Anda di halaman 1dari 9

MATERI PENYULUHAN GIZI SEIMBANG BAGI BALITA

A. KARAKTERISTIK BALITA
Anak balita adalah anak yang telah menginjak usia di atas satu tahun atau lebih
popular dengan pengertian usia anak di bawah lima tahun (Muaris.H, 2006). Saat usia
balita, anak masih tergantung penuh kepada orang tua untuk melakukan kegiatan penting,
seperti mandi, buang air dan makan. Perkembangan berbicara dan berjalan sudah
bertambah baik. Namun kemampuan lain masih terbatas.
Masa balita merupakan periode penting dalam proses tumbuh kembang manusia.
Perkembangan dan pertumbuhan di masa itu menjadi penentu keberhasilan pertumbuhan
dan perkembangan anak di periode selanjutnya. Masa tumbuh kembang di usia ini
merupakan masa yang berlangsung cepat dan tidak akan pernah terulang, karena itu sering
disebut golden age atau masa keemasan.
Anak usia 1-3 tahun merupakan konsumen pasif, artinya anak menerima makanan
dari apa yang disediakan ibunya. Dengan kondisi demikian, sebaiknya anak balita
diperkenalkan dengan berbagai bahan makanan. Laju pertumbuhan masa batita lebih besar
dari masa usia prasekolah sehingga diperlukan jumlah makanan yang relatif lebih besar.
Namun, perut yang masih lebih kecil menyebabkan jumlah makanan yang mampu
diterimanya dalam sekali makan lebih kecil daripada anak yang usianya lebih besar. Oleh
karena itu, pola makan yang diberikan adalah porsi kecil dengan frekuensi sering.
Pada usia pra sekolah anak menjadi konsumen aktif. Mereka sudah dapat memilih
makanan yang disukainya. Pada usia ini anak mulai bergaul dengan lingkungannya atau
bersekolah playgroup sehingga anak mengalami beberapa perubahan dalam perilaku. Pada
masa ini anak akan mencapai fase gemar memprotes sehingga mereka akan mengatakan
mengalami penurunan, akibat dari aktivitas yang mulai banyak dan pemilihan maupun
penolakan terhadap makanan.

B. KARAKTERISTIK GIZI SEIMBANG

Gambar 1.1 Tumpeng Gizi Seimbang (TGS)


Gizi seimbang adalah keseimbangan antara zat-zat penting yang terkandung di
dalam makanan maupun minuman yang dikonsumsi oleh seseorang dalam kehidupan
sehari-hari. Setiap orang harus makan makanan dan minum minuman yang mengandung
tiga zat gizi utama yang cukup jumlahnya, baik zat tenaga, zat pembangun maupun zat
pengatur. Tidak seimbang ataupun kurang asupan gizi akan dapat mempengaruhi tubuh
seseorang.
Gizi seimbang adalah susunan makanan sehari-hari yang mengandung zat-zat gizi
dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh, dengan memperhatikan
prinsip keanekaragaman atau variasi makanan, aktivitas fisik, kebersihan, dan berat badan
ideal. Gizi seimbang di Indonesia divisualisasikan dalam bentuk tumpeng gizi seimbang
(TGS) yang sesuai dengan budaya Indonesia. TGS dirancang untuk membantu setiap
orang memilih makanan dengan jenis dan jumlah yang tepat sesuai dengan berbagai
kebutuhan menurut usia (bayi, balita, remaja, dewasa dan usia lanjut), dan sesuai keadaan
kesehatan (hamil, menyusui, aktivitas fisik, sakit).
TGS terdiri dari beberapa potongan tumpeng, yaitu:

1 potongan besar, golongan makanan karbohidrat,

2 potongan sedang dan 2 potongan kecil yang merupakan golongan sayuran dan
buah,

2 potongan kecildi atasnya yang merupakan golongan protein hewani dannabati, dan

1 potongan terkecil di puncak yaitu gula, garam, dan minyak yang dikonsumsi
seperlunya.

