Anda di halaman 1dari 26

1

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
World Health Organization (WHO) pada tahun 2009 menyatakan bahwa
terdapat 45 juta orang yang mengalami buta diseluruh dunia. Setiap tahun tidak
kurang dari 7 juta orang yang mengalami kebutaan, setiap lima menit sekali ada
satu penduduk bumi yang menjadi buta dan setiap 12 menit sekali terdapat satu
anak mengalami kebutaan. Sekitar 90% penderita kebutaan dan gangguan
penglihatan ini hidup di Negara miskin dan terbelakang.
Di Indonesia, kekeruhan kornea menjadi masalah kesehatan mata yang
utama karena menempati urutan kedua dalam penyebab utama kebutaan.
Kekeruhan pada kornea ini terutama disebabkan oleh infeksi mikroorganisme
berupa bakteri, jamur, dan virus, dan bila terlambat di diagnosis atau diterapi
secara tidak tepat akanmenimbulkan kerusakan stroma dan meninggalkan
jaringan parut yang luas.
Pembentukan parut akibat ulserasi kornea adalah penyebab utama
kebutaan dan gangguan penglihatan di seluruh dunia. Kebanyakan, gangguan
penglihatan ini dapat dicegah, namun hanya bila diagnosis penyebabnya
ditetapkan secara dini dan diobati secara memadai.
Ulkus kornea adalah hilangnya sebagian permukaan kornea akibat
kematian jaringan kornea, yang ditandai dengan adanya infiltrat supuratif disertai
defek kornea bergaung, dan diskontinuitas jaringan kornea yang dapat terjadi dari
epitel sampai ke stroma.
1.2 Tujuan dan Manfaat
1.2.1 Tujuan
1. Mengenal dan mengetahui anatomi dari kornea pada mata
2. Mengetahui definisi, macam-macam, penyebab, penegakan diagnosis,
penatalaksanaan dari ulkus kornea
3. Menambah wawasan kepustakaan tentang ilmu kesehatan mata
terutama mengenai ulkus kornea
1.2.2 Manfaat

1. Bagi Mahasiswa
Dengan dibuatnya referat ini diharapkan dapat menambah wawasan dan
pengetahuan, serta meningkatkan pemahaman kita mengenai ulkus
kornea baik itu mulai dari definisi, penyebab, patofisiologi, klasifikasi,
hingga sampai penatalaksanaan.
2. Bagi Penulis
Dengan menulis referat ini, diharapkan penulis dapat menerapkan dan
lebih memahami lagi ilmu tentang penyakit mata terutama ulkus kornea
ini.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Anatomi Kornea

Kornea merupakan lapisan yang transparan dan tidak terdapat pembuluh


darah yang mempunyai ukuran diameter horizontal 1112 mm dan diameter
vertical 1011 mm. Kornea berbentuk elips dan memiliki permukaan posterior
dengan rata-rata kelengkungan kornea bagian anterior sebesar 7.8 mm. Dengan
demikian, kornea memiliki kontribusi 74% atau 43.25 dioptri dari total 58.60
kekuatan dioptri pada mata manusia normal. (AAO, 2011) Jika kornea udem
karena suatu sebab, maka kornea juga bertindak sebagai prisma yang dapat
mrnguraikan sinar sehingga penderita akan melihat halo. (Vaughan, 2007)

Gambar 1.

Gambaran mata

tampak

anterior
Sebagai

nutrisi,

kornea mengandalkan glukosa yang berdifusi dari cairan Humor Akuosus dan
oksigen yang berdifusi melalui bilik mata. (AAO, 2011) Kornea supefisial juga
mendapat oksigen sebagian besar dari atmosfir. Transparansi kornea
dipertahankan

oleh

strukturnya

yang

seragam,

avaskularitasnya,

deturgensinya (Ilyas, 2011)

Kornea terdiri dari 5 lapisan dari luar ke dalam. Lapisan tersebut adalah:
1. Lapisan Epitel

dan

Lapisan epitel kornea terdiri dari atas 5 lapis epitel stratified squamous sel
yang saling tumpang tindih dan memenuhi 5% (0.05 mm) dari total
ketebalan kornea. (AAO, 2011)
Pada sel basal sering terlihat mitosis sel dan sel muda ini terdorong kedepan
menjadi lapis sel sayap dan semakin maju kedepan menjadi sel gepeng, sel
basal berikatan erat dengan sel basal disampingnya dan sel polygonal
didepannya melalui desmosome dan makula okluden; ikatan ni menghambat
pengaliran air, elektrolit, dan glukosa yang merupakan barrier. Sel basal
menghasilkan membran basal yang melekat erat kepadanya. Bila terjadi
gangguan akan terjadi erosi rekuren. Epitel basal berasal dari ectoderm
permukaan (Vaughan, 2007)
2. Membran Bowman
Membran bowman terletak dibawah membrane basal epitel kornea yang
merupakan kolagen yang tersusun tidak teratur seperti stroma dan berasal
dari bagian depan stroma. Lapisan ini tidak mempunyai daya regenerasi.
3. Stroma
Stroma terdiri atas lamel yang merupakan susunan kolagen yang sejajar satu
dengan lainnya. Pada permukaan terlihat anyaman yang teratur sedang
dibagian perifer serat kolagen ini bercabang; terbentuknya kembali serat
kolagen memakan waktu lama yang kadang sampai 15 bulan. Keratosit
merupakan sel stroma kornea yang merupakan fibroblast terletak diantara
serat kolagen stroma. Diduga keratosit membentuk bahan dasar dan serat
kolagen dalam perkembangan embrio atau sesudah terjadinya trauma.
4. Membran Descement
Membran descement merupakan suatu membrane aselular dan merupakan
batas belakang stroma kornea. Membran ini bersifat sangat elastis dan
berkembang terus seumur hidup. Membrane descement mempunyai tebal 40
mikrometer.
5. Endotel
Endotel kornea berasal dari mesotelium, berlapis satu, bentuknya
heksagonal, besarnya 2040 mikrometer. Endotel melekat pada membrane
descement melalui hemidosom dan zonula okluden.

