Anda di halaman 1dari 15

Pengertian Kolom, Balok, dan Dinding untuk Bangunan

Berlantai 2 Atau Lebih


A. KOLOM

I. Pendahuluan
Kolom adalah batang tekan vertikal dari rangka struktur yang memikul
beban dari balok. Kolom merupakan suatu elemen struktur tekan yang
memegang peranan penting dari suatu bangunan, sehingga keruntuhan
pada suatu kolom merupakan lokasi kritis yang dapat menyebabkan
runtuhnya (collapse) lantai yang bersangkutan dan juga runtuh total (total
collapse) seluruh struktur (Sudarmoko, 1996). SK SNI T-15-1991-03
mendefinisikan kolom adalah komponen struktur bangunan yang tugas
utamanya menyangga beban aksial tekan vertikal dengan bagian tinggi
yang tidak ditopang paling tidak tiga kali dimensi lateral terkecil. Fungsi
kolom adalah sebagai penerus beban seluruh bangunan ke pondasi. Bila
diumpamakan, kolom itu seperti rangka tubuh manusia yang memastikan
sebuah bangunan berdiri. Kolom termasuk struktur utama untuk
meneruskan berat bangunan dan beban lain seperti beban hidup
(manusia dan barang-barang), serta beban hembusan angin. Kolom
berfungsi sangat penting, agar bangunan tidak mudah roboh. Beban
sebuah bangunan dimulai dari atap. Beban atap akan meneruskan beban
yang diterimanya ke kolom. Seluruh beban yang diterima kolom
didistribusikan ke permukaan tanah di bawahnya. Kesimpulannya, sebuah
bangunan akan aman dari kerusakan bila besar dan jenis pondasinya
sesuai dengan perhitungan. Namun, kondisi tanah pun harus benar-benar
sudah mampu menerima beban dari pondasi. Kolom menerima beban dan
meneruskannya ke pondasi, karena itu pondasinya juga harus kuat,
terutama untuk konstruksi rumah bertingkat, harus diperiksa kedalaman
tanah kerasnya agar bila tanah ambles atau terjadi gempa tidak mudah
roboh. Struktur dalam kolom dibuat dari besi dan beton. Keduanya
merupakan gabungan antara material yang tahan tarikan dan tekanan.
Besi adalah material yang tahan tarikan, sedangkan beton adalah material
yang tahan tekanan. sloof dan balok bisa menahan gaya tekan dan gaya
tarik pada bangunan.

II. Jenis-jenis Kolom


Menurut Wang (1986) dan Ferguson (1986) jenis-jenis kolom ada tiga:
1. Kolom ikat (tie column)
2. Kolom spiral (spiral column)
3. Kolom komposit (composite column)
Dalam buku struktur beton bertulang (Istimawan dipohusodo, 1994) ada
tiga jenis kolom beton bertulang yaitu :
1. Kolom menggunakan pengikat sengkang lateral. Kolom ini merupakan
kolom brton yang ditulangi dengan batang tulangan pokok memanjang,
yang pada jarak spasi tertentu diikat dengan pengikat sengkang ke arah
lateral. Tulangan ini berfungsi untuk memegang tulangan pokok
memanjang agar tetap kokoh pada tempatnya.
2. Kolom menggunakan pengikat spiral. Bentuknya sama dengan yang
pertama hanya saja sebagai pengikat tulangan pokok memanjang adalah
tulangan spiral yang dililitkan keliling membentuk heliks menerus di
sepanjang kolom. Fungsi dari tulangan spiral adalah memberi kemampuan
kolom untuk menyerap deformasi cukup besar sebelum runtuh, sehingga
mampu mencegah terjadinya kehancuran seluruh struktur sebelum proses
redistribusi momen dan tegangan terwujud.
3. Struktur kolom komposit merupakan komponen struktur tekan yang
diperkuat pada arah memanjang dengan gelagar baja profil atau pipa,
dengan atau tanpa diberi batang tulangan pokok memanjang.
Untuk kolom pada bangunan sederhan bentuk kolom ada dua jenis yaitu
kolom utama dan kolom praktis.

