Anda di halaman 1dari 4



Cerita Pendek

Sebuah Tanya yang Tak


Pernah Berjawab

Sungguh tidak mudah untuk


mencari tahu. Maksudku
untuk mencari sebuah jawab.
Walaupun aku telah
mengorbankan sebagian harga
diriku. Aku harus kehilangan
urat malu. Aku harus
mencoret entri M-A-L-U dari
kosa kataku. Tapi sebegitu jauh
pengembaraanku, sebegitu
lama dan dalam pencarianku,
belum juga kudapatkan jawab
itu.

CERPEN: DHEWIDJA
e-mail: hendrawid04@yahoo.com

CerPen

Mungkin kau bertanya-tanya dan heran dengan


sikapku ini. Seberapa beratkah pertanyaan itu? atau
malahan kau berpikir aku sudah gila?. Sekali lagi
kukatakan, aku sudah tidak punya lagi urat malu.
Maka apapun yang kau pikirkan, kau nilai atau kau
perlakukan, aku tidak akan peduli. Sia-sia saja kau
mempersoalkannya.
Dalam pengembaraanku, aku bertanya kepada
siapa pun. Dimana pun. Tidak jarang aku kehilangan
akal sehat. Kegelapan malam. Rinai hujan. Angin
badai. Semuanya kulewati begitu saja. Dan di alinea
terakhir kesimpulanku, kutulis dengan huruf tebaltebal: Mereka tidak tahu. Titik.
Kuikuti semua milis. Kujelajahi semua website. Di
setiap search engine, kuketik kata kunci, lalu ku-klik
tombol search. Di akhir pencarian hanya muncul
sebaris kata: not found. Kecewa.
La n tas k um as uk i g e du n g pe r p us t ak aa n
terlengkap. Kutenggelamkan diriku dalam timbunan
textbook dan buku-buku berdebu. Kucari jawab
diantara helai-helai kertas yang menguning. Kuamati
tiap huruf yang membentuk kata. Dari karakter latin,
kanji sampai arab. Kuteliti kata yang merangkai
kalimat. Yang kudapati hanya ruang putih di samping
titik alinea terakhir. Kosong.
Bosan mencari, kupakai pendekatan ilmiah
layaknya seorang ilmuwan. Kubuat persamaan
matematika berpangkat sekian. Aku input data ke
dalam notebook Pentium IV-ku. Dalam satu kerdipan
mata, muncul kotak biru berlabel syntax error.
Kumatikan komputerku.
Sebelum benar-benar bosan, kugabungkan saja
semua teori. Dari filsafat jawa sampai teologi,
ekonomi, biologi, politik, psikologi sampai teori
relativitas Einstein. Malahan muncul teori baru.
Mungkin saja aku dianugerahi hadiah Nobel karena
penemuanku itu. Sayangnya, bukan itu tujuanku.
Agaknya
dewi
fortuna
sedang
enggan
menghampiriku. Dalam keputusasaan, aku berteriak,
mencaci, menggugat. Entah kepada siapa. Apakah
semua jawab sudah dimonopoli sehingga mereka
tuli? teriakku nyaring. Tidak ada pembelaan. Hanya
Keheningan.
Lelah menggugat, aku merenung sendiri di teras
perpustakaan. Tidak ubahnya seorang gila. Angin
tiba-tiba berhembus kencang. Memaksa tulang
leherku memutar ke arah sebatang pohon pinus di

LuPis-Kumpulan Pengetahuan Praktis


www.dhewidja.multiply.com


tengah taman. Pohon itu tegak sendirian. Menjadi
yang tertinggi. Sekelilingnya perdu dan semak
merimbun. Mungkin pohon itu juga sedang
mempertanyakan keberadaannya. Mengapa hanya
kesendirian yang menemaninya menantang angin,
menyongsong petir?.
Tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara kicauan
burung. Terdengar riuh bersahutan. Kutengadahkan
kepala ke langit dan tampak sekawanan burung yang
sedang beterbangan. Langit menghitam dibuatnya.
Aku tidak tahu nama burung itu. Mestikah mereka
bernama? pikirku. Aku menangkap ada kebebasan.
Entah mengapa, kemudian aku merasa begitu iri
pada mereka. Aku memimpikan bisa terbang seperti
mereka. Untuk mencari jawab di atas hamparan
bumi. Dengan pandangan mata elang.
Pergulatan batinku sejenak terhenti. Tersadar,
khayalanku sudah terlampau jauh. Tiba-tiba saja
sebaris kalimat bijak melintas di depan mataku.
Berjalan seperti running text yang biasa kulihat di tivi:
Segala sesuatu di muka bumi ini ada masanya.
Maka biarkan ia datang dengan sendirinya. Ia tidak
dapat kau undang apalagi kau paksa datang. Ia akan
datang sebagai tamu tak diundang. Kapan saja
sesukanya. Maka tunggulah karena ia pasti datang.
Aku menghela nafas panjang. Lantas otot-otot
tubuhku
melemas.
Perlahan-lahan
terlelap.
Bersandar di tiang beton teras perpustakaan.


