Anda di halaman 1dari 10

Prasarana budidaya gurami

Keberhasilan dalam budidaya ikan sangat dipegaruhi dari saran dan prasarana yang memenuhi
syarat untuk kegiata budidaya. Sarana dan prasarana dalam budidaya gurami adalah sebagai
berikut.
A. Prasarana pembenihan gurami
Sarana dan prasarana merupakan kebutuhan yang mutlak dibutuhkan di dalam suatu kegiatan
pembenihan ikan gurami. Berikut ini sarana dan prasarana pendukung untuk menunjang kegiatan
pembenihan ikan gurami agar berlangsunng dengan baik.
1. Prasarana pembenihaan dan pemeliharaan larva gurami
Berikut beberapa sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam kegiatan pebenihan ikan gurami,
yaitu :
a) Ruang tertutup (hatchery)
Ruang tertutup (hatchery) adalah suatu ruangan yang desain khusus, sehinngga tempat penetasan
telur dan pemeliharaan larva terlindungi dari curah hujan, angin, perubahaan suhu dan hama
predator. Pertukaran udara di ruang hatchery dengan udara di luar ruangan sangat sedikit.
Sehinngga, suhu udara di dalam ruangan tetap stabil yaitu suhu 28-30o C. Penetasan dan
pemeliharaan larva di ruang tertutup juga dapat mencegah telur, larva, dan benih dari
kemungkinan serangan hama dan penyakit. Tingkat mortalitas atau kematian larva yang baru
menetas dalam minggu-minggu awal masa hidupnya sangat tinggi. Oleh karena itu, lokasi atau
tempat pemeliharaan larva harus terlindungi dan tertutup.
Hatchery ini dapat dibuat secara permanen, semi permanen atau secara sederhana yang penting
ruang tersebut tertutup/terlindungi dari perubahan cuaca, hujan, suhu, dan hama predator.
Penggunaan ruang tertutup maka fluktuasi suhu antara siang dan malam hari sangat kecil. Faktor
suhu ini sangat penting karena gurami termasuk ikan yang peka terhadap suhu dingin.
Kontruksi ruang hatchery yang digunakan harus tertutup dan mampu mempertahankan suhu di
dalam ruangan tersebut tetap stabil. Ruang tertutup dapat memanfaatkan ruang-ruang yang sudah
ada sebelumnya, seperti bekas gudang atau kamar yang dimodifikasi. Bagian dinding atau atap
ruangan dapat menggunakan plastik, seng maupun terpal plastik. Bagian pintu, jendela, dan

ventiasi lainnya yang terbuka ditutup dengan plastik sehingga dapa menyerap panas. Sementara
itu lantai dapat terbuat dari bahan semen yang miring ke salah satu sisi sehingga air yang tumpah
ke lantai langsung mengalir ke luar ruangan. Ruangan penetasan dan pemeliharaan larva
diusahakan harus selalu kering dan tidak boleh lembab agar suhunya tidak terlalu rendah.
b) Wadah penetasan telur
Wadah penetasan gurami dapat berupa akuarium, ember, dan paso. Akuarium yang umum
dipakai berukuran yaitu panjang 80-100 cm. Untuk satu buah akuarium dapat diisi telur gurami
sebanyak 1.000-1.500 butir. Setelah menetas, larva/benih tersebut kemudian dijarangkan menjadi
bebrapa akuarium.
Ember plastik yang digunakan untuk wadah penetasan telur yaitu bak ember bervolume 20 liter
dan diameter 50-60 cm. Ketinggian air untuk penetasan telur sekitar 15 cm. Padat penebaran
telur sekitar 15 cm. Padat penebaran telur dalam wadah ember berkisar 1.000-1.500 butir telur
per ember.
Paso juga bisa digunakan para petani pembenih untuk menetaskan telur gurami. Paso adalah
wadah berbentuk bejana yang terbuat dari tanah dan berpori sehingga suhu di dalamnya lebih
stabil. Volume air paso antara 10-20 liter. Paso yang digunakan berdiameter 50-60 cm dan
dalamnya 30-60 cm. Satu paso dapat menampung 1.000 butir telur.
c) Akuarium
Akuarium selain berfungsi sebagai tempat penetasan telur, juga berfungsi sebagai tempat
pemeliharaan larva (pendederan) hingga menjadi benih ukuran tertentu. Ukuran akuarium yang
umum digunakan, yaitu penjang 80-100 cm, dan tinggi 40 cm. Akuarium-akuarium tersebut
disusun dan diletakan pada rak-rak yang dibuat dari besi atau kayu. Setiap akuarium dilapisi
dengan styrofoam atau gabus yang berfungsi untuk mencegah retakan dan pecahan akuarium
jumlah akuarium yang dibutuhkan disesuaikan dengan jumlah telur dan larva yang dipelihara.
Pada akuarium penetasan telur idealnya satu buah akuarium diisi telur sebanyak kurang lebih
1.000-1.500 butir. Setelah menetas menjadi larva, benih tersebut kemudian dijarangkan menjadi
bebrapa akuarium.
D ) Wadah pemeliharaan larva/benih