Kolom Utama
Yang dimaksud dengan kolom utama adalah kolom yang fungsi utamanya
menyanggah beban utama yang berada diatasnya. Untuk rumah tinggal
disarankan jarak kolom utama adalah 3.5 m, agar dimensi balok untuk
menompang lantai tidak tidak begitu besar, dan apabila jarak antara

kolom dibuat lebih dari 3.5 meter, maka struktur bangunan harus
dihitung. Sedangkan dimensi kolom utama untuk bangunan rumah tinggal
lantai 2 biasanya dipakai ukuran 20/20, dengan tulangan pokok 8d12mm,
dan begel d 8-10cm ( 8 d 12 maksudnya jumlah besi beton diameter
12mm 8 buah, 8 10 cm maksudnya begel diameter 8 dengan jarak 10
cm).

Kolom Praktis
Adalah kolom yang berpungsi membantu kolom utama dan juga sebagai
pengikat dinding agar dinding stabil, jarak kolom maksimum 3,5 meter,
atau pada pertemuan pasangan bata, (sudut-sudut). Dimensi kolom
praktis 15/15 dengan tulangan beton 4 d 10 begel d 8-20. Letak kolom
dalam konstruksi. Kolom portal harus dibuat terus menerus dari lantai
bawah sampai lantai atas, artinya letak kolom-kolom portal tidak boleh
digeser pada tiap lantai, karena hal ini akan menghilangkan sifat
kekakuan dari struktur rangka portalnya. Jadi harus dihindarkan denah
kolom portal yang tidak sama untuk tiap-tiap lapis lantai. Ukuran kolom
makin ke atas boleh makin kecil, sesuai dengan beban bangunan yang
didukungnya makin ke atas juga makin kecil. Perubahan dimensi kolom
harus dilakukan pada lapis lantai, agar pada suatu lajur kolom mempunyai
kekakuan yang sama. Prinsip penerusan gaya pada kolom pondasi adalah
balok portal merangkai kolom-kolom menjadi satu kesatuan. Balok
menerima seluruh beban dari plat lantai dan meneruskan ke kolom-kolom
pendukung. Hubungan balok dan kolom adalah jepit-jepit, yaitu suatu
sistem dukungan yang dapat menahan momen, gaya vertikal dan gaya
horisontal. Untuk menambah kekakuan balok, di bagian pangkal pada
pertemuan dengan kolom, boleh ditambah tebalnya.
III. Dasar- dasar Perhitungan
Menurut SNI-03-2847-2002 ada empat ketentuen terkait perhitungan
kolom:
1. Kolom harus direncanakan untuk memikul beban aksial terfaktor yang
bekerja pada semua lantai atau atap dan momen maksimum yang berasal
dari beban terfaktor pada satu bentang terdekat dari lantai atau atap
yang ditinjau. Kombinasi pembebanan yang menghasilkan rasio
maksimum dari momen terhadap beban aksial juga harus diperhitungkan.
2. Pada konstruksi rangka atau struktur menerus pengaruh dari adanya
beban tak seimbang pada lantai atau atap terhadap kolom luar atau
dalam harus diperhitungkan. Demilkian pula pengaruh dari beban
eksentris karena sebab lainnya juga harus diperhitungkan.
3. Dalam menghitung momen akibat beban gravitasi yang bekerja pada
kolom, ujung-ujung terjauh kolom dapat dianggap jepit, selama ujungujung tersebut menyatu (monolit) dengan komponen struktur lainnya.

4. Momen-momen yang bekerja pada setiap level lantai atau atap harus
didistribusikan pada kolom di atas dan di bawah lantai tersebut
berdasarkan kekakuan relative kolom dengan juga memperhatikan kondisi
kekekangan pada ujung kolom.

IV. Pekerjaan Kolom


Prosesnya adalah sebagai berikut :
1. Pekerjaan lantai kerja dan beton decking.
Lantai kerja dibuat setelah dihamparkan pasir dengan ketebalan yang
cukup sesuai gambar dan spesifikasi. Digunakan beton decking untuk
menjaga posisi tulangan dan memberikan selimut beton yang cukup.
2. Pekerjaan pembesian.
Fabrikasi pembesian dilakukan di tempat fabrikasi, setelah lantai kerja
siap maka besi tulangan yang telah terfabrikasi siap dipasang dan
dirangkai di lokasi. Pembesian pile cap dilakukan terlebih dahulu, setelah
itu diikuti dengan pembesian sloof. Panjang penjangkaran dipasang 30 x
diameter tulangan utama.
3. Pekerjaan bekisting.
Bekisting dibuat dari multiplex 9 mm yang diperkuat dengan kayu usuk
4/6 dan diberi skur-skur penahan agar tidak mudah roboh. Jika perlu maka
dipasang tie rod untuk menjaga kestabilan posisi bekisting saat
pengecoran.
4. Pekerjaan kontrol kualitas.
Sebelum dilakukan pengecoran, perlu dilakukan kontrol kualitas yang
terdiri atas dua tahap yaitu :

Sebelum pengecoran.

