Anda di halaman 1dari 12

BUDAYA NUSANTARA PADA MASA KEHAMILAN

Budaya Nusantara Pada Masa Kehamilan


Disusun Guna Melengkapi Tugas Mata Kuliah
Ilmu Sosial Budaya
DOSEN PENGAMPU: SIGIT PRASOJO

DISUSUN OLEH KELOMPOK 4:


1.
Eka Sofiana
(12.1128.B)
2.
Haryani Apriyani
(12.1146.B)
3.
Irma Oktaviyanti
(12.1155.B)
4.
Nailin Nadhiyah
(12.1171.B)
5.
Nurul Iqomah
(12.1178.B)
6.
Sri Ranti
(12.1202.B)

PRODI DIII KEBIDANAN


STIKES MUHAMMADIYAH PEKAJANGAN PEKALONGAN
TAHUN AJARAN 20122013

KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas karunia, hidayah dan
nikmatnya hingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
Sosial Budaya Pada Masa Kehamilan dengan sebaik baiknya.
Atas terwujudnya makalah ini kami mengucapkan terimakasih
kepada semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan
makalah ini. Ucapan terimakasih kami sampaikan kepada:
1.

Orang tua yang sudah mensekolahkan kami sampai jenjang yang


sekarang ini.

2.

Bapak Sigit Prasojo selaku dosen pengampu.

3.

Rekan-rekan yang mendukung terwujudnya makalah ini.

Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas


yang diberikan oleh dosen pengampu matakuliah Ilmu Sosial Budaya
Saya berharap, dengan membaca makalah ini dapat memberi
manfaat bagi kita semua, semoga hal ini dapat menambah wawasan kita
mengenai aspek sosial budaya yang berkaitan dengan kehamilan dan,
bagaimana menanggapi budaya-budaya yang berkembang di masyarakat.
Kami sadar makalah ini masih jauh dari sempurna, maka dari itu
kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi perbaikan
menuju arah yang lebih baik.
Demikan makalah ini, semoga dapat bermanfaat bagi yang
membacanya, supaya dapat menambah wawasan dan pengetahuan
tentang bab ini. Amin.
Pekalongan, 18
Oktober 2012

Tim Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Membicarakan kehamilan dan seluk beluknya selalu membuat
penasaran. Selalu saja ada yang menarik, unik dan indah didalamnya.
Apalagi bila berkaitan dengan kearifan tradisi budaya Nusantara. Dimana
didalamnya terkandung nilai - nilai adat istiadat lokal yang mempunyai
kekayaan tradisional yang merupakan warisan leluhur turun - temurun.
Banyak nilai positif tertuang didalamnya. Dari sana pula kemajuan ilmu
pengetahuan digali pada mulanya.
Mengenai berbagai pantangan, hubungan sebab- akibat antara
makanan dan kondisi sehat-sakit, kebiasaan dan ketidaktahuan, seringkali
membawa dampak baik positif maupun negatif terhadap kesehatan ibu
dan anak.
Menjadi seorang bidan bukanlah hal yang mudah. Seorang bidan
harus siap fisik maupun mental, karena tugas seorang bidan sangatlah
berat. Bidan yang siap mengabdi di kawasan pedesaan mempunyai
tantangan yang besar dalam mengubah pola kehidupan masyarakat yang
mempunyai dampak negatif tehadap kesehatan masyarakat. Tidak mudah
mengubah pola pikir ataupun sosial budaya masyarakat. Apalagi masalah

proses persalinan yang umum masih banyak menggunakan dukun


beranak.
Bagi seorang ibu hamil yang terjebak didalam lingkungan yang
menganut budaya-budaya tradisional dalam mayarakat psti akan penuh
tanda tanya, harus mengikuti atau mengabaikannya saja. Perlu penjelasan
yang tepat mengenai budaya-budaya tradisonal dalam masyarakat
khususnya dalam dunia kehamilan. Karena jika hanya mengikuti budaya
yang tidak ada dasar alasan yang jelas, bisa membahayakan jiwa ibu dan
anak. Karena itu makalah ini dibuat untuk menjelasakan budaya-budaya
masyarakat khususnya dalam dunia kehamilan dan bagaimana kita harus
menanggapinya.

