Anda di halaman 1dari 22

MENINGIOENSEFALITIS

A. MENINGITIS
1. Pengertian
Meningitis merupakan inflamasi yang terjadi pada
lapisan arachnoid dan piamatter di otak serta spinal
cord. Inflamasi ini lebih sering disebabkan oleh bakteri
dan virus meskipun penyebab lainnya seperti jamur dan
protozoa juga terjadi. (Donna D.,1999). Definisi lain
mengatakan bahwa meningitis adalah radang pada
meningen (membran yang mengelilingi otak dan
medula spinalis) dan disebabkan oleh virus, bakteri atau
organ-organ jamur(Smeltzer, 2001).
Meningitis merupakan infeksi akut dari meninges,
biasanya
ditimbulkan
oleh
salah
satu
dari
mikroorganisme pneumokok, Meningokok, Stafilokok,
Streptokok, Hemophilus influenza dan bahan aseptis
(virus) (Long, 1996). Meningitis adalah peradangan pada
selaput meningen, cairan serebrospinal dan spinal
column yang menyebabkan proses infeksi pada sistem
saraf pusat (Suriadi & Rita, 2001).
2. Etiologi
a. Meningitis Bakterial (Meningitis sepsis)
Sering terjadi pada musim dingin, saat terjadi infeksi
saluran pernafasan. Jenis organisme yang sering
menyebabkan
meningitis
bacterial
adalah
streptokokus pneumonia dan neisseria meningitis.
Meningococal meningitis adalah tipe dari meningitis
bacterial yang sering terjadi pada daerah penduduk
yang padat, seperti: asrama, penjara. Klien yang
mempunyai kondisi spt: otitis media, pneumonia,
sinusitis akut atau sickle sell anemia yang dapat
meningkatkan kemungkinan terjadi meningitis.
Fraktur tulang tengkorak atau pembedahan spinal
dapat juga menyebabkan meningitis. Selain itu juga
dapat terjadi pada orang dengan gangguan sistem
imun, spt: AIDS dan defisiensi imunologi baik yang
congenital ataupun yang didapat. Tubuh akan
berespon terhadap bakteri sebagai benda asing dan
berespon dengan terjadinya peradangan dengan

adanya neutrofil, monosit dan limfosit. Cairan


eksudat yang terdiri dari bakteri, fibrin dan lekosit
terbentuk di ruangan subarahcnoid ini akan
terkumpul di dalam cairan otak sehingga dapat
menyebabkan lapisan yang tadinya tipis menjadi
tebal.
Dan
pengumpulan
cairan
ini
akan
menyebabkan peningkatan intrakranial. Hal ini akan
menyebabkan jaringan otak akan mengalami infark.
b. Meningitis Virus (Meningitis aseptic)
Meningitis virus adalah infeksi pada meningen;
cenderung jinak dan bisa sembuh sendiri. Virus
biasanya bereplikasi sendiri ditempat terjadinya
infeksi awal (misalnya sistem nasofaring dan saluran
cerna) dan kemudian menyebar kesistem saraf pusat
melalui sistem vaskuler.
Ini terjadi pada penyakit yang disebabkan oleh virus
spt: campak, mumps, herpes simplek dan herpes
zoster.
Virus
herpes
simplek
mengganggu
metabolisme sel sehingga sell cepat mengalami
nekrosis. Jenis lainnya juga mengganggu produksi
enzim
atau
neurotransmitter
yang
dapat
menyebabkan
disfungsi
sel
dan
gangguan
neurologic.
c. Meningitis Jamur
Meningitis Cryptococcal adalah infeksi jamur yang
mempengaruhi sistem saraf pusat pada klien dengan
AIDS. Gejala klinisnya bervariasi tergantung dari
system kekebalan tubuh yang akan berefek pada
respon inflamasi Respon inflamasi yang ditimbulkan
pada klien dengan menurunnya sistem imun antara
lain: bisa demam/tidak, sakit kepala, mual, muntah
dan menurunnya status mental.
Faktor resiko terjadinya meningitis :
a. Infeksi sistemik
Didapat dari infeksi di organ tubuh lain yang akhirnya
menyebar secara hematogen sampai ke selaput otak,
misalnya otitis media kronis, mastoiditis, pneumonia,
TBC, perikarditis, dll.
Pada meningitis bacterial, infeksi yang disebabkan
olh bakteri terdiri atas faktor pencetus sebagai
berikut diantaranya adalah:

Otitis media
Pneumonia
Sinusitis
Sickle cell anemia
Fraktur cranial, trauma otak
Operasi spinal
Meningitis bakteri juga bisa disebabkan oleh
adanya penurunan system kekebalan tubuh
seperti AIDS.
b. Trauma kepala
Bisanya terjadi pada trauma kepala terbuka atau
pada fraktur basis cranii yang memungkinkan
terpaparnya CSF dengan lingkungan luar melalui
othorrhea dan rhinorhea
c. Kelainan anatomis
Terjadi pada pasien seperti post operasi di daerah
mastoid, saluran telinga tengah, operasi cranium
Terjadinya
peningkatan
TIK
pada
meningitis,
mekanismenya adalah sebagai berikut :
Agen penyebab reaksi local pada meninges
inflamasi meninges pe permiabilitas kapiler
kebocoran cairan dari intravaskuler ke interstisial
pe volume cairan interstisial edema Postulat
Kellie Monroe, kompensasi tidak adekuat pe TIK
Pada meningitis jarang ditemukan kejang, kecuali jika
infeksi sudah menyebar ke jaringan otak, dimana
kejang ini terjadi bila ada kerusakan pada korteks
serebri pada bagian premotor.
Hidrosefalus
pada
meningitis
terjadi
karena
mekanisme sebagai berikut :Inflamasi local scar
tissue di daerah arahnoid ( vili ) gangguan absorbsi
CSF akumulasi CSF di dalam otak hodrosefalus
Bila gejala yang muncul campuran kemungkinan
mengalami Meningo-ensefalitis.
3. Patofisiologi
Otak dilapisi oleh tiga lapisan, yaitu: duramater,
arachnoid, dan piamater. Cairan otak dihasilkan di
dalam pleksus choroid ventrikel bergerak/mengalir
melalui sub arachnoid dalam sistem ventrikuler dan
seluruh otak dan sumsum tulang belakang, direabsorbsi
melalui villi arachnoid yang berstruktur seperti jari-jari

di dalam lapisan subarachnoid. Organisme masuk ke


dalam aliran darah dan menyebabkan reaksi radang di
dalam meningen dan di bawah korteks, yang dapat
menyebabkan trombus dan penurunan aliran darah
serebral. Jaringan serebral mengalami gangguan
metabolisme akibat eksudat meningen, vaskulitis dan
hipoperfusi. Eksudat purulen dapat menyebar sampai
dasar otak dan medula spinalis. Radang juga menyebar
ke dinding membran ventrikel serebral. Cairan hidung
(sekret hidung) atau sekret telinga yang disebabkan
oleh fraktur tulang tengkorak dapat menyebabkan
meningitis karena hubungan langsung antara cairan
otak dengan lingkungan (dunia luar), mikroorganisme
yang masuk dapat berjalan ke cairan otak melalui
ruangan subarachnoid. Adanya mikroorganisme yang
patologis merupakan penyebab peradangan pada
piamater, arachnoid, cairan otak dan ventrikel.
Meningitis bakteri dimulai sebagai infeksi dari oroaring
dan diikuti dengan septikemia, yang menyebar ke
meningen otak dan medula spinalis bagian atas.
Meningitis bakteri dihubungkan dengan perubahan
fisiologis intrakranial, yang terdiri dari peningkatan
permeabilitas pada darah, daerah pertahanan otak
(barier oak), edema serebral dan peningkatan TIK.
Faktor predisposisi mencakup infeksi jalan nafas bagian
atas, otitis media, mastoiditis, anemia sel sabit dan
hemoglobinopatis lain, prosedur bedah saraf baru,
trauma kepala dan pengaruh imunologis. Saluran vena
yang melalui nasofaring posterior, telinga bagian tengah
dan saluran mastoid menuju otak dan dekat saluran
vena-vena meningen; semuanya ini penghubung yang
menyokong perkembangan bakteri.
Pada infeksi akut pasien meninggal akibat toksin bakteri
sebelum terjadi meningitis. Infeksi terbanyak dari pasien
ini dengan kerusakan adrenal, kolaps sirkulasi dan
dihubungkan dengan meluasnya hemoragi (pada
sindromWaterhouse-Friderichssen)
sebagai
akibat
terjadinya kerusakan endotel dan nekrosis pembuluh
darah yang disebabkan oleh meningokokus.

Selain dari adanya invasi bakteri, virus, jamur maupun


protozoa, point dentry masuknya kuman juga bisa
melalui trauma tajam, prosedur operasi, dan abses otak
yang pecah, penyebab lainnya adalah adanya rinorrhea,
otorrhea pada fraktur bais cranii yang memungkinkan
kontaknya CSF dengan lingkungan luar.
4. Manifestas Klinis
Tanda dan gejala meningitis secara umum:
a. Aktivitas / istirahat ;Malaise, aktivitas terbatas,
ataksia, kelumpuhan, gerakan involunter, kelemahan,
hipotonia
b. Sirkulasi ;Riwayat endokarditis, abses otak, TD ,
nadi , tekanan nadi berat, takikardi dan disritmia
pada fase akut
c. Eliminasi ; Adanya inkontinensia atau retensi urin
d. Makanan / cairan ; Anorexia, kesulitan menelan,
muntah, turgor kulit jelek, mukosa kering
e. Higiene ; Tidak mampu merawat diri
f. Neurosensori ; Sakit kepala, parsetesia, kehilangan
sensasi, Hiperalgesiameningkatnya rasa nyeri,
kejang, gangguan penglihatan, diplopia, fotofobia,
ketulian, halusinasi penciuman, kehilangan memori,
sulit mengambil keputusan, afasia, pupil anisokor, ,
hemiparese, hemiplegia, tandaBrudzinskipositif,
rigiditas nukal, refleks babinski posistif, refkleks
abdominal menurun, refleks kremasterik hilang pada
laki-laki
g. Nyeri / kenyamanan ; Sakit kepala hebat, kaku kuduk,
nyeri
gerakan
okuler,
fotosensitivitas,
nyeri
tenggorokan, gelisah, mengaduh/mengeluh
h. Pernafasan ; Riwayat infeksi sinus atau paru, nafas ,
letargi dan gelisah
i. Keamanan ; Riwayat mastoiditis, otitis media,
sinusitis, infeksi pelvis, abdomen atau kulit, pungsi
lumbal, pembedahan, fraktur cranial, anemia sel
sabit, imunisasi yang baru berlangsung, campak,
chiken pox, herpes simpleks. Demam, diaforesios,
menggigil, rash, gangguan sensasi.
j. Penyuluhan / pembelajaran ; Riwayat hipersensitif
terhadap obat, penyakit kronis, diabetes mellitus
Tanda dan gejala meningitis secara khusus:

a. Anak dan Remaja


Demam
Mengigil
Sakit kepala
Muntah
Perubahan pada sensorium
Kejang (seringkali merupakan tanda-tanda awal)
Peka rangsang
Agitasi
Dapat terjadi: Fotophobia (apabila cahaya
diarahkan pada mata pasien (adanya disfungsi
pada saraf III, IV, dan VI)) ,Delirium, Halusinasi,
perilaku agresi, mengantuk, stupor, koma.
b. Bayi dan Anak Kecil
Gambaran klasik jarang terlihat pada anak-anak usia
3 bulan dan 2 tahun.
Demam
Muntah
Peka rangsang yang nyata
Sering
kejang (sering kali disertai denagan
menangis nada tinggi)
Fontanel menonjol.
c. Neonatus:
Tanda-tanda spesifik: Secara khusus sulit untuk
didiagnosa serta manifestasi tidak jelas dan spesifik
tetapi mulai terlihat menyedihkan dan berperilaku
buruk dalam beberapa hari, seperti
Menolak untuk makan.
Kemampuan menghisap menurun.
Muntah atau diare.
Tonus buruk.
Kurang gerakan.
Menangis buruk.
Leher biasanya lemas.
Tanda-tanda non-spesifik:
Hipothermia atau demam.
Peka rangsang.
Mengantuk.
Kejang.
Ketidakteraturan pernafasan atau apnea.
Sianosis.

Penurunan berat badan.


5. Komplikasi
Komplikasi serta sequelle yang

timbul

biasanya

berhubungan dengan proses inflamasi pada meningen


dan pembuluh darah cerebral (kejang, parese nervus
cranial,lesi

cerebral

fokal,

hydrasefalus)

serta

disebabkan oleh infeksi meningococcus pada organ


tubuh

lainnya

pericarditis,

(infeksi

okular,

endocarditis,

arthritis,

myocarditis,

purpura,
orchitis,

epididymitis, albuminuria atau hematuria, perdarahan


adrenal). DIC dapat terjadi sebagai komplikasi dari
meningitis. Komplikasi dapat pula terjadi karena infeksi
pada saluran nafas bagian atas, telinga tengah dan
paru-paru,

Sequelle

biasanya

disebabkan

karena

komplikasi dari nervous system.


6. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium yang khas pada meningitis
adalah analisa cairan otak. Analisa cairan otak
diperiksa untuk jumlah sel, protein, dan konsentrasi
glukosa Lumbal Pungsi. Lumbal pungsi biasanya
dilakukan untuk menganalisa hitung jenis sel dan
protein.cairan cerebrospinal, dengan syarat tidak
ditemukan adanya peningkatan TIK. Lumbal punksi
tidak
bisa
dikerjakan
pada
pasien
dengan
peningkatan tekanan tintra kranial..
b. Meningitis bacterial: tekanan meningkat, cairan
keruh/berkabut, leukosit dan protein meningkat,
glukosa menurun, kultur posistif terhadap beberapa
jenis bakteri.
c. Meningitis virus : tekanan bervariasi, CSF jernih,
leukositosis, glukosa dan protein normal, kultur
biasanya negative.
d. Kaku kuduk pada meningitis bisa ditemukan dengan
melakukan pemeriksaan fleksi pada kepala klien
yang akan menimbulkan nyeri, disebabkan oleh
adanya iritasi meningeal khususnya pada nervus
cranial ke XI, yaitu Asesoris yang mempersarafi otot