Sebelum pengecoran dilakukan kontrol kualitas terhadap :


Posisi dan kondisi bekisting.
Posisi dan penempatan pembesian.
Jarak antar tulangan.
Panjang penjangkaran.
Ketebalan beton decking.
Ukuran baja tulangan yang digunakan.
Posisi penempatan water stop

Pada saat pengecoran.

Pada saat berlangsungnya pengecoran, campuran dari concrete mixer


truck diambil sampelnya. Sampel diambil menurut ketentuan yang
tercantum dalam spesifikasi.
Pekerjaan kontrol kualitas ini akan dilakukan bersama-sama dengan
konsultan pengawas untuk selanjutnya dibuat berita acara pengesahan
kontrol kualitas.
5. Pekerjaan pengecoran.
Pengecoran dilakukan secara langsung dan menyeluruh yaitu dengan
menggunakan Concrete Pump Truck. Pengecoran yang berhubungan
dengan sambungan selalu didahului dengan penggunaan bahan Bonding
Agent.

6. Pekerjaan curing
Curing dilakukan sehari ( 24 jam ) setelah pengecoran selesai dilakukan
dengan dibasahi air dan dijaga/dikontrol untuk tetap dalam keadaan
basah.
Jadi, untuk kolom pada bangunan berlantai 2 atau lebih, di butuhkan
kolom yang kuat dan kokoh sebagai dasar penopang beban yang besar
dari atas, kolom yang baik untuk bangunan ini adalah dengan ukuran
30/40 atau 40/40 ke atas. Ukuran kolom ini disesuaikan dengan kebutuhan
pada beban bangunan.

B. BALOK

Balok adalah bagian dari structural sebuah bangunan yang kaku dan
dirancang untuk menanggung dan mentransfer beban menuju elemenelemen kolom penopang. Selain itu ring balok juga berfungsi sebag
pengikat kolom-kolom agar apabila terjadi pergerakan kolom-kolom
tersebut tetap bersatu padu mempertahankan bentuk dan posisinya
semula. Ring balok dibuat dari bahan yang sama dengan kolomnya
sehingga hubungan ring balok dengan kolomnya bersifat kaku tidak
mudah berubah bentuk.Pola gaya yang tidak seragam dapat
mengakibatkan balok melengkung atau defleksi yang harus ditahan oleh
kekuatan internal material.
Beberapa jenis balok antara lain :
Balok sederhana bertumpu pada kolom diujung-ujungnya, dengan satu
ujung bebas berotasi dan tidak memiliki momen tahan. Seperti struktur
statis lainnya, nilai dari semua reaksi,pergeseran dan momen untuk balok
sederhana adalah tidak tergantung bentuk penampang dan materialnya.

Kantilever adalah balok yang diproyeksikan atau struktur kaku lainnya


didukung hanya pada satu ujung tetap
Balok teritisan adalah balok sederhana yang memanjang melewati salah
satu kolom tumpuannya.
Balok dengan ujung-ujung tetap ( dikaitkan kuat ) menahan translasi dan
rotasi
Bentangan tersuspensi adalah balok sederhana yang ditopang oleh
teristisan dari dua bentang dengan konstruksi sambungan pin pada
momen nol.

Balok kontinu memanjang secara menerus melewati lebih dari dua kolom
tumpuan untuk menghasilkan kekakuan yang lebih besar dan momen
yang lebih kecil dari serangkaian balok tidak menerus dengan panjang
dan beban yang sama.