Gambar

2.
Lapisan
kornea
Kornea
adalah
satusatunya
yang
memiliki

kepadatan saraf paling tinggi dalam tubuh dan sensitifitas kornea adalah 100
kali lebih besar dari konjungtiva. Serabut saraf sensoris berjalan dari nervus
siliaris dan dari pleksus subepitelial. Neurotransmiternya termasuk asetilkolin,
katekolamin, substansi P, kalsitonin gen-related peptida, neuropeptida-Y,
intestinal peptide, galanin, dan methionine-en kephalin. (AAO, 2011) Kornea
dipersarafi oleh banyak saraf sensorik terutama berasal dari saraf siliar longus,
saraf nasosiliar, saraf ke-V. Saraf siliar longus berjalan supra koroid, masuk
kedalam stroma kornea, menembus membrane Bowman dan melepaskan
selubung Schwann-nya. Bulbus Krause untuk sensasi dingin ditemukan
diantaranya. Daya regenerasi saraf sesudah dipotong di daerah limbus terjadi
dalam waktu 3 bulan (Vaughan, 2007)
2.2 Definisi Ulkus Kornea
Ulkus kornea adalah hilangnya sebagian permukaan kornea akibat
kematian jaringan kornea, yang ditandai dengan adanya infiltrate supuratif

disertai defek kornea bergaung, dan diskontinuitas jaringan kornea yang dapat
terjadi dari epitel sampai ke stroma (Vaughan, 2007).

Gambar 3. Ulkus kornea


2.3 Etiologi Ulkus
Ulkus

Kornea
komea diakibatkan oleh

infeksi

kuman

seperti

bakteri,

virus, dan jaraur, selain

itu

dapat juga disebabkan

daripada
reaksi

toksis

yang

dapat

degeneratif,

raenular

alergik,

penyakit herpes simpleks, dan penyakit kolagen vaskular. (Ilyas, 2011)


a) Infeksi
Bakteri yang sering mengakibatkan ulkus kornea adalah Streptokokkus alfa
hemolitik, Stafilokokkus aureus, Moraxella likuefasiens, pseudomonas
aeruginosa, Nocardia asteroides, Alcaligenes sp., Streptokokkus anerobik
Streptokokkus betahemolitik, Enterobakter hafniae, Proteus sp, Stafilokokkus
epidermidis, infeksi campuran aerogenes dan Moraxella sp. Hampir semua
ulkus berbentuk sentral. Gejala kiinis yang khas tidak dijumpai, hanya sekret
yang keiuar bersifat raukopuruien yang bersifat khas menunjukkan infeksi
P aeruginosa
Infeksi Jamur disebabkan oleh Candida, Fusarium, Aspergilus,
Cephalosporium, dan spesies mikosis fungoides. Bila ulkus disebabkan jamur
maka infiltrat akan berwarna abu-abu di keliling infiltrat halus di sekitarnya
(fenomena satelit). Bila ulkus berbentuk dendrit akan terdapat hipestesi pada
komea. Ulkus yang berjalan cepat dapat membentuk descemetokel atau terjadi
perforasi kornea yang berakhir dengan membuat suatu bentuk lekoma adheren.
Bila proses pada ulkus berkurang maka akan terlihat berkurangnya rasa

sakit, fotofobia, berkurang infiltrat pada ulkus dan defek epitel kornea
menjadi bertambah kecil.
Ulkus kornea oleh virus herpes simplex cukup sering dijumpai.
Bentuk khas dendrit dapat diikuti oleh vesikel-vesikel kecil dilapisan
epitel yang bila pecah akan menimbulkan ulkus. Ulkus dapat juga terjadi
pada bentuk disiform bila mengalami nekrosis di bagian sentral. Infeksi
virus lainnya varicella-zoster, variola, vacinia (jarang).
Lainnya adalah protozoa. Acanthamoeba adaiah protozoa hidup bebas
yang terdapat didalam air yang tercemar yang mengandung bakteri dan
materi organik. Infeksi kornea oleh acanthamoeba adaiah komplikasi yang
semakin dikenal pada pengguna lensa kontak lunak, khususnya bila
memakai larutan garam buatan sendiri. Infeksi juga biasanya ditemukan pada
bukan pemakai lensa kontak yang terpapar air atau tanah yang tercemar
b) Non-Infeksi
Bahan kimia, bersifat asam atau basa tergantung pH. Bahan asam yang
dapat merusak mata terutama bahan anorganik, organik dan organik anhidrat.
Bila bahan asam mengenai mata maka akan terjadi pengendapan protein
permukaan sehingga bila konsentrasinya tidak tinggi maka tidak bersifat
destruktif. Biasanya kerusakan hanya bersifat superfisial saja (Kanski, 2011).
Pada bahan alkali antara Iain amonia, cairan pembersih yang mengandung
kalium/natrium hidroksida dan kalium karbonat akan terjadi penghancuran
kolagen kornea. Radiasi atau suhu, Dapat terjadi pada saat bekerja las, dan
menatap sinar matahari yang akan merusak epitel kornea. Beratnya penyakit
ulkus kornea juga ditentukan oleh keadaan fisik pasien, besar dan virulensi
inokulum. Selain radang dan infeksi, penyebab lain ulkus kornea ialah
defisiensi vitamin A, lagoftalmos akibat parese saraf ke VIII. lesi saraf ke
III atau neurotropik dan ulkus Mooren. (Ilyas, 2011)
2.4 Patofisiologi Ulkus Kornea
Kornea merupakan bagian anterior dari mata yang harus dilalui oleh
cahaya dalam perjalanan pembentukan bayangan di retina. Kornea jernih sebab