1.
2.
3.
4.

Tujuan Makalah
Mengetahui budaya nusantara yang berkaitan dengan kehamilan
Mengetahui pengaruh sosial budaya tersebut terhadap kesehatan
Mengetahui tujuan budaya tersebut bagi keluarga
Memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar

Rumusan Masalah
1.
Apa saja budaya nusantara yang berkaitan dengan kehamilan?
2.
Apa pengaruh budaya tersebut terhadap kesehatan?
3.
Apa tujuan budaya tersebut bagi keluarga?
Manfaat Makalah
Manfaat dari makalah ini adalah kita dapat mengetahui budaya seperti
apa saja yang berkembang dalam masyarakat berkenaan dengan masa
kehamilan. Setelah mengetahuinya kita dapat merenungkan dan
mengambil tindakan dalam menanggapi budaya tersebut.

BAB II
PEMBAHASAN

Perawatan kehamilan merupakan salah satu faktor yang amat perlu


diperhatikan untuk mencegah terjadinya komplikasi dan kematian ketika
persalinan, disamping itu juga untuk menjaga pertumbuhan dan
kesehatan janin. Memahami perilaku perawatan kehamilan (ante natal
care) adalah penting untuk mengetahui dampak kesehatan bayi dan si ibu
sendiri.
Fakta di berbagai kalangan masyarakat di Indonesia, masih banyak
ibu-ibu yang menganggap kehamilan sebagai hal yang biasa, alamiah dan
kodrati. Mereka merasa tidak perlu memeriksakan dirinya secara rutin ke
bidan ataupun dokter. Masih banyaknya ibu-ibu yang kurang menyadari
pentingnya pemeriksaan kehamilan ke bidan menyebabkan tidak
terdeteksinya faktor-faktor resiko tinggi yang mungkin dialami oleh
mereka. Resiko ini baru diketahui pada saat persalinan yang sering kali
karena kasusnya sudah terlambat dapat membawa akibat fatal yaitu
kematian.
Hal ini kemungkinan disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan
dan kurangnya informasi. Selain dari kurangnya pengetahuan akan
pentingnya perawatan kehamilan, permasalahan-permasalahan pada
kehamilan dan persalinan dipengaruhi juga oleh faktor nikah pada usia
muda yang masih banyak dijumpai di daerah pedesaan. Disamping itu,
dengan masih adanya preferensi terhadap jenis kelamin anak khususnya
pada beberapa suku, yang menyebabkan istri mengalami kehamilan yang
berturut-turut dalam jangka waktu yang relatif pendek, menyebabkan ibu
mempunyai resiko tinggi saat melahirkan.
Di Indonesia yang termasuk negara heterogen terdiri dari macammacam etnik, macam-macam suku, termasuk macam-macam budaya
yang dilestarikan ditempatnya masing-masing, suatu budaya pasti ada
yang positif dan ada yang negatif. Kita tidak bisa menghindari budaya
tersebut karena kita hidup dalam masyarakat yang berbeda pemikiran
antara individu satu dengan yang lainnya untuk menjaga keharmonisan
bermasyarakat kita tidak boleh menghindari bahkan menghujat budaya
yang berkambang itu. Dalam makalah ini kita akan lebih membahas
tentang budaya-budaya yang berkembang pada masa kehamilan. Kita
kenali dahulu budaya-budaya seperti apa yang sering muncul
dimasyarakat.
Budaya-Budaya Nusantara
Upacara satu bulanan
Upacara ini sudah semakin jarang ditemukan, apalagi bagi yang tinggal di
kota besar. Dalam upacara satu bulanan ini diperingati dengan membuat
semacam bubur sum - sum. Bubur ini terbuat dari bahan beras dan di
tepung. Selanjutnya dimasak dengan air . Sebagai pelengkap diberi kuah
dua warna, yakni dari santan kelapa yang diberi sedikit garam dan satu
lagi kuah warna merah yang terbuat dari gula jawa atau gula aren.