bagian belakang leher, sehingga akan menjadi


hipersensitif dan terjadi rigiditas.
e. Sedangan pada pemeriksaan Kernigs sign (+) dan
Brudzinsky sign (+) menandakan bahwa infeksi atau
iritasi sudah mencapai ke medulla spinalis bagian
bawah.
f. Pemeriksaan darah ini terutama jumlah sel darah
merah yang biasanya meningkat diatas nilai normal.
Serum elektrolit dan serum glukosa dinilai untuk
mengidentifikasi
adanya
ketidakseimbangan
elektrolit terutama hiponatremi. Kadar glukosa darah
dibandingkan dengan kadar glukosa cairan otak.
Normalnya kadar glukosa cairan otak adalah 2/3 dari
nilai serum glukosa dan pada pasien meningitis kadar
glukosa cairan otaknya menurun dari nilai normal.
g. Glukosa serum: meningkat (meningitis)
h. LDH serum: meningkat (meningitis bakteri)
i. Sel darah putih: sedikit meningkat dengan
peningkatan neutrofil (infeksi bakteri)
j. Elektrolit darah: Abnormal
k. ESR/LED: meningkat pada meningitis
l. MRI/CT-scan: dapat membantu dalam melokalisasi
lesi, melihat ukuran/letak ventrikel; hematom daerah
serebral, hemoragik atau tumor
m. Kultur darah/ hidung/ tenggorokan/ urine: dapat
mengindikasikan
daerah
pusat
infeksi
atau
mengindikasikan tipe penyebab infeksi
n. Ronsen dada/kepala/ sinus: mungkin ada indikasi
sumber infeksi intra kranial
o. Arteriografi karotis : Letak abses
7. Penatalaksanaan
Farmakologis
a. Obat anti inflamasi :
Meningitis tuberkulosa :
Isoniazid 10 20 mg/kg/24 jam oral, 2 kali sehari
maksimal 500 gram selama 1 tahun.
Rifamfisin 10 15 mg/kg/ 24 jam oral, 1 kali sehari
selama 1 tahun.
Streptomisin sulfat 20 40 mg/kg/24 jam sampai
1 minggu, 1 2 kali sehari, selama 3 bulan.
Meningitis bacterial, umur < 2 bulan :
Sefalosporin generasi ke 3

ampisilina 150 200 mg (400 gr)/kg/24 jam IV,


4 6 kali sehari.
Koloramfenikol 50 mg/kg/24 jam IV 4 kali
sehari.
Meningitis bacterial, umur > 2 bulan :
Ampisilina 150-200 mg (400 mg)/kg/24 jam IV
4-6 kali sehari.
Sefalosforin generasi ke 3.
b. Pengobatan simtomatis :
Diazepam IV : 0.2 0.5 mg/kg/dosis, atau rectal
0.4 0.6/mg/kg/dosis
kemudian klien dilanjutkan dengan.
Fenitoin 5 mg/kg/24 jam, 3 kali sehari.
Turunkan panas :
Antipiretika : parasetamol atau salisilat 10
mg/kg/dosis.
Kompres air PAM atau es
c. Pengobatan suportif :
Cairan intravena.
Zat asam, usahakan agar konsitrasi O2 berkisar
antara 30 50%.
Perawatan
a. Pada waktu kejang
Longgarkan pakaian, bila perlu dibuka.
Hisap lender
Kosongkan lambung untuk menghindari muntah
dan aspirasi.
Hindarkan penderita dari rodapaksa (misalnya
jatuh).
b. Bila penderita tidak sadar lama.
Beri makanan melalui sonda.
Cegah dekubitus dan pnemunia ortostatik dengan
merubah posisi penderita sesering mungkin.
Cegah kekeringan kornea dengan boor water atau
saleb antibiotika.
c. Pada inkontinensia urine lakukan katerisasi.
Pada inkontinensia alvi lakukan lavement.
d. Pemantauan ketat.
Tekanan darah
Respirasi
Nadi
Produksi air kemih

Faal hemostasis untuk mengetahui secara dini


adanya DC.

B. ENSEFALITIS
1. Pengertian
Ensefalitis adalah infeksi yang mengenai CNS yang
disebabkan oleh virus atau mikro organisme lain yang
non purulent. Ensefalitis adalah peradangan akut otak
yang disebabkan oleh infeksi virus. Terkadang ensefalitis
dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, seperti
meningitis, atau komplikasi dari penyakit lain seperti
rabies (disebabkan oleh virus) atau sifilis (disebabkan
oleh bakteri). Penyakit parasit dan protozoa seperti
toksoplasmosis,
malaria,
atau
primary
amoebic
meningoencephalitis,
juga
dapat
menyebabkan
ensefalitis pada orang yang sistem kekebalan tubuhnya
kurang. Kerusakan otak terjadi karena otak terdorong
terhadap tengkorak dan menyebabkan kematian.
2. Etilogi
a. Ensefalitis Supurativa
Bakteri penyebab ensefalitis supurativa adalah:
staphylococcus aureus, streptococcus, E.coli dan
M.tuberculosa.
Patogenesis:
Peradangan dapat menjalar ke jaringan otak dari
otitis media, mastoiditis, sinusitis, atau dari piema
yang berasl dari radang, abses di dalam paru,
bronchiektasi, empiema, osteomeylitis cranium,
fraktur terbuka, trauma yang menembus ke dalam
otak dan tromboflebitis. Reaksi dini jaringan otak
terhadap kuman yang bersarang adalah edema,
kongesti yang disusul dengan pelunakan dan
pembentukan abses. Disekeliling daerah yang
meradang berproliferasi jaringan ikat dan astrosit
yang membentuk kapsula. Bila kapsula pecah
terbentuklah abses yang masuk ventrikel. Bila
berkembang menjadi abses serebri akan timbul
gejala-gejala
infeksi
umum,
tanda-tanda
meningkatnya tekanan intracranial yaitu : nyeri
kepala
yang
kronik
dan
progresif,muntah,