Wadah pemeliharaan larva/benih gurami yang digunakan dapat berupa akuarium, bak plastik
yang terlindungi (bak asuh), bak semen dan fiberglass. Akuarium yang biasa digunakan untuk
pemeliharaan larva/benih berukuran yaitu panjang 80-100 cm, lebar 40-50 cm, dan tinggi 40 cm.
Bak semen yang biasa digunakan untuk pemeliharaan benih berukuran panjang 4-6 meter dengan
2-4 m dan tinggi 0.5-1 m. Sedangkan ukuran fiberglass yang sering dipakai untuk pemeliharaan
larva/benih berukuran 1 m x 2 m dan tinnggi 0.5 m atau menggunakan fiberglass bulat dengan
diameter 1.5 m.
Sedangkan bak yang terlindungi (bak asuh), yang umum digunakan untuk pemeliharaan larva
yaitu ukuran 2 x 4 m dengan ketinggian air 20-40 cm. Kapasitas bak ini mampu menampung
4.000-5000 ekor benih larva gurami (umur 15 hari). Pemeliharaan larva di bak atau bak asuh,
diatasnya diberikan penutup atau perlindungan berupa tutup agar suhu di dalam bak plastik tetap
stabil. Air yang digunakan berasal dari air sumur atau pompa.
e) Bak pemeliharaan cacing sutra
Cacing sutra (Tubifex sp.) merupakan pakan larva dan benih gurami. Sebelum diberikan pada
larva atau benih, cacing yang baru diperoleh ditampung dalam bak pemeliharaan cacing yang
terbuat dari bak semen atau bak plastik. Ukuran bak tidak perlu terlalu luas, yang terpenting air
dipertahankan selalu mengalir. Kedalaman bak sekitar 10-20 cm.
Bak penampungan cacing ini dibuat dengan system air mengalir terus menerus. Apabila cacing
yang digunakan sebagai pakan larva dan benih ini tida disegerakan dengan sistem air mengalir
terlebih dahulu maka cacing sutra akan cepat dan banyak mati. Apa bila dalam waktu 30-60
menit cacing sutra tidak mendapatkan perlakuan pergantian air dan suplai oksigen yang cukup,
cacing sutra banyak mati dengan ciri-ciri warna yang memutih.
f) Tandon air
Tandon air berfungsi untuk menampung air bersih atau mengendapkan air sebelum dimasukan ke
wadah penetasan atau pemeliharaan larva. Tujuanya unutk mentralisir air dari bahan-bahan
beracun serta untuk menstabilkan suhu. Sumber air dapat berasal dari sumur poma atau sumur
gali. Air yang digunakan untuk penetasan dan pemeliharaan larva ikan gurami harus bersih dan

jernih serta tidak mengandung kaporit. Untuk itu, telur ikan gurami yang sedang ditetaskan dapat
menetas dengan sempurna.
Bak tandon air yang biasa digunakan yaitu tong , tong bekas aspal, bak fiberglass dan bak semen
yang tertutup/terlindungi. Tong bekas aspal atau tong yang dipergunakan untuk tandon air yaitu
bervolume 200 liter. Air yang ditapung dalam bak tandon tersebut dialirkan ke unit pembenihaan
melalui pipa paralon.
Bak tendon tersebut diletakan pada tempat yang paling tinggi di antara wadah-wadah lainnya.
Tempat ini diletakan di atas penyangga yang terbuat dari kerangka kayu atau besi ada ketinggian
kurang lebih 180 cm dari lantai dasar bangunan. Hal tersebut mempermudah dalam pengaliran
air ke wadah/tempat penetasan telur dan tempat pemeliharaan wadah gurami. Apabila letak
tandon di dasar lantai maka untuk mengaliri air ke unit pembenihan mengguanakan pompa sanyo
atau pompa summersibel.
G ) Ember
Ember berfungsi sebagai wadah pemanenan dan pemindahan telur/larva/benih ikan gurami dari
suatu wadah ketempat yang lainya. Selain itu, ember juga berfungsi sebagai wadah penyortiran
larva/benih serta sebagai tempat penguraian dan penyucian telur baru di ambil dari sarang.
Ukuran ember yang digunakan dapat bervariasi, tergantung kebutuhan dan keperluan.
Ember yang digunakan untuk penyortiran hendakhya mengguanakan ember yng berwarna cerah
untuk mempermudah penyortiran larva/benih. Ember yang berwarna gelap dapat mempersulit
pengamatan terhadap larva/benih yang berwarna transparan. Ember yang berwarna gelap leih
baik bila digunakan seperti tempat penetasan telur.
2. Peralatan pendukung pembenihan dan perawatan larva gurami.
Peralatan pendukung atau sarana penunjang yang diutuhkan dalam usaha pembenihan gurami
diantaranya bahan sarang, kerangka sarang (sosog), suber listrik, blower atau aerator, pompa air,
ginset, water heater, seser atau scop net, selang , dan obat-obatan untuk pembenihan dan
perawatan larva.
a) Bahan sarang