Wanita itu. Sosok yang biasa kau jumpai di


keseharianmu. Ia sama persis dengan nenekmu,
ibumu, bibimu atau saudara perempuanmu. Tidak
ada yang berbeda. Tetapi tidak bagiku, ia berbeda.
Wanita itu telah menjadi sisi kelam sejarah hidupku.
Yang membuatku kehilangan urat malu. Yang
memaksaku menghapus satu kosa kataku. Yang
keserba-biasaannya telah membawaku ke dalam
pengembaraan tidak berujung. Hingga jiwaku lelah.
Wanita itu sama sekali tidak istimewa. Kau salah
besar bila membayangkannya sebagai sosok yang
cantik, berkulit putih mulus, tinggi semampai, tutur
kata halus dan sederet atribut cantik lainnya. Semua
itu tidak akan kau dapati padanya. Wanita itu adalah
pembantu rumah tangga di keluargaku. Ya, ia yang
setiap harinya harus bangun pagi, menyiapkan
sarapan pagi untuk majikannya, mencuci hingga
mengepel. Persis sama dengan tugas pembantu
rumah tanggamu.
Di mataku, wanita itu sudah berubah wujud
menjadi tanya yang tidak berjawab. Padahal sebagai

CerPen

general manager, tidak jadi soal bagiku untuk


meredam tuntutan kenaikan upah dari dua ribu orang
karyawanku. Tetapi menghadapi wanita itu, rasioku
mendadak tumpul.
Mengapa aku harus bersusah-susah karena
wanita itu? Bukankah ia ada dibawah kendaliku dan
aku bisa memecatnya kapan saja?. Tunggu dulu.
Karena aku sudah terperosok ke dalam lubang
kelaminnya. Anehnya, itu terjadi berulang kali. Bila
kau belum mengerti maksudku, aku berselingkuh
dengan wanita itu. Pembantu rumah tanggaku. Yang
kukatakan serba biasa itu.
Mungkin kau pikir, wajar saja bila aku terperosok
bahkan berkali-kali. Karena aku mendapatkan surga
dunia yang tidak kudapatkan dari istriku?.
Kutegaskan padamu: tidak!. Setiap kali aku
menggauli wanita itu, di kamarnya yang sempit, ia
cuma memuaskan keinginanku. Lain itu tidak.
Sungguh, wanita itu cuma memuaskan sebagian
saja dari kebutuhanku. Malahan istriku yang bisa
memuaskan
semuanya.
Kuharap
kau
bisa
membedakan antara keinginan dan kebutuhan.
Wanita itu cenderung dingin. Kalau begitu, mengapa
aku harus terperosok berkali-kali?.
Hingga aku berbaring lagi bersama wanita itu.
Untuk kali kesekian. Belum juga kutemukan
jawabnya. Mungkin karma itu, bahwa lelaki akan
terperosok setidaknya sekali dalam hidupnya,
sedang menimpaku?.
Pak, kok diam saja?. Aku sendiri heran
mengapa saat itu cuma membisu. Berbeda dari
biasanya. Jadi kudiamkan saja.
Wanita
itu
memiringkan
tubuhnya
dan
melingkarkan tangannya di atas dadaku. Sama
sekali tidak ada kecanggungan. Aku dan dia
berbaring di atas dipan beralas kasur tipis. Di
kamarnya yang sempit. Sehelai selimut menutupi
sebagian tubuh yang bertelanjang. Jarinya yang
tidak lentik mulai menari-nari di atas kulitku. Ia
paham bagaimana memperlakukanku karena ia
sudah kuajari. Kali ini usahanya tidak berhasil.
Bapak cape?. Aku masih terdiam. Ya, aku lelah.
Saat ini pikiranku sedang tersesat di
pengembaraannya karena kelelahan. Aku pun
kehilangan kata-kata, walau sekedar untuk
mengiyakan.
Pak ..?!.
Ehm ...?
Kupaksakan untuk menjawab. Energiku sudah
habis untuk mencari pikiranku yang tersesat. Wanita
itu pun tertidur. Jari-jarinya ikut rebah, turun naik

LuPis-Kumpulan Pengetahuan Praktis


www.dhewidja.multiply.com


mengikuti irama nafasku. Kuperhatikan wajahnya
lekat-lekat. Sangat biasa. Tetapi ada misteri dalam
dirinya yang telah membuatku terperosok.