penglihatan kabur, kejang, kesadaran menurun, pada


pemeriksaan mungkin terdapat edema papil.
b. Ensefalitis Siphylis
Patogenesis
Disebabkan oleh Treponema pallidum. Infeksi terjadi
melalui permukaan tubuh umumnya sewaktu kontak
seksual. Setelah penetrasi melalui epithelium yang
terluka, kuman tiba di sistim limfatik, melalui kelenjar
limfe kuman diserap darah sehingga terjadi
spiroketemia. Hal ini berlangsung beberapa waktu
hingga menginvasi susunansaraf pusat Treponema
pallidum akan tersebar diseluruh korteks serebri dan
bagianbagian lain susunan saraf pusat.
c. Ensefalitis Virus
Virus yang dapat menyebabkan radang otak pada
manusia :
Virus RNA
Paramikso virus : virus parotitis, irus morbili
Rabdovirus : virus rabies
Togavirus : virus rubella flavivirus (virus ensefalitis Jepang
B, virus dengue)
Picornavirus
: enterovirus
(virus
polio,
coxsackie
A,B,echovirus)
Arenavirus : virus koriomeningitis limfositoria
Virus DNA
Herpes virus : herpes zoster-varisella, herpes simpleks,
sitomegalivirus,
virus Epstein-barr
Poxvirus : variola, vaksinia
Retrovirus : AIDS
d. Ensefalitis Karena Parasit
Malaria serebral Plasmodium falsifarum penyebab
terjadinya malaria serebral.
Gangguan utama terdapat didalam pembuluh
darah mengenai parasit. Sel darah merah yang
terinfeksi plasmodium falsifarum akan melekat
satu sama lainnya sehingga menimbulkan
penyumbatan-penyumbatan.
Hemorrhagic
petechia dan nekrosis fokal yang tersebar secara
difus ditemukan pada selaput otak dan jaringan

otak. Kelainan neurologik tergantung pada lokasi


kerusakan-kerusakan.
Toxoplasmosis
Toxoplasma gondii pada orang dewasa biasanya
tidak menimbulkan gejala-gejala kecuali dalam
keadaan dengan daya imunitas menurun. Didalam
tubuh manusia parasit ini dapat bertahan dalam
bentuk kista terutama di otot dan jaringan otak.
Amebiasis
Amoeba genus Naegleria dapat masuk ke tubuh
melalui hidung ketika berenang di air yang
terinfeksi
dan
kemudian
menimbulkan
meningoencefalitis akut. Gejala-gejalanya adalah
demam akut, nausea, muntah, nyeri kepala, kaku
kuduk dan kesadaran menurun.
Sistiserkosis
Cysticercus cellulosae ialah stadium larva taenia.
Larva menembus mukosa dan masuk kedalam
pembuluh darah, menyebar ke seluruh badan.
Larva
dapat
tumbuh
menjadi
sistiserkus,
berbentuk kista di dalam ventrikel dan parenkim
otak. Bentuk rasemosanya tumbuh didalam
meninges atau tersebar didalam sisterna. Jaringan
akan
bereaksi
dan
membentuk
kapsula
disekitarnya.
Gejaja-gejala neurologik yang timbul tergantung
pada lokasi kerusakan.
e. Ensefalitis Karena Fungus
Fungus yang dapat menyebabkan radang antara
lain
:
candida
albicans,
Cryptococcus
neoformans,Coccidiodis, Aspergillus, Fumagatus dan
Mucor mycosis. Gambaran yang ditimbulkan infeksi
fungus pada sistim saraf pusat ialah meningoensefalitis purulenta. Faktor yang memudahkan
timbulnya infeksi adalah daya imunitas yang
menurun.
f. Riketsiosis Serebri
Riketsia dapat masuk ke dalam tubuh melalui gigitan
kutu dan dapat menyebabkan Ensefalitis. Di dalam
dinding pembuluh darah timbul noduli yang terdiri