Hidangan ini sebagai pertanda awal kehamilan. Biasanya dibagikan


kepada tetangga kiri kanan dengan permohonan doa agar diberi
kemudahan dan kelancaran dalam memulai kehamilan..
Dari pandangan kebidanan: Bubur ini sangat baik untuk ibu hamil
awal, terlebih bila ada keluhan mual muntah, makanan lunak dengan
kandungan manis dari gula asli akan memberi asupan kalori dan
mempermudah pencernaan terutama saat ibu hamil enggan menikmati
berbagai macam jenis makanan beraroma tajam. Bubur dari bahan katul
yang diproses secara tradisional sangat kaya akan vitamin B1 yang
dibutuhkan ibu hamil. Makan bubur ini bersama dengan para tetangga
juga memberi dukungan psikologis bahwa semua orang terlibat
memperhatikan dan terlebih dukungan spiritual.
Upacara dua bulanan
Pada saat peringatan usia hamil dua bulan, ibu hamil akan dibuatkan
beberapa jenis sajian yang lebih komplit. Yakni nasi tumpeng, urap - urap
lengkap dari sayur mayur segar. Ada beberapa aturan mengenai jenis
sayuran yang dipilih dan jumlah macamnya setiap daerah mempunyai
ketentuan yang beda , yang pasti jumlahnya ganjil. Untuk pelengkap
sajian juga disediakan semacam jenang katul atau bubur dari katul beras,
diatas jenang katul ini ditaburi dengan parutan kelapa dan parutan gula
aren. Kemudian dibuatkan juga campuran dari bahan beras, santan dan
gula merah yang dibungkus daun lalu dikukus. Lalu bubur berikutnya
adalah bubur merah putih yang terbuat dari bahan beras. Bubur warna
merah terbuat dari beras yang ditanak dengan gula merah, sedangkan
bubur warna putih terbuat dari beras yang ditanak dengan santan. Cara
menghidangkan adalah bubur merah lebih dulu dituang di pring lalu
diatasnya dituang sedikit bubur putih.
Dalam pandangan kebidanan: Tumpeng ini merupakan salah satu cara
penyajian makan bersama yang menggugah selera dan sangat baik untuk
membantu meningkatkan selera makan ibu hamil, tumpeng juga memberi
sebuah perlambang adanya dukungan para sanak keluarga dan tetangga
untuk bersama sama mengadakan doa syukuran bagi ibu hamil.
Sedangkan sayur mayur segar terutama berwarna hijau sangat baik bagi
ibu hamil trimester pertama karena dalam sayur mayur hijau terkandung
asam folat alami yang berguna mencegah kecacatan pada janin.
Keberadaan bubur beras yang manis sangat baik pula bagi ibu hamil yang
menginginkan kudapan atau makanan selingan sebagai pembuka sebelum
menyantap menu lain. Biasanya pada kehamilan awal asam lambung
meningkat dan bubur tersebut menjadi hidangan pembuka yang baik.
Upacara tiga bulanan atau Madeking
Upacara tiga bulanan sudah agak sulit ditemukan di kota besar. Dalam
upacara Madeking ini dihidangkan aneka jenis makanan yang berupa

