Anda di halaman 1dari 9

Isolasi dan Identifikasi Clostridium

Clostridium adalah kuman berbentuk anaerob, gram positif pembentuk spora.


Banyak merusak protein atau membentuk toksin, beberapa diantaranya melakukan
keduanya. Tempat hidup kuman ini di tanah tapi dapat hidup pada manusia atau
hewan baik luka pada kulit atau di usus. Kebanyakan saprofit di tanah, rumput,
sampah, dsb. Beberapa yang pathogen misalnya : Clostridium tetani dan Clostridium
botulium.

Clostridium tetani adalah kuman berbentuk batang, ramping, berukuran 2-5 x


0,4-0,5 m. kuman ini berbentuk spora dan termasuk golongan gram positif, dan
hidupnya anaerob. Spora dewasa mempunyai bagian berbentuk bulat yang letaknya
di ujung, tampak seperti penabuh genderang (drum stick). Kuman mengeluarkan
toksin yang bersifat neurotoksik. Toksin ini (tetanospasmin) mula-mula akan
membentuk kejang otot dan saraf perifer setempat. Toksin ini labil pada pemanasan,
yaitu pada suhu 65C akan hancur dalam 5 menit. Di samping itu, dikenal juga
tetanolisin yang bersifat hemolisis, yang perannya kurang berarti dalam proses
penyakit.
Tetanus adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh toksin
kumanClostridium tetani yang dimanifestasikan dengan kejang otot secara proksimal
dan diikuti kekakuan seluruh badan. Kekakuan tonus otot ini selalu Nampak pada
otot masester dan otot rangka.
Sejak jaman Hypocratus Aretus di Yunani penyakit tetanus sudah dikenal,
sedangkan penyebabnya baru diteliti pada tahun 1884 oleh Tuan Carle dan Rattone.
Mereka melakukan penelitian pada kelinci, kemudian pada tahun 1884 Nalaire
melakukan penelitian terhadap tikus putih, marmot serta kelinci. Rosenbach 1886
dan Kitasato 1889 mlengkapi penelitian selanjutnya dalam mengindetifikasi penyakit
ini.

Clostridium tetani tersebar luas di dunia. Hidup di tanah, kotoran kuda serta
hewan lain. Beberapa tipe tetanus dapat dibedakan dengan antigen flagel spesifik,
semuanya mempunyai antigen O yang tertutup dan menghasilkan toksin yang sama.
Tempat hidup Clostridium tetani sama dengan tempat hidup Clostridium yang lain
yaitu : tanah, tinja manusia, dan hewan yang tersebar di mana-mana.
Klasifikasi ilmiah
Kingdom: Bacteria
Divisi: Firmicutes
Class: Clostridia
Ordo: Clostridiales
Famili: Clostridiaceae
Genus: Clostridium
Spesies: Clostridium tetani
Tetanus yang sungguh sudah dikenal oleh orang-orang yang dimasa lalu,
yang dikenal karena hubungan antara luka-luka dan kekejangan-kekejangan otot
fatal. Pada tahun 1884, Arthur Nicolaier mengisolasi toksin tetanus yang seperti
strychnine dari tetanus yang hidup bebas, bakteri lahan anaerob.
Etiologi dari penyakit itu lebih lanjut diterangkan pada tahun 1884 oleh Antonio
Carle dan Giorgio Rattone, yang mempertunjukkan sifat mengantar tetanus untuk
pertama kali. Mereka mengembangbiakan tetanus di dalam tubuh kelinci-kelinci
dengan menyuntik syaraf mereka di pangkal paha dengan nanah dari suatu kasus
tetanus manusia yang fatal di tahun yang sama tersebut.
Pada tahun 1889, C.tetani terisolasi dari suatu korban manusia, oleh Kitasato
Shibasaburo, yang kemudiannya menunjukkan bahwa organisme bisa menghasilkan
penyakit ketika disuntik ke dalam tubuh binatang-binatang, dan bahwa toksin bisa
dinetralkan oleh zat darah penyerang kuman yang spesifik.
Pada tahun 1897, Edmond Nocard menunjukkan bahwa penolak toksin
tetanus membangkitkan kekebalan pasif di dalam tubuh manusia, dan bisa
digunakan untuk perlindungan dari penyakit dan perawatan. Vaksin lirtoksin tetanus
dikembangkan oleh P.Descombey pada tahun 1924, dan secara luas digunakan
untuk mencegah tetanus yang disebabkan oleh luka-luka pertempuran selama
Perang Dunia II.
Karakteristik Clostridium tetani
Clostridium tetani adalah bakteri berbentuk batang lurus, langsing, berukuran
panjang 2-5 mikron dan lebar 0,4-0,5 mikron. Bakteri ini membentuk eksotoksin yang
disebut tetanospasmin. Kuman ini terdapat di tanah terutama tanah yang tercemar
tinja manusia dan binatang. Clostridium tetani termasuk bakteri gram positif
anaerobic berspora, mengeluarkan eksotoksin. Clostridium tetani menghasilkan 2
eksotosin yaitu tetanospamin dan tetanolisin. Tetanospaminlah yang dapat