Tahun ini, genap sepuluh tahun bahtera rumah


tanggaku
mengarungi
samudera
kehidupan.
Sepanjang pelayaranku, tidak pernah sekalipun
kualami hempasan gelombang. Hanya riak-riak kecil.
Sejak jangkar diangkat dan bahteraku perlahan
meninggalkan pantai, Aku bertekad untuk menjadi
suami dan ayah yang baik. Malam kali pertama
mengarungi samudera kehidupan, menjadi ujian
terberatku.
Sayang, apa yang kau minta?
Panggil aku mama!
Aku bangga berhasil melaksanakan tugasku
dengan baik. Menjadi nakhoda bahtera itu.
Membawa istriku ke puncak impiannya. Puncak
impianku juga.
Terima kasih, pa ujar istriku mesra.
Di malam-malam berikutnya, kunakhodai bahtera
itu dengan fantasiku. Kujelajahi selat, kukitari teluk,
meliuk diantara batu karang, sebelum berlabuh di
pantai. Kubiarkan istriku meninggalkan jejak kaki di
hamparan pasir, mendaki tebing, bersembunyi
diantara pepohonan, lalu mengejar kupu-kupu yang
terbang ke puncak bukit. Aku ikut mengejar kupukupu itu hingga ke puncak. Di suatu kedalaman yang
gelap dan basah, kutaburkan benih. Dan istriku akan
membiarkan benih itu berakar dan bertunas dalam
rahimnya.
Di tahun yang kesepuluh ini, benih itu telah
menjelma menjadi dua orang bocah lucu. Fantasiku
tidak pernah kering. Agak sedikit liar sekarang.
Istriku menikmatinya dan selalu merindukannya.
Pa, kita perlu punya pembantu
Setuju!
Wanita itu. Ia kemudian ikut berlayar dalam
bahteraku. Istriku yang memintanya. Menurutnya,
wanita itu baik, rajin dan jujur. Aku mengamini saja.
Sudah tiga bulan istriku sibuk dengan
pekerjaannya. Malam itu istriku harus pulang larut
malam lagi. Banyak rapat katanya. Anak-anakku
sudah tidur dan wanita itu pun sudah terbaring di
kamarnya. Aku seperti biasanya, tenggelam dalam
koran di sofa ruang tamu. Mengundang kantuk.
Tetapi malam itu berubah dari biasanya. Menjadi
malam jahanam. Aku sama sekali tidak ingat urutan
kejadiannya. Saat terbangun di tengah malam, aku
sudah bertelanjang tubuh di sofa ruang tamu. Dan
wanita itu tertidur di sampingku. Juga bertelanjang
tubuh. Aku telah mengkhianati istriku sekaligus