ketupat lalu nasi gurih, kali ini nasi berwarna kuning dengan mencampur
air kunyit saat menanak nasi dan di beri garam sedikit dan santan
sebelum dikukus. Untuk lauk pauk sudah lebih lengkap dan bervariasi, ada
sambal goreng ati rempela, daging sapi dan sebagai kudapan dibuatkan
kue apem.
Dalam pandangan Kebidanan: Nasi gurih dan ketupat sebagai
hidangan ibu hamil adalah salah satu cara kreatif untuk membangkitkan
selera makan ibu hamil agar terpenuhi kebutuhan kalori. Kebutuhan
protein sudah mulai diberikan seiring adanya peningkatan selera makan
menjelang kehamilan 4 bulan. Dengan menghidangkan aneka macam
daging dan cara pengolahannya. Protein sangat dibutuhkan ibu hamil
untuk pembentukan organ tubuh bayi . Upacara Madeking ini juga
diadakan sebagai wujud permohonan keselamatan bagi janin dalam
Kandungan. Selamatan berupa doa - doa sesuai agama masing - masing.
Kehamilan lima bulanan
Pada masa kehamilan ini dilakukan upacara selamatan dengan kudapan
khasnya yakni ketan aneka warna dengan ditaburi enten - enten yang
terbuat dari bahan kelapa parut di beri gula. Sebagai hidangan yang
dibagikan untuk tetangga adalah urap - urap terbuat dari sayur mayur
hijau. Hidangan urap urap ini lengkap dengan nasi dan diletakkan dalam
takir atau daun pisang yang dibentuk seperti mangkuk dengan jepit lidi.
Hantaran hidangan ada yang diberikan dengan alas tampah/ tambir kecil
dari anyaman bambu atau bisa pula dengan cobek tanah liat.
Pelengkapnya adalah rujak 7 jenis buah.Upacara lima bulanan sulit
ditemukan saat ini.
Dalam Pandangan kebidanan : Upacara untuk kehamilan 5 bulanan ini
merupakan dukungan psikologis dan spiritual yang baik bagi ibu hamil.
Dimana pada usia kehamilan 20 minggu janin sudah makin lincah
bergerak, Jantung berdetak dengan baik, dan organ tubuh bayi terbentuk.
Kebutuhan akan zat makanan bergisi dan kalori juga tetap mendapat
perhatian istimewa. Kehadiran sanak keluarga yang mengunjungi ibu
hamil saat upacara ini membantu mengurangi kecemasan, kesempatan
saling berbagi pengalaman melewati masa masa kehamilan tiga bulan
pertama yang sangat rawan. Upacara ini merupakan ungkapan syukur
atas terlaluinya trimester pertama kehamilan dan mohon keselamatan
untuk proses kehamilan berikutnya.

Upacara enam bulanan

Dalam upacara ini dibuatkan kudapan khas yakni apem kocor terbuat dari
tepung beras dan diberu kuah air gula aren. Untuk tradisi enam bulan ini
juga jarang dilakukan. Namun demikian perlu kita tetap tahu.
Upacara 7 bulanan, atau biasa dikenal dengan tingkeban
dan Mitoni
Berikutnya adalah upacara 7 bulanan, upacara inilah yang masih sering
kita jumpai di masyarakat kita. Hidangan khas yang paling dinantikan
para tamu adalah rujak dan dawet atau cendol beras. Menurut tradisi bila
rasa dawet dan rujaknya sedap berarti anaknya perempuan dan bila saat
upacara membelah kelapa muda air kelapa muncrat tinggi berarti anak
dalam kandungan perempuan. Menarik sekali bukan. Hidangan pelengkap
lain adalah polo pendem yakni umbi umbian dan bisa juga kacang tanah
yang direbus, urap urap , nasi megono dan tumpeng 7 buah kecil kecil,
bubur beras merah putih, yang putih di makan suami, yang merah
dimakan istri, urap urap sayuran hijau 7 jenis, pisang raja, ampyang dan
bola ketan kukus diwarna merah,kuning,hijau ,putih dan coklat. Telur 7
butir. Kudapan berupa jajan pasar melengkapi hidangan.
Pandangan Kebidanan : Upacara 7 bulanan ini hanya dilakukan pada
kehamilan pertama kali dan merupakan dukungan bagi ibu hamil dimana
dalam masa kehamilan trimester tiga, ibu hamil mengalami perubahan
bentuk tubuh, biasanya bertambah gemuk dan merasa tidak cantik.
Namun tradisi masyarakat justru mengangkat rasa percaya diri dan
memperbaiki body image seorang ibu hamil agar tampak begitu
mempesona dalam upacara siraman dan mandi bunga. Ibu hamil
didandani dengan roncean bunga melati dan ganti jarik 7 kali. Sedangkan
untuk hidangan makanan yang diadakan merupakan suatu sajian yang
semakin komplit berbagai protein nabati dan hewani, berbagai sumber
jenis zat kalori disertakan. Dengan harapan bahwa ibu hamil senantiasa
selamat dan terjaga baik kondisi kesehatannya diiringi doa doa para
sanak keluaraga dan tetangga.
Upacara delapan bulanan
Pada upacara ini, dihidangkan simbol bulus angrem ( kura kura sedang
mengerami telur ). Uniknya hidangan terbuat dari klepon yakni adonan
tepung ketan diwarnai pandan hijau dan diberi gula parut didalamnya.
Setelah matang klepon disusun dalam piring lalu diartasnya di
telungkupkan kue serabi.
Pandangan Kebidanan : Dalam penyajian kudapan ini memberi makna
simbolik dan dukungan mental bagi ibu hamil dimana ia harus hati hati
menjaga kehamilan yang memasuki trimester ke tiga. Seperti perilaku
positif seekor kura kura yang setia mengerami telur telur bakal anak
anaknya.
Kehamilan
merupakan
anugerah
sekaligus
menuntut