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

menyebabkan penyakit tetanus. Perkiraan dosis mematikan minimal dari kadar


toksin (tenospamin) adalah 2,5 nanogram per kilogram berat badan atau 175
nanogram untuk 70 kilogram (154lb) manusia.
Clostridium tetani tidak menghasilkan lipase maupun lesitinase, tidak
memecah protein dan tidak memfermentasi sakarosa dan glukosa juga tidak
menghasilkan gas H2S. Menghasilkan gelatinase, dan indol positif.
Spora dari Clostridium tetani resisten terhadap panas dan juga biasanya
terhadap antiseptis. Sporanya juga dapat bertahan pada autoclave pada suhu
249.8F (121C) selama 1015 menit. Juga resisten terhadap phenol dan agen
kimia yang lainnya. Secara ringkas, Morfologi dariClostridium tetani yaitu, sebagai
berikut :
Gram positif batang, bentuk vegetative mempunyai ujung yang bulat.
Anaerob
Ukuran 2-5 x 0,5 m
Gerak aktif, flagel peritrik, spora terminal
Tidak memfermentasikan dextrose, laktosa, sukrosa. Membentuk gas pada medium
Cooked meat
Mereduksikan nitrat
Gejala tegang pada tikus putih
Pada plat darah koloni tampak seperti benang kusut (hal ini terjadi bila
terkontaminasi dengan kuman lain), bila tidak ada kontaminasi koloninya seperti
proteus.
Patogenitas dan Patofisiologi
Clostridium tidak merupakan mikrorganisme yang invasif, kuman ini berada
di daerah luka yang anaerob tempat spora bersarang. Meskipun luka terlihat kecil
tapi penyakitnya berupa toksinia. Spora dan basil menghasilkan toksin di bantu oleh
kerusakan jaringan, garam kalsium, infeksi kuman lain. Toksin dapat sampai ke
susunan saraf pusat dan jaringannya sehingga menyebabkan kejang (tetanus) dan
mungkin juga terjadi penumpukan acetyl cholin.
Tetanus disebabkan neurotoksin (tetanospasmin) dari bakteri Gram positif
anaerob, Clostridium tetani, dengan mula-mula 1 hingga 2 minggu setelah inokulasi
bentuk spora ke dalam darah tubuh yang mengalami cedera (periode inkubasi).
Penyakit ini merupakan 1 dari 4 penyakit penting yang manifestasi klinis utamanya
adalah hasil dari pengaruh kekuatan eksotoksin (tetanus, gas ganggren, dipteri,
botulisme).
Bakteri Clostridium tetani ini banyak ditemukan di tanah, kotoran manusia dan
hewan peliharaan dan di daerah pertanian. Tempat masuknya kuman penyakit ini
bisa berupa luka yang dalam yang berhubungan dengan kerusakan jaringan lokal,
tertanamnya benda asing atau sepsis dengan kontaminasi tanah, lecet yang dangkal
dan kecil atau luka geser yang terkontaminasi tanah, trauma pada jari tangan atau
jari kaki yang berhubungan dengan patah tulang jari dan luka pada pembedahan.