Potongan TGS juga dilapisi dengan air putih yang idealnya dikonsumsi 2 liter atau 8
gelas sehari.

Luasnya potongan TGS ini menunjukkan porsi konsumsi setiap orang perhari.
Karbohidrat dikonsumsi 3-8 porsi, sayuran 3-5 porsi sedikit lebih besar dari buah,
buah 2-3 porsi, serta protein hewani dan nabati 2-3 porsi.

Konsumsi ini dibagi untuk makan pagi, siang, dan malam. Kombinasi makanan per
harinya perlu dilakukan.

Dibagian bawah TGS terdapat prinsip gizi seimbang yang lain, yaitu: pola hidup
aktif dengan berolahraga, menjaga kebersihan dan pantau berat badan

C. PERAN MAKANAN BAGI BALITA


Makanan sebagai sumber zat gizi. Didalam makanan terdapat enam jenis zat gizi,
yaitu karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral, dan air. Zat gizi ini diperlukan bagi
balita sebagai zat tenaga, zat pembangun , dan zat pengatur.
1.

Zat tenaga
Zat gizi yang menghasilkan tenaga atau energi adalah karbohidrat , lemak, dan protein.
Bagi balita, tenaga diperlukan untuk melakukan aktivitasnya serta pertumbuhan dan
perkembangannya. Oleh karena itu, kebutuhan zat gizi sumber tenaga balita relatif lebih
besar daripada orang dewasa.

2.

Zat Pembangun
Protein sebagai zat pembangun bukan hanya untuk pertumbuhan fisik dan
perkembangan organ-organ tubuh balita, tetapi juga menggantikan jaringan yang rusak.

3.

Zat pengatur
Zat pengatur berfungsi agar faal organ-organ dan jaringan tubuh termasuk otak dapat
berjalan seperti yang diharapkan. Berikut ini zat yang berperan sebagai zat pengatur.
a)

Vitamin, baik yang larut air ( vitamin B kompleks dan vitamin C ) maupun yang
larut dalam lemak ( vitamin A, D, E, dan K ).

b)

Berbagai mineral, seperti kalsium, zat besi, iodium, dan flour.

c)

Air, sebagai alat pengatur vital kehidupan sel-sel tubuh.

D. KLASIFIKASI STATUS GIZI BALITA


Dalam menentukan status gizi balita harus ada ukuran baku yang sering disebut reference.
Pengukuran baku antropomentri yang sekarang digunakan di Indonesia adalah WHONCHS. Menurut Harvard dalam Supariasa 2002, klasifikasi status gizi dapat dibedakan
menjadi empat yaitu:
1. Gizi lebih (Over weight)
Gizi lebih terjadi bila tubuh memperoleh zat-zat gizi dalam jumlah berlebihan sehingga
menimbulkan efek toksis atau membahayakan (Almatsier, 2005). Kelebihan berat
badan pada balita terjadi karena ketidakmampuan antara energi yang masuk dengan
keluar, terlalu banyak makan, terlalu sedikit olahraga atau keduanya. Kelebihan berat
badan anak tidak boleh diturunkan, karena penyusutan berat akan sekaligus
menghilangkan zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan (Arisman, 2007).

2. Gizi baik (well nourished)


Status gizi baik atau status gizi optimal terjadi bila tubuh memperoleh cukup zat-zat
gizi yang digunakan secara efisien sehingga memungkinkan pertumbuhan fisik,
perkembangan otak, kemampuan kerja dan kesehatan secara umum pada tingkat
setinggi mungkin (Almatsier, 2005).
3. Gizi kurang (under weight)
Status gizi kurang terjadi bila tubuh mengalami kekurangan satu atau lebih zat-zat
esensial (Almatsier, 2005).
4. Gizi buruk (severe PCM)
Gizi buruk adalah suatu kondisi di mana seseorang dinyatakan kekurangan nutrisi, atau
dengan ungkapan lain status nutrisinya berada di bawah standar rata-rata. Nutrisi yang
dimaksud bisa berupa protein, karbohidrat dan kalori. Di Indonesia, kasus KEP (Kurng
Energi Protein) adalah salah satu masalah gizi utama yang banyak dijumpai pada balita
(Lusa, 2009).
Menurut Depkes RI (2005) Paremeter BB/TB berdasarkan Z-Score diklasifikasikan menjadi :
a. Gizi Buruk (Sangat Kurus) : <-3 SD
b. Gizi Kurang (Kurus) : -3SD sampai <-2SD
c. Gizi Baik (Normal) : -2 SD sampai +2SD
d. Gizi Lebih (Gemuk) : > +2 SD