tanggungjawab seorang calon ibu agar menjaga janin dalam


kandungannya.
Upacara 9 Bulanan
Dalam upacara ini diadakan doa untuk mohon keselamatan dan
kelancaran persalinan, dimana hidangan yang dibuat dinamakan bubur
procot. Bahan terbuat dari tepung beras, gula merah dan sanatan,
ditanak,Setelah matang dituang dalam takir daun pisang lalu diberi pisang
kupas yang utuh ditengahnya.
Dalam Pandangan kebidanan: Semua yang dilakukan dalam simbolik
sajian ini ini erat kaitannya dengan dukungan mental bagi ibu yang akan
bersalin. Menanamkan sugesti diri yang positif. Tak lupa disertai doa dari
sanak keluarga dan para tetangga. Harapan bahwa menjelang proses
persalinan tak kurang suatu apapun, ibu hamil melaluinya dengan tenang
dan bahagia. Melahirkan dengan lancar tanpa penyulit.
Permasalahan lain yang cukup besar pengaruhnya pada kehamilan
adalah masalah gizi. Hal ini disebabkan karena adanya kepercayaankepercayaan dan pantangan-pantangan terhadap beberapa makanan.
Sementara, kegiatan mereka sehari-hari tidak berkurang ditambah lagi
dengan pantangan-pantangan terhadap beberapa makanan yang
sebenrnya sangat dibutuhkan oleh wanita hamil tentunya akan
berdampak negatif terhadap kesehatan ibu dan janin. Tidak heran kalau
anemia dan kurang gizi pada wanita hamil cukup tinggi terutama di
daerah pedesaan.
Di Jawa Tengah, ada kepercayaan bahwa ibu hamil pantang makan
telur karena akan mempersulit persalinan dan pantang makan daging
karena akan menyebabkan perdarahan yang banyak. Sementara di salah
satu daerah di Jawa Barat, ibu yang kehamilannya memasuki 8-9 bulan
sengaja harus mengurangi makannya agar bayi yang dikandungnya kecil
dan mudah dilahirkan. Di masyarakat Betawi berlaku pantangan makan
ikan asin, ikan laut, udang dan kepiting karena dapat menyebabkan ASI
menjadi asin. Dan memang, selain ibunya kurang gizi, berat badan bayi
yang dilahirkan juga rendah. Tentunya hal ini sangat merugikan dan
membahayakan keselamatan ibu dan bayi.
Budaya tidak bisa dipisahkan dengan mitos. Mitos sangat
berpengaruh bagi kehidupan masyarakat. Ada masyarakat yang
mempercayai mitos tersebut, ada juga masyarakat yang tidak
mempercayainya. Jika mitos tersebut terbukti kebenarannya, maka
masyarakat yang mempercayainya merasa untung. Tetapi jika mitos
tersebut belum terbukti kebenarannya, maka masyarakat bisa dirugikan.
Di bawah ini adalah beberapa contoh mitos yang sering kita dengar,
yaitu :
Mitos Selama Kehamilan

1.

Tidak boleh memotong atau menjahit baju.