Balok terbagi dari beberapa macam, yaitu :


Balok kayu
Balok kayu menopang papan atau dek structural. Balok dapat ditopang
oleh balok induk, tiang, atau dinding penopang beban.
Balok baja
Balok baja menopang dek baja atau papan beton pracetak. Balok dapat
ditopang oleh balok induk ( girder ), kolom, atau dinding penopang beban.
Balok beton
Pelat beton yang dicor di tempat dikategorikan menurut bentangan dan
bentuk cetakannya.
BALOK KAYU
Dalam pemilihan balok kayu, factor berikut harus dipertimbangkan : jenis
kayu, kualitas structural, modulud elastisitas, nilai tegangan tekuk,nilai
tegangan geser yang diizinkan dan defleksi minimal yang diizinkan untuk
penggunaan tertentu. Sebagai tambahan , perhatikan kondisi
pembebanan yang akurat dan jenis koneksi yang digunakan.
Balok kayu laminasi lem

Kayu laminasi lem dibuat dengan melaminasi kayu kualitas tegang ( stress
grade ) dengan bahan adhesive di bawah kondisi yang terkontrol,
biasanya parallel terhadap urat kayu semua lembaran. Kelebihan kayu
laminasi lem dibandingkan kayu utuh secara umum yaitu batas tegangan
yang lebih besar, penampilan yang lebih menarik dan ketersediaan
bentuk penampang yang beragam. Kayu laminasi lem dapat disatukan
ujung-ujungnya dengan sambungan scarf dan finger sesuai panjang yang
diinginkan, atau dilem ujung-ujungnya untuk lebar atau kedalaman yang
lebih besar.

Balok kayu berserat parallel


Kayu berserat parallel atau disebut Parallel Strand Lumber ( PSL ) adalah
kayu structural yang dibuat dengan mengikat serat-serat panjang kayu
bersama dibawah panas dan tekanan dengan menggunakan adhesive
kedap air. PSL adalah produk hak milik di bawah merek dagang Parallam,
digunakan sebagai balok dan kolom pada konstruksi kolom-balok dan
balok, header, serta lintel pada konstruksi rangka ringan.

Balok kayu veneer berlaminasi


Kayu veneer berlaminasi atau Laminated Veneer Lumber ( LVL ) adalah
produk kayu yang dibuat dengan mengikat lapisan tripleks secara
bersama dibawah panas dan tekanan menggunakan bahan adhesive

kedap air. Mempunyai urat serat kayu arah longitudinal yang seragam
menghasilkan produk yang kuat ketika ujungnya dibebani sebagai balok
atau permukaannya dibebani sebagai papan.LVL digunakan sebagai
header dan balok .
BALOK BAJA
Balok induk, balok, kolom baja structural digunakan untuk membangun
rangka bermacam-macam struktur mencakup bangunan satu lantai
sampai gedung pencakar langit. Karena baja structural sulit dikerjakan
lokasi ( on-site ) maka biasanya dipotong, dibentuk, dan dilubangi dalam
pabrik sesuai spesifikasi disain. Hasilnya berupa konstruksi rangka
structural yang relative cepat dan akurat. Baja structural dapat dibiarkan
terekspos pada konstruksi tahan api yang tidak terlindungi, tapi karena
baja dapat kehilangan kekuatan secara drastic karena api, pelapis anti api
dibutuhkan untuk memenuhi kualifikasi sebagai konstruksi tahan api.
Balok baja berbentuk wide-flange ( W ) yang lebih efisien secara structural
telah menggantikan bentuk klasik I-beam ( S ). Balok juga dapat
berbentuk channel ( C ), tube

C. DINDING

1. Pengertian Dinding
Dinding merupakan salah satu elemen bangunan yang berfungsi
memisahkan/ membentuk ruang. Ditinjau dari segi struktur dan
konstruksi, dinding ada yang berupa dinding partisi/ pengisi (tidak

menahan beban) dan ada yang berupa dinding struktural (bearing wall).
Dinding pengisi/ partisi yang sifatnya non struktural harus diperkuat
dengan rangka (untuk kayu) dan kolom praktis-sloof-ringbalk (untuk
bata).
Dinding dapat dibuat dari bermacam-macam material sesuai
kebutuhannya, antara lain :
a. Dinding batu buatan : bata dan batako
b. Dinding batu alam/ batu kali
c. Dinding kayu: kayu log/ batang, papan dan sirap
d. Dinding beton (struktural dinding geser, pengisi clayding wall/ beton
pra cetak)
Dinding yang digunakan untuk bangunan berlantai 2 atau lebih sebaiknya
menggunakan dinding struktrural, di mana dinding tersebut menerima
beban dari beban di atasnya. Mengapa di pilih dinding struktural, ini di
karenakan dinding struktural membantu kolom untuk menerima beban
yang besar dari bangunan berlantai 2 atau lebih, sehingga keamanan dan
kenyaman dari bangunan tersebut terjaga. Namun untuk efisiensi biaya
dan waktu, dinding non-struktural juga dapat di gunakan, namun biasanya
maks. Hanya untuk bangunan berlantai 2. Jika lebih dari bangunan
berlantai 2, maka kekuatan kolom harus di perbesar.