atas sebukan sel-sel mononuclear, yang terdapat


pula disekitar pembuluh darah di dalam jaringan
otak. Didalam pembuluh darah yang terkena akan
terjadi trombosis. Gejala-gejalanya ialah nyeri kepala,
demam, mula-mula sukar tidur, kemudian mungkin
kesadaran dapat menurun. Gejala-gejala neurologik
menunjukan lesi yang tersebar.
3. Patofisiologi
Virus masuk tubuh pasien melalui kulit,saluran nafas
dan saluran cerna.setelah masuk ke dalam tubuh,virus
akan menyebar ke seluruh tubuh dengan beberapa
cara:
a. Setempat: virus alirannya terbatas menginfeksi
selaput lender permukaan atau organ tertentu.
b. Penyebaran hematogen primer: virus masuk ke
dalam darah kemudian menyebar ke organ dan
berkembang biak di organ tersebut.
c. Penyebaran melalui saraf-saraf: virus berkembang
biak di permukaan selaput lendir dan menyebar
melalui sistem saraf.
4. Manifestasi Klinis
Meskipun penyebabnya berbeda-beda, gejala klinis
Ensefalitis lebih kurang sama dan khas, sehingga dapat
digunakan sebagai kriteria diagnosis. Secara umum,
gejala berupa Trias Ensefalitis yang terdiri dari demam,
kejang dan kesadaran menurun. (Mansjoer, 2000).
Adapun tanda dan gejala Ensefalitis sebagai berikut:

Suhu yang mendadak naik, seringkali ditemukan


hiperpireksia
Kesadaran dengan cepat menurun
Muntah
Kejang-kejang, yang dapat bersifat umum, fokal atau
twitching saja (kejang-kejang di muka)
Gejala-gejala serebrum lain, yang dapat timbul
sendiri-sendiri atau bersama-sama, misal paresis
atau paralisis, afasia, dan sebagainya (Hassan, 1997)

Inti dari sindrom Ensefalitis adalah adanya demam akut,


dengan kombinasi tanda dan gejala : kejang, delirium,
bingung,

stupor

atau

koma,

aphasia,

hemiparesis

dengan asimetri refleks tendon dan tanda Babinski,


gerakan involunter, ataxia, nystagmus, kelemahan otototot wajah.
5. Komplikasi
Komplikasi

jangka

panjang

dari

ensefalitis

berupa

sekuele neurologikus yang nampak pada 30 % anak


dengan berbagai agen penyebab, usia penderita, gejala
klinik, dan penanganan selama perawatan. Perawatan
jangka panjang dengan terus mengikuti perkembangan
penderita dari dekat merupakan hal yang krusial untuk
mendeteksi adanya sekuele secara dini. Walaupun
sebagian besar penderita mengalami perubahan serius
pada susunan saraf pusat (SSP), komplikasi yang berat
tidak selalu terjadi. Komplikasi pada SSP meliputi tuli
saraf, kebutaan kortikal, hemiparesis, quadriparesis,
hipertonia

muskulorum,

ataksia,

epilepsi,

retardasi

mental dan motorik, gangguan belajar, hidrosefalus


obstruktif, dan atrofi serebral.
6. Pemeriksaan Penunjang
a. Biakan:
Dari darah viremia berlangsung hanya sebentar
saja sehingga sukar untuk mendapatkan hasil
yang positif.
Dari likuor serebrospinalis atau jaringan otak (hasil
nekropsi), akan didapat gambaran jenis kuman
dan sensitivitas terhadap antibiotika.
Dari feses, untuk jenis enterovirus sering didapat
hasil yang positif
Dari swap hidung dan tenggorokan, didapat hasil
kultur positif.
b. Pemeriksaan serologis : uji fiksasi komplemen, uji
inhibisi hemaglutinasi dan uji neutralisasi. Pada

pemeriksaan serologis dapat diketahui reaksi


antibodi tubuh. IgM dapat dijumpai pada awal gejala
penyakit timbul.
c. Pemeriksaan darah : terjadi peningkatan angka
leukosit.
d. Punksi lumbal Likuor serebospinalis sering dalam
batas normal, kadang-kadang ditemukan sedikit
peningkatan jumlah sel, kadar protein atau glukosa.
e. EEG/ Electroencephalography
EEG sering menunjukkan aktifitas listrik yang
merendah sesuai dengan kesadaran yang menurun.
Adanya kejang, koma, tumor, infeksi sistem saraf,
bekuan darah, abses, jaringan parut otak, dapat
menyebabkan aktivitas listrik berbeda dari pola
normal irama dan kecepatan.(Smeltzer, 2002)
f. CT scan
Pemeriksaan CT scan otak seringkali didapat hasil
normal, tetapi bisa pula didapat hasil edema diffuse,
dan pada kasus khusus seperti Ensefalitis herpes
simplex, ada kerusakan selektif pada lobus
inferomedial temporal dan lobus frontal.
7. Penatalaksanaan
Isolasi
Isolasi
bertujuan
untuk
mengurangi
stimuli/rangsangan dari luar dan sebagai tindakan
pencegahan.
Terapi antimikroba :
Ensefalitis supurativa
Ampisillin 4 x 3-4 g per oral selama 10 hari.
Cloramphenicol 4 x 1g/24
jam intra vena
selama 10 hari.
Ensefalitis syphilis
Penisillin G 12-24 juta unit/hari dibagi 6 dosis
selama 14 hari
Penisillin prokain G 2,4 juta unit/hari intra
muskulat + probenesid 4 x 500mg oral selama 14
hari.
Bila alergi penicillin :
Tetrasiklin 4 x 500 mg per oral selama 30 hari
Eritromisin 4 x 500 mg per oral selama 30 hari
Cloramfenicol 4 x 1 g intra vena selama 6
minggu