Ikan gurami termasuk golongan ikan yang cara pemijahaanya bertelur di dalam sarang. Di alam,
pembuatan sarang dilakukan oleh induk jantan dari rerumputan kering serta tempat untuk
meletakan telur induk betina. Namun, di kolam pemijahan biasanya bahan sarang sudah
disiapkan oleh para pembudidaya. Bahan sarang yang digunakan untuk membuat sarang
diantaranya ijuk, sabut kelapa, tali rafia.
b) Kerangka sarang
Sosog merupakan tempat atau kerangka sarang buatan yang berbentuk kerucut yang dibuat dari
anyaman bambu. Ukuran sosog umumnya berdiameter 25-30 cm dan panjang 30-40 cm. Selain
sosog, wadah atau kerangka sarang dapat berupa potongan-potongan bambu yang ditancapkan di
pinggir-pinggir kolam. Potongan-potongan bambu tersebut berukuran panjang seitar 40 cm.
Pada sosog atau kerangka sarang ini nantinya akan diisi bahan sarang oleh indukan gurami jantan
atau dapat juga pada sosog tersebut dimasukan bahan sarang dari ijuk atau sabut kelapa ,
sehingga nantinya induk jantan tinggal memperbaiki saja. Bahan sarang tersebut disusun
sedemikian rupa oleh induk gurami sehingga menyerupai sarang burung. Satu ekor induk betina
membutuhkan 1 sosog untuk meletakan telurnya. Pemasangan sosog antara satu dengan yang
lainya berjarak 2-4 m.
c) Listrik
Sumber listrik vital dalam usaha pembenihan. Hal ini karena semua alat yang digunakan untuk
mendukung kelangsungan hidup telur dan larva gurami menggunakkan energi listrik. Pasoka
listrik dapat berasal dari PLN maupun generator ginset.
Sumber listrik digunakan unutk menggerakan blower/aeratot, pompa air, pemanas air (heater),
penerangan dan alat pendukung lainya yang menggunakan energi listrik. Jika blower, aerator,
heater, dan alat pendukungnya tidak berfungsi karena terputusnya aliran listrik maka penetasan
telur dan pemeliharaan larva akan terganggu. Hal tersebut dapat menyebabkan kematian pada
telur atau larva gurami akan kekurangan suplai oksigen.
Sumber listrik juga penting sebagai alat penerangan, alat penerangan ini terutama digunakan
pada malam hari atau pada siang hari mendung. Aliran listrik dari PLN yang digunakan untuk
kegiatan pembenihan dan pemeliharaan larva dapat memenfaatkan aliran listrik yang ada di