2. Bahan - Bahan Dinding

DINDING BATA

Dinding bata merah terbuat dari tanah liat/ lempung yang dibakar. Untuk
dapat digunakan sebagai bahan bangunan yang aman maka
pengolahannya harus memenuhi standar peraturan bahan bangunan
Indonesia NI-3 dan NI-10 (peraturan bata merah). Dinding dari pasangan

bata dapat dibuat dengan ketebalan 1/2 batu (non struktural) dan min. 1
batu (struktural). Dinding pengisi dari pasangan bata 1/ 2 batu harus
diperkuat dengan kolom praktis, sloof/ rollag, dan ringbalk yang berfungsi
untuk mengikat pasangan bata dan menahan/ menyalurkan beban
struktural pada bangunan agar tidak mengenai pasangan dinding bata
tsb. Pengerjaan dinding pasangan bata dan plesterannya harus sesuai
dengan syarat-syarat yang ada, baik dari campuran plesterannya maupun
teknik pengerjaannya. (Materi Pasangan Bata)

DINDING BATAKO

Batako merupakan material untuk dinding yang terbuat dari batu buatan/
cetak yang tidak dibakar. Terdiri dari campuran tras, kapur (5 : 1), kadang
kadang ditambah PC. Karena dimensinya lebih besar dari bata merah,
penggunaan batako pada bangunan bisa menghemat plesteran 75%,
berat tembok 50% - beban pondasi berkurang. Selain itu apabila dicetak
dan diolah dengan kualitas yang baik, dinding batako tidak memerlukan
plesteran+acian lagi untuk finishing.
Prinsip pengerjaan dinding batako hampir sama dengan dinding dari
pasangan bata,antara lain:
1. Batako harus disimpan dalam keadaan kering dan terlindung dari hujan.
2. Pada saat pemasangan dinding, tidak perlu dibasahi terlebih dahulu
dan tidak boleh direndam dengan air.
3. Pemotongan batako menggunakan palu dan tatah, setelah itu
dipatahkan pada kayu/ batu yang lancip.
4. Pemasangan batako dimulai dari ujung-ujung, sudut pertemuan dan
berakhir di tengah tengah.
5. Dinding batako juga memerlukan penguat/ rangka pengkaku terdiri dari
kolom dan balok beton bertulang yang dicor dalam lubang-lubang batako.
Perkuatan dipasang pada sudut-sudut, pertemuan dan persilangan.

DINDING KAYU LOG/ BATANG TERSUSUN

Kontruksi dinding seperti ini umumnya ditemui pada rumah-rumah


tradisional di eropa timur. Terdiri dari susunan batang kayu bulat atau
balok. Sistem konstruksi seperti ini tidak memerlukan rangka penguat/
pengikat lagi karena sudah merupakan dinding struktural.

DINDING PAPAN

Dinding papan biasanya digunakan pada bangunan konstruksi rangka


kayu. Papan digunakan untuk dinding eksterior maupun interior, dengan
sistem pemasangan horizontal dan vertikal. Konstruksi papan dipaku/
diskrup pada rangka kayu horizontal dan vertikal dengan jarak sekitar 1
meter (panjang papan di pasaran 2 m, tebal/ lebar beraneka ragam : 2/
16, 2/20, 3/ 25, dll). Pemasangan dinding papan harus memperhatikan
sambungan/ hubungan antar papan (tanpa celah) agar air hujan tidak
masuk. Selain itu juga harus memperhatikan sifat kayu yang bisa
mengalami muai dan susut.

DINDING SIRAP

Dinding sirap untuk bangunan kayu merupakan material yang paling baik
dalam penyesuaian terhadap susut dan muai. Selain itu juga memberikan
perlindungan yang baik terhadap iklim, tahan lama dan tidak
membutuhkan perawatan. Konstruksi dinding sirap dapat dipaku (paku
kepala datar ukuran 1) pada papan atau reng, dengan 2 4 lapis
tergantung kualitas sirap. (panjang sirap 55 60 cm).