susunan sel dan seratnya tertentu dan tidak ada pembuluh darah. Biasan cahaya
terutama terjadi di bagian permukaan anterior dari kornea. Perubahan dalam
bentuk dan kejernihan kornea, segera mengganggu pembentukan bayangan
yang baik di retina. Oleh karena itu, kelainan sekecil apapun di kornea dapat
menimbulkan gangguan penglihatan yang hebat terutama bila letaknya di
daerah pupil (Perdami, 2002)
Karena kornea avaskuler, maka sistem pertahanan pada waktu
peradangan tidak segera datang, seperti pada jaringan lain yang mengandung
banyak vaskularisasi. Badan kornea, wandering cell dan sel-sel lain yang
terdapat dalam stroma kornea segera bekerja sebagai makrofag; kemudian
disusul dengan dilatasi pembuluh darah yang terdapat di limbus dan tampak
sebagai injeksi perikornea. Sesudahnya baru terjadi infiltrasi dari sel-sel
mononuklear,

sel

plasma,

leukosit

polimorfonuklear

(PMN)

yang

mengakibatkan timbulnya infiltrate yang akan tampak sebagai bercak kelabu,


keruh, dengan batas-batas yang tidak jelas dan permukaannya tidak licin, dan
akan menimbulkan kerusakan epitel dan timbul ulkus kornea.
Kornea mempunyai banyak serabut saraf maka, kebanyakan lesi pada
kornea baik superfisial maupun profunda dapat menimbulkan rasa sakit dan
fotofobia. Rasa sakit juga diperberat dengan adanya gesekan palpebra pada
kornea dan menetap sampai sembuh. Kontraksi bersifat progresif, regresi iris,
yang meradang dapat menimbulkan fotfobia. Sedangkan, iritasi yang terjadi
pada ujung saraf kornea merupakan fenomena reflek yang berhubungan dengan
timbulnya dilatasi pada pembuluh iris (Vaughan, 2007)
Penyakit ini bersifat progresif, regresif, atau membentuk jaringan parut.
Infiltrate sel leukosit dan limfosit dapat dilihat pada proses progresif. Ulkus ini
menyebar kedua arah yaitu melebar dan mendalam. Jika ulkus yang timbul kecil
dan superfisial makan akan lebih cepat sembuh dan daerah infiltrasi ini menjadi
bersih kembali, tetapi jika lesi sampai ke membran Bowman dan sebagian
stroma maka akan terbentuk jaringan ikat baru yang akan menyebabkan
terjadinya sikatrik (Perdami, 2002)
2.5 Klasifikasi Ulkus Kornea

Terbentuknya ulkus pada kornea mungkin banyak ditemukan oleh


adanya kolagenase yang dibentuk oleh sel epitel baru dan sel radang. Dikenal 2
bentuk ulkus pada kornea yaitu sentral dan marginal atau perifer. (Ilyas, 2011)

Gambar 4. Klasifikasi ulkus kornea


2.5.1

Ulkus Kornea Sentral


Ulkus kornea sentral biasanya merupakan ulkus infeksi akibat

kerusakan pada epitel. Lesi terletak di sentral, jauh dari limbus vaskuler.
Hipopion biasanya tidak selalu menyertai ulkus. Hipopion adalah
pengumpulan

sel-sel

tampak

sebagai lapis pucat di

bagian bawah

kamera okuli anterior

dank

untuk

has

radang

yang

ulkus

sentral

dan

fungi.

kornea adalah

bakteri

Meskipun

hipopion itu steril pada

ulkus kornea

bakteri, kecuali terjadi

robekan pada

membrane

pada

fungi lesi ini mungkun

ulkus

Desemet,

mengandung fungus (Vaughan, 2007)


Penyebab ulkus kornea sentral adalah bakteri (pseudomonas,
pneumococcus, Moraxella liquefaciens, streptococcus beta haemoliticus,
Klebsiela pneumoni, Escherichia coli, proteous), virus (herpes simpleks,
herpes zooster), jamur (candida albicans, fusarium solani, spesies nokardia,
sefalosporium, dan aspergilus). (Ilyas, 2011)
1) Ulkus Kornea Pneumokokus

10

S. Pneumoniae masih tetap merupakan penyebab ulkus kornea


bakteri di banyak bagian dunia. Ulkus ini biasanya mulai muncul 24
48 jam setelah inokulasi pada kornea yang lecet. Infeksi ini secara
khas menimbulkan sebuah ulkus berbatas tegas warna kelabu yang
cenderung menyebar secara tidak teratur dari tempat infeksi kearah
sentral kornea. Hal tersebut menimbulkan istilah Ulkus Serpingiosa
Akut (Vaughan, 2007)
Lapis superfisial kornea adalah yang pertama terlibat, kemudian
parenkim bagian dalam. Kornea sekitar ulkus sering bening. Biasanya
ada hipopion. Kerokan dari tepian depan ulkus kornea pneumokokus
mengandung diplokokus berbentuk lancet gram positif. (Vaughan,
2007)

Gambar 5. Ulkus kornea yang disebabkan oleh Pneumococcus


Penyakit ini banyak terdapat pada petani, buruh tambang, jompo
kesehatan yang buruk, atau pecandu alkohol dan obat bius. Biasanya
ulkus ini terjadi didahului oleh trauma yang merusak epitel kornea
dan akibat cacat kornea tersebut maka mudah terjadi invasi ke dalam
kornea. Pasien akan merasa nyeri pada mata dan kelopak, silau,
lakrimasi dan tajam penglihatan menurun. (Ilyas, 2011)
2) Ulkus

Pseudomonas
aerogenusa

Ulkus

pseudomonas

merupakan

infeksi yang paling

sering terjadi

dan paling berat

11

dari infeksi kuman patogen batang gram negatif pada kornea. (Ilyas,
2011)
Diduga bahwa virulensi pseudomonas pada kornea berhubungan
erat dengan produksi intraselular calcium activated protease yang
mampu merusak serat pada stroma kornea disebut sebagai enzim
proteoglycanolytic.