E. KEBUTUHAN GIZI BALITA


Kebutuhan gizi seseorang adalah jumlah yang diperkirakan cukup untuk memelihara
kesehatan pada umumnya. Secara garis besar, kebutuhan gizi ditentukan oleh usia, jenis
kelamin, aktivitas, berat badan, dan tinggi badan. Antara asupan zat gizi dan
pengeluarannya harus ada keseimbangan sehingga diperoleh status gizi yang baik. Status
gizi balita dapat dipantau dengan menimbang anak setiap bulan dan dicocokkan dengan
Kartu Menuju Sehat (KMS).
1. Kebutuhan Energi
Kebutuhan energi bayi dan balita relatif besar dibandingkan dengan orang dewasa,
sebab pada usia tersebut pertumbuhannya masih sangat pesat. Kecukupannya akan
semakin menurun seiring dengan bertambahnya usia.
2. Kebutuhan zat pembangun
Secara fisiologis, balita sedang dalam masa pertumbuhan sehingga kebutuhannya
relatif lebih besar daripada orang dewasa. Namun, jika dibandingkan dengan bayi
yang usianya kurang dari satu tahun, kebutuhannya relatif lebih kecil.
3. Kebutuhan zat pengatur

Kebutuhan air bayi dan balita dalam sehari berfluktuasi seiring dengan bertambahnya
usia.
E. MENU SEIMBANG BAGI BALITA
1. Kombinasi makanan yang dibutuhkan Balita
Karbohidrat: Seperti nasi, roti, sereal, kentang, atau mie. Kenalkan beragam
karbohidrat secara bergantian. Selain sebagai menu utama, karbohidrat bisa diolah
sebagai makanan selingan atau bekal sekolah seperti puding roti atau donat
kentang, dst.
Buah

dan

sayur:

Seperti

pisang,

pepaya,

jeruk,

tomat,

dan

wortel.

Jenis sayuran beragam mengandung zat gizi berbeda. Berikan setiap hari baik
dalam bentuk segar atau diolah menjadi jus.
Susu dan produk olahannya: Seperti susu pertumbuhan, keju dan yoghurt.
Pastikan balita Ibu mendapatkan asupan kalsium yang cukup dari konsumsi susu
Protein:

Seperti

ikan,

susu,

daging,

telur,

kacang-kacangan.

Tunda pemberiannya bila timbul alergi atau ganti dengan sumber protein lain.
Untuk vegetarian, gabungkan konsumsi susu dengan minuman berkadar vitamin C
tinggi untuk membantu penyerapan zat besi.
Lemak: Seperti yang terdapat dalam minyak, santan, mentega, roti, dan kue juga
mengandung omega 3 dan 6 yang penting untuk perkembangan otak.
Pastikan anak mendapatkan kadar lemak esensial dan gula yang cukup bagi
pertumbuhannya. Namun perlu diperhatikan bahwa lemak dan gula tidak
digunakan sebagai pengganti jenis makanan lainnya (seperti karbohidrat).
Kebutuhan bahan makanan bagi Balita perlu diatur sedemikian rupa, sehingga anak
mendapatkan asupan gizi yang diperlukannya secara utuh setiap hari. Waktu-waktu
yang disarankan adalah:
o Pagi hari waktu sarapan 07.00.
o Pukul 10.00 sebagai selingan. Tambahkan susu.
o Pukul 12.00 pada waktu makan siang.

o Pukul 16.00 sebagai selingan


o Pukul 18.00-19.00 pada waktu makan malam.
o Sebelum tidur malam, tambahkan susu.
o Jangan lupa kumur-kumur dengan air putih dan gosok gigi.
2. Makanan yang harus dihindari
Beberapa makanan yang perlu untuk dihindari, diantaranya:

Makanan yang digoreng seperti kerupuk, kripik, jajanan lainnya karena lemak
menyebabkan anak cepat kenyangs ehingga sulit untuk makan makanan utama.

