Anda di halaman 1dari 4

Title

: Mimpi

Date

: 17 September 2010

Andre terdiam kaku di tempatnya berdiri. Ia tidak tahu harus berkata apa dan harus
melakukan apa agar Febi, istrinya tidak menangis dan berhenti meneriakinya karena ia sadar kalau
selama ini dia salah dan mengkhianati kepercayaan Febi padanya.
Siapa dia?! jerit Febi sambil mengacungkan foto Andre merangkul seorang perempuan
berambut ikal panjang. Perempuan itu tersenyum manis pada Andre, begitu juga sebaliknya seolah
ada sesuatu diantara mereka.
Febi... kata Andre, gugup. Lidahnya sungguh terasa kaku.
Kenapa ada banyak foto dia bersamamu? Siapa dia? Febi melempar semua foto yang ia
temukan di laci kamarnya ke arah Andre. Ia sungguh kesal. Ia juga merasa sesuatu di dalam hatinya
terasa sakit, sakit sekali. Febi merasa dikhianati, dipermainkan Andre. Dulu ia sulit mempercayai lakilaki karena seseorang yang ia cintai pernah mengkhianatinya dan Andre berusaha susah payah untuk
meyakinkan Febi kalau ia tidak seperti laki-laki yang pernah Febi kenal sebelumnya sampai akhirnya
segala cara yang Andre lakukan berhasil membuat Febi mau menerima lamarannya.
Sekarang Febi percaya sepenuhnya pada Andre. Ia percaya kalau Andre benar-benar
mencintainya, setidaknya lebih baik dari mantan pacarnya dulu. Namun saat ini, detik ini, Febi
merasa tertusuk. Semua kata-kata manis yang pernah keluar dari mulut Andre, semua yang Andre
lakukan padanya terlihat seperti sandiwara baginya. Bagaimana ia bisa berpikir untuk mempercayai
suaminya lagi kalau laki-laki yang berdiri di depannya saat ini diam-diam menduakannya?
Kenapa Mas mempermainkan perasaanku? pelan-pelan, setelah melempar semua foto
yang ditemukannya, Febi jatuh, duduk di lantai. Aku pikir, aku bisa mempercayai Mas. Aku kira Mas
benar-benar mencintaiku. Kenapa Mas membohongiku? Febi mendongak, menatap Andre dengan
matanya yang merah. Wajahnya sudah basah oleh air matanya yang terus mengalir.
Aku tidak bohong. Aku mencintaimu tapi ... aku juga mencintai dia. Dia Liana, teman
kuliahku dulu. Aku... aku bertemu dengannya tiga bulan yang lalu jelas Andre dengan suara gugup.
Ia sengaja tidak bilang maaf, karena ia yakin kata itu tidak akan berguna di saat seperti ini. Pasti akan
sulit memaafkan perselingkuhan yang dilakukannya sejak dua bulan yang lalu itu.
Kamu tega! jerit Febi. Ia berdiri perlahan. Apa dia lebih baik dari aku?
Andre hanya diam. Andre merasa seperti orang bodoh karena tidak bisa berbuat apa-apa di
saat seperti ini. Bahkan untuk menjawab lagi pun ia merasa kesulitan.
Jawab aku!!! teriaknya lagi.
Kita bicarakan lagi setelah kamu tenang. Kita cari solusinya, aku tahu aku salah. Tolong
tenangkan dirimu dulu Andre mendekat, ia mencoba memeluk Febi.