Seringkali

terdapat

hipopion

disertai

berkembangnya ulkus. Sering berhubungan dengan pemakai kontak


lens. Organisme penyebab melekat pada lensa kontak lunak tersebut.
(Ilyas, 2011)
Ulkus kornea pseudomonas berawal sebagai infiltrate kelabu
atau kuning ditempat epitel kornea yang retak. Nyeri yang sangat
biasanya menyertainya. Lesi ini cenderung menyebar dengan cepat ke
segala arah karena pengaruh enzim proteolitik yang dimiliki bakteri
ini. Umumnya terdapat hipopion yang cenderung membesar dengan
berkembangnya ulkus. Infiltrate dan eksudat mungkin berwarna hijau
kebiruan. Ini akibat dari pigmen yang dihasilkan oleh organisme
patogenik untuk infeksi P. aeruginosa.
3) Ulkus Kornea Streptococcus grup-A
Ulkus kornea sentral yang disebabkan Streptococcus betahemolyticus tidak memiliki ciri khas. Stroma kornea di sekitarnya
sering menunjukkan infiltrate dan sembab, dan biasanya terdapat
hipopion berukuran sedang. Kerokan menampakkan kokus gram
positif dalam bentuk rantai (Vaughan, 2007)
4) Ulkus Kornea Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis,
dan Streptococcus alfa-hemolyticus
Ulkus kornea sentral yang disebabkan organisme-organisme ini
lebih sering dijumpai; banyak diantaranya pada kornea yang telah
biasa terkena kortikosteroid topikal. Ulkusnya sering indolen namun
dapat disertai hipopion dan sedikit infilrat pada kornea sekitarnya.
Ulkus ini sering superfisial, dan dasar ulkus teraba pada saat

12

melakukan kerokan. Kerokan mengandung kokus gram positifsatusatu, berpasnagan, atau dalam bentuk rantai. (Vaughan, 2007)
5) Keratitis Herpes Simpleks
Keratitis herpes simpleks adalah penyebab ulkus kornea paling
umum dan penyebab kebutaan paling umum di Amerika. Herpes
simpleks primer pada mata jarang ditemukan, dan bermanifestasi
sebagai blefarokonjungtivitis vesikuler, kadang mengenai kornea, dan
umumnya terdapat pada anak-anak muda. Bentuk ini umumnya dapat
sembuh sedniri, tanpa menimbulkan kerusakan pada mata yang berarti.

Gambar 6. Keratitis Herpes Simpleks


Serangan keratitis herpes jenis rekurens umum dipicu oleh
demam, pajanan berlebihan terhadap sinar ultraviolet, trauma, stress
psikis, awal menstruasi atau sumber imunosupresi local atau sistemik
lainnya dan umumnya unilateral. (Vaughan, 2007)
Gejala

pertama

umumnya

iritasi, fotofobia,

dan

mata

sering

berair.

Bila kornea

bagian

pusat

yang

terkena,

maka

akan terjadi

sedikit gangguan

penglihatan.
(Vaughan, 2007)
Lesi paling khas adalah ulkus dendritik. Ini terjadi pada epitel
kornea, memiliki pola percabangan linear khas dengan tepian kabur,
memiliki bulbus terminalis pada ujungnya. (Vaughan, 2007)
6) Keratitis Virus Varicella Zoster

13

Infeksi virus Varicella zoster (VZV) terjadi dalam dua bentuk:


primer (varicella) dan rekurens (zoster). Manifestasi pada mata jarang
terjadi pada varicella namun sering pada zoster oftalmik. Pada
varicella (cacar air), lesi mata umumnya pada tepian kelopak. Berbeda
dari lesi kornea varicella yang jarang dan jinak, zoster oftalmik
relative banyak dijumpai, kerapkali disertai keratouveitus yang
bervariasi beratnya sesuai dengan status kekebalan pasiennya.
(Vaughan, 2007)
Berbeda dari keratitis HSV rekurens yang umumnya hanya
mengenai epitel, keratitis VZV mengenai stroma dan uvea anterior
pada umumnya. (Vaughan, 2007)
7) Ulkus Neuroparalitik
Ulkus yang terjadi akibat gangguan saraf ke V atau ganglion
Gaseri ditemukan pada Herpes Zooster. (Ilyas, 2011)
Pada keadaan ini kornea atau mata menjadi anestetik dan reflek
mengedip hilang. Benda asing pada kornea bertahan tanpa
memberikan keluhan, selain daripada itu kuman dapat berkembang
biak tanpa ditahan daya tahan tubuh. Terjadi pengelupasan epitel dan
stroma kornea sehingga terjadi ulkus kornea. Pengobatan dengan
melindungi mata dan sering memerlukan tindakan blefarorafi. (Ilyas,
2011)
8) Keratomikosis
Keratomikosis adalah suatu infeksi pada kornea yang diakibatkan
oleh jamur dan menimbulkan ulkus. (Ilyas, 2011)
Ulkus fungi itu indolen, dengan infiltrate kelabu, sering dengan
hipopion, peradangan nyata pada bola mata, ulserasi superfisial, dan
lesi-lesi satelit (umumnya infiltrat di tempat yang jauh dari daerah
utama ulserasi. (Vaughan, 2007)

14

Kebanyakan ulkus fungi disebabkan oleh organisme oportunis


seperti

Candida

albicans,

Fusarium,

Aspergillus,

Penicillium/Cephalosporium. (Vaughan, 2007)

Gambar 7. Keratomikosis

Keratomikosis diobati dengan antimikosis seperti: amfoterisin B


nistatin, miconazole dan Iain-Iain. Bila tidak terlihat efek obat mata,
dapa: dilakukan keratoplasti. Penyulit yang dapat terjadi pada
keratomikosis adalah endoftalmitis. (Ilyas, 2011)
9) Ulkus Kornea Akibat Defisiensi Vitamin A
Khas dari ulkus ini terletak di sentral dan bilateral, berwarna
kelabu dan indolen, disertai kehilangan kilau kornea disekitarnya.
Kornea melunak, nekrotik dan sering timbul perforasi. Epitel
konjungtiva mengalami keratinisasi, yang tampak sebagai bercak bitot.
Bercak bitot adalah daerah yang berbuih, berbentuk baji pada
konjungtiva, biasanya pada sisi temporal, dengan dasar bajinya pada

15

limbus dan apeksnya meluas kearah kantus lateralis. Di dalam


segitiga ini konjungtiva berlipat-lipat konsentris terhadap limbus, dan
mated kering bersisik merontok dari daerah ini ke dalam cul de sac
inferior. Kerokan konjungtiva dari bercak bitot menampakkan banyak
basilxerosis saprofitik (Vaughan. 2007).