Minuman dingin seperti es dan makanan/minuman manis seperti dodol, sirop,


permen, coklat, karena makanan manis menyebabkan gigi cepat rusak sehingga
anak menjadi susah makan/sakit ketika makan dan menyebabkan anak malas
makan menu utama.

Makanan yang terlalu berminyak, junk food, dan makanan berpengawet. Gunakan
bahan makanan segar untuk menu makan keluarga terutama untuk anak.

Penggunaan garam bila diperlukan sebaiknya digunakan dalam jumlah sedikit.


Pilih garam beriodium yang baik untuk kesehatan. Bila membeli makanan dalam
kemasan, perhatikan juga kandungan garamnya.

Telur dan kerang, karena seringkali menimbulkan alergi bahkan keracunan bila
Ibu tidak memilih yang segar dan salah mengolahnya. Biasakan mengolah telur
sampai matang untuk menghindari bakteri yang dapat mengganggu pencernaan.

Kacang-kacangan bisa menjadi pencetus alergi. Jangan berikan kacang bila anak
belum terampil mengunyah karena bisa tersedak.

F. DAMPAK GIZI TIDAK SEIMBANG


1. Dampak gizi lebih
Jika obesitas tidak teratasi akan berlanjut sampai remaja dan dewasa, hal ini akan
berdampak pada tingginya kejadian berbagai penyakit infeksi. Pada orang dewasa
tampak dengan semakin meningkatnya penyakit degenerative seperti jantung koroner
diabetes mellitus, hipertensi dan penyakit hati.
2. Dampak gizi kurang

Jenis penyakit gangguan gizi yang sering terjadi pada balita di Indonesia adalah
Gangguan gizi akibat kekurangan energi dan protein (KEP) yang terbagi menjadi 2
macam, yaitu:
a. Kwashiorkor
Berikut empat ciri yang selalu ditemukan pada penderita kwashiorkor yaitu:
1) Adanya oedema pada kaki, tumit dan bagian tubuh lain seperti bengkak karena
ada cairan tertumpuk.
2) Gangguan pertumbuhan badan. Berat dan panjang badan anak tidak dapat
mencapai berat dan panjang yang semestinya sesuai dengan umurnya.
3) Perubahan aspek kejiwaan, yaitu anak kelihatan memelas, cengeng, lemah dan
tidak ada selera makan.
4) Otot tubuh terlihat lemah dan tidak berkembang dengan baik walaupun masih
tampak adanya lapisan lemak di bawah kulit.
b. Marasmus
Istilah marasmus berasal dari bahasa yunani yang sejak lama digunakan sebagai
istilah dalam ilmu kedokteran untuk menggambarkan seorang anak yang berat
badannya sangat kurang dari berat badan seharusnya. Ciri utama penderita
marasmus adalah sebagai berikut :
1) Anak tampak sangat kurus dan kemunduran pertumbuhan otot tampak sangat
jelas sekali apabila anak dipegang pada ketiaknya dan diangkat. Berat badan
anak kurang dari 60% dari berat badan seharusnya menurut umur.
2) Wajah anak tampak seperti muka orang tua. Jadi berlawanan dengan tanda
yang tampak pada kwashiorkor. Pada penderita marasmus, muka anak
tampak keriput dan cekung sebagaimana layaknya wajah seorang yang telah
berusia lanjut. Oleh karena tubuh anak sangat kurus, maka kepala anak
seolah-olah terlalu besar jika dibandingkan dengan badannya.
3) Pada penderita marasmus biasanya ditemukan juga tanda-tanda defisiensi
gizi yang lain seperti kekurangan vitamin C, vitamin A, dan zat besi serta
sering juga anak menderita diare.
c. Anemia
Anemia adalah jenis penyakit akibat kekurangan gizi pada bayi dan balita.
Anemia juga bisa disebabkan karena kekurangan vitamin B12. Penyakit ini
menyebabkan tubuh menjadi lebih lemah dan tidak bisa melakukan berbagai
aktivitas. Anemia bisa terjadi ketika sel darah merah tidak memiliki banyak