rumah tangga atau mengguanakan aliran listrik sendiri. Kapasitas listrik yang digunakan untuk 1
unit pembenihan minimal 450 watt.
D ) Ginset
Ginset (diesel generator) merupakan cadangan pembangkit tenaga listrik yang dapat dioprasikan
dengan menggunakan solar atau bensin. Cadangan sumber listrik ini sebagai langkah antisipasi
apabila listrik dari PLN padam. Sumber listrik merupakan kebutuhan yang sangat vital bagi
berjalanya usaha pembenihan ikan, khususnya untuk kegiatan penetasan telur dan pemeliharaan
larva.
E ) Blower atau aerator
Pembenihaan dan pemeliharaan larva gurami membutuhkan suplai oksigen yang cukup. Caranya
dengan memasang blower atau aerator. Alat tersebut merupakan pompa udara yang berfungsi
untuk meningkatkan kandungan oksigen terlarut dalam air. Suplai oksigen terlarut dari blower
/aerator sangat diperlukan agar kebutuhan oksigen terlarut pada penetasan telur dan pembenihan
larva terpenuhi.
Setiap wadah pemeliharaan dilengkapi dengan batu aerasi yang berasal dari pompa udara
(blower/aerator) yang dibutuhkan dengan selang-selang kecil disetiap wadah penetasan atau
pemeliharaan larva.
Jika jumlah penetasan atau pemeliharaan larva banyak, maka disarankan untuk memakai
aerator ukuran besar yang bisa disebut blower (Hi Blow). Untuk 40 akuarium, lebih
baik menggunakan blower dengan kapasitas minimum 80 titik lubang oksigen, yaitu
blower dengan daya watt. Namun, jika jumlah wadah penetasan atau pemeliharaan larva
sdikit maka cukup dengan menggunakan aerator-aerator kecil. Aerator kecil ini bisa
digunakan untuk akuarium ikan hias dan bisa dijual di toko-toko akuarium atau ikan hias.
Penggunaan blower atau aerator ini dilkukan selama 24 jam atau selama kegiatan
penetasan atau pemeliharaan larva gurmai berlangsung.
Pemasangan blower ini diengkapi dengan instalansinya, yitu jaringan atau saluran udara dari
sumber (blower) ke masing-masing akuarium serta pengaturan volume aliran udaranya. Untuk
itu, diperlukan pipa paralon (PVC) sebaga pipa saluran udara, batu aerasi, dan selang kecil

sebagai penyaluran udara dan oksigen yang masu ke dalam wadah penetasan telur atau
pemeliharaan larva ikan.
f) Pompa air
Pompa air berfungsi untuk mempermudah pengelolaan air pada unit pembenihan dan
pemeliharaan larva gurami. Pompa air digunakan sebagai penyedot air dari tepat penampungan
air (bak tandon) ke akuarium, bak dan tepat lainnya atau pompa air digunakan juga untuk
mengambil air dari sumber air untuk dimasukan ke bak tendon. Selanjutnya, dari bak tendon
dialirkan ke wadah penetasan atau pemeliharaan larva. Pompa air umumnya digunakan untuk
proses pergantian air.
Model pompa air ini ada dua macam. Model pertama pompa submersible, yaitu pompa celup
atau pompa kedap air yang digunakan untuk mengalirkan air dari bak penampung air/sumur ke
akuarium atau bak pemeliharaan. Model kedua adalah pompa air yang biasa dipergunakan di
rumah tangga seperti jet pump. Jenis pompa air yang digunakan disesuaikan dengan keperluan.
g) heather (pemanasan air)
heather merupakan alat listrik untuk menaikan suhu air. Tujuanya untuk mendeteksi suhu
optimum untuk penetasan dan pemeliharaan larva. Heather digunakan pada saat suhu air dan
lingkungan rendah (dingin). Suhu air yang dingin akan menghabat proses penetasan telur dan
pertumbuhan larva. Suhu air yang rendah juga merupakan media yang baik untuk memicu
berkembangnya berbagai jenis penyakit seperti jamur atau bakteri.
Pada suhu air yang dingin, nafsu makan ikan juga cenderung menurun sehingga pertumbuhan
terhambat. Kebutuhan pakan ikan cenderung meningkat seiring dengan meningkatnya suhu
sampai batas tertentu. Suhu air yang optimal untuk selera makan ikan adalah 28-30o C. Pada suhu
yang hangat, proses metabolisme ikan bekerja lebih cepat. Penggunaan heather untuk
mengkondisikan air agar tetap pada rentan suhu 26-30oC.
Jika heather sulit diperoleh, kebanyakan para pembudidaya menggunakan kompor sebagai
penggantinya. Penggunaan kompor ini menuntun kosekuensi tertutupnya areal pemeliharaan dari
udara luar yang masuk seperti ruang heatchry atau pada wadah penetasan dan pemeliharaan larva
menggunakan sebagai lapisan penutup seluruh atap dan dinding ruang.