Gambar 8.

Bercak

Bitot

Xerosis vitamin A dari makanan dan gangguan absorbsi di saluran


cerna dan gangguan pemanfaatan oleh tubuh. Kekurangan vitamin A
menyebabkan keratinisasi generalisata pada epitel seluruh tubuh.
Perubahan pada konjungtiva dan kornea bersama-sama (xeroftalmia)
(Vaughan, 2007)

2.5.2 Ulkus Kornea Marginal (Perifer)


Ulkus kornea marginal umumnya bersifat jinak namun sangat sakit.
Infiltrate dan ulkus marginal mulai berupa infiltrate linear atau lonjong,
terpisah dari limbus oleh interval bening, dan hanya akhirnya menjadi
ulkus dan mengalami vaskularisasi. Proses ini sembuh sendiri, umumnya
setelah 710 hari. (Vaughan, 2007).
Ulkus marginal merupakan ulkus kornea yang didapatkan pada orang
tua yang sering dihubungkan dengan reumatik dan debilitas. Ulkus
marginal juga merupakan peradangan kornea bagian perifer berbentuk
khas yang biasanya terdapat daerah jernih antara limbus kornea dengan

16

tempat kelainannya. Sumbu memanjang daerah peradangan biasanya


sejajar dengan limbus kornea. Diduga 50% dasar kelainannya ialah
suatu

reaksi

hipersensitivitas

terhadap

eksotoksin

stafilokokus.

Penyakit infeksi lokal dapat mengakibatkan keratitis kataral atau keratitis


marginal ini. Keratitis marginal kataral biasanya terdapat pada pasien
setengah umur dengan adanya blefarokonjungtivitis. (Ilyas, 2011)
Ulkus yang terdapat terutama dibagian perifer komea, yang biasanya
terjadi akibat alergi, toksik, infeksi dan penyakit kolagen vaskular. (Ilyas,
2011)
Ulkus Kornea dapat juga terjadi bersama-sama dengan radang
konjungtiva yang disebabkan oleh Moraxella, basil Koch Weeks atau
Proteus vulgaris. Pada beberapa keadaan berhubungan dengan alergik
terhadap makanan. Perjalanan penyakit dapat berubah-ubah, dapat
sembuh cepat dapat pula timbul/kambuh dalam waktu singkat. Pada
kerokan dan biakan yang diambil dari ulkus biasanya terdapat bakteri
bersifat rekuren, dengan kemungkinan terdapatnya Streptococcus
pneumonie, Hemophilus aegepty, Moraxella lacunata, dan Escherichia.
(Ilyas, 2011)
Infiltrat dan ulkus yang terlihat diduga merupakan timbunan
kompleks antigen antibodi. Secara histopatologik terlihat sebagai ulkus
atau abses yang epitelial atau subepitelial. (Ilyas, 2011)
1) Ulkus Kornea Moraxella liquefaciens
Moraxella liquefaciens menimbulkan ulkus berbentuk lonjong
indolen yang umumnya mengenai kornea bagian bawah dan meluas
ke bagian depan stroma selang beberapa hari. Biasanya tidak ada
hipopion atau bila ada-pun hanya sedikit, dan kornea disekitarnya
umumnya bening. Moraxella liquefaciens hampir sellau terjadi pada
pasien peminum alcohol, diabetes atau dengan penyakit imunosupresi
lainnya. Kerokan menampilkan diplobasil gram negative besar-besar
dengan ujung persegi. (Vaughan, 2007)
2) Ulkus Kataral Simpleks

17

Letak ulkus perifer yang tidak dalam ini berwarna abu-abu


dengan sumbu terpanjang ulkus sejajar dengan limbus. Diantara
infiltrat ulkus yang aktif dengan limbus ditepinya terlihat bagian yang
bening. Ulkus kataral simpleks biasanya menertai konjungtivitis
kronis yang disebabkan oleh Moraxella atau H. aegypti (Ilyas, 2011)
Penyakit ini lebih sering mengenai pasien usia lanjut, dapat
sembuh

sendiri

dan

kambuh

kembali

sehingga

perjalanan

penyakitnya sangat kronis. Akibat perjalanan penyakit yang menjadi


kronis, maka timbul pembuluh darah dari bagian tepinya. (Ilyas,
2011)
3) Ulkus Cincin (Ring Ulcer)
Merupakan ulkus kornea perifer yang dapat mengenai seluruh
lingkaran kornea, bersifat destruktif dan biasanya mengenai satu
mata. Kornea dibagian sentral biasanya tetap sehat. Biasanya
penyebabnya adalah reaksi alergi dan ditemukan bersama-sama
penyakit disentri basiller, influenza berat, periarteritis nodusa, lupus
eritematosus, dan penyakit immunologic lainnya. Penyakit ini sering
bersifat rekuren. Bila tidak terjadi infeksi pengobatan biasanya
diberikan steroid. (Ilyas, 2011)
4) Keratitis Marginal Akibat Autoimun
Bagian perifer kornea medapat nutrisi dari aquos humour,
kapiler limbus, dan film air mata. Bagian ini berhubungan dengan
jaringan Iimfoid subkonjungtival dan pembuluh-pembuluh limfe di
limbus. Konjungtiva perilimbus berperan dan pathogenesis lesi-lesi
kornea yang berasal dari penyakit mata lokal atau kelainan sistemik,
terutama yang asalnya autoimun. Pada membran basal endotel limbus
terdapat endapan kompleks-kompleks imun yang menimbulkan
proses-proses imunologik. Ulkus ini jika berlanjut akan menjadi ulkus
Mooren (Vaughan, 2007).
5) Ulkus Mooren
Ulkus Mooren adalah suatu ulkus menahun superfisial yang
dimulai dari tepi kornea dengan bagian tepinya tergaung dan

18

berjalan progresif tanpa kecenderungan perforasi ataupun hipopion.