DINDING BATU ALAM

Dinding batu alam biasanya terbuat dari batu kali utuh atau pecahan batu
cadas. Prinsip pemasangannya hampir sama dengan batu bata, dimana
siar vertikal harus dipasang selang-seling. Untuk menyatukan batu diberi
adukan (campuran 1 kapur : 1 tras untuk bagian dinding dibawah
permukaan tanah, dan PC : 1 kapur : 6 pasir untuk bagian dinding di
atas permukaan tanah). Dinding dari batu alam umumnya memiliki
ketebalan min. 30 cm, sehingga sudah cukup kuat tanpa kolom praktis,
hanya diperlukan.

Pengertian tentang Konstruksi Pelat Lantai Beton


Pelat lantai adalah struktur bangunan yang bukan berada di atas tanah secara
langsung. Artinya pelat lantai merupakan lantai yang terletak di tingkat dua,
tingkat tiga, tingkat empat, dan seterusnya. Dalam pembuatannya, struktur ini
dibingkai oleh balok beton yang kemudian ditopang kolom-kolom bangunan.
Pembuatan struktur pelat lantai harus memperhatikan ukuran ketebalan pelat
tersebut. Faktor-faktor yang mempengaruhinya antara lain besar lendutan yang
diijinkan, lebar bentangan atau jarak antar-balok pendukung, dan bahan material
yang digunakan. Tingkat ketebalan minimum dari pelat lantai yaitu 12 cm
menggunakan tulang berupa 2 lapis besi beton berdiameter 10 mm dan berjarak
10 cm pada lokasi momen maksimum, serta 2 lapis besi beton berdiameter 10
mm dan berjarak 20 cm pada lokasi momen minimum Berdasarkan bahan
material penyusunnya, terdapat 3 macam pelat lantai yaitu pelat lantai kayu,
pelat lantai beton, dan pelat lantai kayu semen.
1. Pelat Lantai Kayu
Pelat lantai kayu ialah pelat lantai yang terbuat dari kayu. Papan kayu yang
dipakai umumnya memiliki ukuran lebar 20-30 cm, tebal 2-3 cm, dan panjang
menyesuaikan. Papan-papan ini didukung oleh balok yang berukuran 8/12, 8/14,
atau 10/14 dengan jarak 60-80 cm. Untuk bentangan 3-3,5 cm, balok kayu ini
bisa dipasang di atas pasangan bata 1 batu atau balok beton agar daya dukung
dan kekuatannya semakin tinggi.
Kelebihan pelat lantai kayu di antaranya anggaran yang dikeluarkan relatif
murah, gampang dibuat, dan bobotnya cukup ringan. Di sisi lain, kekurangannya
yaitu hanya bisa diterapkan di konstruksi sederhana, bersifat permeable,
gampang terbakar, tidak bisa dilapisi ubin, cenderung tidak awet, dan
terpengaruh cuaca.
2. Pelat Lantai Beton
Persyaratan pelat lantai yang dibuat dengan beton bertulang tercantum dalam
buku SNI I beton 1991 yang meliputi ukuran ketebalan minimal pelat untuk lantai
adalah 12 cm dan pelat untuk atap yaitu 7 cm. Pelat beton harus diisi tulangan
baja lunak atau baja sedang yang ditumpuk silang dengan diameter minimum 8
mm. Pelat lantai yang mempunyai ketebalan lebih dari 25 cm wajib disokong
tulangan baja rangkap di atas dan bawah.
Perhatikan jarak ideal tulangan pokok berkisar antara 2,5-20 cm atau 2 kali tebal
pelat. Untuk melindunginya dari korosi, tulangan-tulangan baja tersebut juga
harus terbungkus beton dengan ketebalan minimal 1 cm. Beton terbuat dari
campuran semen, pasir, kerikil, air, dan admixture dengan perbandingan
tertentu.
3. Pelat Kayu Semen

Dinamakan pelat kayu semen karena pelat ini dibuat dari potongan-potongan
kayu berukuran 80-90 cm yang dicampur dengan semen. Karena tergolong
bahan bangunan yang baru, material ini masih jarang digunakan sebagai bahan
pembuat struktur pelat lantai.
Pembangunan pelat kayu semen dimulai dengan memasang kayu bangkirai 5/7
dan berjarak 40 cm. Berikutnya susunan kayu tersebut dipasangi ring balk di
atasnya, lalu dicor memakai beton. Terakhir lembaran-lembaran kayu semen ini
dipasang secara berjejeran dan rapat di atas beton, kemudian ditancapkan baut
agar terpasang sempurna.