h) Scoopnet, seser ikan, dan selang plastik


Scoopnet adalah seser halus untuk menangkap larva ikan kecil. Penggunaan seser yang bahanya
halus tujuanya untuk tidak menimbulkan luka pada saat menangkap larva atau benih ikan yang
berukuran kecil. Sedangkan seser fungsinya sama scoopnet tetapi ukuran benih yang diangg
lebih besar. Seser ini digunakan untuk memanen atau memindahkan larva/benih ikan dari suatu
tempat pemeliharaan ke media pemeliharan lainya.
Selang yang digunakan unutk menyipon dan penggantian air pada media pemeliharaan. Selang
untuk menyipon berukuran kecil yaitu berdiameter 1-2 cm. Sedangkan selang yang lebih besar
digunakan untuk pergantian air.
i) Obat-obatan
Penyediaan obat-obatan yang dimaksudkan sebagai antisipasi kesehatan ikan terganggu. Obatobatan tersebut diantaranya methylene blue (MB), kalium permangat (PK), atibiotik dan garam
dapur. Methylene blue sering diguakan untuk persiapan penetasan telur dan pemeliharaan larva.
Bahan ini berfungsi sebagai zat pembunuh bakteri dan jasad renik lainya. Garam dapur juga
berfungsi untuk mensucihamakan air akuarium dan pembunuh bakteri atau jasad renik di tubuh
kan.
Penggunaan methylene blue disiapkan untuk mencegah terjangkitnya jamur pada telur. Media air
yang digunakan untuk menetaskan telur gurami 1-2 hari sebelum diberi methylene blue dan
diarasi terus menerus. Methylene blue juga berfungsi untuk zat anti jamur dan bakteri. Alat dan
wadah untuk budidaya sebaiknya sebelum digunakan disterilkan dan direndam dalam larutan
methylene blue.
Sedangkan antibiotik yang sering digunakan untuk gurami adalah Oxytetrasiklin (OTC) dan
Enrofloxaxin. Antibiotik ini berguna untuk pencegahan timbulnya berbagai jenis penyakit yang
diberikan rutin secara berkala. Aplikasi penggunaan anti biotik juga dipergunakan sebagai
pengobatan luar pada tubuh ikan yang sakit.
B. Peralatan pendukung usaha pendederan dan pembesaran gurami.

Beberapa peralatan yang diperlukan untuk menunjang pendederan dan pembesaran ikan gurami
secara intensif adalah sebagai berikut.
1. Pompa diesel
Pada dasarnya diesel air hanya digunakan jika sumber air tidak bisa dialirkan secara langsung ke
dalam kolam. Misalnya sumber air lebih rendah dari kolam atau sumber air cukup jauh dari
kolam sehingga air harus dibantu dengan pompa diesel agar bisa dialirkan masuk ke dalam
kolam.
Jika kepadatan ikan dalam kolam cukup tinggi, air juga harus diganti dengan cara berkala.
Apabila air kolam jarang digantii, akan timbul gas yang bersifa racun, seperti amoniak (NH3)
karena banyak sisa pakan dan kotoran yang menumpuk di dasar kolam. Pompa diesel juga
dibutuhkan untuk pemanenan pada kolam yang membutuhkan pompa diese untuk mengeluarkan
air karena kontruksi kolam tidak memungkinkan air kolam dikelurkan dengan tuntas.
2. Jaring atau hapa
Jaring atau hapa ini merupakan alat yang cukup penting untuk pemanenan ikan. Fungsi lainya
untuk menampung ikan hasil panen sebeum diseleksi, ditimbang dan diangkut. Hapa juga
berfungsi sebaga alat untuk menangkap ikan, dimanan pemanenan ikan dilakukan sebagian saja
(selektif), tanpa mengeringkan kolam.
3. Alat pengangkutan
Alat pengangkutan ikan gurami yang biasa digunakan adalah jerigen dan drum . Drum dan
gerigen dapat digunkan untuk mengangkut gurami untuk semua ukuran. Jergen yang bisa
digunakan berukuran 35 liter atau lebih dari bagian atasnya dibelah atau terbuka. Sedangkan
drum yang biasa digunakan berkapasitas volume air sekitar 200 liter biasanya untuk
mengangkut gurami ukuran konsumsi.
4. Seser
Kegunaan seser adalah untuk menangkap ikan pada saat panen. Seser digunakan untuk
membersihkan air kolam dari kotoran seperti lumut, daun-daunan yang jatuh, dan hewan-hewan
pengganggu. Penggunaan seser untuk kegiatan panen terutama untuk ukuran benih. Sedangkan

penangkapan gurami untuk ukuran konsumsi menggunakan tangan, karena apabila menggunakan
seser dikhawatirkan akan merusak sisiknya.
5. Drum berlubang
Fungsinya sebagai wadah tempat ikan sewaktu panen dan sebagai alat angkut ke tempat
penampungan semetara atau alat angkut yaitu truk atau colt.