Lambat laun ulkus ini mengenai seluruh kornea. (Ilyas, 2011)
Penyebab Ulkus Mooren sampai sekarang belum diketahui.
Banyak teori yang diajukan dan diduga penyebabnya hipersensitivitas
terhadap protein tuberkulosis, virus, autoimun, dan alergi terhadap
toksin ankilostoma. (Ilyas, 2011)
Merupakan ulkus kornea idiopatik unilateral ataupun
bilateral. Penyakit ini lebih sering terdapat pada wanita usia
pertengahan dan pada usia lanjut biasanya unilateral dengan rasa sakit
dan merah. (Ilyas, 2011)
Ulkus ini menghancurkan membran Bowman dan stroma
kornea. Neovaskularisasi tidak terlihat pada bagian yang sedang
aktif, bila kronik akan terlihat jaringan parut dengan jaringan
vaskularisasi. Pasien terlihat sakit berat dan 25% mengalami
bilateral Proses yang terjadi mungkin kematian sel yang disusul
dengan pengeluaran kolagenase.
Di klinik, dikenal 2 bentuk Ulkus Mooren, yakni: (Ilyas, 2011)
1. Pasien tua terutama laki-laki, 75% unilateral dengan rasa
sakit yang tidak berat, prognosis sedang dan jarang
perforasi
2. Pasien muda laki-laki, 75% binokular, dengan rasa sakit
dan berjalan progresif. Prognosis buruk, 1/3 kasus terjadi
perforasi kornea.
6) Keratitis Exposure

Keratitis pajanan dapat timbul dengan situasi apapun dengan


kornea yang tidak cukup dibasahi dan dilindungi oleh palpebra.
Contohnya adalah eksoftalmus, ektropion, sindrom palpebra lunglai,
hilangnya sebagian palpebra akibat trauma, Bells palsy. Dua faktor
penyebabnya adalah pengeringan kornea dan pajanan terhadap truma
minor. Keratitis ini bersifat steril tetapi bias mengalami infeksi

19

sekunder. Tujuan pengobatan untuk memberi perlindungan dan


membasahi seluruh permukaan komea. (Vaughan, 2007)
2.6 Penegakan Diagnosa Ulkus Kornea
Pada pelayanan primer penegakan diagnosis dapat ditegakkan dari tanda
subjektif berupa riwayat trauma, dan didapati abrasi kornea. Atau keratitis
supuratif disertai hipopion (Kanski, 2011).
2.6.1 Anamnesis
Identitas perlu ditanyakan kepada pasien meliputi nama, jenis
kelamin, dan usia. Setelah menanyakan identitas, maka digali dari keluhan
utama pasien.
Keluhan pada ulkus kornea yang sering dikeluhkan oleh pasien
adalah mata terasa silau, mata merah, dan penglihatan kabur. Selain itu
dapat juga disertai nyeri, mata sering berair, penurunan visus atau lapang
pandang, dan rasa yang sangat tidak nyaman pada mata.
Infiltrat yang steril dapat menimbulkan nyeri, jika ulkus terdapat
pada perifer kornea dan tidak disertai dengan robekan lapisan epitel
kornea. Ditanyakan pula onset dari penyakit, frekuensi, faktor yang
memperberat, faktor yang memperingan, riwayat penyakit mata
sebelumnya.
Faktor risiko berupa antara lain penggunaan lensa kontak, trauma
pada mata, lagoftalmus, penggunaan obat mata yang terkontaminasi.
Riwayat penyakit dahulu juga perlu ditanyakan seperti adanya riwayat
penyakit herpes; dan juga riwayat operasi mata sebelumnya.
2.6.2 Pemeriksaan Fisik
1. Pada saat inspeksi mata dengan menggunakan slit lamp, dapat
ditemukan gabaran ulserasi disertai injeksi siliar dan infiltrate kornea.
Komplikasi yang dapat terjadi adalah berupa perforasi kornea, uveitis,
atau endoftamitis.
2. Pemeriksaan visus untuk menilai ketajaman penglihatan dengan
menggunakan kartu snellen atau chart projector menunjukkan adanya
penurunan tajam penglihatan.

20

3. Pemeriksaan tekanan intra ocular (TIO) bisa menggunakan Tonometer


Non-Contact (NCT) atau Tonometer Schiotz. Bila tidak tersedia dapat
menggunakan palpasi.
4. Pemeriksaan segmen anterior dengan biomokroskopi lampu celah
(dengan atau tanpa zat warna fluoresens) untuk melihat segmen
anterior, ada atua tidaknya reaksi peradangan bilik mata depan serta
ada atau tidaknya hipopion. Perlu dinilai derajat keparahan ulkus:
- Apakah ulkus masih sedalam 1/3 stroma anterior
- Apakah ulkus sudah melewati 1/3 stroma anterior
- Apakah sudah terjadi descemetokel
- Apakah sudah terjadi perforasi
- Apakah sudah terjadi endoftalmitis
5. Pemeriksaan Segmen Posterior
2.6.3 Diagnosis Banding
1. Keratokonjungivitis Atopi
Pasien dermatitis atopic (eczema) sering juga menderita
keratokonjungtivitis atopic. Tanda dan gejalanya adalah sensasi
terbakar, bertahi mata lender, mata merah, dan fotofobia. Tepian
palpebral erimatosa, dan konjungtiva tampak putih seperti susu.
Terdapat papilla halus, namun papil raksasa tidak berkembang seperti
pada keratokonungtitis vernal dan lebih sering terjadi di tarsus inferior
berbeda dengan papil raksasa pada keraokonjungtivitis vernal, yang
terdapat di tarsus superior. Tanda-tanda kornea yang berat muncul
pada perjalanan lanjut penyakit setelah eksaserbasi konjungtivitis
terjadi berulang kali. Timbul keratitis superfisial yang diikukti dengan
vascular. (Vaughan, 2008)
Biasanya pernah ada riwayat alergi sebelumnya (demam
jurami, asthma atau eczema) pada pasien dan keluarganya.
Kebanyakan pasien pernah menderita dermatitis atopik saat bayi. Parut
pada lipatan-lipatan fleksura lipat siku dan pergelangannya. (Vaughan,
2008)
2. Keratokonjungtivitis Sicca (Sindrom Sjorgen)