oksigen sehingga menyebabkan jaringan tubuh menjadi lebih lemah. Ada


berbagai kondisi tertentu yang sering menyebabkan anemia pada bayi seperti
kelainan sel darah merah. Anemia bisa sangat berbahaya pada bayi bahkan
resiko mental dan fisik yang bisa berdampak hingga dewasa. Kondisi anemia
pada bayi dan balita biasanya terjadi setelah bayi berumur lebih dari enam
bulan. Berbagai jenis nutrisi tambahan yang mengandung zat besi, sangat
disarankan karena itu kekurangan gizi memberi dampak yang serius untuk bayi
dan balita.
Gejala :

Kulit menjadi lebih pucat


Nafas menjadi lebih pendek
Anak-anak menjadi lebih lemah dan mudah menangis
Pucat dan tidak berdaya

d. Gondok
Gondok adalah penyakit yang disebabkan karena kekurangan yodium.
Gejala gondok menyebabkan ciri yang sangat khas sehingga bisa menyebabkan
pembengkakan pada kelenjar tiroid. Penyakit ini paling sering terjadi pada
negara-negara yang tidak memiliki kandungan yodium dalam tanah. Perawatan
untuk gondok bisa dilakukan sesuai dengan tingkat besar dan kecilnya gondok.
Jika gondok berukuran kecil maka perawatan dengan konsumsi makanan yang
mengandung yodium bisa dilakukan. Jika gondok berukuran besar maka harus
berikan tindakan lanjut oleh medis.
Ciri :
Pembengkakan pada kelenjar tiroid
Tubuh menjadi lemah, lesu dan tidak berdaya
Tingkat metabolisme yang lebih rendah
Tubuh tidak tahan terhadap cuaca dingin
Sakit pada tenggorokan
Sulit untuk bernafas dan mengkonsumsi makanan
e. Beri-beri

Beri-beri adalah jenis penyakit akibat kekurangan gizi pada bayi yakni
vitamin B1. Penyakit ini akan menyerang saraf dan bisa menyebabkan berbagai
penyakit komplikasi. Penyakit ini akan menyebabkan tubuh menjadi lebih
lemah dan tidak bisa melakukan berbagai kegiatan. Perawatan dilakukan dengan
menambahkan nutrisi yang mengandung vitamim B1 atau thiamin.
Ciri-ciri:
Tubuh menjadi lebih lemah dan lesu
Tubuh tidak bisa menyerap energi dari makanan
Komplikasi pada otot sehingga tubuh menjadi lebih kurus
Komplikasi bisa mengarah kepada penyakit jantung
Gangguan otot
Gangguan pencernaan dan saraf
f. Rakhitis
Penyakit rakhitis disebabkan karena tubuh mengalami kekurangan vitamin
D. Akibatnya maka tubuh tidak bisa menyerap kalsium dengan baik. Kebutuhan
vitamin D sebenarnya bisa diperoleh dari sinar matahari terutama sinar matahari
pagi. Rakhitis bisa terjadi pada anak-anak yang menyebabkan gangguan pada
perkembangan tulang. Penyakit ini membutuh perawatan sebab jika tidak
diobati dapat menyebabkan tulang menjadi melengkung dan sering patah tulang.
Ciri-ciri :
Rasa sakit pada bagian tulang
Otot menjadi lebih lemah
Kerusakan perkembangan kerangka tubuh
Pembengkakan tulang rusuk
Pergelangan tangan melebar
Tulang tengkorak menjadi lebih lembut.