Mitos: Tidak boleh memotong atau menjahit baju selama kehamilan atau
anak akan lahir dengan bibir sumbing.
Fakta: Bibir sumbing biasanya karena pengaruh obat-obatan yang
diminum ibu saat hamil, efek radiasi atau factor genetic. Oleh karenanya
x-ray tidak dilakukan selama kehamilan kecuali atas indikasi tertentu.

2.

Minuman dari kacang kedeai (susu kacang) akan membuat kulit bayi
bewarna putih.
Mitos: Minum susu kacang atau makanan dari kacang kedelai akan
membuat bayi berkulit putih.
Fakta: warna kulit seseorang dipengaruhi oleh factor genetic ayah
ibunya, bukan dari susu kedelai.

3.

Jeruk akan meningkatkan lendir pada bayi dan resiko kuning pada
bayi baru lahir.
Mitos: Jangan makan jeruk terlalu sering akan meningkatkan lendir pada
paru bayi dan resiko kuning saat bayi lahir.
Fakta: Jeruk adalah sumber vitamin C dan serat yang baik.

4.

Minum air es akan menyebabkan bayi besar.


Mitos: Sering minum es saat hamil menyebabkan bayi besar dan akan
sulit lahir.
Fakta: Bayi besar biasanya berhubungan dengan ibu hamil yang
mempunyai penyakit kencing manis. Jadi mungkin es ini diminum oleh ibu
hamil yang memang dengan riwayat penyakit kencing manis. Jadi bukan
minum es lalu menyebabkan bayi besar karena air es akan dikeluarkan
oleh tubuh sebagai keringat atau air seni.

5.

Makanan pedas akan menyebabkan bayi lahir dengan bercak kulit


kemerahan atau berkulit lebih gelap.
Mitos: Makan makanan pedas saat hamil akan menyebabkan bayi lahir
dengan bercak kulit kemerahan atau bayi akan berkulit lebih gelap/hitam.
Fakta: Sekali lagi warna kulit seseorang tidak ditentukan oleh makanan
pedas, tapi factor genetic dari orang tuanya. Dan faktanya bahwa makan
makanan pedas saat hamil, membuat rasa tak enak diperut apalagi bila
anda sedang mual, jadi bukan karena menyebabkan bercak kemerahan
pada kulit.

6.

Bentuk wajah menandakan jenis kelamin bayi.

7.

Mitos: Bentuk wajah anda selama hamil menandakan jenis kelamin bayi
anda.
Fakta: Setiap wanita akan mengalami kenaikan berat badan selama hakil,
begitupun mereka akan mengalami perubahan kondisi kulit yang berbedabeda, dan tidak ada hubungannya dengan jenis kelamin bayi anda.
Dilarang membunuh binatang
Mitos: Ibu hamil dan suaminya dilarang membunuh binatang. Sebab
dipercaya bisa menimbulkan cacat pada janin sesuai dengan
perbuatannya itu.
Fakta:Tentu saja tidak demikian. Cacat janin disebabkan oleh kekurangan
gizi pada bayi maupun ibu, penyakit keturunan dan pengaruh radiasi.
Sedangkan gugurnya janin paling banyak disebabkan karena penyakit,
gerakan berlebihan yang dilakukan oleh ibu (misal benturan) dan karena
faktor psikologis (misalnya shock, stress, pingsan). Tapi yang perlu diingat
membunuh atau menganiaya binatang adalah perbuatan yang tidak bisa
dibenarkan.

8.

Dilarang makan buah dempet


Mitos: Ibu hamil tidak boleh makan pisang yang dempet, nanti anaknya
jadi kembar siam.
Fakta:Secara medis-biologis, lahirnya anak kembar siam tidak
dipengaruhi oleh makan pisang dempet yang dimakan oleh ibu hamil.
Kembar siam disebabkan karena adanya pembelahan dua sel janin yang
tidak sempurna.

9.

Dilarang mengkonsumsi nanas


Mitos: Dilarang makan nanas karena nanas dipercaya dapat
menyebabkan janin dalam kandungan gugur.
Fakta: Secara medis-biologis, getah nanas mudah mengandung senyawa
yang dapat melunakkan daging. Tetapi buah nanas yang sudah tua atau
disimpan lama akan semakin berkurang kadar getahnya, demikian juga
dengan nanas olahan. Yang pasti nanas mengandung vitamin C dengan
kadar tinggi sehingga baik untuk kesehatan.