Seftriaxon 2 g intra vena/intra muscular selama


14 hari.
Ensefalitis virus
Pengobatan simptomatis:
o Analgetik dan antipiretik: Asam mefenamat 4 x
500 mg
o Anticonvulsi : Phenitoin 50 mg/ml intravena 2 x
sehari.
Pengobatan antivirus diberikan pada ensefalitis
virus dengan penyebab herpes zoster-varicella:
o Asiclovir 10 mg/kgBB intra vena 3 x sehari
selama 10 hari atau 200 mg peroral tiap 4 jam
selama 10 hari.
Ensefalitis karena parasit
Malaria serebral
Kinin 10 mg/KgBB dalam infuse selama 4 jam,
setiap 8 jam hingga tampak perbaikan.
Toxoplasmosis
Sulfadiasin 100 mg/KgBB per oral selama 1
bulan
Pirimetasin 1 mg/KgBB per oral selama 1 bulan
Spiramisin 3 x 500 mg/hari
Amebiasis
Rifampicin 8 mg/KgBB/hari.
Ensefalitis karena fungus
Amfoterisin 0,1- 0,25 g/KgBB/hari intravena 2
hari sekali minimal 6 minggu
Mikonazol 30 mg/KgBB intra vena selama 6
minggu.
Riketsiosis serebri
Cloramphenicol 4 x 1 g intra vena selama 10
hari
Tetrasiklin 4x 500 mg per oral selama 10 hari.
Mengurangi meningkatnya tekanan intracranial,
management edema otak :
Mempertahankan hidrasi, monitor balance cairan :
jenis dan jumlah cairan yang diberikan tergantung
keadaan anak.
Glukosa 20%, 10ml intravena beberapa kali sehari
disuntikkan.
Kortikosteroid intramuscular atau intravena dapat
juga digunakan untuk menghilangkan edema otak

RENCANA KEPERAWATAN
No
.
1

Diagnosa

NOC

Bersihan jalan
nafas tidak efektif
b.d sekresi
trakheobronkhial
yang sangat
banyak.

Airway Patency/Kepatenan jalan


nafas
Kriteria :
1.
Panas tidak ada :
1
2.
Cemas tidak ada :
1
3.
Obstruksi tidak
ada : 1
4.
RR dalam batas
normal : 1
5.
Irama pernafasan
dalam batas normal : 1
6.
Pengeluaran
sputum dari jalan nafas : 1

Definisi :
ketidakmampuan
untuk
membersihkan
sekresi atau
obstruksi dari
saluran
pernafasan untuk
mempertahankan
kebersihan jalan
nafas

Keterangan :
1 : Extremely compromised
2 : Substantially compromised
3 : Moderately compromised
4 : Mildly compromised
5 : Not compromised

NIC
Airway Management/Manajemen jalan nafas
1.
Buka jalan nafas, menggunakan teknik chin lift/jaw trust (jika perlu)
2.
Posisikan klien untuk memaksimalkan ventilasi
3.
Identifikasi apakah klien membutuhkan insertion airway
4.
Jika perlu, lakukan terapi fisik (dada)
5.
Auskultasi suara nafas, catat daerah yang terjadi penurunan atau tidak
adanya ventilasi
6.
Berikan bronkhodilator, jika perlu
7.
Ajari klien bagaimana cara menggunakan inhaler
8.
Atur pemberian pengobatan aerosol, jika perlu
9.
Atur pengobatan dengan menggunakan nebulizer, jika perlu
10.
Atur pemberian O2, jika perlu
11.
Atur intake cairan agar seimbang
12.
Atur posisi untuk mengurangi dyspnea
13.
Monitor status pernafasan dan oksigenasi
Airway Suctioning/Suction jalan nafas
1.
Keluarkan sekret dengan dorongan batuk/suctioning
2.
Lakukan suction pada endotrakhel/nasotrakhel, jika perlu
Cough Enhancement/Manajemen batuk
1.
Monitor hasil dari tes fungsi paru, kapasitas vital secara teratur, maksimal
inspirasi dan ekspirasi paru
2.
Dorong/anjurkan nafas dalam dan panjang serta batuk
3.
Ajarkan cara batuk efektif

No
.

Diagnosa

NOC

NIC
4.

Intoleransi aktivitas
b.d kelemahan,
perubahan status
nutrisi, demam

Definisi :
Ketidakcukupan
energi secara
fisiologis maupun
psikologis untuk
meneruskan atau
menyelesaikan
aktivitas yang
diminta atau
aktivitas seharihari

Activity Tolerance/ Toleransi Aktivitas.