Cara penularan
Tetanus terutama ditemukan di daerah tropis dan merupakan penyakit infeksi
yang penting baik dalam prevalensinya maupun angka kematiannya yang masih
tinggi . Tetanus merupakan infeksi berbahaya yang biasa mendatangkan kematian.
Bakteri ini ditemukan di tanah dan feses manusia dan binatang. Infeksi ini muncul
(masa inkubasi) 3 sampai 14 hari. Di dalam luka yang dalam dan sempit sehingga
terjadi suasana anaerob. Clostridium tetani berkembang biak memproduksi
tetanospasmin suatu neurotoksin yang kuat. Toksin ini akan mencapai system syaraf
pusat melalui syaraf motorik menuju ke bagian anterior spinal cord.
Jenis-jenis luka yang sering menjadi tempat masuknya kuman Clostridium tetani
sehingga harus mendapatkan perawatan khusus adalah:
1. Luka-luka tembus pada kulit atau yang menimbulkan kerusakan luas
2. Luka baker tingkat 2 dan 3
3. Fistula kulit atau pada sinus-sinusnya
4. Luka-luka di bawah kuku
5. Ulkus kulit yang iskemik
6. Luka bekas suntikan narkoba
7. Bekas irisan umbilicus pada bayi
8. Endometritis sesudah abortus septic
9. Abses gigi
10. Mastoiditis kronis
11. Ruptur apendiks
12. Abses dan luka yang mengandung bakteri dari tinja

1)
2)
3)
4)

Gambaran Klinik
Masa inkubasi 4-5 hari, beberapa minggu atau beberapa bulan
Adanya luka dan anaerob
Bakteri tetanus harus berkembang biak dan membentuk eksotoksin, diperlukan
waktu untuk pengikatan jaringan yang sensitive terhadap toksin.
Toksin menjalan ke seluruh badab, bakteri tetap pada luka asal, toksin sampai
susunan saraf ousat dan menyebabkan kejang pada otot, mulut susah dibuka
(toksinnya hanya meyerang susunan saraf) meskipun penderitanya tetap sadar.

5) Kematian dapat mencapai 50%, biasanya karena kelumpuhan system saraf


pernafasan.

Clostridium mengeluarkan eksotoksin, dapat di bentuk secara invitro pada


media cair. Toksinnya sangat termolabil karena itu harus di simpan pada tempat
yang gelap dan bersuhu rendah. Toksinnya sangat ganas sekali dan mematikan.
Toksinnya terdiri dari dua factor :
Tetano spasmin menyerang sel saraf penderita
Tetanolisin menghancurkan eritrosit manusia
Secara klinik, penyakit tetanus dapat dibedakan yaitu :
1. Tetanus local : jarang terjadi, biasanya terjadi pada orang yang kekebalannya tidak
sempurna atau karena spora yang masuk sedikit. Penyakit ini tidak begitu berat.
2. Tetanus Neonatorum : terjadi pada bayi, tidak lama setelah bayi lahir (kurang dari 10
hari), terjadi karena pemotongan tali pusat yang tidak steril. Gejalanya, bayi tidak
mau menyusui, gelisah, tangan mengepal, karena itu sebaiknya dilakukan
pencegahan :
a. Sebelum kontak
Terhadap tetanus Neonatorum dengan vaksinasi ibu hamil 2 kali dalam semester II

dan III dengan formotoksoid dan ATS.


Sebagai dasar pengebalan pada anak-anak mulai umur 3 bulan tiga kali berturut-

turut dengan jarak 4-6 minggu dalam bentuk DPT. Sedangkan, Booster pada umur
2-3 tahun pada saat akan masuk sekolah dan selanjutnya tiap 1-2 tahun dengan
toksoid saja.
b. Setelah kontak
Terjadi luka tapi belum timbul gejala, pemberian toksoid dan ATS :
Ditinjau dari status kekebalan dan sifat luka.
Dilakukantes hipersensitiviti, bila akan diberi ATS 1000-3000 SI tergantung usia.
Sesudah timbul gejala :
Tanpa mengindahkan sudah atau belum divaksinasi, eksotoksin harus dinetralisasi
dengan antitoksin dengan dosis 10000-80000 SI tergantung dari : keadaan
penderita, usia penderita dan ada tidaknya komplikasi.

