
normal dan asimptomatis. Presentasi yang umum dari toksoplasmosis kongenital
yaitu retinokoroiditis, hidrosefalus, dan kalsifikasi intrakranial. Retinokoroiditis
muncul pada lebih dari 80% kasus, biasanya bilateral, dengan predileksi pada
kutub posterior dan makula. Pada anak dengan infeksi yang ringan, keterlibatan
segmen posterior bisa subklinis dan kronik, kemudian 85% anak akan mengalami
korioretinitis pada rata-rata usia 3,7 tahun, dengan 25% di antaranya menjadi
buta pada satu atau kedua mata.
Sindrom Vogt-Koyanagi-Harada
Sindrom Vogt-Koyanagi-Harada adalah suatu penyakit multisistem yang
diakibatkan oleh autoimun dengan karakteristik panuveitis granulomatosa
kronik, bilateral, dan difus, dengan disertai keterlibatan kulit, neurologis, dan
auditori. Etologi dan patogenesis yang pasti dari sindrom VKH belum diketahui,
namun bukti klinis dan eksperimental terkini mengemukakan bahwa proses cellmediated oleh limfosit T secara langsung merusak self-antigen yang
berhubungan dengan melanosit dari seluruh sistem organ. Sel T-helper 1,
interleukin 2 dan 6, serta interferon gamma, memiliki peran yang besar dalam
proses ini. Sensitisasi pada antigen melanositik dengan cedera kutaneus atau
infeksi viral telah diidentifikasi sebagai faktor yang mungkin memicu proses
autoimun ini.
Terdapat 4 stadium sindrom VKH, yaitu prodromal, uveitis akut,
konvalesen, dan kronik rekuren. Stadium prodromal ditandai dengan flu-like
symptoms. Pada stadium uveitis akut, terdapat inflamasi granulomatosa yang
difus dan non-necrotizing, hiperemis dan edem nervus optikus, serta retinal
detachment. Secara mikroskopis dapat ditemukan limfosit, makrofag, dan
multinucleated giant cells. Eksudat cair yang mengandung protein ditemukan
pada celah subretina di antara lapisan neurosensori retina yang terlepas dan
RPE. Meskipun koroid merupakan tempat yang dominan dari inflamasi
granulomatosa tersebut, korpus siliar dan iris juga dapat terkena.
Stadium konvalesen muncul beberapa minggu kemudian dan ditandai
dengan resolusi dari retinal detachment eksudatif dan depigmentasi koroid
secara bertahap, menimbulkan warna diskolorasi orange-red (sunset glow
fundus). Tahap ini memiliki karakteristik inflamasi nongranulomatosa dengan
infiltrasi limfosit dan sel plasma pada uvea. Stadium kronik rekuren ditandai
dengan berulangnya uveitis anterior granulomatosa, dengan pembentukan
keratic presipitates, sinekia posterior, nodul iris, dan depigmentasi iris, serta
koroiditis granulomatosa dengan kerusakan koriokapilaris.

Sifilis
Sifilis merupakan infeksi bakteri kronik dan multisistem yang disebabkan
oleh Treponema pallidum dan berhubungan dengan berbagai manifestasi okular.
Meskipun transmisi terjadi paling sering pada hubungan seksual, namun infeksi
transplasenta juga dapat terjadi setelah minggu ke-10 kehamilan. Keterlambatan
diagnosis uveitis sifilis