CerPen

memerawani wanita itu. Bercak-bercak air mani di


tubuh wanita itu mengering, tertinggal menjadi jejak.
Malam jahanam itu seolah berkloning. Membelah
dirinya menjadi sama persis. Setiap kali terbangun di
tengah malam, diriku sudah bertelanjang dan wanita
itu tertidur di sampingku. Juga bertelanjang. Di atas
kasur tipis di kamarnya yang sempit. Berjejak
bercak-bercak yang mengering.
Istriku tidak menaruh curiga sama sekali. Ia masih
mengharapkan fantasiku. Dengan halus, beberapa
kali kutolak ajakannya. Mama istirahat saja kataku
penuh perhatian. Sesungguhnya, air maniku sudah
kering. Tertinggal menjadi jejak di tubuh wanita itu.
Untuk menutupi perbuatanku, aku harus berperan
sebagai majikan yang berwibawa. Di depan istri dan
anak-anakku, tidak jarang kumarahi wanita itu
dengan kata-kata kasar. Tetapi itu tidak lebih dari
sandi rahasia untuk malam jahanam. Wanita itu
sudah paham.
Pernah juga wanita itu menuntut pertanggungjawabanku. Kuiyakan saja. Aku akan merasa lega
bila ia mengabari dirinya masih didatangi tamu tetap
bulannya. Artinya aku masih bebas dari tuntutannya.
Malam itu, sang jahanam seolah berhenti
membelah diri. Aku tetap terjaga. Gairahku meriak.
Wanita itu sudah tertidur di sampingku karena
kuabaikan. Di tubuhnya tidak berjejak. Aku sedang
menggali jawab dari tubuhnya.
Kuperhatikan wajahnya. Dari rambut, mata,
hidung, bibir hingga dagunya. Cuma sekumpulan
garis lurus yang kudapat. Sama sekali tidak
mengandung makna.
Aku bangkit dari ranjang. Kubiarkan tubuhku yang
bertelanjang. Kuamati lekuk tubuh wanita itu yang
sengaja kubiarkan terbuka. Lantas kubayangkan
sebagai simbol. Terlalu rumit gambaran yang
kudapat.
Kuhampiri cermin. Kuamati wajah dan lekuk
tubuhku sendiri. Sulit untuk objektif menilai diriku
sendiri. Aku menyeringai, betapa bodohnya diriku.
Sejak malam jahanam yang tidak berjejak itu, aku
tidak pernah menggaulinya lagi. Sebulan kemudian,
wanita itu mengundurkan diri. Rindu orang tua
katanya memberikan alasan. Istriku sedikit terkejut
dan berusaha menyelidiki. Wanita itu bersikukuh
rindu orang tua. Dia pun pergi. Biasa saja.


Matahari sedang panas-panasnya membakar


bumi. Tetapi aku tidak merasakan panas sama
sekali. Panasnya teredam oleh tembok dinding
kusam yang mengitariku. Aku mendapati diriku
sedang duduk di atas dipan beralas kasur tipis.

LuPis-Kumpulan Pengetahuan Praktis


www.dhewidja.multiply.com


Bukan di kamar wanita itu. Aku berada di rumah sakit
jiwa. Dibawa mantan istriku. Pengadilan agama
sudah mengabulkan gugatan cerainya.
Mataku lurus menatap jendela berterali besi.
Dalam halusinasiku, celah-celah terali besi itu
seakan hidup menjadi cuplikan-cuplikan cerita tanpa
suara. Ada perahu, laut, pantai, bukit, jejak dan...
wanita itu. Aku berteriak memanggilnya, hendak
meminta jawab. Tetapi wanita memudar lalu hilang
berganti tembok kusam berlumut.
Entah bagaimana caranya aku bisa keluar dari
kamar berterali besi itu. Kini tubuhku kumal dan
rambutku gimbal. Tidak ada lagi tempat bagi debu
untuk menempel di tubuhku.
Sudah seharian aku belum makan. Cacing-cacing
di perutku sudah menabuh genderang protes,
meminta perhatianku. Aku sedang menunggu remahremah nasi di depan sebuah kedai. Untuk
menenangkan mereka.
Aku berjalan mengikuti naluriku. Aku tidak tahu
apakah orang gila masih punya naluri. Sekarang aku
sudah berada di puncak bukit. Menjadi yang

tertinggi. Bahkan dari kanopi pohon pinus itu. Aku


tegak menantang angin, menyongsong petir.
Sendirian. Di tepi jurang yang menganga.
Tiba-tiba angin kencang menerpa tubuhku yang
ringkih. Tubuhku melayang di ketinggian. Aku
merasa menjadi burung. Yang pernah membuatku iri.
Aku mengepakkan tangan, meluncur dan berguling.
Kupandangi hamparan muka bumi dengan
pandangan mata elang. Mencari jawab.
Aku terus meluncur. Bebatuan di dasar jurang
kemudian menghentikanku. Merenggut
kebebasanku. Tetapi Aku tidak merasakan sakit
walaupun tubuhku berlumuran darah.
Aku tersenyum. Tidak ada lagi tanya. Tidak ada
lagi jawab. Kuhela nafas dalam-dalam lalu
k uhem bus k a n un tuk yan g t er ak h ir k a l in ya .
Meninggalkan tanya yang tetap tidak berjawab.
Jasadku teronggok di sela bebatuan. Membusuk.
Angin menerbangkan aroma busuk bersama tanya
itu. Suatu masa, tanya itu akan hinggap. Entah pada
siapa. Yang pasti bukan aku. Mencari pasangan
sejatinya: JAWAB 
Samarinda, Desember 2005

CerPen

LuPis-Kumpulan Pengetahuan Praktis


www.dhewidja.multiply.com