21

Filamen-filamen

epithelial

di

kuadran

bawah

kornea

merupakan tanda utama penyakit autoimun ini, karena sekret kelenjar


lakrimalis dan kelenjar lakrimalis tambahan berkurang. Juga terdapat
keratitis epithelial berbintik-bintik, yang terutama mengenai kuadran
bawah. (Vaughan, 2008)
Pada
sindrom

Sjogren

salah

satunya

ditandai

keratokonjungtivitis sicca yang merupakan suatu keadan mata kering


yang dapat disebabkan defisiensi unsur film air mata (akeus, musin
atau lipid), kelainan permukan palpebra atau kelainan epitel yang
menyebabkan timbulnya bintik-bintik kering pada kornea (Kanski,
2011). Pada keadaan lebih lanjut dapat timbul ulkus pada kornea dan
defek pada epitel kornea terpulas dengan flurosein.
Keratitis dari sindrom Sjogren harus dibedakan dari keratitis
sicca akibat penyakit-penyakit yang dapat menimbulkan jaringan parut
seperti Trakoma dan Pemfigoid okuler, disini sel-sel goblet dan
konjungtiva telah rusak. (Vaughan, 2008)
Pengobatan
keratokonjungtivitis

Sicca

mengharuskan

pemakaian sering air mata pengganti dan salep pelumas, yang banyak
jenisnya. Bila sel-sel goblet sudah rusak, seperti pada konjungtivitis
sikatriks, harus diberi mucus pengganti, selain air mata buatan.
Vitamin A topikal dapat membantu mengembalikan keratinisasi epitel.
(Vaughan, 2008)
2.6.4

Pemeriksaan Penunjang
1. Pewarnaan gram dan KOH 10% dengan mengambil specimen dari
kerokan kornea
2. Kultur agar sabouraud
3. Pemeriksaan Ultrasonografi bila segmen posterior sulit dinilai

2.7 Penatalaksanaan
1. Terapi topikal sesuai dengan penyebab
a. Bila penyebab berupa bakteri (pemeriksaan gram didapatkan gram positif
atau negatif), terapi berupa tetes mata Quinolone atau Ceftazidime fortified

22

atau Cefazoline fortified atau Gentamisin fortified atau Torbamycin


fortified dengan frekuensi pemberian sesuai klinis.
b. Bila penyebab berupa jamur (pemeriksaan KOH 10% ditemukan hifa),
terapi berupa tetes mata anti jamur (Natamycin atau Amphotericin B atau
Flukonazole) dengan frekuensi pemberian sesuai klinis.
c. Bila penyebab berupa virus, terapi berupa salep mata Acyclovir 5x sehari.
2. Tetes air mata buatan
3. Pada ulkus kormea bakteri yang disertai perluasan sclera atau ancaman
perforasi, berikan Ciprofloxacin 2x500mg atau Levofloxacin 1x500mg
4. Pada ulkus kornea jamur yang berat, berikan Itrakonazol 1x200mg
atau Fluconazole 2x200mg, atau Variconazol 2x200mg.
5. Pada ulkus kornea viral yang berulang, berikan Acyclovir 5x400mg
6. Bila disebabkan oleh Acanthamoeba, dapat diberikan poliheksametilen
biguanid + propamidin isetionat atau salep klorheksidin glukonat
0.02%
7. Berikan anti glaucoma bila ulkus telah melewati 1/3 stroma
8. Bila telah terjadi descemetokel atau perforasi, diperlukan tindakan
bedah seperti keratoplasti atau fascia lata graft atau amnion
membrane transplant atau periosteal graft atau flap konjungtiva.
Flap konjungtiva dilakukan saat situasi terapi medis atau bedah mungkin
gagal, kerusakan epitel yang berulang, dan stroma ulserasi. Bila tidak berhasil,
tatalaksana bedah yang dipilih adalah keratoplasti. Keratoplasti dilakukan bila
terdapat kemunduran visus yang cukup mengganggu aktivitas penderita,
kelainan kornea yang mengganggu mental penderita, dan kelainan kornea
yang tidak disertai amblyopia (Weiner, 2012)
Keratoplasti terbagi menjadi dua yaitu keraoplasti penetrans dan keratoplasti
lamellar. Keratoplasti penetrans adalah mengganti kornea seutuhnya;
sedangkan keratoplasti lamellar hanya mengganti sebagian kornea saja.
(Farida, 2015)
9. Bila didapatkan kekeruhan vitreus dan dicurigai endoftalmitis, maka
tatalaksana sesuai dengan tatalaksana endoftalmitis

23

10. Memberikan edukasi kepada pasien meliputi:


-

Lindungi mata dari segala benda yang mungkin bisa masuk kedalam mata

Jika mata sering kering, atau pada keadaan kelopak mata tidak bisa menutup
sempurna, gunakan tetes mata agar mata selalu daiam keadaan basah

Jika memakai lensa kontak harus sangat diperhatikan cara memakai dan
merawat lensa tersebut.
11. Obat-obatan lainnya yang dapat diberikan yaitu:
a) Sulfas atropine sebagai salep mata atau larutan. Kebanyakan dipakai obat
ini karena efeknya lama sekitar 12 minggu. Efek kerja-nya meliputi:

Sedatif, menghilangkan rasa sakit sementara

Dekongenstif, menurunkan tanda-tanda peradangan

Menyebabkan paralysis m. siliaris dan m. konstriktor pupil; sehingga mata tidak


memiliki daya akomodasi danmata dalam keadaan istirahat. Dengan lumpuhnya
m. konstriktor pupil maka, pupil akan midriasis sehingga sinekia posterior yang
ada dapat terlepas dan dapat mencegah pembentukan sinekia posterior yang baru
b) Skopolamin sebagai midriatika
Pada pelayanan primer ulkus kornea superficial yang ditegakkan oleh
keluhan

pasien

dan

didapati

abrasi

kornea

penatalaksanaan

dengan

kloramphenikol, tiga kali sehari sekurang-kurangnya tiga hari, tanpa penggunaan


steroid maupun obat-obatan tradisional, Jika didapati lesi putih atau ulkus maka
segara rujuk pada pelayanan kesehatan sekunder. Terutama jika didapati secret
purulen pada COA (WHO, 2004).
Pada ulkus mooren para ahli setuju bahwa pemberian prednisolon tiap
jam dengan sikloplegik dan antibiotic profilaksis akan menghasilkan hasil yang
baik. Penggunaan steroid untuk 2-3 hari karena proses reepitelisasi belum
dimuJai. Pemberian kortikosteroid oral diberikan jika steroid topical tidak
menunjukkan hasil dalam waktu 5-7 hari (Lubis, 2007). Selain ulkus Mooren
ulkus marginal lain yaitu ulkus karena hipersensitivitas, ulkus rosasea, ulkus
karena rhemathoid arthritis juga diberikan steroid dan imunosupresan (Kanski,
2011)

24

2.8 Prognosis
Prognosis ulkus kornea tergantung pada tingkat keparahan dan cepat
lambatnya mendapat pertolongan, jenis mikroorganisme penyebabnya, dan ada
tidaknya kompiikasi yang timbul (Weiner, 2012). Ulkus kornea yang luas
memerlukan waktu penyembuhan yang lama, karena jaringan kornea bersifat
avaskular. Semakin tinggi tingkat keparahan dan lambatnya mendapat
pertolongan serta timbulnya kompiikasi, maka prognosisnya menjadi lebih
buruk. Penyembuhan yang lama mungkin juga dipengaruhi ketaatan penggunaan
obat Dalam hal ini, apabila tidak ada ketaatan penggunaan obat terjadi pada
penggunaan antibiotika maka dapat menimbulkan resistensi.
Ulkus kornea harus membaik setiap harinya dan harus disembuhkan
dengan pemberian terapi yang tepat (Weiner, 2012). Prognosis untuk ulkus
bakterialis tergantung dari ukuran, letak, dan kedalaman ulkus, begitu pula
denga faktor risiko seperti usia, keadaan umum dari pasien. Jika ulkus telah
mencapai 2/3 dari kedalaman kornea maka keadaan visus pasien akan buruk,
pasien yang terlambat berobat atau terlambat diterapi dengan steroid juga akan
memiliki prognosis buruk. Hanya 40% pasien yang akan kembali memiliki visus
yang baik (Weiner, 2012) Prognosis pada ulkus kornea dapat berupa:
- Ad vitam = Bonam
- Ad sanationam = ad Bonam
- Ad fungsionam = ad Malam

25

BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Ulkus kornea adalah hilangnya sebagian permukaan kornea akibat
kematian jaringan kornea, yang ditandai dengan adanya infiltrate supuratif
disertai defek kornea bergaung, dan diskontinuitas jaringan kornea yang dapat
terjadi dari epitel sampai ke stroma. Penyebab ulkus kornea dapat berupa infeksi
yang diakibatkan oleh bakteri, virus dan jamur atau non-infeksi seperti reaksi
hipersensitivitas atau autoimun, defisiensi vitamin A dan trauma kimia.
Pembentukan parut akibat ulserasi kornea adalah penyebab utama
kebutaan dan gangguan penglihatan di seluruh dunia. Kebanyakan, gangguan
penglihatan ini dapat dicegah, namun hanya bila diagnosis penyebabnya
ditetapkan secara dini dan diobati secara memadai.
3.2 Saran
Saran bagi tenaga kesehatan, mengenali morfologi dari ulkus kornea
adalah hal yang sangat penting agar dapat segera di diagnosa secara dini sehingga
penatalaksanaan yang akan dilakukan menjadi lebih cepat dan tepat dan
menimbulkan prognosis yang baik.

DAFTAR PUSTAKA
Farida, Yusi. 2015. Corneal Uccers Treatment Vol. 4. J. Majority (January, 2015).
Ilyas, Sidharta. 2011. Ilmu Penyakit Mata Edisi Keempat. Jakarta: Badan Penerbit
Fakultas Kedokteran Indonesia

26

Infectious Diseases of The External Eye: Microbial and Parasitic Infections. Dalam:
American Academy of Ophthalmology. Section 8 External Disease and Cornea.
San Fransisco: American Academy of Ophthalmology; 2011-2012. Hal. 131169.
Kanski, J.J. and Brad Bowling. 2005. Ophthalmologi in Focus. Edinburgh. Elsevier
Saunders
Kanski, J.J. and Brad Bowling. 2011. Clinical Ophthalmology: A Systematic
Approach 7TH Ed.. Edinburgh: Elsevier Saunders
Khurana, A.K. 2007. Comprehensif Ophthalmology Fourth Edition. New Delhi.
New age international limited publisher. Hal 168-203
Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia. 2001. Ulkus Kornea. Dalam: Ilmu
Penyakit Mata Untuk Dokter Umum dan Mahasiswa Kedokteran Edisi-2.
Jakarta: Sagung Seto.
Weiner, Gabrielle. 2012. Confronting Corneal Ulcer. Pinpointing Etiology Is Cruisal
for

Treatment

Decision

Making.

Dalam:

American

Academy

of

Ophthalmology. Chicago: Eye Net.


Vaughan, D.G., Asbury, T., Riordan, P. 2007. Oftalmologi Umum 17th Ed. Alih
bahasa: Tambajong J., Pendit BU. Jakarta: Widya Medika.