Gambar: Neonatal tetanus (Tetanus pada bayi baru lahir)

a)
b)
c)
d)
1)
2)
3)
4)

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Diagnosis Laboratorium dan Prognosis


Diagnosis tetanus ditegakan berdasarkan gejala-gejala klinik yang khas.
Secara bakteriologi biasanya tidak diharuskan oleh karena sukar sekali mengisolasi
Clostridium tetani dari luka penderita , yang kerap kali sangat kecil dan sulit dikenal
kembali oleh penderita sekalipun.
Diagnosis tetanus dapat diketahui dari pemeriksaan fisik pasien sewaktu
istirahat, berupa :
Gejala klinik : Kejang tetanic, trismus, dysphagia, risus sardonicus (sardonic smile).
Adanya luka yang mendahuluinya. Luka adakalanya sudah dilupakan.
Kultur : C. tetani (+).
Lab : SGOT, CPK meninggi serta dijumpai myoglobinuria.
Diagnosis tetanus dapat diketahui dari pemeriksaan laboratorium yaitu :
Bahan pemeriksaan : potongan jaringan, PUS, hapus luka, kotoran kuda atau hewan
lain,bedak (talk).
Media : yang di perlukan Thyoglikolat agar, Agar darah, gula-gula, Tarozi anaerob.
Direct preparat : pewarnaan gram, spora, Klien, Saffer fulton.
Hewan percobaan : tikus putih, lakukan penyuntikkan intra muscular dan amati
sampai 7 hari. Tikus akan kejang mulai dari ekor. Tikus mati karena toksin.
Tetanus memiliki angka kematian sampai 50%. Kematian biasanya terjadi
pada penderita yang sangat muda, sangat tua dan pemakai obat suntik. Jika
gejalanya memburuk dengan segera atau jika pengobatan tertunda, maka
prognosisnya buruk.
Pencegahan dan Pengobatan
Pencegahan dilakukan dengan :
Immunisasi toksoid
Perawatan luka dengan antiseptic
Pemberian antibiotic
Pemakaian antitoksin ubtuk pencegahan
Pembedahan daerah luka
Suntikan Booster
Pengobatan

1) Antibiotika
Diberikan parenteral Peniciline 1,2juta unit / hari selama 10 hari, IM. Sedangkan
tetanus pada anak dapat diberikan Peniciline dosis 50.000 Unit / KgBB/ 12 jam
secafa IM diberikan selama 7-10 hari. Bila sensitif terhadap peniciline, obat dapat
diganti dengan preparat lain seperti tetrasiklin dosis 30-40 mg/kgBB/ 24 jam, tetapi
dosis tidak melebihi 2 gram dan diberikan dalam dosis terbagi ( 4 dosis ). Bila
tersedia Peniciline intravena, dapat digunakan dengan dosis 200.000 unit /kgBB/ 24
jam,
dibagi
6
dosis
selama
10
hari.
Antibiotika ini hanya bertujuan membunuh bentuk vegetatif dari C. tetani, bukan
untuk toksin yang dihasilkannya. Bila dijumpai adanya komplikasi pemberian
antibiotika broad spektrum dapat dilakukan.
2) Antitoksin
Antitoksin dapat digunakan Human Tetanus Immunoglobulin (TIG) dengan dosis
3000-6000 U, satu kali pemberian saja, secara IM tidak boleh diberikan secara
intravena karena TIG mengandung "anti complementary aggregates of globulin ",
yang mana ini dapat mencetuskan reaksi allergi yang serius. Bila TIG tidak ada,
dianjurkan untuk menggunakan tetanus antitoksin, yang berawal dari hewan, dengan
dosis 40.000 U, dengan cara pemberiannya adalah : 20.000 U dari antitoksin
dimasukkan kedalam 200 cc cairan NaC1 fisiologis dan diberikan secara intravena,
pemberian harus sudah diselesaikan dalam waktu 30-45 menit. Setengah dosis
yang tersisa (20.000 U) diberikan secara IM pada daerah pada sebelah luar.
3) Tetanus Toksoid
Pemberian Tetanus Toksoid (TT) yang pertama,dilakukan bersamaan dengan
pemberian antitoksin tetapi pada sisi yang berbeda dengan alat suntik yang
berbeda. Pemberian dilakukan secara I.M. Pemberian TT harus dilanjutkan sampai
imunisasi dasar terhadap tetanus selesai
4) Antikonvulsan
Penyebab utama kematian pada tetanus neonatorum adalah kejang klonik yang
hebat, muscular dan laryngeal spasm beserta komplikaisnya. Dengan penggunaan
obat