10.

Membawa gunting lipat kemana saja


Mitos: Membawa gunting kecil atau pisau atau benda tajam lainnya di
kantung baju si ibu agar janin terhindar dari bahaya.
Fakta: Hal ini justru lebih membahayakan apabila benda tajam itu
melukai si ibu.
Sebenarnya masih banyak sekali budaya dari tiap-tiap provinsi di
Indonesia, bnyak pula mitos-mitosnya namun kami hanya mengambil

yang biasa muncul saja. Yang biasa didengar di masyarakat kita berikan
penjelasn secara fakta mengenai mitos tersebut supaya dapat mengambil
tindakan yang positif setelah mengetahui kenyataanya.
Meski tak selamanya mitos yang berkembang karena budaya di
masyarakat benar, tak ada salahnya kita menikmati mitos-mitos tersebut,
selama hal tersebut tidak mengganggu mental serta kondisi janin. Jadikan
mitos-mitos tersebut sebagai sesuatu yang menyenangkan, namun
balikan segala sesutu tentang kondisi medis kehamilan pada
ahlinya, semua bertujuan positif kepada keluarga jika kita menanggapinya
dengan benar dengan akal yang rasional. Yang paling penting, serahkan
semuanya pada Tuhan yang Maha Pencipta.

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Sebenarnya masih banyak beberapa upacara yang berkaitan
dengan penyulit menjelang persalinan, namun demikian pada intinya
sama adalah memberi dukungan positif bagi seorang ibu yang sedang
hamil. Dalam praktek tradisional, memang ada banyak hal yang tak
jarang dikaitkan dengan mitos mitos dan sedikit berbau tahayul. Namun
demikian kita tidak perlu menyikapinya dengan antipati. Petiklah hal-hal
positif yang tentu saja tidak merugikan bagi ibu hamil. Hal penting adalah
jangan sampai kita lambat laun melupakan warisan kekayaan tradisi asli
nusantara kita terutama di Indonesia ini. Kamiyakin kekayaan tradisi dari
Sabang hingga Merauke juga banyak yang menarik untuk dibagikan dan
kita pelajari. Siapa lagi yang akan mengakui kekayaan tradisi dan budaya
tersebut jika bukan kita. Jangan lupa tetap periksa teratur selama
kehamilan baik pada dokter kandungan, bidan maupun tenaga kesehatan
agar mendapat bimbingan yang benar dalam menjaga kesehatan selama
hamil. Tak lupa selama kehamilan lebih mendekatkan diri pada Tuhan,
mohon keselamatan melalui doa sesuai agama dan kepercayaan yang kita
anut.

SARAN
Kita sebagai seorang bidan yang biasa bersinggungan dengan budaya
yang berkembang dalam masyarakat hendaknya kita bisa menanggapi
budaya tersebut dengan berpikir rasional tidak bersifat antipati. Hal-hal
positif tetap dipertahankan namun dengan memberi pengertian yang
benar. Sedangkan hal-hal negatif diupaya untuk tidak dilaksanakan, bidan
harus kreatif dalam memberikaan pengertian kepada masyarakat supaya
tidak terjadi pertikaian.
Daftar Referensi
AtmawatiYuris.2012.Budaya-Da-Mitos-Yang-Selalu-Dihubungkan-SeputarKehamilan - Perawatan Anak. Avariable on. Diakses pada 11.12am.
TariRomanas.2011.Mengenal-Tradisi-Budaya-Nusantara-Seputar-Kehamilan
.Avariable on.diakses pada 11.12am
KurniasihDedeh.2008.Larangan-Larangan-Bagi-Ibu-Hamil-(Bukan Mitos)
.Avariable on. Diakses pada 11.22am.
Novi.2011. Ilmu Budaya : Mitos-dan-Adat-Jawa-SeputarKehamilan.avariableon. Diakses pada 12.39am.