Aku tidak apa-apa kalau kita berpisah. itu lebih baik daripada dibohongi seperti ini Febi
menepis tangan Andre. Aku tidak mau melihatmu lagi ia pergi menuju kamar untuk membereskan
pakaiannya.
Febiiiii!
@.@
Andre terbangun di keesokkan harinya tanpa Febi di sampingnya. Ia menghela nafas dan
membuka pintu kamar perlahan. Biasanya ketika ia bangun, ia akan menjumpai Febi yang tersenyum
padanya saat meletakkan sarapan pagi untukknya. Tapi hari ini, ia harus menyiapkan sarapannya
sendiri. Febi sudah pergi kemarin. Entah ke mana dan entah sampai kapan.
Ia mengambil susu cair dan menuangkannya ke dalam mangkok berisi sereal. Andre
membawanya ke meja makan dan melahapnya perlahan. Mungkin ia kehilangan energinya,
semangatnya, seolah terbawa Febi.
Andre menatap sofa di depan televisi, membayangkan ia dan Febi mengobrol dan tertawa
saat menyaksikan tingkah Mr. Bean. Ia kembali menatap meja makan, dan termenung lagi saat
melihat kursi di depannya kosong. Ada bayang Febi di sana, tersenyum sambil berkata, Aku suka
lihat Mas makannya lahap, dan ia menghela nafas panjang melihat kenyataan bahwa di rumahnya
saat ini tidak ada siapa-siapa selain dirinya.
Besoknya, lusa, hari setelah lusa, besoknya lagi, lagi dan lagi... Andre hanya menutup
matanya. Ia tidak sanggup. Terlalu banyak kenangan yang berkelebatan di otaknya soal Febi. Hal
kecil saja, satu kata saja, benda kecil saja bisa mengingatkan dia pada Febi, pada setiap kata-kata
yang pernah diucapkannya, mimik wajahnya, gerak-geriknya, semuanya. Ia merindukan Febi
sepenuhnya. Ia kehilangan perempuan yang ia raih dengan susah payah karena ketakutan Febi akan
pengkhianatan.
Andre tertunduk. Lagu I Finally Found someone yang menjadi soundtrack perjalanan
cintanya dengan Febi mengalun lembut menemani kesendiriannya saat ini. Wajah Febi kembali
terbayang di kepalanya, ia pasti akan ikut menyanyikan lagu ini sambil menatapnya lembut. Tapi
semuanya itu hancur, kenangan itu meretak, yang tertinggal suara tangis, jeritan Febi juga wajahnya
yang mencerminkan perasaannya dan matanya yang sedih, kecewa.
Sesuatu di dalam dadanya terasa sakit. Perlahan, matanya membasah. Ia sadar, sangat sadar,
sepenuhnya sadar kalau ia telah salah menyianyiakan cinta dan kepercayaan Febi padanya. Mestinya
ia sadar sedari dulu bahwa sebesar apapun cintanya pada Liana, Febilah yang paling banyak mengisi
ruang hatinya. Ia tidak pernah serindu ini, tidak pernah merasa kehilangan seperti ini.
Ia menghubungi semua orang yang mungkin jadi tempat persinggahan Febi. Mertua dan
orang tua Andre khawatir saat ia menghubungi mereka. Mereka yakin pasti ada sesuatu yang terjadi
antara Andre dan Febi. Tapi Andre tidak mau menjelaskannya, ia janji akan menceritakan semuanya
kalau ia dan Febi bisa menemukan solusinya.