Kriteria :
1.
Saturasi oksigen dalam batas
normal (dbn) selama berespon
terhadap aktivitas : 1
2.
HR, RR, BP dbn selama
aktivitas : 1
3.
EKG dbn : 1
4.
Warna kulit dbn : 1
5.
Kekuatan dbn : 1
6.
Peningkatan toleransi : 1
7.
Berjalan : 1
8.
Pemenuhan ADL : 1
9.
Kemampuan mengungkapkan
perasaan selama latihan : 1
Keterangan :
1 : Extremely compromised
2 : Substantially compromised
3 : Moderately compromised
4 : Mildly compromised
5 : Not compromised
Energy Concervation/ Konservasi
Energi.
Kriteria :
1.
Keseimbangan aktivitas dan

Anjurkan menggunakan spirometri intensive dengan benar

Activity Therapy/Terapi Aktivitas


1.
Tentukan perjanjian untuk meningkatkan frekuensi/rentang aktivitas
2.
Motivasi untuk melakukan aktivitas yang diselingi periode istirahat
3.
Motivasi klien dan bantu untuk melakukan latihan dengan periode waktu
yang ditingkatkan secara bertahap
Energy Management/Manajemen Energi
1.
Monitor intake nutrisi untuk memastikan sumber energi adekuat
2.
Tawarkan diit tinggi kalori, tinggi protein
3.
Beri suplemen vitamin (A, B kompleks, C dan K)
4.
Tentukan periode istirahat dan aktivitas

No
.

Diagnosa

NOC

NIC

istirahat : 5
Tidur siang : 5
Melakukan pembatasan energi :
5
4.
Penggunaan teknik konservasi
energi : 5
5.
Adaptasi terhadap pola tingkat
energi : 5
6.
Nutrisi adekuat : 5
7.
Mempertahankan tingkat
aktivitas adekuat : 5
Keterangan :
1 : Not at all
2 : To a slight extent
3 : To a moderate extent
4 : To a great extent
5 : To a very great extent
2.
3.

Manajemen
regimen
terapeutik tidak
efektif b.d pola
perawatan
kesehatan
keluarga, defisit
pengetahuan,
ketidakberdayaan
, kesulitan

Pemenuhan kebiasaan manajemen


terapeutik yang efektif
Kriteria :
1.
Percaya pada informasi
tentang kesehatan : 5
2.
Meminta aturan pengobatan :
5
3.
Dilaporkan mengikuti aturan
pengobatan : 5
4.
Menerima diagnosa

Behaviour Modification/Modifikasi Kebiasaan


1.
Pastikan motivasi/keinginan klien untuk berubah
2.
Bantu klien untuk mengidentifikasi kekuatan dan beri reinforcement positif
3.
Kenalkan klien kepada orang-orang/kelompok yang berhasil mengatasi
masalah yang sama dengan klien
4.
Dukung keputusan klien yang baik berhubungan dengan kebutuhan
kesehatan
5.
Berempati dengan perasaan klien saat klien tampak bebas dari gangguangangguan dan tampak relaks
6.
Hindari penolakan/permusuhan ketika klien melawan/menolak perubahan

No
.

Diagnosa
ekonomi
Definisi :
Pola pengaturan
dan integrasi ke
dalam program
latihan aktivitas
sehari-hari bagi
orang sakit dan
latihan
berkelanjutan
yang
menimbulkan
ketidakpuasan
untuk
menemukan
tujuan kesehatan
spesifik

NOC
kesehatan : 5
5.
Mempunyai/membuat
kesepakatan terhadap pelayanan
kesehatan : 5
6.
Memodifikasi aturan
diarahkan kepada dokter : 5
Keterangan :
5 : Consistenly demonstrated
4 : Often demonstrated
3 : Sometimes demonstrated
2 : Rarely demonstrated
1 : Never demonstrated

NIC
7.
8.
9.
10.

kebiasaan
Tentukan apakah kebiasaan klien perlu untuk ditingkatkan, diturunkan atai
dipelajari lebih lanjut
Tawarkan alternatif-alternatif penyelesaian masalah dan biarkan klien yang
membuat keputusan
Fasilitasi keterlibatan keluarga dalam proses modifikasi kebiasaan/perilaku
Evaluasi perubahan kebiasaan klien berhubungan dengan penyelesaian
masalah kesehatannya

DAFTAR PUSTAKA
Doenges, Marilynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC
Brunner Suddarth. 2000. Buku Saku Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC
Indah P, Elizabeth. 1998. Asuhan Keperawatan: Meningitis. Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Utama
Ngastiyah. 2005. Perawatan Anak Sakit. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC

Dochter, J.McC., Bulechek, G.M., 2014. Nursing Intervention Classification 6th edition.
USA: Mosby.
Moorhead, S., Johnson, M., Maas, M.L., Swanson, E. 2013. Nursing Outcome Classification
5th edition. USA: Mosby.
North American Nursing Diagnosis Association. 2015. Nursing Diagnoses: Definition &
Classification 2015-2017. Philadelphia.
Juwono T, Pemeriksaan Klinik Neurologi dalam Praktek. EGC: Jakarta.