obatan
sedasi/muscle
relaxans,
diharapkan
kejang
dapat
diatasi. Contohnya :
Diazepam 0,5 1,0 mg/kg Berat badan / 4 jam (IM)
Meprobamat 300 400 mg/ 4 jam (IM)
Klorpromasin 25 75 mg/ 4 jam (IM)
Fenobarbital 50 100 mg/ 4 jam (IM)
Pemberian ATS 10000-80000 SI
Fenolbarbital untuk mengurangi kejang.
Penicillin untuk mengurangi/mencegah infeksi lain dan membunuh Clostridium tetani
Hati hati saat pemberian makanan, jangan sampai makanan masuk ke saluran
pernapasan (dapat menyebabkan pneumonia)
Pemeriksaan Clostridium tetani

a) Bahan Pemeriksaan
1) BP
PUS
Hapus luka
Potongan kulit yang ada lukanya
Kotoran dari jalan
Bedak/talk, cat-gut, dll.
2) Biakan
Thyiglokolat
Agar darah
Gula-gula yang terdiri dari : Trypticase agar case, Trypticase dextrose, Trypticase
lactose agar, Trypticase sukrosa agar, Trypticase nitrat green, dan cooked meet
medium.
3) Derek Preparat
Pewarnaan Gram
Pewarnaan Klien atau Scaeffer (spora)
4) Hewan Preparat
Tikus putih (untuk memproduksi toksin)
b) Prinsip Pemeriksaan
1. Mikroskopis : setelah dibuat preparat dan diwarnai Gram dan spora hasilnya :
Batang langsing, berspora terminal, mirip jarum pentul atau pemukul genderang.
Gram positif.
2. Pada agar darah anaerob koloni tersangka tampak seperti benang halus (bila
terkontaminasi). Koloni meluas membentuk filament halus mirip koloni proteus (bila
tidak ada kontaminasi).
3. Hewan percobaan : penyuntikkan pada tikus putih secara intra muscular,
pengamatan dilakukan selama 7 hari. Masa inkubasi tetanus 2-4 hari dengan tandatanda ekor dan kaki belakang kejang-kejang, mati bila toksin telah terbentuk banyak.
4. Identifikasi pada gula-gula :
spesies

Cl.tetani
Cl.novy
Cl.septicum
Cl.perfringe
Cl.sporogene
s
Cl.botulinum
Cl.histoliticum
Cl.chauvoei
Cl.bifementis

Pada
agar
darah

Spora

hmlss bl, tml


hmlss
lj, ct
hmlss lj, sbtml
Hmlss hmlss lj, sbtml

+
+
+
+
+

bgkd, ht
g
g
g
bgdg, ht

La
k
to
sa
+
-

hmlss
hmlss
hmlss
hmlss

+
+
+
+

idem
idem
g
bgdg, ht

+
-

Idem
idem
lj, ct
Idem

Ge Cooked
rak
meat

Dex Sak Ind Red


Tro aro ol uksi
sa
sa
nitrat
+
+
+
+

+
-

+
+
-

+
+
-

+
-

Keterangan:
bl
: bulat
lj

: lonjong

sbtml : subterminal
bgdg : bau gas digesti
bgkd : bau gas kadang
tml

: terminal

ct

: central

: gas

ht

: hitam

hmlss : hemolisis

DAFTAR PUSTAKA
Anonim.

1997. Mikrobiologi Kedokteran. 127-131.


Fakultas Kedokteran UGM.

Yogyakarta:

Bagian

Mikrobiologi

Muliawan, Sylvia.Y. 2007. Bakteri anaerob yang erat kaitannya dengan problem klinik
(Diagnosis dan penatalaksana). P : 26-33. Jakarta: EGC.
Mursalim. 2008, Penuntun Bakteriologi Praktikum. Makassar: Politeknik Kesehatan
Makassar.
http://teenozhealthanalyst.blogspot.co.id/2012/05/isolasi-dan-identifikasiclostridium.html