Andre juga mencari Febi ke tempat-tempat yang disukai Febi atau tempat-tempat yang
mungkin Febi kunjungi kalau dia ingin menyendiri. Sayangnya, semua usahanya itu nihil. Andre tidak
tahu lagi apa yang harus dilakukannya, yang jelas Febi tidak mau menerima telepon darinya.
Andre mengusap rambutnya dari depan ke belakang, ia melirik teleponnya sekali lagi. Kali ini
ia bukan menghubungi orang-orang yang sudah dihubunginya tadi, bukan juga mertua maupun
orang tuanya dan menyerah lalu menceritakan semuanya pada mereka tapi nomor Liana.
Selama nada sambung terdengar di telinganya, Andre merancang-rancang kalimat untuk
Liana. Sel-sel otaknya sampai seolah berputar-putar mencari kata-kata yang pantas dan logis,
menengok setiap ruang kosa kata di otaknya sampai sel-sel itu jadi kusut seperti benang.
Halo terdengar suara Liana. Ada apa, Ndre? katanya lagi. Andre bisa merasakan kalau
saat Liana menyapanya tadi, ia tersenyum.
Liana, kata Andre, pelan. Ia berusaha mengurai sel otaknya yang kusut.
Ya? ia menunggu.
Aku mencintai kamu. Aku gak bisa melanjutkan ini. Aku gak bisa menyakiti dia lagi. Kamu
boleh benci aku
Ndre?... Kamu bicara apa, sih? suaranya terdengar khawatir. Ia juga seolah tak percaya
dan tak mau berpikir ke mana arah pembicaraan Andre.
Aku gak sanggup kehilangan Febi. Bagaimanapun juga dia istriku. Aku gak bisa menyakiti dia
lebih dari ini. Aku sungguh minta maaf karena mempermainkan perasaanmu juga. Tapi sungguh, aku
tidak akan sanggup kalau kita tetap seperti ini. Aku mencintai Febi. Jauh lebih besar daripada kamu.
Aku minta maaf Andre mengusap wajahnya.
Ndre, kalau kamu memang masih mencintai dia, lalu kenapa ....
Andre langsung memutuskan teleponnya. Ia tidak peduli kalau Liana marah padanya atau
bahkan membencinya. Andre hanya harus membuat keputusan dan tegas mengambil satu pilihan,
Febi atau Liana.
@.@
Andre terbangun dari tidurnya dengan terburu-buru. Ia hampir saja jatuh dari sofa. Ia segera
berlari sambil memanggil-manggil Febi, mencari Febi ke seluruh ruangan.
Apa? seru Febi dari kamar.
Setelah mendengar suaranya, Andre langsung menuju kamar. Dilihatnya Febi sedang
merapikan buku-buku di atas meja kerja Andre. Ia menghampiri Febi dan memeluknya erat.
Febi menatap suaminya, bingung. Sungguh aneh, kenapa tiba-tiba Andre memeluknya
seperti ini. Ia juga mengusap rambut Febi dan menciumi kening dan pipi Febi.
Mas, kenapa? Kok tiba-tiba...

I love you bisiknya. Aku gak mau kehilangan kamu katanya lagi.
Pipi Febi bersemu merah. Ya, tapi ada apa? Febi melepaskan diri dari pelukan Andre. Mas
mimpi buruk? Febi menyentuh kedua pipi Andre. Wajah suaminya itu terlihat seperti orang bingung.
Febi kata Andre, sedikit terburu-buru. Kamu percaya aku, kan?
Kedua alis Febi terangkat.
Aku gak selingkuh,
Febi menatap Andre antara tak mengerti dan khawatir Andre akan mengatakan kalau selama
ini dia selingkuh.
dan gak akan pernah selingkuh lanjut Andre.
Mimpi, ya? tanya Febi ragu.
Andre mengangguk. Aku mimpi selingkuh lalu ketahuan sama kamu. Kamu menangis dan
meneriaki aku. Kamu pergi ninggalin aku di sini, sendirian. Benar-benar seperti nyata. Aku bisa
merasakan sakit kehilangan kamu juga rindu, Andre meraih tangan Febi dan menyimpannya di
dadanya. di sini sakit
Mimpi ketahuan selingkuh? tanyanya. Bukankah itu aneh? Febi malah menangkap
kemungkinan lain dari maksud kalimat itu. Mungkin saja Andre benar-benar selingkuh dan dalam
mimpinya Febi mengetahui perselingkuhan Andre selama ini.
Aku gak selingkuh jawab Andre spontan. Ia bisa membaca maksud pertanyaan Febi. dan
gak akan pernah selingkuh ulangnya lagi.
Bangun, bangun! kata Febi. Aku masih di sini. Aku percaya Mas, kok. Tapi janji ya, jangan
sampai selingkuh seperti di dalam mimpi Febi tersenyum.
Andre menggaruk kepalanya. Ia jadi malu. Mimpi itu sangat terasa nyata baginya sampaisampai ia terbawa suasana sedih, penuh rasa bersalah dan takut kehilangan. Makanya ia langsung
mencari Febi. Ia ingin bilang pada istrinya kalau ia sangat mencintainya dan tidak mau kehilangan
Febi seperti yang dialaminya di dalam mimpi. Andre juga tidak akan menyianyiakan Febi. Ia mesti
bersyukur bisa mendapatkan Febi, perempuan yang akhirnya memilih menerimanya dan mau
mempercayainya sebagai laki-laki pendamping hidupnya.
Aku tidak punya alasan logis untuk mencari yang lain. Bagiku Febi sudah cukup.
@.@